Vous êtes sur la page 1sur 13

Stratigrafi seismik

SIKUEN STRATIGRAPI SUATU PERGESERAN PARADIGMA DALAM ILMU GEOLOGI Oleh R.P.Koesoemadinata (modifikasi) (dalam berita IAGI No 15 April, 1997 hal 6-10, rubik Geocitra dan makalah utama PIT IAGI ke 25) PENDAHULUAN Dalam lebih dari dua dekade terakhir ini telah terjadi dua revolusi ilmiah dalam ilmu geologi, yaitu munculnya teori Global Plate Tectonics dan Sequence Stratigraphy. Thomas Kuhn (1970) dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions menyatakan bahwa suatu revolusi ilmiah terjadi karena munculnya suatu set paradigma baru atau munculnya suatu set paradigma akan menyebabkan suatu revolusi ilmiah. Thomas Kuhn adalah orang pertama yang memberikan pengertian baru terhadap istilah paradigma, yang arti harafiahnya adalah contoh, atau sesuatu yang dijadikan contoh. Paradigma adalah suatu set dari prinsip-prinsip, konsep, rumus-rumus maupun prosedur dalam suatu ilmu yang diyakini kebenarannya oleh masarakat ilmiah secara meluas, sehingga dijadikan suatu standar prosedur untuk memecahkan masalah-masalah ilmiah, sehingga dapat dijadikan contoh, yg diajarkan oleh dan kepada para anggota masarakat ilmiah itu. (Kuhn, 1974) Paradigma yang baru tidak perlu merupakan suatu revolusi ilmiah yang besar, tetapi dapat pula terjadi dalam suatu cabang ilmu yang tidak begitu kentara oleh masarakat luas. Dalam pengertian yang lebih luas lagi dikatakan paradigma merupakan pandangan dunia (welt-anschaung), terhadap gejala-gejala ilmiah yang dipelajarinya. Dalam sikuen stratigrapi, ternyata prinsip-prinsip dan konsep maupun prosedur yang tercetus didalamnya telah merubah tentang prinsip, konsep, pengertian dan definisi tradisional. SEJARAH PERKEMBANGAN SEQUENCE STRATIGRAPHY (cuplikan makalah di Proceedings ke 25 PIT IAGI, R.P. Koesoemadinata hal 542-563) Beberapa konsep sequence stratigraphy boleh dikatakan telah mulai muncul : Menjelang abad ke-19. Konsep perubahan muka laut eustatic al pertama kali dikemukakan Darwin, untuk menerangkan terjadinya atol, dengan mengatakan bahwa muka laut itu dimasa yang lampau (terutama zaman glasial di Pleistosin) pernah turun secara global. Blackwelder (1910) memberikan pengertian yang mendalam mengenai unconformity al: bahwa unconformity tidak bersifat regional apalagi global, bahwa unconformity pada hakekatnya dapat menghilang ke suatu tempat menjadi suatu hubungan conformable. Sebagaimana kita ketahui bahwa, unconformity stratigraphy. Barrel (1917) memberikan konsep base level of erosion yang ditentukan oleh garis pantai, dan perubahan garis pantai akan pula merubah base level of erosion ini yang akan mengendalikan terjadinya erosi (degradasi) dan sedimentasi (agradasi) di darat, sehingga turun-naiknya muka air laut pun akan mempengaruhi sedimentasi di daratan, suatu konsep yang penting bagi sekuen-stratigrafi. Istilah sequence sebagai suatu satuan stratigrafi yang dibatasi oleh unconformity diusulkan oleh Sloss dkk (1949), dan inilah kemudian menjadi dasar dari prinsip sequnce stratigraphy.
Teguh Jatmiko

maupun prosedurnya dalam ilmu stratigrafi

menjadi dasar pembagian sequence

Stratigrafi seismik

Rich (1951) memberikan pengertian yang lebih baik mengenai permukaan pengendapan (depositional surface), yang dia bagi sebagai clinoform, un-daform dan fondoform. Pengendapan pada clinoform yi: permukaan yang miring, telah mengakibatkan konsep terjadinya akumulasi lateral dari sedimen, menjadi sangat dasar, dalam konsep sequence stratigraphy. Wheeler (1958) menunjukan adanya sifat cyclicity pada urutan lapisan sedimen, antara lain adanya konsep cyclothems, khususnya untuk lapangan yg mengandung endapan batubara. Konsep cyclothem sebetulnya telah lama muncul. Pada tahun 1961 Schenk mengemukakan dalam makalahnya Guiding Principels of Stratigraphy mengukuhkan prinsip stratigrafi yang berdasarkan Steno sebagai time-honoured principels, sehingga prinsip Steno ini masih berlaku walaupun dengan sedikit modifikasi (lihat gambar 1). Sesuai dengan perkembangan metoda seismik, di tahun tujuhpuluhan, yang memberikan pandangan menerus mengenai tatanan perlapisan secara regional, dibandingkan dengan data singkapan dan pemboran, telah merubah pandangan terhadap bagaimana lapisan sedimen berakumulasi.

Gambar 1a. Pandangan Stratigrsafi Tradisional: tentang akumulasi sedimen. Pinggiran paparan (shelf edge) mrpkn pusat dr pengendapan

Gambar 1b. Pandangan Stratigrsafi sikuen: tentang akumulasi sedimen dimana pusat pengendapan lap sedimen adalah suatu bentuk cekungan

Hal ini dikemukakan oleh Weimer (72, 75) yang menunjukan bahwa prinsip-prinsip stratrigrafi yang didasari pada Hukum Steno secara implisit menyatakan bahwa lapisan sedimen pada umumnya berakumulasi secara vertikal, sedangkan dalam kenyataannya lapisan sedimen pada umumnya berakumulasi lateral secara akresi, walupun komponen vertikal masih ada, tetapi dalam skala yang jauh lebih kecil. Weimer (71, 75) menunjukan bahwa pada umumnya sedimen berakumulasi secara lateral dengan akresi pada pinggiran paparan, sehingga akumulasi vertikal harus dimodifikasi dengan akumulasi lateral, dan akumulasi vertikal hanya merupakan komponen saja. Hal ini bertentangan langsung dengan prinsip-prinsip stratigrafi lama, paling tidak prinsip-prinsip Steno harus dimodifikasi. Pada tahun 77 munculah apa yg disebut seismic stratigraphy yang dikembangkan oleh pusat penelitian Exxon, yg didasarkan atas data seismik di Pantai Atlantic, yg dipelopori oleh Vail dkk (1977) yang merupakan murid-murid Sloss. Konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang telah dikemukakan di atas ini kemudian menjadi dasar dari ilmu stratigrafi yang baru. Dengan mengaplikasi prinsip-prinsip dan konsep stratigrafdi yang baru pada singkapan dan log sumur, maka terjadilah ilmu stratigrafi yang baru yg disebut sbg sequence stratigraphy.
Teguh Jatmiko

Stratigrafi seismik

PANDANGAN dan KONSEP DASAR SIKUEN STRATIGRAPI Berdasarkan pengamatan regional dari penampang seismik di pinggiran paparan Samudera Atlantik, maka didapat suatu pandangan mengenai akumulasi lapisan sedimen yang tebal (deposenter) adalah sbb:
toplapping onlapping
Ret
ad at i pro gr on

agradation
rog rad at io n

do w nl ap pi ng tepp ing

back s

Gambar 2a. Konsep pengakhiran dan pola lapisan pd teori sikuen stratigrafi
Alluvial plain Shelf/coastal plain Slope Basin

CL I NO

Bayline

FOR

OFFLAP BREAK

Gambar 2b. Sekuen stratigrafi mengajarkan bhw lap pd umumnya di endapkan pd permukaan miring (clinoform), walaupun juga masih mengenali pengendapan dalam keadaan horisontal

1. Pinggiran paparan (shelf edge) merupakan pusat dari pengendapan lapisan sedimen (gambar 2a & 2b). Hal ini jelas merubah pandangan sebelumnya bahwa pusat pengendapan lap sedimen adalah sebuah cekungan 2. Pinggiran paparan merupakan kunci untuk pemahaman hubungan stratrigrafi 3. Akumulasi lateral & pergesaran dalam siklus pengendapan. 4. Perubahan muka.air.laut eustatik sebagai pengendali utama perulangan lapisan sedimen. Walaupun prinsip-prinsip ini diketemukan di pinggiran Paparan Atlantik Pantai Amerika Timur, namun prinsipprinsip ini dapat diterapkan pada semua akumulasi sedimen dimana saja di dunia. Hal ini tidak mengherankan, krn mayoritas cekungangan-cekungan sedimen berada disekitar passive margin, sebagaimana halnya Paparan Amerika bagian timur. Namun demikian prinsip-prinsip diyakini pula berlaku untuk tepian benua active margins, seperti di Indonesia dan cekungancekungan Circum-Pasific, walaupun, mungkin akan lebih komplek, mengingat adanya dua sumber sedimen dalam cekungan busur kepulauan. Model Pengendapan: Pada model pengendapan tradisional, akumulasi sedimentasi terjadi dalam cekungan, dimana pinggiran cekungan merupakan suatu tempat pembajian lapisan, dan lapisan akan menumpuk secara vertikal di tengah cekungan. Adanya transgresi, dan regresi terjadi pada pinggiran cekungan, dan terjadi perubahan fasies dari darat sampai ke laut, di tengah cekungan. Transgresi, dan regresi ini hanya mempengaruhi fasies sekitar pantai. Pada model pengendapan sikuen stratigrafi, akumulasi sedimentasi terjadi di pinggiran paparan (shelf) atau daerah pantai. Adanya clinoform atau lereng pada tepi paparan merupakan gejala yang penting dalam mengendalikan

Teguh Jatmiko

Stratigrafi seismik

pengendapan dan pergeseran fasies, bukan saja di daerah pinggiran paparan tetapi juga hingga paparan dan jauh di daratan maupun di laut dalam, bersifat daur yang berulang-ulang. Prinsip Steno Hukum Superposisi menyatakan: lapisan yang berada di bawah, berumur lebih tua dari lapisan lapisan yg berada di atasnya. Prinsip ini tidak berubah, tetapi mempertajam pengertian lapisan dan bidang perlapisan sebagai bidang antarmuka pengendapan (depositional interface) sebagai bidang kesamaan waktu (isochronous time surface) Konsep Perlapisan Dalam stratigrafi tradiosional pengertian lapisan tidak terlalu ditekankan, bahkan definisinyapun tidak ada, kecuali pada Hukum Superposisi, dimana secara implisit dinyatakan bahwa permukaan lapisan atau batas lapisan adalah pembatas waktu (lapisan yang di atasnya selalu lebih muda dari lapisan di bawahnya) atau sebagai permukaan kesamaan waktu (Hukum ke 1 dari Prinsip Steno) Sikuen stratigrafi, menyatakan bahwa lapisan sebagai sedimen yang serupa, disebarkan oleh medium (air/angin) dalam keadaan serupa pula. Lebih tegas dinyatakan bahwa permukaan antar lapisan yang disebut juga sebagai depositional interface secara praktis merupakan bidang kesaman waktu dan bidang ini terjadi karena berhentinya keadaan penyebaran sedimen yang serupa karena: 1. Berubah jenis sedimen yang di endapkan 2. Tidak adanya pengendapan (non-depositional) 3. Adanya erosi Dengan demikian bidang permukaan lapisan (stratal surface) mewakili suatu rumpang waktu minimal (minimum time gap) atau suatu hiatus kecil, sehingga untuk keperluan praktis dapat dianggap sebagai permukaan waktu (isochronous time surface). Dalam hal ini horison seismik dianggap pula sbg bid permukaan lapisan atau bidang kesamaan waktu. Dalam stratigrafi tradisional sering lapisan itu dikacaukan dng pengertian satuan litologi. Dalam pengetian sikuen stratigrafi lapisan dapat saja secara berangsur berubah. Hukum lateral continuity dan lateral terminatioan Hukum ini secara tradisional menyatakan bahwa lapisan menerus secara lateral sampai lapisan itu membaji ke pinggiran cekungan, atau juga kena pemancungan. Konsep Pengakhiran Lapisan Konsep Pengakhiran Lapisan. (prinsiple of stratal temination) ini sudah tidak sesuai dengan Hk Steno yang kedua yi: prinsip kesinambuangan lapisan secara lateral (Law of Lateral Conitnuity of strata) yang menyatakan bahwa lapisan bersinambungan secara lateral sampai berakhir pada tepi cekungan. (gambar 3) Sikuen stratigrafi mengajarkan bahwa lapisan berakhir pada arah darat maupun ke arah laut (cekungan). Dengan demikian muncul istilah mengenai berakhirnya lapisan sbb:

Teguh Jatmiko

Stratigrafi seismik

1. Pengakhiran lapisan terhadap bagian bawah lapisan (termination base/ base lapping) al: onlaping, downlapping, backstepping 2. Pengakhiran lapisan terhadap bagian atas lapisan (termination to ward top/ toplapping) al: toplapping/ oflapping, dan truncation Dengan demikian sikuen stratigrafi menekankan ada penghentian lapisan secara lateral merupakan suatu prinsip (lateral termination of strata) dari prinsip kesinambungan lateral dari lapisan. Hukum ke-2 dr Prinsip Steno ini berlaku secara lokal, hal mana dimasa lampau pengamatan terbatas pada singkapan dan pemboran yang kemudian diproyeksikan secara regional.
Progradation (HST) Progradation (LSTW)

onlapping

d ownla pp ing

Retrogradation (TST)

Agradation (HST)

Onlapping backstepping Transgressive Surface of erosion Arah akumulasi sedimen

Max.Marine Flooding Surface

Gambar.3Prinsip akumulasi lateral juga memberikan berbagai, Pola penumpukan perlapisan spt: 1. Progradasi (pola sigmoid, tabular), pola ini memberikan pergeseran kedua arah (o.l & d.l) ataupun satu arah yi arah laut (spt truncation atau t.l dan d.l) 2. Retrogradasi, memberikan penumpukan searah yi ke darat spt o.l & backstepping & 3. Agradasi (penumpukan vertikal)

Hukum Original Horizontality Vs Clinoform Secara tradisionil sedimen di endapkan dalam keadaan aselinya secara horisontal, atau tidak sejajar dengan lap (atau dasar cekungan) yang ada di bawahnya. Belakangan juga diakui adanya kemiringan asli, subpararel dalam hal terjadinya onlapping. Dalam sikuen stratigrafi adanya pengendapan yang miring pada clinoform (walaupun hanya beberapa derajat saja) selain yang horisontal merupakan prinsip dasar, karena keadaan ini mengendalikan sedimentasi dan urutan stratigrafi pada umumnya. Prinsip pengendapan pada clinoform jelas tidak sesuai lagi dengan hukum ke-3 Steno yang menyatakan bahwa endapan sedimen di endapkan pada keadaan aslinya dalam keadaan mendatar atau horisontal (original Horizontality of strata). Sikuen stratigrafi mengajarkan bahwa lapisan pada umumnya diendapkan pada permukaan miring atau disebut clinoform, walaupun masih mengenali pengendapan dalam keadaan horisontal. Hukum Vertical vs lateral acumulation Dalam stratigrafi tradisional lapisan sedimen menumpuk atau berakumulasi secara vertikal, walupun diakui adanya pergeseran fasies secara lateral sepanjang lapisan dan adanya onlapping.
Teguh Jatmiko

Stratigrafi seismik

Dalam sequence stratigraphy secara prinsip lapisan sedimen berakumulasi bukan saja secara vertikal akan tetapi akumulai secara lateral merupakan proses yang dominan. Sequnece stratigraphy secara prinsip mengenal akumulasi secara agradasi (vertikal), retrogradasi (vertikal & lateral) dan progradasi (lateral). Prinsip akumulasi lateral juga tidak sesuai lagi dengan prinsip Steno yang secara implisit menekankan bahwa lapisan sedimen menumpuk secara vertikal, yang diturunkan prinsip original horizontality.. Sequnce stratigraphy mendasarkan pada kenyataan bahwa akumulasi sedimen terutama terjadi di pinggiran paparan atau tepian daerah pantai, dimana akumulasi terjadi secara lateral. Konsep ini masih juga mengenal terjadinya akumulasi secara vertikal dalam keadaan tertentu misal karena adanya subsidence dan compation. Dengan demikian sikuen stratigrafi sebetulnya berprinsip bahwa penumpukan sedimen mempunyai komponen lateral dan vertikal, dimana komponen horisontal lebih bersifat dominan. Karena dua komponen akumulasi ini maka prinsip akumulasi lateral juga memberikan berbagai jenis pola penumpukan perlapisan spt: 1. Penumpukan progradasi (pola sigmoid, tabuler), yang memberikan pergeseran kedua arah (onlaping dan downlaping) ataupun satu arah (arah laut) (truncation atau toplapping dan downlapping) 2. Penumpukan retrogradasi dimana memberikan penumpukan searah (ke darat, onlapping, dan backstepping) 3. Penumpukan agradasi (penumpukan vertikal) KONSEP KETIDAKSELARASAN DAN STRATAL DISCONTINUITY. Konsep ketidakselarasan/ unconformity pertama dicetuskan oleh James Hutton (1785), dalam gagasannya mengenai adanya daur geologi (gelogical cycles). Ketidakselarasan adalah bukti adanya ketidaklanjutan secara vertikal dari sedimentasi, yang disebabkan oleh adanya gejala tektonik (spt: perlipatan, kemudiann disusul oleh pengangkatan /orogenesa) atau gejala tektonik pengangkatan dan kemiringan ataupun semata-mata pengangkatan saja/ epirogenesa.) Istilah unconformity kemudian berkembang menjadi berbagai jenis, spt: disconformity, agular unconformity, nonconformity dsb. Dalam sikuen stratigrafi, ketidakselarasan merupakan salah satu dari ketidaklanjutan lapisan (stratal disconformity), dimana turun naiknya m.a.l relatif merupakan unsur penting. Disini ditekankan keberadaan ketidak menerusan secara vertikal dalam perlapisan atau stratal discontinuity. Dalam hal ini stratal discontinuity mengandung pengertian adanya hiatus atau waktu yg tidak terekam denga cukup panjang. Bentuk-bentuk stratal discontinuity itu adalah dapat bentuk-bentuk: 1. permukaan non-erosi (non-erosional surfaces). dan 2. Permukaan tererosi Bentuk-bentuk permukaan non-erosi yang berupa stratal discontinuity itu tidak dikenal dalam stratigrafi tradisional. Bentuk non-erosi itu antara lain: 1. Permukaan tanpa pengendapan (surface non-depositional), dimana sedimen lewat permukaan tanpa adanya pengendapan atau pengerosian yang berarti, yang disebut sebagai sedimen by passing, (depostional hiatus.) 2. Permukaan berakhirnya lapisan (surface of stratal termination), jadi berhubungan dengan prinsiple of stratal termination, spt onlap surface, downlap surface, toplap surface dan apparent surface.

Teguh Jatmiko

Stratigrafi seismik

Dalam sikuen stratigrafi perlu diketahui juga bahwa keadaan tanpa pengendapan (surface of non-depositi) hal ini merupakan suatu bidang stratigrafi yang penting dan prinsipiil yang disebut SB tipe 2, disebut juga sebagai tipe 2 unconformity. Permukaan erosi mencakup ketidakselarasan dalam arti klasik (classical unconformity) dan berhubungan dengan subaerial exposure dan proses transgresi. Namun selain itu mencakup juga bidang permukaan erosi bawah laut (surface of sub-marne erosion), suatu konsep yang juga tidak ada dalam stratigrafi tradisional. Dalam hal ketidakselarsan klasik (surface of erosion with subaerial exposure), dikenal juga ketidak selarasan berupa: a. Diskordansi dengan pemancungan (discordance with truncation) yang dalam istilah stratigrafi tradisional dikenal sebaaig angular unconformity. b. Konkordansi dengan pengikisan lembah (concordance with incised valleys) yang dalam istilah stratigrafi tradisional dikenal sebagai disconformity. Perlu dijelaskan bahwa dalam Bahasa Indonesia istilah diskordansi (diambil dari bhs Belanda discordantie, antara lain hoek-discordantie = angular unconformity) dan unconfornmity (Bahasa Inggris) diterjemahkan sebagai ketidakselarasan. Dalam kontek ini discordance dan concordance diartikan sebagai hubungan antar lapisan, dan tidak perlu dalam hubungan unconformity yang mengandung arti adanya hiatus. Salah satu konsep baru adalah bahwa unconformity dapat berlanjut secara lateral menjadi permukaan yang selaras (equivalent conformable surface) dimana tidak terdapat stratal discontinuity. Dari pembahasan di atas jelaslah bahwa telah terjadi pergeseran dalam pengertian ataupun definisi unconformity, malah mencakup konsep stratal discontinuity lainnya yg tidak pernah ada dalam prinsip stratigrafi tradisional. PENDAURAN LAPISAN (CYCLICITY OF STRATA) DAN SISTIM KLASIFIKASI STRATIGRAFI. Adanya daur stratigrafi, sebenarnya telah lama dikenal dan terutama Wheeler (1958) secara khusus membahas mengenai adanya cyclotheme. Namun stratigrafi sikuen secara explisit menyatakan bahwa semua urutan sedimen dapat dianalisis sebagai bersiklus. Walaupun juga diakui adanya siklus yang terjadi sendiri (autocyclus) seperti dalam perpindahan delta lobe, namun kebanyakan cycles dpt diterangkan oleh turun-naiknya muka air laut yg eustatik dan global. Diakui pula adanya proses yg bersifat berulang (repetitive) yg disebabkan tektonik, dan yg bersifat episodic (sewaktu-waktu). Dalam hal kejadian berdaur maupun berulang, stratigrafi sikuen mengenal berbagai tingkatan atau order yang masing-masing mempunyai jangka waktu panjang maupun pendek. Dalam hal daur maka pada tingkatan lapisanpun atau yang disebut parasequence, terdapat daur berfrekuensi tinggi (order 4 atau lebih), maupun berfrekuensi rendah (order 3 sampai ke 1), dan frekuensi ini dinyatakan dalam puluhan ribu ratusan juta tahun. Frekuensi tinggi tersuperimposisikan pada daur frekuensi rendah sehingga merupakan suatu bentuk kurva yg komplek (convolution). Salah satu daur yang penting dalam stratigrafi sikuen disebut sequence, dimana batas-batasnya merupakan unconformity yg merupakan sedimentasi dalam 1 cyclus turun naiknya muka laut. Bagian-bagian dari daur itu disebut system tracts yang terbagi dalam lowstand (LST), trangressive(TST) dan higstand system tracts (HST). Satu system tract terdiri a set parasequence, yg merupakan satu genetically related units yang ditafsirkan pula sebagai daur kecil, yang dibatasi apa yang disebut marine flooding surfaces (MFS). Setiap siklus kecil ini dapat
Teguh Jatmiko

Stratigrafi seismik

dikenal dalam setiap urutan stratigrafi, dan merupakan daur order ke 4 s/d ke 6, sedangkan penyebabnya ditafsirkan perubahan iklim dan muka laut secara kecil-kecilan yang dikaitkan dengan gejala astronomis yang berdaur seperti axial oblixity dan orbit eccentricity dan disebut Milankovich cycles. Namun demikian stratigrafi sikuen memperhatikan pula adanya gejala geologi lainnya yang mempengaruhi urutan yg bersifat cyclic, seperti gejala tektonik (orogenesa) yang bersifat perulangan (repetitive) dan gejala proses sedimentasi yang bersifat episodic. Jelas stratigrafi sikuen telah memberikan pengertian mengenai klasifikasi baru yg lain sama sekali dengan apa yang kita kenal dalam stratigrafi tradisionil seperti satuan lithostratigrafi (formasi, anggota, kelompok), dan kronostratigrafi (stage, epoch dsb), dimana kelihatannya tidak ada hubungannya sama sekali antar satuan stratigrafi tersebut, karena konsep atau cara kita mengamati gejala stratigrafinya sudah lain sama sekali, dengan menggunakan kriteria yang lain. PENDEKATAN: (Descriptive vs Deterministic) Stratigrafi Tradisionil : Deskriptif Stratigrafi ini berlandaskan atas deskripsi dari lapisan-lapisan yang diamati, (didasarkan kriteria yang dapat diamati), dan interpretasi terbatas dari padanya. Kriteria itu bisa bersifat litologi dan/ atau fosil (paleontologi, biostratigrafi), sehingga adanya satuan lithostratigraphy, satuan chronostratigraphy dan geochronology. Malah dalam Sandi Stratigraphy International terakhir (1984) terdapat profillifsas satuan stratigrafi yang bersifat desktriptif, dan beberapa satuan interpretasinya. Satuan interpretatif ini yang bersifat satuan waktu, merupakan usaha globalisasi satuan seperti berbagai jenis satuan kronostratigrafi. Satuan litologi tetap bersifat lokal dan tidak terkait secara global. Sequnce Stratigraphy: Deterministik Terikat oleh hukum-hukum dari daur turun/ naiknya muka laut. Stratigrai sikuen, walupun pada mulanya bersifat deskriptip seperti halnya dalam stratigrafi tradisional, tetapi telah berkembang menjadi ilmu yang sangat deterministik, malahan bersifat prediktif. Satuan stratigrafi & sedimentasi ditentukan oleh aturan-aturan yang dapat diturunkan dari hukum turun-naiknya muka air laut yang bersifat global. Dengan menambahkah input laju pasokan sedimen, laju penurunan tektonik, maka satuan-satuan stratigrafinya (sytem tract/ facies) dapat diprediksi. Dalam stratigrafi sikuen faktor geologi yang mengendalikan urutan stratigrafi, pola penumpukan lapisan (stratal stactking pattern) dan facies dikendalikan hanya oleh 3 faktor: 1. Laju perubahan m.a.l eustatik (eustatic sealevel changes) 2. Laju penurunan/ tektonik (tectonic subsidence) dan, 3. Laju Pemasokan sediment (sediment supply) Ketiga faktor di atas itu menentukan perubahan muka laut relatif dan apa yg disebut sediment accomodation, suatu konsep baru yg menyangkut kedalaman laut (bathymetry) Satuan statigrafinya spt: sequence, system tracts, parasequences dpt dikaitkan langsung dengan turun naik muka laut relatif. Hal ini langsung dikaitkan dengan perubahan muka laut eustatik yang bersifat cyclic, dengan memperhitungkan laju pasokan sedimen dan laju penurunan tektonik.

Teguh Jatmiko

Stratigrafi seismik

Dengan mengetahui persamaan sinusoid dari perubahan muka laut eustatik untuk zaman tertentu, dan memasukan 2 nilai laju tsb, maka pada suatu titik dalam suatu cek sedimen dapat diprediksi urutan stratigrafi sikuen, termasuk sistim tracks yang akan terbentuk, pola penumpukan lapisan, serta ketebalan, sehigga dimungkinkan suatu simulasi sedimentasi komputer, dimana out-putnya berupa suatu penampang stratigrafi. Endapan darat adalah sangat ditentukan oleh perubahan muka laut relatif, hal ini yang akan merubah base-of level of erosion, dan ini menentukan adanya erosi atau pengendapan di dataran aluvial. Pengendapan laut dalam yang diluar pengaruh turun naiknya m.a.l akan ditentukan secara tidak langsung oleh turun-naiknya m.a.l, yi perubahan yg hampir tdk teramati dalam gejala kimia-fisika dan biologi dr ling pengendapan. Dengan demikian jelaslah bhw strat sikuen sifatnya sdh sangat deterministik, bahkan prediktif. Integrasi antara stratigrafi waktu dan batuan Dalam stratigrafi sikuen tidak ada lagi pemisahan an-tara sat stratigrafi waktu, dan batuan. Sat bat terikat oleh batas-batas waktu, krn sat bat yg bersifat fasies didefini- sikan berdsrkan kriteria yg terikat waktu, yg dihubungkan dg fase dr daur turun-naiknya m.a.l yg bersifat sinusoid. Sifat global. Mengingat bhw sat stratigrafi dikendalikan oleh kurva turun-naiknya m.a.l yg dinyatakan bersifat global, maka sat stratigrafinyapun (yg disebut sequence) bersifat global. Bahkan untuk sat bawahannya spt sistim track, parasequence, yg dibatasi oleh MFS dinyatakan bersifat global, yg dihubungkan dg daur Milankovic yg berperiode puluhan - ratusan ribu tahun per siklus. METODA & TEKNIK Praktek dalam sequence stratigraphy. Strat sikuen memberikan dampak pd metoda peng-amatan singkapan, metoda korelasi, maupun dlm interpretasi. Pengamatan singk tdk lagi semata-mata deskriptif, na-mun sdh diarahkan pd pengenalan hal-hal spt: MFS, SB, trangressive surface, condensed sections dsb, yg suliit diamati kecuali dg menggunakan kriteria tertentu. Hal yg sama juga thdp pengamatan yg diarahkan untuk mengenal jenis SB, sistim track, parasikuen, berdsrkan deduksi dng menggunakan kriteria-kriteria tertentu. Dalam hal metoda korelasipun strat sikuen menggunakan prosedur yg lain, yg lebih bersifat deterministik dng memperhatikan bounding surface, disconformity, unconformity, serta stratal patern, adanya onlaping, down laping, backsteping dsb. Metoda korelasi Dalam melakukan korelasi terjadi praktek yang lain. Pada stratigrafi tradisionil, korelasi dilakukan antar lapisan (formasi). Juga pada subsurface, dilakukan korelasi dengan meneruskan bidang perlapisan/ bidang kesamaan waktu, dan horizon korelasi. Pada stratigrafi sikuen, korelasi dilakukan dengan melacak SB dimana bid ketidak-selarasan dpt dilanjutkan pd bid antar-lapisan yg selaras, MFS, Condens section, dan dlm melaksanakan korelasi detail pd parasequence dilakukan

Teguh Jatmiko

Stratigrafi seismik

pd MFS, dg memperhatikan pola penumpukan spt agradasi, prograda si, dan retrogradasi) dimana terjadi stratal termination. Dasar Klasifikasi Stratigrafi Pd strat tradisionil yg dijadikan dsr pengelompokan sat bat adalah kriteria litologi dlm hal sat litostratigrafi atau penyebaran asosiasi fosil dlm hal biostratigrafi. Yg bela-kangan ini ditafsir sbg kronostrat dan menjadi dasar geokronologi. Dlm strat sikuen dsr pembagian sat strat adalah pe-ngenalan adanya permukaan antar lap yg bersifat unconformity serta korelasinya, permukaan yg memisahkan ber-bagai sistim track yg tidak berdsrkan kriteria litologi saja ttp hrs memperhatikan kriteria biostratigrafi maupun kriteria korelasi serta sifat dr bid permukaannya sendiri. Posisi suatu sat stratigrafi dpt saja berdampingan dgn sat lainnya atau bergeser scr geografinya dan tdk perlu berada di atas atau di bawahnya. Identifikasi Fasies dan Sistim track Sebetulnya antara fasies dan systim track, terdpt perbedaan prinsip, ttp dlm suatu sistim track dpt diidentifikasi adanya bbrp fasies atau lebih tepat lagi ling peng-endapan. Dalam satu fasies, mis nya suatu fasies serpih marine dpt saja terpotong oleh dua sistim track, mis nya bag bawahnya termasuk dlm TST, sedangkan bag atasnya masuk HST, sedangkan pd bag distalnya suatu deep ma-rine fasies, bisa mrpkn gabungan antara LST, TST, dan HST krn semuanya diendapkan dlm ling yg sama. Sistim track sering dibedakan krn adanya pola pengendapan, spt adanya down lapping surface, condesed section yg scr kriteria litologi maupun paleontologi sulit untuk dibedakan. PERBEDAAN (KOEXISTENSI) ANTARA STRATIGRAFI TRADISIONAL DAN STRATATIGRAFI SIKUEN. Dewasa ini terjadi koeksistensi antara srat tradi-sional dg strat sikuen. Pd geologi permukaan (surface geology) penelitian geologi serta juga klasifikasi stratigrafi masih mempergunakan paradigma stratigrafi tradisional. Akan memerlukan waktu cukup lama untuk dpt mengkonfer-sikan pengetahuan strat tradisional, spt terdpt pd petape- ta geologi, untuk menjadi strat sikuen mengingat kriteria-nya sangat berlainan, kemungkinan besar penelitian strati-grafi berdsrkan surface geologi hrs ditentukan ulang untuk dpt dikonversikan ke strat sikuen. Diindustri minyak dan gas bumi, terutama dg menggunakan data pemboran dan seismik pd umumnya terjadi penyesuaian ant strat tradisio-nal dng strat sikuen. Walupun sebenarnya scr prinsip ke dua ilmu stratigrafi tsb berlainan, ttp dalam prakteknya terjadi penyesuaian antara satsat strat tradisional pd sat-sat strat sikuen, dg melakukan modifikasi pd batas formasi shg sesuai dg batas-batas sikuen dan sistim trak. DAMPAK PERGESERAN PARADIGMA PADA PENDIDIKAN. Strat sikuen mempunyai dampak yg luas thd pen-didikan. Untuk mereka yg ingin masuk industri perminyakan, jelas pendidikan, dalam prinsip-prinsip serta konsep dan metoda strat siukuen yg menjadi dasar untuk struktur geologi, sejarah geologi, geologi minyak dan gas bumi, dsb hendaknya dipahamai. Dilain fihak yg menjadi masalah ada-lah, bhw prinsip-prinsip strat tradisional itu masih dipergu-nakan dlm pemetaan geologi, dan dlm penerapan ilmu geo-logi lainnya. Apakah prinsip-prinsip strat tradisional, masih harus di ajarkan, apalagi metoda pengamatan
Teguh Jatmiko

Stratigrafi seismik

singkapan, dan pemetaan hrs dikomplementasikan dg metoda strat sikuen yg tdk mengenal adanya formasi, member, dsb, Ma-lah scr prinsipil tdk ada ekuifalensinya, malah prinsipnya saja sdh tidak sesuai lagi. Menambahkan prinsip-prinsip strat regional. Pd tingkat strata 1. selain akan menambah beban kurikulum juga akan membingungkan para mahasiswa krn cara pan-dang, konsep yg lain, maupun cara-cara pengamatan singkapanpun yg lain. Masalah lain adalah peng indonesian isti-lah-istilah stratigrafi. Sampai sekarang ini kecenderungan-nya adalah untuk menterjemahkan istilah bhs Inggris kedlm istilah istilah bhs Indoneia murni. Apakah sekarang harus diciptakan istilah istilah baru untuk strat sikuen?. Saya lebih cenderung untuk lebih meng Indonesiakan istilah-istilah bhs Inggris yg telah dipergunakan dalam strat sikuen, dr pd menciptakan istilah-istilah bhs Indonesia yg baru untuk menghindarkan salah pengertian konsep. Selain itu harus diadakan upgrading bg para dosen yg masih mengikuti pendidikan dlm strat tradisional. Juga para dosen yg sdh berhub dg strat sikuen perlu disadarkan akan adanya per-geseran dlm paradigma, dan kesadaran adanya konsep, prinsip, maupun metode yg lain, perlu ditanamkan untuk tdk membingungkan para mahasiswa, krn mungkin terjadi pandangan yg tidak sesuai. KESIMPULAN Suatu revolusi ilmiah, tlh terjadi dlm 2 dekade ter-akhir ini, dlm ilmu geologi, khususnya dlm plate tectonic dan Sequence Stratigraphy yg tlh menimbulkan, atau paling tdk pergeseran dlm paradigma. Pergeseran dlm paradigma meliputi prinsip-prinsip yg mendasar, konsep baru maupun cara dalam menyelesaikan problem geologi, khususnya sequence stratigraphy. Pergeseran paradigma terjadi krn kemajuan teknologi yg tlh memberikan gambaran yg akurat mengenai pola perlapisan bat sedimen yg menerus scr regional, pemahaman yg lebih baik mengenai cara terdpt-nya lap sedimen, shg menimbulkan pandangan dunia yg lain terhdp akumulasi lap sedimen. Prinsip-prinsip Steno memerlukan modifikasi, bahkan perubahan sama sekali. Begitu pula konsep ketidakselarasan sdh tdk sesuai lagi. Penafsiran stratigrafi tlh bersifat sangat deterministik dan prediktif dng menerima sbg suatu kenyataan sifat cyclitas dari urutan lapisan serta menjadikan cyclitas dari turun-naiknya m.a.l eustatik sbg penyebab utama pengendali sistim pola perlapisn bat sedimen. Walaupun sistim klasifi-kasi Sequence Stratigraphy belum diakui keberadaannya dlm Sandi Stratigrafi Internasional 1994, maupun dlm Sandi Stratigrafi Amerika Utara 1983, namun konsep, prinsip maupun metoda Sequence Stratigraphy tlh banyak diapli-kasikan didalam eksplorasi minyak dan gas bumi, dan scr terbatas dlm eksplorasi batu-bara, shg dpt dikatakan sbg standar praktek untuk memecahkan masalah-masalah stratigrafi. Dilain pihak pemetaan geologi permukaan maupun penelitian geologi lainnya masih menggunakan konsep stratigrafi tradisional, dan hal ini menimbulkan masalah dalam dunia pendidikan geologi. DAFTAR PUSTAKA 1. Barrel, J., 1917, Rythms and the measurements of geologic time: Geol .Soc. America Bull, v28, p.745-904 2. Blackwelder, E.,1909, The valuation of unconformities: Jour.of Geology, v.17, p.289-300. 3. de Boer. P.L. and D.G. Smith.1994. Orbital forcing and cyclic sequences: Internat. Assoc. Sedimentologist Spec. Publication, v.19, p.1-4 4. Gilluly, J., 1949, Distribution of mountain building in geologic time: Geol, Soc. Amer. Bull.v.60,p.561-590

Teguh Jatmiko

Stratigrafi seismik

5. International Subcommission on Stratigraphic Classification of IUGS International Commission on Stratigraphic, 1994, International stratigraphic guide- A guide to stratigraphic classification, terminology, and procedur (Amos Salvador, editor, 2nd ed.): International Union of Geol. Sciences and Geol. Soc. Of America, 214 p. 6. Knopf, A., 1948, The geosynclinal theory: Geol .Soc. Amer Bull, v59, p.649-670 7. Kuhn, Thomas, 1970, The structure of scientific revolutions: Univ.of Chicago Press 8. Kuhn, Thomas, 1974, Second thoughts of paradigms in Frederick Schuppe (ed) The structure of scientific: Univ.of Illinois Press, Urbana. 9. Mitchum,, M.R.,Jr., 1977, Seismic stratigraphiy and global changes of sea level, Part.II: Glossary of Terms used in seismic Stratigraphy, in Payton, C.E., ed., Seismic Stratigraphy-Application to Hydrocarbon Exploration: Am.Assoc Petroleum Geologist Memoir #29, p.205-212 10. North American Commission on Stratigraphic Nomenclature, 1983. North American Stratigraphic Code: AAPG Bull.v.67, p.841-875 11. Rich. J.L., 1951, Three critical environments of deposition, and criteria for recognition of rocks deposited in each of them: Geol. Soc. Amer. Bull, v.62, p.1-20 12. Schenck, H.G., 1961, Guiding priciples in stratigraphy: Jour. Geol. Soc. India, v.2, p1-10 13. Sangree, 1994. Exploration and production applications of sequence stratigraphy: Short Course Notes. 14. Schenck, H.G., and Muller, S.W., 1941, Stratigraphy terminology:: Geol. Soc. Amer. Bull v.52, p14191426 15. Sloss. L.L., W.C.Krumbein and E.C.Dapples, 1949, Integrated facies analysis in C.R. Longwell (ed) Sedimentary facies-Geologic history: G.S.A Memoir 39, p.91-124 16. Sloss. L.L., 1963, Sequences in cratonic interior of North America: GSA, Bull., v.74. p.93-114 17. Sloss. L.L., 1988, Forty years of sequence stratigraphy : G.S.A Bull., v.100. p.1661-1665 18. Vail. P.R., Mitchum, R.M., Jr. And Thompson, S.III, 1977, Seismic stratigraphy and global changes of sealevel, Part 3: Relative changes of sealevel from onlap, Payton , C.E., ed., Seismic Stratigraphy-Application to Hydrocarbon Explorat-on: Am Assoc Petroleum Geologist Memoir#26, p.63-81 19. Weimer, Robert J., 1972, 1975 Research for fossil fuel exploration: Short Course Notes. 20. Wheeler, H.E., 1958, Time-stratigraphiy: AAPG Bull.v.12, p.1047-1063

Teguh Jatmiko

Stratigrafi seismik

Teguh Jatmiko