Vous êtes sur la page 1sur 6

Promotif, Vol.1 No.

2 Apr 2012 Hal 100-105

Artikel VI

UJI KADAR ZAT PEMANIS SAKARIN PADA SIRUP DI PASAR MANONDA PALU TAHUN 2010 Amsal Bagian Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Palu ABSTRAK Bahan tambahan pangan adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan bukan rnerupakan komponen khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, dan penyimpanan. Sakarin adalah zat pemanis buatan dari garam natrium dan asam sakarin berbentuk bubuk kristal putih, tidak berbau dan sangat manis.Bahan tambahan makanan yang berlebihan dan tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, dapat membahayakan kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui jumlah kadar zat pemanis sakarin pada 4 (empat) jenis sirop di Pasar Inpres Manonda Palu. Hasil uji Laboratorium menunjukkan bahwa 2 (dua) sampel sirup yaitu sirup segar dan sirup joy jus yang mengandung sakarin, namun tidak melebihi kadar yang telah ditetapkan, sedangkan 2 (dua) sampel sirup yaitu sirup pisang ambon dan sirup vinna tidak mengandung sakarin (0 mg/kg). Disimpulkan bahwa dari 4 jenis sampel sirup yang diperiksa,semuanya memenuhi syarat. Disarankan kepada pihak pemerintah kota Palu khususnya Badan Pengawas Obat dan Makanan agar tetap melaksanakan pengawasan terhadap kualitas sirup khususnya yang beredar di Pasar Inpres Manonda Palu dan pasar lainnya yang ada di kota Palu. Kata Kunci Daftar Pustaka : Zat Pemanis Sakarin : investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Oleh karena itu upaya kesehatan diselanggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu menyeluruh dan berkesinambungan (Undang-Undang No. 36 tahun 2009). Didalam kehidupan sehari-hari pangan mempunyai peranan yang sangat penting dalam kesehatan masyarakat dan kehidupan manusia. Di Indonesia sebagian besar dari masyarakatnya masih mempunyai pendapatan dan tingkat pendidikan yang relatif rendah, dimana kesadaran dan kemampuan mereka sebagai konsumen dalam memilih pangan seringkali mengabaikan kualitasnya (Cahvadi W, 2006).

PENDAHULUAN Kesehatan merupakan hak dasar atau hak Fundamental warga Negara dalam kehidupan berbangsa dan benegara. Sesuai dengan UndangUndang No 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP - N) tahun 2005 dinyatakan bahwa untuk mewujudkan bangsa yang berdaya saing pembangunan Nasional diarahkan untuk mengedepankan pembangunan sumber daya manusia(SDM) yang berkualitas dan berdaya saing (Undang-Undang No 17 tahun 2010). Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Sebagai

100

Promotif, Vol.1 No.2 Apr 2012 Hal 100-105

Artikel VI

Pada hakekatnya pangan adalah kebutuhan dasar setiap insan manusia yang paling hakiki yang tidak dapat dihindari untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dimuka bumi ini. Karena pangan inilah manusia dapat hidup dan berkembang baik fisik, mental maupun otaknya. Sehingga pangan menjadi sangat penting peranannya bagi manusia didalam meningkatkan kulitas initelektualitas dan produktivitas kerjanya. Meskipur penting bagi kehidupan manusi pangan menjadi tidak ada artinya jika tidak aman dikonsumsi, karena pangan yang tidak aman dapat menimbulkan masalah kesehatan dan bahkan mungkin saja mematikan, apalagi jika itu terjadi secara masal, dampak yang diakibatkannya dapat menjadi sangat luas, bukan hanya menimbulkan histeria masa tetapi juga berdampak negatif yang sangat merugikan perekonomian negara (Fardias D, 2001) Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi didunia pangan penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) bisa menjadi salah satu pilihan bagi industri pangan dalam pengembangan produknya. Penggunaan BTP di dalam produksi pangan antara lain ditunjukan untuk mengawetkan makanan, membentuk makanan menjadi lebih baik, renyah dan lebih enak di mulut, memberikan warna dan aroma yang lebih menarik sehingga menambah selera meningkatkan kualitas pangan dan menghemat biaya. Bahan tambahan pangan dapat menimbulkan resiko yang tidak baik bagi kesehatan jika produsen menggunakan BTP yang tidak diizinkan atau BTP yang bukan untuk pangan ( non food grade) serta menggunakan BTP dengan dosis atau takaran yang tidak tepat, misalnya melebihi batas maksimum yang ditetapkan oleh instansi berwenang, dalam hal ini BPOM. (http://www.kompas.com di Akses 26 Juni 2010).

Kasus keracunan makanan sering terjadi, ini disebabkan karena sebagian besar Makanan atau minuman berbahaya bagi kesehatan karena menggunakan bahan-bahan yang sebenarnya tidak diperbolehkan atau berlebihan untuk campuran makanan. Temuan bahan sintesis merevolusi industri pengolahan pangan karena murah dan tidak diperlukan dalam jumlah besar. Seiring dengan perubahan masyarakadari agraris ke industri, mesin dan proses kimiawi mendominas teknik produksi makanan sehingga bisa di distribusikan keseluruh dunia, dan akhimya bahan tambahan pangan tidak terhindarkan dalam kehidupan moderen, misalnya pemanis buatan yang rendah kalori sangat populer di Amerika Serikat karena bisa memberikan rasa manis tanpa menambah kalori konsumennya. (http://www.depkes.go.id, diakses 2I juni 20I0). Deputi bidang pengawasan keamanan pangan dan bahan berbahaya badan pengawasan obat dan makanan POM RI Dedi Fardias mengungkapkan, di Indonesia masih banyak permasalahan terkait dengan penggunaan pemanis buatan. Meskipun sudah ada ketentuan ketentuan batas maksimum yang di izinkan, Penggunaan pemanis buatan masih sering dilakukan semena-mena melebihi batas maksimum yang diperbolehkan. Penggunaan pemanis buatan banyak digunakan pedagang kecil dan industri rumah tanggak arena dapat menghemat biaya produksi. Harga pemanis buatan jauh Iebih murah dibandingkan dengan gula asli. Hasil kajian terbatas yang dilakukan oleh badan POM di beberapa Sekolah Dasar SD di Malang Jawa Timur menemukan ada konsums pada

101

Promotif, Vol.1 No.2 Apr 2012 Hal 100-105

Artikel VI

levei yang tidak aman pada penggunaan bahan pemanis buatan sakarin dan siklamat. Dari anakanak SD yang diteliti, ada konsumsi siklamat mencapai 240 persen dari nilai ADI acceptable daily intake, sedangkan konsumsi sakarin ditemukan sebesar 12,2 persen nilai ADL. ADI diartikan sebagai jumlah maksimum senyawa kimia yang bisa dikonsumsi setiap hari secara terusmenerus tanpa menimbulkan resiko pada kesehatan dan senyawa kimia yang dimaksud adalah bahan tambahan pangan dan pemanis buatan (http.//www.kompas.corn,diakses 26 juni 20l0). METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional yang bertujuan untuk mengetahui jumlah kadar zat pemanis sakarin pada 4 jenis sirup di Pasar Inpres Manonda Palu.Populasi dalam penelitian ini adalah semua jenis sirup yaitu sirup pisang ambon, sirup vina, sirup joy jus yang dijual di pasar Inpres Manonda Palu. Sampel dalam penelitian ini adalah keseluruhan dari populasi yang dilakukan dalam pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar zat pemanis sakarin yang terkandung dalam sirup. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan agustus 2010 di Pasar Inpres Manonda palu dan pemeriksaannya dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah Palu. Metode Kerja l. Alat - Beker glas 100 ml dan 250 ml - Siringe - Labu takar 500 ml, 50 ml, 25 ml, dan 10 ml - Pipet volum. - Tabung reaksi - Rak tabung reaksi - Sonikasi - Penyaring - Timbangan analitik - Alat HPLC

2. Bahan - Sirup - Aqua bideslilata - Methanol 60% - KH2PO4 - Methanol gradient (100 ml) - K2HP4 - Methanol 70% 3. Cara kerja a. Larutan uji sejumlah + 5 gram cuplikan ditimbang secara seksama, dimasukkan kedalam labu ukur 50 ml, diencerkan dengan methanol 60% jika perlu disaring. sejumlah 5 ml larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml dan diencerkan dengan air sampai tanda batas, kemudian disaring menggunakan penyaring membrane 0,45 mm dan dihawa udarakan b. Larutan baku Sejumlah + 25 mg Na sakarin ditimbang secara seksama dimasukan ke dalam labu ukur 50 ml, dilarutkan kedalam methanol 60% dan diencerkan adalah tanda. Kemudian dibuat larutan baku antara, dipipet 3 ml larutan baku induk dimasukan ke dalam labu ukur 25 ml dan dilarurutkan dalam aquadest sampai tanda, kemudian dibuat larutan seri yang dipipet berturut-turut 1, 2, 3, 4 dan 5 ml masing-masing dimasukkan kedalam labu ukur 10 ml ditambah aquadest sampai tanda, kemudian disaring menggunakan penyaring membrane 0,45 mm dan dihawa udarakan (B1, B2,B3. B4.B5). 4. Cara penetapan kadar Larutan A dan B disuntikkan secara terpisah dan dilarutkan KcKT kondisi sebagai berikut; Kolom : Okta desililana RP - 18 pada partikel silica 5 mm 06mm x 15cm

102

Promotif, Vol.1 No.2 Apr 2012 Hal 100-105

Artikel VI

Fs gerak : Dikalium hydrogen pospat l0 mMol Kalium hydrogen pospati 10 mMol Metanol (47:47:6) disaring menggunakan penyaring membrane 0,45 mm dan dihawa udarakan. Laju aliran : 1,5 ml/menit Detektor : cahaya ultra violet pada panjang gelombang 225 nm. Volume penyuntikan: 20 ml Kadar sakarin dalam larutan uji dihitung menggunakan kurva kalibrasi dengan persamaan garis lurus : y= a x tb. Dikatakan memenuhi syarat sesuai pemeriksaan laboratorium apabila kadar sakarin sakarin didalam sirup < 300 mg/kg. Dikatakan tidak memenuhi syarat sesuai pemeriksaan laboratorium apabila kadar sakarin didalam sirup > 300 ml/kg. HASIL PENELITIAN Pasar Inpres Manonda Palu terletak di Wilayah Kota Palu Kecamatan Palu Barat dengan luas areal + 3 Ha. Dengan pembagian batas - batas adalah sebagai berikut: 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Jalan Kenduri 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan jalan Bayam 3. Sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Kacang Panjang 4. Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Labu Status dalam kepemilikan Pasar Inpres Manonda Palu adalah milik swasta yang yang dikelola oleh Koperasi Pedagang Pasar Manonda Palu (KOPERASI) dengan masa kontraknya 25 tahun. Setelah masa kontrak dari pasar manonda selesai diserahkan k e PEMDA setempat untuk dikelola lebih

lanjut. Pasar Manonda sebelumnya di kelola oleh Dinas Pasar di bawah Dinas Pendapatan. Pada tanggal 27 Juli 2002 pengelolaan Pasar Manonda diserahkan ke PEMDA Wilayah Kecamatan Palu Barat yang bertanggung jawab dalam Mengelolah retribusi pasar, kebersihan pasar dan keamanan. Jumlah dalam pengelolaan pasar inpres tersebut terdiri dari 8 (delapan) orang penagih retribusi pasar yaitu sebesar Rp. 500 dan untuk kebersihan pasar sebesar Rp. 300, jadi setiap pedagang atau penjual yang berjualan di Pasar Inpres Manonda Palu membayar sebesar Rp. 800 perhari, kemudian 2 (dua) orang anggota TNI, 12 (dua belas)orang satpam, dan 23 (dua puluh tiga) orang tenaga kebersihan pasar (cleaning service). Pasar Inprer Manonda Palu terbuka untuk umum dan beraktivitas setiap hari dari pukul 06.00 18.00. Dalam penelitian ini penulis hanya meneliti sirup yang dijual di Pasar Inpres manonda Palu. Sesuai dengan hasil survei yang dilakukan peneliti terdapat 4 jenis sirup yang beredar yaitu : a. Sirup Pisang Ambon c. Sirup Vinna b. Sirup Segar d. Sirus Joy Jus Pemeriksaan laboratorium dilaksanakan pada tanggal 7 September 2010 di Laboratorium Balai Pengawasan Obat dan Makanan pada uji kadar zat pemanis Sakarin di Pasar Inpres Manonda Palu. Berdasarkan hasil penelitian dan pemeriksaan hasil laboratorium diperoleh hasil sebagai beriku

103

Promotif, Vol.1 No.2 Apr 2012 Hal 100-105

Artikel VI

Tabel 1 Uji Kadar Zat Pemanis Sakarin Pada Sirup di Pasar Inpres Manonda Palu Tahun 2010 No 1 2 3 4 Jenis Sirup Sirup pisang Ambon Sirup Segar Sirup Vinna Sirup Joi Jus Sumber : Data Primer Standar < 300 mg/kg < 300 mg/kg < 300 mg/kg < 300 mg/kg Kadar sakarin 0 71,8199 0 89,48 MS TMS

Keterangan MS : Memenuhi Syarat TMS : Tidak Memenuhi Syarat Sirup pisang ambon dan sirup vinna tidak mengandung sakarin (0 mg/kg), sedangkan2 (dua) sampel sirup yang lainnya yaitu sirup segar dan sirup joy jus mengandung sakarin namun tidak melebihi kadar sakarin yang dipersyaratkan. Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa dari 4 sampel sirup yang beredar di Pasar Inpres Manonda Palu, 2 (dua) sampel sirup diantaranya yaitu sirop[ pisang ambon dan sirup vinna tidak mengandung sakarin (0 mg/kg), sedangkan 2 (dua) sampel sirup yang lainnya yaitu sirup segar dan sirup joy jus mengandung sakarin namun tidak melebihi kadar sakarin yang dipersyaratkan. PEMBAHASAN Sakarin merupakan jenis pemanis yang mempunyai intesitas rasa manis yang cukup tinggi 200 - 700 kali sukrosa l0%. sakarin juga mempunyai rasa pahit sehingga penggunaan sakarin biasanya dicampur dengan bahan pemanis yang lain seperti, siklamat atau aspartam untuk menutupi rasa pahit dari sakarin. Sakarin mempunyai sifat yang stabil nonkarsinogenik. Nilai kalori rendah dan Harganya relatif murah. Sakarin banyak digunakan bagi penderita diabetes melitus atau untuk bahan pangan yang berkalori rendah. Batas maksimum penggunaan sakarin adalah < 300 mg/kg. Berdasarkan hasil uji Laboratorium menunjukkan bahwa dari 4 (empat) sampel sirup yang beredar di Pasar Inpres Manonda Palu, ditemukan 2 (dua) sampel sirup yaitu sirup segar dan sirup joy jus yang mengandung sakarin, namun tidak melebihi kadar sakarin yang telah ditetapkan. Sedangkan 2 (dua) sampel sirup yaitu sirup pisang ambon dan sirup vinna tidak mengandung sakarin (0 mg/kg) dan kemungkinan mengandung zat pemanis buatan lainnya seperti siklamat atau aspartam. Dalam penelitian Hennida simatupang (2009) mendapatkan hasil bahwa kadar sakarin pada sirup adalah 60.79 mg/kg, dan pada sirup siap saji adalah 12.14 mg/kg, maka ia menyimpulkan bahwa seluruh sirup masih aman untuk dikonsumsi sekitar 2 liter setiap harinya. Dampak penggunaan sakarin bisa menimbulkan alergi dan penyakit kanker kantung kemih apabila digunakan tidak sesuai dengan kadar yang telah ditentukan sesuai dengan Permenkes R.I Nomor 722/Menkes/Per/IX/1988, yaitu untuk penggunaan zat pemanis sakarin adalah 300 mg/kg. Penggunaan zat pemanis yang berlebihan merupakan penyimpangan dan penyimpangan ini

104

Promotif, Vol.1 No.2 Apr 2012 Hal 100-105

Artikel VI

umumnya disebabkan karena ketidaktahuan produsen terhadap kegunaan, bahaya dosis dan dampak yang mungkin timbul akibat pemakaian zat pemanis tersebut. Untuk mengatasi permasalahan penggunaan zat pemani yang berlebihan pada minuman yang diproduksi, sebaiknya dilakukan pengawasan dan pemeriksaan secara berkala terhadap industri tersebut dan menganjurkan kepada produsen agar menggunakan bahan tambahan makanan jenis zat pemanis yang diperbolehkan dan telah ditetapkan yaitu untuk kadar sakarin < 300 mg/kg dan untuk siklamat < 1000 mg/kg KESIMPULAN Berdasarkan hasi penelitian dan uji Laboratorium yang ditaksanakan di BPOM, tentang uji kadar zat pemanis sakarin pada sirup di Pasar Inpres Manonda Palu dapat disimpulkan bahwa dari 4 (empat) jenis sampel sirup yang diperiksa yaitu sirup pisang ambon, sirup segar, sirup vinna dan sirup joy jus semuanya memenuhi syarat. SARAN Setelah melakukan penelitian ini, maka penulis memberikan saran sebagai berikut : l. Kepada pihak pemerintah kota palu khususnya Badan Pengawas Obat dan Makanan agar tetap melaksanakan pengawasan terhadap kualitas sirup khususnya yang beredar di Pasar Inpres Manonda Palu dan pasar lainnya yang ada di kota Palu.

2. Kepadapeneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti zat pemanis buatan lainnya yang terdapat pada sirup yang belum pemah diteliti. DAFTAR PUSTAKA Cahyadi, W. 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Makanan. PT Bumi Aksara Jakarta Depkes Rl No. 722lMet:*;eslPerlIX /1998T.e ntangB ohanM akanan @fM, Jakarta Fardiaz,D. 2001. Kumpulan Orasi ilmiah Guru Besar Teknologi Pangan dan Gizi http: / /id.w ikipedia.org/wiki/sirup,d iakses1 5 JuI i 2010 http://www.seribd.com/doc/ 24539623/ analisis-sakarin pada minum diakses, 15 Juli 2010 http://www.depkes.go.id/index.php?optio n, diakses 21 Juni 2010 http://www.prakarsarakyat.org/artikel/new s.artikel, diakses 7 Juli 2010 http:i/Yellashakti.Wordpress.com/2008/0 3/25/coca-cola-zero-sugartidak mengandung gulatapi%E2%80%A6/, diakses 7 Juli 20I0 Nurjaya Arinfy R, 2007, Penuntun Prahikum Penyehatan Makanan dan Minuman A , Poltekkes Palu Winamo dan Titi S.R. 1994 .Bahan Tambahan untuk Makanan dan Kontaminan, Sinar Harapan Jakrtrta Peraturan Undang undang RI No. 36 tahun 2009.Tentang Kesehatan Undang-undang No. 17 tahun 2007, Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional

105