Vous êtes sur la page 1sur 31

AKAL: menurut Tinjauan Al Qur an & Neurosains1

Oleh : Hasanudin, Mahasiswa Program Magister Kajian Islam & Psikologi-Universitas Indonesia

Muqaddimah :
Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan
(QS. Adz Dzaariyaat [51]: 21).
Syahdan tersebutlah sebuah kota di Phacis, Yunani Tengah, pada zaman purba, di lereng gunung
Parnassos, dikenal dengan nama : Delphi, pusat ibadat Apollo, tempat orakel Delphi yang terkenal.
Pada orakel dipahatkan sebuah kalimah berhikmah, yang konon berasal dari ucapan SOKRATES
(470-399 SM), seorang filsuf besar Yunani. Kalimah berhikmah itu berbunyi Gnothi Seauthon!
(Kenalilah Dirimu). Sokrateslah filosof Yunani yang pertama mengundang perhatian manusia untuk
memperhatikan dirinya sendiri. Dengan perkataan lain, SOKRATES mengundang perhatian pada
segala yang dimasalahkan oleh manusia itu dengan dimulai dari manusia sendiri sebagai
masalah 2.
Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu : Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri (Kenalilah
3
Dirimu), berarti dia mengenal Tuhannya

1
Neurosains, secara sederhana adalah ilmu yang khusus mempelajari Neoron (sel saraf). Sel-sel saraf ini menyusun sistem
saraf, baik susunan saraf pusat (orak dan saraf tulang belakang) maupun saraf tepi (31 pasang saraf spinal dan 12 pasang
saraf kepala). Sel saraf sendiri bukan unit terkecil lagi dari sel saraf, unit terkecil dari sel saraf (neuron) adalah sinapsis
yaitu titik pertemuan 2 sel saraf yang memindahkan dan meneruskan informasi neurotransmitter-. Pada tingkat biologi
molekuler, unit terkecilnya adalah seperti gen-gen (kajian genetika). Umumnya para neurosaintis memfokuskan pada sel
saraf yang ada di otak. Sebagai ilmu yang masih terus akan berkembang cakupan dan relasinya dengan disiplin ilmu lain,
-termasuk dengan ilmu psikologi- cakupannya cukup luas sebagaimana digambarkan dalam kamus wikipidia (internet
searching) di berikut ini : Neuroscience is a field that is devoted to the scientific study of the nervous system. Such
studies span the structure, function, evolutionary history, development, genetics, biochemistry, physiology,
pharmacology, informatics, computational neuroscience and pathology of the nervous system. Traditionally it is seen as
a branch of biological sciences. However, recently there has been a surge in the convergence of interest from many allied
disciplines, including cognitive and neuro-psychology, computer science, statistics, physics, and medicine. The scope of
neuroscience has now broadened to include any systematic scientific experimental and theoretical investigation of the
central and peripheral nervous system of biological organisms. The empirical methodologies employed by
neuroscientists have been enormously expanded, from biochemical and genetic analysis of dynamics of individual nerve
cells and their molecular constituents to imaging representations of perceptual and motor tasks in the brain. Many recent
theoretical advances in neuroscience have been aided by the use of computational modeling .

2
Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, Jakarta : PT. Bina Ilmu, 1983, h.34.
3
Sebenarnya bukan hadits, Seyyed Hossein Nasr mengutipnya dalam Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam hal.385,
dengan mengatakan bahwa penjelasan hadis ini dinisbahkan kepada Ibn Arabi, tetapi ssungguhnya ditulis oleh
Auhad Al-Din Balyani, Whose Knoweth himself...... terj. T.H.Weir (London: Beshara, 1976).
1
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Fenomena Otak dan Akal
Sebelum sampai kepada pengertian konsep al aql secara utuh, dalam kehidupan atau
percakapan sehari-hari terdapat suatu fenomena tentang otak dan akal ibarat dua sisi dari mata uang
logam, sulit dipisahkan baik kata maupun makna - ada keterikatan dan keterkaitan kuat diantara
keduanya - sehingga perlu dijelaskan.
Otak adalah organ tubuh manusia yang posisinya ditempatkan Tuhan secara terhormat di
bagian atas tubuh manusia dan terlindungi dengan kokoh di bagian dalam tengkorak (batok) kepala.
Posisi otak ini merupakan simbol yang menunjukkan bahwa manusia lebih mulia terhadap makhluk
ciptaan Tuhan lainnya, misalnya hewan yang lokasi dan posisi otaknya sejajar dengan bagian tubuh
terhina dan tempat meyimpan dan mengeluarkan kotorannya (perut dan dubur atau tumbuhan yang
tidak mempunyai otak dan tidak diketahui dimana posisi otaknya jika ada.
Dengan meng-otak atik kata OTAK , kata OTAK juga bisa merupakan kependekan kata
(singkatan) dari kalimat : Organ Tubuh terpenting yang Ada di Kepala manusia.
Muhammad Izuddin Taufiq (2006) dalam bukunya Dalil Anfus Al Qur an dan Embriologi (Ayat-
ayat tentang Penciptaan Manusia) mengatakan : Bagian tubuh yang paling ambigu yang masih
menyelimuti tubuh manusia adalah OTAK karena ia merupakan tempat berfikir yang berkaitan
dengan roh atau jiwa, sedangkan roh atau jiwa itu merupakan sesuatu yang ambigu .4
Maka tidak heran, jika ada yang menyamakan makna antara otak dan akal, begitu juga yang
membedakannya. Harun Nasution termasuk orang yang membedakan, dan menyatakan bahwa
akal dalam pengertian Islam bukanlah otak , melainkan daya berfikir yang terdapat dalam jiwa
manusia; daya sebagaimana digambarkan Al Qur an, memperoleh pengetahuan dengan
5
memperhatikan alam sekitarnya.
Otak adalah organ tubuh yang bukan hanya manusia, binatangpun memilikinya. Ketika otak
bekerja dan salah satu kerja otak itu adalah berpikir, maka otak yang bekerja atau berfungsi tersebut
disebut AKAL. Orang yang tidak berotak adalah orang yang tidak menggunakan otaknya berfungsi
atau berpikir. Otak yang berfungsi dan disebut akal inilah yang membedakan manusia dengan
binatang melata, dan manusia dengan manusia, - al insanu hayawanun nathiqun, manusia
adalah hewan yang berpikir man as the animal that reasons - sebagaimana juga terpapar
secara tersirat dan tersurat sejak 14 abad yang lampau di dalam QS. Al Anfaal [8]: 22, dimana Allah
berfirman :

4
Muhammad Izzududdin Taufik, Dalil Anfus Al Qur an dan Embriologi, Solo : Tiga Serangkai, 2006, h.209
5
Harun Nasution, Akal dan Wahyu Dalam Islam, Jakarta : UI Press, 1986, h.13. Dikutip dalam Taufik Pasiak,
Revolusi IQ/EQ/SQ Antara Neurosains dan Al Quran, Bandung : Penerbit PT.Mizan Pustaka, 2004, h.190.

2
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Sesungguhnya, seburuk-buruk makhluk melata di sisi Allah ialah mereka (manusia) yang tuli dan bisu,
yang tidak menggunakan akalnya (la ya qiluun) . [QS.Al-Anfaal/6 : 22]

Menurut Allah SWT kelebihan manusia dengan binatang, tumbuhan dan manusia lainnya
adalah terletak pada berfungsi atau tidaknya otak untuk berpikir.
Ibnu Sina (980-1037), filosof muslim yang terkenal di timur dan di barat menyatakan bahwa
manusia mempunyai tujuh kemampuan, yaitu : 1) makan, 2) tumbuh, 3) berkembang biak, 4)
pengamatan hal-hal yang istimewa, 5) pergerakan di bawah kekuasaan, 6) ketahuan (mengetahui)
dari hal-hal yang umum, 7) memiliki kehendak memilih yang bebas. Tumbuh-tumbuhan hanya
memiliki kemampuan 1, 2 dan 3, sedangkan hewan memiliki kemampuan 1, 2, 3, 4, dan 5.
Kemampuan 6 & 7 inilah yang sangat potensial membudi dayakan otak untuk berfikir yang tidak
dimiliki oleh makhluk ciptaan Allah lainnya dan membedakannya, bahkan juga membedakan antar
sesama manusia ketika manusia tidak mau mempergunakan otaknya untuk berfikir seperti yang
dijelaskan Allah SWT dalam firmanNya tersebut di atas. Bahkan Allah SWT menjelaskan bahwa
kedudukan manusia yang tidak mau mempergunakan otaknya untuk berpikir lebih rendah/hina dari
binatang ternak sebagaimana disebutkan dalam QS. Al A raaf [7]: 179 ;

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka
mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi)
tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai .

Ibnu Khaldun (1332-1406), cendekiawan muslim yang sangat ahli dalam ilmu sejarah,
sosiologi dan politik adalah sosilog muslim pertama yang sangat terkenal dan fenomenal dengan
karyanya Muqaddimah , mengatakan : bahwa Allah membedakan manusia dan lain-lain hewan
dengan kesanggupan berpikir, sumber dari segala kesempurnaan, dan puncak dari segala kemuliaan

3
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
dan ketinggian di atas lain-lain makhluk. Sebabnya ialah karena pengertian, yaitu kesadaran dalam
diri tentang yang terjadi di luar dirinya, hanyalah ada pada hewan saja, tidak terdapat pada lain-lain
barang ( yang makhluk). Sebab hewan menyadari akan apa yang ada di luar darinya dengan
perantaraan panca indra (pendengaran, penglihatan, pembauan, perasaan lidah dan penyentuhan)
yang diberikan Allah kepadanya. Sekarang manusia memahami ini dengan kekuatan memahami apa
yang ada di luar dirinya dengan perantaraan pikirannya yang ada di balik panca indranya. Pikiran
bekerja dengan perantaraan kekuatan yang ada di tengah-tengah OTAK yang memberi kesanggupan
kepadanya menangkap bayangan benda-benda yang biasa diterima oleh panca indra, dan
mengembalikan benda-benda itu dalam ingatannya sambil meringkasnya lagi bayangan-bayangan
lain dari bayangan benda-benda itu. Refleksi terdiri dari penjamahan bayangan-bayangan ini (dibalik
perasaan) oleh AKAL, yang memecah atau menghimpun bayangan-bayangan itu (untuk membentuk
bayangan-bayangan lain) ...........(jilid II, muka 364).6
Menurut Imam Al Ghazali (1058-1111)7 , seorang pemikir besar Islam, dengan mengacu pada
pengertian kerja atau fungsi akal menyatakan bahwa akal itu tidak bertempat, baik di dalam maupun
di luar badan manusia, bersifat immaterial, dan tidak terbagi bagi. Akal berhubungan dengan badan
dalam bentuk : (1) muqbil ala al-badan (menghadap badan), mufid lahu (memberi keuntungan), dan
(3) mufidh alaih (mengalir kepadanya). Tiga bentuk ini menitik beratkan pada fungsi, proses atau
kegiatan.
Akal sebagai organ yang mengikat dan menahan secara filosofis juga dijelaskan oleh
pemikir Islam dari Malaysia, Syed Muhammd Naquib Al Attas, adalah sesuatu organ aktif dan sadar
yang mengikat dan menahan objek ilmu dengan kata-kata atau bentuk-bentuk perlambang lain.
Ini menunjukkan pada fakta yang sama dan bermakna sama dari apa yang ditunjuk oleh kata : qalb,
ruuh, dan nafs. Sebagaimana Al Ghazali, Al-Attas berpendapat bahwa keempat kata itu bermakna
sama. Kesemuanya menunjukkan realitas yang bertingkat-tingkat (maraatib al wujuud).8
Pada masa pra-Islam, akal hanya berarti kecerdasan praktis yang ditunjukan seseorang
dalam situasi yang berubah-ubah. Akal, menurut pengertian pra-Islam itu, berhubungan dengan
pemecahan masalah. Karena itu, ia bersifat praktis saja. Akal seperti itu, menurut istilah psikologi
kogntif, adalah problem solving capacity (kemampuan untuk memecahkan masalah dan menemukan
jalan keluar dalam situasi apa pun juga9
Seorang penyair-perampok pra-Islam, Al-Shanfara, sebagaimana dikutip oleh Toshihiko
10
Izutsu , telah memakai kata itu-----dengan makna praktisnya-----dalam syairnya:

6
Endang Saifuddin Anshari, Op.cit. , h.6.
7
Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al-Ghazali, Jakarta: Penerbit Rajawal Press, 1988. Dikutip
dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.205.
8
Taufik Pasiak, op.cit, h.194.
9
Toshihiko Izutsu, Relasi Tuhan dan Manusia Pendekatan Semantik Terhadap Al Quran,
Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana, 1997.Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.197.
10
Ibid, h.65. Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.197.
4
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Selama seseorang menggunakan kecerdasannya (wa huwa ya qilu) maka tidak akan tarjadi
peristiwa yang memalukan ketika ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, entah ketika ia
berada di jalan yang akan ia tuju, atau tergesa melepaskan diri dari sesuatu yang dibencinya.
Dengan contoh syair itu, tampak bahwa kata aql sudah sangat tua . Ia termasuk kata
tradisional pra-Islam yang dipinjam Islam melalui Al-Quran. Kata-kata itu merupakan kata yang
biasa dipakai oleh masyarakat Arab pra-Islam.
Izutsu mengkaitkan akal dengan kecerdasan, maka akal adalah Kecerdasan praktis atau
mengikat dan menahan adalah makna dasar kata itu sebagaimana ia dipakai oleh orang Arab pra-
Islam. Ia lebih cocok atau lebih dekat dengan kegiatan penalaran logis, sebuah cara berpikir yang
mengandalkan fakta dan langkah-langkah rasional. Untuk makna ini, kata aql lebih mungkin disebut
reason (Inggris), rasio (Latin), verstand (Jerman), dan Dianoia (Yunani). Dari prosedur kerjanya,
kata ini cocok untuk menyebut cara kerja dari otak kiri yang berpikir secara vertikal11.
Baik Harun, Gozali, maupun Al-Attas membedakan dan memisahkan otak dan akal, bahkan
cenderung menyiratkan bahwa pengertian akal itu kerja jiwa (qalb, ruuh dan nafs), sedangkan Izutsu
lebih meyiratkan bahwa secara historis pra-Islam akal itu kerja kognitif otak sebagaimana juga
dinyatakan oleh Ibnu Khaldun bahwa akal itu kerja otak baik kognitif maupun imajinatif dan dengan
jelas tersirat dan tersurat pada Al Quran Surah Al Anfaal {8}: 22 dan Surah Al Araaf [9]: 179.
Dengan demikian bahwa akal itu adalah fungsi otak yang jika bekerja akan berpikir atau
salah satu kerja otak adalah berpikir. Allah SWT dalam Surah Al Anfaal [8]: 22 tidak menggunakan
kalimat yang tidak menggunakan otaknya , adalah hikmah tersembunyi untuk memotivasi manusia
agar memperhatikan dirinya, menggunakan otaknya untuk meneliti (men-tafakuri dan men-tadabburi)
tentang organ otak . Juga untuk memahami bagaimana bekerjanya dan berfungsinya otak manusia;
apakah otak sama dengan akal, bagaimana kaitan otak dengan akal, jiwa (qalb), ruuh dan nafs serta
bagaimana memaksimalkan otak berpikir manusia untuk mentafakkuri dan mentadabburi ayat-ayat
Allah baik yang tertulis dalam al-Quran maupun yang tidak tertulis di seantero jagat alam semesta ini,
menjadi obyek penelitian, pengamatan dan penjelajahan otak manusia. Allah SWT telah memotivasi
manusia sejak 14 abad yang lampau melalui lisan nabi Muhammad SAW sebagaimana dijelaskan
dalam al-Quran Surat Ali-Imran ayat 190-195 :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan 190


bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal,

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah 191


sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang

11
Taufik Pasiak, Op.cit., h.198.

5
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan
ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa 192


yang Engkau masukkan ke dalam neraka,
maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan
tidak ada bagi orang-orang yang lalim seorang
penolongpun.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami 193
mendengar (seruan) yang menyeru kepada
iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-
mu", maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami
ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan
hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan
kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-
orang yang berbakti.

Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah 194


Engkau janjikan kepada kami dengan
perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah
Engkau hinakan kami di hari kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji."
Maka Tuhan mereka memperkenankan 195
permohonannya (dengan berfirman),
"Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan
amal orang-orang yang beramal di antara
kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena)
sebagian kamu adalah turunan dari sebagian
yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah,
yang diusir dari kampung halamannya, yang
disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan
yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan
kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku
masukkan mereka ke dalam surga yang
mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai
pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya
pahala yang baik."

OTAK MANUSIA
Akal dan pikiran adalah produk organ otak. Kadangkala kita mengatakan akal pikiran, karena
otak yang berpikir pertanda otaknya berfungsi dan menunjukkan eksistensi akal atau pikiran,
sebagaimana pernah dikatakan Plato bahwa bepikir itu berpusat di kepala, begitu juga dengan Rene
Descartes yang mengatakan bahwa pusat jiwa ada di kelenjar pineal otak, maka cogito ergo sum

6
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
(aku berpikir, sebab itu aku ada). Sedangkan Michael Persinger dan Vilyanur Ramachandran, ahli
bedah otak dari Amerika pada dekade akhir abad 20 ini dalam penelitiannya tentang otak
menyimpulkan ada fenomena God Spot dalam lobus temporalis otak (sekitar pelipis).
Pada dekade otak (1990-2000)12, dimana penemuan Moleculer Biology of Cognition (MBC),
telah mampu mencitrakan kemampuan otak organ ciptaan Tuhan melampaui apa yang diketahui
selama ini, termasuk apa yang sebelumnya diketahui oleh Ibn Sina dan Ibn Rusyd, yang menjelaskan
daya-daya berfikir manusia dan Ibnu Khaldun yang menjelaskan peran otak dalam proses berpikir
serta Rene Descartes yang berkata tentang Cogito (pikiran) manusia. Penemuan MBC tersebut
memperlihatkan bahwa hal-hal kejiwaan manusia seperti berpikir, merasa, emosi, ingatan, persepsi,
yang dahulu menjadi lahan mutlak para filosof dan psikolog dan karena itu sangat spekulatif
kini dapat ditelaah secara lebih lugas dan jelas. Begitu juga penemuan tentang neurotransmiter,
amigdala, dan sistem limbik pada otak memberikan pengetahuan mengenai apa yang disebut
akal itu.
Tentang hubungan otak dan jiwa , beberapa puluh tahun lalu, ahli otak John Eccles dalam
bukunya, The Understanding of the Brain (1973:193), mengatakan, bahwa secara teoritis ia
menggunakan konsep 3 dunia dari Karl Popper untuk menjelaskan hubungan otak dan jiwa manusia.
Neurosaintis Erick Kandel, yang memperoleh Nobel Kedokteran, membuktikan hubungan otak dan
jiwa melalui risetnya soal memori siput Apylasia californica. Ia berhasil membuktikan secara
molekuler, kejadian pada sel-sel saraf untuk menguatkan teori psikologi mazhab Behaviourisme,
terutama penemuan Ian Pavlov. Pavlov terkenal dengan Classical Conditioning yang menyatakan
bahwa respons makhluk hidup (ketika meneliti, ia menggunakan hewan percobaan berupa anjing)
dapat dikondisikan melalui pengkondisian stimulus. Penemuan Pavlov yang semula masuk ke
wilayah psikologi kini masuk wilayah molekuler. Perilaku anjing (kondisi psikologi) terjadi karena
adanya pelepasan molekul saraf di ujung sel-sel saraf (kondisi neurobiologi).13
Otak kita secara jasmani/fisik tidak lebih besar dari seuntai anggur Australia, jauh lebih kecil
dari sebuah kol sayur yang tergeletak di pasar tradisional, memiliki berat kurang dari 1,5 kg., namun
kemampuannya berjuta kali lebih hebat dari komputer manapun yang ada dan terhebat di dunia. Otak
kita bekerja mirip seperti CPU (Central Processing Unit) dalam sistem komputer. (lihat gambar 1)
Jika seekor lalat buah memiliki 100.000 sel aktif, seekor tikus memiliki 5 juta sel aktif, seekor
kera 10 miliar sel aktif, maka manusia memiliki sekitar 100 miliar sel aktif sejak lahir. Dan sejak hari
pertama kehidupan sel-sel tersebut membentuk koneksi belajar (atau sinapsis) dengan kecepatan
luar biasa ; 3 miliar perdetik.14

12
Taufik Pasiak, Op.cit., hh.190-1.
13
Taufik Pasiak, Manajemen Kecerdasan, Bandung : Mizan, 2006, h.21.
14
Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar, Bandung : Kaifa. 2000, h.113.
7
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Gambar 1 : Otak Manusia adalah Komputer Biologis Ciptaan Allah

Gambar 2 & 3 : Triliunan Sel Otak (Neuron) ada di dalam kepala kita.

Gambar 4 & 5 : Sel Otak (Neuron) bekerja membentuk jaringan koneksi (sinapsis), dimana neurotransmitter
sangat berperan membawa informasi antar jaringan, membuat otak kita berfungsi optimal (berfikir) dan
menunjukkan bagaimana akal berfungsi.

Tony Buzan, seorang pakar psikologi dan memori, mengatakan, Otak anda terdiri dari
triliunan sel otak. Setiap sel otak adalah seperti gurita kecil yang begitu kompleks. Ia memiliki sebuah
pusat, dengan banyak cabang, dan setiap cabang memiliki banyak koneksi. Tiap-tiap sel otak
tersebut jauh lebih kuat dan canggih dari kebanyakan komputer di planet ini. Setiap sel tersebut
berhubungan dengan ratusan ribu sampai puluhan ribu sel yang lain. Dan mereka saling bertukar

8
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Informasi. Ini sering disebut sebagai jaringan paling mempesona, benda yang begitu kompleks dan
indah. Dan setiap orang memilikinya.15
Roger Sperry, pemenang Nobel Prize, tahun 1981 dalam penelitian tentang otak menemukan
perbedaan kemampuan fungsi otak berdasarkan 2 belahannya yaitu otak kiri dan otak kanan .
(lihat Tabel 1 & gambar 6 & 7). Secara umum, otak kiri memainkan peranan dalam pemprosesan
logika, kata-kata, matematika, dan urutan yang disebut pembelajaran logis-akademis, sedangkan
otak kanan berurusan dengan irama, rima, musik, gambar dan imajinasi yang disebut dengan
aktivitas intuitif-keatif. Kedua sisi belahan otak terebut terhubung melalui / oleh jembatan corpus
callosum sistem saklar saraf yang sangat rumit dengan 300 juta neuron aktifnya bekerja secara
konstant menyeimbangkan pesan-pesan atau informasi yang datang, dan menggabungkan gambar
yang abstrak dan holistik dengan pesan/informasi yang konkret dan logis .

Gambar 6 & 7 : Kemampuan


Belahan/Sisi Otak Kiri & Otak
Kanan dan tampak terlihat
Aktivitas Otak saat membaca
buku pada bagian berwarna
putih di lobus temporal, lobus
parietal dan beberapa pada
lobus oksipetal yang
menggunakan pencitraan dari
alat PET (Pesitron Emission
Tomography).

Otak Manusia memiliki empat bagian tingkatan otak dalam satu kesatuan yang berbeda (lihat
gambar 8) yaitu di bagian bawah : Batang Otak anda, dekat bagian atas leher, disebut OTAK
REPTILIA , karena mirip dengan otak reptil berdarah dingin. Bagian ini mengendalikan sebagian
besar fungsi naluriah tubuh, seperti bernafas dan detak jantung. Di bagian tengah : OTAK MAMALIA,
(Sistim Limbik / Cincin / Kerah) mirip otak mamalia berdarah panas. Bagian ini mengendalikan emosi,
keinginan/kesenangan terhadap lawan jenis dan memori /ingatan anda. Di bagian atas : KORTEKS,
atau disebut juga OTAK MANUSIA; Otak untuk berfikir, berbicara, melihat, mendengar dan mencipta.
Lapisan CEREBELLUM (Serebelum): OTAK KECIL yang berperan penting dalam penyimpanan
Memori Gerak (naik sepeda, berolahraga).

15
Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar, Bandung : Kaifa. 2000, h.113.

9
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Tabel 1 : Performa Dua Otak Manusia Menurut Roger Sperry

OTAK KIRI OTAK KANAN


Pikiran Konkret, Linier, Analitis Abstrak, holistik

Gaya Berfikir Rasional, logis Intuitif, artistik, abstrak

Bahasa Kaya kata-kata, kalimat dan tata Tidak ada tata bahasa dan kalimat,
bahasa yang baik sedikit kata-kata

Kemampuan Introspeksi, berkehendak, berini- Kuang mengenal diri, kurang


memutuskan siatif, mengenal diri, berfokus inisiatif, berfokus pada hutan
pada pohon

Kekhususan fungsi Membaca, menulis, aritmatika, Musik, mimpi yang dalam, imajinasi
ketrampilan motorik dan sensoris

Waktu Sekuensial, terukur Seumur hidup, tak berwaktu

Orientasi Spasial Kurang bagus Bagus sekali, terutama untuk ruang


dan gambar

Tabel 2 : Tiga Otak menurut Paul McLean

BATANG OTAK SISTEM LIMBIK KORTEKS


(Otak Reptil) (Otak Mamalia) (Otak Manusia)

Fungsi motorik sensoris Perasaan dan emosi Berfikir


Kelangsungan hidup : Memori Intelek
- makan Bioritmik : Penalaran
- reproduksi - denyut jantung Kewarasan
- tempat tinggal - gairah seks Bahasa
Respon melawan atau lari - lapar, tidur Intuisi
- tekanan darah Spiritualitas
Kekebalan tubuh

Pada tahun 1990 Dr. Paul Mc.Lean memperkenalkan dan mengembangkan teori The Triune Brain
yang membagi otak menjadi tiga lapis (lihat Tabel 2 & Gambar 8). Beliau adalah kepala dari The
Laboratory for Brain Evolution and Behavior pada National Institute for Menthal Health di Amerika
Serikat. Teori ini merupakan pengembangan dari teori yang dikembangkan oleh Selye tahun 1952
yang dikenal dengan General Adaption Syndrome (GAS) atau disebut dengan Fight or Flight
Response. Teori The Triune Brain membagi proses evolusi perkembangan otak dalam tiga tahapan
atau tiga lapisan.16

16
Taufik Bahaudin, Brainware Management, Jakarta : PT.Elex Media Komputindo, 2001, h.41.

10
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Lapis pertama yang terletak dibagian luar dan muncul paling terakhir dalam evolusi biologis ini
adalah otak berpikir . Lapis ini secara molekuler juga bersifat unik, yaitu menata fungsi-fungsi kognisi
manusia, seperti bahasa dan memori kognitif. Jika lapisan ini rusak, kita akan kehilangan
kemampuan berpikir tingkat tinggi, terutama yang menggunakan bahasa dan kalkulasi matematis.
Lapisan ini membentuk rasionalitas kita. Dibandingkan dengan sistim limbik (lapisan kedua), lapisan
otak berpikir ini relatif memiliki kemampuan untuk memilih respons. Tidak ada respons fight atau
flight. Perbedaan paling bermakna antara lapisan otak berpikir dan otak binatang adalah
kemampuan memilih
respons. Ciri khas otak
manusia yang dibangun
terutama oleh otak
berpikir ini adalah
kebebasan untuk
memilih respons atas
setiap stimulus yang
masuk.
Gambar 8 & 9 : Tingkatan Otak dan Sistem Limbik

Jika ada seseorang mencela atau menghina Anda, maka otak berpikir yang berfungsi bagus
akan memandu anda memilih respons; Anda bisa marah lalu memukulnya, Anda bisa tertawa karena
menganggap hinaan itu lucu, atau Anda bisa berdiam diri karena menganggap bahwa membuang
waktu dan tenaga jika harus merespons hal-hal kecil seperti ini. Pilihan atas tiga respons itu
menunjukan bahwa kita betul-betul menggunakan otak berpikir . Jadi, jika sekiranya Anda depresi
dan stres berat karena hinaan orang, itu berarti Andalah yang menciptakaan perasaan tidak nyaman
itu. Bukan stresor dan si penghina yang membuat anda tersiksa, tetapi anda sendirilah yang
membuat diri Anda tidak nyaman karena telah memilih respons yang salah. Kebebasan memilih
respons ini menandai kemanusiaan dan kedewasaan kita. Tidak semua manusia menjadi dewasa
sejalan dengan bertambahnya usia. Jika ia membesarkan dan menyuburkan otak binatang dalam
kepalanya, maka ia akan hidup dengan cara binatang. Bentuk tubuhnya seperti manusia, tetapi cara
berpikirnya seperti binatang. Hilangnya fungsi otak berpikir , dan diambil oleh otak binatang ,
dicirikan oleh nafsu tak tekendali yang bersifat kepemilikan dan seksualitas. Jika kita terlalu bernafsu
untuk memiliki barang-barang, menumpuk-numpuk tanpa manfaat yang bermakna, itu juga
artinya otak binatang kita sedang bekerja. Persis seperti perilaku nenek moyang kita yang
menyimpan dan menimbun barang dan binatang hasil buruan. Demikian juga ketika kita mengumbar
hawa nafsu seks secara tak terkendali tanpa memperhatikan aturan main dan norma, itu berarti otak
binatang kita sedang bekerja. Persis seperti nenek moyang kita dulu yang bebas melakukan
hubungan seks dengan pasangan berganti-ganti. Lapisan ketiga adalah otak vegetasi , bagian otak

11
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
yang bertanggung jawab terhadap fungsi-fungsi mempertahankan hidup. Bernapas, pengaturan
tekanan darah, penataan kulit, otak dan tulang, serta keterjagaan (awakening). Salah satu bagian
penting lapis ketiga ini adalah RAS (Reticular Activating System) yang bertangung jawab dalam
menjaga keterjagaan manusia untuk setiap respons dari luar. Jika bagian ini rusak, maka kita menjadi
tidak terjaga terhadap hal-hal yang penting dalam kehidupan biologis kita. Kemampuan menata RAS
memungkinkan kita mengontrol fungsi-fungsi vegetasi dalam diri kita.17
Ketiga bagian otak bekerja sebagai satu kesatuan dalam diri kita. Secara sederhana, proses
kerja otak yang normal dapat kita gambarkan sebagai berikut;
1. Sinyal-sinyal elektris berisi informasi dari seluruh bagian tubuh akan disampaikan melalui saraf
tulang belakang ke batang otak. Di sini sinyal tersebut akan diputuskan apakah akan direnspon
menjadi gerakan refleks atau diteruskan.
2. Dari batang otak informasi tersebut akan diteruskan ke Thalamus, bagian di otak yang berfungsi
sebagai ruang kontrol untuk mengenal jenis informasi, memilah, dan mengelompokan informasi
tersebut sesuai dengan pembagian fungsi yang ada pada sistem limbik dan korteks. (Kecuali
informasi mengenai penciuman yang langsung dikirim ke bagian korteks terkait tanpa di kontrol
oleh Thalamus ini)
3. Thalamus mengirimkan dan menyebarkan informasi ke sel-sel otak yang tepat, yaitu;
a. Amigdala, bagian otak pada sistem limbik yang merupakan pusat emosi dan memberikan
respon terhadap informasi yang diterima dari sudut emosi
b. Hipocampus, bagian otak pada sistem limbik yang merupakan pusat memori dan akan
membahas segala sesuatu berdasarkan memori dari kebiasaan kita, kejadian-kejadian,
bahkan ingatan-ingatan traumatik yang pernah kita alami.
c. Berbagai lobus di korteks, di mana setiap lobus dan area-area pada lobus mempunyai peran
dan pendekatan analisis yang berbeda. Informasi yang dikirim ke korteks akan dibahas
berdasarkan nalar (otak kiri) dan intuisi (otak kanan).
4. Setiap sel yang menerima informasi dari Thalamus selanjutnya akan saling berkomunikasi
dengan sel-sel lainnya dalam bentuk pengiriman zat kimia (neurotransmiter). Interaksi antar sel ini
dapat menimbulkan miliaran komunikasi per detik, sebelum adanya penetapan kesimpulan atau
pengambilan keputusan terhadap satu informasi yang diterima. Proses komunikasi atau berpikir
ini menimbulkan gelombang di otak (getaran sel saraf karena tersentuh muatan listrik dari ujung
sel saraf) yang terdeteksi melalui EEG (Elektro Ensefalo Grafi), yaitu;
a. Ketika setiap sel atau setiap area korteks memberikan hasil analisis dan alternatif solusi
yang paling bertentangan atau dari berbagai sudut pandang (persepsi) yang berbeda dan
independen. Kondisi ini menunjukan bahwa kita sedang membahas sesuatu yang kompleks

17
Taufik Pasiak, Brain Management for Self Improvement, Bandung : Mizan, 2007, hh.71-4.

12
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
dan kontradiktif. Sehingga proses komunikasi di otak akan menimbulkan gelombang 13-30
Hz yang disebut sebagai gelombang Beta pada otak.
b. Ketika kita sedang membahas sesuatu yang meskipun kompleks namun ada sistematika
dan tingkatan prioritas yang jelas. Sehingga walaupun terdapat beberapa alternatif solusi
namun kita telah mempunyai payung solusi yang lebih terarah. Proses komunikasi di otak
pada kondisi ini akan menimbulkan gelombang 7-13 Hz yang disebut sebagai gelombang
Alpha pada otak.
c. Ketika kita sedang terpengaruh oleh rasa ngantuk, terhipnotis atau sedang tidak membahas
informasi yang serius alias sedikit ngelamun. Aktivitas otak yang demikian menimbulkan
gelombang 4-7 Hz yang disebut gelombang Teta pada otak.
d. Ketika kita sedang tidur, otak tetap beraktivitas pada gelombang 1-4 Hz yang disebut
gelombang Delta pada otak.
5. Hasil komunikasi antar sel (proses nalar) akan menghasilkan kesimpulan, yang selanjutnya akan:
a. disimpan dalam tujuh serial memori jangka pendek yang disimpan selama 20 detik untuk
proses nalar berikutnya
b. Disimpan sebagai memori kesimpulan dan network (jaringan) komunikasi pada setiap sel
atau pada beberapa bagian korteks
c. Disimpan sebagai memori yang lebih komprehensif (menyeluruh) di hipocampus
d. Dikirim ke otak motorik untuk diterjemahkan menjadi keputusan kegiatan yang harus
dilakukan oleh tubuh
6. Otak motorik akan memberikan perintah kepada sel-sel otot di seluruh tubuh. Perintah ini dikirim
dalam bentuk sinyal-sinyal elektrik melalui sistem saraf tulang belakang. Dengan menerima sinyal
tersebut, otot akan berkontraksi mengembang atau mengkerut, sehingga terlihat gerakan tangan
melambai atau mulut bersiul atau kaki berjingkat.
7. Setelah tubuh melaksanakan kegiatan yang diperintahkan, hasil dari kegiatan ini akan menjadi
informasi baru; yang dikirim kembali dalam bentuk sinyal-sinyal elektris menuju otak. Sebagian
akan menjadi memori jangka panjang di hipocampus dan atau diproses kembali oleh otak kita
(kembali ke proses otak no 1 di atas).
Memori jangka panjang di hipocampus juga diinformasikan ke korteks bila memori tersebut bersikap
deklaratif, yaitu untuk mengingatkan hal dan masalah yang pernah dipelajari. Memori deklaratif
meliputi ingatan tentang hal-hal yang berkaitan dengan waktu, tempat, kata, konsep, kategori, dsb.
Selain itu memori jangka panjang di hipocampus juga akan diinformasikan ke otak kecil (serebelum)
bila memori tersebut bersifat prosedural, yaitu untuk mengingat keterampilan motorik yang pernah
dipelajari. Memori prosedural meliputi ingatan tentang hal-hal seperti kemampuan mengendarai
sepeda motor, memainkan suling, memasak rawon, kaifiyat salat, dsb .18

18
Rajendra Kartawiria, 12 langkah Membentuk manusia Cerdas, Jakarta : Hikmah, 2004, hh.28-32.

13
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Sedangkan pembagian otak menurut fungsi areanya adalah terbagi menjadi wilayah
KORTEKS PREFRONTAL, yang berurusan
dengan proses berfikir. KORTEKS MOTOR, yang
mengendalikan aktivitas tubuh. LOBUS
TEMPORAL, adalah pusat percakapan di otak.
LOBUS PARIETAL, yang menangani
kemampuan spasial. LOBUS OKSIPETAL,
adalah pusat penglihatan di otak. SEREBELUM
atau OTAK KECIL, yang berperan penting dalam
penyesuaian postur dan keseimbangan, sebagai
pilot otomatis melakukan fungsi yang telah
dipelajari, contoh naik sepeda, menggunakan
mesin tik/keyboard komputer. PENJAGA
GERBANG, amigdala, hipocampus, caudate
nucleus, semuanya menyebarkan pesan-pesan
penting ke berbagai bagian otak. Gambar 10 & 11 : Pembagian Wilayah Otak

Penemuan God Spot oleh Persinger dan Ramachandran yang kemudian ditindaklanjuti oleh
Danah Zohar dan Ian Marshal, - seorang psikolog dan fisikawan yang juga suami isteri ini tentang
penelitiannya yang mengungkap bahwa pada diri setiap manusia, apapun agama dan rasnya Tuhan
telah menganugrahi suatu potensi Kecerdasan Spiritual , - yang meneliti tentang kecerdasan
spiritual (SQ) pada manusia melengkapi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ)
yang sudah diketahui sebelumnya semakin menunjukkan bahwa sebenarnya ada relasi kuat antara
pikiran-pikiran yang bersifat rasional , intuisional (emosional) dan spiritual . Temuan God Spot ini
semakin membuktikan kebenaran Al Qur an sebagai mu jizat abadi tentang fitrah ber-Tuhan
(dalam arti mengakui adanya kekuatan spiritual-Tuhan) yang secara inheren sudah given diberikan
Allah kepada setiap anak manusia yang lahir, siapapun dia dengan latar belakang budaya, ras dan
agama apapun, sebagaimana yang diinformasikan Tuhan dalam Al Quran Surah Al-A raaf [7]: 172 ;

14
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Dan (ingatlah) , ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfiman): Bukankah Aku ini Tuhanmu ? . Mereka menjawab : Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi . (Kami melakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan :
Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan) .
Dr. Taufik Pasiak (2004)19 dokter medis
yang juga penulis buku ilmiah populer
Revolusi IQ/EQ/SQ, Antara
Neuorosains dan Al Qur an ,
mengatakan bahwa sekalipun masih
berupa penelitian kasar yang perlu
diperdalam lagi, setidak-tidaknya
terdapat empat bukti penelitian yang
memperkuat dugaan adanya potensi
GOD spiritualitas dan hardware Tuhan
SPOT dalam Otak manusia, yaitu :
1) Osilasi 40 Hz yang ditemukan oleh
Denis Pare dan Rodolfo Llinas, dan
Gambar 12 : Otak Spiritual Potensi Otak ke 3 Manusia dikembangkan oleh Danah Zohar
dengan teori kecerdasan spiri-
tual nya.
2) Alam bawah sadar kognitif yang
ditemukan oleh Joseph deLoux, dan
dikembangkan oleh Daniel Goleman
dengan teori kecerdasan emosi , serta Robert Cooper dengan teori suara hati .
3) God Spot dalam daerah temporal (sekitar pelipis) yang ditemukan oleh Michael Persinger dan
Vilyanus Ramachandran, dan
4) Somatic Marker (penanda somatik) dari Antonio Damasio.

Dari berbagai hasil penelitian mutakhir yang dilakukan para ahli, disimpulkan oleh Taufik Pasiak
(2004) bahwa otak manusia mempunyai tiga fungsi yaitu : 1) Fungsi Kognisi-Rasional Logis,
2) Fungsi Emosional-Intuitif, dan 3) Fungsi Spiritual.

19
Taufik Pasiak, Op.cit., h. 275.

15
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
SATU KEPALA EMPAT OTAK : Dari Dualitas Otak ke Kuadralitas Otak
Pada tahun 1976 Ned Herrmann20 memulai studi dan risetnya tentang otak manusia dengan
mengembangkan instrumen praktis yaitu Whole Brain Technology atau Herrmann Brain
Dominance Instrument (HBDI) yang di launching ke publik pada Agustus 1979 di Lembaga
Pengembangan Manajemen dari General Electric. The Whole Brain Management menurut Herrmann
adalah dengan membagi otak dalam empat kuadran (kuadralitas otak) yang memberikan gambaran
lebih sempurna untuk memahami kecenderungan perilaku seseorang berdasarkan suatu penelitian
terhadap 113.000 responden dari berbagai bangsa, ras, posisi jabatan, jenis pekerjaan, industri, dan
jenis kelamin. Hasilnya membuktikan bahwa ternyata dominasi kecenderungan otak ini tidak terkait
dengan ras atau bangsa, tetapi terkait dengan jenis kelamin, jenis pekerjaan, posisi jabatan, dan
industri. Kuadralitas Otak Model Ned Herrmann dikembangkan berdasarkan teori otak kiri dan otak
kanan model Roger Sperry dan
The Triune Brain dari Paul
McLean. Dualitas Otak Roger
Sperry hanya melibatkan dua
belahan otak saja, tidak
memperhatikan atau meng-
abaikan peran dari sistem limbik
yang memang posisinya
tersembunyi di bagian dalam
kortex.

Gambar 13 : Model The Whole Brain


dan Akar Fisiologisnya

Sedangkan model Kuadralitas Otak Nedd Hermann (HDBI) atau The Whole Brain
Management menempatkan sistem limbik sebagai bagian dari kuadran otak, dan merupakan model
dasar untuk menjelaskan bagaimana otak bekerja dengan empat ciri otak yaitu : spesialisasi,
situasional, iterasi, dan keterkaitan. Setiap kuadran mempunyai spesialisasi masing-masing, namun
dalam bekerja satu sama lain terkait erat. Proses kerjanya tergantung situasi yang ada dan dalam
proses kerjanya terjadi juga iterasi. Namun dari empat kuadran tersebut ada satu atau lebih kuadran
yang dominan.
Konsep The Whole Brain Management berangkat dari konsep dominasi otak. Dominasi otak
memberikan dasar untuk mengetahui perbedaan dan sekaligus sebagai ukuran mengenai perilaku

20
Taufik Bahaudin, op.cit., hh.106-15.

16
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
seseorang. Struktur dan prinsip berpikir pada otak manusia menunjukkan adanya ciri-ciri. The Whole
Brain Management dengan Whole Brain Technology-nya didasarkan pada fisiologis dari otak berpikir
(the thinking brain) atau cortex, yang didalamnya terdapat neuron, sinapsis dan bagian terkait lainnya.
Secara keseluruhan otak terbagi dalam dua belahan kiri dan kanan, juga sistem limbik kiri dan kanan,
yang memiliki spesialisasinya masing masing. Spesialisasi inilah yang menimbulkan adanya
dominasi dari belahan otak tersebut, dimana tingkat dominasi otak menjadi bukti kecenderungan
mental yang terlihat pada seseorang. Prinsip dasar dalam teknik pengukuran yang dipergunakan
HBDI didasarkan atas data electroencephalographic
(EEG) dengan teknologi yang disebut
elektroensefalograf ini dapat melipat gandakan sampai
sejuta kali kegiatan listrik otak, sehingga dapat direkam
pada permukaan kepala. Dari hasil rekaman yang
menunjukkan adanya perbedaan gelombang listrik pada
otak tersebut dapat diketahui perbedaan kondisi atau
perilaku seseorang.
Gambar 14 : Hubungan antara Sistem Limbik dengan Kulit
Otak
Misalnya orang yang sedang santai atau rileks berbeda
gambaran gelombang otaknya dengan orang yang sedang tegang atau tidur lelap alias ngorok .
Tampilan gelombang Beta, Alpha, Theta, dan Delta memperlihatkan perbedaan aktivitas otak yang
menunjukkan keterkaitan langsung antara bekerjanya otak dengan perilaku seseorang.

Gambar 15 : Tampilan Gelombang Otak

17
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Gambar 16 :
The Whole Brain Model

Konsep yang dikembangkan oleh Ned Herrmann ini membagi otak dalam empat kuadran,
yaitu Kuadran A, Kuadran B, Kuadran C, dan Kuadran D. Kuadran A yaitu bagian otak kiri atas,
disebut sebagi Analis (analyzer) dengan dominasi terhadap berfikir logis, analisis fakta, memproses
angka-angka. Kuadran B yaitu bagian otak kiri bawah, disebut sebagai Organisator (organizer)
dengan dominasi terhadap perencanaan, mengorganisir hal-hal teknis, dan segala sesuatu dengan
rinci. Kuadran C yaitu bagian otak kanan bawah, disebut Personalis (personalizer) dengandominasi
terhadap hubungan interpersonal, intuisi, dan ekspresif. Kuadran D yaitu bagian otak kanan atas,
disebut sebagai Strategis / Visualis (strategizer / visualizer) dengan dominasi terhadap konsep-
konsep, imajinasi, gagasan-gagasan stra-tegis. Berdasarkan konsep ini dikembangkan oleh Ned
Herrmann suatu model yang disebut The Whole Brain Model yang selanjutnya dengan menggunakan
HDBI bagaimana profil otak seseorang merefleksikan profil potensi dan perilakunya.

Tabel 3 : Empat Otak menurut Ned Herrmann


LETAK OTAK GAYA BERPIKIR APLIKASI

Kiri Atas Logis, Analitis, Faktual Logika, Analitikal, Matematik,


(Analytic Thinking) Pengukuran, Teknik, Saintifik

Kiri Bawah Organisasi, Sekuensial, Pe- Pengontrolan, Konservatif, Orga-


(Implementation Thinking) rencanaan, Rinci nisasional, Administratif

Kanan Atas Holistik, Intuitif, Integrasi, Imajinasi, Artistik, Sintesis, Non-


(Future Thinking) Sintesis linier

Kanan Bawah Interpersonal, Sosial, Kines- Hubungan Sosial, Emosional,


(Social Thinking) tetis, Emosi Spiritualitas.

Penelitian Ned Herrmann ini ternyata menunjukkan bahwa distribusi dominasi otak yang
tertinggi adalah pada Dua Dominasi (double dominant) sekitar 60%, disusul oleh Tiga Dominasi (triple

18
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
dominant) sekitar 30%, kemudian Satu Dominasi (single dominant) sekitar 7%, dan terakhir adalah
Empat Dominanasi (quadruple dominant) sekitar 3%. Dari hasil penelitian profil dominasi otak
tersebut dapat disampaikan sebagai berikut :
1. Setiap orang paling tidak memiliki satu kecenderungan utama.
2. Lebih dari 90% manusia merupakan multi-dominant, artinya memiliki paling sedikit dua
dominasi otak yang kuat.
3. Dominasi otak ataupun penghindaran (ketidaksukaan) pada seseorang sama pentingnya.
4. Individu dengan profil dominasi yang berbeda cenderung berprilaku tertentu/spesifik dan
dapat diduga dalam kaitan misalnya dengan waktu, kreativitas, cara berpakaian,
menyelesaikan masalah, menggunakan intuisinya, dan juga dalam melihat uang.
5. Individu dengan profil dominasi yang sama cenderung lebih mudah berkomunikasi satu sama
lain walaupun menghadapi batasan/perbedaan budaya.
6. Orang-orang memiliki profil dominasi yang sama cenderung bergabung dalam satu kelompok.
7. Masalah-masalah dalam kelompok dapat lebih mudah diselesaikan bila mereka mengerti profil
dominasinya satu sama lain.
8. Banyak norma profesi yang tidak dibatasi oleh perbedaan budaya karena sifat pekerjaannya
sama.

PENGERTIAN UMUM TENTANG AKAL


Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan akal dengan 4 pengertian : (1) Daya
pikir (untuk mengerti), pikiran, ingatan; (2) jalan atau cara melakukan sesuatu, dan upaya,
ikhtiar; (3) tipu daya, muslihat, kecerdikan, kelicikan, dan (4) kemampuan melihat atau cara-
cara memahami lingkungan.21
Kamus-kamus bahasa Arab memberikan arti akal (secara harfiah) dengan pengertian
al-imsak (menahan), al-ribath (ikatan), al-hijr (menahan), al-nahy (melarang) dan man u
(mencegah) 22 . Sedangkan Ibn Manzhur, mengartikan al- aql dengan 6 macam: (1) akal
pikiran, Inteligensi, (2) menahan, (3) mencegah, (4) membedakan, (5) tambang pengikat, dan
(6) ganti rugi23.
Akal juga sering disamakan dengan al-hijr (menahan atau mengikat). Sehingga
seorang yang berakal adalah orang yang dapat menahan diri dan mengekang hawa

21
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi 2, Jakarta : Balai Pustaka, 1991, h.15.
Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.193.
22
Ma an Zidadat, dkk. Al Mausu at Al falsafiyat. Dikutip dalam Abdul Mudjib, Fitrah dan Kepribadian Islam, Penerbit
Darul Falah, 1999. hh. 64-6, Lihat juga Al-Raghib Al-Isfahani, Mu jan Mufradat Al-Fazh Al Qur an, Penerbit Dar Al-
Maktab Al- Ilmiyah, Beirut-Libanon, cetakan ke-1, 1998. Dikutip dalam Taufik Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ Antara
Neurosains dan Al Quran, Bandung : Penerbit PT.Mizan Pustaka, 2004, h.193.
23
Ibnu Manzhur, Lisanul Arab-Jilid II, (Dar al-Ma rif, t.t) hh.458-9. Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.193.
19
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
nafsunya. Kata-kata Hamka----seorang ulama-sastrawan Indonesia----mewakili pengertian
itu: mengikat binatang dengan tali, mengikat manusia dengan akalnya.24
Para sufi memahami kedudukan akal dalam konteks mengikat , melekatkan ,
dan membatasi . Pilihan makna ini berkaitan dengan penciptaan alam semesta oleh
Tuhan. Tuhan dianggap tak terbatas, tak terjangkau. Namun, ketika ia ber-tajalli, maka setiap
ciptaan-Nya senantiasa terbatas. Ciptaan itu mengikat dimensi Tuhan yang tak terbatas itu.
Jadi, akal cenderung berkaitan dengan segala ciptaan Tuhan, bukan Tuhan sendiri yang
maha luas itu25.
Fungsi pengikatan akal tersebut secara ilmiah-filosofis dipelajari dalam semiotika
(ilmu tanda) yang begitu populer di kalangan ahli sastra. Betapapun watak semulanya untuk
perbincangan ilmu sastra dan bahasa, sebagaimana itu dimaksudkan oleh Ferdinand de
Saussure (1857-1913) dan Charles Sanders Pierce (1839-1913), semiotika sangat berguna
bagi semua disiplin ilmu. Makna dasar semeion (Yunani), yakni tanda , memiliki kaitan erat
dengan ayat yang hanya dapat dipahami oleh akal. Akal dalam jenis ini yang oleh Al-Farabi
dibedakan dengan intelek 26.
Menurut Al-Raghib Al-Isfahani, kata akal itu juga menunjuk pada potensi dalam
diri manusia yang disiapkan untuk memperoleh pengetahuan. Kata itu semakna
dengan kekuatan berpikir (al-quwwah al- aqilat), pemahaman (al-fahm), tempat
berlindung (al-malja ), menahan (mana ah), hati (al-qlb) dan ingatan (dzakirah)27. Makna
dasar dan makna sinonim itu menunjukkan bahwa akal adalah sesuatu yang memang
sengaja disiapkan Tuhan dalam diri manusia untuk menjalani kehidupannya di dunia, dimana
keberhasilan penggunaan akal sangat ditentukan oleh seberapa besar potensi itu di
aktualkan.
Toshihiko Izutsu berpendapat, 28 dari sudut linguistik (ilmu kebahasaan), kata aql
adalah kata yang semitransparan . Maksudnya, sebuah kata yang belum begitu jelas makna
sesugguhnya. Kata Arab telefun dan dimuqratiyyah, adalah kata yang transparan dan

24
Taufik Pasiak, op.cit., h.193
25
Taufik Pasiak, Op.cit., hh.193-4.
26
Lihat Osman Bakar, Hierarki Ilmu : Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu, Bandung : Penerbit Mizan, 1977, h. 98.
Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.196.
27
Al--Raghib Al-Isfahani, Op.cit., h382. Bdk. dengan Kamus Al-Munawwar, Arab-Indonesia terlengkap edisi ke-2 oleh
AW.Munawwar, ditashih oleh K.H.Ali Maksum dan K.H.Zainal Abidin, Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1977. Bdk. juga
dengan Mu jam Lughatul Fuqaha (Arabi-Ingglisi-Alfaransi) oleh Muhammad
28
Toshihiko Izutsu, Op. Cit., h.67. .Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.199.

20
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
mudah dimengerti karena diadopsi dari kata Inggris telephon dan democracy. Walaupun
sejauh menyangkut persoalan telefon, terdapat kata arab hatif yang bersifat semitransparan .
Untuk dapat mengerti kata aql itu, maka ia harus dibuat transparan . Kata nous
dalam bahasa Yunani dianggap dapat mewakili kata akal yang telah dibuat transparan itu.
Nous itu tepat sekali dimaknai sebagai intelek. Kata intelek atau kata akal yang telah
ditransparansi itu memiliki makna intelektual dan spiritual. Kata lain yang semakna dengan
itu adalah intellectus (Latin) dan vernunft (Jerman)29.
Kata-kata yang disebut di atas itu menunjuk sesuatu yang melebihi penalaran logis.
Jika kecerdasan praktis, rasio, atau reason menunjuk pada kemampuan menalar secara
logis, dengan langkah-langkah sistematis, yang tentu membutuhkan fakta dan keterlibatan
pancaindra, maka aql dalam pengertian intelek (atau nous) melebihi semua itu30.
Dalam Al-Quran, kata itu mendapat kualifikasi religius sebagai keyakinan dan
intelektualitas. Seyyed Hossein Nasr31, menyebut akal (di dalam kepala) sebagai proyeksi
atau cermin dari hati (qalb), tempat keyakinan dan kepercayaan manusia. Dengan itu, akal
bukan hanya instrumen untuk mengetahui, melainkan juga menjadi wadah bagi
penyatuan Tuhan dan manusia. Teori Akal Aktif dari Ibn Sina dan Al-Kindi maupun
hierarki ilmu dari Al-Farabi dapat menjelaskan hal itu. Dalam diri manusia, akal bersifat
potent yang kemudian mewujud dalam bentuk jiwa (spirit). Menurut Rhenis Meister Echart,
di dalam jiwa seseorang terdapat sesuatu yang tidak diciptakan dan tidak mungkin dibentuk.
Sesuatu itu adalah intelect 32.
Dengan mencermati keluasan makna, pada akhirnya secara umum diketahui bahwa
penggunaan kata al- aql dalam posisi sebagai kata maupun kalimat mengandung dua
potensi dan kecenderungan yang bersifat rasional dan intuitif

PENGERTIAN AKAL (AL- AQL) DALAM AL-QURAN


Kata dasar al aql tidak ditemui dalam al Qur an. Dipakai sebagai kata kerja sebanyak
49 kali, yaitu penyebutan 1 kali dalam bentuk lampau ( past tense) dan 48 kali dalam bentuk

29
Taufik Pasiak, Op.cit., h.199
30
Kata Nous berasal dari bahasa Yunani nous atau noos (pikiran, akal budi, intelek). Lihat Lorens Bagus,
Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000, hh.726-8. Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit.,
h.199.
31
Seyyed Hossein Nasr, Pengetahuan dan Kesucian, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar-CIIS, 1977. Dikutip dalam
Taufik Pasiak, Op.cit., hh.199-200.
32
Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Terjemahan Indonesia diterbitkan oleh PT.Raja Grafindo Perkasa, Jakarta: 1999.
Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.200.
21
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
sekarang (present tense). Penyebutannya meliputi : aqluh 1 kali, ta qiluun 24 kali, na qil 1
kali, ya qiluhaa 1 kali dan ya qiluun 22 kali 33
Menurut Yusuf Qardhawi penyebutan kata al aql dalam bentuk istifham inkari
(pertanyaan retoris) -seperti afala ta qiluun- adalah hal yang mencolok dari Al Quran. Itu
terjadi karena Al Qur an bermaksud menarik perhatian manusia dan bertujuan memotivasi,
memberi semangat, dan mendorong manusia untuk menggunakan akalnya34.
Materi akal atau al aql mengalami pemadatan makna dalam Al Qur an disebut
sebanyak 49 kali dalam 28 surah, yakni 31 kali dalam 19 surah yang diturunkan di Makkah
dan 18 kali dalam 9 surah yang diturunkan di Madinah35.
Menurut Quraish Shihab, Al-Quran menggunakan kata aql untuk sesuatu yang
mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus ke dalam kesalahan atau dosa . Dengan
menelusuri ayat yang menggunakan akar kata aql, sesuatu dalam konteks di atas itu dapat
dimaknai: (1) daya untuk memahami sesuatu (QS Al- Ankabut [29]: 43); (2) dorongan moral
(QS Al- An am [6]: 151); dan (3) daya untuk mengambil pelajaran, hikmah, dan kesimpulan
(QS Al-Mulk [67]: 10). Misal, ditegaskan dalam Al-Quran:
Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami berikan pada manusia. Dan tiada yang
memahaminya (ya qiluha) kecuali orang-orang yang berilmu . (QS Al- Ankabut [29]: 43)
Dalam konteks ayat di atas, perumpamaan yang diberikan Allah berupa sarang laba-laba.
Pemisalan itu berkenaan dengan orang-orang yang mencari pelindung selain Allah.
Sebagaimana lemahnya sarang laba-laba itu, demikian pula halnya pelindung-pelindung
selain Allah. Karena itu, dengan akal pikirannya, manusia diperintah untuk mengambil
pelajaran dari sang laba-laba tersebut.
1. Berkaitan dengan dorongan moral, Allah menandaskan:
....demikian itu yang diperintahkan Tuhanmu kepadamu supaya kamu berpikir (ta qiluun) .
(QS Al- An am[6]: 151)
Kalimat terakhir dari ayat diatas itu menegaskan perintah Tuhan sebelumnya. Perintah itu
berkaitan dengan sikap moral seseorang dalam menanggapi perintah-perintah Tuhan.
2. Berbuat baik pada orangtua, membunuh karena takut miskin, dan melakukan perbuatan
keji, menurut konteks ayat diatas, hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak bermoral.
Orang-orang yang akalnya tidak baik.

33
Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Al Quran, Jakarta : UI Press, 1980, h.5. Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit.,
204.
34
Yusuf Qardhawi, Op.cit., h.19. Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.205.
35
Taufik Pasiak, Op.cit., h.200.

22
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
3. Berkaitan dengan hikmah dan pelajaran, Allah menegaskan:
...dan mereka berkata: Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (na qilu) itu
niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.
(QS Al-Mulk [67]: 10).
Ayat di atas itu hendak memberikan gambaran orang-orang yang mendustai kehadiran para
nabi dan rasul yang memberi peringatan. Mereka dikategorikan sebagai orang yang tidak
memanfaatkan potensi akalnya36.
Tiga contoh ayat diatas dapat menjelaskan makna yang dikandung oleh akal tersebut.
Setidak-tidaknya terdapat dua makna yang dapat diambil dari kata akal tersebut: (1)
pengertiannya sebagai akal organik, yakni organ yang bertanggung jawab bagi kegiatan-
kegiatan intelektual dan spiritual manusia. Penyamaannya dengan Qalb dalam beberapa
ayat Al-Quran dan teori para filosof Islam, terutama untuk fungsi mengerti dan memahami
(fungsi kognitif), mendukung makna struktur tersebut. Penggunakan kata organ bermakna
bahwa akal itu bertempat (lokus). Tempatnya, seperti disabdakan Rasulullah Saw, adalah
dalam diri manusia. Dalam diri manusia ada segumpal daging , demikian kata Rasulullah.
Bila daging itu baik, maka baiklah manusia itu. Jika daging itu jelek, jeleklah manusia itu.
Daging itu adalah otak manusia (pengganti kata al-Qalb/Kalbu) . Mengapa otak bukan kalbu
seperti yang dipahami selama ini ?. Karena penelitian-penelitian mutakhir telah membuktikan
bahwa otak manusia memiliki tiga fungsi, sebagaiman dijelaskan sebelumnya, yaitu 1) fungsi
rasional-logis, 2) fungsi emosional intuitif, dan fungsi spiritual. Fungsi akal adalah menelaah,
mengerti, dan mengambil pelajaran atas semua fenomena yang ada. Akal juga berfungsi
sebagai dorongan moral yang dengan pertimbangan-pertimbangan etis dimungkinkan.
Fungsi dorongan moral tersebut menyebabkan akal menjadi alat pembeda antara baik dan
buruk. Penemuan tentang daerah pelipis (regio temporalis) dan daerah dahi (regio frontalis)
dalam otak manusia, terutama fungsi untuk membedakan baik dan buruk, memungkinkan
kita melihat hubungan selaras otak dan akal manusia.37
Inventarisasi ayat-ayat Al Qur an yang memakai kata akal dapat diklasifikasikan dalam
3 bagian: (1) terkait dengan teologis, terdapat 14 ayat bersangkut paut dengan
keimanan, 38 (2) terkait dengan kosmologis, terdapat 6 ayat menyangkut pemahaman dan

36
M.Quraish Shihab. Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Penerbit
Mizan, 1977, h.294. Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.201.
37
Taufik Pasiak, Op.cit., hh.203-4
38
Topik Teologis, meliputi: empat belas ayat yang berkaitan dengan keimanan (QS Al-Baqarah [2]: 76; QS Hud [11]: 51:
QS Al-Anbiya [21]: 67; QS Al-Qashash [28]: 60; QS Ya Sin [36]: 62; 2:170, QS Al- Baqarah [2]: 171; QS Al Maidah
[5]: 103; QS Yunus [10]: 100; QS Al-Furqon [25]: 44; QS Al-Zumar [39]: 43; QS Al-Hujurat [49]: 4; dan QS al-Hasyr
[59]: 14, lima ayat berkaitan dengan kitab suci (QS Yusuf [12]: 2; QS Al-Baqarah [2]: 44; QS Ali-Imran [3]: 65; QS Al-
23
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
keberadaan alam semesta, baik makro maupun mikro,39 dan (3) terkait dengan moralitas,
terdapat 1 ayat terutama menyangkut etika pribadi dan etika sosial.40

TERMA-TERMA LAIN SEMAKNA DENGAN AL- AQL


Akal menurut Abi Al-Baqa Ayyub ibn Musa Al-Kufi, memiliki banyak nama. Tercatat
empat nama yang menonjol: (1) al-lub, karena ia merupakan cerminan kesucian dan
kemurnian Tuhan. Aktivitasnya adalah berzikir dan berfikir; (2) al-hujah, karena akal ini dapat
menunjukan bukti-bukti yang kuat dan menguraikan hal-hal abstrak, (3) al-hijr, karena akal
mampu mengikatkan keinginan seseorang hingga membuatnya dapat menahan diri, dan (4)
al-nuha, karena akal merupakan puncak kecerdasan, pengetahuan, dan penalaran.41
Menurut Yusuf Qardhawi, dalam Al Qur an akal disebut pula dengan term fu ad, baik
dalam bentuk tunggal maupun jamak. Karena, ia termasuk dalam salah satu dari tiga
perangkat pokok ilmu pengetahuan : pendengaran, penglihatan, dan fu ad (kalbu).
Allah SWT berfirman :
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati ((fu ad) semuanya itu akan diminta
pertanggungjawabannya (QS.Al-Israa : 36).
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu
apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (fu ad) agar kamu
bersyukur (QS.An-Nahl : 78).
Bentuk-bentuk sama pendengaran , abshar penglihatan, dan af idah - kalbu - disebut
dalam Al Qur an dalam beberapa surat. Begitu juga dengan qalb - hati - sebagai ganti fu ad
juga terdapat dalam beberapa ayat dalam Al Qur an. Seperti dalam firman Allah SWT berikut
ini :

Anbiya [21]: 10; QS al-Zukhruf [43]: 3), 3 tiga ayat berkaitan dengan kehidupan akhirat ( QS Al-Mulk [67]: 10; QS Al-
Baqarah [2]: 32; QS Yunus [10]: 16); dan satu ayat yang berhubungan dengan shalat (QS Al-Maidah [5]: 58). Dikutip
dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.206.
39
Topik Kosmologis, meliputi enam ayat yang berhubungan dengan tanda kebesaran Tuhan (QS.Al Baqarah [2]: 73 dan
242, QS. Al-An am [6]: 32; QS.Al- Ankabut [29]: 35, QS. Al-Ruum [30]: 28, dan QS. Al-Syu araa [26]: 28), tujuh ayat
yang berhubungan dengan pemahaman proses dinamik manusia (QS. Al-Hajj [22]: 46; S. Yusuf [12]: 109; QS. Huud
[11]: 51; QS. Al-Anfaal [8]: 22; QS. Yaa Siin [36]: 68; QS. Yunus [10]: 10; dan QS. AlNuur [24]: 61, dan 12 ayat yang
berhubungan dengan pemahaman alam semesta (QS. Al-Baqarah [2]: 164; QS. Al-Mu minuun [23]: 70; QS. Al-Qashash
[28]: 60; QS. Al-Shaaffaat [37]: 138; QS. Al-Mulk [67]: 10; QS. Al-Syu ara [26]: 28; QS. Al-Hadiid [57]: 170; QS. Al-
Ra d [13]: 4; QS. Al-Nahl [16]: 12 dan 67; QS. Al- Ankabut [29]: 63; QS. Al-Ruum [30]: 24). Dikutip dalam Taufik
Pasiak, Op.cit., h.206
40
Topik Moralitas, ditemukan pada 1 ayat saja (QS. Al-An am [6]: 151). Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.206
41
Sebagaimana dikutip oleh Abdul Mudjib, M.Ag dalam karyanya Fitrah dan Kepribadian Islam, Jakarta: Darul
falah, 1999, h.66. Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.207.

24
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Allah telah mengunci mati hati (qulubihim) dan pendengaran mereka, dan penglihatan
mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. Al Baqarah : 7).
Katakanlah, Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan
serta menutup hatimu (qulubikum), siapakah Tuhan selain Allah yang kuasa
mengembalikannya kepadamu? (QS Al An am : 46).
Juga disebutkan dalam QS. Al A raf : 179, QS.An Nahl : 108, QS. Al Isra :46, QS.Al Kahfi : 57,
QS. Al Hajj : 46, QS. Al Jaatsiyah : 23 42
Qardhawi melihat kata fu ad dalam beberapa ayat-ayat tersebut terkait kuat atau
merupakan satu kesatuan dengan fungsi pendengaran dan penglihatan yang merupakan
fungsi organik dari akal. Sedangkan term fu ad dan af idata, af idati, af idatu yang lain dan
tidak tersirat dalam fungsi organik akal, - tercantum dalam Al-Qur an seperti : QS.14:37,
QS.23:78, QS.32:9, QS.46:26, QS.67:23, QS.104:7, & QS.6:113 dan QS.28:10, QS.53:11,
QS.11:120, & QS.25:32 -tidak dijelaskan oleh Qardhawi.
Di samping menggunakan kata-jadian dari akal, Al-Quran juga menggunakan
beberapa kata, yang berada dalam medan semantik43 kata aql, untuk menyebut kegiatan
mengerti, memahami, mengingat, dan merenungkan.
Kata-kata itu memiliki makna yang hampir sama, tetapi berbeda pada segi yang lain.
Semuanya membawa satu makna, namun penekanan masing-masing kata itu berbeda.
Terdapat tujuh sinonim kata akal itu : (1) dabbara (merenungkan), (2)
faqiha (mengerti), (3)fahima (memahami), (4) nazhara (melihat, dengan mata kepala), (5)
dzakara (mengingat), (6) fakkara (berfikir secara dalam), dan (7) alima (memahami dengan
jelas) 44 . Selain tujuh kata itu, masih ada kata-kata lain yang, dari segi fungsi yang
ditunjukkannya, memiliki kemiripan dengan kata akal. Yang paling mendekati adalah kata al-
qalb (dalam arti pengganti fu ad dan dikaitkan dengan fungsi organik akal), seperti yang
sudah dijelaskan Qardhawi sebelumnya di atas.
Dalam bahasa Persia dan Urdu, kata al-Qalb disebut del dan dalam bahasa Inggris
disebut Heart . Dalam bahasa Arab, al-Qalb diartikan secara beragam. Ia juga diartikan
organ kenyal yang berada di samping kiri dada. Kata Qalb juga diartikan jantung. Dalam Al
Qur an, kata Qalb digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang berfungsi sebagai
42
Yusuf Qardhawi, Al-Qur an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Gema Insani Press, 1998, h.40.
43
Istilah Medan Semantik merupakan istilah linguistik dalam hubungannya dengan telaah sematik Al Quran
digunakan oleh Toshihiko Izutsu (Relasi Tuhan Manusia), untuk menunjuk beberapa kata yang kira-kira semakna, atu
berdekatan maknanya. Dikutip dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.339
44
Al-Kulaini, Ushul al-Kafi, juz i, hal 16. Dikutip dalam Muhsin Labib, Mengurai Tasawuf Irfan & Kebatinan, Jakarta:
Penerbit Lentera, 2004, h.108.

25
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
pengendali pikiran dan kehendak, yang kita sebut akal. Dalam al-Kafi, kata Qalb dalam surah
Qaf ayat 37 ditafsirkan sebagai akal (al- aql). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat peringatan (dzikra) bagi orang-orang yang mempunyai qalb .45
Berikut ini beberapa contoh lain dalam Al Qur an tentang al Qalb yang memiliki arti
secara tersirat dengan kata akal 46, yaitu :

Tidaklah mereka merenungkan isi Al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci? .
(QS Muhammad [47]: 24)

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka


Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka
mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk
memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai
mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A raf [7]:
179)

Contoh ayat di atas memperlihatkan bagaimana sinonim kata aql, juga dipakai untuk
melukiskan pekerjaan-pekerjaan akal manusia. Luas dan banyaknya pilihan kata (diksi) ini
menunjukan perhatian yang sangat dalam terhadap kegiatan berfikir manusia. Sinonim itu
juga menunjukan tingkatan-tingkatan berfikir. Dari yang sederhana, seperti melihat dan
berfikir praktis, sebagaimana diwakili oleh kata nadzar, sampai pemikiran-pemikiran yang
mendalam, seperti diwakili kata fakkara. Bahkan, lebih dari sekadar berfikir, manusia disuruh
untuk mengambil pelajaran dan merenungkan apa yang dipikirkannya, sebagaimana ini
diwakili oleh kata dabbara, taddabur.
Terma-terma lainnya yang berada dalam medan semantik kata akal sebagaimana
dipakai dalam Al Qur an diantaranya adalah : 47
Kata Al Fikr. Dalam bahasa Indonesia kata ini menjadi pikir dan pakar berasal dari
Al Fikr yang dalam Al Qur an menggunakan istilah fakkara dan tafakkaruun. Menurut

45
Lihat Isfahani dan bdk. dengan Al-Munawwar atau Mu jam Lughatul Fuqaha. Juga dengn Yusuf Qardhawi. Dikutip
dalam Taufik Pasiak, Op.cit., h.207.
46
Taufik Pasiak, Op.cit., h.209-10.
47
Taufik Pasiak, Op.cit., h.210-17.

26
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Quraish Shihab, kata fikr berasal dari kata fark dalam bentuk faraka yang dapat
berarti : (1) mengorek sehingga apa yang dikorek itu muncul, (2) menumbuk sampai
hancur, dan (3) menyikat (pakaian) sehingga kotorannya hilang. Salah satu bentuk
berfikir adalah tafakur. Kata ini telah mengalami pemadatan makna melebihi sekedar
makna harfiahnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Al Fudhail bahwa tafakur
adalah cermin yang akan memperlihatkan padamu kebaikan dan keburukanmu. Ibnu
Qayyim Al-Jauziy juga berpendapat bahwa bertafakur merupakan pekerjaan hati yang
paling utama dan paling bermanfaat. Kegiatan berfikir yang diselingi dengan refleksi
berupa tafakur akan mengarahkan seseorang kepada kedalaman makna obyek ilmu
pengetahuan. Dengan bertafakur dapat dipahami adanya hubungan yang erat antara
pikiran dan perasaan hubungan antara fikr dan dzikr.
Kata Al Dzikr. Hanna Kassis (1983) melihat hubungan organik antara fikr dan dzikr
melalui penulusuran kata fakkara. Kata itu, disamping bermakna seperti disebut di
atas, juga mengandung arti to reflect (merenung) sehingga dalam proses berpikir
terkandung juga kegiatan yang bersifat refleksi (permenungan) terhadap obyek yang
dipikirkan itu. Ketika seseorang berpikir, ia tidak hanya memperoleh informasi (data-
data atau fakta-fakta) saja. Ia juga dan ini yang paling utama- memperoleh hikmah
dan kebijaksanaan. Banyak orang memiliki ilmu, tetapi sedikit saja yang memiliki
kebijaksanaan. Dan seutama-utamanya berfikir adalah berpikir menuju hikmah itu.
Semakin dalam seseorang berpikir, semakin tajam kekuatannya, dan itu berarti
semakin bijaksanalah dia. Al Quran berulang-ulang menandaskan bahwa hikmah itu
dapat diberikan kepada siapa saja. Siapa yang telah memperoleh hikmah, ia
sesungguhnya telah diberi nikmat yang banyak (QS Al Baqarah [2]: 269). Tadzakkur
adalah salah satu tugas akal yang paling tinggi. Dan dzakirah (ingatan) adalah tempat
penyimpanan pengetahuan dan informasi yang diperoleh manusia untuk
dipergunakannya pada saat dibutuhkan. Manusia, menurut Qardhawi, tidak bisa hidup
tanpa tadzakkur dan dzakirah. Entah di dunia, entah di akhirat.
Ada perbedaan penekanan makna antara tafakkur dan tadzakkur. Untuk memperoleh
pengetahuan baru dan segar, maka tafakur diperlukan. Sedangkan untuk
mengingatnya, supaya tidak lupa dan lalai, tadzakkur diperlukan. Imam Al-Ghazali
mempertegas posisi keduanya, Setiap orang yang berpikir adalah ber-tadzakkur
namun, tidak setiap ber-tadzakkur itu berpikir.
Kata Ilm . Dari semua pekerjaan akal, akar kata ilm dan kata turunannya paling
banyak disebut. Menurut Quraish Shihab ada sekitar 854 kali disebut. Istilah ini
27
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
terdapat dalam Surah Makkiyah dan Madaniyah secara seimbang dengan semua kata
jadiannya: sebagai kata benda, kata kerja, atau kata keterangan.
Kata itu digunakan dalam arti proses percarian pengetahuan dan objek pengetahuan.
Dari segi bahasa, ilm berarti kejelasan. Setiap turunannya termaktub makna
kejelasan itu. Misalnya, alam (bendera), ulmat (bibir sumbing), a lam (gunung-
gunung), alamat (alamat). Tiap-tiap kata itu menjadi penjelas bagi apa yang ditunjuk.
Misalnya, gunung menjadi jelas karena langsung terlihat pada bibir seseorang.
Makna dasar lain dari kata ilm adalah, menjangkau sesuatu sesuai dengan keadaan
yang sebenarnya. Ia juga dipakai untuk menyebut suatu pengenalan yang sangat
jelas terhadap suatu objek. Karena itu, menurut pandangan Al-Quran, seseorang yang
menjangkau sesuatu dengan benaknya, tetapi jangkauannya itu masih disertai
keraguan, maka ia tidak bisa disebut sebagai orang yang mengetahui apa yang
dijangkaunya itu. Kondisi ini bukan ilm, tetapi zhann. Secara semantik, jalan yang
dilalui kata ilm sedikit berbeda dengan kata aql. Bila kata aql mengalami pemadatan
makna dalam makna dasarnya, maka kata ilm justru dalam makna relasionalnya.
Makna dasar kata ilm sama pada setiap sistem yang memakainya, baik pra-Islam, Al-
Quran, maupun teologi Islam. Namun, makna relasionalnya menjadi berbeda sejauh
menyangkut sumber ilmu itu sendiri.
Kata Nazhar . Kata ini oleh Quraish Shihab, diartikan sebagai nalar . Kata ini
digunakan secara tegas sebagai memandang dengan mata kepala dan mata hati .
Secara harfiah, kata itu dekat dengan kata al fahsu (penyelidikan) atau kontemplasi
( al-ta ammul). Juga semakna dengan melihat (ra yu) dan memandang dengan mata
(bashar). Secara istilah, ia menggambarkan proses pengertian terhadap sesuatu hal
atau objek. Mula-mula melalui pandangan mata (kepala) yang memaksa seseorang
memperhatikan suatu objek . Setelah itu, ia akan berpikir untuk meyakinkan dirinya
tentang kebenaran objek tersebut. Mungkin makna itu dapat diwakili oleh kalimat
pleonastis berikut: melihat dengan mata kepala sendiri. Seseorang akan betul-betul
yakin terhadap sebuah objek jika ia melihat secara langsung dengan mata kepalanya
sendiri. Metode empiris dalam ilmu pengetahuan dapat dijelaskan melalui penelusuran
kata nazhar itu. Pengetahuan yang dihasilkan melalui metode ini cukup akurat,
karena telah melalui penyelidikan yang mendalam (al-ma rifat hashila al-ba da fahshi).

28
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Kata al Albaab atau uqul 48 adalah bentuk jamak dari term lubbu artinya isi , yaitu
antonim dari kulit . Seakan-akan Al Quran ingin menunjukkan bahwa manusia terbagi
atas dua bagian yaitu kulit dan isi. Bentuk fisik bagian luar manusia adalah kulit
sedangkan isi nya manusia adalah akal . Menurut Imam al-Biqa i berkata, Albab
adalah yang memberi manfaat kepada pemiliknya dengan memilah sisi substansial
dari kulitnya . Al Harali berkata, Ia adalah sisi terdalam akal yang berfungsi untuk
menangkap perintah Allah dalam hal-hal yang dapat diinderai, seperti halnya sisi luar
akal yang berfungsi untuk menangkap hakikat-hakikat makhluk, mereka adalah orang-
orang yng menyaksikan Rabb mereka melalui ayat-ayatNya (lihat tafsir Nuzhumud
Dhurar [3/32]). Term ulul albaab atau ulil albaab terulang dan disebut dalam Al Quran
sebanyak 16 kali, 9 diantaranya dalam ayat-ayat Makkiyah, tujuh lainnya terdapat
dalam ayat-ayat Madaniyah. Empat ayat Madaniyah diantaranya dengan redaksi
memanggil yaa ulil-albaab yaitu : 1). QS al Baqarah [2]: 179, 2) QS. QS al Baqarah
[2]: 197, 3) QS al Maa idah [5]: 100, dan 4) QS al Thalaq [65]: 10-11.

Wallaahu alam bish shawaab.

48
Yusuf Qardhawi, Op.cit., hh.30-1

29
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
Daftar Kepustakaan :
Al Qur an dan Terjemahnya, Cetakan Saudi Arabia
Anshari, Endang Saifuddin, Ilmu, Filsafat Dan Agama, Surabaya : Bina Ilmu, 1982
Audah, Ali, Konkordansi Qur an, Jakarta : Pustaka Litera AntarNusa, 1991.
Dryden, Gordon & Vos, Dr. Jeannette, Revolusi Cara Belajar, Bandung : Kaifa. 2000.
Kartawiria, Rajendra, 12 Langkah Membentuk Manusia Cerdas, Jakarta : Hikmah, 2004
Labib, Muhsin, Mengurai Tasawuf Irfan & Kebatinan, Jakarta : Penerbit Lentera, 2004
Pasiak, Taufik, Revolusi IQ/EQ/SQ Antara Neurosains dan Al Quran, Bandung: Penerbit
PT.Mizan Pustaka, 2004.
Taufik, Muhammad Izzuddin, Dalil Anfus Al Qur an dan Embriologi, Solo : Tiga Serangkai,
2006.
Pasiak, Taufik, Manajemen Kecerdasan, Bandung: Penerbit PT.Mizan Pustaka, 2006.
Pasiak, Taufik, Brain Management for Self Improvement, Bandung: Penerbit PT.Mizan
Pustaka, 2007.
Qardhawi, Yusuf, Al-Qur an Bicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Gema
Insani Press, 1998.

30
Konsep Akal ; Tinjauan Al Quran dan Neurosains .
This document was created with Win2PDF available at http://www.daneprairie.com.
The unregistered version of Win2PDF is for evaluation or non-commercial use only.