Vous êtes sur la page 1sur 4
Terbit Setiap “Masuk ke Bawah Meja!” 3 Bulan Profil Sahabat Edisi 4 Agustus 2011 PENGURANGAN RISIKO
Terbit
Setiap
“Masuk
ke Bawah
Meja!”
3 Bulan
Profil
Sahabat
Edisi
4
Agustus 2011
PENGURANGAN
RISIKO BENCANA
(PRB)
Kader Desa melatih Artha dengan materi Cerita
Bergambar dari ASB
YANG
INKLUSIF
DAN
ore itu kunjungan ASB disambut ceria
BERKELANJUTAN
o l e h
Art h a
Sa k a
Wi j a y a ,
d i
Skediamannya di dusun Ngemplak,
Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
Caturharjo, Sleman. Artha, 8 tahun,
merupakan salah satu anak berkebutuhan
khusus yang telah mendapatkan pelatihan
Pengurangan Resiko Bencana (PRB) dari
kader desa Caturharjo dalam program PRB
untuk Anak Berkebutuhan Khusus, keluarga,
serta tetangga dalam program kerjasama
Pemerintah Kabupaten Sleman bersama
ASB yang didanai oleh Direktorat Jenderal
Bantuan Kemanusiaan dan Perlindungan
Masyarakat Komisi Eropa.
Pelatihan di rumah keluarga Artha yang
juga melibatkan tetangga sekitar
yang inklusif merupakan rangkaian
upaya PRB yang melibatkan semua
orang atau kelompok, tak terkecuali
kelompok rentan seperti penyandang
cacat. Pelibatan ini haruslah dalam
keseluruhan proses, baik
pada saat tanggap darurat,
rehabilitasi dan
pembangunan kembali,
Dari
Suryono, berharap informasi penting
semacam ini tidak hanya berhenti sampai
kepada anak berkebutuhan khusus, keluarga
dan tetangganya saja, tapi juga dapat
menjamah masyarakat yang lebih luas. Dia
sendiri dan keluarga berkomitmen untuk
menularkan pengetahuan yang telah mereka
dapat kepada kerabat maupun lingkungan
sekitarnya.
Praktek simulasi evakuasi dalam perayaan
Hari Kartini 2011 di Semin, Gunungkidul
pencegahan dan mitigasi,
maupun dalam
kesiapsiagaan.
Redaksi
Dalam perbincangan kami, Suparmi, ibunda
Artha, mengungkapkan kalau pada awalnya
ia bersedia menerima pelatihan dari kader
desa dikarenakan rasa ingin tahu. Pada
kenyataannya, pelatihan yang telah dilakukan
tersebut dirasa sangat berguna dan memberi
pengetahuan serta kesiapan bagi Artha,
keluarga dan tetangga dalam menghadapi
berbagai bencana yang rawan terjadi di
Indonesia, khususnya di daerah Sleman.
Mengenai berbagai bencana tersebut,
Suparmi menyebut gempa bumi sebagai
yang paling mengancam. Ia sendiri
menyatakan jika setelah pelatihan ia jadi
mengetahui bagaimana caranya melindungi
diri maupun melindungi anaknya, Artha, yang
down syndrome. Di lain pihak, ia juga jadi
lebih menyadari kebutuhan khusus dan
kerentanan anaknya.
P ada edisi-edisi SAHABAT sebelumnya, ASB
dan Handicap International (HI) Federation
secara terus-menerus mempromosikan
pengarusutamaan isu kecacatan, pentingnya
pelibatan penyandang cacat, dan kebutuhan
khusus penyandang cacat dalam PRB. SAHABAT
lembaga penggerak dan semua
golongan masyarakat. Dan terakhir
yang tak kalah penting adalah kebijakan
Pemerintah dan sistem yang berjalan
dengan baik sebagai landasan
keberlanjutan program ke depan.
juga telah memaparkan berbagai program PRB
yang dijalankan ASB dan
HI
bersama pemerintah
Lalu bagaimana dengan Artha? Bocah yang
sempat putus sekolah dan baru saja
didaftarkan ke sekolah inklusi ini mengaku
senang dengan pelatihan yang diberikan
padanya. Dalam pelatihan yang lalu, Artha
memang dengan penuh semangat mengikuti
simulasi evakuasi, dan belajar dari materi
ASB yang berbentuk cerita bergambar.
Dengan sedikit pancingan, ia sudah dapat
memperagakan kembali dengan benar
bagaimana caranya melindungi kepala saat
melakukan evakuasi setelah gempa. Ketika
ditanya bagian mana yang paling ia sukai,
Artha dengan lugu menjawab, “Masuk ke
bawah meja”. (Asa, ASB)
dan partner kerja, baik di tingkatan sekolah maupun
masyarakat. Di sini, penyandang cacat tidak hanya
menjadi penerima manfaat, namun juga aktor yang
terlibat langsung dalam program. Program PRB
inklusif tersebut telah memperluas kesempatan
penyandang cacat untuk berpartisipasi dalam
masyarakat.
Agar
di
masa
depan
upaya
tersebut
masih
dapat
terus
berlanjut, diperlukan adanya
Dalam waktu dekat, sekalian merenovasi
rumahnya, Suparmi dan suaminya Suryono,
berencana untuk menata ulang seisi rumah,
terutama kamar Artha, agar lebih aman
ditempati. Suryono sendiri yang sebelumnya
tidak dapat menghadiri pelatihan karena
sedang bekerja mengatakan, kalau ia jadi
mengetahui tentang penataan ruangan aman
dari kertas tanda silang (menandakan
bahaya) dan centang (menandakan
pendukung) yang masih menempel di perabot
rumahnya selepas pelatihan.
u
s
a
h
a
s
e
c
a
r a
berkesinambungan.
m e w u j u d k a n n y a ,
dukungan
beberapa
Untuk
p e rl u
faktor.
Pertama, kesadaran masyarakat
DATA ANAK
luas
tentang
PRB
dan
isu
Nama: Artha Saka Wijaya
Umur: 8 tahun
kecacatan,agar perencanaan
dan
pelaksanaan
program PRB mempertimbangkan keberadaan dan
Ibu
: Suparmi
kebutuhan
penyandang
cacat.
Kedua,
perlu
SAHABAT edisi ke-4 sekaligus edisi
terakhir ini mengangkat tema PRB
inklusif yang berkelanjutan. Rubrik
Gagasan Sahabat menekankan peran
utama pemerintah untuk membangun
sistem penyampaian informasi PRB
berkelanjutan yang melibatkan berbagai
kelompok sebagai tenaga penggerak.
Teropong Sahabat memaparkan
pelaksanaan program PRB yang telah
dilaksanakan dan berbagai upaya di
d a l a m n y a u n t u k m e m a s t i k a n
inklusivitas dan keberlanjutan menjadi
nafas program. Selain itu SAHABAT
juga menyajikan profil penyandang
cacat dalam program PRB inklusif dan
hasil wawancara dengan keluarga yang
mendapat pelatihan PRB. Semoga edisi
kali ini dapat memberi pandangan yang
lebih kuat tentang upaya PRB inklusif
yang berkelanjutan. (Agnes, ASB)
Ayah : Suryono
pelibatan semua pihak, baik pemerintah, lembaga-
Pekerjaan orang tua:
Pegawai Bank
Didanai oleh:
Newsletter ini diterbitkan atas kerjasama
KOMISI EROPA
8
1
Arbeiter-Samariter-Bund
Deutschland e.V.
Sanggahan: Dokumen ini diproduksi dengan bantuan
dana dari Komisi Eropa. Pandangan yang dinyatakan di
dalam dokumen ini tidak dapat dianggap dengan cara
apapun untuk mencerminkan opini resmi dari Komisi Eropa
Bantuan Kemanusiaan
MEMBANGUN KETAHANAN Gagasan Sahabat DENGAN MEMBANGUN SISTEM PENYAMPAIAN INFORMASI PENGURANGAN RESIKO BENCANA Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
MEMBANGUN KETAHANAN
Gagasan
Sahabat
DENGAN MEMBANGUN
SISTEM PENYAMPAIAN INFORMASI
PENGURANGAN RESIKO BENCANA
Pengurangan Risiko
Bencana (PRB)
sebenarnya sudah
sering kita dengar pada
tahun-tahun
belakangan ini, tapi
pada kenyataannya
masih banyak
masyarakat yang tidak
dapat mengakses
informasi PRB. Selain
itu pelibatan semua
orang termasuk
kelompok rentan masih
sangat minim.
dilatih untuk menjadi pelatih PRB.
Selanjutnya, kader tingkat kecamatan akan
melatih kader-kader di desanya masing-
masing, dan baru pada akhirnya kader tingkat
desa menyampaikan pelatihan kepada
masyarakat. Kader-kader yang terlibat dalam
mekanisme ini adalah kader-kader yang
sebenarnya sudah ada di masyarakat
Indonesia, seperti Tenaga Kesejahterahan
Sosial Masyarakat, Pekerja Sosial
Masyarakat, Organisasi Penyandang Cacat
setempat, Kader Penggerak PKK, dll.
Kader Kecamatan sedang melatih Kader
Desa tentang Penataan Ruangan Aman.
kegiatan PRB, yang dilakukan para kader di
level masyarakat. Hasil dari monitoring
tersebut tentunya sangat bermanfaat untuk
mengevaluasi dan mengembangkan
program dan kegiatan PRB yang
berkelanjutan.
Kader Desa sedang berlatih menggunakan materi PRB dari
ASB
alam Undang-Undang no.24 tahun
mekanisme penyampaian informasi PRB
2007 tentang Penanggulangan
kepada masyarakat secara inklusif, yang
DBencana disebutkan bahwa salah nantinya juga akan diformalkan menjadi
satu prinsip penanggulangan bencana adalah
non-diskriminatif dan memberikan prioritas
perlindungan terhadap kelompok rentan.
Prinsip tersebut harusnya mendorong kita
semua untuk melibatkan kelompok rentan
termasuk penyandang cacat dalam upaya
PRB karena dalam situasi darurat seorang
penyandang cacat menghadapi kesulitan
yang lebih besar jika kebutuhan khususnya
tidak terpenuhi. Sementara sebelum terjadi
bencana penyandang cacat kesulitan
mengakses informasi sederhana mengenai
perlindungan diri.
regulasi di tingkat kabupaten. Mekanisme
tersebut sebenarnya merupakan hal yang
sederhana. Intinya adalah informasi PRB dan
pelatihan kesiapsiagaan dapat disampaikan
dari pusat sumber kepada seluruh lapisan
masyarakat dengan mudah, cepat dan hemat
biaya.
Kelebihan dari kader-kader tersebut antara
lain, mereka sudah terbiasa untuk melakukan
kegiatan kemasyarakatan, termasuk
penyuluhan kepada masyarakat. Sedangkan
pelibatan kader dari organisasi penyandang
cacat lokal sebagai pelatih dalam mekanisme
ini memberikan motivasi lebih kepada
penyandang cacat lainnya, karena mereka
dapat melihat langsung bahwa penyandang
cacat juga mampu terlibat dalam upaya PRB.
Penyandang cacat juga lebih memahami dan
mengetahui kebutuhan khusus yang
diperlukan dalam upaya PRB. Kader
penyandang cacat dan non-penyandang
cacat saling berkoordinasi mulai dari
persiapan, hingga pelaksanaan pelatihan.
Hal tersebut dilakukan dengan membentuk
kader-kader PRB di setiap kecamatan yang
Pembentukan kader PRB saja, baik di tingkat
kecamatan maupun desa tidaklah cukup
dalam mekanisme ini. Peran aparat
pemerintah baik di tingkat kabupaten,
kecamatan dan desa yang menangani bidang
penanggulangan bencana, sosial dan
p e m b e r d a y a a n m a s y a r a k a t /
kemasyarakatan juga sangat penting untuk
melakukan monitoring terhadap kegiatan-
Dengan adanya mekanisme berkelanjutan
dari kader di tingkat kecamatan dan desa
hingga ke masyarakat, Pemerintah sangat
terbantu dalam mempercepat proses
penyebaran informasi dan pelatihan PRB.
Mekanisme ini akan berjalan dengan baik,
jika didukung dengan penggunaan materi dan
metode pelatihan PRB yang sederhana,
praktis, dan disesuaikan dengan kebutuhan
khusus penyandang cacat. Terakhir,
himbauan resmi dari Pemerintah Kabupaten
mengenai praktek simulasi evakuasi yang
harus dilakukan secara rutin, akan
mendorong masyarakat untuk membangun
kebiasan diri berbudaya aman dalam
menghadapi bencana. Ke depannya,
diharapkan mekanisme ini dapat diadopsi
dan diadaptasikan di kabupaten-kabupaten
lain di Indonesia. (Phutut WS, ASB)
MEKANISME PENYAMPAIAN INFORMASI
PENGURANGAN RISIKO BENCANA
Susunan Redaksi
Diterbitkan oleh:
PEMERINTAH KABUPATEN
ASB Indonesia dan HI Federation Program
Indonesia
Kunci dari PRB adalah meningkatkan
kapasitas masyarakat dalam kesiapsiagaan
dan mengurangi kerentanan masyarakat
dalam menghadapi bencana. Kerentanan
masyarakat dapat dikurangi dengan adanya
peningkatan pengetahuan dan latihan
pembiasaan diri dalam mengambil langkah
kesiapsiagaan yang tepat, tidak terkecuali
untuk penyandang cacat.
Pemimpin Redaksi:
Petrus Ana Andung.
Wakil Redaktur:
Rofikul Hidayat.
KADER TANGGAP BENCANA KECAMATAN
Editor:
HI dan ASB
Reporter:
Agnes Patongloan, Asa Rahmana,
Buce Ga, Eldy Diaz, Noor Alifa
Ardianingrum,Puthut Sulastomo
KADER TANGGAP BENCANA DESA
Layout:
ASB Indonesia.
Alamat Redaksi:
Menyikapi kenyataan diatas, Pemerintah
Kabupaten Gunungkidul dan Sleman di
Provinsi D.I. Yogyakarta telah memelopori
pembangunan sebuah
Kantor HI Federation di Kupang
Jl. Bajawa No. 1 Kel. Oebufu,Kupang,
WARGA MASYARAKAT
(TERMASUK PENYANDANG CACAT
DAN KELOMPOK RENTAN LAINNYA)
Kader Desa sedang melatih Anak Berkebutuhan
Khusus dengan materi ASB.
Provinsi NTT , Indonesia,
Telepone : +62-380-821301.
Email : hiindo_drrpm.kupang@ymail.com
2
3
Teropong Sahabat Desa Noebesa dan Nakfunu Hasilkan Peraturan Desa (Perdes) tentang Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang
Teropong
Sahabat
Desa Noebesa dan Nakfunu
Hasilkan Peraturan Desa (Perdes)
tentang Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
yang Mencakup Kecacatan
Desa Noebesa dan Nakfunu, Kecamatan Amanuban Tengah, Kabupaten Timor Tengah
Selatan (TTS), Propinsi Nusa Tenggara Timur merupakan 2 desa yang diintervensi
Handicap International (HI) Federation bekerja sama dengan OISCA/BSK untuk projek
pengarusutamaan isu kecacatan dalam upaya PRB. Untuk mengkoordinasi kegiatan-
kegiatan PRB di tingkat komunitas, masyarakat di 2 desa ini difasilitasi oleh OISCA/BSK
dengan dukungan HI, berhasil membentuk Forum PRB yang beranggotakan berbagai
elemen yang ada dalam masyarakat.
Penyandang cacat juga dilibatkan dalam
pembuatan draft peraturan desa mengenai
PRB Inklusif di Desa Noebesa
Mitigasi bencana dengan
menanam tanaman di areal rawan longsor
yang melibatkan penyandang cacat
dibenarkan oleh Marthen Boimau yang juga
tunadaksa.
Sementara itu, Orianci Liunima, salah satu
anggota forum PRB Desa Noebesa, juga
menyambut positif akan kehadiran Perdes ini.
“Adanya Perdes ini dapat mengikat masyarakat
untuk melakukan mitigasi bencana dengan
menanam banyak pohon, mencegah terjadinya
kecacatan pada anak karena ibu-ibu hamil
diwajibkan melahirkan di Polindes dengan
bantuan medis. Bila tidak melahirkan di Polindes
dikenakan sanksi sebesar
RP.250.000”, kata anggota forum
PRB yang mewaki l i kaum
perempuan ini.
kecacatan hanya bisa terwujud bila didukung
dengan produk kebijakan yang mengikat. Perdes
inklusi ini juga menjadi salah satu upaya yang
strategis agar proses pengarusutamaan isu
kecacatan dalam upaya PRB dapat berkelanjutan
di tingkat masyarakat dan Handicap International
akan senantiasa berjuang untuk mendukung
pengembangan Perdes serupa dalam
implementasi PRB di daerah lainnya di Propinsi
NTT. Kontribusi lain dari lahirnya Perdes ini
terhadap keberlanjutan PRB inklusi yakni
mengikat Pemerintah Desa untuk memastikan
dan mengontrol agar pelaksanaan Perdes dapat
dilakukan secara baik. Selain itu, dengan Perdes
ini, mengikat kerjasama kemitraan antara
pemerintah desa dengan forum PRB di desa
tersebut. Dengan demikian ketika pihak luar
(LSM) tidak lagi melakukan pendampingan maka
keberlanjutan aktifitas PRB inklusi dapat
dikoordinasi oleh Pemerintah Desa.
(Petrus, HI)
Masyarakat desa, juga penyandang cacat mendiskusikan draft peraturan desa
mengenai PRB Inklusif di Desa Nakfunu
Bd erbagai kegiatan telah berhasil dilakukan
forum PRB ini seperti mitigasi bencana
a l a m b e n t u k p e n a n a m a n d a n
pemeliharaan tanaman-tanaman umur panjang
dan pembuatan tembok penahan longsor. Untuk
menjaga keberlanjutan dari program PRB ini,
forum PRB difasilitasi OISCA/BSK telah
mempelopori diterbitkannya Peraturan Desa
(Perdes) Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Pengelolaan Lingkungan Dan Penanggulangan
Resiko Bencana yang isinya mencakup
kecacatan (inklusi).
Sementara itu, Pasal 9 butir (f) mengatur bahwa
penyandang cacat harus dilibatkan dalam upaya
pengurangan risiko bencana (khususnya
mitigasi). Selain itu, pasal 9 ini juga memberi
mandat agar penyandang cacat mendapat
prioritas utama dalam upaya pencarian,
penyelamatan, dan evakuasi bencana.
Perdes ini mengikat semua warga desa untuk
melakukan berbagai upaya mitigas i.
Sebagaimana Bab V, Pasal 5 dalam Perdes
tersebut disebutkan secara jelas bahwa setiap
anggota keluarga (KK) diwajibkan untuk
menanam pohon sebanyak 25 pohon/tahun/jiwa.
Setiap masyarakat desa juga dilarang untuk
menebang pepohonan secara sembarangan.
Pasal 11, sudah menetapkan sanksi berupa
denda sebesar RP.100.000 per orang bagi yang
menebang pohon sembarangan.
Tentu saja, keberadaan Perdes menjadi sebuah
pengalaman sukses tersendiri bagi forum PRB
ini. Sebagaimana diungkapkan oleh salah
seorang anggota forum PRB Desa Nakfunu yang
juga penyandang cacat (tunadaksa), Yustus
Ta'ek, pada Sabtu, 16 Juli 2011, “Kami sangat
senang karena kami terlibat dalam seluruh
tahapan pembuatan Perdes ini mulai dari diskusi
di tingkat forum PRB, penyusunan draft Perdes,
dan sosialisasi di masyarakat. Pendapat kami
juga didengarkan (diakomodir, Red). Saat rapat,
saya usul ke forum agar hak-hak penyandang
cacat juga dimunculkan dalam Perdes PRB ini
dan akhirnya diterima sehingga isi Perdes dalam
pasal 9 sudah mengatur secara khusus tentang
penyandang cacat”. Pendapat Ta'ek ini
Jacob Benu, ketua Badan
Perwakilan Desa (BPD) Desa
Nakfunu yang sekaligus anggota
forum PRB menyatakan “Dengan
a d a n y a Pe r d e s i n i m a k a
keputusan-keputusan forum PRB
menjadi lebih kuat dan mengikat.
Mitigasi juga dapat dilakukan
secara terus-menerus. Apalagi
tanaman-tanaman yang ditanam
dalam program mitigasi ini adalah
t a n a m a n p e r k e b u n a n d a n
kehutanan yang selain mencegah
erosi, longsor dan banjir juga dapat
m e n g h a s i l k a n t a m b a h a n
pendapatan atau ekonomi rumah
tangga masyarakat”.
Keberhasilan Desa Nakfunu dan
Noebesa dalam mengeluarkan
Perdes tentang PRB inklusi
merupakan sebuah prestasi yang
patut dihargai. Mengingat
keberlanjutan upaya PRB yang
mencakup
Halaman depan peraturan desa mengenai PRB Inklusif di
Desa Noebesa dan Desa Nakfunu
4
5
Sahabat Teropong
Sahabat
Teropong

Selain pelibatan pemerintah,

strategi tak kalah penting

adalah penyiapan kader. Proses

penyiapan, pelatihan, dan

penyebarluasan informasi PRB

diupayakan seinklusif mungkin agar lebih

banyak nyawa terselamatkan. Sekolah

dan masyarakat merupakan wadah

efektif untuk upaya tersebut ..

Sahabat Teropong Selain pelibatan pemerintah, strategi tak kalah penting adalah penyiapan kader. Proses penyiapan, pelatihan, dan

Kader Siap, PRB Inklusif Mantap!

Sprogram PRB berbasis sekolah yang

ejak tahun 2006, ASB bekerjasama

dengan Dinas Pendidikan mengawal

dilaksanakan di Provinsi DIY, Jawa Tengah,

Nias Selatan, dan Jawa Barat. Total

sejumlah 130 Sekolah Inklusi, 91 Sekolah

Luar Biasa (SLB), dan 4915 SD di Provinsi

DIY, Nias Selatan, dan Ciamis, Jawa Barat

sudah mendapatkan pelatihan. Pelibatan

berbagai macam sekolah tersebut

merupakan upaya PRB yang inklusif dengan

tujuan mengurangi kerentanan semua anak,

termasuk penyandang cacat anak. Dalam

program tersebut, ASB menyiapkan

perwakilan guru melalui serangkaian

pelatihan. Tujuannya, guru perwakilan yang

sudah dilatih dapat menyebarluaskan

kepada guru lain di sekolah serta di

gugus/daerahnya masing-masing, yang

kemudian akan melatih para siswa dengan

menggunakan materi PRB dari ASB dan

melakukan simulasi evakuasi di sekolah.

Angka-angka tersebut di atas tidak berarti

banyak tanpa strategi tindak lanjut program.

Pemaksimalan fungsi sistem yang sudah ada

oleh pemerintah merupakan kunci

keberlanjutan. Artinya, tidak hanya guru yang

perlu disiapkan tetapi juga kepala sekolah,

pihak dinas dan pengawas sekolah. Strategi

ini diperkuat pula dengan dikeluarkannya

surat edaran Dinas Pendidikan yang

memerintahkan seluruh sekolah untuk

melakukan praktek simulasi evakuasi gempa

setiap tiga bulan sekali.

penyandang cacat anak di Indonesia tidak

bersekolah (Data: Direktorat Pembinaan

Sekolah Luar Biasa, 2006). Ketika mereka

tidak bersekolah, mereka akan terhambat

mendapatkan informasi, termasuk informasi

PRB.

Oleh karenanya, ASB merangkul Pemerintah

Kab. Gunungkidul dan Kab. Sleman di bawah

koordinasi Pemerintah D.I. Yogyakarta untuk

melaksanakan program PRB berbasis

masyarakat dengan sasaran utama

penyandang cacat anak yang belum/tidak

bersekolah (usia 5-15 tahun). ASB bersama

PemKab menyiapkan kader kecamatan, dan

anggota dari Organisasi Penyandang Cacat

(OPC) untuk memberikan pelatihan dan

melakukan pengawasan kepada kader-

kader di tingkat desa. Nantinya, kader-kader

desa akan melatih penyandang cacat anak,

keluarga dan masyarakat sekitar (tetangga

dan tokoh masyarakat). (Juga lihat artikel di

Gagasan)

Upaya tersebut berbuah manis, respon

masyarakat ternyata sangat positif. Selain

masyarakat merasa lebih aman setelah

mendapat pelatihan, muncul pula inisiatif

untuk menyebarluaskan secara mandiri

informasi PRB lewat pertemuan informal,

bahkan juga radio komunitas desa. Terlihat

pula komitmen kader desa tidak hanya

menyebarluaskan informasi PRB kepada

masyarakat, tetapi juga memperluas akses

bagi penyandang cacat anak, terlebih

Kekuatan program tersebut terletak pada

pembentukan sistem penyampaian informasi

yang efektif sehingga ASB mampu

melaksanakan program PRB berskala luas

dengan biaya efisien. Belajar dari

pengalaman ini, ASB menerapkan

dengan adanya partisipasi dari tokoh

masyarakat. Hal ini berarti, selangkah

menuju PRB inklusif; lebih banyak

masyarakat, terutama penyandang cacat

anak dapat menyelamatkan diri ketika terjadi

bencana. Bahkan lebih besar lagi, program

ini juga berkontribusi dalam memperluas

pendekatan yang sama di masyarakat

kesempatan mereka berpartisipasi dalam

dengan menggunakan kader. Hal ini penting

masyarakat.

(Alifa, ASB)

Sahabat Teropong Selain pelibatan pemerintah, strategi tak kalah penting adalah penyiapan kader. Proses penyiapan, pelatihan, dan

di lakukan mengingat sekitar 95%

6
6
Sahabat Teropong Selain pelibatan pemerintah, strategi tak kalah penting adalah penyiapan kader. Proses penyiapan, pelatihan, dan
Simon Beti, anggota Forum PRB “Hetven” di Desa Noebesa
Simon Beti,
anggota
Forum PRB
“Hetven”
di Desa Noebesa

SKecamatan Amanuban Selatan,

imon Betty, (63 tahun) adalah salah satu

warga (tunadaksa) di desa Noebesa,

Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Laki-laki

paruh bayah ini dikenal warga karena

kelincahan dan kegesitannya sehari-hari. Ia

tidak pernah mengeluh dengan kondisinya. Ia

terus berjuang dan bekerja keras untuk

menghidupi dan menyekolahkan ketujuh

anaknya hingga mengenyam ilmu hingga ke

perguruan tinggi. Tanggungjawab besar sebagai

seorang suami dan ayah membuat Bapak simon

tidak pernah menyerah walaupun ia harus

bekerja dari pagi hingga sore hari. Setelah dari

berkebun, ia masih harus membantu sang istri

tercinta mempersiapkan bahan dagangan untuk

dijual ke pasar lokal.

Profil Sahabat
Profil
Sahabat

Bangga bisa Terlibat dalam Membuat Peraturan Desa

...

saat

ini kami sudah berhasil membuat

Perdes tentang PRB yang di dalamnya

juga menjamin agar penyandang cacat

dilibatkan ” ...

Simon juga kerap memberikan

bapak

masukan bagi kemajuan forum. Bapak

adalah salah satu tokoh

Simon

Karena itu ia mengatakan,

masyarakat.

“Saya senang karena dengan bergabung

Forum PRB, saya

memastikan

bisa

di

kegiatan PRB dan kegiatan

bahwa

p e m b a n g u n a n

d e s a

l a i n n y a

m e m p e r t i m b a n g k a n

k e b u t u h a n

p e n y a n d a n g

c a c a t .

Ya n g

l e b i h

membanggakan, melalui keterlibatan kami

dalam PRB, saat ini kami sudah berhasil

membuat Perdes tentang PRB yang di

d a l a m n y a j u g a m e n j a m i n a g a r

penyandang cacat dilibatkan dalam setiap

kegiatan dan keputusan desa. Memang,

sebelum

adanya

pendampingan dari

bapak-bapak (HI dan OISCA/BSK, Red),

penyandang cacat tidak pernah dilibatkan

dalam tiap kegiatan desa”.

Selain bertani dan beternak, Bapak Simon Betty

juga terlibat aktif dalam Forum Pengurangan

Risiko Bencana (PRB) Hetven di Desa

Noebesa. Sebagai anggota Forum PRB yang

dibentuk OISCA/BSK, Bapak Simon

ditempatkan di seksi mitigasi yang bertugas

mengkoordinir penanaman anakan, dan

pengukuran tempat-tempat yang rawan longsor

guna direkomendasikan ke forum untuk

dibuatkan tembok penahan. Untuk pekerjaan

mitigasi, seperti halnya semua warga desa

lainnya, Bapak Simon juga menyiapkan

anakan/bibit pada lokasi persemaian guna

dilakukan penanaman di lokasi-lokasi yang

berpotensi bencana (longsor). Namun

keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan Forum

PRB ini tetap memperhatikan kapasitas dan

kenyamanannya secara pribadi.

Bapak Simon berharap, keterlibatannya

dalam kegiatan pembangunan desa ini

dapat memberikan contoh dan pelajaran

menarik bahwa penyandang cacat dapat

berbuat sesuatu guna membantu

membangun desa sesuai dengan

kapasitas dan kenyamanan mereka.

Memang, kehadiran dan peran bapak

Simon telah memberi motivasi bagi

penyandang cacat lainnya untuk terlibat

dalam kegiatan-kegiatan PRB baik

sebagai anggota forum dan juga dalam

mitigas i. Kini keterl ibatan para

penyandang cacat di Desa Noebesa

sudah semakin meningkat dan lebih aktif.

Dengan keterlibatan aktif mereka baik

sebagai anggota forum PRB maupun

dalam kegiatan nyata PRB dapat tetap

menjaga keberlanjutan pelaksanaan

Sejak kehadirannya sebagai anggota forum

upaya PRB yang mencakup kecacatan

PRB telah merubah cara pandang masyarakat

(inklusi).

akan kemampuan penyandang cacat. Apalagi,

(Bertholens-OISCA/BSK, Eldy/HI).

7
7
Sahabat Teropong Selain pelibatan pemerintah, strategi tak kalah penting adalah penyiapan kader. Proses penyiapan, pelatihan, dan