Vous êtes sur la page 1sur 11

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL) LATAR BELAKANG AMDAL Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pembangunan

di segala bidang, termasuk sarana dan prasarana industri, masalah kelestarian lingkungan di negara-negara sedang berkembang seringkali belum mendapat perhatian yang memadai. Kelestarian lingkungan dalam hal ini adalah bersifat dinamis di mana lingkungan tetap mampu mendukung taraf hidup yang lebih tinggi, sehingga dampak yang ditimbulkan oleh pembangunan masih dapat diserap dengan baik oleh daya dukung lingkungan disekitarnya. Dampak adalah segala perubahan lingkungan yang disebabkan oleh suatu kegiatan. Kegiatan ini akan menimbulkan perubahan yang positif maupun negative terhadap lingkungan. Oleh sebab itu, pembangunan harus didasarkan pada wawasan lingkungan dengan memperbesar dampak positif dan memperkecil dampak negative agar dapat dilakukan secara berkesinambungan. DEFENISI AMDAL Amdal adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan / atau kegiatan. AMDAL adalah proses pengkajian terpadu yang mempetimbangkan aspek ekologi, sosio-ekonomi, dan social budaya sebagai pelengkap kelayakan dari teknis dan ekonomi suatu rencana usaha atau kegiatan. DASAR HUKUM AMDAL Dasar hokum AMDAL adalah PP 27/1999 yang didukung oleh Paket Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan AMDAL dan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. TUJUAN DAN SASARAN AMDAL Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. Melalui studi AMDAL, diharapkan usaha dan / atau kegiatan pembangunan dan mengelola sumber daya

alam secara efisien, meminimumkan dampak negative memaksimalkan dampak positif terhadap lingkungan hidup.

dan

TANGGUNG JAWAB PELAKSANAAN AMDAL Secara umum, tanggung jawab koordinasi proses pelaksanaan AMDAL berada pada BAPEDAL (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan). KEGIATAN WAJIB AMDAL Studi AMDAL hanya diperlukan bagi proyek-proyek yang berskala besar, kompleks dan berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan serta dapat mempengaruhi daerah sensitive/kawasan lindung. Daftar usaha dan / atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL dapat dilihat dari KEputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan / atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan AMDAL.

KAPAN STUDI AMDAL DIMULAI AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan suatu rencana usaha dan / atau kegiatan. Disamping itu, sesuai dengan PP 27 /1999, AMDAL merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan / atau kegiatan. Oleh karena itu, maka AMDAL harus segera disusun segera setelah jelas alternative lokasi usaha dan / atau kegiatannya serta alternative teknologi yang akan digunakan. AMDAL DAN PERIZINAN Agar pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai sasaran yang diharapkan, pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme perijinan rencana usaha atau kegiatan. Menurut PP 27/1999, ijin melakukan usaha dan / atau kegiatan baru akan diberikan bila hasil dari studi AMDAL menyatakan bahwa rencana usaha dan / atau kegiatan tersebut layak lingkungan. Ketentuan-ketentuan dalam RKL/RPL menjadi bagian dari ketentuan izin. PROSEDUR PENYUSUNAN AMDAL Secara garis besar proses AMDAL mencakup langkah-langkah sebagai berikut: Mengidentifikasi dampak dari rencana usaha dan / atau kegiatan. Menguraikan rona lingkungan awal.

Memprediksi dampak penting Mengevaluasi dampak penting dan merumuskan arahan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Dokumen AMDAL terdiri dari empat rangkaian dokumen yang dilaksanakan secara berurutan, yaitu: Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL) Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). PENDEKATAN STUDI AMDAL Dalam rangka efisiensi dan efektivitas pelaksanaan AMDAL, penyusunan AMDAL bagi rencana usaha dan / atau kegiatan dapat dilakukan melalui pendekatan: AMDAL kegiatan tunggal AMDAL kegiatan terpadu AMDAL kegiatan dalam kawasan PENYUSUNAN AMDAL Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa kegiatan dapat meminta jasa konsultan untuk menyusun AMDAL. Para penyusun (minimal coordinator pelaksana) harus bersertifikat Penyusun AMDAL (AMDAL B). Sedangkan anggota penyusun lainnya adalah para ahli di bidanngnya yang sesuai dengan bidang kegiatan yang distudi. KEWENANGAN PENILAIAN AMDAL Pada prinsipnya semua penilaian dokumen AMDAL dilakukan oleh Komisi Penilaian AMDAL Propinsi. Sedangkan Komisi Penilaian AMDAL Pusat yang berkedudukan di BAPEDAL hanya menilai dokumen AMDAL untuk usaha dan / atau kegiatan yang bersifat strategis, lokasinya melebihi 1 propinsi, berada di wilayah sengketa, berada di ruang lautan, dan / atau lokasinya di lintas batas Negara RI dengan Negara lain. PERAN SERTA MASYARAKAT Setiap usaha dan/atau kegiatan wajib AMDAL, wajib diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun AMDAL. Dalam jangka waktu 30 hari sejak diumumkan, masyarakat berhak memberikan saran, pendapat dan tanggapannya. Dalam proses penyusunan AMDAL peran serta masyarakat tetap diperlukan, dengan

dipertimbangkannya dan dikajinya saran, pendapat dan tanggapan masyarakat dalam studi AMDAL. Demikian pula halnya dalam proses penilaian AMDAL di Komisi, saran, pendapat dan tanggapan masyarakat menjadi dasar pertimbangan penetapan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. KEMANA SAYA AKAN BERKONSULTASI JIKA SAYA AKAN MELAKSANAKAN STUDI AMDAL? Konsultasi dapat dilakukan di tiga Komisi Penilai AMDAL, yaitu: Komisi Penilai AMDAL Pusat atau Komisi Penilai AMDAL Propinsi atau Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/Kota atau tergantung dari jenis rencana kegiatan yang akan di studi AMDALnya. Komisi Penilai AMDAL terdiri dari: Unsur Pemerintah Wakil Masyarakat terkena dampak Perguruan Tinggi Pakar Organisasi Lingkungan Konsultasi ke Komisi Penilai AMDAL Pusat jika Rencana Kegiatan Anda adalah: Pembangunan Gudang Amunisi Pusat dan Daerah Pembangunan Pangkalan TNI AL Pembangunan Pangkalan TNI AU Pembangunan Pusat Latihan Tempur Pembangunan Lapangan Tembak TNI AD, TNI AL, TNI AU, dan Polri Pembangunan Pelabuhan Samudra dengan salah satu fasilitas (dermaga dengan konstruksi baru, penahanan gelombang, prasarana pendukung pelabuhan terminal peti kemas, dll) Pembangunan Bandara Internasional Baru Pengembangan Bandara Internasional Perluasan Bandara Internasional dengan pemindahan penduduk/pembebasan lahan, Reklamasi Pantai, dan Pemotongan Bukit dan Pengurukan Lahan Pemasangan Kabel Bawah Laut Teknologi satelit (Pembangunan fasilitas peluncuran satelit)

Industri Pesawat Terbang Industri Senjata, Amunisi, dan Bahan Peledak Eksploitasi Produksi Bahan Galian Radioaktif termasuk pengolahan, penambangan dan pemurnian Melakukan SubMarine Tailing Disposal Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di Darat dan di Laut Transmisi Migas (tidak termasuk pemipaan di dalam lapangan) Pembangunan Kilang LPG Pembangunan Kilang LNG Pembangunan Kilang Minyak Pembangunan Kilang Minyak Pelumas Bekas (termasuk fasilitas penunjang) Pembangunan dan Pengoperasian Reaktor Nuklir untuk Penelitian dan/atau Daya (PLTN)

RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL)


DOKUMEN RKL Dokumen yang memuat upaya-upaya mencegah, mengendalikan, dan menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup yang bersifat negative dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. AKTIVITAS RKL Menghindari atau mencegah dampak negative lingkungan hidup melalui pemilihan alternative, tata letak (tata ruang mikro) lokasi, dan rancang bangun proyek Menanggulangi, meminimasi, atau mengendalikan dampak negative baik yang timbul di saat usaha dan/atau kegiatan beroperasi, maupun saat usaha dan/atau kegiatan berakhir (misal, rehabilitas lokasi proyek) Meningkatkan dampak positif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut Memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih, hilang, atau rusak (baik dalam arti social ekonomi dan/atau ekologis) sebagai akibat usaha dan/atau kegiatan. KEDUDUKAN RKL DALAM AMDAL A N D A L Usulan proyek RKL RPL

Hasil pendugaan dampak suatu proyek Proyek dibangun dan berjalan

Aktivitas pengelolaan lingkungann

Aktivitas Pemantauan lingkungan

Dampak lingkungan

Keadaan kualitas lingkungan

Hasil pemantauan kualitas lingkungan

RKL MERUPAKAN BAGIAN DARI AMDAL RKL disusun berdasarkan hasil dari suatu studi Andal dan sebaiknya RKL merupakan bagian dari laporan suatu studi Amdal yang disusun oleh tim yang menyusun Andal pula. SIAPA YANG AKAN MELAKUKAN RKL Pemrakarsa proyek bertanggungjawab dalam melakukan pengelolaan lingkungan dan pada keberhasilan dari pengendalian dampak. Instansi pemerintah atau dinas-dinas yang biasanya ditunjuk untuk bertanggungjawab atas pemantauan pelaksanaan pengelolaan lingkungan, seperti kualitas dan kuantitas biasanya dinas Pekerjaan Umum, dinas dari Departemen Kesehatan dan dinas Pertanian. PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi Andal, dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup. 1. Pendekatan teknologi Berupa cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting, seperti: Mencegah kemunduran potensi sumber daya alam yang dikelola dan sumber daya alam lain di luar proyek Pendekatan ini dilakukan pada proyek-proyek yang mengelola sumber daya alam yang dapat diperbaharui, seperti mengelola perikanan, pertanian, perkebunan dan kehutanan. Usahausaha yang dapat dilakukan: Mencegah merosotnya kesuburan tanah Mencegah timbulnya erosi tanah Mencegah menurunnya kualitas air perikanan atau kualitas kesuburannya Mencegah berubahnya struktur populasi ikan Mencegah rusaknya suatu habitat Memperbaiki vegetasi bekas tambang terbuka (reklamasi) Limbah yang beracun dan berbahaya Berbagai cara diusahakan untuk menghadapi limbah bahan beracun dan berbahaya, diantaranya:

Mendaur ulang limbah Dinetralkan oleh alam Dinetralkan melalui proses kimia atau proses biologis Mengubah desain mesin dan/atau prosesnya Mengganti bahan baku dan/atau bahan kimia yang digunakan oleh proyek Mengisolir dan menyimpan bahan kimia agar tidak tersebar di alam. 2. Pendekatan ekonomi Usaha pengelolaan lingkungan hidup memerlukan biaya yang tidak sedikit. Banyak proyek yang tidak mampu membiayai pembelian alat untuk mengolah limbah cair dan gas, dan mengoperasikannya. Maka dalam keadaan seperti ini proyek tersebut perlu mendapat bantuan, keringanan atau insentif. Insentif dapat berupa: Membebaskan pajak import alat-alat pengelolaan lingkungan Memberikan pinjaman atau kredit khusus untuk pembelian alat-alat tersebut Kemudahan dalam mendapatkan izin import peralatan Pemerintah ikut membantu baik dalam peralatan dan/atau operasinya, missal untuk industri rakyat yang modalnya relative kecil-kecil. 3. Pendekatan social ekonomi masyarakat Memberikan ganti rugi pada masyarakat dalam bentuk: Uang Mengangkat mereka sebagai karyawan proyek Meningkatkan pengetahuan mereka agar dapat menghindari bahaya limbah Menciptakan hubungan yang baik dan saling menguntungkan antara proyek dengan masyarakat disekitarnya Menciptakan sumber pekerjaan baru di luar proyek Meningkatkan pendapatan masyarakat Meningkatkan struktur ekonomi Memberikan pelayanan umum seperti listrik, air bersih, poliklinik, sekolah, tempat ibadah, dsb. Menghindarkan timbulnya kecemburuan social Mencegah timbulnya konflik dalam nilai-nilai social

4. Pendekatan institusi Pendekatan ini merupakan mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup, seperti: Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan lingkungan hidup Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan. SIAPA YANG HARUS MEMBIAYAI AKTIVITAS PENGELOLAAN? Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Berdasarkan prinsip siapa yang mencemari harus membiayai aktivitas pengelolaan lingkungan maka akan mudah untuk menetapkan bahwa si pemrakarsa proyeklah yang harus membiayainya. Akan tetapi akan timbul pertanyaan lagi mengenai pengelolaan apa dan di mana yang harus ditanggung biayanya oleh pemrakarsa proyek? Untuk limbah cair dan gas tidak sulit menetapkannya, yaitu pengelolaan harus menanggung biaya pengelolaan limbah dalam areal proyek sehingga limbah yang keluar setelah dikelola sudah di bawah Baku Mutu Limbah yang telah ditetapkan. Keadaan ini juga akan sulit apabila proyek tersebut tidak mampu membiayai atau industri-industri rakyat yang keuntungannya sangat kecil sehingga secara kolektif pun tidak mencukupi. Apabila tidak ditemukan system mengendalikan limbahnya melalui perubahan desain, bahan baku atau prosesnya maka pemerintah dihadapkan pada dua pilihan yaitu pemerintah harus membiayai atau proyek tersebut harus ditutup. RENCANA DAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN 1. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) meliputi: a. Faktor lingkungan yang terkena dampak Uraian secara jelas factor biogeofisik kimia dan aspek-aspek social-ekonomi dan social-budaya yang terkena dampak sebagai akibat dilaksanakannya kegiatan b. Sumber dampak

Uraian secara jelas tentang komponen kegiatan yang dapat merupakan sumber dampak, missal penggunaan kilang yang menghasilkan emisi SO2 dan NOx dengan konsentrasi tinggi c. Bobot dan tolok ukur dampak Digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang berat dan ringannya dampak terhadap lingkungan. d. Upaya pengelolaan lingkungan Upaya penanganan dampak ini dapat berupa pencegahan, penanggulangan dampak negative serta pengembangan dampak positif, seperti: Menggunakan bahan baku yang tidak atau kurang menghasilkan limbah berbahaya dan beracun yang dapat mengganggu dan membahayakan kesehatan manusia, misalnya untuk mencegah terjadinya emisi SO2 dan Nox berkadar tinggi maka perlu digunakan bahan minyak mentah berkadar belerang rendah. Penanggulangan di luar prosesnya agar tidak membahayakan. Misalnya, kadar SO2 dan Nox yang tinggi dapat ditanggulangi dengan pembuatan cerobong asap yang cukup tinggi sehingga penyebaran emisi cukup luas. Pengembangan, yaitu usaha untuk lebih meningkatkan daya guna dampak positif agar dapat diperoleh manfaat yang lebih besar. 2. Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan a. Uraian tentang kelembagaan yang akan berurusan, berkepentingan dan berkaitan dalam pengelolaan lingkungan b. Bagi proyek yang sudah berjalan perlu membentuk suatu unit organisasi yang bertanggung jawab di bidang lingkungan untuk melaksanakan RKL c. Pembiayaan-pembiayaan untuk melaksanakan RKL merupakan tugas dan tanggung jawab dari penanggung jawab yang bersangkutan. Pembiayaannya meliputi: Biaya investasi, misal pembelian peralatan pengelolaan lingkungan serta biaya untuk kegiatan teknis Biaya personil dan biaya operasional Biaya pendidikan serta latihan ketrampilan operasional 3. Pengawasan Pengelolaan Lingkungan Uraian tentang instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RKL. Instansi terlibat mungkin lebih dari satu

instansi dan masing-masing akan bertugas mengawasi atau memantau sesuai dengan bidang yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya.