Vous êtes sur la page 1sur 58

Hubungan Antara Pengetahuan, Kebersihan Diri Ibu dan Sanitasi Makanan dengan Kejadian Diare Akut pada Balita

di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran Samarinda

DISUSUN OLEH:

Ika Anggraini Diah Budiarti Yurima Indriyani

(03.37504.00160.09) (04.45402.00192.09) (04.45403.00193.09)

PEMBIMBING: dr. Hj. Syarifah Rahimah, M.Kes dr. Deasi N, MSi dr. Khairul, M.Kes

LABORATORIUM/SMF ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN PUSKESMAS PALARAN SAMARINDA 2011

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...............................................................................................................

DAFTAR ISI ............................................................................................................................ ii DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................................... BAB I. 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. PENDAHULUAN Latar Belakang ...................................................................................................... 1 Rumusan Masalah ................................................................................................. 3 Tujuan Penelitian .................................................................................................. 3 Manfaat Penelitian ................................................................................................ 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. DIARE ....................................................................................................................... 4 2.1.1. Definisi Diare ........................................................................................................ 4 2.1.2. Klasifikasi Diare ................................................................................................... 4 2.1.3. Patogenesis ........................................................................................................... 5 2.1.4. Patofisiologis.......................................................................................................... 6 2.1.5. Manifestasi Klinis ................................................................................................. 8 2.1.6. Pemeriksaan laboratorium ................................................................................... 10 2.1.7. Diagnosis .............................................................................................................. 10 2.1.8. Penatalaksanaan .................................................................................................... 11 2.1.9. Pencegahan ........................................................................................................... 11 2.2 FAKTOR RISIKO DIARE ....................................................................................... 11 2.2.1. Karakteristik Ibu .................................................................................................. 12 2.2.2. Karakteristik Balita ............................................................................................... 15 2.2.3. Kebersihan Diri Ibu .............................................................................................. 16 2.2.4. Sanitasi Makanan ................................................................................................. 17 2.2.5. Sanitasi Lingkungan ............................................................................................. 19 BAB III KERANGKA TEORI DAN KONSEP .................................................................... 21 3.1. Kerangka Teori ..................................................................................................... 21 ii

3.2. 3.3.

Kerangka Konsep .................................................................................................. 22 Hipotesis ............................................................................................................... 22

BAB IV.METODOLOGI PENELITIAN .............................................................................. 23 4.1. 4.2. 4.3. 4.4. 4.5. 4.6. 4.7. 4.8. 4.9. Jenis Penelitian ..................................................................................................... 23 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................................ 23 Populasi dan Sampel Penelitian ............................................................................ 23 Kriteria Sampel ..................................................................................................... 24 Variabel Penelitian ................................................................................................ 25 Definisi Operasional dan Kriteria objektif ............................................................ 25 Cara Pengumpulan Data ....................................................................................... 27 Pengolahan dan Penyajian Data ............................................................................ 28 Analisis Data ......................................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 30 LAMPIRAN-LAMPIRAN ...................................................................................................... 32

iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Diare merupakan masalah kesehatan dunia terutama di negara

berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. WHO memperkirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia pada tahun 2000 dan 2,2 juta diantaranya meninggal, sebagian besar anak-anak dibawah umur 5 tahun. Hal ini sebanding dengan 1 anak meninggal setiap 15 detik. Di Amerika Serikat, 20-35 juta kejadian diare terjadi setiap tahun, pada 16,5 juta anak sebelum usia 5 tahun. (1) Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). (2) Angka kesakitan diare tahun 2000 (survei oleh Subdit Diare, Ditjen PPMPL) adalah 301 per 1.000 penduduk dan pada balita 1,3 kali per tahun. Pada tahun 2003 angka kesakitan diare meningkat menjadi 374 per 1.000 penduduk dan pada balita 1,08 kali per tahun
(3)

. Berdasarkan Survei Departemen

Kesehatan (2003), di Indonesia penyakit diare menjadi penyebab kematian nomor dua pada balita, nomor tiga pada bayi, dan nomor lima pada semua umur. (4) Hasil penelitian terhadap semua kasus balita yang disurvei pada penelitian yang dilakukan tahun 2001 diketahui bahwa penyakit infeksi masih merupakan penyebab kematian terbanyak. Penyakit diare masih merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita karena penyakit ini merupakan penyakit yang akut dan sering kali terjadi keterlambatan penderita memperoleh pertolongan. Kematian balita akibat diare (2,3 per 1.000 balita) menempati urutan kedua setelah kematian akibat penumonia (4,6 per 1.000 balita). (5) Angka kematian akibat penyakit diare di Indonesia menurut kelompok umur menunjukkan bahwa pada kelompok umur kurang dari satu tahun

menduduki urutan ketiga, yaitu 1.111 per 100.000, setelah gangguan perinatal dan pneumonia. Pada kelompok umur 1-4 tahun angka kematian diare menduduki urutan kedua, yaitu 134 per 100.000 setelah pneumonia, sedangkan pada kelompok umur 5-14 tahun berada pada urutan pertama penyebab kematian yaitu 28 per 100.000. Salah satu penyebab masih tingginya angka kesakitan dan kematian tersebut karena kondisi kesehatan lingkungan yang belum memadai. (4) Berikut merupakan data diare Puskesmas Palaran pada tahun 2009. Jumlah penderita diare di kecamatan Palaran sebanyak 2465 orang dengan sebaran 1107 orang (44,91%) di kelurahan Rawa Makmur, 678 orang (27,51%) di kelurahan Bukuan, 309 orang (12,54%) di kelurahan Handil bakti, 221 orang (8,97%) di kelurahan Simpang Pasir dan 149 orang (6,04%) di kelurahan Bantuas. Berdasarkan umur pada tahun 2009, jumlah penderita diare umur kurang dari 1 tahun sebanyak 250 orang (10,14%), umur 1-4 tahun sebanyak 752 orang (30,51%), umur 5-14 tahun sebanyak 417 orang (16,91%), umur 15-44 tahun 756 orang (30,67%), umur lebih dari 45 tahun sebanyak 290 orang (11,76%). Sedangkan data diare Puskesmas Palaran pada tahun 2010 diperoleh bahwa jumlah penderita diare di kecamatan Palaran pada tahun 2010 yaitu sebanyak 1864 orang. Sebanyak 862 orang (46,24%) terdapat di wilayah kelurahan Rawa makmur, 510 orang (27,36%) di wilayah kelurahan Bukuan, 208 orang (11,16%) di kelurahan Handil Bakti, 169 orang (9,07%) di kelurahan Simpang Pasir dan 115 orang (6,17%) di kelurahan Bantuas. Kejadian diare menurut umur pada tahun 2010 di Puskesmas Palaran menunjukkan bahwa umur < 1 tahun jumlah penderita diare adalah sebanyak 184 orang (9,87%), umur 1-4 tahun jumlah penderita diare sebanyak 555 orang (29,77%), umur 5-14 tahun jumlah penderita diare sebanyak 302 orang (16,20%), umur > 45 tahun jumlah penderita sebanyak 178 orang (9,55%). Berdasarkan jenis penyakit menular yang dilaporkan di Puskesmas Palaran kejadian penyakit diare masih tinggi. Jumlah penyakit diare di Kecamatan Palaran berdasarkan data tahun 2009 ialah 2465 penderita, dengan golongan umur 1-4 tahun yaitu 752 orang (30,51%). Kemudian diketahui bahwa

prevalensi diare pada tahun 2010 yakni 1864 penderita, dengan golongan umur terbanyak pada balita (1-4 tahun) sebanyak 555 orang(29,77%). Datadata dibawah menunjukkan masih tingginya angka kejadian diare pada tahun 2009 dan 2010, sedangkan pencapaian promosi kesehatan PHBS berdasarkan PENJAMAS 2010 sudah 100%. Lokasi penelitian ini dilakukan di kelurahan Rawa Makmur, karena dari 5 kelurahan yang ada di Kecamatan Palaran, kelurahan Rawa Makmur menunjukkan prevalensi tertinggi diare dibanding kelurahan yang lain. Penelitian mengenai penyakit diare di Indonesia menunjukkan bahwa banyak faktor yang dapat berpengaruh secara langsung seperti faktor gizi, makanan dan lingkungan maupun pengaruh tidak langsung seperti faktor sosial ekonomi. Kesehatan lingkungan yang buruk akan berpengaruh terhadap terjadinya diare, sehingga interaksi antara agen penyakit, pejamu dan faktor lingkungan dapat meningkatkan kejadian diare.
(5)

Dalam Indonesia Sehat

2010, perilaku sehat yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah risiko terjadinya penyakit, melidungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. (6) Perilaku hidup bersih dan sehat yang dilakukan oleh ibu yang didukung dengan pengetahuan dan penerapan sikap proaktif dalam menjaga personal hygiene dapat mencegah penyakit diare pada balita Berdasarkan uraian tersebut di atas, dengan melihat angka kejadian diare pada balita serta gambaran perilaku masyarakat, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, kebersihan diri dan sanitasi makanan terhadap kejadian diare pada balita di Kecamatan Palaran Kota Samarinda. terjadinya

B. Rumusan 1.2. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari penelitian ini ialah : a. Tingginya prevalensi diare di Palaran dari tahun ke tahu, meskipun pencapaian promosi kesehatan sudah mencapai 100 % b. Penderita diare terbanyak ialah kelompok usia balita (1 tahun hingga kurang dari 5 tahun) c. Kelurahan Rawa Makmur merupakan kelurahan dengan prevalensi tertinggi diare . Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin mengetahui bagaimana hubungan antara tingkat pengetahuan ibu, kebersihan diri ibu dan sanitasi makanan dengan kejadian diare akut pada balita di Kecamatan Palaran? 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, kebersihan diri dan sanitasi makanan dengan kejadian diare akut pada balita di Kecamatan Palaran. 1.3.2. Tujuan Khusus 1. Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan tingginya kejadian diare akut pada balita di Kecamatan Palaran. 2. Mengetahui hubungan antara kebersihan diri dengan tingginya kejadian diare akut pada balita di Kecamatan Palaran. 3. Mengetahui hubungan antara sanitasi makanan dengan tingginya kejadian diare akut pada balita di Kecamatan Palaran. 1.4. 1. Manfaat Penelitian Sebagai masukan bagi instansi kesehatan terkait guna meningkatkan promosi kesehatan untuk menjaga dan meningkatkan mutu kebersihan diri atau berprilaku hidup bersih sehat, sehingga dapat melakukan

penanggulangan penyakit diare akut pada balita.

2.

Untuk menambah wawasan dan pengetahuan berperan aktif dalam mengantisipasi dan

masyarakat agar dapat atau menanggulangi

mewabahnya penyakit diare 3. Menambah pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti tentang kebersihan diri dan sarana dasar kesehatan lingkungan yang berhubungan dengan penyakit diare. 4. Sebagai salah satu tugas dalam Kepaniteraan Klinik Muda Ilmu Kesehatan Masyarakat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DIARE 2.1..1 Definisi Diare Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari biasanya (>3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan/tanpa darah dan/atau lendir. (7) 2.1. 2 Klasifikasi Diare Diare akut adalah diare yang awalnya mendadak dan berlangsung singkat, dalam beberapa jam atau hari dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu, dan disebut diare persisten bila berlangsung selama 2 minggu sampai dengan 4 minggu. Bila berlangsung lebih dari 4 minggu disebut sebagai diare kronik. (8) Banyak macam klasifikasi dari diare, antara lain: 1. Rendle Short membuat klasifikasi berdasarkan pada ada atau tidak adanya infeksi, diklasifikasi menurut 2 golongan:(25) a. Diare infeksi spesifik: tifus abdomen, disentri basil. b. Diare non-spesifik: diare dietetik. 2. Moses membagi berdasarkan atas penyebabnya:(26) a. Infeksi Parasit: amebiasis, balantidiasis, helmintiasis. Bakteri: basiler disentri, cholera, salmonellosis. Enteroviral: virus gastroenteritis.

b. Keracunan makanan Karena toksin bakteri, misalnya Botulisme Karena toksin yang dikeluarkan oleh makanan sendiri

c. Diare akibat obat-obatan Post antibiotik diare

Diare dapat timbul secara sekunder karena dosis berlebihan dari quinidin, colchicin, digitalis, reserpin, laksatif.

d. Diare yang etiologinya tidak pasti e. Diare psikogenik f. Keadaan lain yang berhubungan dengan diare kronis

2.1.3. Patogenesis Pada dasarnya diare terjadi bila terdapat gangguan transpor terhadap air dan elektrolit pada saluran cerna. Mekanisme gangguan tersebut ada 5 kemungkinan: (9) 1. 2. 3. 4. 5. Osmolaritas intraluminer yang meninggi. Sekresi cairan dan elektrolit meninggi. Absorpsi elektrolit berkurang. Motilitas usus yang meninggi/hiperperistaltis, atau waktu transit yang pendek. Sekresi eksudat. Diare yang terjadi pada penyakit tertentu atau yang disebabkan suatu faktor etiologi tertentu, biasanya timbul oleh gabungan dari beberapa mekanisme diatas. (9) Sesuai dengan perjalanan penyakit diare, patogenesis penyakit diare dibagi atas: 1.
(7)

Diare akut Lebih dari 90% diare akut disebabkan karena infeksi. Patogenesis diare

akut oleh infeksi yaitu masuknya mikroorganisme ke dalam saluran pencernaan, berkembangbiaknya mikroorganisme tersebut setelah berhasil melewati asam lambung, dibentuknya toksin (endotoksin) oleh mikroorganisme, adanya rangsangan pada mukosa usus yang menyebabkan terjadinya hiperperistaltik dan sekresi cairan usus mengakibatkan terjadinya diare. 2. Diare kronik Patogenesis diare kronik lebih rumit karena terdapat beberapa faktor yang satu sama lain saling mempengaruhi. Faktor-faktor tersebut antara lain:

a.

Infeksi bakteri Misalnya ETEC (Entero Toxigenic E. Coli) yang sudah resisten terhadap obat. Juga diare kronik dapat terjadi kalau ada pertumbuhan bakteri berlipat ganda (over growth) dari bakteri non patogen.

b.

Infeksi parasit Terutama E.histolytica, Giardia, Candida dan sebagainya.

c.

Kekurangan kalori protein Pada penderita kekurangan kalori protein terdapat atrofi semua organ termasuk atrofi mukosa usus halus, mukosa lambung, hepar dan pankreas. Akibatnya terjadi defisiensi enzim yang dikeluarkan oleh organ-organ tersebut yang menyebabkan makanan tidak dapat dicerna dan diabsorpsi dengan sempurna. Makanan yang tidak diabsorpsi tersebut akan menyebabkan tekanan osmotik koloid di dalam lumen usus meningkat yang menyebabkan terjadinya diare osmotik. Selain itu juga akan menyebabkan over growth bakteri yang akan menambah beratnya malabsorpsi dan infeksi.

d.

Gangguan imunologik Usus merupakan organ utama dari daya pertahanan tubuh. Defisisensi dari Secretory IgA dan Cell Mediated Immunity (CMI) akan menyebabkan tubuh tidak mampu mengatasi infeksi dan infestasi parasit dalam usus. Akibatnya, bakteri, virus, parasit, dan jamur akan masuk ke dalam usus dan berkembang biak dengan leluasa sehingga terjadi over growth dengan akibat lebih lanjut berupa diare kronik dan malabsorpsi makanan.

2.1.4. Patofisiologi Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi: (7) 1. Kehilangan air (dehidrasi) merupakan penyebab kematian pada diare. Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak daripada pemasukan air (input), merupakan penyebab kematian pada diare. 2. Gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis). Metabolik asidosis ini terjadi karena: a. Kehilangan Na-bikarbonat bersama tinja.

b. Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton tertimbun dalam tubuh. c. Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksi jaringan. d. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi oliguria/anuria). e. Pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan intraseluler. Secara klinis asidosis dapat diketahui dengan memperhatikan pernafasan. Pernafasan bersifat cepat, teratur dan dalam, yang disebut pernafasan Kuszmaull. Pernafasan Kuszmaull ini merupakan homeostasis respiratorik, adalah usaha tubuh untuk mepertahankan pH darah. 3. Hipoglikemi. Hipoglikemi terjadi pada 2-3% dari anak-anak yang menderita diare.

Lebih sering pada anak yang sebelumnya sudah menderita kekurangan kalori protein. Hal ini terjadi karena penyimpanan/persediaan glikogen dalam hati terganggu dan adanya gangguan absorpsi glukosa (walau jarang terjadi). Gejala hipoglikemi akan muncul jika kadar glukosa darah menurun sampai 40 mg% pada bayi dan 50mg% pada anak-anak. Gejalanya adalah lemah, apatis, peka rangsang, tremor, berkeringat, pucat, syok, kejang sampai koma. 4. Gangguan gizi. Gangguan gizi sering terjadi pada anak yang menderita diare dengan akibat terjadinya penurunan berat badan dalam waktu yang singkat. Hal ini disebabkan makanan sering dihentikan karena takut diare dan atau muntah yang akan bertambah hebat, pemberian susu yang diencerkan, makanan yang diberikan sering tidak dicerna dan diabsorpsi dengan baik. 5. Gangguan sirkulasi. Sebagai akibat diare dengan/disertai muntah, dapat terjadi gangguan sirkulasi darah berupa renjatan (syok) hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan perdarahan dalam otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera ditolong penderita dapat meninggal.

2.1.5.Manifetasi Klinis Penularan diare akut karena infeksi melalui transmisi fekal oral langsung dari penderita diare atau melalui makanan/minuman yang terkontaminasi bakteri patogen yang berasal dari tinja/manusia atau hewan atau bahan muntahan penderita. Penularan dapat juga berupa transmisi dari manusia ke manusia lain melalui udara atau melalui aktifitas seksual kontak oral genital atau oral anal. (8) Diare akut karena infeksi bakteri yang mengandung/memproduksi toksin akan menyebabkan diare sekretorik dengan gejala-gejala mual, muntah, dengan atau tanpa demam yang umumnya ringan, disertai atau tanpa nyeri/kejang perut, dengan feses lembek/cair. Diare sekretorik yang berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medis yang adekuat dapat menyebabkan kematian karena kekurangan cairan yang mengakibatkan renjatan hipovolemik atau karena asidosis metabolik lanjut. Karena kehilangan cairan, seseorang akan merasa haus, berat badan berkurang mata menjadi cekung, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. (8) Kehilangan bikarbonas dan asam karbonas yang berkurang mengakibatkan penurunan pH darah. Penurunan ini akan merangsang pusat pernafasan sehingga frekuensi nafas lebih cepat dan lebih dalam (pernafasan Kussmaul). Gangguan kardiovaskular pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi yang cepat, tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Mulai gelisah, muka pucat, ujung-ujung ektremitas dingin dan kadang sianosis karena kehilangan kalium. Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun dengan sangat.(24) Untuk jelasnya gejala klinik diare dibagi atas: (9) 1. Fase prodromal yang dapat juga disebut sebagai sindrom pradiare: perut terasa penuh, mual bisa sampai muntah, keringat dingin, pusing. 2. Fase diare: diare dengan segala akibatnya berlanjut yaitu dehidrasi, asidosis, syok, mules, dapat sampai kejang, dengan atau tanpa panas, pusing. 3. Fase penyembuhan: diare makin jarang, mules berkurang, penderita rasa lemas/lesu. Derajat dehidrasi dapat ditentukan berdasarkan: (7) 1. Kehilangan berat badan

10

a. b. c. 2.

Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%. Dehidrasi sedang bila terjadi penurunan berat badan 5-10%. Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan >10%.

Skor Maurice King Bagian tubuh yang diperiksa Keadaan umum Sehat 0 Nilai untuk gejala yang ditemukan 1 2 koma

Gelisah, cengeng, Mengingau, apatis, ngantuk atau syok Sangat kurang Sangat cekung Sangat cekung

Kekenyalan kulit Mata Ubun-ubun besar Mulut Denyut nadi/menit

Normal Normal Normal Normal Kuat>120

Sedikit kurang Sedikit cekung Sedikit cekung Kering Sedang (120-`140)

Kering dan sianosis >140

Berdasarkan skor yang ditemukan pada penderita, dapat ditentukan derajat dehidrasinya. Skor 0-2 adalah dehidrasi ringan, skor 3-6 adalah dehidrasi sedang dan skor>7 adalah dehidrasi berat. 3. Kriteria Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) a. Dehidrasi berat Terdapat dua atau lebih dari tanda-tanda berikut: letargi atau tidak sadar, mata cekung, tidak bisa minum atau malas minum, cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat. b. Dehidrasi sedang Terdapat dua atau lebih dari tanda-tanda berikut: gelisah, rewel/marah, mata cekung, haus, minum dengan lahap, cubitan kulit perut kembalinya lambat. c. Tanpa dehidrasi Tidak cukup tanda-tanda untuk diklasifikasikan sebagai dehidrasi berat atau ringan/sedang. 4. Menurut tonisitas darah a. b. Dehidrasi isotonik, bila kadar Na+ dalam plasma anatara 131-150 mEq/L Dehidrasi hipotonik, bila kadar Na+ 131 mEq/L

11

c.

Dehidrasi hipertonik, bila kadar Na+ > 150 mEq/L

2.1.6. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium penting artinya dalam menegakkan diagnosis kausal yang tepat sehingga kita dapat meberikan obat yang tepat pula. Dalam praktek sehari-hari, pemeriksaan laboratorium lengkap hanya dikerjakan jika diare tidak sembuh dalam 5-7 hari. (7) Pemeriksaan laboratorium yang perlu dikerjakan: (7) 1. Pemeriksaan tinja: a. Makroskopik dan mikroskopik. b. Biakan kuman. c. Tes resistensi terhadap berbagai antibiotika. d. pH dan kadar gula, jika diduga intoleransi laktosa. 2. Pemeriksaan darah: a. Darah lengkap. b. Pemeriksaan elektrolit, pH dan cadangan alkali. c. Kadar ureum 3. Intubasi duodenal: pada diare kronik untuk mencari kuman penyebab.

2.1.7. Diagnosis Demi kepentingan pelayanan sehari-hari diagnosis kerja berdasarkan gejala klinik seharusnya sudah memadai, dan sudah cukup untuk kepentingan terapi. Namun demikian diagnosis pasti tetap perlu diupayakan, demi kepentingan penelitian, pendidikan dan upaya pencegahan pada masyarakat. Langkah diagnosis sebagai berikut: (9) 1. Anamnesis 2. Pemeriksaan fisik 3. Laboratorium 4. Endoskopi

12

2.1.8. Penatalaksanaan Penatalaksanaan secara garis besar sebagai berikut: (9) 1. 2. 3. 4. 5. Penerangan pada penderita Diet Simtomatis Antibiotik/anti parasit Mengobati akibat diare (air, elektrolit, nutrisi)

2.1.9. Pencegahan Tujuh intervensi pencegahan diare yang efektif: (7) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Pemberian ASI Memperbaiki makanan sapihan Menggunakan air bersih yang cukup banyak Mencuci tangan Menggunakan jamban keluarga Cara membuang tinja yang baik dan benar Pemberian imunisasi campak

2.2. FAKTOR RISIKO DIARE Secara umum faktor risiko diare pada dewasa yang sangat berpengaruh terjadinya penyakit diare yaitu faktor lingkungan (tersedianya air bersih , jamban keluarga, pembuangan sampah, pembuangan air limbah), perilaku hidup bersih dan sehat, kekebalan tubuh, infeksi saluran pencernaan, alergi, malabsorpsi, keracunan, immuno defisiensi serta sebab-sebab lain. Sedangkan pada balita faktor risiko terjadinya diare selain faktor intrinsik dan ekstrinsik juga sangat dipengaruhi oleh prilaku ibu atau pengasuh balita karena balita masih belum bisa menjaga dirinya sendiri dan sangat tergantung pada lingkungannya, jadi apabila ibu balita atau pengasuh balita tidak bisa mengasuh balita dengan baik dan sehat (tidak memberikan ASI secara penuh untuk bayi hingga berumur 6 bulan, menggunakan botol susu yang memudahkan pencemaran kuman, menyiapkan makanan pada suhu kamar sehingga makanan akan tercemar

13

dan kuman akan berkembangbiak, menggunakan air minum yang tercemar, tidak mencuci tangan dengan air dan sabun setelah buang air besar. maka kejadian diare pada balita tidak dapat dihindari. (10) Menurut Hendrik L Blum terdapat empat faktor yang berpengaruh langsung pada kesehatan dan mempengaruhi satu sama lainnya. Status kesehatan akan tercapai optimal bila mana keempat faktor tersebut secara bersama-sama memiliki kondisi yang optimal pula. (6)

2.2.1. Karakteristik Ibu Menurut Depkes tahun 1993 karakteristik ibu yang menentukan perannya dalam penanggulangan penyakit diare anak antara lain: (11) a. Tingkat pendidikan Pendidikan orang tua khususnya ibu sangat berpengaruh terhadap kesehatan keluarga. Pada umumnya seorang ibu berperan dalam pemeliharaan kesehatan anak, ibu yang berpendidikan baik akan mempunyai wawasan yang cukup untuk memelihara kesehatan anaknya. (11) Jenjang pendidikan memegang peranan cukup penting dalam kesehatan masyarakat. Pendidikan masyarakat yang rendah menjadikan mereka sulit untuk diberi tahu mengenai pentingnya kebersihan diri dan sanitasi lingkungan untuk mencegah terjangkitnya penyakit menular, diantaranya diare. Dengan sulitnya mereka menerima penyuluhan, menyebabkan mereka tidak peduli terhadap upaya pencegahan penyakit menular. (12) Masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi lebih berorientasi pada tindakan preventif, mengetahui lebih banyak tentang masalah kesehatan dan memiliki status kesehatan yang lebih baik. Pada perempuan, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin rendah angka kematian bayi dan kematian ibu. (12) b. Jenis pekerjaan Karakteristik pekerjaan seseorang dapat mencerminkan pendapatan, pendidikan, status sosial ekonomi, masalah kesehatan yang berhubungan dengan pekerjaannya maupun memperkirakan waktu yang dimiliki seseorang untuk melakukan hal-hal diluar jam kerjanya. (12)

14

Status bekerja secara otomatis akan mengurangi perhatian ibu terhadap anaknya, diman ahl ini dapat berakibat pada gangguan perkembangan fisik, mental, dan status kesehatan anak (11) c. Pengetahuan Ibu Definisi Pengetahuan Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan pengalaman seseorang dalam melakukan penginderaan terhadap suatu rangsangan tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). (6) Notoatmodjo (2003) mendefinisikan pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan. Dan sebagian besar besar pengetahuan manusia diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran. Hanya sedikit yang diperoleh melalui penciuman, perasaan dan perabaan. (6) Klasifikasi Pengetahuan Kedalaman pengetahuan yang diperoleh seorang terhadap suatu rangsangan dapat diklasifikasikan berdasarkan enam tingkatan, yakni: (6) 1. Tahu (know) Merupakan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk ke dalam tingkatan ini adalah mengingat kembali (recall)

terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu, tahu merupakan tingkatan pengalaman yang paling rendah. 2. Memahami (comprehension) Merupakan suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar objek yang diketahui. Orang telah paham akan objek atau materi harus mampu menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. 3. Aplikasi(application) Kemampuan dalam menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi
15

dan kondisi yang sebenarnya. 4. Analisis (analysis) Kemampuan dalam menjabarkan materi atau suatu objek dalam komponenkomponen,dan masuk ke dalam struktur organisasi tersebut. 5. Sintesis (synthesis) Kemampuan dalam meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 6. Evaluasi (evaluation) Kemampuan dalam melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek. Tabel 2.1. Tingkatan Pengetahuan Berdasarkan Kedalaman Pengetahuan Tingkat Pengetahuan KURANG CUKUP BAIK + + + + + + + + + + + + Tahu Faham Aplikasi Analisis Sintesis Evaluasi

Indikator Pengetahuan Kesehatan Untuk mengetahui tingkat pengetahuan seseorang, ada beberapa indikator yang dapat digunakan dan dikelompokkan menjadi: (6) a. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit yang meliputi penyebab penyakit, gejala atau tanda-tanda penyakit, cara pengobatan dan kemana mencari pengobatan, cara penularan dan cara pencegahan suatu penyakit. b. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat meliputi jenis-jenis makanan bergizi, manfaat makanan bergizi bagi kesehatan, pentingnya olahraga bagi kesehatau, bahaya merokok, minuman keras, narkoba,dsb, pentingnya istirahat cukup , relaksasi dsb. c. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan meliputi manfaat air bersih,cara pembunugan limbah yang sehat, manfaat pencahayaan dan penerangan rurnah yang sehat, dan akibat yang ditimbulkan polusi bagi kesehatan.

16

2.2.2. Karakteristik Balita a. Umur balita Periode penting dalam tumbuh kembang adalah masa balita, karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berikutnya. (13) Pembagian umur balita berdasarkan pertumbuhan dan perkembangannya menurut Markum, A.H (1991) yaitu: (14) 1. 2. 3. 4. 5. 6. Kelompok umur 9-12 bulan Kelompok umur 12-18 bulan Kelompok umur 18-24 bulan Kelompok umur 2-3 tahun Kelompok umur 3-4 tahun Kelompok umur 4-5 tahun Untuk keperluan perbandingan maka WHO menganjurkan pembagian umur untuk mempelajari penyakit anak sebagai berikut: (15) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 0-4 bulan 5-10 bulan 11-23 bulan 2-4 tahun 5-9 tahun 9-14 tahun Semakin muda umur balita semakin besar kemungkinan terkena diare, karena semakin muda umur balita keadaan integritas mukosa usus masih belum baik, sehingga daya tahan tubuh masih belum sempurna. (16) berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan

intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan

17

Kejadian diare terbanyak menyerang anak usia 7 24 bulan, hal ini terjadi karena : (16) Bayi usia 7 bulan ini mendapat makanan tambahan diluar ASI dimana risiko ikut sertanya kuman pada makanan tambahan adalah tinggi (terutama jika sterilisasinya kurang). Produksi ASI mulai berkurang, yang berarti juga antibodi yang masuk bersama ASI berkurang. Setelah usia 24 bulan tubuh anak mulai membentuk sendiri antibodi dalam jumlah cukup (untuk mekanisme pertahanan tubuh), sehingga serangan virus berkurang. b. Riwayat pemberian ASI eksklusif ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare. Pada bayi yang tidak diberi ASI eksklusif secara penuh selama 6 bulan maka risiko untuk

menderita diare lebih besar dari pada bayi yang diberi ASI penuh dan kemungkinan menderita dehidrasi berat juga lebih besar. Pada bayi yang baru lahir, pemberian ASI secara penuh mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap diare daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu formula. (16) c. Pemberian imunisasi campak Diare sering timbul menyertai campak, sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu segera memberikan anak imunisasi campak setelah berumur 9 bulan. Diare sering terjadi dan berakibat berat pada anak-anak yang sedang menderita campak, hal ini sebagai akibat dari penurunan kekebalan tubuh penderita. (16)

2.2.3. Kebersihan Diri Ibu


Definisi kebersihan diri ialah kegiatan atau aktivitas ibu dalam mencegah

diare akut pada balita yang dimilikinya, dengan menjaga kebersihan diri yaitu mencuci tangan itu sebagai salah satu cara untuk mencegah terjadinya transmisi penyakit selama menyiapkan makanan maupun ketika memberikan makanan pada balita khususnya sebelum memegang makanan dan setelah buang air besar atau menvebok anaknya. Cara ini merupakan cara yang paling mudah untuk disosialisasikan pada warga. Mencuci tangan juga harus disesuaikan dengan prosedur yang direkomendasikan oleh WHO yaitu dengan menggunakan air
18

mengalir dan menggunakan sabun selama minimal 20 detik dan kemudian dikeringkan dengan menggunakan handuk atau kain bersih. Selanjutnya dikatakan pula bahwa hendaknya dalam mencuci tangan kuku disikat hingga bersih, oleh karena itu untuk menjaga kesehatan maka kuku hendaknya dipotong setiap satu minggu sekali. (17)

2.2.4. Sanitasi makanan Berdasarkan definisi dari WHO, makanan adalah semua substansi yang dibutuhkan oleh tubuh tidak termasuk air, obat-obatan, dan substansi-substansi lain yang digunakan untuk pengobatan. (18) Empat fungsi pokok makanan bagi kehidupan manusia adalah untuk memelihara proses tubuh dalam perkembangan serta mengganti jaringan tubuh yang rusak, memperoleh energi guna melakukan kegiatan sehari-hari, mengatur metabolisme dan mengatur berbagai keseimbangan air, mineral dan cairan tubuh yang lain serta berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit. (6) Sanitasi makanan adalah upaya-upaya yang ditujukan untuk kebersihan dan keamanan agar tidak menimbukan bahaya keracunan dan penyakit pada manusia. Dengan demikian, tujuan sebenarnya dari upaya sanitasi makanan, antara lain: (18) 1. 2. 3. 4. Menjamin keamanan dan kebersihan makanan. Mencegah penularan wabah penyakit. Mencegah beredarnya produk makanan yang merugikan masyarakat. Mengurangi tingkat kerusakan atau pembusukan makanan. Di dalam upaya sanitasi makanan ini, terdapat beberapa tahapan yang harus diperhatikan, seperti berikut ini: (18) 1. 2. 3. 4. 5. Keamanan dan kebersihan produk makanan. Kebersihan individu dalam pengolahan produk makanan. Keamanan terhadap penyediaan air. Pengelolaan pembuangan air limbah dan kotoran. Perlindungan makanan terhadap kontaminasi selama proses pengolahan, penyajian, dan penyimpanan. 6. Pencucian dan pembersihan alat perlengkapan.
19

Ada

beberapa

faktor

yang

perlu

diperhatikan

untuk

dapat

menyelenggarakan sanitasi makanan yang efektif. Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan makanan, manusia, dan peralatan. (18) 1. Faktor makanan Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan faktor makanan, antara lain: a. Sumber bahan makanan, apakah diperoleh dari hasil pertanian, peternakan, perikanan, atau lainnya, sumber bahan makanan harus memenuhi persyaratan sanitasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi atau pencemaran. Contoh, hasil pertanian tercemar dengan pupuk kotoran manusia atau dengan insektisida. b. Pengangkutan bahan makanan harus memenuhi persyaratan sanitasi, misalnya, apakah sarana pengangkutan memiliki alat pelindung dan tertutup. Pengangkutan tersebut dilakukan baik dari sumber ke pasar maupun dari sumber ke tempat penyimpanan. Contoh, mengangkut daging dan ikan dengan menggunakan alat pendingin. c. Penyimpanan bahan makanan harus memenuhi syarat sanitasi sebagai berikut: Tempat penyimpanan dibangun sedemikian rupa sehingga binatang seperti tikus atau serangga tidak bersarang. Jika akan menggunakan rak, harus disediakan ruang untuk kolong agar mudah membersihkannya. Suhu udara dalam gudang tidak lembab untuk mencegah terjadinya jamur. Memiliki sirkulasi udara yang cukup. Memiliki pencahayaan yang cukup. Dinding bagian bawah dari gudang harus dicat putih agar mempermudah melihat jelas jejak tikus (jika ada). Harus ada jalan dalam gudang.

d. Pemasaran makanan memnuhi persyaratan sanitasi antara lain kebersihan, pencahayaan, sirkulasi udara, dan memiliki alat pendingin. e. Pengolahan makanan

20

f. Penyajian makanan g. Penyimpanan makanan 2. Faktor manusia Orang-orang yang bekerja pada tahapan di atas juga harus memenuhi persyaratan sanitasi, seperti kesehatan dan kebersihan individu, tidak menderita penyakit infeksi, dan bukan carrier dari suatu penyakit. 3. Faktor peralatan Kebersihan dan cara penyimpanan peralatan pengolahan makanan harus juga memenuhi persyaratan sanitasi. Berikut beberapa tipe penyakit yang menyerang manusia berkaitan dengan makanan: (18) 1. Foodborne disease Foodborne disease (penyakit bawaan makanan) adalah suatu gejala penyakit yang terjadi akibat mengkonsumsi makanan yang mengandung

mikroorgasnisme atau toksin baik yang berasal dari tumbuhan, bahan kimia, kuman, maupun binatang. 2. Food infection Food infection adalah suatu gejala penyakit yang muncul akibat masuk dan berkembangbiaknya mikroorganisme dalam tubuh (usus) manusia melalui makanan yang dikonsumsinya. 3. Food intoxication Food intoxication adalah suatu gejala penyakit yang muncul akibat mengkonsumsi makanan yang mengandung racun atau mengkonsumsi racun yang ada dalam makanan.

2.2.5. Sanitasi Lingkungan Penularan penyakit diare sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dimana sebagian besar penularan melalui faecal oral yang sangat dipengaruhi oleh perilaku hidup sehat dari keluarga, ketersediaan sarana air bersih, dan pengelolaan air limbah. (12) jamban

keluarga yang memenuhi syarat kesehatan, pembuangan sampah pada tempatnya

21

Pencegahan diare dapat dilakukan dengan menerapkan prilaku hidup bersih sehat, penyediaan fasilitas jamban keluarga yang disertai dengan penyediaan air yang cukup, baik kuantitas maupun kualitasnya. Selain itu upaya tersebut harus diikuti dengan peningkatan pengetahuan dan sosial ekonomi masyarakat, karena tingkat pendidikan dan ekonomi seseorang dapat berpengaruh pada upaya perbaikan lingkungan. (16)

22

BAB III KERANGKA TEORI DAN KONSEP 3.1. Kerangka Teori

Pendidikan
Karakteristik ibu

Penyediaan air bersih Pembuangan tinja

Pengetahuan mpah Pekerjaan


Karakteristik balita

Diare akut pada Balita

Sanitasi lingkungan

Pembuangan air limbah Pembuangan sampah

Kebersihan diri ibu

Kebersihan rumah

Sanitasi makanan Keterangan : Variable yang diteliti Variable yang tidak diteliti

23

3.2.

Kerangka konsep
Variabel Independent Variabel Dependent

Pengetahuan ibu Kebersihan diri ibu Sanitasi makanan

Diare akut pada balita

3.3.

Hipotesis
1. H0 : tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu terjadinya diare akut pada balita. H1 : terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan terjadinya diare akut pada balita. 2. H0 : tidak terdapat hubungan antara kebersihan diri ibu dengan terjadinya diare akut pada balita. H1 : terdapat hubungan antara kebersihan diri ibu dengan terjadinya diare akut pada balita. 3. H0 : tidak terdapat hubungan antara sanitasi makanan dengan dengan dengan

terjadinya diare akut pada balita. H1 : terdapat hubungan antara sanitasi makanan dengan terjadinya diare akut pada balita.

24

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian cross sectional yang merupakan salah satu bentuk studi observasional (non-eksperimental). Dalam penelitian cross sectional, variabel bebas (faktor resiko) dan variabel tergantung (efek) dinilai secara simultan pada satu saat. Jadi tidak ada follow-up pada jenis penelitian ini.

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1. Lokasi Penelitian Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran Samarinda Kalimantan Timur. 4.2.2. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Juni tahun 2011 .

4.3. Populasi Dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi Penelitian Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki anak berusia 1 tahun hingga kurang dari 5 tahun yang berdomisili di Kecamatan Palaran. 4.3.2. Sampel Penelitian Sampel penelitian adalah ibu yang memiliki anak berusia 1 tahun hingga kurang dari 5 tahun yang berdomisili di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran pada bulan Mei 2011.

25

4.3.3. Besar sampel Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 60 balita (30 balita diare akut dan 30 balita yang tidak mengalami diare) .

4.3.4. Cara Pengambilan Sampel Pemilihan sampel mengunakan purposive sampling.

4.4. Kriteria Sampel A. Kriteria Inklusi 1. Ibu yang memiliki balita yang terdiagnosis diare akut 2. Anak berusia 1 tahun hingga kurang dari 5 tahun. 3. Pasien yang berobat ke IGD Puskesmas Rawat Inap Palaran dari tanggal 1 Mei 2011 sampai dengan tanggal 31 Mei 2011. 4. Pasien berdomisili di Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran, kota Samarinda B. Kriteria Eklusi 1. Ibu yang menolak berpartisipasi. 2. Rumah yang terpilih sebagai sampel tidak ada orangnya. 3. Alamat tidak lengkap dan susah untuk ditemukan.

4.5. Variabel penelitian 4.5.1. Variabel dependen (bebas) 1. Pengetahuan ibu mengenai diare 2. Kebersihan diri ibu 3. Sanitasi makanan 4.5.2. Variabel independen (terikat) Diare akut pada balita

26

4.6 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 4.6.1 Diare akut Definisi operasional : Bertambahnya frekuensi defekasi yang meningkat dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari, disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan/tanpa darah dan/atau lendir dalam tinja yang terjadi selama 14 hari. Kriteria objektif : Ya : Ibu yang memiliki balita yang menderita diare akut yang ditetapkan berdasarkan diagnosis dokter IGD Puskesmas Rawat Inap Palaran pada bulan Mei 2011 yang berdomisili di Kelurahan Rawa makmur Kecamatan Palaran. Tidak : Ibu yang memiliki balita yang sehat (tidak sakit) pada bulan Mei 2011 yang berdomisili di Kelurahan Rawa makmur Kecamatan Palaran. 4.6.2 Balita Definisi Operasional: kelompok anak usia 1 sampai dengan kurang dari 5 tahun .

4.6.2

Pengetahuan Definisi Operasional: pengetahuan responden mengenai definisi, gejala, cara penularan, prinsip penanganan dan pencegahan diare akut pada balita. Kriteria Objektif: Pengetahuan baik Pengetahuan kurang : Jika skor yang diperoleh > 4 : Jika skor yang diperoleh 4

4.6.3

Kebersihan diri Definisi Operasional: Pengakuan responden tentang perilaku kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, mengeringkan tangan setelah mencuci tangan, dan memotong kuku.

27

Kriteria Objektif: Memenuhi syarat : Jika skor yang diperoleh > 4 Tidak memenuhi syarat : Jika skor yang diperoleh 4

4.6.4

Sanitasi makanan Definisi Operasional: Pengakuan dan pengamatan terhadap tempat tinggal responden tentang sanitasi makanan. Kriteria Objektif: Memenuhi syarat : Jika skor yang diperoleh > 3 Tidak memenuhi syarat : Jika skor yang diperoleh 3

4.7. Cara pengumpulan Data a. Data Primer Data diperoleh melalui wawancara terpimpin dan pengisian kuisioner di rumah responden. b. Data Sekunder Data diperoleh dari rekam medis penderita diare IGD Puskesmas Rawat Inap Palaran pada bulan Mei 2011 yang berdomisili di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran . c. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner.

4.9

Pengolahan dan Penyajian Data

4.9.1 Pengolahan data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer program Microsoft Excel dan SPSS. 4.9.2 Penyajian Data Penyajian data dilakukan dalam bentuk tabel, gambar, dan narasi.

28

4.10

Analisis Data

4.10.1 Analisis Univariat Dilakukan dengan mendiskripsikan masing-masing karakteristik

responden, yaitu berdasarkan usia balita, jenis kelamin balita, usia ibu, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, tingkat pendapatan keluarga, riwayat ASI ekslusif, riwayat imunisasi campak serta masing-masing variabel penelitian yaitu pengetahuan ibu, kebersihan diri ibu, dan sanitasi makanan (variabel bebas) dan diare akut pada balita (variabel terikat) dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase. 4.10.1 Analisis Bivariat Mencari hubungan antara pengetahuan ibu, kebersihan diri ibu, dan sanitasi makanan dengan kejadian diare pada balita menggunakan uji Chi-Square dan uji Fisher, dan menghitung rasio odds. Jika nilai p 0,05 maka berarti terdapat hubungan.

29

BAB V HASIL PENELITIAN

Penelitian yang dilakukan dari 15 Juni- 25 Juni 2011 diperoleh sampel sebanyak 60 orang responden yang terdiri dari 30 merupakan ibu dari balita yang mengalami diare akut dan 30 adalah ibu dari balita yang tidak mengalami diare akut. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kelurahan Rawa Makmur karena prevalensi tertinggi diare akut pada balita ialah pada kelurahan Rawa Makmur dibandingkan dengan empat kelurahan lainnya di Kecamatan Palaran. Data primer dikumpulkan dengan melakukan wawancara terpimpin dengan responden, sedangkan data sekunder diambil dari buku data penderita diare Puskesmas Rawat Inap Palaran pada bulan Mei 2011 yang berdomisili di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran. Adapun gambarannya dapat dilihat melalui tabel dan gambar berikut.

5.1

ANALISIS URIVARIAT Analisis univariat meliputi deskripsi dari masing-masing karakteristik

responden, yaitu berdasarkan usia balita, jenis kelamin balita, usia ibu, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu, tingkat pendapatan keluarga, riwayat ASI ekslusif, riwayat imunisasi campak serta masing-masing variabel penelitian yaitu pengetahuan ibu, kebersihan diri ibu, dan sanitasi makanan (variabel bebas) dan diare akut pada balita (variabel terikat) dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.

5.1.1. Deskripsi Karakteristik Subyek Penelitian 5.1.2. Usia Balita 5.1.3. Jenis Kelamin Balita 5.1.4. Usia Ibu 5.1.5. Tingkat Pendidikan Ibu

30

5.1.6. Tingkat Pendidikan Ibu 5.1.7. Tingkat Pendapatan Keluarga 5.1.8. Riwayat ASI Ekslusif Balita yang memperoleh ASI ekslusif akan memiliki kekebalan atau antibodi yang lebih tinggi terhadap infeksi baik karena bakteri, virus, parasit dan antigen lainnya. ASI mengandung faktor-faktor antivirus yang dapat melawan penyebab tersering diare akut pada balita yakni rotavirus melalui antibodi berupa imunoglobulin (Ig) A sekretori, makromolekul dan non immunoglobulin yakni mucin yang ditemukan di membran dari butiran lemak. Mucin terdiri dari beberapa molekul kecil, glikoprotein 70kDa ( butyrophilin ) dan lactadherin (19) Lactadherin adalah glikoprotein 46 kDa yang diproduksi sel epitel payudara selama menyusui. Lactadherin berfungsi sebagai penghambat kompetitif untuk melindungi dari infeksi rotavirus dengan cara mengikatkan diri pada virus tersebut sehingga menghambat perlekatan virus dengan reseptor sel pejamu. (19)

5.1.9. Riwayat Imunisasi Campak 5.1.10. Pengetahuan Ibu 5.1.11. Kebersihan Diri Ibu
Kelompok Variabel Diare Akut Kebiasaan mencuci tangan Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat N 9 6 % 60 40 Non Diare Akut n 3 12 % 20 80 12 18 40 60 Jumlah %

5.1.12. Sanitasi Makanan

31

Tabel 5.15

Distribusi Sanitasi Makanan di Kelurahan Rawa Makmur

Kecamatan Palaran Kota Samarinda Mei 2011


Kelompok Variabel Diare Akut Sanitasi Makanan Tidak memenuhi syarat Memenuhi syarat N 4 11 % 27 73 Non Diare Akut n 0 15 % 0 100 4 26 13 87 Jumlah %

Tabel 5.16 Distribusi Pembersihan Alat Makan/Botol Susu di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran Kota Samarinda Mei 2011

Kelompok Diare Akut Pembersihan alat makan/botol susu n Direbus Siram air panas Siram air matang Cuci air mentah 4 4 1 5 % 28 28 8 36 Non Diare Akut N 4 1 0 9 % 28 8 0 64 8 5 1 14 17 18 3 50 Jumlah %

5.2.

ANALISIS BIVARIAT Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan

antara variabel terikat dengan variabel bebas. Jenis hipotesis yang digunakan adalah hipotesis hubungan yang akan menjawab apakah antara variabel terikat dan variable bebas terdapat hubungan atau tidak. Variabel bebas yang diteliti merupakan variable nominal yang terdiri dari pengetahuan ibu, kebersihan diri ibu dan sanitasi makanan.

32

Berdasarkan variabel bebas yang diteliti dalam penelitian ini maka digunakanlah uji statistik chi square untuk mencari hubungan pengetahuan ibu, kebersihan diri ibu dan sanitasi makanan dengan terjadinya artritis gout. 5.2.1. Pengetahuan Ibu dengan Diare Akut pada Balita Hasil analisis hubungan antara pengetahuan ibu dengan terjadinya diare akut pada balita, diperoleh bahwa sampel terbanyak dalam penelitian ini ialah ibu balita dengan pengetahuan baik yakni berapa orang. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square memperoleh nilai significancy sebesar 0,93. Didapatnya nilai p>0,05 ini maka dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan kejadian diare akut pada balita.

5.2.2. 5.2.2 Kebersihan Diri Ibu dengan Diare Akut pada Balita

Hasil analisis hubungan antara kebersihan diri ibu dengan terjadinya diare akut pada balita, diperoleh bahwa sampel terbanyak dalam penelitian ini ialah ibu balita dengan kebersihan diri yang tidak baik yakni berapa orang. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square memperoleh nilai significancy sebesar 0,93. Didapatnya nilai p<0,05 ini maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan terjadinya diare akut pada balita.

5.2.3. Sanitasi Makanan dengan Diare Akut pada Balita Hasil analisis hubungan antara sanitasi makanan dengan terjadinya diare akut pada balita, diperoleh bahwa sampel terbanyak dalam penelitian ini ialah ibu

33

balita dengan sanitasi makanan yang tidak baik yakni berapa orang. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square memperoleh nilai significancy sebesar 0,93. Didapatnya nilai p<0,05 ini maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara sanitasi makanan dengan terjadinya diare akut pada balita.

34

BAB VI PEMBAHASAN
Pembahasan mengenai Hubungan Antara Pengetahuan Ibu, Kebersihan Diri Ibu dan Sanitasi Makanan dengan Kejadian Diare Akut pada Balita di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan palaran diuraikan dalam bentuk analisis deskriptif dan analitik sesuai dengan tujuan penelitian. 6.1. Gambaran Sampel Hasil penelitian yang dilakukan pada 30 kasus diare akut paahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran da balita di kelu bsebanyak 44 orang (41,5%) dan yang bukan diare akut sebanyak 62 orang (58,5%). Jumlah penderita tanpa artritis gout lebih banyak daripada penderita artritis gout dalam sampel penelitian ini.
Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 80 orang responden di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran ditemukan bahwa 68% responden melakukan pemberian ASI eksklusif. Hal ini sangat bertolak belakang dengan pencapaian ASI eksklusif Puskesmas Palaran bulan Januari Juli 2010 yang hanya 7,24%. Dalam penelitian ini, jenis kelamin bayi paling banyak adalah laki-laki yaitu sebesar 52%.Tingkat pendidikan ibu paling banyak adalah setingkat SMA yaitu sebesar 58,75%. Pendapatan keluarga masihlah rendah yaitu sebanyak 50% keluarga responden berpenghasilan Rp 1.000.000,00 Rp 2.000.000,00. Agama ibu yang paling banyak adalah Islam yaitu sebesar 95%. Pekerjaan ibu yang paling banyak adalah Ibu Rumah Tangga yaitu sebesar 88,75%. Hal ini mungkin yang menyebabkan 68% responden memberikan ASI eksklusif karena mempunyai waktu yang cukup untuk menyusui anaknya ibu yang bekerja, tapi hal ini masih perlu diteliti lagi apakah ada hubungan. Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif sebanyak 64% baik, dan 36% sedang. Tetapi berbeda dengan sikap ibu yang sebanyak 60% tidak baik dan 40% baik.

35

6.2. Hubungan antara Pengetahuan Ibu dengan Diare Akut pada Balita Berdasarkan hasil penelitian ini, disimpulkan tidak ada perbedaan bermakna antara pengetahuan ibu yang memiliki balita diare akut dengan ibu yang memiliki balita non diare akut. Hal ini ini sejalan dengan

penelitian Iin Dwi Yuliarti (2006) yang menyimpulkan bahwa perilaku menyusui eksklusif tidak dipengaruhi secara bermakna oleh pengetahuan ibu di Kabupaten Sragen (p = 0.11). Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tetentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, rasa dan raba. Sebagian besear pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan factor yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dalam hal pengetahuan sebanyak 43 responden atau 45,6 % dari jumlah responden telah mengetahui pengertian diare. Menurut Widoyono penyakit diare dapat dicegah melalui promosi kesehatan

Namun hasil ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Resy Tesya Mulianda (2010) yang menyimpulkan bahwa terdapat Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu terhadap Pemberian ASI Eksklusif di Posyandu Delima II Desa Baru Dusun II Batang Kuis Tahun 2010 (p = 0,031). Hal ini bisa saja terjadi karena kemungkinan antara lain adanya waktu, dan lokasi penelitian yang berbeda yang menyebabkan berbedanya rangsangan sehingga perilaku yang terbentuk menjadi berbeda pula. Pengetahuan dapat diklasifikasikan berdasarkan enam tingkatan yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.Pengetahuan kurang berarti hanya sebatas tahu dan memahami, sedangkan pengetahuan sedang berarti sampai

36

tahap aplikasi dan analisis, sedangkan pengetahuan baik berarti sudah bisa hingga tahap sintesis dan evaluasi. Dari penelitian ini, pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif sebanyak 64% baik dan 36% sedang sedangkan dari Mann-Whitney test disimpulkan tidak ada perbedaan bermakna antara pengetahuan pada ibu ASI eksklusif dengan ibu non ASI eklusif. Berarti sebagian besar ibu baik yang memberikan ASI ekslusif ataupun tidak sebenarnya mempunyai pengetahuan yang baik. Tentunya hasil ini ini tidak sesuai dengan harapan karena seharusnya terdapat hubungan antara pengetahuan dgn pemberian ASI ekslusif. Hal ini mungkin disebabkan kuesioner yang digunakan hanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang mendasar sehingga sebagian besar ibu baik yang memberikan ASI ekslusif ataupun non ekslusif bisa menjawab sebagian besar pertanyaan dengan benar. Kuesioner yang digunakan pada penelitian ini dibuat sendiri oleh peneliti karena peneliti sudah berusaha mencari kuesioner dari penelitian serupa yg pernah dilakukan tetapi peneliti tidak berhasil mendapatkan kuesioner dimaksud. Peneliti menyadari bahwa dalam pembuatan kuesioner ini masihlah banyak kekurangan karena pembuatan kuesioner yang baik sangatlah susah dan memerlukan pengalaman tersendiri. Peneliti menilai dalam kuesioner ini perlu ditambahkan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah yang sering menghambat ibu dalam memberikan ASI ekslusif dan cara mengatasinya sehingga diharapkan hasil yang didapatkan pada penelitian berikutnya bisa lebih baik lagi. Perilaku memberikan ASI ekslusif sebenarnya merupakan reaksi dari suatu rangsangan tertentu. Bentuk reaksi (perilaku) dapat berupa covert behavior dan overt behavior. Covert behavior yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain contohnya ibu tahu bahwa pemberian ASI eksklusif dapat melindungi bayi dari penyakit infeksi, tetapi ibu tidak melakukannya. Sedangkan bila ibu memberikan ASI eksklusif disebut overt behavior karena perilaku ibu sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata. Dalam penelitian di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran ini, perilaku yang dinilai adalah covert behavior karena banyak ibu yang mengerti akan pentingnya
37

ASI eksklusif tapi tidak melakukannya dikarenakan berbagai alasan misalnya, anak rewel, ASI kurang, sibuk bekerja, dll. Hal ini disebabkan karena pengetahuan ibu tentang ASI ekslusif masih berupa hal-hal yang mendasar dan masih belum mencakup mengenai cara menangani masalah-masalah sederhana misalnya ibu yang bekerja dapat menampung ASI dan didinginkan di kulkas sehingga bisa diberikan pada anaknya bila diperlukan. 6.2. Hubungan Kebersihan Diri Ibu dan Diare Akut pada Balita

Berdasarkan hasil penelitian ini, menyatakan bahwa terdapat hubungan antara perilaku kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian diare pada balita. Dari hasil analisis bivariat diperoleh pula nilai OR=6,000, artinya ibu dengan kebiasaan mencuci tangan yang tidak memenuhi syarat meningkatkan risiko terjadinya diare pada balita sebesar 6,000 kali lebih besar dibandingkan ibu dengan kebiasaan mencuci tangan memenuhi syarat. Hal ini sejalan dengan penelitian Pramudhy (2007) yang menyimpulkan bahwa mencuci tangan setelah membersihkan balita dari buang air besar merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadiaan diare.(20) Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anissa (2009) yang menyatakan bahwa kebiasaan mencuci tangan berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Lempake Samarinda. Namun hasil ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ratnawati (2006) yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara perilaku cuci tangan ibu dengan kejadian diare pada balita (nilai p=0,137).6 Hal ini bisa saja terjadi karena kemungkinan antara lain adanya waktu, dan lokasi penelitian yang berbeda yang menyebabkan berbedanya rangsangan sehingga perilaku yang terbentuk menjadi berbeda pula.(15) Suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. Bentuk reaksi (perilaku) dapat berupa covert behavior dan overt behavior. Covert behavior yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain contohnya ibu tahu bahwa kebiasaan mencuci tangan pakai sabun dapat mencegah suatu penyakit tertentu, tetapi ibu tidak melakukannya. Sedangkan bila ibu sudah melakukan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun

38

secara baik disebut overt behavior karena perilaku ibu sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata.(15) Dalam penelitian di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran ini, perilaku yang dinilai adalah overt behavior karena perilaku jelas dapat diobservasi secara langsung. Kebiasaan mencuci tangan tidak memenuhi syarat pada kelompok kasus sebesar 60%, pada kelompok kontrol 20%. Tidak memenuhi syarat karena responden tidak mencuci tangan dengan sabun pada waktu-waktu wajib yang telah ditentukan oleh Pusat Promosi Kesehatan yaitu setelah dari jamban, setelah menceboki anak, sebelum memberi makan anak, sebelum menyiapkan makanan, serta cara mencuci tangan yang tidak benar.(19) Sebanyak 80% responden mengatakan bahwa mencuci tangan dengan sabun setelah dari jamban, 80% responden mengatakan mencuci tangan dengan sabun setelah menceboki anak, 67% responden mengatakan mencuci tangan dengan sabun sebelum memberi makan anak, dan 43% responden mengatakan mencuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan makanan. Kebiasaan mencuci tangan memenuhi syarat pada kelompok kontrol sebesar 80%. Angka persentase ini menunjukkan bahwa kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan cara mencuci tangan yang benar mampu mencegah terjadinya diare. Perilaku cuci tangan pakai sabun telah terbukti secara ilmiah sebagai cara yang efektif untuk mencegah diare jika dilakukan pada saat-sat yang tepat. Hasil studi WHO tahun 2007 membuktikan angka kejadian diare dapat menurun sebesar 45% dengan perilaku mencuci tangan pakai sabun.(20) Walaupun demikian, masih terdapat 40% ibu yang kebiasaan mencuci tangan memenuhi syarat namun balitanya merupakan kelompok kasus yaitu menderita diare ataupun ibu yang kebiasaan mencuci tangan tidak memenuhi syarat tetapi balitanya merupakan kelompok kontrol yaitu bukan penderita diare sebesar 20%. Hal ini sangat mungkin terjadi, karena banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya diare pada balita, seperti faktor dari balita sendiri. Tetapi dalam penelitian ini, faktor resiko khususnya dalam perilaku mencuci tangan tidak menjadi aspek yang diteliti. Sebenarnya terdapat kemungkinan perilaku mencuci tangan yang tidak memenuhi syarat pada balita merupakan penyebab diare dalam penelitian ini sebagaimana hasil yang didapat bahwa kejadian diare pada kasus

39

paling banyak terjadi di kelompok umur 12-21 bulan dimana balita dalam tahapan belajar makan sendiri. Adapun faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi kejadian diare pada balita antara lain faktor lingkungan, faktor ibu, dan faktor sosiodemografis dimana faktor risiko yang paling rentan menyebabkan penyakit diare adalah faktor lingkungan, dan faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dengan faktor perilaku. Menurut teori dari Blum (1974) bahwa status kesehatan masyarakat di suatu daerah dipengaruhi oleh faktor utama yaitu lingkungan dan perilaku, tetapi faktor lingkungan merupakan faktor yang paling penting.(15) 6.3. Hubungan Sanitasi Makanan dengan Diare Akut pada Balita Berdasarkan hasil penelitian ini, menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara sanitasi makanan dengan kejadian diare pada balita. Dari hasil analisis bivariat tidak diperoleh nilai OR, artinya sanitasi makanan yang tidak memenuhi syarat dan sanitasi makanan yang memenuhi syarat perbandingannya sama untuk menimbulkan kejadian diare sehingga belum dapat dibuktikan hubungannya. Hal ini berlawanan dengan penelitian Sheth (2004) yang menyatakan makanan yang bersih dan dijamin keamanannya dapat mengurangi angka kejadian diare.(20) Hasil penelitian ini juga bertolak belakang dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anissa (2009( di Puskesmas Lempake. Namun hasil ini sesuai dengan penelitian Rahmah (2006) yang menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara sanaitasi makanan dengan kejadian diare.(19) Perbedaan di atas kemungkinan terjadi karena adanya perbedaan lokasi penelitian, desain penelitian, dan adanya bias. Sanitasi makanan tidak memenuhi syarat pada kelompok kasus sebesar 26,7% sedangkan pada kelompok kontrol 0%. Sanitasi makanan yang tidak memenuhi syarat dalam penelitian ini, dapat disebabkan oleh faktor makanan, faktor

40

peralatan, dan faktor manusia. Untuk faktor makanan sebagian besar responden baik dari kelompok kasus maupun kontrol sudah memenuhi persyaratan sanitasi, yaitu kebersihan dapur dan alat-alat perlengkapan masak, penyajian makanan yang bebas dari kontaminasi, bersih dan tertutup, serta penyimpanan makanan dalam tudung saji, lemari atau alat pendingin. Ibu sebagai manusia yang bekerja pada tahapan pengolahan, penyajian, penyimpanan makanan harus juga memenuhi persyaratan sanitasi, seperti kesehatan dan kebersihan individu, tidak menderita penyakit infeksi, dan bukan carrier dari suatu penyakit. Untuk faktor peralatan, pembersihan alat makan/botol susu yang digunakan oleh balita sangatlah perlu diperhatikan. Pembersihan alat makan/botol susu dengan cara direbus dilakukan oleh responden sebanyak 17%, disiram dengan air panas 18%, disiram air matang sebanyak 3% dan dicuci air mentah 50%. Menggunakan botol dan dot untuk memberi susu sangat berbahaya bila tidak dibersihkan dan disterilkan secara baik dan benar setiap setelah digunakan. Sangat tidak dapat dibenarkan, bila ibu memberi minum kepada anak yang sedang menderita diare dengan botol yang tidak steril, karena tentu akan memperburuk penyakitnya. Cara pemeliharaan alatalat sesudah pembuatan dan pemberian makanan bayi yang benar adalah mencuci dalam air sabun panas dengan air mengalir jika mungkin, kemudian rebus dalam panci yang berisi air.(20) Sebanyak 47% responden sering membelikan jajan balitanya. Kemudian, 43% responden tidak yakin makanan yang dikonsumsi balitanya memenuhi persyaratan makanan yang sehat yaitu makanan tidak rusak, busuk, atau basi, bebas dari kuman E.Coli. Hal ini sangat potensial sebagai sumber penyakit diare.

41

Sementara, masih ditemukan responden dengan sanitasi makanan memenuhi syarat pada kelompok kasus sebesar 73% . Hal ini dikarenakan kejadian diare pada balita tidak hanya dipengaruhi oleh sanitasi makanan, tetapi juga dapat melalui faktor lainnya. Faktor-faktor yang dapat menambah kerentanan terhadap infeksi enteropatogen adalah defisiensi imun, malnutrisi, kekurangan ASI, tingkat pendidikan ibu.(20)

BAB VII PENUTUP

1.1.

Kesimpulan Dari hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, maka dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut: 1. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan terjadinya diare akut pada balita di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran Kota Samarinda. 2. Terdapat hubungan antara kebersihan diri ibu dengan terjadinya diare akut pada balita di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran Kota Samarinda. 3. Terdapat hubungan antara sanitasi makanan dengan terjadinya diare akut pada balita di Kelurahan Rawa Makmur Kecamatan Palaran Kota Samarinda.

1.2.

Saran

42

1.

Meningkatkan peranan puskesmas melalui penyuluhan di acara posyandu untuk mencegah diare akut pada balita.

2.

Membagikan selebaran atau pamflet tentang cara mencuci tangan yang baik dan benar ke rumah-rumah

3.

Mengalokasikan dana kesehatan untuk mengadakan perlombaan RT sehat dimana RT tersebut merupakan RT yang menerapakan PHBS terbaik. GIMANA NILAINYAAA???

4.

Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk menggali lebih banyak informasi tentang faktor-faktor risiko yang mengakibatkan meningkatnya prevalensi diare akut pada balita secara langsung maupun tidak langsung .

43

DAFTAR PUSTAKA
1. Faktor Risiko Diare Pada Bayi dan Balita di Indonesia . Adisasmito, Wiku. Jakarta : Makara,Kesehatan, 2007, Vol. 11. 1. 2. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur. Profil Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2007.(online). (http://125.160.76.194/data/profil/narasi%20profil%202007.pdf. [Online] 2008. 3. Dinas Kesehatan Kota Samarinda bagian Pelayanan Kesehatan. Laporan Bulanan Data Kesakitan Tahun 2007. [Online] 2008. 4. Profil Kesehatan Indonesia 2003. RI, Departemen Kesehatan. Jakarta : s.n., 2005. 5. Hubungan Antara Praktek Personal Hygiene Ibu Balita dan Sarana Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Diare pada Anak Balita di Kecamatan Maos Kabupaten Cilacap. Muhajirin. Semarang : s.n., 2007. 6. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Soekidjo,N. Jakarta : Rineka Cipta, 2003, Vols. Hal. 37, 118-170. 7. Noerasid H, Suraatmaja S, Asnil PO. Diare Akut. [book auth.] Suaraatmaja S. Kapita Selekta Gastroenterologi. Jakarta : Sagung Seto, 2007, Vols. Hal. 1-15. 8. Setiawan B, dkk. Diare Akut karena Infeksi. [book auth.] Sudoyo AW. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Keempat Jilid II. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006, Vols. Hal. 1794-1797. 9. Daldiyono. Diare. [book auth.] Akbar N, Rania A Sulaiman A. Gastrohepatologi. Jakarta : Sagung Seto, 1997, Vols. Hal. 21-32. 10. 12. Yunus M. Hubungan Sanitasi Dasar. Perilaku Ibu dengan Kejadian Diare Balita di Wilayah Puskesmas Kedung Waringin Kec. Kedung Waringin Kab. Bekasi tahun 2003. Jakarta : Program Studi Epidemiologi Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat. 11. Nuri, Rafiqah; et al. Pengaruh Persepsi Ibu Tentang Program Pemberantasan Diare Terhadap Tindakan Pemberantasan Penyakit Diare Pada Balita Di Kelurahan Pasar Belakang Kota Sibolga . Sumatra Utara : Universitas Sumatera Utara, 2009. 12. Wulandari, Anjar Purwidiana. Hubungan Antara Faktor Lingkungan dan Faktor Sosiodemografi dengan kejadian diare pada balita di Desa Blimbing Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen Tahun 2009. Surakarta : Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2009. 13. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. [book auth.] Ranuh G. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC, 1995. 44

14. AH, Markum. Ilmu Kesehatan Anak Jilid I. Jakarta : Balai Penrbit FKUI, 1999. 15. S, Sarwono. Perilaku Kesehatan. Sosiologi Kesehatan Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2004. 16. Sinthamurniwaty. Faktor-faktor Risiko Kejadian Diare Akut Pada Balita (Studi Kasus di Kabupaten Semarang). Semarang : Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang, 2006. 17. Food and Personal Hygiene Perceptions and Practices among Caregivers Whose Children Have Diarrhea: AQualitative Study of UrbanMothers in Tangerang, Indonesia. Avita, A; et al. Jakarta : Journal of Nutrition Education and Behavior, 2010, Vol. 42. 1. 18. B, Chandra. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC, 2006, Vols. 39-165. 19. Guntur. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Diare Rotavirus Akut. Medan : USU e-Repository, 2008. 20. World Health Organization. Global Water Supply and Sanitation Assesment. (http://www.who.int. [Online] 2004. [Cited: June 6, 2011.] 21. B, Setiawan. Diare Akut karena Infeksi. Sudoyo AW dkk (Eds.), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi Keempat Jilid II. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006. 22. 23. Bandolier-team. Prevalence and Incidence of Gout. 2002. 24. Choi, HK, et al. Obesity, Weight Change, Hypertension,Diuretic Use, and Risk of Gout In Men. Archieves of Internal Medicine. 2005, Vol. 165. 25. Adnan, Endy. Value of Inflammation Marker in Patients with Intercritical Gout Arthritis. Interna UNHAS Study. 2009. 26. Stroescue, Daniel and Gorbin, Martin. Gouty arthritis.A primer on late onset gout. CME Geriatrics Rheumatology. 2005. 27. L, Annemans, et al. Gout in the UK and Germany: Prevalence,Comorbidities and Management in General Practice 2000-2005. Annals Rheumatic Disease. 2008, Vols. 67:960-966. 28. Arromdee E, Michet CJ,Crowson CS, O'Fallon WM, Gabriel SE. Epidemiology of Gout: Is the incidence rising? Rheumatology. s.l. : Journal of Rheumatology, 2002, 29:2403-2406.

45

29. Darmawan J., Valkenburg H.A., Muirden K.D., Wigley R.D. The Epidemiology of Gout and Hyperuricemia in a Rural Population of Java. Journal Rheumatology. 1992, 19:1595. 30. Saag, Kenneth G and Choi, Hyon K. Epidemiology, Risk Factors, and Lifestyle Modifications for Gout. Arthritis Research & Therapy. 2006. 31. Isenberg, David A, et al. Gout. Oxford Textbook of Rheumatology. Third edition. United Kingdom : Oxford University Press, 2004, p. 6448. 32. Timur, Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan. Deskripsi Singkat Provinsi Kalimantan Timur. http://kaltim.bps.go.id/. [Online] 2007. [Cited: Desember 29, 2009.] http://kaltim.bps.go.id/deskripsi.html. 33. Klemp, P, et al. Gout is on the Increase in New Zealand. Annals of Rheumatic Disease. 1997, 56:22. 34. Polynesian Women are also at Risk for Hyperuricaemia and Gout because of Genetic Deffect in Renal Urate Handling. 1994. Vols. 33:932-937. 35. Bray, GA. Complications of Obesity. Annals of Internal Medicine. 1985, Vols. 103:1052-1062. 36. Tykarski, A. Evaluation of Renal Handling of Uric Acid in Essential Hypertension: Hyperuricemia Related to Decreased Urate Secretion. Nephron. 1991, 59:364-368. 37. Roubenoff R, Klag MJ, Mead LA, Liang KY, Seidler AJ, Hochberg MC. Incidence and Risk Factors for Gout in White Man. Journal of the American Medical Association. 1991, Dec 4:266(21):3004-7. 38. Padang, Cecilia R, Nasution, AR and Isbagio, Harry. Kriteria Diagnostik Penyakit Reumatik. Cermin Dunia Kedokteran. 1992, 78:10-14. 39. Tehupeiory, E. Gouty Arthritis and Uric Acid Distribution in Several Ethnic Group in Ujung Pandang. Academic Medical Dissertation.Ujung Pandang:University of Hassanudin. 1992. 40. Padang, Cecilia, et al. Characteristics of Chronic Gout in Northern Sulawesi Indonesia. Journal of Rheumatology. 2006, 33:1813-7. 41. Johnson, Richard J and Rideout, Bruce A. Uric Acid and Diet:Insight Into The Epidemic of Cardiovascular Disease. New England Journal Medicine. 2004. 42. Cassim, B, et al. Gout in Black South African: A clinical and genetic study. Annals of Rheumatic Disease. 1994, Vols. 53:759-62.

46

43. Wortmann, Robert L. Gout and Hyperuricemia. [book auth.] Gary S Firestein, et al. Kelley's Textbook of Rheumatology.Eight edition. Philadelphia : WB Saunders Company, 2008. 44. Munan, Louis, Kelly, Anthea and Petitclerc, Claude. Population Serum Urate Levels And Their Correlates. American Journal of Epidemiology. 1976. 45. Steven, M.M. Prevalence of Chronic Arthritis in Four Geographical Areas of Scottish Highlands. Annals of the Rheumatic Disease. 1992, 51:186-94. 46. Hayem, G, et al. Female Premenopausal Tophaceus Gout Induced by Long Term Diuretic Abuse. Journal Rheumatology. 1996, 23:2166-2167. 47. Scott, JT. Drug Induced Gout. Ballieres Clinical Rheumatology. 1991, 5:39-60. 48. Burack, DA, et al. Hyperuricemia and Gout Among Heart Transplant Recipients Receiving Cyclosporine. American Journal Medicine. 1992, 92:141-146. 49. Baethege, BA, et al. Tophaceus Gout in Patients With Renal transplants Treated with Cyclosporine. American Journal Rheumatology. 1993, 92:141-146. 50. Preminger, GM. Renal Calculi: Pathogenesis, Diagnosis and Medical Therapy. Seminar Nephrology. 1992, 12:200-216. 51. Rodwell, Victor W. Metabolisme Nukleotida Purin dan Pirimidin. [book auth.] Robert K Murray, et al. Biokimia Harper.Edisi 25. Jakarta : EGC, 2000. 52. Wyngaarden, JB and Kelley, WN. Gout. [book auth.] JB Stanbury et al. The Metabolic Basis of Inherited Disease.Fifth Edition. New York : McGraw Hill, 1985, page 1043-1114. 53. Puig, JG, et al. Female Gout: Clinical Spectrum and Uric Acid Metabolism. Archives of Internal Medicine. 1991, 151:726-732. 54. Cohen, MG and Emmerson, BT. Gout. [book auth.] JH Klippel and PA Dippe. Rheumatology . St Louis Baltimore : Mosby, 1994. 55. Puig, JG, et al. Hereditary Nephropathy Associated with Hyperuricaemia and Gout. Archive of Internal Medicine. 1993, 153(3):357-365. 56. Simmonds, HA. Purine and Pyrimidine Disorder In Inherited Metabolic Disease.Second Edition. Eidenburg : Churcill Livingstone, 1994, 297-349. 57. Kamatami, N. Genetic Enzyme Abnormalities and Gout. Asian Medical Journal. 1994, 37(2):651-656. 58. Becker, Michael A and Meenaskshi, J. Clinical Gout and The Pathogenesis of Hyperuricemia. [book auth.] DJ McCarty and William J Koopman. Arthritis and Allied

47

Conditions: A Textbook of Rheumatology 13th Edition.Vol 2. Baltimore : William&Wilkins a Walvery Comp, 2005, page 2303-2339. 59. Choi, Hyon K, Mpunt, David B and Reginato, Anthony. Pathogenesis of Gout. Annals of Internal Medicine. 2005, 143:499-516. 60. McGill, NW and Dieppe, PA. The Role of Serum and Synovial Fluid Components in The Promotion of Urate Crystal Formation. Journal of Rheumatology. 1991, 18:10421045. 61. Soeroso, Joewono and Yuliasih. Hiperurisemia dan Gout Artritis. Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. 62. Adnan, HM. Peranan Analisis Cairan Sendi Dalam Diagnosis Penyakit Sendi. Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta : Grup PT Kalbe Farma, 1992, 78:18-24. 63. Ward, Michael M. Crystal Induced Synovitis : Gout. Kelley's Textbook of Internal Medicine. Fourth Edition. United States : Lipincott Williams & Wilkins , 2000. 64. Bandolier-team. An Introduction to Gout. Bandolier. 2007. 65. Ceulleton, BF, et al. Serum Uric Acid and The Risk for Cardiovascular Disease and Death:The Framingham Heart Study. Annals of Internal Medicine. 1999, 131:7. 66. Reiter, L, Brown, MA and Edmonds, J. Familial Hyperuricaemic Nephropathy. American Journal Kidney Disease. 1995, 25:235-241. 67. Perez-Ruiz, F, Calabozo, M and Herroro-Beites, AM,et al. Improvement of Renal Fuction in Patients with Chronic Gout After Proper Control of Hyperuricaemia and Gouty Bouts. Nephron. 2000, 287:91. 68. Dessein, P, et al. Beneficial Effects of Weight Loss Associated With Moderate Calorie/Cabohydrate Restriction, And Increased Proportional Intake of Protein and Unsaturated Fat on Serum Urate and Lipoprotein Levels in Gout:a Pilot Study. Annals of Rheumatic Disease. 2000, 59:539-543. 69. Matsuura, F, et al. Effect of Visceral Fat Accumulation on Uric Acid Metabolism in Male Obese Subjects: Viscera obesity is Linked More Closely to Overproduction of Uric Acid Than Subcutaneous Fat OBesity. Internal Medicine.Osaka University Medical School. 1998, 47:929-933. 70. Freuhweld-Schultes, B, et al. Serum Leptin is Associated with Serum Uric Acid Concentrations in Humans Metabolism. 1999, 48:677-680. 71. Fantuzzi, Giamila and Mazzone, Thedore. Adipose Tissue and Atherosclerosis. Exploring The Connection. Journal of The American Heart Association. 2007, 27:9961003.

48

72. Kleinman, NL, et al. Lost Days and Productivity Impact of Gout. Presented at : 69th Annual Meeting of the American College of Rheumatology. San Diego, California : s.n., 2005, 248:1772. 73. Roubenoff, R. Incidence and prevalence of gouty arthritis. Rheumatic Disease Clinical of North America. 1990, 16:540-4. 74. Lawrence, RC, Felson, DT, and Hemlich, CG,et al. Estimates of the Prevalence of Arthritis and Other Rheumatic Conditions in the United States.Part II. Arthritis Rheumatology. 2008, 58(1):26-35. 75. Broto, Rawan. Rheumatic Disease : Article and Solution. http://rawanbrotorheumatic.com/diagnosis-dan-pengelolaan-gout. [Online] November 22, 2008. [Cited: November 30, 2008.] 76. Lin, KC, Lin, HY and Chou, P. Community Based Epidemiological Study on Hyperuricemia and Gout in Kin-Hu, Kinmen. Journal of Rheumatology. 2000, 27(4):10451050. 77. Fang J., Alderman M.H. Serum Uric Acid and Cardiovascular Mortality: The NHANES I Epidemiologic Follow-up Study,1971-1992. Journal of the American Medical Association. 2000, 283:2404. 78. McCarty, DJ. Gout Without Hyperuricemia. Journal of the American Medical Association. 1994, 271:302-303. 79. Segal, JB and D, ALbert. Diagnosis of Crystal Induced Arthritis by Sinovial Fluid Examination:Lessons from an Imperfect Test. Arthritis Care and Research. 1999, 12:376. 80. Beddir, A, et al. Leptin Might Be A Regulator of Serum Uric Acid Concentration In HUmans. Japan Heart Journal. 2003, 44:527-536. 81. Reginato, Antonio J. Gout Crystallography and Arthritis. [book auth.] E Braunwald, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. Fifteenth Edition. New York : Mc-Graw Hill, 2001. 82. Tehupeiory, Edwars Stefanus. Artritis Pirai (artritis gout). [pengar. buku] Aru W Sudoyo, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006, hal. 1208. 83. Kelly, Janis. Gout: prevalence up, drug compliance down. Medscape Medical News. 2004. 84. Choi, HK and Curhan, G. Adiposity,hypertension, diuretic use and risk of incident gout in women. [book auth.] The Nurses Health Study. Arthritis Rheumatology. 2005, Vol. 52.

49

85. anonymous. Leptin. www.abclab.co.id. [Online] July 17, 2009. [Cited: June 20, 2009.] 86. Prevention, Departement of Health and Human Services Center for Disease Control and. Defining Overweight and Obesity. [Online] January 28, 2009. [Cited: June 15, 2009.] http://www.cdc.gov/nccdphp/dnpa/obesity/defining.htm.

50

LAMPIRAN I KUESIONER

Judul penelitian

: Hubungan Antara Pengetahuan Ibu, Kebersihan Diri Ibu dan Sanitasi Makanan dengan Kejadian Diare Pada Balita di Kelurahan Rawa Makmur Palaran Kota Samarinda

Tanggal penelitian :

Juni 2011

DATA UMUM RESPONDEN 1 2 3 4 5 Nama ibu Tempat/tanggal lahir (sesuai dengan KTP) Alamat Umur ibu balita Tingkat pendidikan responden

(kontrol/kasus) *diisi peneliti

Pekerjaan responden

Penghasilan keluarga dalam sebulan

.. tahun 1. Tidak sekolah/tidak tamat SD 2. Tamat SD/sederajat 3. Tamat SLTP/sederajat 4. Tamat SLTA/sederajat 5. Akademik/ Sarjana 1. Pegawai Negeri 2. Karyawan/buruh 3. Petani 4. Wiraswasta 5. Tidak bekerja/ibu rumah tangga 1. [ ]> Rp. 1.020.000,2. [ ] Rp. 1.020.000,-

8 Nama balita 9 Umur balita (bulan) 10 Jenis kelamin 11 Apakah balita ibu mendapat imunisasi campak 12 Apakah sampai umur 6 bulan, Ibu memberikan ASI saja kepada balita Ibu? Pengetahuan 1. Menurut ibu diare adalah ?

1. Laki-laki 2. Perempuan 1. Ya 2. Tidak 1. Ya 2. Tidak

a. Tahu (BAB lembek/cair yang terjadi lebih dari 3 kali dalam sehari dengan atau tanpa disertai muntah) b. Tidak tahu 2. Menurut ibu apakah penyebab diare ?

51

a. Tahu (Makanan atau minuman yang tidak bersih sehingga mengandung virus atau bakteri) b. Tidak tahu 3. Menurut ibu apa saja gejala diare? a. Tahu (BAB lembek/cair yang terjadi lebih dari 3 kali dalam sehari dengan atau tanpa disertai muntah) b. Tidak tahu 4. Menurut ibu tindakan apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegah diare? a. Tahu (Mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan untuk balita, memasak air air hingga 5-10 menit setelah mendidih, menutup makanan.) b. Tidak tahu. 5. Apa saja faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit diare? a. Tahu (Lingkungan yang kurang bersih, air yang digunakan tidak bersih dan gizi yang kurang ) b. Tidak tahu 6. Menurut ibu bagaimana kondisi air yang bersih ? a. Tahu (Tidak bewarna, tidak berbau, tidak berasa. ) b. Tidak tahu 7. Menurut ibu bagaimana tandatanda dehidrasi berat pada anak ? a. Tahu (BAB encer semakin sering dalam jumlah banyak, ada muntah berulang, rasa haus yang nyata, tidak dapat minum atau makan) b. Tidak tahu 8. Menurut ibu apa yang sebaiknya dilakukan untuk penanganan awal diare ? a. b. Tahu (Memberikan larutan gula garam/kuah sayur/air/oralit) Tidak tahu

Kebersihan diri 1. Apakah anda selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah dari jamban? a. Ya 2. b. Tidak

Apakah anda selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah menceboki anak?

52

a. Ya 3.

b. Tidak

Apakah anda selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum memberi makan anak? a. Ya b. Tidak

4.

Apakah anda selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum menyiapkan makanan? a. Ya b. Tidak

5.

6.

Apakah anda mencuci tangan dengan cara yang baik dan benar? Tangan yang dicuci bagian telapak tangan : Ya Tidak Tangan yang dicuci bagian punggung tangan : Ya Tidak Tangan yang dicuci bagian jari-jari : Ya Tidak Tangan yang dicuci bagian bawah kuku : Ya Tidak Dilakukan minimal selama 20 detik : Ya Tidak Jawaban no.5 adalah ya bila seluruh jawaban ya pada kelima poin di atas. Jawaban no5. adalah tidak bila terdapat jawaban tidak pada salah satu poin di atas. a. Ya b. Tidak Apakah anda selalu mengeringkan tangan dengan kain bersih setelah mencuci tangan? a. Ya b. Tidak

7.

Apakah anda selalu memotong kuku setiap satu minggu sekali? a. Ya b. Tidak

SANITASI MAKANAN 1. (Untuk balita yang tidak minum susu) Apakah peralatan makan selalu dalam keadaan sudah dicuci sebelum digunakan? a. Ya b. Tidak

(Untuk balita yang minum susu menggunakan dot) Apakah dot selalu direbus sebelum digunakan? a. Ya b. Tidak

(Untuk balita yang minum ASI) Apakah puting payudara selalu dibersihkan sebelum memberi ASI? a. Ya b. Tidak

Pembersihan alat makan/botol susu Direbus


53


2.

Cuci air panas Cuci air matang Cuci air mentah Apakah selalu menyimpan makanan yang disajikan dalam keadaan tertutup atau disimpan dalam lemari/lemari pendingin? a. Ya b. Tidak

3.

Apakah balita anda selalu mengkonsumsi makanan yang anda olah sendiri? a. Ya b. Tidak

4.

Beli jajan untuk balita? Sering Kadang-kadang Tidak pernah Apakah anda yakin balita anda selalu mengkonsumsi makanan yang bersih (tidak pernah mengkonsumsi makanan/minuman yang telah berubah warna, bau atau rasanya, berlendir, berjamur atau adanya pengotoran lainnya) ? a. Ya b. Tidak

5. Apakah anda selalu merebus air yang akan di minum sampai mendidih dan dibiarkan tetap mendidih antara 5-10 menit? a. Ya b. Tidak

Samarinda,

Juni 2011

....................................................................

54

LAMPIRAN 2 LANJUTAN UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN PENGETAHUAN IBU Nilai korelasi item (dengan program Ms. Excel) Hasil korelasi (r) = 0,361 Nilai reliabilitas (dengan rumus Spearman Brown)

Kesimpulan: instrument ini memiliki realibilitas yang tinggi karena nilai R > 0,361. NB: Kriteria instrument memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi jika nilai koefisien yang diperoleh 0,361 KEBERSIHAN DIRI IBU Nilai korelasi item (dengan program Ms. Excel) Hasil korelasi (r) = 0,361 Nilai reliabilitas (dengan rumus Spearman Brown)

Kesimpulan: instrument ini memiliki realibilitas yang tinggi karena nilai R > 0,361. NB: Kriteria instrument memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi jika nilai koefisien yang diperoleh 0,361 SANITASI MAKANAN Nilai korelasi item (dengan program Ms. Excel) Hasil korelasi (r) = 0,361 Nilai reliabilitas (dengan rumus Spearman Brown)

Kesimpulan: instrument ini memiliki realibilitas yang tinggi karena nilai R > 0,361. NB: Kriteria instrument memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi jika nilai koefisien yang diperoleh 0,361

55