Vous êtes sur la page 1sur 51

PEMBERIAN MAKANAN & CAIRAN PADA BALITA GIZI BURUK

Dr.BENNY SOEGIANTO, MPH


Disampaikan Dalam Pelatihan Gizi Petugas Gizi RS & Puskesmas Jawa Timur, Surabaya 10 15 Desember 2007

BENTUK GANGGUAN GIZI


GANGGUAN GIZI

PROSES

DERAJAT GANGGUAN

KRONIS

AKUT

BERAT

SEDANG

RINGAN

GIZI BURUK

DIAGNOSA GIZI BURUK

METODA UTAMA KLINIS DIDUKUNG DATA ANTROPOMETRIS

KRITERIA GIZI BURUK (WHO-1998)


1. Secara klinis anak sangat kurus dan atau secara antropometris BB/PB < - 3 SD atau 2. Secara klinis anak kurus disertai edema pada kedua kaki

PENGERTIAN GIZI BURUK SECARA KLINIS DAN ANTROPOMETRIS


ADALAH : GANGGUAN GIZI AKUT & BERAT SECARA KLINIS : * SANGAT KURUS , LEMAK & OTOT TIPIS / HABIS atau * KURUS & BENGKAK PADA KEDUA KAKI SECARA ANTROPOMETRIS : * BB / PB < - 3 SD atau * BB / PB < 70% Median atau

PENGAMATAN KLINIS CADANGAN LEMAK DAN OTOT BALITA GIZI BURUK


LEMAK DADA, PINGGUL & PUNGGUNG TIPIS : * DEPAN TULANG RUSUK, TULANG SELANGKA & TULANG PINGGUL TAMPAK NYATA * BELAKANG TULANG BELIKAT, TONJOLAN TL. PUNGGUNG & TL DUDUK TAMPAK NYATA LEMAK / OTOT ANGGOTA GERAK TIPIS : * BAGIAN ATAS LENGAN TAMPAK KECIL * BAGIAN BAWAH TUNGKAI TAMPAK KECIL LEMAK DAERAH KEPALA TIPIS : * LEMAK PIPI HABIS PIPI TAMPAK CEKUNG

INDEKS ANTROPOMETRI
BB/U MENGGAMBARKAN ADA / TIDAK NYA GANGGUAN GIZI UMUM TB/U MENGGAMBARKAN ADA / TIDAK NYA GANGGUAN GIZI KRONIS BB/TB MENGGAMBARKAN ADA / TIDAK NYA GANGGUAN GIZI AKUT

BALITA GIZI BURUK


BUKAN SEKEDAR KEKURANGAN ENERGI DAN PROTEIN SEMATA, NAMUN JUGA KEKURANGAN ZAT GIZI LAINNYA, OLEH KARENA ITU LEBIH TEPAT DISEBUT SEBAGAI SINDROMA MULTI NUTRIEN DEFISIENSI BERAT

KONDISI FAAL TUBUH ANAK GIZI BURUK


1.Metabolisme dasar sangat rendah 2.Produksi ATP sangat terbatas 3.Berbagai fungsi tubuh mengalami Shut down 4.Tubuh sangat kekurangan Kalium 5.Terjadi Hiper Natremia Intra Sel 6.Terjadi kekurangan Mg, Cu dan Zn

PROSES PEMBENTUKAN ENERGI DAN PANAS UNTUK KEHIDUPAN


C6H12O6 + 6O2 6H2O + 6CO2 + ENERGI + PANAS

Glukosa

(456 Kal) (264 Kal)

MANFAAT ENERGI : METABOLISME (BMR): OTAK, JANTUNG, PARU-PARU, GINJAL, USUS, IMUNITAS AKTIFITAS FISIK TUMBUH (ANAK) PENYEMBUHAN

Dasar Pertimbangan Penyusunan Cairan Rehidrasi & Makanan Formula Untuk Gizi Buruk
KEADAAN FAAL TUBUH ANAK GIZI BURUK SANGAT BERBEDA DARI FAAL TUBUH ANAK TIDAK GIZI BURUK

KEADAAN FAAL SEL BALITA NORMAL (TIDAK GIZI BURUK)


TRANSPORTASI ELEKTROLIT LINTAS MEMBRAN DILAKUKAN DENGAN MEMAKAI ENERGI ATP ( POMPA ATP) DENGAN KEKUATAN POMPA ATP, MAKA TERCIPTA KADAR K & Mg DI DALAM SEL 10 X KADAR K & Mg DI LUAR SEL DENGAN KEKUATAN POMPA ATP, MAKA TERCIPTA KADAR Na & Ca DI LUAR SEL 10 X KADAR Na & Ca DI DALAM SEL

KEADAAN FAAL SEL BALITA GIZI BURUK


ENERGI DALAM BENTUK ATP SANGAT RENDAH AKIBATNYA SEMUA PROSES FAAL SEL YANG MEMERLUKAN ENERGI ATP HARUS DIKURANGI, OLEH KARENA HARUS MENYESUAIKAN THD KETERBATASAN ATP TERSEBUT SALAH SATU PROSES YANG MENGALAMI GANGGUAN SERIUS AKIBAT HAL TSB DI ATAS ADALAH TRANSPORTASI ELEKTROLIT LINTAS MEMBRAN

KEADAAN FAAL SEL BALITA GIZI BURUK


TRANSPORTASI ELEKTROLIT LINTAS MEMBRAN SANGAT TERGANGGU AKIBATNYA, K & Mg YANG HARUS SELALU DIPERTAHANKAN TINGGI KADARNYA DI DALAM SEL, DENGAN MEMAKAI ENERGI ATP, MENGALIR KELUAR SEL DAN TERBUANG DARI TUBUH, KELUAR LEWAT URINE AKHIRNYA TUBUH MENGALAMI HIPOKALEMIA DAN HIPOMAGNESIA

KEADAAN FAAL SEL BALITA GIZI BURUK


TRANSPORTASI ELEKTROLIT LINTAS MEMBRAN SANGAT TERGANGGU AKIBATNYA, Na & Ca YANG HARUS SELALU DIPERTAHANKAN TINGGI KADARNYA DI LUAR SEL, DENGAN MEMAKAI ENERGI ATP, MENGALIR MASUK KE DALAM SEL & TERTIMBUN DI DALAM SEL, TETAPI RENDAH DI LUAR SEL AKHIRNYA TUBUH MENGALAMI

10 Langkah Utama Tatalaksana Gizi Buruk


Stabilisasi No Tindakan Hr 1 - 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Mencegah / mengatasi hipoglikemi Mencegah / mengatasi hipotermi Mencegah / mengatasi dehidrasi Mengatasi gangguan elektrolit Mengobati infeksi Mengatasi kekurangan zat gizi mikro Memberikan makanan stabilisasi & transisi Memberikan makanan tumbuh kejar Memberikan stimulasi Mempersiapkan tindak lanjut di rumah Tanpa Fe Dengan Fe Hr 3 -7 Hr 8 -14 Mg 3 - 6 Mg 7- 26 Transisi Rehabilitasi Tindak lanjut

HAL-HAL PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN


1. Jangan berikan Fe sebelum minggu ke 2 (Fe diberikan pada fase rehabilitasi) 2. Jangan berikan cairan intra vena, kecuali syok atau dehidrasi berat 3. Jangan berikan protein terlalu tinggi 4. Jangan berikan diuretik pada penderita kwashiorkor 5. Jangan berikan infus albumin pada penderita kwashiorkor

B. PRINSIP DASAR
SISTIM PENCERNAAN LEMAH : Kerusakan mukosa usus & enzim PEMBERIAN MAKANAN : Secara teratur (selama 24 jam) Bertahap (cair, lembik, padat) Porsi kecil & sering Melalui fase stabilisasi, transisi & rehabilitasi Tidak boleh tergesa2 menaikkan berat badan Selalu dipantau dan evaluasi

B. PRINSIP DASAR (lanjutan..)


Protein pada tahap awal yang terlalu tinggi digunakan untuk bahan bakar NH3 dilepas beban hati dan ginjal meningkat UREUM meningkat osmolaritas urine meningkat pengeluaran urine berlebihan dehidrasi Bila terjadi dehidrasi gunakan cairan rehidrasi Resomal

B. PRINSIP DASAR (lanjutan..)


MAKANAN CAIR PADA AWAL : Zat gizi mudah diserap Mudah menghitung jumlah energi, protein & cairan Bila energi & protein terlalu tinggi pada tahap stabilisasi ATP akan naik tajam Na + akan ditarik keluar dari intraselular ke plasma volume plasma meningkat secara tiba-tiba beban jantung akan naik tajam gagal jantung anak dapat meninggal

(Refeeding Syndrome)

Tatalaksana Gizi Anak Gizi Buruk


Tujuan terapi gizi:
Memberikan makanan tinggi kalori, protein dan cukup vitamin-mineral secara bertahap, guna mencapai status gizi yang optimal. Fase stabilitasi untuk mencegah / mengatasi hipoglikemi, hipotermi dan dehidrasi Fase transisi / rehabilitasi tumbuh kejar

Prinsip Diet Anak Gizi Buruk


Tahapan Cairan Energi Protein
1,0-1,5 g 1,0-1,5 g 2,0-3,0 g 3,0-4,0 g 1. Stabilisasi a) Tanpa 130 ml 80-100 Kal Edema berat b) Dengan 100 ml 80-100 Kal Edema berat 2. Transisi 150 ml 100-150 Kal 3. Rehabilitasi 150-200 ml 150-200 Kal

Catatan : Dosis di atas untuk 1 kg BB dlm 24 jam

DERAJAT EDEMA
DERAJAT KODE EDEMA RINGAN SEDANG BERAT + ++ +++ PENYEBARAN EDEMA PUNGGUNG KEDUA KAKI KANAN & KIRI (BILATERAL) KAKI,TUNGKAI BAWAH, TANGAN, LENGAN BAWAH KAKI, TUNGKAI ATAS & BAWAH, TANGAN, LENGAN ATAS & BAWAH, WAJAH

PRINSIP MAKANAN TAHAP STABILISASI


1. 2. 3. 4. 5. CUKUP ENERGI, TETAPI TIDAK TINGGI ENERGI RENDAH PROTEIN CUKUP KALIUM RENDAH NATRIUM DALAM DOSIS KECIL & SERING

SYARAT MAKANAN / MINUMAN TAHAP STABILISASI


CUKUP ENERGI CUKUP KCl RENDAH NaCl - 75 Kal / 100 ml - 0,2 g / 100 ml - 0,45 g / 100 ml

RENDAH PROTEIN - 0,9 g / 100 ml

MAKANAN YANG SESUAI UNTUK TAHAP STABILISASI ADALAH F-75


KANDUNGAN ENERGI KANDUNGAN PROTEIN KANDUNGAN KCl 75 Kal / 100 ml 0,9 g / 100 ml 0,2 g / 100 ml

LANGKAH PEMBUATAN F75


TENTUKAN JUMLAH (VOL) F75 YANG AKAN DIBUAT MISAL 400 ml HITUNG KANDUNGAN ENERGI F75 TSB 400 ml MENGANDUNG 400/100 X 75 = 300 Kal HITUNG KANDUNGAN PROTEIN F75 TSB 400 ml MENGANDUNG 400/100 X 0,9 = 3,6 gram SEBAGAI SUMBER PROTEIN HANYA DIAMBIL DARI SUSU BUBUK HITUNG JUMLAH (BERAT) SUSU BUBUK YANG DIPERLUKAN UNTUK MENCAPAI JUMLAH PROTEIN YANG DIPERLUKAN TSB

LANGKAH PEMBUATAN F75


HITUNG KANDUNGAN ENERGI DARI SUSU YANG TELAH DITIMBANG TSB PERKIRAKAN BERAPA % SUMBANGAN ENERGI DARI SUSU BUBUK TSB THD TOTAL ENERGI DARI F75 KEKURANGAN ENERGI UNTUK MENCAPAI TOTAL ENERGI F75 DIISI SECARA SEIMBANG DENGAN GULA PASIR & MINYAK (SAWIT) SUMBANGAN ENERGI GULA PASIR HARUS BERKISAR SEKITAR 30-60% DARI TOTAL KANDUNGAN ENERGI DARI F75 TSB

LANGKAH PEMBUATAN F75


TENTUKAN PROPORSI ENERGI GULA PASIR THD TOTAL ENERGI F 75 (%) MISAL 30% 30 % X 300 Kal = 90 Kal HITUNG BERAPA BERAT GULA PASIR UTK MENCAPAI NILAI ENERGI TSB DI ATAS HITUNG SUMBANGAN PROTEIN GULA 0 gram HITUNGAN SUMBANGAN ENERGI MINYAK SAWIT SELISIH TOTAL ENERGI F75 DIKURANGI SUMBANGAN ENERGI SUSU & GULA PASIR HITUNG BERAT MINYAK SAWIT UTK MENCAPAI NILAI ENERGI TSB DI ATAS.

LANGKAH PEMBUATAN F75


HITUNG KANDUNGAN PROTEIN DARI MINYAK SAWIT 0 gram HITUNG KEBUTUHAN KCl MISAL UTK 400 ml F75 DIPERLUKAN 400/100 X 0,2 g = 0,8 g KCl ENERGI & PROTEIN KCl 0 Kal & 0 gram TAMBAHKAN AIR SAMPAI VOLUME CAMPURAN MENCAPAI JUMLAH YANG DIRENCANAKAN MISAL MENCAPAI VOLUME 400 ml ENERGI & PROTEIN DARI AIR 0 Kal & 0 gram BUKTIKAN BAHWA SUSUNAN F75 TSB MEMENUHI SYARAT DIET WHO/DEPKES

PEMBUKTIAN KETEPATAN SUSUNAN F75


PEMBUKTIAN DILAKUKAN DENGAN CARA MENGAPLIKASIKAN F75 PADA SATU KASUS GIZI BURUK (TIDAK EDEMA BERAT) MISAL KASUS DENGAN BB 5 Kg SESUAI PEDOMAN DIET WHO / DEPKES GIZI BURUK TANPA EDEMA BERAT MEMERLUKAN CAIRAN 130 ml/KgBB/hr JADI PASIEN TSB MEMERLUKAN F75 SEBANYAK 130 ml/KgBB/hr MAKA JUMLAH F75 YANG DIPERLUKAN ANAK TSB SEBANYAK 5 X 130 ml = 650 ml F75 DALAM SEHARI KALAU DIGUNAKAN F75 TSB DI ATAS, MAKA DLM 650 ml TERKANDUNG ENERGI SEBESAR 650 ml/400ml X 300 Kal = 487,5 Kal

PEMBUKTIAN KETEPATAN SUSUNAN F75


JADI UNTUK SETIAP Kg BB ANAK TERSEDIA ENERGI SEBESAR 487,5 Kal/ 5Kg 97,5 Kal/KgBB/hr NILAI 97,5 Kal/KgBB/hr TSB DI ATAS TERLETAK DIANTARA NILAI 80,0 100,0 Kal/Kg BB/hr, YAITU NILAI ENERGI YANG DISYARATKAN WHO / DEPKES BAGI DIET ANAK GIZI BURUK TAHAP STABILISASI KANDUNGAN PROTEIN DARI 650 ml F75 TSB DIATAS 650 ml/400 ml X 3,6 g = 5,85 g JADI UTK SETIAP Kg BB ANAK TERSEDIA PROTEIN SEBESAR 5,85 g/5 Kg = 1,17 g/KgBB/hr

PEMBUKTIAN KETEPATAN SUSUNAN F75


NILAI 1,17 g/KgBB/hr TSB DI ATAS TERLETAK DIANTARA NILAI 1,0 1,5 g/Kg BB/hr, YAITU NILAI PROTEIN YANG DISYARATKAN WHO / DEPKES BAGI DIET ANAK GIZI BURUK TAHAP STABILISASI DENGAN DEMIKIAN, MAKA F75 YANG DIBUAT TELAH MEMENUHI SYARAT DIET DARI WHO /DEPKES MAKA SUSUNAN F75 SUDAH BENAR (VALID) DALAM PEMBUATAN F75, APAPUN SUMBER SUSU BUBUK YANG DIGUNAKAN HARUS SELALU DIGUNAKAN LANGKAH TSB DI ATAS

CONTOH
FORMAT PEMBUATAN F-75
JENIS BAHAN JUMLAH KANDUNGAN KANDUNGAN
BAHAN ENERGI PROTEIN

SUSU GULA
(30 -60% E)

MINYAK KCl AIR JUMLAH

CONTOH FORMAT PEMBUATAN F-75


JENIS BAHAN JUMLAH KANDUNGAN KANDUNGAN
BAHAN ENERGI PROTEIN

SUSU GULA
(30-60 % E)

2 5 8 10 13 I II

3 4 7 11 14 III

1 6 9 12 15

MINYAK KCl AIR JUMLAH

KOMPOSISI BAHAN BAKU F 75 (CONTOH)


PAN ENTERAL (PER SAJI = 40 gram) ENERGI : 200 Kal/40 g PROTEIN : 6,12 g/40 g GULA PASIR ( 100 gram) ENERGI : 364 Kal/100 g PROTEIN : 0 g/100 g MINYAK SAWIT (100 gram) ENERGI : 902 Kal/100 g PROTEIN : 0 g/100 g

400 ml F-75 Dengan Bahan Baku Pan-Enteral (CONTOH)


JENIS BAHAN SUSU GULA
(30-60%)E

JUMLAH BAHAN
(3,6/6,12)x 40 = 23,5 2 (90/364)x100 = 24,7 5 (92,5/902)x100 = 10,3 8 (400/100) x 0,2 = 0,8 10 Ditambah air sampai menjadi 400 ml 13 400 ml I

KANDUNGAN KANDUNGAN ENERGI PROTEIN


(23,5/40)x200 =117,5 3 (30/100)x300 = 90 4 (300 -117,5 90) = 92,5 0 11 0 14 (400/100)x75 = 300 II (400/100)x0,9 = 3,6 0 15 III 7 (10,3/100) x 0 =0 0 12 (24.7/100)x0 =0 6 9 3,6 1

MINYAK KCl AIR JUMLAH

LATIHAN PEMBUATAN F75


TUGAS KELOMPOK 1. 2. 3. 4. 5. 300 ml F75 DANCOW UTK ANAK 4 Kg 400 ml F75 LLM UTK ANAK 5 Kg 500 ml F75 ANLENE UTK ANAK 6 Kg 600 ml F75 ENTRASOL UTK ANAK 7 Kg 700 ml F75 LACTOGEN UTK ANAK 8 Kg

MAKANAN YANG SESUAI UNTUK REHABILITASI & TUMBUH KEJAR ADALAH F-100

BERISI ENERGI

100 Kal / 100 ml

BERISI PROTEIN 2,2 - 2,9 g / 100 ml BERISI KCl 0,2 g / 100 ml

ReSoMal
Cara membuat ReSoMal Bubuk WHO-ORS utk 1 liter (*) pak Gula pasir gram Lar. Elektrolit/mineral (**) ml Ditambah air sampai liter

(Rehidration Solution for Malnutrition)


: 1 Modifikasi ReSoMal : 50 : 40 : 2 Bubuk WHO-ORS utk 1 liter (*) : 1 pak Gula pasir : 50 gr Bubuk KCl : 4 gr Ditambah air sampai : 2 liter Karena tidak mengandung Mg, Zn dan Cu, Diberi jus buah2an yang banyak mengandung mineral, atau diberikan MgSO4 50 % i.m. 1 x dosis 0,3 ml/kg BB maksimum 2 ml.

Setiap 1 liter cairan Resomal : Na = 37,5 mEq, K = 40 mEQ dan Mg = 1,5 mEq Cara membuat larutan Elektrolit / Mineral (*) Bubuk WHO-ORS/1 liter : Nacl = 2,6 gram trisodium citrat dihidrat = 2,9 gram (**) komposisi : KCl = 1,5 g dan glukosa = 13,5 KCl : 224 gram gram Tripotasium citrat : 81 gram MgCl2.6H2) Zn acetat 2 H2O CuSO4.5H2O : 76 gram : 8,2 gram : 1,4 gram

MODIFIKASI RESOMAL
NAMA BAHAN
ORALIT GULA PASIR KCl AIR

JUMLAH BAHAN
1 bungkus a 200 ml 10 g 0,8 g Ditambahkan air sampai volume menjadi 400 ml

CATATAN : Kadar NaCl = 0,45 %

CONTOH REHIDRASI (12 Jam) Anak BB 6 Kg Diare & Syok (Kondisi 1)


2 Jam pertama (REHIDRASI AWAL IV) 10.00-11.00: 6 kg x 15 ml D5RL 11.00-12.00: 6 kg x 15 ml D5RL

10 Jam berikutnya (REHIDRASI LANJUTAN - ORAL) 12.00-13.00: 6 kg x 5-10 ml RES 13.00-14.00: 65 ml F75 14.00-15.00: 6 kg x 5-10 ml RES 15.00-16.00: 65 ml F75 16.00-17.00: 6 kg x 5-10 ml RES 17.00-18.00: 65 ml F 75 18.00-19.00: 6 kg x 5-10 ml RES 19.00-20.00: 65 ml F75 20.00-21.00: 6 kg x 5-10 ml RES 21.00-22.00: 65 ml F75

Bila anak tidak diare dan tidak dehidrasi lagi, dilanjutkan dengan pemberian F75 setiap 2 jam dst sesuai dengan protap.

2 Jam pertama (REHIDRASI AWAL - ORAL)

CONTOH REHIDRASI (12 Jam) Anak BB 6 Kg Diare (Kondisi 3)

10 Jam berikutnya (REHIDRASI LANJUTAN - ORAL)

10.00-10.30: 6 kg x 5 ml RES 10.30-11.00: 6 kg x 5 ml RES 11.00-11.30: 6 kg x 5 ml RES 11.30-12.00: 6 kg x 5 ml RES

12.00-13.00: 6 kg x 5-10 ml RES 13.00-14.00: 65 ml F75 14.00-15.00: 6 kg x 5-10 ml RES 15.00-16.00: 65 ml F75 16.00-17.00: 6 kg x 5-10 ml RES 17.00-18.00: 65 ml F 75 18.00-19.00: 6 kg x 5-10 ml RES 19.00-20.00: 65 ml F75 20.00-21.00: 6 kg x 5-10 ml RES 21.00-22.00: 65 ml F75

Bila anak tidak diare dan tidak dehidrasi lagi, dilanjutkan dengan pemberian F75 setiap 2 jam dst sesuai dengan protap.

POKOK BAHASAN 1

PENETAPAN KONDISI ANAK BERDASARKAN 3 (TIGA) TANDA BAHAYA & TANDA PENTING

5 (LIMA) KONDISI TATALAKSANA BALITA GIZI BURUK

TANDA BAHAYA dan TANDA PENTING (A)

PENANGANAN pada FASE REHABILITASI (E)

PENANGANAN AWAL pada FASE STABILISASI (B)

PENANGANAN pd FASE TRANSISI (D)

PENANGANAN LANJUTAN PADA FASE STABILISASI (C)

HASIL PEMERIKSAAN DAN TINDAKAN PADA BALITA GIZI BURUK

Kondisi I : Renjatan (syok), letargis, muntah dan/ diare/ dehidrasi Rencana I (buku I hal. 7-8) Kondisi II : Letargis, muntah dan/ diare/ dehidrasi Rencana II (buku I hal. 9) Kondisi III: Muntah dan/ diare/ dehidrasi Rencana III (buku I hal. 10)

HASIL PEMERIKSAAN DAN TINDAKAN PADA BALITA GIZI BURUK (lanjutan)

Kondisi IV: Letargis Rencana IV (buku I hal. 11) Kondisi V : Renjatan (-), letargis (-), muntah/ diare/ dehidrasi (-) Rencana V (buku I hal. 12)
(Buku I: Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk, tahun 2005, hal. 6)

P EMERIKSAAN DAN TINDAKAN PADA ANAK GIZI BURUK (LANJUTAN) Pasien datang : Periksa tanda bahaya dan tanda penting Renjatan, letargis, muntah, diare atau dehidrasi Awal fase stabilisasi : Periksa berat badan dan suhu tubuh (aksiler) Tindakan beri oksigen pada renjatan, hangatkan tubuh, beri cairan dan makan sesuai rencana I sampai V dan beri antibiotika sesuai umur

P EMERIKSAAN DAN TINDAKAN PADA ANAK GIZI BURUK (LANJUTAN)


Lanjutan fase stabilisasi : Pemeriksaan laboratorium kadar gula darah, hemoglobin & golongan darah Pemeriksaan fisik umum Panjang badan/ Tinggi badan, dada dan perut Pemeriksaan fisik khusus mata, apakah ada campak, kulit Tindakan Vit A, Asam Folat, Multivit tanpa Fe, pengobatan penyakit penyulit dan stimulasi

P EMERIKSAAN DAN TINDAKAN PADA ANAK GIZI BURUK (LANJUTAN)


Fase transisi : Pemeriksaan berat badan Tindakan makanan tumbuh kejar, multivitamin tanpa Fe, persiapan ibu dan pemberian stimulasi Fase rehabilitasi : Pemeriksaaan monitoring tumbuh kembang Tindakan Makanan tumbuh kejar, multivitamin dengan Fe dan stimulasi

LATIHAN PEMBERIAN CAIRAN


TUGAS KELOMPOK
1. 2. 3. 4. 5. ANAK ANAK ANAK ANAK ANAK TDK DIARE, TDK LETARGIS, 4 Kg, JAM 06.00 TDK DIARE, LETARGIS, 5 Kg, JAM 09.00 DIARE, TDK LETARGIS, 6 Kg, JAM 12.00 DIARE, LETARGIS, 7 Kg, JAM 15.00 DIARE, SYOK, LETARGIS, 8 Kg, JAM 21.00