Vous êtes sur la page 1sur 89

1

Bagian I
PENDAHULUAN

1.1. EKONOMI TEKNIK :

Suatu teknik analisa dalam pengambilan keputusan, dimana
ada beberapa alternatif rancangan teknis atau rencana
investasi yang secara teknis dianggap samasama
memenuhi persyaratan, dan hendak dipilih salah satunya
yang paling ekonomis.


1.2. TUJUAN DARI STUDI EKONOMI :

Membantu dalam menuju pada suatu ketentuan optimum
untuk menjamin kegunaan modal efisien.


1.3. TUJUAN DARI ANALISA EKONOMI :

Memberikan masukan-masukan kepada pengambil
keputusan mengenai penetapan faedah-faedah ekonomis
dari alternatif rencana-rencana yang diusulkan, serta
meyakin kan bahwa sumber-sumber yang tersedia akan
digunakan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki dengan
biaya seminimal mungkin.


Analisis Ekonomi Proyek merupakan suatu kajian secara
ekonomi apakah suatu ide, sasaran atau rencana suatu
proyek akan dapat diwujudkan dengan porsi yang layak
secara ekonomi.


2
Suatu usulan teknik (Engineering Proposal) perlu ditinjau
dalam batasan nilai dan biaya sebelum usulan tersebut
dilaksanakan. Langkah-langkah yang harus dilalui sampai
ketaraf pengambilan keputusan adalah :

Langkah Kreativitas :

Bagaimana cara untuk menggunakan sumber-sumber yang
terbatas secara efisien, misalnya dengan penentuan
fakta-fakta baru dan mengkombinasikan fakta-fakta
tersebut sehingga didapat yang terbaik.

Langkah Ketentuan :

Memilih dari berbagai macam alternatif dengan sebaik-
baiknya, misalnya dengan menggambarkan tiap alternatif &
mengkaji secara jauh gambaran tersebut terhadap proyek
yang akan berlangsung.

Langkah Perubahan :

Dalam rangka memperbandingkan alternatif-alternatif
secara tepat, diubah alternatif-alternatif tersebut
kepada suatu langkah yang umum.

Langkah Keputusan :

Setelah suatu situasi dianalisa dengan teliti & hasil-
hasilnya dievaluasi/dinilai dengan secermat mungkin, maka
diambillah suatu keputusan.





3
Bagian II
DASAR PENGENALAN EKONOMI TEKNIK


EKONOMI TEKNIK ilmu pengetahuan yang melengkapi
kriteria ekonomi untuk memilih yang
paling baik dari suatau kelompok
alternatif desain-desain teknik yang
dipersiapkan.

Inti dari Ilmu Ekonomi Teknik :

Suatu pengambilan keputusan yang didasarkan pada
perbandingan nilai-nilai harga dari beberapa alternatif
rangkaian kegiatan, sehubungan dengan keperluan
pembiayaan.


DEFINISI- DEFINISI :

Ekonomi Teknik merupakan perpaduan dari Ilmu Ekonomi dan
Ilmu Teknik


2.1. ILMU EKONOMI menurut Dr. Paul A Samuelson

Suatu studi mengenai bagaimana manusia dan masyarakat
sampai kepada pemilihan, dengan atau tanpa
menggunakan uang, untuk menggunakan sumber-sumber
produktif yang langka diperoleh, yang mempunyai
beberapa alternatif kegunaan untuk memproduksi
beberapa macam komoditi, dan mendistribusikan nya
untuk keperluan konsumsi, baik untuk waktu sekarang
maupun untuk waktu mendatang, diantara macam rakyat
dan golongan masyarakat.
4
2.2. KEAHLIAN TEKNIK & PENGELOLAAN menurut
Dewan Persatuan Insinyur untuk Pengembangan
Profesi (Amerika Serikat).

Suatu profesi dimana suatu pengetahuan yang terdiri
dari matematika dan pengetahuan-pengetahuan alam,
yang diperoleh dengan belajar, pengalaman dan praktek
yang diterapkan dengan pendapat dan pertimbangan,
untuk mengembangkan caracara menggunakan bahan
bahan dan tenaga alam secara ekonomis untuk manfaat
manusia.


2.3. EFISIENSI

Hasil (output ) PFT (Produk Fisik Total)
Efisiensi fisik = ----------------- = --------------------------
Masukan (input) X (masukan)


Persamaan efisiensi fisik 100 %, bila dikaitkan dengan
masalah energi dan bahanbahan lainnya. Akan tetapi, bila
dikaitkan uang diperhitungkan sebagai bahan, maka akan
timbul suatu persamaan lain yang dinyatakan sebagai :

Pendapatan rupiah
Efisiensi finansial = -----------------------------
Pembelanjaan rupiah


Persamaan efisiensi financial dapat 100 %, karena
pendapatan sangat memungkinkan untuk melebihi
pembelanjaan.
5
Cara mengukur efisiensi yang lebih umum, dengan
menggunakan tingkat pengembalian tahunan, yang dapat
dinyatakan sebagai :

Keuntungan bersih tahunan
Tingkat pengembalian tahunan = ------------------------------
Modal yang diinvestasikan


2.4. UNSUR UNSUR BIAYA

bahanbahan langsung (direct materials ),
buruh langsung (direct labour ),
peralatan langsung ( direct machines )
ongkos tambahan (overhead).

Upahupah buruh dibagi dalam dua katagori :

upah langsung (direct cost)
upah tidak langsung (indirect cost).


Overhead total ( Rp. ) utk suatu periode
TK Overhead = ----------------------------------------------
Biaya buruh langsung total ( Rp. )


Biaya overhead per unit = tk overhead x biaya buruh
langsung per unit






6
2.5. PROSES KEAHLIAN TEKNIK (The Engineering Process)

Beberapa tahap proses keahlian teknik, yaitu :

1. Penentuan sasaran, dengan mengikut sertakan penelitian
untuk sasaransasaran baru guna pengetrapan tekniknya
yaitu dengan mempelajari apa yang diperlukan
masyarakat yang dapat disediakan atau dipenuhi oleh
keahlian-teknik. Jadi survei-survei pasar sangat
diperlukan untuk mempelajari apa yang diinginkan
masyarakat.

2. Pengenalan faktorfaktor strategis, dimana faktor-
faktor strategis adalah faktorfaktor yang apoabila
kepadanya diadakan perubahan atau penyesuaian akan
menghilangkan batasanbatasan yang menghambat
kesuksesan pelaksanaan.

3. Penentuan saranasarana, setiap kemungkinan harus di
evaluasi untuk menentukan mana yang paling menguntung
kan dalam istilah ekonomi secara keseluruhan.

4. Evaluasi usulanusulan teknik, dalam istilah biaya
perbandingan adalah merupakan suatu segi yang penting
sekali dalam proses keteknikan dan juga merupakan
sebuah unsur esensial dalam pemuasan kebutuhan dengan
efisien yang maksimal.

5. Asistensi dalam pembuatan keputusan, memperbaiki
ketentuan keputusan berkenaan dengan kebutuhan untuk
memenuhi tujuan aplikasi teknisnya.



7
Bagian III
ANALISIS PENDAPATAN & ALIRAN KAS


3.1. PROFIL BIAYA DAN PENDAPATAN
A. Biaya
Pengertian Biaya dalam kegiatan industri konstruksi
dibedakan menjadi dua yaitu Biaya Utama dan Biaya Operasi
atau Produksi.
1. Biaya Utama Biaya pembangunan fisik serta
pengeluaran lainnya yang berkaitan.
Biaya tersebut meliputi :
Modal tetap untuk membangun proyek (misalnya
:pembelian lahan; penyiapan lahan; membuat bangunan
sipil; biaya untuk engineering, supervisi & manajemen,
biaya studi kelayakan dll).
Modal kerja/biaya keperluan operasi dan produksi
pertama kali (misalnya : pembelian bahan mentah untuk
start up; gaji karyawan; suku cadang tahun pertrama
dll).
2. Biaya Operasi atau Produksi
Pengeluaran yang diperlukan agar
kegiatan operasi dan produksi
lancar.
Biaya tersebut meliputi :
Bahan mentah
Tenaga kerja (upah penyelia; gaji; tunjangan & bonus
pegawai).
Utiliti & penunjang/pengeluaran untuk mendukung
operasi & produksi (bahan bakar, bahan pencegah
kebakaran).
Administrasi, manajemen & overhead (biaya komunikasi;
ATK; Pajak; Asuransi dll).

8
B. Pendapatan
Pendapatan Jumlah pembayaran yang diterima
dari penjualan barang atau jasa.

3.2. ANALISIS LABA & TITIK IMPAS
A. Analisis Laba
Tujuan dilakukan analisis laba/profitability adalah untuk
mengetahui besarnya perubahan laba bila faktor-faktor seperti
biaya produksi, volume dan harga penjualan berubah.
Biaya operasi produksi dikelompokkan menjadi :
1. Biaya Tetap tidak tergantung volume produksi,
misalnya :
- biaya untuk kompensasi manajemen
- biaya pajak bangunan (PBB).
Rupiah (ribu)
400 -

300 - Biaya Tetap

200 -

100 -
! ! ! ! ! ! !
0 10 20 30 40 50 60 70
Satuan Jumlah Produksi

2. Biaya Tidak Tetap mempunyai hubungan erat
dengan tingkat produksi.

Rupiah (ribu)
400 -
Biaya Tidak Tetap
300 -

200 -

100 -
! ! ! ! ! ! !
0 10 20 30 40 50 60 70
Satuan Jumlah Produksi
9


Dimana : TVC = Total biaya variabel
VC = Biaya tidak tetap per unit
Q = Jumlah produksi



B. Titik Impas (Break Even Point)
Titik Impas -Adalah Titik dimana total biaya
produksi sama dengan pendapatan.
-Memberi petunjuk bahwa tingkat
produksi telah menghasilkan
pendapatan yang sama besarnya
dengan biaya produksi yang
dikeluarkan.

Grafik : Hubungan Volume Produksi, Total biaya & Titik Impas






















TVC = VC x Q
Total Biaya Produksi = Biaya Tetap + Biaya Tidak Tetap
Biaya
(Rupiah)
d (pendapatan)
Laba
i = titik impas
c (biaya total)
(a + b)
b (biaya tidak tetap)
a (biaya tetap)
Volume produksi (jumlah output)
Q
i

10
Dengan asumsi bahwa harga penjualan per unit produksi adalah
konstan maka jumlah unit pada titik impas :

Q
i
x P = FC + (Q
i
x VC)
VC P
FC
Q
i

=
Pendapatan = FC + Qi x VC

Dimana : Q
i
= Jumlah unit (volume) yang dihasilkan & terjual
pada titik impas.
FC = Biaya tetap
P = Harga penjualan per unit
VC = Biaya tidak tetap per unit


Contoh Soal :

Perusahaan PT. Adinda bergerak dalam bidang industri mainan
anak-anak. Omzet penjualan sejumlah 10.000 unit per tahun
dengan harga per unit Rp. 24.000,-. Adapun biaya tetap dan
biaya tidak tetap dapat dilihat di bawah ini :
- gaji pegawai & buruh per tahun : Rp. 80 juta
- perawatan pabrik per tahun : Rp. 20 juta
- bahan mentah per tahun : Rp. 100 juta
- biaya administrasi per tahun : Rp. 10 juta
- bahan bakar & listrik per tahun : Rp. 25 juta
- pajak bumi & bangunan per tahun : Rp. 5 juta
- bunga Bank : Rp. 15 juta
- biaya transportasi & distribusi produk per tahun Rp. 30 juta
- biaya lain-lain pada biaya tetap : Rp. 10 juta
- biaya lain-lain pada biaya tidak tetap : Rp. 15 juta

Hitung : Jumlah pendapatan dan volume produksi pada titik
impas.


11
Penyelesaian :

- Biaya tetap per tahun = FC = 80 + 20 + 10 + 5 + 15 + 10
= Rp. 140.000.000,-
- Biaya tidak tetap per tahun = VC = 100 + 25 + 30 + 15
= Rp. 170.000.000,-
- Biaya tidak tetap per unit = VC = =

, 000 . 17 .
000 . 10
, 000 . 000 . 170 .
Rp
Rp

- Jumlah unit (volume) pada titik impas = Q
i
=
) ( VC P
FC


=
) , 000 . 17 . , 000 . 24 . (
, 000 . 000 . 140 .


Rp Rp
Rp
= 20.000 unit

- Pendapatan pada titik impas = (20.000) (Rp.24.000,-)
= Rp. 480.000.000,-

3.3. ALIRAN KAS INVESTASI
Aliran kas investasi dapat digunakan untuk menganalisis
(diterima atau ditolaknya) penambahan asset baru.
Aliran kas proyek (investasi) dikelompokkan menjadi :
1. Aliran kas awal Pengeluaran untuk merealisasi
gagasan sampai menjadi
kenyataan fisik.
meliputi :
1) Pembelian asset baru (peralatan, material dll).
2) Pengeluaran yang dikapitalisasikan (pengaspalan,
konstruksi dll).
3) Modal kerja
4) Total aliran kas awal [ (1 + 2 + 3) ]
2. Aliran kas periode operasi
meliputi :
5) Pendapatan
6) Pengeluaran untuk operasi
7) Overhead
8) Depresiasi
9) Pemasukkan sebelum pajak [ (5 6 7 8) ]
12
10) Pajak pendapatan
11) Pemasukkan setelah pajak [ (9 10) ]
12) Depresiasi
13) Total aliran kas periode operasi [ (11 + 12) ]
3. Aliran kas terminal Nilai sisa dari asset dan
pengembalian modal kerja.
meliputi :
14) Nilai sisa asset baru
15) Pajak penjualan asset baru (bila ada)
16) Recovery modal kerja
17) Total aliran kas terminal [ 14) 15) + 16) ]




Contoh Soal :

PT. Aulia yang bergerak dalam bidang industri tekstil ingin
memperluas unit pemintalannya sampai 2 kali lipat kapasitas
terpasang. Pengeluaran untuk membeli mesin-mesin baru
sebesar Rp. 860 juta. Ongkos transportasi dan pemasangan Rp.
40 juta. Unit baru ini direncanakan mampu beroperasi selama 6
tahun. Untuk mengoperasikan unit baru tersebut diperlukan
modal kerja Rp. 60 juta. Pada akhir masa operasi mesin ditaksir
masih memiliki nilai sisa Rp. 72 juta. Dengan adanya perluasan
ini perusahaan mengharapkan pemasukkan kotor selama 6 tahun
berturut-turut sebesar Rp. 240 juta; Rp. 240 juta; Rp. 280
juta; Rp. 280 juta; Rp. 240 juta dan Rp 220 juta. Sedangkan
besar pajak 25 % dan biaya operasi rata-rata sebesar Rp. 50
juta per tahun.

Pertanyaan :

Buat aliran kas proyek (investasi) perluasan kapasitas tersebut
diatas, bila dipakai metoda depresiasi straight line.
ALIRAN KAS BERSIH = [ ((13 4) + 17) ]
13
Penyelesaian :

TAHUN

0 1 2 3 4 5 6
A. Aliran Kas Awal
- Harga asset baru
- Pengeluaran yang dikapitalisasi
- Modal kerja
Sub total

B. ALiran Kas Operasional
- Pendapatan
- Biaya Operasi
- Depresiasi

- Pendapatan Sebelum Pajak
- Pajak 25%

- Pendapatan Setelah Pajak
- Depresiasi
Sub total

C. Aliran Kas Terminal
- Nilai Sisa
- Pajak Terhadap Nilai sisa
- Recovery modal Kerja
Sub total

Aliran kas bersih ( juta Rupiah)

-860
- 40
- 60
-960



















-960







240
- 50
-150

40
- 10

30
150
180







180







240
- 50
-150

40
- 10

30
150
180







180







280
- 50
-150

80
- 20

60
150
210







210







280
- 50
-150

80
- 20

60
150
210







210







240
- 50
-150

40
- 10

30
150
180







180







220
- 50
-150

20
- 5

15
150
165


72
- 18
60
114

279


Jadi PT. Aulia dengan modal Rp. 960 juta akan memperoleh
aliran kas masuk selama 6 tahun berturut turut Rp. 180 juta;
Rp. 180 juta; Rp. 210 juta; Rp. 210 juta; Rp. 180 juta dan Rp.
279 juta.
Aliran Kas di atas menjadi model untuk di analisis dengan
berbagai macam kreteria yang menentukan di terima atau
ditolaknya suatu usulan proyek (investasi).




14
Contoh Soal :

Suatu Perusahaan komoditi mainan anak anak ingin memperluas
usahanya dengan memperkenalkan Produk baru disamping
produk lama yang telah bejalan. Investasi untuk membangun
fasilitas produk baru tersebut adalah Rp 400 Juta, dan modal
kerja sebesar Rp. 100 juta. Setelah dikurangi biaya operasional
dan prduksi serta biaya lainnya Perkiraan pendapatan bersih
pertahun adalah 120 juta. Fasilitas baru diperkirakan bisa
beroperasi selama 5 tahun dengan nilai sisa Rp 32 juta. Dengan
diperkenalkannya produk baru tersebut kemungkinan besar
akan mengurangi jumlah penjualan produk lama sebesar 20 %
atau Rp 20 juta per tahun.
Pertanyaan : Buatlah aliran Kas investasi
Penyelesaian :

TAHUN
0 1 2 3 4 5

A. Aliran Kas Awal
- Biaya Pertama
- Modal kerja
Sub total

B. ALiran Kas Operasional
- Pendapatan Produksi baru
- Pendapatan Produk lama kurang
- Depresiasi

- Pendapatan Sebelum Pajak
- Pajak 25%
- Pendapatan Setelah Pajak
- Depresiasi
Sub total

C. Aliran Kas Terminal
- Nilai Sisa
- Pajak Terhadap Nilai sisa
- Recovery modal Kerja
Sub total

D. Aliran kas bersih ( A = B + C )


- 400
- 100
- 500


















- 500







120
- 20
- 80

20
- 4
16
80
96







96







120
- 20
- 80

20
- 4
16
80
96







96







120
- 20
- 80

20
- 4
16
80
96







96







120
- 20
- 80

20
- 4
16
80
96







96







120
- 20
- 80

20
- 4
16
80
96


32
- 8
100
124

220

15
Bagian IV
SUKU BUNGA DAN DIAGRAM CASH FLOW


4.1. BUNGA DAN SUKU BUNGA

Uang asset yang sangat berharga sehingga dapat
dimiliki atau dipinjam oleh sebuah perusahaan
atau perorangan.

Jika biaya investasi harus dipinjam, maka uang yang harus
dibayarkan oleh peminjam (borrower) kepada pemberi
pinjaman (lender) berhak mendapatkan suatu bentuk
hadiah yang dikenal dengan istilah bunga (interest) yang
disesuaikan dengan periode waktu pengembaliannya. Bunga
yang dibayarkan oleh borrower dalam hal ini masuk
golongan biaya (cost).

Bunga = jumlah utang sekarang pinjaman semula

Bunga dalam aspek lain adalah sejumlah uang yang
diterima investor sebagai akibat dari menginvestasikan
dana/uang dalam suatu urusan produktif pada suatu waktu
dimasa lalu. Bunga yang diterima investor dalam hal ini
adalah keuntungan (profit).

Bunga = jumlah total yang terkumpul investasi semula

Bunga pertambahan pada jumlah uang yang semula
dipinjam atau diinvestasikan.

Pinjaman atau investasi semula ditunjukkan sebagai uang
pokok (principal). Suku bunga ditunjukan sebagai suatu
persentase untuk waktu satu tahun atau kurang.
16
IAPUT
Suku bunga = ---------------- x 100 %
OA
Dimana :
IAPUT = Interest accrued per unit time
(bunga yang tumbuh per satuan waktu)
OA = Original amount (jumlah semua, interval atau
pinjaman )

Contoh 4.1.a :

Pada tangal 13 September diinvestasikan uang sejumlah Rp
5.000.000 dan mengambil total Rp 6.000.000 persis satu
tahun kemudian.

Hitung : a. bunga yang diperoleh dari investasi semula
b. suku bunga dari investasi

Penyelesaian :
a. Bunga = Rp 6.000.000 Rp 5.000.000
= Rp 1.000.000,-

Rp 1.000.000
b. Suku bunga = -------------------- x 100 %
Rp 5.000.000
= 20 % per tahun

Contoh 4.1.b :

Pada tangal 21 Maret 2006 CV. Maya meminjam uang
sejumlah Rp 100.000.000. Pada tanggal 21 Maret 2007
perusahaan tersebut harus mengembalikan Rp 122.000.000.

Hitung : a. bunga pinjaman
b. suku bunga pinjaman
17
Penyelesaian :
a. Bunga = Rp 122.000.000 Rp 100.000.000
= Rp 22.000.000,-

Rp 22.000.000
b. Suku bunga = --------------------- x 100 %
Rp 100.000.000
= 22 % per tahun


4.2. NILAI WAKTU DARI UANG ( Time Volue of Money )

Nilai waktu (time value) adalah merupakan suatu konsep
dasar dari finance. Bilamana expected cash inflows dan
outflows yang berkenaan dengan suatu keputusan bisnis
terjadi dalam waktu yang sama dan dengan tingkat
kepastian yang sama maka penganalisaan suatu keputusan
tidaklah sukar. Bila terdapat dua atau lebih alternatif
keputusan pilihlah alternatif yang menawarkan net inflow
yang terbesar.

Nyatanya, keputusankeputusan pemakaian dana tidak
demikian sederhananya, tetapi saling terkait satu dengan
lainnya dalam suatu dimensi waktu. Pemasukan yang
diharapkan sekarang erat hubungannya dengan pemakaian
dana di masa lalu.

Dengan suku bunga tahunan 20 %, Rp 1.000.000 yang
diinvestasikan pada sebuah bank, akan dikembalikan
sebesar Rp 1.000.000 dengan bunga Rp. 200.000. Jadi Rp
1.000.000 hari ini akan bernilai lebih banyak dari Rp.
1.000.000 satu tahun dari sekarang, dan dengan bunga 20
% kita mengetahui bahwa Rp. 1.000.000 benarbenar
ekivalen dengan Rp. 1.200.000 setahun dari sekarang.

18
Nilai waktu dari uang hubungan antara nilai uang
hari ini dan nilainya pada
suatu saat di masa datang
dengan mempertimbangkan
bunga.

4.3. CASH FLOW

Cash flow penerimaan dan pengeluaran dalam suatu
interval waktu tertentu.

Pendapatan (penerimaan) cash dikenal sebagai positive
cash flow atau cash flow in atau cash inflow.
Pengeluaran (biaya) cash dikenal sebagai negative cash
flow atau cash flow out atau cash outflow.
Jika suatu perusahaan mempertimbangkan untuk membeli
sebuah peralatan, baru atau bekas, adalah perlu untuk
mempelajari bakal (prospective) pendapatanpendapatan
dan biayabiaya yang akan timbul dari peralatan tersebut.

Berikut adalah contoh perkiraan biayabiaya dan
pendapatanpendapatan yang terjadi akibat dari
pembelian sebuah peralatan baru. Tanda minus (-)
menunjukan suatu pengeluaran dan tanda plus (+)
menunjukan pendapatan.
Karena biaya-biaya dan pendapatan-pendapatan biasanya
terjadi pada interval waktu yang berbeda-beda, maka
untuk menyederhanakan dibuat asumsi :
- rangkaian biaya dan pendapatan dan jumlah-jumlah yang
akan datang diasumsikan terjadi pada akhir periode
- jumlah-jumlah sekarang terjadi pada awal periode




19
Tahun Cash flow Keterangan
Awal tahun
pertama
0 -Rp 9.000.000 Peralatan dibeli
sekarang seharga
Rp9.000.000
kontan/cash
Akhir tahun 1 - Rp 300.000
Biaya
pemeliharaan Rp.
300.000 / th
Akhir tahun 2 - Rp 300.000
Akhir tahun 3 - Rp 300.000
Akhir tahun 4
- Rp 300.000
+Rp 3.500.000

Peralatan dijual
pada akhir tahun
ke empat seharga
Rp 3.500.000


Diagram Cash Flow -Suatu gambar atau model grafis
yang memperlihatkan flow of
money (arus uang) yang
dikeluarkan dan diterima pada
periode waktu tertentu.
-Diagram ini sangat berguna
dalam memecahkan problem-
problem ekonomi rekayasa.

Ketentuan-ketentuan dalam Diagram Cash Flow :
1. Garis waktu horizontal menunjukkan waktu (dibagi
menjadi n perioda) dimulai waktu nol/waktu sekarang.
2. Bilangan-bilangan bulat pada garis horizontal
menunjukkan periode bunga.
3. Anak panah yang mengarah ke atas menunjukkan
pendapatan-pendapatan sebagai cash flow positif (+),
4. Anak panah yang mengarah ke bawah menunjukkan
biaya-biaya, sebagai cash flow negative (-),
5. Terkadang cash flow yang besar digambarkan garis
yang lebih panjang.
20
Contoh diagram cash flow pada gambar dibawah ini
menjelaskan suatu biaya pada akhir tahun ke 1 dan ke 2
dan juga pendapatan pada akhir tahun ke 5.

(+)

Cash flow
(Rp.) 0 1 2 3 4 5
(-)


Contoh 4.3.a. :

Investasi dari suatu proyek sebesar Rp. 9.000.000,-, biaya
pemeliharaan Rp 300.000,-/tahun pada akhir tahun ke 1, 2,
dan 3, nilai jual kembali pada tahun ke 4, Rp 3.500.000,-.
Gambarkan diagram cash flow.

Rp. 3.500.000,-
Tahun 0 1 2 3 4

Rp. 300.000,-
Rp 9.000.000,-


Contoh 4.3.b. :

CV. Fantastic Tour membeli suatu peralatan produksi Rp.
100.000.000,-. Biaya pemeliharaan alat tersebut sebesar
Rp. 5.000.000,-/tahun. Dari hasil produksinya CV. Fantastic
Tour akan mendapatkan Rp. 20.000.000,- /tahun. Pada
akhir periode, alat tersebut dapat dijual lagi seharga Rp.
30.000.000,-. Bila periode pemakaian alat 10 tahun,
gambarkan diagram cash flownya.



21
Penyelesaian : Rp. 30.000.000,-
Rp.20.000.000,-


0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Rp.5.000.000,-

Rp. 100.000.000,-


Atau :
Rp. 30.000.000,-
Rp.15.000.000,-


0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10


Rp. 100.000.000,-


4.4. PENGGUNAAN TABEL BUNGA

Rumus-rumus Ekonomi Teknik memang terkesan rumit dan
cukup kompleks. Namun tidak perlu memperhatikan
kompleksitas faktor-faktor tersebut karena ada tabel
bunga yang membuat aplikasi rumus-rumus bunga menjadi
hampir simpel.

Tabel bunga akan dapat menghemat waktu
Pada tabel ditemukan nilai-nilai numerik dari : F/P ;
P/F ; F/A ; A/F ; P/A ; A/P dan A/G untuk berbagai i
dan n.
Setiap tabel berisi nilai-nilai hanya untuk satu suku
bunga i.
Periode waktu n diperlihatkan pada kolom paling
sebelah kiri dan sebelah kanan dari setiap halaman.

22
Contoh penggunaan tabel :

Untuk mengetahui sejumlah uang sebesar Rp 1.000.000,-
pada empat tahun mendatang, yang diinvestasikan
sekarang, 20 % per tahun. Langkah penyelesaian problem
ini seperti berikut :

1. Dapatkan tabel pada lampiran tabel bunga untuk i = 20 %
2. Karena n yang ditentukan adalah 4 tahun, baca kolom n
untuk n = 4
3. Jalan terus secara horisontal pada garis n = 4 ke kolom
F/P, mendapatkan F/P = 2,0736.
Untuk i = 20 % pada tahun keempat, F/P = 2,0736, maka
(F/P, 20 %, 4) = ( 1 + 0,20 )
4
= 2,0736. Nilai 2,0736
tentu saja dapat dihitung menggunakan format matematis
untuk SPCAF (persamaan 5.1).
4. Karena P = Rp 1.000.000 dan F/P = 2,0736, maka
menggunakan persamaan 5.1.A, F = P(F/P, 20%, 4).
Didapatkan F = Rp 1.000.00 x 2,0736 = Rp 2.073.600,
adalah jumlah yang akan datang yang dihasilkan dari
menginvestasikan Rp. 1.000.000 uang pokok plus bunga
majemuk pada 20 % setelah 4 tahun.

Contoh 4.4. :

Seorang manajer servis merencanakan akan mengganti
sebuah peralatan servis 5 tahun dari sekarang. Dana yang
didepositokan pada akhir tahun selama 5 tahun adalah Rp.
500.000,-. Dengan tingkat bunga 15 %, berapa dana yang
akan tersedia untuk menggantikan peralatan ?

Penyelesaian :

A = Rp. 500.000,- i = 15 % n = 5 tahun F = ?

23
F = ?

0 1 2 3 4 5 tahun


A = Rp. 500.000,-

F = A . (F/A, i %, n)
= Rp. 500.000,- (F/A, 15 %, 5)
= Rp. 500.000,- (6,7423)
= Rp. 3.371.150,-


4.5. EKIVALENSI

Ekivalensi faktor penting dalam analisis ekonomi
teknik.

Jika kita akan membandingkan dua atau lebih situasi, maka
karakteristik mereka harus ditetapkan dalam suatu dasar
ekivalen.

Contoh :

Mana yang lebih bernilai 2.000 lbs (pounds) produk B atau
1.000 kg produk B ?
Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, kedua jumlah ini
perlu ditetapkan pada suatu dasar ekivalen dengan
menggunakan faktor konversi yang tepat.
Konversi kilogram ke pound atau pound ke kilogram.

Dua faktor yang terlibat dalam ekivalensi jumlah uang
adalah nilai waktu dari uang dan suku bunga. Dengan
menggunakan rumusrumus bunga, kita akan mengetahui
bahwa sejumlah uang yang berada pada saat yang berbeda
dapat sama dalam nilai ekonomis.
24
Misalnya, jika suku bunga adalah 10 % per tahun, Rp 100.000
hari ini (yakni sekarang) akan ekivalen dengan Rp 110.000
satu tahun dari sekarang karena ;
Jumlah bertambah = Rp 100.000 + Rp 100.000 (0,10)
= Rp 110.000

Menggunakan rumus bunga, dengan i = 10 % , n = 1 tahun ;
P = Rp 100.000 akan ekivalen dengan F = Rp 110.000.
F = P (F/P,i,n), maka F = Rp 100.000 (F/P, 10 %, 1)
F = Rp 100.000 (1,1000) = Rp.110.000,-
Rp 100.000 akan ekivalen dengan Rp 110.000 bila suku bunga
adalah 10 % pertahun. Pada suku bunga yang lebih rendah
atau lebih tinggi bagaimanapun, Rp 100.000 hari ini tidak
ekivalen dengan Rp 110.000 satu tahun dari sekarang.

4.6. MENGEVALUASI ALTERNATIF ALTERNATIF
DENGAN EKIVALENSI

Pertimbangkan contoh berikut dimana kita ingin memilih
yang lebih baik di antara dua alternatif peralatan : A dan B.
Kedua peralatan ini tidak dapat dievaluasi hanya dengan
pemeriksaan.

Tahun Peralatan A Peralatan B
0 - Rp 18.000.000 - Rp 25.000.000
1 - Rp 3.450.000 - Rp 2.400.000
2 - Rp 3.450.000 - Rp 2.400.000
3 - Rp 3.450.000 - Rp 2.400.000

Mana peralatan yang akan dipilih ?

Peralatan A : Biaya awal lebih rendah, biaya eksploitasi
lebih tinggi.
Peralatan B : Biaya awal lebih tinggi, biaya eksploitasi lebih
rendah.
25
Tanpa memperhitungkan nilai waktu terhadap uang, seorang
analis akan menghitung sebagai berikut :

Peralatan A Rp 18.000.000 + 3 (Rp 3.450.000) =
Rp 28.350.000,-

Peralatan B Rp 25.000.000 + 3 (Rp 2.400.000) =
Rp 32.200.000,-

Atas dasar analisis ini peralatan A akan dipilih karena
biaya totalnya lebih rendah.
Validkah keputusan demikian untuk memilih A ?
Adalah tidak benar untuk mengatakan peralatan A (Rp
28.350.000,-) akan lebih baik secara ekonomis dari
peralatan B (Rp. 32.200.000,-).
Mengapa ? Statemen demikian akan benar jika suku bunga
yang dipertimbangkan adalah nol.
Karena uang mempunyai nilai waktu, kita tidak dapat
menjumlahkan sejumlah uang pada batas waktu yang
berbeda secara langsung.

Oleh karena itu, untuk mengambil keputusan dalam kasus
diatas, cash flow dari kedua peralatan, harus dimanipulasi
secara matematis sehingga mereka dapat diperbandingkan
secara seksama.

Jadi nilainilai yang valid untuk dibandingkan adalah nilai
nilai ekivalen sebanding (pada waktu sekarang, yang akan
datang atau tahunan) dari setiap alternatif peralatan.

Sekarang, kita akan membandingkan kedua peralatan di atas
berdasarkan nilai-nilai ekivalensinya. Untuk kalkulasi
kalkulasi ekivalensi, kita perlu memilih satu suku bunga,
misalnya menggunakan suku bunga 20 %.

26
Peralatan A :

Pengeluaran 0 1 2 3

Rp 3.450.000
Rp 18.000.000


P
A
= Rp 18.000.000 + Rp 3.450.000 (P/A,20 %, 3)
= Rp 18.000.000 + Rp 3.450.000 (2,1064)
= Rp 25.267.080


Peralatan B :

Pengeluaran 0 1 2 3

Rp 2.400.000
Rp 25.000.000


P
B
= Rp 25.000.000 + Rp 2.400.000 (P/A,20 %, 3)
= Rp 25.000.000 + Rp 2.400.000 (2,1064)
= Rp 30.055.360

Peralatan A yang dipilih (lebih baik secara ekonomis).

Perlu dicatat bahwa Rp 25.267.080 dan Rp 30.055.360
adalah hanya jumlahjumlah ekivalen yang valid untuk
dibandingkan, tetapi pengeluaran aktual dua nilai tersebut
tidak akan terjadi.





27
4.7. BUNGA BIASA ( Simple Interest )

Bunga Biasa Bunga yang dihasilkan hanya dari
principal yang pada awalnya diinvestasi
kan atau dipinjam (mengabaikan bunga
yang tumbuh pada periode
sebelumnya).

Rumus berikut akan digunakan untuk menghitung bunga
total, I, yang dihasilkan atau dibayar.

I = P i n

Dimana :
I = bunga total
P = jumlah principal yang dipinjamkan atau nilai sekarang
i = tingkat/suku bunga pada suatu periode
n = waktu (jumlah periode bunga)
F = jumlah total yang diterima/dibayar (principal + bunga)

Bila seorang meminjamkan sejumlah uang (P) dengan bunga
I maka uang yang harus dikembalikan adalah :

F = P + I = P + P i n atau
F = P (1 + i n)


Contoh 4.7.a. :

Modal sebesar Rp 10.000 dipinjamkan untuk jangka waktu 2
tahun dengan bunga 10%, dimana bunga hanya diperhitung
kan pada modal (bunga biasa). Berapa besar bunga dan
jumlah total sesudah akhir tahun kedua ?


28
Penyelesaian :
Diagram Cash Flow
F = ?

0 1 2
P = Rp 10.000,-

Bunga yang diterima pada akhir tahun kedua
I = P i n = Rp 10.000 x 0,10 x 2 = Rp 2.000,-
Jumlah total pada akhir tahun kedua
F = P + I = Rp 10.000 + Rp 2.000 = Rp 12.000,-
Perlu dicatat bahwa modal mendapat bunga sebesar Rp
10.000x 10 % = Rp 1.000 pada akhir tahun pertama, akan
tetapi tidak ada bunga yang diperhitungkan pada tambahan
yang Rp 1.000 ini.

Contoh 4.7.b. :

Jika uang dipinjam sebesar Rp. 50.000,- untuk waktu 4
tahun dengan bunga 15 % per tahun. Berapa hutang yang
harus dibayar setelah 4 tahun ?

Penyelesaian :

Diagram Cash Flow
P = Rp. 50.000,-

0 1 2 3 4
F = ?

Bunga per tahun : Rp. 50.000,- (0,15) = Rp. 7.500,-

Bunga selama 4 tahun :
I = P.i.n
= Rp. 50.000,- . 0,15 . 4 = Rp. 30.000,-

29
Jumlah utang yang harus dibayarkan setelah 4 tahun :
F = P + I
= Rp. 50.000,- + Rp. 30.000,- = Rp. 80.000,-

Soal :

1. Seseorang meminjam uang Rp. 10.000,- dengan bunga i =
20 % per tahun. Tiga bulan atau 1/4 tahun kemudian uang
dikembalikan. Berapa besarnya ?
2. Bagaimana bila pengembaliannya 6 bulan kemudian ?


4.8. BUNGA PELIPATAN/MAJEMUK/KOMPON (Compound
Interest)

Bunga Pelipatan/Majemuk/Kompon
-Bunga yang dihasilkan dari principal yang
diinvestasikan/dipinjam, dengan memperhatikan
bunga yang tumbuh pada periode-periode bunga
sebelumnya.
-Digunakan sebagai dasar dalam studi-studi Ekonomi
Teknik.
Apabila modal sebesar Rp 10.000 pada contoh terdahulu
dipinjamkan dengan bunga 10 % setahun, dan pada akhir
tahun pertama bunganya sebesar Rp 1000 ditambahkan
sebagai pinjaman pada modal semula, maka pada akhir tahun
kedua, bunga yang harus dibayar menjadi Rp 11.000 x 10 %
= Rp 1100. Proses pembayaran bunga semacam ini dikenal
sebagai bunga kompon (compound interest).

Secara matematis dapat disajikan sebagai berikut :
Jika jumlah semula P, dan diinvestasikan dengan suatu
tingkat bunga i, maka :
Bunga yang diperoleh pada akhir tahun pertama, I
1
= P.i.
Jumlah total menjadi, F
1
= P + I
1
= P + Pi atau F
1
= P (1 +i)
30
Bunga untuk tahun kedua, I
2
= P
2
.i =F
1
.i = P (1 + i). i
Jumlah total F
2
= P
2
+ I
2
= F
1
+ I
2
= P (1 + i) + P (1 + i) i
= P (1 + i) ( 1 + i)
F
2
= P (1 + i)
2

Jadi F
2
= Rp 10.000 (1 + 0,10)
2

= Rp 10.000 (1,10)
2
= Rp 12.100
Bunga untuk tahun ketiga, I
3
= P
3
.i =F
2
.i = P (1 + i)
2
. i
Jumlah total F
3
= P
3
+ I
3
= F
2
+ I
3
= P(1 + i)
2
+ P(1 + i)
2
.i
= P (1 + i)
2
(1 + i)
F
3
= P (1 + i )
3

Jika simbol n sekarang menggantikan jumlah periode waktu
(waktu n tidak mutlak satu tahun), maka bentuk umum
persamaan menjadi :


Fn = P (1 + i)
n



Jika modal sebesar Rp 10.000 dengan tingkat bunga 10 %
setahun dinyatakan secara kwartal berganda, maka
waktu/periode menjadi 3 bulan, dan tingkat bunga i menjadi
2,5 %. Jika periode total diberikan untuk 2 tahun, maka
jumlah n menjadi 8 dan untuk setiap Rp 10.000 modal
semula menjadi :

F = Rp 10.000 (1 + 0,025)
8

= Rp 10.000 (1,025)
8
= Rp 10.000 (1,21840)
= Rp 12.184,-

Bunga boleh dihitung untuk suatu periode waktu setahun,
setengah tahun, perkwartal, bulanan, mingguan dsb.



31
Contoh :

Jika $ 1000 diinvestasikan dengan bunga majemuk 6 %
pada 1 Januari 1997, berapakah yang akan diperoleh pada
1 Januari 2007 ?

Penyelesaian :

P = $ 1000
i = 6 %
n = 10 tahun
F = ?
Diagram Cash Flow
F = ?

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 tahun
P = $ 1000

Jumlah uang yang akan diperoleh pada 1 Januari 2007
adalah :

F = P ( 1 + i )
n

= $ 1000 ( 1 + 0,06)
10

= $ 1791

Soal :

1. Bila ditentukan bahwa n menunjuk periode 6 bulan (satu
semester), dengan tingkat bunga majemuk, maka berapa
yang akan diperoleh waktu 6 bulan dan satu tahun pada
contoh soal tersebut diatas ?
2. Bagaimana pula bila tingkat bunga majemuk nya perbulan,
berapa yang akan diperolehnya dalam setahun dan 10
tahun ?


32
4.9. LAJU/TINGKAT BUNGA NOMINAL (Nominal Interest
Rates)

Tingkat Bunga Nominal menggandakan bunga yang
ada pada suatu periode
waktu ke periode waktu yang
lebih banyak.

Dengan perjanjian secara khusus bunga dapat
dilipatgandakan beberapa kali per tahun, misalnya : per
bulan, per kwartal, per setengah tahun, dan seterusnya.

Sebagai contoh ,satu tahun dibagi dalam empat kwartal
dengan bunga 2 % per kwartal, ini adalah sama halnya jika
dikatakan seperti 8 % dilipatgandakan secara kwartal ,
atau tingkat bunga nominal 8 %.

Nilai mendatang untuk sejumlah uang Rp 10.000 akhir satu
tahun dengan tingkat 8 % yang dilipatgandakan secara
kwartal adalah :

F
3 bulan
= P + P.i = Rp 10.000 + Rp 10.000 (0,02)
= Rp 10.000 + Rp 200 = Rp 10.200,-

F
6

bulan
= P + P.i = Rp 10.200 + Rp 10.200 (0,02)
= Rp 10.200 + Rp 204 = Rp 10.404,-

F
9

bulan
= P + P.i = Rp 10.404 + Rp 10.404 (0,02)
= Rp 10.404 + Rp 208 = Rp 10.612,-

F
12

bulan
= P + P.i = Rp 10.612 + Rp 10.612 (0,02)
= Rp 10.612 + Rp 212 = Rp 10.824,-

33
Apabila dengan tingkat bunga 8 % uang Rp 10.000 ini
dilipatgandakan secara tahunan, maka pada akhir satu
tahun:
F
12

bulan
= P + P.i = Rp 10.000 + 10.000 (0,08)
= Rp 10.000 + Rp 800 = Rp 10.800,-
Yang ternyata Rp 24,- lebih kecil dari pada jika
dilipatgandakan dengan tingkat bunga nominal 8 % secara
kwartal.
Jika uang yang Rp 10.000 ini dilipatgandakan dengan
tingkat bunga nominal 24 % secara bulanan (berati tingkat
bunga 2 % per periode dengan jumlah periode 12 kali per
tahun), maka memberikan :

F
12

bulan
= P (1 + i)
n
= Rp 10.000 (1 + 0,02)
12

= Rp 10.000 (1,02)
12

= Rp 10.000 (1,2682) = Rp 12.680,-

Hasil ini dapat diperbandingkan dengan uang sejumlah Rp
10.000 tersebut jika dilipatgandakan dengan tingkat
bunga nominal 24 % secara semitahunan (berati 12 % per
periode dengan jumlah periode dua kali pertahun) :

F
12

bulan
= P (1 + i )
n
= Rp 10.000 (1 + 0,12)
2

= Rp 10.000 (1,12)
2
= Rp 10.000 (1,2544)
= Rp 12.540,-

Jadi jelaslah, bahwa semakin kerap kali dilipatgandakan di
dalam suatu tingkat bunga tahunan yang dinyatakan secara
nominal, maka akan semakin bertambah besarlah nilai
mendatangnya.

34
% 4 , 25 % 100
000 . 10
540 . 2
= x
Rp
Rp

4.10. LAJU/TINGKAT BUNGA EFEKTIF (Effective
Interest Rates)

Tingkat bunga Efektif perbandingan antara bunga
yang dibayar kan untuk satu
tahun terhadap jumlah uang
pinjaman pokok yang di teri
ma.

Tingkat bunga Efektif =
P
P F
x 100 %


Untuk sejumlah pinjaman Rp 10.000 satu tahun dengan
tingkat bunga nominal 24 % dilipatgandakan secara bulanan
maka :

Tingkat bunga efektif =

=

Untuk jumlah pinjaman yang sama yang dilipatgandakan
dengan tingkat bunga nominal 24 % secara semitahunan
(per setengah tahun), maka :

Tingkat bunga efektif =

=
Tingkat bunga efektif ini dapat diperoleh tanpa dengan
menunjuk terhadap uang pinjaman pokok. Berdasarkan atas
alasan yang sama yang digunakan sebelumnya, dan dengan :

i = tingkat bunga efektif
r = tingkat bunga nominal
m = jumlah periode pembayaran per tahun
% 100
000 . 10
000 . 10 680 . 12
% 100 x
Rp
Rp Rp
x
P
P F
=

% 8 , 26 % 100
000 . 10
680 . 2
= x
Rp
Rp
% 100
000 . 10
000 . 10 540 . 12
% 100 x
Rp
Rp Rp
x
P
P F
=

35
1
2
24 , 0
1 1 1
2

|
.
|

\
|
+ =
|
.
|

\
|
+ =
m
m
r
i

maka tingkat bunga efektif untuk suatu tingkat bunga
nominal 24 % yang dilipat gandakan secara semi tahunan
(per setengah tahun) adalah :



i = ( 1 + 0,12 )
2
- 1 = 1,2544 1
i = 0,2544 atau 25,44%
Yang berati bahwa suatu tingkat bunga nominal 24 % yang
dilipatgandakan secara per setengah tahun adalah ekivalen
dengan suatu tingkat bunga kompon 25,44% atas suatu
dasar tahunan.

Batas akhir (the ultimate limit) untuk jumlah periode
pergandaan dalam satu tahun disebut penggandaan terus
menerus (continuous compounding). Dalam contoh tambahan
ini, m mendekati jumlah tak terbatas (infinity) sebagai
bunga yang dilipatgandakan secara terus menerus, saat
demi saat. Tingkat bunga efektif untuk penggadaan terus
menerus dapat dikembangkan sebagai berikut :




Ruas kanan dari persamaan ini dapat disusun kembali untuk
memasukkan r dalam pangkat:




Istilah dalam kurung diperhitungkan sebagai nilai dari
symbol matematik e (e = bilangan eksponen = 2,71828).


e
m
r
r m
m
=
|
.
|

\
|
+

/
1

(
(

(
|
.
|

\
|
+ =
|
.
|

\
|
+ 1 1 1 1
/
r
r m m
m
r
m
r
1
r
1 |
.
|

\
|
+ =

m
m
m
limit i
36


Dengan substitusi,


i =


Sebagai suatu contoh dari penggandaan terus menerus,
apabila tingkat bunga nominal adalah r = 18,232 %, maka :

i = e
r
1

i = e
0,18232
1
= 0,20 atau 20 %

Dan sebaliknya, apabila tingkat bunga efektif adalah i =
22,1 % maka :

0,221 = e
r
1
1,221 = e
r

r = 20 %


Soal :

1. Modal sebesar Rp. 3.500.000,- diinvestasikan dan akan
diterima kembali sebesar Rp. 4.750.000,- dalam waktu 2
tahun. Berapa tingkat suku bunga dan besar bunga yang
akan diterima dengan catatan bahwa bunga hanya
diperhitungkan pada modal.
2. Berapa tingkat suku bunga efektif pertahun yang sesuai
dengan bunga nominal 36 % yang dimajemukkan per
bulan?
1 1 1
/
=

(
(

(
|
.
|

\
|
+

r
r
r m
m
e
m
r
limit
limit
37
3. Dalam berapa tahunkah, jika uang diinvestasikan
sekarang sebesar Rp. 1.750.000,- dan akan menjadi Rp.
5.250.000,- dengan tingkat bunga 10 % pertahun.
4. Sebuah sertifikat tabungan berharga $ 80 sekarang,
akan menjadi $ 100 dalam waktu 5 tahun. Berapa tingkat
suku bunga ?
5. Berapa uang tabungan yang diharapkan 6 tahun
mendatang, jika diinvestasikan sekarang sejumlah $
2250 dengan suku bunga 12 % yang dimajemukan per tiga
bulan ?

38
Bagian V
FAKTOR FAKTOR EKONOMI TEKNIK


Beberapa istilah/symbol yang penting yang akan dipakai
dalam faktor-faktor bunga kompon dituliskan dalam bentuk
notasi-notasi sebagai berikut :

i : Compound interest (bunga)
Besarnya suku bunga untuk suatu periode tertentu (%).
Misalnya : 10 % = 0,1; 5 % = 0,05
n : Number of interest
Jumlah periode bunga yang berlaku.
Dapat dinyatakan dalam : 3 bulan; 6 bulan; 1 tahun dll.
P : Present Value (nilai sekarang)
Sejumlah uang pada saat ini/nilai sekarang ekivalen.
F : Future Value (nilai yang akan datang)
Sejumlah uang pada saat n periode dari waktu
sekarang/nilai yang akan datang ekivalen.
A : Annual Payment (pembayaran/penerimaan tahunan)
Sejumlah pembayaran/penerimaan akhir suatu periode
bunga dalam rangkaian n tahun yang besarnya sama.
G : Arithmatic Gradient Series
Annual yang tidak konstan, membentuk suatu kenaikan
atau penurunan yang teratur
CAF : Compound Amount Factor (faktor jumlah kompon)
PWF : Present Worth Factor (faktor nilai sekarang)
SCAF : Series Compound Amount Factor (rangkaian faktor
jumlah kompon)
SFF : Sinking Fund Factor (penanaman sejumlah uang)
CRF : Capital Recovery Factor (pemasukan kembali modal)
SPWF : Series Present Worth Faactor (rangkaian faktor nilai
sekarang)
GUS : Gradient Uniform Series (perubahan deret hitung)
39
5.1. RUMUS RUMUS BUNGA

A. Pembayaran Tunggal (Single payment compound
amount ) :

Faktor Jumlah Kompon (Compound Amount Factor)
Digunakan untuk menghitung F jika P, i, n diketahui.

Rumus : (4.1)

Menggunakan notasi (F/P, i % ,n), persamaan 4.1 menjadi :

(4.1.A)

Contoh 5.1.

Berapakah yang akan didapatkan setelah 4 tahun dari
investasi sebesar $ 50.000, jika tingkat bunga 15 % per
tahun ?

Penyelesaian :

P = $ 50.000 i = 15 % n = 4 tahun F = ?

F = ?

0 1 2 3 4 tahun

P = Rp 50.000


Setelah 4 tahun maka uang yang akan didapatkan sebesar
F = P (1 + i )
n
= $ 50.000 (1 + 0,15)
4

= $ 87.450,-

F = P (1 + i)
n

F = P (F/P, i%, n)
40
( )
n
i
F P
+
=
1
1
( )
1263 $
06 , 0 1
1
1791 $
6
=
+
= P
Faktor Nilai Sekarang Pembayaran Tunggal (Present
Worth Compound Amount Factor, Single Payment)
Digunakan untuk menghitung P jika F, i, n diketahui.


Rumus : (4.2)


Notasi fungsional : P = F (P/F,i %,n) (4.2.A)


Contoh 5.2 :

Berapa yang harus anda investasikan dengan bunga 6 %
pada 1 Januari 1981, untuk memperoleh $ 1791 pada 1
Januari 1987 ?

Penyelesaian :

F = $ 1791 i = 6 % n = 6 tahun P = ?

F = $ 1791


81 82 83 84 85 86 87

P = ?








41
i
i
A F
n
1 ) 1 ( +
=
( )
1504 $ ) 181 , 13 ( 1 , 114 $
06 , 0
1 06 , 0 1
1 , 114 $
10
= =
+
= F
B. Pembayaran Rangkaian Seragam (Uniform Series of
Payment) :

Rangkaian Faktor Jumlah Kompon (Series Compound
Amount Factor)
Digunakan untuk menghitung F jika A, i, n diketahui.



Rumus : (4.3)


Notasi fungsional : F = A (F/A,i %,n) (4.3.A)

Contoh 5.3.

Berapa dana yang akan terkumpul pada akhir tahun ke 10
jika $ 114,1 ditabungkan pada tiap akhir tahun selama 10
tahun dimulai tahun 1974 dengan bunga 6 % ?

Penyelesaian :

A = $ 114,1 i = 6 % n = 10 tahun F = ?

F = ?

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 tahun

A = $ 114,1






42
( ) 1 1 +
=
n
i
i
F A
2 , 179 $
1 ) 06 , 0 1 (
06 , 0
1504 $
7
=
+
= A
Faktor Jumlah Uang / Faktor Dana Diendapkan
(Sinking Fund Factor)
Digunakan untuk menghitung A jika F, i, n diketahui.


Rumus : (4.4)


Notasi fungsional : A = F (A/F,i %,n) (4.4.A)


Contoh 5.4.

Berapa yang harus ditabungkan dengan bunga 6 % tiap
tahun selama 7 tahun dimulai 1 Januari 1977 untuk
memperoleh dana sebesar $ 1504 pada saat pemasukan
terakhir 1 Januari 1984 ?

Penyelesaian :

A = ? i = 6 % n = 7 tahun F = $ 1504

F= $ 1504

77 78 79 80 81 82 83 84

A = ?




Catatan :

Untuk Annuity harus selalu digambarkan pada akhir tahun,
walaupun dalam persoalan disebutkan bahwa pembayaran
tahunan dilakukan pada awal tahun.
43
Faktor Pemulihan Modal/Pemasukan Kembali Modal
(Capital Recovery Factor)
Digunakan untuk menghitung A jika P, i, n diketahui.


Rumus : (4.5)


Notasi fungsional : A = P(A/P,i %,n) (4.5.A)



Contoh 5.5.:

Jika $ 840 diinvestasikan dengan bunga 6 % pada 1
Januari 1974, berapa besar pengambilan yang sama dapat
dilakukan selama sepuluh tahun, sehingga dana tidak
tersisa lagi setelah pengambilan ke sepuluh ?

Penyelesaian :

A = ? i = 6 % n = 10 tahun P = $ 840

A = ?


0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 tahun
P = $ 840








( ) 1 1
) 1 (
+
+
=
n
n
i
i i
P A
1 , 114 $
1 ) 06 , 0 1 (
) 06 , 0 1 ( 06 , 0
840 $
10
10
=
+
+
= A
44
Faktor Nilai Sekarang, Rangkaian Seragam
(Present Worth Factor, Uniform Series)
Digunakan untuk menghitung P jika A diketahui



Rumus : (4.6)


Notasi fungsional : P = A(P/A,i %,n) (4.6.A)


Contoh 5.6. :

Berapa yang harus anda tabungkan dengan bunga 6 % pada
1 Januari 1977 agar dapat mengambil setiap akhir tahun
sebesar $ 179,2 selama 7 tahun, sehingga dana itu habis
tak tersisa ?

Penyelesaian :

A = $ 179,2 i = 6 % n = 7 tahun P = ?


A = $ 179,2


77 78 79 80 81 82 83 84
P = ?







( )
n
n
i i
i
A P
+
+
=
1
1 ) 1 (
5 , 1000 $
) 06 , 0 1 ( 06 , 0
1 ) 06 , 0 1 (
2 , 179 $
7
7
=
+
+
= P
45
Faktor Perubahan Deret Hitung, Rangkaian Seragam
(Arithmetic-Gradient Conversion Factor,Uniform
Series)
Digunakan untuk menghitung A jika G, i, n diketahui.


Rumus : (4.7)


Notasi fungsional : A = G (A/G,i %,n) (4.7.A)

Contoh. 4.7.

Jika biaya pemeliharaan dari suatu Buldoser sebesar Rp
4000 pada akhir tahun pertama, Rp 5000 pada akhir
tahun kedua, dan Rp 6000, Rp 7000, Rp 8000 berturut
turut pada akhir tahun ketiga, keempat dan kelima.
Hitunglah biaya rangkaian seragam yang ekivalen tiap
tahunnya sepanjang periode 5 tahun. Tingkat bunga
ditentukan 5 %.

Penyelesaian :

Kenaikan biaya pemeliharaan G = Rp 1000 setahun
i = 5 % n = 5 tahun A = ?

0 1 2 3 4 5
RP.4000 G = Rp.1000
RP.5000 G = Rp.1000
Rp 6000 G = Rp.1000
Rp 7000 G = Rp.1000
Rp 8000



A
total
= Rp. 4.000,- + Rp. 1.902,- = Rp. 5.902,-
( ) 1 1
1
+
=
n
i
n
i
G A
( )
=
+
= , 902 . 1
1 05 , 0 1
5
05 , 0
1
1000
5
Rp Rp A
46
Bagian VI
METODEMETODE
PERBANDINGAN EKONOMI


Inti daripada ilmu terapan Ekonomi Teknik adalah untuk
mengambil keputusan atau menentukan pilihan terhadap
beberapa alternatip proyek-proyek yang diajukan. Pengambilan
keputusan atau pemilihan ini dilakukan dengan menggunakan
metode-metode perbandingan ekonomi yang didasari dengan
matematika uang. Ada beberapa metode perbandingan ekonomi
yang bisa kita gunakan antara lain :

1) Metode Biaya Tahunan Ekivalen (the Equivalent Annual
Cost Method, AC ; Annual Worth, AW), digunakan untuk
merubah besaran-besaran yang dinyatakan baik dalam
nilai mendatang maupun nilai sekarang ke dalam
biaya/nilai tahunan ekivalen.
2) Metode Nilai Sekarang (the Present Worth Method,
PW), digunakan untuk merubah semua besaran dalam
cash-flow, baik yang berupa biaya tahunan maupun nilai
mendatang ke dalam nilai sekarang untuk menghitung
Nilai Sekarang Bersih.
3) Metode Tingkat Pengembalian Interen (Internal Rate
of Return, IRR), digunakan untuk memilih alternatif
terbaik berdasarkan prosentase dari alternatif yang
lebih besar dari pada Tingkat Pengembalian Minimum
yang Menarik (Minimum Attractive Rate of return,
MARR) yang disyaratkan. Untuk menentukan tingkat
pengembalian interen (IRR) dimaksud ialah dengan cara
mencoba-coba (trial and error).
4) Metode Ratio Manfaat Terhadap Biaya (Benefit to
Cost Ratio, B/C), digunakan untuk memilih alternatif
yang terbaik dengan menggunakan B/C 1, dan apabila
47
alternatif yang diajukan lebih daripada dua, persyaratan
ini harus ditambah dengan B / C 1 (incremental
analysis). Metode ini dapat diterapkan dengan
pendekatan biaya tahunan ekivalen ataupun nilai
sekarang. Namun lebih banyak dilakukan dengan
pendekatan biaya tahunan ekivalen.

Ada beberapa faktor yang mungkin akan mempengaruhi
keputusan untuk memilih salah satu metoda perbandingan
ekonomi. Faktor faktor tersebut adalah :

Analisis nilai sekarang, analisis nilai tahunan dan
analisis nilai akan datang sering kali menggunakan
kalkulasi kalkulasi jauh lebih sedikit dari pada
analisis tingkat laba.
Analisis nilai tahunan seringkali melibatkan kalkulasi
kalkulasi yang lebih sedikit daripada analisis sekarang
dan analisis nilai akan datang, jika umur alternatif
alternatif yang dipertimbangkan berbeda.

5.1.USIA ASET DALAM PERBANDINGAN EKONOMI

Dalam mekanisme terhadap nilai waktu, n adalah
merupakan jumlah periode kompon biaya yang cocok untuk
analisa cash-flow. n mempunyai arti khusus apabila
menyatakan usia dari suatu asset yang kehilangan nilai
sebagai suatu fungsi dari penggunaan atau waktu. Istilah-
istilah yang kerap kali diterapkan untuk menggambarkan usia
sebuah asset adalah :

Usia Pemilikan (ownership life) atau Usia Pelayanan
(service life) adalah periode waktu yang digunakan dalam
pelayanan oleh pemilik.
48
Usia Akuntansi (accounting life) adalah suatu usia
perkiraan yang terutama didasarkan pada pembukuan dan
pertimbangan pajak.

Usia Ekonomis (economic life) adalah periode waktu yang
memperkecil biaya total tahunan ekivalen dari asset atau
yang memperbesar pendapatan bersih tahunan ekivalen.

Usia Abadi (perpetual life) adalah periode waktu yang
tak terbatas. Dalam mengikutsertakan sebuah asset
dengan usia tak terbatas dalam suatu perbandingan
ekonomi, misalnya sebidang tanah, tingkat bunga akan
menggantikan sebagai faktor pemulihan modal.



5.2. METODE DALAM PERBANDINGAN EKONOMI

5.2.1. Metode Biaya Tahunan Ekivalen

Biaya tahunan ekivalen =

dimana :
P = harga pembelian
n = usia barang yang diharapkan
S = nilai yang diselamatkan (salvage value) atau
nilai jual lagi
i = tingkat bunga

Contoh Soal 5.2.1. :

Dua metode dipertimbangkan untuk mengangkat batu ke
dalam mesin pemecah batu. Diharapkan mesin pemecah batu
akan beroperasi selama 6 tahun.

(P-S) (A/P,i%,n) + Si
49
Metode A Metode B
Harga awal $ 4.200 $ 2.800
Nilai sisa setelah 6
tahun
$ 600 $ 1.000
Biaya bahan bakar per
tahun
$ 200 $ 450
Biaya pemeliharaan per
tahun
$ 130 $ 300
Biaya pajak ekstra $ 60 -

Bandingkan ongkos tahunan kedua alat pengangkut itu
dengan menggunakan i = 12 % setelah pajak.

Penyelesaian :

Metode A
S = $ 600


0 1 2 3 4 5 6
A = $ 390
P = $ 4,200


Pemulihan Modal = (P S) (A/P,i %,n) + Si
=($ 4200 - $ 600) (A/P,12,6) + $ 600 (0,12)
= $ 875,628 + $ 72 = $ 947,628
Biaya tahunan untuk bahan bakar = $ 200,000
Biaya pemeliharaan tahunan = $ 130,000
Biaya pajak ekstra tahunan = $ 60,000
Jumlah biaya tahunan ekivalen = $ 1337,628





50
Metode B

S = $ 1,000


0 1 2 3 4 5 6
A = $ 750
P = $ 2,800

Pemulihan Modal = (P S) (A/P,i %,n) + Si
=($2800 -$1000) (A/P,12,6) + $ 1000 (0,12)
= $ 437,814 + $ 120 = $ 557,814
Biaya tahunan untuk bahan bakar = $ 450,000
Biaya pemeliharaan tahunan = $ 300,000
Jumlah biaya tahunan ekivalen = $ 1307,814

Dari kedua metode tersebut, maka metode B lebih dapat
dipertimbangkan daripada metode A.



5.2.2. METODE NILAI SEKARANG (Persent Worth)

Dasar dari metode nilai sekarang adalah bahwa semua
penerimaan atau pembayaran mendatang yang berhubungan
dengan suatu proyek investasi dalam besaran cash-flow diubah
ke nilai sekarang, dengan menggunakan suatu tingkat bunga.

Contoh Soal 5.2.2.a. :

Untuk pelayanan suatu pompa di sebuah utilitas umum,
diusulkan untuk menggunakan pipa yang 10 atau 12. Pipa 10
mempunyai harga awal $ 4500 dan ongkos memompa tahunan
diperkirakan $ 900. Pipa 12 mempunyai harga awal $ 6000 dan
ongkos memompa tahunan diperkirakan $ 550. Waktu pelayanan
kirakira 15 tahun, tak ada nilai sisa yang bisa diharapkan dari
51
kedua jenis pipa itu pada akhir periode. Pajak kekayaan
pertahun diperkirakan 2% dari harga awal dan pajak pendapatan
3% dari harga awal. Bandingkan nilai sekarang dari ongkos
operasi 15 tahun dengan menggunakan tingkat bunga 9 % ?


Penyelesaian :

Pipa 10

P = $ 4,500


0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
A = $ 900
P
1
= ?


Harga awal dari pipa 10 = $ 4500
Nilai sekarang biaya memompa tahunan
= $ 900 (P/A,9,15) = $ 900 (8,0606) = $ 7255
Nilai sekarang pajak kekayaan pertahun
= $ 90 (P/A,9,15) = $ 90 (8,0606) = $ 725
Nilai sekarang pajak pendapatan pertahun
= $ 135 (P/A,9,15) = $ 135 (8,0606) = $ 1088

Nilai sekarang total pembayaran 15 tahun = $ 13568


Pipa 12

P = $ 6,000


0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
A = $ 550
P
1
= ?
52
Harga awal dari pipa 12 = $ 6000
Nilai sekarang biaya memompa tahunan
= $ 550 (P/A,9,15) = $ 550 (8,0606) = $ 4433
Nilai sekarang pajak kekayaan pertahun
= $ 120 (P/A,9,15) = $ 120 (8,0606) = $ 967
Nilai sekarang pajak pendapatan pertahun
= $ 180 (P/A,9,15) = $ 180 (8,0606) = $ 1451

Nilai sekarang total pembayaran 15 tahun = $ 12851

Berdasarkan evaluasi tersebut, maka penilaian menghasilkan
pipa 12 lebih ekonomis.


Contoh Soal 5.2.2.b. :

Suatu proyek pembuatan jalan kereta api, dihadapkan
kepada 2 pilihan yang keduaduanya memenuhi persyaratan
teknis.

Pilihan I :
Pembuatan terowongan menembus gunung yang mempunyai
usia tak terbatas dengan biaya sebesar Rp 900 juta dan
biaya pemeliharaannya ditetapkan Rp 3 juta per tahun.

Pilihan II :
Pembuatan jalan kereta api yang melintasi jurang, rencana
penggantiannya setiap 20 tahun dengan biaya Rp 300 juta
dan pemeliharaan sebesar Rp 5 juta per tahun.

Setelah akhir periode pemakaian, aset tersebut dapat dijual
kembali seharga 15 juta.
Jika dihitung dengan metode nilai sekarang, pilihan manakah
yang akan saudara ambil, dengan tingkat suku bunga yang
diperhitungkan sebesar 10 % ?
53
Penyelesaian :

Pilihan I

P = 900 juta


0 100 tahun
A = 3 juta
P
1
= ?


Harga awal = Rp 900.000.000,-
Nilai sekarang dari biaya tahun
= Rp 3.000.000 (P/A,i %,n)
= Rp 3.000.000 (P/A,10 %,100)
= Rp 3.000.000 (9,9992) = Rp 29.997.600,-
Total nilai sekarang = Rp 929,997,600,-



Pilihan II

P
0
P
1
P
2
P
3
P
4
S=15 juta


0 20 40 60 80 100 tahun
A = 5 juta
P
1
= ?

P
0
= Rp 300.000.000,-
P
1
= (P S) = 300 juta 15 juta = Rp 285.000.000,-
P
2
= (P S) = 300 juta 15 juta = Rp 285.000.000,-
P
3
= (P S) = 300 juta 15 juta = Rp 285.000.000,-
P
4
= (P S) = 300 juta 15 juta = Rp 285.000.000,-


54
Harga awal = Rp 300.000.000,-
Nilai sekarang pada th ke 20
= Rp 285.000.000 (P/F,i %,n)
= Rp 285.000.000 (P/F,10 %,20)
= Rp 285.000.000 (0,14865) = Rp 42.365.250,-
Nilai sekarang pada th ke 40
= Rp 285.000.000 (P/F,10 %,40)
= Rp 285.000.000 (0,02210) = Rp 6.298.500,-
Nilai sekarang pada th ke 60
= Rp 285.000.000 (P/F,10 %,60)
= Rp 285.000.000 (0,00328) = Rp 934.800,-
Nilai sekarang pada th ke 80
= Rp 285.000.000 (P/F,10 %,80)
= Rp 285.000.000 (0,00049) = Rp 139.650,-
Nilai sekarang dari biaya tahuan
= Rp 5.000.000 (P/A,10 %,100)
= Rp 5.000.000 (9,9992) = Rp 49.996.000,-
Jumlah = Rp 399.734.200,-

Dikurangi nilai jual lagi
Nilai sekarang dari nilai jual lagi
= Rp 15.000.000 (P/F,i %,n)
= Rp 15.000.000 (P/F,10,100)
= Rp 15.000.000 (0,00007) = Rp 1.050,-
Total nilai sekarang = Rp 399.733.150,-

Dari perhitungan di atas maka pilihan II yaitu pembuatan
jalan kereta api lebih ekonomis.







55
5.2.3. METODE TINGKAT PENGEMBALIAN (Rate of
Return Method)

Rate of Return (ROR) atau Internal Rate of Return
(IRR) adalah suatu indikator yang dapat menggambarkan
kecepatan (relatif) pengembalian modal dari suatu proyek
investasi.

Nilai tahunan dan nilai sekarang merupakan dasar untuk
perhitungan ROR. Secara ekivalen, ROR ditentukan dengan
mempersamakan penerimaanpenerimaan nilai sekarang
(PW) / nilai tahunan (AW) kepada pengeluaran
pengeluaran nilai sekarang (PW) / nilai tahunan (AW) atau
mempersamakan baik cash-flow AW/PW sama dengan nol.
Walaupun pendekatan AW dan pendekatan PW keduanya
logis, namun biasanya ROR ditentukan dalam istilahistilah
nilai sekarang, sebagai berikut :

PW (penerimaan) = PW (pengeluaran)
atau
PW (penerimaan) - PW ( pengeluaran) = 0

Untuk masingmasing formulasi PW, perhitungan dari
i (tingkat bunga/Rate of Return) biasanya merupakan
suatu prosedur coba coba (trial and error procedure).

Bila tingkat bunga pengembalian minimum (Minimum
Attractive Rate of Return/MARR = i*) lebih kecil dari
IRR, maka dikatakan proyek tersebut layak atau
menguntungkan, sebaliknya bila MARR lebih besar dari
IRR, maka proyek tersebut tidak layak atau tidak
ekonomis.

MARR IRR layak
MARR IRR tidak layak
56
Pemilihan ROR Minimum (Minimum Attractive Rate of
return, MARR = i*) yang Menguntungkan

Faktor faktor yang biasanya dipertimbangkan dalam
penentuan i* untuk digunakan selama periode waktu
tertentu termasuk :

1. Tersedianya dana untuk investasi dan sumbersumbernya,
modal sendiri atau pinjaman.
2. Kesempatankesempatan investasi bersaing
3. Perbedaanperbedaan dalam resiko yang terlibat dalam
kesempatan investasi yang bersaing dan berlainan.
4. Perbedaanperbedaan dalam waktu yang di butuhkan untuk
pengembalian investasi dengan ROR yang diinginkan,
investasiinvestasi berumur pendek lawan yang berumur
panjang.
5. Harga uang yang berlaku, yang dinyatakan oleh tingkat
tingkat suku bunga yang dibayar atau dibebankan pada
investasiinvestasi tersebut, seperti rekening tabungan
yang dijaminkan, tingkat utama yang digunakan oleh bank
bank besar, dan suratsurat berharga pemerintah jangka
panjang atau jangka pendek dan obligasiobligasi.













57
Contoh Soal 5.2.3 :

Pembelian tanah untuk tempat tinggal di dalam kota dinilai
sebagai suatu spekulasi. Harga pembelian tanah $ 16,000.
Diperkirakan setelah dimiliki selama 8 tahun tanah itu bisa
dijual seharga $ 25,600. Dari jumlah ini harus dikurangi 6 %
untuk komisi penjualan sebesar $1.536 dan $384 untuk
pembayaran asuransi, dan akan memberikan penerimaan
sebesar $ 23,680 pada tanggal penjualan. Selama 8 tahun
tak terdapat penerimaan dari pemilikan tanah tersebut.
Pengeluaran tahunan untuk pajak kekayaan diperkirakan $
480 selama waktu 8 tahun. Berapa rate of return prospektif
investasi itu ?

Penyelesaian :
Diagram cash-flow :
F=$23,680

0 1 2 3 4 5 6 7 8
A = $ 480


P=$ 16,000
Pendapatan (Cash flow positif) dan pengeluaran (cash flow
negatif) dipersamakan menurut nilai sekarang :

$ 23,680 (P/F,i %,n) = $ 16,000 + $ 480 (P/A,i %,n)
$ 23,680 (P/F,i %,8) = $ 16,000 + $ 480 (P/A,i %,8)
$ 23,680 (P/F,i %,8) - $ 16,000 - $ 480 (P/A,i %,8) = 0

Dengan cara coba coba (trial and error) :
Jika i = 0, maka : $ 23680 (P/F,0%,8) - $ 16000 - $ 480
(P/A,0%,8)
= $ 23680 (1) - $ 16000 - $ 480 (0)
= $ 23680 - $ 16000
= $ 7680
58
i = 2, maka : $ 23680 (P/F,2%,8) - $ 16000 - $ 480
(P/A,2%,8)
= $ 23680(0,85) - $ 16000 - $ 480(7,33)
= $ 20210.88 - $ 16000 - $ 3516.10
= $ 694,784

i = 3, maka : $ 23680 (P/F,3%,8) - $ 16000 - $ 480
(P/A,3%,8)
= $ 23680(0,79) - $ 16000 - $480 (7,02)
= $ 18693.23 - $ 16000 - $ 3369.36
= - $ 676,131

Tabel interpolasi

i PW
2 % $694.784
3 % - $ 676.131

Jarak i = 3 % - 2 % = 1 %
Jarak PW = $ 694.784 (- $ 676.131 ) = $ 1370.915
Diproporsikan dengan jarak PW terhadap titik dimana PW= 0






Jadi tingkat pengembalian bunga prospektif adalah 2,5 %






|
|
.
|

\
|
+ =
915 , 1370 $
0 784 , 694 $
% 1 % 2 i
( )
% 5 , 2
5 , 0 % 1 % 2
=
+ =
i
i
59
5.2.4. METODE RATIO MANFAAT TERHADAP BIAYA
(Benefit to Cost Ratio).

Bila kita membicarakan masalah proyek-proyek konstruksi,
baik yang ditangani oleh Pemerintah maupun Swasta,
biasanya sebelum/diawal akan dilaksanakannya pembangunan
proyek tersebut selalu dilaksanakan evaluasi tentang
kelayakan proyek tersebut. Kelayakan tersebut bisa dinilai
dari segi teknis, keramahan lingkungan, ekonomis (manfaat
yang dihasilkan maupun keuntungan yang didapat dari biaya).
Ada tiga parameter yang sering dipakai dalam analisis
ekonomis suatu proyek, yaitu :
1. Perbandingan Manfaat dan Biaya (Benefit/Cost atau
B/C) B / C 1 atau BCR 1
2. Selisih Manfaat dan Biaya (Net Present Value atau
NPV) B C 0 atau NPV 0
3. Tingkat pengembalian Internal (Internal Rate of
Return atau IRR) IRR
didapat
IRR
ijin


Faktor yang mempengaruhi BCR :
Keuntungan Manfaat (Benefit),
Yaitu segala bentuk keuntungan atau manfaat yang
diterima dan dirasakan oleh masyarakat yang merupakan
sasaran/tujuan umum dibangunnya proyek. Dapat berupa
arus kas ataupun bentuk lain (saving dalam biaya
pemeliharaan, waktu yang dihemat, pengurangan jumlah
kecelakaan dll).

60
Biaya (Cost)
Yaitu pengeluaran atau biaya yang diwujudkan dalam
bentuk uang, meliputi biaya perencanaan, pelaksanaan,
operasional serta pemeliharaan.
Waktu bagi biaya dan keuntungan
Cost maupun Benefit harus ditempatkan pada waktu
tertentu dan ditinjau dalam tahun yang sama (Present
Value).


Adapun kriteria BCR akan memberikan petunjuk sebagai
berikut :

BCR > 1 ---------- usulan proyek diterima
BCR < 1 ---------- usulan proyek ditolak
BCR = 1 ---------- netral



Contoh Soal 5.2.4 :

Pelaksanaan pembangunan proyek jembatan yang meng-
hubungkan kedua tepi sungai disuatu kota menghabiskan
biaya Rp. 2 M. Manfaat dari bangunan tersebut, transportasi
menjadi lebih cepat dan aman, yang memberikan konstribusi
setiap tahunnya sebesar Rp. 252 juta. Biaya O & P
pertahunnya sebesar Rp. 50 juta. Tinjau kelayakan ekonomis
dari pembangunan jembatan tersebut selama 30 tahun bila
tingkat bunga yang ditentukan 5 %.




61
Penyelesaian :


Rp. 2 M i = 5 %
O & P = Rp. 50 juta

0 30 tahun
manfaat = Rp. 252 juta


Berdasarkan nilai sekarang :

1. Perbandingan Manfaat dan Biaya

40 , 1
769 , 2 .
873 , 3 .
) 30 , 5 , / ( 50 . 2 .
) 30 , 5 , / ( 252 .
= =
+
=
M Rp
M Rp
A P juta Rp M Rp
A P juta Rp
C
B
1

2. Selisih Manfaat dan Biaya
B C = Rp. 3,873 M Rp. 2,769 M = Rp. 1,104 M 0

3. Tingkat pengembalian
Berdasarkan trial & error didapat i = 9,54 % 5 %

Dari ketiga parameter diatas, jembatan tersebut secara
ekonomis layak untuk dilaksanakan.










62
Bagian VI
BERBAGAI MACAM ANALISIS

Selain menggunakan metode-metode perbandingan
ekonomi tersebut diatas, untuk mengevaluasi atau menentukan
alternatif yang terbaik dapat digunakan pula beberapa macam
analisis, antara lain :

6.1. ANALISIS TITIK IMBANG (BreakEven Analysis, BE).

Analisis ini, selain untuk melihat rugi laba, dapat
dimanfaatkan pula untuk membuat rencana, pengendalian
biaya, dan juga untuk menguji langkah-langkah yang telah
diusulkan atau menguji keputusan-keputusan yang bersifat
alternatif tentang masalah-masalah yang menyangkut
manajemen.

Analisis BreakEven adalah analisis yang mempelajari
hubungan antara biaya total (biaya tetap + biaya variabel),
keuntungan dan volume kegiatan / produksi, dimana biaya
total tersebut merupakan fungsi dari sebuah variabel.

Bila, dua atau lebih alternatifalternatif merupakan
fungsi dari variabel yang sama, maka akan ditemukan nilai
variabel yang menghasilkan biaya yang sama, yang disebut
sebagai titik breakeven (break even point) / crossover
yaitu nilai dari jam operasi yang membuat dua alternatif
sama - sama ekonomis.

Perhitungan break even point dapat dilakukan dengan
cara grafis, matematis ataupun trial and error.

Jika dalam grafik kita gambarkan garis penjualan
dan garis biaya total yang merupakan jumlah biaya tetap
63
dan biaya variabel, maka titik perpotongan antara garis
penjualan dan garis biaya total tersebut dinamakan titik
break-even.Dinamakan demikian karena pada titik
tersebut perusahaan tidak mengalami untung atu rugi.

Bila biaya 2 alternatif dipengaruhi oleh suatu faktor
tidak tetap (variabel), maka dapat dinyatakan sebagai
fungsi dalam bentuk :

TC
1
= f
1
( x ) dan TC
2
= f
2
( x )

Dimana :
TC
1
dan TC
2
= suatu jumlah total yang ditetapkan per
periode waktu/proyek/satuan di perguna
kan masingmasing untuk alternatif 1 dan
alternatif 2.
X = suatu faktor tidak tetap biasa bebas yang
mempengaruhi alternatif 1 dan alternatif 2

Penyelesaiannya :

TC
1
= TC
2
atau f
1
( x ) = f
2
( x )


Biaya tahunan total
(Rp/thn) Biaya tahunan total (peralatan 1)
Biaya tahunan total (peralatan 2)

K




Jam operasi per tahun

Gambar : Ilustrasi grafis BE diantara 2 alternatif peralatan
64
K : perpotongan dari 2 garis biaya tahunan total yang
disebut BEP.

Pengambilan keputusan yang ekonomis, adalah :
Bila jam operasi dibawah titik break even, karena biaya
total untuk pengoperasian lebih rendah/murah.


Contoh Soal 6.1. :

Untuk mengalirkan air dari sebuah terowongan diperlukan
sebuah pompa yang digerakkan dengan sebuah mesin
berkekuatan 20 HP. Jumlah jam yang akan dijalani oleh mesin
tersebut untuk beroperasi selama setahun adalah tergantung
pada jatuhnya hujan, oleh karenanya tidak pasti (uncertain).
Unit pompa yang diperlukan diperkirakan mempunyai usia
kegunaan 6 tahun. Ada 2 alternatif dalam pertimbangan, yaitu :

Pertama : Rencana A mengusulkan untuk membangun suatu
aliran tenaga dilengkapi sebuah mesin listrik,
dengan total biaya Rp 2.100.000,-. Nilai jual lagi
dari peralatan ini pada akhir tahun ke 6
diperkirakan Rp. 300.000,-. Biaya aliran per jam
kerja Rp 1.260,-, biaya pemeliharaan Rp 180.000,-
pertahun & tingkat bunga 10 % . Alat otomatis.

Kedua : Rencana B membeli sebuah motor gas Rp. 850.000,-
.Tidak mempunyai nilai jual lagi pada akhir periode
tahun ke 6. Biaya untuk bensin & minyak perjam
operasi Rp 630,-, pemeliharaan Rp. 220,- perjam
operasi & upah-upah yang dibayarkan apabila mesin
dijalankan Rp. 1.200,- perjam. Tingkat bunga 10 %.



65
Pertanyaan : Hitung BEP.

Penyelesaian :

Alternatif pertama : Rencana A

TC
(A)
= total biaya tahunan ekivalen dari rencana A
CR
A
= ( P S ) ( A/P, i %, n ) + S. i
(Rp. 2.100.000 - Rp. 300.000) (A/P, 10 %, 6)
+ Rp 300.000 . 0,10
= Rp. 443.280
M = Rp. 180.000
O = Rp. 1260 / jam
T = jumlah jam operasi per tahun.

TC
(A)
= CR
A
+ M + O . T
= Rp. 443.280 + Rp. 180.000 + Rp. 1.260 . t
= Rp. 623.280 + R. 1.260 . T . . . . . . . ( 1 )


Alternatif kedua : Rencana B

TC
(B)
= total biaya tahunan ekivalen dari rencana B
CR
B
= P ( A/P, i %, n )
= Rp. 850.000 ( A/P, 10 %, 6 )
= Rp. 195.160
O = Rp. 630 + Rp. 220 + Rp. 1200
= Rp. 2050 / jam
T = jumlah jam operasi per tahun.

TC
(B)
= CR
B
+ O . T
= Rp. 195.160 + Rp. 2050 . T . . . . . . . ( 2 )

Persamaan : TC
(A)
= TC
(B)


66
200 400 600 800
600
1200
1800
TC (B)
TC ( A )
m
o
to
r lis
trik
m
o
t
o
r
g
a
s
K
t = jlh . jam
1306
541,92
Rp. 623.280 + Rp. 1260 . T = Rp. 195.160 + Rp. 2050 . T
T = 541,92 jam per thn.
















T = 541,92 TC
(A)
= TC
(B)
= Rp. 1.306.099

TC untuk t = 200 TC = TC
(A)
- TC
(B)

TC = (Rp. 623.280 + Rp. 1260.200) (Rp. 195.160 +
Rp.2050 . T)
= Rp. 270.120 ,-

Maka kesimpulannya :

t < 541,92 motor gas lebih ekonomis

t > 541,92 motor listrik lebih ekonomis




67
6.2. ANALISIS PROGRAM LINEAR (Linear Programming).

Sasaran penggunaan Analisis Program Linear
Pemilihan satu dari beberapa pemecahan masalah
yang berasal dari sumber daya yang ada baik tenaga
manusia, peralatan, bahan-bahan maupun dana yang
akan memberikan suatu manfaat yang layak.

Pemilihan pemecahan masalah secara optimal biasanya
mempunyai dasar finansial. Sasaran yang dituju untuk
mendapatkannya adalah :

Biaya operasional total minimal
Keuntungan / pendapatan maksimal
Dan lain-lain (minimasi jumlah jam-orang total, jarak
perjalanan dinas, waktu yang terbuang, maksimasi
produksi atau kapasitas penimbunan).

Pemecahan Analisis Program Linear dapat dengan cara :

Grafis (untuk variabel < 3)
Matematis (lebih sistematis dengan menggunakan
alat-alat elektronis/komputer)

Contoh Soal 6.2. :

Sebuah kontraktor memiliki sebuah mesin penggali & sebuah
bulldozer yang siap untuk dikerjakan pada 2 tempat pekerjaan
yang berdampingan. Pengalaman menunjukkan bahwa akan
mendapatkan keuntungan sebesar Rp 100.00,- untuk menggali &
memindahkan setiap 1000 m
3
tanah lempung dan sebesar Rp
120.000,- setiap 1000 m
3
untuk pemindahan jenis tanah lainnya.
Alternatif memperkirakan penggunaan sumber daya memerlukan
waktu 8 jam untuk menggali, 4 jam untuk bulldozer dan 50 jam
kerja orang guna memindahkan 1000 m
3
tanah lempung.
68
Untuk memindahkan 1000 m
3
jenis tanah lainnya memerlukan
waktu 4 jam untuk penggunaan mesin gali, 5 jam untuk
penggunaan bulldozer dan 13 jam orang kerja. Jumlah jam kerja
karyawan adalah 40jam seminggu. Alatalat mesin juga tersedia
untuk 40 jam setiap minggu. Disamping alatalat permesinan, 5
orang karyawan disediakan untuk sampai 40 jam setiap minggu.
Bila tidak dapat menggunakan alatalat permesinan, dapat
digunakan tenagatenaga kerja dari mana saja .

Pertanyaan : Bagaiman kontraktor harus menggunakan
sumber-sumber dayanya dalam rangka memper-
oleh keuntungan maksimal selama satu minggu
kerja ?

Penyelesaian :

Kontraktor harus menentukan berapa m
3
tanah lempung & tanah
pembebanan lainnya yang akan digali & dipindahkan dalam satu
minggu.
Misalkan :
X
1
= satuansatuan dari 1000 m
3
tanah pembebanan lain
X
2
= satuansatuan dari 1000 m
3
tanah lempung.

Batasan batasannya adalah sebagai berikut.

- Menggunakan mesin penggali ( excavator ) :
4 x
1
+ 8 x
2
40 (1)
- Menggunakan bulldozer :
5 x
1
+ 4 x
2
40 (2)
- Untuk tenaga kerja :
13 x
1
+ 50 x
2
200 (3)
- Sumber x
1
dan x
2
tidak boleh negatif
x
1
0 (4)

x
2
0 (5)
69
5
0 5
10
X2
X1
- Untuk menentukan alokasi yang memungkinkan, fungsi
objektif :
P = Rp 120.000.(x
1
) + Rp. 100.000.(x
2
) . (6)

Dengan menggunakan metoda grafis :
Persamaan (1) :





4x
1
+ 8x
2
= 40

daerah ketidak
samaan
4x
1
+ 8x
2
< 40
x
1
0 ; x
2
0



Dengan cara yang sama, batasanbatasan lain digambarkan
sebagai berikut :






5x
1
+ 4x
2
= 40

4x
1
+ 8x
2
= 40

13x
1
+ 50x
2
= 200




X1
X2
10
5
4
5
8 10 15
0
A
70

Dengan fungsi objektif :
P = Rp. 120.000.(x
1
) + Rp. 100.000.(x
2
)
Maka nilai P maksimum pada poligon A.

Puncak poligon A merupakan perpotongan 2 garis batasan :
5x
1
+ 4x
2
= 40 dan 4x
1
+ 8x
2
= 40 , maka didapat :
x
1
= 6,67 dan x
2
= 1,67

Kontraktor harus memindahkan sebanyak 6670 m
3
tanah
pembebanan lainnya serta menggali dan memindahkan
tanah lempung sebanyak 1670 m
3
.

Keuntungan maksimal yang diperoleh :
P = Rp. 120.000 ( 6,67 ) + Rp. 100.000 ( 1,67 )
P = Rp. 867.400,-


6.3. ANALISIS BIAYA MINIMUM

Biaya total dari suatu alternatif merupakan fungsi
dari sebuah variabel. Untuk mendapatkan suatu biaya
total alternatif yang minimum, maka perlu ditentukan nilai
minimum dari variabel tersebut. Nilai minimum dari
variabel tersebut disebut : Minimum Cost Point.
Hubungan matematisnya :



Dimana :
TC : biaya total per periode waktu per proyek
A, B & C : bilangan tetap / konstanta
X : variabel tertentu

Untuk memperoleh harga ekstrim, TC = 0


C
x
B
Ax TC + + =
dan c
x
B
Ax TC + + =
A
B
x
x
B
A
dx
dTC
=
= = 0
2
71
Contoh Soal 6.3. :

Akan dibuat sebuah jembatan sepanjang 400 m. Terdapat 2
macam konstruksi yang dipertimbangkan :

Alternatif 1. : Berat bentang jembatan per m :
W
1
= 110 (s) + 3600, dimana s adalah jarak
antara tiang pancang.

Alternatif 2. : Berat bentang jembatan per m :
W
2
= 90 (s) + 4500
Biaya pertiang penyangga Rp. 200.000.000,-/bh. Biaya
membangun bentang jembatan Rp. 500,-/kg. Komponen yang lain
dianggap sama untuk kedua alternatif.

Pertanyaan : Tentukan konstruksi yang dipilih.

Penyelesaian :

Untuk ini dicari jarak antara tiang penyangga yang paling
ekonomis. Jarak antara tiang penyangga menentukan
jumlah tiang.

Alternatif 1.

TC
1



Untuk biaya minimum :

TC
1
' = 0



TC
1
= Rp. 3.573. 299. 834 ,-
| |
7
9
6
7
9
7 6
7
10 . 92
10 . 80
10 . 22
10 . 20
10 . 80
10 . 72 10 . 22
10 . 20 1
400
400 500 3600 110
+ + =
+ + + =
+ + + =
s
s
s
s
s
s
m
A
B
s
s dTx
dTC
30 , 60
10 . 22
10 . 80
0
10 . 80
10 . 22
6
9
2
9
6
= = =
= =
72
Alternatif 2.

TC
2






TC
2
' = 0



TC
2
= Rp. 3.500.000.012 ,-

Pemilihan pada Alternatif 2 dengan jumlah tiang penyangga
(400 : 66,66) + 1 = 7 tiang.


6.4. ANALISIS BENEFIT COST RATIO

BCR adalah perbandingan antara ekivalensi nilai dari
manfaat yang terkandung pada suatu proyek dengan
ekivalensi nilai biaya.

BCR digunakan sebagai kriteria keputusan dalam
pemilihan alternatifalternatif proyek-proyek umum,
dimana manfaatnya dinikmati oleh masyarakat luas,
sedangkan biaya ditanggung oleh pemilik proyek .

Rumusnya :

Nilai sekarang (benefit) (PW) B
BCR = =
Nilai sekarang (biaya) (PW) C

| |
8
9
6
7
9
7 6
7
10 . 11
10 . 80
10 . 18
10 . 20
10 . 80
10 . 90 10 . 18
10 . 20 1
400
400 500 4500 90
+ + =
+ + + =
+ + + =
s
s
s
s
s
s
m s
s dTx
dTC
66 , 66
10 . 18
10 . 80
0
10 . 80
10 . 18
6
9
2
9
6
= =
= =
73
Atau :
R (C) op
BCR =
C
f

Dimana :
R = nilai sekarang pendapatan
(C)
op
= nilai sekarang biaya di luar biaya pertama
C
f
= biaya pertama

Kriteriaya :
BCR > 1 usulan proyek diterima
BCR < 1 usulan proyek ditolak
BCR = 1 netral

Contoh Soal 6.4. :

Untuk menanggulangi masalah banjir yang sering melanda suatu
daerah, sehingga menimbulkan kerugian sebesar Rp. 10 M /
tahun pada masyarakat. Pemerintah sedang mempertimbangkan
2 alternatif proyek umum yaitu membangun saluran atau
bendungan dengan data-data sebagai berikut :

Saluran Bendungan
Biaya pembangunan
Biaya pemeliharaan
Biaya peremajaan
Rp. 20 M
Rp. 1 M / tahun
Rp. 5 M / 5 tahun
Rp. 40 M
Rp. 2 M / tahun
Rp. 10 M / 5 tahun

Bila saluran maupun bendungan di anggap bisa dioperasikan
untuk selamalamanya & nilai akhir dianggap tidak ada.

Dengan saluran, banjirbanjir kecil masih terjadi dibeberapa
lokasi yang menimbulkan kerugian sebesar Rp 4 M / tahun,
sedangkan dengan bendungan banjir berhasil ditanggulangi
sepenuhnya.

74
Pertanyaan: Pilih proyek yang mana bila diketahui MARR = 10 %

Penyelesaian :

Saluran Bendungan







A
s
= P (A/P, i % , n) + A + F (A/F, i % , n)

( ) 1 1 1 ) 1 (
) 1 (
+
+ +
+
+
n n
n
i
i
F A
i
i i
P

= 20 M . 0,10 + 1 M + 5 M .
( ) 1 10 , 0 1
10 , 0
5
+


= 2M + 1 M + 0,819 M = 3,819 M

A
B
= 40 M . 0,10 + 2 M + 10 M .
( ) 1 10 , 0 1
10 , 0
5
+


= 4M + 2 M + 0,6278 M = 6,6278 M


BCR
S
=


BCR
B
=


Saluran & Bendungan : layak ekonomis

BCR
S
> BCR
B
proyek saluran
1 571 , 1
819 , 3
4 10
> =

=
M
M M
C
B
S
S
1 509 , 1
6278 , 6
10
> = =
M
M
C
B
B
B
P = 20 m
1 2 3 4 5 n =
F = 5 M
A = 1 M
0
P = 40 m
1 2 3 4 5 n =
F = 10 M
A = 2 M
0
75
6.5. ANALISIS KEPEKAAN (Sensitivity Analysis)

Analisis Kepekaan adalah suatu analisa yang
memberikan penentuan dari beberapa alternatif yang
dirubah kedalam nilai estimasi.

Contoh soal 6.5.a. :

Mempertimbangkan keuntungan tahunan ekivalen yang ekonomis,
untuk tiga buah alternatip investasi ke berbagai variasi dengan
cara Biaya Tahunan Ekivalen, kedalam nilainilai estimasi.

Alternatif x : Investasi awal $ 1.000 dengan penerimaan
berupa deret hitung seragam yang
menurun seperti pada gambar.


$1000
$1000 G
$1000 2G
$1000 (n 1) G
0 1 2 3 n
$ 1000

AB (i)
x
= - $ 1000(A/P, i %, n) + $ 1000- G(A/G, i %, n)


Alternatif Y : Investasi awal $ 4000 dengan penerimaan
seragam $ 1300 seperti pada gambar.

$ 1300

0 1 2 3 n
$ 4000

AB (i) y = - $ 4000 (A/P, i %, n) + $ 1300
76
Alternatif Z : Investasi awal $5000 dengan penerimaan
berupa deret hingga naik yang seragam
seperti pada gambar.









AB (i)
Z
= - $ 5000(A/P, i %, n) + $ 1000 + G(A/G, i %, n)

Pertimbangan 1 :

Kepekaan keuntungan tahunan ekivalen terhadap G dengan :
- Masingmasing alternatif n > 10 tahun
- i = 15 %
- G bergerak dari $ 0 sampai $ 200

Alternatif X dan alternatif Z berpengaruh langsung.

KTE 1000


Alt.z


500 Alt.y


Alt.x
88 147
0 50 100 150 200 Gradien G
dlm $
$ 1000
1 2
n 0
$ 1000 + G
$ 1000 + 2 G
$ 1000 + ( n - 1 ) G
$ 5000
77
- Alternatif x dan Alternatif z dipengaruhi jumlah G
yang diestimasi kan
- Alternatif x, y dan z akan memberikan keuntungan
yang positif bila G bergerak dari $ 0 sampai $ 200
- Alternatif x lebih dikehendaki bila G $ 88
- Alternatif y lebih dikehendaki bila $ 88 G $ 147
- Alternatif z lebih dikehendaki bila G $ 147


Pertimbangan 2 :

Kepekaan keuntungan tahunan Ekivalen terhadap tingkat
bunga :
- n = 10 tahun
- G = $ 100
- i bergerak dari 0 % sampai 30 %

KTE 1000






500 Alt.x



4 16
0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 33 Tk Bunga i%



- 500


78
- Alternatif x akan selalu menguntungkan
- Alternatif z tidak menguntungkan bila i > 21 %
- Alternatif y tidak menguntungkan bila i > 30 %

- Alternatif z dikehendaki bila 0 % i 4 %
- Alternatif y dikehendaki bila 4 % i 16 %
- Alternatif x dikehendaki bila 16 % i 30 %

Tingkat bunga yang digunakan dalam analisis ini adalah
yang mendekati 16 %, maka :
Alternatif Y merupakan pilihan yang paling tepat

Pertimbangan 3 :

Kepekaan keuntungan Tahunan Ekivalen terhadap usia
alternatif :
- G = $ 100
- i = 15 %
- n, nilai yang diestimasikan
















Alt. X
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
1000
500
0
-500
KTE
Alt. 2
Alt. Y
n tahun
79
- Alternatif x, akan untung bila n > 1
- Alternatif y, akan untung bila n > 5
- Alternatif z, akan untung bila n > 7

- Alternatif x, dikehendaki bila 0 n 9.
- Alternatif y, dikehendaki bila 9 n 15
- Alternatif z, dikehendaki bila 15 n 20.

Untuk n 10 tahun, maka alternatif y yang menjadi
pilihan
Untuk n 10 tahun, maka alternatif x yang menjadi
pilihan

Contoh soal 6.5.b. :

Dua buah alternatif dengan data sebagai berikut:
Sistem x : Biaya awal Rp. 80 juta, umur ekonomi 20 tahun,
ongkos pertahun sebelum pajak Rp 18 juta, nilai
sisa Rp 20 juta .

Sistem y : Biaya awal Rp 200 juta, umur ekonomi 40 tahun,
ongkos pertahun sebelum pajak Rp 6 juta nilai sisa
Rp 40 juta.
Metoda penyusutan garis lurus, tingkat pajak pendapatan 30 %.
Tingkat bunga minimum yang dikehendaki setelah pajak 6 %.

Pertanyaan : Alternatif mana yang dipilih ?

Penyelesaian :

Penyusutan x pertahun = jt
jt jt
3
20
20 80
=


Penyusutan Y pertahun = jt
jt jt
4
40
40 200
=



Alternatif x :
80
20 jt
18 jt
3 jt

0 1 20

80 jt

Thn Cosh flow
Sebelum
pajak

Susut
Pendapatan
terpajak
Cosh flow
pajak
pendapatan
Cosh flow
Setelah
pajak
0
1 20
20
- 80 jt
- 18 jt
+ 20 jt

- 3 jt

- 21 jt

+ 6,3 jt
- 80 jt
- 11,7 jt
+ 20 jt

AC
x
= 80 jt (A/P, 6 %, 20) 20 jt (A/F, 6 %, 20) + 11,7 jt
= 18,13 jt

Alternatif y :
40 jt
6 jt
4 jt

0 1 40

200 jt


Tahun Cosh flow
Sebelum
pajak

Susut
Pendapatan
terpajak
Cosh flow
pajak
pendapatan
Cosh
flow
Setelah
pajak
0
1 40
40
- 200 jt
- 6 jt
+ 40 jt

- 4 jt

- 10 jt

+ 3 jt
- 200 jt
- 3 jt
+ 40 jt

ACy = 200 jt (A/P, 6 %, 40) 40 jt (A/F, 6 %, 40) + 3 jt
= 16,04 jt

ACy < ACx , maka yang dipilih alternatif
81
Bagian VII
BENTUK PINJAMAN LUNAK
(GRANT COMPONENT OF LOANS)


7.1. PENGERTIAN PINJAMAN LUNAK :

Meminjam dengan tingkat suku bunga yang lebih kecil
dibandingkan dengan suku bunga komersil yang berlaku
atau
Suatu pinjaman dimana ada tenggang waktu yang tidak
dipengaruhi oleh bunga selama masa tenggang waktu untuk
pengembaliannya.

Pinjaman Lunak mengandung unsur hadiah dan pengertian hadiah
ini dikenal dengan istilah asing Grant component of Loan.
Artinya adalah suatu bentuk pinjaman pada situasi/kondisi
khusus yang lebih menguntungkan peminjam bila dibandingkan
apabila dalam bentuk pinjaman pada situasi komersil yang ada.


7.2. PRINSIP PERHITUNGAN :

Besar pinjaman dikurangi dengan harga sekarang
(present value/PV) dari kewajiban pembayaran pada
tingkat suku bunga komersil yang berlaku.


Beberapa contoh pinjaman lunak yang cara pengembaliannya
berbeda-beda :






82
No. Pinjaman Pembayaran Grant component
1 Rp. 1.000,- Tidak dibayar (berarti waktu
pengembalian tidak terhingga, bunga
tidak mempengaruhi)
Rp. 1.000,- - Rp. 0,- = Rp. 1.000,-
2 Rp. 1.000,- Dibayar Rp. 1.000,- setelah 20 tahun
dengan bunga komersil 7 %
[1000-1000(P/F,7,20)] = Rp. 742,-
3 Rp. 1.000,- Dibayar Rp. 1.000,- setelah 10 tahun
dengan bunga komersil 7 %
[1000-1000(P/F,7,10)] = Rp. 492,-
4 Rp. 1.000,- Dibayar Rp. 100,- setiap tahun selama
10 tahun dengan bunga komersil 7 %
[1000-100(P/A,7,10)] = Rp. 298,-
5 Rp. 1.000,- Dibayar pada saat itu juga (jarang, atau
berarti tidak berhutang)
Rp. 1.000,- - Rp. 1.000,- = Rp. 0,-
6 Rp. 1.000,- Dibayar Rp. 1.000,- setelah 20 tahun
dengan bunga komersil 10 %
[1000-1000(P/F,10,20)] = Rp. 851,-
7 Rp. 1.000,- Dibayar Rp. 100,- setiap tahun selama
10 tahun dengan bunga komersil 10 %
[1000-100(P/A,10,10)] = Rp. 386,-

Dari contoh tabel tersebut diatas, jumlah angka pembayaran hutang
sama, yaitu hutang Rp. 1.000,- dibayar Rp. 1.000,- ataupun dengan
cicilan 10 * Rp. 100,-. Tetapi dari sudut pandang ekonomi hal tersebut
dikatakan telah mendapat hadiah, karena adanya periode waktu antara
peminjaman dan pengembaliannya, meskipun besarmya pengembalian
sama dengan besarnya peminjaman (Future Value = Present Value).

Kesimpulan yang dapat diambil dari ketujuh cara pembayaran
tersebut diatas adalah :

Cara 1 : Pinjaman tidak dibayar. Pinjaman dibayar pada waktu tak
terhingga, grant component paling maksimum. Besarnya suku
bunga tidak berpengaruh.
Cara 2 : Pinjaman dibayar 20 tahun kemudian. Unsurnya adalah P/F.
Pengaruh bunga & waktu sudah ada. Grant component masih
besar walaupun lebih kecil dari cara 1.
Cara 3 : Pinjaman dibayar 10 tahun kemudian. Unsurnya adalah P/F.
Bunga & waktu berpengaruh. Grant component lebih kecil
dibandingkan cara 2 karena waktu 10 tahun (lebih pendek).
Cara 4 : Pinjaman dibayar dengan cara mencicil. Unsurnya adalah P/A.
Grant component lebih kecil dibandingkan cara 3, karena sejak
awal sudah mulai dibayarkan.
Cara 5 : Tidak ada pinjaman. Grant component tidak ada karena waktu
pinjaman nol (tidak ada).
Cara 6 : Pinjaman dibayar 20 tahun sama seperti cara 2, dengan bunga
komersil >, yaitu 10 %, sehingga grant component > dari cara 2.
Cara 7 : Pinjaman dibayar secara mencicil dengan suku bunga >, yaitu
10 %. Dengan waktu yang sama seperti cara 4 ternyata grant
component >.
83
Dari cara 6 & 7 dapat disimpulkan bahwa dengan bunga yang
semakin besar, maka grant component juga makin besar.

Contoh soal 7.a. :

Sebuah perusahaan BUMN menerima pinjaman sebesar Rp. 1 M
dari World Bank. Pembayaran dimulai pada akhir tahun ke 10
(tenggang waktu selama 10 tahun) dan seterusnya sampai akhir
tahun ke 50 dengan pembayaran tahunan yang sama, yaitu
sebesar Rp. 25.000.000,-.

Pertanyaan : Berapa besar grant component bila suku bunga
komersil sebesar 8 % ?

Jawab :

Rp. 1 M
i = 8 %
0 10 50

Rp. 25.000.000,-


Grant component = Rp. 1M Rp. 25.000.000,- (P/A,8,40)(P/F,8,10)
= Rp. 862.000.000,-


Contoh soal 7.b. :

Indonesia mendapat pinjaman dari ABD sebesar $ 10 M dengan waktu
pengembalian 20 tahun dengan bunga 3 %.
Kondisi nya sebagai berikut :
pada setiap akhir tahun besarnya bunga $ 300.000.000
harus dibayar selama 20 tahun
pada akhir tahun ke 20 pinjaman $ 10 M harus dibayar semua
tingkat suku bunga komersil yang berlaku dengan Bank-Bank
internasional adalah 12 %.


84
Pertanyaan : Berapa besar grant component dari pinjaman ini?
Jawab :

$ 10 M
i = 12 %
0 20 tahun

$ 300.000.000 (pembayaran bunga 3 %) $ 10 M
pengembalian pinjaman
pokok


Grant component = $ 10 M [$300.000.000 (P/A,12,20) + $ 10 M
(P/F,12,20)]
= $ 6.722.000.000




























85
Bagian VIII
PENYUSUTAN DAN PERPAJAKAN

8.1. PENYUSUTAN/DEPRESIASI

Penyusutan/Depresiasi adalah penurunan nilai fisik suatu
asset dengan berlalunya waktu dan penggunaan.

Nilai penyusutan merupakan konsep akuntansi yang
menentukan suatu reduksi tahunan terhadap pendapatan
sebelum pajak. Ada dua macam/jenis penyusutan yang perlu
diketahui, yaitu :
1. Penyusutan fisik (deterioration), misalnya nilai suatu
asset yang diakibatkan oleh keausan
2. Penyusutan fungsional (obsolescence), misalnya nilai
suatu asset yang diakibatkan oleh keusangan/kekunoan
karena ketinggalan mode

Tujuan penilaian penyusutan adalah untuk mengembalikan
modal yang telah diinvestasikan dalam kekayaan fisik.

Ada tiga metode penyusutan yang kita kenal yang biasa
digunakan dalam studi-studi ekonomi, yaitu :

1. Metode Garis Lurus (Straight-Line Method)

D = P - S
n

B
t
= P t/n (P S)
n = usia kegunaan ekonomis



86
2. Metode Keseimbangan Menurun (Declaining Balance
Method)

D
t
= R.B
t-1


B
t
= B
t-1
-

D
t

= (1-R)
t
P
R =
t
P
B
1
R = tingkat penyusutan

3. Metode Jumlah Angka Tahunan (Sum of the Years
Digit Method)

D
t
= 2(n-t+1) (P - S)
n (n+1)

B
t
= B
t-1
-

D
t

= P 2(PS) [ j]
n(n+1) j = n-t+1
dimana :
P = Nilai investasi
S = Nilai jual lagi
D = Nilai penjusutan
D
t
= Nilai penyusutan pada tahun tertentu
B
t
= Nilai buku pada tahun tertentu


8.2. PERPAJAKAN

Perpajakan merupakan kunci pokok dari pada kebijakan
fiskal. Kebijakan fiskal berkaitan dengan penerimaan-
penerimaan dan pengeluaran-pengeluaran oleh Pemerintah dalam
rangka kebijakan Nasional pada kegiatan ekonomi. Ada tiga
macam/jenis pajak yang perlu kita perhatikan yaitu Pajak
Pendapatan, Pajak Kekayaan dan Pajak Penjualan. Namun yang
87
banyak berhubungan dengan studi Ekonomi Teknik hanyalah
pajak pendapatan saja, karena yang lain dianggap sangat kecil
pengaruhnya.

Kajian Ekonomi yang dipengaruhi pajak pendapatan, mis :

1. Kajian ekonomi yang salah satu alternatifnya bebas dari
pajak pendapatan
2. Kajian ekonomi yang salah satu alternatifnya memperoleh
beberapa kebebasan pajak, sedang yang lain tidak
3. Adanya situasi dimana terjadi penjualan kekayaan
sehingga terjadi perubahan terhadap jumlah modal.
4. Adanya situasi dimana modal berasal dari bantuan luar
negeri.
5. Adanya situasi dimana perlu dilakukan perhitungan deplesi.

Pengaruh pajak pendapatan dalam analisa ekonomi :

- Pajak pendapatan dikenakan pada pendapatan perusahaan
sesuai aturan yang berlaku.
- Pajak pendapatan merupakan suatu pembayaran/
pengeluaran, sehingga merupakan pengurangan terhadap
keuntungan perusahaan.
- Pajak pendapatan merupakan prosentase terhadap
pendapatan terpajak.
- Pajak pendapatan = pendapatan kotor seluruh biaya
penyusutan & pembebasan yang
diizinkan
(misalnya sumbangan sosial, biaya kesehatan, pembayaran
bunga dsb).






88
DAFTAR PUSTAKA



1. Dadan Kurniawan Harun, Ir., 1994, Prinsip-Prinsip Ekonomi
Teknik, PT Rosda Jayaputra, Jakarta.
2. D.Haryanto, Ir., 1985, Ekonomi Teknik, Universitas
Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta.
1. Donald G. Newman, Engineering Economic Analysis, Third
Edition, Engineering Press Inc, California.
2. Endang Mulyani dkk., Desember 1999, Buku Ajar Ekonomi
Rekayasa, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura,
Pontianak.
5. Eugene L. Grant dkk., 1991, Dasar-Dasar Ekonomi Teknik I
& II, PT. Melton Putra, Jakarta.
6. E. Paul De Garmo dkk. , 1999, Ekonomi Teknik I & II
(Engineering Economy Tenth Edition), PT. Prenhallindo,
Jakarta.
7. FX. Marsudi Joyowiyono, Ir., SE., 1993, Ekonomi Teknik I &
II, Cetakan ke 3, Yayasan Badan Penerbit Pekerjaan Umum,
Jakarta.
8. H. Arson Aliludin, DEA, Ir., Drs., Februari 1995, Handout
Kuliah Ekonomi Teknik.
9. H.G. Thuesen dkk., 1981, Engineering Economy 5
th
,
Prentice-Hall of India, Private Limited, New Delhi.


10. James L. Riggs dkk., 1998, Engineering Economics 4
th
, Mc.
Graw-Hill Companies, Inc. New York.
11. Robert J. Kodoatie, 2005, Analisis Ekonomi Teknik,
Penerbit Andi, Yogyakarta.
12. UMA, Text Book for Engineering Economy Short Course,
HEDS/JICA Project, Medan.



89

(

+
=
1 ) 1 (
1
n
i
n
i
G A