Vous êtes sur la page 1sur 13

Pemeriksaan Urologi

Pemeriksaan urologi merupakan pemeriksaan yang dilakukan oleh seorang dokter terhadap saluran kemih pria maupun wanita dan organ kelamin pria sehingga dokter tersebut dapat menegakkan kelainan-kelainan urologi, seorang dokter dituntut untuk dapat melakukan pemeriksaan-pemeriksaan dasar urologi secara seksama dan sistematik yang dimulai dari : 1. Pemeriksaan subyektif yaitu mencermati keluhan yang disampaikan oleh pasien yang digali melalui anamnesis yang sistematik. 2. Pemeriksaan obyektif yaitu melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien untuk mencari data data yang obyektif mengenai keadaan pasien. 3. Pemeriksaan radiologi atau imaging (pencitraan), uroflometri, atau urodinamika, elektromiografi, endourologi, dan laparoskopi.

I. Pemeriksaan Subyektif Pemeriksaan subyektif didapatkan melalui anamnesis yang cermat dan sistematik yang dilakukan oleh seorang dokter terhadap pasiennya. Oleh karena itu, seorang dokter harus mempunyai kemampuan dalam melakukan wawancara terhadap pasien maupun keluarga pasien secara cermat dan sistematik sehingga dapat membantu untuk menentukan diagnosis suatu penyakit. Terdapat dua jenis anamnesis yaitu autoanamnesis dan aloanamnesis autoanamnesis merupakan anamnesis yang dilakukan terhadap pasien itu sendiri. Aloanamnesis adalah anamnesis yang dilakukan terhadap keluarga atau relasi terdekat atau yang membawa pasien ke rumah sakit. Aloanamnesis dilakukan bila kita tidak dapat melakukan anamnesis terhadap pasien karena berbagai hal, misalnya adanya kesulitan berbahasa, gelisah, penurunan kesadaran, dll. Tujuan anamnesis adalah mendapatkan informasi yang menyeluruh dari pasien yang bersangkutan. Informasi yang dimaksud adalah data medis organobiologis, psikososial, serta lingkungan pasien. Berdasarkan informasi tersebut, pada akhir anamnesis kita diharapkan mampu menyimpulkan dugaan organ atau sistem yang terganggu, bahkan rumusan masalah klinik, tergantung tingkat keterampilan

pewawancara. Anamnesis merupakan tahap awal pemeriksaan pasien, maka tujuan anamnesis yang tidak kalah penting adalah membina hubungan dokter-pasien yang profesional dan optimal. Hal ini penting untuk menimbulkan kepercayaan pasien terhadap dokternya dan sebaliknya. Bila hubungan dokter-pasien baik, maka pengelolaan terhadap pasien selanjutnya akan lebih optimal. Anamnesis yang sistematik itu dapat mencakup : Identitas pasien Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku, agama, status perkawinan, pekerjaan, dan alamat. Hal ini penting karena sering berkaitan dengan masalah klinik maupun gangguan sistem atau organ tertentu. Keluhan utama pasien. Merupakan keluhan terpenting yang membawa pasien untuk meminta pertolongan dokter atau petugas kesehatan lainnya. Keluhan utama biasanya dituliskan secara singkat beserta lamanya. Riwayat penyakit yang diderita saat ini. Merupakan riwayat mengenai penyakit pasien saat ini, yang dimulai dari akhir masa sehat. Dituliskan secara terperinci mengenai lamanya, onset/awitan timbulnya mendadak/berangsur, apa yang kemudian terjadi (menetap atau periodik, frekuensi-kronologis/urutan waktu, bertambah buruk atau baik), faktor pencetus (berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, hal yang dilakukan oleh pasien untuk mengurangi keluhan), dan gejala yang menyertai, berhubungan, atau gejala tambahan. Bila nyeri merupakan gejala penting tentukan lokasi dan penjalarannya, sifat nyeri, derajat atau ringannya nyeri. Riwayat penyakit lain yang pernah dideritanya maupun pernah diderita oleh keluarganya. Riwayat pribadi, sosial-ekonomi-budaya. Pasien datang ke dokter mungkin dengan membawa keluhan sistemik yang merupakan penyulit dari kelainan urologi, misalnya gagal ginjal (malaise, pucat, uremia), demam disertai menggigil akibat infeksi atau urosepsis atau keluhan lokal seperti nyeri akibat kelainan urologi, keluhan miksi, disfungsi seksual atau infertilitas.

A.Nyeri akibat kelainan urologi Nyeri yang disebabkan oleh kelainan yang terdapat pada organ urogenital dirasakan sebagai nyeri lokal yaitu nyeri yang dirasakan di sekitar organ itu sendiri, atau berupa referred pain yaitu nyeri yang dirasakan jauh dari tempat organ yang sakit. Di bidang urologi banyak dijumpai bermacam-macam nyeri yang dikeluhkan oleh pasien sewaktu datang ke tempat praktek yaitu : Nyeri ginjal adalah nyeri yang terjadi akibat regangan kapsul ginjal yang dapat disebabkan oleh pielonefritis akut yang menimbulkan edema, obstruksi saluran kemih yang mengakibatkan hidronefrosis, atau tumor ginjal. Nyeri kolik adalah nyeri yang terjadi akibat spasmus otot polos ureter karena gerakan peristaltiknya terhambat oleh batu, bekuan darah atau benda asing lain. Nyeri ini dirasakan hilang timbul sesuai dengan pergerakan ureter dan sangat sakit. Nyeri vesika adalah nyeri yang dirasakan di daerah suprasimfisis yang terjadi akibat distensi buli-buli yang penuh atau terdapat peradangan pada buli-buli. Nyeri prostat adalah nyeri yang dirasakan pda daerah perineum sampai ke daerah lumbosakral akibat adanya peradangan pada prostat atau abses prostat. Nyeri testis adalah nyeri akut pada daerah testis akibat torsio testis, epididimitis/orkitis akut atau trauma pada testis. Sering dikacaukan oleh nyeri karena kelainan abdomen karena menjalar ke daerah abdomen. Nyeri penis adalah nyeri yang didapatkan pada parafimosis atau peradangan pada prepusium dan glans penis, sedangkan nyeri yang terjadi pada saat ereksi mungkin disebabkan karena penyakit peyronie atau priapismus. B.Keluhan miksi Berbagai macam keluhan miksi yang dapat terjadi pada pasien-pasien yang datang untuk berobat, yaitu : Urgensi adalah rasa sangat ingin kencing sehingga terasa sakit. Hal ini akibat hiperiritabilitas dan hiperaktivitas buli-buli karena inflamasi, obstruksi infravesika atau kelainan buli-buli neurogen.

Hesitansi adalah sulit untuk memulai kencing sehingga kadang perlu mengedan untuk memulai kencing. Hal ini disebabkan adanya obstruksi infravesika.

Pancaran urin melemah dan mengecil, hal ini merupakan gejala obstruksi infravesika, sedangkan pancaran urin yang kecil dan deras menunjukkan adanya penyempitan uretra.

Terminal dribbling adalah masih didapatkannya tetesan-tetesan urin pada akhir miksi. Hal ini merupakan gejala dari obstruksi infravesika. Intermitensi adalah terputusnya-putusnya pancaran urin pada saat miksi. Residual urin adalah masih terasa ada sisa urin yang belum tuntas setelah miksi. Retensi urin adalah ketidakmampuan buli-buli untuk mengeluarkan urin yang telah melampaui batas kapasitas maksimalnya. Polakisuria adalah frekuensi kencing yang lebih sering dari biasanya yang disebabkan oleh hiperiritabilitas buli-buli. Disuria adalah perasaan nyeri saat kencing yang disebabkan oleh iritasi bulibuli. Enuresis atau ngompol adalah keluarnya urin secara tidak disadari pada saat tidur. Normal terjadi pada balita tetapi jika terjadi pada usia lebih dari 5 tahun apalagi pada siang hari, hal ini merupakan suatu kelainan.

Inkontinensia urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan urin yang keluar dari buli-buli baik disadari maupun tidak disadari. Terdapat beberapa macam inkontinensia urin yaitu inkontinensia true, inkontinensia stress, inkontinensia urge, dan inkontinenesia paradoksa (overflow).

Nokturia adalah frekuensi kencing yang sering pada malam hari yang disebabkan karena hiperiritabilitas buli-buli. Chiluria adalah urin yang berwarna putih seperti cairan limfe. Dapat terjadi pada kebocoran cairan limfe. Anuria atau oliguria. Anuria adalah produksi urin kurang dari 200 mL sehari sedangkan oliguria adalah produksi urin kurang dari 600 ml sehari. Keadaan ini dapat disebabkan karena faktor renal yaitu akibat berkurangnya perfusi cairan ke ginjal, renal

yaitu terjadinya kerusakan parenkim ginjal, atau pasca renal akibat adanya obstruksi saluran kemih bilateral. Hematuri adalah didapatkannya darah atau sel darah merah di dalam urin. Pada hematuri yang keluar perlu diperhatikan adalah apakah terjadi pada saat awal miksi (hematuri inisial), seluruh proses miksi (hematuri total), atau akhir miksi (hematuri terminal). Pneumaturi adalah berkemih bercampur dengan udara. Hal ini dapat terjadi karena terdapat fistula antara buli-buli dengan usus atau adanya fermentasi glukosa menjadi gas CO2 di dalam urin pada pasien diabetes melitus. Hematospermi adalah didapatkannya darah di dalam cairan ejakulat (semen). Hal ini terjadi pada peradangan vesikulaseminalis (vesikulitis), karsinoma prostat atau protatitis tuberkulosa. Cloudy urin adalah urin berwarna keruh dan berbau busuk akibat infeksi saluran kemih. C. Keluhan pada skrotum dan isinya Keluhan pada skrotum dapat berupa buah zakar membesar (mungkin disebabkan oleh tumor testis, hidrokel, spermatokel, hematokel, atau hernia skrotalis), terdapat bentukan seperti cacing di dalam kantong skrotum (varikokel), atau buah zakar tidak berada dalam skrotum (kriptorkismus). D. Keluhan disfungsi seksual Disfungsi seksual pada pria meliputi libido menurun, kekuatan ereksi menurun, disfungsi ereksi, ejakulasi retrograd (air mani tidak keluar pada saat ejakulasi), tidak pernah merasakan orgasme, atau ejakulasi dini.

II. Pemeriksaan Obyektif Pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap pasien meliputi pemeriksaan keadaan umum dan pemeriksaan urologi. Seringkali kelainan-kelainan di bidang urologi memberikan manifestasi penyakit sistemik atau tidak jarang pasien-pasien urologi kebetulan menderita penyakit lain seperti hipertensi yang merupakan tanda dari kelainan ginjal, ginekomastia yang mungkin ada hubungannya dengan karsinoma

testis. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan keadaan umum pasien secara menyeluruh. Sedangkan pada pemeriksaan urologi perlu diperhatikan setiap organ mulai dari : 1. Pemeriksaan ginjal Dilakukan inspeksi adanya pembesaran pada daerah pinggang atau abdomen sebelah atas yang munghkin disebabkan oleh hidronefrosis atau adanya tumor di daerah retroperitoneum. Dilakukan palpasi secara bimanual yaitu dengan memakai dua tangan. Tangan kiri diletakkan di sudut kostovertebral untuk mengangkat ginjal ke atas sedangkan tangan kanan meraba ginjal dari depan. Pembesaran ginjal (akibat tumor atau hidronefrosis akan teraba di antara kedua tangan tersebut, dan bila salah satu tangan digerakkan akan teraba benturannya di tangan lain. Fenomena ini dinamakan ballotement positif. Pada keadaan normal ballotement negatif. Dilakukan perkusi atau pemeriksaan ketok ginjal yang dilakukan dengan memberikan ketokan pada sudut kostovertebral yaitu sudut yang dibentuk oleh kosta terakhir dengan tulang vertebra. Jika terdapat pembesaran ginjal karena hidronefrosis atau tumor ginjal akan teraba pada palpasi dan terasa nyeri pada perkusi. 2. Pemeriksaan buli-buli Diperhatikan adanya benjolan atau massa atau jaringan parut bekas irisan atau operasi di suprasimfisis. Massa di daerah suprasimfisis mungkin merupakan tumor ganas buli-buli atau karena buli-buli yang terisi penuh dari suatu retensi urin. 3. Pemeriksaan genitalia eksterna Diperhatikan kemungkinan adanya kelainan penis atau uretra antara lain mikropenis, makropenis, hipospadia, epispadia, stenosis pada meatus uretra eksterna, fimosis/parafimosis, fistel uretro-kutan, dan ulkus atau tumor penis. 4. Pemeriksaan skrotum dan isinya Perhatikan apakah adanya pembesaran, perasaan nyeri pada saat diraba, atau ada hipoplasi kulit skrotum yang sering dijumpai pada kriptorkismus. Untuk

membedakan antara massa padat dan massa kistus yang terdapat pada isi skrotum, dilakukan pemeriksaan transiluminasi (penerawangan) pada isi skrotum. Transiluminasi positif jika isi skrotum tampak menerawang dalam gelap yang berarti berisi cairan kistus. 5. Colok dubur (Rectal toucher) Pemeriksaan colok dubur adalah pemeriksaan dengan memasukkan jari telunjuk yang sudah diberi pelicin ke dalam lubang dubur. Pada pemeriksaan colok dubur dinilai : Tonus sfingter ani dan refleks bulbokavernosus (BCR). Penilaian refleks bulbokavernosus dilakukan dengan cara merasakan adanya jepitan pada sfingter ani pada jari akibat rangsangan sakit yang kita berikan pada glans penis atau klitoris. Mencari kemungkinan adanya massa dalam lumen rektum. Menilai keadaan prostat. Dilakukan perabaan sisi bagian belakang dari kelenjar prostat kemudian dinilai ukuran, konsistensi (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal), simetris atau tidak, batas atas teraba atau tidak, dan adanya benjolan pada kelenjar prostat. Pada wanita yang sudah berkeluarga selain dilakukan pemeriksaan colok dubur perlu juga diperiksa colok vagina guna melihat kemungkinan adanya kelainan di dalam alat kelamin wanita, antara lain massa di serviks, darah di vagina atau massa di buli-buli. 6. Pemeriksaan neurologi Ditujukan untuk mencari kemungkinan adanya kelainan neurologik yang mengakibatkan kelainan pada sistem urogenital seperti pada lesi motor neuron atau lesi saraf perifer yang merupakan penyebab dari buli-buli neurogen. III. Pemeriksaan Laboratorium III. 1. Urinalisis Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang sering dilakukan pada kasuskasus urologi yang meliputi uji : Makroskopik dengan menilai warna, bau, berat jenis urin.

Kimiawi meliputi pemeriksaan derajat keasaman, protein, dan gula dalam urin. Mikroskopik untuk mencari kemungkinan adanya sel-sel, cast (silinder) atau bentukan lain di dalam urin.

Urin mempunyai pH rata-rata 5,5-6,5. jika didapatkan pH yang terlalu basa kemungkinan terdapat infeksi oleh bakteri pemecah urea, sedangkan jika pH terlalu asam kemungkinan terdapat asidosis pada tubulus ginjal. Didapatkannya eritrosit di dalam darah secara bermakna (>2 per lapangan pandang) menunjukkan adanya cedera pada sistem saluran kemih, dan didapatkannya leukosituria bermakna (>5 per lapangan pandang) atau piuria merupakan tanda dari inflamasi saluran kemih. Jika ditemukan adanya cast (silinder) di dalam pemeriksaan sedimen urin menandakan adanya kerusakan pada parenkim ginjal. III.2. Pemeriksaan Darah III. 2. a. Darah Rutin Pemeriksaan darah rutin terdiri atas pemeriksaan kadar hemoglobin, leukosit, laju endap darah, hitung jenis leukosit, dan hitung trombosit. III. 2. b. Faal Ginjal Beberapa uji faal ginjal yang sering diperiksa adalah pemeriksaan kadar kreatinin, kadar ureum atau BUN (Blood Urea Nitrogen) dan klirens kreatinin. Kenaikan nilai BUN atau ureum tidak spesifik, karena selain disebabkan oleh kelainan fungsi ginjal dapat juga disebabkan oleh dehidrasi, asupan protein yang tingi, proses katabolisme yang meningkat seperti pada infeksi atau demam. Sedangkan kadar kreatinin relatif tidak banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor tadi. Klirens kreatinin menunjukkan kemampuan filtrasi ginjal, dalam menilai faal ginjal pemeriksaan ini lebih peka daripada pemeriksaan kreatinin/BUN. Klirens kreatinin dihitung melalui rumus : K= UV X 1,73 P L K= nilai klirens kreatinin (mL/menit). U= kadar kreatinin dalam urin (mg/dL). V = jumlah urin dala 24 jam (mL). P = Kadar kreatinin dalam serum (mg/dL). L = Luas permukaan tubuh (m2).

Nilai klirens normal pada orang dewasa adalah 80 120 mL/menit. III. 2. c. Elektrolit : K, Na, Ca, P Pemeriksaan elektrolit berguna untuk mengetahui faktor predisposisi pembentuk batu saluran kemih (kalsium, fosfat, urat, atau oksalat), mendeteksi adanya hiponatremi akibat intoksikasi air pada pasien pasca menjalani TURP, atau untuk mendeteksi adanya sindroma paraneoplastik yang dapat terjadi pada tumor Grawitz. III. 2. d. Faal Hepar Ditujukan untuk mencari adanya metastasis suatu keganasan atau untuk melihat fungsi hepar secara umum. III. 2. e. Faktor Pembekuan atau Faal Hemostasis Pemeriksaan ini sangat penting untuk mempersiapkan pasien dalam menjelang operasi besar yang diduga banyak menimbulkan perdarahan. III. 2. f. Pemeriksaan Penanda Tumor (Tumor marker) Pemeriksaan penanda tumor antara lain : o PAP (Prostatic Acid Phosphatase) dan PSA (Prostate Spesific Antigen). Yang sering berguna untuk mendiagnosa karsinoma prostat. o AFP ( fetoprotein) dan HCG (Human Chorionic Gonadotropin) untuk mendeteksi adanya tumor testis jenis non seminoma. o VMA (Vanyl Mandelic Acid) dalam urin untuk mendeteksi tumor neuroblastoma. III. 3. Analisis Sperma Pemeriksaan analisis sperma dikerjakan pada pasien varikokel atau infertilitas pria untuk membantu diagnosis atau mengikuti perkembangan hasil pasca terapi pada infertilitas pria. III. 4. Analisis Batu Kegunaannya adalah untuk mengetahui jenis batu guna mencegah terjadinya kekambuhan di kemudian hari. Pencegahan itu dapat berupa pengaturan diet atau pemberian obat-obatan. III. 5. Kultur Urin

Diperiksa untuk mencari adanya infeksi saluran kemih, menentukan jenis kuman dan sensitivitas kuman terhadap beberapa antibiotika yang diujikan. III. 6. Sitologi Urin Merupakan pemeriksaan sitopatologi sel-sel urotelium yang terlepas dan ikut dalam urin. Derajat perubahan sel-sel itu diklasifikasikan dalam 5 klas yaitu normal, sel-sel yang mengalami peradangan, sel-sel atipik, diduga menjadi sel ganas, dan selsel yang sudah mengalami perubahan morfologi menjadi sel ganas. IV. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan ini meliputi foto polos, foto dengan kontras, ultrasonografi, pemeriksaan dengan radionuklir, CT-scan, dan MRI. IV. 1. Foto Polos Abdomen Merupakan foto skrining untuk pemeriksaaan kelainan-kelainan urologi. Menurut Blandy, cara membaca foto yang harus diperhatikan adalah 4S yaitu : Slide : diperiksa apakah penempatan sisi kanan dan sisi kiri sudah benar. Skeleton : perhatikan tulang-tulang vertebra, sakrum, kosta serta sendi sakroiliaka. Adakah kelainan bentuk atau perubahan densitas tulang akibat dari proses metastase. Soft tissue : perhatikan adanya pembesaran hepar, ginjal, buli-buli akibat retensi urin atau tumor buli serta perhatikan bayangan garis psoas. Stone : perhatikan adanya bayangan opak dalam sistem urinaria. Selain itu, perhatikan bayangan radioopak yang lain seperti susuk atau bayangan klip untuk menjepit pembuluh darah. IV. 2. Pielografi Intravena (PIV) Merupakan foto yang dapat menggambarkan keadaan sistem urinaria melalui bahan kontras radioopak. Pencitraan ini dapat menunjukkan adanya kelainan anatomi dan kelainan fungsi ginjal. Teknik pelaksanaannya yaitu pertama kali dibuat foto polos abdomen sebagai kontrol kemudian bahan kontras yodium (dosis 1 mL/kgBB atau 300 mg/kgBB) disuntikkan secara intravena dan dibuat foto serial beberapa menit hingga satu jam, dan foto setelah miksi. Jika terdapat keterlambatan fungsi ginjal, pengambilan foto diulangi setelah jam ke-2, jam ke-6, atau jam ke-12. Hatihati penggunaan kontras, dapat menyebabkan reaksi alergi berupa syok anafilaktik

sampai timbulnya laringospasmus. Bahan kontras dapat menyebabkan kerusakan ginjal karena bersifat nefrotoksik. IV. 3. Sistografi Merupakan pencitraan buli-buli dengan memakai kontras. Dari sistogram dapat dikenali adanya tumor atau bekuan darah di dalam buli-buli yang ditunjukkan adanya filling defect, adanya robekan buli-buli yang terlihat sebagai ekstravasasi kontras keluar dari buli-buli, adanya divertikel buli-buli, buli-buli neurogen, dan kelainan buli-buli yang lain. Pemeriksaan ini dapat untuk menilai adanya inkontinensi stress pada wanita dan untuk menilai adanya refluks vesikoureter. IV. 4. Uretrografi Merupakan pencitraan uretra dengan menggunakan bahan kontras dimana bahan kontras dimasukkan langsung melalui meatus uretra eksternus sehingga dapat diketahui jika ada striktur uretra, adanya ekstravasasi kontras pada trauma uretra, atau adanya filling defect jika terdapat tumor uretra. IV. 5. Pielografi Retrograd (RPG) Merupakan pencitraan sistem urinaria bagian atas (dari ginjal samapi ureter) dengan cara memasukkan bahan kontras radioopak langsung melewati kateter ureter yang dimasukkan transuretra. Foto ini dilakukan jika terdapat kontraindikasi untuk pembuatan foto PIV atau jika PIV belum bisa menjelaskan keadaan ginjal maupun ureter, antara lain ginjal non-visualized. IV. 6. Pielografi anterograd Merupakan pencitraan sisten urinari bagian atas dengan cara memasukkan kontras melalui sistem saluran (kaliks) ginjal. IV. 7. Ultrasonografi (USG) USG banyak digunakan untuk mencari adanya kelainan-kelainan pada ginjal, buli-buli, testis, prostat, dan pemeriksaan kasus keganasan. Pada ginjal dipergunakan untuk mendeteksi keberadaan dan keadaan ginjal (hidronefrosis, kista, massa atau pengerutanm ginjal), sebagai penuntun pada saat

melakukan pungsi ginjal atau nefrostomi perkutan, sebagai pemeriksaan penyaring pada dugaan adanya trauma ginjal derajat ringan. Pada buli-buli untuk menghitung sisa urin pasca miksi dan mendeteksi adanya batu atau tumor. Pada kelenjar prostat melalui pendekatan transrektal (TRUS) untuk mencari nodul pada keganasan prostat dan menentukan volume atau besarnya prostat. Pada testis berguna untuk membedakan antara tumor testis dan hidrokel testis serta kadang-kadang mendeteksi letak testis kriptokorkid yang sulit diraba dengan palpasi. Pada keganasan untuk mengetahui adanya massa padat pada organ primer dan kemungkinan adanya metastase pada hepar atau kelenjar paraaorta. IV. 8. CT-Scan dan MRI Pemeriksaan ini lebih baik daripada USG tetapi harganya sangat mahal. Kedua pemeriksaan ini banyak dipakai dalam bidang onkologi untuk menentukan batas-batas tumor, invasi ke organ di sekitar tumor dan mencari adanya metastase ke kelenjar limfe serta ke organ lain. IV. 9. Sintigrafi Pemeriksaan ini menggunakan bahan isotop yang diikat dengan bahan radiofarmaka tertentu yang banyak digunakan di bidang urologi, antara lain untuk mengetahui faal ginjal (renografi), mengetahui anatomi ginjal pada pielonefritis kronik, untuk mencari adanya refluks vesikoureter, varikokel, torsio testis, dan di bidang onkologi untuk mencari metastase karsinoma prostat pada tulang.

DAFTAR PUSTAKA
Purnomo, B. 2000. Dasar-Dasar Urologi. Cetakan pertama. Hal 14 36. Penerbit: CV. Sagung Seto, Jakarta. Abdurahman. N, Daldiyono, Markum. H.M.S, dkk. 2007. Penuntun Anamnesis dan Pemeriksaan Fisis. Cetakan keempat. Hal 12 19. Penerbit: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia, Jakarta. Soni, Y. 4 November 2008. Deteksi Dini Kanker Prostat in: http://urologimenjawab.blogspot.com/2008/11/deteksi-dini-kanker-prostat_04.html Dwindra, M, Israr, A. Y. 25 April 2008. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) / Pembesaran Prostat Jinak (PPJ) in: http://yayanakhyar.wordpress.com/2008/04/25/benign-prostatic-hyperplasia-bphpembesaran-prostat-jinak-ppj/