Vous êtes sur la page 1sur 9

Analisis : 1. Pembuatan Sabun a.

Sabun dari minyak sawit Pembuatan sabun pada dasarnya adalah mereaksikan antara minyak dengan suatu senyawa alkali seperti NaOH atau KOH yang akan menghasilkan sabun dan gliserol. Reaksi yang dikenal juga dengan reaksi saponifikasi ini memiliki persamaan :

CH2OCOR1 CH2OH CH2OCOR1 CH2OH CH2OCOR1 CH2OH Minyak Gliserol Sabun + 3NaOH

R1COONa

R1COONa

R1COONa

Dalam pembuatan sabun dari minyak sawit, langkah pertama yang dilakukan adaah menimbang 10 gram minyak sawit terlebih dahulu. Kemudian menimbang NaOH padatan sebanyak 1,4 gram dan dilarutkan dalam 3,3 mL air. Karena pelarutan NaOH bersifat eksoterm, maka pada saat pelarutan akan dihasilkan panas sehingga harus ditunggu beberapa menit akan larutan NaOH mendingin. Setelah itu menimbang 1 gram asam stearat. 1 gram asam stearat ini kemudian dimasukkan atau dicampurkan ke 10 gram minyak sawit yang sudah disiapkan tadi kemudian campuran diaduk agar melarut. Asam stearat berbentuk serbuk berwarna putih. Asam stearat merupakan asam lemak bebas atau asam lemak yang tidak terikat dalam gliserin sehingga dapat menambah kekerasan atau kepadatan sabun yang dibuat. Setelah dicampur dan diaduk, campuran minyak kelapa sawit dan asam stearat kemudian dipanaskan sambil diaduk-diaduk. Hal ini bertujuan untuk melarutkan asam stearat yang masih belum melarut ketika diaduk pada pencampuran tadi dengan mencairkan asam stearat. Ketika pemanasan, suhu campuran dijaga agar tidak melebihi 70C. Hal ini

dilakukan agar sabun yang dihasilkan tidak berwarna coklat gelap karena minyak yang dipanaskan pada suhu yang terlalu tinggi (>70C) akan mengalami oksidasi sehingga warnanya berubah menjadi kecoklatan dan menurunkan kualitas sabun yang dibuat. Setelah dirasa seluruh asam stearat sudah melarut, campuran diangkat dari pemanas dan dibiarkan suhunya menurun sampai 50C. Setelah mencapai 50C, campuran ditambahkan dengan NaOH yang sudah dibuat tadi. Terlihat terbentuk gumpalan kental pada saat NaOH dicampurkan dengan campuran. Hal ini lumrah mengingat minyak dan NaOH bersifat immiscible atau tidak melarut sehingga terbentuk gumpalan. Namun, setelah dipanaskan sambil diaduk, maka reaksi penyabunan akan terjadi sehingga gumpalan berubah menjadi larutan kental berwarna kuning tua. Alkali yang digunakan dalam percobaan ini adalah NaOH karena percobaan ini bertujuan untuk membuat sabun batangan sehingga alkali NaOH yang digunakan. Bila ingin membuat sabun cair, maka alkali yang digunakan adalah KOH. Setelah itu, sambil dipanaskan, pada campuran ditambahkan 12 gram alkohol dan 4 gram gliserin. Alkohol yang ditambahkan berfungsi agar sabun yang dihasilkan memiliki wujud transparan atau bening karena alkohol dapat mudah larut dalam air dan lemak. Gliserin yang ditambahkan berfungsi sebagai pembuat sifat humektan pada sabun yang dibuat sehingga dapat melembabkan kulit karena sifatnya yang menyerap air. Setelah campuran dipanaskan dan diaduk sampai melarut sempurna, campuran dibiarkan beberapa saat agar mendingin suhunya. Kemudian dalam campuran ditambahkan pewangi agar sabun yang dihasilkan dapat menimbulkan bau wangi. Setelah itu, campuran atau sabun yang masih berbentuk cair ini dimasukkan ke dalam cetakan dan dibiarkan mendingin supaya sabun dapat mengeras atau memadat. Sabun yang dihasilkan dari minyak sawit berwarna kuning keruh dan cukup cepat memadat pada saat pembuatannya. Sabun yang dihasilkan memiliki permukaan yang kasar. Hal ini terjadi karena proses pengadukan dan pelarutan campuran-campuran pembuat sabun tadi dilakukan secara kurang sempurna. Sabun yang dihasilkan kemudian dilakukan uji sifat emulsi sabun.

b. Sabun dari minyak kelapa Proses pembuatan sabun dari minyak kelapa sama dengan pembuatan sabun dari minyak sawit. Sabun yang dihasilkan dari minyak kelapa berwarna putih keruh dan waktu pemadatannya memakan waktu cukup lama (sekitar 2 hari). Hal ini terjadi karena

minyak kelapa yang digunakan memang berwujud jernih sehingga sabun yang dihasilkan berwarna putih keruh sedangkan proses pemadatannya yang memakan waktu lama akibat minyak kelapa yang digunakan memiliki kualitas yang baik sehingga sulit direaksikan membentuk sabun. Sabun yang dihasilkan kemudian dilakukan uji sifat emulsi sabun.

c. Sabun dari minyak goreng Proses pembuatan sabun dari minyak goreng juga sama dengan proses pembuatan sabun dari minyak sawit dan minyak kelapa. Sabun yang dihasilkan berwarna kuning keruh dan waktu pemadatannya cukup cepat. Hal ini terjadi karena minyak goreng yang digunakan memiliki karakteristik yang hampir sama dengan minyak sawit. Sabun yang dihasilkan kemudian dilakukan uji sifat emulsi sabun.

2. Sifat emulsi sabun Dalam percobaan ini, dilakukan pengujian sifat emulsi sabun yang telah dibuat dari ketiga jenis minyak yaitu minyak sawit, minyak kelapa, dan minyak goreng. Sabun memiliki sifat emulsi atau dapat membentuk busa karena sabun merupakan bahan surfaktan. Karena sifatnya sabun yang memiliki 2 kutub, yaitu kutub hidrofilik pada bagian Na dan kutub hidrofobik pada bagian susunana karbonkarbonnya. Hal ini menyebabkan campuran antara minyak dan air yang merupakan campuran yang tidak larut ( immiscible) bila dikocok akan menjadi sulit untuk memisah kembali atau membutuhkan waktu yang lama. Hal ini dikarenakan sabun dapat mengikat/menarik air pada bagian hidrofiliknya dan dapat pula menarik minyak pada bagian hidrofobiknya sehingga campuran yang seharusnya memisah/membentuk 2 lapisan dengan cepat menjadi lebih sulit memisah dan waktu pembentukan 2 lapisannya menjadi lebih lama. Percobaan ini dimulai dengan mencampurkan 3 mL aquades dan 5 tetes minyak dan dimasukkan keduanya dalam 2 tabung reaksi. Tabung reaksi I kemudian ditambahkan dengan 2 mL larutan sabun yang sudah dibuat tadi (masing-masing sabun dari minyak sawit, minyak kelapa, dan minyak goreng diuji secar sendiri-sendiri atau terpisah). Tabung II tidak ditambahkan sabun yang bertujuan sebagai pembanding. Setelah itu, kedua tabung dikocok kuat-kuat untuk mendapatkan emulsi. Setelah terbentuk emulsi, kedua tabung

didiamkan dan diamati/diukur waktu terjadinya pemisahan lapisan minyak dan air untuk masing-masing tabung dengan menggunakan stopwatch. Pada tabung I setelah dikocok menghasilkan busa banyak (+++) dan larutan keruh yang menandakan telah terbentuk emulsi. Sedangkan tabung II setelah dikocok hanya menghasilkan busa yang sedikit (+) yang kemudian hilang serta larutan menjadi keruh (+) namun tidak sekeruh pada tabung I. Hal ini menunjukkan bahwa pada tabung II yang tidak diberikan sabun, emulsi yang dihasilkan hanya sedikit. Untuk waktu pemisahan campuran pada masing-masing jenis sabun, dapat dilihat pada tabel berikut: Perlakuan Jenis minyak yang dibuat sabun Minyak Minyak Sawit Minyak Kelapa Goreng 1 menit 40 1 menit 22 1 menit 58 detik detik detik

Tabung I (dengan sabun) Tabung II (tanpa 25 detik 21 detik 28 detik sabun) Dari tabel, terlihat bahwa waktu yang dibutuhkan untuk memisahkan campuran minyak dan air jika ditambahkan sabun akan menjadi lebih lama jika dibandingkan pada campuran yang tidak ditambahkan sabun. Hal ini sesuai dengan teori yang telah disebutkan diatas bahwa sabun memiliki sifat sebagai pengemulsi.

3. Bilangan asam Percobaan ini bertujuan untuk menentukan bilangan asam. Bilangan asam merupakan suatu ukuran kualitas minyak atau lemak. Semakin tinggi bilangan asam dari suatu minyak, maka dipastikan bahwa minyak tersebut memiliki kualitas yang rendah. Hal ini disebabkan karena bilangan asam merepresentasikan jumlah ikatan-ikatan asam lemak pada minyak yang dapat dinetralkan oleh penambahan basa seperti KOH sehingga pada minyak sudah mulai rusak/terhidrolisis, asam lemak yang ada pada minyak banyak yang dapat dinetralisir sehingga bilanagn asamnya juga akan tinggi. Percobaan ini dilakukan dengan menguji minyak goreng curah sebanyak 5 gram yang diletakkan dalam erlenmeyer. Minyak ini kemudian ditambahkan 25 mL etanol dan indikator PP kemudian campuran dititrasi dengan KOH 0,1 N. Penambahan etanol bertujuan untuk melarutkan asam lemak. Sedangkan indikator PP digunakan sebagai indikator titrasi dan diharapkan perubahan warnanya adalah dari jernih (asam lemak pada minyak menyebabkan indikator PP berwarna jernih) menjadi merah muda bening pada titik akhir titrasi (penambahan KOH yang sudah mulai

berlebih akan menyebabkan indikator PP berwarna merah muda). Setelah dilakukan titrasi dengan pengulangan sebanyak 3 kali, didapat data volume KOH yang diperlukan sebanyak : V1 = 0,1 mL V2 = 0,2 mL V3 = 0,1 mL Data ini kemudian dimasukkan kedalam rumus penentuan bilangan asam yaitu : Bilangan asam (n) = Setelah dilakukan perhitungan, maka didapat : n1 = 0,112 n2 = 0,224 n3 = 0,112 Kemudian, nilai n dirata-rata dan didapat nilai n rata-rata sebesar 0,1443 yang dikalikan dengan 10-3 agar dapat dibandingkan dengan standar SNI yang berlaku sehingga didapat 0,1443*10 -3. Menurut standar SNI yang berlaku, bilangan asam standar untuk minyak curah agar dikatakan baik adalah berada pada nilai maksimal 2 untuk mutu II. Hal ini menandakan bahwa minyak yang diuji masih berada pada ambang standar mutu II sesuai standar SNI sehingga masih layak digunakan.

4. Bilangan penyabunan Kualitas minyak juga dapat ditentukan dengan bilangan penyabunan. Bilangan penyabunan suatu minyak adalah bilangan yang menandakan jumlah miligram KOH yang diperlukan untuk penyabunan secara sempurna 1 gram minyak atau lemak. Percobaan ini dilakukan dengan menimbang 1,5 gram minyak curah kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer. Setelah itu, ditambahkan 25 mL KOH alkoholik 0,5 N. KOH yang digunakan adalah KOH alkoholik atau KOH yang sudah ditambahkan alkohol. Hal ini dikarenakan minyak akan larut dalam alkohol dan KOH alkoholik akan lebih mudah bereaksi dengan minyak. Setelah itu, campuran tersebut direfluks selama 30 menit. Dalam

proses perefluksan ini, tidak semua KOH yang ditambahkan akan bereaksi dengan minyak dan membentuk sabun. KOH yang tersisa kemudian dititrasi dengan menggunakan HCl 0,5 N dengan indikator PP. perubahan warnanya saat titrasi adalah dari merah muda (KOH yang bersisa akan membuat indikator PP berwarna merah muda) menjadi jernih pada titik akhir titrasi (HCl yang berlebih saat akhir titrasi akan membuat indikator PP menjadi jernih). Setelah dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali, didapat data sebagai berikut : V1 = 8,6 mL V2 = 8,8 mL V3 = 8,6 mL Data ini kemudian dimasukkan kedalam rumus penentuan bilangan penyabunan yaitu : Bilangan penyabunan (m) = Setelah dilakukan perhitungan, maka didapat : m1 = 104,63 m2 = 107,67 m3 = 104,63 Kemudian, nilai m dirata-rata dan didapat nilai m rata-rata sebesar 105,64 yang dikalikan dengan 10-3 agar dapat dibandingkan dengan standar SNI yang berlaku sehingga didapat 105,64 * 10 -3 atau 0,10564. Menurut standar SNI yang berlaku, bilangan asam standar untuk minyak curah agar dikatakan baik adalah berada pada nilai maksimal 1 untuk mutu II. Hal ini menandakan bahwa minyak yang diuji masih berada pada ambang standar mutu II sesuai standar SNI sehingga masih layak digunakan.

Kesimpulan : 1. Sabun dapat dibuat dengan mereaksikan asam lemak rantai panjang dengan basa kuat/alkalis (NaOH) 2. Sabun bersifat sebagai pengemulsi minyak dan air. Hal ini ditunjukkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk pemisahan minyak dan air

dengan penambahan penambahan sabun.

sabun

lebih

lama

dibandingkan

tanpa

3. Bilangan asam minyak goreng yang diuji bernilai 0,1443 * 10 -3 sehingga dinyatakan bahwa minyak masih layak digunakan karena masih berada di daerah standar. 4. Bilangan penyabunan minyak goreng yang diuji bernilai 0,10564 sehingga dinyatakan bahwa minyak masih layak digunakan karena masih berada di daerah standar.

Daftar Pustaka : Anitasari, Neneng. 2012. Angka penyabunan minyak dan lemak . http://nenenganitasari.blogspot.com /2012/12/angka-penyabunan-minyak-danlemak.html (diakses Kamis, 21 Maret 2013) Hidajati, Nurul dkk. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Organik II . Surabaya :Laboratorium Kimia Organik, Jurusan Kimia, FMIPA, Unesa. Rohman, Saepul.2009. Bahan Pembuatan (diakses pada Jumat, 21 Maret 2013) Sabun.http://majarimagazine.com

Perhitungan: A. Bilangan Asam Bilangan asam (n) =

1. V = 0,1 mL Bilangan asam = = 0,112 2. V = 0,2 mL Bilangan asam = = 0,224 3. V = 0,1 mL Bilangan asam = = 0,112

Bilangan asam rata-rata = = 0,149 *10-3 B. Bilangan Penyabunan Bilangan penyabunan (m) =

1. V = 8,6 mL Bilangan penyabunan = 104,63 2. V = 8,8 mL Bilangan penyabunan = 107,67 3. V = 8,6 mL Bilangan penyabunan = 104,63

Bilangan penyabunan rata-rata = = 0,149

Vous aimerez peut-être aussi