Vous êtes sur la page 1sur 51

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Kematian maternal dan perinatal merupakan masalah besar, khususnya di negara berkembang. Sekitar 9899% kematian maternal dan perinatal terjadi di negara berkembang, sedangkan di negara maju hanya 12% (Manuaba, 2007). Pada saat ini Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Perinatal di Indonesia masih tinggi. Hal ini merupakan masalah besar bagi bangsa Indonesia. Menurut Suvei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 Angka Kematian Ibu (AKI) adalah 248 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) adalah 34 per 1.000 kelahiran hidup. Ini merupakan angka tertinggi di Asia Tenggara. Untuk itu Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah yang paling diprioritaskan dalam penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (Departemen Kesehatan, 2009). Dinas Kesehatan Propinsi DIY mencatat pada tahun 2009, angka kematian ibu mencapai 104 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi sebanyak 17 per 1.000 kelahiran hidup. Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Siti Noor Zaenab, angka kematian ibu dan bayi di kabupaten Bantul masih tinggi. Tercatat sejak Januari hingga September 2009 ada 96 kasus. 96 kasus tersebut terdiri dari angka kematian ibu (AKI) 9 kasus dan angka kematian bayi (AKB) 87 kasus (Dinas Kesehatan, 2009). Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dan lain-lain. Angka kematian ibu di Indonesia masih didominasi
oleh perdarahan (42%), eklamsia (13%), keguguran atau abortus (11%) dan infeksi (10%).
1

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 15-50% kematian ibu disebabkan oleh abortus. Dan sebagian besar terjadi pada trimester pertama.1-2% abortus terjadi setelah minggu ke-13 (Myles, 2009). Komplikasi abortus berupa perdarahan atau infeksi dapat menyebabkan kematian. Sedangkan faktor-faktor lain yang menjadi penyebab

kematian ibu adalah terdapat istilah 3 terlambat (terlambat ambil keputusan, terlambat transportasi, terlambat mendapat pelayanan kesehatan) dan 4 terlalu dalam melahirkan (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu sering) (Ambarwati dan Rismintari, 2009). Abortus merupakan salah satu masalah kesehatan.Unsaf abortion menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) presentase kemungkinan kejadian abortus cukup tinggi. Di Amerika Serikat dan Australia, abortus dapat terjadi pada 10-15% kehamilan. Dari Zimbabwe, Afrika, dilaporkan bahwa sekitar 28% kematian ibu berhubungan dengan abortus. Sementara di Tanzania dan Adis Ababa masing-masing sebesar 21% dan 54%. Hal ini diperkirakan merupakan bagian kecil dari kejadian yang sebenarnya, sebagai akibat ketidakterjangkauan pelayanan kedokteran modern yang ditandai oleh kesenjangan informasi. Diperkirakan 4,2 juta abortus dilakukan setiap tahun di Asia Tenggara, dengan perincian 1,3 juta dilakukan di Vietnam dan Singapura, antara 750.000 sampai 1,5 juta di Indonesia, antara 155.000 sampai 750.000 di Filipina, antara 300.000 sampai 900.000 di Thailand (Azhari, 2002).

Tabel 1. Dampak Unsafe Abortion


Wilayah Jumlah Unsafe Abortion (per 1000) Unsafe Abortion per 1000 wanita 1549 8 17 26 12 2 41 Jumlah kematian akibat Unsafe Abortion 600 69000 23000 40000 100 6000 AKI akibat Unsafe Abortion per 100.000 kelahiran hidup 4 55 83 47 2 48 Kasus fatal per 100 Unsafe Abortion 0.03 0.40 0.60 0.40 0.04 0.10 Risiko Kematian

Negara Maju Negara Berkembang Afrika Asia Eropa Amerika Latin

2340 17620 3740 9240 260 4620

1 per 3700 1 per 250 1 per 150 1 per 250 1 per 2600 1 per 800

Sumber : Azhari, 2002

Frekuensi abortus sukar ditentukan karena abortus buatan banyak tidak dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi. Hasil penelitian F Blohm et al. (2007) menyatakan di Swedia ditemukan bahwa abortus terjadi pada 12% kehamilan dan 1 dari 4 wanita yang hamil pernah mengalami abortus. Resiko abortus dilaporkan lima kali lebih tinggi pada wanita berusia 3135 tahun. Peningkatan ini berhubungan dengan peningkatan kejadian penyimpangan kromosom sesuai dengan peningkatan usia. Ada beberapa faktor yang merupakan predisposisi terjadinya abortus yaitu meningkatnya usia dan jumlah paritas ibu, riwayat abortus yang pernah dialami pada kehamilan sebelumnya, status gizi ibu, trauma psikis, mioma uteri, penyakit ibu (diabetes melitus, tiroid, dan infeksi TORCH) (Cunningham et al., 2006). Abortus lebih
jarang terjadi antara wanita dibawah usia 25 tahun, dimana kasusnya adalah 1 dalam 10 wanita, dan umumnya pada wanita yang berusia lebih tua. Setelah usia 35 tahun, 1 dalam 5 kehamilan berakhir dengan abortus (Llewellyn, 2005).

RSUD Panembahan Senopati Bantul adalah salah satu rumah sakit umum yang terdapat di ibukota kabupaten Bantul propinsi D. I. Yogyakarta, melaksanakan pelayanan kebidanan (antenatal) dan merupakan rumah sakit rujukan

terdepan/tingkat primer dari berbagai puskesmas di wilayah kerjanya yang memberikan pelayanan obstetri essensial termasuk penanganan abortus dan berbagai komplikasinya. Dari laporan penyelenggaraan di RSUD Panembahan Senopati didapatkan data bahwa pada tahun 2004 terdapat 105 kasus abortus, pada tahun 2005 terdapat 115 kasus abortus, pada tahun 2006 terdapat 166 kasus abortus, pada tahun 2007 terdapat 232 kasus abortus, dan pada tahun 2008 terdapat 236 kasus abortus. (Dinas Kesehatan, 2010). Salah satu klasifikasi abortus adalah abortus inkomplitus. Abortus inkomplitus adalah keluarnya sebagian hasil konsepsi dari kavum uteri, tetapi masih ada yang tertinggal (Kusmiyati et al., 2008). Abortus inkomplitus sering sekali menimbulkan komplikasi berupa perdarahan. Pada kasus abortus yang lebih lanjut, perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia berat (Cunningham et al., 2006). Pada abortus inkomplitus kemungkinan besar terjadi infeksi, hal tersebut disebabkan oleh sisa jaringan yang ada dalam uterus menjadi sumber yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Selain itu, adanya anemia berat akibat perdarahan akan mempermudah terjadinya infeksi (Saifuddin, 2006). Berdasarkan uraian tersebut diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang karakteristik abortus inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul.

1.2.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis mencoba merumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana karakteristik pasien abortus inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari - Desember 2009 ?

1.3.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui karakteristik pasien abortus inkomplitus berdasarkan usia penderita, usia kehamilan, paritas, riwayat abortus, riwayat penyakit, status gizi ibu, pemakaian obat dan faktor lingkungan di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009.

1.4.

Keaslian Penelitian

Penelitian tentang perdarahan dalam kehamilan, diantaranya adalah : a. Penelitian Ihsan Husain (1991) Gambaran Frekuensi Abortus Terhadap Faktor Resiko Di RSUP Dr. Sardjito Tahun 1991. Dengan hasil di RSUP Dr. Sardjito didapatkan frekuensi abortus sebesar 15,21% terhadap persalinan. Abortus spontan merupakan abortus yang paling sering terjadi (96,65%). Ditinjau dari jenisnya, frekuensi abortus yang paling tinggi adalah abortus inkomplitus 84,35%. Frekuensi abortus menurut faktor resiko tinggi pada : umur ibu 20-29 tahun (59,86%), paritas 1-3 (55,10%), umur kehamilan kurang dari 12 minggu (51,88%), dan ibu yang tidak ada riwayat abortus (72,11%). b. Penelitian Sulistyowati dan Dalono (1999), Hubungan Antara Beberapa Faktor Resiko Terhadap Insiden Abortus Provokatus DI RSUD Moewardi Surakarta. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beberapa faktor resiko terhadap insiden abortus provokatus. Rancangan
5

penelitian yang digunakan adalah observasional analitik cross sectional mengenai kasus abortus provokatus yang dirawat dari tanggal 1 Januari 1993 sampai dengan 31 Desember 1997, dengan hasil yang didapatkan adalah terdapat abortus provokatus 9 kasus (1.13%) dari 841 kasus abortus. c. Daswati (2005), Analisis Faktor Resiko Umur, Paritas, dan Riwayat Abortus Terhadap Kejadian Abortus Di RSUD Labuang Baji Makassar Periode Januari 2004 Juli 2005 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor resiko umur reproduktif tidak sehat, jumlah paritas, dan riwayat abortus di RSUD Labuang Baji Makassar periode Januari 2004 Juli 2005. Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik retrospektif menggunakan rancangan case control. Dengan hasil faktor resiko umur reproduksi tidak sehat (< 20 tahun atau > 35 tahun) dan paritas 2 berhubungan dengan kejadian abortus. d. Penelitian F Blohm, et al. (2007), A Prospective longitudinal populationbased study of clinical miscarriage in an urban Swedish population. Penelitian tersebut bertujuan untuk menggambarkan insidensi/kejadian dari abortus klinis yang diakui pada populasi wanita ini dan untuk mengevaluasi faktorfaktor yang mungkin mempengaruhi kejadian abortus klinis. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional dan

perbandingan longitudinal. Dengan hasil didapatkan abortus klinis terjadi pada 12% dari seluruh kehamilan. Dan 1 dari 4 wanita yang hamil sampai usia 39 tahun pernah mengalami abortus. Dan kejadian abortus tidak dipengaruhi oleh urutan kehamilan.

Perbedaan dengan penelitian ini adalah terletak pada subyek penelitian, metode, tempat dan tujuan penelitian yaitu untuk untuk mengetahui

karakteristikpasien abortus inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009.

1.5.

Manfaat Penelitian

1. Bagi peneliti Dapat menambah pengetahuan tentang karakteristik pasien abortus inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul. 2. Bagi instansi kesehatan Dapat digunakan sebagai masukan bagi instansi kesehatan terkait untuk melakukan upaya pencegahan dan penanganan pasien abortus inkomplitus sedini mungkin di wilayah kerjanya. 3. Bagi masyarakat Dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kejadian abortus inkomplitus sehingga lebih waspada terhadap diri sendiri.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Abortus

2.1.1. Definisi Abortus Abortus adalah pengeluaran hasil pembuahan (konsepsi) dengan berat badan janin < 500 gram atau kehamilan kurang dari 20 minggu. Insiden 15% dari semua kehamilan yang diketahui (Naylor, 2005).

2.1.2. Etiologi Abortus Abortus yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan umumnya disebabkan oleh faktor ovofetal, pada minggu-minggu berikutnya (11-12 minggu) abortus yang terjadi disebabkan oleh faktor maternal (Abrahams, 2010). Faktor ovofetal : Pemeriksaan USG janin dan histopatologis selanjutnya menunjukkan bahwa pada 70% kasus, ovum yang telah dibuahi gagal untuk berkembang atau terjadi malformasi pada tubuh janin.Pada 40% kasus, diketahui bahwa latar belakang kejadian abortus adalah kelainan kromosomal. Pada 20% kasus, terbukti adanya kegagalan rofoblas untuk melakukan implantasi dengan adekuat. Faktor maternal : Sebanyak 2% peristiwa abortus disebabkan oleh adanya penyakit sistemik maternal (systemic lupus erythematosis) dan infeksi sistemik maternal tertentu lainnya. 8% peristiwa abortus berkaitan dengan abnormalitas uterus (kelainan uterus kongenital, mioma uteri submukosa, dan serviks inkompeten). Terdapat dugaan bahwa masalah psikologis memiliki peranan pula dengan kejadian abortus meskipun sulit untuk dibuktikan atau dilakukan penilaian lanjutan.

Penyebab abortus bervariasi. Penyebab terbanyak diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Faktor genetik Sebagian besar abortus spontan termasuk abortus inkomplitus disebabkan oleh kelainan kariotip embrio. Paling sedikit 50% kejadian abortus pada trimester pertama merupakan kelainan sitogenetik. Separuh dari abortus karena kelainan sitogenetikpada trimester pertama berupa trisomi autosom. Insiden trisomi meningkat dengan bertambahnya usia. Risiko ibu terkena aneuploid adalah 1 : 80, pada usia diatas 35 tahun karena angka kejadian kelainan kromosom/trisomi akan meningkat setelah usia 35 tahun. Selain itu abortus berulang biasa disebabkan oleh penyatuan dari 2 kromosom yang abnormal, dimana bila kelainannya hanya pada salah satu orang tua, faktor tersebut tidak diturunkan. Studi yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa bila didapatkan kelainan kariotip pada kejadian abortus, maka kehamilan berikutnya juga berisiko abortus. 2. Kelainan kongenital uterus Defek anatomik uterus seperti hipolasia uteri, uterus bikornis, kelainan letak uterus seperti retrofleksi uteri fiksata diketahui sebagai penyebab komplikasi obstetrik seperti abortus berulang. Insiden kelainan bentuk uterus berkisar 1/200 sampai 1/600 perempuan. Pada perempuan dengan riwayat abortus ditemukan anomali uteruspada 27% pasien. Penyebab terbanyak abortus karena kelainan anatomik uterus adalah uterus septus (40-80%), kemudian uterus bikornis atau uterus bidelfis atau unikornis (10-30%). Mioma uteri juga bisa menyebabkan infertilitas maupun abortus berulang. Risiko kejadiannya 10-30% pada perempuan usia reproduksi. Selain itu Ashermans Syndrome bisa menyebabkan gangguan tempat implantasi serta pasokan darah pada permukaan endometrium. Risiko abortus antara 2580%, bergantung pada berat ringannya gangguan.

3. Penyebab infeksi Teori peran mikroba infeksi terhadap kejadian abortus mulai diduga sejak 1917, ketika DeForest melakukan pengamatan kejadian abortus berulang pada perempuan yang ternyata terpapar brucellosis. Berbagai teori diajukan untuk mencoba menerangkan peran infeksi terhadap risiko abortus, diantaraya sebagai berikut :
a. Adanya metabolik toksik, endotoksin, eksotoksin, atau sitokin yang

berdampak langsung pada janin atau unit fetoplasenta.


b. Infeksi janin yang bisa berakibat janin atau cacat berat sehingga janin

sulit bertahan hidup.


c. Infeksi plasenta yang berakibat insufisiensi plasenta dan bisa berlanjut

kematian janin.
d. Infeksi kronis endometrium dari penyebaran kuman genitalia bawah yang

bisa mengganggu proses implantasi. 4. Faktor hematologik Beberapa kasus abortus berulang ditandai dengan efek plasentasi dan adanya mikrotrombi pada pembuluh darah plasenta. Bukti lain menunjukkan bahwa sebelum terjadi abortus, sering didapatkan defek hemostatik. Penelitian Tulpalla dan kawan-kawan menunjukkan bahwa perempuan dengan riwayat abortus berulang, sering terdapat peningkatan produksi tromboksan yang berlebihan pada usia kehamilan 46 minggu, dan penurunan produksi prostasiklinsaat usia kehamilan 811 minggu. Hiperhomosisteinemia, bisa kongenital ataupun akuisita juga berhubungan dengan trombosis dan penyakit vaskular dini. Kondisi ini berhubungan dengan 21% abortus berulang. 5. Faktor lingkungan Diperkirakan 1-10% malformasi janin akibat dari paparan obat, bahan kimia, atau radiasi dan umumnya berakhir dengan abortus, misalnya paparan terhadap buangan gas anestesi dan tembakau. Sigaret rokok diketahui mengandung ratusan unsur toksik, antara lain nikotin yang telah diketahui
10

mempunyai efek vasoaktif sehingga menghambat sirkulasi utero plasenta. Karbon monoksida juga menurunkan pasokan oksigen ibu dan janin serta memacu neurotoksin. Dengan adanya gangguan pada sistem sirkulasi fetoplasenta dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin yang berakibat terjadinya abortus. 6. Faktor hormonal Ovulasi, implantasi, serta kehamilan dini bergantung pada koordinasi yang baik sistem pengaturan hormon maternal. Oleh karena itu, perlu perhatian langsung terhadap sistem hormon secara keseluruhan, fase luteal, dan gambaran hormon setelah konsepsi terutama kadar progesteron. Perempuan diabetes dengan kadar HbA1c tinggi pada trimester pertama, risiko abortus meningkat signifikan. Diabetes jenis insulin-dependen dengan kontrol glukosa tidak adekuat punya peluang 23 kali lipat mengalami abortus. Pada tahun 1929, Allen dan Corner mempublikasikan tentang proses fisiologi korpus luteum, dan sejak itu diduga bahwa kadar progesteron yang rendah berhubungan dengan risiko abortus. Sedangkan pada penelitian terhadap perempuan yang mengalami abortus lebih dari atau sama dengan 3 kali, didapatkan 17% kejadian defek fase luteal. Dan 50% perempuan dengan histologi defek fase luteal punya gambaran progesteron yang normal (Prawirohadjo, 2009). Selain penyebabpenyebab diatas kategori penyebab abortus antara lain : 1. Kelainan dari ovum Menurut Hertig pertumbuhan abnormal dari fetus sering menyebabkan abortus spontan, termasuk abortus inkomplitus. Menurut penyelidikan mereka dari 100 abortus inkomplitus : 48,9% disebabkan karena ovum yang patologis 3,2 % disebabkan karena letak embrio 9,6 % disebabkan karena plasenta yang abnormal
11

Abortus inkomplitus yang disebabkan oleh karena kelainan dari ovum berkurang kemungkinannya kalau kehamilan sudah lebih dari satu bulan, artinya makin muda kehamilan waktu terjadinya abortus makin besar kemungkinan disebabkan oleh kelainan ovum (5080%). 2. Kelainan genitalia ibu a. Kongenital anomali (hipoplasia uteri, uterus bikornis, dan lain-lain). b. Kelainan letak dari uterus seperti retrofleksi uteri fiksata. c. Tidak sempurnanya persiapan uterus untuk menanti nidasi dari pada ovum yang sudah dibuahi seperti kurangnya progesteron/esterogen, endometritis, mioma submukus. d. Uterus terlalu cepat renggang (kehamilan ganda, mola). e. Distorsio dari uterus : oleh karena didorong oleh tumor pelvis. 3. Gangguan sirkulasi plasenta Kita jumpai pada penyakit nefritis, hipertensi, toksemia gravidarum, anomali plasenta, dan endarteritis oleh karena lues. 4. Penyakit-penyakit ibu Penyakit infeksi yang menyebabkan demam tinggi : pneumonia, tifoid, pielitis, rubeola, demam malta, dan sebagainya. Berdasarkan faktor ibu yang paling sering menyebabkan abortus adalah infeksi. Sesuai dengan keluhan yang biasa ibu alami kemungkinan penyebab terjadinya abortus adalah infeksi pada alat genital. Tapi bisa saja juga dipengaruhi oleh faktor- faktor yang lain. Infeksi vagina pada kehamilan sangat berhubungan dengan terjadinya abortus atau partus sebelum waktunya (Mochtar, 2002). Macam-macam infeksi pada vagina, yaitu : a. Infeksi vagina akibat bakteri disebabkan karena tidak seimbangnya ekosistem bakteri pada vagina. Biasanya ditandai dengan adanya keputihan yang encer dan berbau busuk atau amis.

12

b. Infesi vagina akibat trikomonas disebabkan oleh parasit yang berflagela yaitu trikomonas. Keputihan yang ditimbulkan sangat banyak, purulen, berbau busuk dan disertai rasa gatal. c. Infeksi vulva dan vagina akibat jamur penyebabnya Candida albicans yang merupakan 90 % infeksi jamur di vagina. Faktor predisposisinya adalah penggunaan antibiotik pada kehamilan dan diabetes melitus, Keputihan yang terjadi sangat khas seperti bubuk keju dan sangat gatal. Bila perjalanan penyakitnya kronik dapat menyebabkan rasa nyeri dan panas. d. Infeksi akibat proses peradangan pada vagina pada vagina penyebab pasti belum diketahui. Gejala yang ditimbulkan keputihan yang banyak, purulen dan menimbulkan gejala iritasi/panas pada vulva dan vagina disertai nyeri panggul (Prawirohardjo, 2009). 5. Keracunan Pb, nikotin, gas racun, alkohol, dan lain-lain a. Ibu yang asfiksia seperti pada dekompensasi kordis, penyakit paru berat, anemia gravis. b. Malnutrisi, avitaminosis, dan gangguan metabolisme, hipotiroid, avit A/C/E, dan diabetes melitus. 6. Rhesus antagonism Pada rhesus antagonism darah ibu yang melalui plasenta merusak darah fetus sehingga terjadinya anemia pada fetus yang meyebabkannya mati. 7. Terlalu cepat korpus luteum menjadi atrofi. 8. Perangsangan pada ibu sehingga menyebabkan korpus luteum berkontraksi, misalnya : sangat terkejut, obat-obatan uterus tonika, ketakutan, laparotomi, dan lain-lain. 9. Trauma langsung terhadap fetus : selaput janin rusak langsung karena instrumen, benda, dan obat-obatan.

13

10. Penyakit bapak : umur lanjut, penyakit kronis seperti : TBC, anemia, dekompensasi kordis, malnutrisi, nefritis, sifilis, keracunan (alkohol, nikotin, Pb, dan lain-lain), sinar rontgen, dan avitaminosis. 11. Faktor serviks : serviks inkompeten, servisitis (Mochtar, 2002).

2.1.3. Mekanisme Abortus Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau seluruh bagian embrio akibat adanya perdarahan minimal pada desidua. Kegagalan fungsi plasenta yang terjadi akibat perdarahan subdesiduatersebut menyebabkan terjadinya kontraksi uterus dan mengawali proses abortus. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, embrio rusak atau cacat yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan villi chorialis cenderung dikeluarkan secara in toto, meskipun sebagian dari hasil konsepsi masih tertahan dalam kavum uteri atau di kanalis servikalis. Perdarahan pervaginam terjadi saat proses pengeluaran hasil konsepsi. Pada kehamilan 814 minggu, mekanisme diatas juga terjadi atau diawali dengan pecahnya selaput ketuban lebih dulu dan diikuti dengan pengeluaran janin yang cacat namun plasenta masih tertinggal dalam kavum uteri. Plasenta mungkin sudah berada dalam kanalis servikalis atau masih melekat pada dinding kavum uteri. Jenis ini sering menyebabkan perdarahan pervaginam yang banyak. Pada kehamilan minggu ke 1422, janin biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta beberapa saat kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam uterus sehingga menyebabkan gangguan kontraksi uterus dan terjadi perdarahan pervaginam yang banyak. Perdarahan umumnya tidak terlalu banyak namun rasa nyeri lebih menonjol. Dari penjelasan diatas jelas bahwa abortus ditandai dengan adanya perdarahan uterus dan nyeri dengan intensitas beragam (Prawirohardjo, 2009).

14

2.1.4. Tahapan Abortus Pembagian abortus secara klinis adalah sebagai berikut : 1. Abortus imminens Merupakan tingkat permulaan dan ancaman terjadinya abortus, ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan. Kehilangan darah mungkin hanya sedikit, dengan atau tanpa nyeri punggung bagian bawah dan nyeri, seperti kram. Nyeri itu dapat menyerupai dismenore atau nyeri menstruasi (Myles, 2009). 2. Abortus insipiens Abortus yang sedang mengancam ditandai dengan serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses pengeluaran. Pada tahap ini perlu dilakukan pemeriksaan USG untuk menentukan apakah proses abortus tidak dapat dielakkan atau telah berjalan lebih jauh untuk menjadi tidak lengkap sehingga perlu dilakukan evakuasi uterus dengan aspirasi vakum (Saifuddin, 2006). 3. Abortus inkomplitus Abortus inkomplitus adalah keluarnya sebagian, tetapi tidak seluruh hasil konsepsi, sebelum umur kehamilan lengkap 20 minggu dan sebelum berat janin 500 gram, tapi sebagian jaringan masih berada dalam uterus (Manuaba, 2007). 4. Abortus komplitus Adalah abortus yang seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Nyeri berhenti dan tanda-tanda kehamilan juga berhenti. Uterus berkontraksi dengan kuat saat dipalpasi, dan rongga kosong dapat terlihat pada pemeriksaan ultrasound. Tidak ada intervensi medis lebih lanjut yang diperlukan (Myles, 2009).
15

5. Missed abortion Missed abortion berlaku jika embrio mati walaupun terdapat plasenta yang hidup, dan kantong tertahan di dalam karena serviks yang telah tertutup. Kematian embrio biasanya terjadi sebelum usia gestasi delapan minggu tetapi tubuh ibu tidak mengetahui kematiannya. 6. Abortus habitualis Adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turut. 7. Abortus infeksius Adalah abortus yang disertai infeksi pada alat genitalia. 8. Abortus terapetik Adalah abortus dengan induksi medis (Prawirohardjo, 2009).

2.2.

Abortus Inkomplitus

2.2.1. Definisi Abortus inkomplitus adalah keluarnya sebagian, tetapi tidak seluruh hasil konsepsi, sebelum umur kehamilan lengkap 20 minggu dan sebelum berat janin 500 gram, tapi sebagian jaringan masih berada dalam uterus (Manuaba, 2007).

2.2.2. Gejala Abortus Inkomplitus Menurut Mochtar (2002) adapun gejala-gejala dari abortus inkomplitus adalah sebagai berikut : 1. Amenorea 2. Perdarahan bisa sedikit dan bisa banyak, perdarahan biasanya berupa darah beku 3. Sakit perut dan mulas-mulas dan sudah ada keluar fetus atau jaringan 4. Pada pemeriksaan dalam, jika abortus baru terjadi didapati serviks terbuka, kadangkadang dapat diraba sisasisa jaringan dalam kantung servikalis atau kavum uteri dan uterus lebih kecil dari seharusnya kehamilan.
16

2.2.3. Diagnosis abortus inkomplitus Diagnosis abortus inkomplitus ditegakkan berdasarkan : 1. Anamnesis a. Adanya amenorea pada masa reproduksi b. Perdarahan per vaginam disertai jaringan hasil konsepsi c. Rasa sakit atau kram perut diatas daerah atas simfisis 2. Pemeriksaan fisik a. Abdomen biasanya lembek dan tidak nyeri tekan b. Pada pemeriksaan pelvis, sisa hasil konsepsi ditemukan di dalam uterus, dapat juga menonjol keluar, atau didapatkan di liang vagina c. Serviks terlihat dilatasi dan tidak menonjol d. Pada pemeriksaan bimanual didapatkan uterus membesar dan lunak 3. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan laboratorium berupa tes kehamilan, hemoglobin, leukosit, waktu bekuan, waktu perdarahan, dan trombosit b. Pemeriksaan USG ditemukan kantung gestasi tidak utuh, ada sisa hasil konsepsi

Gambar 1.Menunjukkan gambaran longitudinal dari sedikit kantung gestasi yang sudah tidak utuh dalam uterus, menunjukkan abortus inkomplitus (emedicine, 2010).

17

2.2.4. Komplikasi Abortus Inkomplitus Komplikasi yang dapat ditimbulkan abortus inkomplitus adalah sebagai berikut : 1. Perdarahan Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya. 2. Perforasi Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya perlukaan pada uterus dan apakah ada perlukan alat-alat lain. 3. Syok Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan dan karena infeksi berat (Prawiroharjo, 2009). 4. Infeksi Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu staphylococci, streptococci, gram negatif,Enteric bacilli, mycoplasma, treponema (selain T. pallidum), leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis, sedangkan pada vagina ada lactobacili, streptococci, staphylococci, gram negatif, Enteric bacilli, Clostridium sp., Bacteroides sp., listeria dan jamur (Prawirohardjo, 2009).

2.2.5. Tindakan Operatif Penanganan Abortus Inkomplitus Tindakan operatif penanganan abortus inkomplitus terdiri dari : 1. Pengeluaran secara digital Hal ini sering kita laksanakan pada keguguran bersisa. Pembersihan secara digital hanya dapat dilakukan bila telah ada pembentukan serviks
18

uteriyang dapat dilalui oleh satu janin longgar dan dalam kavum uteri cukup luas, karena manipulasi ini akan menimbulkan rasa nyeri. a. Kuretase Kuretase adalah cara mengeluarkan hasil konsepsi memakai alat kuretase (sendok kerokan). Sebelum melakukan kuretase, penolong harus melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak uterus, keadaan serviks dan besarnya uterus. b. Vakum kuretase Adalah cara mengeluarkan hasil konsepsi dengan alat vakum.

Gambar 2.Suction Curretage dan Kuretase biasa (Gaufberg, 2010).

2.2.6. Penanganan Jika perdarahan (pervaginam) sudah sampai menimbulkan gejala klinis syok, tindakan pertama ditujukan untuk perbaikan keadaan umum. Tindakan selanjutnya adalah untuk menghentikan sumber perdarahan. 1. Tahap pertama Tujuan dari penanganan tahap pertama adalah, agar penderita tidak jatuh ke tingkat syok yang lebih berat, dan keadaan umumnya ditingkatkan menuju keadaan yang lebih baik. Dengan keadaan umum yang lebih baik (stabil), tindakan tahap ke dua umumnya akan berjalan dengan baik pula.

19

Pada penanganan tahap pertama dilakukan berbagai kegiatan, berupa : a. Memantau tanda-tanda vital (mengukur tekanan darah, frekuensi denyut nadi, frekuensi pernapasan, suhu badan). b. Pengawasan pernapasan (jika ada tanda-tanda gangguan pernafasan seperti adanya takipnu, sianosis, saluran nafas harus bebas dari hambatan. Dan diberi oksigen melalui kateter nasal). c. Selama beberapa menit pertama, penderita dibaringkan dengan posisi trendelenburg. d. Pemberian infus cairan (darah) intravena (campuran Dekstrose 5% dengan Natrium klorida 0,9%, Ringer laktat). e. Pengawasan jantung (jantung dapat dipantau dengan elektrokardiografi dan dengan pengukuran tekanan vena sentral). f. Pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan darah lengkap, golongan darah, jenis rhesus, tes kesesuaian darah penderita dengan darah donor, pemeriksaan pH darah, pO2, pCO2 darah arterial. Jika dari pemeriksaan ini dijumpai tanda-tanda anemia sedang sampai berat, infus cairan diganti dengan transfusi darah atau infus cairan bersamaan dengan transfusi darah. Darah yang diberikan dapat berupa eritrosit, jika sudah timbul gangguan pembekuan darah, sebaiknya diberi darah segar. Jika sudah timbul tanda-tanda asidosis harus segera dikoreksi. 2. Tahap kedua Setelah keadaan umum penderita stabil, penanganan tahap ke dua dilakukan. Penanganan tahap ke dua meliputi menegakkan diagnosis dan tindakan menghentikan perdarahan yang mengancam jiwa ibu. Tindakan menghentikan perdarahan ini dilakukan berdasarkan etiologinya. Pada keadaan abortus inkomplitus, apabila bagian hasil konsepsi telah keluar atau perdarahan menjadi berlebih, maka evakuasi hasil konsepsi segera diindikasikan untuk meminimalkan perdarahan dan risiko infeksi pelvis.

20

Sebaiknya evakuasi dilakukan dengan aspirasi vakum, karena tidak memerlukan anestesi (Prawirohardjo, 2009).

2.2.7. Tindakan Pengobatan Abortus Inkomplitus Tindakan pengobatan abortus inkomplitus meliputi : 1. Membuat diagnosa abortus inkomplitus 2. Melakukan konseling tentang keadaan abortus inkomplitus dan rencana pengobatan. 3. Menilai keadaan pasien termasuk perlu atau tidak dirujuk. 4. Mengobati keadaan darurat serta komplikasi sebelum dan setelah tindakan. 5. Melakukan evakuasi sisa jaringan dari rongga rahim (Saifudin, 2002).

2.3.

Faktor Yang Mempengaruhi Abortus Inkomplitus

2.3.1. Usia Pasien Risiko abortus semakin tinggi dengan semakin bertambahnya usia ibu. Insiden abortus dengan trisomi meningkat dengan bertambahnya usia ibu. Risiko ibu terkena aneuploidi adalah 1 : 80, pada usia diatas 35 tahun karena angka kejadian kelainan kromosom/trisomi akan meningkat setelah usia 35 tahun (Prawirohardjo, 2009). Menurut Goldman et al. (2005), berbagai kesulitan dalam kehamilan maupun persalinan lebih rentan terjadi pada usia lebih dini atau remaja (< 20 tahun) oleh karena kematangan fisik termasuk organ reproduksi berkaitan erat dengan usia dalam artian pertumbuhan tubuh belum optimal tercapai termasuk organ reproduksi (hipoplasi uteri dan kesempitan panggul). Wanita hamil pada usia muda dapat meningkatkan risiko komplikasi obstetrik karena tingkat tumbuh sistem reproduksi relatif kurang sempurna disbanding dengan wanita hamil pada usia reproduktif sehat (20-35 tahun) untuk reproduksi, begitu pula kehamilan yang terjadi setelah umur 35 tahun fungsi uterus menurun oleh karena

21

adanya vaskularisasi ke uterus yang kurang adekuat (Eastman cit. Dasuki D et al., 1997).

2.3.2. Usia Kehamilan Usia kehamilan saat terjadinya abortus bisa memberi gambaran tentang penyebabnya. Paling sedikit 50% kejadian abortus pada trimester pertama merupakan kelainan sitogenetik. Separuh dari abortus karena kelainan sitogenetikpada trimester pertama berupa trisomi autosom (Prawirohardjo, 2009).

2.3.3. Paritas Risiko abortus semakin meningkat dengan semakin lanjutnya bertambahnya jumlah partitas. Multiparitas adalah seorang wanita yang telah menyelesaikan dua atau lebih kehamilannya. Multiparitasakan meningkatkan berbagai komplikasi obstetrik antara lain meningkatkan kejadian abortus, bahkan kematian ibu dan janin. Pada multiparitas dan grande multipara, fungsi uterus untuk menunjang tumbuh kembang janin menurun, oleh karena menurunnya kapasitas sirkulasi darah ke uterus dan menurunnya kapasitas sirkulasi darah ke uterus dan menurunnya fungsi miometrium sehingga vaskularisasi ke uterus tidak adekuat (Cunningham, 2006).

2.3.4. Kondisi Penyakit Ibu Diperkirakan kejadian diabetes dalam kehamilan 0,7% dari semua kehamilan. Diabetes patut dicurigai pada kasus yang mempunyai ciri gemuk, riwayat keluarga diabetes, riwayat melahirkan bayi dengan berat > 4 kg, riwayat lahir mati dan riwayat abortus berulang (Prawirohardjo, 2009). Penyakit infeksi, seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain dapat menyebabkan abortus. Toksin, bakteri, virus atau plasmodium dapat melalui plasenta dan masuk ke janin dan menyebabkan kematian janin dan dan kemudian terjadilah abortus. Beberapa penyakit infeksi yang didapat misalnya TORCH, terutama pada kehamilan dini bisa menyebabkan terjadinya abortus dan
22

dampak yang serius pada janin, sehingga dapat menimbulkan kelainan kelainan dan cacat pada bayi yang dilahirkan (Mochtar, 2002).

2.3.5. Riwayat Abortus Riwayat abortus pada penderita abortus merupakan predisposisi terjadinya abortus berulang. Kejadiannya sekitar 3 5 %. Data dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1 kali abortus pasangan punya risiko 15% untuk mengalami keguguran lagi, sedangkan bila pernah 2 kali, risikonya akan meningkat 25%. Beberapa studi meramalkan bahwa risiko abortus setelah 3 kali abortus berurutan adalah 30 45% (Prawirohardjo, 2009). Berbagai kondisi yang berperan dalam abortus yang berulang antara lain adanya respon antibodi ibu. Dengan pertumbuhan trofoblasakan menekan rangsangan sistem antibodi spesifik IgG sehingga kadarnya akan menurun dalam peredaran darah pada wanita hamil tersebut. Hal ini merupakan faktor yang akan menghambat bahkan menolak pertumbuhan dan perkembangan janin dan mengakibatkan terlepasnya buah kehamilan dari tempat implantasinya.

2.3.6. Status Gizi Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh ibu, sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat menimbulkan abortus, cacat bawaan, asfiksia intra uterin, lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

23

2.3.7. Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan Obat-obatan dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus. Pengaruh ini umunya dinamakan pengaruh teratogen. Menurut Cunningham et al. (2006) berbagai zat dilaporkan berperan, tetapi belum dipastikan, sebagai penyebab meningkatnya insidensi abortus, yaitu : 1. Tembakau Merokok dilaporkan menyebabkan peningkatan risiko abortus.Bagi wanita yang merokok lebih dari 14 batang per hari, risiko tersebut sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan wanita yang bukan perokok. Amstrong dkk. cit. Cunningham (2006) melaporkan bahwa risiko abortus meningkat secara linier 1,2 kali untuk setiap 10 batang rokok yang dihisap per hari. 2. Alkohol Abortus dan anomali janin dapat terjadi akibat sering mengkonsumsi alkohol selama 8 minggu pertama kehamilan. Abortus meningkat bahkan apabila alkohol dikonsumsi dalam jumlah sedang. Kline dkk. cit. Cunningham (2006), melaporkan bahwa angka abortus meningkat dua kali lipat pada wanita yang minum 2 kali setiap minggu, dan tiga kali pada wanita yang mengkonsumsi alkohol setiap hari dibandingkan dengan buka peminum. Amstrong dkk. cit. Cunningham (2006), menghitung bahwa risiko abortus meningkat dengan rata-rata 1,3 kali untuk setiap gelas per hari. 3. Kafein Konsumsi kopi dalam jumlah lebih dari 4 cangkir per hari tampaknya meningkatkan resiko abortus dan resiko meningkat seiring dengan peningkatan jumlah. Dalam suatu studi oleh Klebanoff dkk. cit. Cunningham (2006), kadar paraxantin (suatu metabolit kafein) dalam darah ibu menyebabkan peningkatan dua kali lipat resiko abortus spontan hanya apabila kadar tersebut sangat tinggi. Bila konsumsi kafein dalam jumlah sedang maka kecil kemungkinannya menyebabkan abortus.

24

4. Radiasi Dalam dosis memadai, radiasi diketahui menyebabkan abortus. Tetapi dosis pasti pada manusia tidak diketahui. 5. Kontrasepsi Tidak terdapat bukti yang mendukung bahwa kontrasepsi oral atau zat spermisida yang digunakan dalam krim dan jeli kontrasepsi menyebabkan insidensi abortus. Namun alat kontrasepsi dalam rahim berkaitan dengan peningkatan insidensi abortus septik setelah kegagalan kontrasepsi. 6. Toksin lingkungan Pada sebagian besar kasus, tidak banyak informasi yang menunjukkan bahan tertentu di lingkungan sebagai penyebab. Namun terdapat bukti bahwa arsen, timbal, formaldehida, benzene dan etilen oksida dapat menyebabkan abortus.

25

2.4.

Kerangka Konsep

Karakteristik Ibu - Usia pasien - Usia kehamilan

- Paritas
- Riwayat Abortus - Riwayat Penyakit - Status gizi - Pemakaian obat dan faktor lingkungan Gambar 3. Kerangka Konsep

Abortus Inkomplitus

26

BAB III METODE PENELITIAN

3.1.

Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena yang ditemukan dan hasil penelitian kemudian disajikan apa adanya (Arikunto, 2010). Dengan pendekatan cross sectional dan dilakukan secara retrospektif dengan melihat data sekunder yaitu data yang telah direkapitulasi oleh bagian rekam medis dari pencatatan medis (medical record) RSUD Panembahan Senopati Bantul.

3.2.

Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang terdiagnosis menderita abortus inkomplitus di Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009.

3.3.

Variabel Penelitian

3.3.1. Variabel Tergantung Aborus inkomplitus

3.3.2. Variabel Bebas 1. Usia ibu 2. Usia kehamilan 3. Paritas 4. Riwayat abortus

27

5. Riwayat penyakit 6. Status gizi 7. Pemakaian obat dan faktor lingkungan

3.4.

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Februari 2011 di RSUD Panembahan Senopati Bantul.

3.5.

Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.5.1. Kriteria Inklusi Pasien yang telah terdiagnosis abortus inkomplitus

3.5.2. Kriteria Eksklusi Pasien dengan data rekam medis yang tidak lengkap pada salah satu variabel yang diteliti.

3.6.

Definisi Operasional

3.6.1. Karakteristik Karakteristik menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah ciri-ciri khusus atau mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu. Adapun ciri-ciri atau faktor-faktor yang akan diteliti pada penelitian ini adalah usia penderita, usia kehamilan, paritas, riwayat abortus, riwayat penyakit, status gizi, pemakaian obat dan faktor lingkungan.

28

3.6.2. AbortusInkomplitus Abortus inkomplitus adalah keluarnya sebagian hasil konsepsi ibu sebelum
umur kehamilan lengkap 20 minggu dan sebelum berat janin 500 gram, tapi sebagian jaringan masih berada dalam uterus, yang merupakan hasil diagnosa dokter yang tercatat dalam berkas rekam medis pasien.

3.6.3. Usia Pasien Usia pasien adalah usia pasien ketika memeriksakan dan terdiagnosis menderita abortus inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Januari Desember 2009. Menurut Chalik (2001), dikelompokkan menjadi : 1. Usia reproduktif sehat jika usia ibu antara 20 35 tahun 2. Usia reproduktif tidak sehat jika usia ibu < 20 tahun atau > 35 tahun

3.6.4. Usia Kehamilan Usia kehamilan adalah jumlah minggu kehamilan ibu yang tercatat dalam
berkas rekam medis pasien. Menurut Manuaba (2007) dibagi menjadi :

1. 0 10 minggu 2. 11 20 minggu

3.6.5. Paritas Paritas adalah frekuensi proses persalinan yang telah dilakukan ibu baik lahir hidup maupun lahir mati yang tercatat dalam berkas rekam medis. Menurut Winkjosastro (2006) dibagi atas : 1. P0 (Nulipara) 2. P1 (Primipara) 3. P2 P5 (Multipara) 4. P > 5 (Grandemultipara)

29

3.6.6. Riwayat Abortus


Riwayat abortus adalah jumlah abortus yang pernah dialami ibu yang tercatat dalam berkas rekam medis pasien.

3.6.7. Riwayat Penyakit Riwayat penyakit adalah adalah penyakit yang pernah atau sedang diderita ibu
yang tercatat dalam berkas rekam medis pasien.

3.6.8. Status Gizi

Status gizi ibu hamil didapatkan dari pengukuran lingkar lengan atas (LLA) yang terdapat dalam berkas rekam medis pasien.

Tabel 2. Lingkar Lengan Atas Lingkar Lengan Atas (cm) < 23 23 Sumber : Supriasa (2001) Kategori Kekurangan Energi Kronis (KEK) Tidak KEK (Kekurangan Energi Kronis )

3.6.9. Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan Adalah obat-obatan yang dikonsumsi dan kondisi lingkungan ibu yang tercatat dalam berkas rekam medis pasien.

3.7.

Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan

data

dilakukan

pada

bulan

Februari

2011

dengan

menggunakan data sekunder. Data diambil dari rekam medis pasien yang didiagnosis abortus inkomplitus Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009.

30

3.8.

Instrumen Penelitian

Data sekunder yaitu rekam medis dari Rumah Sakit Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009, yang telah didiagnosis menderita abortus inkomplitus.

3.9.

Pelaksanaan Penelitian

3.9.1. Tahap Persiapan Pengurusan ijin ke RSUD Panembahan Senopati Bantul untuk pengumpulan data di bagian rekam medis yaitu data tentang pasien abortus inkomplitus yang dirawat.

3.9.2. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan penelitian, mencatat semua pasien yang didiagnosa menderita abortus inkomplitus di bagian rekam medis periode Januari Desember 2009.

3.9.3. Tahap Pelaksanaan Setelah data terkumpul, dilakukan pemeriksaan dan analisa terhadap data yang diperoleh, dan diolah menggunakan program pengolahan data.Kemudian dilakukan penyusunan laporan.

3.10.

Pengolahan dan Penyajian Data

Sesuai dengan rancangan penelitian deskriptif, maka data diperoleh akan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan presentase yang dituangkan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian diperlihatkan dalam bentuk karakteristik pasien abortus inkomplitus berdasarkan umur, usia kehamilan, paritas, riwayat abortus, riwayat penyakit, status gizi, pemakaian obat dan faktor lingkungan.
31

3.11.

Etika Penelitian

3.11.1. Anonymity Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak

mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data.

3.11.2. Confidentiality Kerahasiaan informasi dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan disajikan sebagai hasil.a
( Lewellyn, 2005). dibawah usia 25 dan umumnya pada wanita yang berusia lebih tua. Setelah usia 35 tahun, 1 dalam 5 kehamilan berakhir dengan keguguran

32

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.

Gambaran Umum Rumah Sakit

Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati terletak di Jalan Wahidin Sudiro Husodo, Bantul, Yogyakarta. Rumah sakit ini terletak di pusat kota Bantul sehingga mudah diakses oleh masyarakat. Merupakan rumah sakit kelas B Non Pendidikan dan merupakan rumah sakit milik pemerintah kabupaten Bantul. Yang mempunyai tugas melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang pelayanan kesehatan. Dan merupakan rumah sakit rujukan bagi puskesmas maupun bidan di sekitar wilayah kerjanya. Dengan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 401 orang dan 259 tempat tidur, Rumah Sakit Umum Panembahan Senopati Bantul selalu berusaha meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan kesehatannya dengan visi terwujudnya rumah sakit yang unggul dan menjadi pilihan utama masyarakat bantul dan sekitarnya. Dan misi memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, terjangkau dan paripurna dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Dinas Kesehatan, 2010).

4.2.

Hasil Penelitian

Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang terdiagnosis menderita abortus inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009. Penelitian ini dirancang dengan pendekatan cross sectional dan dilakukan secara retrospektif dengan melihat data sekunder yaitu data yang telah direkapitulasi oleh bagian rekam medis dari pencatatan medis (medical record) RSUD Panembahan Senopati Bantul.

33

4.3.1. Jenis kasus ginekologi Tabel 3. Jenis Kasus Ginekologi di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009 Jumlah Kasus Ginekologi Abortus iminens Abortus inkomplitus Abortus insipient Lain lain Total 177 102 3 355 637 27,79 16,01 0,47 55,73 100% Presentase (%)

Sumber : Data Rekam Medis RSUD Panembahan Senopati Tahun 2009 Tabel 3 menunjukkan bahwa pada tahun 2009, dari 637 kasus ginekologi, pasien yang terdiagnosis abortus inkomplitus berjumlah 102 orang (16,01%). Kasus lain sebanyak 355 kasus (55,73%) terdiri dari mioma uteri, kanker serviks, kista bartolini, mola hidatidosa, kista ovarium, kehamilan ektopik terganggu, dan menometroragi. Jumlah kasus ginekologi dapat dilihat pada grafik di bawah ini

Jumlah Kasus Ginekologi


Abortus Iminens 28% Abortus Iminens Lain - lain 56% Abortus Inkomplitus Abortus insipien Lain - lain Abortus Inkomplitus 16%

Abortus insipien 0%

Gambar 4. Jenis Kasus Ginekologi di RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Januari Desember 2009
34

4.3.2. Usia pasien Tabel 4.Usia pasien abortus inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009. Variabel Usia Kategori < 20 Tahun 20 35 Tahun > 35 Tahun Total Jumlah 11 68 23 102 Presentasi (%) 10,78 66,67 22,55 100%

Sumber : Data Rekam Medis RSUD Panembahan Senopati Tahun 2009 Pada tabel 4 dapat dilihat usia pasien abortus inkomplitus. Menurut usia, mayoritas pasien abortus inkomplitus berusia antara 20 35 tahun sebanyak 68 pasien (66,67%) yang merupakan kelompok usia reproduksi sehat. Urutan terbanyak kedua adalah kelompok usia > 35 tahun sebanyak 23 orang (22,55%) dan yang paling sedikit usia < 20 tahun sebanyak 11 orang (10,78%). Berikut grafik usia pasien abortus inkomplitus

Usia Pasien Abortus Inkomplitus


> 35 Tahun 23% < 20 Tahun 22% < 20 Tahun 20 - 35 Tahun 20 - 35 Tahun 55% > 35 Tahun

Gambar 5. Usia Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Januari Desember 2009
35

4.3.3. Usia kehamilan Tabel 5. Usia Kehamilan Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009 Variabel Usia Kehamilan Kategori 010 Minggu 1120 Minggu Total Jumlah 63 39 102 Presentasi (%) 61,76 38,24 100%

Sumber : Data Rekam Medis RSUD Panembahan Senopati Tahun 2009 Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa usia kehamilan mayoritas pasien abortus inkomplitus antara 010 minggu sebanyak 63 pasien (61,76%). Ini menunjukkan bahwa abortus inkomplitus lebih banyak terjadi pada 10 minggu pertama kehamilan. Sedangkan pada usia kehamilan 11-20 minggu jumlahnya hanya 38,24%. Berikut grafik usia kehamilan pasien abortus inkomplitus

Usia Kehamilan

11 - 20 Minggu 38% 0 - 10 Minggu 62% 0 - 10 Minggu 11 - 20 Minggu

Gambar 6. Usia Kehamilan Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Januari Desember 2009 4.3.4. Paritas
36

Tabel 6. Gambaran Paritas Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009 Variabel Paritas Kategori 0 (nulipara) 1 25 >5 Total Jumlah 41 35 25 1 102 Presentasi (%) 40,20 34,31 24,51 0,98 100

Sumber : Data Rekam Medis RSUD Panembahan Senopati Tahun 2009 Pada tabel 6 dapat dilihat bahwa paritas mayoritas memiliki paritas 0 (nulipara) sebanyak 41 orang (40,20%). Dan jumlahnya terus menurun seiring dengan peningkatan jumlah paritas yaitu paritas 1 (primipara) sebanyak 35 orang (34,31%), paritas 2 5 (multipara) sebanyak 25 orang (24,51%), dan paritas > 5 (grandemultipara) sebanyak 1 orang (0,98%). Berikut grafik yang menunjukkan paritas pasien abortus inkomplitus Paritas Pasien Abortus Inkomplitus
>5 1% 25 25% 0 40% 0 1 25 1 34% >5

Gambar 7. Paritas Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Januari Desember 2009 4.3.5. Riwayat Abortus

37

Tabel 7. Riwayat Abortus Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009 Variabel Riwayat abortus Ada Tidak ada Total Kategori Jumlah 13 89 102 Presentasi (%) 12,75 87,25 100

Sumber : Data Rekam Medis RSUD Panembahan Senopati Tahun 2009 Pada tabel 7 dapat dilihat bahwa pasien abortus inkomplitus yang dirawat di RSUD Panembahan Senopati Bantul pada tahun 2009 sebagian besar tidak memiliki riwayat abortus sebelumnya yaitu sebanyak 89 orang (87,25%). Dan yang memiliki riwayat abortus sebelumnya sebanyak 13 pasien (12,75%). Berikut grafik riwayat abortus pasien abortus inkomplitus

Riwayat Abortus
Ada 13%

Ada Tidak ada 87% Tidak ada

Gambar 8. Grafik Riwayat Abortus Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Januari Desember 2009 4.3.6. Riwayat Penyakit

38

Tabel 8. Gambaran riwayat penyakit pasien abortus inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009 Variabel Riwayat penyakit Ada Tidak Ada Total Kategori Jumlah 36 66 102 Presentasi (%) 35,29 64,71 100

Sumber : Data Rekam Medis RSUD Panembahan Senopati Tahun 2009 Pada tabel 8 dapat dilihat bahwa mayoritas pasien tidak memiliki riwayat penyakit yaitu berjumlah 66 orang (64,71%), dan yang memiliki riwayat penyakit berjumlah 36 orang (35,29%). Riwayat penyakit terdiri dari penyakit hipertensi, penyakit pernapasan, anemia, dan lain lain. Berikut grafik yang menunjukkan riwayat penyakit pasien abortus inkomplitus

Riwayat Penyakit
Ada 35% Ada Tidak Ada

Tidak Ada 65%

Gambar 9. Grafik Paritas Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Januari Desember 2009

4.3.7. Status Gizi

39

Tabel 9. Status Gizi Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009 Variabel Status gizi Kategori Kekurangan Energi Kronis Tidak Kekurangan Energi Kronis Tidak diketahui Total Jumlah 43 49 10 102 Presentasi 42,16 48,04 9,80 100%

Sumber : Data Rekam Medis RSUD Panembahan Senopati Tahun 2009 Status gizi pasien abortus inkomplitus didapatkan dengan mengukur lingkar lengan atas. Pada tabel diatas dapat diketahui bahwa sebanyak 49 pasien (48,04%) diketahui tidak mengalami kekurangan energi kronis, dan 43 pasien (42,16%) diketahui mengalami kekurangan energi kronis. Sedangkan 10 orang pasien (9,80%) tidak diketahui status gizinya. Berikut grafik yang menunjukkan status gizi pasien abortus inkomplitus Status Gizi Pasien Abortus Inkomplitus
Tidak diketahui 10% Kekurangan Energi Kalori 42% Kekurangan Energi Kalori Tidak Kekurangan Energi Kalori Tidak diketahui

Tidak Kekurangan Energi Kalori 48%

Gambar 10. Grafik Status Gizi Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul Periode Januari Desember 2009 4.3.8. Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan

40

Tabel 10. Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009 Variabel Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan Ada Tidak Ada Total Kategori Jumlah 31 71 102 Presentasi (%) 30,39 69.61 100

Sumber : Data Rekam Medis RSUD Panembahan Senopati Tahun 2009 Berdasarkan tabel 10 dapat dilihat bahwa pasien abortus inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul pada tahun 2009 yang memiliki riwayat atau sedang memakai obat sebanyak 31 orang (30,39%), dan yang tidak memiliki riwayat atau tidak sedang memakai obat sebanyak 71 orang (69,61%). Riwayat pemakaian obat dan faktor lingkungan meliputi pemakaian kontrasepsi berupa pil KB atau KB suntik, dan konsumsi jamujamuan.Berikut grafik pemakaian obat dan faktor lingkungan. Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan

Ada 30% Ada Tidak Ada 70% Tidak Ada

Gambar 11. Grafik Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan Pasien Abortus Inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul periode Januari Desember 2009 4.3. Pembahasan

41

4.3.1.

Usia Pasien Kasus abortus inkomplitus di RSUD Panembahan Senopati Bantul selalu

meningkat setiap tahunnya. Hal ini mungkin disebabkan karena kurang berhasilnya program promosi kesehatan dan cakupan pelayanan kesehatan yang kurang memadai (Roeshadi, 2004). Dari hasil penelitian pada tabel 3 tentang jumlah kasus ginekologi diperoleh kejadian abortus inkomplitus lebih banyak terjadi pada usia 2035 tahun (66,67%), yang merupakan usia reproduksi sehat. Hal ini dapat menjadi sebuah peringatan bagi wanita usia reproduksi sehat bahwa walaupun tidak memiliki faktor risiko usia tatapi tetap harus berhatihati dalam menjaga kehamilanya dengan selalu memeriksakan diri ke sarana kesehatan agar terhindar dari abortus. Pada penelitian juga didapatkan bahwa kejadian abortus pada usia reproduksi tidak sehat lebih banyak didapatkan pada usia > 35 tahun (22,55%) dari pada usia usia < 20 tahun (10,78%). Risiko abortus meningkat seiring dengan usia ibu. Frekuensi abortus secara klinis terdeteksi meningkat dari 12% pada wanita berusia kurang dari 20 tahun dan menjadi 26% pada wanita yang usianya lebih dari 40 tahun. Hal ini disebabkan karena fungsi uterus menurun oleh karena vaskularisasi uterus yang kurang adekuat (Cunningham, 2006).

4.3.2.

Usia Kehamilan Hasil penelitian mengenai usia kehamilan pada tabel 4, didapatkan bahwa

abortus inkomplitus lebih banyak terjadi pada usia kehamilan 0 10 minggu. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Husain (1991) dimana kejadian abortus lebih banyak ditemukan pada usia kehamilan kurang dari 12 minggu. Lebih dari 80% abortus terjadi dalam 12 minggu pertama kehamilan. Dan kelainan kromosom merupakan penyebab separuh dari kasus abortus ini.Kelainan kromosom yang paling sering ditemui adalah trisomi, poliploidi, dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks (Cunningham, 2006).

42

4.3.3.

Paritas Hasil penelitian mengenai paritas pada tabel 5, didapatkan bahwa abortus

inkomplitus lebih banyak terjadi pada ibu dengan paritas 0 (nulipara). Pada penelitian yang dilakukan oleh Panggabean (2010) juga didapatkan bahwa kejadian abortus inkomplitus lebih banyak terjadi pada ibu dengan paritas 0 (nulipara). Hal ini menunjukkan bahwa kejadian abortus inkomplitus dapat terjadi karena pengetahuan dan pengalaman ibu yang baru pertama kali hamil masih kurang.

4.3.4.

Riwayat Abortus Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kejadian abortus inkomplitus lebih

banyak terjadi pada ibu yang tidak memiliki riwayat abortus sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh Panggabean (2010) juga didapatkan hasil kejadian abortus inkomplitus lebih banyak terjadi pada ibu yang tidak memiliki riwayat abortus. Hal ini mungkin disebabkan karena pada temuan sebelumnya yaitu paritas, didapatkan sebagian besar pada ibu dengan paritas 0 (nulipara) yang belum pernah melahirkan sehingga mungkin belum memiliki riwayat abortus. Riwayat abortus pada penderita abortus merupakan predisposisi terjadinya abortus berulang. Kejadiannya sekitar 35 %. Data dari beberapa studi menunjukkan bahwa setelah 1 kali abortus spontan, termasuk abortus inkomplitus pasangan mempunyai risiko 15% untuk mengalami keguguran lagi, sedangkan bila pernah 2 kali, risikonya akan meningkat 25%. Beberapa studi meramalkan bahwa setelah 3 kali abortus berurutan, risikonya meningkat 3045% (Prawirohardjo, 2009). Berbagai kondisi yang berperan dalam abortus yang berulang antara lain adanya respon antibodi ibu, yaitu lupus anticoagulant (LAC) dan anticardiolipin antibody (ACA). Antibodi-antibodi ini menurunkan prostasiklin, yang mempermudah timbulnya lingkungan yang didominasi oleh tromboksan yang kemudian

menyebabkan trombosis. Dan mengakibatkan terlepasnya buah kehamilan dari tempat implantasinya (Cunningham, 2006).

43

4.3.5.

Riwayat Penyakit Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar ibu tidak memiliki

riwayat penyakit. Hal ini mungkin disebabkan karena pada penggalian data saat anamnesis hanya diperoleh data tentang penyakitpenyakit ibu yang berat saja, seperti penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes. Sedangkan penyakit lain seperti infeksi pada alat genital atau abnormalitas uterus tidak digali. Padahal kemungkinan penyebab terjadinya abortus adalah infeksi pada alat genital.Infeksi vagina pada kehamilan sangat berhubungan dengan terjadinya abortus atau partus tidak pada waktunya. Sebanyak 2% peristiwa abortus disebabkan adanya penyakit sistemik maternal (systemic lupus erythematosus) dan infeksi sistemik maternal.8% peristiwa abortus berkaitan dengan abnormalitas uterus (kelainan uterus kongenital, mioma uteri submukosa,serviks inkompetensi)(Mochtar, 2002).

4.3.6.

Status Gizi Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar ibu tidak mengalami

kekurangan energi kronis. Kehamilan meningkatkan metabolisme oleh karena kebutuhan untuk dapat menjamin tumbuh kembang janin dalam rahim secara optimal. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh ibu, sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang dipetrlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna. Dampak nutrisi yang tidak adekuat dapat menimbulkan berbagai gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim termasuk abortus (Manuaba, 2007).

4.3.7.

Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan

44

Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa sebagian besar ibu tidak punya riwayat atau sedang menggunakan obat, dan tidak memiliki faktor lingkungan yang dapat menyebabkan abortus. Menurut Manuaba (2007) bentuk gangguan obat yang dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang janin adalah : a. Langsung membunuh (all or nothing) b. Mengganggu pertumbuhan c. Mengganggu diferensiasi sel sehingga menimbulkan deformitas organ d. Mengganggu fungsi sekalipun bentuk organ normal

45

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian ini adalah : 1. Jumlah pasien yang terdiagnosis abortus inkomplitus pada tahun 2009 sebanyak 102 pasien. 2. Menurut usia pasien, kejadian abortus inkomplitus terbanyak pada usia 20 35 tahun sebanyak 68 pasien (66,67%). 3. Menurut usia kehamilan, usia kehamilan terbanyak 0 10 minggu sebanyak 63 pasien (61,76%). 4. Menurut paritas, abortus inkomplitus lebih banyak ditemukan pada ibu dengan paritas 0 (nulipara) sebanyak 41 pasien (40,20%) 5. Menurut riwayat abortus, abortus inkomplitus paling banyak ditemukan pada pasien yang tidak memiliki riwayat abortus sebanyak 89 pasien (87,25%). 6. Menurut riwayat penyakit, abortus inkomplitus paling banyak ditemukan pada pasien yang tidak memiliki riwayat penyakit 66 pasien (64,67%). 7. Menurut status gizi, abortus inkomplitus paling banyak ditemukan pada pasien yang tidak mengalami kekurangan energi kronis sebanyak 49 pasien (48,06%). 8. Menurut pemakaian obat dan faktor lingkungan, didapatkan bahwa abortus inkomplitus lebih banyak ditemukan pada pasien yang tidak memiliki riwayat pemakaian obat dan faktor lingkungan sebanyak 71 pasien (69,61%).

46

5.2.

Saran

1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara faktor resiko abortus inkomplitus dengan kejadian abortus inkomplitus melalui metode case control atau cohort agar didapat data lebih akurat. 2. Kepada pihak RSUD Panembahan Senopati Bantul agar dapat meningkatkan promosi, penyuluhan dan konseling kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan terutama pada awal kehamilan sebagai deteksi dini ibu hamil resiko tinggi dan tanda bahaya kehamilan dalam usaha menurunkan angka kejadian abortus inkomplitus. 3. Kepada Dinas Kesehatan agar lebih menekankan kepada petugas kesehatan dalam pelaksanaan antenatal care (pemeriksaan kehamilan) untuk mendeteksi faktor resiko yang berpengaruh pada kesehatan ibu dan janin sedini mungkin sehingga dapat menurunkan kejadian abortus inkomplitus dan mengembangkan sarana informasi bagi masyarakat tentang abortus inkomplitus sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu tentang bahaya abortus inkomplitus.

47

DAFTAR PUSTAKA

Abrahams, P., 2010,Panduan Kesehatan dalam Kehamilan, Kharisma Publishing Book, Tangerang Ambarwati dan Rismintari, 2009,Asuhan Kebidanan Komunitas, Muha Medika, Yogyakarta Arikunto, S., 2010,Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Jakarta Azhari, 2002,Masalah Abortus dan Kesehatan Reproduksi http://www.scribd.com/doc/22357037/Masalah-Abortus-DanKesehatan.Diakses pada tanggal 11 Januari 2011 Perempuan.

Chalik TMA., 2001, Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekology, Widya Medika, Jakarta Cunningham, G et al., 2006,Obstetri William Volume 2 Edisi 21, EGC, Jakarta Daswati, 2005, Analisis Faktor Resiko Umur, Paritas, dan Riwayat Abortus Terhadap Kejadian Abortus Di RSUD Labuang Baji Makassar Periode Januari 2004 Juli 2005, Skripsi, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2009,Kader dan Toma Panduan Praktek Lapangan, Jakarta Dinas Kesehatan, 2010, Laporan Penyelenggaraan RSUD Panembahan Senopati Bantul.http://rsudps.bantulkab.go.id/documents/20100614104024dok_rsudps_101.pdf. Diakses pada 11 Januari 2011. Eastman NJ dalam Dasuki D, Legowo D, Hasibuan S, 1997, Kajian Tentang Faktor Umur dan Paritas Terhadap Terjadinya Plasenta Previa, Berkala Kesehatan Klinik 5 (4), Yogyakarta F, Blohm. B, Fride. I, Milsom., 2007,A prospective longitudinal population-based study of clinical miscarriage in an urban Swedish population.www.blackwellpublishing.com/bjog. Diakses pada tanggal 11 Januari 2011.

48

Gaufberg, Slava V., 2010,Early Pregnancy Loss: Differential Diagnoses & Workup. http://emedicine.medscape.com/article/795085-diagnosis. Diakses pada tanggal 11 Januari 2011. Goldman, Jane Clearly., Malone, Fergal., Vidaver, John., Ball, Robert., Nyberg, David., Comstock, Christine., Saade, George., Eddleman, Kieth., 2005. Impact of Maternal Age on Obstetric Outcome.(Obstet Gynecol 2005;105:98390. The AmericanCollege of Obstetricians and Gynecologists.).Diakses pada tanggal 15 Februari 2011. Kusmiati, Y, Wahyuningsih, H.P, Sujiyatini., 2009,Perawatan Ibu Hamil (Asuhan Ibu Hamil), Fitramaya, Yogyakarta Llwellyn-Jones, D., 2005, Fundamentals of Obstetric and Gynaecology Edisi ke-6 Edisi Bahasa Indonesia, Hipokrates, Jakarta Manuaba, et al. 2007,Pengantar Kuliah Obstetri,Penerbit Buku Kedokteran EGC, Yogyakarta Mochtar, Rustam,2002,Sinopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta Myles. 2009, Buku Ajar Bidan (Myles Textbook For Midwife) Edisi 14, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta Naylor, S.C., 2005,Obstetri-Ginekologi:Referensi Kedokteran EGC, Jakarta Ringkas, Penerbit Buku

Panggabean, Marito., 2010, Hubungan Karakteristik Ibu Dengan Kejadian Abortus Inkompletus di Rumah Sakit Haji Medan Periode Januari 2008 April 2010, Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara Prawirohardjo, S., 2009,Ilmu Kebidanan, Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta Roeshadi, Haryono., 2004, Gangguan dan Penyulit Pada Masa Kehamilan, Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Supriasa, I Dewa Nyoman, dkk, 2001,Penilaian Status Gizi, Jakarta, EGC Saifuddin, A.B., 2006,Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

49

Widyastuti, Y, Rahmawati, A, Purnamaningrum, Y. E., 2009,Kesehatan Reproduksi, Fitramaya, Yogyakarta Wiknjosastro, Hanifa., 2006,Ilmu Kandungan, Yayasan BinaPustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

50

LAMPIRAN

51