Vous êtes sur la page 1sur 12

Maraknya Aborsi Sebagai salah satu tindakan kejahatan terhadap nyawa

Otniela mareta maharani E0011241 Kriminologi E

Universitas Sebelas Maret Surakarta 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebuah bangsa yang besar, umunya mempunyai masalah-masalah yang sangat kompleks bahkan menjadi wabah bagi bangsa tersebut. Indonesia, sebagai salah satu bangsa terjangkit banyak virus kejahatan, mulai dari kejahatan sosial, ekonomi, politik, dan bahkan kejahatan yang disebabkan oleh perbedaan budaya yang seharusnya menjadi aset kekayaan bangsa. Indonesia yang terkenal dengan sikap terbukanya terhadap dunia luar, membawa keuntungan sekaligus kerugian bagi masyarakatnya. Salah satunya adalah gaya hidup bebas yang sudah mewabah di zaman modern ini. Salah satu dampak negative dari gaya hidup yang bebas ini adalah semakin banyaknya pelaku seks pranikah, baik dikalangan remaja maupun dewasa. Seks pranikah agagnya sudah bukan merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan bahkan dilakukan. Hal ini juga ditunjang dengan adanya alat pengaman yang semakin mudah didapatkan oleh siapapun termasuk oleh mereka yang tidak terikat dalam suatu pernikahan. Seks pranikah tidak berhenti saat seorang lelaki dan wanita melakukan hubungan kelamin, namun akan berdampak kepada hal lain. Dampak yang secara nyata dapat dilihat adalah terjadinya kehamilan yang mungkin disebabkan rusaknya, atau tidak digunakannya alat pengaman ketika melakukan hubungan kelamin. Ketika kehamilan itu terjadi, pelaku seks pranikah mayoritas memilih jalan pintas untuk melakukan aborsi. Tanpa sadar, pelaku seks pranikah ini telah melakukan kejahatan terhadap nyawa atau yang biasa disebut dengan pembunuhan. Selain aborsi yang dilakukan oleh pelaku seks pranikah, ada beberapa alasan dilakukannya aborsi. Termasuk alasan medis yang terkadang mengharuskan ibu untuk melakukan aborsi. Dari beberapa hasil survey yang say abaca, aborsi juga banyak dilakukan oleh wanita yang sudah bersuami dikarenakan factor ekonomi dan gagalnya alat kontrasepsi. Adanya UU aborsi juga menimbulkan perdebatan di kalangan masyarakat khususnya wanita. Apapun yang sedang diperdebatkan banyak wanita dan pemerintah mengenai aborsi,

diharapkan semuanya bertujuan untuk membawa bangsa ini kearah yang lebih baik. Dimulai dari kaum wanita yang sadar akan pentingnya sebuah kehamilan, dimulai dari kalangan remaja yang menyadari arti pentingnya pernikahan, dan dimulai dari setiap pribadi yang menghargai kehidupan, bangsa ini akan terus membangun dirinya. Menjadi bangsa yang

bukan hanya memiliki wilayah yang besar, namun bangsa yang bermoral tinggi, sehingga menjadikan sebuah bangsa yang dihargai dari segi kehidupan manapun, Indonesia baru. B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan aborsi dan kejahatan terhadap nyawa? 2. Mengapa bisa terjadi aborsi? 3. Bagaimana peraturan perundangan mengenai aborsi di Indonesia? 4. Bagaimana mengatasi aborsi yang semakin mewabah di bangsa Indonesia?

BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN ABORSI DAN KEJAHATAN TERHADAP NYAWA Bagi masyarakat awam, kata aborsi selalu dikaitkan dengan tindakan tidak manusiawi yang disebabkan karena kejahatan dan kelalaian manusia sendiri. Misalkan saja aborsi yang dilakukan karena hubungan pranikah dan korban perkosaan. Dengan kata lain, aborsi mengandung makna dihilangkannya nyawa seseorang secara paksa dengan cara memaksa bakal bayi itu keluar sebelum waktunya, bahkan dihilangkan jejaknya. Dalam kamus Latin-Indonesia, abortus diartikan sebagai wiladah sebelum waktunya atau keguguran. Pada dasarnya kata abortus dalam bahasa latin artinya sama dengan kata aborsi dalam bahasa Indonesia yang merupakan terjemahan dari kata abortion dalam bahasa Inggris. Jika ditelusuri dalam kamus Inggris-Indonesia, kata abortion memang mengandung arti keguguran anak. Menurut Blacks Law Dictionary, keguguran yang berupa keluarnya embrio atau fetus semata-mata bukan karena terjadi secara alami (spontan), tapi juga karena disengaja atau terjadi karena adanya campur tangan (provokasi) manusia. Dari segi medis sendiri, pengertian aborsi adalah keluarnya hasil konsepsi (pembuahan) sebelum usia kehamilan 20 minggu dengan berat mudigah kurang dari 500 gram. Mudigah yang dikeluarkan dari kandungan sebelum usia kehamilan 20 minggu tidak punya harapan hidup. Sedangkan keluarnya hasil konsepsi (pembuahan) setelah usia kehamilan 20 minggu dapat dikatakan sebagai persalinan mengingat janin yang dikeluarkan sudah mempunyai harapan hidup walaupun amat tipis. (Suryono Ekotama,dkk ,2000) Aborsi merupakan salah satu tindakan yang termasuk kejahatan terhadap nyawa. Kejahatan terhadap nyawa adalah berupa penyerangan terhadap nyawa orang lain. Kepentingan hukum yang dilindungi dan yang merupakan obyek kejahatan ini adalah nyawa manusia. Kejahatan terhadap nyawa ini dapat dikelompokan atas 2 hal dasar, yaitu (1) atas dasar unsure kesalahannya dan (2) atas dasar obyeknya (nyawa). Atas dasar kesalahannya ada 2 kelompok kejahatan terhadap nyawa, ialah : 1. Kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan dengan sengaja (dolus misdrijven), adalah kejahatan yang dimuat dalam Bab XIX KUHP, pasal 338 s/d 350 2. Kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan tidak dengan sengaja (culpose misdrijven), dimuat dalam Bab XXI (khusus pasal 359)

Sedangkan atas dasar obyeknya (kepentingan hukum yang dilindungi, maka kejahatan terhadap nyawa dengan sengaja dibedakan dalam 3 macam, yakni : 1. Kejahatan terhadap nyawa orang pada umumnya. Dimuat dalam pasal 338,339,340,344,345. 2. Kejahatan terhadap nyawa bayi pada saat atau tidak lama setelah dilahirkan, dimuat dalam pasal 341,342, dan 343. 3. Kejahatan terhadap nyawa bayi yang masih ada dalam kandungan ibu (janin), dimuat dalam pasal 346,347,348, dan 349 (Drs.Adami Chazawi,SH, 2001) Kapan dikatakan ada kehidupan dalam rahim seorang wanita, sehingga ia bisa melakukan tindakan aborsi? pertanyaan itu seringkali menjadi dilema di masyarakat, banyak orang berpendapat apabila gumpalan darah dalam rahim wanita itu masih dalam umur tertentu (X), belum bisa dikatakan ada kehidupan disana. Itu artinya, jika ada upaya pengguguran dalam jangka waktu itu, seorang wanita dianggap sah melakukannya karena tidak menghilangkan nyawa sang bayi. Menurut hikmat saya, aborsi yang dilakukan seorang wanita terhadap janinnya dalam usia kandungan berapapun tetap bisa dikatakan sebagai tindakan kejahatan, apabila hal itu (aborsi) dilakukan karena alasan diluar yang diperbolehkan oleh undang-undang. Menurut apa yang pernah saya baca, pada usia kehamilan 6 minggu sudah ada kehidupan didalamnya. Artinya, hanya 1 minggu setelah wanita terlambat menstruasi. Karena pada saat itu, embrio sudah mulai bergerak dan mempunyai detak jantung. Inilah awal dari sebuah kehidupan baru yang terbentuk dalam rahim seorang wanita.

B. SEBAB-SEBAB ABORSI Aborsi seringkali menjadi pilihan yang sulit bagi setiap individu dengan berbagai alasannya. Dilihat dari segi medis, dalam khasus tertentu di satu sisi kandungan ingin tetap dipertahankan, namun disisi yang lain kandungan harus digugurkan karena akan membahayakan kesehatan wanita yang mengandungnya. Lain halnya dari segi korban perkosaan, bagi mereka korban perkosaan sebuah kehamilan adalah hal yang tidak diinginkan. Kehamilan yang terus dilanjutkan akan berdampak buruk secara psikologis terhadap korban perkosaan, bahkan berakibat stress berat. Disinilah letak penentuan yang berat, apakah korban perkosaan akan melakukan aborsi atau tetap mempertahankan kandungannya. Bermacam hal yang dapat menyebabkan terjadinya aborsi baik secara legal maupun illegal.

Berdasarkan dari banyaknya jenis abortus, penyebab keguguran itu dapat dikelompokan menjadi 3 jenis : Keguguran karena proses alam (kehendak Tuhan) (Suryono Ekotama,dkk ,2000) Keguguran yang seperti ini seringkali terjadi, bahkan seorang wanita bisa mengalami keguguran sampai berkali-kali. Hal ini mungkin diakibatkan karena factor wanita itu sendiri, apakah dia mempunyai penyakit atau bisa juga karena kandungannya yang lemah sehingga sering mengalami keguguran. Keguguran karena kelalaian manusia Kelelahan dapat menjadi factor utama penyebab abortus spontan terutama pada saat kandungan masih berusia sangat muda. Embrio yang dikeluarkan masih berupa gumpalan darah dan belum berbentuk manusia (janin/foetus) (Suryono Ekotama,dkk ,2000) Keguguran sebagai akibat perbuatan manusia (keguguran yang disengaja/abortus provocatus) Pada poin inilah kita akan membahas lebih dalam mengenai sebab terjadinya aborsi. Aborsi dapat dikatakan legal dan illegal, tergantung dari tujuan dilakukannya aborsi. Aborsi dikatakan legal apabila itu dilakukan untuk alasan-alasan medis yang seringkali tidak terhindarkan oleh manusia. Namun, pada kenyataannya kasus aborsi lebih banyak dilakukan karena alasan diluar itu. Alasan-alasan yang membawa keuntungan bagi wanita yang mengandung itu, bahkan bagi suami dan keluarganya. Alasan aborsi diluar medis dan psikis korban perkosaan, seharusnya lebih sedikit jumlahnya. Aborsi yang dilakukan oleh dokter dikarenakan karena beberapa hal ,antara lain : (Suryono Ekotama,dkk ,2000) a. Kehamilan dianggap membahayakan jiwa si ibu jika ternyata si ibu menderita berbagai penyakit, seperti jantung, ginjal, dan darah tinggi. Penyakit-penyakit tersebut amat riskan pada saat melahirkan nanti. b. Penyebab digugurkannya kandungan oleh dokter juga dapat disebabkan karena anak yang akan dilahirkan cacat berat dan harapan hidupnya sangat tipis. Cacat berat (kelainan) yang biasanya diidap oleh janin dalam kandungan adalah ectopia kordis (janin akan dilahirkan tanpa dinding dada, sehingga jantungnya terlihat), rakiskisis (janin akan dilahirkan dengan tulang punggung terbuka tanpa ditutupi kulit) maupun anensefalus (janin akan dilahirkan tanpa otak besar). Dan masih

banyak hal lagi yang bisa menjadi alasan dokter untuk menyarankan seseorang melakukan aborsi. Sebab-sebab aborsi yang dikatakan illegal banyak dijumpai di Indonesia. alasan-alasan itu antara lain : a. Kehamilan sebagai akibat hubungan kelamin di luar perkawinan Pergaulan bebas dikalangan anak muda menyisakan satu problem yang cukup besar. Angka kehamilan diluar nikah meningkat tajam.hamil diluar nikah jelas merupakan suatu aib bagi wanita yang bersangkutan, keluarganya maupun masyarakat pada umumnya. Akibat tekanan psikis yang diderita wanita hamil maupun keluarganya membuat mereka mengambil jalan pintas untuk

menghilangkan penyebab aib tadi, yakni dengan cara menggugurkan kandungan wanita hamil yang bersangkutan. b. Alasan-alasan sosio ekonomis dan banyaknya anak Kondisi masyarakat yang miskin (jasmani maupun rohani) biasanya menimbulkan permasalahan yang cukup kompleks. Karena kemiskinan itulah mereka kurang memperhatikan masalah reproduksi, termasuk pemakaian kontrasepsi. Sehingga kehamilan kemudian tidak diinginkan oleh pasangan yang bersangkutan dan diusahakan untuk digugurkan dengan alasan mereka tidak mampu lagi membiayai jika anggota keluarga mereka bertambah. Daripada anak yang akan dilahirkan nantinya terlantar dan hanya menyusahkan keluarga maupun orang lain, lebih baik digugurkan saja. c. Alasan belum mampu punya anak Banyak pasangan muda yang tergesa-gesa menikah tanpa persiapan terlebih dahulu. Akibatnya, hidup mereka tidak sejahtera. Padahal salah satu konsekuensi perkawinan adalah lahirnya anak yang menimbulkan tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu, mereka biasanya mengadakan kesepakatan untuk tidak mempunyai anak dulu dalam jangka waktu tertentu. Jika terlanjur dan benar-benar tidak siap, maka aborsi menjadi cara untuk menyelesaikan persoalan tersebut. d. Kehamilan akibat perkosaan Konsekuensi logis dari adanya persetubuhan adalah terjadinya kehamilan. Kehamilan pada korban perkosaan jelas tidak diinginkan. UU Anti-Aborsi mengizinkan aborsi untuk kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban. Perkosaan sendiri merupakan tindakan criminal yang bisa dituntukan dimuka pengadilan. Perkosaan dapat dipicu akibat maraknya

pornografi di masyarakat. Bahkan, pornografi dapat menjadi sebuah tindakan criminal. Maraknya tampilan yang porno, dapat menjadi pemacu dan pemicu terjadinya tindak pidana kesusilaan, meskipun tidak semua tampilan yang porno dapat menyebabkan terjadinya tindak pidana kesusilaan. Berangkat dari sangat mungkinnya tampilan yang porno sebagai pemacu dan pemicu maraknya pelanggaran kesusilaan, telah menjadi argument dasar dan alasan pembenar bagi sementara pihak untuk menempatkan pornografi sebagai perbuatan pidana, sehingga pelakunya dapat dipidana. (waluyadi, S.H.,M.H.,2009)

C. PERATURAN PERUNDANGAN ABORSI DI INDONESIA KUHP yang saat ini berumur puluhan tahun mengatur berbagai hal mengenai kejahatan, termasuk didalamnya mengenai aborsi. Ketentuan mengenai aborsi dapat dijumpai dalam Bab XIV tentang kejahatan kesusilaan pada pasal 299. Bab XIX tentang kejahatan terhadap nyawa pada pasal 346 sampai 349. Menurut KUHP jelas dikatakan bahwa aborsi adalah tindakan yang dilarang tanpa terkecuali. Artinya, Indonesia sendiri tidak mengijinkan adanya tindakan aborsi, sehingga aborsi dikategorikan sebagai sebuah kejahatan atau tindakan criminal. Hal yang bertentangan disampaikan oleh undang-undang medis. Melihat dari beberapa aspek seperti yang telah diuraikan diatas, menurut UU kesehatan ada aborsi yang dilegalkan. Peraturan dalam KUHP agagnya memberatkan bagi beberapa pihak yang sebenarnya tidak bersalah dalam tindakan aborsi. Seperti halnya seorang dokter yang ingin menyelamatkan si ibu dengan mengambil tindakan aborsi, apakah dia juga akan terkena sanksi pidana? Kebutuhan akan peraturan yang baru ini terpenuhi setelah pemerintah mengeluarkan UU No 23/1992 tentang kesehatan. Melihat rumusan pasal tersebut, aborsi dapat dilakukan jika nyawa ibu terancam atau pada intinya adalah ketika ada suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan medis tertentu, sebab tanpa tindakan medis tertentu itu, ibu hamil dan janinnya dapat terancam nyawanya. Dalam UU tersebut juga disebutkan bahwa aborsi diperbolehkan apabila kondisi psikis korban perkosaan tidak memungkinkan untuk dirinya mengalami kehamilan. Labeling masyarakat kerap kali juga membuat seseorang untuk aborsi, untuk menutupi aib nya agar tidak disebut memiliki anak haram . Namun, dari tindakan aborsi pula, individu-individu jahat tadi terpisah dari orang-orang dalam masyarakat konvensional. Menerima suatu label criminal, dalam hal ini pelaku aborsi,

mereka secara bertahap mulai berpikir tentang diri mereka sendiri sebagaimana definisi yang secara resmi telah diberikan kepada mereka. (topo santoso dkk,2012) Namun dengan adanya UU kesehatan tersebut, banyak pihak yang merasa belum puas melihat pengaturan aborsi di Indonesia. Menurut hikmat saya, alasan banyak masyarakat yang menginginkan pelegalan aborsi di Indonesia salah satunya untuk menjaga keselamatan wanita di Indonesia. Karena aborsi itu ilegal, banyak wanita termasuk ibu yang bahkan masih bersuami memutuskan untuk menggugurkan kandungannya secara diam-diam, bukan melalui tenaga medis, namun melalui caracara tradisional yang bisa membahayakan nyawanya sendiri. Aborsi secara diam-diam ini tidak selamanya karena hubungan seks pranikah, namun bisa juga karena gagal dalam penggunaan kontrasepsi, kehamilan yang tak dikehendaki, jarak terlalu pendek antara kelahiran dan kekhawatiran pemeliharaan anak.

D. UPAYA PENCEGAHAN ABORSI DI INDONESIA Semakin maraknya aborsi di Indonesia membuktikan semakin buruknya kwalitas individu di Indonesia. Beberapa upaya pencegahan aborsi sebenarnya bisa dilakukan, dimulai dari mencegah terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan, sampai pencegahan aborsi apabila sudah terlanjur terjadi kehamilan. Upaya pencegahan sebaiknya dilakukan dengan melihat subyek yang ditangani, apakah mereka pelaku seks pranikah, atau seorang ibu miskin, atau seorang ibu yang gagal menggunakan alat kontrasepsi. Pencegahan kepada anak remaja dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan mengenai seks sejak dari kecil. Mengetahui berbahayanya seks bebas akan memberi rasa waspada kepada mereka, sehingga mereka tidak mudah melakukan hubungan seks pranikah yang berujung pada aborsi setalah terjadinya kehamilan. Didikan dari orang tua juga akan sangat berpengaruh, dari orang tua dapat mengajarkan kepada anak-anaknya agar selalu mempertimbangkan kehidupan pernikahan mereka, apa yang harus dikerjakan dalam sebuah pernikahan sehingga anak tidak terlalu dini untuk menikah padahal secara ekonomi dan psikologis mereka belum siap mempunyai keturunan. Pencegahan aborsi kepada ibu-ibu yang gagal menggunakan alat kontrasepsi, aborsi karena factor ekonomi dan banyaknya anak, serta aborsi yang dilakukan oleh seorang korban perkosaan, cara konkret untuk mencegahnya dapat melalui prikolog. Melalui tenaga ahli, wanita dapat diarahkan ke arah yang lebih baik dan benar. Hal

lain yang dapat dilakukan adalah dengan cara memberikan penyuluhan menggunakan alat kontrasepsi yang benar, memberikan pengetahuan dan cara mengelola keluarga. Agar nantinya, sebuah keluarga dapat disusun secara baik termasuk dalam hal pengaturan jarak usia anak dalam keluarga. Sehingga masyarakat mau memperhatikan keluarga mereka dengan benar.

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Salah satu masalah kompleks yang dihadapi bangsa ini adalah aborsi. Jutaan penduduk melakukan aborsi dalam kurun waktu setahun. Dari sekian banyak kasus aborsi, tidak sedikit wanita yang meninggal akibat penanganan aborsi yang salah yang dilakukan oleh tenaga tradisional, bukan tenaga medis yang benar. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya aborsi, agar kita semua bisa menghargai kehidupan baru yang diberikan. Aborsi mengandung makna dihilangkannya nyawa seseorang secara paksa dengan cara memaksa bakal bayi itu keluar sebelum waktunya. Aborsi merupakan salah satu tindakan yang termasuk kejahatan terhadap nyawa yang artinya adalah penyerangan terhadap nyawa orang lain. Aborsi disebabkan oleh beberapa hal, antara lain karena proses alam (kehendak Tuhan), karena kelalaian manusia, keguguran sebagai akibat perbuatan manusia (keguguran yang disengaja/abortus provocatus). Dalam pengaturannya di Indonesia, aborsi diatur dalam Bab XIV tentang kejahatan kesusilaan pada pasal 299. Bab XIX tentang kejahatan terhadap nyawa pada pasal 346 sampai 349. Juga terdapat dalam UU No 23/1992 tentang kesehatan.

B. SARAN Sebagai warga negara yang baik, sudah selayaknya kita semua ikut berpartisipasi mencegah terjadinya aborsi. Hal ini dapat dimulai dari teman-teman terdekat yang kita jumpai, saling mengingatkan untuk menjaga pergaulan agar terhindar dari seks pranikah. Setiap upaya pencegahan sebaiknya dilakukan dengan melihat subyek yang akan ditangani. Pencegahan aborsi pada pelaku seks pranikah dengan korban perkosaan akan berbeda. Pilih cara pencegahan yang benar agar semua menjadi tepat sasaran. Dari masing-masing pribadi sebaiknya juga mengembangkan pengetahuan mengenai bahaya aborsi, bisa dengan cara mengikuti penyuluhan yang diberikan suatu organisasi. Karena semua orang pada dasarnya dapat berpartisipasi mencegah aborsi illegal, walau dengan cara-cara yang sangat sederhana. Menghargai kehidupan dan jangan mematikan kehidupan itu.

DAFTAR PUSTAKA

Ekotama,Suryono dkk. Abortus Provocatus bagi korban perkosaan. 2001. UAJY : Yogyakarta

Chazawi,Adami. Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa. 2001. Rajawali Pers : Jakarta

Waluyadi. Kejahatan, Pengadilan, dan Hukum Pidana. 2009. CV Mandar Maju : Bandung

Santoso, Topo dkk. Kriminologi. 2012. Rajawali Pers : Jakarta