Vous êtes sur la page 1sur 5

Nomor 3. 1.

Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital yang dapat bersifat akut atau kronis dan merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis. 2. Gejala: 1. Pada wanita, yang diserang terutama dinding vagina. 2. Pada kasus akut terlihat : Disini cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuningkuningan sampai hijau, seringkali lebih kental, berbusa, dan berbau. Trichomonas vaginalis menghasilkan produk metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH vagina dan menyebabkan pelepasan sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab timbulnya bau pada flour albus pada vaginosis bacterial. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab (Strawberry Appearance). Perdarahan kecil kecil pada permukaan serviks. Didapatkan rasa gatal dan panas di vagina. Dysuria dan Rasa sakit sewaktu berhubungan seksual (dispareunia) mungkin juga merupakan keluhan utama yang dirasakan penderita dengan trikomoniasis. Dapat juga mengalami perdarahan pasca sanggama dan nyeri perut bagian bawah. Bila sekret banyak yang keluar, dapat timbul iritasi pada lipat paha atau di sekitar bibir vagina. 3. Pada kasus yang kronis, gejala lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa. 4. Pada pria biasanya tidak memberikan gejala. Kalaupun ada, pada umumnya gejala lebih ringan dibandingkan dengan wanita. Gejalanya antara lain : Iritasi di dalam penis, keluar cairan keruh namun tidak banyak, rasa panas dan nyeri setelah berkemih atau setelah ejakulasi. 3. Perbedaan

4. Obat-obat yang digunakan : 1. Trikomoniasis

Terapi yang baik ialah dengan metronidazole, yang di pasaran antara lain terkenal dengan nama Flagyl. Metronidazol yang diberikan per os dapat diserap dengan baik dalam traktus digestivus dan mempunyai toksisitas rendah. Keluhan karena minum obat hanya terdapat dalam 10 % kasus, biasanya ringan dan terdiri atas mulut kering, anoreksia, nausea, rasa nyeri di daerah epigastrium, kadang-kadang sakit kepala dan vertigo. Pengobatan metronidazole per os ialah dalam dosis 500 mg setiap 12 jam selama 5 hari, jadi dosis total ialah 5 gram. Pengobatan per vaginam saja dapat mengurangi gejala-gejala, akan tetapi tidak menyembuhkan penyakit. Terapi hanya secara per vaginam dianjurkan pada kehamilan kurang dari 20 minggu, atau pada penderita yang peka terhadap metronidazole. Sebagai obat pervaginam dapat diberikan pula supositoria flagyl, supositoria atau krem AVC dan supositoria Tricofuron. Akhir-akhir ini selain pemberian metronidazole, dianjurkan pula tinidazole (Fasygin) dan ornidazole (Tiberal). 2. Kandidiasis

Obat yang memberikan hasil baik ialah Nystatin, suatu antibiotik dihasilkan oleh Streptomises noursei. Yang banyak dipakai ialh tablet vaginal Mycostatin dimasukkan dalam vagina 1 sampai 2 tablet sehari selama 14 hari. Untuk mencegah timbulnya residif tablet Mycostatin dapat diberikan per vaginam satu minggu sebelum haid selama beberapa bulan. Akhir-akhir ini banyak juga diberikan derivat dari imidazole sebagai salep untuk dimasukkan dalam vagina, dengan hasil baik. Begitu pula Econazole (Gyno-Pevaryl) dalam bentuk supositorium dianjurkan. Derivat-derivat lain adalah iniconazole,clotrinazole. 5. Niystatin diindikasikan untuk pengobatan infeksi campuran vagina yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis dan C. albicans. ika ada bukti infeksi Trichomonas, maka dia juga harus diterapi dengan metronidazole oral untuk mencegah reinfeksi. 6. Metronidazol telah dikenal lama sebagai antiprotozoa, yang umumnya digunakan untuk mengobati trikhomoniasis, giardiasis dan amubiasis serta infeksi yang disebabkan oleh bakteri anaerob. Akhir-akhir ini pemakaiannya dalam klinik meningkat, baik digunakan secara tunggal maupun kombinasi dengan antibiotika lain, khususnya untuk infeksiinfeksi gastriinstastinal, dimana sering melibatkan kuman anaerob. Kadar metronidazol dalam serum dan waktu paruh eliminasi pada wanita hamil tidak berbeda dengan kadarnya pada wanita tidak hamil. Banyak peneliti menyatakan bahwa metronidazol bersifat mutagen dan karsinogen. Metronidazol dapat meningkatkan kecepatan mutasi spontan beberapa bakteri aerob in vitro. Telah pula dilaporkan pula pemakaian pada binatang uju dengan dosis sangat tinggi memberikan efek karsinogenik, tetapi hingga saat ini data mengenai efek buruk pada janin belum diketahui. Ini bukan berarti penggunaan metrinidazol pada wanita hamil dapat dianggap aman. pemakaian metronidazol tidak dianjurkan pada trimester I, apabila karena terpaksa harus diberikan pada trimester II dan III maka jangan diberikan dalam dosis yang besar dan dalam jangka waktu yang lama. Walaupun tidak terbukti bahwa metronidazol bersifat teratogen pada binatang uji , tetapi sebaiknya dihindari pemberiannya pada wanita hamil karena dikhawatirkan dapat memacu perubahan pada human lymphocites. Nystatin memiliki aktivitas antifungi (anti jamur), yaitu dengan mengikat sterol (terutama ergosterol) dalam membran sel fungi. Nystatin tidak aktif melawan organisme (contohnya: bakteri) yang tidak mempunyai sterol pada membran selnya. Hasil dari ikatan ini membuat membran tidak dapat berfungsi lagi sebagai rintangan yang selektif (selective barrier), dan kalium serta komponen sel yang lainnya akan hilang. Aksi utama nystatin adalah melawan Candida (Monilia) spp. Kontraindikasi pada wanita hamil trimester pertama.

Nomor 4 1. Ankylostomiasis ( infeksi cacing tambang ) Ankylostomiasis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh serangan cacing tambang, Ankylostoma duodenale, yang hidup di dalam usus halus dan menimbulkan pendarahan usus sehingga mengakibatkan anemia. Dalam waktu 1 minggu larva masuk ke duodenum dan ileum. Sesudah 4 minggu sejak saat infeksi, cacing tambang menjadi cacing dewasa. Gejala yang ditunjukan penyakit ini adalah adanya kelainan kulit pada daerah tempat larva masuk berupa gatal, adanya gejala bronchitis, batuk, sembelit, diare, wajah pucat dan bengkak, edema tangan dan kaki, perut buncit,mudah lelah, mualmual, dan muntah-muntah. Enterobiasisi (infeksi cacing kremi) Enterobiasis adalah penyakit infeksi usus oleh cacing kremi. Enterobus vemicumicularis atau Odcyyuris vermiicularis. Cacing dewasa hidup di daerah sekum dan memakan isi usus serta bahan seluler (usus) setempat. Penularan melalui saluran pencernaan, yaitu telur cacing yang infektif tertelan melalui rongga mulut. Gejala dan keluhan hanya timbul pada malam hari, yaitu cacing dewasa melakukan perpindahan ke daerah anus atau alat kelamin jika akan bertelur. Gejalanya berupa gatal-gatal di daerah anus sehingga penderita sukar tidur. Ascaris Merupakan sepupu cacing tambang (Hookworm) dengan ukuran lebih besar. Bentuk cacing ini bulat berukuran raksasa dapat mencapai 40 cm, sedikit lebih besar 1 cm. Faktanya 25% penduduk dunia terinfeksi cacing ini. Larva Ascaris sangat kecil hingga sanggup menembus kulit manusia. Infeksi terjadi melewati makanan yang kotor. Cacing betina Ascaris sanggup bertelur sebanyak 100ribu perhari. Gejalanya, Sakit, demam dan berat infestast dengan membunuh penyumbatan usus. biasanya pendeteksian melalui feses (tinja/kotoran manusia). Guinea Worm (Cacing Guinea) Penyebab penyakit ini adalah cacing Dracunculiasis dengan bentuk panjang seperti spagethi. Bila mencapai usia dewasa dapat mencapai panjang 1 meter. Biasanya infeksi terjadi masuk kedalam tubuh manusia melalui air yang terkontaminasi telur-telur cacing Guinea yang telah dimakan oleh kutu air. Penyakit ini kebanyakan di bagian Afrika dengan keadaan kotor dan miskin serta pendidikan akan kebersihan yang minim. Pencegahan, untuk saat ini penyakit cacing Guinea belum ada obatnya. Hal terbaik adalah pencegahan dengan Minum air dari sumber bawah tanah yang bebas dari kontaminasi; selalu filter air minum, menggunakan kain halus-mesh filter seperti nilon; mencegah orang yang terinfeksi cacing Guinea memasuki kolam atau sumur yang digunakan untuk minum. Cacing Pita (Tapewom/Taenia) Gejalanya, pada infeksi cacing dewasa tidak menyebabkan gejala, naumn infeksi yang berat oleh kista dapat menyebabkan nyeri otot, lemah dan demam. Bila infeksi sampai ke otak dan selaputnya, dapat menimbulkan peradangan, dan bisa terjadi kejang-kejang. 2. Penggolongan : Berdasarkan spektrum, diklasifikasikan berspektrum luas (broad spectrum) dan berspektrum sempit (narrow spectrum). Yang termasuk anthelmintik berspektrum luas (Broad spectrum anthelmintic or mayor classes): Benzimidazoles:Albendazole,Fenbendazole, Mebendazole, Oxfendazole Levamizole / morantel: Levamizole hydrochloride, Levamizole phosphate, Morantel Macrolytic lactones (Mls) atau mectins: Abamectin, Ivennec tin, Moxidectin Yang termasuk anthelmintik berspektrum sempit (Narrow spectrum or minor classes): Organophosphare compounds: Naphalophos (Sallcynillides) substitusi phenol: Closantel, Nitroxynil, Oxyclozanide Triclabendazole

Berdasarkan cara kerjanya, obat cacing dibedakan menjadi 5 kelompok yaitu 1) Benzimidazol (albendazol, fenbendazol, flubendazol, thiabendazol) 2) Imidathiazol (levamisol) dan tetrahydropyrimidine (pyrantel) 3) Avermectin (ivermectin) dan milbemycin (moxidectin) 4) Salicylanilide (niclosamid) dan nitrophenol 5) Diclorvos dan trichlorphon. CONTOH OBAT Mebendazol , Tiabendazol, Albendazol, Piperazin, Dietilkarbamazin Pirantel, Oksantel, Levamisol, Praziquantel, Niklosamida, Ivermectin.

MEKANISME KERJA ANTHELMENTIKA Mekanisme kerja obat cacing yaitu dengan menghambat proses penerusan impuls neuromuskuler sehingga cacing dilumpuhkan. Mekanisme lainnya dengan menghambat masuknya glukosa dan mempercepat penggunaan (glikogen) pada cacing. Secara garis besar, cara kerja obat cacing ada 2 yaitu mempengaruhi syaraf otot cacing dan mengganggu proses pembentukan energi. Cara kerja yang pertama akan mengakibatkan cacing lumpuh sehingga dengan mudah dikeluarkan dari tubuh ternak bersama dengan feses. Sedangkan cara kerja kedua menyebabkan cacing kehilangan energi dan akhirnya mati. Antelmintik : Suspensi oral pirantel Pamoat (Antiminth oral 250 mg/5ml suspension), tiabendazol(Mintezol Oral 500 mg/5 ml). ini digunakan untuk membebaskan tubuh dari infeksi cacing . 3. Hal yang dilakukan dokter tersebut sudah tepat, karena Mebendazole merupakan benzimidazole sintetis yang memiliki aktifitas antelmintik brspektrum luas dan mempunyai tingkat kemunculan efek yang tidak diinginkan yang rendah. 4. Mebendasol : Oral : Untuk mencegah enterobiasis dewasa 100mg dosis tunggal bila belum sembuh dalam 3 minggu pengobatan di ulangi. Tablet boleh di kunyah, di telan dan di campur dengan makanan. - Anak ( < 2 tahun ) sama seperti dewasa - Untuk cacing gelang 2 tablet 100mg dosis tunggal - Untuk friehetriasis dan cacing tambang dewasa 100mg 2 kali sehari( pagi dan malam ) selama 3 hari berturut-turut, bila belum sembuh dalam 2 minggu pengobatan diulangi. Anak sama seperti dewasa cara pemberian dan penyesuaian dosis tidak diperlukan. Pirantel pamoat yaitu 10 mg / kgBB. Walaupun demikian, dosis tidak boleh melebihi 1 gr. Sediaan biasanya berupa sirup (250 mg/ml) atau tablet (125 mg /tablet). 5. Mebendazol tidak menyebabkan efek toksik sistemik mungkin karena absorbsinya yang buruk sehingga aman diberikan pada penderita dengan anemia maupun malnutrisi. Efek samping yang kadang-kadang timbul berupa diare dan sakit perut ringan yang bersifat sementara. Dari studi toksikologi obat ini memiliki batas keamanan yang lebar. Tetapi pemberian dosis tunggal sebesar 10 mg/kg BB pada tikus hamil memperlihatkan efek embriotoksik dan teratogenik Pirantel Pamoat Efek samping umum diare, sakit perut,pusing, mual, muntah, tidak mau makan, gejala sistem saraf pusat.