Vous êtes sur la page 1sur 16

ALAT UKUR OTOMOTIF

1.

SISTEM PENGUKURAN

Kualitas produk merupakan masalah yang tidak bisa diabaikan, oleh karenanya pengetahuan tentang pengukuran yang dilakukan terhadap benda kerja merupakan produk yang sangat vital dalam menjamin kualitas dari produksi yang dihasilkan. Pengetahuan tentang pengukuran yang dimaksud adalah pengetahuan teknik untuk melakukan pengukuran atas bagian-bagian dan suatu benda hasil produksi, baik mengukur dimensi ataupun sifat geometris, berat, temperatur, kekerasan dari suatu produk atau parts mesin dengan alat dengan cara yang tepat, sehingga hasil pengukurannya dianggap sebagai hasil yang paling dekat dengan ukuran sesungguhnya. 1.1 Klasifikasi Pengukuran Untuk mendapatkan pengukuran dengan tepat, dituntut adanya pengetahuan dan kemampuan mengoperasikannya yang memadai dan kemampuan untuk membedakan berbagai sistem pengukuran sesuai dengan spesifikasi/geometris benda yang akan diukur. Dengan kata lain setiap orang yang bekerja dalam bidang teknik harus mengetahui teknik pengukuran yang mempunyai ruang lingkup tentang bagaimana cara menggunakan alat ukur dengan benar dan pengetahuan lain yang berkaitan erat dengan masalah pengukuran. Hanya saja penggunaan alat ukur tersebut juga akan dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya : besar benda yang akan diukur, kondisi (fisik) benda yang akan diukur, posisi benda yang akan diukur, tingkat ketelitian yang direncanakan, efesien, dsb. Dalam praktiknya pengkuran dapat diklasifikasikan antara lain; Panjang Berat Temperatur Sudut Kerataan 1.2 Unit Pengukuran dan Konversi Sistem pengukuran yang digunakan khususnya dalam bidang teknik adalah sistem matrik dan ada juga yang menggunakan sistem imperial (pembagian dalam satuan Inggris) khususnya pengukuran panjang, berat, dan temperatur. Dasar dari unit pengukuran dalam bidang keteknikan adalah: Jenis Pengukuran Besaran Metrik/ imperial Panjang meter(m)/ feet Temperatur Celcius ( 0 C )/ Fahtenheit Berat kilogram (kg) /pound 24 1.2.1 Panjang Mengukur panjang suatu benda merupakan pengukuran yang dimulai dengan menarik garis dari sutu titik ke titik ke dua dengan lurus atau dapat dikatakan suatu garis lurus. Jika pengukuran yang dilakukan terhadap garis tengah lingkaran atau diameter pada dasarnya adalah menarik garis lurus dari sisi pertama ke sisi yang lain. Dalam sistem matrik unit yang sering digunakan dalam ilmu teknik dalam mengukur panjang adalah milimeter (mm ). Dimana 1000 mm sama dengan 1 m (1000 mm = 1 m). Jika pengukuran yang sangat panjang satuan yang digunakan adalah kilometer. Dimana 1000 meter sama dengan satu kilometer. (1000 m = 1 km). Pada sistem Imperial, feet merupakan satauan yang digunakan untuk mengukur panjang dalam bengkel (workshop) dan sebagian industri pemesinan. Pengukuran panjang yang ukuran pendek digunakan satuan inchi (in atau ) 12 = 1 ft. Satuan lain yang digunakan dalam pengukuran panjang dalam sistim imperial adalah yard (yd) dan mile (3 ft = 1 yd), (5280 ft = 1 mile). Satuan yang digunakan dalam satuan metrik dan imperial dapat dihitung dengan sistim konversi faktor. Beberapa bengkel (workshop) teknik untuk memudahkan dalam menerjemahkan/pembacaan ukuran digunakan tabel konversi. Dalam praktiknya konversi antara ukuran metrik ke ukuran imperial atau sebaliknya, hasil konversi untuk metrik digunakan dua angka debelakang koma sedangkan untuk imperial digunakan 3 angka debelakang koma. Untuk konversi milimeter ke inchi, 1 in = 25,4 mm. Konversi 10 mm ke inchi. (10 mm : 25,4 = 0,394) Konversi 44,45 mm ke dalam satuan inchi,

44,45 mm : 25,4 = 1,75 Konversi 2 ke mm 2 X 25,4 = 50,8 mm. Pengukuran yang menggunakan satuan imperial ukuran yang ditulis sering menggunakan bilangan pecahan seperti 1/2 jika ukurannya kurang dari satu. Ukuran pada satuan inchi ditulis tidak menggunakan bilangan berkoma/desimal tetapi dengan bilangan pecahan. Konversi 3/8 inchi ke bilangan desimal 3 : 8 = 0,375 Jika ukuran bilangan bulat dengan pecahan ( contoh 11/2 ). Untuk memudahkan dalam konversi bilangan ini dapat dilakukan dengan cara menjadikan bilangan pecahan kedalam bilangan berkoma. Contoh: Konversi 11.1/16 ke dalam mm Penyelesaian; 11/16 11 : 16 = 0,688 111/16 = 1,688 01,688 X 25,4 = 42,88 mm. 25 Konversi feet ke meter dan milimeter, 1 m = 3,2808 ft; 3 : 3,2808 = 0,91441 m = 914,41 mm. Bentuk konversi yang sering digunakan dalam bengkel (workshop) adalah bengan cara memisahkan konversi antara bilangan bulat dengan bilangan pecahan Contoh; Konversi 21/2 ke dalam Inchi Penyelesaian; 1/2 = 12.7 mm 2 = 50,8 mm 21/2 = 63,50 mm Konversi 12,54 mm ke inchi Penyelesaian; 10 mm = 0,3937 2 mm = 0,0787 0,54 mm = 0,0213 12,54 mm = 0,4937 Tabel: Konversi bilangan desimal, pecahan dalam milimeter dan inchi 1.2.2 Temperatur Pengukuran temperatur satuan yang digunakan dalam satuan metrik adalah Celcius (0C). Sistim imperial satuan yang digunakan adalah Fahrenheit (oF). Pada sistim metrik temperatur sering juga disebut skala perseratus. Celcius dan skala perseratus simbol yang digunakan sama. Konversi 0C ke 0F (0C x 5 9 ) + 32 = 0F Konversi 0F ke 0C (0F 32) X 9 5 -0C.2.2 Contoh; Konversi 350C ke 0F (0C x 5 9 ) + 32 = 0F (35 x 5 9 ) + 32 = 0F 63 + 32 = 0F 65 = 0F Konversi 1980F ke 0C (0F 32) X 9 5 = 0C (189 32) X 9 5 = 0C 166 X 9 5 = 0F 92,2 = 0F 1.2.3 Berat Satuan untuk mengukur/menimbang berat yang digunakan dalam sistem metrik adalah gram (g), kilogram (kg), dan ton. Konfersi gram ke kilogram dan kilogram ke ton adalah; 1000 g = 1 kg 1000kg = 1 ton Pada sistim imperial satuan untuk mengukur berat adalah ounce (oz), pound (lb), dan ton (t). 16 oz = 1 lb 2240 lb = 1 t. Perubahan kilogram ke pound, 1 kilogram = 2.2046 pound. Perubahan pound ke kilogram, 1 pound = 1/2.x 2046 kilogram Perubahan gram ke ounce, 1 gram = 28,35 ounce (oz) Perubahan ounce ke gram, 1 ounce = 1/28,35 ounce (oz) 26 B. KLASIFIKASI PENGUKURAN Banyak cara yang dilakukan oleh juru teknik dalam melakukan proses pengukuran semuanya itu bertujuan untuk mendapatkan hasil pengukuran seakurat mungkin. Hal tersebut akan sangat tergantung pada jenis, bentuk, posisi bahkan temperatur dari benda ukur ataupun alat ukur yang digunakan. Sesuai dengan jenis-jenis pengukuran yang biasa dilaksanakan, maka alat ukur pun ada beberapa jenis dengan cara pemakaian yang berlainan. Berdasarkan sifatnya alat ukur ukur itu dapat dibagi: 1. Pengukuran langsung yaitu dengan menggunakan alat ukur langsung, hasil pengukuran dapat langsung dibaca alat ukur tersebut. Contoh; mikrometer, jangka sorong, mistar ukur, dsb. 2. Pengukuran tak langsung, yaitu pengukuran menggunakan alat ukur tidak langsung, alat ukur jenis pembanding atau pembantu dan standar. Hasil pengukuran diukur oleh alat ukur langsung. 3. Pengukuran dengan kaliber batas ( limit gage) yaitu pengukuran menggunakan alat ukur batas/kaliber. Pengukuran ini tidak menentukan ukuran suatu dimensi dengan pasti, melainkan hanya menunjukkan apakah dimensi tersebut terletak di dalam atau di luar daerah toleransi. Cara pengukuran seperti ini dimaksudkan untuk mempercepat pemeriksaan atas produksi masal, dan alat ukur yang digunakan adalah jenis kaliber GO dan NO GO gauges. 4. Pengukuran dengan cara membandingkan yaitu pengukuran dengan cara ini tidak menentukan dimensi ataupun toberansi suatu benda ukur secara langsung. Pengukuran dengan cara ini menggunakan perbandingan dengan bentuk standar misalnya untuk pengecekkan/pemeriksaan bentuk konis. Pengukuran Linier - Pengukuran Linier Langsung

- Pengukuran Linier Tidak Langsung Pengukuran sudut Pengukuran dengan Pembanding (Comparative length) Pengukuran Kelurusan (Straightness) Pengukur Kerataan Permukaan (Flatness) 27 Pengukuran Kebulatan (Roundness) Pengukuran Profile Pengukuran GO-NOT GO Pengukuran dengan Microscopes Pengukur Serbaguna Khusus Pengukuran Linier Langsung Alat ukur yang digunakan untuk pengukuran linier langsung sebagai berikut : 1. Mistar Ukur a. Meteran Gulungan b. Meteran Lipat c. Mistar Ukur Berkait d. Mistar Ukur Pendek 2. Mistar Ingsut/Jangka Sorong a. Mistar Ingsut Skala Nonius b. Mistar Ingsut Jam Ukur c. Mistar Ingsut Pengukur Tinggi Macam Bentuk Mistar Ingsut : 1) Tak Sebidang, 2) Jarak Senter, 3) Alur Dalam, 4) Pipa, 5) Posisi Dan Lebar Alur, 6) Tekanan Ringan, 7) Kedalaman, 8) Serba Guna, 9) Digital. 3. Micrometer 4. Mesin Ukur a. mekanik b. optik Pengukuran Linier Tak Langsung Alat ukur yang digunakan untuk pengukuran linier tidak langsung sebagai berikut : 1. Alat Ukur Standar - Blok Ukur (Bentuknya Balok, Untuk Mengecek Dimensi Alat Ukur Dan Mengkalibrasi Alat Ukur Langsung).. Terbatas S/D 150 Mm - Batang Ukur (Bentuk Batang Silindris) - Kaliber Induk Tinggi 28 2. Alat Ukur Pembanding - Jam Ukur (Dial Indicator) - Pupitas (Dial Test Indicator) - Komparator - Pengukur T (Telescope Gauge) - Pengukur Lubang Kecil (Small Hole Gauge) - Kaliber Batas (Limit Gauge) : 1) Kaliber Poros Bentuk Silindris, 2) Kaliber Lubang Bentuk Bola , Bola Dibelah, Tongkat, 3) Kaliber Celah (Tidak Dapat Disetel Dan Dapat Disetel), 4) Kaliber Konis, Kaliber Ring Konis, 5) Kaliber Posisi, 6) Kaliber Radius, 7) Kaliber Ketebalan, 8) Kaliber Ulir Dalam, 9) Kaliber Ulir Trapesium Dan Segiempat. - Rol Dan Bola Baja : 1) Jarak Luar/Celah, 2) Diameter Dalam, 3) Radius Luar Dan Dalam, 4) Poros Dan Lubang Konis, 5) Sudut, 6) Ulir Dan Roda Gigi. Pengukuran sudut - Protaktor - Batang Sinus - Perangkat Kombinasi - Blok Pengukur Sudut - Kepala Bagi Pengukuran dengan Pembanding (Comparative length) Alat ukur yang digunakan : - Dial indicator - Electronic gage

- Gage blocks Pengukuran Kelurusan (Straightness) - Autocollimator - Transit - Laser beam 29 Pengukur Kerataan Permukaan - Sipat - Perangkat Kombinasi - Alat ukur permukaan - Meterprofil - Optimal plat - Interferometry Pengukuran Kebulatan (Roundness) - Dial indicator Circular tracing Pengukuran Profile - Radius or fillet gage - Dial indicator - Optical comparator - Coordinate measuring machines Pengukuran GO-NOT GO - Plug gage - Ring gage - Snap gage Pengukuran dengan Microscopes - Toolmakers - Light section - Scanning electron - Laser scan Pengukur Serbaguna Khusus - Pneumatik - Listrik - Elektronik - Laser 30 C. ALAT UKUR OTOMOTIF Yang dimaksud dengan alat ukur disini adalah alat yang dipergunakan untuk mengukur secara presisi, yang diperlukan di dalam kita melakukan pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan otomotif khususnya dan peralatan teknik atau pekerjaan logam lainnya. Alat ukur yang banyak dipergunakan di otomotif dapat diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu : 1) Alat Ukur Mekanis 2) Alat Ukur Pneumatis 3) Alat Ukur Elektris dan Elektronis Yang Harus Diperhatikan Dalam Menggunakan Alat Ukur Mengingat pengukuran yang harus dilakukan menuntut kepresisian yang tinggi, maka dalam menggunakan alat-alat ukur untuk pemeliharaan dan perbaikan otomotif, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : Pelajari cara pemakaiannya dengan seksama, karena jika tidak, pembacaannya salah. Benda yang diukur harus bersih dari debu, minyak pelumas dsb. Perhatikan suhu benda yang diukur, harus dalam keadaan normal, usahakan suhu benda yang diukur dan alat ukur harus sama. Alat Ukur Mekanis 1. Mistar Baja Mistar baja adalah alat ukur yang terbuat dari baja tahan karat. Permukaan dan bagian sisinya rata dan halus, di atasnya terdapat guratan-guratan ukuran, ada yang dalam satuan inchi, sentimeter dan ada pula yang gabungan inchi dan sentimeter/milimeter. 31 Fungsi lain dari penggunaan mistar baja antara lain: - mengukur lebar - mengukur tebal serta, - memeriksa kerataan suatu permukaan benda kerja. Di samping itu mistar baja (steelrule) dapat dipergunakan untuk

mengukur dan menentukan batas-batas ukuran juga biasa dipergunakan sebagal pertolongan menarik garis pada waktu menggambar pada permukaan benda pekerjaan. Setiap menarik. garis hanya dilakukan satu kali, lihat Gambar: Mistar baja juga dapat digunakan untuk mengukur diameter luar secara kasar. Dalam pelaksanaannya harus dibantu dengan menggunakan alat ukur lain seperti jangka bengkok dan bagian diameter dalam diperlukan bantuan jangka kaki. 2. Meteran Lipat Meteran lipat ini biasanya terbuat dari bahan aluminium atau baja. Dilihat dari segi konstruksinya sebelumnya merupakan gabungan dan mistar baja dengan sambungan engsel pada setiap ujungnya. Mengingat kemungkinan ausnya engsel dan ketidaktirusan garis pengukuran sewaktu melakukan pengukuran, maka meteran lipat tidak akan memberikan hasil yang Iebih baik dibandingkan dengan pengukuran mistar baja biasa. 3. Meteran Gulung Mal ukur ini dibuat dan pelat baja yang Iebih tipis dari ada mistar baja. Sifatnya lemas/lentur sehingga dapat digunakan untuk mengukur bagian-bagian yang cembung dan menyudut seperti: mengukur panjang, keliling bidang Iengkung (bundar). Sepanjang mistar ini terdapat ukuran-ukuran satuan inchi dan metrik. Meteran gulung dapat digunakan dari 1 meter sampai 30 meter. Pada ujungnya terdapat kait yang gunanya untuk mengait ujung benda kerja sehingga mendapat ukuran yang tepat. Penggunaan alat ukur ini tidak untuk pengukuran yang tepat sekali (presisi). 32 4. Jangka Bengkok Guna jangka bengkok digunakan untuk mengukur tebal, lebar, panjang dan garis tengah benda bulat secara kasar. Alat ini terbuat dari baja perkakas dengan ujungnya dikeraskan. Bentuknya ada yang dilengkapi dengan mur penyetel dan ada pula yang tidak. Panjang kakinya, dalam inchi, merupakan ukuran jangka bengkok. 5. Jangka Kaki Jangka kaki digunakan antara lain untuk mengukur diameter lubang dan jarak sesuatu celah. Bentuk kakinya menghadap keluar dan panjang kakinya itulah ukuran jangka kaki dalam inchi. Hasil pengukuran yang diperoleh adalah ukuran kasar. Disebabkan ke dua kakinya itu mengeper bila menyentuh bidangbidang yang diukur, maka kita perlu banyak berlatih menggunakan jangka ini untuk memperhalus perasaan jari-jari. Dengan jari-jari yang tidak perasa kesalahan ukur mudah terjadi. 6. Mistar Geser ( Vernier Caliper ) Alat ukur ini digunakan untuk mengukur diameter luar, diameter dalam, kedalaman lubang dan jarak anatara dua buah titik, yang membutuhkan ketelitian hingga 0,02 mm untuk satuan metrik, dan 0,001 inch untuk satuan inch. 33 a. Permukaan pengukur dalam e. Skala Vernier (vernier scale) b. Baut pengunci final f. Batang pengukur utama (main beam) c. Pengukur kedalaman (depth probe) g. Permukaan pengukur luar d. Skala Utama (main scale) Konstruksi jangka sorong tipe standar dijelaskan seperti di atas. Rahang pengukur dalam (a) akan sesuai pada lubang dan digunakan untuk mengukur dimensi dalam. Rahang pengunci luar (g) akan mencekam pada bagian luar dari suatu benda, digunakan untuk mengukur dimensi luar. Batang pengukur kedalaman (c) digunakan untuk menentukan ukuran kedalaman dari bagian benda yang dilakukan dengan menempelkan ujung batang pengukur utama pada permukaan lubang, sedangkan ujung batang pengukur kedalaman menempel pada dasar lubang. Batang pengukur kedalaman

hanya dilengkapi pada jangka sorong dengan daerah pengukuran sampai dengan 300 mm. Jangka sorong dengan daerah pengukuran 600 mm dan 1000 mm tidak dilengkapi dengan batang pengukur kedalaman. Bagian alat pengukuran dalam letaknya terpisah dengan bagian alat pengukur luar. Ketika baut pengunci kendur, rahang bagian bawah akan bergerak bebas. Baut ini baru dikencangkan setelah dilakukan pengukuran pada benda. Baut pengunci final digunakan untuk mengunci rahang bagian bawah yang setelah dilakukan pengukuran, sehingga jangka sorong dapat dilepas dari benda yang diukur dan dapat dilihat hasilnya a c d g b e f 34 tanpa ukurannya berubah akibat pelepasan tersebut. Ulir penyetelan halus digunakan untuk mengunci rahang secara presisi sehingga didapatkan hasil pengukuran dengan akurasi yang lebih tinggi. Tingkat ketelitian dari jangka sorong tergantung pada banyaknya pembagian pada skala vernier-nya. Pembagian ini umumnya sebanyak 10,50 atau 100 skala. Pembagian 10 skala akan menghasilkan 0,1 cm dibagi 10 = 0,01 cm. Sehingga jangka sorong itu akan memiliki tingkat ketelitian 0,01 cm. * Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,1 mm Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,1 mm mempunyai selisih antara x dan n sebesar 0,1 mm. Besarnya x = 1 mm, sedangkan n dapat dicari dengan rumus : n = panjang skala (SU) dibagi dengan jumlah strip pada skala nonius atau skala vernier (SV). Mistar geser dengan ketelitian 0,1 mm mempunyai jumlah strip pada skala nonius sebanyak 10 strip (divisi). Dengan demikian n dapat dicari dengan cara sebagai berikut : n = 9 10 = 0,9 mm i=xn = 1 0,9 = 0,1 mm Jadi tingkat ketelitian mistar geser (i) = 0,1 mm * Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,05 mm Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,05 mm mempunyai selisih antara x dan n sebesar 0,1 mm. Besarnya x = 1 mm, sedangkan n dapat dicari dengan rumus : n = panjang skala utama (SU) dibagi dengan jumlah strip pada skala nonius atau skala vernier (SV). Mistar geser dengan ketelitian 0,05 mm mempunyai jumlah strip pada skala nonius sebanyak 20 strip (divisi). Dengan demikian n dapat dicari dengan cara sebagai berikut : n = 19 20 = 0,95 mm i=xn = 1 0,95= 0,05 mm Jadi tingkat ketelitian mistar geser (i) = 0,05 mm 35 * Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,02mm Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,02 mm mempunyai selisih antara x dan n sebesar 0,02 mm. Besarnya x = 1 mm, sedangkan n dapat dicari dengan rumus : n = panjang skala utama (SU) dibagi dengan jumlah strip pada skala nonius atau skala vernier (SV). Mistar geser dengan ketelitian 0,02 mm mempunyai jumlah strip pada skala nonius sebanyak 50 strip (divisi). Dengan demikian n dapat dicari dengan cara sebagai berikut : n = 49 50 = 0,98 mm i=xn = 1 0,98= 0,02 mm Jadi tingkat ketelitian mistar geser (i) = 0,02 mm * Mistar geser dengan tingkat ketelitian 1/128 inci Mistar geser dengan tingkat ketelitian 1/128 inci, skala utamanya setiap i inci dibagi menjadi 16 bagian, berarti satu bagian skala utama (x) nilainya sama dengan 1/16 inci. Pada skala noniusnya dibagi dalam 8 bagian. Mistar geser dengan tingkat ketelitian 1/128 inci mempunyai selisih antara x dan n sebesar 1/128 inci. Besarnya x = 1/16 inci, sedangkan n dapat dicari dengan rumus : n = panjang skala utama (SU) dibagi dengan jumlah strip pada skala nonius atau skala vernier (SV). Panjang skala utama dihitung mulai garis nol sampai garis terakhir pada skala nonius yaitu : 7/16 inci. Dengan demikian n dapat dicari dengan cara sebagai berikut : n = 716 / 16 = 7 / 8 x 1 / 128 = 7/128

i=xn = 1/16 7/128 = 8/128 7/128 = 1/128 Jadi tingkat ketelitian mistar geser (i) = 1/128 inci 36 * Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,001 inci Mistar geser dengan tingkat ketelitian 1/1000 inci atau 0,001, skala utamanya setiap i inci dibagi menjadi 40 bagian, berarti satu bagian skala utama (x) nilainya = 1/40 inci atau 0,025 inci. Pada skala noniusnya dibagi dalam 25 bagian. Mistar geser dengan tingkat ketelitian 0,001 inci mempunyai selisih antara x dan n sebesar 0,001 inci. Besarnya x = 1/40 inci, sedangkan n dapat dicari dengan rumus : n = panjang skala utama (SU) dibagi dengan jumlah strip pada skala nonius atau skala vernier (SV). Panjang skala utama dihitung mulai garis nol sampai garis terakhir pada skala nonius yaitu : 1,225 inci. Dengan demikian n dapat dicari dengan cara sebagai berikut : n = 1,225 / 25 = 0,049 inci i=xn = 0,050 - - 0,049 = 0,001 inci Jadi tingkat ketelitian mistar geser (i) adalah : 0.001 inci Cara membaca ukuran pada jangka sorong terdiri dari dua langkah, yaitu membaca skala utama dan membaca skala vernier. Angka pada skala utama yang digunakan adalah yang terletak di sebelah kiri angka 0 (nol) pada skala vernier. Pada gambar dibawah, skala utama menunjukkan angka 3,1 cm. Pembacaan skala vernier dilakukan dengan menentukan garis pada skala vernier yang paling tepat berimpit segaris dengan garis pada skala utama. Angka pada garis tersebut menunjukkan nilai pada skala vernier. 37 Pada gambar dibawah, garis yang berimpit dengan skala utama adalah garis ke empat, yang menandakan nilai 0,4 mm atau 0,04 cm. Hasil pengukuran total adalah penjumlahan skala utama dan skala vernier. Ukuran benda pada gambar 4 adalah 3,1 + 0,04 cm = 3,14 cm. Cara Menggunakan mistar geser Hasil pengukuran benda ukur dengan menggunakan mistar geser sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : a. faktor si pengukur b. benda yang diukur c. pengaruh lingkungan d. cara menggunakan alat ukur. Adapun cara penggunaan mistar geser anatara lain sebagai berikut : Bersihkan benda yang akan diukur dan alat ukur Periksa bahwa skala vernier bergerak dengan bebas, dan angka nol pada skala bertemu dengan tepat Pada waktu melakukan pengukuran, usahakan benda yang diukur sedekat mungkin dengan skala utama. Pengukuran di ujung rahang mistar geser menghasilkan pembacaan yang kurat akurat Tempatkan mistar geser tegak lurus dengan benda yang diukur 38 7. Mikrometer Mikrometer merupakan alat ukur linier langsung dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi hingga mencapai 0,001 mm. Ada 3 macam mikrometer yaitu : mikrometer dalam, mikrometer luar, dan mikrometer kedalaman. a). Macam-macam Mikrometer (1). Mikrometer luar ( Outside Micrometer ) Mikrometer luar digunakan untuk mengukur dimensi luar (2). Mikrometer dalam ( Inside Micrometer ) Mikrometer dalam digunakan untuk mengukur dimensi dalam (3). Mikrometer kedalaman ( Dept Micrometer ) Mikrometer kedalaman digunakan untuk mengukur kedalaman 39 b). Cara Membaca Skala Pengukuran Mikrometer (1). Mikrometer luar dengan tingkat ketelitian 0,01 mm Jarak tiap strip diatas garis horisontal pada outer sleeve adalah 1 mm, dan jarak tiap strip diwah garis adalah 0,5 mm. Pada skala timble tiap strip nilainya 0,01 mm. Hasil pengukuran pada mikrometer adalah jumlah pembacaan ketiga skala tersebut. (2). Mikrometer luar dengan tingkat ketelitian 0,001 mm Jarak tiap strip diatas garis horisontal pada outer sleeve adalah 1 mm, dan jarak tiap

strip diwah garis adalah 0,25 mm. Pada skala thimble tiap strip nilainya 0,01 mm dan pada skala vernier 0,001 mm. Hasil pengukuran pada mikrometer adalah jumlah pembacaan ketiga skala tersebut. c). Cara Menyetel titik 0 (1). Apabila kesalahannya kurang dari 0,02 mm * Kuncilahlah spindle dengan lock clamp * Putar outer sleeve dengan kunci penyetel sampai tanda 0 pada thimble lurus dengan garis horisontal pada outer sleeve * Periksa kembali tanda 0 setelah penyetelan 40 (2). Apabila kesalahannya lebih dari 0,02 mm * Kuncilah spindle dengan lock clamp * Kendorkan ratchet stoper sampai thimble bebas * Luruskan tanda 0 thimble dengan garis pada outer sleeve dan kencangkan kembali dengan ratchet stoper * Periksa kembali tanda 0 setelah penyetelan Cara membaca skala pada mikrometer Pertama-tama perhatikan bilangan bulat pada skala utama barrel, lalu perhatikan apakah terbaca skala setengah milimeter pada bagian atas skala utama (ada kalanya dibawah), dan akhirnya bacalah skala perseratusan pada lingkaran. Nilai ukuran dari gambar dibaca sbb : .-Skala utama = 10 x 1,00 mm = 10,00 mm .-Skala minor = 1 x 0,50 mm = 0,50 mm .-Skala pemutar = 16 x 0,01 mm = 0,16 mm Nilai = 10,66 mm Melakukan teknik pengukuran a) Mengukur diamter dalam dengan mikrometer dalam Gambar 2.4. dalam 41 b) Mengukur diameter luar dengan micrometer dan jangka sorong 8. Dial Indikator ( Dial Dauge ) Dial indikator digunakan untuk mengukur kebengkokan, run out, kekocakan, end play, back lash, kerataan, dengan tingkat ketelitian anatara 0,01 mm hingga 0,001 mm (tergantung tipe dial indikator). a = gigi pinion b = gigi besar c = gigi penggerak kedua d = gigi besar ke dua e = pegas h = pegas coil s = poros penekan 42 Prinsip kerja jam ukur secara mekanis, dimana gerak linier sensor diubah menjadi gerak rotasi oleh jarum penunjuk pada piringan dengan perantaraan batang bergigi dan susunan roda gigi. Pegas koil berfungsi sebagai penekan batang bergigi hingga sensor selalu menekan ke bawah. Sedangkan pegas spiral berfungsi sebagai penekan sistem transmisi roda gigi sehingga permukaan gigi yang berpasangan selalu menekan pada sisi yang sama untuk kedua arah putaran (untuk menghindari backlash) yang mungkin terjadi karena profil gigi yang tidak sempurna atau sudah aus. Jam ukur juga dilengkapi dengan jewel untuk mengurangi gesekan pada dudukan poros roda gigi. Ketelitian dan kecermatan jam ukur berbeda beda ada yang kecermatannya 0,01 ; 0,02 ; 0,005 dan kapasitas ukurnya juga berbeda beda , misalnya : 20, 10, 5, 2, 1 mm . Untuk jam ukur dengan kapasitas besar, terdapat jam kecil dalam piringan yang besar dimana satu putaran jarum besar sama dengan tanda satu angka jam kecil. Pada piringan terdapat skala yang dilengkapi dengan tanda batas atas dan tanda batas bawah. Piringan skala dapat diputar untuk kalibrasi posisi nol. Dalam penggunaannya, dial indikator tidak dapat berdiri sendiri, sehingga memerlukan batang penyangga dan blok magnet. Prosedur Penggunaan Dial Indikator (1) Posisi spindle dial indikator harus tegak

lurus dengan permukaan yang diukur. (2) Garis imajinasi dari mata si pengukur ke jarum penunjuk harus tegak lurus pada permukaan dial indikator pada saat sedang membaca hasil pengukuran. (3) Dial indikator harus dipasang dengan teliti pada batang penyangganya, artinya dial indikator tidak boleh goyang. (4) Putarlah outer ring dan stel pada posisi nol. Gerakkan spindle ke atas dan ke bawah, kemudian periksalah bahwa jarum penunjuk selalu kembali ke posisi nol setelah spindle dibebaskan. 43 (5) Usahakan dial indikator tidak sampai terjatuh, karena terdapat mekanisme pengubah yang presisi. (6) Jangan memberi oli atau grease diantara spindle dan tangkainya, karena akan menghambat gerakan spindle. Melakukan teknik pengukuran a. Memeriksa kesejajaran bidang b. Memeriksa kebulatan poros c. Memeriksa eksentrisitas d. Pemeriksaan kesejajaran bidang silindris 9. Kaliper dan Pembagi Kaliper digunakan untuk pengukuran kasar, baik untuk permukaan luar maupun dalam. Alat tidak mengukur secara langsung namun harus dicocokkan dengan penggaris atau alat ukur lainnya. Kaliper yang digunakan di bengkel adala jenis kaliper pegas terdiri dari dua kaki dengan pegas yang dilengkapi mur dan baut untuk mengencangkannya. Pembagi terdiri dari dari dua kaki yang lurus dengan ujung yang tajam dan keras. Alat ini dipakai untuk mentransfer dimensi, membuat lingkaran dan menggambar bagan. Ada dua tipe caliper gauge yaitu inside caliper dan outside caliper. Yang umum dopakai di otomotif adala inside caliper. 44 Dial calliper atau jangka kaki dengan pembacaan indikator, digunakan untuk mengukur lebar lubang atau celah, ketelitian alat ukur ini mencapai 0,025 mm. Kemampuan jarak ukurnya bervariasi sesuai dengan nomor yang dikeluarkan pabrik, antara lain : No. 1 untuk jarak ukur antara 6~18 mm No. 2 untuk jarak ukur antara 10~22 mm No. 3 untuk jarak ukur antara 20~32 mm No. 4 untuk jarak ukur antara 30~42 mm No. 5 untuk jarak ukur antara 40~52 mm No. 6 untuk jarak ukur antara 50~62 mm No. 7 untuk jarak ukur antara 60~72 mm No. 8 untuk jarak ukur antara 70~82 mm No. 9 untuk jarak ukur antara 80~92 mm No. 10 untuk jarak ukur antara 90~102 mm Untuk jarak ukur yang lebih panjang maka digunakan dial calliper yang mempunyai batang geser seperti pada gambar berikut. Dial calliper yang mempunyai batang geser ini mempunyai jarak ukur antara 55 sampai dengan 600 mm dengan ketelitian 0,01 mm. Metoda pengukuran : 1. Ukur diameter dalam dengan vernier caliper. Misal hasil pengukuran 8,40 mm, selanjutnya set mikrometer ke angka mendekati hasil ukur vernier caliper dan kelipatan dari 0,5 mm yaitu 5,50 mm. 45 2. Tempatkan kaki-kaki caliper diantara anvil dan spindle mikrometer. Gerakan caliper sampai mendapatkan angka terkecil. Kemudian set dial gauge ke 0. 3. Tekan tombol caliper gauge dan masukan lug pada diameter dalam

benda yang akan diukur dan bebaskan tombol. Gerakan caliper sampai didapat pembacaan terkecil. Jika pembacaan menunjukan 0,08 mm, berarti diameter dalam adalah 8,42 mm (8,50 0,08). 10. Cylinder Gauge Alat ukur ini digunakan untuk mengukur diameter silinder dengan ketelitian 0,01 mm, alat ini dilengkapi dengan mikrometer dan dial indikator. Cara pemilihan replacement rod dan washer : - ukur diameter silinder dengan vernier caliper - Lihat angka dibelakang koma, apakah lebih besar atau lebih kecil dari 0,5 mm 46 - Contoh ; Bila hasil pengukuran : 52,30 mm, pilih sbagai berikut : Replacement rod : 50 mm Replacement washer : 2 mm Bila hasil pengukuran : 52,70 mm, pilih sebagai berikut : Replacement rod : 50 mm Replacement washer : 3 mm Cara melakukan pengukuran seperti tampak pada gambar 1. Ukur diameter silinder dengan vernier caliper. Pilih replacement rod dan washer yang sesuai, dan pasangkan pada silinder gauge. Bila hasil pengukuran diameter adalah 91,00 mm, gunakan replacement rod 90 mm dan replacement washer 1 mm. 2. Set mikrometer pada 91 mm (seperti hasil ukur diatas), masukan replacement rod dan measuring point kedalam mikrometer dan dial gauge diset ke 0 3. Masukan cylinder gauge pada posisi diagonal kedalam silinder, geraka cylinder gauge sampai diperoleh hasil pembacaan terkecil. Bila hasil pembacaan adalah 0,08 mm sebelum 0, berarti diameter silinder adalah 0,08 mm lebih besar dari 91 mm. Karena itu diameter silinder adalah 90,08 mm (91,00 + 0,08) 47 11. Pengukur Celah (feeler gauges) Kaliper celah adalah alat ukur yang biasa digunakan untuk memeriksa jarakjarak yang kecil atau ukuran celah-celah diantara dua permukaan. Karena daerah antara permukaan ini sangat sempit maka diperlukan alat ukur tak berskala yang dapat digunakan untuk menentukan ukuran tersebut. Alat ini dipakai secara luas dalam bidang pemesinan, fitting dan otomotif. Contoh penggunaannya adalah untuk menyetel pisau mesin frais atau memeriksa kelonggaran katup pada mesin. Kaliper celah dibuat dari baja yang lentur dan berkualitas tinggi. Tiap set terdiri dari 10 buah kaliper atau lebih, dijepit pada penjepit baja dengan pena yang berfungsi sebagai gantungan pada saat kaliper itu digunakan. Sebuah Kaliper celah yang berisi 10 kaliper masingmasing kalipernya mempunyai ukuran yang tertera pada tiap-tiap kaliper, dimulai dari ukuran 0,05; 0,10; 0,15; 0,20; 0,30; 0,40; 0,50; 0,60; 0,70; dan 0,80 milimeter. Ada juga kaliper celah dengan ukuran dalam inch. Ukuran terkecil dari kaliper celah adalah sekaligus menunjukkan tingkat ketelitian yang dapat dicapai dari alat ukur tersebut. Sehingga kaliper celah dengan ukuran kaliper terkecil 0,05 mm akan mempunyai ketelitian 0,05 mm. Kaliper-kaliper ini mempunyai panjang tiap kaliper kira-kira 100 mm dengan bentuk ujung yang bulat atau ada juga yang tirus pada sisi lebarnya. 48 Pengukuran celah dilakukan dengan memasukkan salah satu kaliper yang sesuai dengan celah yang di ukur. Jangan coba untuk memaksakan kaliper yang tidak sesuai atau terlalu sesak karena bisa menyebabkan kaliper bengkok dan mungkin akan terjadi

perubahan bentuk yang tetap. Apabila kaliper terlalu tebal bisa dipilih kaliper lain dengan ukuran di bawahnya. Ketelitian pengukuran dapat diperoleh dengan menggabungkan beberapa kaliper. Apabila sebuah kaliper dapat masuk dengan longgar, coba ditambahkan dengan kaliper yang dengan ukuran terkecil. Kaliper-kaliper tersebut dapat ditambahkan sehingga didapatkan ukuran yang pas. Sehingga ukuran celah adalah jumlah dari ukuran kaliper yang dapat masuk dengan pas tersebut. ALAT UKUR PNEUMATIS 1. Pengukur Tekanan Kompresi ( Pressure Gauge ) Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan kompresi pada silinder engine, yang ditentukanoleh kondisi piston, ring piston, dan katup. Cara Menggunakan a. Lepaskan semua busi b. Masukkan presssure gauge pada lubang busi sambil di tekan dengan tangan c. Pada posisi pedal gas diinjak penuh, transmisi netral, engine di start 3 detik hingga tercapai tekanan maksimum pada pengukuran tekanan kompresi d. Tekanan kompresi dapat dibaca langsung pada alat 49 2. Pengukur Vakum ( Vacuum Gauge ) Alat ini digunakan untuk mengukur kevakuman pada intake manifold dan pompa bahan bakar. Cara Menggunakan a. Pasangkan selang alat ukur pada intake manifold dibawah katup throttle atau pada pipa isap pompa bahan bakar. b. Hidupkan engine dan periksa besarnya kevakuman pada alat ukur. 3. Pengukur Kebocoran Pendingin ( Radiator Cup Tester ) Alat ini digunakan untuk mengetahui adanya kebocoran pada sistem pendingin. Alat ini dilengkapi dengan pompa udara dan pengukur tekanan untuk menaikkan tekanan di dalam sistem pendinginan sekaligus mengetahui tekanan yang dihasilkan. Cara Menggunakan a. Lepaskan tutup radiator b. Pasang alat pengukur pada tempat tutup radiator c. Tekan pompa tangan berulang-ulang hingga tekanan mencapai ukuran spesifdikasi d. Amati tekanan pada alat ukur 1 menit, apakah terjadi penurunan e. Jika terjadi penurunan tekanan berarti ada kebocoran pada sistem pendinginan 50 4. Hidrometer Hidrometer berfungsi untuk mengukur berat jenis elektrolit battery. Berat jenis elektrolit berubah menurut tingkat isi battery. Berat jenis battery penuh adalah 1,26 1,28. Berat jenis juga dipengaruhi oleh suhu, sehingga rumus ini digunakan untuk menentukan hubungannya: S20 = St + 0,007 (t 20) Dimana: S20 = berat jenis koreksi St = berat jenis terukur t = suhu saat pengukuran 5. Nozzle Tester Nozzle tester digunakan untuk memeriksa tekanan pembukaan injector dan kondisi injector (kebocoran setelah injeksi. 51 ALAT UKUR ELEKTRIS DAN ELEKTRONIS 1. AVO Meter AVO meter terdiri dari tiga buah alat ukur yang digabungkan menjadi satu unit

yaitu : amperemeter, voltmeter, dan ohmmeter. Amperemeter digunakan untuk mengukur besar arus listrik, sedangkan voltmeter untuk mengukur tegangan arus listrik, kalau ohmmeter digunakan untuk mengukur tahanan penghantar ataupun resistor. Kegunaan AVOmeter adalah : a. Pengukuran arus listrik b. Pengukuran tegangan listrik c. Pengukuran tahanan resistor Metoda Pengukuran - Pemeriksaan dan penyetelan skala no (0) Sebelum menggunakan multi tester, anda harus memastikan bahwa jarum penunjuk ada di bagian garis ujung sebelah kiri pada skala. Apabila tidak, putarkan pointer calibration screw dengan obeng sampai jarum penunjuk berada tepat di ujung garis kiri - Pengukuran tegangan DC Daerah pengukuran tegangan adalah 0 500 volt. Hubungkan test lead warna merah ke terminal positif dan test lead warna hitam keterminal negatif tester. Posisikan range selector pada salah satu daerah DCV dengan pilihan : Range Selector Voltage yang dapat diukur (V) 2.5 0 2.5 10 2.5 10 25 10 25 50 25 50 500 50 - 500 52 Kemudian hubungkan test lead warna merah dengan terminal positif dari sumber arus dan test lead warna hitam dengan terminsl negatif dari sumber arus, dengan kata lain multi tester dihubungkan pararel dengan rangkaian. Contoh : Range selector dipilih pada 25 DCV, jarum penunjuk akan terbaca 12 V. - Pengukuran tegangan AC Daerah pengukuran tegangan adalah 0 1000 volt. Hubungkan test lead dan posisikan range selector pada salah satu daerah ACV dengan pilihan : Range Selector Voltage yang dapat diukur (V) 10 0 10 25 10 25 250 25 250 1000 250 - 1000 Hubungkan test lead secara parallel dengan rangkaian. Contoh : Pembacaan adalah 100 volt AC, sebab range selectornya diset pada 250 ACV 53 - Pengukuran arus DC Daerah arus yang dapat diukur adalah 0 20 A 1. Mengukur arus DC dari 0 250 mA Hubungkan test lead pada terminal tester dan stel selector ke 250 mA DCA. Hubungkan test lead secara seri pada rangkaian. Contoh : Nilai pengukuran adalah 30 mA, sebab selector diset pada 250 mA. 2. Mengukur arus DC dari 0 20 A Hubungkan test lead pada terminal tester dan stel selector ke 20 A DCA. Hubungkan test lead secara seri pada rangkaian. Contoh : Nilai pengukuran adalah 1 A, sebab selector diset pada 20 A. - Pengukuran Tahanan 1. Kalibrasi Sebelum anda mengukur tahanan, pertama anda harus memutar tombol kalibrasi ohm, dengan ujung test lead dihubungkan sampai jarum menunjukan angka 0 pada skala ohm. Kalibrasi ini diperlukan setiap anda merubah range. 2. Pengukuran Setel selector pada salah satu posisi ohm. Ada beberapa skala untuk mengukur tahanan. Posisi K untuk 1.000, dengan demikian 10 K berarti 10.000

dan sebagainya. Tombol kalibrasi ohm 54 Range Tingkat tahanan yang dapat diukur (V) X1 0 1K X10 0 10 K X100 0 100 K X1 K 0 - Q Contoh : Nilai pengukuran adalah 90 , sebab range selector diset pada X10 2. Timing Light Timing lihgt adalah suatu alat berbentuk lampu sorot yang akan menyala kalau sensornya mendapat tegangan. Alat ini dugunakan untuk memeriksa saat (waktu) penyalaan busi pada motor bensin. Karena alat ini hanya menyala (sesaat) pada saat yang bersamaan dengan menyalanya busi, sehingga posisi torak dan poros engkol dapat diketahui pada saat busi menyala. Ini yang disebut timing pada sistem pengapian. Disamping itu, ada timing light yang dilengkapi dengan pengukur sudut percepatan pengapian untuk memeriksa kerja dari vacuum advancer dan centrifugal advancer pada distributor motor bensin. 55 3. Dweel Tester dan Tachometer Dweel tester dan tachometer merupakan dua buah alat yang diasatukan. Penyatuan kedua alat ukur ini dimaksudkan agar dapat digunakan secara bersamaan untuk mengukur sudut dweel/ sudut cam sistem pengapian menggunakan dweel tester dan untuk mengukur putaran mesin atau RPM (Rotary Per Minute) menggunakan tachometer. Cara menggunakan a. Hubungkan kabel hijau atau merah pada terminal negatif koil dan kabel hitam ke massa b. Pilih jumlah silinder motor dengan cara menggeser sakelar pemilih pada alat ukur c. Hidupkan motor pada putaran 1000 rpm d. Sudut cam dan rpm dapat dibaca langsung pada angka yang ditunjuk jarum alat ukur dengan cara memindahkan sakelar pemilih ke pengukuran sudut cam atau ke rpm 4. Exhaust Gas Analyzer Alat ini digunakan untuk mengukur kadar CO (karbon monoksida) pada gas buang motor bensin, karena unsur CO pada gas buang merupakan bagian yang paling utama untuk diketahui, yang berhubungan dengan masalah polusi udara (gas beracun). Sebagai tambahan, alat ukur ini juga seringkali dimanfaatkan untuk mengukur unsur-unsur kimia lainnya yang terkandung dalam gas buang yaitu : CO2 dan HC untuk mengetahui kesempurnaan pembakaran. Cara menggunakan a. Pasangkan pipa pengisap gas buang pada knalpot b. Pasangkan kedua kabel daya listrik pada baterai c. Set jarum penunjuk alat ukur pada angka nol d. Hidupkan motor hingga mencapai temperatur normal e. Setelah jarum penunjuk pada alat stabil, catatlah angka yang ditunjuk jarum tersebut yang merupakan penunjukan kadar CO, CO2 dan HC pada gas buang 56 5. Engine Analyzer Engine analyzer adalah merupakan kumpulan dari alat-alat ukur kelistrikan otomotif yang terpasang pada bentuk satu unit yang kompak. Alat-alat ukur yang digabungkan pada engine analyzer pada umumnya adalah : a. Engine scope dan alternator scope, yang digunakan untuk memeriksa kondisi sistem pengapian dan pengisian dalam bentuk tampilan grafik pada layar (seperti TV) b. Amperemeter

c. Voltmeter d. Ohmmeter e. Tachometer f. Dwell tester g. Exhaust gas analyzer h. Timing light Penggunaan engine scope secara singkat adalah sebagai berikut: 1). Hubungkan kabel sensor putaran ke terminal negatif coil 2). Hubungkan kabel sensor tegangan tinggi ke kabel tegangan tinggi dari coil 3). Hubungkan kabel sensor kabel busi nomor 1 ke kabel nomor 1 4). Hubungkan kabel sumber tenaga listrik alat ukur (biasanya ke sumber listrik PLN) 5). Hidupkan engine pada putaran 1000 rpm 6). Tekan sakelar power ke posisi ON, dimana akan kelihatan lampu indikator menyala 7). Tekan tombol pemilih jumlah silinder 8). Tekan tombol bertanda KV (atau 25 KV / 50 KV) 9). Tekan salah satu dari ketiga tombol bertanda stack, parade, atau sumperimpose dan perhatikan pada layar CRT akan muncul grafik sesuai dengan tombol mana yang dipilih. Dengan menekan tombol stack maka pada layar CRT akan ditampilkan sejumlah grafik, tujuan tampilan ini adalah dapat membanding lamanya bunga api dan besarnya sudut cam yang terjadi antara silinder satu dengan yang lainnya. 57 Menekan tombol parade akan menampilkan grafik bersusun ke samping, dengan tujuan untuk mengetahui dan membandingkan tegangan maksimum dan tegangan saat terjadinya bunga api untuk masing-masing silinder. Menekan tombol superimpose akan menampilkan semua grafik yang berimpit satu sama lain. Tampilan ini dapat menunjukkan perbedaan grafik secara menyeluruh antara silinder yang satu dan lainnya tanpa mengetahui silinder mana yang terganggu. Penggunaan alternator scope secara singkat adalah sebagai berikut: 1). Hubungkan kedua kabel tegangan pada baterai, kabel merah ke positif dan kabel hitam ke negatif baterai 2). Hubungkan sensor arus ke kabel yang keluar dari terminal B alternator 3). Hubungkan kabel sumber listrik PLN 4). Hidupkan motor pada putaran 1000 rpm 5). Tekan tombol power hingga lampu power menyala 6). Tekan tombol bertanda alternator 7). Baca grafik output alternator pada layar monitor CRT, dan bandingkan dengan spesifikasi 6. Tachometer Tachometer adalah alat untuk mengukur putaran mesin (RPM) (Rotary Per Minute). Cara Pemakaian Persiapan Pastikan jarum pada posisi 0 jika tidak, set dengan memutar adjusting screw. Keluarkan pick-up probe dari bagian belakang tachometer dan pasang pada connector. Set batt/RPM selection switch pada posisi Batt Chk dan periksa apakah jarum bergerak ke daerah OK. Jika tidak ganti battery. 58 Pengecekan RPM Set cycle selection knob ke-4. Set sensitivity pada auto. Set Batt/RPM selection switch ke posisi RPM. Hubungkan pick-up probe ke injector holder no. 1 Baca hasil pengukuran. 7. Tune Up Tester Tune up tester adalah alat yang berfungsi untuk memeriksa breaker point, dwell angle, putaran mesin (rpm), tegangan battery, sistem pengisian dan kevakuman dari intake manifold. (1) Saklar

(a) Breaker point. (b) Dwell. (c) RPM. (d) Volt (2) Saklar seleksi jumlah silinder: 4 Cyl, 6 Cyl, 8 Cyl. (3) Niple selang vakum dan penyetel damper vakum. (4) Pengecekan dwell angle dan RPM. (5) Pengecekan out put. (6) Meter indicator: RPM, dwell, breaker point dan volt. (7) L/H lamp led indikator. Lampu indikator putaran rendah (L). 59 Lampu indikator putaran tinggi (H). (8) Vakum meter. (9) Timing light (10) Kabel klip power battery. (11) Kabel klip distributor. (12) Pick up klip distributor. (13) Adaptor vakum intake manifold. Cara Penggunaan Mengukur Breaker Point i. Pasangkan kabel (10) warna merah pada (+) battery dan warna hiitam pada (-) battery atau massa body. ii. Pasangkan kabel (11) warna hijau pada terminal breaker point di distributor atau pada (-) ignition coil. iii. Putar saklar (2) menurut jumlah silinder dari mesin. iv. Tentukan pemakaian tester dengan memutar saklar (1) pada posisi breaker point. v. Pengukuran breaker point dilakukan saat mesin mati tetapi kunci kontak pada posisi ON. vi. Apabila breaker point pada saat ini dalam keadaan tertutup dan hubungan point tersebut baik, maka jarum pada posisi strip hijau (OK) di kiri. Sedangkan apabila point tidak baik, maka jarum berada di luar daerah hijau. Mengukur Dwell Angle (1) Pasangkan kabel (10) warna merah pada (+) battery dan warna hitam pada (-) battery atau massa body. (2) Pasangkan kabel (11) warna hijau pada terminal breaker point di distributor atau pada (-) ignition coil. (3) Putar saklar (2) menurut jumlah silinder dari mesin. (4) Hidupkan mesin dan panaskan sampai temperatur kerjanya. (5) Tentukan pemakaian tester dengan memutar saklar (1) pada posisi dwell, maka jarum akan bergerak dan baca angka yang tertera pada skala dwell (6). Mengukur RPM (1) Pasangkan kabel (10) warna merah pada (+) battery dan warna hiitam pada (-) battery atau massa body. 60 (2) Pasangkan kabel (11) warna hijau pada terminal breaker point di distributor atau pada (-) ignition coil. (3) Putar saklar (2) menurut jumlah silinder dari mesin. (4) Hidupkan mesin dan panaskan sampai temperatur kerjanya. (5) Tentukan pemakaian tester dengan memutar saklar (1) pada posisi rpm, maka jarum akan bergerak dan baca angka yang tertera pada skala rpm (6). - Untuk rpm rendah baca skala 0 1600 rpm dan lampu L menyala. - Untuk rpm lebih tinggi dari 1600 rpm maka lampu H akan menyala dan bacalah skala 0 8000 rpm. Mengukur Voltase Output Alternator (1) Pasangkan kabel (10) warna merah pada (+) battery dan warna hiitam pada (-) battery atau massa body. (2) Pasangkan kabel (11) warna hijau pada terminal breaker point di distributor atau pada (-) ignition coil. (3) Putar saklar (2) menurut jumlah silinder dari mesin. (4) Hidupkan mesin dan panaskan sampai temperatur kerjanya. (5) Tentukan pemakaian tester dengan memutar saklar (1) pada posisi volt, maka jarum akan bergerak dan baa angka yang tertera pada skala volt (6). (6) Output alternator = 13 15 volt. Jangan mempergunakan tune up tester untuk tegangan lebih dari 20 volt.

Mengukur Waktu Pengapian (1) Pasangkan kabel (10) warna merah pada (+) battery dan warna hiitam pada (-) battery atau massa body. (2) Pasangkan kabel (11) warna hijau pada terminal breaker point di distributor atau pada (-) ignition coil. (3) Putar saklar (2) menurut jumlah silinder dari mesin. (4) Hidupkan mesin dan panaskan sampai temperatur kerjanya. (5) Pasangkan kabel (12) pada kabel busi no. 1 dan saklar timing light (9) harus pada posisi ON dan arahkan pada puli mesin atau penunjuk saat pengapian.