Vous êtes sur la page 1sur 44

BAB III TINJAUAN TEORITIS HOTEL BINTANG 4

  • 3.1 Tinjauan Teoritis Hotel Resort Bintang 4.

.1.13Pengertian

Defenisi Hotel. 1 Hotel merupakan suatu bentuk akomodasi yang di kelola secara komersial,

disediakan bagi setiap orang untuk

memperoleh pelayanan penginapan, berikut

makanan dan minuman.

Hotel adalah suatu tempat menginap bagi orang yang melakukan perjalanan dengan segala fasilitas yang memadai, persyaratan kesehatan, kepuasaan, ketenangan dan sebagainya. Pengertian diatas menunjukan bahwa :

Hotel adalah suatu usaha komersial yang melakukan aktivitas dibidang jasa pelayanan. Hotel harus terbuka untuk umum atau bersifat publik.

Hotel harus memiliki minimum tiga fasilitas, yaitu : akomodasi,

makanan dan minuman, sarana rekreasi, pemandangan alam untuk memperoleh kepuasaan. Hotel harus memiliki suatu sistem pelayanan yang di kelola secara

profesional. 3.1.2 Fungsi Hotel 2 Hotel memiliki fungsi sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan tamu, sebagai tempat tinggal sementara selama berada jauh dari tempat asalnya. Hotel sebagai suatu wadah akomodasi komersial, tidak hanya berfungsi sebagai tempat menginap, beristirahat, makan dan minum tetapi juga berfungsi sebagai tempat melangsungkan

1 Berdasarkan SK menteri perhubungan no. PM 10/301/phb 77, tanggal 22 desember 1977, tentang peraturanusaha klasifikasi hotel 2 Pendit, Nyoman P.,Pengantar ilmu pariwisata, pradnya paramita, Jakarta, 1998

pernikahan, konferensi, pertemuan dan lain–lain. Perbedaan fasilitas hotel disesuaikan perkembangan kebutuhan para tamu.

  • 3.2.3 Klasifikasi Hotel Klasifikasi hotel dengan tanda bintang sebagaimana telah ditetapkan di indonesia berdasarkan surat keputusan menteri Pariwisata, Pos dan Komunikasi No. KM 37/PW 305/MPPT-90 adalah suatu sistem pengelompokan hotel kedalam

berbagai kelas atau tingkatan berdasarkan ukuran penilaian tertentu, seperti jumlah kamar, fasilitas yang tersedia, mutu pelayanan, perlengkapan dan peralatan. Hotel yang memenuhi syarat penilaian akan dinyatakan sebagai hotel bintang sedangkan yang tidak memenuhi setiap syarat penilaian tersebut akan dinyatakan sebagai hotel melati. Hotel bintang yang diklasifikasikan dalam 5 kelas, yaitu:

  • a. Kelas bintang I

(*)

  • b. Kelas bintang II

(**)

  • c. Kelas bintang III

(***)

  • d. Kelas bintang IV

(****)

  • e. Kelas bintang V

(*****)

Tabel 3.1 Perbedaan Fasilitas Hotel Berbintang

Fasilitas

Hotel

Hotel

Hotel

Hotel

Hotel

Bintang V

Bintang

Bintang III

Bintang II

Bintang I

IV

Kamar

Minimal

Minimal

Minimal

Minimal

Minimal

tidur

100 kamar

50 kamar

30 kamar

20 kamar

10 kamar

4

kamar

3 kamar

2

kamar

suite

suite

suite

Ruang

Wajib

Wajib

Perlu

Perlu

Perlu

makan

minimal 2

minimal 2

minimal 1

minimal 1

minimal 1

(restaurat)

Bar

dan

Wajib

Wajib

Wajib

Wajib

Wajib

coffe shop

minimal 1

minimal 1

minimal 1

minimal 1

minimal 1

Function

Wajib

Wajib

Wajib

-

-

room

minimal 1

 

minimal 1

minimal 1

   

Wajib

Wajib

Wajib

 

-

-

prefunction

 

prefuncti

prefunctio

room

on room

n room

 

Rekreasi

Wajib

Wajib

Wajib

 

Dianjurkan

Dianjurkan

&

perlu

+

2

perlu +

2

dianjurkan

-

olah raga

jenis

jenis

+

2

jenis

Dianjurkan

fasilitas lain

fasilitas

fasilitas

lain

lain

Ruang

Wajib

Perlu

Perlu

 

Perlu

Perlu

yang

minimal 3

 

minimal 3

minimal 3

minimal 1

minimal 1

disewakan

 

Lounge

Wajib

Wajib

Wajib

 

-

-

Taman

Wajib

Perlu

Perlu

 

Perlu

Perlu

Sumber : Surat Keputusan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi 3.1.4. Klasifikasi hotel bintang 4 3 Klasifikasi hotel adalah suatu sistem pengelompokan hotel kedalam berbagai kelas atau tingkatan berdasarkan ukuran penilaian tertentu, seperti jumlah kamar, fasilitas yang tersedia, mutu pelayanan, perlengkapan dan peralatan. Ruang-ruang yang harus ada pada hotel kelas bintang 4, sebagai berikut:

Kamar tidur minimal 50 kamar

Ruang makan (restaurant) perlu, minimal 2.

Bar & coffee shop wajib, minimal 1.

Rekreasi & olah raga, dianjurkan + 2 fasilitas lain

Ruang yang disewakan, perlu minimal 3

Function room / ruang serba guna , wajib 1

Lounge , wajib

Taman, perlu

3.1.5 Pengelompokan Hotel. 4 Hotel dapat dibagi menjadi berbagai kelompok menurut berbagai kriteria

3 Kanwil Departemen PARPOSTEL, Provinsi DIY 4 Foster, Dennis L Dan Yoeti, Oka A., Hotel, Motels and Resort, PT. Pertja, Jakarta, 1997.

antara lain .

  • a. Pengelompokan hotel menurut harga jual.

    • 1. European plan hotel, yaitu hotel dengan harga jual hanya untuk kamar.

    • 2. American plan hotel, yaitu hotel dengan harga jual hanya untuk kamar dengan 1, 2, 3 kali makan.

    • 3. De-luxe hotel, yaitu hotel dengan harga jual paling mahal.

    • 4. First class hotel, yaitu hotel dengan harga jual menengah.

    • 5. Economy hotel, yaitu hotel dengan harga jual terendah.

  • b. Pengelompokan hotel menurut jumlah kamar.

    • 1. Large Hotel, yaitu hotel yang memiliki 300 kamar tidur tamu atau lebih.

  • antara lain . a. Pengelompokan hotel menurut harga jual. 1. European plan hotel , yaitu hotel
    antara lain . a. Pengelompokan hotel menurut harga jual. 1. European plan hotel , yaitu hotel

    Gambar 3.1 Large Hotel

    Sumber : Google.com

    • 2. Medium hotel, yaitu hotel yang memiliki 26 sampai dengan 299.

    antara lain . a. Pengelompokan hotel menurut harga jual. 1. European plan hotel , yaitu hotel
    antara lain . a. Pengelompokan hotel menurut harga jual. 1. European plan hotel , yaitu hotel

    Gambar 3.2 medium Hotel

    Sumber : Google.com

    • 3. Small hotel, yaitu hotel yang memiliki kurang dari 25 kamar tidur tamu.

    • c. Pengelompokan hotel menurut jenis tamu hotel.

      • 1. Family hotel, yaitu hotel untuk keluarga.

    3.

    Tourist hotel, yaitu hotel untuk wisatawan.

    • 4. Transit hotel, yaitu hotel untuk tamu yang transit / menginap

    • 5. sementara waktu.

    • 6. Cure hotel, yaitu hotel untuk tamu yang akan berobat.

    • d. Pengelompokan hotel menurut lama tinggal tamu.

      • 1. Transit hotel, yaitu hotel dengan lama tinggal tamu rata – rata Semalaman.

      • 2. Residential hotel, yaitu hotel dengan tamu cukup lama.

      • 3. Semi residential, yaitu hotel dengan lama tinggal tamu lebih dari 1 hari tetapi tetap dalam jangka waktu yang pendek.

  • e. Pengelompokan hotel menurut lokasi hotel.

    • 1. City hotel, yaitu hotel yang terletak di kota besar dan biasanya diperuntukkan bagi tamu – tamu yang beristirahat sementara ( dalam jangka pendek ). Hotel jenis ini biasanya dihuni oleh para usahawan yang sedang melakukan kegiatan bisnis.

  • 3. Tourist hotel, yaitu hotel untuk wisatawan. 4. Transit hotel , yaitu hotel untuk tamu yang
    3. Tourist hotel, yaitu hotel untuk wisatawan. 4. Transit hotel , yaitu hotel untuk tamu yang

    Gambar 3.3 City Hotel

    Sumber Google. Com

    • 2. Urban hotel, yaitu hotel yang terletak didekat kota yang cukup jauh dari keramaian hiruk pikuk dan polusi udara kota tetapi mudah mencapai tempat kegiatan usaha. Hotel ini biasanya diperuntukkan bagi keluarga.

    3. Tourist hotel, yaitu hotel untuk wisatawan. 4. Transit hotel , yaitu hotel untuk tamu yang
    3. Tourist hotel, yaitu hotel untuk wisatawan. 4. Transit hotel , yaitu hotel untuk tamu yang

    Gambar 3.4 Urban Hotel

    Sumber Google. Com

    • 3. Resort hotel, yaitu hotel yang terletak di daerah peristirahatan atau daerah wisata.

    Gambar 3.4 Urban Hotel Sumber Google. Com 3. Resort hotel , yaitu hotel yang terletak di
    Gambar 3.4 Urban Hotel Sumber Google. Com 3. Resort hotel , yaitu hotel yang terletak di

    Gambar 3.5 Resort Hotel

    Sumber Google. Com

    • 4. Airport hotel, yaitu hotel yang terletak di area bandar udara yang biasanya dipergunakan oleh penumpang yang transit dan melakukan perjalanan.

    • f. Pengelompokan hotel menurut aktifitas tamu hotel.

      • 1. Sport hotel, yaitu hotel yang merupakan bagian dari suatu kompleks pertandingan atau latihan olah raga.

    Gambar 3.4 Urban Hotel Sumber Google. Com 3. Resort hotel , yaitu hotel yang terletak di
    Gambar 3.4 Urban Hotel Sumber Google. Com 3. Resort hotel , yaitu hotel yang terletak di

    Gambar 3.6 Sport Hotel

    Sumber Google. com

    • 2. Ski hotel, yaitu hotel yang khusus di peruntukkan bagi tamu yang bermain ski

    Gambar 3.4 Urban Hotel Sumber Google. Com 3. Resort hotel , yaitu hotel yang terletak di
    Gambar 3.4 Urban Hotel Sumber Google. Com 3. Resort hotel , yaitu hotel yang terletak di

    3.

    Gambar 3.7 Sky Hotel

    Sumber Google. com

    Convention

    hotel,

    yaitu

    hotel

    yang

    kompleks konvensional.

    3. Gambar 3.7 Sky Hotel Sumber Google. com Convention hotel , yaitu hotel yang kompleks konvensional.
    merupakan bangunan
    merupakan
    bangunan

    Gambar 3.8 Convention hotel

    Sumber Google. com

    dari

    4. Recreation hotel, yaitu hotel bagi tamu yang melakukan kegiatan rekreasi atau berwisata.

    3.1.6Aspek Fisik pada Hotel

    Aspek fisik yang dapat dijadikan pedoman dalam merancang hotel adalah jenis kegiatan yang terjadi pada hotel:

    • a. Kegiatan Menginap Kegiatan ini merupakan kegiatan yang pasti dilakukan pada tamu hotel yang meliputi tidur, makan,minum serta hajat.

    • b. Kegiatan makan dan minum Merupakan kegiatan yang dilakukan oleh tamu menginap maupun yang tidak menginap yang meliputi restaurant, bar, dan coffee shop

    • c. Kegiatan Rekreasi dan Rileks Berupa kegiatan rekreasi aktif dan kegiatan rekreasi pasif, kegiatan ini dapat dilakukan oleh tamu hotel yang menginap maupun tamu yang tidak menginap serta tamu membersip khusus. Kegiatan rekerasi dan rileks dapat dilakukan didalam lingkungan hotel dan diluar lingkungan hotel.

    • d. Kegiatan khusus Kegiatan ini merupakan kegiatan yang diadakan oleh seseorang atau badan yang mempergunakan fasilitas hotel sebagai aktivitas seperti

    seminar, rapat, bisnis, office, travel dan shopping arcade dan lain sebagainya

    • e. Kegiatan Pengelola dan Karyawan Merupakan kegiatan yang berkaitan dengan kelangsungan kegitan hotel dengan melibatkan seluluh pengelolah dan karyawan hotel

    • f. Kegiatan Pelayanan Kegiatan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tamu hotel misal makan, minum. Cuci pakaian dan sebagainya

    • g. Kegiatan pengunjung hotel Kegiatan dilakukan oleh pengusaha lain diluar hotel, seperti agen perjalanan, bank, souvenir dan sebagianya.

    3.1.7Unsur-Unsur Pewadahan Dalam Hotel

    Unsur-unsur pewadahan dalam hotel wajib memenuhi ketentuan-ketentuan

    yang berlaku. Unsur-unsur tersebut adalah: 5

    • 1. Lokasi dan Lingkungan Lokasi hotel mudah dicapai dengan kendaraan umum maupun pribadi, langsung ke area hotel. Hotel terletak di pinggir jalan raya dan jalan besar ke luar kota yang dekat dari kota-kota besar, tujuan-tujuan wisata, dan daerah- daerah wisata sehingga penyediaan prasarana (air, listrik, gas, bahan makanan yang segar, binatu) menguntungkan. Hotel harus terhindar dari pencemaran yang berasal dari :

      • a. Udara lembab, pengap, dan bau yang tidak enak.

      • b. Suara bising, debu dan asap

      • c. Serangga dan binatang.

    2. Sirkulasi

    5 Dawid Yuliadi, City Hotel Bintang Empat Di Pusat Kota Yogyakarta (Yogyakarta: Skripsi FTA-UKDW, 2004), hal 25-32 (Berdasarkan Kutipan dari Direktorat Jendral Pariwisata Tentang Penyempurnaan Kriteria Klasifikasi Hotel, Jakarta 1994)

    Hotel harus memiliki jalur sirkulasi yang jelas supaya mempermudah pengunjung/tamu-tamu hotel yang datang ke hotel tersebut. Dalam setiap hotel, harus dapat pisahkan jalan antara tamu hotel/pengunjung, pegawai/karyawan dan jalan untuk barang.

    Tujuan sirkulasi dalam hotel adalah:

    • a. Mempermudah pengawasan dan pengontrolan keamanan

    • b. Menciptakan keteraturan

    • c. Menciptakan pelayanan yang efisien

    • d. Peningkatan kepuasan pelanggan. Pembedaan sirkulasi untuk tamu hotel dan pengelola:

    • a. Sirkulasi untuk tamu hendaknya jelas dan mudah dicapai sehingga tidak membingungkan pengunjung.

    • b. Sirkulasi untuk pengunjung dan pegawai/karyawan harus melewati setiap bangunan hotel yang digunakan untuk umum. Crossing antara pengunjung dan pegawai/karyawan harus dihindari.

    • 3. Taman Hotel harus memiliki taman baik di dalam maupun di luar bangunan. Luas taman adalah, 40% ruang terbuka dan 60% diantaranya ditanami dengan tanaman hidup.

    • 4. Tempat Parkir Tersedia tempat parkir untuk kendaraan tamu hotel dengan kapasitas satu tempat parkir untuk setiap enam kamar hotel, pos jaga atau ruang tunggu dengan tempat duduk serta tidak becek.

    Hotel harus memiliki jalur sirkulasi yang jelas supaya mempermudah pengunjung/tamu-tamu hotel yang datang ke hotel tersebut.
    Hotel harus memiliki jalur sirkulasi yang jelas supaya mempermudah pengunjung/tamu-tamu hotel yang datang ke hotel tersebut.

    Gambar 3.9 : Lay out tempat parkir

    Sumber : data arsitek

    • 5. Sarana Olah raga Hotel menyediakan sarana olah raga untuk dewasa dan anak-anak, dilengkapi dengan pengamanan, locker, toilet, tempat bilas air dan penjaga keselamatan. Hotel menyediakan dua sarana olah raga dan rekreasi yang merupakan pilihan seperti fitness centre, sauna, game room, billiard, bowling dan tennis.

    • 6. Peralatan Teknis Bangunan Pengaturan ruang hotel ditata dengan baik sehingga memudahkan arus tamu, arus karyawan dan arus barang atau produk hotel. Peralatan terdiri dari:

      • a. Elevator atau Lift

        • - setiap bangunan empat lantai atau lebih (dihitung dari lantai dasar) harus dilengkapi dengan elevator atau lift

        • - Lift tamu harus dipisahkan dengan lift pelayanan dan lift barang

        • - Kapasitas setiap lift minimal 10 orang atau beban 750 kg yang dapat berfungsi untuk melayani penyandang cacat yang memakai kursi roda

        • - Memiliki sertifikat keamanan sesuai dengan ketetapan Depnaker.

    Gambar 3.9 : Lay out tempat parkir Sumber : data arsitek 5. Sarana Olah raga Hotel
    Gambar 3.9 : Lay out tempat parkir Sumber : data arsitek 5. Sarana Olah raga Hotel
    • b. Utilitas

    Gambar 3.10: Lay out Lift

    Sumber : data arsitek

    • - Air yang tersedia memenuhi persyaratan kesehatan minimal 750 liter/kamar/hari. Juga tersedia pula instalasi air panas

    • - Pemasangan listrik yang memenuhi persyaratan pemerintah, tersedia pembangkit tenaga listrik cadangan engan kapasitas 50 % dari kapasitas listrik dari PLN

    • - Menggunakan pengkodisian udara (AC) untuk tiap ruang dengan sistem AC sentral atau AC unit serta mempunyai ventilasi yang baik.

    • - Tersedia ruang mekanik dan workshop.

    • c. Komunikasi

      • - Tersedia telepon tiga saluran, yaitu lokal, interlokal dan internasional

      • - Tersedia telepon dalam/internal, jumlah minimal saluran telepon adalah sesuai dengan jumlah kamar

      • - Tersedia PABX, Sentral video/TV, sentral radio, musik penggiring, sentral paging sistem termasuk carcall.

  • d. Pencegahan Bahaya Kebakaran Tersedia alat deteksi dini di setiap ruangan, alat pencegah kebakaran di kamar tamu, pintu, tangga darurat, dan lain sebagainya

  • e. Keamanan Tersedia ruang jaga di setiap pintu keluar dan masuk

  • f. Pembuangan Limbah Tersedia tempat pembuangan limbah yang tidak menimbulkan bau yang tidak enak.

  • 7.

    Entrance

    • a. Entrance utama harus jelas di tampilkan, mudah ditemukan dan diidentifikasi, menyajikan pandangan yang baik dari sisi dalamnya dan mengarah langsung ke penerima tamu (resepsionis)

    • b. Kanopi pada entrance merupakan ruang tunggu yang terlindung dari panas dan hujan

    • c. Penerangan digunakan untuk menonjolkan entrance memperlihatkan interior, serta untuk memberikan efek keselamatan dan pengaman yang baik

    • d. Entrance harus pas dengan skala dan karakter dari bangunan.

    • e. Entrance untuk staf pelayan, pengirim barang dan tamu harus dipisahkan, namun masih dalam pengawasan dan jaminan keamanan.

    • 8. Lobby atau Hall

      • a. Hotel harus mempunyai lobby dengan luas minimal 1 m² untuk 5 kamar

      • b. Lobby mewadahi sirkulasi umum, ruang tunggu, mengarah pada penerima tamu, kasir, informasi dan meja-meja membentuk kantor depan

      • c. Tata udara diatur dengan atau tanpa alat pengatur udara serta intensitas penerangan minimal 1.150 lux

      • d. Tersedia telepon umum dan Lounge

      • e. Tersedia toilet umum yang terpisah untuk pria dan wanita.

  • 9. Kamar Tidur atau Kamar Tamu

    • a. Untuk hotel bintang 4, Jumlah kamar standar minimal 50 kamar dengan luas minimal 24 m² dan 3 kamar suite dengan luas minimal 48 m² serta setiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi dalam, ketinggian minimal untuk tiap kamar adalah 2,6 m. Selain kamar standar dan suite, terdapat pula kamar untuk penyandang cacat dengan jumlah 1% dari seluruh jumlah kamar, serta terdapat kamar bebas rokok.

    • b. Interior kamar tidur atau kamar tamu mencerminkan suasana indonesia, dengan tinggi minimal 2,6 m.

    • c. Kamar tidur atau kamar tamu harus kedap suara dengan tingkat kebisingan 40db, komposisi karpet dari bahan yang tidak mudah terbakar dan memenuhi standar kesehatan

    • d. Dinding kamar mandi harus dengan bahan kedap air

    • e. Tersedia alat pengatur udara kamar tidur, ventilasi atau exhaust fan untuk kamar mandi .

  • Gambar 3.11: Kamar tidur dan tamu Sumber : data arsitek 10. Ruang Makan atau Restaurant Indonesia

    Gambar 3.11: Kamar tidur dan tamu

    Sumber : data arsitek

    10. Ruang Makan atau Restaurant Indonesia dan Inggris

    • a. Tersedia dua ruang makan, yaitu restaurant dan coffe shop

    • b. Unsur dekorasi harus terdapat dalam restaurant, jumlah tempat duduk sebanding dengan luas restaurant dengan ketentuan 1,2 m²/tempat duduk

    • c. Tinggi plafon tidak boleh rendah dari tinggi kamar tamu (2,6 m)

    • d. Letak restaurant berhubungan dengan dapur utama maupun dapur tambahan dan dilengkapi dengan toilet umum yang terpisah untuk pria dan wanita

    • e. Restaurant tertutup yang dilengkapi AC atau ventilasi dengan temperatur 24ºC dan kelembapan relatif 60%

    Gambar 3.12 : restaurant

    Sumber : Data arsitek

    11. Bar a. Tersedia satu bar yang terpisah dari restaurant b. Unsur dekorasi harus terdapat di
    11.
    Bar
    a.
    Tersedia satu bar yang terpisah dari restaurant
    b.
    Unsur dekorasi harus terdapat di dalam bar, jumlah tempat duduk
    sebanding dengan luas bar dengan ketentuan 1,1 m²/tempat duduk
    c.
    Tinggi plafon tidak boleh rendah dari tinggi kamar tamu (2,6 m)
    d.
    Bar yang letaknya tidak berdekatan dengan lobby harus dilengkapi
    dengan toilet umum yang terpisah untuk pria dan wanita
    e.
    Bar tertutup yang dilengkapi AC atau ventilasi dengan temperatur 24ºC
    dan kelembapan relatif 60%
    f.
    Terdapat ruang untuk bar tender dengan lebar minimal 1 m.
    Gambar 3.13: Bar
    Sumber : Data arsitek
    12.

    Function Room / Ruang pertemuan

    • a. Hotel menyediakan function room minimal 1 buah dengan pintu masuk yang terpisah dari lobby sehingga tidak menggangu arus keluar-masuk tamu

    • b. Function Room yang letaknya tidak terletak satu lantai dengan lobby harus dilengkapi dengan toilet umum yang terpisah untuk pria dan wanita

    • c. Tersedia prefunction room, ada juga gudang peralatan yang letaknya berdekatan dengan function room.

    • a. Lebar minimal koridor dan tangga adalah 1,8 m dengan ambang kebisingan adalah 40 db, tersedia stop kontak untuk setiap 12 m

    • b. Akses yang jelas terhadap koridor, tangga dan tangga darurat. Tangga darurat harus terpisah supaya pembagian pengguna tangga terbagi secara merata.

    a. Lebar minimal koridor dan tangga adalah 1,8 m dengan ambang kebisingan adalah 40 db, tersedia

    Gambar 3.14: Koridor dan tangga

    Sumber : data arsitek

    • 14. Ruang yang Disewakan Hotel menyediakan ruang yang disewakan untuk keperluan lain diluar kegiatan utama hotel minimal 3 ruang. Ruang tersebut adalah drugstore, travel agent, souvenir shop, money changer, airline agent, butik, salon dan perkantoran.

    • 15. Poliklinik Tersedia poliklinik yang memenuhi persyaratan dinas kesehatan dan para medis

    • 16. Dapur Tersedia satu dapur dengan luas sekurang-kurangnya 40% dari luas restaurant. Ruang yang diperlukan terdiri dari ruang administrasi, ruang penyimpanan bahan, ruang penyimpanan peralatan, ruang persiapan dan pengolahan, ruang pencucian dan ruang penyimpanan gas LPG.

    Gambar 3.15 : Lay out dapur hotel Sumber : data arsitek 17. Ruang Administrasi dan Kantor

    Gambar 3.15 : Lay out dapur hotel

    Sumber : data arsitek

    17. Ruang Administrasi dan Kantor depan hotel 18. Tersedia tempat penerimaan tamu, kasir, ruang penitipan barang berharga, ruang pimpinan Kantor depan hotel dan ruang operator telepon. 19. Uniform Room Tersedia ruang dengan rak penyimpanan pakaian.

    • 20. Ruang Linen

    Tersedia ruang linen dengan luas minimal 50 m².

    • 21. Ruang Jahit

    • 22. Room Boy Station Tersedia ruang palayan kamar tamu, minimal satu buah untuk tiap 15 kamar dan harus ada pada tiap lantai.

    • 23. Area Lost Found

    Luas minimal 10 m² yang dilengkapi dengan rak atau almari terkunci.

    • 25. Gudang Gudang untuk bahan makanan dan minuman, gudang untuk peralatan, gudang untuk engineering dan gudang untuk barang-barang bekas.

    • 26. Ruang Penerimaan Barang

    • 27. Ruang Karyawan Ruang karyawan terdiri dari ruang loker, ruang makan karyawan, km/wc dan ruang ibadah.

    • 3.1.8 Kebutuhan Ruang

    Kebutuhan ruang hotel diperoleh dari pendekatan kegiatan/aktivitas yang

    terjadi ketedidalam hotel. Kebutuhan ruang menurut kelompok kegiatan meliputi: 6

    • - Kelompok Kegiatan Umum

      • a. Front Office

      • b. Lobby

      • c. Rental room

      • d. Public telephone

      • e. Lounge Lavatory

    f.

    • g. Area parkir

    • - Kelompok Kegiatan Makan dan Minum

      • a. Restaurant

      • b. Bar

      • c. Coffe Shop

      • d. Dapur utama dan dapur tambahan

  • - Kelompok Kegiatan Hiburan dan Rekreasi

    • a. Kolam renang beserta penunjangnya

    • b. Ruang billiard

    • c. Fitness centre

    • d. Lapangan tenis

    • e. Taman bermain anak

    • f. Sauna

    • - Kelompok Kegiatan Tamu yang Menginap

      • a. Ruang tidur dengan tipe:

        • - Standard room (single dan double bed)

        • - Suite room

    • b. Kamar mandi dan WC

  • - Kelompok Kegiatan Tamu yang Tidak Menginap

    • a. Ruang serbaguna

    • b. Restaurant, coffe shop dan bar

    • c. Lapangan tenis

    • d. Ruang rapat dan pertemuan

    • e. Kolam renang beserta penunjangnya

    • f. Fitness centre

  • - Kelompok Kegiatan Pengelola

    • a. Ruang manager dan secretary

    • b. Food and beverage service

    • c. Ruang security, rapat dan arsip

    • d. Ruang akuntan dan personalia

    • e. Lavatory

  • - Kelompok Kegiatan Pelayanan

    • a. Housekeeping

      • - Linen room

      • - Ruang laundry

  • b. Ruang karyawan

    • - Ruang karyawan, ruang istirahat, ruang ibadah dan locker

    • - Lavatory untuk pria dan wanita

    • - Dapur umum yang dilengkapi dengan gudang basah dan kering

  • c. Engineering office

    • - Maintenance atau pemeliharaan

    • - Ruang kontrol

    • - Room service

    • - Ruang penerima barang

    • - Garbage room

    • - Gudang furniture and workshop

    • - Room boy station

    • - Ruang loading atau unloading

    • - Poliklinik

    • - Ruang mechanical dan electrical

    • - Fuel storage atau penyimpanan bahan bakar 3.1.9 Lay Out Kamar Hotel

    Tabel3.2

    Lay Out Kamar Hotel

    a.

    Budget

    inn

    b.

    Typical

    c.

    Typical

    double-

    d. Typical double-

    e. King studio

    double-double

    double-double

    double_electrical

    double_finishes

     

    /mechanical

     

    plan

    a. Budget inn b. Typical c. Typical double- d. Typical double- e. King studio double-double double-double
     
    a. Budget inn b. Typical c. Typical double- d. Typical double- e. King studio double-double double-double
    a. Budget inn b. Typical c. Typical double- d. Typical double- e. King studio double-double double-double
    a. Budget inn b. Typical c. Typical double- d. Typical double- e. King studio double-double double-double
    a. Budget inn b. Typical c. Typical double- d. Typical double- e. King studio double-double double-double
     

    f. Parlor

     

    g. King room

    h. Luxury room

    i. Reserved layout

    j.

    Luxury

    king

     

    room

    a. Budget inn b. Typical c. Typical double- d. Typical double- e. King studio double-double double-double
     
    a. Budget inn b. Typical c. Typical double- d. Typical double- e. King studio double-double double-double
    a. Budget inn b. Typical c. Typical double- d. Typical double- e. King studio double-double double-double
    a. Budget inn b. Typical c. Typical double- d. Typical double- e. King studio double-double double-double
    a. Budget inn b. Typical c. Typical double- d. Typical double- e. King studio double-double double-double

    Sumber: Time Saver Standard for Building Type

    a.

    The mini Suite

    b. The junior suite

    c. Hospitality suites

    Sumber: Time Saver Standard for Building Type 3.1.10 Sistem Utilitas Dalam Bangunan Hotel Penyaluran aliran listrik
    Sumber: Time Saver Standard for Building Type 3.1.10 Sistem Utilitas Dalam Bangunan Hotel Penyaluran aliran listrik
    Sumber: Time Saver Standard for Building Type 3.1.10 Sistem Utilitas Dalam Bangunan Hotel Penyaluran aliran listrik

    Sumber: Time Saver Standard for Building Type

    3.1.10 Sistem Utilitas Dalam Bangunan Hotel 7 Penyaluran aliran listrik pada saat darurat dirasakan penting pengadaannya terutama pada saat ada kerusakan di sistem penyaluran utamanya. Mesin pembangkit listrik yang disediakan hendaknya dapat menyalurkan kebutuhan untuk pencahayaan pintu darurat kebakaran dan tanda-tanda darurat lainnya,

    menerangi kira-kira 20% daerah umum, ruang pendingin dan lemari es, pompa saluran pemadam kebakaran, mesin-mesin hitung, sistem tanda bahaya kebakaran, hubungan telepon, pompa air genangan dan air kotor.

    • a. Sistem tanda bahaya kebakaran (alarm) Sistem bekerjanya dapat ditandai dengan pecah gelas kontak begitu berhubungan dengan panas suhu pendeteksi asap sehingga

    secara

    otomatis tanda bahayanya dapat terdengar keseluruh bangunan.

    • a. Peralatan pengatur suhu ruang (AC) Umumnya dipakai sistem terpusat yang disalurkan ke masing-masing ruang. Sedapatnya diatur sendiri pemanfaatannya oleh tamu dikamar tidur masing-masing. Untuk tempat-tempat umum harus diatur menurut daerah pengawasannya, terutama untuk mengatasi waktu-waktu padat sehingga beban pemakaian tinggi dan penghematan pemakaian bila ditempat yang bersangkutan sedang tidak dipergunakan. Perlu kemudahan perawatan untuk semua unit pemakaian.

    • b. Pengatur aliran udara kamar mandi Umumnya dengan menggunakan saluran buangan udara ke kipas penyedot diatas atap, saluran penyaring masing-masing kamar mandi dihubungkan

    7 Chuck Y. Gee, Resort Development and Management (Michigan: Educational Institute, 1988)

    kesaluran buangan utama yang ditempatkan pada kamar mandi sekaligus untuk mengurangi penyebaran bising yang berasal dari kipas penyedot.

    • c. Sistem pencahayaan Sistem pencahayaan kamar-kamar tidur dirancang dengan meletakkan cukup satu sakelar utama dekat pintu masuk dan diatas ujung kepala tempat tidur. Dapat ditambahkan beberapa saklar disesuaikan dengan kebutuhannya menurut jenis hotel. Lampu neon yang dipasang dikamar mandi harus dari jenis yang mudah menyala. Tiap kamar tidur atau dibagian tempat tidur harus dilengkapi dengan saklar yang terlindung rapi. Pencahayaan pada lorong/selasar dilengkapi sakelar pengatur, sehingga tiap-tiap bagian dapat diatur pemakaiannya secara ekonomis. Pada ruang- ruang umum, sakelar-sakelar diletakkan pada tempat-tempat tertentu dan dirancang sekaligus untuk dapat memberikan kesan dekoratif.

    Tabel 3.3. Penerangan ruang pada hotel

     

    Ruang / Area

    Penerangan

    footcandle

    Lux

    Auditoruim

       

    Ruang pertemuan

    • 15 150

    Ruang Pameran

    • 30 300

    Kegiatan sosial

    5

    50

    Bar dan lounges Kamar mandi

    30

    300

    Kaca/ cermin

    10

    100

    Umum Kamar tidur

    30

    300

    Tempat baca

    30

    300

    Tempat menulis

    10

    100

    Umum

    20

    200

    Koridor, lift, tangga

    50

    500

    Kasir

    Intimate type

    10

    100

    Cahaya dari lingkungan

    30

    30

    Subdued Environmet

    20

    200

    Cleaning service

    Ruang santai

    10

    100

    Cahaya lingkungan

    30

    30

    Subdued Environmet

    Quick Service

    30

    300

    Bright surroundings

    150

    150

    Normal surroundings

    50

    500

    Display makanan

    30

    300

    Tempat menunggu

    50

    500

    Kantor bagian depan

    70

    700

    Dapur Laundry

    30

    300

    Tempat mencuci

    50

    500

    Tempat strika, menimbang, dll

    70

    700

    Mesin dan pengeringan

    • 100 1000

    Fine hand iron

    Ruang linen

    • 100 1000

    Ruang menjahit

    • 20 200

    umum

     
    • 10 100

    Lobby

    • 30 300

    general lighting

    Tempat membaca dan kerja

    150

    1500

    Kantor

    100

    100

    Kantor keuangan

    Umum

    100

    100

    Ruang pembangkit listrik

    200

    200

    R. Boiler

       

    Raung peralatan

    30

    300

    Store interior

    100

    1000

    Sirkulasi

    200

    2000

    500

    5000

    R. Souvenir umum

     

    30

    300

    lemari

    1

    100

    Feature display

    R. Stock

    Store room

    Sumber : Time sevar building standart

    • 3.2 Tinjauan Teoritis Pencahayaan 3.2.1 Pengertian perancangan pencahayan Cahaya/ pencahayaan adalah suatu energi yang terjadi dengan dua cara yaitu pijar dan pendaran 8 .

    Cahaya/ Pencahayaan adalah jumlah fluks berkilau menuju ke permukaan,

    per unit luas merupakan pengukuran keamatan cahaya tujuh yang dicerap 9 Perancangan pencahayan juga berperan dalam menunjang fungsi ruang dan bangunan melalui pencahayaan alami (daylight) maupun pencahayaan buatan (artificial light). 10

    Perancangan pencahayan memiliki peran penting dalam menciptakan kualitas visual, baik pada bangunan maupun lingkungan. 11

    • 3.2.2 Fungsi Perancangan Pencahayaan 12 General lighting merupakan fungsi dasar cahaya yaitu cahaya dituntut harus ada di seluruh ruang serta berfungsi sebagai penerangan utama, sifat penyinaran merata dan harus menerangi seluruh ruang.

    • 8 Istianwan,S. Kencana,I.P. Ruang artistik dengan pencahayaan. Jakarta: penebar Swadaya, 2006

    • 9 www. Wikipedia .com

      • 10 Manurung.P., Materi kuliah lighting design.2007

      • 11 Manurung.P., Materi kuliah lighting design .2007

      • 12 Istianwan,S, Kencana.I.P. Ruang Artistik dengan Pencahayaan, Jakarta: Penebar Swadaya, 2006

    Taks lighting adalah pencahayaan setempat dengan tujaun untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan cahaya yang lebih terang seperti membaca, memasak, dan pekerjaan lainnya. Decorative lighting berfungsi menonjolkan nilai keindahan objek pada ruang atau desian dari ruang sendiri.

    3.2.3 Jenis pencahayaan

    • a. Pencahayaan Alami Pencahayaan alami adalah penggunaan cahaya dari matahari sebagai pelengkap maupun pengganti lampu listrik. Pencahayaan alami merupakan suatu strategi yang sangat bermanfaat karena beberapa alasan, antara lain:
      13

      • - Pencahayaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan pengaturan udara dalam bangunan menghabiskan 30-40% total penggunaan energi pada bangunan komersial.

      • - Pencahayaan alami berperan dalam pendekatan desain yang lebih memperhatikan kesinambungan lingkungan hidup, dengan menekan penggunaan dan kebutuhan pembangkit-pembangkit tenaga listrik dan polusi yang diakibatkannya.

      • - Area yang diberi penerangan alami dapat meningkatkan kepuasan penghuni.

    Pada umumnya, cahaya alami yang memasuki bangunan agar dapat digunakan untuk menerangi bagian dalam bangunan tergantung pada dua faktor penting, yaitu: 14

    • - Desain bukaan bangunan (jendela, skylight, clerestories) dan mekanisme kontrol cahaya alami (shading devices, reflective glass, double façade, dan lain-lain).

    13 Henry Feriadi, Guiding the Daylight (Singapore: An Individual Project on Total Building Perfomance- Paper, 1998), hal 1 (Unpublished) 14 Ibid

    • - Kondisi permukaan ruangan (warna, tekstur) dan bagian lain dari interior bangunan (blinds, gorden).

    - Kondisi permukaan ruangan (warna, tekstur) dan bagian lain dari interior bangunan ( blinds, gorden). Pencahayaan

    Pencahayaan dari lubang atap

    - Kondisi permukaan ruangan (warna, tekstur) dan bagian lain dari interior bangunan ( blinds, gorden). Pencahayaan
    - Kondisi permukaan ruangan (warna, tekstur) dan bagian lain dari interior bangunan ( blinds, gorden). Pencahayaan
    - Kondisi permukaan ruangan (warna, tekstur) dan bagian lain dari interior bangunan ( blinds, gorden). Pencahayaan
    - Kondisi permukaan ruangan (warna, tekstur) dan bagian lain dari interior bangunan ( blinds, gorden). Pencahayaan

    Pencahayaan dari jendela atap

    Pencahayaan dari jendela atap

    Gambar 3.16.Desain Bukaan Pada Bangunan

    Sumber: Digambar Ulang menurut Dasar-Dasar Arsitektur Ekologis

    Intensitas cahaya matahari umumnya memberikan cahaya berlebihan pada bangunan, kondisi ini mengakibatkan cahaya terlalu kuat sehingga mengakibatkan silau. Penghindaran yang diperlukan agar menghalangi sinar matahari langsung, antara lain penyediaan selasar di samping bangunan, pembuatan atap tritisan, pemberian sirip pada jendela atau pengadaan tanaman disekitar bangunan. Prinsip dari perlindungan

    terhadap cahaya matahari langsung adalah penyaringan cahaya atau penciptaan bayangan. 15

    terhadap cahaya matahari langsung adalah penyaringan cahaya atau penciptaan bayangan. Pemberian sirip ( sunscreen ) pada

    Pemberian sirip (sunscreen) pada jendela

    terhadap cahaya matahari langsung adalah penyaringan cahaya atau penciptaan bayangan. Pemberian sirip ( sunscreen ) pada

    Pengadaan tanaman disekitar bangunan

    terhadap cahaya matahari langsung adalah penyaringan cahaya atau penciptaan bayangan. Pemberian sirip ( sunscreen ) pada

    Pada lingkungan alam, pencahayaan selalu berasal dari atas (matahari pada siang hari), dari timur (fajar), atau dari

    Gambar 3.17.Perlindungan Terhadap Cahaya Matahari

    Sumber: Dasar-Dasar Arsitektur Ekologis

    Merancang bukaan untuk cahaya juga perlu memperhatikan warna dan tekstur permukaan bidang yang terkena sinar matahari. Warna cerah lebih banyak mementulkan sinar daripada warna gelap. Warna putih akan memantulkan 70% - 80% sinar matahari, warna muda (biru muda, hijau

    15 Heinz Frick, FX. Bambang Suskiyanto, Dasar-Dasar Arsitektur Ekologis (Yogyakarta: Kanisius, 2007),

    hal32

    muda, kuning muda, coklat muda) memantulkan 20% - 60%, warna gelap (hitam, abu-abu, coklat tua) memantulkan < 20%. 16 Kebutuhan bukaan untuk cahaya alami pada satu ruang ± 9% dari total luas ruang. Nilai ini dihitung dari banyaknya cahaya yang jatuh pada bidang kerja per satuan luas/ m². Titovianto (Direktorat Energi Baru dan Terbarukan) menyatakan; setiap ruang mempunyai tingkat pencahayaan atau iluminasi yang standar yang dirasakan nyaman sesuai kebutuhan. Hal ni dapat ditunjukkan oleh daftar berikut: 17

    Tabel 3. 5 Tingkat Pencahayaan Rata-Rata Pada Ruang

    Fungsi Ruang

    Tingkat Pencahayaan / (lux)

    Teras

    60

    Ruang Tamu

    120

    – 250

    Ruang Makan

    120

    – 250

    Ruang Kerja

    120

    – 250 l

    Kamar Tidur

    120

    – 250

    Kamar Mandi

    250

    Dapur

    250

    Garasi

    60

    Sumber: Serial Rumah : Rumah Hemat Energi

    • b. Pencahayaan buatan Pencayaan buatan merupakan pencahayaan yang memakai lampu. Sehiggan lampu memiliki prinsip kerja, warna, ambience. Berikut ini adalah jenis lampu anrtara lain :

      • 1. Lampu Filamen Memproduksi cahaya dengan pemanasan filamen tungsten dalam ruang hampa atau terisi gas tertentu di dalam bohlam. Kelebihan menghasilkan gelombang cahaya yang lebar, pengaturannya mudah karena dayanya yang rendah, mudah dan murah Kekurangan tidak efisien dan menghasilkan panas.

    • 16 Serial Rumah, Rumah Hemat Energi (Jakarta, 2006), hal 22

    • 17 Ibid., hal 17

    Gambar 3.18. Lampu Filamen Sumber : materi kuliah Lighting design 2. Lampu discharge Cahaya tercipta karena
    Gambar 3.18. Lampu Filamen Sumber : materi kuliah Lighting design 2. Lampu discharge Cahaya tercipta karena

    Gambar 3.18. Lampu Filamen

    Sumber : materi kuliah Lighting design

    Gambar 3.18. Lampu Filamen Sumber : materi kuliah Lighting design 2. Lampu discharge Cahaya tercipta karena

    2.

    Lampu discharge Cahaya tercipta karena pergerakan elektron listrik di antara dua elektroda. Semua lampu discharge lebih efisien dari pada lampu pijar,sehingga sangat baik untuk floodlighting (lampu sorot ) dan kebutuhan berat lainnya. Jenis lampu discharge antara lain

    HID (high intensity discharge)

    1. mercury, menghasilkan cahaya biru dan hijau pada spektrum

    cahayaseperti cahaya bulan.

    • 2. metal halide; menciptakan warna putih yang paling seimbang di antara semua jenis HID, digunakan untuk pencahayaan tanaman dan bangunan; lebih efisien dibandingkan High Pressure Sodium ,

    Gambar 3.18. Lampu Filamen Sumber : materi kuliah Lighting design 2. Lampu discharge Cahaya tercipta karena
    Gambar 3.18. Lampu Filamen Sumber : materi kuliah Lighting design 2. Lampu discharge Cahaya tercipta karena

    Gambar 3.19 Lampu HID

    Sumber : materi kuliah Lighting design

    LPD (low presure discharge)

    • 1. fluorescent; terdiri dari tabung yang berisi merkuri atau argon atau

    gas lainnya yang membantu perpindahan elektron di dalam tabung. Kelebihannya adalah mampu menghasilkan cahaya yang jernih, memiliki ukuran yang kecil pada tipe compact, dan menghasilkan cahaya yang banyak dengan energi sedikit. Sementara kelemahannya adalah memiliki bentuk yang panjang, menghasilkan cahaya yang terlalu besar, sulit dikontrol, mahal serta memiliki jarak terbatas. 2. cold katode dan neon; sama seperti fluporescent namun bekerja pada tegangan yang lebih tinggi dan digunakan pada lansekap, tanda (sign) dan dekorasi.

    ∑ LPD ( low presure discharge ) 1. fluorescent ; terdiri dari tabung yang berisi merkuri
    ∑ LPD ( low presure discharge ) 1. fluorescent ; terdiri dari tabung yang berisi merkuri

    Gambar 3.20. Lampu LPD

    Sumber : materi kuliah Lighting design

    • 3. Tipe Lampu Floodlight

    ∑ LPD ( low presure discharge ) 1. fluorescent ; terdiri dari tabung yang berisi merkuri
    ∑ LPD ( low presure discharge ) 1. fluorescent ; terdiri dari tabung yang berisi merkuri

    Gambar 3.21 Lampu Flood light

    Sumber : materi kuliah Lighting design

    • 4. Tipe Lampu Projector

    Gambar 3.21 Lampu Flood light Sumber : materi kuliah Lighting design 4. Tipe Lampu Projector 5.
    Gambar 3.21 Lampu Flood light Sumber : materi kuliah Lighting design 4. Tipe Lampu Projector 5.
    Gambar 3.21 Lampu Flood light Sumber : materi kuliah Lighting design 4. Tipe Lampu Projector 5.
    • 5. Tipe Lampu wallwasher

    Gambar 3.22. Lampu Projector

    Gambar 3.21 Lampu Flood light Sumber : materi kuliah Lighting design 4. Tipe Lampu Projector 5.

    Sumber : materi kuliah Lighting design

    Gambar 3.21 Lampu Flood light Sumber : materi kuliah Lighting design 4. Tipe Lampu Projector 5.

    Gambar 3.23. Lampu Wallwasher

    Sumber : materi kuliah Lighting design

    • 6. Tipe Lampu bollard

    Gambar 3.21 Lampu Flood light Sumber : materi kuliah Lighting design 4. Tipe Lampu Projector 5.
    Gambar 3.21 Lampu Flood light Sumber : materi kuliah Lighting design 4. Tipe Lampu Projector 5.

    Gambar 3.24.Lampu bollard

    Sumber : materi kuliah Lighting design

    • 7. Tipe Lampu Ground

    Gambar 3.24.Lampu bollard Sumber : materi kuliah Lighting design 7. Tipe Lampu Ground Gambar 3.25. Lampu
    Gambar 3.24.Lampu bollard Sumber : materi kuliah Lighting design 7. Tipe Lampu Ground Gambar 3.25. Lampu

    Gambar 3.25. Lampu Ground

    Sumber : materi kuliah Lighting design

    • 8. Tipe Lampu parscoop

    Gambar 3.24.Lampu bollard Sumber : materi kuliah Lighting design 7. Tipe Lampu Ground Gambar 3.25. Lampu
    Gambar 3.24.Lampu bollard Sumber : materi kuliah Lighting design 7. Tipe Lampu Ground Gambar 3.25. Lampu

    Gambar 3.26. Lampu parscoop

    Sumber : materi kuliah Lighting design

    3.2.4 Komposisi ada Arah cahaya 18

    Peran komposisi adalah untuk mengoptimal kan penataan cahaya yang tepat anatar lain general lighting, taks lighting, dan decorative lighting. Kepekaan kreativitas dan rasa seni dibutuhkan untuk menciptakan komposisi yang baik Arah pencahayaan secara garis besar terbagi manjadi lima kategari yaitu down light, up light, side light, back light dan front light. Didalam suatu ruangan sumber cahaya berasal dari komposisi arah-arah cahaya.

    Down light ( arah cahaya ke bawah) Jenis lampu down light untuk pencahayaan merata terdiri dari beberapa vasriasi seperti lampu pijar, noen, dan compact floulorescen dengan sudut distribusi cahaya yang besar. Down light untuk decorative lighting diatur melalui pengaturan sudut jatuh cahaya.

    ∑ Down light ( arah cahaya ke bawah) Jenis lampu down light untuk pencahayaan merata terdiri
    ∑ Down light ( arah cahaya ke bawah) Jenis lampu down light untuk pencahayaan merata terdiri
    ∑ Down light ( arah cahaya ke bawah) Jenis lampu down light untuk pencahayaan merata terdiri
    ∑ Down light ( arah cahaya ke bawah) Jenis lampu down light untuk pencahayaan merata terdiri

    Gambar 3.27. : Down Light

    Sumber :materi Kuliah lighting design

    Up Light ( Arah cahaya ke atas ) Posisi sumber cahaya di hadapkan keatas sehingga arah cahaya beasal dari bawah ke atas. Up light di gunakan untuk general lighting

    yaitu dengan memantulkan cahaya kelangit-langit sehingga penyebaran lebih lembut dan merata.

    yaitu dengan memantulkan cahaya kelangit-langit sehingga penyebaran lebih lembut dan merata. Gambar 3.28. up-Light Sumber ;
    yaitu dengan memantulkan cahaya kelangit-langit sehingga penyebaran lebih lembut dan merata. Gambar 3.28. up-Light Sumber ;

    Gambar 3.28. up-Light

    Sumber ; materi Kuliah lighting design

    Back light ( arah cahaya dari belakang)

     

    Arah pencahayaan berasal dari belakang objek bertujuan untuk memberikan aksentuasi pada objek seperti menimbulkan siluet. Side Light ( arah cahaya dari samping)

    Fungsi

    arah

    pencahayaan

    dari

    samping

    in

    sama

    dengan

    jenis

    pencahayaan back light yaitu untuk memberikan kesan tertentu.

    yaitu dengan memantulkan cahaya kelangit-langit sehingga penyebaran lebih lembut dan merata. Gambar 3.28. up-Light Sumber ;

    Gambar 3.29. side Light

    Sumber ; Ruang Artistik dengan pencahayaan

    Front Light ( arah cahaya dari depan) Front light berarti sumber cahaya berada depan obyek dan biasanya diaplikasikan pada dua objek dua dimensi seperti lukisan atau foto.Cahaya fron light sebaiknya merata sehingga dapat membuat objek terlihat apa pun, dan bagian tertentu yang ingin ditonjolkan.

    Gambar 3.29. side Light Sumber ; Ruang Artistik dengan pencahayaan ∑ Front Light ( arah cahaya
    Gambar 3.29. side Light Sumber ; Ruang Artistik dengan pencahayaan ∑ Front Light ( arah cahaya
    Gambar 3.29. side Light Sumber ; Ruang Artistik dengan pencahayaan ∑ Front Light ( arah cahaya
    Gambar 3.29. side Light Sumber ; Ruang Artistik dengan pencahayaan ∑ Front Light ( arah cahaya

    Gambar 3.30. Front Light Sumber ; materi Kuliah lighting design

    • 3.2.5 Lighting Perception ( daya pengelihatan terhadap cahaya) 19 Cahaya memiliki pengaruh yang sangat besar tehadap physiology dan pschycology manusia. 80% informasi yang diperoleh manusia adalah melalui indera penglihatan. Persepsi visual sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan masa lalu seseorang.Visual acuity merupakan kemampuan mata untuk membedakan detail-detail visual. Visual acuity sangat tergantung dari kualitas oragan mata, visual contrast, bacground luminance, observation time dan usia.

    • 3.2.6 Kualitas dari iilumination 20 Luminance Berpendar energi cahaya yang menghubungkandari berbagai variasi surface pada area visual yang memililki batas maksimum cahaya. Perbedaan antara energi cahaya yang jatuh langsung dan energi yang menyebar. Pencahayaan langsung Pencahayaan langsung berasal dari matahari, Peneranganan pada langit-langit dan energi cahaya pada bangunan. Pada area yang besar mengunakan energi penyinaran yang sangat besar dan sudut pandang yang luas. Pengelihatan pencahayaan langung pada bidang garis pengelihatan harus lebih dari 45 o sedangkan arah jatuh bayangan pada bidang horizontal terhadap sudut pengelihatan mempunyai sudut perputaran 45 o yang disarankan.

    3.2.5 Lighting Perception ( daya pengelihatan terhadap cahaya) Cahaya memiliki pengaruh yang sangat besar tehadap physiology
    • 19 Steffy, Gary, “Architectural Lighting Design,” John Wiley & Sons, New york , 2003

    Gambar 3.31 :sudut pengelihatan mata

    • 20 De chiara, Joseph and John Hancock Callender. Time Saver Standards For Sumber Building ; Times Tipes. server 3rd ed. building New Standart

    York: Mcgraw-Hill Publishing Company, 1990

    Cahaya yang menyilaukan Cahaya yang terang dimanapun dalam kondisi visual yang terang dapat

    mempengaruhi jarak pengelihatan, hal ini merupakan katagori dari cahaya yang terang / menyilaukan. Secara langsung menghubungkan dengan sumber cahaya dan keadaan sektari dapat digolongkan cahaya langsung. Secara langsung mempertimbangkan visual taks dan lingkungan sekitar atau cahaya yang datang. 3.3.7 Hal-hal spesifik dari Perancangan pencahayaan

    Material 21 Pada pencahayaan memilih bahan yang memantulkan kembali cahaya dengan pemantulan kembali yang tersebar tidak sempurna dan tersebar sempurna serta terarah dan bahan tembus cahaya.material yang memantulkan menembus cahaya seperti: kaca susu, pelindung sutera, kaca lemabaran, kaca jendala. Prinsip-prinsip pencahayaan 22 Ada 2 prinsip-prinsip pencahayaan yaitu prinsip-prinsip penghematan dan dan pencahayaan yang berkualitas. Prinsip pencahayaan yang harus diketahui untuk memperoleh pencahayaan yang hemat dan berkualitas. Pencahayaan yang berkualitas umumnya membutuhkan sinar yang menyebar. Cahaya lampu dapat menciptakan nuasa dan karakter ruang yang diinginkan. Efek juga dapat menimbulkan kesan ruang. Optimalisasi siang hari 23 Optimalisasi cahaya alami pada ruang disiang hari merupakan cara yang ssangat efektif. Sinar matahari sudah sewajarnya adalah sinar yang dipakai untuk menerangi ruangan. Optimalisasi malam hari 24 Penataan cahaya yang efektif dan efisien tentunya meliputi pencahayaan pada siang hari dan malam hari. Ruang-ruang dalam ruamh akan akan bertambah nyaman dan indah yamg memberikan cahaya buatan berupa lampu. Sinar juga

    • 21 Neufert, Ernest. Data Arsitek Jilid 1 Edisi 33, Terj. Tjahjadi, Ing S; Chaidir, Ferryanto, Jakarta : Erlangga, 2002

    • 22 Ibid. hal 41

    • 23 Istianwan,S. Kencana,I.P. Ruang artistik dengan pencahayaan. Jakarta: penebar Swadaya 2006

    • 24 Ibid. hal 49

    dapat membangkitan rasa nyaman dan memperindah interior ruangan dimalam hari.

    3.2.7 Aplikasi Pencahayaan

    Interior 25

    Menurut standart dari I.E.S Pencahayaan pada interior bangunan meliputi dari bebberpa faktor dasar meliputi

    • - Aktivitas yang berbeda dari ruang dalam/ interior dan rancangan pencahayaan lebih dari satu memungkinkan pencahayaan pada mebel atau peralatan, susunan pada gedung.

    • - Daya sinar matahari membutukan gabungan cahaya buatan dan cahaya alami

    • - Penampilan warna dan membuat warna diperukan penyinaran dalam suatu bangunan secara optimal.

    • - Mengendalikan cahaya yang menyilaukan dalam bangunan.

    • - Dimensi dalam ruangan seperti panjang,lebar, tinggi

    • - Jenis lampu yang dapat menampilkan warna dan membuat warna untuk aktivitas dalam interior

    • - Effek pemanasan energi cahaya keluar tabung dari temperature dalam ruangan

    • - Faktor pemantulan cahaya pada langit-langit dinding dan lantai, mencakup

    dapat membangkitan rasa nyaman dan memperindah interior ruangan dimalam hari. 3.2.7 Aplikasi Pencahayaan ∑ Interior Menurut
    dapat membangkitan rasa nyaman dan memperindah interior ruangan dimalam hari. 3.2.7 Aplikasi Pencahayaan ∑ Interior Menurut

    perlengkapan, jendela, dan sekat yang dipasangi kaca.

    • 25 Nuckolls,J.L, Interoir lighting for environmental designers second edition. New York: A Wiley

    interscience1983

    ∑ Eksterior Gambar 3.32. Interior Bangunan Sumber : www. google.com Ruang luar bangunan memberikan perasaaan yang
    ∑ Eksterior Gambar 3.32. Interior Bangunan Sumber : www. google.com Ruang luar bangunan memberikan perasaaan yang

    Eksterior 26

    Gambar 3.32. Interior Bangunan

    Sumber : www. google.com

    Ruang luar bangunan memberikan perasaaan yang menggamabarkan tentang latar belakang dan ruang depan. Pencahayaan ekterior memberikan fungsional yang dibutuhkan ruang luar seperti sikulasi luar, perlindungan orang dari luar bangunan serta cahaya mengambarkan node, tanda, display, enternce dan elemen lain luar ruangan.

    ∑ Eksterior Gambar 3.32. Interior Bangunan Sumber : www. google.com Ruang luar bangunan memberikan perasaaan yang
    ∑ Eksterior Gambar 3.32. Interior Bangunan Sumber : www. google.com Ruang luar bangunan memberikan perasaaan yang

    26 Lam, William, “Perception and Lighting For Mgivers For Architecteure”, McGraw-Hill Book Company,

    New York, 1983

    Gambar 3.33 : Eksterior bangunan Sumber :www. google.com
    Gambar 3.33 : Eksterior bangunan
    Sumber :www. google.com

    Landscape

    Gambar 3.33 : Eksterior bangunan Sumber :www. google.com ∑ Landscape Gambar 3.34 : Landscape bangunan Sumber
    Gambar 3.33 : Eksterior bangunan Sumber :www. google.com ∑ Landscape Gambar 3.34 : Landscape bangunan Sumber

    Gambar 3.34 : Landscape bangunan

    Sumber : google.com

    3.3.Studi Banding Hotel dan pererancangan pencahayaan 3.3.1. Studi Banding Tentang Hotel

    Studi banding yang dilakukan dalam proyek ini adalah dengan melihat bangunan sejenis yang terdapat di tempat lain. Penulis mengambil contoh hotel Novotel. Hotel Novotel adalah hotel bintang 4 di Yogyakarta yang berlokasi di jantung kota Yogyakarta. Merupakan tempat terbaik untuk tinggal dan menjelajahi berbagai terdisi dan kebudayaan jawa. Ruang pertemuan yang dapat memampung 200-650 orang. Novotel memiliki fasilitas dan pelayanan yang mewah, serta restaurant yang berstandarkan internasional serta kemudahaan akses dari bandara Adisucipto dan Stasiun kereta api Tugu.

    Gambar 3.35. Novotel Sumber :www. Yogyakartahotels.com/ novotel 3.3.2 Layanan dan fasilitas yang ada di hotel Novotel

    Gambar 3.35. Novotel

    Sumber :www. Yogyakartahotels.com/ novotel

    3.3.2 Layanan dan fasilitas yang ada di hotel Novotel

    Fasilitas Kamar yang terdiri 200 kamar yaitu

    • - Superior room

    • - Dulex room

    • - Executive room

    Fasilitas hotel dan pelayanan.

    • - Restaurant Kedaton dan Api kayu

    • - Bar

    • - Lobby

    • - Kolam Renang

    • - Salon kecantikan

    • - Toko minuman

    • - Rental sepeda

    • - Biliyard

    • - Tempat bermain anak

    • - Ruang video game

    • - Jacuzzi

    • - Massage

    • - Sauna dan mandi uap

    • - Tenis meja

    • - Golf driving range

    • - Ruang pertemuaan

    • - Penukaran uang

    • - Jasa taksi

    • - Laundry dan pengering

    • - Dokter 24 jam

    - Ruang pertemuaan - Penukaran uang - Jasa taksi - Laundry dan pengering - Dokter 24

    Gambar 3.36 : Restaurant kedaton

    Sumber : dokumen Pribadi

    - Ruang pertemuaan - Penukaran uang - Jasa taksi - Laundry dan pengering - Dokter 24
    - Ruang pertemuaan - Penukaran uang - Jasa taksi - Laundry dan pengering - Dokter 24

    Gambar 3.37 :Kamar tidur

    Sumber : www. Yogyakartahotels.com/ novotel

    - Ruang pertemuaan - Penukaran uang - Jasa taksi - Laundry dan pengering - Dokter 24

    Gambar 3.38 : Ruang meeting

    Sumber : www. Yogyakartahotels.com/

    Gambar 3.39 : Ruang lobby

    Sumber : www. Yogyakartahotels.com/ novotel

    Gambar 3.40 : Restauran Kayu Api

    Sumber : www. Yogyakartahotels.com/ novotel

    Gambar 3.41 : Kolam renang

    Sumber : www. Yogyakartahotels.com/ novotel

    3.3.2 Studi tentang Perancangan Pencahayaan

    Sedangkan pada perancangan pencahayaan penulis mengambil contoh bangunan hotel Burj Al- Arab di Dubai. Hotel ini mengunakan struktur membrane fasade. Disamping itu hotel ini perancangan pencahayaan pada bagain eksterior hotel hotel ini lebih dominan dari bangunan yang disekitarnya sedangankan pada bagian interior lobby hotel percahayaan mengambil bidang elemen secara horizontal dan interior ruang lainya memberikan kesan yang visual terdapat pencahayaan.

    Gambar 3.40 : Restauran Kayu Api Sumber : www. Yogyakartahotels.com/ novotel Gambar 3.41 : Kolam renangfasade . Disamping itu hotel ini perancangan pencahayaan pada bagain eksterior hotel hotel ini lebih dominan dari bangunan yang disekitarnya sedangankan pada bagian interior lobby hotel percahayaan mengambil bidang elemen secara horizontal dan interior ruang lainya memberikan kesan yang visual terdapat pencahayaan. Gambar 3.42.Eksterior Hotel Burj Al-Arab Sumber :Wikipedia.org " id="pdf-obj-41-16" src="pdf-obj-41-16.jpg">
    Gambar 3.40 : Restauran Kayu Api Sumber : www. Yogyakartahotels.com/ novotel Gambar 3.41 : Kolam renangfasade . Disamping itu hotel ini perancangan pencahayaan pada bagain eksterior hotel hotel ini lebih dominan dari bangunan yang disekitarnya sedangankan pada bagian interior lobby hotel percahayaan mengambil bidang elemen secara horizontal dan interior ruang lainya memberikan kesan yang visual terdapat pencahayaan. Gambar 3.42.Eksterior Hotel Burj Al-Arab Sumber :Wikipedia.org " id="pdf-obj-41-18" src="pdf-obj-41-18.jpg">

    Gambar 3.42.Eksterior Hotel Burj Al-Arab

    Sumber :Wikipedia.org

    Gambar 3.43. Interior Hotel Burj Al-Arab Sumber :Wikipedia.org 3.4 Kesimpulan. ∑ Unsur- unsur pewadahan/ peruangan dalam
    Gambar 3.43. Interior Hotel Burj Al-Arab Sumber :Wikipedia.org 3.4 Kesimpulan. ∑ Unsur- unsur pewadahan/ peruangan dalam
    Gambar 3.43. Interior Hotel Burj Al-Arab Sumber :Wikipedia.org 3.4 Kesimpulan. ∑ Unsur- unsur pewadahan/ peruangan dalam
    Gambar 3.43. Interior Hotel Burj Al-Arab Sumber :Wikipedia.org 3.4 Kesimpulan. ∑ Unsur- unsur pewadahan/ peruangan dalam
    Gambar 3.43. Interior Hotel Burj Al-Arab Sumber :Wikipedia.org 3.4 Kesimpulan. ∑ Unsur- unsur pewadahan/ peruangan dalam

    Gambar 3.43. Interior Hotel Burj Al-Arab

    Sumber :Wikipedia.org

    3.4 Kesimpulan.

    Unsur- unsur pewadahan/ peruangan dalam hotel wajib memenuhi ketentuan

    yang berlaku seperti ukuran standar ruang-ruang yang ada dalam hotel dan sebagainya Jenis pengelompokan ruang ada hotel dibedakan 2 yaitu front of the house (front of the house (Lobby, ruang perjamuan/ruang menerima tamu/resepsionis, ruang administrasi, kasir, kamar untuk tamu/kamar tidur, ruang pelayanan kamar hotel, elevator, restauran, bar and coffe shop, mail and keys, ruang sewa, ruang rekreasi dan olahraga) dan back of the house (laundry, housekeeping, persiapan makan, ruang mekanik, penerimaan dan penyimpanan).

    Aspek- aspek fisik hotel seperti kegiatan menginap, kegiatan makan dan minum, kegiatan rekreasi dan rileks, kegiatan khusus, kegiatan pegelolah dan karyawan dan sebagainya.

    Perancangan pencahayaan harus memperhatikan hal- hal spesifik seperti

    material, prinsip- prinsip pencahayaan, pengotimalkan cahaya alami dan buatan. Jenis pencahayaan buatan/ lampu seperti lampu pijar, lampu berpendar serta

    komposisi dan arah cahaya. Perancangan pencahayaan mempertimbangkan kualitas dari cahaya, daya pengelihatan terhadap cahaya dan ekterior, interior, landspace daari lingkungan sekitar.