Vous êtes sur la page 1sur 4

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Leukemia adalah proliferasi satu jenis atau lebih sel hematopoetik secara berlebihan, ganas, sering disertai kelainan bentuk leukosit abnormal dan dapat disertai anemia, trombositopenia dan berakhir dengan kematian (Wirawan, 2002). Menteri Kesehatan menyebutkan, berdasarkan Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) pada tahun 2010, di Indonesia kanker menjadi penyebab kematian nomor 3 dengan kejadian 7,7% dari seluruh penyebab kematian karena penyakit tidak menular, setelah stroke dan penyakit jantung. Sementara itu, kanker payudara dan kanker leher rahim merupakan jenis kanker tertinggi pada pasien rawat inap maupun rawat jalan di seluruh RS di Indonesia, dengan proporsi sebesar 28,7% untuk kanker payudara, kanker leher rahim 12,8%, leukemia 10,4%, lymphoma 8,3% dan kanker paru 7,8%(Depkes, 2013)

Leukemia yang terletak pada urutan ketiga dari jenis kanker tertinggi di Indonesia dapat ditangani dengan berbagai jenis pengobatan, salah satunya kemoterapi menggunakan obat Asparaginase (***). Obat-obat kemoterapi biasanya tersedia dalam bentuk sediaan serbuk vial injeksi, sehingga membutuhkan proses rekonstitusi dalam penggunaannya. Mengingat bahayanya obat sitotastika bagi kesehatan manusia maka perlu penanganan khusus sesuai pedoman yang telah ditetapkan oleh MenKes RI (***). Fenomena yang terjadi saat ini, masih banyak tenaga medis yang tidak menerapkan pedoman rekonstitusi obat sitostatika yang benar. Salah satu faktor penyebabnya adalah ketidaktahuan.

Ketidaktahuan akan rekonstitusi obat sitostatika yang benar dapat memberi dampak buruk pada tenaga medis yang melakukan maupun pasien yang menggunakan obat tersebut. Dampaknya apabila terpapar terlalu lama dapat mengakibatkan mutagenik, teratogenik, dan karsinogenik (Erlina, 2009). Menurut Astuti (2012), terdapat perbedaan perilaku tenaga medis sebelum dan sesudah pemberian informasi tertulis dan diadakan forum diskusi terhadap penulisan penggunaan kontrimoksazol yang benar. Mengingat kurangnya pengetahuan mengenai rekonstitusi obat sitostatika yang baik dan benar, maka diperlukan suatu seminar/pelatihan/penyuluhan bagi tenaga medis di rumah sakit Bhayangkara Palembang.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara rekonstitusi obat sitostatika sesuai pedoman yang telah ditetapkan Menteri Kesehatan? 2. Bagaimana cara rekonstitusi obat Asparaginase sesuai pedoman yang telah ditetapkan Menteri Kesehatan?

C. Tujuan Penelitian 1. Memberi gambaran cara rekonstitusi obat sitostatika sesuai pedoman yang telah ditetapkan Menteri Kesehatan. 2. Memberi gambaran cara rekonstitusi obat Asparaginase sesuai pedoman yang telah ditetapkan Menteri Kesehatan?

D. Manfaat Seminar ini diharapkan dapat memberikan manfaat : 1. Bagi tenaga medis, sebagai acuan kepada tenaga medis cara rekonstitusi obat sitostatika yang baik dan benar. 2. Bagi rumah sakit, dapat menjadi sumber informasi jika dikemudian hari akan di lakukan proses kemoterpi di rumah sakit Bhayangkara. 3. Bagi masyarakat, dapat memberikan gambaran informasi mengenai rekonstitusi obat sitostatika yang dilakukan olah tenaga medis.

Riadi Wirawan., 2002. Leukemia Limfositik Akut : Klasifikasi, etiologi, gambaran klinik dan laboratorik Majalah Kedokteran Indonesia Volume : 52, nomor : 9. Edisi : September 2002. Hal 321-326
Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH,

http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/2233-seminar-seharidalam-rangka-memperingati-hari-kanker-sedunia-2013.html

4ml=10.000 U X ml=9600 U 10000x=38400 X= 3,84 ml