Vous êtes sur la page 1sur 10

Abses Hati Amebik

Nanda Cendikia 102011025


Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA Semester 4 Fakultas Kedokteran UKRIDA 2011 Jl. Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510 www.ukrida.ac.id

Pendahuluan
Abses hati merupakan masalah kesehatan dan sosial pada beberapa negara yang berkembang seperti di Asia terutama Indonesia. Prevalensi yang tinggi biasanya berhubungan dengan sanitasi yang jelek, status ekonomi yang rendah serta gizi yang buruk. Meningkatnya arus urbanisasi menyebabkan bertambahnya kasus abses hati di daerah perkotaan dengan kasus abses hati amebik lebih sering berbanding abses hati pyogenik dimana penyebab infeksi dapat disebabkan oleh infeksi jamur, bakteri ataupun parasit.1 Abses hati merupakan infeksi pada hati yang disebabkan oleh infeksi bakteri, parasit, jamur, yang berasa dari sistem gastrointestinal dan bilier yang ditandai dengan proses supurasi dengan pembentukan pus, yang terdiri dari jaringan hati nekrotik, sel inflamasi, dan sel darah dalam parenkim hati. Pada kasus abses hati disebabkan oleh Entamoeba hystolitica yang menyerang saluran cerna dan sebagai komplikasi mengenai alat di luar saluran cerna seperti hati, paru-paru, otak, dan kulit. Amebiasis hati lebih banyak menyerang laki-laki.2,3

Anamnesis
Identitas. Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, nama orang tua atau penanggung jawab, alamat, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa dan agama.4 Keluhan Utama. Keluhan utama merupakan bagian paling penting dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis ini biasanya memberikan informasi terpenting untuk mencapai diagnosis banding, dan memberikan wawasan vital mengenai gambaran keluhan yang menurut pasien paling penting.4 Pada skenario 1, keluhan utama pasien adalah laki-laki usia 38 tahun nyeri perut kanan atas sejak 1 hr smrs. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS). RPS adalah cerita kronologis, terinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien datang berobat. Hal yang harus ditanyakan adalah.4 Waktu dan lamanya keluhan berlangsung Sifat dan beratnya serangan Lokalisasi dan penyebarannya, menetap, menjalar, atau berpindah-pindah Keluhan-keluhan yang menyertai serangan, misalnya demam Apakah keluhan baru pertama kali atau sudah berulang kali Apakah ada keluarga yang menderita keluhan yang sama Perkembangan penyakit, kemungkinan telah terjadi komplikasi atau gejala sisa Upaya yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya, jenis-jenis obat yang telah diminum oleh pasien; juga tindakan medik lain yang berhubungan dengan penyakit yang saat ini diderita Riwayat Penyakit Dahulu (RPD). RPD penting untuk mencatat secara rinci semua masalah medis yang pernah timbul sebelumnya dan terapi yang pernah diberikan, seperti adakah tindakan operasi dan anastesi sebelumnya, kejadian penyakit umum tertentu.4
2

Riwayat Pribadi dan Sosial. Secara umum menanyakan bagaimana kondisi sosial, ekonomi dan kebiasaan-kebiasaan pasien seperti merokok, mengkonsumsi alkohol, dan hal yang berkaitan. Asupan gizi pasien juga perlu ditanyakan, meliputi jenis makanannya, kuantitas dan kualitasnya. Begitu pula juga harus menanyakan vaksinasi, pengobatan, tes skrining, kehamilan, riwayat obat yang pernah dikonsumsi, atau mungkin reaksi alregi yang dimiliki pasien. Selain itu, harus ditanyakan juga bagaimana lingkungan tempat tinggal pasien. Selain itu yang juga perlu diperhatikan adalah riwayat berpergian (penyakit endemik)4 Riwayat Keluarga. Riwayat keluarga berguna untuk mencari penyakit yang pernah diderita oleh kerabat pasien karena terdapat kontribusi genetik yang kuat pada berbagai penyakit. Sedangkan riwayat sosial penting untuk memahami latar belakang pasien, pengaruh penyakit yang diderita terhadap hidup dan keluarga mereka.4

Pemeriksaan Fisik
Pertama-tama kita lihat keadaan umum (KU) si pasien, apakah sakit ringan, sedang ataupun berat. Kemudian kita ukur tanda-tanda vitalnya, seperti TD, suhu, frekuensi nadi frekuensi pernapasan. Dan jangan lupa untuk mengukur tinggi badan serta berat badan untuk mengetahui apakah penyakitnya mempengaruhi nafsu makan pasien atau apakah ada ganngguan pencernaan di saluran pencernaannya. Pada abses hati amebik terdapat demam ringan hingga tinggi, hepatomegali dan nyeri tekan, kronik-lanjut: ikterus dan tanda-tanda hipertensi portal.

Pemeriksaan Penunjang
Pada labolaturium didapatkan leukositosis dengan pergesaran ke kiri; laju endap darah, alkali fosfatase, transaminase dan serum bilirubin meningkat; konsentrasi albumin serum menurun dan waktu protrombin yang memanjang. Tes serologi ameba digunakan untuk menegakkan diagnosis AHA, sedangkan baku emas untuk AHP adalah kultur darah.2
3

Pemeriksaan foto thoraks dan foto polos abdomen: diafragma kanan meninggi, efusi pleura, atelektasis basiler, empiema atau abses paru. USG dan CT scan sangat membantu menegakkan diagnosis abses hati. Pada AHA umumnya didapatkan abses soliter, sedang pada AHP pada abses multiple.2

Diagnosis Kerja ( Abses Hati Amoeba)


Epidemiologi (dr suzanna) Abses hati lebih sering terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita, dan berhubungan dengan sanitasi yang buruk, status ekonomi yang rendah, dan gizi buruk. Pada negara-negara berkembang, abses hati amebic (AHA) didapatkan secara endemic dan lebih sring dibandingkan dengan abses hati piogenik (AHP). AHP tersebar di seluruh dunia dan banak di daerah tropis dengan kondisi higiene yang kurang baik.2 Abses hati amebic; pria : wanita berkisar 3:1 sampai 22:1. Usia berkisar 20-50 tahun, terutama di dewasa muda, jarang pada anak-anak. Penularan dapat melalui oral-anal-fekal ataupun melalui vektor (lalat dan lipas). Individu yang mudah terinfeksi adalah penduduk di daerah endemis, wisatawan ke daerah endemis atau para homoseksual.2 Etiologi (dr suzanna) AHA merupakan salah satu komplikasi amebiasis ekstraintestinal, paling sering terjadi di daerah tropis/subtropik. AHA lebih sering terjadi endemic di ngara berkembang dibanding AHP. AHA terutama disebabkan oleh E. histolytica. Didapatkan beberapa spesies amoeba yang dapat hidup sebgai parasit non patogen dalam mulut dan usus, tapi hanya Enteremoeba histolytica yang dapat menyebabkan penyakit. Hanya sebagian individu yang terinfeksi Enteremoeba histolytica yang memberi gejala invasif, sehingga di duga ada dua jenis E. Histolytica yaitu starin patogen dan non patogen. Bervariasinya virulensi strain ini berbeda berdasarkan kemampuannya menimbulkan lesi pada hepar.1

E.histolytica di dlam feces dapat di temukan dalam dua bentuk vegetatif atau tropozoit dan bentuk kista yang bisa bertahan hidup di luar tuibuh manusia. Kista dewasa berukuran 10-20 mikron, resisten terhadap suasana kering dan asam. Bentuk tropozoit akan mati dalam suasana kering dan asam. Trofozoit besar sangat aktif bergerak, mampu memangsa eritrosit, mengandung protease yaitu hialuronidase dan mukopolisakaridase yang mampu mengakibatkan destruksi jaringan.1 Patofisiologi (suzanna) Cara penularan umumnya fekal-oral baik melalui makanan atau minuman yang tercemar kista atau transmisi langsung pada orang dengan higiene buruk. Sesudah masuk per oral hanya bentuk kista yang bisa sampai ke dalam intestine tanpa dirusak oleh asam lambung, kemudian kista pecah keluar trofozoit menyebabkan terjadinya ulkus pada mukosa akibat enzim proteolitik yang dimilikinya dan bisa terbawa aliran darah portal masuk ke hati. Amuba kemudian tersangkut menyumbat venul porta intrahepatik, terjadi infark hepatosit sedangkan enzim-enzim proteolitik tadi mencerna sel parenkim hati sehingga terbentuklah abses. Di daerah sentralnya terjadi pencairan yang berwarna cokelat kemerahan anchovy sauce yanhg terdiri dari jaringan hati yang nekrotik dan berdegenerasi. Amubanya seperti ditemukan pada dinding abses dan sangat jarang ditemukan di dalam cairan bagian sentral abses. Kira-kira 25% abses hati amebic mengalami infeksi sekunder sehingga cairan absesnya menjadi purulen dan berbau busuk.2 Manifestasi Klinis Pada pasien amebiasis hati biasanya mempunyai keluhan sebagai berikut; rasa sakit di perut kanan atas, demam, rasa mual, penuh. Tidak nafsu makan, sukar tidur, berkeringat terutama malam hari, badan menjadi kurus, panas, menggigil. Buang air besar biasa atau obstpasi atu diare. Susah bernapas karena sakit. Rasa sakit menjalar ke pinggang dan ke bahu kanan. Disamping itu ada riwayat diare dengan lender dan /tanpa darah. Ditemukan pula ketegangan dip rut kanan atas dan hepatomegali.3

Diagnosis Banding
Abses Hati Pyogenic Dulu abses hati pyogenik banyak terjadi melalui infeksi porta, namun sekarang lebih sering sebagai komplikasi obstruksi saluran empedu. Paling sering disebabkan oleh bakteri gram negative yaitu E.Coli atau Klebsiella. Insiden meningkat pada kelompok usia lanjut, juga yang mendapat imunosupresan atau kemoterapi. Pria : wanita berkisar 2:1. Usia berkisar 40-60 tahun.2 Manifestasi sistemik AHP biasanya lebih berat daripada abses hati amebic. Dicurigai adanya AHP apabila ditemukan sindrom klinis klasik berupa nyeri spontan perut kanan atas, yang ditandai dengan jalan membungkuk ke depan dengan kedua tangan diletakkan di atasnya. Demam/panas tinggi merupakan keluhan paling utama, keluhan lain yaitu nyeri pada kuadran kanan atas abdomen, dan disertai dengan syok. Setelah era pemakaian antibiotic yang adekuat, gejala dan manifestasi klinis AHP adalah malaise, demam yang tidak terlalu tinggi dan nyeri tumpul pada abdomen yang menghebat dengan adanya pergerakan. Apabila abses hati piogenik letaknya dekat dengan diafragma, maka akan terjadi iritasi diafragma sehingga terjadi nyeri pada bahu sebelah kanan, batuk ataupun atelektasis. Gejala lainnya adalah rasa mual dan muntah, berkurangnya nafsu makan, terjadi penurunan berat badan, kelemahan badan, ikterus, buang air besar berwarna seperti kapur dan buang air kecil berwarna gelap.5 Hepatoma Hepatoma (karsinoma hepatoseluler) merupakan tumor ganas hati primer yang berasal dari hepatosit, demikian pula dengan karsinoma kolangioseluler, hepatoma primer yang berasal dari epitel saluran empedu intrahepatik dan angiosarkoma serta leimiosarkoma yang berasal dari sel mesnkim. Di Indonesia, HCC (Hepatocellular Carsinoma) paling banyak ditemukan pada laki-laki usia 5060 tahun. Manifestasi klinis bervariasi, dari asimtomatik hingga gagal hati. Penderita SH yang makin memburuk kondisinya perlu dicurigai kemungkinan telah timbulnya HCC. Keluhan utama yang paling sering adalah rasa tidak nyaman di perut kanan atas. Selain itu ada anoreksia, kembung, konstipasi atau diare. Juga dapat terjadi pembengkakan di perut akibat massa tumor
6

atau asites. Pada pemeriksaan fisik didapatkan hepatomegali (dengan / tanpa bruit hepatic), splenomegali, asites, ikterus, demam dan atrofi otot.2

Penatalaksanaan (kapita selekta)


Medikamentosa 1. Metronodazol. Dosis 4 x 500 mg/hari selama 5-10 hari, boleh dilanjutkan dengan satu atau bersama-sama klorokuin.3 2. Klorokuin. Dosis 3 x 250 mg/hari selama minimal 3 minggu, atau pada dua hari pertama diberikan 3 x 300 mg/hari kemudian dilanjutkan dengan 3 x 200 mg/hari selama minimal 19 hari. Pemberian preparat ini sebagai preparat tunggal perlu diikuti dengan amubisid usus, misalnya Yatren 3 x 500 mg selama seminggu/ menjelang selesai pemberian obat (kira-kira 10 hari).3 Aspirasi terapeutik dilakukan dengan tuntunan USG indikasi.3 1. Abses yang dikhawatirkan kan pecah 2. Dalam 48-72 jam tidak respons terhadap terapi medikamentosa 3. Abses di lobus kiri karena abses disini mudah pecah ke rongga pericardium atau peritoneum 4. Abses dengan serologi ameba negative 5. Abses multiple Tindakan pembedahan jarang dilakukan karena mortalitas tinggi indikasi.3 1. Abses yang sangat besar dan menonjol ke dinding abdomen atau ruang interkostal 2. Bila terapi medikamentosa dan aspirasi tidak berhasil 3. Rupture abses ke dalam rongga pleura/ intraperitoneal/ prekardial.
7

Non-medikamentosa.3 1. Istirahat di tempat tidur (bed rest) 2. Diet makanan lunak atau makanan biasa, tergantung keadaan penyakitnya.

Komplikasi
Komplikasi yang paling sering terjadi adalah rupture abses sebesar 5-5,6%. Ruptur dapat terjadi ke pleura, paru, pericardium, usus, intraperitoneal, atau kulit. Kadang-kadang dapat terjadi superinfeksi, terutama setelah aspirasi atau drainase. Saat diagnosis ditegakkan, menggambarkan keadaan penyakit yang berat, seperti peritonitid generalisata dengan mortalitas 6 7 %, kelainan pleuropulmonal, gagal hati, perdarahan ke dalam rongga abses, hemobilia, empiema, fistula hepatobronkial, rupture ke dalam perikard atau retroperitoneum. Sesudah mendapat terapi, sering terjadi diatesis hemoragik, infeksi luka, abses rekuren, perdarahan sekunder dan terjadi rekurensi atau reaktivasi abses.2

Prognosis
1. 2. 3. 4. Virulensi parasit Status imunitas dan keadaan nutrisi penderita Usia penderita, lebih buruk pada usia tua Cara timbulnya penyakit, tipe akut mempunyai prognosa lebih buruk letak dan jumlah

abses, prognosis lebih buruk bila abses di lobus kiri atau multiple. Sejak digunakan pemberian obat seperti emetine, metronidazole, dan kloroquin, mortalitas menurun secara tajam. Sebab kematian biasanya karena sepsis atau sindrom hepatorenal.

Kesimpulan
Abses hati amebik merupakan infeksi pada hati yang di sebabkan oleh Amoeba yaitu E. Histolitika. Adapun gejala-gejala yang sering timbul diantaranya demam ringan-tinggi, nyeri pada kuadran kanan atas abdomen, dll. Dan pada umumnya diagnosis yang di pakai sama seperti penyakit lain yaitu pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, danlaboratorium. Secara konvensional penatalaksanaan dapat dilakukan dengan drainase terbuka secara operasi dan antibiotik spektrum luas.

Daftar Pustaka
1. Aru W Sudoyo. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th ed. Jakarta: balai Penerbitan FK UI; 2006.h. 401-2.

2. Ndraha S. Bahan ajar gastroenterohepatologi. Jakarta: Biro Publikasi FK UKRIDA; 2013.h. 176, 181-4. 3. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, Wardhani IW, Setiowulan W. Kapita selekta kedokteran. 3rd ed. Jakarta: Media Aesculaius FK UI; 2003.h. 512-13. 4. Welsby PD. Pemeriksaan fisik dan anamnesis klinis. Jakarta: EGC; 2010.h.181-3. 5. Sudoyo WA, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata , Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid 1. 5th ed. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.693.

10