Vous êtes sur la page 1sur 23

DAFTAR ISI

Daftar Isi Pendahuluan... Laporan Kasus Studi Kasus................................................................................................. Tinjauan Pustaka. Kesimpulan. Daftar Pustaka

1 2 3 7 15 22 23

BAB I PENDAHULUAN Masalah pada lutut merupakan masalah yang umum terjadi pada orang-orang dari segala usia. Lutut adalah sendi yang menghubungkan femur dan tibia. Pada manusia lutut menyokong hampir seluruh berat tubuh, oleh karenanya lutut sangat rentan baik terhadap cedera akut maupun timbulnya penyakit radang sendi seperti osteoarthritis. Osteoartritis adalah suatu penyakit sendi menahun yang ditandai dengan adanya kemunduran pada tulang rawan (kartilago) sendi dan tulang di dekatnya, yang bisa menyebabkan nyeri sendi dan kekakuan. Pada umumnya osteoarthritis terjadi pada wanita usia lanjut. Gejala biasanya timbul secara bertahap dan pada awalnya hanya mengenai satu atau sedikit sendi. Sendi yang sering terkena adalah sendi jari tangan, pangkal ibu jari, leher, punggung sebelah bawah, jari kaki yang besar, panggul dan lutut. Nyeri biasanya akan bertambah buruk jika melakukan aktivitas dalam waktu yang lama. Kekakuan pada sendi juga terjadi ketika bangun tidur atau pada kegiatan non-aktif lainnya, tetapi kekakuan ini biasanya menghilang dalam waktu 30 menit setelah mereka kembali menggerakkan sendinya. Kerusakan karena orteoartritis semakin memburuk, sehingga sendi menjadi sukar digerakkan dan pada akhirnya akan terhenti pada posisi tertekuk. Pertumbuhan baru dari tulang, tulang rawan dan jaringan lainnya bisa menyebabkan membesarnya sendi, dan tulang rawan yang kasar menyebabkan terdengarnya suara gemeretak pada saat sendi digerakkan.

BAB II LAPORAN KASUS Seorang wanita usia 67 tahun, datang ke tempat praktek anda sebagai dokter umum, mengeluh nyeri pada ke dua lutut, terutama pada lutut kanan. Nama Usia Pekerjaan Perkawinan Alamat : Ny. Minah : 67 tahun : Pensiunan PNS Golongan 1 : Janda, 4 anak, 8 cucu : Jl. Pala, Jakarta Selatan

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengeluh nyeri dirasakan sejak 6 bulan terakhir. Keluhan nyeri meningkat jika berjalan lama, atau saat berubah posisi dari duduk ke berdiri. Nyeri berkurang saat istirahat berbaring. Jika tidak sanggup menahan nyeri, penderita minum obat anti nyeri yang dijual bebas di warung. Sejak 7 hari yang lalu, lutut kanan mulai membengkak dan kemerahan. Penderita mengaku menerima pesanan catering untuk 100 orang 7 hari yang lalu, sehingga banyak berdiri dan berjalan. Pasien juga mengeluh kaku lutut pada pagi hari selama 10 menit saat bangun tidur, setelah itu rasa kaku berangsur berkurang setelah aktivitas. Pasien mengaku berat badan meningkat 10 kg selama 3 bulan terakhir. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien menyangkal adanya riwayat: jatuh, bengkak sendi, demam lama, kencing manis, darah tinggi, dan penyakit jantung.

Riwayat Sosial-Ekonomi Pasien adalah pensiunan tenaga Administrasi di SMA Negeri, tinggal bersama anak pertama yang memiliki 2 orang anak. Pasien tinggal di lantai dasar. Rumah yang ditempati memilki kloset jongkok. Pasien memiliki Asuransi Kesehatan Pegawai Negri Sipil. Status generalis Kesadaran compos mentis, tampak kesakitan saat berjalan sehingga agak pincang (antalgic gait), tidak tampak pucat. Tekanan darah : 130/80 mmHg Nadi : 90x/menit Suhu : 36 derajat Celcius Pernafasan : 20x/menit BB : 75 kg TB : 150 cm Status lokalis lutut

Look

: kedua lutut membesar, tampak deformitas valgus pada ke dua lutut, pada lutut kanan tampak kemerahan dan oedem.

Feel

: didapatkan nyeri tekan pada lutut kanan, saat dilakukan pengukuran didapatkan diameter lutut kanan 42 cm, sedangkan lutut kiri 40 cm. Pada pemeriksaan ballotemen ditemukan adanya efusi pada sendi lutut kanan. Pemeriksaan uji valgus dan varus didapatkan kesan sendi lutut tidak stabil terutama pada pemeriksaan uji varus.

Move

: lingkup gerak sendi aktif ke dua lutut normal, tetapi terdapat suara krepitasi saat digerakkan, kekuatan otot normal.

Hasil Pemeriksaan Penunjang Dari gambaran radiologi didapatkan hasil sebagai berikut :

Anterior-Posterior

Lateral

Dari Aspirasi cairan sendi didapatkan; Makroskopis : jernih, kekuningan, viscositas kental Mikroskopis : leukosit <2000/ L, eritrosit (-), differential <25% pmn, culture (-)

Laboratorium darah rutin Leukosit Eritrosit LED :N :N :N : (-) : (-) :4

Rheumatoid factor C-reactive protein Asam urat

BAB III STUDI KASUS

Daftar Masalah Wanita, 67 tahun (usia lanjut)

Hipotesis dan Analisis Osteoporosis Osteoarthritis

Nyeri pada kedua lutut, terutama lutut kanan

Fraktur os patella Dislokasi articulatio genu Kelelahan otot/ muscle fatigue Osteoarthritis Gout arthritis Rheumatoid arthritis

Bengkak dan kemerahan pada lutut kanan Osteoarthritis yang diperberat dengan 7 hari yang lalu (7 hari yang lalu, ia menerima pesanan catering untuk 100 orang sehingga banyak berdiri dan berjalan) Kaku sendi di pagi hari selama 10 menit, berangsur berkurang setelah beraktivitas BB meningkat 10 kg selama 3 bulan terakhir Nyeri tekan pada lutut kanan Rheumatoid arthritis Osteoarthritis Menambah berat beban pada articulatio genu Adanya inflamasi pada osteoarthritis, Iritasi ujung saraf oleh osteofit pada aktivitas Kelelahan otot karena overuse

sinovium pada osteoarthritis Berjalan agak pincang Sendi lutut tidak stabil, terutama pada pemeriksaan varus Efusi pada sendi lutut kanan Adanya peradangan pada sinovium (sinovitis) Suara krepitasi saat lutut digerakkan -Pergeseran fragmen fraktur pada fraktur os patella -Ciri khas dari osteoarthritis Karena adanya nyeri saat berjalan Destruksi tulang rawan

Dari beberapa keterangan diatas bias ditambahkan beberapa anamnesis tambahan yang mungkin diperlukan seperti : Apakah sebelumnya pernah terjatuh atau lutut pasien terbentur benda keras? Sejak kapan nyeri terjadi? Apakah nyeri bertambah atau berkurang pada saat istirahat? Apakah nyeri bertambah jika disertai dengan gerakan? Apakah nyeri timbul setelah duduk di kursi dalam waktu yang cukup lama? Apakah nyeri terjadi setelah bangun tidur di pagi hari? Apakah ada rasa gemertak (kadang-kadang dapat didengar) pada sendi yang sakit? Bagaimana posisi kerja pasien ketika sedang bekerja? Sudah berapa lama pasien meminum obat yang dia beli di warung?

Obat apa yang pasien minum?

Pada anamnesis tentang riwayat penyakit dahulu, pasien menyangkal adanya riwayat jatuh sehingga hipotesis fraktur os patella dan dislokasi articulatio genu pun bisa dihilangkan. Sedangkan pada pemeriksaan laboratorium darah yang akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya, didapatkan asam urat : 4 yang merupakan angka normal untuk kadar asam urat di dalam darah, sehingga hipotesis yang menyatakan pasien menderita gout arthritis bisa diabaikan. Selain itu, biasanya gout arthritis terjadi pada sendi-sendi kecil seperti di ibu jari kaki dan

metacarpophalangeal, jarang terjadi pada sendi besar seperti di lutut. Di dalam cairan sendi pasien pun tidak ditemukan adanya kristal asam urat. Untuk diagnosis rheumatoid arthritis, dibutuhkan beberapa kriteria tambahan seperti arthritis pada tiga daerah sendi atau lebih, arthritis pada sendi tangan, arthritis yang simetris bilateral, serta adanya faktor rheumatoid yang tidak ditemukan pada pasien ini, sehingga hipotesis rheumatoid arthritis pun bisa diabaikan. Sedangkan pada pemeriksaan fisik lainnya, didapatkan kekuatan otot normal sehingga hipotesis kelelahan otot juga bisa dicoret. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium yang didapat, diagnosis lebih mengarah kepada osteoarthritis pada sendi lutut. Hal ini didukung dengan adanya nyeri lutut, krepitasi, kaku sendi dan faktor usia yang lebih dari 50 tahun, karena osteoarthritis termasuk penyakit degeneratif mekanik yang disebabkan oleh berkurangnya cairan sendi sebagai pelumas sehingga lebih sering terjadi friksi. Hal itu diperparah dengan pergerakan sendi yang sering dan beban yang berat, seperti pada kasus ini di mana pasien yang kelebihan berat badan akan semakin memperberat beban pada sendi lututnya sebagai sendi penumpu tubuh, ditambah lagi aktivitas yang banyak berjalan dan berdiri membuat pergerakan sendi semakin sering dan terjadi

friksi terus-menerus. Selain itu, menurut penelitian, osteoarthritis lebih sering terjadi pada wanita lanjut usia daripada pada laki-laki, dengan perbandingan 4 : 1. Pembahasan tentang gambaran laboratorium dan radiologis dari osteoarthritis akan dijelaskan pada bagian selanjutnya.

GAMBARAN RADIOLOGI Pada gambaran radiologis didapatkan penyempitan sela sendi pada bagian medial articulatio genu dextra medial dan pelebaran pada articulation genu dextra lateral. Ada juga sejumlah osteofit dan kista subkondral besar dimana kemungkinan sudah terjadi friksi antara satu tulang dengan tulang lainnya.

DIAGNOSIS KERJA Untuk menentukan diagnosis OA lutut pada pasien ini dapat digunakan kriteria Altman sebagai pedoman diagnosis OA lutut.(1,9) 1. Bila hanya ditemukan nyeri lutut, maka untuk diagnosis OA harus ada 3 dari 5 kriteria yaitu : Umur > 50 tahun Kaku sendi pagi hari < 30 menit Adanya nyeri tekan Pembesaran tulang Perabaan sendi tidak panas

10

2. Bila ada gambaran osteofit pada radiologi, maka dibutuhkan 1 dari 3 kriteria tambahan, yaitu : Umur > 50 tahun Kaku sendi < 30 menit Krepitasi

Dari kriteria diatas dan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang yang didapat, maka kelompok kami setuju bahwa diagnosis untuk pasien ini adalah Osteoarthritis Primer pada Articulatio Genu Dextra Derajat 4. Hal ini dikarenakan adanya gejala klinis dan gambaran radiologis yang merujuk ke osteoarthritis derajat 4 yang dikelompokkan oleh Kellgren dan Lawrence(2) seperti penyempitan celah sendi yang berat, adanya osteofit yang cukup besar, terjadinya deformitas, dan adanya sclerosis serta kista subkondral. Serta osteoarthritis yang muncul bukanlah penyebab dari penyakit lain sebelumnya sehingga kami menyimpulkan pasien ini menderita osteoarthritis primer. PENATALAKSANAAN Prinsip penatalaksanaan OA bertujuan untuk menghilangkan keluhan, mengoptimalkan fungsi sendi, mengurangi ketergantungan dan meningkatkan kualitas hidup, menghambat progresivitas penyakit dan mencegah komplikasi. Ada dua prinsip terapi yaitu non medika mentosa (edukasi, terapi fisik, diet, penurunan berat badan), medika mentosa (analgetik, kortikosteroid lokal, sistemik, kondroprotektif dan biologik), dan pembedahan.

11

Terapi non Medika Mentosa :


1. Edukasi sangat penting bagi semua pasien OA. Dua hal yang menjadi tujuan

edukasi adalah bagaimana mengatasi nyeri dan disabilitas. Pemberian edukasi pada penderita ini sangat penting karena dengan edukasi diharapkan pengetahuan penderita mengenai penyakit OA menjadi meningkat dan pengobatan menjadi lebih mudah serta dapat diajak bersama-sama untuk mencegah kerusakan organ sendi lebih lanjut.3 Edukasi yang kami berikan pada penderita ini yaitu memberikan pengertian bahwa OA adalah penyakit yang kronik, sehingga perlu dipahami bahwa mungkin dalam derajat tertentu akan tetap ada rasa nyeri, kaku dan keterbatasan gerak serta fungsi. Selain itu juga kami memberi pemahaman bahwa hal tersebut perlu dipahami dan disadari sebagai bagian dari realitas kehidupannya. Kami juga menyarankan agar rasa nyeri dapat berkurang, maka pasien sedianya mengurangi aktivitas/pekerjaannya sehingga tidak terlalu banyak menggunakan sendi lutut dan lebih banyak beristirahat. Pasien juga kami sarankan untuk kontrol kembali sehingga dapat diketahui apakah penyakitnya sudah membaik atau ternyata ada efek samping akibat obat yang diberikan(3) 2. Terapi fisik dan rehabilitasi, terapi ini untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dapat digunakan dan melatih pasien untuk melindungi sendi yang sakit.(4) 3. Diet untuk menurunkan berat badan pasien OA yang gemuk harus menjadi program utama pasien OA. Dengan penurunan berat badan maka beban yang ditopang oleh sendi akan berkurang sehingga dapat mengurangi friksi antar tulang(5) 4. Memperbaiki abnormalitas sendi lutut yang membengkok dengan brace atau
12

patellar taping atau lapisan dalam sepatu (shoe insert) jika tidak membaik dengan terapi medis lainnya

Terapi Medika Mentosa : a. Analgesik oral non opiat, pada umumnya pasien telah mencoba untuk mengobati sendiri penyakitnya, terutama dalam hal mengurangi atau menghilangkan rasa sakit. Banyak sekali obat-obatan yang dijual bebas yang mampu mengurangi rasa sakit. b. Obat anti inflamasi non steroid (OAINS), obat golongan ini selain memiliki efek analgetik juga memiliki efek anti inflamasi. Oleh karena pasien OA kebanyakan usia lanjut, maka pemberian obat-obatan jenis ini harus sangat berhati-hati. Jadi pilihlah obat yang efek sampingnya minimal dan dengan cara pemakaian yang sederhana, di samping itu pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya efek samping selalu harus dilakukan. c. Chondroprotective agent, adalah obat-obatan yang dapat menjaga atau merangsang perbaikan (repair) tulang rawan sendi pada pasien OA. Yang termasuk obat kelompok ini adalah: tetrasiklin, asam hialuronat, kendroitin sulfat, glikosaminoglikan, vitamin-C, superoxide desmutase dan sebagainya.(5) Terapi Bedah : Terapi ini diberikan apabila terapi medikamentosa tidak berhasil untuk mengurangi rasa sakit dan juga untuk melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang mengganggu aktivitas sehari-hari.(5)

13

PROGNOSIS Ad vitam : Ad bonam Menunjuk pada pengaruh penyakit pada proses kehidupan apakah penyakit cenderung menuju kepada proses kematian atau akan kembali sehat seperti semula. Pada pasien dengan osteoarthritis, radang sendi ini tidak menyebabkan kematian. Ad sanationam : Dubia Ad malam Menunjuk pada penyakit yang dapat hilang 100% sehingga pasien kembali ke keadaan semula atau penyakit akan menetap dan menimbulkan kecacatan. Osteoartritis merupakan penyakit degenerasi yang terjadi seiring bertambahnya umur seseorang. Oleh karena itu prognosis pada pasien ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan osteoarthritis dapat terjadi kembali jika berat badan tidak dijaga dan aktivitas sendi lutut terlalu berlebihan. Ad functionam : Dubia Ad bonam Menunjuk pada pengaruh penyakit terhadap fungsi organ dan fungsi manusia dalam menjalankan tugasnya. Pada pasien ini kemungkinan fungsi lutut akan membaik jika penatalaksanaannya baik seperti melakukan penurunan berat badan, fisoterapi, dan lain-lain.

14

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI OSTEOARTHRITIS Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi degeneratif dengan etiologi dan patogenesis yang belum jelas serta mengenai populasi luas. Pada umumnya penderita OA berusia di atas 40 tahun dan populasi bertambah berdasarkan peningkatan usia. Osteoartritis merupakan gangguan yang disebabkan oleh multifaktorial antara lain usia, mekanik, genetik, humoral dan faktor kebudayaan.(6) Osteoartritis merupakan suatu penyakit dengan perkembangan slow progressive, ditandai adanya perubahan metabolik, biokimia, struktur rawan sendi serta jaringan sekitarnya, sehingga menyebabkan gangguan fungsi sendi. Kelainan utama pada OA adalah kerusakan rawan sendi yang dapat diikuti dengan penebalan tulang subkondral, pertumbuhan osteofit, kerusakan ligamen dan peradangan ringan pada sinovium, sehingga sendi yang bersangkutan membentuk efusi.(7) Osteoarthritis dapat terjadi di vertebra, articulatio genu, articulation coxae, dan sebagian kecil di interphalang. Osteoartritis diklasifikasikan menjadi 2 kelompok, yaitu OA primer dan OA sekunder. Osteoartritis primer disebut idiopatik, disebabkan faktor genetik, yaitu adanya abnormalitas kolagen sehingga mudah rusak. Sedangkan OA sekunder adalah OA yang didasari kelainan endokrin, inflamasi, metabolik, pertumbuhan, mikro dan makro trauma, imobilitas yang terlalu lama serta faktor risiko lainnya, seperti obesitas

15

dan sebagainya.(8)

PATOFISIOLOGI OSTEOARTHRITIS Pada osteoartritis (primer maupun sekunder), proses perjalanan atau patofisiologi penyakit dapat dibagi dan diterangkan sebagai berikut : a. Degradasi rawan. Terjadinya OA tidak lepas dari banyak persendian yang ada di dalam tubuh manusia. Sebanyak 230 sendi menghubungkan 206 tulang yang memungkinkan terjadinya gesekan. Untuk melindungi tulang dari gesekan, di dalam tubuh ada tulang rawan. Namun karena berbagai faktor risiko yang ada, maka terjadi erosi pada tulang rawan dan berkurangnya cairan pada sendi. Tulang rawan sendiri berfungsi untuk meredam getar antar tulang. Tulang rawan terdiri atas jaringan lunak kolagen yang berfungsi untuk menguatkan sendi, proteoglikan yang

membuat jaringan tersebut elastis dan air (70% bagian) yang menjadi bantalan, pelumas dan pemberi nutrisi.(10) Kondrosit adalah sel yang tugasnya membentuk proteoglikan dan kolagen pada rawan sendi. Osteoartritis terjadi akibat kondrosit gagal mensintesis matriks yang berkualitas dan memelihara keseimbangan antara degradasi dan sintesis matriks ekstraseluler, termasuk produksi kolagen tipe I, III, VI dan X yang berlebihan dan sintesis proteoglikan yang pendek. Hal tersebut menyebabkan terjadi perubahan pada diameter dan orientasi dari serat kolagen yang mengubah biomekanik dari tulang rawan, sehingga tulang rawan sendi kehilangan sifat kompresibilitasnya yang unik.(11) Proses degradasi timbul sebagai akibat dari ketidakseimbangan antara regenerasi (reparasi) dengan degenerasi rawan sendi melalui beberapa tahap yaitu

16

fibrilasi, pelunakan, perpecahan dan pengelupasan lapisan rawan sendi. Proses ini dapat berlangsung cepat atau lambat. Yang cepat dalam waktu 10 15 tahun, sedang yang lambat 20 30 tahun. Akhirnya permukaan sendi menjadi botak tanpa lapisan rawan sendi.
b. Osteofit.

Bersama timbulnya dengan degenerasi rawan, timbul reparasi. Reparasi tersebut berupa pembentukan osteofit di tulang subkondral, yang berasal dari proses kalsifikasi.
c. Sklerosis subkondral.

Pada tulang subkondral terjadi reparasi berupa sclerosis (pemadatan/ penguatan tulang tepat di bawah lapisan rawan yang mulai rusak). d. Sinovitis. Sinovitis adalah inflamasi dari sinovium dan terjadi akibat proses sekunder degenerasi dan fragmentasi. Matriks rawan sendi yang putus terdiri dari kondrosit yang menyimpan proteoglycan yang bersifat immunogenik dan dapat mengaktivasi leukosit. Sinovitis dapat meningkatkan cairan sendi. Cairan lutut yang mengandung bermacam-macam enzim akan tertekan ke dalam celah-celah rawan. Ini mempercepat proses pengerusakan rawan. Pada tahap lanjut terjadi tekanan tinggi dari cairan sendi terhadap permukaan sendi yang botak. Cairan ini akan didesak ke dalam celah-celah tulang subkondral dan akan menimbulkan kantong yang disebut kista subkondral.(12)

17

GEJALA KLINIS OSTEOARTHRITIS Pada umumnya, gambaran klinis osteoartritis berupa nyeri sendi, terutama bila sendi bergerak atau menanggung beban, yang akan berkurang bila penderita beristirahat. Nyeri dapat timbul akibat beberapa hal, termasuk dari periostenum yang tidak terlindungi lagi,mikrofaktur subkondral, iritasi ujung-ujung saraf di dalam sinovium oleh osteofit, spasme otot periartikular, penurunan aliran darah di dalam tulang dan peningkatan tekanan intraoseus dan sinovitis yang diikuti pelepasan prostaglandin, leukotrien dan berbagai sitokin. Selain nyeri, dapat pula terjadi kekakuan sendi setelah sendi tidak digerakkan beberapa lama (gel phenomenon), tetapi kekakuan ini akan hilang setelah sendi digerakkan. Jika terjadi kekakuan pada pagi hari, biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit ( tidak lebih dari 30 menit ). Gambaran lainnya adalah keterbatasan dalam bergerak, nyeri tekan lokal, pembesaran tulang di sekitar sendi, efusi sendi dan krepitasi. Keterbatasan gerak biasanya berhubungan dengan pembentukan osteofit, permukaan sendi yang tidak rata akibat kehilangan rawan sendi yang berat atau spasme dan kontraktur otot periartikular. Nyeri pada pergerakan dapat timbul akibat iritasi kapsul sendi, periostitis dan spasme otot periartikular.(11)

18

DERAJAT OSTEOARTHRITIS Menurut kriteria Kellgren and Lawrence perubahan radiologis pada OA terjadi dalam 5 stadium/derajat: Derajat 0 : Normal Derajat 1 : Osteoarthritis meragukan, dengan gambaran sendi normal, tetapi terdapat osteofit minimal Derajat 2 : osteoartritis minimal dengan osteofit pada 2 tempat, tidak terdapat sklerosis dan kista subkondral, serta celah sendi baik Derajat 3 : osteoartritis moderat dengan osteofit moderat, deformitas ujung tulang, dancelah sendi sempit Derajat 4 : osteoarthritis berat dengan osteofit besar, deformitas tulang, celah sendi hilang serta adanya sclerosis dan kista subkondral(2)

FAKTOR-FAKTOR RISIKO OSTEOARTRITIS Umur Prevalensi dan beratnya OA semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Umumnya, penderita OA berumur di atas 60 tahun. Namun, OA juga dapat terjadi pada orang yang berusia di bawah 40 tahun yang diakibatkan oleh faktor lainnya. Jenis kelamin Di bawah usia 45 tahun, frekuensi OA pada pria dan wanita kurang lebih sama. Tetapi di atas 50 tahun (setelah menopause) frekuensi OA lebih banyak pada wanita daripada pria dengan perbandingan wanita : pria = 4 : 1. Suku bangsa OA paha lebih jarang di antara orang-orang kulit hitam dan Asia daripada
19

Kaukasia. OA lebih sering dijumpai pada orang-orang Amerika asli (Indian) daripada orang-orang kulit putih. Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan.

Genetik Adanya mutasi dalam gen prokolagen II atau gen-gen structural lain untuk unsur-unsur tulang rawan sendi seperti kolagen tipe IX dan XII, protein pengikat atau proteoglikan dikatakan berperan dalam timbulnya

kecenderungan familia pada OA tertentu (terutama OA banyak sendi). Kegemukan Berat badan berlebih akan meningkatkan beban mekanis yang harus ditopang tubuh. Cedera sendi, pekerjaan, dan olah raga Beban benturan yang berulang dapat menjadi suatu faktor penentu lokasi pada orang-orang yang mempunyai predisposisi OA dan dapat berkaitan dengan perkembangan dan beratnya OA. Kelainan pertumbuhan Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha (misalnya penyakit Perthes dan dislokasi kongenital paha) dikaitkan dengan timbulnya OA paha pada usia muda. Kepadatan tulang Tulang yang lebih padat (keras) tak membantu mengurangi benturan beban yang diterima oleh tulang rawan sendi. Akibatnya tulang rawan sendi menjadi
20

lebih mudah robek.(5)

KOMPLIKASI Osteoartritis merupakan penyakit degeneratif yang akan terus berlangsung seiring bertambahnya usia. OA menyebabkan rasa nyeri pada sendi yang terkena saat digerakan disertai penurunan rentang gerak karena telah terjadi kalsifikasi juga deformitas. Nyeri sendi dan kekakuan dapat menyebabkan seseorang sulit untuk melakukan aktivitas. Bahkan beberapa orang tidak lagi mampu bekerja. Nyeri yang diderita dapat membuat pasien takut untuk menggerakan kakinya. Hal ini apabila berlangsung lama dapat meyebabkan sedentary life style yaitu kegiatan menetap termasuk duduk, membaca, menonton televisi dan menggunakan komputer untuk banyak hari dengan sedikit atau tidak ada latihan fisik yang kuat. Sebuah gaya hidup yang dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular, depresi dan obesitas. Bahkan apabila pasien tidak mau untuk menggerakan kakinya dalam waktu yang lama dapat terjadi atrofi otot.(13,14)

21

BAB IV KESIMPULAN

Osteoartritis (OA) adalah penyakit sendi degeneratif dengan etiologi dan patogenesis belum jelas, yang ditandai dengan kehilangan tulang rawan sendi secara bertingkat. Kelainan utama pada OA adalah kerusakan rawan sendi, dapat diikuti dengan penebalan tulang subkondral, pertumbuhan osteofit, kerusakan ligamen dan peradangan ringan sinovium, sehingga sendi bersangkutan membentuk efusi. Osteoartritis umumnya menyerang penderita berusia lanjut pada sendi-sendi penopang berat badan, seperti sendi lutut, panggul (koksa), lumbal dan servikal. Lutut

merupakan sendi yang paling sering dijumpai terserang OA dari sekian banyak sendi yang dapat terserang OA. Osteoartritis lutut merupakan penyebab utama rasa sakit danketidakmampuan dibandingkan OA pada bagian sendi lainnya. Terapi utama untuk kasus ini adalah terapi simptomatis dengan

menghilangkan nyeri dan juga diet untuk penurunan berat badan agar beban pada sendi yang terkena osteoarthritis dapat lebih ringan dan tidak memperberat penyakit tersebut.

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Rumawas RT. 1995. Osteoartritis Dari Segi Neurologi. Cermin Dunia Kedokteran. 104; p. 35-6 2. Milne AD, Evans NA, Stanish WD. Nonoperative Management of Knee Osteoarthritis. In: Hartono IM. Studi komparasi antara WOMAC index dengan Kellgren-Lawrence grading system pada penderita osteoarthritis genu [PPDS1 thesis]. Semarang: Medical Faculty Diponegoro University; 2007. p. 12 3. Cailliet R. 1980. Knee Pain and Disability. Philadelphia : F.A Davis; p.130 4. Hutton CW. 1990. Treatment, Pain, and Epidimiology of Osteoarthritis. Current Opinion In Rheumatology. 2nd Ed. p.7659 5. Sudoyo AW, Setiyohadi B. Et al. 2010. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3. 5 th ed. Jakarta; p. 2546-8 6. Poole A.R. 2001. Cartilage in Health and Disease. In : Arthritis and Allied Conditions. Text Book of Rheumatology. 4th Ed. Philadelphia, p. 226-84 7. Setiyohadi Bambang. 2003. Osteoartritis Selayang Pandang. Dalam Temu Ilmiah Reumatologi. Jakarta : p. 27 31 8. Darmojo R. Boedhi, Martono H. Hadi. 1999. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta : Balai Penerbit FK UI : p. 1 7 9. Altman R.D. 1991. Criteria for the Classification of Osteoarthritis. Journal of Rheumatology. 27 (suppl) : p. 10 12 10. Felson D.T, Zhang Y., Hannan M.T., et al. 1995. The Incidence and Natural History of Knee Osteoarthritis in the Elderly : The Framingham Osteoarthritis Study. Arthritis Rheumatology; 38 : p.1500-05. 11. Price Sylvia A., Wilson Lorraine M. 1995. Patofisiologi, Konsep Klinis Prosesproses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC; p. 1218-22 12. Mayo clinic staff . Osteoarthritis. Available at : http://www.mayoclinic.com/health/osteoarthritis/DS00019/DSECTION=comp lications. Accesed on: 19 October 2011. Updated on: 2 August 2011 13. Corwin EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi. 3th ed. (Diterjemahkan oleh : Subekti NB). EGC: Jakarta. P.332-46

23