Vous êtes sur la page 1sur 14

Nama Npm

: Amelia M. Syahutami : 1102009024

ASMA BRONKIAL
IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis Kelamin Status Masuk RS : Ny. E : 70 tahun : Perempuan : Belum menikah : 4 April 2013

ANAMNESIS Autoanamnesis Keluhan utama: Sesak napas mendadak sejak 4 jam SMRS. Riwayat Penyakit Sekarang: Os datang dengan keluhan sesak napas sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit. Sesak napas disertai dengan batuk, sehingga pasien merasa semakin sesak. Sesak dirasa paling sering pada malam hari dan tidur pasien pun terganggu karena sesaknya. Sesak dirasa timbul hampir setiap malam. Pasien mengaku serangan terjadi bila pasien terkena udara dingin. Pasien mengaku memiliki riwayat asma. Pasien juga mengeluhkan sakit badan seluruh badan dan kepala pusing Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien mengakui memiliki riwayat asma dan tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Riwayat penyakit keluarga: Riwayat pekerjaan, sosial, ekonomi dan kebiasaan: Riwayat merokok tidak ada. Pemeriksaan umum: Kesadaran : Komposmentis Keadaan umum : tampak sakit ringan Tekanan darah :130/80 mmHg Nadi : 80 x/menit Nafas : 28 x/menit Suhu : 36.5 C0 Pemeriksaan Fisik Mata : konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil bulat isokor. Leher : Pembesaran KGB (-) Thoraks

Paru : Inspeksi : gerakan dada kanan dan kiri simetris Palpasi : fremitus kanan dan kiri sama Perkusi : sonor pada seluruh lapangan paru Auskultasi : VBS kanan=kiri, rhonki +/+, wheezing +/+ Jantung Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat Palpasi : iktus kordis teraba Perkusi : Dalam batas normal Auskultasi : suara jantung normal, suara tambahan (-) Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

: perut datar, asites (-) : perut supel, nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), hepar dan lien tidak teraba : timpani pada 4 kuadran abdomen : bising usus normal

Ekstremitas (superior dan inferior): Akral hangat, edema (-) Pemeriksaan Penunjang Hasil laboratorium : Darah rutin: Hb : 13.6 g/dL Leukosit : 18.700/L Hematokrit : 45% GDS : 69 mg/dL RESUME Ny. E, 70 tahun datang dengan keluhan sesak napas sejak 4 jam sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Sesak napas bertambah bila pasien batuk. Pasien mengakui riwayat penyakit asma. Dari pemeriksaan fisik didapatkan frekuensi pernapasan meningkat, auskultasi didapatkan suara mengi/wheezing pada kedua lapangan paru. Dari pemeriksaan penunjang didapatkan leukositosis dan hipoglikemia DAFTAR MASALAH Asma Bronkial persisten sedang PENGKAJIAN MASALAH Asma bronkial karena ditemukan : - sesak nafas - Rhonki - Wheezing - Riwayat asma RENCANA PENATALAKSANAAN Non medikamentosa : Hindari faktor pencetus, bed rest

Medikamentosa

: Asering 20 tpm Cefotaxime 2x1 ampul Ranitidin 2x1 ampul Deksametason 3x1 ampul O2

PEMBAHASAN
DEFINISI ASMA BRONKIAL Asma adalah penyakit paru dengan karakteristik: 1) Obstruksi saluran nafas yang reversibel (tetapi tidak lengkap pada beberapa pasien) baik secara spontan maupun pengobatan; 2) Inflamasi saluran nafas; 3) peningkatan respon saluran nafas terhadap berbagai rangsangan (hipereaktivitas) PREVALENSI Prevalensi asma dipengaruhi oleh banyak faktor. Antara lain jenis kelamin, umur pasien, status atopi, faktor keturunan serta faktor lingkungan. Prevalensi anak laki-laki berbanding anak perempuan pada masa kanak-kanak 1,5:1. Tetapi menjelang dewasa perbandingan tersebut menjadi lebih kurang sama dan pada masa menopause perempuan lebih banyak dari laki-laki. Di Indonesia prevalensi asma berkisar antara 5-7%. KLASIFIKASI Berat-ringannya asma ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain gambaran klinik sebelum pengobatan (gejala, eksaserbasi, gejala malam hari, pemberian obat inhalasi -2 agonis dan uji faal paru) serta obat-obat yang digunakan untuk mengontrol asma (jenis obat, kombinasi obat dan frekuensi pemakaian obat). Tidak ada suatu pemeriksaan tunggal yang dapat menentukan berat-ringannya suatu penyakit. Dengan adanya pemeriksaan klinis termasuk uji faal paru dapat menentukan klasifikasi menurut berat-ringannya asma yang sangat penting dalam penatalaksanaannya. Asma diklasifikasikan atas asma saat tanpa serangan dan asma saat serangan (akut): 1. Asma saat tanpa serangan Pada orang dewasa, asma saat tanpa serangan, terdiri dari: 1) Intermitten; 2) Persisten ringan; 3) Persisten sedang; dan 4) Persisten berat (Tabel.1) 2. Asma saat serangan Klasifikasi derajat asma berdasarkan frekuensi serangan dan obat yang digunakan sehari-hari, asma juga dapat dinilai berdasarkan berat ringannya serangan. Global Initiative for Asthma (GINA) membuat pembagian derajat serangan asma berdasarkan gejala dan tanda klinis, uji fungsi paru, dan pemeriksaan laboratorium. Derajat serangan menentukan terapi yang akan diterapkan. Klasifikasi tersebut meliputi asma serangan ringan, asma serangan sedang dan asma serangan berat. Perlu dibedakan antara asma (aspek kronik) dengan serangan asma

(aspek akut). Sebagai contoh: seorang pasien asma persisten berat dapat mengalami serangan ringan saja, tetapi ada kemungkinan pada pasien yang tergolong episodik jarang mengalami serangan asma berat, bahkan serangan ancaman henti napas yang dapat menyebabkan kematian.

PATOGENESIS Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas dan disebabkan oleh hiperreaktivitas saluran napas yang melibatkan beberapa sel inflamasi terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel yang menyebabkan pelepasan mediator seperti histamin dan leukotrin yang dapat mengaktivasi target saluran napas sehingga terjadi bronkokonstriksi, kebocoran mikrovaskular, edema dan hipersekresi mukus. Inflamasi saluran napas pada asma merupakan proses yang sangat kompleks melibatkan faktor genetik, antigen dan berbagai sel inflamasi, interaksi antara sel dan mediator yang membentuk proses inflamasi kronik. Proses inflamasi kronik ini berhubungan dengan peningkatan kepekaan saluran napas sehingga memicu episode mengi berulang, sesak napas, batuk terutama pada malam hari. Hiperresponsivitas saluran napas adalah respon bronkus berlebihan yaitu penyempitan bronkus akibat berbagai rangsang

ASMA :

Inflamasi kronis saluran nafas Pemicu Hipereaktivitas


Banyak sel : Sel mast, Eosinofil, Netrofil, Limfosit Melepas mediator : Histamin, PG, Leukotrien, Platelet activating factor, dll

Bronkokonstriksi, hipersekresi mukus, edema saluran napas

Obstruksi difus saluran nafas DIAGNOSIS

Batuk, Mengi, Sesak

Diagnosis asma didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis

Anamnesis meliputi adanya gejala yang episodik, gejala berupa batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan variabiliti yang berkaitan dengan cuaca. Tetapi kadangkadang pasien hanya mengeluh batuk-batuk saja yang umumnya timbul malam hari atau sewaktu kegiatan jasmani. Faktor faktor yang mempengaruhi asma, riwayat keluarga dan adanya riwayat alergi. Faktor-faktor pencetus pada asma : 1. Infeksi virus saluran nafas 2. Pemajanan terhadap alergen tungau, debu rumah, bulu binatang 3. Pemajanan terhadap iritan asap rokok, minyak wangi 4. Kegiatan jasmani : lari 5. Lingkungan kerja : uap zat kimia 6. Obat-obat aspirin, penyekat beta, anti-inflamasi non steroid 7. Pengawet makanan : sulfid Yang membedakan asma dengan penyakit paru yang lain adalah pada asma serangan dapat hilang dengan atau tanpa obat. Tetapi membiarkan pasien asma dalam serangan tanpa obat selain tidak etis, juga dapat membahayakn nyawa pasien. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik pada pasien asma tergantung dari derajat obstruksi saluran napas. Tekanan darah biasanya meningkat, frekuensi pernapasan dan denyut nadi juga meningkat, ekspirasi memanjang diserta ronki kering, mengi. Tetapi sering pula dijumpai pasien bukan asma mempunyai mengi, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis.

Pemeriksaan penunjang o Spirometri Cara paling cepat dan sederhana untuk menegakkan diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Peningkatan VEP1 sebanyak > 12% atau > 200Ml menunjukkan diagnosis asma. Pemeriksaan spirometri selain penting untuk menegakkan diagnosis juga penting untuk menilai beratnya obstruksi dan efek pengobatan. o Uji Provokasi bronkus Untuk menunjukkan adanya hipereaktif bronkus bila spirometri normal. o Pemeriksaan sputum Sputum eosinofil sangat karakteristik untuk asma, sedangkan netrofil sangat dominan pada bronkhitis kronik. o Foto dada Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lain obstruksi saluran napas dan adanya kecurigaan terhadap proses patologis di paru atau komplikasi asma seperti pneumothoraks, pneumomediastinum, atelektasis, dan lain-lain. DIAGNOSIS BANDING 1. Bronkhtis kronik Ditandai dengan batuk kronik yang mengeluarkan sputum 3 bulan dalam setahun untuk sedikitnya 2 tahun, pada pasien berumur lebih dari 35 tahun dan perokok berat. Penyebab batuk kronik seperti tuberkulosis, bronkhitis atau keganasan harus disingkirkan dahulu. 2. Emfisema paru Sesak merupakan gejala utama emfisema. Sedangkan batuk dan mengi jaang menyertainya. Pasien biasanya kurus. Beda dengan asma emfisema tidak pernah ada masa remisi, pasien selalu sesak dalam keadaan jasmani. 3. Gagal jantung kiri akut Dulu gagal jantung kiri dikenal dengan asma kardial dan timbul pada malam hari disebut paroxysmal nocturnal dispnea. Penderita tiba-tiba terbangun pada malam hari karena sesak, tetapi sesak menghilang atau berkurang bila duduk. Pada pemeriksaan fisik ditemukan kardiomegali dan edema paru. 4. Emboli paru Hal-hal yang dapat menimbulkan emboli paru adalah gagaljantung. Disamping gejala sesak napas, pasien batuk dengan disertai darah (haemoptoe). PENATALAKSANAAN

Pengobatan asma menurut GINA ( Global initiative for Asthma)

1. Edukasi Karena pengobatan asma memerlukan pengobatan jangka panjang, diperlukan kerjasama antara pasien, keluarga serta tenaga kesehatan. Hal ini dapat tercapai bila pasien dan

keluarganya memahami penyakitnya, tujuan pengobatan, obat-obat yang dipakai serta efek samping.

2. Penilaian derajat beratnya asma Penilaian derajat beratnya asma baik melalui pengukuran gejala, pemeriksaan uji faal paru dan analisis gas darah sangat diperlukan untuk menilai hasil pengobatan.Banyak pasien asma yang tanpa gejala, ternyata pada pemeriksaan uji faal parunya menunjukan adanya obstruksi saluran nafas.

3. Pencegahan dan pengendalian factor pencetus serangan Diharapkan dengan mencagah dan mengendalikan factor pencetus serangan asma makin berkurang atau derajat asma makin ringan

4. Perencanaan obat-obat jangka panjang. Untuk merencanakan obat-obat anti asma agar dapat mengendalikan gejala asma, ada 3 hal yang harus dipertimbangkan : a. Obat-obat anti asma b. Pengobatan farmakologis berdasagrkan system anak tangga c. Pengobatan asma berdasarkan system wilayah bagi pasien.

Obat-obat anti asma Pada dasarnya obat-obat anti asma dipakai untuk mencagah dan mengendalikan gejala asma. (1) Pencegahan (controller) Yaitu obat obat yang dipakai setiap hari, dengan tuuan agar gejala asma persisten tetap terkendali. Termasuk golongan ini yaitu obat-obat antiinflamasi dan bronkodilator kerja panjang (long acting). Obat obat antiinflamasi khususnya kortikosteroid hirup adalah obat yang oabat yang paling efektif sebagai pencegah. Obat-obat anti alergi, bronkodilator atau obat golongan lain sering dianggap termasuk obat pencegah, meskipun sebenarnya kurang tepat, karena obat-obat tersebut mencegah dalam ruang lingkup yang terbatas misalnya mengurangi serangan asma, mengurangi gejala asma kronik, memperbaiki fungsi paru, menurunkan reaktivitas bronkus dan memperbaiki kualitas hidup. Obat antiinflamasi dapat mencegah terjadinya inflamasi serta mempunyai daya profilaksis dan supresi. Dengan pengobatan antiinflamasi jangka panjang ternyata perbaikan gejala asma, perbaikan fungsi paru, serta penurunan reaktivitas bronkus lebih baik bila dibandingkan bronkodilator.

Termasuk golongan obat pencegah adalah kortikosteroid hirup, kortikosteroid sistemik, natrium kromolin, natrium nedokromil, teofilin lepas lambat, agonis beta 2 kerja panjang hirup dan oral, dan obat-obat anti alergi.

(2) Penghilang gejala (reliver) Obat penghilang gejala yaitu obat-obat yang dapat merelaksasi bronkokontriksi dan gejala-gejala akut yang menyertainya dengan segera. Termasuk dalam golongan ini yaitu agonis beta 2 hirup kerja pendek (short-acting), kortrikosteroid sistemik, antikolinergik hirup, teofilin kerja pendek, agonis beta 2 oral kerja pendek. Agonis beta 2 hirup (fenoterol, salbutamol, terbutalin, prokaterol) merupakan obat terpilih untuk gejala asma akut serta bila diberikan sebelum kegiatan jasmani, dapat mencegah serangan asma karena kegiatan jasmani. Agonis beta 2 hirup juga dipakai sebagai penghilang gejala pada asma episodic. Peran kortikosteroid sistemik pada asma akut adalah untuk mencegah perburukan gejala lebih lanjut. Obat tersebut secara tidak langsung mencegah atau mengurangi frekuensi perawatan di ruang rawat darurat atau rawat inap. Antikolinergaik hirup atau ipatoprium bromide selain dipakai sebagai tambahan terapi agonis beta 2 hirup pada asma aku, juga dipakai sebagai obat alternative pada pasien yang tidak dapat mentoleransi efek samping agonis beta 2.Teofilin maupun agonis beta 2 oral dipakai pada pasien yang secara teknis tidak bisa memakai sediaan hirup.

Pengobatan farmakologis berdasarkan anak tangga Sampai sejauh ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan asma, karena itu dipakai istilah terkendali dalam pengobatan asma. Suatu asma dikatakan terkendali bila: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Gejala asma kronik minimlal, termasuk gejala asma malam. Serangan/ eksaserbasi akut mnimal Kebutuhan agonis beta 2 sangat minimal. Tidak ada keterbatasan aktivitas Variasi APE kurang dari 20 %. Nilai APE normal/ mendekati normal. Efek samping obat minimal. Tidak memerlukan pertolongan gawat daruat.

Berdasarkan pengobatan farmakologis sistemik anak tangga, maka menurut berat ringannya gejala, asma dapat dibagi menjadi 4 tahap: 1. Asma intermiten Gambaran klinis sebelum pengobatan

1. Gejala intermiten (kurang dari 1 kali seminggu 2. Serangan singkat (beberapa jam sehari) 3. Gejala asma malam berkurang dari 2 bulan sekali. 4. Diantara serangan pasiean bebas gejala dann fungsi paru normal. 5. NIlai APE dan KVP1 > 8% dari nilai prediksi, variabilitas < 20 % Obat yang dipakai: agonis beta 2 hirup, obat lain tergantung intensitas serangan, bila berat dapat ditambahkan kortikosteroid oral.

2. Asma persisten ringan Gambaran klinis sebelum pengobatan 1. Gejala lebih dari 1x seminggu, tetapi kurang kurang dari 1 x perhari. 2. Serangan mengganggu aktivitas dan tidur. 3. Serangan asma malam lebih dari 2x / sebulan 4. Nilai APE atau KVP1 > 80 % dari nilai prediksi, variabilitas 20-30% Obat yang digunakan: setiap hari obat pencegah, agonis beta 2 bila diperlukan 3. Asma persisiten sedang 1. Gambaran klinis sebelum pengobatan. 2. Gejala setiap hari 3. Serangan mengganggu aktivitas dan tidur 4. Serangan asma malam lebih dari 1 x seminggu 5. Setiap hari menggunakan agonis beta 2 hirup 6. Nilai APE atau KVP1 antara 60-80% nilai prediksi. Variabilitas > 30 % Obat yang pergunakan: Setiap hari obat pencegah (kortikosteroidhirup) dan bronkodilator kerja panjang. 4. Asma persisten berat Gambaran klinis sebelum pengobatan 1. Gejala terus menerus sering mendapat serangan. 2. Gejala asma malam sering 3. Aktivitas fisis terbatas karena gejala asma 4. Nilai APE atau KVP1 kurang dari 60 % nilai prediksi, variabilitas > 30%. Obat yang dipakai: setiap hari obat obat pencegah, dosis tinggi, kortikosterid hirup, bronkodilator kerja panjang, kortikosteroid oral jangka panjang.

Tahap Intermiten

Pencegah

Penghilang Agonis beta 2 hirup (kerja pendek) bila ada gejala, tetapi kurang dari satu kali/minggu Intensitas pengobatan ter-gantung beratnya serangan Agonis beta 2 hirup atau Nakromolin sebelum kegiatan asmani

pemajanan allergen. Persisten Ringan Setiap hari Kortikosteroid hirup 200-500 mg Agonis beta 2 hirup (kerja pendek) atau Na-kromolin atau tidak melebihi 3-4 kali / hari. nedrokomil atau teofilin lepas lambat. Dosis kortikosteroid dapat dinaikan menjadi 800 mgatau ditambhankan bronkodilator kerja panjang (oral atau hirup) Setiap hari Kortikosteroid hirup 800-2000 Agonis beta 2 hirup (kerja pendek) mcg dan bronkodilator kerja tidak melebihi 3-4 kali/hari panjang, terutama bilaada gejala malam baik agonis beta2 hirup jangka panjang atau teofilin lepas lambat atau agonis beta 2 kerja panjang.

Persisten Sedang

Persisten Berat

Setaiap hari Kortikosteroid hirup 800- Agonis beta 2 hirup (kerja pendek ) 2000mcg atau lebih. bila ada gejala. Bronkodilator kerja panjang Kortikosteroid oral.

Pengobatan dimulai sesuai dengan tahap atau tingkat beratnya asma. Bila gejala asma tidak terkendali, lanjutkan pengobatan ke tingkat berikutnya. Tetapi sebelumnya perhatikan lebih dulu apakah tehnik pengobatan, ketaatan berobat serta pengendalian lingkungan (penghindaran allergen atau factor pencetus) telah dilaksanakan dengan bai. Selain asma terkendali paling tidak untuk jangka waktu 3 bulan, dapat dicoba menurunkan obat-obat anti asma secara bertahap.

Pengobatan asma berdasarkan system wilayah bagi pasien

Setiap pengobatan ini dimaksudkan untuk memudahkan paseien mengetahui perjalanan dan kronisitas asma, memantau kondisi penyakitnya, mengenali tanda-tanda dini serangan asma dan dapat bertindak segera mengatasi kondisi tersebut. Dengan menggunakan peak flow meter pasien diminta mengukur secara teratur setiap hari, dan membandingkan nilai APE yang didapat pada waktu itu dengan nilai terbaik APE pasien atau prediksi nilai normal. Seperti halnya lampu pengatur lalulintas berdasarkan nilai APE akan terletak pda wilayah. i. Hijau berarti aman. Nilai APE luasnya 80-100% nilai prediksi, variabilitas kurang dari 20% . Tidur dan aktivitas tidak terganggu. Obat-obat yang dipakai sesuai dengan tingkat anak tangga saat itu. Bila 3 bulan tetap hijau, pengobatan ini diturunkan ke tahap yang lebih ringan. ii. Kuning berarti hati-hati. Nilai APE 60-80% nilai prediksi, variabilitas APE 20-30%. Gejala asma masih normal, terbangun malam karena asma, aktivitas terganggu. Daerah ini menunjukan bahwa pasien sedang mendapat serangan asma. Sehingga obat-obat antiasma perlu ditingkatkan atau ditambah antara lain agonis beta 2 hirup dan bila perlu kortikosteroid oral. Mungkin pula tahap pengobatan yang sedang dipakai belum memadai, sehingga perlu dikaji ulang bersama dokternya. iii. Merah berarti bahaya. Nilai APE dibawah 60% nilai prediksi. Bila agonis beta 2 hirup tidak memberikan respons, segera mencari pertolongan dokter. Bila dengan agonis beta 2 hirup membaik, masuk ke daerah kuning, obat diteruskan sesuai dengan wilayah merah kortikosteroid oral diberikan lebih awal dan diberikan oksigen. 5. Merencanakan pengobatan asma akut Serangan asma ditandai dengan gejala sesak nafas, batuk, mengi atau kombinasi dari gejalagejala tersebut. Derajat serangan asma bervariasi dari yang ringan sampai berat yang dapat mengamcam jiwa. Serangan bisa mendadak atau bisa juga perlahan-lahan dalam jangka waktu berhari-hari. Satu hal yang perlu diingat bahwa serangan asma akut menunjukan rencana pengobatan jangka panjang telah gagal atau pasien sedang terpajan factor pencetus. Tujuan pengobatan serangan asma: a. b. c. d. e. Menghilangkan obstruksi saluran nafas dengan segera. Mengatasi hipoksemia. Mengembalikan fungsi paru kearah normal Mencegah terjadinya serangan berikutnya. Memberikan penyuluhan kepada pasien dan keluarganya mengenai cara-cara mengatasi dan mencegah serangan asma. f. Dalam penatalaksanaan serangana asma perlu diketahui lebih dulu derajat beratnya serangan asma baik berdasarkan cara bicara, aktivitas, tanda-tanda fisis, nilai APE, dan bila mungkin analisis gas darah. Hal lain yang perlu diketahui apakah pasien termasuk pasien asma beresiko tinggi untuk kematian karena asma, yaitu pasien yang : - Sedang memakai atau baru saja lepas dari kortikosteroid sistemik - Riwayat rawat inap atau kunjungan ke unit gawat darurat karena asma dalam setahun terakhir. - Gangguan kejiwaan atau psikososial.

Pasien yang tidak taat mengikuti rencana pengobatan.

Pengobatan asma akut. Bronkodilator khususnya agonis beta 2 hieup (kerja pendek) merupakan obat anti asma pada serangan asma, baik secara MDI atau nebulizer. Pada serangan asma ringan atau sedang, pemerian aerosol 2-4 kali setiap 20 menit cukup memadai untuk mengatasi serangan. Obat-obat anti asma yang lain seperti antikolinergik hirup, teofilin, dan agonis beta 2 oral merupakan obat-obat alternative karena onset yang lama dan efek sampingnya yang lebih besar. Pada serangan asma yang lebih berat, dosis agonis beta 2 hirup dapat ditingkatkan. Kortikosteroid sistemik diberikan bila respons terhadap agonis beta 2 hirup tidak memuaskan. Dosis prednisone antara 0,5-1 mg/kgBB atau ekuivalennya. Pemberian biasanya terjadi secara bertahap, oleh karena itu pengobatan diteruskan untuk beberapa hari. Tetapi bila tidak ada perbaikan atau minimal , segera pasien dirujuk ke fasilitas pengobatan yang lebih baik. Pasien harus segera dirujuk apabila: a. Pasien dengan resiko tinggi untuk kematian karena asma. b. Serangan asma berat APE < 60% nilai prediksi c. Respons bronkodilator tidak segera, dan bila respons hanya bertahan kurang dari 3 jam. d. Tidak ada perbaikan dalam 2-6 jam setelah pengobatan kortikosteroid e. Gejala asma makin memburuk. 6. Berobat secara teratur. Untuk memperoleh tujuan pengobatan yang diinginkan, pasien asma pada umumnya memerlukan pengawasan yang teratur dari tenaga kesehatan. Kunjungan yang teratur diperlukan untuk menilai hasil pengobatan, cara pemakaian obat, cara menghindari factor pencetus serta penggunaan alat peak flow mete. Makin baik hasil pengobatan, kunjungan ini akan semakin jarang. Adakalanya diperlukan rujukan kepada dokter ahli khususnya pada keadaan-keadaan berikut: Pasien dengan riwayat serangan asma berat yang mengancam jiwa atau pasien yang diragukan kemampuan mengatasi asmanya. Tanda dan gejala asma tidak khas atau ada masalah dalam diagnosis banding. Hal-hal yang dapat memperberat asma pasien seperti sinusiti, polip hidung,maspergilosis, rhinitis berat. Pemeriksaan penunjang diagnostic (uji kulit, rinoskopi, uji faal paru, uji provokasi) Pasien tidak memberikan respons pengobatan yang optimal. Pasien yang termasuk tahap 3 dan 4 menurut klasifikasi pengobatan asma jangka panjang. Pasien yang memerlukan penjelasan lebih lanjut mengenai imunoterapi, komplikasi terapi, ketidaktaatan berobat dan ingin berhenti merokok.

Asma dengan keadaan khusus seperti kehamilan, operasi, aktivitas fisis, sinusitis, rhinitis, polip hidung, asma karena pekerjaan, infeksi paru, refluks gastroesofagitis, dan aspirin induced asthma.

PENCEGAHAN 1. Pencegahan primer yaitu mencegah tersensitisasi dengan bahan yang menyebabkan asma. Meliputi pencegahan periode prenatal dan periode postnatal. Pencegahan perinatal seperti: menghindari makanan yang bersifat allergen pada ibu hamil dengan resiko tinggi tetapi pada prinsipnya belum ada pencegahan primer yang dapat direkomendasikan untuk dilakukan. Sedang periode postnatal seperti: diet menghindari allergen pada ibu menyusui resiko tinggi menurunkan resiko dermatitis atopic pada anak.

2. Pencegahan sekunder Yaitu mencegah yang sudah tersensitisasi untuk tidak berkembang menjadi asma. Contohnya adalah pemberian anti histamin H-1 dalam menurunkan onset mengi pada penderita anak dermatitis atopic.

3. Pencegahan tersier Yaitu untuk mencegah agar tidak terjadi serangan atau bermanifestasi klinis pada penderita yang sudah menderita asma. Contohnya menghindari allergen yang menyebabkan tercetusnya serangan asma.

KOMPLIKASI Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah : 1. Status asmatikus 2. Atelektasis 3. Hipoksemia 4. Pneumothoraks 5. Emfisema PROGNOSIS Mortalitas akibat asma sedikit nilainya. Gambaran yang paling akhir menunjukkan kurang dari 5000 kematian setiap tahun dari populasi beresiko yang berjumlah kira-kira 10 juta. Sebelum dipakai kortikosteroid, secara umum angka kematian penderita asma wanita dua kali lipat penderita asma pria. Juga kenyataan bahwa angka kematian pada serangan asma dengan usia tua lebih banyak, kalau serangan asma diketahui dan dimulai sejak kanak kanak dan mendapat pengawasan yang cukup kira kira setelah 20 tahun, hanya 1% yang tidak sembuh dan di dalam pengawasan tersebut kalau sering mengalami serangan common cold 29% akan mengalami serangan ulang.

Pada penderita yang mengalami serangan intermitten angka kematiannya 2%, sedangkan angka kematian pada penderita yang dengan serangan terus menerus angka kematiannya 9%.