Vous êtes sur la page 1sur 26

Pengertian Kredit

Kredit berasal dari bahasa Yunani, yaitu credere atau credo yang berarti kepercayaan (trust atau faith). Oleh karena itu dasar dari kegiatan pemberian kredit dari yang memberikan kredit kepada yang menerima kredit adalah kepercayaan. Transaksi kredit timbul karena suatu pihak meminjam sejumlah uang atau sesuatu yang dipersamakan dengan itu, di mana pihak peminjam wajib melunasi hutangnya atau rekeningnya tersebut pada waktu yang telah ditentukan. Disamping itu kredit pun timbul sebagai akibat adanya transaksi jual beli, dimana pembayarannya ditangguhkan, baik sebagian maupun seluruhnya. Pengertian kredit menurut UU Perbankan No.7 tahun 1992 : Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara suatu perusahaan dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah uang, imbalan atau pembagian hasil keuntungan. Pengertian Kredit menurut UU Nomor 10 tahun 1998 : "penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,berdasarkan persetujuan kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga" Menurut beberapa pendapat para ahli ilmu hukum, seperti: J. A. Lavy, merumuskan arti kredit adalah menyerahkan secara sukarela sejumlah uang untuk dipergunakan secara bebas oleh penerima kredit. Drs. Muchdarsyah Sinungan, kredit adalah suatu prestasi yang diberikan oleh satu pihak kepada pihak lainnya, dimana prestasi akan dikembalikan lagi pada masa tertentu yang akan diserahi dengan suatu kontraprestasi berupa bunga. Eric L. Kohler (1964;154) : Kredit adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu janji pembayarannya akan dilakukan dan ditangguhkan pada suatu jangka waktu yang disepakati. Teguh Pudjo Muljono (1989;45) : Kredit adalah suatu penyertaan uang atau tagihan atau dapat juga barang yang menimbulkan tagihan tersebut pada pihak lain. Atau juga memberi pinjaman pada orang lain dengan harapan akan memperoleh suatu tambahan nilai dari pokok pinjaman tersebut yaitu berupa bunga sebagai pendapatan bagi pihak yang bersangkutan Berdasarkan pada pengertian-pengertian diatas dapat diketahui bahwa transaksi kredit timbul sebagai akibat suatu pihak meminjam kepada pihak lain, baik itu berupa uang, barang dan sebagainya yang dapat menimbulkan tagihan bagi kreditur. Hal lain yang dapat menimbulkan transaksi kredit yaitu berupa kegiatan jual beli dimana pembayarannya akan ditangguhkan dalam suatu jangka waktu tertentu baik sebagian maupun seluruhnya.

Kegiatan transaksi kredit tersebut diatas akan mendatangkan piutang atau tagihan bagi kreditur serta mendatangkan kewajiban untuk membayar bagi debitur. Perusahaan dagang memberikan kredit dengan tujuan untuk meningkatkan volume penjualan dan mengimbangi pesaing. Lembaga perbankan atau yang sejenis memberikan kredit dengan tujuan untuk memperoleh bunga dari pokok pinjamannya. Sedangkan pihak debitur atau pelanggan melakukan transaksi kredit dengan alasan tidak mempunyai kas yang cukup untuk membeli dan membayar suatu produk atau terpaksa meminjam sejumlah uang untuk modal dan diharapkan dengan modal pinjaman tersebut diperoleh suatu penghasilan yang nantinya dapat mengembalikan pinjamannya tersebut serta memperoleh nilai lebih atau keuntungan.

Unsur-unsur Kredit
Unsur-unsur yang terdapat pada transaksi kredit menurut Thomas Suyatno, dkk. (1991;12) antara lain : 1. Kepercayaan Keyakinan si kreditur kepada si debitur, bahwa si debitur akan mengembalikan prestasi, baik itu berupa barang, jasa atau pun uang dalam jangka waktu tertentu di masa yang akan datang. Si debitur hendaknya dapat menjaga kepercayaan yang telah di berikan oleh kreditur dengan dapat memenuhi kewajibannya. 2. Waktu Suatu masa atau waktu yang akan memisahkan antar pemberian prestasi dengan kontra prestasi yang akan diterima dimasa yang akan datang. Dengan kata lain berupa jangka waktu pengembaliann kredit, dari mulai penyerahan prestasi dari kreditur sampai dengan kembalinya prestasi tersebut kepada kreditur. 3. Degree of Risk Tingkat resiko yang akan dihadapi sebagai akibat dari adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontra prestasi dimasa yang akan datang. 4. Prestasi Prestasi yang diberikan dalam melakukan kegiatan kredit, bisa berupa barang, uang atau pun jasa serta segala sesuatu yang dapat mengakibatkan timbulnya transaksi kredit dan mendatangkan piutang atau tagihan bagi kreditur.

Fungsi Kredit
Adapun fungsi transaksi kredit dalam kehidupan perekonomian menurut Muchdarsyah Sinungan (1991;5) adalah sebagai berikut: 1. Kredit dapat meningkatkan utilitas (kegunaan) dari uang. Keberadaan uang atau modal yang disimpan oleh para pemilik uang atau modal pada suatu lembaga keuangan (bank) atau sejenisnya, akan disalurkan oleh lembaga keuangan tersebut kepada sektor-sektor usaha produktif. Hal ini akan meningkatkan kegunaan uang

tersebut, yang tadinya sebagai simpanan (tabungan dan deposito), kini dapat dijadikan modal untuk melaksanakan suatu usaha atau proyek. 2. Kredit meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang. Melalui kredit, peredaran uang kartal maupun uang giral akan lebih berkembang karena kredit menciptakan mobilitas usaha sehingga penggunaan uang akan bertambah, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. 3. Kredit dapat meningkatkan kegairahan berusaha. Dengan adanya kredit, pihak peminjam atau yang diberi kredit akan bekerja semaksimal mungkin agar dari usaha yang dijalaninya dihasilkan keuntungan yang besar sehingga dapat melunasi kredit tersebut. 4. Kredit sebagai salah satu alat pengendali stabilitas moneter. Kebijakan kredit bisa digunakan untuk menekan laju inflasi, yaitu dengan menyalurkan kredit hanya pada sektor-sektor usaha yang produktif dan sektor prioritas yang secara langsung berpengaruh pada hajat hidup masyarakat. 5. Kredit sebagai sarana peningkatan pendapatan nasional. Dengan banyaknya pengusaha baik dari industri skala kecil maupun besar yang mendapatkan fasilitas kredit, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan mereka dan secara nasional diharapkan akan dapat meningkatkan pendapatan nasional. 6. Kredit dapat mengaktifkan atau meningkatkan aktifitas-aktifitas atau kegunaan potensipotensi ekonomi yang ada. 7. kredit sebagai alat hubungan ekonomi internasional.

Klasifikasi Kredit
Keberadaan kredit menurut Muchdarsyah Sinungan (1991;17) dapat digolongkan menurut beberapa klafikasi, antara lain : 1. Menurut jangka waktunya a. Kredit Jangka Pendek ( Short-term loan ) Yaitu kredit yang jangka waktu pengembaliannya kurang dari satu tahun. Misalnya kredit untuk membiayai kelancaran operasi perusahaan, termasuk didalamnya berupa kredit modal kerja. Kredit jangka pendek dapat di urutkan dalam tiga kelompok, antara lain : (1)Kredit dagang (trade credit) antar perusahaan, (2)Pinjaman dari suatu perusahaan dagang, (3)Surat dagang. b. Kredit jangka menengah (Medium-term loan) Yaitu kredit yang jangka waktu pengembaliannya satu sampai dengan tiga tahun. Biasanya kredit ini untuk menambah modal kerja, misalnya untuk membiayai pengadaan bahan baku. Kredit jangka menengah dapat pula dalam bentuk kredit investasi.

c. Kredit jangka panjang (Long-term loan) Yaitu kredit yang jangka waktu pengembaliannya melebihi tiga tahun. Misalnya kredit investasi untuk membiayai suatu proyek dan perluasan usaha. 2. Menurut jaminannya Menurut jaminannya kredit dapat diklasifikasikan menjadi : a. Kredit dengan jaminan (Secured Loan) Yaitu kredit yang disertai penyerahan barang jaminan oleh nasabah. Jenis barang jaminan tersebut sangat tergantung pada jenis kredit yang diberikan. Misalnya kredit komersial untuk modal kerja, jaminannya dapat berupa persediaan. Kredit untuk pembelian mobil atau motor, jaminannya BPKB mobil atau motor tersebut. b. Kredit tanpa jaminan (Unsecured Loan) Yaitu kredit yang tidak disertai penyerahan barang jaminan dari nasabah. Jenis kredit ini tidak menggunakan jaminan dalam bentuk fisik, tetapi dalam bentuk bonafiditas dan prospek usaha nasabah yang bersangkutan. Pemberian kredit tanpa jaminan ini dilakukan sepanjang prinsip-prinsip penilaian kredit lainnya telah terpenuhi menurut analisis kredit. 3. Menurut tujuannya Menurut tujuannya kredit dapat diklasifikasikan menjadi : a. Kredit Komersial (Commercial Loan) Yaitu kredit yang diberikan untuk memperlancar kegiatan usaha nasabah di bidang perdagangan. Kredit komersial antara lain meliputi kredit leveransir, kredit untuk usaha pertokoan, kredit ekspor dan lain-lain. b. Kredit Konsumtif (Consumer Loan) Yaitu kredit yang diberikan oleh suatu perusahaan untuk memenuhi kebutuhan debitur yang bersifat konsumtif. Misalnya untuk membeli properti (rumah), mobil atau motor, barang elektronik dan berbagai barang konsumsi lainnya. c. Kredit Produktif (Productive Loan) Yaitu kredit yang diberikan oleh suatu perusahaan dalam rangka membiayai kebutuhan modal kerja debitur sehingga dapat meemperlancar produksi. Misalnya kredit untuk pembelian bahan baku, pembayaran upah, biaya pengepakan, biaya pemasaran, biaya distribusi dan lain-lain. 4. Menurut penggunaannya. a. Kredit modal kerja (KMK) Yaitu kredit yang diberikan oleh suatu perusahaan untuk menambah modal kerja debitur, meliputi modal kerja untuk tujuan komersial, industri, kontraktor bangunan dan lainlain.dibagi menjadi :

KMK-Revolving. Apabila kegiatan usaha nasabah dapat berlangsung secara berkelanjutan dalam jangka panjang dan pihak bank cukup mempercayai kemampuan dan kemauan nasabah, maka fasilitas KMK nasabah dapat diperpanjang setiap periodenya tanpa harus mengajukan permohonan kredit baru. KMK-Einmaleg. Apabila volume kegiatan usaha debitor sangat berfluktuasi dari waktu ke waktu dan pihak bank kurang mempercayai kemampuan dan kemauan debitor, maka pihak bank memberikan KMK hanya satu kali periode perputaran modal

Definisi kredit modal kerja. Kredit modal kerja adalah kredit yang digunakan untuk keperluan meningkatkan produksi dalam operasionalnya atau Merupakan kredit yang digunakan sebagai modal usaha. Biasanya kredit jenis ini berjangka waktu pendek yaitu tidak.lebih dari 1 (satu) tahun. Selain itu kredit modal kerja adalah kredit yang digunakan untuk membiayai kebutuhan modal kerja nasabah. Contoh kredit ini adalah untuk membeli bahan baku, membayar gaji karyawan dan modal kerja lainnya yang berkaitan dengan proses produksi perusahaan. Kredit modal kerja terdiri dari 2 (dua) macam yaitu Kredit Modal Kerja Revolving dan Kredit Modal Kerja Einmaleg.

Menurut Bastian dan Suhardjono (2006:251) kredit modal kerja memiliki jangka waktu pengembalian maksimal satu tahun (bisa diperpanjang sesuai kebutuhan) yang dapat dimanfaatkan untuk membiayai stok barang, piutang dagang, pembelian bahan baku ataupun kebutuhan modal kerja perusahaan lainnya. Untuk kredit modal kerja, bank menyediakan fasilitas kredit modal kerja bagi usaha skala kecil (plafon kredit sampai dengan Rp 500 juta) dan usaha skala menengah (plafon kredit di atas Rp 500 juta hingga Rp 5 miliar). Kredit modal kerja yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan produksi baik peningkatankuantitatifmaupunkualitatif.

Bentuk-bentuk dari kredit modal kerja antara lain: a.Kredit modal kerja untuk pedagang, antara lain: 1. Kredit ekspor. 2. Kredit pertokoan, dan sebagainya. b. Kredit modal kerja bidang industri, antara lain: 1. Kredit modal kerja makanan/minuman dalam kemasan. 2. Kredit modal kerja pabrik, tekstil, dan sebagainya.

c.Kredit modal kerja untuk bidang perkebunan/pertanian, antara lain: 1.Kredit untuk membeli pupuk 2.Kredit untuk membeli obat-obatan anti hama, dan sebagainya. d.Kredit modal kerja untuk kontraktor bangunan. e.Kredit modal kerja untuk perbengkelan pusat service.

b. Kredit investasi Yaitu kredit yang diberikan oleh suatu perusahaan kepada perusahaan untuk digunakan dalam melakukan investasi melalui pembelian barang-barang modal. Pengertian dan Tujuan Kredit Investasi Kredit investasi adalah kredit yang diberikan baik untuk keperluan penambahan modal guna mengadakan rehabilitasi, perluasan usaha atau bisnis serta untuk mendirikan suatu proyek baru. Kredit investasi yang diberikan bank, pelaksanaanya mempunyai cirri-ciri tertentu. Adapun cirri-ciri kredit investasi sebagai berikut : 1. Mempunyai perencanaan yang terarah dan matang 2. Waktu penyelesaian kredit adalah berjangka menengah atau berjangka panjang 3. Diperlukan untuk penanaman modal : a. Sektor agraris Di dalam sector agraris, dititik beratkan pada pertanian bahan makanan, kehutanan, perikanan, peternakan dan irigasi. b. Sektor Industri Di dalam sector industri diarahkan untuk kebutuhan pokok masyarakat seperti sandang pangan, barulah kemudian ke bidang industri yang dapat menghasilkan devisa atau menghemat devisa, seperti industri pupuk, industri semen, industri farmasi, industri pertekstilan, industri kertas dan sebagainya. c. Sektor Perhubungan Di sector perhubungan di titik beratkan pada peningkatan - Angkutan jalan raya

- Angkutan laut - Angkutan udara - Angkutan sungai dan danau - Telekomunikasi - Produk dan jasa

Fungsi Kredit Investasi Adapun fungsi kredit investasi adalah sebagai berikut : 1. Untuk meningkatkan daya guna dari modal / uang 2. Untuk menstabilkan perekonomian 3. Untuk menimbulkan kegairahan dalam berusaha atau beroptimis 4. Untuk meningkatkan peredaran-peredaran lalu lintas uang 5. Untuk meningkatkan daya guna suatu barang.

Dalam keadaan ekonomi yang kurang sehat, langkah stabilitasi pada dasarnya diarahkan pada usaha-usaha antara lain : - pengendalian inflasi - peningkatan ekspor - rehabilitasi sarana dan prasarana - pemenuhan kebutuhan pokok rakyat

Jenis-jenis kredit
Jenis-jenis kredit yang secara umum dapatdiberikan oleh bank antara lain ;

1. Pinjaman Rekening koran (PRK) Adalah pinjaman revolving jangka waktu (satu tahun) yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak bank dengan mempergunakan cek, bilyet giro atau alat perintah pembayaran lainnya. Tujuan PRK adalah untuk membiayai modal kerja. 2. Pinjaman Aksep

Pinjaman Aksep (DL) adalah pinjaman revolving jangka pendek (satu tahun) yang penarikannya dapat dilakukan dengan pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak bank. Tujuan pinjaman ini adalah untuk membiayai modal kerja. Setiap akan mendropping dana, debitur harus menandatangani surat aksep (surat pengakuan hutang), jumlah maksimum penarikan ditentukan oleh plafond limit yang diberkan. 3. Anjak Piutang Ada fasilitas anjak piutang ini adalah piutang debitur (yang belum jatuh tempo) dijual kepada bank dan bank akan memberi dana sampai sekian persen. Difasilitas anjak piutang ini terdapat tiga pihak yang terlibat : Factor : yaitu pihak yang mengambil alih piutang atau pembeli piutang. Client : yaitu pihak yang menjual piutang Debtor ; ini merupakan pihak yang memiliki hutang kepada client dan merupakan objek transaksi anjak piutang. 4. Pinjaman sindikasi Adalah pinjaman komersial/modal kerja dimana dananya berasal dari beberapa bank atau pembiayaan secara bersama oleh beberapa bank. Pinjaman ini dapat merupakan pinjaman investasi untuk membiayai suatu proyek (misalnya pembangunan hotel, pusat pertokoan dan lain-lain) atau untuk membiayai kebutuhan modal kerja. Bank yang tergabung dalam pinjaman sindikasi ini ada yang bertugas sebagai : Lead bank yaitu pihak yang menyediakan dana dalam porsi besar dalam sindikasi tersebut dibandingkan dengan lainnya juga segabai pengelola kegiatan sindikasi tersebut baik dalam hubungan dengan debitur maupun terhadap peserta sindikasi lainnya. Participant bank yaitu bank yang menjadi anggota sindikasi dan bertugas hanya menyediakan dana saja., Kredit sindikasi atau Syndicated Loan ialah pinjaman yang diberikan oleh beberapa kreditur sindikasi, yang biasanya terdiri dari bank-bank dan/atau lembaga-lembaga keuangan lainnya kepada seorang debitur, yang biasanya berbentuk badan hukum; untuk membiayai satu atau beberapa proyek (pembangunan gedung atau pabrik) milik debitur. Pinjaman tersebut diberikan secara sindikasi mengingat jumlah yang dibutuhkan untuk membiayai proyek tersebut sangat besar, sehingga tidak mungkin dibiayai oleh kreditur tunggal.

Dan karena kredit sindikasi diberikan dalam rangka membiayai suatu proyek, yang dapat ditentukan kapan dimulainya dan saat berakhirnya pembangunan proyek tersebut, maka ditinjau dari sifatnya, suatu kredit sindikasi dapat digolongkan sebagai term loan. Hal ini yang membedakannya dengan kredit pembiayaan ekspor, misalnya yang digolongkan sebagai revolving line of credit yang sifatnya dapat dipinjamkan berkali-kali selama tidak melebihi suatu plafond yang ditentukan. Revolving line credit lazimnya diberikan oleh kreditur tunggal, karena dana yang dibutuhkan untuk fasilitas pembiayaan ekspor/impor tidaklah begitu besar. Kredit sindikasi ditinjau dari asal pembiayaannya dapat dibedakan menjadi offshore loan dan onshore loan. Offshore loan adalah pinjaman yang pembiayaannya berasal dari luar negeri. Artinya asal dari dana pinjaman sindikasi tersebut adalah devisa yang beredar di luar negeri. Dengan perkataan lain offshore loan pastilah diberikan dalam bentuk valuta asing (devisa). Para krediturnya biasanya terdiri dari bank-bank asing/lembaga-lembaga keuangan asing yang beroperasi di luar negeri. Cabang dari bank/lembaga keuangan nasional yang beroperasi di luar negeri dimungkinkan untuk memberikan offshore loan, asal dananya benar-benar berasal dari devisa yang beredar di luar negeri, bukan devisa yang sudah di negeri awak. 5. Term Loan Adalah pinjaman non revolving yang dipergunakn untuk membiayai investasi aktiva tetap (alat yang tidak habis dipergunakan untuk satu siklus usaha). Pencairan dananya dapat dilakukan secara sekaligus atau bertahap sesuai dengan jadwal yang ditetapkan sejak dari awal dengan menyerahkan surat aksep senilai dana yang ditarik. Pembayaran kembali dilakukan dengan angsuran, baik dengan grace perio, pembayaran hanya mencakup bunga saja, sedangkan angsuran pokok dan bunga dimulai setelah grace period berakhir. Perhitungan Cicilan dan /Bunga Kredit Menurut Halle (1983 : 54), jika seorang bankir memberikan pinjaman kepadaperorangan atau perusahaan, bankir tersebut membutuhkan penilaian kredit dalambentuk analisis kredit untuk membantu menentukan resiko yang ada atau yangmungkin terjadi dari pinjaman yang diberikan. Untuk itu analisis kredit amatpenting, karena berguna untuk : a. Menentukan berbagai resiko yang akan dihadapi oleh bank dalam memberikankredit kepada seseorang atau badan usaha. b. Mengantisipasi kemungkinan pelunasan kredit tersebut karena bank telahmengetahui kemampuan pelunasan melalui analisis cashflow usaha debitur.

c. Mengetahui jenis kredit, jumlah kredit dan jangka waktu kredit yangdibutuhkan oleh usaha debitur, sehingga bank dapat melakukan penyesuaiandengan struktur dana yang dipersiapkan untuk digunakan d. Mengetahui kemampuan dan kemauan debitur untuk melunasi kreditnya, baik dari sumber pelunasan primer maupun sekunder

Tujuan kredit:
1. Untuk mencari keuntungan bagi bank/kreditur, berupa pemberian bunga, imbalan, biaya administrasi, provisi, dan biaya-biaya lainnya yang dibebankan kepada nasabah debitur. 2. Untuk meningkatkan usaha nasabah debitur. Bahwa dengan adanya pemberian kredit berupa pemberian kredit investasi atau kredit modal kerja bagi debitur, diharapkan dapat meningkatkan usahanya. 3. Untuk membantu Pemerintah. Bahwa, dengan banyaknya kredit yang disalur kan oleh bank-bank, hal ini berarti dapat meningkatkan pembangunan disegala sektor, khususnya disektor ekonomi.

Prinsip-prinsip pembrian kredit


didasarkan pada Pasal 8 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tetang Perbankan, bunyinya: "dalam meberikan kredit, Bank Umum wajib memiliki keyakinan atas kemampuan atau kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya, sesuai dengan yang diperjanjikan". Dalam penjelasannya, dijelaskan bahwa kredit yang diberikan oleh bank umum mengandung risiko, sehingga dalam pelaksanaannya bank wajib memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat, dengan memberikan jaminan dalam arti bank wajib memiliki keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya/kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan. Untuk memperoleh keyakinan tersebut, sebelum kredit diberikan bank harus melakukan penilaian terhadap watak, modal, jaminan/agunan, da prospek usaha dari nasabah debitur. Sedangkan bunyi Pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 (UU yang Diubah): ayat (1): "dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syari'ah, bank umum wajib memiliki keyakinan terhadap analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan atau kesanggupan nasabah debitur, untuk melunasi utangnya, sesuai dengan yang diperjanjikan". ayat (2): "bank umum wajib memiliki dan menerapkan pedoman perkreditan atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syari'ah, sesuai dengan ketentuann yang ditetapkan oleh Bank Indonesia". Secara umum, bank wajib memberikan kredit dengan menggunakan prinsip pemberian kredit didasarkan pada analisis 5C atau "the 5C's analisys of credit", yaitu:

a. Character (watak). Adalah adanya keyakinan dari pihak bank bahwa calon debitur mempunyaimoral, watak ataupun sifat yang dapat dipercaya, hal ini tercermin dari latarbelakang debitur, baik yang bersifat latar belakang pekerjaan maupun yangbersifat pribadi seperti cara hidup atau gaya hidup yang dianut dalamkeluarga. Oleh karena itu petugas bank mengadakan penyelidikan secaramendalam dengan jalan mencari informasi dari orang-orang yang beradadalam lingkungan pergaulannya dan hal tersebut akan sangat berpengaruhpada pelunasan kreditnya. b. Capacity (kemampuan) Merupakan gambaran mengenai kemampuan calon debitur untuk memenuhikewajibankewajibannya, kemampuan debitur untuk mencari danmengkombinasikan resources yang terkait dengan bidang usaha, kemampuanmemproduksi barang dan jasa yang dapat memenuhi tuntutan kebutuhankonsumen/pasar. Disamping itu juga kemampuan untuk mengantisipasivariabel dari cashflow usaha, sehingga cashflow tersebut dapat menjadisumber pelunasan kredit yang utama sesuai dengan jadwal yang sudahdisetujui bersama. c. Capital (modal) Penilaian pada aspek ini diarahkan pada kondisi keuangan nasabah, yangterdiri dari aktiva lancar (current assets) yang tertanam dalam bisnis dikurangidengan kewajiban lancar (current liabilities ) yang disebut dengan modal kerja( working capital ); dan modal yang tertanam pada aktiva jangka panjang danaktiva lain-lain. Analisis capital itu dimaksudkan untuk menggambarkanstruktur modal ( capital structure ) debitur, sehingga bank dapat melihat modaldebitur sendiri yang tertanam pada bisnisnya dan berapa jumlah yang berasaldari pihak lain (kreditur dan supplier ). Bank harus mengetahui debt to equityratio , yaitu berapa besarnya seluruh hutang debitur dibandingkan denganseluruh modal dan cadangan perusahaan serta likuiditas perusahaan. d.Collateral (jaminan) adalah jaminan kredit yang mempertinggi tingkat keyakinan bank bahwa debitur dengan bisnisnya mampu melunasi kredit, dimana agunan iniberupa jaminan pokok maupun jaminan tambahan yang berfungsi untuk menjamin pelunasan utang jika ternyata dikemudian hari debitur tidak melunasi utangnya. Debitur menjanjikan akan menyerahkan sejumlahhartanya untuk pelunasan utang menurut ketentuan perundang-undangan yangberlaku, apabila dalam waktu yang ditentukan terjadi kemacetan pembayaranutangnya. Jaminan tambahan ini dapat berupa kekayaan milik debitur ataupihak ketiga. e.Condition of Economy (kondisi ekonomi)Kondisi yang mempersyaratkan bahwa kegiatan usaha debitur mampumengikuti fluktuasi ekonomi, baik dalam negeri maupun luar negeri, danusaha masih mempunyai prospek kedepan selama kredit masih dinikmatidebitur. Termasuk juga analisis terhadap kemampuan usaha debitur dalammenghadapi situasi perekonomian yang mungkin tiba-tiba berubah diluardugaan semula.

Untuk mempertajam analisa, terutama terhadap permohonan kredit dalamjumlah besar, menurut Henderson dan Maness (1989 : 79) perlu ditambahkandengan kriteria 5 P Principles, sebagai berikut : a. Purpose Ini merupakan penilaian terhadap maksud permohonan kredit dari calondebitur agar penggunaan jumlah atau jenis kredit tersebut terarah, aman danproduktif serta membawa manfaat bagi pengusaha, masyarakat, bank danotorita moneter. b. People Adalah penilaian yang dilakukan terhadap calon debitur tentang siapa mitrausahanya, orang atau lembaga yang mem- backup debitur, customer dan supplier , yang kesemuanya sangat penting dalam menunjang kegiatan usahacalon debitur. c. Protection Bilamana usaha debitur mengalami kegagalan, bank sudah harus terlindungidengan baik dari kesulitan penyelesaian kreditnya, dan bank harusmempunyai alternatif penyelesaian dengan agunan yang dikuasai danpengikatan yuridis sesuai ketentuan yang berlaku. d. Payment Penilaian juga harus dilakukan terhadap sumber-sumber pelunasan primer dansekunder, sehingga peta pelunasan ( roadmap repayment ) dan kemungkinanpenyelesaian kredit dapat dilaksanakan tanpa kesulitan. Ini berkaitan dengan casflow perusahaan dan variabel yang mempengaruhinya, sehingga akan lebihjelas bagaimana posisi cash in dan cash out , yang menggambarkan apakahperusahaan mengalami likuiditas usaha yang baik atau tidak. e. Perspective Posisi usaha debitur pada waktu yang akan datang apakah mampu mengikutikondisi ekonomi, keuangan dan fiskal. Ini berarti merupakan proyeksiperbandingan resiko dan cashflow perusahaan. Perspektif ini dinilai denganmenggunakan kriteria :

1. Returns Pihak bank harus dapat memperkirakan bahwa kredit yang diberikan kepada nasabah dapat menghasilkan return (pendapatan) yang memadai. 2. Repayment capacity Pihak bank harus dapat memastikan bahwa nasabah mampu untuk melunasi pinjamam dan bunganya pada saat pembayaran tersebut jatuh tempo. 3. Risk-bearing Pihak bank perlu mempertimbangkan jaminan yang dimiliki oleh nasabah. Jaminan tersebut dapat digunakan apabila nasabah menghadapi risiko kegagalan atau ketidakpastian yang berkaitan dengan penggunaan kredit yang diberikan. Proses Manajemen Perkreditan Manajemen Pemberian Kredit dan Resiko Kredit

Kredit merupakan produk utama bank disamping produk simpanan. Kredit merupakan kegiatan terbesar suatu bank, karena dari sini lah penghasilan terbesar suatu bank (Ingat bank juga badan usaha yang mencari keuntungan).. Pendapatan sebagaian besar bank umum didomonasi oleh pendapatan dari kredit yaitu dari bunga, provisi, commitment fee, dan lain-lain yang diterima bank sebagai akibat dari pemberian kredit. Di sisi lain dari besarnya keuntungan suatu bank dari kredit, ada pula risiko yang mungkin saja dialami, diantaranya ; 1. Risiko kredit bermasalah (Not Performing Loan/NPL) yang timbul sebagai akibat tidak dipenuhinya kewajiban debitur untuk membayar bunga dan angsuran pokok bank. 2. Kredit bermasalah menjadi beban bagi bank, karena harus mengeluarkan biaya / beban penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP) yang besar. Jika ada NPL maka bank harus menyisihkan sebagian dana untuk cadangan takut-takut pihak yang dikasih kredit rugi, istilahnya disebut dengan PPAP. (Nanti kita jelaskan lebih lanjut) 3. Adanya kredit bermasalah dapat menurunkan tingkat kesehatan bank. 4. Penanganan kredit bermasalah memerlukan tenaga, pikiran dan waktu yang tidak sedikit. Dalam artian lain, Resiko ini merupakan kondisi dan situasi yang akan dihadapi di masa yang akan datang yang sangat besar pengaruhnya terhadap perolehan laba bank. Secara umum jenis-jenis yang mungkin atau bakal dihadapi meliputi sebagai berikut : 1. Resiko lingkungan. resiko lingkungan artinya resiko yang berkaitan dengan lingkungan perbankan terutama yang berkaitan dengan lingkungan luar (eksternal) perbankam. Resiko lingkungan terdiri dari beberapa resiko antara lain resiko ekonomi, resiko kompetisi dan resiko peraturan 2. Resiko manajemen. Resiko manajemen artinya resiko yang berkaitan dengan resiko dari dalam perusahaan (internal) seperti resiko organisasi, resiko kemampuan dan resiko kegagalan. 3. Resiko penyerahan. Resiko penyerahan juga lebih terpengaruh oleh internal bank seperti resiko operasional, resiko teknologi dan resiko strategic 4. Resiko keuangan. Resiko keuangan berkaitan erat dengan pengaruh internal dan eksternal bank seperti resiko resiko kredit, resiko likuiditas, resiko suku bunga, resiko leverage, dan resiko internasional Resiko kredit adalah risiko dimana nasabah / debitur atau counterpart tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya sesuai kontrak /kesepakatan yang telah dilakukan. Definisi ini dapat diperluas yaitu bahwa risiko kredit adalah risiko yang timbul dikarenakan kualitas kredit semakin menurun. Memang penurunan kualitas kredit

dimaksud belum tentu berimplikasi pada terjadinya default, namun paling tidak kemungkinan terjadinya default akan semakin besar. Hal-hal yang termasuk dalam Risiko Kredit adalah : 1. Lending Risk, yaitu risiko akibat nasabah/debitur tidak mampu melunasi fasilitas yang telah diberikan oleh bank, baik berupa fasilitas kredit langsung maupun tidak langsung (cash loan maupun non cash loan) 2. Counterparty Risk, risiko dimana counterpart tidak bisa melunasi kewajibannya ke bank baik sebelum tanggal kesepakatan maupun pada saat tanggal kesepakatan. 3. Issuer Risk, risiko dimana penerbit suatu surat berharga tidak bisa melunasi kepada bank sejumlah nilai surat berharga yang dimiliki bank.

Prosedur Pemberian dan Pengawasan Kredit Standar dokumentasi / administrasi kredit Perlindungan asuransi Pengawasan Kredit

Maka dari pada itu pihak bank harus mengelola kredit dengan sangat baik dari penawaran kredit melalui marketing, pengajuan kredit, pemrosesan kredit, sampai kredit itu lunas supaya risiko-risiko tersebut bisa ditekan serendah mungkin. Di samping menggunakan 5 C dan 7 P, maka penilaian suatu kredit layak atau tidak untuk diberikan dapat dilakukan dengan menilai seluruh aspek yang ada. Penilaian dengan seluruh aspek yang ada dikenal dengan nama studi kelayakan usaha. Penilaian dengan model ini biasanya digunakan untuk proyek-proyek yang bernilai besar dan berjangka waktu panjang Aspek-aspek yang dinilai antara lain adalah sebagai berikut : 1. Aspek yuridis / hukum Penilaian ini meliputi: status hukum badan usaha, legalitas usaha, dan juga legalitas barang-barang jaminan. 2. Aspek pemasaran Aspek pemasaran perlu dilakukan untuk melihat kondisi pasar saat ini, meliputi jumlah penawaran yang sudah ada untuk jenis produk yang direncanakan peminjam dan kemampuan pasar menyerap produk debitur. Perlu juga diperhitungkan perkembangannya dan permintaannya di masa yang akan datang. 3. Aspek keuangan 4. Aspek teknis / operasi Meliputi kelancaran produksi, kapasitas produksi, mesin-mesin dan peralatan, ketersediaan dan kelancaran bahan baku. Kualitas tenaga kerja yang dimiliki juga perlu diperhatikan

5. Aspek manajemen Perlu diperhatikan struktur organisasi dan anggota-anggota manajemen, termasuk kemampuan dan pengalamannya, serta pola kepemimpinan yang diterapkan 6. Aspek social ekonomi Untuk mengetahui apakah usaha yang akan dibiayai dengan kredit bank tersebut diterima atau memberi dampak positif atau negatif terhadap lingkungan masyarakat setempat. Perlu diperhatikan, apakah proyek tersebut mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat atau mungkin bertentangan dengan nilai-nilai sosial dan agama masyarakat setempat 7. Aspek amdal Yang kita nilai dalam aspek ini adalah masalah legalitas badan usaha serta izin-izin yang dimiliki perusahaan yang mengajukan kredit. Penilaian dimulai dengan akte pendirian perusahaan sehingga dapat diketahui siapa-siapa pemilik dan besarnya modal masing-masing pemilik. Kemudian juga diteliti keabsahannya adalah seperti : a. Surat Izin Usaha Industri (SIUI) untuk sector industry b. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) untuk sector perdagangan c. Tanda Daftar Pendaftaran (TDP) d. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) e. Keabsahan surat-surat yang dijaminkan misalnya sertifitikat tanah f. Serta hal-hal yang dianggap penting lainnya. Karena pemberian kredit kepada pihak ketiga sangat beresiko, persetujuan pemberian kredit, harus melalui tahapan-tahapan agar studi dan penelitian serta evaluasinya tajam demi menghasilkan suatu keputusan yang sekalligus dapat mengantisipasi resiko (pelunasannya di waktu mendatang) dan kesanggupan membayar dari applicant. Oleh karena itu, menurut H. M. Tjoekam, SE (1999 ; 184) keputusan setuju memberikan kredit minimal harus berdasarkan : a. Permohonan kredit harus secara tertulis dengan data lengkap, akurat, dan relevan. b. Persetujuannya harus berdasarkan analisis kredit yang tajam atas data yang disampaikan oleh applicant, interview, investigation dan data aspek-aspek yang dominant dengan bidang usaha applicant. c. Rekomendasi persetujuan kredit yang diberikan oleh setiap pejabat yang terkait harus sesuai dengan analisis kredit yang lengkap. d. Keputusan persetujuan pemberian kredit harus memperhatikan dengan analisis dan rekomendasi, penjelasan secara tertulis harus dibuat. Setiap tahap proses tersebut diatas harus dibuat dan dijelaskan secara tertulis, biula perlu pada waktu keputusan akhir setelah dikomitekan oleh komite kredit.

Prosedur pemberian kredit secara umum dapat dibedakan antara pinjaman perseorangan dengan pinjaman oleh suatu badan hukum, kemudian dapat pula ditinjau dari segi tujuannya apakah untuk konsumtif atau produktif. Secara umum akan dijelaskan prosedur pemberian kredit oleh badan hukum sebagai berikut : 1. Pengajuan berkas 2. Penyelidikan berkas pinjaman 3. Wawancara I 4. On the spot 5. Wawancara II 6. Keputusan kredit 7. Penandatangan akad kredit / perjanjian lainnya 8. Realisasi kredit 9. Penyaluran / penarikan dana Prosedur pemberian kredit dan penilaian kredit oleh dunia perbankan secara umum antar bank yang satu dengan bank yang lain tidak jauh berbeda. Yang menjadi perbedaan mungkin hanya terletak dari prosedur dan persyaratan yang ditetapkannya dengan pertimbangan masing-masing.

Secara umum akan dijelaskan prosedur pemberian kredit oleh badan hukum sebagai berikut : 1. Pengajuan berkas 2. Penyelidikan berkas pinjaman 3. Wawancara I 4. On the spot 5. Wawancara II Pengajuan proposal kredit hendaknya yang berisi antara lain sebagai berikut : 1. Latar belakang perusahaan seperti riwayat hidup singkat perusahaan, jenis bidang usaha, identitas perusahaan, nama pengurus berikut pengetahuan dan pendidikannya, perkembangan perusahaan serta relasinya dengan pihak-pihak pemerintah dan swasta 2. Maksud dan tujuan. Apakah untuk memperbesar omset penjualan atau meningkatkan kapasitas produksi atau mendirikan pabrik baru (perluasan) serta tujuan lainnya 3. Besarnya kredit dan jangka waktu. Dalam hal ini pemohon menentukan besarnya jumlah kredit yang ingin diperoleh dan jangka waktu kreditnya. Penilaian kelayakan besarnya kredit dan jangka waktunya dapat kita lihat di cash flow serta laporan keuangan (neraca dan laporan laba rugi) tiga tahun terakhir. Jika dari hasil analisis tidak sesuai dengan permohonan, maka pihak bank tetap berpedoman terhadap hasil analisis mereka dalam memutuskan jumlah kredit dan janngka waktu kredit yang layak diberikan kepada si pemohon

4. Cara pemohon mengembalikan kredit, dijelaskan secara rinci cara-cara nasabah dalam mengembalikan kreditnya apakah dari hasil penjualan atau cara lainnya 5. Jaminan kredit. Proposal pengajuan kredit dilampiri berkas-berkas yang telah dipersyaratkan seperti Akte notaries. Dipergunakan untuk perusahaan yang berbentuk PT (Perseroan terbatas) atau yayasan 1. TDP (Tanda Daftar Perusahaan). Merupakan tanda daftar perusahaan yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan biasanya berlaku lima tahun, jika habis dapat diperpanjang kembali. 2. NPWP (Nomor POkok Wajib Pajak) Nomor Pokok Wajib Pajak dimana sekarang ini setiap pemberian kredit terus dipantau oleh Bank Indonesia adalah NPWPnya 3. Neraca dan laporan rugi laba tiga tahun terakhir 4. Bukti diri dari pimpinan perusahaan 5. Foto kopi sertifitikat jaminan Informasi tambahan lain yang mendukung dalam bentuk lampiran antara lain : a. Fotokopi KTP, SIM b. Rencana-rencana dalam blueprint c. Gambar-gambar atau foto-foto d. Fotocopy dokumen-dokumen resmi (legal documents) seperti: SIUP, TDP, NPWP, Akta Pendirian Usaha, Identitas Pengurus dan catatan-catatan penting e. Data sensus dan data demografis.

Dalam pelaksanaannya, data-data di atas dapat ditambah/dikurangi disesuaikan dengan jenis usaha. Pada substansinya, proposal yang komprehesif dan menarik sangat diperlukan untuk meyakinkan pihak perbankan untuk memberikan kredit Kualitas kredit merupakan kredit yang berkualitas dalam prakteknya yang diberikan atau memang layak untuk disalurkan, akan memperkecil resiko terhadap kemungkinan kredit tersebut bermasalah. Dalam hal ini prinsip kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit perlu memperhatikan kualitas kredit. Bukan tidak mungkin kredit yang jumlahnya cukup banyak akan mengakibatkan kerugian apabila kredit yang disalurkan tersebut ternyata tidak berkualitas dan mengakibatkan kredit tersebut bermasalah. Agar kredit yang disalurkan oleh suatu bank memiliki kualitas kredit yang baik, perlu dilakukan pemisahan fungsi dalam organisasi kredit. Pemisahan ini dilakukan agar masing-masing fungsi dapat bekerja secara baik dan memperkecil terjadinya penilaian yang tidak objektif dengan berbagai sebab yang berpotensi terjadinya penyimpangan yang akhirnya menyebabkan kredit yang

disalurkan bermasalah.Pembuatan proposal harus sesuai dengan kondisi di lapangan, tidak buat-buat karena pihak bank juga pastinya melakukan cek ke lapangan. warbis dapat membantu UKM membuat proposal tersebut yang terdiri dari latar belakang perusahaan berdiri, pengalaman perusahaan dalam usahanya, target market, bahan baku dan cara mendapatkannya, omset perbulannya yang diakumulasikan pertahun, dan mencantumkan laporan keuangan. warung layanan bisnis (Warbis) tidak menjamin semua proposal yang diajukan disetujui pihak bank, karena tergantung kenyataan di lapangan. UKM ketika akan mengajukan pendanaan ke bank harus melihat kemampuan dan manfaat dana yang diajukan sesuai dengan usahanya, jangan sampai jumlah pengajuan pendanaan melebihi omset yang bisa di capai. jangan sampai memaksakan diri terhadap ajuan pendanaan yang di lakukan ke bank karena akan menyulitkan diri sendiri. Penuhi persyaratan bank sesuai prosedurnya. Bila memenuhin syarat sesuai permintaan bank pasti bank akan menyetujui . kalau sesuai penilaian bank juga akan memberikan proses yang berbelit-belit UKM juga serius terhadap pengajuan pendanaannya. Bila ingin mengajukan kredit ke bank lain meskipun sudah memiliki kredit dari sebuah bank diperbolehkan, selama UKm itu punya jaminan lain yang bisa dijaminkan. Biasanya untuk tanah dan bangunan nilai jaminannya 60-80% . misalnya sebuah rumah nilainya Rp.200 juta, sebesar 80%-nya bisa disetujui bank.sedangkan tanah kosong sebesar 60%-nya. kendaraan roda empat biasanya juga ditanyakan bank sebagai tambahan agunan. Selain UKM itu bankble sesuai penilaian bank, feasibel sesuai persyaratan bank, juga perluh credible atau bisa dipercaya bank. itu modal utama bagi UMKM. suatu saat bila UKM itu tidak credible pihak bank juga akan tahu, bila UKM itu tidak jujur, misalnya mengaku tidak memiliki pinjaman di bank lain. pihak bank juga akan tahu setelah melakukan cek. Bank juga akan memberikan sanksi dan menjatuhkan black list bila ada UKM yang memberikan informasi yang kurang tepat. Jadi UKM sebaiknya perluh menjaga Kredibilitas. Arti dari kualitas kredit itu adalah penilaian perbankan terhadap kredit yang telah diberikan kepada anda dengan parameter pembayaran. Kualitas kredit dari perbankan dibagi menjadi 5 (lima), yaitu: 1. Lancar 2. Dalam Perhatian Khusus 3. Kurang Lancar 4. Diragukan 5. Macet Penilaian 3-5 merupakan list hitam yang harus anda hindari.

Misalkan jika anda meminjam uang dari 3 bank (Bank A, B, dan C) dengan kualitas (pembayaran) kredit, secara berurutan, adalah: lancar, lancar, dan macet. Maka kualitas kredit anda akan dinilai berdasarkan penilaian terendah dibandingkan yang lainnya, yaitu macet. Hal ini dapat terjadi karena adanya peraturan dari otoritas perbankan dan Sistem Informasi Debitur (SID)yang terintegrasi. Tentunya, hal ini patut anda pertimbangkan jika anda ingin meminta kredit apapun dari perbankan, walaupun pada akhirnya pemberian kredit merupakan prerogratif dari bank. Biasanya, bukan hanya pembayaran dari kredit yang dijadikan parameter, tetapi juga besaran kredit. Meskipun begitu, dengan banyaknya bank (dan jasa keuangan lainnya) yang menggunakan layanan SID memang sebaiknya anda membayar kredit yang anda miliki, semua kredit anda, dengan lancar dan jarang terlambat. Resiko dalam pemberian kredit Resiko ini merupakan kondisi dan situasi yang akan dihadapi di masa yang akan datang yang sangat besar pengaruhnya terhadap perolehan laba bank. Secara umum jenis-jenis yang mungkin atau bakal dihadapi meliputi sebagai berikut : Resiko lingkungan. resiko lingkungan artinya resiko yang berkaitan dengan lingkungan perbankan terutama yang berkaitan dengan lingkungan luar (eksternal) perbankam. Resiko lingkungan terdiri dari beberapa resiko antara lain resiko ekonomi, resiko kompetisi dan resiko peraturan Resiko manajemen. Resiko manajemen artinya resiko yang berkaitan dengan resiko dari dalam perusahaan (internal) seperti resiko organisasi, resiko kemampuan dan resiko kegagalan. Resiko penyerahan. Resiko penyerahan juga lebih terpengaruh oleh internal bank seperti resiko operasional, resiko teknologi dan resiko strategic Resiko keuangan. Resiko keuangan berkaitan erat dengan pengaruh internal dan eksternal bank seperti resiko resiko kredit, resiko likuiditas, resiko suku bunga, resiko leverage, dan resiko internasional Resiko kredit adalah risiko dimana nasabah / debitur atau counterpart tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya sesuai kontrak /kesepakatan yang telah dilakukan. Definisi ini dapat diperluas yaitu bahwa risiko kredit adalah risiko yang timbul dikarenakan kualitas kredit semakin menurun. Memang penurunan kualitas kredit dimaksud belum tentu berimplikasi pada terjadinya default, namun paling tidak kemungkinan terjadinya default akan semakin besar. Hal-hal yang termasuk dalam Risiko Kredit adalah :

Lending Risk, yaitu risiko akibat nasabah/debitur tidak mampu melunasi fasilitas yang telah diberikan oleh bank, baik berupa fasilitas kredit langsung maupun tidak langsung (cash loan maupun non cash loan) Counterparty Risk, risiko dimana counterpart tidak bisa melunasi kewajibannya ke bank baik sebelum tanggal kesepakatan maupun pada saat tanggal kesepakatan. Issuer Risk, risiko dimana penerbit suatu surat berharga tidak bisa melunasi kepada bank sejumlah nilai surat berharga yang dimiliki bank. Ada beberapa prinsip penilaian dalam melakukan penilaian atas permohonan kredit, diantaranya adalah : a. Prinsip 5 C b. Prinsip 5 P c. Prinsip 5 R Maksud penilaian terhadap permohonan kredit itu adalah meletakan kepercayaan untuk menghindari hal-hal yang tidal diinginkan dikemudian hari akan berakibat : 1. Kegagalan usaha, 2. Kemacetan total kreditnya Prosedur Pemberian dan Pengawasan Kredit Standar dokumentasi / administrasi kredit Perlindungan asuransi Pengawasan Kredit

Perjanjian Kredit
Perjanjian Kredit sama halnya dengan perjanjian secara umum yang diatur dalam Buku III KUHPerdata. Namun, tidak ada satupun pertauran perundang-undangan yang khusus mengatur tentang Perjanjian Kredit, bahkan dalam Undang-Undang Perbankan sekalipun. Istilah perjanjian Kredit terdapat dalam Surat Keputusan Direksi Bank Nagari (PT. BPD Sumbar) Nomor SK/208/Dir/07-2000 tentang Perjanjian Kredit dan Ketentuan Umum Pemberian Kredit oleh Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat. Menurut Soebekti, berpendapat bahwadalam bentuk apapun juga pemberian kredit itu diadakan, dalam semuanya itupada hakekatnya yang terjadi adalah suatu perjanjian pinjammeminjamsebagaimana diatur dalam Pasal 1754 sampai dengan Pasal 1769 KUH Perdata. Pendapat senada juga dikemukakan oleh Hay (1975 : 67) bahwa perjanjiankredit adalah identik dengan perjanjian pinjam-meminjam dan tunduk kepadaketentuan Bab XIII dari Buku III KUH Perdata.Hal yang sama dikemukakan pula oleh Badrulzaman (1994 : 110), bahwadari rumusan yang terdapat di dalam Undang-undang perbankan mengenaiperjanjian kredit, dapat disimpulkan bahwa dasar perjanjian kredit adalahperjanjian pinjam-meminjam di dalam KUH Perdata Pasal 1754 .Rumusan perjanjian pinjam-meminjam menurut pasal 1754 KUH Perdata,adalah :Perjanjian pinjam meminjam adalah perjanjian dengan mana pihak yang satumemberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yangmenghabis karena

pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakanganini akan mengembalikan sejumlah uang yang sama dari macam dan keadaanyang sama pula. Sarjana lainnya, seperti Hasan berpendapat lain, bahwa perjanjian kredit tidak tepat dikuasai oleh ketentuan Bab XIII Buku III KUH Perdata, sebab antaraperjanjian pinjam-meminjam dengan perjanjian kredit terdapat beberapaperbedaan. Perbedaannya, menurut Hasan (1996 : 174) terdapat pada hal-hal : a. Perjanjian kredit selalu bertujuan dan tujuan tersebut biasanya berkaitandengan program pembangunan; biasanya dalam perjanjian kredit sudahditentukan tujuan penggunaan uang yang akan diterima, sedangkan dalamperjanjian pinjam-meminjam tidak ada ketentuan tersebut dan debitur dapatmenggunakan uang secara bebas. b.,Dalam perjanjian kredit sudah ditentukan bahwa pemberi kredit adalah bank atau lembaga pembiayaan, dan tidak dimungkinkan diberikan oleh individu,sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam, pemberi pinjaman dapatdilakukan oleh individu c.Pengaturan yang berlaku bagi perjanjian kredit berbeda dengan perjanjianpinjammeminjam. Pada perjanjian kredit berlaku ketentuan UUD 1945,ketentuan bidang ekonomi dalam GBHN, ketentuan-ketentuan umum KUHPerdata, UU Perbankan, Paket Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Ekonomiterutama bidang perbankan, Surat-Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) dansebagaimnya, sedangkan pada perjanjian pinjam-meminjam tunduk semata-mata pada KUH Perdata Bab XIII Buku III. d. Pada perjanjian kredit dan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah telahditentukan bahwa pengembalian uang pinjaman itu harus disertai bunga,imbalan, atau pembagian hasil, sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjamhanya berupa bunga saja, dan bunga inipun baru ada apabila diperjanjikan .e. Pada perjanjian kredit, bank harus mempunyai keyakinan akan kemampuandebitur akan pengembalian kredit yang diformulasikan dalam bentuk jaminanbaik materiil maupun immateriil, sedangkan pada perjanjian pinjam-meminjam, jaminan merupakan pengaman bagi kepastian pelunasan hutangdan inipun baru ada apabila diperjanjikan, dan jaminan itu hanya merupakanjaminan secara fisik atau materiil saja. Perjanjian kredit adalah suatu perjanjian pokok yang bersifat riil artinyaterjadinya perjanjian kredit ditentukan oleh penyerahan uang oleh bank kepadanasabah debitur. Perjanjian kredit harus diikuti dengan penyerahan uang secarariil kepada debitur. Dalam praktek, ada kemungkinan pinjaman yangdiperjanjikan dalam perjanjian kredit tidak jadi dicairkan. Ini terjadi jika bank mendapat informasi baru yang tidak menguntungkan tentang debitur. Ada jugakemungkinan bahwa besarnya jumlah yang diserahkan berlainan dengan jumlahyang semula disetujui di dalam perjanjian kredit. Penyerahan uang kepada penerima kredit bergantung pula pada sifat atau jeniskredit yang diperjanjikan. Jika kredit itu dalam bentuk investasi, maka pencairannya dilakukan berdasarkan progress fisik proyek yang dibiayai. Jikapinjaman dalam bentuk rekening koran, maka pencairannya dilakukan dalambentuk plafond ke dalam rekening koran, penarikan oleh debitur tergantungkebutuhannya tetapi dalam limit plafond yang disediakan.

Dilihat dari bentuknya, perjanjian kredit perbankan pada umumnyamenggunakan bentuk perjanjian baku ( standard contract ). Artinya, perjanjiannyatelah disediakan oleh bank dalam bentuk blanko, sedangkan debiturnya tinggalmempelajari dan memahaminya dengan baik. Kelemahan dari perjanjian ini, jikadilihat dari sudut debitur, adalah debitur tinggal memiliki salah satu pilihan daridua pilihan yakni menerima atau menolak, tanpa adanya kemungkinan melakukannegosiasi atau tawar menawar dengan bank. Dalam hal ini debitur tidak dapatberbuat banyak dalam menghadapi kreditur karena perjanjian baku telahditentukan oleh bank.Keberadaan perjanjian kredit sangat penting karena berfungsi sebagai dasarhubungan kontraktual antara para pihak. Dalam perjanjian kredit dapat ditelusuriberbagai hal tentang pemberian, pengelolaan ataupun penatalaksanaan kredit itusendiri. Untuk itu sangat perlu untuk diperhatikan bersama. Wardoyo dalam Hermansyah (2006 : 72), mengemukakan bahwa perjanjian kredit itu memiliki tiga fungsi, yaitu : a. Berfungsi sebagai perjanjian pokok, artinya perjanjian kredit merupakansesuatu yang menentukan batal atau tidak batalnya perjanjian lain yangmengikutinya, misalnya perjanjian pengikatan jaminan; b. Berfungsi sebagai alat bukti mengenai batasan-batasan hak dan kewajiban diantara kreditur dan debitur; c. Berfungsi sebagai alat untuk melakukan monitoring kredit Dalam prakteknya, Perjanjian Kredit memiliki 2 (dua) bentuk, yaitu: 1. Dalam Bentuk Akta Bawah Tangan (Pasal 1874 BW) merupakan akta perjanjian yang baru memiliki kekuatan hukum pembuktian apabila diakui oleh pihak-pihak yang menanda-tangani dalam akta perjanjian tersebut. agar akta ini tidak mudah dibantah, maka diperlukan pelegalisasian oleh Notaris, agar memiliki kekuatan hukum pembuktian yang kuat seperti akta otentik. 2. Dalam bentuk Akta Otentik. merupakan akta perjanjian yang memiliki kekuatan hukum pembuktian yang sempurna, karena ditanda tangani langsung oleh pejabat pembuat akta, yaitu Notaris, dan akta ini dianggap sah dan benar tanpa perlu membuktikan keabsahannya dari tanda tangan pihak lain. Sifat-sifat umum perjanjian kredit: 1. Merupakan perjanjian pendahuluan. sebelum uang/objek dari perjanjian diserahkan, terlebih dahulu harus ada persesuaian kehendak antara pemberi dan penerima kredit yang disepakati dalam suatu perjanjian kredit. Jadi perjanjian kredit merupakan perjanjian pendahuluan sebelum diberikannya objek/uang. 2. Merupakan perjanjian bernama.

hal ini sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. kalau dia diatur dalam perundang-undangan disebut dengan perjanjian bernama 3. Merupakan perjanjian standar. dimana bentuk dan isi dari perjanjian tersebut telah ditetapkan terlebih dahulu, sehingga pihak lawan dalam perjanjian hanya diminta untuk menyetujui apa- apa saja yang tercantum dalam perjanjian kredit tersebut.

Hal-hal yang diperjanjikan dalam Perjanjian Kredit: 1. jangka waktu. 2. suku bunga. 3. cara pembayaran. 4. agunan/jaminan kredit. 5. biaya administrasi. 6. asuransi jiwa dan tagihan.

Dalam prakteknya, perjanjian kredit dapat hapus/berakhir karena: 1. ditentukan oleh pihak-pihak terlebih dahulu dalam perjanjian kredit tersebut. 2. adanya pembatalan oleh salah satu pihak terhadap perjanjian tersebut.

Pengertian kredit bermasalah

Berdasarkan SE - 09/PJ.42/1999, pengertian kredit yang digolongkan "Lancar", "Perhatian Khusus", "Kurang Lancar", "Diragukan", dan "Macet", disesuaikan dengan pengertian yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia 1. Kredit digolongkan sebagai kredit "Lancar", apabila memenuhi kriteria sbb : a) Pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat waktu; b) Memiliki mutasi rekening yang aktif; c) Bagian dari kredit yang dijamin dengan agunan tunai (cash collateral) 2. Kredit digolongkan sebagai kredit dalam "Perhatian Khusus", apabila memenuhi kriteria sbb :'

a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang belum melampaui 90 (sembilan puluh) hari; b) Kadang-kadang terjadi cerukan; c) .Mutasi rekening relatif aktif; d) Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan; e) .Didukung oleh pinjaman baru. 3. Kredit digolongkan sebagai kredit "Kurang Lancar", apabila memenuhi kriteria sbb : a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 90 (sembilan puluh) hari; b) .Sering terjadi cerukan; c) Mutasi rekening relatif rendah; d) Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 (sembilan puluh) hari; e) Terapat likuidasi masalah keuangan yang dihadapi debitur; f) Dokumentasi pinjaman lemah 4. Kredit digolongkan sebagai kredit "Diragukan", apabila memenuhi kriteria sbb : a) .Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 180 (seratus delapan puluh) hari; b) Terjadi cerukan yang bersifat permanen; c) erjadi wanprestasi lebih dari 180 (seratus delapan puluh) hari; d) Terjdi kapitalisasi bunga; e) Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun peningkatan jaminan 5. Kredit digolongkan sebagai kredit "Macet", apabila memenuhi kriteria sbb : a) Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 270 (dua ratus tujuh puluh) hari; b) Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru; c) Dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar. Kredit bermasalah adalah suatu keadaan dimana nasabah sudah tidak sanggup membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang telah diperjanjikan. Penyebab kredit macet a. Error Omission (EO) Timbulnya kredit macet yang ditimbulkan oleh adanya unsur kesengajaan untuk melanggar kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan. b. Error Commusion Timbulnya kredit macet karena memanfaatkan lemahnya peraturan atau ketentuan yaitu memang belum ada atau sudah ada, tetapi tidak jelas.

Kredit-kredit yang disalurkannya jika banyak yang macet akan menimbulkan kerugian yang besar. Kerugian yang besar ini akan menghambat operasi perusahaan. Dan supaya kegiatan perbankan tidak terganggu, maka nanti Pemerintah juga yang harus memberi injeksi modal. Artinya, rakyat juga yang harus menanggung beban yang ditimbulkan oleh kredit macet itu. Selain itu, bank-bank. Pemerintah hingga kini masih dominan dalam jumlah asset terhadap keseluruhan aset perbankan nasional. Biasanya di saat kredit macet terjadi dan dilakukan pemeriksaan, maka persoalannya tidak akan lepas dari EO dan EC atau bahkan karena dua-duanya. Berdasarkan pengalaman kasus-kasus perbankan nasional yang berkaitan dengan kredit macet mnimbulkan semacam persepsi yang cenderung menjadi suatu mitos yang masih dianut, antara lain adalah : 1). Bahwa bank tidak mengalami kerugian akibat resiko kredit. Atas pemahaman ini, maka merupakan kesalahan sekaligus kejahatan besar apabila pada sebuah bank tercatat adanya kredit macet. Padahal risiko kredit jelas merupakan risiko yang selalu ada dan tidak bisa dihindari. 2). Dalam setiap kasus kredit macet, maka selalu diartikan itu karena terjadi kolusi dan atau korupsi apakah oleh pihak oknum bankir ataupun oknum nasabahnya. Hal tersebut bisa saja terjadi, tetapi tidak semua kredit macet karena kolusi dan korupsi. 3). Dalam setiap penanganan kredit macet selalu mengutamakan pendekatan sapu jagat di mana going concern baik bank dan perusahaannya menjadi diabaikan. Kalau kredit macet itu karena ulah oknumnya, maka bukan berarti bank ataupun perusahaannya harus dimatiin. Bank yang tercemar akan menimbulkan efek domino berupa terjadi krisis kepercayaaan terhadap industri perbankan. Efek domino itu sering negative melalui pencairan dana dan melarikannya ke luar negeri. 4). Ada kecenderungan kajian atas kredit macet mengabaikan term of reference masa lalu. Kredit yang diputus tahun 2000, misalnya, dan kemudian macet tahun 2004, maka berusahalah dikaji atas dasar term of reference pada tahun 2000. Misalnya, hal-hal yang berkaitan dengan asumsi. Dengan pedekatan term of reference, biasanya akan diketehui apakah redit macet itu karena error omission atau error commission. Jadi kesalahannya bias saja bukan pada dasar keputusannya, tetapi karena masalah monitoring dan pembinaan bank terhadap nasabahnya. Sama-sama salah, tetapi esensi- nya menjadi lebih jelas dan memudahkan menemukan siapa yang bertanggung jawab, bukan siapa yang dipersalahkan. Harusnya kalau kredit macet itu terbukti memang karena oknumnya yang salah, maka segera saja proses secara hukum terhadap oknumnnya. Itu pun dengan tetap menjaga asa praduga tak bersalah. Adalah sangat bijak kalau bank dan perusahaannya bisa dibiarkan berjalan terus apakah oleh manajemen baru atau kalau perlu ditunjuk dari kalangan professional atas dasar penugasan dari Negara. Sebab sangatlah tidak tepat dan bijaksana kalau perusahaannya harus ditutup di mana para pekerjanya yang sama sekali tidak bersalah akan ikut menjadi korbannya.

Penyelamatan dan penyelesaian kredit macet Apabila sampai terjadi kredit bermasalah, maka harus melakukan upaya-upaya dalam mengatasi kredit bermasalah sampai tidak ada alternative lainnya, serta melakukan penghapusan kredit dan pengelolaan kredit yaitu telah dihapus bukukan. Penyelamatan kredit bermasalah tersebut dilakukan dengan cara (Resceduling, Reconditioning, Restructuring). a. Penjadwalan kembali (Rescheduling), adalah tindakan penyelamatan terhadap kredit bermasalahdengan jalan merubah jangka waktu kredit, misalnya dengan jalanmemperpanjang jangka waktu kredit dan atau memperpanjang jangka waktuangsuran kredit. b. Persyaratan kembali (Reconditioning), adalah tindakan penyelamatan kredit denganjalan memberikan keringanan atas persyaratan-persyaratan kredit, misalnyadengan merekapitalisasi bunga tertunggak, penundaan pembayaran bunga sampaipada waktu tertentu (grace period ), penurunan suku bunga, pembebasan bungaataupun pengkonversian kredit dengan jangka waktu pendek menjadi jangkawaktu panjang. Sedangkan c. Penataan kembali (Restructuring), adalah tindakan penyelamatan kreditdengan melakukan perubahan struktur kredit setelah lebih dahulu melakukananalisaataskeadaanpermodalandebitur. Tindakantindakannyadapat berupapenambahan jumlah kredit (injection) dan atau merubah struktur kredit misalnyadari kredit modal kerja menjadi kredit angsuran.Apabila upaya- upayapenyelamatan kredit seperti telah dikemukakan diatastidak berhasil, maka penanganan atau upaya penagihan kredit yang terakhir adalah dengan melihat jaminan sebagai second way-out (second source of repayment ). Dalam hal ini akan dilakukan upaya hukum eksekusi atas jaminan,yang tindakan hukumnya tergantung daripada jenis dan macam jaminan yangdiserahkan oleh debitur atau penjaminnya. Prakteknya, eksekusi atas jaminandijadikan upaya bank yang paling akhir dilakukan, hanya apabila upayaupayapenyelamatan kredit tidak berhasil. Mencegah terjadinya kredit macet Untuk mencegah terjadinya kredit macet pihak bank harus melakukan analisis sebagai berikut kepada calon debiturnya, yaitu analisis 5C yang telah disebutkan diatas.