Vous êtes sur la page 1sur 97

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Obat-obatan, dalam bentuk tumbuhan dan mineral telah ada jauh lebih lama dari manusia sendiri. Naluri manusia untuk mempertahankan hidup akibat dari penyakit yang menjangkiti mereka, membawa pada penemuan-penemuan yang berhubungan dengan obat-obatan. Baik dalam bentuk sederhana, sudah berlangsung sejak sebelum adanya sejarah yang ditulis, karena naluri orang primitif untuk menghilangkan rasa sakit pada luka dengan meredamnya dalam air dingin untuk menempelkan daun segar pada luka tersebut, atau menutupinya dengan lumpur, hanya berdasarkan kepercayaan. Orang primitif belajar dari pengalaman dan mendapatkan cara pengobatan yang satu lebih efektif dari yang lain, dari dasar permulaan ini pekerjaan terapi dengan obat dimulai. Obat dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang dimaksud untuk dipakai dalam diagnose, mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah penyakit pada manusia dan hewan, salah satu kualitas obat yang paling mengherankan adalah mempunyai beraneka ragam kerja dan efek pada tubuh. Jalur baru pemakaian obat yang paling efektif (secara oral, rektal, parental) harus ditentukan dan ditetapkan petunjuk tentang dosis-dosis yang dianjurkan bagi pasien dalam berbagai umur, berita dan status penyakitnya. Untuk membantu pemakaian alat melalui jalur pilihan yang telah diformulasikan dan disiapkan

bentuk sediaan yang sesuai seperti tablet, kapsul, injeksi, suppositoria, oinmen, aerosol, dan lain-lain. Setiap produk farmasi disamping mengandung zat aktif juga mengandung zat tambahan farmasetik, bahan pembantu seperti bahan pengisi, pengental, pembawa, surfaktan, penghancur pada tablet zat penstabil, zat pemberi rasa, zat pewarna, dan zat pemanis. Dalam merancang bentuk sediaan farmasi disamping efek farmasetik, keadaan pasien juga diperhatikan, untuk pasien yang biasa menggunakan obat sendiri disediakan berbagai jenis sediaan. Untuk pemakaian oral digunakan seperti tablet, kapsul dan sediaan cair. Pada kenyataanya sediaan yang padat dan kering lebih disukai karena memberikan kenyamanan dalam penanganan serta pemakaian oleh pasien. Dewasa ini sekitar 40% dari sediaan yang ada dipasaran diolah menjadi tablet karena tablet ini massanya dapat dibuat dengan mesin yang biayanya murah, tekanannya tapat, mudah digunakan serta dosisnya tepat terbagi merata. Pasien lebih mudah membawa obat karena lebih ringan dan tidak membutuhkan ruang yang besar. Suatu sediaan tablet merupakan suatu bentuk sediaan yang baik dan homogen. Tablet membuktikan keunggulanya dimana bentuk luarnya utuh pada saat transportasi penyimpanan. Tablet merupakan salah satu sediaan farmasi yang paling banyak digunakan, karena hampir sebagian sediaan yang beredar merupakan sediaan dalam bentuk tablet, serta paling banyak diproduksi karena mempunyai banyak kelebihan jika dibandingkan dengan bentuk lain. Oleh sebab itu, untuk lebih memahami cara

pembuatan tablet, maka dilakukan praktikum pencetakan tablet pada perkuliahan semester VI ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler,kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. (Farmakope Indonesia Edisi III ). Suatu tablet yang dinyatakan baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. 2. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil.

3. Keadan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/ mekanik. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan; Bebas dari kerusakan fisik; Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan; Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu

10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku. (Proceeding Seminar Validasi, Hal 26) Sekarang ini sediaan tablet banyak digunakan dikalangan masyarakat karena tablet memiliki beberapa keuntungan, yaitu : 1. Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis; 4

2.

Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil sehingga memudahkan proses pembuatan, pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan;

3.

Bebas

dari

air,

sehingga

potensi

adanya

hidrolisis

dapat

dicegah/diperkecil. 4. 5. Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih. Pelepasan zat aktif dapat diatur (tablet lepas tunda,lepas lambat, lepas terkendali). 6. Tablet dapat disalut untuk melindungi zat aktif, menutupi rasa dan bau yang tidak enak, dan untuk terapi lokal (salut enterik). 7. Dapat diproduksi secara besar- besaran, sederhana, cepat, sehingga biaya produksinya lebih rendah. 8. 9. Pemakaian oleh penderita lebih mudah. Tablet paling mudah di telan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di tenggorokan. 10. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia,makanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik. Di samping keuntungan di atas, sediaan tablet juga mempunya beberapa kerugian, antara lain : 1. Ada orang tertentu yang tidak dapat menelan tablet (dalam keadaan tidak sadar/pingsan); 2. Formulasi tablet cukup rumit, antara lain :

Beberapa zat aktif sulit dikempa menjadi kompak padat, karena sifat amorfnya, flokulasi, atau rendahnya berat jenis;

Zat aktif yang sulit terbasahi (hidrofob), lambat melarut, dosisnya cukup besar atau tinggi, absorbsi optimumnya tinggi melalui saluran cerna, atau kombinasi dari sifat tersebut, akan sulit untuk diformulasi (harus diformulasi sedemikian rupa);

Zat aktif yang rasanya pahit, tidak enak, atau bau yang tidak disenangi, atau zat aktif yang peka terhadap oksigen, atmosfer, dan kelembaban udara, memerlukan enkapsulasi sebelum dikempa. Dalam hal ini sediaan kapsul menjadi lebih baik daripada tablet.

(The Theory & Practice of Industrial Pharmacy, Lachman Hal 294).

Jenis Sediaan Tablet (Catatan Kuliah P Charles + Teori dan Praktek Farmasi Industri, Lachman Hal 706-717) Berdasarkan prinsip pembuatan, tablet terdiri atas : a. Tablet Kempa Dibuat dengan cara pengempaan dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk/granul menggunakan pons/cetakan baja. b. Tablet Cetak Dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab dengan tekanan rendah pada lubang cetakan. Kepadatan tablet tergantung pada pembentukan

kristal yang terbentuk selama pengeringan, tidak tergantung pada kekuatan yang diberikan. Berdasarkan tujuan penggunaan, tablet terdiri atas : 1. Tablet Kempa Tujuan Saluran Pencernaan a. Tablet Konvensional Biasa Tablet yang dibuat atau dikempa dengan siklus kompresi tunggal yang biasanya terdiri dari zat aktif sendiri atau kombinasi dengan bahan eksipien seperti: Pengisi (memberi bentuk) : laktosa Pengikat (memberi adhesivitas/kelekatan saat bertemu saluran pencernaan): musilago amili, amilum Desintegrator (mempermudah hancurnya tablet) b. Tablet Kempa Multi/Kempa Ganda Adalah tablet konvensional yang dikompresi lebih dari satu siklus kompresi tunggal sehingga tablet akhir tersebut terdiri atas 2 atau lebih lapisan. Disebut juga sebagai tablet berlapis. Keuntungannya dapat memisahkan zat aktif yang inkompatibel (tidak tersatukan) c. Tablet Lepas Lambat Tablet yang pelepasan zat aktifnya dimodifikasi sehingga tablet tersebut melepaskan dosis awal yang cukup untuk efek terapi yang kemudian disusul dengan dosis pemeliharaan sehingga jumlah zat aktif atau konsentrasi zat

aktif dalam darah cukup untuk beberapa waktu tertentu. (misal tablet lepas lambat 6 jam, 12 jam, dsb). d. Tablet Lepas Tunda (Tablet Salut Enterik) Adalah tablet yang dikempa yang disalut dengan suatu zat yang tahan terhadap cairan lambung, reaksi asam, tetapi terlarut dalam usus halus. e. Tablet Lepas Terkendali Yang pelepasan zat aktifnya terkendali pada waktu-waktu tertentu. f. Tablet Salut Gula Adalah tablet kempa yang disalut dengan beberapa lapis lapisan gula baik berwarna maupun tidak. Tujuan: melindungi zat aktif terhadap lingkungan udara (O2, lembab), menutup rasa dan bau tidak enak, menaikkan penampilan tablet. g. Tablet Salut Film Tablet kempa yang disalut dengan salut tipis, bewarna atau tidak dari bahan polimer yang larut dalam air yang hancur cepat di dalam saluran cerna. Penyalutan tidak perlu berkali-kali. h. Tablet Efervesen Tablet kempa yang jika berkontak dengan air menjadi berbuih karena mengeluarkan CO2..Tablet ini harus dilarutkan dalam air baru diminum i. Tablet Kunyah Tablet kempa yang mengandung zat aktif dan eksipien yang harus dikunyah sebelum ditelan.

2. Tablet Kempa Digunakan dalam Rongga Mulut a. Tablet Bukal Tablet kempa biasa berbentuks oval yang ditempatkan di antara gusi dan pipi. Biasanya keras dan berisi hormon. Bekerja sistemik, tererosi atau terdisolusi di tempat tersebut dalam waktu yang lama (secara perlahan). b. Tablet Sublingual Tablet kempa berbentuk pipih yang diletakkan di bawah lidah, berisi nitrogliserin. Biasanya untuk obat penyempitan pembuluh darah ke jantung (angina pectoris) sehingga harus cepat terlarut agar dapat segera memberi efek terapi. Diabsorbsi oleh selaput lendir di bawah lidah. c. Tablet Hisap/Lozenges Tablet yang mengandung zat aktif dan zat-zat penawar rasa dan bau, dimaksudkan untuk disolusi lambat dalam mulut untuk tujuan lokal pada selaput lendir mulut. d. Dental Cones (Kerucut Gigi) Yaitu suatu bentuk tablet yang cukup kecil, dirancang untuk ditempatkan di dalam akar gigi yang kosong setelah pencabutan gigi. Tujuannya biasanya untuk mencegah berkembangbiaknya bakteri di tempat yang kosong tadi dengan menggunakan suatu senyawa antibakteri yang dilepaskan secara perlahan-lahan, atau untuk mengurangi perdarahan dengan melepaskan suatu astringen atau koagulan. Pembawa yang umum digunakan adalah Na bikarbonat, NaCl atau suatu asam amino.

10

3. Tablet Kempa Digunakan Melalui Liang Tubuh a. Tablet Rektal Tablet kempa yang mengandung zat aktif yang digunakan secara rektal (dubur) yang tujuannya untuk kerja lokal atau sistemik. b. Tablet Vaginal Tabler kempa yang berbentuk telur (ovula) untuk dimasukkan dalam vagina yang di dalamnya terjadi disolusi dan melepaskan zat aktifnya. Biasanya mengandung antiseptik, astringen. Digunakan untuk infeksi lokal dalam vagina dan mungkin juga untuk pemberian steroid dalam pengobatan sistemik.

4. Tablet Kempa untuk Implantasi Tablet Implantasi/Pelet Dibuat berdasarkan teknik aseptik, mesin tablet harus steril.

Dimaksudkan untuk implantasi subkutan (Untuk KB, 3-6 bulan, mencegah kehamilan).

5. Tablet Cetak untuk Penggunaan Lain (Di Lachman disebutkan Jenis Tablet untuk Membuat Larutan) a. Tablet Triturat untuk Dispensing Adalah tablet yang dihaluskan dulu atau disiapkan untuk penggunaan tertentu. Tablet kempa atau cetak berbentuk kecil umumnya silindris

11

digunakan untuk memberikan jumlah zat aktif terukur yang tepat untuk peracikan obat (FI IV). Digunakan sebagai tablet sublingual atau dilepaskan di atas lidah dan ditelan dengan air minum. b. Tablet Hipodermik Tablet cetak/kempa yang dibuat dari bahan mudah larut/melarut sempurna dalam air. Umumnya digunakan untuk membuat sediaan injeksi steril dalam ampul dengan menambahkan pelarut steril (FI IV) c. Tablet Dispensing Tablet yang digunakan oleh apoteker dalam meracik bentuk sediaan padat/cair. Dimaksudkan untuk ditambahkan ke dalam air dengan volume tertentu, oleh ahli farmasi atau konsumen, untuk mendapatkan suatu larutan obat dengan konsentrasi tertentu. Berdasarkan Rute Pemberian : 1. 2. 3. 4. Tablet oral (dalam mulut) Tablet rektal Tablet vaginal Tablet implantasi

Berdasarkan Penyalutan : 1. 2. 3. Tablet polos Tablet salut gula Tablet salut film

Berdasarkan Pelepasan Zat Aktif :

12

1. 2. 3.

Tablet pelepasan biasa Tablet lepas lambat Tablet lepas tunda

Bahan bahan yang digunakan dalam pembuatan tablet : 1. Zat aktif (zat berkhasiat ) Dalam suatu tablet zat aktif harus diperhatikan agar dapat menyusun suatu formula serta menentukan metoda pembuatan yang efesien sehingga didapatkan tablet yang baik. 2. Bahan pembantu a. Pengisi (diluents ) Bahan ini dimaksudkan agar memperbesar volume tablet. Zat zat yang digunakan adalah Saccharum lactis, amylum, calcii carbonas dan lain- lain. b. Pengikat (binde Pada dasarnya ada 2 ( dua ) metoda pembuatan tablet / perakitan tablet yaitu : 1. Cara kering : 2. Cetak langsung Prekompressi / slugging

Cara basah : Granulasi basah Granulasi dasar

13

Cara kering disebut juga dengan granulasi kering, sedangkan cara basah disebut juga dengan granulasi basah. Granulasi basah adalah cara yang paling umum dilakukan, pada cara ini digunakan larutan bahan pengikat dalam air seperti : Carboxymethyl Celulosa Natrium (Na.CMC), gom arab, gelatin, pasta pati dan lainnya yang sesuai dengan sifat bahan berkhasiat yang digunakan untuk pembuatan tablet. Adapun tahap-tahap pengerjaan granulasi basah adalah penimbangan bahan, pencampuran bahan, granulasi,

pengayakan, massa basah, pengeringanpada suhu 50-60C, pengayakan massa kering, lubrikasi dan pencetakan.

B. GRANULASI Dalam suatu pembuatan tablet dikenal suatu metoda yaitu : granulasi, metoda granulasi ini digunakan untuk bahan-bahan yang tidak memenuhi syarat untuk cetak langsung. Granulasi adalah proses pembesaran ukuran partikel individual / campuran serbuk untuk menghasilkan campuran obat dan exsipient dalam bentuk aglomerat / granulyang lebih besar dan lebih kuat dari ukuran awal, sedangkan partikel awal, sedangkan partikel awal masih dapat diidentifikasi. Granul dapat digunakan sebagai produk perantara tapi dapat juga disebut produk obat. Granulasi dimulai dengan cara pencampuran bahan aktif yang diperlukan dengan bahan pengisi dan bahan pengikat, sehingga dicapai suatu distribusi satu bentuk ( uniform ) masing-masing bahan aktif melalui pencampuran tersebut. Keuntungan dari pembuatan granul adalah sebagai berikut :

14

Meningkatkan bobot jenis bulk secara keseluruhan. Mengurangi debu dari serbuk halus yang digunakan. Mencegah terjadinya segresi / pemisahan akibat perbedaan bahan yang digunakan.

Meningkatkan dan mengontrol kecepatan disolusi. Dapat memperbaiki penampilan obat dan dapat mengurangi bahaya lingkungan waktu operator bekerja.

Granul akan membentuk campuran serbuk yang mempunyai distribusi bahan aktif dan exsipient yang homogen.

Distribusi ukuran granul dapat memberikan gambaran tentang daya ikat bahan pengikat yang digunakan. Daya ikat yang kuat akan menghasilkan ukuran sedikit lebih kecil dari daya ikat yang lemah. Granul yang baik adalah pertikelpartikel berbentuk bundar serta mempunyai distribusi ukuran partikel yang mengikuti kurva distribusi normal. Cara pembuatan tablet : 1. Cara cetak langsung Cetak langsung adalah proses pembuatan tablet yang dilakukan dengan mencetak langsung bahan aktif obat baik dengan atau tanpa bahan tambahan. Syarat-syarat :

15

Mempunyai sifat alir yang baik Stabik secara fisikokimia Dapat dicampurkan Daya ikat kuat dan dapat dimampatkan BJ yang tidak terlalu berbeda

Cara pencetakan langsung merupakan cara yang paling sederhana, karena tidak memerlukan peralatan untuk proses granulasi ataupun proses pengeringan seperti cara lain. Bahkan seringkali tidak memerlukan tambahan bahan pembantu lain sebab dapat dicetak langsung menjadi tablet. a. Granulasi Kering ( prekompressi / slugging ) Merupakan proses pembuatan granul tanpa melibatkan pelarut air maupun pelarut organik, campuran serbuk dicetak langsung menjadi tablet besar dan keras, diperlukan tekanan yang besar untuk mengompakkan ikatan antar partikel, kemudian slug diayak menjadi granul yang ringan. Cara ini digunakan untuk zat aktif yang tidak memenuhi syarat untuk cetak langsung, tapi tidak bisa untuk bahan yang lembab dan panas. b. Granulasi basah Disebut granulasi basah karena dalam proses pembuatan granulnya mempergunakan larutan bahan pengikat. Umumnya digunakan untuk pembuatan obat karena kebanyakn bahan aktif tidak memiliki sifat alir dan kompressibilitas yang baik.

16

Caranya : campuran yang kering + pengikat kemudian dicampur homogen, kemudian diayak kasar dan dikeringkan, lalu diayak dengan ayakan kecil + bahan penghancur kemudian dicetak. 2. Granulasi dasar Granulasi dasar zat aktif dimasukkan ke dalam granul, setelah granul jadi saat akan dicetak baru ditambahkan zat aktif + pelincir + penghacur luar. Proses ini sangat dipengaruhi oleh : Sifat bahan aktif dan exsipient Pemilihan bahan aktif dan exsipient Proses dan peralatan yang digunakan

C. EVALUASI GRANUL Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel besar dengan mekanisme pengikatan tertentu. Granul dapat diproses lebih lanjut menjadi bentuk sediaan granul terbagi, kapsul, maupun tablet. Berbagai proses granulasi telah dikembangkan, dari metode konvensional seperti slugging dan granulasi dengan bahan pengikat musilago amili hingga embentukan granul dengan peralatan terkini seperti spray dry dan freeze dry. Granulasi peleburan atau hot melt granulation merupakan metode pembentukan dispersi padat berbentuk granulat dengan bahan pengikat yang

17

melebur di atas suhu kamar. Granulasi peleburan ini dapat digunakan untuk membentuk granul dengan bahan pengikat hidrofob seperti lemak dan wax dengan tujuan penyalutan. Pembentukan matriks sediaan pelepasan dimodifikasi (modified release drug). Keunggulan dari granulasi peleburan ini adalah : tidak membutuhkan bahan pelarut, tidak memerlukan proses pengeringan, dan prosesnya berlangsung cepat serta bersih. Parameter yang diamati adalah :uji homogenitas, uji sifat alir, uji kompresibilitas granul, dan uji distribusi ukuran granul.

Uji Sifat Alir Granul dimasukkan ke dalam corong uji waktu alir. Penutup corong dibuka

sehingga granul keluar dan ditampung pada bidang datar. Waktu alir granul dicatat dan sudut diamnya dihitung dengan mengukur diameter dan tinggi tumpukan granul yang keluar dari mulut corong. Waktu alir dipersyaratkan dengan sudut diam tidak lebih dari 30 derajat Uji Kompresibilitas Timbang 100 g granul masukkan ke dalam gelas ukur dan dicatat volumenya, kemudian granul dimampatkan sebanyak 500 kali ketukan dengan alat uji, catat volume uji sebelum dimampatkan (Vo) dan volume setelah dimampatkan dengan pengetukan 500 kali (V). Uji Kerapuhan Granul

18

Kerapuhan granul yaitu gambaran stabilitas fisis granul. Dapat diamati lewat ketahanannya terhadap adanya getaran dengan menempatkannya di atas ayakan bertingkat yang digetarkan. Uji Daya Serap Granul Daya serap granul berpengaruh pada waktu hancur tablet. Faktor yang mempengaruhi penetrasi adalah porositas tablet dimana tergantung kompressi dan kemampuan penyerapan air dari material yang dipakai. Bahan penghancur mulai berfungsi diantaranya melalui proses pengembangan, reaksi kimia maupun secara enzimatis setelah air masuk ke dalam tablet

Uji Waktu Alir Waktu alir adalah waktu yang diperlukan untuk mengalir dari sejumlah

granul melalui lubang corong yang diukur adalah sejumlah zat yang mengalir dalam suatu waktu tertentu. Untuk 100 g granul waktu alirnya tidak boleh lebih dari 10 detik. Waktu alir berpengaruh terhadap keseragaman bobot

tabletPengempaan tablet. Uji Kompaktibilitas Untuk mengetahui kemampuan granul untuk saling melekat menjadi massa yang kompak, digunakan mesin tablet single punchdengan berbagai tekanan..

19

Sudut Diam Sudut diam yaitu sudut tepat yang terjadi antara timbunan partikel bentuk

kerucut dengan bidang horizontal. Bila sudut diam lebih kecil dari 300 biasanya menunjukkan bahwa bahan dapat mengalir bebas, bila sudutnya lebih besar atau sama dengan 400 biasanya mengalirnya kurang baik. Indeks Pengetapan Pengukuran sifat alir dengan metode pengetapan yaitu dengan melakukan penghentian (tapping) terhadap sejumlah serbuk dengan menggunakan alat volumeter (mechanical tapping device). Pengetapan dilakukan dengan mengamati perubahan volume sebelum pengetapan (Vo) dan volume setelah pengeapan setelah konstan (Vt). Serbuk dapat dikatakan memiliki sifat air baik jika indeks pemampatannya kurang dari 20%.

Uji Kecepatan Alir dan Sudut Istirahat Massa cetak diletakkan dalam corong alat uji kecepatan alir yang bagian

bawahnya ditutup.Massa cetak yang keluar dari alat tersebut dihitung kecepatan alirannya dengan menghitung waktu yang diperlukan oleh sejumlah serbuk untuk turun melalui corong alat penguji dengan menggunakan stopwatch dari mulai dibukanya tutup bagian bawah hingga semua massa granul mengalir keluar dari alat uji. Timbunan granul dapat digunakan untuk menghitung sudut istirahat. Diameter rata-rata timbunan granul dan tinggi puncak timbunan granul diukur. Kerapatan Nyata

20

Beberapa bagian massa cetak ditimbang (pada pengujian kali ini dilakukan terhadap dua puluh lima gram massa cetak), kemudian dimasukkan ke dalam gelas ukur seratus mililiter.Volume awal granul dicatat. Kerapatan nyata adalah berat serbuk dibagi dengan volume awal granul. Kerapatan nyata = Berat granul (g/mL) Volume awal granul Kerapatan Mampat Beberapa bagian massa cetak ditimbang (pada pengujian kali ini dilakukan terhadap dua puluh lima gram massa cetak), kemudian dimasukkan ke dalam gelas ukur seratus mililiter.Setelah dilakukan penentuan kerapatan nyata di atas kemudian ketuk-ketukan gelas ukur tersebut dengan menggunakan alat uji kompresibilitas hingga volume granul konstan. Kerapatan mampat adalah berat granul dibagi dengan volume granul konstan.

Kompresibilitas Penentuan kompresibilitas digunakan untuk menghasilkan tablet yang baik.

Kompresibilitas dapat dilihat dari harga indeks Carr yang sangat bergantung pada kerapatan nyata maupun kerapatan mampat dari granul yaitu dengan cara kerapatan mampat dikurangi kerapatan nyata, lalu dibagi dengan kerapatan mampat. Kompresibilitas granul dinyatakan dalam persen: Indeks Carr = Kerapatan mampat Kerapatan nyata x 100%

Kerapatan mampat I. DENSITAS GRANUL

21

Densitas secara umum didefinisikan sebagai berat per satuan volume. Akan timbul kesulitan dalam menentukan densitas granul apabila granul yang terbentuk terdapat retakan-retakan mikroskopis, dan apabila terdapat pori-pori dalam ruangruang partikel. Ada 2 dua jenis pada granul : Density nyata ( BJ nyata ) Densitas ini menggambarkan seberapa besar partikel-partikel granul masih dapat mengalir dan konsentrasi sesamanya. Dari sejumlah material ( harus dikeringkan dahulu, biasanya 100 g ), masukkan secara hati-hati ke dalam gelas ukur 200 mL, permukaan serbuk diratakan dengan pinset sehingga volumenya dapat dibaca langsung. Dari berat dan volume yang dibaca dapat dicari densitas nyata granul. Sebelum pengukuran granul dikeringkan terlebih dahulu sampai berat konstan. Densitas mampat ( BJ mampat ) Densitas ini dapat diketahui melalui penghentakan material dalam gelas ukur untuk memberikan energi pada masing-masing partikel, dimana energi ini digunakanuntuk mengatasi gaya gesekan antar partikel yang cukup tinggi. Alat yang dipakai adalah Bulk Density Tester. II. Penentuan kadar air, sudut longsor, kecepatan aliran serbuk, dan ukuran partikel. Penentuan kadar air

22

Penentuan kadar air suatu tablet sangat penting untuk karakterisasi bahan dalam bentuk serbuk ( kemempuan mengalir, menggumpal dan bercampur ) dan dalam semua bahan dalam pencampuran tablet atau tablet bersalut ( granulasi, pencetakan, penyalutan tablet, kehancuran dan kekerasan,ketahanan dalam penyimpanan ) dalam pembuatan obat. Ada beberapa cara untuk menentukan kadar air suatu granul : 1. Cara timbangan-pengering Berdasarkan perbedaan berat granul. Dimana sejumlah granul ditimbang sebelum dan sesudah dikeringkan, selisihnya dibagi dengan sebelum dikeringkan x 100% merupakan kadar air ( % ). Peralatan yang dipakai adalah Infra red Moustuir Balance. 2. Cara pengukuran daya hantar Berdasarkan peningkatan daya hantar listrik dengan peningkatan kadar air. Daya hantar listrik ini diberikan dengan melarutkan senyawa elektrolit kedalam bahan padat.

Sifat aliran serbuk Sifat aliran serbuk dari material merupakan faktor yang sangat penting pada

proses pencampuran, penghalusan, pengayakan, dan pencetakan tablet/pengisian corong kapsul. Granul harus dilairkan ke dalam tabung pencetak dari tabung

23

hoppler. Bila sifat aliran dari granul tidak baik dapat menyebabkan ruang lubang cetak tidak terisi seragam. Jika pengisian tidak seragam, tablet yang diisikan akan mempunyai variasi bobot yang besar. Jika bobot tablet menurun maka diadakan perlakuan seperti mengubah vibrasi atau mengganti hoppler. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat aliran serbuk : 1. Bentuk morfologi permukaan serbuk Bentuk partikel akan mempengaruhi gaya fiksi, jika bentuk partikel serbuk makin tidak beraturan maka gaya aliran semakin kecil, kemampuan aliran serbuk akan mudah jika melalui corong. 2. Ukuran partikel dan distribusi ukuran partikel Partikel halus dengan ukuran diameter yang kecil dari 100m dominan dipengaruhi oleh gaya muatan listrik statis dan kohesi vanderwalls, alirannya melalui lubang akan tertahan karena gaya kohesi antar partikelnya sama, gaya gravitasi besar dan serbuk akan lebih mudah melalui corong. Jadi keseimbangan dari gaya-gaya yang saling berinteraksi sangat berpengaruh.

3. Kelembaban

24

Kelembaban akan mempengaruhi kemampuan mengalir serbuk yang dapat diamati dengan peningkatan daya rentang serbuk melalui pembentukan jembatan cair. 4. Gaya kohesi Gaya kohesi antar partikel akan semakin jelek karena adanya kecenderungan berikatan antara yang satu denagn yang lain. 5. Pengaruh suhu Penurunan suhu akan menurunkan daya rentang. Untuk meningkatkan sifat alir serbuk dapat ditambahkan glidant seperti : SiO2, talkum, amilum, tapi kadarnya jangan terlalu besar ( 0,1 1,5% ) karena akan mempengaruhi waktu hancur. Metoda penentuan sifat aliran serbuk : Mengukur waktu yang diperlukan oleh sejumlah serbuk ( biasanya 100 gram ), untuk dapat melewati suatu corong. Mengukur jumlah serbuk yang dapat melewati corong dalam suatu waktu tertentu. Dalam proses pengaliran serbuk akan terjadi gaya gesekan antar partikel dimana gaya ini dapat dikurangi dengan penambahan zat pelincir. Untuk dapat mengetahui pengaruh bahan pelincir dapat digunakan parameter faktor aliran ( F ). F = Jumlah gram zat + pelincir yang dapat melewati corong

25

Jumlah gram zat yang dapat melewati corong Harga F > 1 menunjukan adanya perbaikan sifat aliran yang disebabkan penambahan bahan pelincir. Ukuran partikel Pengukuran besar partikel adalah penentuan dari besar dan distribusi besar partikel dalam suatu media pembawa, dalam hal ini baik fasa terdispersi maupun fasa pendispersi dapat dibagi atas 3 sistem yaitu : padat, cair dan gas. Pengukuran besar partikel yang dimaksud bukanlah pengukuran dari sistem dispersi molekul, bukan pula campuran gas tapi pengukuran yang dilakukan pada zat padat sebagai fasa terdispersi dan gas atau cairan sebagai fasa pendispersi. Sesuai literatur, pengukuran ukuran partikel dapat diketahui dari garis tengah. Untuk pengukuran ini dikenal beberapa garis tengah yaitu : 1. Garis tengah Martin ( dm ) Panjang jarak yang membelah partikel menjadi 2 bidang yang sama luasnya 2. Garis tengah Ferret ( d ferr ) Panjang jarak maksimal dari tangen-tangen pada bidang proyeksi yang terjadi tegak lurus pada daerah pengukuran. 3. Garis tengah partikel dengan volume yang ekivalen dengan volume suatu bola.

26

Ada 2 metoda yang digunakan untuk menentukan besar ukuran partikel yaitu : 1. Analisis perhitungan : - perhitungan langsung - Perhitungan tidak langsung 2. Analisis jumlah, analisis ayakan Merupakan metoda yang sering digunakan dan paling sederhana dari penentuan besar partikel. Disini digunakan sederetan ayakan yang tersusun sedemikian rupa, ayakan dengan ukuran lubang yang paling besar terletak pada bagian atas, semakin ke bawah lubang ayakan semakin kecil. Setelah diayak beberapa lama akan diperoleh material yang berada diatas ayakan (yang tidak dapat melewati lubang disebut dengan siebruckstand), dan sekumpulan material yang dapat melewati lubang ayakan ( durchgang ). Untuk material yang cenderung teraglomerasi dapat dilakukan dengan metoda ayakan basah

27

BAB III METODE DAN BAHAN PEMBUATAN TABLET

A. METODE PEMBUATAN TABLET Sediaan tablet ini dapat dibuat melalui tiga macam metode, yaitu granulasi basah, granulasi kering, dan kempa langsung. Pemilihan metode pembuatan sediaan tablet ini biasanya disesuaikan dengan karakteristik zat aktif yang akan dibuat tablet, apakah zat tersebut tahan terhadap panas atau lembab, kestabilannya, besar kecilnya dosis, dan lain sebagainya. Berikut merupakan penjelasan singkat dari ketiga macam metode tersebut : 1. Granulasi Basah, yaitu memproses campuran partikel zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang dapat digranulasi. Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas. Umumnya untuk zat aktif yang sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan kompresibilitasnya tidak

28

baik. Prinsip dari metode granulasi basah adalah membasahi masa tablet dengan larutan pengikat teretentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah tersebut digranulasi. Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk dengan suatu perekat sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini membutuhkan larutan, suspensi atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke campuran serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering ke dalam campuran serbuk dan cairan dimasukan 26 terpisah. Cairan yang ditambahkan memiliki peranan yang cukup penting dimana jembatan cair yang terbentuk di antara partikel dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah cairan yang ditambahkan meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling penting pada awal pembentukan granul, bila cairan sudah ditambahkan pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata dan semua bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh massa basah atau lembab maka massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan alat penggiling atau oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul sehingga luas permukaan meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih cepat, setelah pengeringan granul diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur yang dugunakan dan ukuran tablet yang akan dibuat. Keuntungan metode granulasi basah : Memperoleh aliran yang baik Meningkatkan kompresibilitas Untuk mendapatkan berat jenis yang sesuai

29

Mengontrol pelepasan Mencegah pemisahan komponen campuran selama proses Distribusi keseragaman kandungan Meningkatkan kecepatan disolusi

Kekurangan metode granulasi basah: Banyak tahap dalam proses produksi yang harus divalidasi Biaya cukup tinggi Zat aktif yang sensitif terhadap lembab dan panas tidak dapat dikerjakan dengan cara I ini. Untuk zat termolabil dilakukan dengan pelarut non air 2. Granulasi Kering Disebut juga slugging, yaitu memproses partikel zat aktif dan eksipien dengan mengempa campuran bahan kering menjadi massa padat yang selanjutnya dipecah lagi untuk menghasilkan partikel yang berukuran lebih besar dari serbuk semula (granul). Prinsip dari metode ini adalah membuat granul secara mekanis, tanpa bantuan bahan pengikat dan pelarut, ikatannya didapat melalui gaya. Teknik ini yang cukup baik, digunakan untuk zat aktif yang memiliki dosis efektif yang terlalu tinggi untuk dikempa langsung atau zat aktif yang sensitif terhadap pemanasan dan kelembaban. Pada proses ini komponenkomponen tablet dikompakan dengan mesin cetak tablet lalu ditekan ke dalam die dan dikompakan dengan punch sehingga diperoleh massa yang disebut slug, prosesnya disebut slugging, pada proses selanjutnya slug kemudian diayak dan diaduk untuk mendapatkan granul yang daya mengalirnya

30

lebih baik dari campuran awal bila slug yang didapat belum memuaskan maka proses diatas dapat diulang. Dalam jumlah besar granulasi kering dapat juga dilakukan pada mesin khusus yang disebut roller compactor yang memiliki kemampuan memuat bahan sekitar 500 kg, roller compactor memakai dua penggiling yang putarannya saling berlawanan satu dengan yang lainnya, dan dengan bantuan tehnik hidrolik pada salah satu penggiling mesin ini mampu menghasilkan tekanan tertentu pada bahan serbuk yang mengalir dintara penggiling. Metode ini digunakan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut : Kandungan zat aktif dalam tablet tinggi Zat aktif susah mengalir Zat aktif sensitif terhadap panas dan lembab

Keuntungan cara granulasi kering adalah: Peralatan lebih sedikit karena tidak menggunakan larutan pengikat, mesin pengaduk berat dan pengeringan yang memakan waktu Baik untuk zat aktif yang sensitif terhadap panas dan lembab Mempercepat waktu hancur karena tidak terikat oleh pengikat

Kekurangan cara granulasi kering adalah: Memerlukan mesin tablet khusus untuk membuat slug Tidak dapat mendistribusikan zat warna seragam Proses banyak menghasilkan debu sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi silang

31

3. Metode Kempa Langsung, yaitu pembuatan tablet dengan mengempa langsung campuran zat aktif dan eksipien kering.tanpa melalui perlakuan awal terlebih dahulu. Metode ini merupakan metode yang paling mudah, praktis, dan cepat pengerjaannya, namun hanya dapat digunakan pada kondisi zat aktif yang kecil dosisnya, serta zat aktif tersebut tidak tahan terhadap panas dan lembab. Ada beberapa zat berbentuk kristal seperti NaCl, NaBr dan KCl yang mungkin langsung dikempa, tetapi sebagian besar zat aktik tidak mudah untuk langsung dikempa, selain itu zat aktif tunggal yang langsung dikempa untuk dijadikan tablet kebanyakan sulit untuk pecah jika terkena air (cairan tubuh). secara umum sifat zat aktif yang cocok untuk metode kempa langsung adalah; alirannya baik, kompresibilitasnya baik, bentuknya kristal, dan mampu menciptakan adhesifitas dan kohesifitas dalam massa tablet. Sedangkan keuntungan metode kempa langsung yaitu : Lebih ekonomis karena validasi proses lebih sedikit Lebih singkat prosesnya. Karena proses yang dilakukan lebih sedikit, maka waktu yang diperlukan untuk menggunakan metode ini lebih singkat, tenaga dan mesin yang dipergunakan juga lebih sedikit. Dapat digunakan untuk zat aktif yang tidak tahan panas dan tidak tahan lembab. Waktu hancur dan disolusinya lebih baik karena tidak melewati proses granul, tetapi langsung menjadi partikel. tablet kempa langsung berisi

32

partikel halus, sehingga tidak melalui proses dari granul ke partikel halus terlebih dahulu. Kerugian metode kempa langsung : Perbedaan ukuran partikel dan kerapatan bulk antara zat aktif dengan pengisi dapat menimbulkan stratifikasi di antara granul yang selanjutnya dapat menyebabkan kurang seragamnya kandungan zat aktif di dalam tablet. Zat aktif dengan dosis yang besar tidak mudah untuk dikempa langsung karena itu biasanya digunakan 30% dari formula agar memudahkan proses pengempaan sehingga pengisi yang dibutuhkanpun makin banyak dan mahal. Dalam beberapa kondisi pengisi dapat berinteraksi dengan obat seperti senyawa amin dan laktosa spray dried dan menghasilkan warna kuning. Pada kempa langsung mungkin terjadi aliran statik yang terjadi selama pencampuran dan pemeriksaan rutin sehingga keseragaman zat aktif dalam granul terganggu. Sulit dalam pemilihan eksipien karena eksipien yang digunakan harus bersifat; mudah mengalir; kompresibilitas yang baik; kohesifitas dan adhesifitas yang baik.

B. BAHAN PEMBANTU GRANULASI BASAH 1. Pengisi Adalah zat inert yang ditambahkan dalam formula tablet yang ditujukan untuk membuat bobot tablet sesuai dengan yang diharapkan

33

Biasanya tablet yang mengandung zat aktif dengan dosis kecil memerlukan zat pengisi yang banyak. Jika dosis besar maka pengisi sedikit atau tidak sama sekali. a. Avicel (mikrokristalin selulosa) 1) Bentuk 103 memiliki keunggulan dibandingkan dengan 101, 102 karena volume spesifiknya kecil, aliran lebih baik dan waktu hancur lebih singkat. 2) Insoluble, non-reaktif, aliran kurang baik, kapasitas pegang 50%. 3) Menghasilkan tablet yang keras dengan tekanan kecil (kompresibilitas baik) dan friabilitas tablet rendah, waktu stabilitas panjang. 4) Menghasilkan pembasahan yang cepat dan rata sehingga

mendistribusikan cairan penggranul ke seluruh massa serbuk; menghasilkan distribusi warna dan obat yang merata. 5) Bertindak sebagai pembantu mengikat, menghasilkan granul yang keras dengan sedikit fines. 6) Bisa bersifat pengikat kering, disintegran, lubrikan dan glidan. 7) Penggunaannya membutuhkan lubrikan; penggunaannya dapat

dikombinasi dengan laktosa, manitol, starch, kalsium sulfat. 8) Membantu mengatasi zat-zat yang jika overwetting (terlalu basah) menjadi seperti clay yang sukar digranulasi dan ketika kering granulnya menjadi keras dan resisten terhadap disintegrasi. Contoh: kaolin, kalsium karbonat. 9) Avicel dalam GB memperbaiki ikatan pada pengempaan, mengurangi capping dan friabilitas tablet.

34

10) Avicel membantu obat larut dengan air agar homogen, mencegah migrasi pewarna larut air dan membantu agar evaporasi cepat dan seragam. 11) Untuk obat dengan dosis kecil, Avicel digunakan sebagai pengisi dan pengikat tambahan. 12) 60% avicel PH 101 dan 40% amilum sebagai pasta 10% membuat massa lembab mudah digranulasi, membentuk granul yang kuat pada pengeringan dengan sedikit fine daripada pasta yang hanya terbuat dari amilum. 13) Bentuk PH 101: serbuk, PH 102: granul, PH 103: serbuk Sebagai disintegran : 1) Merupakan disintegran yang sangat baik terutama pada konsentrasi 10% atau lebih tinggi. 2) Pada GB Avicel tidak bersifat disintegran. 3) Perhatian: pada konsentrasi tinggi, Avicel dapat menyebabkan tablet lengket pada lidah saat akan digunakan. b. Kalsium sulfat trihidrat 1) Digunakan sebagai pengisi untuk granulasi dengan jumlah zat aktif 20-30%. 2) Sinonim: terra alba, snow white filler. 3) Insoluble, non-higroskopis.

35

4) Semakin tinggi grade-nya semakin putih, pengisi paling murah, bisa dipakai untuk zat aktif asam, netral, basa; punya kapasitas abisaorbisai yang tinggi untuk minyak. 5) Pengikat yang disarankan: PVP, MC, starch paste. c. Kalsium fosfat dibasic 1) Digunakan sebagai pengisi dan pengikat untuk kempa langsung dengan memiliki ukuran paling kecil, tidak mahal, tidak dapat digunakan bersama senyawa asam atau garam asam 2) Jika digunakan cairan pengikat yang terlalu banyak maka jadi lengket dan keras, tidak dapat digranul sehingga solusinya dikombinasi dengan starch/Avicel d. Laktosa (Lachman Tablet) 1) Inkompatibel dengan: senyawa yang sangat basa, asam askorbat, salisilamid, pyrilamine maleat, phenilephrine HCl 2) Granul laktosa hidrat mengandung kadar lembab 4-5% 3) Laktosa adalah gula peredukasi bereaksi dengan amin menghasilkan reaksi Maillard 4) Isomer: dan (dalam campuran berada dalam kesetimbangan kedua bentuk) (Lachman Industri) 1) Pengisi yang paling umum, ada 2 bentuk: hidrat dan anhidrat 2) Jarang bereaksi dengan obat (hidrat dan anhidrat)

36

3) Untuk GB pakai laktosa HIDRAT; laktosa anhidrat tidak mengalami reaksi Maillard (dengan zat aktif mengandung amina dengan adanya logam stearat), tetapi menyerap lembab. 4) Secara umum tablet menunjukkan release rate yang baik, granulnya cepat kering, disintegrasi tablet tidak banyak dipengaruhi oleh kekerasan (Handbook of Pharm Excipient) 1) Keburukan: laktosa dpr berubah warna dengan adanya basa amin dan Mg-stearat 2) Dikenal 4 macam bentuk: granul kasar (60-80 mesh), granul halus (80-100 mesh), granul spray dried (100-200 mesh), dan laktosa anhidrat 3) Dikenal sebagai gula susu Spray-dried Lactose (Lachman Industri) 1) Untuk pengisi kempa langsung, umumnya digabung dengan Avicel. Jika tunggal digunakan dalam konsentrasi 40-50% sebagai pembawa 2) Sifat direct compression-nya berkurang jika kadar air < 3%; dapat dicampur dengan 20-25% zat aktif tanpa kehilangan sifat direct compression-nya 3) Kapasitas pegang 20-25% terhadap zat aktif; punya aliran baik dan karakteristik pengikatan yang lebih baik dibandingkan laktosa biasa 4) Kelemahan: dapat menghitam dengan adanya lembab, amin, atau senyawa lain yang mengandung furaldehid

37

5) Gunakan lubrikan netral atau asam e. Sukrosa 1) Bisa berfungsi sebagai pengisi/pengikat 2) Jika digunakan sebagai pengikat tunggal, sukrosa membentuk granul yang keras dan tablet lebih cenderung terdisolusi daripada terdisintegrasi. Oleh karena itu banyak dikombinasi dengan pengisi insoluble lain 3) Jika digunakan sebagai pengisi kering, biasanya digranulasi dengan pengikat larut air atau hidroalkohol. Kekerasan granul tergantung jumlah pengikat yang digunakan. Campuran air dan alkohol akan menghasilkan granul yang lebih lunak. 4) Memiliki banyak bentuk, paling sering digunakan bentuk

confectioner untuk GB yang mengandung 3% pati jagung untuk mencegah caking 5) Sukrosa digunakan sebagai pemanis dalam tablet kunyah dan digunakan sebagai pengikat untuk memperbaiki kekerasan tablet 6) Kelemahan: tablet yang dibuat dengan komposisi sebagian besar sukrosa akan mengeras pada penyimpanan. Sukrosa bukan gula pereduksi tetapi menjadi coklat pada penyimpanan dan higroskopis 7) Turunan sukrosa yang dapat digunakan untuk kempa langsung: a) Sugartab : 90-93% sukrosa, 7-10% invert sugar : 97% sukrosa, 3% modified dekstrin

b) Di Pac

38

c) Nu Tab stearat f. Dekstrosa

: 95% sukrosa, 4% gula invert, 1% corn starch, Mg

1) Penggunannya terbatas pada GB sebagai pengisi dan pengikat 2) Digunakan mirip dengan sukrosa, cenderung menghasilkan tablet yang keras terutama jika menggunakan dekstrosa anhidrat 3) Menjadi coklat pada penyimpanan g. Manitol 1) Pengisi yang baik untuk tablet kunyah karena rasanya enak, sedikit manis, halus, dingin (negatif heat solution) 2) Non-higroskopis, aliran jelek, membutuhkan lebih banyak cairan pengikat 3) Dapat digunakan untuk formulasi vitamin, menghasilkan granul yang lebih halus dari sukrosa atau dekstrosa 4) Kadar lembab granul yang dibuat dari sukrosa, dekstrosa, dan manitol setelah pengeringan semalam pada 140-150 F adalah 0,2% 5) Hanya sedikit yang terabisaorbisai di saluran cerna, jika digunakan banyak dapat bersifat laksatif h. Emdex dan Celutab

(Lachman Industri) 1) Dapat bereaksi dengan amin pada suhu dan kelembaban tinggi 2) Bebas mengalir dan dapat dikempa langsung, mengandung 8-10% lembab, kekerasan tablet dapat meningkat setelah pengempaan

39

3) Starch terhidrolisa mengandung 90-92% dekstrosa dan 3-5% maltosa 4) Dapat digunakan sebagai pengganti manitol pada talbet kunyah karena manis dan berasa halus. i. Starch 1500 (penjelasan ada di bagian Pengikat)

2. Adsorben a. Adsorben harus memiliki titik leleh yang tinggi. Dengan titik leleh tinggi setelah terjadi lelehan pertama akan terbentuk massa yang bertitik leleh lebih tinggi. b. Manfaat adsorben: mencegah tablet basah oleh lelehan zat aktif, jika tablet basah maka tablet akan lengket dalam cetakan. Bekerja menyerap lelehan zat aktif. Contoh: 1) Avicel 2) Bolus alba 3) Kaolin, bentonit, Mg silikat, MgO, trikalsium fosfat 4) Aerosil 3. Pengikat a. Pengikat bisa berupa gula dan polimer. b. Pengikat yang berupa polimer alam: starch, gum (acacia, tragacanth, gelatin) c. Pengikat yang berupa polimer sintetik: PVP, metilselulosa, etilselulosa, hidroksipropilselulosa

40

d. Bisa dengan cara kering/basah. Cara basah lebih sedikit membutuhkan bahan. e. Jumlah larutan pengikat yang dibutuhkan untuk 3 kg pengisi tercantum pada tabel (Lachman Tablet halaman 161) 1) Starch (amylum) (Lachman Tablet) a) Dapat digunakan sebagai pengisi, pengikat, dan penghancur b) Dalam bentuk musilago amili 5-10% c) Cara: suspensikan starch 1:1/2-1 dalam air dingin, tambahkan 2-4 kali air mendidih dengan pengadukan konstan sampai starch mengembang menjadi transparan yang dapat diencerkan d) Cara lain: suspensi starch dalam air dipanaskan e) Mengandung kadar air 11-14%; akan menyebabkan tablet

terdisintegrasi dengan cepat (hal 161) f) Pembuatannya harus hati-hati agar diperoleh musilago yang baik, tidak terhidrolisis, dan tidak mengarang g) Pemakaian terbaik maksimal 30%. Jika dosis zat aktif besar, starch diganti dengan penghacur yang lebih baik, yaitu avicel. h) Tablet yang mengandung amilum dengan konsentrasi tinggi menunjukkan tablet yang rapuh dan sukar dikeringkan i) Amilum yang tidak dimodifikasi tidak mempunyai sifat

kompresibilitas yang baik dan mempunyai friabilitas yang besar, dan

41

akan terjadinya capping pada tablet jika digunakan dalam jumlah besar Sebagai disintegran: a) Pemakaian: 1-20%, merupakan disintegran yang paling umum digunakan b) Mekanisme kerja dengan membentuk ikatan hidrogen saat

pengempaan dan pecah atau mengembang saat air masuk mell pori (kapiler) c) Pemakaiannya disesuaikan dengan jenis starch, tekanan pengempaan, dan kandungan air massa cetak d) Perhatian: sebelum digunakan, starch harus dikeringkan pada suhu 8090 C untuk menghilangkan air yang terabisaorpsi 2) Starch 1500 (Lachman Tablet) a) Dapat digunakan sebagai pengikat basah, kering, dan disintegran b) Starch 1500 maksimal mengandung 20% fraksi larut air yang berfungsi sebagai pengikat sedangkan sisanya bersifat sebagai disintegran c) Starch 1500 dibutuhkan 3-4 kali lebih banyak daripada musilago amili untuk menghasilkan tablet dengan kekerasan yang sama d) Sebaiknya tidak digunakan sebagai pengisi pada GB karena akan menghasilkan gel yang berfungsi sebagai pengikat yang sangat kuat e) Sebagai disintegran dapat ditambahkan kering, pada fasa luar.

42

(Lachman Industri) a) Aliran bagus, merupakan directly compressible starch b) Dapat dikempa sendiri, tetapi jika dicampur dengan 5-10% obat membutuhkan lubrikan tambahan (misalnya 0,25% colloidal silicon dioxide) c) Mengandung 10% lembab dan menyebabkan tablet menjadi lunak jika dikombinasi dengan Mg stearat > 0,5%, sebagai pengganti digunakan asam stearat Sebagai disintegran: a) Merupakan disintegran yang baik dan ditambahkan dalam campuran kering (dalam fasa dalam dan atau fasa luar pada metoda granulasi kering atau kempa langsung, atau dalam fasa luar pada metoda granulasi basah) b) Perhatian: tidak boleh diberikan pada massa basah 3) Amilum pragelatinasi a) Merupakan pati yang sudah dimasak dan dikeringkan lagi. Dapat digunakan sebagai pengganti starch paste karena lebih mudah larut dalam air hangat tanpa pemanasan b) Dapat ditambahkan kering ke dalam serbuk kemudian dibasahkan dengan air membentuk massa lembab 4) Gelatin a) Digunakan pada konsentrasi 5-10% sebanyak 1-5% dari formula

43

b) Sudah

jarang

digunakan,

digantikan

PVP,

MC.

Cenderung

menghasilkan tablet yang keras dan memerlukan disintegran yang aktif c) Dapat digunakan untuk senyawa yang sulit diikat d) Kelemahan: rentan bakteri dan jamur e) Jika masih diperlukan pengikat yang lebih kuat, dapat digunakan larutan gelatin dalam air 2-10%, yang dibuat dengan menghidrasi gelatin dalam air dingin selama beberapa jam/semalam kemudian dipanaskan sampai mendidih, larutan gelatin harus dipertahankan hangat sampai digunakan karena akan menjadi gel pada pendinginan 5) Larutan sukrosa a) Membentuk granul keras, kekerasan diatur dari konsentrasi sukrosa 20-85% b) Sangat baik sebagai pembawa soluble dyes dan menghasilkan warna beragam c) Digunakan untuk menggranulasi tribasic fosfat yang umumnya memerlukan pengikat yang lebih kohesif dari musilago amili; pada tablet ferro sulfat, bertindak sebagai pengikat dan pelindung ferrosulfat dr oksidasi d) Senyawa lain yang pengikatnya bisa berupa gula: aminofilin, asetopheretidin, asetaminofen, meprobamate 6) Larutan akasia

44

a) Digunakan pada konsentrasi 10-25%; untuk mengurangi mephenesin (dosis besar dan sukar digranulasi) b) Menghasilkan granul yang keras tetapi tidak mengeras pada penyimpanan c) Kelemahan: dapat terkontaminasi mikroba d) Kadang ditambah lubrikan cair PEG 6000 untuk membantu pencetakan tablet dan disintegrasi tablet 7) PVP a) Nama dagang: Kollidon atau Plasdon b) Inert, larut air dan alkohol, digunakan dalam konsentrasi 3-15%, sedikit higroskopis, tidak mengeras selama penyimpanan (baik untuk tablet kunyah) c) Tablet efervesen bisa dibuat menggunakan PVP dalam etanol anhidrat. Jangan menggunakan isopropanol anhidrat karena

meninggalkan bau pada granul. d) Konsentrasi 5% menghasilkan kompresibilitas yang baik dari serbuk Natrium bikarbonat dan asam sitrat sehingga tablet bereaksi cepat dan disolusi cepat. e) PVP baik untuk tablet kunyah terutama untuk alumunium hidroksida, Mg(OH)2 8) Selulosa 9) Metil selulosa

45

a) 1-5% larutan air; larutan 5% menghasilkan kekerasan yang sama dengan musilago amili b) Dapat digunakan untuk menggranulasi soluble/insoluble powder; pengikat yang baik untuk eksipien laktosa, manitol, dan gula c) Keuntungan: penyimpanan 10) CMC Na a) 5-15% b) Inkompatibel dengan Mg, Ca, Al, dan garamnya c) Menghasilkan granul yang lebih rapuh dari PVP kecenderungan untuk mengeras; umumnya tablet mempunyai waktu disintegrasi yang lebih lama 11) Etil selulosa a) Larutan dalam alkohol. Low grades digunakan sebagai pengikat 210% dalam etanol b) Dapat digunakan untuk menggranulasi serbuk yang sukar digranulasi: asetaminofen, kafein, meprobamat, ferofu, arat, dan dapat digunakan sebagai pengikat non air untuk serbuk yang tidak tahan air seperti asam askorbat c) Dapat memperlambat disintegrasi 12) Polivinil alkohol a) Larut air, mirip akasia tapi tidak terlalu rentan dengan bakteri dapat dikompres cepat, tidak mengeras pada

46

b) Membentuk granul yang lebih lunak dari acacia, menghasilkan tablet yang disintegrasi lebih cepat dan tidak mengeras pada penyimpanan 13) PEG 6000 a) Sebagai pengikat anhidrat, dimana air dan alkohol tidak dapat digunakan b) PEG 6000 merupakan padatan putih yang meleleh pada 70-750C dan mengeras pada 56-630C 14) N-HPC (Nisso-HPC) a) Larut dalam air dan pelarut organik alkohol, propilen glikol, metilen klorida, aseton dan kloroform. Jika digunakan sebagai pelarut pada granulasi basah N-HPC dilaruntukan dalam air atau alkohol. Cara: Melarutkan dalam air N-HPC ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam air sambil diaduk kuat 20-30% air dipanaskan sampai 600C dan N-HPC ditambahkan perlahan-lahan sambil diaduk. Setelah itu ditambahkan sisa air. Dengan cara ini pelarutan lebih cepat. 4. Flavour (Lachman Industri) a. Digunakan untuk tablet kunyah Melaruntukan dalam pelarut organik

47

b.

Penambahan pewangi dapat dilakukan dalam keadaan kering, biasanya sebagai fasa luar, sedangkan yang cair ditambahkan dengan menyemprotkan ke dalam massa cetak

c.

Flavour yang digunakan adalah bentuk flavour oil yang diabsorbsikan ke adsorben

d.

Jumlah yang digunakan maksimal 0,5-0,75%

5. Disintegran Fungsi : untuk memecah tablet

Cara pakai : saat granulasi - sebelum dicetak (paling baik) a. b. c. Starch (amylum) Starch 1500 Sodium starch glycolate (primogel, explotab) 1) Pemakaian: 1-20% dengan konsentrasi optimum 4% 2) Explotab tidak dapat sebagai penghancur dalam 3) Mekanisme sama dengan starch secara umum, merupakan starch termodifikasi sehingga mampu menyerap air 200-300% 4) Waktu disintegrasi ditentukan pula oleh besarnya tekanan

pengempaan 5) Perhatian: pada suhu dan kelembaban yang tinggi dapat memperlama waktu disintegrasi sehingga memperlambat waktu disolusi d. Selulosa (selulosa, metilselulosa, CMC, CMC-Na, Avicel, Acdisol)

48

1) Acdisol merupakan ikatan silang dari CMC-Na dan sangat baik untuk digunakan sebagai disintegran karena larut air dan memiliki afinitas yang besar pada air. 2) Acdisol ini digolongkan pada super disintegran. Penggunaan 2-5%. e. Gums (agar, pectin, tragacant, guar gum) 1) Pemakaian: 1-10% 2) Bukan merupakan disintegran yang baik, karena kapasitas

pengembangannya yang relatif rendah f. Clays 1) Pemakaian: 2-10%, sifat hilang jika digranulasi 2) Bukan merupakan disintegran yang baik, karena dapat menyebabkan perubahan warna secara keseluruhan g. Alginat (asam alginat dan Na-alginat) 1) Pemakaian: 1-5% (asam alginat) atau 2,5-10% (Na-alginat) 2) Memiliki afinitas yang besar terhadap air 6. Lubrikan Konsentrasi optimum: 1% Fungsi: sebagai eksipien untuk menghilangkan gesekan/friksi saat pengempaan dan penarikan tablet ke luar cetakan Jenis: a. Water soluble: banyak digunakan untuk tablet larut air seperti tablet/serbuk effervescent b. Water insoluble: paling banyak dan digunakan konsentrasi rendah

49

Mekanisme: a. Fluid type lubricant Membentuk lapisan cair antara massa cetak dengan logam cetakan. Dapat meninggalkan noda pada tablet b. Boundary type lubricant Dengan berinteraksi antara gugus polar lubrikan dengan molekul pada permukaan logam. Tipe ini memiliki adheren terhadap cetakan lebih baik 1) Lubrikan dapat menyebarkan tekanan saat pengempaan dan meningkatkan bobot jenis partikel secara keseluruhan 2) Semakin kecil ukuran granul, dibutuhkan lubrikan yang semakin banyak 3) Secara umum lubrikan dapat memperlama waktu hancur tablet dan menurunkan kecepatan disolusi karena sifatnya yang hidrofob 4) Perhatian: aspirin tidak stabil dengan adanya senyawa alkaline, misalnya lubrikan alkalin stearat. Penggantinya dapat digunakan talk. 5) Lubrikan carbowax seringkali diberikan dalam bentuk larutan alkohol 6) Ketika lubrikan ditambahkan saat granulasi, mereka akan membentuk lapisan di sekitar granul sehingga dapat mengurangi kerusakan tablet setelah dikempa. Pembentukan lapisan ini juga akan menyebabkan tablet menjadi labih berpori, elastik, mudah melar, dan memberikan hasil tablet yang lebih besar sehingga tablet mudah pecah

50

7) Lubrikan seringkali ditambahkan secara kering ketika semuanya telah homogen, dan dicampur pada 2-5 menit akhir dari total waktu pencampuran 10-30 menit 8) Metode penambahan lubrikan di akhir (sebagai fasa luar-setelah granul dibentuk) memberikan hasil yang lebih baik terhadap kekerasan tablet dan kemudahannya untuk dikeluarkan dibandingkan dengan metode penambahan lubrikan saat dilakukan granulasi 9) Sebagai lubrikan tunggal, Mg-lauril sulfiat pada konsentrasi yang lebih rendah dapat dikombinasi dengan Mg-stearat

Water soluble lubricant Asam borat Sodium chloride DL-Leusine Carbowax 4000/6000 Sodium oleat Sodium benzoat Sodium asetat : 1% : 5% :1-5% : 1-5% : 5% : 5% : 5%

Water insoluble lubricant Logam (Mg, Ca, Na) stearat Asam stearat Sterofex Talk Waxes Stearowet Gliseril behapte : 1-5% : -2% : -2% : -2% : 1-5% : 1-5% : 1-5%

dapat pula sebagai pengikat, dapat dikombinasi dengan Mg-stearat : 1-2% Sodium benzoat + sodium asetat: 1-5% 7. Glidan

51

a. b.

Secara umum, fine silica > Mg stearat > talk murni Talk mengandung sejumlah kecil Al silikat dan Fe. Harus hati-hati untuk zat aktif yang penguraiannya dikatalisis oleh Fe 1) Cab-O-Sil : 5-10%

2) Corn starch : 5-10% 3) Aerosil 4) Talk 5) Syloid 8. Anti Adheren a. Yang paling baik adalah yang larut air, dan yang paling efisien adalah DLLeusine b. Biasa digunakan pada produk yang mengandung vitamin E dosis tinggi karena cenderung terjadi picking 1) Talk : 1-5% : 1-3% : 5% : 0,1-0,5%

2) Logam stearat : <1% 3) Cab-O-Sil 4) Syloid 5) Corn starch 6) DL-Leusine : 0,1-0,5% : 0,1-0,5% : 3-10% : 3-10%

7) Na-lauril sulfat: <1%

C. PERKEMBANGAN FORMULA TABLET

52

Pada bagian ini akan diterangkan pembuatan tablet dan permasalahannya. Karena umumnya bahan disini berasal dari catatan atau pengalaman, maka tidak ada pustaka pada bagian ini. Bagian ini dibuat untuk pertimbangan pemilihan metode dan formulasi teoritik, aplikasi formula teoritik, dan penanggulangan permasalahan yang mungkin terjadi pada pembuatan.

D. MONOGRAFI ZAT AKTIF (PARASETAMOL) Asetaminofen mengandung tidak kurang dari 98,0 % dan tidak lebih dari 101,0 % C8H9N02, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa pahit. Kelarutan larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95 %) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali hidroksida. Suhu lebur 169 sampai 172 . Timbal tidak lebih dari 10 bpj. Susut pengeringan tidak lebih dari 0,5 %. Sisa pemijaran tidak lebih dari 0,1 %. Penetapan kadar dilakukan penetapan dengan cara penetapan kadar nitrogen, menggunakan 300 mg yang ditimbang seksama dan 8 ml asam sulfat bebas nitrogen P. 1 ml asan sulfat 0,1 N setara dengan 15,116 mg C8H9N02. Penyimpanan dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.

53

Khasiat dan penggunaan Analgetikum; antipiretikum. 1. Farmakokinetik Parasetamol diabsorpsi cepat dalam sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu 0,5 jam dan masa paruh dalam plasma antara 1 3 jam. Obat ini tersebar ke seluruh cairan tubuh dan dalam plasma sebanyak 20% akan diikat oleh protein plasma sedangkan metabolismenya berlangsung di hati oleh enzim mikrosom hati. Sebagian parasetamol (80%) dikonjugasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat. selain itu obat ini juga dapat mengalami hidroksilasi dimana metabolitnya dapat menimbulkan

methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit. Sedangkan eksresinya melalui ginjal, dimana sebagian kecil sebagai parasetamol dana sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi. 2. Farmakodinamik Parasetamol merupakan derivate dari para amino fenol yang mempunyai daya analgesic dan daya antipiretik. Karena daya antiinflamasinya yang sangat lemah maka tidak digunakan sebagai antireumatik. Pada pemberian dosis tunggal 10 15 gram dapat terjadi nekrosis hati dimana terjadi peningkatan transaminase serum, dehidrogenase laktat, dan konsentrasi bilirubin. Kerusakan heap ini dapat berakibat kepada enselopati, koma dan kematian.

54

Biasanya parasetamol dikontraindikasikan dengan penderota uang mengalmi gangguan fungsi hati, serta efek samping dari obat ini adalah dapat menimbulkan gangguan hematologik ringan dan pemakaian dosis tinggi dapat menimbulkan nekrosis hati. 3. Volume Media Disolusi Volume media disolusi tergantung dari kelarutan zat aktif yang akan ditentukan kecepatan disolusinya. Jika kelarutan suatu zat aktif kecil dan kadarnya cukup besar dalam suatu sediaan, maka diperlukan media disolusi dalam volume yang cukup besar. Penjenuhan cairan disolusi sebaiknya dicegah, sebagai acuan dapat digunakan bahwa volume media disolusi yang digunakan dalam suatu pengujian disolusi minimal 4 kali lebih besar daripada volume media di mana zat aktif tersebut dapat larut seluruhnya. 4. Suhu Suhu dalam wadah disolusi harus dikendalikan secara seksama. Kelarutan zat aktif tergantung juga pada suhu media, karena itu variasi suhu selama pengujian harus dihindari. Wadah disolusi biasanya tercelup dalam penangas air yang dilengkapi dengan termostat. Suhu yang biasa digunakan adalah 37 derajat Celcius. 5. Lokasi Pengambilan Alikot Jika suatu sediaan tablet terdesintegrasi menjadi partikel-partikel halus dan perbedaan bobot jenis antara partikel dan media disolusi cukup kecil, maka pengambilan alikot dapat dilakukan di mana saja pada wadah disolusi. Menurut USP XXII pengambilan alikot dilakukan pada suatu titik/tempat tertentu dalam

55

wadah disolusi yaitu pada posisi antara alat pengaduk (keranjang/dayung) dan permukaan atas media dan tidak kurang dari 1 cm dari dinding wadah. 6. Lama Pengujian Lama pengujian tergantung kelarutan zat aktif. Pengujian dilakukan paling sedikit sampai diperoleh T 80% atau lebih. 7. Waktu Pengambilan Sampel Waktu pengambilan alikot disesuaikan dengan monografi, biasanya dicantumkan % terdisolusi dalam waktu tertentu. Untuk mengetahui profil disolusi zat aktif maka pengambilan sampel harus dilakukan pada rentang waktu tertentu.

8. Farmakologi a. Mekanisme kerja Paracetamol adalah derivate p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik/analgesic. Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral, yang bekerja berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hypothalamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (dikulit) dengan bertambahnya pengeluaran dan disertai keluarnya banyak keringat. Sifat analgesic paracetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang, seingga meningkatkan nilai ambang rangsang, kalau nilai ambang meningkat impuls nyeri dihambat. Sifat antiinflamasinya sangat

56

lemah sehingga tidak digunakan sebagai antirematik. Pada penggunaan per oral paracetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna. b. Indikasi Nyeri ringan sampai sedang (termasuk sakit kepala, mialgia, keluhan sesudah imunisasi, dan keluhan sesudah tonsilektomi), serta menurunkan demam yang menyertai infeksi bakteri dan virus. c. Kontra Indikasi Tidak dianjurkan untuk pasien dengan kelainan fungsi hati dan ginjal. d. Efek Samping Reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah. Pada penggunaan kronik dari 3-4 g sehari dapat terjadi kerusakan hati. Dosis di atas 6 g menyebabkan nekrosis hati yang tidak reversible. e. Over Dosis 6-10 gram paracetamol sekaligus dapat menimbulkan kerusakan hati yang fatal. Penelitian mutakhir menunjukan bahwa N-acetylcysteine dipakai sebagai antidotum. Tanda dan gejala Awal : mual, muntah dan malaise (beberapa penderita mungkin asimptomatik). Kemudian, terjadinya kelainan klinis dan labiratorium hepatotoksik (muntah, nyeri perut kanan atas , meningkatnay SGOT, SGPT, serum bilirubin, dan waktu protrombin, dan mungkin hipoglikemia) mungkin belum akan tampak dalam 48-72 jam. Pengobatan : segera keluarkan isi lambung degan rangsangan muntah atau lavage lambung, jangan menggunakan karbon aktif. Periksa kadar asetaminofen

57

didalam serum secepat mungkin, namun jangan sebelum 4 jam setelah menelan obat. Segera periksa fungsi hati dan diulangi setiap 24 jam. Acetylcysteine harus diberikan secepat mungkin. f. Interaksi Pada dosis tinggi dapat memperkuat efek antikoagulansia, pada dosis biasa tidak interaktif, dapat memperpanjang t kloramfenikol, kombinasi dengan obat AIDS zidovudin meningkatkan resiko neutropenia. g. Peringatan dan perhatian 1) Bila setelah 2 hari demam tidak menurun atau setelah 5 hari nyeri tidak menghilang, segera hubungi dokter. 2) ginjal. 3) Penggunaan obat ini pada penderita yang mengkonsumsi alcohol dapat meningkatkan resiko kerusakan fungsi hati. 4) Hentikan pengobatan jika terjadi kemerahan pada kulit atau rasa sakit/panas menetap lebih dari tujuh hari. h. Dosis Untuk nyeri dan demam oral 2-3 dd 0,5 1 g, max 4 g/hari. Pada penggunaan kronis max 2,5 g/hari. Anak-anak 4-6 dd 10 mg/kg, yakni rata-rata usia 3-12 bulan 60 mg, 1-4 tahun 120-180 mg, 4-6 tahun 180 mg, 7-12 tahun 240 360 mg, 4-6 x sehari. Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita penyakit

E. PREFORMULASI

58

Paracetamol Larutan oral paracetamol Sumber: Farmakope Indonesia edisi IV Depkes RI Larutan oral paracetamol mengandung paracetamol C6H9NO2, tidak kurang dari90, 0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumah yang tertera pada etiket, pH antara 3,8dan 6,1.Kadar etanol: metode II bila asam, mengandung antara 90% dan 115,0%C2H5OH dari jumlah yang tertera pada etiket. Lakukan penetapan mrnggunakan aseton Psebagai baku internal. Penetapan kadar lakukan penetapan dengan cara kromatografi cair kinerja tinggi seperti yang tertera pada kromatografi.Fase gerak untuk campuran air methanol p (3 : 1) saring dan udarakan. Jika perlu lakukan penyesuaian menurut kesesuaian system seperti yang ttertera padakromatografi.Larutan aku timbang seksama sejumlah parasetamol BPFI, lakukan dalam fasagerak hingga kadar lebih kurang 0.01 mg/l.Larutan uji diukur seksama sejumlah volume setara dengan lebih kurang 500 mg paracetamol, dimasukkan kedalam labu ukur 250 ml, diencerkan dengan fase gerak sampai tanda berakhir. Pipet 5 ml larutan ini, ke dalam labu ukur 100 ml, diencerkandengan fase gerak hingga tanda. Disaring larutan menggunakan penyaring dengan porositas 0,5 m atau lebih halus 10 ml filtrate pertama dibuang. Digunakan larutan jernih sebagai larutan uji.Prosedur suntikan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang 10 L)larutan baku dan larutan uji ke dalam kromatograf. Ukur respon puncak utama. Hitung jumlah dalam mg dalam tiap mL larutan oral dengan rumus: dengan:C : kadar paracetamol BPFI dalam mg per ml larutan bakuV: volume dalam mL larutan oral yang digunakanR: respon puncak larutan uji dan larutan bakuWadah dan penyimpanan dalam wadah yang tertutup rapat.

59

1. Organoleptis. Bentuk : serbuk hablur Warna Bau Rasa : putih : tidak berbau : sedikit pahit2.

Kelarutan70 bagian air, 20 bagian air mendidih, 7 10 bagian alcohol, 9 bagian propilenglikol,sangat mudah larut dalam kloroform. Praktis tidak larut dalam eter, larut dalamlarutan alkali hydrogen3. pKa Densitas Ksp : 9,54. : 1,263/5 : 1,4 g/100 mL atau 14 mg/mL (20C).

Titik Lebur : 168 C. Titik didih : 500C

Massa molar : 151,17 g/molStabilitasStabil pada pH 6 dan tidak dalam pH asam atau dalam kondisi alkaline. Padarentang pH 2 9 energi aktivasi penguraian paracetamol 73,32 kJ/mol dan reaksihidrolisis minimum pada pH 5 72.

60

BAB IV METODOLOGI PERCOBAAN

A. ALAT YANG DIGUNAKAN Lumpang dan stamfer Kertas perkamen Timbangan digital analitik Labu ukur Kertas saring Gelas ukur

61

Sarung tangan Beker glass Ayakan mess 16 Mesin cetak tablet Stopwatch Corong Piknometer

Kertas grafik Tap volumeter Jangka sorong Friabilator Spektrofotometer UV Alat uji disolusi

B. BAHAN YANG DIGUNAKAN Serbuk parasetamol Amylum Mucilago Amylum Laktosa Talkum Larutan NaOH 0,1N Dapar pospat Aquadest Gliserin

1.

Formula granul : 59 Fase dalam : Paracetamol Amylum 125 mg 10%

62

Laktosa Mucilago Amylum 4% Fase luar : Talkum Amylum Bobot tablet

qs qs

2% 5% 250 mg

Jumlah tablet yang dibuat 100 tablet 2. Perhitungan Bahan : Fase dalam Parasetamol bersifat hidrofil maka untuk menghitung pasta pati dipakai konsentrasin 20% Pasta Amylum 4% qs = 4% x 20% = 0,8% Paracetamol = 125/250 x 100% = 50%

Laktosa = 100% - (50%+10%+0,8%+5%+2%+1%) = 100% - 68,8% = 31,2% Amylum (Fase Dalam) = 10% Amylum (Fase Luar) Talkum Mg. Stearat = 5% = 2% = 1%

3.

Penimbangan Bahan Parasetamol Laktosa Amylum = 50% x 25gr = 12,5gr

= 31,2% x 25gr = 7,8gr = 10% x 25gr = 2,5gr

63

Mucilago Amylum 4% Amylum 4gr Air Dingin 4ml Air Panas ad 100ml Berat granul yang siap cetak = 21,3gr Fase luar ditambahkan ke fase dalam untuk pembuatan masa cetak. = 100% - (Amylum Talkum Mg. Stearat) = 100% - (5% - 2% - 1%) = 100% - 8% = 92% Amylum 5% Talkum 2% = 5/92 x 21,3gr = 1,16gr = 2/92 x 21,3gr = 0,46gr

Mg. Stearat 1% = 1/92 x 21,3gr = 0,23gr

C. PEMBUATAN GRANUL 1. 2. 3. Siapkan dan bersihkan alat-alat yang akan digunakan. Timbang semua bahan yang diperlukan. Buat pasta Amylum 4% dengan cara : Timbang Amylum 4gr, kemudian didispersikan dengan air dingin sebanyak 4ml kemudian kembangkan dengan air panas ad 100ml diatas penangas air, biarkan mengembang, gerus homogen. Timbang beserta wadahnya. 4. Lakukan pembuatan granulasi basah dengan cara:

64

Kedalam lumpang masukan fase dalam yang terdiri dari zat aktif dan bahan tambahan lain, gerus homogen. Kemudian ditambahkan pasta sedikit demi sedikit sampai terbentuk adonan yang bisa dikepal. Ditimbang berat pasta beserta wadahnya kembali sehingga dapat dihitung jumlah pengikat yang digunakan. 5. Adonan tersebut kemudian dimasukan kedalam alat granulator, tampung granul, kemudian keringkan dilemari pengering pada suhu 50-60C selama 812 jam. 6. Setelah dikeringkan granul di ayak kembali melalui ayakan mesh 16 dan ditimbang. 7. Lakukan evaluasi granul.

D. EVALUASI GRANUL 1. Bulk Density (alat tap volumeter) a. Kalibrasi tap volumeter dengan cara, pasang alat tap volumeter dalam keadaan kosong, hitung jumlah hentakan dalam satu menit, kemudian lakukan pengujian bulk density. b. Bulk density untapped (bobot jenis tanpa hentakan/density nyata) sebanyak 30 g serbuk (Wo) dimasukkan kedalam gelas ukur 250 ml, dicatat volumenya (Vo). Density nyata ( nyata) dapat dihitung dengan persamaan :

65

nyata=

c. Bulk Density

tapped (bobot jenis setelah hentakan/density mampat)

Sebanyak 100 gram serbuk (W) dimasukan kedalm gelas ukur 250 ml, kemudian diberi ketukan sebanyak 1250 kali, dicatat volumenya (Vt1). kemudian diulangi pengetukkannya sebanya 1250 kali, dicatat volumenya (Vt2) jika Vt1 dan Vt2 tidak lebih dari 2 ml, maka dipakai Vt1. Density mampat ( mampat) dapat dihitung dengan persamaan :

mampat=

d.

Density benar Density benar () dilakukan dengan menggunakan piknometer.

piknometer kosong yang telah diketahui volumenya (a), ditimbang (b), kemudian diisi dengan parafin liquid dan ditimbang (c). Density benar dapat dihitung dengan persamaan :

selanjutnya sebanyak 2 g serbuk dimasukkan ke dalam piknometer tersebut dan ditimbang beratnya (d), kemudian kedalamnya ditambahkan parafin liquid sampai kira-kira setengahnya, kemudian ditutup dan

66

dibiarkan selama 15 menit sambil digoyang-goyang. Setelah itu ditambahkan parafin liquid hingga piknometer penuh, ditutup dan ditimbang beratnya (e). Density ( benar) dihitung dengan persamaan :

benar =

dari data diatas maka dapat dihitung : e. Faktor Hausner faktor hausner (FH) merupakan perbandidngan antara density mamapat dengan density nyata, dapat dihitung dengan persamaan :

FH =

f.

Kompresibilitas kompresibilitas (Kp) dapat dihitung dengan persamaan :

Kp =

x 100%

g.

Porositas porositas dapat dihitung dengan persamaan :

E = 1-

x 100%

67

2.

Pengukuran kecepatan aliran serbuk a. Timbang serbuk sebanyak 21,3gr dan dimasukkan kedalam corong yang bagian bawahnya ditutup dengan jari. b. Pada saat yang bersamaan buka tutup corong dan hidupkan stopwatch. c. Catat wakyu yang diperlukan untuk mengalirkan serbuk tersebut melalui corong dengan bebas. d. Kecepatan aliran serbuk dapat dihitung dengan perbandingan berat serbuk persatuan waktu pengaliran (gram/detik) dengan rumus sebagai berikut :

kecepatan pengaliran =

lakukan pengukuran terhadap serbuk tanpa bahan pelincir dan serbuk dengan bahan pelincir, maka kecepatan pengalirannya dapat dibedakan. 3. Penentuan sudut longsor a. Timbang serbuk sebanyak 21,3gr dan dimasukkan kedalam corong yang bagian bawahnya ditutup dengan jari. b. Pada saat yang bersamaan buka tutup corong kemudian jari dilepaskan dari mulut corong dana bahan dibiarkan mengalir bebas keatas kertas grafik yang telah tersedia. Maka akan terjadi timpukan serbuk seperti kerucut.

68

c. Diukur tinggi tumpukan (h) dan diameter (d) serbuk sehingga jari-jarinya dapat dihitung (r), maka sudut tumpuknya () adlah sudut longsor yang dapat dihitung dengan cara berikut : tg = h/r atau cos = r/s, dimana s = hipotonus atau sudut tangent sama dengan tinggi tumpukan dibagi jari-jari tumpukan.

E. PENCETAKAN TABLET 1. 2. 3. Timbang bobot granul secara keseluruhan. Timbang semua fasa luar Masukkan granul dan fasa luar kedalam botol, tutup, lalu putar atau goyanggoyang botol tersebut secara bersilang agar semua tercampur. 4. Jika sudah tercampur, timbang satu persatu masukkan kedalam mesin cetak, hitung jumlah tablet yang didapat.

F. EVALUASI TABLET 1. Keseragaman ukuran a. Percobaan dilakukan terhadap 20 tablet menggunakan alat mikrometer atau jangka sorong yang bersifat manual.

69

b. Catat ukuran tabletnya dan ambil nilai rata-ratanya, maka rata-rata tersebut mewakili ukuran diameter tablet secara keseluruhan. 2. Keseragaman bobot a. Percobaan dilakukan terhadap 20 tablet. b. Penimbangan dilakukan dengan menimbang satu persatu tablet sebanyak 20 tablet. c. Catat data penimbangan dan ambil nilai rata-ratanya, maka rata-rata tersebut mewakili bobot tablet secara keseluruhan. d. Ditentukan juga standar deviasi dari data yang didapat dengan cara berikut:

S=

dimana, S

= standar deviasi X1 = berat tablet dalam gram X2 = kuadrat deviasi

jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari dua tablet yang masingmasing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A, dan tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan

70

kolom B. Jika tidak mencukupi 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet, tidak satupun tablet yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata kolom A, dan tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan kolom B. Bobot rata-rata 25 mg atau kurang 26 mg sampai dengan 150 mg 151 mg sampai 300 mg lebih dari 300 mg 3. Kerapuhan tablet a. b. Percobaan dilakukan dengan alat friabilator roche. Kalibrasi alat terlebih dahulu. Penyimpangan bobot rata-rata dalam % A B 15 30 10 7,5 5 20 15 10

c. Ditimbang (W1) dilakukan pemutaran alat sebanyak 100 kali putaran. Setelah itu tablet dibersihkan lagi dan ditimbang (W2). Nilai kerapuhan dapat dihitung dengan rumus : F = x 100%

maka kerapuhan tablet dapat ditentukan, dimana kehilangan yang dibolehkan adalah kurang dari 0,8% dari berat asal tablet. Tablet yang besar biasanya kurang mengalami sumbingan tetapi tablet yang tipis dan berdiameter besar selalu mudah sumbing.

71

4.

Penetapan kadar a. Percobaan dilakukan terhadap 20 tablet, dimana tablet dibersihkan dari debu, kemudian Timbang 20 butir tablet, ambil nilai rata-ratanya, gerus, lalu timbang serbuk setara dengan berat rata-rata 1 tablet. b. Tambahkan 50 ml NaOH 0,1, encerkan dengan 100 ml air, kocok selama 15 menit. c. Tambahkan air secukupnya hingga 250 ml, campur, saring. d. Encerkan 10 ml filtrat dengan air secukupnya hingga 100 ml. e. Pada 10 ml tambahkan 10 ml NaOH 0,1N, encerkan dengan air secukupnya hingga 100 ml. f. Ukur serapan larutan pada maksimum kurang dari 275 nm, A (1%, 1 cm) pada maksimum lebih kurang 257 nm adalah 715. Sebelum melakukan penetapan kadar maka perlu dilakukan penetapan panjang gelombang maksimum parasetamol dalam medium NaOH 0,1N dan pembuatan kurva kalibrasi parasetamol dalam medium NaOH 0,1N.

5.

Desintegrasi a. Isikan benjana dengan cairan seperti cairan lambung buatan atau cairan usus buatan sesuai dengan tablet yang diukur waktu hancurnya. Dalam praktikum ini digunakan air suling.

72

b. Jumlah cairan ini sedemikian rupa sehingga pada saat keranjang turun permukaannya tidak tenggelam dalam cairan dan pada saat keranjang ini masuk, permukaan sebelah bawahnya tidak melebihi permukaan cairan. c. Larutan yang digunakan diatur suhunya 37C 2C d. Isikan tablet yang akan diukur waktu hancurnya satu persatu pada tabung yang ada, setelah itu kedalam masing-masing tabung dimasukkan pada cakram yang terbuat dari plastik. e. Tekan tombol untuk menjalankan alat dan catat waktu pada saat tablet telah melewati saringan yang terdapat pada setiap tabung kecuali sisa-sisa tablet yang tidak larut dalam cairan yang digunakan. f. Untuk tablet biasa, farmakope indonesia membatasinya tidak lebih dari 15 menit. 6. Uji disolusi a. Metode : Dayung Medium : Dapar Posfat pH 5,8 Kecepatan : 100 rpm Xmax : 243 nm b. Penetapan panjang gelombang maksimum PCT dalam volume disolusi dapar posfat pH 5,8 c. Pembuatan kurva kalibrasi PCT dalam medium dapar fosfat 5,8 d. Penetapan disolusi / Profil disolusi

73

1) Wadah diisi dengan air lalu atur suhunya 37C 0,5C 2) Labu disolusi diisi medium disolusi dapar posfat pH 5,8 sebanyak 900ml dengan suhu 37C 0,5C. 3) Masukkan tablet ke labu disolusi, putar dayung dengan kecepatan 100 rpm. Larutan didalam labu dipipet sebanyak 5ml pada menit ke 5, 10, 15, 30, 45 dan 60. Tambahkan dapar posfat pH 5,8 ad 25ml pada tiap hasil pemipetan. 4) Pada setiap pemipetan, larutan dalam labu diganti dengan medium disolusi dengan volume dan suhu yang sama saat pemipetan. 5) Larutan yang telah dipipet dari medium disolusi tadi diukur serapannya pada panjang gelombang serapan maksimum. 6) Hitung kadarnya dengan bantuan kurva kalibrasi.

74

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PEMBUATAN GARNUL Berat wadah kosong = 61,7 gram

Berat wadah + muchilago amylum = 141,3 gram (sebelum granulasi) Berat muchilago awal = 79,6 gram

Berat wadah + muchilago amylum = 130,0 gram (setelah granulasi) Berat muchilago akhir Berat muchilago terpakai = 69,2 gram = 10,4 gram

B. EVALUASI GRANUL 1. Bulk Density a. Kalibrasi Tap Volumeter Waktu 1 menit = 70 hentakan

Waktu 17,8 menit = 1250 hentakan b. Bulk density untapped

75

nyata = Wo / Vo = 21,3 / 53 mL = 0,402 gram/mL c. Bulk density tapped P mampat = W/Vt1 , Dipakai Vt1, karena seliisih Vt1-Vt2 tidak lebih dari 2 Diperoleh data: Vt1 = 42ml Vt2 = 41ml Vt1 - Vt2 = 42 - 41 = 1ml, 1 < 2 Pmampat = 21,3 gram / 42 ml = 0,507 gram/ml d. Density benar Diperoleh data : a = 10ml b = 11,85 gr c = 20,7 gr d = 12,85 gr e = 21,3 gr P =cb/a = 20,7gr 11,85gr / 10ml = 0,885 gr/ml Pbenar = = = db . x 0,885 (d - b) + (c - e) 12,85 11,85 . x 0,885 (12,85 11,85) + (20,7 21,3) 1 x 0,885

76

1 + 0,6 = 1 0,4 x 0,885

= 2,213 gr/ml

e. Faktor Hausner FH = Kp = Pmampat = 0,507gr/ml = 1,262 (Sifat Alir buruk) Pnyata 0,402gr/ml f. Kompresibilitas Kp = Kp = Pmampat - Pnyata Pmampat 0,507gr/ml 0,402gr/ml 0,507 gr/ml x 100% x 100%

Kp = 20,71% (Kompresibilitas agak jelek) g. Porositas E = 1= 1Pnyata Pbenar x 100% x 100%

0,402gr/ml 2,213gr/ml

= (1-0,182) x 100% = 81,8% (Porositas Jelek) 2. Kecepatan Alir Diperoleh data: W = 21,3 gram t1 = 3, 33 detik t2 = 3,50 detik

77

t3 = 3,20 detik trata-rata = 3,33 + 3,50 + 3,20 = 3,34 detik 3 Kecepatan Pengaliran = W t = 21,3 gram 3,34 detik = 6,377 gr/detik 3. Sudut Longsor Diperoleh data: W = 21,3 gram h1 = 2,1 detik h2 = 2,1 detik h3 = 2,1 detik hrata-rata = 2,1 + 2,1 + 2,1 = 2,1 detik 3 I 7,5 cm 8 cm 7,5 cm 8 cm 31 cm 7,75 cm II 7,5 cm 8 cm 7,5 cm 8 cm 31 cm 7,75 cm III 8 cm 7,5 cm 7,5 cm 8 cm 31 cm 7,75 cm

d1 d2 d3 d4 r1 r2 r3

= 7,75 cm = 3,875 cm 2 = 7,75 cm = 3,875 cm 2 = 7,75 cm = 3,875 cm 2

trata-rata = 3,875 + 3,875 + 3,875 = 3,875 cm 3

78

tan = h = 2,1cm . r 3,875 cm = 0,542 = 28,4577

C. EVALUASI TABLET 1. Keseragaman Bobot No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 X Xrata X (mg) 240,9 227,1 240,8 239,1 243,2 237,6 241,9 234,6 239,8 239,3 237,2 236,5 241,3 238,4 235,2 239 258,8 247,9 244,7 243,4 4806,8 240,335 (X - Xrata) mg 0,565 13,235 0,465 1,235 2,865 2,735 1,565 5,735 0,535 1,035 3,135 3,835 0,965 1,935 5,135 1,335 18,465 7,565 4,365 3,065 (X - Xrata)2 mg 0,319225 175,165225 0,216225 1,525225 8,208225 7,480225 2,449225 32,890225 0,286225 1,071225 9,828225 14,707225 0,931225 3,744225 26,368225 1,782225 340,956225 57,229225 19,053225 9,394225 713,6055 % Penyimpangan 0,2345% 5,8278% 0,19311% 0,5165% 1,1780% 1,1511% 0,6469% 2,4446% 0,2231% 0,4325% 1,3217% 1,6216% 0,3999% 0,8112% 2,1832% 0,5586% 7,1349% 3,0516% 1,7838% 1,2592%

79

Standar Deviasi = (X-Xrata)2 = 713,6055 = 37,55818 = 6,12847 n-1 19 Simpangan Baku Relatif = SD . x 100% = 6,12847 . x 100% = 2,54997 % Xrata-rata 240,335

2.

Kerapuhan Tablet W1= 4,7475 W2= 4,1511 F = W1-W2/W1 X 100 % = 4,7475 4,1511 / 4,7475 X 100 % = 0,5964 / 4,7475 X 100 % = 12,5624 %

3.

Keseragaman ukuran No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Diameter (cm) 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 Tebal (cm) 0,465 0,445 0,430 0,465 0,475 0,475 0,470 0,440 0,440 0,480 0,465 0,440 0,440 0,475 0,440

80

16 17 18 19 20 Rata2

0,8

0,8 0,8 0,8 0,8 0,8 16

0,475 0,455 0,465 0,460 0,475 9,175 0,45875

Diameter rata rata Tebal rata-rata

= 0,8 = 0,45875

Diameter dan tebal parasetamol memenuhi persyaratan farmakope Indonesia, yaitu 1 tebal tablet < diameter tablet < 3 kali tebal tablet. 1 tebal tablet = 0,61167 cm 3 kali tebal tablet = 3 x 0,45875 = 1,37625 cm 0,61167 < 0,8 < 1,37625 4. Disintegrasi No 1 2 3 4 5 6 Waktu Hancur 10,76 menit 9,08 menit 9,34 menit 8,56 menit 8,27 menit 11,02 menit

Ke- enam tablet hancur pada waktu 14,26 menit. 5. Profil disolusi Data hasil penentuan kurva kalibrasi C (g/ml) 4 6 Absorban 0,214 0,336

81

8 10 12

0,482 0,535 0,792 Y2 0,045796 0,112896 0,232324 0,286225 0,627264 1,304505 0,260901

No X Y XY X2 1 4 0,214 0,856 16 2 6 0,336 2,016 36 3 8 0,482 3,856 64 4 10 0,535 5,53 100 5 12 0,792 9,504 144 40 2,359 21,582 360 Rata2 8 0,4718 4,3164 72 2 2 b = N. xy (x) (y) / N (x ) (x) = 5.21,582 (40) (2,359)/ 5 (360) - (40)2 = 107,91 94,36/ 1800 1600 = 13,55/200 = 0,06775 a = y bx = 0,4718 0,06435 (8) = 0,4718 0,542 = - 0,0702 Persamaan regresinya y = -0,0702 + 0,06775x

Penentuan profil Disolusi

82

t (menit) 5 10 15 30 45 60

A (absorban) 0,196 0,584 0,703 0,244 0,275 0,468

P (Pengenceran) 5 5 5 25 25 25

Mencari konsentrasi

Menit ke-5 X = y-a/b x pengenceran = 0,196 (- 0,0702)/ 0,06775 x 5 = 19,64575 g/ml = 0,01964575 mg/ml Dalam 900 ml = 0,01964575 mg/ml x 900 ml = 17,681175 mg Faktor koreksi = % disolusi = 17,681175 mg/ 125 mg x 100 % = 14,14494 % 14,14 %

Menit ke- 10 X = y-a/b x pengenceran = 0,584 (- 0,0702)/ 0,06775 x 5 = 48,2804 g/ml = 0,0482804 mg/ml Dalam 900 ml = 0,0482804 mg/ml x 900 ml = 43,45236 mg Faktor koreksi = 5/900 x 17,681175 mg = 0,09822875 mg % disolusi = 43,45236 mg + 0,09822875 mg /125 mg x 100 %

83

= 34,840471 % 34,84 %

Menit ke- 15 X = y-a/b x pengenceran = 0,703 (- 0,0702)/ 0,06775 x 5 = 57,0627 g/ml = 0,0570627 mg/ml Dalam 900 ml = 0,0570627 mg/ml x 900 ml = 51,35643 mg Faktor koreksi = 0,09822875 mg + (5/900x43,45236 mg) = 0,33963075mg % disolusi = 51,35643 mg + 0,33963075 mg /125 mg x 100 % = 41,3568486 % 41,36 %

Menit ke 30 X = y-a/b x pengenceran = 0,244 (- 0,0702)/ 0,06775 x 25 =115,94 g/ml = 0,11594 mg/ml Dalam 900 ml = 0,11594 mg/ml x 900 ml = 104,346 mg Faktor koreksi = 0,33963075 mg + (5/900x51,35643 mg) = 0,62494425mg % disolusi = 104,346 mg + 0,62494425 mg /125 mg x 100 % = 83,9767554 % 83,98 %

Menit ke- 45 X = y-a/b x pengenceran = 0,275 (- 0,0702)/ 0,06775 x 25

84

=128,04428 g/ml = 0,12804428 mg/ml Dalam 900 ml = 0,12804428 mg/ml x 900 ml = 115,23985 mg Faktor koreksi = 0,62494425 mg + (5/900 x 104,346 mg) = 1,20464425mg % disolusi = 115,23985 mg + 1,20464425 mg /125 mg x 100 % = 93,1556 % 93,15 %

Menit ke 60 X = y-a/b x pengenceran = 0,468 (- 0,0702)/ 0,06775 x 25 =199,26199 g/ml = 0,19926199 mg/ml Dalam 900 ml = 0,19926199 mg/ml x 900 ml = 179,335791 mg Faktor koreksi = 1,20464425mg + (5/900x115,23985mg) = 1,84486564mg % disolusi = 179,335791 mg + 1,84486564 mg/ 125 mg x 100 % = 144,9445253 % 144,94 %

Luas

85

I II III IV V VI

= 1/2 (5 x 14,14) = 1/2 (14,84 + 34,84) = 1/2 (38,48 + 41,36) = 1/2 ( 41,36 + 83,94) = 1/2 ( 83,94 + 93,16) = 1/2 ( 93,16 + 144,94)

= 35,35 = 24,84 = 39,92 = 62,65 = 88,55 = 119,05 = 370,36

Luas daerah persegi Nilai ED 6. Penetapan Kadar

= 60 x 144,94 = 8696,4 cm2 = 370,36/ 8696,4 x 100% = 4,2 %

Data hasil penentuan kurva kalibrasi C (g/ml) 0,008 0,01 0,02 0,04 0,06 A (Absorban) 0,094 0,106 0,184 0,324 0,456

Perolehan serapan pada max = 257 adalah 0,462 Panjang gelombang maksimum paracetamol = 257nm dengan absorban 0,447 Dengan menggunakan kalkulator, maka diperoleh nilai: a = 0,039611292 b = 6,999590835 r = 0,999649432

86

y = 0,039611292 + 6,999590835x

Mencari konsentrasi y = a + bx 0,462 = 0,039611292 + 6,999590835 x 6,999590835 x = 0,422388708 x = 0,422388708 6,99959083 x = 0,060344771 g/ml = 0,0000060344 mg/ml Persentase kadar parasetamol dalam tablet = 0,0000060344 mg/ml x 100% 150 mg = 0,0000402% D. PEMBAHASAN Metode yang digunakan dalam pembuatan tablet adalah granulasi basah dengan bahan aktif parasetamol,diawali dengan pembuatan granul yang dilanjutkan dengan evaluasi. Adapun alasan pembuatan dengan granulasi basah

87

adalah untuk memperbaiki daya alir parasetamol. Karena dengan granulasi basah akan terjadi proses ppengikatan sehingga massa lebih kompak dan mengurangi kondisi pemisahan massa. Pengerjaan diawali dengan menimbang masing- masing zat, lalu membuat muchilago amylum yang bertindak sebagai bahan pengikat. Semua bahan / fase dalam dicampurkan kedalam lumping dan dihomogenkan, lalu dimasukkan bahan pengikat sedikit demi sedikit sampai terbentuk massa yang dapat dikepal. Adapun tujuan memasukkan bahan pengikat sedikit demi sedikit agar didapat massa yang memiliki kompatibilitas yang baik, karna jika terlalu sedikit memasukkan bahan pengikat maka massa granul akan terlalu lembek, sulit untuk menyatu, dan jika dicetak menjadi tablet maka tablet yang dihasilkan akan rapuh. Sedangkan jika terlalu banyak memasukkan bahan pengikat maka massa granul akan terlalu keras, dan jika dicetak menjadi tablet maka tablet yang dihasilkan akan sulit hancur sehingga akan berpengaruh terhadap waktu hancurnya. Setelah terbentuk massa granul, granul dimasukkan kea lat granulator sehinng terbentuklah pelet, lalu simpan pelet tersebut dalam lemari pengering pada suhu 40 C dan dalam hal ini disimpan selama 20 jam. Pengeringan dapat terjadi atas dasar perbedaan sifat pengeringan nya yang dibedakan antara zat hidrofil dan aerofil. Bahan obat dan bahan pembantu hidrofil akan larut dalam air dan dan dapat membengkak, dan juga mampu mengikat air secara absortif atau adsortif dalam ketergantungannya dalam kelembapan relative udara. Setelah pengeringan umumnya masih meninggalkan sejumlah air tertentu didalam granulat. Pengeringan bertujuan

88

untuk menghilangkan cairan dari suatu bahan dengan menggunakan panas, tetapi granulat tidak boleh terlalu kering sehingga daya ikatnya akan berkurang. Evaluasi granul terkait akan evaluasi terhadap bulk density tapped, bulk density untapped, dan density benar. Pengujian bulk density dilakukan dengan menggunakan alat tap volumeter, untuk pengukuran bulk density untapped alat tap volumeter dikalibrasi terlebih dahukeseragaman ukuran, kerapuhan tablet, desintegrasi, profil disolusi serta penetapan kadar. Untuk evaluasi keseragaman bobot diperoleh hasil bahwa dari 20 tablet yang ditimbang satu per satu diperoleh hasil bahwa hanya 2 tablet yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom A, dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata nya lebih dari harga yang ditetapkan kolom B. hal ini berarti tablet yang dicetak memiliki keseragaman bobot yang memenuhi persyaratan farmakope Indonesia. Begitu juga untuk

evaluasi terhadap keseragaman ukuran tablet diperoleh hasil bahwa diameter ratarata tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 1/3 tablet, yaitu diameternya 0, 8 cm dan ketebalan tablet 0,45875 cm. hal ini juga berarti bahwa tablet ynag dicetak memenuhi persyaratan farmakope Indonesia edisi III terkait akan keseragaman ukuran tablet. Pada uji waktu hancur tablet (desintegrasi), ke-enam sampel tablet yang diuji waktu hancurnya memiliki waktu hancur permulaan yang berbeda yaitu 10,76 menit, 9,08 menit, 9,34 menit, 8,56 menit, 8,27 menit, dan 11, 02 menit. Meskipun, ke-enam tablet tersebut hancur untuk pertama kalinya dengan waktu yang berbeda tetapi keenam tablet tersebut hancur total pada waktu 14,26 menit.

89

Dan menurut farmakope Indonesia bahwa untuk tablet biasa, waktu hancurnya tidak lebih dari 15 menit. Hal ini berarti tablet yang dicetak memenuhi persyaratan farmakope Indonesia akan waktu hancur. Dalam hal evaluasi terhadap kerapuhan tablet, hasil praktikum menunjukan bahwa nilai kerapuhan atau persyaratan nilai kerapuhan, bahwa menurut ilmu resep (2009) kehilangan berat yang masih diperbolehkan adalah 0,8 %. Jadi, tablet yang dicetak memiliki nilai kerapuhan yang tidak memenuhi persyaratan. Friabilitas (kerenyahan) merupakan salah satu cara untuk mengukur kekuatan tablet, yang mana lebih didefinisikan sebagai daya tahan tablet atas guncangan mekanik dari lingkungan produksi maupun alatnya. Tablet yang mudah menjadi bubuk, menyerpih dan pecah-pecah pada penangannya, akan kehilangan estetika serta konsumen enggan menerimanya, dan dapat menimbulkan pengotoran pada tempat/wadah juga dapat menimbulkan variasi pada berat dan keseragaman isi tablet. Kerenyahan tablet dapat dipengaruhi oleh bentuk punch yang digunakan dan kadar/kandungan air dari granul dan produk akhir. Bila punch cembung (terlebih lagi yang sangat cembung) digunakan dalam pembuatan tablet, apalagi kondisinya kurang baik atau tepi permukaannya sudah aus, maka tablet yang dihasilkan akan berumbai pada tepinya. Tablet seperti ini derajat/harga friabilitasnya akan lebih tinggi daripada normal, karena jumbai-jumbai itu akan dilepaskan pada waktu pengujian. Dari segi kandungan air dari granul dan produk akhir, seringkali kandungan air/ kelembapannya rendah tetapi masih dalam batasan yang dapat diterima dapat

90

berfungsi sebagai pengikat. Granul yang sangat kering dan hanya mengandung sekali persentase kelembapan, sering menghasilkan lebih banyak tablet renyah daripada granul yang kadar kelembapannya 2 sampai 4 %. Karena itulah sangat membuat tablet sejumlah zat yang dapat dihidrolisis tetapi stabil secara kimia. Juga dilakukan uji disolusi dan penetapan kadar. Uji disolusi bertujuan untuk mengetahui banyaknya zat yang terdisolusi dalam waktu tertentu. Uji disolusi kali ini menggunakan metode dayung dengan menggunakan medium dapar posfat pH 5,0 pada kecepatan 100 rpm. Pengukuran absorbannya pada max / panjang gelombang maksimum 243nm. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa persentase disolusi berturut turut dari menit ke-5, menit ke- 10, menit ke 15, menit ke30, menit ke- 45, menit ke- 60 adlah 14,4 %, 34,84%, 41,36%, 83,98%, 93,16%, dan 144,94%. Menurut NF 22 bahwa rentang kadar paracetamol untuk uji disolusi adalah > 75 5 dalam waktu 60 menit dengan kecepatan 100 rpm. Pada menit ke 5, menit ke-10, menit ke- 15 menunjukkan persentase disolusinya tidak memenuhi persyaratan penerimaan tahap S1, dimana hasilnya kurang dari Q+5% (75%+5%= 80%). Sedangkan pada menit ke- 30, menit ke- 45, menit ke- 60 menunjukkan bahwa persentase disolusinya memenuhi persyaratan/ criteria penerimaan tahap S1, yang menyatakan bahwa criteria penerimaan S1 tiap unit sediaan tidak kurang dari Q+5% (75%+5% = 80%). Penetapan kadar parasetamol dilakukan dengan metode spektrofotometri dengan menggunakan spektrofotometer uv/vesible, dimana kadar diukur pada panjang gelombang maksimum 257 nm. Dengan menggunakan persamaan regresi, diperoleh persentase kadar parasetamol dalam tablet adalah 40,229847%. Hal ini

91

tidak sesuai dengan yang disyaratkan farmakope Indonesia edisi III, bahwa tablet parasetamol mengandung parasetamol C8H9NO2 tidak kurang dari 95,0 % dan tidak lebih dari 105% dari jumlah yang tertera pada etiket. Hal tersebut dimungkinkan disebabkan oleh pencampuran yang kurang baik. Karena pengerjaannya dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan tangan sehingga ada kemungkinan pada saat mencampur/proses pencampuran zat aktif tidak terdistribusi homogeny (tidak bercampur merata) sehingga kadar yang diperoleh tidak memenuhi persyaratan farmakope Indonesia edisi III.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan dari granul yang dibuat bahwa: Memerlukan bahan pengikat sebanyak 10,4 gram Nilai faktor hausner 1,262% (termasuk kategori sifat alir buruk) Nilai kompresibilitas 20,71% (kategori agak baik) Nilai porositas 81,8 % (kategori jelek/buruk) Kecepatan pengaliran membutuhkan waktu 6,377 gram/detik Sudut longsornya 28,4577 (kategori kemampuan/sifat alirnya baik)

92

Selanjutnya diperoleh : Tablet yang tercetak sebanyak 88 tablet Uji keseragaman bobot memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh farmakope Indonesia edisi III Uji keseragaman ukuran memenuhi persyaratan farmakope Indonesia III Uji kerapuhan tablet tidak memenuhi persyaratan, dimana persentase kandungan berat lebih dari 0,8 % yaitu 12,5624 % sehingga tablet yang dicetak termasuk dalam kategori nilai kerapuhan jelek. Waktu hancur tablet yang diperoleh adalah 14,26 menit, dikategorikan memenuhi persyaratan farmakope Indonesia. 88 Profil disolusinya pada waktu/menit ke-30, menit ke-45, menit ke60 yang menunjukkan hasil yang sesuai dengan kriteria penerimaan. Penetapan kadar yang dilakukan menunjukkan bahwa kadar parasetamol pada tiap tablet memenuhi persyaratan farmakope Indonesia.

B. SARAN Dalam melakukan praktikum ini sangat diperlukan kehati-hatian dan ketelitian dalam hal pengerjaan dan perhitungan hasil-hasil yang diperoleh serta

93

penggunaan alat-alat yang dalam kondisi baik sehingga mendapatkan hasil yang sesuai dengan literatur yang ada.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta: Departemen kesehatan Republik Indonesia. Anonim. 1995. Farmakope Indonesia edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Anonim. 2007. Farmakologi dan Terapi, edisi kelima. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

94

Anwar, Effionora. 2012. Eksipien Dalam Sediaan Farmasi Karakterisasi dan Aplikasi. Jakarta: Dian Rakyat. Ansel, Howard C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat . Jakarta : Universitas Indonesia. Halim, Auzal. 2012. Farmasi Fisik Pulva Enggineercing. Padang : Andalas University Press. Lachman, Leon.,. Herbert AL., dan Joseph Lk. 2008. Teori dan Praktek Farmasi Industri II edisi ketiga. Jakarta : Universitas Andalas. Rowe, RC., Sheskey PJ., Quinn Me. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition. London : Pharmaceutical Press. Siregar, Charles JP dan Saleh Wikarsa. 2010. Teknologi Farmasi Sediaan Tablet Dasar dan Praktis. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. The United States Pharmacopial Convention. 2004. United States Pharmacope XXVII. London: United States Pharmacopial Inc. Voigt, Rudolf. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : Gajah Mada University press.

95

Etiket dan brosur * Etiket komposisi : Tiap tablet mengandung parasetamol 125 mg SANIMOL Dosis : dewasa : 3-4x sehari 1-2 tablet Anak 2-5 th : 3-4 x sehari 1/4-1/2 tablet 6-12 th : 3-4 x sehari -1 tablet simpan ditempat sejuk

No. Reg: DBL 1300100110A1

Indikasi : menghilangkan demam, menghilangkan

96

Batch: 011T1305001 EX DATE: JUNI 2018

: Mei 2013

rasa nyeri,sakit kepala, migrain.

dan terlindung dari cahaya

Brosur

97

SANIMOL
Komposisi Tiap tablet mengandung Parasetamol

125 mg

Farmakologi Bekerja sebagai analgesic - antipiretik, menghilangkan rasa nyeri sedang sampai ringan Indikasi menghilangkan demam, menghilangkan rasa nyeri, sakit kepala, migrain. Kontra Indikasi Disfungsi ginjal atau hati Efek Ssamping Eritem dan urtikaria, gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa. Penggunan analgesik dosis besar secara menahun dapat menyebabkan nefropati analgetik. Dosis Dewasa : 3-4x sehari 1-2 tablet Anak 2-5 th : 3-4 x sehari 1/4-1/2 tablet 6-12 th : 3-4 x sehari -1 tablet simpan ditempat sejuk dan terlindung dari cahaya No. Reg: DBL 1300100110A1 Batch: 011T1305001 EX DATE: JUNI 2018 DIPRODUKSI OLEH PT. SANIA LINKA FARMA PADANG-INDONESIA