Vous êtes sur la page 1sur 3

Nama : Pramusita Praty NIM : 11023015

Kelas : V A

Tugas Farmakoterapi II

1 a. Data Subyektif : Kaki kanan sering kesemutan, sering buang air kecil, nafsu makan berkurang, dan pandangan agak kabur. b. Data Obyektif : TD 140/100, GDA 367 mg/dL, DGP 213 mg/dL c. Pasien disarankan melakukan pengendalian berat badan dan berolahraga. Namun apabila hal tersebut tidak berhasil, maka dapat diberikan obat oral seperti : 1. Obat Hiperglikemik Oral Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat hipoglikemik oral dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu: a) Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin, meliputi obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea dan glinida (meglitinida dan turunan fenilalanin). b) Sensitiser insulin (obat-obat yang dapat meningkatkan sensitifitas sel terhadap insulin), meliputi obat-obat hipoglikemik golongan biguanida dan tiazolidindion, yang dapat membantu tubuh untuk memanfaatkan insulin secara lebih efektif. c) Inhibitor katabolisme karbohidrat, antara lain inhibitor -glukosidase yang bekerja menghambat absorpsi glukosa dan umum digunakan untuk mengendalikan hiperglikemia post-prandial (post-meal hyperglycemia). Disebut juga starch-blocker.

Problem : Tn. B (39 th/58 kg/163cm ) Data subjektif : - kaki kanan sering merasa kesemutan - sering buang air kecil - nafsu makan berkurang - pandangan agak kabur Data objektif : - TD 140/100 - GDA 367 mg/dL - DGP 213 mg/dL Diagnosis : DM tipe 2 Terapi : Captropil 3x25mg Assessment/Action : - penggunaan Kaptopril menyebabkan efek hipotensi mendadak - penggunaan Kaptopril jangka lama menyebabkan batuk - terapi dengan ADO seperti metformin ketika dosis ditingkatkan terjadi efek samping GI Monitoring - monitoring vital sign (TD) - jika ESO sangat mengganggu, maka diganti antihipertensi lain - monitoring kadar GD, efek samping GI dapat menjadi pembatas dosis yang diberikan

2. Apabila obat tersebut tidak berhasil maka penderita DM tipe 2 dapat diberikan insulin

2. Obat terbaik untuk penderita DM tipe 2 yang baru saja terdeteksi adalah metformin

3. Pada awalnya, terapi insulin hanya ditujukan bagi pasien diabetes mellitus tipe 1 (DMT1), namun demikian pada kenyataannya, insulin lebih banyak digunakan oleh pasien DMT2 karena prevalensi DMT2 jauh lebih banyak dibandingkan DMT1. Terapi insulin pada DMT2 dapat dimulai antara lain untuk pasien dengan kegagalan terapi oral, kendali kadar glukosa darah yang buruk (HbA1c > 7,5 % atau kadar glukosa darah puasa > 250 mg/dl), riwayat pankreatektomi atau disfungsi pancreas, riwayat fluktuasi kadar glukosa darah yang lebar, riwayat ketoasidodis, riwayat penggunaan insulin lebih dari 5 tahun dan penyandang DM lebih dari 10 tahun.