Sekretariat Negara Republik Indonesia

Nasionalisme, Etnisitas, dan Agama di Indonesia : Tantangan Globalisasi

Azyumardi Azra Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Kesejahteraan Rakyat

Mengawali makalah ini sebuah pertanyaan yang sering diajukan orang patut kembali saya kemukakan di sini; benarkah ‘nasionalisme' sudah mati? Atau setidaknya, apakah betul ‘nasionalisme' tidak relevan lagi? Dan pertanyaan lebih lanjut; apakah hubungan antara nasionalisme dengan agama-dalam hal ini Islam-dan bahkan dengan etnisitas?

Menjawab pertanyaan pertama, menurut saya "secara imperatif tidak". Orang yang menyatakan riwayat "nasionalisme"-yang dipahami sebagai suatu ideologi-telah tamat, sering mengutip karya klasik Daniel Bell, The End of Ideology (1960); atau lebih akhir lagi, karya Francis Fukuyama, The End of History and the Last Man (1992).

Kesimpulan Bell yang secara implisit menyatakan bahwa nasionalisme, sebagai ideologi-telah berakhir adalah kekeliruan yang cukup fatal dan distortif. Pendapat Bell justru bertolak belakang. Ringkasnya, menurut Bell, ketika ideologi-ideologi intelektual lama abad ke-19-khususnya Marxisme-telah exhausted (kehabisan tenaga, lumpuh) dalam masyarakat Barat, terutama Eropa Barat dan Amerika, ideologi-ideologi "baru" semacam industrialisasi, modernisasi, Pan-Arabisme, warna kulit (etnisitas), dan nasionalisme justru menemukan momentumnya, khususnya di negaraÂ-negara yang baru bangkit di Asia Afrika seusai Perang Dunia II.3

Lebih jauh, dalam pandangan Bell, ideologi-ideologi lama sebagai sistem intelektual yang dapat mengklaim ‘kebenaran' atas pandangan dunia mereka, telah kehilangan raison d'etre-nya di tengah perubahan sosial masyarakat barat yang amat kompleks, khususnya menjelang dan terus berlanjut sampai usainya Perang Dunia II. Ideologi lama kehilangan tenaga karena lenyapnya semangat yang menyala-nyala (passion), sebagai akibat proses rasionalisasi dan antromorfisasi. Pendeknya, ideologi-ideologi lama yang dalam segi-segi tertentu bersifat universalistik, humanistik yang dikonseptualisasikan kaum intelektual, kehilangan "kebenaran" dan kekuatan untuk memikat banyak orang di barat.

Pada pihak lain, ideologi-ideologi baru yang sedang bangkit itu bersifat parokial dan instrumental. Ia dirumuskan, dikonseptualisasikan dan dibentuk para politisi. Impulsi-impulsi yang melatarbelakangi pertumbuhannya terutama adalah pembangunan ekonomi dan kekuatan nasional. Hal ini melibatkan koersi atas seluruh penduduk dan berbarengan dengan muncul dan berkuasanya elit penguasa baru yang menggiring dan memaksa rakyat atas nama kepentingan nasional. Justifikasi pun diberikan; bahwa tanpa koersi dan ‘stabilitas nasional', kemajuan ekonomi tidak bisa dicapai. Tentu saja, di sini muncul persoalan klasik: Apakah negara-negara baru dapat tumbuh dengan mengembangkan institusiinstitusi demokratis dan memberikan kesempatan kepada rakyat untuk membuat pilihan-pilihan sendiri atau apakah elit penguasa baru dengan kekuasaan yang mereka genggam sebaliknya menggunakan cara-cara otoriter memaksakan transformasi masyarakat mereka atas nama kepentingan nasional?

http://www.setneg.go.id

Powered by Joomla!

Generated: 9 June, 2013, 18:48

http://www.4 Namun penting dicatat. Myth. khususnya di wilayah-wilayah yang baru mulai atau berada pada tingkat pembangunan sosial ekonomi yang relatif rendah. Kesimpulannya. Proses globalisasi yang berlangsung demikian cepat belakangan ini memang kelihatan cenderung melenyapkan batas-batas nasionalisme. Fukuyama menilai.go. Simaklah pendapat Hobsbawm. Dan ia akan bertahan lebih lama dibandingkan pengalaman nasionalisme di Eropa Barat dan Amerika. Ini juga merupakan argumen Fukuyama dalam karya terkenalnya. atau sudah sangat berkurang dibandingkan masa sebelumnya. yakni tidak toleran. dalam bukunya Nations and Nationalism since 1780: Programme. Pada saat yang sama.Sekretariat Negara Republik Indonesia Karya Bell. 2013. jumlah negara-negara baru yang menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terus bertambah sebagai akibat kristalisasi nasionalisme. The End of Ideology. Lagi-lagi. Reality (1990). namun. atau bahkan di Eropa Timur secara keseluruhan. Uni Soviet sedang ambruk. Tidak heran kalau nasionalisme terkuat dewasa ini juga dapat ditemukan di bekas wilayah Uni Soviet dan Eropa Timur. Kalau pun mereka masih berpegang pada ‘nasionalisme'. Namun. lagi pula. khususnya di kalangan masyarakat yang berada dalam transisi ke arah kebudayaan industrial. nasionalisme tetap bergelora di banyak bagian Dunia Ketiga dan Eropa Timur. Nasionalisme dapat menjadi satu faktor yang rumit atau katalis bagi perkembangan lain. ini tidak berarti bahwa nasionalisme tidak lagi mengemuka dalam politik dunia sekarang ini. Fukuyama juga berargumen. pada saat yang sama. dan karenanya lebih toleran. pada saat yang sama. walau pun ia memang kelihatan surut di negara-negara maju. ‘nasionalisme baru' yang lebih politis kini juga sedang bangkit. nasionalisme tidak lagi menjadi kekuatan signifikan dalam sejarah.id Powered by Joomla! Generated: 9 June. Semua gejala ini menjelaskan bahwa nasionalisme sedang mengalami kebangkitan kembali. Jerman dan Italia-dua negara paling akhir dalam proses industrialisasi dan bersatu secara politik di Eropa-merupakan tempat tumbuhnya nasionalisme radikal dalam bentuk gerakan fascist ultra-nasionalis. dapat diprediksikan kekuatan gelombangnya hampir sama dengan kebangkitan nasionalisme pada abad ke-19 dan 20. nasionalisme kini memang tidak lagi menjadi kekuatan utama dalam perkembangan historis masyarakat dunia. ‘nasionalisme' tidak mati. Namun jelas. itu lebih bersifat kultural ketimbang politik. mendorong akselarasi gerakan-gerakan nasionalisme yang amat kuat di berbagai wilayahnya.setneg. pada saat Hobsbawm menulis karyanya tadi. Ia tidak lagi menjadi program politik global sebagaimana pernah terjadi pada abad XIX dan XX. ia juga mendorong peningkatan nasionalisme yang diekspresikan dalam berbagai cara dan medium. Menurutnya. negara-negara di Timur Tengah juga mengalami gejolak nasionalisme yang lebih hebat dibandingkan masa-masa sebelumnya. Sebagai contoh. dan identitas-identitas nasional begitu lama terlindas. 18:48 . chauvinistik. Ini mempunyai presedennya dalam sejarah. Bahkan. The End of History and The Last Man (1992).5 Akan tetapi. dalam segi-segi tertentu. ahli nasionalisme Marxis. Ia melihat semakin surutnya nasionalisme ‘lama' di negara-negara demokrasi paling liberal dan maju di Eropa. ia tidak secara khusus membahas subyek nasionalisme. mungkin sudah terlalu klasik. Dengan nada mirip Bell dan Hobsbawn. dan secara internal agresif. saat industrialisasi datang begitu terlambat. Nasionalisme baru itu juga tumbuh paling kuat di wilayah-wilayah Dunia Ketiga bekas koloni Eropa yang berada dalam tahap awal modernisasi dan industrialisasi. Nasionalisme baru ini cenderung primitif.

budaya dan seterusnya. secara de facto. Dan Indonesia pun mengalami liberalisasi politik ini sejak 1998. persisnya disintegrasi. yang pada akhirnya membuat berakhirnya negara-negara dengan rejim-rejim otoriter. Harus diakui. http://www. globalisasi juga dengan segera mengimbas ke dalam bidang politik. Tetapi. terdapat semacam kelangkaan studi tentang nasionalisme di Indonesia dalam dasawarsa terakhir. Modernisme. negara-negara tengah berkembang (developing countries)-terseret ke dalam orbit kapitalisme internasional. sejauhmana dampak atau pengaruh modernisasi terhadap nasionalisme? Modernisasi dan industrialisasi kelihatannya merupakan salah satu faktor penting yang bertanggung jawab bagi menyurutnya nasionalisme di Indonesia. Bermula dengan globalisasi pasar dan ekonomi yang berintikan liberalisasi pasar dan ekonomi. menggantikan nasionalisme (politik) yang menjadi ideologi dominan di kawasan ini sebelum tahun 1970-an. Kebutuhan dan pertimbangan-pertimbangan pragmatis untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang direncanakan seolah memaksa Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya mengorbankan sentimen nasionalisme mereka vis-Ã -vis kekuatan-kekuatan dominan internasional. Hal ini sekaligus mengindikasikan bahwa gejolak dan gemuruh nasionalisme yang begitu menyala-nyala sejak awal abad 20 sampai akhir dekade 1960-an. khususnya di Indonesia. 18:48 . ideologi modernisasi dan developmentalism. dan. globalisasi berarti liberalisasi politik yang memunculkan gelombang-gelombang demokrasi. dalam beberapa dasawarsa terakhir. kita melihat Indonesia dan banyak negara yang termasuk ke dalam Dunia Ketiga-atau lebih baik. Gejala ini kian menguat dengan meningkatnya globalisasi sejak 1980-an. sebaliknya.id Powered by Joomla! Generated: 9 June. Indonesia-dalam krisis ekonomi dan politik 1998 dan seterusnya-bahkan juga sempat dicemaskan banyak pengamat asing sebagai segera mengalami proses Balkanisasi. negara-bangsa Indonesia tetap bertahan hingga kini. Pada saat yang sama.go. 2013. sosial. bertolak belakang dengan argumen Fukuyama tadi. dan Yugoslavia sampai sekarang ini. Namun.Sekretariat Negara Republik Indonesia Nasionalisme. Dengan meminjam teori "ketergantungan" (dependency theory). Masih langkanya studi tentang subyek ini mengisyaratkan bahwa umumnya para ahli tentang Asia Tenggara agaknya menganggap nasionalisme bukan lagi isu penting bagi kawasan ini. juga memunculkan nasionalisme etnis (ethnic nationalism) dan bahkan tribalism yang bernyala-nyala. prediksi itu tidak terbukti. Namun. Memang. Dalam bidang politik. kini semakin menyurut di Asia Tenggara. salah satu isu sentral di kawasan ini adalah modernisasi dan industrialisasi atau pembangunan.setneg. sebagaimana bisa dilihat pada kasus negara-negara bekas Uni Soviet. dan Globalisasi Bagaimana perkembangan nasionalisme kontemporer di Indonesia? Agak sulit memberikan peta yang pasti dan akurat. secara kontradiktif globalisasi yang mendorong terjadinya liberalisasi politik.

nasionalisme ekonomi dan kultural kelihatan menemukan momentum baru. Indonesia dengan segera dibawa ke dalam orbit ekonomi pasar.Sekretariat Negara Republik Indonesia Dengan bertahannya negara-bangsa Indonesia. Sekali lagi. Tahap pertama adalah pertumbuhan awal dan kristalisasi gagasan nasionalisme. antara lain. Semua perubahan cepat ini menimbulkan disrupsi dalam keseimbangan tatanan masyarakat tradisional. Kemunculan dan pertumbuhan proto-nasionalisme. dengan modernisasi dan developmentalism-seperti dikemukakan di atas-kita melihat terjadinya transisi atau pergeseran bentuk-bentuk nasionalisme. politik. khususnya di negara-negara maju. sebagaimana kita ketahui. kita melihat setidaknya tiga tahap perkembangan nasionalisme di Indonesia dan banyak negara berkembang lainnya. dalam bidang sosial.6 Tiga Fase Nasionalisme Mempertimbangkan survei kasar ini. Di Indonesia. Dalam kerangka itu. merupakan konsekuensi dari perubahan-perubahan cepat dan berdampak luas yang berlangsung di Indonesia dan banyak negara lain umunmya pada dekade-dekade awal abad 20.go. Di sini nasionalisme ekonomi Indonesia dan negara-negara berkembang harus berhadapan dengan proteksionisme negara-negara maju. kita melihat bahwa konsep nasionalisme Indonesia bukanlah sesuatu yang baku. Dalam hal ini. misalnya dibandingkan nasionalisme budaya Prancis dan sejumlah negara Eropa Barat lainnya. anomali atau malaise semacam ini di kalangan masyarakat. dalam banyak hal. baik dengan perubahan sosial.setneg. Dalam konteks itu. Indonesia dan negara-negara berkembang umumnya. 18:48 . Nasionalisme politik-kecuali dalam bentuk kedaulatan dan keutuhan wilayahmemang terlihat semakin menyurut. yang sempat mengancam untuk memboikot program-program TV buatan Amerika yang semakin mendominasi tayangan TV di negara mereka. rasa terancam dan kekhawatiran akan pelunturan nilai-nilai lokal jelas terus kian meningkat pula. kita melihat lenyap atau semakin berkurangnya konflik-konflik yang berakar dari nasionalisme politik di Indonesia. Namun.id Powered by Joomla! Generated: 9 June. tampak masih berada dalam tahap "keterpesonaan" menyaksikan dan menerima globalisasi sistem nilai dan gaya hidup Amerika. di tengah arus globalisasi. nasionalisme budaya Indonesia memang masih kalah. Namun. pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan politik etis yang. 2013. antara lain mengakibatkan terjadinya kemerosotan kepemimpinan tradisional dan melonggarnya ikatanÂ-ikatan komunal dan etnis. kolonialis Belanda di Indonesia melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan sosial dan ekonomi ‘liberal'. globalisasi informasi dan budaya yang dikendalikan negara-negara maju semakin dirasakan mengancam budaya Indonesia dan negara-negara berkembang. menghasilkan ekspansi pendidikan bagi pribumi. yang mengandung banyak kearifan local (local wisdom). dan ekonomi dalam negeri maupun dengan perubahan-perubahan pada tingkat global. apalagi dengan berakhirnya perang dingin. tidak sepenuhnya negatif. Dalam periode ini. Ia merupakan konsep dinamis yang mengalami perubahan sebagai hasil dialektika. yang mempunyai dampak meluas terhadap ekonomi tradisional. kebijaksanaan liberal mendorong pertumbuhan sektor ekonomi modern. Memang tidak seluruh sistem nilai dan budaya yang disebarkan melalui globalisasi itu memiliki dampak negatif bagi perkembangan sistem nilai budaya tradisional dan nasional Indonesia. Bahkan. nasionalisme juga jelas tidak sepenuhnya berakhir di Indonesia. Fase ini ditandai penyerapan gagasan nasionalisme yang selanjutnya diikuti pembentukan organisasi-organisasi yang disebut Benda dan McVey7 atau Hobsbawn8 sebagai "proto-nasionalisme". Di lain pihak. khususnya Amerika Serikat dan Eropa Barat. Keadaan ini justru http://www. Dalam bidang ekonomi. Modernisasi dan industrialisasi yang berlangsung dalam ukuran relatif cepat dan berdampak luas mengakibatkan Indonesia dan negara-negara berkembang umumnya harus menemukan dan mempertahankan pasar untuk produkproduk industri ekonomi.

Hanya beberapa saat menjelang berakhirnya pendudukan.Sekretariat Negara Republik Indonesia mendorong munculnya kesadaran baru tentang dunia yang tengah berubah. Jepang dengan sengaja mendorong pertumbuhan nasionalisme lokal di Indonesia dan wilayah-wilayah lainnya. Langkah ini pada gilirannya menciptakan konflik antara kepemimpinan nasionalis dan kepemimpinan yang berakar pada sentimen keagamaan. Hal ini sekadar langkah-antara untuk memobilisasi umat Islam dari tingkat paling bawah. dan ekonomi ketimbang politis. Jepang lebih memberi kesempatan dan ruang gerak kepada para pemimpin agama dan ulama. bertujuan mencegah dengan cara apapun kembalinya kolonialisme dan imperialisme Eropa ke berbagai wilayah Asia. Elit baru ini sangat berperan dalam menumbuhkan persepsi baru tentang nasionalitas berdasarkan pengalaman bersama menghadapi penjajah. sosial. adalah penciptaan dan penggalangan semangat nasionalitas vis-à -vis penjajah. nasionalisme sebenarnya tidak mempunyai akar begitu kuat dalam psike manusia. Bahkan. Represi dan koersi yang dilakukan pemerintah kolonial mengakibatkan dimensi politis nasionalisme dalam fase ini tidak bisa mekar secara sempurna. Selain itu. inilah tahapan-seperti barusan dikemukakan-sebagai Kebangkitan Nasional. Karena itulah yang lebih menonjol dalam pertumbuhan nasionalisme pada tahap ini adalah penggalangan dimensi-dimensi sosial dan kultural. Dengan demikian. Dengan sengaja. yakni memupuk keutuhan dan integritas negara dan bangsa yang akan segera terwujud. kelompok ini berhasil mengkonsolidasi diri untuk kemudian memegang kendali dalam proses pembentukan ‘nation state' Indonesia. Pembinaan nasionalisme dalam konteks ini.10 Karena. 18:48 . dialienasikan penguasa Jepang. Kepemimpinan agama pada akhirnya http://www. 2013. Demikian pula berbagai suku bangsa di kepulauan Nusantara terikat dengan pengalaman sejarah yang sama sebagai "bangsa Indonesia. nasionalisme sangat sarat dengan muatan politis ketimbang sosial dan kultural. inilah tahapan sejarah yang secara logis berkaitan dengan Kebangkitan Nasional 1908. Bahkan. sampai pada SDI dan SI. pendidikan. berhasil memunculkan kelas terdidik baru. seperti dalam kasus Indonesia. Golongan nasionalis yang memegang kendali sejak pertumbuhan awal nasionalisme. Jepang memberikan peluang-betapa pun terbatasnya-kepada para pemimpin lokal untuk membicarakan masa depan wilayah dan bangsa mereka masing-masing. ‘akar rumput' (grassroot).setneg. Melalui organisasiÂ-organisasi inilah "an imagined political community" mulai mengambil bentuknya dalam masyarakat Indonesia. yang pada 2008 ini kita rayakan sebagai Seratus Tahun atau Seabad Kebangkitan Nasional. Tema pokok nasionalisme di sini adalah apa yang disebut pemimpin nasionalis. sekaligus kepemimpinan baru yang mempunyai peran sentral dalam kelahiran dan pertumbuhan awal proto-nasionalisme yang pada gilirannya menjadi nasionalisme yang lebih sempurna. semacam Soekarno. Tradisi mereka menjadi bagian integral nasionalisme. misalnya. Jong Java. Tema sentral yang sama yang dikembangkan pada fase proto-nasionalisme atau nasionalisme awal ini. sebagai bagian dari kebijaksanaan anti-Baratnya. sesuai dengan kebijakan Jepang. Hal ini dapat dilihat dari organisasi-organisasi sejak Budi Utomo. Lagi-lagi dengan mengambil Indonesia sebagai contoh. seperti dikatakan Gellner. sebagai "nation and character building". Pendudukan Jepang otomatis menghambat kepentingan dan tujuan pemerintahan kolonial Eropa. Jepang kembali menoleh kepada kelompok nasionalis ‘sekuler'. Mereka merekat berbagai potensi yang genuine dalam masyarakat."9 Inilah salah satu tahap paling krusial dalam pembentukan negara-bangsa Indonesia. dengan sengaja.go. sebagaimana dijanjikan Jepang. Jong Islamieten Bond. dengan tantangan baru yang membutuhkan respons baru pula. nasionalisme di Indonesia dan banyak negara lain segera memasuki fase kedua. kaum terpelajar mengambil inisiatif menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa ‘nasional' tanahair Indonesia-dalam lingkup geografis kekuasaan Belandasebagai batas-batas wilayah nasionalisme. Ia harus diciptakan dan ditumbuhkan.id Powered by Joomla! Generated: 9 June. Dalam fase ini. seperti bisa diduga. Pendudukan Jepang menciptakan perkembangan-perkembangan yang sangat kompleks bagi pertumbuhan nasionalisme Indonesia. ‘Liberalisasi' dalam bidang pendidikan betapa pun terbatasnya. seperti bisa diduga.11 Masa pendudukan Jepang (interregnum) yang singkat (1940-1945) merupakan periode katalis dalam mengakselerasi pertumbuhan nasionalisme di Asia Tenggara. organisasiorganisasi proto-nasionalis yang muncul dan berkembang lebih bersifat kultural.

dan Old Established Forces (Oldefos). nasionalisme merupakan konsep sentral untuk membangun Indonesia yang mandiri dan terhormat di tengah percaturan internasional. Berkat kemampuan intelektual dan retorikanya. dan komunisme. nasionalisme harus berdasarkan rasa cinta kepada seluruh manusia. yang lebih dikenal dengan istilah pembangunan (dengan ideologi ‘developmentalism'). Nekolim merupakan versi 1960-an dari sikap anti-imperialisme pada 1920-an. Di sini. ia juga menggunakan sikap permusuhan kaum Muslimin terhadap penjajah kafir. 2013. yang dirancangnya agar cocok dengan situasi di mana kekuasaan kolonial langsung berakhir. dan keadilan. Bangkitnya pemerintah Orde Baru di Indonesia di bawah pimpinan Jenderal Soeharto membuka kemunculan fase baru. Soeharto dan militer yang merasa traumatis dengan pengalaman politik Indonesia pada masa Soekarno.Sekretariat Negara Republik Indonesia harus melakukan kompromi untuk meratakan jalan bagi pembentukan negara kebangsaan Indonesia. Penekanan kini diberikan pada nasionalisme ekonomi yang tidak jarang mengharuskan Indonesia meredam nasionalisme politiknya yang pernah berkobar-kobar. masyarakat Indonesia jelas terlalu majemuk dalam banyak hal untuk bisa diakomodasi dalam satu konsep nasionalisme. Baginya. nasionalisme.id Powered by Joomla! Generated: 9 June. tidak hanya di Indonesia. yakni fase ketiga nasionalisme. dengan menerima Pancasila sebagai ideologi nasional. dan Nefos. baik bagi Indonesia mau pun bagi negara-negara yang baru bebas dari cengkeraman imperialisme dan kolonialisme Barat. Bagi Soekarno. yang justru menciptakan eksploitasi terhadap bangsa-bangsa Asia Afrika. Konfrontasi dengan Malaysia segera ditamatkan. bahkan dalam hubungannya dengan dunia internasional lebih luas. Pada saat yang sama. tetapi juga dalam konteks regional Asia Tenggara. melainkan juga menjadi ‘juru bicara' nasionalisme paling artikulatif. kekuatan lama. dengan segera melancarkan program modernisasi dan industrialisasi. ia kemudian menggelindingkan konsep Nasakom untuk menyimbolkan kesatuan nasionalisme. Atas nama kepentingan bangsa.setneg. kekuatan kebebasan. Dengan melakukan hal seperti itu.go. khususnya vis-à -vis kekuatan-kekuatan yang disebutnya sebagai neo-kolonialisme dan imperialisme (Nekolim). Namun. ia dapat mengambil dan menerapkan ‘analisis Marxis tentang penindasan imperialisme.12 ‘Puncak' nasionalisme Indonesia-sesuai dengan kerangka Bell di atas-tercapai pada masa Soekarno. sebagaimana diungkapkan pada bagian awal. Ia mengutuk eksklusivisme dan chauvinisme nasionalisme Eropa. Soekarno memperkenalkan konsep New Emerging Forces (Nefos). Dalam kerangka itulah pada 1960-an. 18:48 . Soekarno bahkan bukan hanya menjadi perumus nasionalisme Indonesia yang eklektik. Berakhirnya kekuasaan Soekarno menyusul kegagalan kudeta berdarah PKI pada 30 September 1965 menandai berakhirnya fase kedua nasionalisme yang gegap gempita di Indonesia. Kecenderungan eklektiknya memungkinkan dia untuk merumuskan konsep nasionalisme semacam itu berdasarkan sejumlah sumber yang bisa bertolak belakang satu sama lain.13 Nasionalisme Soekarno yang kental dengan sikap anti-Barat (atau Nekolim) itu dicapai melalui pembangkitan sentimen dan penggalangan massa dengan menggunakan retorik dan jargon-jargon yang mempesona. konsep nasionalisme harus mampu memikat dan mengikat seluruh bagian masyarakat Indonesia. Soekarno kemudian mengembalikan Irian Barat ke pelukan Indonesia dan melakukan kampanye ‘Ganyang Malaysia!'. penindasan. sementara kolonialisme dalam bentuk dominasi ekonomi Barat tetap berlangsung. nasionalisme politikkhususnya dalam konteks regional Asia Tenggara dan internasional-mulai disurutkan. Bagi Soekarno. Dalam perumusan nasionalismenya. Slogan Soekarno yang terkenal "go to hell with your aid" dilipat ke balik lembaran sejarah. presiden pertama Indonesia ini berhasil menggelorakan nasionalisme Indonesia. ia dapat mengembangkan gagasan sentral tentang nasion sebagai sebuah entitas yang dapat mendamaikan berbagai elemen yang bertentangan dalam masyarakat Indonesia dan mensubordinasikannya ke bawah tujuan-tujuan jangka panjang. Masih dalam konteks nasionalisme semacam ini. agama. http://www.

Peta etnografis Indonesia sangat kompleks. Di sini Naisbitt mengutip laporan The Economist. Kompleksitas itu tidak hanya disebabkan perbedaan-perbedaan pengalaman historis dalam proses pertumbuhan nasionalisme.15 Teori tentang ‘tribalisme baru' sesungguhnya tidaklah terlalu baru. harus diingat bahwa kebangkitan ‘tribalisme baru' yang relatif ‘modern' seperti terjadi di Amerika Serikat atau ‘tribalisme baru primitif' di bekas Yugoslavia mempunyai konteks sosial dan historis tertentu. yang dalam banyak segi berbeda dengan Asia Tenggara. Global Paradox (1994). Tribalisme baru ini secara sempurna mewujudkan diri dalam berbagai tindak kebrutalan. dan pengujian secara sadar terhadap warisan kultural kelompok etnis sendiri. Kurdistan. Tidak ada nasionalisme tanpa elemen politik.setneg. dalam pertumbuhan nasionalisme di Indonesia umumnya. secara tersirat menyebut etnisitas chauvinistik dan radikal itu sebagai ‘new tribalism". Terdapat beberapa faktor yang menghalangi terjadinya kristalisasi sentimen etnisitas tersebut. Nasionalisme yang muncul merupakan perpaduan sentimen etnisitas dan politik yang kemudian beramalgamasi dengan semangat keagamaan. etnisitas dapat dikatakan tidak sempat sepenuhnya mengalami kristalisasi menjadi dasar nasionalisme. . baik secara etnis mau pun agama. khususnya dalam hubungan dengan etnisitas dan agama sangat kompleks." Naisbitt memprediksikan. tetapi substansinya tak bisa lain kecuali sentimen etnik. 2013. Yang terpenting di antara faktor-faktor itu adalah agama dan kesadaran tentang pengalaman kesejarahan yang sama. Namun. tumbuh berbarengan dengan peningkatan sentimen etnisitas. Hubungan elemen ini ibarat jiwa politik yang mengambil tubuhnya dalam etnisitas. antara lain sebagai hasil dari tipografi kawasan ini. seperti terlihat jelas dalam kasus Serbia. http://www. dan terakhir Kosovo. sejak 1970-an di Amerika Serikat terjadi semacam kebangkitan minat dan kesadaran etnisitas. yaitu sensitifitas terhadap pluralisme etnik yang dipadukan dengan sikap respek terhadap perbedaan kultural antara berbagai kelompok etnis. nasionalisme ibarat satu koin yang mempunyai dua sisi.id Powered by Joomla! Generated: 9 June. Sisi pertama adalah politik. mengandung risiko menjadi AIDS politik internasional. pada masa depan kebanyakan konflik bersenjata akan bermotif etnik dan tribalisme ketimbang bermotif ekonomi dan politik. Seperti dikemukakan Nodia. dan sisi lainnya adalah etnik. Yugoslavia. yang menyatakan bahwa "virus tribalisme .18 Sejauh mana relevansi teori Naisbitt atau Greely dan Novak dengan pengalaman Indonesia? Negara ini tentu saja memiliki potensi etnisitas atau tribalisme yang luar biasa besar. Dan ini merupakan kecenderungan yang sangat berbahaya. dalam sejumlah kasus. seperti disinggung di atas. Novak melihat adanya dua elemen dasar etnisitas atau tribalisme baru itu. Hasil dari perpaduan ini adalah nasionalisme yang sangat chauvinisme dan fascis. dan Agama Kebangkitan nasionalisme kultural dewasa ini. Keduanya berargumen. Etnisitas. yang pada gilirannya memunculkan nasionalisme politik yang amat kental.14 Semua ini terlihat jelas melalui latar belakang kemunculan negara-negara di bekas Uni Soviet. bahkan sentimen keagamaan. 18:48 . John Naisbitt dalam buku.go. pembunuhan. atau Eritrea. tetapi juga oleh realitas Indonesia yang sangat pluralistik. Konsep tentang ‘tribalisme baru' ini pertama kali dikembangkan Greely16 dan Novak17 dengan sebutan ‘new ethnicity'.Sekretariat Negara Republik Indonesia Nasionalisme. juga memiliki perbedaan-perbedaan linguistik dan kultural yang cukup substansial. Namun. yang diam selama bertahun-tahun. berbeda dengan ‘tribalisme baru' kontemporer yang disebut Naisbitt. . Indonesia dihuni kelompok-kelompok etnis dalam jumlah besar yang. selain mempunyai kesamaanÂ-kesamaan fisik-biologis. Pengalaman historis Indonesia dengan nasionalisme. perkosaan. Meski pun demikian. sehingga sebutan Amerika sebagai melting pot semakin kehilangan maknanya. tetapi tibaÂ-tiba membara untuk menghancurkan berbagai negara. dan bentuk-bentuk lain ‘ethnic cleansing' di wilayah bekas Yugoslavia.

Bisa dipastikan. Dengan kata lain. tetapi bahkan merendahkan nasionalisme itu sendiri. dari pandangan Fukuyama yang menganggap agama hanya menimbulkan dampak negatif terhadap nasionalisme. pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa etnisitas tidak menjadi faktor penghambat yang signifikan dalam pertumbuhan nasionalisme Indonesia.Sekretariat Negara Republik Indonesia Dalam pengalaman Indonesia. Berkat Islam. Di sinilah kemudian sentimen etnisitas menjadi sesuatu yang tidak relevan. sekaligus sebagai respons terhadap kebangkitan nasionalisme di kalangan masyarakat Cina Hindia Belanda-baik Cina keturunan maupun Cina totok. bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia. bahkan menolak kaitannya dengan agama. tetapi juga dalam aspek-aspek penting-yang bahkan menjadi dasar nasionalisme-khususnya bahasa. Ini terlihat.21 Walau pun SI pada esensinya merupakan amalgamasi dari berbagai aspirasi-dari gagasan Ratu Adil sampai ke tandingan terhadap dominasi Cina-ia mampu menjadi organisasi yang melewati batas-batas etnisitas dan wilayah. penjajahan Belanda mendorong berbagai kelompok etnis di Indonesia bersatu pada tingkat teologis keagamaan. hanya menghasilkan fanatisme keagamaan dan perang agama. Pada saat yang sama. penjajahan Belanda-yang secara teologis menurut ajaran Islam. Dengan demikian. menjadi lingua franca berbagai kelompok etnis di Indonesia. dan berperan amat positif dalam pertumbuhan nasionalisme. jinak. yakni dengan mengangkat nasionalisme Sumatera melalui apa yang disebutnya sebagai "Sumatera Merdeka".go. adalah ironi yang pahit bagi sejarah bahwa sekarang ini ketika nasionalisme lebih baru menjadi lebih agresif dan brutal.setneg. nasionalisme lama menjadi lebih pasif. Bahkan. http://www. Anggapan ini juga mungkin benar dalam hubungannya dengan brutalitas nasionalisme Serbia beberapa tahun lalu. Saya sependapat dengan Himmelfarb. Ini jelas sudah keluar dari etnisitas dalam pengertian sesungguhnya. Dengan demikian. Kenyataan ini juga terlihat dari kemunculan Sarekat Islam (SI) yang merefleksikan nasionalisme keislamankeindonesiaan.20 Dengan demikian. seperti dikemukakan di atas. pendorong munculnya nasionalisme Indonesia. etnisitas cenderung kehilangan relevansinya sebagai sebuah tema politik. sosiologis dan kultural dari kelompok-kelompok etnis lainnya. Islam menjadi unsur qenuine. kemajemukan etnisitas beserta potensi divisif dan konfliknya dengan segera dijinakkan faktor Islam sebagai agama yang dipeluk mayoritas penduduk Islam menjadi "supra-identity" dan fokus kesetiaan yang mengatasi identitas dan kesetiaan etnisitas. Dengan wajah yang lebih toleran dan ramah. Ternyata tema "etnisitas" seperti ini tidak mendapatkan dukungan historis. Hasan Tiro mencoba mengeksploitasi sentimen lain yang menurutnya mungkin lebih ampuh. 2013. Fukuyama benar ketika menyatakan bahwa nasionalisme awal (tepatnya proto-nasionalisme) pada abad ke-16 di Eropa yang begitu kental dengan sentimen keagamaan.id Powered by Joomla! Generated: 9 June. Islam juga mampu menjinakkan sentimen etnisitas untuk menumbuhkan loyalitas kepada entitas lebih tinggi. misalnya. menumbuhkan. Agama dipandang tidak hanya sekadar kendala. ularna besar asal Palembang yang mengirim suratsurat dari Mekah kepada penguasa Jawa Mataram untuk melakukan jihad melawan Belanda.22 Pengalaman pertumbuhan dan kebangkitan nasionalisme Indonesia dalam hubungannya dengan etnisitas dan agama. dalam kasus Islam di Indonesia. Hanya ada sebuah contoh yang agak langka.19 Kesetiaan pada Islam di Indonesia pada gilirannya memperkuat kesadaran pengalaman kesejarahan yang sama. Namun. Islam Indonesia justru merangsang. tidak banyak orang Sumatera yang menganggap serius tema ini. cukup bertolak belakang dengan pandangan Fukuyama. Dalam pengertian ini. justru kebalikannya. dalam kasus Indonesia. adalah kafir-merupakan semacam blessing in disguise. Gerakan Hasan Tiro di Aceh yang memang berusaha mengeksploitasi sentimen etnisitas Aceh vis-à -vis apa yang disebutnya sebagai ‘kolonialisme Jawa'. Lihatlah misalnya pengalaman Abd al-Shamad al-Palimbani (1704-1789). kedatangan dan perkembangan Islam di Indonesia tidak hanya menyatukan berbagai kelompok etnis dalam pandangan keagamaan dan dunia yang sama. 18:48 . Sebab itu.

Lihat.Sekretariat Negara Republik Indonesia Revitalisasi Nasionalisme: Kebangkitan Nasional Kedua Seabad Kebangkitan Nasional pada 2008 merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali pengalaman Indonesia dengan Kebangkitan Nasional dan nasionalisme di masa kontemporer sekarang ini. terutama. Hobsbawm.12 Lihat. 1972. 1960. 5-7.J.7 Lihat esai pendahuluan H. Di tengah hiruk pikuk liberalisasi politik dan demokratisasi dalam satu dasawarsa terakhir-sejak 1998tema Kebangkitan Nasional dan bahkan nasionalisme bahkan tidak lagi menjadi wacana publik. . misalnya. The End of History and the Last Man. kita boleh berpikir tentang Kebangkitan Nasional kedua dalam masa-masa Milenium Kedua Kebangkitan Nasional negara-bangsa Indonesia. New York: Praeger. nasionalisme tetap relevan. 1992. http://www.13 Lebih lengkap tentang nasionalisme Soekarno. Banyak kalangan menilai baik semangat Kebangkitan Nasional mau pun nasionalisme Indonesia itu sendiri tengah mengalami kemerosotan secara signifikan. Benda dan Ruth McVey dalam The Communist Uprisings of 1926-1927 in Indonesia: Key Documents.J. 57-93. 337-384. . London: Verso. The Crescent and the Rising Sun: Indonesian Islam under the Japanese Occupation 1942-1945. “Global Lifestyles and Cultural Nationalism―.5 Lihat.9 Lihat. h. 18:48 . h. . . E. 266-275. Jakarta: The Japan Foundation―.go.11 Lihat. lihat. khususnya Bab 4 sampai 8. 1992. 1990. 214. . 1958. The Emergence of the Modern Indonesian Elite. 31-76. New York: Avon Books. Ernest Gellner. Yogyakarta: Tiara Wacana. jika Indonesia tetap bertahan. Robert van Niel. justru nasionalisme perlu revitalisasi-kembali digelorakan setiap anak bangsa. Den Haag & Bandung: Van Hoeve.4 Saya hanya bisa memperoleh edisi bahasa Indonesia karya ini. Anderson.6 Bandingkan. Ithaca: Cornell Modem Indonesia Project. Benda. h. -8 Lihat. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. khususnya h. Indonesia.D. 34. . dalam Mega Trends 2000: Ten New Directions for the 1990’s. semangat keindonesiaan. Di tengah arus globalisasi yang terus meningkat.setneg. 2006. h. 373. . J. “Japan. H. Legge. Soekarno: A Political Biography. Islam and the Muslim World―.J. New York: The Free Press. Hanya dengan menggelorakan nasionalisme. 2013. Nasionalisme Menjelang Abad XXI. . h. . Azyumardi Azra. The End of Ideology. Dalam pandangan saya. 116-156.10 Lihat. John Naisbitt & Patricia Aburdene. B. Den Haag: van Hoeve. 1960.[] ------ - 3 Lihat. 193. Hobsbawm.id Powered by Joomla! Generated: 9 June.J. Nations and Nationalism. h. Francis Fukuyama. Ithaca: Cornell University Press. 1983. Nasionalisme Menjelang Abad 21. h. Daniel Bell. lihat pula. 1960. Illinois: The Free Press. E. h. 1991.

17. Columbia University. Andrew Greeley.P. 1977. “The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama’ in the Seventeenth and Eighteenth Century―. 1992. 14-15. F. S.M. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu.D.16 Lihat. the More Powerful Its Smallest Players. Fukuyama. New York: Macmillan. dan KITLV Press. . 552-558. Vol. Leiden: AAAS. “Nationalism and Democracy―. 3.15 Lihat. 1992. . Hawaii University Press. 1989). Dutton. John Naisbitt. 1994. dalam Studia Islamika.17 Lihat. Australia. http://www. Gertrude Himmelfarb. Azra. Why Can’t They be Like Us? New York: E.1. Vol. h. 1. “The End of History?―. Michael Novak. al-Attas.21 Tentang ini lihat. von der Mehden. “The Dark and Bloody Crossroads: Where Nationalism and Religion Met―. 2013. Ph. lihat studi klasik Fred R. .N. “The Indies Chinese and the Sarekat Islam: An Account of the Anti-Chinese Riots in Colonial Indonesia―. the Philippines. 2005. .18 Novak. Religion and Nationalism in Southeast Asia: Burma.Sekretariat Negara Republik Indonesia . Crows Nest. Azyumardi Azra. 18:48 .setneg. Bandung: Mizan. 1971). No. h. Honolulu. . No. dalam Journal of Democracy. . 61. Untuk pembahasan lebih rinci tentang peran Islam dalam pertumbuhan nasionalisme Indonesia.20 Lihat. The National Interest. 1963. 1994. The Rise of the Unmeltable Ethnics. . (Summer 1993).go. Cf.id Powered by Joomla! Generated: 9 June. Indonesia.19 Lihat.22 Lihat. . 21-25. New York: William Morrow. Madison: The University of Wisconsin Press. The National Interest (Summer. 1975. The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia. Azyumardi Azra. Global Paradox: The Bigger the World Economy.14 Ghia Nodia. Dissertation.4. Ibid.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful