Vous êtes sur la page 1sur 14
TEKNOLOGI PEMANFAATAN MIKROORGANISME DALAM PAKAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TERNAK RUMINANSIA DI INDONESIA: SEBUAH REVIEW ELIZABETH WINA Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002 ‘e-mail: winabudi@yahoo.com ABSTRAK Berbagsi tcknologi diperlukan untuk mempertahankan Ketersediaan pakan, meningkatkan kualitas pakan dan ‘mengoptimumkan. fungsi kerja rumen sehingga produksi temak di Indonesia dapat ditingkatkan. Teknologi dengan ‘memanfaatkan mikroorganisme untuk makanan manusia sudah dikenal sejak lama dan di dalam pakan temak sudah mula 0.05) Konsum meningkat dari 101 menjadi 109 g/kg?” KCBK meningkat dri 65.04 menjadi 68.12% PBB meningkat dari 0,55 menjadi 0,61 kg PBB biophus lebih tinggi dark starbio (310 vs 206 g) Retensi nitrogen biopls lebih tingai dari starbio (36.31 vs 26,36 g/hari) PBB tidak berbeda dengan kontrol (644 vs 54,4) Konsumsi BK tidak berbeda dengan konto (739 vs 738 e/a) KCBK tidak berbeda dengan kontrol (64,7 vs 64.4%) KCBK 60 vs 53% (8 cerevsiae* Bioplus) PBB A428 g vs 21.4 gS. cerevisiae + Biophis) PBB tidak berbeda nyata (54,69 vs 48,83 ghhart) Konversi pakan sama (10,62 vs 10,79) KCBK tidak berbeda (63,54 vs 61.63%) Konsumsi tidak berbeda dengan kontrol 3751 dan 370,8 vs 4215) PBB tidak berbeda dengan Kontrol (46,4 dan 49,3 v8 49,1 wha) Kecemaan dinding set rmeningkat dari 63,8 menjadi 611% Kecemaan hemiseltulosa ‘meningkat dari 68,6 menjadi B2% PBB tidak berbeda dengan Kontrol (69 vs 73 ghari) Noapivono et al (2001) Haver al (2004) Royant (2000) ‘WinucRono dan Wioiawan (2003) Tuauineral, 20016) HARYANTO et al (2002) Kuswanoter al (001) WARTAZOA Vol. 15 No.4 Th. 2008 Lanjutan Tabel 1. Temak —— Pakan ama probiot is Parameter Pstaka araesane natsed percobsan —percobaan Probiotik (bakteri 150 mi/3 minggu Domba -Rumput ad PBB lebih berbeda nyata (56,26 TWALIB eral. selulolitikbatang) —sekali loka! b+ ys 48,83 ghar) 20016) ‘defaunator vs 2 x10" koloni/ml Konsentrat — KCBK tidak berbeda (63, SI vs defaunator OS% BH) 61.63%) ‘Starbio 0.5% dari Sapi Rumput+ PBB 0,98 vs 0,77 kg (Kontrol) NGADIvono dan konsentrat Ongole —_Konsentrat—(P>0,05) Bauiagni 2001) G0: 70) Tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi, dan persentase karkas Saccharomyces 1 glekos/hari —-Domuba_-—=—=Rummput + —-Konsumsi BK tidak berbeda__—- MARDALENA cerevisiae Lokal fokal ayata dengan ragi impor (977 vs (2000) (Balitoak) vs ragi 888 2) impor Kecemsan BK tidak berbeds rnyata dengan ragi impor (56 vs 58%) Sediaan mikroba 100 mifckor -—-»-Kambing—-Rumput + KCBK tidak berbeda dengan THAL18(2002) (campuran PE. onsentrat—FPM (74,44 vs 73.9%) ‘nikroba ramen + (1%BB) PBB tidak berbeda dengan FPM FPM vs FPM) (55 vs 54 whari) (faktor Rumen parameter tidak berbeda Pertumbuban dengan FPM mmikroba) Probiotik tumbuh 0,01% dari Dombs Rumput___Konsumsi BK tidak berbeda_SULISTIVANI mera konsentrat Gajah @ kg) dengan probion (587 vs 628 (2002); JuwtTa (Lactobacillus sp.) +konsentrat pari) (2002) sprobion 250) KCBK tidak berbeda dengan probion (58,64 vs 58,739) ‘Rumen parameter tidak berbeda dengan probion Leuconostoc 10" kolonivhari api FH Rumput_-—-Meningkatkan fungsi rumen _RIZA(2001) tren TSD-10 Gajah tapi PBB tidak terpengaruh EFEKTIVITAS DAN DAYA SIMPAN PRODUK CAMPURAN MIKROORGANISME. Daya simpan dan efektivitas mikrooganisme tersebut perlu diuji karena mikroorganisme sangat labil terhadap suhu, cahaya atau oksigen. WINUGROHO dan Marivatt (2001) melaporkan setclah Bioplus dikeringkan di bawah naungan dan disimpan dalam suhu ruang, maka populasi mikroorganisme di dalam bioplus akan berkurang 50%. Walaupun populasi mikroorganisme turun, laju produksi gas in vitro dengan menggunakan bioplus yang telah disimpan 2 bulan masih sama dengan bioplus segar yang. tidak disimpan sehingga mereka menyimpulkan_ bahwa Bioplus yang sudah kering masih efektf bila disimpan sampai 2 bulan dalam suhu ruang. Hal yang sama dikemukakan olch THALIB et af. (20013; 2002) bahwa populasi mikroba tanpa pembatutan (encapsulated) akan turun 30% dari populasi awal sedangkan dengan pembalutan, populasi mikroorganisme di dalam sediaan mikroba anaerobik (probiotik SR) relatif stabil, Bahan pembalut yang digunakan adalah gum Arabic, alginat atau kalsium khlorida. Pengeringan sediaan mikroba ‘yang telah dibalut juga harus diperhatikan, yaitu proses pengering beku (freeze drying) lebih baik daripada proses pengeringan matahari. Panas matahari, sinar UV dan aliran udara (oksigen) pada proses pengeringan matahari akan menyebabkan kerusakan yang besar tethadap sedisan mikroba. THALIB et al. (2001a; 2002) menyimpulkan pentingnya pembalutan sedisan rmikroba dan juga proses pengeringan dengan cara freeze drying untuk menjaga kestabilan dan efektivitas mikroorganisme tetsebut, Sediaan mikroba yang sudah dibalut (encapsulated) dan disimpan selama 4 bulan tidak mengalami penurunan populasi mikroorganisme. Kemampuan sedisan mikrobs yang telah disimpan 17 [Buzanert Wren: Teknologi Pemanfaaton Mikroorganieme dalam Patan unoik Meningkatkan Prodaltivitas Ternuk Ruminansa dt Indonesia tersebut dalam meneema bahan kering rumput Gajah tidak berbeda dengan kemampuan cairan rumen sega. Pengaruh jenis kantong penyimpan dan lama penyimpanan-terhadap nilai gizi produk fermentasi Jumpur sawit dengan Aspergillus niger juga telah dievaluasi (PASARIBU et al, 2001). Aktivitas enzim mananase dan selulase dalam produk fermentasi turun selama penyimpanan dan daya cera bahan kering produk fermentasi juga turun secara signifikan setelah 12 minggu disimpan. Kadar nitrogen terlarut turun setelah 6 minggu disimpan dan kadar protein sejati turun secara signifikan setelah 8 minggu disimpan, Karung plastik pakan yang banyak aerasinya (tidak rapat) temyata merupakan jenis kantong penyimpan yang lebih baik dibandingkan kantong_plastik biasa (edikit aerasinya) atau kertas semen pada penyimpanan suhu kamar (PASARIBU ef a., 2001). Dengan kondisi di Indonesia yang tropis, panas dan lembab, maka teknik perbanyakan, proses pengeringan dan lama penyimpanan mikroorganisme atau produk fermentasi harus sangat diperhatikan, Perlunya mencantumkan tanggal kedaluarsa untuk produk mikroorganisme karena populasi dan efektivitas mikroorganisme ‘menurun dengan semakin lamanya waktu penyimpanan. Begitu pula, dengan tanggal Kadaluarsa untuk produk fermentasi karena produk fermentasi mengalami penurunan kualitas selama penyimpanan, PEMANFAATAN MIKROORGANISME UNTUK LIMBAH-LIMBAH PERTANIAN Limbah pertanian yang begitu beragam jenisnya tersedia di Indonesia dan karena nilai gizinya yang rendah, perludiusahakan —teknologi untuk memperbaikinya (Tabel 2). Perlakuan biologis menjadi teknologi yang banyak diminati saat ini karena banyak jenis mikroorganisme yang mampu mengurangi kadar lignin, senyawa anti nutrisi dan mampu meningkatkan nila Kecernaan serat dari limbah pertanian tersebut. Cassapro merupakan produk fermentasi substrat padat (solid substrate fermentation) oleh kapang Aspergillus niger tethadap bahan pakan_onggok. Cassapro pada awal tahun 90-an diperkenalkan oleh Balityak untuk pakan unggas (KOMPIANG et al, 1994), Cassapro mempunyai Kendungan total protein kasar yang lebih tinggi dibandingkan kontrol. Cassapro dapat Jjuga digunakan sebagai bahan pakan konsentrat untuk temak ruminansia termasuk sapi perah (GUNAWAN et ‘al, 2000). Cassapro dibuat melalui 2 proses proses fermentasi dan proses enzimatis selama 2 hari. Sefelah kedua proses terscbut selesai, bahan onggok yang sudah diselubungi oleh jamur A, niger kemudian ‘dikeringkan dan produk ini disebut cassapro. Berbagai cenzim dihasilkan oleh kapang A. niger seperti misalnya: enzim mananase, selulase dan enzim-enzim 178 pemecah karbohidrat Iainnya sehingga _selama fermentasi, kapang ini mampu mendegradasi serat. Kapang ini dapat tumbuh dengan memanfaatkan ‘urea dan campuran mineral lainnya sehingga dapat meningkatkan kadar protein kasar (KOMPIANG et al., 1994). Fermentasi dengan Aspergillus niger ini tidak hhanya terbatas pada onggok soja, tetapi dapat juge digunakan pada limbah pertanian lainnya seperti limbah pabrik tempe berupa kulit kacang kedelai (Aston dan Wina, 2002), kulit kopi (GUNTORO ef a., 2004; GINTING, 2004) dan limbah perkebunan_sawit (BATUBARA ef al, 2003; WuAYa dan UTOMO, 2001) Aspergillus niger adalah inokulum yang paling sering digunakan Karena mudah dibiakkan, tidak cepat terkontaminasi oleh mikroorganisme tain dan mampu tumbub lebih baik dibandingkan jamur Jain. Sclain Aspergillus niger, Aspergillus oryzae juga dapat ipakai sebagai inokulum untuk fermentasi onggok atau bungkil kedele (Lusts ef al, 20023; 20026) Jamur pelapuk putih (tram putih) atau coklat (Ganoderma lucidum) juga dipakai untuk meningkatkan kualitas bahan pakan yang sult dicema. Jamur pelapuk ‘dapat memecah ikatan lignoselulosa karena jamur ini mengeluarkan enzim fenoloxidase, laccase dan manganoxidase yang termasuk enzim-enzim pemecah lignin (CHANG et al., 1980). WINA et al. (2003) ‘melaporkan adanya peningkatan kecernaan baban kkering substrat walaupun kandungan lignin dan selulosa dalam kulit kayu tidak berkurang. Pada jerami padi, jamur pelapuk uti dilaporkan dapat ‘meningkatkan nilai kecemaan bahan kering jerami padi (PULIANG dan SUHARYADI, 1996; SANTOSA, 2001). Penggunaan produk fermentasi di dalam ransum biasanya menggantikan sebagian dari _konsentrat Komersial. Tidak seperti probiotik yang ditambahkan ke dalam ransum dalam jumlah yang sangat sedikit, produk fermentasi ditambahkan ke dalam ransum sebanyak 5 sampai 66% (LuBis er al, 2002b; MUTHALIB, 2003; MATHIUS ef al., 2005). Penggantian onsentrat dengan produk fermentasimenyebabkan peningkatan total konsumsi pakan dan kecernaan bahan kering (LUBIS ef a., 2002a; b). Selain kecernaan, retensi nitrogen dilaporkan meningkat (HARYANTO er al., 2001) dan pasokan N-mnikroba juga meningkat (ASTUTI dan WiNA, 2002). Analisis kadar amonia dan ssam Jemak terbang memperlihatkan sedikit peningkatan (tidak signifikan) dibanding kontrol (LuBis et al 20028). Mekanisme meningkatnya kecemsan pakan arena produk fermentasi belum dapat dijelaskan secara baik. Adanya senyawa-senyawa yang terbentuk selama proses fermentasi dan dibutuhkan dalam jumlah sedikit untuk pertumbuhan mikrooganisme rumen ‘mungkin menyebabkan fungsi rumen lebih baik dalam mencerna pakan, Sampai batas tertentu, produk fermentasi memberikan pengaruh positif tetapi bila dipaksi melebihi 30% dalam ransum seperti pada WARTAZOA Vol. 15 No. 4Th. 2005 ‘Tabel 2, Penggunaan mikroorganisme untuk meningkatkan kualitas limba pertanian es ‘Substrat untuk Jumlah yang. Subst yfaioogminne Peroban Parte Puss Limba pistes ——Tnvno—~=~*«M Reem ieningat_— i oe bres Combing akan basing ape ements Wa 2000) laktasi PE) (8,8 vs 7,84 p/bari) ‘pin eight Ginn ga ements uss 1335 Pecolan Nob rvmgat ending ngs fame (172M) Kaltumi = (idak avo 10-40% ‘Robot laa ak betada Morus Smocong— Gbebuan)—«Gambing = rtom=———traonsentat an (203) Roca) pean (060077248) Limsh Aen Invi 20-42% PRD mening handing Barunara cal patebomm ger (Lanting ansum’=——«tnp metas (67 dan” a Sscon) soph) Limbs Apes Inv oui 23-6594. =p aingbik Mar a percban ger uy fam! bledigmakan oy ENB pak eae Invi Goma Webobst_——PABmeninghat tending Wor dn penglaan tva) Bi Sp meta (3868 Urowo 2001) cco one) Ongaok pestis’ —Invivo (api Lhgharh—‘Prost sum merngat—_GuvawaN eta vm tes) Sanding Kouol(isiavs 000) waa thee) Conask ———_—Sucharompees Invvo (dont 77S%edai_—_-ReesiN mening dengan Hayao corae™”Kaah Cctat — fenmbahinarea G39" 2201) Sor ga) dan tr (738 wees ghar) Kecemaan eng mnigtt Geng penamtshan ues (Goo o3399 dan air (68,65 vs 66,39%) Oneesk Apes nto Xeccmtan BK reninglat__Anvoatdan wen Scream rnc 2-4 Unease KnGisdmessar G0) Keceraan PK mening engun anaemet2-4 fanaa aan v2) Ampstebs Plows ——‘Invivo (mba 10-40% ——Konsunsagak mening, Tatar a: Sorc Prange)" Samco PEBH menor bi datas (203) os isomijgmg —Plewons tala Kandinga NDF an ADF ANGORAE fete (am bers ‘akan ate) rma) Kalitayy——Pewots——Insiro(umen—Sebagai——Kesemaua BK mesinghat—_Wivset a Tire canes ram Tambng) ibaa 100% Spl umur media Sngzo 2005) smngtm pu (isa 85%) 179 Etizancri Wav: Teknologi Pemanfactan Mikroorganisme dalam Pakan unuk Meninghalan Produltivias Ternak Ruminansa di Indonesia Lanjutan Tabel 2. Subsirt untuk Mikroorganisme Perce Jumlah ya08 Parameter Pie fermentasi nana ace aierikan = Kult kayu Acacia Ganoderma —__Invitro(eummen Sebagsi_—-Keemaan BK meningkat WINA etl. (2005) smangium Icidum ambing) substrat _sampai umur media 100% inkubasi 12 minggu (30,49 v5 24,65%) Tandan kosong — Coprinus Insaco e Kecemnaan BK/BO Suwaom et sit cinereus (rumen kerbas) fermentasi dengan iradiasi (2001) sedikt lebih rendah dark Pemanasan otoklaftandan Limbah kopi Aspergillus In vivo 100-200 PBB 9S ghari Guwroo eta niger (kambing) ——_ghari (2004); Grvrise (2008) OnggoWboungkil Aspergillus Invitro (rumen 10% dari Meningkatkan kecernaan Luise al. kedelai oryzae ddomba) substrat sera 10,5% lebih tinggi (20028) daripada kontrol Onggok Aspergillus Invivo S-10% dari PBB 122 dan 140 vs94,8 — Lubiser al oneae (domba) konsentrst —_g/hari (kontrol) (20028) pemanfeatan ampas tebu (TARMIDI, 2004), maka pertambahan bobot badan tefnak akan menurun. Begitu pula efisiensi pakan menjadi lebih baik dari kontrol bila produk fermentasi limbah sawit digunakan tidak lebih dari 33% dalam ransum (MATHIUS et al, 2005). Produk samping atau limbah pertanian yang saat ini jumlahnya semakin meningkat yaitu limbah dari perkebunan dan pabrik kelapa sawit. Produk ini dapat bberupa bungkil inti sawit, Lumpur sawit, bahan padatan hasil saringan (BATUBARA ef al., 2003). Produk yang sudah difermentasi oleh Aspergillus niger dapat ‘meningkatkan palatabilitas pakan schingga konsumsi pakan meningkat dan akibatnya bobot badan ternak sapi Bali yang dipelihara di perkebunan kelapa sawit ‘meningkat, Cara ini merupakan salah satu cara integrasi ternak-sawit yang sangat efisien karena pakan untuk ternak diperoleh dari limbah perkebunan dan pabrik itu sendir. Produk fermentasi yang diperoleh sangat murah karena pakan tidak perlu dibeli dan tidak diperlukan biaya transportasi untuk -mengangkut limbah, serta” produk jadi tidak memerlukan pengeringan karena langsung dapat diberikan kepada ternak sapi, Ternak sapinya berguna untuk mengangkut hasil kebun sedangkan kotoran sapinya dapat igunakan sebagai pupuk untuk perkebunan tersebut (BaTUBARA et al., 2003; MATHTUS ef al., 2005), Salah satu yang sangat bermanfaat dari fermentasi limbah perkebunan dan pabrik Kelapa sawit yaitu terciptanya Tingkungan yang jauh lebih bersih Karena limbah petkebunan dapat dimanfaatkan menjadi pakan temak. 180 Jadi, produk fermentasi dari industri dan perkebunan sawit akan merupakan tulang punggung pakan temak ruminansia di daerah perkebunan sawit yang sudah tersebar di Sumatera dan Kalimantan, Pengembangan produk —fermentasi untuk diproduksi dalam jumlah besar dan dijual ke pabrik pakan sampai saat ini belum ada, Pemanfaatan produk fermentasi bahan lain selain limbah sawit baru di tingkat penelitian dan hanya sedikit dimanfeatkan di tingkat petemak. Ketersediaan inokulum yang terbatas dan tidak tersedianya produk fermentasi dalam jumlah banyak menjadi kendala untuk dipakai di lapangan karena pembuatan produk fermentasi belum dilakukan sendiri oleh peternak. Proses fermentasi_terbukti bermanfeat untuk —meningkatkan kualitas dan palatabilitas timbah pertanian, tetapi produk fermentasi dari bahan-bahan ini mungkin akan menjadi mahal bila dijual ke peterak karena adanya biaya transportasi untuk pengumpulan bahan yang akan difermentasi di suatu tempat, adanya penyusutan bahan dengan bertambahnya’ kadar air produk fermentasi dan iperlukannya proses pengeringan untuk produk fermentasi_ yang diperoleh. Produk fermentasi dapat dlibeli_ oleh pabrik akan bila dapat menggantikan bbungkil Kedelai sebagai sumber protein dan harganya dapat lebih murah dari harga bungkil kedelai, Produk fermentasi mungkin dapat diekspor ke negara lain bila sudah memenuhi syarat-syarat keamanan pakan dari negara yang dityju. WARTAZOA Vo 15 No.4 Th, 2005 PEMANFAATAN MIKROORGANISME DALAM PROSES SILASE/FERMENTASI JERAMI PADIRUMPUT Pembuatan silase sudah dikenal sejak lama terutama di daerah yang mengslami musim dingin. Proses silase berguna untuk mengawetkan hijauan yang banyak tersedia di musim semi/panas dan kemudian silase dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak pada rmusim dingin. Pembuatan silase juga —sangat bbermanfaat untuk daerah-daerah yang bermusim kemarau cukup panjang. Silase dibuat dalam suasana anaerob dan dengan tumbuhnya _ mikroorganisme fertentu di dalamnya membuat pH silasc-menjadi rendah (asam) dan keadaan ini, membuat silase awet sampai beberapa bulan, Secara alami, mikroorganisme seperti bakteri asam laktat akan tumbub sendiri secara perlahan-lahan. Untuk mempercepat proses silase, beberapa —mikroorganisme —_pembentuk —_asam ditambahkan ke dalam —hijauan,Tabel_ 3 memperlihatkan adanya penambahan mikroorganisme seperti Lactobacillus. sp. atau campuran rmikroorganisme (seperti misalnya: EM4, Probion, Bio 20002). Probion adalah campuran_ mikroorganisme yang langsung diberikan pada ternak dan ternyata dapat dipakai sebagai inokulum untuk fermentasi jerami atau rumput. Ada juga pembuatan silase dengan cairan rumen kerbau segar atau isolat bakteri anacrob dari cairan rumen kerbau sebagai inokulum (BESTARI ef al, 2000; SASONGKO dan SUGORO, 2004). Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa silase buat dalam keadaan anaerob, bahan disimpan di dalam kantong plastik yang diikat rapat selama 2 minggu (NOVITA et al., 2004; SYAMSUDDIN ef al, 2004) tetapi pada penggunaan probion, jerami padi hhanya ditumpuk-tumpuk sampai_Ketinggian tertenty tanpa ditutupi oleh plastik dan didiamkan selama 3 tminggn (HARYANTO et al., 2004a). adi cara pengawetan jerami dengan penambahan Probion hhampir sama’ dengan cara pembuatan kompos yang dilekukan dalam —keadaan—aerob. Untuk membedakannya dengan proses silase, maka cara ini disebut proses fermentasi. Pada proses silase jerami padi dengan menggunakan EM4, urea juga ditambahkan ke dalamnya sehingga selama proses pemeraman terjadi juga proses amoniasi (NOVITA ef al., 2003; AKMAL ef al., 2004). Prose amoniasi_mampu melunakkan serat-serat jerami padi (proses swollen) schingga serat menjadi lebih mudah disusupi mikroba rumen dan kemudian mudah didegradasi. Oleh sebab itu, terjadinya peningkatan kecemnaan jerami padi tidak hhanya oleh proses fermentasi oleh mikroba_tetapi Kemungkinan besar lebih disebabkan oleh proses hidrolisis basa lemah (amoniasi). Untuk membuktikan roses mana yang lebih berpengaruh terhadap peningkatan kualitas jerami padi perlu dibandingkan ppengaruh masing-masing proses amoniasi dan proses fermentasi terhadap kualitas jerami padi. Pada proses fermentasi dengan Probion, penggunaan urea dimaksudkan untuk menjadi sumber amonia yang diperlukan untuk pertumbuhan atau perkembangan mikroba dalam proses fermentasi tersebut (HARYANTO ‘et al, 20040; BUDIARSANA ef al., 2005). Proses ‘silase atau fermentasi ternyata_mampu meningkatkan nilai kecernaan dari jerami padi, bahkan terjadi peningkatan kualitas sehingga dapat menggantikan rumput Gajah (BESTARI et al, 2000; THALIB ef al., 2000; HARYANTO et al, 20046). Oleh sebab itu, pemberian jerami padi yang telah disilase atau difermentasi dapat meningkatkan konsumsi dan bobot badan ternak yang lebih tinggi dari pada teak kontrol yang hanya mengkonsumsi jerami padi tanpa perlakuan (BESTARI e¢ al., 2000; THALIB et al., 2000; SARIUBANG ef al, 2000; SASONGKO dan SUGORO, 2004). Walaupun rumput Gajah dapat digantikan oleh Jerami padi yang disilase/difermentasi, pemberian Jjerami harus disertai dengan pemberian konsentrat agar dapat meningkatkan bobot badan temak. Pemanfeatan jerami padi yang. disilase/difermentasi untuk jangks panjang mungkin berpengaruh pada reproduksi ternak betina karena sangat rendahnya kadar karoten sebagai provitamin A dalam jerami padi dibandingkan dengan rumput Gajah. Menurut PRESTON (2005), sumber serat yang masih berwarna hijau mengandung karoten yang, akan diubah menjadi vitamin A schingga tidak ddiperlukan suplemen vitamin A bila temak diberi ppakan hijauan, tetapi kadar karoten mudah berkurang karena proses pengeringan dengan panas atau semakin lama disimpan, Oleh sebab itu, disarankan untuk menambahkan vitamin A ke dalam pakan basal jerami padi Pada sentra-sentra_penghasil padi, fermentasi (silase) jerami padi adalah salah satu cara pengawetan pakan yang paling baik dan scharusnya dapat dilakukan secara rutin karena cara ini dapat menjaga ketersediaan akan terutama di musim kering yang panjang, Hasil studi KURTZ dan PANIAITAN (2002) menyimpulkan bahwa petani mengakui bahwa jerami padi yang disilase atau difermentasi merupakan persediaan pakan ‘yang paling cocok untuk mengatasi kekurangan pakan 44i musim kemarau. Tetapi, pembuatan silase jerami padi mengalami hambatan karena petani harus ‘mengeluarkan biaya untuk kantong plastik atau drum tempat pemeraman jerami padi. Petani juga kesulitan ‘mendapatkan tempat aman untuk menghindari tikus melubangi kantong plastik yang berisi silase. Proses fermentasi jerami tampak lebih mudah tetapi karena dilakukan “i tempat terbuka maka kemungkinan terkontaminasi olch mikroorganisme pembusuk lebih besar daripada proses silase. Proses ini akan sangat berhasil di tingkat petani kalau mereka diberi pengetahuan terlebih dahulu tentang cara 18 Euzawern Wea: Tetnologt Pemanfaotan Midsoorganisme dalam Pakan untuk Meninghathan Produstivias Termak Ruminansa d domes Tabel 3. Pemanfaatan mikroorganisme pada silase/ fermentasi rumput gajah atau jeromi padi dalam skala Laboratorium atau pada tenak Subsratuntk — Mfkroorganisme Percobaan Parameter Pustaka Jerami padi -—Cairanrumnen In vivo (sapi)_—-Kecermaan bahan kering meningkat -BESTARL et al. (2000 kerbau dlibanding konteol (68,16 vs 61,77%) _THALIM ee (2000) Pertambahan bobot badan teak imeningkatdibanding kontrol (762 vs 73,4 ke) Jerami padi Isolat bakteri In vitro. KCBK tertinggi ketika fermentasi ‘Sasoncxo dan anaerob dari ditambah urea dan molasses ‘Sucoro (2004) cairan rumen (57,57 vs 36,53%) kerbau Jerami padi _Probiotik (\idsk Jn vivo (sapi) _Pertambahan bobot badan ternak _ SARIUBANG eral. disebut) ‘meningkat dibanding kontrol (375 (2000) vs 131 gihari) Rumput gajah Bakteriasam Skala Bahan kering silase tidak Iwan etal (2002) laktat Pioneer Iaboratorium —_ meningkat dibanding dengan silase 1188, USA) dengan molasses Rumput gajah Bakteriasam Skala pH silase turun dari 6,5 sampai 4,2 SYAMSUDDI eal Taktat (Pioneer laboratorium — Kandungan karbohidrat terlarut (2004) 1188, USA) relatif sama Rumput gajah Bakteri asam Jn vivo (sap) Konsumsi BK turun, KCBK tidak ——_Suwrro (2001) laktat Pioneer berbeda 1188, USA) Jeramipadi = EM4+urea Skala Bahan kering silase menurun Novia era. (2004) laboratorium Jerami padi Kombinasi Skala Kandungan serat detergen netral, -AKMAL et al, (2004) amoniasi+EM —laboratorium —_hemiselulosa menurun dibanding, 4 (effective kontrol (74,56 vs 79, 78% dan microorganisms) 27,91 vs 31,59%) Jerami padi _Probion (produk Jn vio Kecernaan serat detergen netral _—_-HARVANTO et a. Balitnak, Ciawi) ‘meningkat dibanding kontrol (58,97 (2004) 5 39380%) Konsentrasi asetat, propionat meningkat dibanding kontrol (842,7 vvs 595,7 iM dan 136 vs 76,8 uM) Jerami padi Probion In vivo Pertambahan bobot badan ternak _BUDIARSANA eta. (domba) ‘meningkat sejalan dengan jumlah (2005) onsentrat yang meningkat Jerami padi —_Probion In vivo Pertambahan bobot badan lebih Mazrawibsasa dan (kambing PE) _ tinggi dari PBB kambing yang BUDIARSANA diberi rumput gajah (109,8 vs 84,5 (2004) e/hari) Jerami padi Bio P2000Z In vivo(sapi_ _ Konsumsi BK sapi POL lebih Ruanto et al. (2005) PO dan tinggi dari sapi PO (3,945 vs 3,12 silangan PO x _kg/hari) Limousine) PBB sapi POL lebih tinggi dari sapi PO (0,47 vs 0,27 kg/h 182 WARTAZOA Vol. 15 No. 4 Th 2005 pembuatannya, jumlah modal yang dibutuhkan, resiko yang mungkin terjadi dan setelah itu mengerjakan fermentasi jerami padi ini secara kelompok. Selain itu, yang perlu dipertimbangkan adalah pemakaian jenis imikroorganisme yang tidak membshayakan_ temak ‘maupun lingkungan dalam jangka panjang bila mikroorganisme atau campurannyaterscbut akan dipakai terus menerus. Perlu juga diketahui bahwa mikroorganisme sangat mudah bermutasi sehingga kontrol mengenai hal inipun sangat perlu dilakukan agar aman bagi ternak dan lingkungan. KESIMPULAN DAN SARAN Beberpa mikroorganisme —tunggal_— atau campurannya yang dipakai sebagai inokulum untuk fermentasi hijauan/hasil samping pertanian atau dipakai sebagai probiotik telah tersedia secara komersial dan ada juga yang diproduksi oleh Balai Penelitian Ternak. Pemanfaatan mikroorganisme dalam akan temak ruminansia di Indonesia telah banyak dilakukan di laboratorium atau di lapangan dan banyak hasil penelitian yang memberikan respon positif. Meskipun demikian, penelitian yang lebih spesifik dan mendalam tentang mikroorganisme tersebut harus dilakukan dan periu adanya standarisasi dan kontrol schingga dapat ‘meyakinkan pengguna mengenai keamanan dan keuntungan penambahan mikroorganisme ke dalam pakan ternak. Perlu terus diusabakan pemanfaatan mikroorganisme di lapangan baik dalam bentuk probiotik atau sebagai produk fermentasi agar emanfaatan limbah-limbah pertanian dapat dilakukan secara maksimum sehingga ketersediaan pakan dapat terus terjamin sepanjang tahun dan terciptanya lingkungan yang lebih bersih dengan hasil akhir adalah peningkatan produktivitas teak. DAFTAR PUSTAKA ‘AvowaL, J. ANDAYANI dan $. NOVIANTI, 2004. Evaluasi perubahan kandungan NDF, ADF dan hemiselulosa pada jerami padi amoniasi yang difermentasi dengan ‘menggunakan EM-4, J, Timiah Ilmu-lImu Petemakan 763): 168-173, ANGGRAENY, Y.N., D. PAMUNGKAS, U. UMIVASIH dan N.H. KunisuNa.” 2005. Pengaruh inokulasi jamor tiram ‘merah (Pleurotus flabelarus) pada kandungan serat Jjerami jagung dan jerami padi. Pros. Seminar Nasional AINI V. Malang, 10 Agust. 2005 (in press). ‘Apaivabl, L. 1999, Pengaruh Penambahan Probiotik Bioplus Serat_ pada Konsumsi dan Kecemaan Ransum Rumput Gajah (Pennisetum purpureum) yang Diberikan pada Domba Ekor Tipis. Skripsi. Jurusen Petemakan Fakultas Pertanian Universitas Djuands, Bogor. 33 him, Anvoot dan U. Usevasit, 2001. Kandungan dan nilai kecemaan in vitro bahan kering, bahan organik dan protein kasar cassapro dengan lama fermentosi yang berbeda. Pros. Seminar Nasional Teknologi Potemakan dan Veteriner. Bogor, 17-18 Sept. 2001 Puslitbang Petemakan, Bogor. him, 279-291 stun, D.A. dan E. WINA. 2002. Pengaruh pakan limbah ‘empe tethadap ekskresi derivat purin dan pasokan N ‘mikroba pada kambing Peranakan Eawah laktai ITV 713): 162-166, BATUBARA, L, S.P. GrvTING, K. SIMANINURUK, J. StANIPAR ddan A. TARIGAN. 2003, Pemanfaatan limah dan hasil ‘ikutan perkebunan kelapa sawit sebagai ransum Kambing potong. Pros. Seminar Nasional Teknologi Petemakan dan Veteriner. Bogor, 29-30 Sept. 2003. Puslibang Petrermakan, Bogor. him. 106-108. Bostart, J., A. THALD dan H. HAMID. 2000, Pengarin Kombinasi pemberian pakan silase jerami padi esiran rumen kerbau dan molase terhadap_pertambahan ‘bobot badan sapi Peranakan Ongole. Pros. Seminar ‘Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 18-19 Okt, 2000, Puslitbang Peternakan, Bogor. him, 242-250, BUDIARSANA, LG.M,, B. HARYANTO dan S.N. JARMAN. 2005, Nila ekonomis penggemukan dma ekor tipis yang diberi pakan dasar jerami padi terfermentasi. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 12-13 Sept, 2005. Pusltbang Peternakan, Bogor. hlm. 445-454, (CHANG, HLM, C.L. Citew and T.K. Kink. 1980. Chemistry of lignin degraded by white rot fungi. In: Lignin Biodegradation: Microbiology, Chemistry and Poteotial Application. Kirk, TK, T. HiGuchi and HLM. CHANG (Eds. CRC Press. Boca Raton, Florida, 1: 215-230. ‘GvtinG, S. 2004, Tantangan dan peluang pemanfaatan pakan Tokal untuk pengembangan peternakan kambing di Indonesia. Pros. Lokakarya Nasional Kambing Potong. Bogor, 6 Agust. 2004. Puslitbang Peternakan, Bogor. him. 61-77 Gunawan, A.K. Sumtiyan, BUDIMAN dan H, HAMID. 2000, Pemanfaatan Cassapro pada temak sapi pera leks Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 18-19 Okt. 2000. Pusltbang eternakan, Bogor him. 251-256. GunroRo, S., MR. YASA, RuBIYO dan N.Y. SUYASA. 2004. Optimalisasi integrasi usaha tani kambing dengan fanaman Kopi. Pros. Seminar Nasional Sistem Intergasi Tanaman-Temak. Denpasar, 20-22 Juli 2004. Pustitbang Peternakan, BPTP Bali dan CCASREN, him, 389-395. Hazvanro, B. 2000. Penggunaan probiotik dalam pakan ‘untuk ‘meningkatkan kualitas karkas dan daging ddombe. ITV 5: 224-228, 183 ELzagera WIA: Telaolog! Pemanfaatan Mibroorganisme dla Pakan untuk Meningkatkan ProdultivitesTernak Ruminansia di Indonesia Hanyawto, B., N. Hipavat dan M. Bara. 2001, Pengaruh taraf urea dan sulfur terhadap neraca nitrogen dan kecemaan energi domba yang diberi onggok terfermentasi dan ampas tau. Animal Prod. 3: 91-97, Haayanto, B., SUPRIVATI dan S.N, JARMANL 2004a. Pemanfaatan probiotik dalam bioproses untuk ‘meningkatkan nilai nutvisi jerami padi untuk pakan domba, Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, Bogor, 4-5 Agust. 2004, Puslitbang Peternakan, Bogor. hm, 298-304. HaRYANTO, B, C.A.V. Lema, A. YULIANTI, SURAYAN dan ‘ABOURACHMAN. 2004b, Peningkatan degradasi serat jerami padi melalui proses fermentasi dan suplementasi Zinc-methionin. Pros. Seminar Nasional Teknologi Petemakan dan Veteriner. Bogor, 4-5 Agust. 2004, Puslitbang Petemakan, Bogor’ him. 805-812, HaRyanro, B., Sureivarl, A. TuaUis, _Suravat, ‘ARDULRAHMAN dan K.'SuMANTO, 2002. Penggunasn probiotk dalam upaya peningkatan _fermentasi ‘mikrobial rumen, Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 30 Sept~1 Okt 2002. Pusltbang Petemakan, Bogor. blm. 206-208. Hav, DK, NGF. KATIPANA, J. NUUK, A. POHAN, O.T. Latoo dan C. Liem, 2004. Pengaruh probiotik terhadap retensi nitrogen dan energi serta pectumbuhan ternak sapi Bali Timor jantan. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 4-5 Agust. 2004. Puslitbang Peternakan, Bogor. him. 91-96. Iowa, M-T. DuaRre dan $, Nomro, 2002. Kandungan Dahan organik dan bahan kering silase rumput Gajah (Pennisetum purpureum) dengan penambahan inokulan bakteri asam laktat dan molases. Bull [Nutri dan Makanan Ternak 32) 33-43, Juwmta, E. 2002. Respon Konsumsi, Daya Cema dan ‘Aktivitas Fermentatif Cairan Rumen pada Domba Lokal Tethadap Penambahan Kombinasi Mineral Organik dan Probiotik dalam Ransum. Skripsi Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas ‘Djuands, Bogor. $3 him. Kowianc, LP., T. Hanvart dan J. DARMA. 1994, Nilai gizi dari singkong yang diperkaya protein: Cassapro, Hm ddan Petemakan 7(2): 22-25, Knause, D.0.,RJ. Bunci LLL, COLAN, PM. Kenney, W.. Swmmt, RI. Mackie and CS. Mcsweeney. 2001 Repeated dosing of Ruminococcus spp. docs not result in persistence, but changes in other microbial populations occur that can be measured with quantitative 16S-rRNA-based probes. Microbiol, 147: 1719-1729. Kunts, E. dan T. PANIAITAN. 2002. Farmer perception of ‘fermented riee straw, NTB, Indonesia, Pros. Seminar [Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 30 Sept. 2002. Puslitbang Peternakan, Bogor. hm. 67-70, Kuswanot, Surrrvamt, B. HARVANTO dan D, YUUSTIVANI 2001. Pertumbuhan domba muda yang diberi pakan aditif. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan ddan Veteriner. Bogor, 17-18 Sept. 2001. Pusl Petemakan, Bogor. him. 189-196. Lusi, D., E, WINS, B. HARYANTO and T. SuNARGIATATMO, 20022. Effectiveness of Aspergillus oryzae fermentation culture to improve digestion of fibrous Feeds: in vitro, ITV 7(2): 90-98, Lupis, D., E, WIN, B, Hagvanto dan T. SuHARcIATATIMO. 2002b. Feeding of Aspergillus oryeae fermentation culture (AOFC) to growing sheep: |. The effect of AOFC on rumen fermentation. JITV 7(3): 155-161 MARDALENA, R. 2000, Saccharomees cerevisiae Lokal ‘Sebagai Altematif Pengganti Probiotik Impor dalam ‘Ransum Domba, Skripsi. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda, Bogor. 36 him. MagtawipiasA, M. dan I-G.M. BUDIARSANA, 2004, Pengarub pemberian jerami padi fermentasi dalam ransum ferhadap perfornan kambing Peranakan Eawah betina. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan ddan Veteriner. Bogor, 4-5 Agust. 2004. Puslibang Peternakan, Bogor. hlm. 407-415. Marinus, LW., AP. SINURAT, BLP. MANURUNG, DM. Srromput. dan AzMi. 2008. Pemanfaatan produk fermeniasi lumpur bungkil sebagai bahan pakan sspi potong. Pros. Seminar Nasional Teknologi Petermakan dan Veteriner. Bogor, 12-13 Sept. 2005, Puslitbang Petemakan, Bogor. him. 153-161. Murtatis, R.A. 2003. Pengaruh pemberian kulit umbi ketela pohon (Manaikot utillisina) fermentasi tethadap kkarakteristik-karkas dan daging kambing Kacang jantan. J. Imiah Tmu-TIma Petemakan 6; 203-210. NoAprvono, N. dan E. BALIARTL, 2001. Laju pertumbuhan ddan produksi karkars sapi Peranakan Ongole jantan dengan penambahan probiotkstarbio pada pakannya, Media Peternakan 24(2): 63-67. NcaoWono, N., H. HARTADI, M. Wisvoronio, D.D. Siswansvan dan S.N. AMtMAD. 2001, Pengaruh ‘pemberian bioplus terhadap kinerja sapi Madura di Kalimantan Tengah. JITV 6: 69-75, Novita, A, F.K. TaNapILanTin dan R. ISLAMIYATI. 2003. Kandungan bahan kering dan bahan organik jerami padi yang difermentasi dengan Effective ‘microorganisms-4 (EM-4) dan beberapa level urea Bull. Notrisi dan Makanan Ternak 4(1): 33-41. Panwam, LA., N.YM. SUYASA, S. GUNTORO dan M.D. Rat ‘Yasa. 1999. Pengaruh pemberian probiotik dan laser punktur dalam meningkatkan berat badan sapi Bali. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 18-19 Okt. 1999. Puslitbang Petemakan, Bogor. hm, 136-145. ‘PASARIBU, T., T. PURWADARIA, A.P. SINURAT, J. ROSIDA dan D.O.D. SarurRa. 2001. Evaluasi nilai gizi lumpur sewit has fermentasi dengan Aspergillus niger pada berbagai perlakuan penyimpanan. JITV 6: 233-238, WARTAZOA Vol 15 No.4 Th. 2005 PILIANG, W.G. dan SUHARYADL. 1996. Biofermentasi limbah lignoselulosa oleh jamur tram (Pleurotus ostreatus) dan efeknya tethadap metabolisme dan populasi ‘mikroba rumen, J. Biol. Indonesia 1: 37-43. Preston, RL. 2005. Feed Composition Tables. hitp/fbeef- ‘mag.com/mag/beef feed composition tables! PRIHARDONO, R. 2001. Pengaruh Suplementasi Probiotik Bioplus, Lisinat Zo dan Minyak Ikan Lemuru TTeshadap Tingkat Penggunaan Pakan dan Produk Fermentasi Rumen Domba. Skripsi. Jurusan Ima Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Petemakan Institut Pertanian Bogor. RuawTo, E., NURIIDAYAT dan A. PURNOMOADL 2005. Pemanfsatan protein pada sapi Peranakan Ongole dan spi Peranakan Ongole x Limousin jantan yang ‘mendapat pakan jerami padi fermentasi dan konsentrat. J. Indones.” Trop. Anim. Agri 30(3): 186-191 Riza. 2001. Pengaruh Suplementasi Probiotik Bakteri Asam Laktat, Tepung kan, Minyak Tkan Lemuru dan Seng Sulfa dalam Ransumn Sapi Holstein Jantan. Skripsi JJurusan tlm Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. RovANl, A. 2000, Pengaruh Pemberian Probiotik (Bioplus ‘dan Saccharomyces cerevisiae) Terhadap Konsutnsi Ransum, Kecernaan, Pertambahan Bobot Badan dan Parameter Rumen pada Domba Janian Ekor Tipis. Skripsi, Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Djuanda, Bogor. 47 him, Saxross, U. 2001. Efek imbangan jerami padi hasil fermentasi dengan jamur tiram putih (Pleurots ‘osirearus) tethadap Kecemaan dan TDN ransun pada ‘penggemukan sapi jantan peranakan Ongole. J. Hm ‘Temak 1: 1-6, Santusanc, M., D. Pasawme, A. NURHAYU, S. NATAL dan ‘Cuauiosan, 2000. Pemanfaatan probiotik dalam fermentasi jerami sebagai pakan sapi Bali di’ masim kemarau, Pros. Seminar Nasional Teknologi Petermakan dan Veteriner, 18-19 Okt. 2000. Paslitbang Peternakan, Bogor. him. 219-223. SasoNGKO, W.T. dan I, SuGORO. 2004, Fermentasi jerami padi varietas atomita 4 secara basah dengan menggunaken inokulum campuran_ isolat_bakteri ‘anacrob fakultatit rumen Kerbau. Pros. Teknologi Isotop dan Radiasi, Jakarta 17-18 Feb. 2004. bm. 11-174, SuuisrivaNt, S.B. 2002. Respon Konsumsi dan Pertambahan Bobot Hidap Domba Lokal Terhadap Ransum dengan Mineral Organik. Skripsi.Jurusan Petemakan Fakultas Pertanian, Universitas Djuanda, Bogor. 43 him. SUWADI, E, BAH, SASANGKA dan, ram, 2001, Mempelajasi pemanfaatan limbah kelapa sawit dengan penanaman jamur Coprinus cinereus dan ppenggungannya untuk pakan termak, Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 17-18 Sept. 2001. Puslitbang Petemakan, Bogor. bm, 308-317. SuwiTo. 2001. Efek Ensilase Rumput Gajah dengan Bakteri ‘Asam Lakat dan Enzim Selulolik serta ‘Suplementasi Seng dan Probiotik pada Sapi. Skrpsi. Jrusan Imu Nutrisi dan Makanan Terak, Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. ‘SvamsuDDW, N.,J.A. SYAMSU, E, F, PusPITA dan NURHAENI 2004, Kualitas fermentasi silase rumput gajah (Pennisetum — purpureurn) inokulan bakteri asam laktat dan molases. Bull ‘Nutrsi dan Makanan Ternak 5(1): 67-75. Tarmipt, AR 2004. Pengaruh pemberian ransum yang ‘mengandung ampas tebu hasil biokonversi oleh jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) terhadap performans ‘domba Priangan. JITV 9: 157-163. TWAUB, A. 2002. Pengaruh imbuhan faktor pertumbuban ‘mikroba dengan dan tanpa sediaan mikroba terhadap pperformans kambing Peranakan Etawah, JITV 7: 220-226, ‘THAUB, A. B. HARYANTO dan H. HaMap. 2002. Efek coating tethadap kemumian, viabilitas dan aktivitas sediaan mikroba (PROBIOTIK SR) selama penyimpanan. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan ‘Veteriner. Bogor, 30 Sept Okt, 2002. Pusltbang Peternakan, Bogor. him. 170-173. Tuaus, A. B. Hanvanto, H. Hasip, D. Suaeeman dan Mutant. 2001b, Pengaruh kombinasi defsunstor ddan probiotik terhadap ckosistem rumen dan performan ternak domba, JITV 6: 83-88. Tuaum, A.B. Hanvanto, Kuswanot, 1. Hava dan MULYAMt. 2001a. Teknik penyiapan sediaan mikroba ‘anaerobic: bakteri selulolitk batang. JITV. 6: 153-157, Twaun, A, J. Bestar, YWiniawant, Han dan D. SUHERMAN, 2000. Pengaruh perlakuan silase jerami padi dengan mikroba rumen kerbau terhadap daya ‘cera dan ekosistem rumen sap. ITV 5: 1-< ‘Woava, E, dan B.N, UroMo, 2001. Pemanfaatan limbah kkelapa sawit solid sebagai palan tambahan tena ruminansia di Kalimantan Tengah. Pros. Seminar ‘Nasional Teknologi Petemakan dan Veteriner. Bogor, 17-18 Sept. 2001. Puslitbang Petemakan, Bogor. ‘nim, 262-267. Wana, E. 2000. Pemanfaatan ragi (east) sebagai pakan jimbuban untuk meningketkan produktivitas.temak suminansia, Wartazoa 9(2): 50-56. Wma, E., H. AFFANDI, E. Soumadt dan R. Nincsit. 2005. ‘Komposisi serat dan kecemaan bahen ering kulit kayu Acacia mangium yang digunakan sebagai media Jamur Pleurotus ostreatus dan Ganoderma lucidum. ros. Seminar Nasional AINI V, Malang, 10 Agustus 2005 (in press} WinucRoHo, M. dan S. Manivart. 2001. Konsistensi ‘keefeltifan bioplus serat selama masa simpan pada ssuhu ruang. Pros. Seminar Nasional Teknologi Petemakan dan Veteriner, Bogor, 17-18 Sept. 2001. Puslitbang Peternakan, Bogor. him. 214-218. 185 [BLIZAMETH WINA: Teknolog! Pemanfaatan Mikroorganisme dalam Pakon untuk Meninghatkan Produstivits Ternak Ruminansa di Indonesia woHO, M. dan Y. WIDIAWAM. 2003. Candida utilis YUSRIADI. 1999, Karakteristik Kerkas Domba Jantan Lokal sebagai pengganti Saccharomyces cerevisiae yang Mendapat Probiotik dan By Pass Protein dalam ppendamping bioplus untuk meningkatkan Pakan Selama Penggemukan, Skripsi. Jurusan Mma roduktivitas ternak. Pros. Seminar Nasional Produksi ‘Temak, Fakultas Petemekan Institut Teknologi Petemakan dan Veteriner. Bogor, 29 September 2003. Pusltbang Peternakan, Bogor. him. 142-145, Pertanian Bogor. 29 him. ‘WouaRoHo, M. dan Y. WiniAWATI. 2004, Penguasaan dan pemanfaatzn inovasi teknologi pengkayaan pakan ‘api potong/sapi_perah. Pros. Lokakarya Nasional Sapi Potong, Yogyakarta, 8-9 Okt. 2004, Puslitbang Peternakan, Bogor dan Lolit Sapi Potong, Grati. hm. 57-64.

Vous aimerez peut-être aussi