Vous êtes sur la page 1sur 29

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Saat ini Congestive Hearth Failure (CHF) atau yang biasa disebut gagal jantung kongestif merupakan satu-satunya penyakit kardiovaskuler yang terus meningkat insiden dan prevalensinya. Risiko kematian akibat gagal jantung berkisar antara 5-10% pertahun pada gagal jantung ringan yang akan meningkat menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Selain itu, gagal jantung merupakan penyakit yang paling sering memerlukan perawatan ulang di rumah sakit (readmission) meskipun pengobatan rawat jalan telah diberikan secara optimal (R. Miftah Suryadipraja). CHF adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh (Ebbersole, Hess, 1998). Risiko CHF akan meningkat pada orang lanjut usia(lansia) karena penurunan fungsi ventrikel akibat penuaan. CHF ini dapat menjadi kronik apabila disertai dengan penyakit-penyakit seperti: hipertensi, penyakit katub jantung,

kardiomiopati, dan lain-lain. CHF juga dapat menjadi kondisi akut dan berkembang secara tiba-tiba pada miokard infark. CHF merupakan penyebab tersering lansia dirawat di rumah sakit (Miller,1997). Sekitar 3000 penduduk Amerika menderita CHF. Pada umumnya CHF diderita lansia yang berusia 50 tahun, Insiden ini akan terus bertambah setiap tahun pada lansia berusia di atas 50 tahun (Aronow et al,1998). Menurut penelitian, sebagian besar lansia

yang di diagnosis CHF tidak dapat hidup lebih dari 5 tahun (Ebbersole, Hess,1998). Dalam makalah ini membahas CHF pada lansia disertai penanganan dan asuhan Keperawatan pada pasien lanjut usia dengan CHF. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah : 1. Apa pengertian dari Gagal Jantung Kongestif ? 2. Apa etiologi dari penyakit Gagal Jantung Kongestif? 3. Bagaimana tanda dan gejala dari penyakit Gagal Jantung Kongestif ? 4. Bagaimana manifestasi klinis dari Gagal Jantung Kongestif ? 5. Bagaimana perjalanan patofisiologi dari Gagal Jantung Kongestif? 6. Bagaimana pemeriksaan diagnostic penyakit Kongestif ? 7. Bagaimana tindakan pelaksanaan pada pasien Gagal Jantung Kongestif Lansia? 8. Bagaimana proses pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien penderita Gagal Jantung Kongestif? Gagal Jantung

C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui pengertian dari Gagal Jantung Kongestif. 2. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit Gagal Jantung Kongestif. 3. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari penyakit Gagal Jantung Kongestif. 4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Gagal Jantung Kongestif.

5. Untuk mengetahui perjalanan patofisiologi dari Gagal Jantung Kongestif. 6. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic penyakit Gagal Jantung Kongestif. 7. Untuk mengetahui tindakan pelaksanaan pada pasien Gagal Jantung Kongestif Lansia. 8. Untuk mengetahui proses pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien penderita Gagal Jantung Kongestif Lansia.

D. Manfaat Penulisan Manfaat bagi Tim Penulis Dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam membuat Asuhan Keperawatan dan menambah wawasan khususnya tentang penyakit Gagal Jantung Kongestif dan ruang lingkupnya Manfaat bagi pembaca Menjadi bahan masukan dalam menambah khazanah ilmu pengetahuan terutama mengenai konsep tentang Gagal Jantung Kongestif dan ruang lingkupnya dalam bidang kesehatan

BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Medik Dari Gagal Jantung Kongestif A.I. Pengertian Gagal Jantung Kongestif Congestive Heart Failure (CHF) atau gagal jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah secara adekuat ke seluruh tubuh untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi. Istilah gagal jantung kongestif paling sering di gunakan kalau terjadi gagal jantung sisi kiri dan sisa kanan (Brunner & Suddarth, 2002). Kegagalan jantung kongestif adalah suatu kegagalan pemompaan ( dimana cardiac output tidak mencukupi kebutuhan metabolic tubuh), hal ini mungkin terjadi sebagai akibat akhir dari gangguan jantung, pembuluh darah, atau kapasitas oksigen yang terbawa dalam darah yang mengakibatkan jantung tidak dapat mencukupi kebutuhan oksigen pada berbagai organ (Ni Luh Gede Yasmin, 1993). Suatu keadaan patofisiologis, adanya kelainan fungsi jantung berakibat jantung gagal memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau

kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri (Braundwald ). Klasifikasi 1. Gagal jantung akut kronik

a. Gagal jantung akut terjadinya secara tiba-tiba, ditandai dengan penurunan cardiac output dan tidak adekuatnya perfusi jaringan. Ini dapat mengakibatkan edema paru dan kolaps pembuluh darah. b. Gagal jantung kronik terjadinya secara perlahan ditandai dengan penyakit jantung iskemik, penyakit paru kronis. Pada gagal jantung kronik terjadi retensi air dan sodium pada ventrikel sehingga menyebabkan hipervolemia,

akibatnya ventrikel dilatasi dan hipertrofi. 2. Gagal Jantung Kanan- Kiri a. Gagal jantung kiri terjadi karena ventrikel gagal untuk memompa darah secara adekuat sehingga menyebabkan kongesti pulmonal, hipertensi dan kelainan pada katup aorta/mitral b. Gagal jantung kanan, disebabkan peningkatan tekanan pulmo akibat gagal jantung kiri yang berlangsung cukup lama sehingga cairan yang terbendung akan berakumulasi secara sistemik di kaki, asites, hepatomegali, efusi pleura, dll. 3. Gagal Jantung Sistolik-Diastolik a. Sistolik terjadi karena penurunan kontraktilitas ventrikel kiri sehingga ventrikel kiri tidak mampu memompa darah akibatnya kardiak output menurun dan ventrikel hipertrofi b. Diastolik karena ketidakmampuan ventrikel dalam pengisian darah akibatnya stroke volume cardiac output turun.

A.II. Etiologi Gagal Jantung Kongestif Penyebab gagal jantung kongestif yaitu: 1. Kelainan otot jantung. Gagal jantung paling sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, menyebabkan menurunnya kontaktilitas jantung. 2. Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. 3. Hipertensi sistemik atau pulmonal (peningkatan afterload) meningkatkan beban kerja jantung yang dan pada gilirannya mengakibatkan hipertropi serabut jantung. 4. Peradangan dan penyakit miokardium degeratif berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun. 5. Penyakit jantung lain. Gagal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya tidak secara langsung mempengaruhi jantung. Misalnya stenosis katup semilunar (ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah), tamponade perikardium, perikarditis konstruktif, stenosis katup AV atau insufisiensi katup AV ( penggosongan jantung abnormal). 6. Faktor sistemik seperti demam, tirotoksikosis, hipoksia, anemia. SEBAB-SEBAB GAGAL JANTUNG KELAINAN MEKANIS 1. Peningkatan beban tekanan dari sentral ( stenosis aorta ) dan dari peripheral ( hipertensi sistemik)

2.

Peningkatan

beban

volume

regurgitasi

katup-pirau

meningkatnya beban awal 3. Obstruksi terhadap pengisian ventrikel Stenosis mitral atau tricuspid 4. Temponade pericardium 5. Retriksi endokardium dan miokardium 6. Aneurisme ventricular 7. Dis-sinergi ventrikel

Primer Kardiomiopati (Gangguan neuromuscular miokarditis) Metabolik ( DM ) Keracunan ( Alkohol,obat )

Sekunder Iskemia ( Penyakit jantung koroner ) Gangguan metabolic Inflamasi Penyakit sistemik Penyakit paru obstruktif kronis

Obat-obatan yang mendepresi miokard 1. Henti jantung 2. Ventrikular fibrilasi

3. Takikardi atau bradikardia yang ekstrim 4. Asinkronik listrik dan gangguan konduksi A.III. Tanda dan Gejala Gagal Jantung Kongestif 1. Aktivitas/istrahat Gejala : Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari. Insomnia. Nyeri dada dengan aktivitas. Dispnea pada istrahat atau pada pengerahan tenaga. Tanda : Gelisah, Perubahan status mental, misalnya Latergi. Tanda vital berubah pada aktivitas.

2. Sirkulasi Gejala : Riwayat hipertensi, IM baru/akut, episode GJK sebelumnya, penyakit katub jantung, bedah jantung, endokarditis, SLE, Anemia, Syok septic. Bengkak ada kaki, telapak kaki, abdomen, Sabuk terlalu ketat (Pada gagal bagian kanan). Tanda : TD : Mungkin rendah (Gagal pemompaan);normal (GJK Ringan atau Kronis);atau tinggi (kelebihan beban cairan/peningkatan TVS) Tekanan Nadi : Mungkin sempit, menunjukkan penurunan volume sekuncup. Frekuensi Jantung : Takikardi (Gagal jantung kiri) Irama Jantung : Disritmia, misalnya fibrilasi atrium, kontraksi ventrikel premature/takikardi, blok jantung, Nadi Apikal : PMI mungkin menyebar dan berubah posisi secara inferior ke kiri.

Bunyi jantung : S3 (gallop) adalah diagnostic;S4 dapat terjadi;S1 dan S2 mungkin melemah. Murmur sistolik dan diastolic dapat menandakan adanya stenosis katup atau insufisiensi. Nadi : Nadi perifer berkurang; perubahan dalam kekuatan denyutan dapat terjadi;Nadi sentral mungkin kuat misalnya nadi jugularis, karotis, abdominall terlihat. Warna : Kebiruan, pucat, abu abu, sianotik.

Punggung Kuku : Pucat atau sianotik dengan pengisian kapiler lambat. Hepar : Pembesaran/dapat teraba, refleks hepatojugularis. Bunyi Napas : Krekles, ronki. Edema : Mungkin dependen, umum, atau pitting, khususnya pada ekstermitas; DVJ.

3. Intergritas Ego Gejala : Ansientas, kuatir, takut. Stres yang berhubungan dengan penyakit/keprihatinan financial (pekerjaan/biaya perawatan medis) Tanda : Berbagai manifestasi prilaku misalnya ansientas, marah, ketakutan, mudah tersinggung. 4. Eliminasi Gejala : Penurunan berkemih, urine berwarna gelap. Berkemih malam hari (nokturia) Diare/konstipasi 5. Makanan/Cairan

Gejala : Kehilangan Napsu makan. Mual/muntah Penambahan berat badan signifikan Pembengkakan pada ekstermitas bawah Pakaian/sepatu terasa sesak Diet tinggi garam/makanan yang telah dip roses, lemak, gula, dan kafein Penggunaan diuretic. Tanda : Penambahan berat badan cepat. Distensi abdomen (Asites);edema (umum, dependen, tekanan, pitting). 6. Higine Gejala : Keletihan/kelemahan, kelelahan selama aktivitas perawatan diri. Tanda : Penampilan menandakan kelainan perawatan personal.

7. Neuorosensori Gejala : Kelemahan, pening, episode pingsan. Tanda : Letargi, kusut pikiran, disorientasi. Perubahan perilaku, mudah tersinggung.

8. Nyeri/Kenyamanan Gejala : Nyeri dada, angina akut/kronis. Nyeri abdomen kanan atas (AKaA) Sakit pada otot. Tanda : Tidak tenang, gelisah. Fokus penyempitan (menarik diri). Perilaku melindungi diri.

10

9. Pernapasan Gejala : Dispnea saat aktivitas, tidur sambil duduk, atau dengan beberapa bantal. Batuk dengan/tanpa pembentukan stuktum. Riwayat penyakit paru kronis. Penggunaan bantuan pernapasan, misalnya oksigen atau medikasi. Tanda : Pernapasan : Takipnea, napas dangkal, pernasan laboret;Penggunaan otot aksesori pernapasan, nasal flaring. Batuk : Kering/Nyaring/Non produktif atau mungkin batuk terus menerus dengan/tanpa pembentukkan sputum. Sputum : Mungkin bersemu darah, merah muda, berbuih, (edema pulmonal). Bunyi Napas : Mungkin tidak terdengar, dengan krakles basilar dan mengi. Fungsi Mental : Mungkin menurun;letargi;kegelisahan. Warna Kulit : Pucat atau sianosis.

10. Keamanan Gejala : Perubahan dalam fungsi mental. Kehilangan kekuatan/tonus otot. Kulit lecet.

11. Interaksi Sosial Gejala : Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa di lakukan.

11

A.IV. Manifestasi Klinis dari Gagal Jantung Kongestif Tanda dominan gagal jantung adalah meningkatnya volume intravaskuler. Kongesti jaringan terjadi akibat tekanan arteri dan vena yang meningkat akibat turunnya curah jantung pada kegagalan jantung. Peningkatan tekanan vena pulmonalis dapat menyebabkan cairan mengalir dari kapiler paru ke alveoli, akibatnya terjadi edema paru, yang di manifestasikan dengan batuk dan nafas pendek. Meningkatnya tekanan vena sistematik dapat mengakibatkan edema perifer umum dan penambahan berat badan. Turunnya curah jantung pada gagal jantung di

manifestasikan secara luas karena darah tidak dapat mencapai jaringan dan organ (perfusi rendah) untuk menyampaikan oksigen yang dibutuhkan. Beberapa efek yang biasanya timbul akibat perfusii rendah adalah pusing, konfusi, kelelahan, tidak toleransi terhadap latihan dan panas, ekstremitas dingin, dan haluaran urin berkurang (Oliguri). Tekanan perfusi ginjal menurun,

mengakibatkan pelepasan rennin dari ginjal, yang pada gilirannya akan menyebabkan sekresi aldosteron, retensi natrium dan cairan, serta peningkatan volume intavaskular.

A.V. Patofisiologi Gagal Jantung Kongestif Jantung peningkatan mekanisme yang normal dapat berespons yang terhadap

kebutuhan

metabolisme yang

menggunakan untuk

kompensasi

bervariasi

mempertahankan kardiak output. Ini mungkin meliputi: respons sistem syaraf simpatetik terhadap baro reseptor atau

kemoreseptor, pengencangan dan pelebaran otot jantung untuk menyesuikan terhadap peningkatan volume, vasokonstyrinksi

12

arteri renal dan aktivasi sistem renin angiotensin serta respon terhadap serum-serum sodium dan regulasi ADH dari

reabsorbsi cairan. Kegagalan mekanisme kompensasi di percepat oleh adanya volume darah sirkulasi yang di pompakan untuk menentang peningkatan resisitensi vaskuler oleh

pengencangan jantung. Kecepatan jantung memperpendeka waktu pengisian ventrikel dan arteri koronaria, menurunnya kardiak ouput menyebabkan berkurangnya oksigenasi pada miokard. Peningkatan tekanan dinding pembuluh darah akibat dilatasi menyebabkan peningkatan tunutan oksigen dan

pembesaran jantung (hipertropi) terutama pada jantung iskemik atau kerusakan, yang menyebabkan kegagalan mekanisme pemompaan.

13

Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:


Peningkatan metabolisme tubuh Mekanisme kompensasi yang digunakan A.VI. antara lain: 1. Peningkatan A.VII. HR. 2. Hipertropi miokard. A.VIII. sistem renin 3. Pengaktifan angiotensin. A.IX. 4. Regulasi ADH dan A.X. cairan. reabsorbsi Jantung menggunakan mekanisme kompensasi untuk mempertahankan kardiak output Peningkatan beban kerja jantung oleh karena peningkatan SVR

Jantung bekerja lebih keras dengan meningkatkan HR


Memperpendek waktu pengisian ventrikel dan arteri koronaria

Menimbulkan injury dan iskemi pada miokard Menimbulkan injury dan iskemi pada miokard Menimbulkan kegagalan mekanisme pemompaan

Kegaglan jantung dapat di nyatakan sebagai kegagalan sisi kiri atau sisi kanan jantung. Kegagalan pada salah satu sisi jantung 9ndapat berlanjut dengan kegagalan pada sisi yang lain dan manifestasi klinis yang sering menampakan kegagalan pemompaan total. Manifestasi klinis dari gagal jantung kanan adalah: edema, distensi vena, asites, penambahan berat badan, nokturia, anoreksia, peningkatan tekanan atrium kanan, peningkatan tekanan vena perifer.

14

Manifestasi klinis dari gagal jantung sisi kiri adalah: dispnea on effort, orthopnea, sianosis, batuuk, dahak berdarah, lemah, peningkatan tekanan pulmonari kapiler, peningkatan tekanan atrium kiri.

A.XI. Pemeriksaan Diagnostik Gagal Jantung Kongestif 1. EKG; mengetahui hipertrofi atrial atau ventrikuler,

penyimpanan aksis, iskemia dan kerusakan pola. 2. ECG; mengetahui adanya sinus takikardi, iskemi, infark/fibrilasi atrium, ventrikel hipertrofi, disfungsi pentyakit katub jantung. 3. Rontgen dada; Menunjukkan pembesaran jantung. Bayangan mencerminkan dilatasi atau hipertrofi bilik atau perubahan dalam pembuluh darah atau peningkatan tekanan pulnonal. 4. Scan Jantung; Tindakan penyuntikan fraksi dan

memperkirakan gerakan jantung. 5. Kateterisasi jantung; Tekanan abnormal menunjukkan indikasi dan membantu membedakan gagal jantung sisi kanan dan kiri, stenosis katub atau insufisiensi serta mengkaji potensi arteri koroner. 6. Elektrolit; mungkin berubah karena perpindahan cairan atau penurunan fungsi ginjal, terapi diuretic. 7. Oksimetri nadi; Saturasi Oksigen mungkin rendah terutama jika CHF memperburuk PPOM. 8. AGD; Gagal ventrikel kiri ditandai alkalosis respiratorik ringan atau hipoksemia dengan peningkatan tekanan karbondioksida.

15

9. Enzim jantung; meningkat bila terjadi kerusakan jaringanjaringan jantung,missal infark miokard (Kreatinin

fosfokinase/CPK, isoenzim CPK dan Dehidrogenase Laktat/LDH, isoenzim LDH). A.XII. Tindakan Pelaksanaan Gagal Jantung Kongestif 1) Pemeriksaan oksigen Pemberian oksigen terutama pada klien gagal jantung disertai dengan edema paru.pemenuhan oksigen akan

mengurangi kebutuhan miokardium dan membantu memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. 2) Terapi Nitrat dan Vasodilator Penggunaan nitrat baik secara akut maupun kronis,telah didukung dalam penatalaksanaan vasodilatasi gagal jantung.dengan di

menyebabkan

perifer,jantung

unloaded(penurunan afterload),pada peningkatan curah jantung lanjut,penurunan pulmonary artery wedge pressure ( pengukuran derajat kongestif dan beratnya gagal ventrikel kiri ) serta penurunan pada konsumsi oksigen mokard.bentuk terapi ini telah diketahui bermanfaat pada gagal ginjal ringan sampai sedang serta gagal edema pulmonal akut berhubungan dengan infark miokard,gagal ventrikel kiri yang sulit sembuh kronis,dan kegagalan yang berhubunhan dengan regurgitasi mitral berat. 3) Dieuretik Selain tirah baring,pembatasan garam dan air serta dieuretik,baik oral maupun parenteral akan menurunkan preload

16

dan kerja jantung.dieuretik memiliki efek antihipertensi dengan meningkatkan pelepasan air dan garam natrium.hal ini

menyebabkan penurunan volume cairan dan merendahkan tekanan darah. 4) Penatalaksanaan diet Pembatasan mencegah,mengatur,atau natrium mengurang ditunjukan edema,seperti untuk pada

hipertensi atau gagal jantung.hindari kata-kata makanan rendah garam atau bebas garam .kesalahan yang terjadi biasanya disebabkan akibat penerjemahan yang tidak konsisten dari garam ken atrium.harus selalu di ingat bahwa garam itu tidak 100 % natrium.terdapat 393 mg atau sekitar 400 mg natrium dalam 1 g ( 1000 mg ) garam. B. Konsep Keperawatan Dari Gagal Jantung Kongestif

ASUHAN KEPERAWATAN Tn. H DENGAN DIAGNOSA GAGAL JANTUNG KONGESTIF DI RUANG SANTO CLEMES RUMAH SAKIT X

I. DATA DEMOGRAFI NAMA LANSIA UMUR ALAMAT JENIS KELAMIN JUMLAH KETURUNAN - ANAK -CUCU NAMA SUAMI/ISTRI : Tn. H : 65 tahun : lr. Niparaya : Laki-laki : 3 orang : 6 orang : Ny. N

17

UMUR

: 63 tahun

II. PENGKAJIAN A. Fisik Wawancara Pandangan Lanjut Usia tentang kesehatannya : Semakin hari semakin tidak dapat melakukan aktivitas dengan sebagaimana mestinya di tambah pula dengan penyakit yang di derita. Kegiatan yang mampu dilakukan Lanjut Usia : Duduk dan Baring. Kebiasaan Lanjut Usia merawat diri sendiri : Mandi dan Keramas Kekuatan fisik Lanjut Usia : otot, sendi, penghilatan, dan pendengaran : Otot : Semakin hari semakin lemah dengan di tandai ketidakmampuan mengangkat benda-benda berat. Sendi : Terasa keram jika terlalu banyak duduk tau berdiri. Penglihatan : Kurang Jelas Pendengaran : Bagus Kebiasaan makan, minum, istrahat/tidur, buang air besar/kecil : Makan : 3xSehari Minum : 1 L/hari Tidur : 6 jam perhari BAB : 1x/2hari BAK : 5-6x/hari Kebiasaan gerak badan/olahraga/senam Lanjut Usia :

18

Tidak pernah sejak ketidakmampuan melakukan aktivitas seperti biasa. Perubahan perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan : Lambat dalam respond an waktu untuk bereaksi, Sulit mengerti kata kata, menjadi katarak, menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau pada skala, Hipertensi, Hipotemia, Kehilangan gigi, Kulit keriput, sering merasa encok. Kebiasaan Lanjut Usia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan dalam minum obat : Mengkonsumsi Obat diuretic, mengurangi makanan yang dapat menimbulkan efek pada tubuh dan mengkonsumsi vitamin atau buah-buahan. Masalah masalah seksual yang dirasakan : Penurunan aktivitas biologis.

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan dilakukan dengan cara inspeksi, palpitasi, perkusi, dan auskultasi untuk mengetahui perubahan system tubuh. Pendekatan yang dilakukan dalam pemeriksaan fisik, yaitu : Head to toe dan Sistem Tubuh. 1. Temperatur : 35oC Tempat Pengukuran : Oral

2. Pulse ( denyut nadi ) : Kecepatan Irama Volume : 100x/menit : Tidak teratur :

19

Tempat Pengukuran : Apikal .. 3. Respirasi (pernapasan) : Kecepatan : 20x/menit Irama : Teratur Kedalaman : Bunyi : 4. Tekanan Darah : Posisi Pengukuran : Saat baring Duduk 190/40mmHg Berdiri. 5. Berat dan Tinggi Badan terakhir : 45kg/150cm 6. Tingkat Orientasi : Waktu : Radial ..

Tempat : Orang :

7. Memori (Ingatan) : Menurun 8. Tidur : a. Kwantitas (Lama Tidur) : 5-6jam/hari b. Kwalitas : Mudah terbangun c. Pola : 9. Penyesuaian Psikososial : .. Sistem CardioVaskuler 1. Sirkulasi Perifer Warna Kehangatan : : : : Ada : Tidak Ada :

2. Denyut nadi apical 3. Pembengkakan vena Jugularis 4. Pusing

20

5. Nyeri dada 6. Edema

: Ada : Tidak Ada

B. Psikologis Pengenalan masalah masalah utama Sikap terhadap proses penuaan Perasaan dibutuhkan Pandangan terhadap kehidupan Koping Stressor Penyesuaian Diri Kegagalan Harapan Saat ini dan yang akan datang Fungsi kognitif Daya ingat Proses piker Alam perasaan Orientasi Kemampuan dalam menyelesaikan masalah

C. Sosial Ekonomi Sumber keuangan Kesibukan dalam mengisi waktu luang Teman tinggal Kegiatan organisasi Pandangan terhadap lingkungannya Hubungn dengan orang lain di luar rumah Yang biasa mengunjungi Penyaluran hobi atau keinginan sesuai fasilitas yang ada

D. Spiritual Kegiatan Ibadah

21

Kegiatan keagamaan Cara Lanjut Usia menyelesaikan masalah Penampilan Lansia

E. Psikososial Tingkat ketergntungan Fokus diri Perhatian Rasa kasih sayang

22

FORMAT ANALISA DATA No. 1. Data Kemungkinan Penyebab Disfungsi miocard Diagnosa Keperawatan Penurunan curah jantung

DS: -Klien mengeluh sesak nafas klj -klien mengeluh nyeri dada -Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak
DO :

Kontraktilitas

Gagal pompa ventrikel

TTV : TD : 140/90 mmHg, N : 100 x/menit reguler , RR : 20 x/ menit,T : 36,5 oC Leher: pembesaran vena jugularis (+) DS : -Klien mengeluh sesak nafas -Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak -Tajam penglihatan menurun DO : Ekstermitas : kekuatan TTV : TD : 140/90 mmHg, N : 100 x/menit RR : 20 x/ menit,T : 36,5 oC

Curah jantung ( COP

2.

Suplai drh kejaringan

Intoleransi aktifitas

Nutrisi & O2 sel

Metabolisme sel

Lemah & letih

23

FORMAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN Inisial klien Ruangan No. RM No. : Tn. H : Santo clemes :X Diagnosa Keperawatan Penurunan 1 curah jantung berhubungan . dengan Perubahan kontraktilitas miokardial ditandai dengan : DS : -Klien mengeluh sesak nafas -Klien mengeluh nyeri dada -Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak DO : TTV : TD : 140/90 mmHg, N : 100 x/menit RR : 20 x/menit menit,T : 36,5 oC Leher: pembesaran vena jugularis (+) Rencana Tindakan Keperawatan Tujuan dan Intervensi Rasional Kriteria Hasil Setelah dilakukan -Kaji dan Biasanya tindakan catat terjadi keperawatan tekanan takikardi kondisi klien dapat darah,siano pada saat membaik denga sis,irama istrahat kriteria: dan denyut untuk - tanda-tanda vital jantung mengkonpe 2. dalam batas nsasi normal;N:60-100 penurunan x/mnt,TD:100kontaktilitas 120/80-90 ventrikuler mmHg,P: 16-20 - -Intruksikan x/mnt, untuk - tidak ada menjaga hipotensi keseimbang - AGD dalam an intake batas normal dan output - tidak ada distensi 3. Jelaskan vena jugularis tentang penggunaan dosis frekuensi dan efek samping obat 4. Kolaboratif: diuretic dan antibiotic

24

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan dan keletihan ditandai dengan: DS : -Klien mengeluh sesak nafas -Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak -Tajam penglihatan menurun DO : Ekstermitas : kekuatan 3/4 TTV : TD : 140/90 mmHg, N : 100 x/menit reguler , RR : 20 x/ menit,T : 36,5 oC

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan 6. intoleransi aktifitas klien dapat teratasi denga criteria hasil: -TTV dalam batas normal 7. -klien mampu mendemonstrasika n aktifitas dan self care -keseimbangan antara aktifitas dan istirahat

Kaji respon emosional sosial dan spiritual Monitor respon cardiorespir atory terhadap kelelahan Intruksikan teknik relaksasi selama aktifitas Evaluasi motivasi klien terhadap peningkatan aktifitas

Kelemahann adalah efek samping beberapa obat (bloker).

FORMAT IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Inisial Klien Ruangan No. RM No. :Tn. H :Santo Clemes :X Implementasi tindakan keperawatan -mengkaji dan catat tekanan darah,sianosis,irama dan denyut jantung hasil: TD: 120/90, HR: 122 x/mnt regular, RR: 20 x/mnt -mengintruksikan untuk Evaluasi S: klien mengatakan sesak nafas dan jantung bergerak tidak teratur O: TD: 120/90 mmHg,RR: 22 x/mnt,N: 116 x/mnt, reuler, EKG: irama sinus, HR: 110

Diagnosa Keperawatan P penurunan curah jantung berhubungan dengan Perubah an kontraktilitas miokardial ditandai dengan : 2. DS :

25

-Klien mengeluh sesak nafas -Klien mengeluh nyeri dada -Klien mengatakan 3. ketika melakukan aktifitas seharihari bertambah sesak DO : TTV : TD : 140/90 4. mmHg, N : 100 x/menit RR : 20 x/menit menit,T : 36,5 oC Leher: pembesaran vena jugularis (+)

menjaga keseimbangan intake dan output A. hasil: klien Nampak paham dengan penjelasan yang diberikan -menjelaskan tentang penggunaan dosis frekuensi dan efek samping obat hasil: - klien Nampak paham dengan penjelasan yang diberikan mengkolaborasi pemberian diuretic dan antibiotic hasil: klien minum obat

x/mnt, ireguler, axis, LAD masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi

In Toleransi aktifitas. - mengkaji respon berhubungan emosional dan spiritual dengan klien kelemahan dan hasil: motivasi klien keletihan terhadap aktifitas baik ditandai dengan: 7. -memonitor DS : cardiorespiratory -Klien mengeluh terhadap kelelahan sesak nafas hasil: TTV: -Klien T: 120/90 mmHg mengatakan HR: 110 x/mnt regular B. ketika RR: 20 x/mnt melakukan 8. -menintruksikan teknik aktifitas seharirelaksasi selama hari bertambah aktifitas sesak hasil: klien paham -Tajam dengan intruksi yang penglihatan diberikan menurun 9. -mengevalu DO : si motivasi kilen

S: klien mengatakan sesak nafas dan jantung bergerak tidak teratur O: TD: 120/90 mmHg,RR: 22 x/mnt,N: 116 x/mnt, reuler, EKG: irama sinus, HR: 110 x/mnt, ireguler, axis, LAD masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi

26

Ekstermitas : kekuatan 3/4 TTV : TD : 140/90 mmHg, N : 100 x/menit reguler , RR : 20 x/ menit,T : 36,5 oC

terhadap peningkatan aktifitas hasil: klien mangatakan mudah merasa lelah,sesak nafas, dah jantung tidak teratur

FORMAT EVALUASI KEPERAWATAN Catatan perkembangan : Hari/tanggal No. Diagnosa Keperawatan : Implementasi Evaluasi Paraf

27

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana

jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Faktor-faktor yang dapat memicu perkembangan gagal jantung melalui penekanan sirkulasi yang mendadak dapat berupa : aritmia, infeksi sistemik dan infeksi paru-paru dan emboli paru-paru. Gagal jantung ditangani dengan tindakan umum untuk mengurangi beban kerja jantung dan manipulasi selektif terhadap ketiga penentu utama dari fungsi miokardium, baik secara sendiri-sendiri maupun gabungan dari : beban awal, kontraktilitas dan beban akhir.

B. SARAN Sangat diharapkan agar terhindar dari penyakit gagal jantung kongestif ini dilakukan dengan menghindari penyebab dari penyakit ini misalnya menjaga gaya hidup yang sehat terutama pada makanan yang dikonsumsi diharapkan tidak yang melihat enaknya saja tetapi juga mempertimbangkan gizi yang terkandung dalam, makanan tersebut.

28

DAFTAR PUSTAKA

Barbara C Long, Perawatan Medikal Bedah (Terjemahan), Yayasan IAPK Padjajaran Bandung, September 1996, Hal. 443 - 450 Doenges Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan (Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien), Edisi 3, Penerbit Buku Kedikteran EGC, Tahun 2002, Hal ; 52 64 & 240 249. Junadi P, Atiek S, Husna A, Kapita selekta Kedokteran (Efusi Pleura), Media Aesculapius, Fakultas Kedokteran Universita Indonesia, 1982, Hal.206 - 208 Wilson Lorraine M, Patofisiologi (Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit), Buku 2, Edisi 4, Tahun 1995, Hal ; 704 705 & 753 - 763.

29