Vous êtes sur la page 1sur 3

Antara Behavioristik dan Konstruktifistik dalam pembelajaran matematika

14 Sep Teori pembelajaran manakah yang diterapkan pada saat belajar matematika? Matematika adalah bahasa komunikasi manusia dengan alam. Oleh karena itu, materi-materi yang dipelajari dalam matematika sangatlah banyak. Guru dapat memilih teori pembelajaran yang sesuai dengan jenis materi dan tingkat pendidikan siswa. Apabila siswa masih tingkat dasar, taman kanak-kanak sampai kelas 2, teori pertama lebih cocok. Hal ini sesuai dengan taraf perkembangan pola pikir anak-anak, serta untuk memberi landasan yang kuat sebelum mendapatkan materi lain yang lebih dalam. Pembelajaran matematika sebaiknya mengkombinasikan teori pembelajaran behavioristik (teacher centre) dan pembelajaran konstruktifistik (student centre) tersebut secara proporsional sesuai jenjang pendidikan. Pada tingkat dasar, proporsi teori pertama lebih besar daripada teori kedua. Semakin tinggi jenjang pendidikannya, seiring dengan perkembangan pola pikir siswa, maka proporsi pembelajaran konstruktifistik menjadi lebih besar juga. Jenis materi yang dipelajari di kelas akan mempengaruhi cara pembelajarannya. Pengenalan dan pemahaman tentang simbol-simbol lebih cocok bila diberikan melalui pembelajaran behavioristik. Contoh: penjumlahan (+), pengurangan (-), pembagian (:), perkalian (x), Rupiah (Rp), Dolar ($), persen (%).Tahapan pembelajaran dimulai dari pengenalan berbagai simbol kepada siswa. Setelah mengenal simbol-simbol tersebut, mereka diharapkan hafal serta dapat menggunakannya dengan benar. Kemudian guru memberikan contoh-contoh awal, dilanjutkan dengan memberi latihan (soal). Semakin banyak soal yang diberikan, semakin hapal simbolnya dan semakin benar menggunakannya. Jadi, semakin banyak stimulus diberikan, semakin baik responnya dan semakin kuat ikatan antara stimulus-respon. Berikut disajikan contoh stimulus dan respon yang diharapkan dalam pembelajaran behavioristik: STIMULUS 1. Seratus dolar 2. Lima puluh persen 3. Lima ditambah tujuh 4. 70 % 5. Rp 15.000,00 6. 56 : 8 7. 43 19 RESPON $ 100 50 % 5+7 Tujuh puluh persen .. .. ..

Sedangkan materi tentang pemecahan masalah, geometri, data dan peluang dapat disampaikan dengan teori konstruktifistik. Guru membuat suasana belajar menjadi menarik dengan menyampaikan suatu masalah yang harus diselesaikan siswa. Guru menyediakan pengalaman belajar agar siswa dapat mengkaitkan pengetahuannya dengan masalah tersebut, sedemikian rupa sehingga mereka aktif membangun pengetahuan baru. Mereka memulai dari masalah yang kompleks yang harus dipecahkan sampai menemukan ketrampilan dasar yang diperlukan Siswa bebas mencari, mengumpulkan dan menyaring informasi untuk

menyelesaikannya. Mereka akan meramu hal-hal yang samar (membuat dugaan-dugaan) dan berusaha untuk mendapatkan keyakinan bahwa dugaan yang dibuatnya benar. Misalkan siswa akan belajar jumlah sudut sebuah segitiga. Pengetahuan yang telah dimiliki siswa adalah konsep tentang sudut, jenis-jenis sudut dan jenis-jenis segitiga. Tahapan aktifitas siswa: 1) 2) 3) Siswa membuat sebuah segitiga sesuka mereka. Siswa memberi nama sudut-sudutnya. Siswa menggunting ketiga sudut tersebut

4) Siswa menyusun ketiga potongan sudut dalam suatu garis lurus, sambil mengingatkan jenis sudut pelurus. 5) Bagaimana dugaan siswa tentang jumlah total sudut suatu segitiga?

6) Siswa mengulang kegiatan 1-5, dengan bentuk segitiga yang berbeda-beda, sampai mempunyai keyakinan bahwa jumlah total sudut sebuah segitiga adalah 180. Perpaduan antara pengetahuan lama dan pengalaman baru (menyusun ketiga sudut) akan membentuk pengetahuan baru dalam diri siswa, yaitu bahwa jumlah total sudut sebuah segitiga adalah 180. Proses pembentukan (konstruksi) pengetahuan baru berlangsung secara mental, yakni menyelaraskan pengetahuan (jenis sudut dan jenis segitiga) dengan pengalaman baru (menyusun potongan ketiga sudut). Akibatnya siswa mengerti cara menghitung jumlah total sudut segitiga dan mampu menyelesaikan masalah lain yang sejenis, misalnya menghitung jumlah total sudut segi lima. Contoh lain adalah meminta siswa berbelanja buah-buahan di pasar. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kasus, yaitu: 1. Kasus I. Setiap kelompok mendapat selembar kertas dari guru yang berisi daftar jenis buah dan banyaknya pembelian. Guru juga sudah menentukan tempat berbelanja dan memilihkan pedagang buah dimana siswa bisa membeli buah-buahan. 2. Kasus II. Setiap kelompok mendapat biaya Rp 20.000,00. Jenis dan banyaknya buah terserah pada kelompok masing-masing. Apa yang dilakukan siswa? Pada kasus I, siswa dapat langsung berbelanja dan hanya memerlukan waktu yang sedikit untuk melaksanakan tugas itu. Siswa belajar berdasarkan teori behavioristik, karena semua kegiatannya sudah diatur guru. Semakin sering pergi ke pasar, siswa semakin hafal tempat membeli buah-buahan, karena ia hanya tahu satu tempat saja, yaitu pedagang langganan gurunya. Suasana pembelajaran kasus II lebih dinamis. Kelompok yang antusias akan pergi ke pasar, melakukan survey harga buah di beberapa pedagang. Setelah mendapatkan harga termurah, barulah mereka memutuskan jenis buah yang akan dibeli dan berapa banyaknya. Bagi kelompok yang malas, mereka langsung menuju satu pedagang buah dan membeli satu jenis buah seharga Rp. 20.000,00.

Pada kasus II, siswa belajar berdasarkan teori konstruktifistik. Kelompok yang antusias akan memperoleh nilai-nilai kehidupan yang lebih banyak dibandingkan kelompok yang malas. Siswa belajar untuk menyelaraskan keinginan (membeli buah sebanyak mungkin) dengan realita (hanya ada uang Rp. 20.000,00). Mereka berpikir bagaimana caranya memaksimalkan hasil dengan modal yang terbatas. Proses berpikir yang terjadi dalam diri siswa sangat penting untuk mengembangkan kepribadiannya. Mereka memupuk rasa percaya diri, mengikis rasa malu, belajar berkomunikasi dan membuat keputusan, sabar, tidak mudah putus asa serta jujur. Nilai-nilai kehidupan inilah yang akan dibawa dan dikembangkan siswa sampai akhir hidupnya. Jadi, matematika sekedar kendaraan untuk memperoleh dan mengembangkan nilai-nilai kehidupan. Guru mendampingi siswa, membantu meluruskan hal-hal yang kurang sempurna. Pembelajaran konstruktifistik tidak dapat digantikan oleh teknologi dan media apapun. Siswa membutuhkan guru yang selalu ada bersamanya, memberi bimbingan dan motivasi agar siswa tetap menjadi manusia yang mau belajar. Kedekatan ini akan memudahkan guru mentransformasikan pesan-pesan pembelajaran kepada siswa.