Vous êtes sur la page 1sur 39

SEJARAH PEMIKIRAN EKONOMI KLASIK KELOMPOK : 5 1). Misfah Fazariani 2). Nela Permata Sari Lubis 3).

Siti Khadijah Siregar 4). Tuti Herda Jayanti Nasution

BAB 1 PENDAHULUAN
1. Pendahuluan

System ekonomi yang dianut oleh suatu bangsa tergantung dari doktrin, mazhab, atau aliran pandangan ekonomi, yang pada gilirannya juga dipengaruhi oleh seperangkat nilai (set of value) yang dianut oleh bangsa tersebut (seperti kebiasaan, kepercayaan, ideology, dll) Setiap kelompok masyarakat di suatu tempat menganut aliran ekonomi yang berbeda. Variasinya sangat banyak, mulai dari doktrin ekonomi yang dikembangkan pada masa Yunani kuno, aliran Fisiokrat, Klasik, Neo Klasik, Sosialisme, sampai yang terakhir Ekonomi Klasik Baru (New Classical Economics). Akan tetapi,jika suatu saat timbul masalah baru dikemudian hari maka akan diperlukan teori-teori dan konsep-konsep yang baru pula. Sejarah pemikiran-pemikiran ekonomi secara sederhana merupakan salah satu cabang ilmu ekonomi yang khusus mempelajari perkembangan pemikiran-pemikiran ekonomi sejak awal peradaban manusia hingga masa sekarang seperti Keynesian, monetaris, sisi penawaran dan Ratex. Pemikiran-pemkiran tentang ekonomi sudah sangat berkembang pada abad ke-XV, saat terjadi revolusi pertanian di Eropa. Akan tetapi pengakuan terhadap ilmu ekonomi sebagai cabang ilmu tersendiri baru diberikan pada abad ke-XVIII, setelah Adam Smith muncul dalam percaturan ekonomi. Adam Smith (1729-1790) tidak disangsikan lagi merupakan tokoh utama aliran ekonomi yang di kenal sebagai aliran klasik. Aliran atau mazhab yang dikembangkan Adam Smith disebut mazhab klasik sebab gagasangagasan yang ia tulis sebetulnya sudah banyak dibahas dan dibicarakan oleh pakar-pakar ekonomi jauh sebelumnya. Misalnya, soal paham individualisme tidak banyak berbeda dengan paham hedonisme yang dikembangkan oleh Epicurus masa Yunani kuno. Begitu juga dengan pendapatnya agar pemerintah melakukan campur tangan seminimal mungkin dalam perekonomian (Laissez faire laissez passer) sudah dibicarakan oleh Francis Quesnai sebelumnya. Karena gagasan-gagasan Smith banyak yang sudah klasik, oleh musuh bubuyutannya, Karl Marx, aliran yang dikembangkan kembali oleh Smith ini disebut sebagai mazhab klasik.

Adam Smith sebagai pendiri paham Klasik hidup pada tahap awal revolusi industri di Inggris. Pandangan-pandangannya yang optimis tentang kekayaan bangsa-bangsa tidak orisinal, tetapi dia telah berhasil mengutuhkan berbagai pandangan yang relevan dengan pembahasannya. Pembahasan teori ongkos produksi, upah, laba, dan sewa lebih utuh dan terkait dibicarakan. Di samping itu, teori pembangunannya telah memperhitungkan pertumbuhan penduduk, pembagian kerja dan akumulasi modal. Pada generasi berikutnya pandangan-pandangan ekonomi klasik cenderung bersifat pesimis. Hal ini berkaitan dengan teori penduduk dari Malthus dan teori upah, laba, dan sewa lahan dari Ricardo. Hal ini disusul pula oleh berbagai kritik yang tajam terhadap pemikiran-pemikiran ekonomi klasik. John Stuart Mill seorang tokoh ekonomi yang hidup di ujung masa aliran klasik, pembahasan-pembahasannya versifat eklektik (eclectic). Sumbangannya yang terkenal terhadap pemikiran ekonomi antara lain adalah hukum produksi dan distribusi, dasar teori perdagangan internasional, dan mengembangkan metodologi ekonomi.

Manfaat mempelajari sejarah pemikiran ekonomi Klasik Perubahan dalam dasar-dasar pandangan ekonomi bisa berlangsung smooth dan kerapkali bias berlangsung secara revolusi melalui suatu perubahan yang radikal. Yang paling perlu mendapat perhatian di sini adalah runtuhnya Uni Soviet, kemudian diikuti oleh Negara-negara sosialis lain di Eropa Timur. Yang lenih penting lagi bagi kita ialah krisis ekonomi yang melanda bangsa-bangsa Asia sejak pertengahan tahun 1997, dimulai dari Thailand, kemudian Filiphina, Malaysia, Indonesia, bahkan juga merambat ke Singapor, Hongkong dan Korsel. Dalam keadaan tidak menentu tersebut orang sering mempersalahkan pendekatan ekonomi yang digunakan/dijadikan sebagai dasar kebijaksanaan pembangunan. Dengan mempelajari sejarah pemikiran ekonomi dan system-sistem perekonomian tersebut, kita akan mengetahui teori-teori ang digunakan dalam menghadapi masalah-masalah ekonomi tertentu, kebaikan dan kelemahan dari tiap pendekatan yang digunakan.

Ruang Lingkup Ekonomi Klasik

a). Kemerdekaan Alamiah. Landasan pandangan ekonomi klasik adalah kepentingan-pribadi dengan

kemerdekaan alamiah. Kemerdekaan pribadi sedemikian sempurnanya, sehingga setiap orang tahu apa yang perlu, apa yang menguntungkan bagi dirinya. Pada sekitar tahun 1776, kepulauan Inggris masih dalam tahap transisi. Dunia perdagangan baik di dalam maupun keluar negeri telah berkembang, sedangkan sektor industri dan pertanian mulai menampakkan perbaikan. Dengan pandangan-pandangannya itu sebenarnya Smith

menentang arus, oleh karena arus pemikiran Merkantilis masih berkembang, yang menekankan peranan negara dalam kegiatan ekonomi. Namun demikian terlihat dengan jelas kesinambungan alur pemikiran Fisiokrat dengan dasar pemikiran ekonomi klasik. Pendekatannya, bila dibandingkan dengan pemikiran-pemikiran paham sebelumnya, lebih terpadu, konsisten, mendalam, dan bersifat lebih umum. Membicarakan kekayaan sangat penting, karena itulah subyek pengkajian ekonomi. Dia menantang pandangan kaum Merkantilis yang menyatakan bahwa kekayaan itu terdiri dari uang dan logam-logam mulia. Perdagangan internasional bukan semata-mata untuk mendapatkan logam-logam mulia tetapi untuk pertukaran komoditi yang diperlukan, memperluas pasar dan hal ini akan meningkatkan pembagian kerja.

b). Pemikiran yang pesimistik Revolusi industri pada abad ke 19 di inggris, selain menjadikan negara tersebut menjadi negara industri yang maju juga mendatangkan hal yang kurang menyenangkan seperti kemiskinan, pengangguran, tenaga kerja anak-anak dan tekanan-tekanan baru dalam kehidupan, baik di kota maupun pedesaan. Dalam keadaan demikian, Thomas Robert Malthus (1766-1834), membahas tentang jumlah penduduk yang bertambah lebih cepat dari pada pertumbuhan bahan makanan. Bukunya yang berjudul An Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society, terbit pada tahun 1798. Malthus menolak pandangan William Godwin dan Condorcet dan pandangan-pandangan yang optimistik pada abad ke 18.

Selanjutnya Ricardo (1783-1823) datang juga dengan teori distribusi. Yang lebih tajam yang mengandung pertentangan antara tuan-lahan, pemilik modal dan tenaga kerja. Selain itu sewa lahan akan meningkat karena lahan-lahan subur semakin langka. Ricardo mengembangkan lebih lanjut teori nialai kerja dan memberi penjelasan lain tentang perdagangan internasional bila dibandingkan dengan pandangan kaum Merkantilisme. John Stuart Mill (1806-1873), salah satu intelektual, filsuf, pemikir ekonomi dan politik menulis buku Principles of Political Economy, With Some of Their Application to Social Philosophy. Buku ini menguasai ajaran-ajaran ekonomi tidak hanya di Inggris, tetapi juga di negeri-negeri yang menggunakan bahasa Inggris. Pemikirannya sangat dipengaruhi oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Pemikiran-pemikiran yang terdapat pada buku ini pada umumnya merupakan pengulangan berbagai teori yang telah dibicarakan oleh ahli-ahli sebelumnya, tetapi dua sumbangannya yang terkenal adalah permintaan timbal balik dalam perdagangan internasional dan membedakan hukum-hukum produksi dan distribusi. Mill menyetujui prinsip-prinsip ekonomi sosialis, sehingga ada anggapan bahwa Mill telah meninggalkan ekonomi dengan dasar individu yang merdeka. Anggapan ini sampai sekarang menjadi kontroversi. Namun demikian dalam bukunya Mill masih melanjutkan tradisi ekonomi klasik, namun pada masanyalah kritik-kritik itu memuncak bersamaan dengan munculnya pembahasan-pembahasan ekonomi sosialis yang lebih tajam.

c). Individu dan Negara Kritik mereka yang tajam terhadap pemikiran ekonomi klasik diajukan pada dasar pemikirannya, yakni tentang semboyan Laissez-faire. Ini berarti mereka menolak pandangan tertib-alamiah dan kemerdekaan alamiah, ataupun pemikiran ekonomi yang atomistik. Para pengriktik ini bertolak dari prinsip-prinsip bahwa peran negaralah yang lebih tama, yang lebih berorientasi kepada dasar-dasar ekonomi sosialis. Selain itu, kritik-kritik tersebut diajukan pula terhadap metodologi dan kelembagaan yang bersifat politis, sosiologis dan historis. Karl Marx pula yang memberi nama faham ekonomi yang dipelopori Adam Smith itu dengan sebutan ekonomi klasik, yakni pemikiran ekonomi yang sudah tua. Namun demikian, pemikiran-pemikiran ekonomi yang tua dan kuno itu sampai sekarang masih mempunyai tradisi yang kuat.

PETA KONSEP

Pemikiran Ekonomi Klasik

Adam Smith

Jean Baptist Say

David Richardo

Thomas Robert Malthus

Tokoh Aliran Ekonomi Klasik

1). Adam Smith (1729-1790) Smith lahir di Kirkcaldy kota kecil dekat Eddinburg, Scotlandia tahun 1723. Ayahnya adalah pengacara dan pengawas keuangan bea nasabah. Ayahnya meninggal tak lama setelah Smith lahir, sehingga ia debesarkan ibunya dan dijaga orang kepercayaan ayahnya. Smith memasuki Glasgow University pada usia 14 tahun setelah meneruskan studinya di Kirkcaldy. Di Universitas ini Smith mempelajari ilmu etika hukum-alamiah dan ekonomi dari Francis Hutcheson (1694-1746). Mereka berasal dari daerah yang sama yaitu Scotlandia. Hutcheson sebagai guru besar dalam filsafat moral mengajarkan bahwa individu sendirilah yang dapat menentukan apa yang baik menurut etis bagi dirinya, tanpa memperoleh pengetahuan terlebih dulu dari Tuhan, dan kebahagiaan individu merupakan ukuran tentang kebaikan. Sebagai perintis gagasan itu, Hutcheson mendapat tuduhan subversi doktrin gereja. Dia mendapatkan hukuman dari Dewan Gereja lokal, tetapi kemudian dibebaskan dan diijinkan untuk melanjutkan ajarannya. Sewaktu itu, Smith menjadi salah seorang muridnya. Selanjutnya, Smith melanjutkan studinya ke Oxford University dengan besiswa selama 6 tahun (sampai tahun 1746). Di sini, Smith mengenal David Hume (1711-1776) melalui kelompok intelektual Eddinburg karena ia mengajar di Eddinburg University (1748-1751). Hume adalah seorang filsuf dan ekonom yang melanjutkan ajaran John Locke, yang bersifat empirik tentang sebab dan akibat. Melalui Hume, pendekatan Smith tentang konsep hukum-alamiah berubah. Hume pula yang merangsangsangnya untuk melakukan generalisasi tentang perilaku manusia dengan mempelajari sejarah. Pada tahun 1751 hingga 1763 Smith kembali mengajar di Universitas Glasgow. Dia guru besar dalam filsafat moral menggantikan Hutcheson. Materi pengajaran yang diberikan pada setiap kuliah itulah yang menjadi sumber dua buah bukunya yang terkenal yaitu, pertama The Theory of Moral Sentiment(1759) yang banyak menghubungkan masalah ekonomi dan moral. Buku ini serta bahan-bahan kuliah yang diberikan di Universitas Glasgow menjadi sumber utama penulisan buku yang kedua, An Inquiry in to the Nature and Causes of The Wealth of Nations (1776). Buku yang ditulis oleh Smith tersebut dianggap sebagai pancangan pertama tonggak sejarah perkembangan ilmu ekonomi, oleh sebab itu ia diberi gelar Bapak Ilmu Ekonomi. Smith juga merupakan pendiri Glasgow Literary Society danPolitical Economy

Club. Pendiri lain David Hume dan James Watt dengan anggota para guru besar lainnya dan para pengusaha lokal. I. Sumber Pemikiran Paham filsafat naturalis merupakan landasan pemikiran Smith. Tetapi Smith tidak mulai dari nol, rantai panjang telah merangkai landasan tersebut. Dalam aliran ini ditemukan namanama Stoic dan Epicturus dalam filsafat alamiah Yunani kuno. Dalam kerajaan Romawi juga tercatat nama-nama besar, seperti Cicero, Seneca dan Epictitus. Selanjutnya dalam kurun waktu Renaissance dan Reformasi aliran ini kembali mengalami modifikasi dalam karya-karya Bacon, Hobbes dan Locke. Aliran Pisiokrat mengembangkannya lebih lanjut dan pada masa Adam Smith sepenuhnya mekar dalam pemikiran ekonomi. Seperti dikatakan Eric Roll: Its claims that all that wise social organizatin need do is to act as nearly a possible in harmony with the dictates of the natural order. Their common characteristic, however, is the principle from which they claim authority: the superiority of natural over man-made law. Berbagai teori yang dibahas oleh Smith berutang budi kepada nama-nama yang telah terkenal sebelumnya. Teori tentang uang, Smith mengembangkan pendapat Hume dan Locke, bahkan uga Steurt. Karangan-karangan Petty, Steurt dan Cantillon merupakan perintissebelum Smith membicarakan teori nilai. Seperti telah diutarakan sebelumnya, teori pembagia kerja berasal dari Plato, Aristotles, dan Xenophon.bahkan contoh yang dibuat Smith tentang pembagian kerja dalam pabrik jarum telah dimuat dalam sebuah Encyclopedie yang terbit tahun 1775 di Perancis. Seorang guru besar di Universitas of Edinburgh yang bernama Adam Ferguson (1723-1816), telah menulis hal yang sama, sehingga timbul saling tuduh menuduh siapa memplagiat siapa. Pemikiran utama yang ditulis Smith meliputi Filsafat sosial dan politik dan pemikiran ekonomi diturunkan dari filsafat itu; kedua, hal-hal yang mengandung ekonomi teknis. II. Filsafat Sosial dan Politik Masalah yang dibahas Adam smith dalam bukunya meliputi produksi, distribusi dan pertukaran yang pernah dilakukan sebelumnya pada berbagai negeri, kemudian melakukan perbaikan dengan mengintegrasikan teori-teori tersebut dalam lingkupan yang bersifat makro.

Pengarang The Wealth Of Nations ini menyatakan bahwa pada hakekatnya perilaku manusia mempunyai enam motif. Keenam motif itu adala cinta diri sendiri (self-love), simpati, keinginan untuk merdeka, mempunyai sopan santun (sense of propriety), senang bekerja dan cenderung untuk saling menukar, barter dengan barang-barang lain. Dengan dasar dan motif ini manusia bebas mempertimbangkan dan memperoleh apa yang dia rasa patut untuk kepentingan dirinya. Mencintai diri sendiri saling berkaitan dengan motif-motif lainnya, terutama dengan motif simpati dengan motif ini akan dicapai keseimbangan alamiah perilaku manusia, yang katanya diatur oleh invisible hand. Konsekuensi dari motif tersebut adalah campur tangan pemerintah yang terlalu jauh yang akan bersifat negatif. Tiga tugas utama pemerintah adalah: pertama, tugas pertahanan dan keamanan; kedua, menjamin tegaknya keadilan; dan ketiga,

mempersiapkan public works dan hal-hal yang bersifat kelembagaan yang tidak dapat dilakukan secara individu, atau kelompok individu dan tidak cukup menguntungkan. Menjamin kedamaian dalam dan luar negeri, keadilan, pendidikan dan prasarana minimum untuk kegiatan usaha masyarakat seperti, jalan-jalan raya, pelabuhan, jembatan, kanal-kanal. Inilah tugas pemerintah, di luar itu diatur oleh tangan yang tersembunyi. Pandangan tersebut mendapat tantangan yang kuat dari penentangnya, baik dari para ahli ekonomi maupun dari pihak pemerintah yang berkuasa pada waktu itu. Smith senantiasa menekankan bahwa kepentingan pribadi itu saling berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Oleh karena seorang individu adalah dari suatu masyarakat, yang senantiasa menolong orang lain, tetapi adalah percuma untuk selalu mengharapkan kebajikan orang lain. Inilah pendapatnya yang tampaknya sangat angkuh: its not from the benevolence of the buthcer, the brewer, or the baker, that we expect our dinner, but from their regard to their own interest. Selanjutnya, pertukaran akan mendatangkan kepuasan serentak bagi dua kepentingan individu. Setiap orang menghasilkan sesuatu yang dapat menguntungkan dirinya dan dipertukarkan dengan orang lain. Ini berarti, pembuatan barang atau jasa telah

mempertimbangkan kepentingan orang lain. Smith tidak hanya melihat sektor pertanian sebagai sektor yang produktif, tetapi mempelajari lebih luas hubungan perdagangan, industri dengan pertanian. Dengan mendorong

investasi ke sektor industri akan mengembangkan sektor pertanian dan menimbulkan kegiatan pertukaran. Ini berarti memajukan perdagangan. Merupakan suatu kebijakan bagi setiap keluarga, jika membuat barang-barang yang harganya lebih murah. Sebaliknya, jika harga barang itu lebih mahal jika dibuat sendiri, maka lebih baik membeli. Tantangan tidak kecil. Mengoperasionalkan naturalisme dalam kebijaksanaan ekonomi, harus terlebih dulu berjuang mengurangi pengaruh merkantilisme dalam perdagangan, peraturan dan retriksi dalam dunia industri dan perdagangan yang telah bercokol lama sejak seabad sebelumnya. Disamping itu, struktur monopoli yang kuat dan hak-hak istimewa dari beberapa kelompok orang-orang kaya dan bangsawan masih berkuasa. Kebijaksanaan yang sangat didominasi negara pada waktu itu (di Inggris) adalah menyangkut perdagangan luar negeri dengan kontrol yang sangat tepat, proteksi perdagangan. Demikian juga bidang yang menyangkut tenaga kerja seperti upah, latihan, dan semua aspek produksi mendapat perhatian dari Smith. Semuanya memerlukan perombakan. Smith berpendapat bahwa kelangsungan persaingan bebas perlu dijamin.inilah tugas kebijaksanaan ekonomi yang utama yang diprioritaskan. Peranan pemerintah sangat minimum. Hanya dengan persaingan yang demikian, yang konsisten dengan kemerdekaan alamiah, yang mendorong kemajuan. Setiap orang dapat memperoleh hasil dari usahanya dan memberikan sumbangan penuh untuk kepentingan bersama. Hasil-hasil yang dicapainya luar biasa. Pemikirannya sangat berpengaruh kepada para usahawan dan politisi. Dia berbicara dengan para industrialiawan, yang memang menginginkan pasar bebas. Pandangan-pandangannya senantiasa menentang pengaturan ekonomi oleh negara dan sangat tidak setuju dengan monopoli serta hak-hak istimewa yang dimiliki oleh sekelompok orang. Ini harus ditiadakan jika ekonomi masyarakat ingin dikembangkan, sehingga kepuasan seluruh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dapat ditingkatkan. III. Teori Nilai Teori nilai tidak kurang dari dua ratus tahun sebeluim buku Smith yang terkenal itu terbit, ahli-ahli ekonomi senantiasa mencari sumber akhir kekayaan suatu bangsa. Seperti telah diutarakan pada uraian aliran pemikiran ekonomi, merkantilisme mengandalkan sumber kekayaan pada perdagangan luar negeri. Sedangkan aliran fisiokrat melihatnya dari sektor pertanian dan pertukaran. Adam Smith melanjutkan pemikiran-pemikiran yang telah ada

sebelumnya yakni yang telah dikemukakan oleh Petty dan Chantillon. Smith melihat bahwa tenaga kerja adalah sumber dari kebutuhan hidup. Menurut Smith, kekayaan suatu bangsa tergantung pada: Pertama, tingkat produktivitas tenaga kerja dan kedua, jumlah penggunaan tenaga kerja, yakni tenaga kerja produktif yang terpakai. Membicarakan hal pertama, menyangkut pembagian kerja (division of labour), pertukaran (exchange), uang dan distrisbusi. Ke dalam hal kedua, termasuk pembahasan model. Smith memulai pembahasan pembagian kerja karena hal ini menyangkut dasar terjadinya transformasi dari bentuk tenaga kerja yang konkrit dan produktif yang menghasilkan barangbarang (nilai guna) menjadikan tenaga kerja sebagai suatu unsur sosial. Secara abstrak, inilah yang menjadi sumber kekayaan (nilai tukar). Pembagian kerja adalah dasar untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Smith mungkin keliru, dengan mengatakan bahwa tidak mungkin ada pertukaran tanpa pembagian kerja. Tetapiyang dimaksud Smith adalah nahwa ada kaitan antara pasar dengan produktivitas, sedangkan perdagangan harus belangsung dengan bebas untuk pengembangan kekuatan-kekuatan prodktif. Kekuatan0kekuatan produktif inilah yang menghasilkan kekayaan bangsa. Kekayaan bangsa bagi Smith adalah bukanlah hanya emas da perak, tetapi haruslah barang dan jasa. Hal ini bergantung pada produktivitas tenaga kerja dan bagian tenaga kerja yang terpakai. Smith mempunyai andaian bahwa keadaan ekonomi senantiasa dalam keadaan full employment. Sebenarnya, dengan membicarakan hal ini, secara langsung mengingatkan kita pada kurva transformasi (sering juga disebut production possibility curve). Selanjutnya, faktor-faktor yang menentukan produktivitas tenaga kerja adalah

pembagian kerja. Artinya, dengan spesialisasi dan pembagian kerja produktivitas dapat meningkat. Hal ini ada benarnya, tetapi di pihak lain terjadi kerugian sosial karena pekerjaan yang berulang-ulang dan menonton. Malahan manusia berperilaku sebagai mesin dalam proses produksi, kurang manusiawi, dan pekerja relatif cepat bosan dengan pekerjaannya. Setelah diuraikan dasar teori nilai yang merupakan sumber dari kekayaan bangsa-bangsa, maka sekarang timbul pertanyaan yang menyangkut aspek teknis. Pertama, apa pengukur nialai yang terbaik; kedua, faktor-faktor apa yang menentukan bahwa suatu barang mempunyai nilai; ketiga, faktor-faktor apa yang menetukan tingkat harga umum? Secara singkat pertanyaan ini

dapat dijelaskan bahwa jawaban yang pertama menyangkut cabang ilmu ekonomi tentang kesejahteraan (welfare economics), yang kedua, mengenai faktor yang menentukan harga relatif, dan yang ketiga menyangkut pembahasan ekonomi makro. Dalam pembahasannya tentang ketiga hal itu, Smith kurang tajam membedakan, bahkan sering meragukan. Karena membicarakan welfare economics relatif subyektif, dan kadangkadang Smithkembali kepada aliran Skolastik, maka uraian selanjutnya yang lebih terinci adalah pertanyaan yang menyangkut harga relatif. Ada tiga penjelasan yang dapat digunakan untuk menerangkan teori harga relatif. Pertama, melalui ongkos produksi; Kedua, teori utilitas margina, dimana harga relatif ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Ekonomi klasik pada umumnya menggunakan penjelasan pertama walaupun kadang-kadang Smith menggunakan aspek permintaan. Penjelasan harga relatif melalui ongkos produksi dapat juga dari sisi penawaran. Uraian lebih lanjut adalah tingkat harga relatif yang ditentukan ongkos produksi. Menurut Smith, harga alamiah (natural price) dalam keseimbangan jangka panjang ditentukan oleh ongkos produksi. Pembahasannya adalah sektor industri manufaktur dan pertanian. Dalamjangka pendek, baik manufaktur maupun pertanian kurva permintaanya turun sedangkan kurva penawaran nauik. Tetapi dalam jangka panjang, sektor pertanian mempunyai kurva penawaran yang juga naik karena ongkos produsi meningkat. Selanjutnya, ada sektor manufaktur, kurva penawaran jangka panjang horizontal, karena mencapai ongkos tetap (cnstante cost), sedangkan ada bagian lain adalah kurva penawaran yang menujrun, karena ongkos yang menurun. Jadi ada dua jenis kurva penawaran pada sektor manufaktur yakni, dalam jangka panjang kurva elastis sempurna dimana harga relatif tergantung ongkos produksi, kemudian kurva menurun karena harga alamiah ditentukan permintaan dan penawaran. Terjadi ketidaktaatan dari uraian Smith, ada pendapan yang menyatakan hal ini karena penulisan The Wealth of Nation yang menggunakan waktu lama. Para ahli sependapat, pandangan Smith yang dominan adalah melihat harga alamiah ditentukan ongkos produksi jangka panjang jadi bersifat ekonomi penawaran (supply side economi). Telah diutarakan arti nilai bagi Smith adalah nilai guna dan nilai tukar. Namun ada persoalan yang tidak diselesaikan oleh Smith dan juga para ahli ekonomi klasik yaitu Diamond

Water Paradox. Nilai guna barang tinggi tetapi tidak mempunyai atau kecil nilai tukarnya. Sebaliknya, barang mempunyai nilai tukar yang tinggi tetapi tidak atau sedikit nilai gunanya. Contohnya Intan mempunyai nilai guna yang relatif langka tapi kuantitas tinggi dibanding nilai tukar barang lain. Air nilai gunanya tinggi tapi nilai tukarnya rendah. Smith menyatakan nilai tukar adalah kekuatan suatu barang untuk membeli barang lain. Inilah harganya sebagai ukuran objektif dalam pasar. Teori harga relatif dari Smith dapat dijelaskannya melalui: Pertama, teori ongkos tenaga kerja, Kedua, teori jumlah tenaga kerja; dan Ketiga teori ongkos produksi. Smith terlebih dahulu membedakan dua keadaan ekonomi primitif dan maju. Tahap pertama, teori pertama dan kedua sesuai. Kedua teori ini mengabaikan akumulasi modal dan nilai lahan, jadi ongkos produksi ditentukan tenaga kerja. Dalam teori ongkos tenaga kerja jika ongkos menangkap seekor berangberang dua kali ongkos menagkap seekor menjangan, maka pertukaran di pasar, seekor berangberang harus ditukarkan dua ekor menjangan. Contoh tadi tanpa modal, tanpa lahan dan kedua binatang itu bersifat alamiah bebas diburu. Jika si B dan Si A bekerja satu hari tujuh jam, B menghasilkan dua satuan barang, sedangkan A membuat satu-satuan barang yang sama. Andaian Cateris Paribus dapat digunakan namun terlihat keterampilan kerja, kerajinan, kerapihan dan kejujuran. Jika kualitas barang yang dihasilkan sama, berapa harga barang tersebut persatuan? Secara singkat, jawabannya bukan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi barang tersebut, tetapi barang itu mempunyai nilai sama dengan upah yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Dalam teori ekonomi, harga alamiah tersebut dinamakan juga harga keseimbangan jangka panjang. Disamping harga keseimbangan tersebut Smith mempunyai pula harga pasar atau keseimbangan jangka pendek. Jika harga berang-berang meningkat, misalnya, maka dengan sendirinya dalam kaitan ini, harga menjangan turun. Akibatnya, para pemburu menjangan kurang bergairah, dan motivasi unntuk berburu berang-berang lebih tinggi. Tetapi ada dua cara untuk mendapatkan menjangan. Pertama, secara langsung dengan memburu menjangan; Kedua, dengan cara tidak langsung, memburu dan menangkap berang-berang, kemudian menukarkannya dengan menjangan di pasar. Dalam hal ini dengan jumlah berangberang yang sedikit dapat memperoleh seekor menjangan. Katakanlah, bahwa seekor berangberang dapat ditukar dengan 4 ekor menjangan. Rangsangan harga ini akan meningkatkan

penawaran berang-berang di pasar, dan dapat berakibat harga berang-berang menurun, sedangkan penawaran menjangan menurun dan harganya pun dapat meningkat. Jadi, kalau semula perbandingannya 1:2 kemudian menjadi 1:4, harga menjadi tidak seimbang, tetapi kemudian mekanisme pasar mendorong harga menjangan kembali naik, maka tingkat harga cenderung kembali ke tingkat keseimbangan semula. Dari uraian itu teramati, dengan andaiandaian semual, proses perubahan harga pasar ke harga alamiah. Andaian yang lain perlu dilengkapi adalah: pertama, pemburu benar-benar rasional dalam perhitungan yang didorong oleh self-interest. Kedua pasar dalam struktur persaingan sempurna. Pemburu sebagai pengusaha sebagai price taker tidak seorangpun dari mereka yang dapat mempengaruhi tingkat harga. Ketiga, bahwa berapapun berang-berang dan menjangan dibutuhkan ada tersedia dengan ongkos rata-rata tidak berubah (constant-cost). Model mekanisme harga Smith ini sering disebut model statis komparatif. Selanjutnya, tingkat harga relatif barang berdasarkan teori jumlah tenaga kerja (labor command theory) ditentukan oleh jumlah tenaga kerja. Dalam hal ini dapat dijabarkan dalam jumlah jam kerja. Jadi menurut contoh tadi, waktu yang diperlukan untuk menangkap berangberang dua kali lebih lama daripada waktu yang diperlukan untuk menangkap seekor menjangan. Kedua teori ini mempunyai persamaan, tetapi lebih relevan teori ongkos tenaga kerja dalam bentuk ekonomi yang relatif lebih modern. Hanya saja dalam tahap ekonomi yang lebih modern telah terjadi akumulasi modal, sedangkan lahan tidak lagi sebagai barang bebas. Dalam hal ini mulai diperhitungkan laba untuk pemilik modal dan sewa untuk tuan lahan. Dalam hal ini mulai terlihat variabel baru, yakni intensitas modal dalam proses produksi. Dengan demikian, rasio tenaga kerja dengan modal (T/M) berlainan untuk setiap industri. Semakin intensif modal suatu industri cenderung laba juga relatif semakin tinggi. Untuk lahan tingkat kesuburannya berbedabeda. Dalam hal ini muncul pembahasab baru, yakni distribusi pendapatan secara fungsional. Penjelasan harga relatif barang melalui teori ongkos produksi adalah sebagai usaha mengatasi kesulitan yang ditemui pada dua teori yang telah dijelaskan tadi. Ada kesulitan yang timbul dengan menggunakan teori nilai tenaga kerja (labor theory of value) dalam tahap ekonomi yang telah maju. Dalam teori ongkos produksi harga relatif ditentukan oleh semua pembayaran yang dikeluarkan untuk semua faktor produksi, seperti tenaga kerja, modal, bahan baku, lahan, dan lain-lain. Dalam pengertian Smith, laba termasuk tingkat bunga. Jadi kalau kita kembali pada

contoh perburuan kedua jenis binatang tadi, maka ongkos total untuk menangkap berang-berang (OTb) dan ongkos total untuk menangkap menjangan (OTm) menjadi patokan harga relatif, yakni = OTb : OTm. Ongkos total boleh diganti dengan ongkos rata-rata untuk masing-masing barang. Dalam hal ini tingkat harga alamiah sama dengan ongkos produksi. IV. Teori Modal dan Distribusi Pada uraian tadi telah disampaikan bahwa pada ekonomi yang lebih modern, telah terjadi akumulasi modal dan lahan dimiliki tuan lahan, sedangkan pemilik modal mendapat laba. Dengan demikian terjadi pergeseran arti teori nilai yang semula dikemukakan Smith, yang dianggap berlaku pada masyarakat dengan ekonomi yang primitif. Dengan demikian, nilai nyata suatu barang sama dengan ongkos produksi. Jadi sumber nilai bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga lahan dan pemilik modal. Timbul pertanyaan lain: dari mana nilai surplus itu berasal? Smith menolah pendapat yang menyatakan bahwa surplus berasal dari barang yang dijual dengan tingkat harga di atas nilainya. Nilai itu katanya mengandung dua bagian yakni, kepada tenaga kerja di satu pihak dan pemilik modal (termasuk lahan). Di pihak lain tampaknya pengertian ini bergandengan dengan paham Fisiokrat, yang dsebut dengan produit net. Tetapi Fisiokrat berpendapat bahwa terjadi nilai tambah (value added) sebagai hasil tenaga kerja, bukan hadiah dari alam. Dengan demikian sulit mengatakan bahwa sumber nilai satu-satunya adalah tenaga kerja. Hal ini akan berangkai dengan pandangan Ricardo dan Marx, dalam konsep nilai lebih. Namun, penjelasan Smith sebagian menyangkut teori distribusi yakni hasil dari setiap golongan masyarakat. Pertama, kelompok kerja subsisten, dan kedua, hasil dari pemilik lahan, dan pemilik modal. Inilah yang membuat teori ongkos produksi lebih relevan dari teori ongkos tenagba kerja. Dengan demikian, laba merupakan bagian dari nilai barang yang dihasilkan merupakan milik kapitalis. Hubungan upah dan laba berlawanan. Peningkatan persediaan modal karena persaiangan berakibat tingkat laba menurun sedangkan permintaan tegnaga kerja meningkat. Keadaan terakhir ini akan meningkatkan pula tingkat upah. Tingkat laba menurut Smith adalah sekitar jumlah modal yang hilang dalam proses produksi ditambah jasa pemilik modal. Tingkat laba memang berfluktuasi tetapi dengan kemajuan masyarakat, tingkat laba cenderung turun. Akumulasi modal meningkatkan persaiangan dan negeri semakin banyak

penduduknya sedangkan lahan yang kurang subur akan digunakan semakin meluas. Berkenaan dengan hal yang terfakhir ini, Smith mengemukakan teori tentang rente sebagaimana juga laba dan upah bagian dari nilai barang. Tetapi efeknya terhadap harga barang tidak seperti efek laba dan tingkat upah. Tinggi rendahnya laba dan upah menyebabkan tinggi rendahnya tingkat barang. Smith berpendapat bahwarente tidak termasuk penentu tingkat harga. Rente bukanlah sebab tetapi akibat, maka jika tingkat harga barang meningkat maka rente ikut meningkat. Jika harga hasil pertanian hanya cukup untuk menutupi ongkos-ongkos kapitalis, maka lahan tidak terkena beban sewa, tetapi jika tingkat harga meningkat, maka tuan lahan menjadi monopolis. Sebenarnya, dari pandangan ini terlihat terjadi ketidakazasan teori rente. Dari sini Ricardo memulainya. Apapun yang telah menjadi kelemahan teori yang dikemukakan Smith, telah mendatangkan sumbangan besar terhadap teori ekonomi waktu itu. Semangat itu, dengan jelas terlihat pada teori nilai yang dikaitkan dengan teori distribusi. Kaitan antara variabel modal, tenaga kerja, tingkat bunga, upah dan laba menjadi terintegrasi. Laba, sewa dan upah adalah tiga dan dan pertumbuhan penduduk akan diikuti peningkatan kekayaan masyarakat. Tetapi semakin tinggi pula nilai barang yang dihasilkan ke tangan tuan lahan. Di lain pihak, peningkatan penduduk meningkatkan permintaan dan tingkat harga, meningkat pula hasil-hasil pertanian dengan demikian makin bertambah modal yang digunakan di sektor pertanian. Dengan terjadinya perbaikan teknologi pertanian, tidak banyak lagi tenaga kerja digunakan, sebagian tenaga kerja digantikan modal. Sebagian hasil kembali kepada tuan lahan. Jika dikaitkan dengan pembagian kerja yang telah dibicarakan telebih dahulu, maka pembagian kerja dan spesialisasi membutuhkan modal. Penduduk bertambah meningkatkan permintaan. Kaitan ini merupakan teori pertumbuhan ekonomi klasik. Semakin luasnya pasar, maka pembagian kerja pun semakin berkembangan. Peningkatan produktivitas pun diperlukan. Tetapi Smith pun membedakan tenaga kerja yang produktif dan tenaga kerja yang tidak produktif. Tenaga kerja produktif adalah yang menciptakan nilai dan surplus untuk pengusaha. Bagi Smith, tenaga kerja sektor jasa termasuk tenaga kerja tidak produktif. Kekuatan-kekuatan pertumbuhan ekonomi dirangkaikan menjadi teori pertumbuhan. Kekuatan-kekuatan itu adalah jumlah penduduk yang mendorong permintaan; peningkatan permintaan mendorong perluasan pasar yang didukung efisiensi. Efisiensi menjadi operasional

dengan adanya spesialisasi dan pembagian kerja. Namun demikian pertumbuhan memiliki kendala. Kemakmuran yang makin meningkat makin mendorong pertumbuhan penduduk. Ini berarti penawaran tenaga kerja meningkat, oleh karena itu, tingkat upah turun. Kenapa turun? Smith mempunyai teori dana upah. Dana ini disediakan pengusaha dalam jumlah tetap. Tingkat upah adalah sama dengan jumlah dana upah dibagi jumlah tenaga kerja. Turunnya tingkat upah tenaga kerja mendatangkan kesulitan, para pekerja dengan tingkat upah rendah untuk membiayai kebutuhan keluarga yang relatif besar kurang terpelihara, sakit, dan banyak kematian. Dengan begitu terjadi penyesuaian jangka panjang dan alamiah. Semakin itu, tingkat laba turun, akumulasi turun, sewa tanah naik. Dalam situasi demikian sampailah suatu negara dalam stationari state. Itulah teori-teori utama yang dikemukakan Smith lebih dari 200 tahun yang lalu. Para penafsir kadang-kadang sulit membahas teori tersebut karena ada pendapat Smith yang kurang dan tidak taat azas. Namun tidak mengurangi kebesarannya dalam menyusun teori-teori secara terintegrasi yang lebih maju dari sebelumnya. 2). Thomas Robert Malthus (1766-1834) Thomas Robert Malthus adalah seorang tokoh yang paling kontroversial dalam sejarah ilmu ekonomi. Ia terkenal karena doktrin populasinya yang kini dihubungkan dengan nama Malthus. Berlawanan dengan pandangan abad ke-XVIII yang menyatakan bahwa ada kemungkinan meningkatkan standar hidup, Malthus justru berpendapat bahwa perkembangan semacam itu menyebabkan populasi bertambah dan menurunkan keuntungan. Ia juga mengatakan ilmu ekonomi seharusnya ilmu yang empiris ketimbang ilmu deduktif. Ia juga menentang perdagangan bebas dan bantuan pemerintah terhadap pihak miskin. Malthus lahir tahun 1776 di kota Wotton, Surrey. Pada usia 18 tahun ia masuk ke Jesus College di Cambridge belajar matematika dan filsafat. Sumbangan yang sangat berarti terhadap pemikiran ekonomi klasik setelah Adam Smith, datang dari David Ricardo. Namun pemikiran yang demikian dikemukakan oleh Thomas Robert Malthus dalam bukunya An Essay on The Principle Of Population As It Affects The Future Improvement Of Society tidak dapat dilangkahi. Ricardo memperdalam kajian terhadap teori distribusi fungsional, memperbaiki teori nilai yang telah diutarakan Smith sebelumnya dan

pemikirannya tentang perdagangan Internasional. Buku Ricardo yang terkenal Principle of Political Economi and Taxation terbit 19 tahun setelah buku Malthus. James Stuart Mill hidup dan berkarya dalam masa transisi, di satu pihak dia mempertahankan persaingan sempurna dan kemerdekaan individu tetapi di pihak lain Mill menghadapi berbagai kritik terhadap pemikiran ekonomi klasik. Mill terpengaruh oleh pemikiran sosialis, maka uraian tentang Mill digabungkan dengan pemikiran sosialis. Pada uraian yang berikut akan terlihat variasi pemikiran tokoh ekonomi klasik yang juga disebut Pemikir Ekonomi Ortodoks. I. Malthus yang Pesimis Pemikiran-pemikiran Smith seperti telah diuraikan sebelumnya penuh optimisme. Penduduk bertambah, permintaan meningkat. Berarti pasar di dalam dan luar negeri meningkat serta pembagian kerja dan spesialisasi berkembang. Semua ini bermuara dalam kekayaan bangsa-bangsa yang meningkat. Dalam jangka panjang semua ini akan sampai pada stationary state. Dengan terbitnya buku Malthus tahun 1798 pemikiran yang optimis mengalami goncangan dimulai dengan debat Malthus dengan orang tuanya sendiri tentang pendapat seorang ahli politik Inggris dan penulis Perancis William Godwin dan Marquis de Condorcet yang berpaham utopia yang menyatakan sifat manusia bukan karena diwariskan tapi ditentukan lingkungan dimana mereka hidup. Pernyataan ini didasarkan pada berbagai kesengsaraan dan kemiskinan manusia yang ada di lingkungan kehidupannya. Yang bertanggung jawab atas keadaan ini adalah pemerintah. Untuk mengubah keadaan ini diperlukan pembaruan kelembagaan. Godwin dituduh menganut falsafah anarki. Daniel Malthus, ayah Thomas Robert Malthus menyetujui pendapat itu tetapi Malthus muda menolaknya. Ayah Robert adalah seorang Liberal sahabat David Hume dan pernah berkenalan dengan pemikiran Perancis Rousseau. Malthus muda membantah pendapat itu, setelah membaca teori penduduk yang ditemukannya pada beberapa tulisan sebelumnya, termasuk Wealth of Nations hukum hasil lebih yang berkurang (the law of diminishing returns) yang pernah dikemukakan oleh Turgot. Dengan menggabungkan pemikiran-pemikiran ini, Malthus membantah pandangan Godwin dan Condorcet. Dasar pemikiran Malthus muda sederhana, dengan andaian bahwa nafsu seks

manusia dan kebutuhan makanan mempunyai hubungan. Jumlah penduduk meningkat tidak seimbang dengan kenaikan persediaan kebutuhan pokok hidup. Bilamana kemampuan lahan untuk menghasilkan kebutuhan manusia menurun, maka peningkatan bahan pangan tidak dapat mengimbangi jumlah pertambahan penduduk. Bahkan secara khusus tesisnya dinyatakan bahwa penduduk cenderung meningkat secara deret ukur (1, 2, 4, 8, 16,), sedangkan bahan kebutuhan pokok meningkat menurut deret tambah (1,2,3,4,). Sebenarnya, tesis dengan menggunakan deret ukur dan deret hitung itu digunakan sebagai ilustrasi, tetapi justru inilah yang mendapat kritik berlebihan. Malthus engan pernyataan itu dikelompokkan menjadi orang yang pesimis. Dengan kritik-krtik yang dilancarkan terhadap tesis Malthus yang deduiktif itu. Mendorong Malthus umtuk melengkapi bukti-bukti secara induktif. Pada tahun 1803, terbitlah edisi kedua. Pada penerbitan ini, terlihat bahwa buku itu tidak lagi semata-mata untuk membantah pendapat Godwin dan Condercet tetapi telah disusun sedemikian rupa sebagai tulisan ilmiah. Dengan demikian, Malthuslah yang pertama menyusun teori pertumbuhan penduduk. Memang, diakui bahwa bukan Malthus yang pertama mempunyai pandangan tentang masalah-masalah demografis, tetapi kelebihan Malthus adalah menyusun teorinya yang terintegrasi dengan pemikiran ajaran ekonomi klasik. Ramalan Malthus yang menggambarkan keadaan yang pesimis itu di Eropa Barat, ternyata tidak benar. Apa lagi tidak ada bukti yang menyokong tesis tentang jumlah penduduk dan jumlah bahan pangan yang masing-masing bertumbuh menurut deret ukur dan deret tambah. Kenyataan dalam revolusi industri yang disokong oleh kemajuan teknologi luput dari pembahasan Malthus. Kenyataan memang menunjukkan menjelang berakhirnya abad ke 18 di Inggris terjadi ledakan penduduk tetapi jika dilihat dari kurun waktu yang lebih panjang tingkat pertumbuhan penduduk di negeri itu (sejak 1680) ternyata rendah. Terjadinya ledakan penduduk di Inggris waktu itu karena menurunnya tingkat kematian sedangkan tingkat kelahiran semakin meningkat. Kejadian itu berkaitan dengan perbaikan sanitasi, gizi, dan perumahan penduduk. Pemikiran Malthus yang kontroversial waktu itu dapat digambarkan sebagai berikut. Pertama, kita perlu melihat latar belakang tentang alasan Malthus berpendapat demikian sehingga dia mencoba dengan segala macam upaya membantah pendapat Godwin dan Condorcet tentang kesempurnaan manusia. Manusia pada kelahirannya adalah baik, dan lingkunganlah yang menyebabkan manusia itu jahat, jadi miskin dan papa. Malthus melihat pada waktu itu: (1)

menjelang tahun 1790, Inggris dalam keadaan swasembada pangan tetapi pada tahun itu Inggris harus mengimpor bahan pangan; (2) terjadi proses pemiskinan penduduk yang berpendapatan rendah dengan berlangsungnya revolusi industri Inggris semakin menuju masyarakat kota, diman produksi yang dibuat dalam rumah tangga beralih ke pabrik-pabrik. Dalam proses yang demikian terjadi peningkatan jumlah penduduk yang miskin di kota-kota. Kedua, dalam bukunya yang terbit pada edisi pertama, dia mengemukakan dua dasar utama sebagai andaian, pertama, untuk kehadiran manusia diperlukan bahan pangan; kedua, nafsu sex antar kelamin merupakan kebutuhan yang tidaka akan berubah. Dengan andaian ini, maka disimpulkannya peningkatan penduduk lebih cepat daripada pertumbuhan bahan pangan, peningkata variabel pertama menurur deret ukur, sedangkan yang kedua menurut deret hitung, inilah yang menyebabkan kemiskinan dan menjadi kikir. Malthus menentang pula undangundang subsidi kepada orang miski (poor laws). Dalam edisi pertama, tidak ada bukti statistik untuk mendukung pendapat itu, bahkan belum dikemukakan hukum hasil lebih yang berkurang, tetapi dinyatakan lahan yang terbatas. Karena itu, Malthus mengemukakan cara mengatasinya yakni dengan melakukan pembatasan (check). Dalam buku yang pertama, Maltuhs mengajukan dua cara pembatasan, yakni pengendalian positif dan negatif. Pengendalian positif (positive check) adalah perang, kelaparan dan penyakit, sedangkan pengendalian negatif dengan menunda perkawinan. Tetapi dengan menunda perkawinan dapat menimbulkan krjahtan sexual, seperti hubungan sex sebelum kawin dan perkosaan. Untuk mengatasi ini tidak mungkin dengan meniadakan struktur kelembagaan yang ada, karena kejahatan dan kemiskinan dalam masyarakat disebabkan oleh kebutuhan pangan dan sex yang kuat. Ketiga, pendapat Malthus yang menjadi kontroversi dan mendapat kritik keras dari penentangnya mendorong Malthus menyempurnakan bukunya yang kemudian terbit untuk kedua kalinya pada tahun 1803. Dalam buku ini, baik tujuan dan metodologi, maupun kesimpulannya mengalami perubahan. Seperti telah diutarakan sebelumnya metodologi yang digunakan Malthus semata-mata deduktif telah dilengkapi dengan metode induktif pada edisi kedua. Misalnya, dua cara pembatasan pertumbuhan penduduk telah menjadi tiga cara, yakni dengan melakukan kendali moral (moral restraint). Maksud kendali moral adalah menunda perkawinan tanpa melakukan hubuangan sex sebelumnya. Buku Malthus terbit sampai dengan tujuh edisi dengan tidak banyak lagi mengalami perubahan. Isi edisi inilah yang mantap sampai sekarang.

Keempat, beberapa kritik yang dikemukakan terhadap pemuikiran Malthus adalah kelemahan yang dikemukakan dalam tulisannya. Antara lain Malthus tidak membedakan naluri, kebutuhan sex dengan keinginan manusia mempunyai keturunan, dan cara pembatasan yang dikenal sekarang, yakni melalui kontrasepsi. Selanjutnya, kemampuan kemajuan teknologi dalam peningkatan bahan pangan yang berasal dari sektor pertanian. Namun hal terakhir ini tidak adil bila menyalahkan Malthus. Para pemikir ekonomi pada waktu itu mengabaikan hal pengaruh teknologi terhadap kemajuan ekonomi. Anehnya, dan ini dapat dilihat dewasa ini tesis Malthus yang sangat relevan bukan di dunia Barat tetapi di negeri dunia ketiga, seperti Asia, Afrika, dan amerika Latin. Masalah kependudukan telah dikaitkan pula dengan masalah lingkungan. Dengan demikian, kembali para ahli ekonomi mengkaji pemikiran Malthus dan mencoba untuk melakukan revisi, di negerinegeri maju, memang bukanlah masalah pertumbuhan penduduk yang utama, tetapi kepadatan penduduk dan industrialisasi telah memperburuk lingkungan kehidupan manusia. Pengembangan dasar teori kependudukan dari Malthus tidak hanya dalam pemikiran ekonomi selanjutnya tetapi juga digunakan oleh Charles Darwin untuk menjelaskan teori evolusinya. Darwin berutang budi kepada Malthus. Hal ini di luar perkiraan Malthus bahwa teorinya digunakan untuk menjelaskan teori evolusi. Teori kependudukan yang dikemukakan Malthus sangat besar sumbangannya dalam pembahasan pembangunam ekonomi. Teori ini bergabung dengan teori dana upah dari Smith dan teori teori hasil lebih yang berkurang, merupakan model pembangunan ekonomi klasik. Model ini banyak mendapat kritik yang selanjutnya dibicarakan lagi dalam pemikiran David Ricardo. Begitu juga, sumbangan Malthus dalam perbedaan rente lahan lebih tajam dikembangkan oleh Ricardo. Sebenarnya, sumbangan yang besar dari Malthus terhadap teori ekonomi adalah terjadinya keseimbangan penawaran dengan permintaan yang terkenal dengan theory of geluts, yakni penawaran tergantung pada permintaan. Hal ini ditentang oleh Ricardo. 3). David Ricardo (1772-1823): Pemikir Deduktif David Ricardo lahir di London pada tahun 1722 dari keluarga Yahudi yang kaya. Pendidikannya disiapkan untuk membuat dirinya mengikuti jejak ayahnya dalam dunia perdagangan dan keuangan. Sesuai dengan harapan usia 14 tahun Ricardo memasuki perusahaan

perdagangan perantara milik ayahnya. Ia diakui sebagai negosiator yang ahli dan mahir dalam operasi-operasi sulit seperti arbitrage atau jual beli mata uang. Pada masa Ricardo dan Malthus, pemikiran ekonomi menghadapi perjuangan nyata, tidak lagi dalam debat tulisan tetapi bersambung dengan perjuangan politik dalam usaha ikut serta pengambila keputusan kebijakan ekonomi. Dalam hal tertentu, ricardo tidak sependapat dengan Malthus, tetapi teori kependudukan Malthus memberi sumbangan besar pada Ricardo sehingga berpengalaman dalam dunia perbankan dan praktek bisnis. Hal ini mempertajam logikanya. Semasa Ricardo dan sesudahnya pemikiran ekonomi klasik menjelma menjadi keputusan politik dalam bentuk berbagai revormasi perundangan. Ricardo disamping sebagai tuan lahan menjadi anggota parlemen yang kemudian disusul oleh Jhon Stuart Mill. Ricardo kenal dengan James Mill ayah J.S Mill dan juga melalui James Mill, Ricardo berkenalan dengan Jeremay Bentham. Dengan demikian Ricardo memasuki filsafah ekonomi radikal. Ketika Jen Baptise Say ke Inggris tahun 1814 dia berkenalan dengan Ricardo. Tahun 1817 terbit bukunya Principle of Political Economy Taxation. Posisis Ricardo sebagai ahli teori dan kebijaksanaan ekonomi sangat dominan. Dilihat dari rekomendasinya sebelum dan selama menjadi anggota parlemen. Dalam suatu seri pendapatnya dimuat dalam morning choricle tahun 1809 bahwa Bank of England terlalu banyak mengeluarkan uang kertas, sehingga inflasi meningkat dan nilai mata uang turun. Perubahan dalam jumlah uang beredar mengakibatkan perubahan dalam tingkat harga umum, bukan tingkat harga relatif. Pandangan ini sangat berbeda dengan apa yang dirumuskan dalam kebijaksanaan waktu itu. Oleh karena itu, terjadi bullion controversy yakni uang kertas terlalu banyak beredar menyebabkan nilainya jatuh terhadap emas. Cara mengatasinya dengan mencabut restriction act 1797, mengurangi cadangan emas yang berakibat mengurangi uang beredar dan tingkat harga barang turun. Pandangan Ricardo ini didasarkan pada teori kuantitas uang. Namun salah satu pemikiran pokok pada ekonomi klasik dalam moneter adalah jumlah uang beredar tidak akan mengubah real economy.Konsekuensinya untuk mengubah kekuatan real dalam distribusi dan harga relatif tidak dapat dengan campur tangan moneter dalam jangka panjang. Seandainya dilakukan hanya dalam jangka pendek, tapi mendatangkan ketidakpastian dan menghalangi investasi. Bullion Controversy inilah yang membawa Ricardo semakin terkenal dalam pembahasan teori dan kebijaksanaan ekonomi.

Dua sumbangan utama Ricardo yang mendapat bagian dalam uraian ini adalah teori distribusi dan teori perdagangan internasional. Teori distribusi ini merupakan model Ricardo yang mencakup tiga kelompok utama yakni pemilik modal, tenaga kerja dan tuan lahan. Pada sumbangannya yang kedua menyangkut keuntungan komparatif dan kaitannya dengan kemampuan untuk diperdagangkan ke pasaran luar negeri. I. Teori Distribusi Lingkupan Ilmu ekonomi menurut Smith agak berbeda dengan lingkungan ilmu ekonomi menurut Ricardo. Lingkungan ilmu ekonomi Smith melanjutkan lingkupan ilmu ekonomi Merkantilisme, yakni kajian sebab-sebab tentang kekayaan bangsa-bangsa. Ricardo melanjutkan teori distribusi Smith dan mengemukakan dalam bukunya: to determine the laws which regulate this distribution (of income), in the principle problem in political economy: much as the science has been improved by the writings of Turgots, Stuart, Smith, Say, Sismondi, and others, they afford very little satisfactory information respecting the natural course of rent, profit and wages. Pengertian distribusi upah (pendapatan) menurut Ricardo adalah distribusi fungsional, karena pendapatan masing-masing kelompok faktor produksi yang mendapat perhatiannya. Hal ini sering dikaitkan dengan pembahasan teori ekonomi makro, seperti mengaitkannya dengan fungsi produksi. Penjelasan distribusi fungsional ini makin penting dengan adanya undang-undang gandum (corn laws), yang mengatur penawaran padi-padian melalui tarif impor. Smith membahas pembagian fungsional dalam keadaan statis, sedangkan Ricardo melihatnya dalam jangka panjang. Terjadi pertentangan kepentingan antara ketiga kelompok tadi. Pemilik modal, menurut Ricardo mendapat bagian karena sumbangannya dalam alokasi sumber ekonomi dalam pasar persaingan, sehingga pengorbanan sosial konsumen menjadi rendah, pemilik modal juga telah mendorong pertumbuhan ekonomi dengan berlangsungnya proses tabungan menjadi investasi. Tingkat upah nyata pekerja adalah jumlah dana upah dibagi dengan jumlah tenaga kerja. Jadi masih mengambil rumusan dana upah dari Simth. Dana upah ini tergantung pada

pembentukan modal dan jumlah tenaga kerja yang dijelaskan dalam teori kependudukan Malthus. Dana upah dapat meningkat dalam jangka pendek. Peningkatan upah nyata menyebabkan peningkatan jumlah penduduk, tapi dalam jangka panjang dengan jumlah tenaga kerja semakin banyak, tingkat upah kembali ke tingkat subsisten. Menurut Ricardo, tuan lahan merupakan parasit. Tuan lahan mendapat bagian hasil dari produksi karena dia sebagai faktor produksi bukan sebagai pelaksana fungsi sosial untuk masyarakat. Dia mengecam pembelanjaan kaum tuan lahan yang bersifat konsumtif, tidak dalam pembentukkan modal. Andaian-andaian yang utama dalam teorinya adalah: Pertama, menggunakan teori ongkos tenaga kerja; Kedua, uang adalah netral; Ketiga, dalam produksi terjadi koefisien yang tetap antara penggunaan modal dan tenaga kerja; Keempat, dalam industri manufaktur, dianggap persentase peningkatan masukan sama dengan persentase peningkatan hasil (constan returns), sedangkan ada sektor pertanian terjadi hasil yang menurun; Kelima, penggunaan faktor produksi terpakai sepenuhnya (full employment); Keenam, pasar barang dan pasar tenaga kerja dalam persaiangan sempurna; ketujuh, para pelaku ekonomi, baik produsen maupun konsumen adalah rasional (economic man). Masing-masing kelompok faktor tadi secara rasional dengan demikian dalam pasar persaingan sempurna baik upah maupun laba dan sewa adalah homogen. Terakhir, yaitu kedelapan, pada model distribusi Ricardo berlaku tesis Malthus tentang kependudukan bersama dengan doktrin dana upah. Dengan adanya kontroversi corn laws, maka Ricardo, Malthus dan Torrens merumuskan kembali hukum lebih yang berkurang, yang ditemukan oleh Turgot pada tahun 1765. Hukum ini menyatakan jika suatu faktor produksi penggunaannya meningkat, sedangkan yang lainnya dianggap tetap, maka hasil total akan terus meningkat sampai di suatu keadaan kemudian menurun. Dalam hal ini faktor yang tetap adalah lahan, sedangkan yang berubah-ubah (meningkat) adalah tenaga kerja atau modal, atau kedua-duanya. Kalau pada pemikiran Psisiokrat, adanya sewa lahan adalah karena lahan itu sumber produktif, tetapi pada pemikiran Ricardo adalah karena lahan adalah kekuatan awal yang tidak dapat dibinasakan. Lahan mempunyai kesuburan yang langka dan padanya berlaku hukum lebih yang berkurang. Kalau kita anggap ada tiga petak lahan sama luasnya, tetapi berbeda tingkat kesuburannya yakni petak A, B. C, maka dengan meningkatnya modal dan tenaga kerja satu satuan, kemudian diperoleh produksi marjinal sebagaimana dicantumkan pada Tabel 3.1. Secara horizontal terjadi marjin

eksentif, sedangkan menurut kolom ke bawah dapat diperhatikan perubahan angka-angka yang memberi arti terjadinya marjin-intensif. Tabel 3.1. Marjin intensif dan Marjin eksentif Pada tiga jenis lahan yang kesuburannya berbeda
Marjin eksentif lahan Modal dan Tenaga Kerja A Marjin intensif: 1 2 3 200 180 160 B 160 140 C

140

Lahan A yang paling subur, sedangkan lahan B tingkat kesuburannya sedang, dan lahan C tidak subur. Lahan a diusahakan secara intensif, dengan menambah satuan modal dan tenaga kerja, maka jumlah produk marginal adalah 540 satuan produk, tetapi kalau masing-masing paket satuan modal dan tenaga kerja digunakan pada ketiga jenis lahan itu maka jumlah produk marjinal diperoleh 500 satuan produk. Berapakah sewa lahan? Untuk lahan A sewa lebih tinggi, yakni 60 sataun produk = (200-160) + (180-160). Lahan B membayar sewa 29 satuan produk = (160-140), sedangkan lahan C tidak membayar sewa = (140-140). Jika lahan A diusahakan dengan menggunakan satu satuan modal dan tenaga kerja, maka produk marjinalnya = 200, sedangkan lahan B = 160. Dan lahan C = 140 satuan produk. Interpretasi ini adalah jika kita ingin menggunakan 3 satuan modal dan tenaga kerja pada lahan A, produl marjinalnya = lahan B yang menggunakan satu satuan tenaga kerja dan modal. Jika sekiranya, kita mempunyai 3 satuan modal dan tenaga kerja dan digunakan pada lahan B yang lebih intensif maka produk marjinalnya adalah 140. Lahan tidak subur lagi, dimana produk marjinalnya sama dengan lahan C. Dari segi ongkos produksi juga dapat dijelaskan. Pada lahan yang mulai tidak subur, ongkos marjinal meningkat sehingga hasil marjinal menurun. Secara rasional petani ingin menywa lahan yang ongkos marjinalnya lebih rendah agar dapat bersaing di pasar barang.

II. Teori Nilai Tenaga Kerja Jika Smith telah beralih dari teori ongkos tenaga kerja dalam menjelaskan harga relatif yang statis, Ricardo mempertahankan teori ini. Ricardo menjelaskan harga relatif yang dinamis. Ricardo juga menemui kesulitan menjelaskan teori nilai dengan adanya modal sebagai faktor produksi. Maksud Ricardo dalam mengukur harga relatif dari waktu ke waktu harus ada tolak ukur nilai yang tidak berubah dari waktu ke waktu. Dalam kasus Corn Laws Malthus membantah bahwa dengan penongkatan tarif impor pangan akan lebih bermanfaat bagi Inggris sedangkan Rocardo menyanggah bahwa hal itu akan merugikan pembangunan Inggris. Katanya, peningkatan tarif akan mengurangi laba, dan berakibat turunnya akumulasi modal dan pertumbuhan ekonomi menjadi rendah. Dari sini pula Ricardo menemukan teori nilai Adam Smith tidak dapat menjelaskan. Smith cenderung memakai ukuran ongkos produksi. Dengan ongkos produksi. Peningkatan tarif tidak akan menurunkan laba. Namun para pembela proteksi dan Ricardo sependapat bahwa proteksi akan menghasilkan upah uang yang lebih tinggi. Perselisihan pendapat terjadi pada pengaruh tarif terhadap laba dan sewa. Pihak yang membela proteksi mempunyai hipotesis bahwa jika tingkat tarif dinaikan maka terjadi perluasan pertanian ke lahan yang kurang subur dan intensifikasi usaha pada lahan yang telah ditanami. Pembela proteksi menjelaskan pula bahwa dengan penurunan tarif berakibat harga pangan dan upah uang turundan ini dapat berakibat tingkat harga umum jatuh lalau timbul depresi. Ricardo menjelaskan bahwa efek yang sangat tajam dari Corn laws adalah terhadap distribusi pendapatan, sedangkan teori distribusi yang ada belum dapat menjelaskan hal ini. Semua teori nilai yang ada telsh mencoba untuk menjelaskan kekuatan-kekuatan yang menentukan harga relatif pada saat tertentu, sedangkan Ricardo ingin menjelaskan kekuatankekuatan yang menentukan harag relatif untuk kapan saja. Dalam tujuan itu, Ricardo mencari kembali ukuran nilain yang tidak beruabah sepanjang waktu. Ricardo kembali ke teori nilai tenaga kerja. Nilai suatu barang atau jumlah barang lain yang dapat dipertukarkan dengnnya tergantung pada jumlah relatif tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan barang tersebut, bukan besar kecilnya jumlah upah yang dibayarkan pada tenaga kerja. Tapi teori nilai ini hanya

berlaku untuk barang-barang yang dapat diproduksi kembali dengan bebas, diproduksi dalam kondisi pasar persaingan sempurna. Sebagai mana juga kesulitan yang dihadapi Smith, Ricardo juga mengalaminya yakni : pertama, pengukuran kuantitas tenaga kerja; kedua, tenaga kerja dengan keterampilan yang berbeda-beda; ketiga, perhitungan kapital dalam menentukan harga; keempat, perhitungan lahan sebagai faktor produksi yang ikut menentukan harga; kelima, perhitungan laba dalam penentuan harga. Persoalan keterampilan yang berbeda-beda dapat diwakili oleh perbedaan upah. Ricardo mempunyai andaian bahwa perbandingan tingkat upah yang berbeda-beda merupakan koefisien yang tetap pada setiap waktu. Sekarang timbul persoalan, bagaimana dengan peranan modal dalam harga barang? Ricardo menjelaskan hal ini dapat dihitung dengan penggunaan modal dalam proses produksi (depresiasi), sedangkan di dalam modal telah ada kandungan tenaga kerja sewaktu pembuatannya. Jika demikian dapat pula dengan menjumlah keseluruhantenaga kerja yang telah terpakai untuk memproduksi modal, ditambah dengan depresiasi barang dalam proses produksi. Dengan teori nilai tenaga kerja, bagaimana pula mengulur faktor harga dalam harga relatif? Tingkat laba bukan merupakan persentase yang tetap dari harga barang. Jumlah modal berbeda-beda dalam setiap satuan hasil tetapi tingkat laba relatif tinggi pada barang-barang yang diproduksi relatif padat modal. Industri yang mempunyai turn over modal lebih tinggi akan mempunyai rasio laba harga yang lebih rendah pada turn over yang relatif lambat. III. Keuntungan Komparatif. Adam Smith telah membicarakan perdagangan internasional dengan mengemukakan: jika suatu negara dapat menghasilkan suatu barang dengan ongkos yang lebih rendah dari negara lain sedangkan negaraf lain dapat berbuat demikian untuk barang lain maka kedua negeri itu dapat melakukan perdagangan. Dalam hal ini, terjadi spesialisasi. Sumbu vertikal menggambarkan satuan produksi marjinal, sedangkan sumbu horizontal mewakili variabel yang berubah-ubah, dalam hal ini tenaga kerja atau gabungan keduanya. Garis GF adalah tingkat upah subsisten. Segi empat OBHG adalah jumlah dana upah sedangkan segi tiga DEC sama dengan jumlah sewa untuk tuan lahan. Laba merupakan residu.

Garis EF merupakan kurva produk fisik marginal (marginal physical product). Dengan demikian, tingkat laba adalah GD, sedangkan tingkat upah subsisten adalah OG dan tingkat sewa adalah DE. Karena dana upah dapat meningkat dengan akumulasi modal sedagkan sewa lahan semakin meningkat oleh karena semakin langka lahan subur, maka tingkat laba turun. Jadi dalam gambar garis DC dapat turun ke bawah ataupun garis GF naik ke atas. Tetapi beberapa nama yang terkenal memberi sumbangan terhadap keuntungan komparatif (comparative advantage) adalah Ricardo dan Robert Torrens dan James Mill, yang kemudian juga dikembangkan oleh J.S.Mill. namun demikian, nama Ricardo lebih terkenal dalam pembahasan teori ini. Pada pembahasannya, Ricardo membedakan tiga jenis barang, yakni barang-barang dalam negeri untuk konsumsi dalam negeri, barang-barang produksi dalam negeri untuk ekspor, dan barang-barang mewah yang di impor. Jenis barang kedua dan ketiga mendapat perhatian lebih lanjut untuk perdagangan internasional. Pertanyaan yang akan dijawab adalah apa sebab terjadinya perdagangan antar negara? Secara singkat, penjelasannya dalah karena terjadi spesialisasi dalam membuat barang-barang sehingga suatu negara lebih efisien dalam memproduksi barang. Ricardo menjawab pertanyaan itu melalui hukum perbandingan ongkos (law of comparative cost). Ricardo membahas teori ini tersendiri karena mobilitas faktor-faktor produksi di dalam negeri dan antara negara berbeda, sedangkan teori nilai tenaga kerja tidak dapat terpakai. Ingat kembali andaian Ricardo sebelumnya, akibatnya, tingkat laba tidak homogen antar negara. Ricardo menjelaskan tiga rasio ongkos untuk dua macam barang yang diproduksi masing-masing negarfa pada tabel 3.2. Rasio pertama, perbedaannya sama, kedua, perbedaannya bersifat absolut, dan ketiga, perbedaan yang komparatif. Andaian penting disini adalah yang berdagang dua negara, dan pada masing-masing negara diperlihatkan jumlah jam kerja. Rafsio pertama memperlihatkan tidak ada kemungkinan untuk berdagang, komoditi tersedbut antara Inggris dan Portugal, walaupun Portugal gapat menghasilkan kedua komoditi itu lebih efisien. Masalahnya tidak ada perangsang untuk masing-masing negara.

Ricardo berpendapat bahwa jika masing-masing negara mempunyai keuntungan dalam perbandingan ongkos secara absolut, barulah terjadi perdagangan. Keadaan ini dipenuhi oleh kasus rasio ongkos absolut yang berbeda. Semua barang tidak harus dihasilkan di dalam negeri walaupun ongkos produksinya adalah yang terendah dibandingkan dengan negeri-negeri lain. Negeri ini juga perlu mengimpor dari negeri lain. Kasus ketiga, dengan ukuran perbedaan komparatif, Portugal mempunyai keuntungan komparatif dalam memproduksi anggur karena perbedaan ongkos lebih besar pada anggur daripada pakaian. Tabel 3.2. Jam Kerja yang Diperlukan untuk Memproduksi Satu-satuan Anggur dan Pakaian.
Perbedaan Sama NEGARA Anggur Pakaian Pa/Pp Inggris 88 100 0,88 Anggur Pakaian Pa/Pp 60 0,6 80 0,88 90 100 Anggur Pakaian Pa/Pp 120 1,2 80 0,88 90 100 Perbedaan Absolut Perbedaan Komparatif

Portugal

80

99

0,88

Sumber: Lihat Mark Blaug, 1978

Dengan demikian, lebih menguntungkan bagi Portugal mengekspor anggur ke Inggris karena satu-satuan anggur ditukarkan 1,2 satuan pakaian daripada sat-satuan anggur dengan 0,88 satuan pakain. Jadi terdapat batas rasio. Jika satu-satuan pakain di Inggris ditukarkan dengan 1,2 satuan anggur portugal, maka semua keuntungan diperoleh Portugal. Portugal untuk 2 komoditi tersebut mengorbankan jam kerja hanya 186 jam kerja sedangkan di Inggris 244 jam kerja. Dasar perhitungan jam kerja yang diperlukan masing-masing komoditi di Portugal. Tapi sekarang terjadi perdagangan maka secara keseluruhan terjadi penghematan ongkos dari 390 jam (100+120+90+80), menjadi 360 jam (280+2100). Maksudnya setelah terjadi pengangguran, semua anggur dari Portugal, sedangkan pakaian diproduksi di Inggris. Artinya dengan jumlah ongkos yang sama, jumlah barang ditingkatkan.persoalan 30 jam kerja kemana? Ingatlah bahwa andaian disini masih tetap full employment.

Masih ada persoalan bagaimana keuntungan itu bagi masing-masing negeri yang berdagang. Hal ini tergantung tidak hanya pada ongkos produksi tapi tergantung juga aspek permintaan. Ricardo hanya menjawab lewat ongkos pekerja yang konstan dengan satu faktor produksi. Berarti tingkat harga di dalam negeri ditentukan oleh sisi penawaran. Persoalan dapat diselesaikan dengan bantuan kurva transformasi dunia untuk anggur dan pakaian yang diperdagangkan.

4). Jean Baptiste Say Jean Baptiste Say berasal dari Prancis. Seperti halnya David Ricardo, dia juga berasal dari kalangan pengusaha, bukan dari kalanngan akademis. Ketertarikannya dengan perkembangan teori-teori juga berlangsung pada waktu ia memasuki masa senja, mendekati usia 50 tahun. Ia sangat memuja pemikiran Adam Smith. Sebagai pendukung yang loyal, ia sangat berjasa dalam menyusun kodifikasi terhadap pemikiran-pemikiran Adam Smith secara sistematis. Hasil kerjanya di rangkum dalam bukunya traite dEconomie Politique (1903). Apa yang dilakukan oleh Batiste saay ini sangat mebnatu dalam memahami pemikiran-pemikiran adam smith dalam bukunya the wealth of nations, yang bahasanya relatif sulit di cerna oleh orang awan. Kepercayaan terhadap kemampuan mekanisme pasar semakin menguat ketika seorang ekonom Prancis ini, (1767-1832) mematangkan pemikiran Adam Smith yang melontarkan pendapat yang sekarang di kenal sebagai hukum Say (says law), ... supply creates its own demand... dalam bukunya. Maksud dari perenyataan tersebut adalah bahwa barang dan jasa yang di produksi pasti terserap oleh permintaan sampai tercapai keseimbangan pasar. Kaum Klasik berpendapat bahwa dalam perekonomian tidak akan timbul masalah kekurangan permintaan agregat, semua barang yang di hasilkan oleh perekonomian pasti akan di beli oleh masyarakat. Substansi hukum Say adalah memperkuat keyakinan bahwa pasar mampu menjadi alat alokasi sumber daya yang efisien lewat proses pertukaran (exchange economics).

Keyakinan terhadap keampuhan mekanisme pasar boleh dikatakan mencapai puncaknya ketika Leon Walras (1834-1910) berhasil menyusun model ekonomi keseimbangan pasar simultan, yang menjadi dasar analisis model keseimbangan umum (general equilibrium model). Model Walras adalah penerjemah secara matematis terhadap keyakinan Adam Smith, Say dan ekonom-ekonom yang lain tentang keampuhan mekanisme pasar. Kontribusi Say yang paling besar terhadap aliran Klasik ialah pandanganya yang mengatakan bahwa setiap penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri. Hukum Say ini didasarkan pada asumsi bahwa nilai produksi selalu sama dengan pendapatan. Setiap ada produksi, akan ada pendapatan yang besarnya persis sama denagn nilai produksi tadi. Dengan demikian, dalam keadaan seimbang, produksi cenderung menciptakannya sendiri akan produksi barang yang bersangkutan. Dengan dasar asumsi seperti ini, ia menganggap bahwa peningkatan produksi akan selalu di iringi dengan adanya peningkatan pada pendapatan, yang akhirnya akan di berpengaruh pula pada peningkatan permintaan. Jadi, dalam perekenomian yang menganut pasar persaingan sempurna tidak akan pernah terjadi kelebihan penawaran (excess supply). Kalaupun terjadi demikian, sifatnya hanya sementara. Pasar lewat tangan tak kentara atau invisible hand, sebagaimana yang di kemukakan oleh Adam smith dalam buknya The Wealth of Nations akan mengatur dirinya kembali ke arah keseimbangan. Misalnya, kalau penawaran terlalu besar di banding permintaan, stok barang akan naik, dan harga-harga di pasar akan turun. Turunnya harga ini, menyebabkan produsen tidak mau melakukan produksi barang, sehingga jumlah barang yang di tawarkan kembali sama dengan jumlah barang yang diminta. Pendapat Say bahwa produksi akan selalu menciptakan permintaannya sendiri menjadi pedoman dasar dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan ekonomi selama kurung waktu seratus tahun. Pada perkembangannya, kebijaksanaan-kebijasaannya itu kemudian di krtik sangat keras sebagai pangkal tolak terjadinya depresi besar-besaran tahun 1930. Hal ini telah di bahas dan di telaah oleh pemikiran-pemikiran Keyness pada pemikiran ekonomi selanjutnya. Selain terkenal dengan hukum supply its own demand di atas, Say sebetulnya dapat di katakan sebagai orang pertama yang berbicara tentang enterpreneur. Begitu juga ia adalah oarang

pertama yang berjasa mengklasifikasikan faktor-faktor produksi atas tiga bagian, yaitu: tanah, labor dan kapital (land, labor, and capital). Namun teori-teorinya tersebut kalah tenar di bandingkan hukum Say. Teori ini paling sering di kritik oleh Keynes sebagai pangkal sebab terjadinya depresi besar-besaran tahun 1930-an kemudian. Para ekonom yang percaya terhadap keampuhan mekanisme pasar dikelompokkan sebagai ekonomi Klasik (Economy Classic). Sedangkan teori-teori ekonominya dikenal sebagai Teori Ekonomi Klasik (Classical Economics Theory). Mungkin yang menjadi pertanyaan adalah mengapa para ekonom Klasik begitu yakin akan keampuhan mekanisme pasar? Jawabannya terletak pada asumsi-asumsi yang melatar belakangi model mekanisme pasar tersebut. Ketika membahas teori ekonomi mikro, beberapa asumsi pokok mekanisme pasar telah di bahas. Asumsi-asumsi tersebut adalah strukur pasar merupakan persaingan sempurna, informasi sempurna dan simetris, input dan output adalah homogen, para pelaku ekonomi bersifat rasional dan bertujuan memaksimunkan kegunaan dan keuntungan. Untuk lebih memperdalam pengertian Teori Ekonomi Klasik (Teori Klasik), ada dua asumsi penting yang harus di tambahkan. Asumsi pertama adalah proses penyesuaian lewat mekanisme pasar dapat tercapai seketika itu juga. Kita dapat mengabaikan kendala waktu dan tempat dalam menganalisis proses pertukaran antar para pelaku ekonomi. Artinya, dalam proses pertukaran, individu-individu yang terlibat tidak terbatasi oleh waktu dan tempat (timeless and placeless). Dengan demikian pasar adalah institusi yang tidak terbatasi oleh waktu dan tempat. Asumsi kedua adalah fungsi uang semata-mata sebagai alat transaksi (medium of exchange). Tidak ada penggunaan uang untuk tujuan spekulasi. Karenanya, uang tidak dapat mempengaruhi jumlah output yang di produksi para pelaku ekonomi. Yang dapat dipengaruhi oleh uang hanyalah tingkat harga. Bila jumlah uang beredar bertambah, harga barang dan jasa naik. Begitu juga sebaliknya. Asumsi kedua tersebut di atas di kenal sebagai asumsi netralitas uang (money neutrality) yang mempunyai konsekuensi harga bersifat fleksibel, dapat berubah seketika itu juga (price flexibility). Asumsi tersebut juga di kenal sebagai pemisahan antara sektor moneter dengan sektor riil oleh Teori Klasik (Classicaldichotomy).

Asumsi-asumsi Klasik mempunyai konsekuensi bahwa proses pertukaran adalah satusatunya cara untuk saling berinteraksi. Akibatnya fokus pembahasan Klasik adalah analisis perilaku individu (produsen dan konsumen) dalam rangka mencapai keseimbangan. Sebab jika setiap individu dalam perekonomian telah mencapai keseimbangan, maka perekonomian secara total mencapai keseimbangan. Itulah sebabnya teori Klasik identik dengan teori ekonomi mikro. Karena permintaan relatif tidak terbatas berdasarkan hukum Say, maka masalah sentral perekonomian adalah penawaran, baik penawaran input maupun output. Karena itulah juga ilmu ekonomi Klasik di kenal sebagai ilmu ekonomi yang sangat menekankan pada sisi penawaran (supply side economics). Say menganalisis hipotetis "equillibrium" yaitu: kondisi di mana produksi sama dengan konsumsi, yaitu upah harga sama. Kuantitas uang menengahi pertukaran antara upah dan harga. Ada juga sebuah kesetaraan antara pekerja dan produksi, karena jumlah produksi berasal dari jumlah tenaga kerja. Karakteristik deflasi akhir Abad 19 Amerika. Juga, perhatikan bahwa untuk peningkatan produksi datang dari kuantitas yang sama tenaga kerja, produktivitas harus meningkat, yaitu menghasilkan tenaga kerja lebih banyak barang untuk usaha yang sama. Nilai riil uang (dan nilai riil upah) dengan demikian meningkat, karena uang mencakup lebih banyak transaksi. Segala sesuatu yang lain hanyalah sebuah variasi dari ini, terutama karena variasi independen dalam jumlah uang beredar. Orang pertama yang berpendapat bahwa uang itu netral dalam efeknya pada perekonomian. Uang tidak dikehendaki demi dirinya sendiri, tetapi karena apa yang bisa membeli. Peningkatan jumlah uang yang beredar akan meningkatkan harga barang-barang lain dalam bentuk uang (menyebabkan inflasi), tapi tidak akan mengubah harga relatif barang atau kuantitas yang dihasilkan. Ide ini kemudian dikembangkan oleh para ekonom ke teori Kuantitas uang. Hukum alam mendukung perilaku ekonomi sehingga teratur, dapat diprediksi, dan universal. Dia menekankan peran akal dalam analisis ekonomi, penciptaan kekayaan, dan menghasilkan keuntungan. Melihat ekonomi sebagai suatu disiplin yang mampu mencapai kebenaran universal, metode ekonomi-nya adalah bahwa seorang esensialis dan seorang realis.

Dia tidak menyukai teori menara gading, tapi buta juga skeptis empirisisme dan akumulasi statistik matematika dan fakta-fakta tanpa teori yang berkaitan mereka. Dia menekankan pengamatan fakta-fakta realitas pada saat yang sama ia dipecat rasionalisme. Untuk melakukan hal ini ia diturunkan hukum-hukum ekonomi oleh induksi. Dia percaya bahwa ekonomi harus dimulai dengan alasan dan pengalaman pribadi manusia dari pada dengan abstrak matematika dan analisis statistik. Setelah hukum dan teori-teori itu dirumuskan, ia percaya. Dia kemudian mengujinya dengan pengamatan dan fakta. Kemudian menyampaikan gagasan ekonomi yang tepat dan sederhana dengan menggunakan bahasa yang mudah di mengerti. Menciptakan istilah "pengusaha" dan menekankan peran vital dan kreatif dari pengusaha dalam perekonomian sebagai peramal, proyek juru taksir, dan pengambil risiko. Dia melihat bahwa pengusaha yang efektif harus memiliki kualitas moral penghakiman dan ketekunan, dan juga memiliki pengetahuan tentang dunia. Dia menyadari bahwa kekayaan pada dasarnya dan awalnya metafisik dan hasil kreativitas, ide, imajinasi, dan inovasi. Dengan demikian ia meletakkan peran pengusaha di pusat teori ekonomi. Dia memahami bahwa kemajuan ekonomi memerlukan pengusaha dan akumulasi modal. Menolak teori nilai kerja yang diselenggarakan oleh Adam Smith dan ekonom klasik lainnya, dia menyatakan bahwa nilai dasar adalah utilitas, yaitu kemampuan barang atau jasa untuk memenuhi beberapa keinginan manusia. Ia memelihara subjektif teori utilitas nilai dari pada teori nilai kerja. Dia mengerti bahwa itu adalah cara dan sejauh mana pelanggan potensial nilai barang atau jasa yang menentukan nilai dan apakah atau tidak diproduksi. Dia mengakui bahwa harga-harga barang dan jasa mencerminkan utilitas mereka kepada pembeli dan bahwa harga faktor produksi yang diperhitungkan dari harga barang-barang yang diproduksi. Ia membedakan antara nilai pakai dan nilai tukar, tapi seperti Aristoteles keliru menyimpulkan bahwa semua transaksi pertukaran harus melibatkan pertukaran nilai sama. Dengan demikian pemikiran ekonomi dari Austria, seperti Carl Menger, yang mengakui pentingnya positive-sum transaksi melalui yang baik pembeli dan penjual mendapatkan utilitas. Selain itu, dia orang yang cerdas, tapi agak pendek menemukan teori utilitas marjinal. Dia melihat bahwa produksi adalah sumber atau penyebab konsumsi, pasokan atas permintaan yang ditempatkan dalam hierarki ekonomi. Sebuah kemampuan seseorang untuk

permintaan barang dan jasa dari orang lain hasil dari pendapatan yang dihasilkan oleh tindakan sendiri produksi. Tingkat produksi Nya menentukan kemampuannya untuk permintaan. Produk menuntut memerlukan agar mempunyai uang yang pada gilirannya, memerlukan tindakan sebelumnya pasokan. Produksi barang menyebabkan pendapatan yang harus dibayar kepada mereka yang memproduksi. Dengan kata lain, seseorang menjual jasa tenaga kerja atau aset untuk uang yang kemudian digunakan untuk permintaan produk. Pada akhirnya, ketika pertukaran telah dilakukan, akan ditemukan bahwa seseorang telah membayar untuk barang dan jasa dengan barang dan jasa lainnya. Permintaan untuk setiap komoditi adalah fungsi dari pasokan komoditas lain. Kebutuhan untuk menawarkan baik untuk permintaan baik lainnya jelas dalam perekonomian barter, tetapi juga berlaku dalam pertukaran uang atau tidak langsung pada perekonomian. Kekayaan diciptakan oleh produksi dan bukan oleh konsumsi. Konsumsi benar-benar akan menggunakan utilitas atau kekayaan. Permintaan (yaitu, konsumsi) mengikuti dari produksi kekayaan. Orang menciptakan permintaan dari kekayaan produksi mereka diciptakan. Apa tuntutan seseorang didasarkan atas apa yang dia suply. Demikian diakui bahwa semua manusia baik produsen dan konsumen dan bahwa jika seseorang ingin mendapatkan yang baik, ia harus memberikan sesuatu sebagai balasan yang diinginkan yang lain.

Uang adalah sarana yang diperlukan untuk memperoleh barang-barang yang satu keinginan. Namun, dalam rangka untuk mendapatkan uang, seseorang harus terlebih dahulu memproduksi suatu barang atau jasa yang akan ditukar dengan uang. Tidak seorang pun dapat secara sah menuntut sesuatu sebelum pertama menyediakan produk atau layanan yang bernilai kepada orang lain. Itu adalah mungkin untuk memiliki surplus atau kekurangan komoditas tertentu. Produksi dapat menjadi salah arah dan terlalu banyak dari beberapa produk dapat diproduksi yang ada tidak mencukupi permintaan.

Dia mengatakan bahwa produksi gluts tidak terjadi melalui produksi berlebih umum, tetapi melalui kelebihan produksi barang-barang tertentu dalam proporsi kepada orang lain yang underproduced. Ia mengakui bahwa ada dapat jangka pendek gluts komoditi tertentu. Pasar, kiri ke perangkat sendiri, izin ketidakseimbangan seperti itu harus diperbaiki melalui penyesuaian harga dan biaya.

Setiap ketidakseimbangan dalam perekonomian ada hanya karena proporsi internal output berbeda dari proporsi disukai oleh konsumen, bukan karena produksi yang berlebihan dalam agregat. Maka Hukum Katakanlah sekali tidak berarti bahwa semua produk pada akhirnya akan menuntut di pasar. Pasokan yang baik tidak menjamin akan menjadi permintaan efektif oleh produsen yang baik untuk barang-barang lain. Jika persediaan tidak menjual, harga akan dipotong sampai, dan jika, memang. Karena itu, harga yang lebih rendah dari beberapa barang berarti bahwa orang memiliki lebih banyak uang untuk membeli barang dan jasa lainnya. Melalui sistem harga penawaran dan permintaan pasar menyesuaikan dan jelas apakah sistem pasar dibiarkan bebas untuk melakukan fungsi keseimbangan dan proporsi. Ini adalah melalui perubahan harga yang saat ini pasokan dijatah antara yang meminta hari ini. Harga membawa proporsi yang tepat dan harga berkomunikasi sinyal informasi untuk masa depan keputusan alokasi dan pasokan. Penghematan adalah Orang tidak menghabiskan semua kekayaan yang produksi mereka diciptakan. Permintaan terhadap barang dan jasa saat ini gagal untuk mencocokkan nilai dari apa yang telah diproduksi sebagai orang memilih untuk memegang beberapa di antaranya dalam bentuk moneter. Menurut Say, tabungan yang bermanfaat dan lebih baik daripada konsumsi karena digunakan dalam produksi barang modal atau produksi tambahan. Sebaliknya, konsumsi tidak memberikan rangsangan untuk kekayaan. Ketika konsumsi melebihi produksi, perbedaan adalah tabungan yang pergi ke arah barang-barang investasi produksi dan investasi merupakan dasar untuk pertumbuhan di masa depan. Seperti proses reinvestment didorong oleh pengusaha. Jika uang disimpan dalam bentuk uang yang diciptakan bank seperti rekening giro, yang diadakan kembali daya konsumsi akan ditransfer ke peminjam dari bank yang menciptakannya.

Dengan kata lain, kekuatan untuk mengkonsumsi dialihkan kepada peminjam. Tidak akan ada kekurangan dalam permintaan agregat selama sistem perbankan bebas untuk melaksanakan proses transformasi deposan tabungan ke peminjam 'pengeluaran. Selama tabungan diinvestasikan kembali dalam produktif menggunakan secara agregat ada perlu ada penurunan pendapatan, produksi, atau konsumsi. Katakanlah berpendapat bahwa penghematan mencari keuntungan dengan cepat masuk ke dalam investasi untuk produksi. Tabungan lebih tinggi membawa tingkat lebih tinggi dari pertumbuhan berikutnya output agregat. Hal ini terjadi karena orang lain meminjam uang yang akan menghasilkan jumlah yang lebih besar barang. Maka, orang perlu insentif untuk bekerja, menabung, investasi, dan pengambilan risiko. Ia mengatakan bahwa wawasan adalah bahwa pendapatan selalu benar-benar dihabiskan untuk komoditas memuaskan keinginan saat ini (yaitu, konsumsi) atau pada masa depan komoditas memuaskan keinginan (yakni, akumulasi tabungan) dan tabungan sangat penting jika ekonomi tumbuh. Permintaan demikian berasal dari penawaran kapan pun Anda membutuhkannya. Orang-orang menabung untuk memperluas produksi atau hidup pada saat tabungan mereka dan saat mereka membutuhkannya. Tabungan membeli waktu bagi orang untuk melakukan lebih dari sekadar bekerja. Bisa dikatakan bahwa konsumsi adalah penyebab akhir produksi dan bahwa tabungan adalah penyebab efisien produksi. Ia mengajarkan bahwa pendapatan tidak ditujukan untuk konsumsi akan dibelanjakan untuk investasi dan bahwa pasar akan secara otomatis dan cukup cepat kembali ke arah equilibrium. Say berpendapat bahwa uang adalah mekanisme yang netral penawaran agregat berubah menjadi permintaan agregat. Dia memandang uang sebagai perantara baik atau saluran yang memungkinkan orang untuk membeli. Dia menggambarkan evolusi spontan suatu komoditi menjadi uang. Dalam sistem, uang berfungsi terutama sebagai alat tukar dan tidak secara eksplisit diidentifikasi sebagai penyimpan kekayaan. Mencela manipulasi uang negara melalui kehinaan dari nilai mata uang. Dia mengamati bahwa manipulasi semacam nilai-nilai moneter mengacaukan sistem harga. Dia memandang inflasi sebagai fenomena moneter bukan hasil dari kerja yang berlebihan

dan pertumbuhan ekonomi. Suku bunga dipandang sebagai harga kredit. Dia mengerti yang ditentukan oleh pasar bahwa tingkat suku bunga menjalankan fungsi dari harga kliring pasar uang. Namun, ia tidak secara eksplisit mengakui atau membahas hubungan antara tingkat suku bunga dan waktu preferensi seperti halnya para pemikir Austria yang kemudian. Hukum Say, tengara pada pencapaian integrasi dalam ilmu ekonomi, merupakan fondasi penting bagi realitas berbasis teori makroekonomi. Hal ini mencerminkan keterkaitan, realitas, dan harmoni perilaku ekonomi manusia dalam suatu ekonomi pasar bebas. Memproduksi membutuhkan rasionalitas dan kepentingan pribadi. Adalah tidak rasional dan bertentangan dengan sifat manusia tidak untuk memproduksi atau untuk menghasilkan kurang dari satu kebutuhan untuk memproduksi. Produksi adalah penting dan utama bagi keberadaan manusia. Dengan demikian mengakui fakta bahwa produksi yang membuka permintaan produk. Dia melihat bahwa uang bukanlah penyebab kemakmuran tetapi adalah efeknya. Melalui Francisco wataknya d'Anconia yang berkata: "Uang hanya dimungkinkan oleh orang-orang yang memproduksi. Ketika Anda menerima uang pembayaran untuk usaha Anda, Anda lakukan sehingga hanya pada keyakinan bahwa Anda akan menukarnya dengan produk dari usaha orang lain. "Katakanlah Hukum adalah implisit seluruh uang bicara. Penuh kekuatan penjelas dari Hukum Pasar adalah bahwa, karena integrasi semua pasar individu ke dalam satu sistem berfungsi, itu harus menjadi kenyataan bahwa pemerintah tidak perlu khawatir dengan merangsang permintaan artifisial. Ada satu harmonis diri memperbaiki sistem. Sistem seperti ini mengarah kepada stabilitas, keadilan, perdamaian, dan kemakmuran. Hal ini tidak mengherankan bahwa banyak menganggap Hukum ini menjadi luas, paling kuat, dan integrasi konseptual yang paling mendasar dalam disiplin ilmu ekonomi.

DAFTAR PUSTAKA

http://shinry.blogspot.com/2013/03/pandangan-para-tokoh-teori-ekonomi.html http://nanxsu.blog.com/2012/03/27/teori-ekonomi-klasik/ http://thisismeandmyloyalty.blogspot.com/2013/06/aliran-pra-klasik-dan-klasik-sejarah.html http://catatanharianslimshaldy.blogspot.com/2013/01/sejarah-pemikiran-ekonomi-praklasik.html http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_pemikiran_ekonomi