Vous êtes sur la page 1sur 6

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN

Disusun oleh : Kinasih Citra Arumi / 05332 Kel. I Co. ass. Elly S.

ACARA III PENGUKURAN KUALITAS FISIK KIMIA DALAM EKOSISTEM SUNGAI

A. Tujuan Mengetahui kondisi perairan sungai secara sederhana

B. Dasar teori Faktor fisik-kimia air dari suatu ekosistem perairan sangat berpengaruh terhadap kehidupan biotanya. Faktor-faktor yang berpengaruh antara lain kandungan oksigen (oksigen terlarut). Suplai oksigen ke dalam air dapat melalui dua sumber, yaitu melalui difusi (sirkulasi) dari udara dan fotosintesis tanaman air. Oksigen didifusikan ke air dengan sangat lamban kecuali bila dibantu oleh angin atau gerakan air, sementara penetrasi cahaya merupakan faktor penting dalam produksi oksigen fotosinstesis (Odum, 1971: 126). Bjorkman (1966) melaporkan bahwa beberapa tumbuhan mengalami peningkatan laju fotosintesis sebesar 50 % saat konsentrasi oksigen disekitarnya menurun 5 % . Oksigen terlarut (DO = Dissolved Oxygen) diukur secara

titrametrically dengan metode Winkler atau secara elektronik, menggunakan salah satu dari beberapa tipe elektroda oksigen dan eksperimen selama satu kali 24 jam atau kurang dari itu (Gaarder dan Gran, 1927). Namun demikian metode tersebut kurang efesien dalam penggunaannya. Oleh karena itu saat ini telah ada alat yang lebih praktis yaitu oxymeter. Selain kandungan oksigen faktor lain yang dapat diukur untuk mengetahui kualitas sungai adalah suhu.

Suhu sering dikaitkan dengan zonasi dan stratifikasi baik dalam lingkungan darat maupun perairan. Selain itu juga merupakan salah satu faktor lingkungan yang mudah diukur (Odum, 1971: 117). Suhu perairan berkaitan erat dengan faktor lingkungan lain, misalnya aktivitas bakteri pengurai dan lain-lain. Sama halnya suhu perairan, pH sangat berkaitan erat dengan aktivitas dekomposer. pH yang terlalu tinggi sangat menghambat aktivitas biota perairan, sehingga menyebabkan terhambatnya aktivitas lainnya dalam ekosistem (Poedjirahajoe dan Mahayani, 2005). Faktor lain yang juga mempengaruhi lingkungan perairan adalah kebeningan (transparency = kejernihan). Penetrasi cahaya sering dibatasi oleh material suspensi, yang membatasi zona fotosintesis meskipun berada pada habitat air dengan kedalaman memungkinkan. Turbiditas, khususnya saat disebabkan oleh lumpur dan partikel tanah, sering juga menjadi faktor pembatas. Kebeningan dapat diukur dengan alat yang sederhana yang disebut Secchi disk. Secchi disk transparency menunjukkan zona penetrasi cahaya ke bawah sekitar 5 % dari energi matahari yang menyentuh permukaan. Sementara itu fotosintesis dapat terjadi pada intensitas yang lebih rendah, level 5 % menandai batas terendah dari zona fotosintesis utama. Meskipun saat ini telah banyak alat yang modern dan lebih akurat untuk pengukuran fotosintesis, namun secchi disk masih dipertimbangkan sebagai alat yang bermanfaat bagi limnologist (Hutchinson, 1957: 399). Selain faktor di atas, faktor aliran (current) merupakan salah satu faktor yang sangat penting, terutama pada perairan sungai (stream). Aliran air menentukan distribusi dari gas-gas vital, garam, serta organisme mikro (Odum, 1971 : 297). Dengan mengetahui kondisi fisik-kimia air, maka dapat diketahui sedini mungkin gangguan terhadap ekosistem perairan, karena data mengenai faktor fisik-kimia perairan dapat digunakan sebagai tolok ukur atau kontrol dalam melakukan pengelolaan kawasan ekosistem perairan.

C. Cara Pengamatan 1. Menuju ke sungai di daerah sekitar, kemudian diamat kondisi sungainya.

2. Dicatat warna air, bau, benda-benda yang terapung di permukaan sungai (seperti : sampah kebun, botol plastik, tas kresek, dsb.) 3. Dicatat binatang dan tumbuhan yang ada di permukaan air atau bantaran sungai. 4. Dicatat kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan sungai tersebut. 5. Diukur suhu air menggunakan termometer. 6. Diukur ph menggunakan ph stik. 7. Diukur kebeningan air menggunakan Secchidisk 8. Diukur kecepatan arus air sungai menggunakan current meter. 9. Diukur oksigen terlarut dalam air dengan oxymeter.

D. Hasil Pengamatan Tabel pengamatan dan pengukuran kualitas fisik-kimia di Sungai Code (Pogungrejo) 20 November 2005 No. 1 2 3 4 5 6 Kualitas fisik-kimia DO (ppm) Temperatur (0C) pH Salinitas(gr/1 NaCl) Kebeningan (cm) Ul I 2,3 28 6 1=5,85 27,5 2,2 28 6 1=5,85 39,5 0,22013 Ul II Ul III 2,3 28 6 1=5,85 61,5 Rata-rata 2,26 28 6 5,85 42,83 0,21369

a. Kecepatan aliran tempat 0,20725 dangkal b. Kecepatan aliran tempat 0,167 dalam

0,20725

0,187125

Tabel pengamatan kondisi sungai Code No. 1 2 Warna air Benda-benda terapung Kondisi Keterangan Coklat muda (keruh) Daun, kotoran manusia, sampah dapur, kantong kresek, plastik 3 Binatang Bebek, anjing, ayam, burung cekakak, burung perenjak, burung walet 4 Tumbuhan Pisang, talas, rumput, kangkung, enceng gondok

Kegiatan masyarakat

Kolam ikan, ternak

E. Pembahasan Dari hasil pengamatan dan pengukuran kualitas fisik-kimia serta kondisi sungai Code diperoleh hasil seperti yang tertera pada tabel-tabel di atas, maka kemudian dapat dilakukan analisis sederhana mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kulaitas perairan tersebut. Dilihat dari kandungan oksigen terlarutnya terukur rata-rata 2,26 ppm, merupakan kandungan yang cukup untuk perairan tersebut. Namun hal ini belum dapat dipastikan karena hasil pengukuran tidak dibandingkan dengan standar baku air. Namun diketahui bahwa kandungan oksigen yang rendah menyebabkan perairan dalam keadaan yang kurang optimal untuk fotosintesis. Bjorkman (1966) melaporkan bahwa beberapa tumbuhan mengalami peningkatan laju fotosintesis sebesar 50 % saat konsentrasi oksigen disekitarnya menurun 5 % . Pada perairan tersebut, terukur temperaturnya 280C. Pada perairan sungai ini tidak terdapat stratifikasi suhu, karena pengukuran hanya dilakukan pada satu lokasi yaitu pada permukaan dengan ulangan tiga kali dan hasilnya sama. Suhu 280C ini merupakan suhu yang optimal bagi suatu perairan. Pengukuran pH menunjukkan bahwa pHnya cukup netral yaitu 6. Kondisi ini menunjukkan bahwa perairan tersebut tidak berada pada kondisi yang terlalu asam atau basa, dan cukup optimal untuk habitat organisme perairan. Namun dilihat dari lingkungan sekitar, perairan ini nampaknya telah mengalami pencemaran sebagai akibat dari buangan limbah rumah tangga, misalnya sabun atau deterjen yang dapat mempengaruhi pH walaupun masih pada batas yang masih bisa ditolerir oleh biota perairan. pH yang terlalu tinggi sangat menghambat aktivitas biota perairan, sehingga menyebabkan terhambatnya aktivitas Mahayani, 2005). Salinitas dari perairan tersebut menunjukkan 5,85 gr/NaCl setelah dikonversikan dari salintest yang menunjukkan angka 1 (satu). Dari hasil tersebut terlihat bahwa perairan tersebut airnya tawar. Sungai pada umumnya memang merupakan lingkungan perairan dengan air tawar. Kondisi ini tidak lainnya dalam ekosistem (Poedjirahajoe dan

membatasi aktivitas biota perairan, sehingga pada sekitar sungai masih banyak ditemui tanaman air. Air pada sungai ini agak keruh, berwarna coklat muda. Secchi disk mulai tidak tampak pada kedalaman 27,5 cm dan rata-rata pada 42,83 cm. Pada tempat yang dalam (tengah sungai) airnya makin keruh. Hal ini disebabkan karena pengaruh suspensi tanah yang mengikuti aliran. Pada daerah tepian airnya lebih bening, karena tidak terpengaruh turbulensi atau gerakan airnya relatif lebih tenang. Kebeningan ini secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh kecepatan aliran. Faktor aliran (current) merupakan salah satu faktor yang sangat penting, terutama pada perairan sungai (stream). Aliran air menentukan distribusi dari gas-gas vital, garam, serta organisme mikro (Odum, 1971 : 297). Aliran air membawa serta suspensi atau material-material alami ataupun sampah dari manusia. Semakin cepat aliran, maka materi yang terbawa akan semakin cepat terbawa arus dan tidak disedimentasikan. Sungai tersebut secara umum dapat dikatakan tidak memiliki kualitas fisik-kimia yang bagus, karena hasil dari pengukuran dan pengamatan menunjukkan masih kurang baik bagi suatu ekosistem perairan. Sungai tersebut menjadi kotor antara lain disebabkan karena aktivitas manusia. Masih ditemui sampah-sampah rumah tangga di sungai tersebut serta limbah cair dari sistem pembuangan. Selain itu air sungainya yang keruh menandakan bahwa telah terjadi erosi di sekitar kawasan bantaran sungai, khususnya di daerah hulu. Aktivitas manusia, misalnya bertani dengan menggunakan pupuk kimia, juga dapat menyebabkan terganggunya ekosistem perairan karena air yang meresap ke tanah akhirnya juga akan menuju sungai. Untuk mengendalikan sungai dari kerusakan dapat dilakaukan diantaranya usaha penghijauan di daerah bantaran atau sempadan sungai, khususnya di daerah hulu. Namun demikian untuk memulai usaha pengendalian sungai dari kerusakan tidak dapat dilakukan jika sungai diplotplotkan menjadi bagian hulu atau hilir. Dalam pengelolaan sebaiknya dikolaborasikan antara pengelola daerah hulu dengan daerah hilir. Karena erosi atau pencemaran tidak terjadi di daerah hulu saja, tetapi di daerah hilir pun pencemaran tetap dapat terjadi. Daerah bantaran atau sempadan sungai juga tidak seutuhnya menjadi penyebab kerusakan sungai, karena aktivitas manusia di perkotaan secara tidak langsung menjadi penyebab rusaknya

sungai. Hal tersebut dapat terjadi karena sistem pembuangan (drainase) dan tata air kota belum diperhatikan secara kompleks. Oleh sebab itu, untuk mengendalikan sungai dari kerusakan dan pencemaran dibutuhkan partisipasi dari semua pihak serta kesadaran manusia itu sendiri untuk memperhatikan masalah vital ini yakni ekologi perairan.

F. Kesimpulan Dari hasil pengamatan dan pengukuran kondisi sungai secara sederhana dapat disimpulkan beberapa hal yakni : 1. Pengukuran DO rata-rata 2,26 ppm 2. Pengukuran temperatur 280C 3. Pengukuran pH rata-rata 6 4. Pengukuran salinitas 5,85 gr/NaCl, 5. Pengukuran kebeningan air relatif keruh 6. Kecepatan aliran tempat dangkal 0,21369 Kecepatan aliran tempat dalam 0,187125 Dari pengukuran kualitas fisik-kimia di atas menunjukkan bahwa sungai tersebut secara umum dapat dikatakan tidak memiliki kualitas fisikkimia yang bagus. Untuk mengendalikan sungai dari kerusakan dan pencemaran dibutuhkan partisipasi dari semua pihak serta kesadaran manusia itu sendiri untuk memperhatikan masalah vital ini yakni ekologi perairan.

G. Daftar Pustaka Bjorkman, J. 1966. The Effect of Oxygen Concentration on Photosynthesis in Higher Plants. Physiol. Plantarum. (19: 618-663) Gaarder, T., and Gran, H. H. 1927. Investigations of The Production of Plankton in the Oslo Fjord. Rapp. et Proc,-Verb., Cons. Int. Explor. (42: 1-48). Hutchinson, G. E. 1957. A Treatise in Limnology. Geography, Physics and Chemistry, Vol. I. John Wiley & sons. New York. 1015 pp. Odum, Eugene P. 1971. Fundamentals of Ecology. W. B. Saunder Company. Philadelphia London Toronto. Poedjirahajoe, E., dan Ni Putu Diana Mahayani. 2005. Petunjuk Praktikum Ekologi Perairan (KTK 312). Lab. Ekologi Hutan Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan FKT UGM. Yogyakarta.