Vous êtes sur la page 1sur 17

GEOLOGI TATA LINGKUNGAN

POTENSI GERAKAN TANAH (Meteseh, Lapangan Tembak)

Disusun oleh : Kelompok 4

Ajiditya Putro Fadhlillah 21100110130074 Astri Indra Bilfaqih Danu 09 Fatir Lutfi Hakim

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG MEI 2013


1

BAB I KAJIAN

1.1

GEOLOGI REGIONAL DAERAH SEMARANG Lokasi studi secara alluviumative mencakup wilayah Kotamadya

Semarang, Propinsi Jawa Tengah. Secara geografis terletak pada koordinat 1101620 110 3029 Bujur Timur dan 6 5534 7 0704 Lintang Selatan dengan luas daerah sekitar 391,2 Km2 Wilayah Kotamadya Semarang sebagaimana daerah lainnya di Indonesia beriklim tropis, terdiri dari musim kemarau dan musim hujan silih berganti sepanjang tahun. Besarnya rata-rata jumlah curah hujan tahunan wilayah Semarang utara 2000 2500 mm/tahun dan Semarang bagian selatan antara 2500 3000 mm/tahun. Sedangkan curah hujan rata-rata per bulan berdasarkan data dari tahun 1994 1998 berkisar antara 58 338 mm/bulan, curah hujan tertinggi di daerah pemetaan terjadi pada bulan Oktober sampai bulan April dengan curah hujan antara 176-338 mm/bulan, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Mei sampai bulan September dengan curah hujan antara 58 131 mm/bulan. 1.1.1 Morfologi daerah Morfologi daerah studi berdasarkan pada bentuk topografi dan kemiringan lerengnya dapat dibagi menjadi 7 (tujuh) satuan morfologi yaitu: 1.1.1.1 Dataran Merupakan daerah dataran lluvium pantai dan sungai dan setempat di bagian baratdaya merupakan punggungan lereng perbukitan, bentuk lereng umumnya datar hingga sangat landai dengan kemiringan lereng medan antara 0 5% (0-3%), ketinggian tempat di baruan utara antara 0 25 m dpl dan di baguan baratdaya ketinggiannya antara 225 275 m dpl. Luas penyebaran sekitar 164,9 km2 (42,36%) dari seluruh daerah studi. 1.1.1.2 Daerah bergelombang

Satuan morfologi ini umumnya merupakan punggungan, kaki bukit dan lembah sungai, mempunyai bentuk permukaan bergelombang halus dengan kemiringan lereng medan 5 10% (3-9%), ketinggian tempat antara 25 200 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 68,09 km2. (17,36%) dari seluruh daerah studi. 1.1.1.3 Pebukitan berlereng landai Satuan morfologi ini merupakan kaki dan punggungan perbukitan, mempunyai bentuk permukaan bergelombang landai dengan kemiringan lereng 10 15 % dengan ketinggian wilayah 25 435 m dpl. Luas penyebaran sekitar 73,31 km2 (18,84%) dari seluruh daerah pemetaan. 1.1.1.4 Pebukitan belereng Agak Terjal Satuan morfologi ini merupakan lereng dan puncak perbukitan dengan lereng yang agak terjal, mempunyai kemiringan lereng antara 15 30%, ketinggian tempat antara 25 445 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 57,91Km2 (14,8%) dari seluruh daerah studi. 1.1.1.5 Perbukitan Berlereng Terjal Satuan morfologi ini merupakan lereng dan puncak perbukitan dengan lereng yang terjal, mempunyai kemiringan lereng antara 30 50%, ketinggian tempat antara 40 325 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 17,47 Km2 (4,47%) dari seluruh daerah studi. 1.1.1.6 Perbukitan Berlereng Sangat Terjal Satuan morfologi ini merupakan lereng bukit dan tebing sungai dengan lereng yang sangat terjal, mempunyai kemiringan lereng antara 50 70%, ketinggian tempat antara 45 165 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 2,26 Km2 (0,58%) dari seluruh daerah studi. 1.1.1.7 Perbukitan Berlereng Curam Satuan morfologi ini umumnya merupakan tebing sungai dengan lereng yang curam, mempunyai kemiringan >70%, ketinggian tempat antara 100 300 m dpl. Luas penyebarannya sekitar 6,45 Km2 (1,65%) dari seluruh daerah studi. 1.1.2 Tata guna lahan Penggunaan lahan di wilayah Kotamadya Semarang terdiri dari wilayah terbangun (Build Up Area) yang terdiri dari pemukiman, perkantoran
3

perdagangan dan jasa, kawasan industri, transportasi. Sedangkan wilayah tak terbangun terdiri dari tambak, pertanian, dan kawasan perkebunan dan konservasi. 1.1.3 Gerakan tanah Dari hasil analisis kemantapan lereng diketahui bahwa tanah pelapukan batu lempung mempunyai sudut lereng kritis paling kecil yaitu 14,85%. pelapukan napal sudut lereng kritisnya adalah 19,5% , Pelapukan batu pasir tufaan mempunyai sudut lereng kritis 20,8% dan pelapukan breksi sudut lereng kritisnya 23,5%. Berdasarkan analisis di atas maka daerah Kotamadya Semarang dapat dibagi menjadi 4 zona kerentanan gerakan tanah, yaitu Zona Kerentanan Gerakan Tanah sangat Rendah, Rendah, Menengah dan Tinggi. 1.1.3.1 Zona Kerentanan Gerakan Tanah Sangat Rendah Daerah ini mempunyai tingkat kerentanan sangat rendah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini sangat jarang atau tidak pernah terjadi gerakan tanah, baik gerakan tanah lama maupun gerakan tanah baru, terkecuali pada daerah tidak luas di sekitar tebing sungai. Merupakan daerah datar sampai landai dengan kemiringan lereng alam kurang dari 15 % dan lereng tidak dibentuk oleh endapan gerakan tanah, bahan timbunan atau lempung yang bersifat mengembang. Lereng umumnya dibentuk oleh endapan aluvium, batu pasir tufaan, breksi volkanik, dan lava andesit. Daerah yang termasuk zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah sebagian besar meliputi bagian utara Kodya Semarang, mulai dari Mangkang, kota semarang, Gayamsari, Pedurungan, Plamongan, Gendang, Kedungwinong, Pengkol, Kaligetas, Banyumanik, Tembalang, Kondri dan Pesantren, dengan luas sekitar 222,8 Km2 (57,15%) dari seluruh daerah studi. 1.1.3.2 Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan rendah untuk terjadi gerakan tanah. Umumnya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng dan jika terdapat gerakan tanah lama, lereng telah mantap

kembali. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin dapat terjadi, terutama pada tebing lembah (alur) sungai. Kisaran kemiringan lereng mulai dari landai (5 5%) sampai sangat terjal (50 70%). Tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah pembentuk lereng. Pada lereng terjal umumnya dibentuk oleh tanah pelapukan yang cukup tipis dan vegetasi penutup baik cukup tipis dan vegetasi penutup baik, umumnya berupa hutan atau perkebunan. Lereng pada umumnya dibentuk oleh breksi volkanik, batu pasir tufaan, breksi andesit dan lava. Daerah yang termasuk zona ini antara lain Jludang, Salamkerep, Wonosari, Ngaliyan, Karangjangkang, Candisari, Ketileng, Dadapan, G. Gajahmungkur, Mangunsari, Prebalan, Ngrambe, dan Mijen dengan luas penyebaran 77,00 km2 (19,88%) dari luas daerah studi. 1.1.3.3 Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi. Kisaran kemiringan lereng mulai dari landai (5 15%) sampai sangat terjal (50 70%). Tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah sebagai material pembentuk lereng. Umumnya lereng mempunyai vegetasi penutup kurang. Lereng pada umumnya dibentuk oleh batuan napal, perselingan batu lempung dan napal, batu pasir tufaan, breksi volkanik, lava dan lahar. Penyebaran zona ini meliputi daerah sekitar Tambakaji, Bringin, Duwet, Kedungbatu, G. Makandowo, Banteng, Sambiroto, G. Tugel, Deli, Damplak, Kemalon, Sadeng, Kalialang, Ngemplak dan Srindingan dengan luas sekitar 64,8 Km2 (16,76%) dari seluruh daerah studi. 1.1.3.4 Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi

Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini sering terjadi gerakan tanah, sedangkan gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak akibat curah hujan tinggi dan erosi yang kuat. Kisaran kemiringan lereng mulai landai (5 15%) sampai curam (>70%). Tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah. Vegetasi penutup lereng umumnya sangat kurang. Lereng pada umumnya dibentuk oleh batuan napal (Tmkl), perselingan batu lempung dan napal, batu pasir tufaan dan breksi volkanik. Daerah yang termasuk zona ini antara lain: Pucung, Jokoprono, Talunkacang, Mambankerep, G. Krincing, Kuwasen, G. Bubak, Banaran, Asinan, Tebing Kali Garang dan Kali Kripik bagian tengah dan selatan, Tegalklampis, G. Gombel, Metaseh, Salakan dan Sidoro dengan luas penyebaran sekitar 23,6 km2 (6,21%) dari seluruh daerah studi.

BAB II ANALISIS
DAERAH PENGAMATAN (METESEH, LAPANGAN TEMBAK, SEMARANG )

Gambar 2.1 Lokasi Pengamatan Dari Citra Landsat Google Map

Gambar 2.2 Lokasi Pengamatan Dari Google Earth

2.1 STA 1 Daerah Meteseh, Lapangan Tembak Lokasi Pengamatan 1 (LP 1) Lokasi Tanggal Cuaca Morfologi Dimensi : Meteseh : 3 Mei 2013 : Cerah/Panas : Perbukitan : Panjang Tinggi =4m =8m
Longsoran

Gambar 2.3 STA 1 LP 1 8

Litologi Vegetasi

: Soil pelakukan dari pasir, Pasir halus, : Rerumputan dan Pepohonan

Proses Geomorfik : Mass Wasting Tata Guna Lahan : Jalan alternatif Morfogenesa : Lahan longsor ini terbentuk dari proses pergerakan tanah atau mass wasting yaitu

terjadinya longsor atau perpindahan tanah yang disebabkan oleh curah hujan yang ekstrim dan tanah yang tidak stabil. Curah hujan yang ekstrim menyebabkan litologi dibawah aspal jalan tersebut terlapukan secara terus menerus. Dengan litologi daerah tersebut yang berupa pasir menyebabkan semakin tidak resistennya batuan tersebut. Batu pasir memiliki tingkat permeabel yang baik dan dapat menampung air dengan baik sehingga dengan curah hujan yang ekstrim dapat

mengakibatkan potensi longsor. Jenis dari gerakan tanah ini adalah longsoran bahan rombakan yang merupakan gerakan massa batuan atau hasil pelapukan batuan melalui bidang longsoran yang relatif turun secara meluncur.

2.2 STA 1 Daerah Meteseh, Lapangan Tembak Lokasi Tanggal Cuaca Morfologi Dimensi : Meteseh : 3 Mei 2013 : Cerah/Panas : Perbukitan : Panjang Tinggi =3m =8m

Longsoran

Gambar 2.4 STA 2 LP 1

Litologi

: Soil pelakukan dari pasir, Pasir halus - sedang


10

Vegetasi

: Rerumputan dan Pepohonan

Proses Geomorfik : Mass Wasting Morfogenesa : Lahan longsor ini terbentuk dari proses pergerakan tanah atau mass wasting yaitu

terjadinya longsor atau perpindahan tanah yang kemungkinkan disebabkan oleh turunnya hujan dan tanah yang labil. Curah hujan yang ekstrim menyebabkan litologi dibawah aspal jalan tersebut terlapukan secara terus menerus. Dengan litologi daerah tersebut yang berupa pasir menyebabkan semakin tidak resistennya batuan tersebut. Batu pasir memiliki tingkat permeabel yang baik dan dapat menampung air dengan baik sehingga dengan curah hujan yang ekstrim dapat

mengakibatkan potensi longsor. Jenis dari gerakan tanah ini adalah slump yang merupakan gerakan terputus putus atau tersedat sedat dari massa tanah atau batuan ke arah bawah dalam jarak yang relatif pendek, melalui bidang lengkung dengan kecepatan ekstrim lambat sampai cepat.

11

2.3 STA 3 Daerah Meteseh, Lapangan Tembak Lokasi Pengamatan 1 (LP 1) Lokasi Tanggal Cuaca Morfologi Dimensi : Meteseh : 3 Mei 2013 : Cerah/Panas : Perbukitan : Panjang Tinggi =3m =8m
Longsoran

Gambar 2.5 STA 3 LP 1

Litologi

Soil

pelakukan

dari

pasir,

Pasir

kasar,

Konglomerat
12

Vegetasi

: Rerumputan dan Pepohonan

Proses Geomorfik : Mass Wasting Morfogenesa : Lahan longsor ini terbentuk dari proses pergerakan tanah atau mass wasting yaitu

terjadinya longsor atau perpindahan tanah yang kemungkinkan disebabkan oleh turunnya hujan dan tanah yang labil. Curah hujan yang ekstrim menyebabkan litologi dibawah aspal jalan tersebut terlapukan secara terus menerus. Dengan litologi daerah tersebut yang berupa pasir menyebabkan semakin tidak resistennya batuan tersebut. Batu pasir memiliki tingkat permeabel yang baik dan dapat menampung air dengan baik sehingga dengan curah hujan yang ekstrim dapat

mengakibatkan potensi longsor. Jenis dari gerakan tanah ini adalah Blok gride yang merupakan gerakan turun ke bawah dari massa tanah atau batuan yang berupa blok dengan kecepatan lambat sampai agak cepat. Saat ditinjau dilapangan longsoran tersebut terjadi dikarenakan terdapat indikasi adanya struktur geologi berupa sesar. Namun karena lahannya susah terlapukan maka sulit dikenali mana bidang sesarnya. Pada daerah tersebut juga terdapat longsoran berupa slump yang merupakan gerakan terputus putus atau tersedat sedat dari massa tanah atau batuan ke arah bawah dalam jarak yang relatif pendek, melalui bidang lengkung dengan kecepatan ekstrim lambat sampai cepat.

13

2.4 Analisis Lokasi Pengamatan Kota Semarang merupakan salah satu Kota didaerah Jawa Tengah yang memiliki topografi yang berbahaya. Banyak jalan jalan dan daerah yang memiliki kemiringan lereng yang terjal. Selain menyebabkan seringnya kecelakaan lalulintas, topografi yang ekstrim ini juga dapat menyebabkan terjadi bencana alam seperti tanah longsor (gerakan tanah). Bencana alam sebagai peristiwa alam dapat terjadi setiap saat dimana saja dan kapan saja, disamping menimbulkan kerugian material dan imaterial bagi kehidupan masyarakat. Bencana Alam tanah longsor dapat terjadi akibat suatu pergeseran atau perpindahan massa tanah atau batuan pada suatu daerah dengan perubahan posisi dari kedudukan semula, yang terjadi akibat gangguan kesetimbangan. Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada kemiringan tanah, kondisi batuan dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, berdasarkan hasil penyeledikan tanah (soil investigation) dengan peningkatan curah hujan (tingkat kejenuhan air dalam tanah) itu nantinya akan diperoleh suatu faktor keamanan (safety factor) yang cenderung akan menurun sebanding dengan besarnya kandungan air di dalam tanah tersebut, sehingga akhirnya terjadilah longsor bila safety factor-nya lebih kecil dari tanah dalam keadaan normal (tidak hujan). Selain faktor tersebut di atas, potensial terjadinya longsoran adalah akibat terjadinya getaran tanah akibat gempa bumi (yang terjadi baru-baru ini) yang dapat mengakibatkan perjadinya perubahan / deformasi lapisan tanah, sehingga memudahkan tanah menjadi lebih cepat lepas (loss of suction). Mekanisme terjadinya kelongsoran tanah diantaranya disebabkan karena oleh perubahan tekanan air pori negatif yang terjadi di lapangan, hal ini dapat dilihat dari kemunculan beberapa mata air di lereng sebagai suatu indikasi awal bahwa lereng sedang mengalami penjenuhan. Penjenuhan di sini terjadi akibat tekanan berlebih dari air tanah yang mengakibatkan air tanah terkekan keluar melalui pori-pori tanah dan batuan. Beberapa indikator lapangan lainnya yang memberikan informasi bahwa
14

suatu lereng akan mengalami longsor atau memiliki potensi longsor yang cukup besar dapat dilihat dari perubahan fluktuasi muka air tanah yang secara tiba-tiba meninggi dari batas normal sebelumnya serta ditandai dengan kekeruhan pada beberapa sumur penduduk setempat. Kondisi vegetasi di lereng yang mengalami deformasi atau sebagain besar mengalami perpindahan, namun secara garis besar dapat dibedakan sebagai faktor alami dan manusia: 1. Faktor alam Kondisi alam yang menjadi faktor utama terjadinya longsor antara lain: a. Kondisi geologi: batuan lapuk, kemiriringan lapisan, sisipan lapisan batu lempung, struktur sesar dan kekar, gempa bumi, stratigrafi dan gunung api. b. Iklim: curah hujan yang tinggi. c. Keadaan topografi: lereng yang curam. d. Keadaan tata air: kondisi drainase yang tersumbat, akumulasi massa air, erosi dalam, pelarutan dan tekanan hidrostatika. e. Tutupan lahan yang mengurangi tahan geser, misal tanah kritis. 2. Faktor manusia Ulah manusia yang tidak bersahabat dengan alam antara lain: a. Pemotongan tebing pada penambangan batu dilereng yang terjal. b. Penimbunan tanah urugan di daerah lereng. c. Kegagalan struktur dinding penahan tanah. d. Penggundulan hutan. e. Budidaya kolam ikan diatas lereng. f. Sistem pertanian yang tidak memperhatikan irigasi yang aman. g. Pengembangan wilayah yang tidak diimbangi dengan kesadaran masyarakat, sehingga RUTR tidak ditaati yang akhirnya merugikan sendiri. h. Sistem drainase daerah lereng yang tidak baik.

15

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Kesimpulan yang bisa diambil dari paper Studi kasus longsoran ini adalah: - Longsoran yang terdapat pada daerah Meteseh, Lapangan Tembak berupa Blok gride, Longsoran bahan rombakan, dan Slump (Nendatan). - Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng juga tergantung pada kemiringan tanah, kondisi batuan dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi penggunaan tanah, dan getaran yang dapat diakibatkan dari gempa bumi. - Secara garis besar penyebab terjadinya gerakan tanah dapat dibedakan sebagai faktor alami yaitu yang dipengaruhi kondisi alam dan faktor manusia yang dipengaruhi oleh ulah manusia yang tidak bersahabat dengan alam.

3.2 Saran Daerah yang rawan akan gerakan tanah hendaknya tidak digunakan sebagai pemukiman warga. Perlu dilakukan penelitian lanjut untuk mengetahui informasi lanjut dari gerakan tanah yang ada di daerah penelitian.

16

DAFTAR PUSTAKA

17