Vous êtes sur la page 1sur 11

LAPORAN KASUS

1. Identitas pasien : No rekam medic : 121200536 Nama Anak Umur Jenis kelamin Nama Ibu Pekerjaan Ibu Alamat Agama : EZ : Bayi baru lahir : perempuan : Ny. LB : IRT :: Islam

Pendidikan Ayah : 2. Anamnesis 3. Keluhan Utama 4. Keluhan tambahan 5. RPS : Bayi baru lahir tidak langsung menangis setelah dilahirkan, 3jam : Alloanamnesis : Bayi tidak menangis setelah dilahirkan : bayi membiru setelah 3 jam kemudian

kemudian sempat membiru, sesak napas tidak ada, demam tidak ada, retraksi tidak ada, menangis tidak ada tapi bayi merintih, tonus otot (+) Riwayat Kelahiran : bayi baru lahir dari ibu G6 P4 A1 H4 ditolong oleh dukun kampung lahir spontan BB 2800 gram

6. RPD

: Ibu mengatakan tidak ada anak nya yang menderita penyakit seperti ini

7. RPK

: Ibu mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit seperti ini, tidak ada riwayat hipertensi dan tidak ada riwat diabtes mellitus

8. RSE

: ibu termasuk keluarga yang berkecukupan, ibu sebagai ibu rumah tangga yang mengasuh 3 anak

9. Riwayat Imunisasi : imunisasi hepatitis B 10. Pemeriksaan Fisik : Status Generalis Keadan umum : baik Kesadaran Vital sign : Composmentis : BB : 2800 gram, R : 40 x/menit, N : 160 x/menit , S : 36,40C Kepala Mata : bentuk normal, simetris : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik,pupil isokor Hidung Telinga Mulut Leher Thorax: Paru-Paru : I: simetris kanan kiri Pa: Pr: sonor disemua lapang paru Au: bronkovesikuler, wh (-/-), rh (-/-) Jantung : I: ictus cordis tidak terlihat Pa: ictus cordis teraba pada SIC 5 Pr: redup Au: regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen: I : perut cembung, retraksi (-) Au : bising usus (+) Pe: timpani seluruh lapang abdomen Pa : nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba Ekstremitas atas : tonus otot (+) akral hangat Ekstremitas Bawah : tonus otot (+) akral hangat : pernapasan cuping hidung (-), secret (-) : serumen (-), secret (-) :mukosa bibir lembab : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

11. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan Laboratorium : Hb Leokosit Eritrosit Ht 12. Diagnosa kerja 13. Diagnosa Banding 14. Penatalaksanaan: - Medikamentosa IFVD : 180 cc/Kg/BB Inj cinam + mikasin Inj neok 1 x FFP 3 kantung - Edukatif : Rawat NICU : 16,1 gr/dl : 15,1 : 4,47

Trombosit : 215 : 44,5 : Susp Asfiksia neonatorum : gangguan pernafasan

14. Prognosis : Dubia Ad Malam

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, kedaan ini disertai dengan hipoksia, hiperkapnia, dan berakhir dengan asidosis. 1

ETIOLOGI Asfiksia neonatorum dapat terjadi selama kehamilan, pada proses persalinan dan melahirkan atau periode segera setelah lahir. Janin sangat bergantung pada pertukaran plasenta untuk oksigen, asupan nutrisi dan pembuangan produk sisa sehingga gangguan pada aliran darah umbilikal maupun plasental hampir selalu akan menyebabkan asfiksia. Penyebab asfiksia adalah : 1. Asfiksia dalam kehamilan. Penyakit infeksi akut. Penyakit infeksi kronik. Keracunan oleh obat-obat bius. Uremia dan toksemia gravidarum. Anemia berat. Cacat bawaan. Trauma. 2. Asfiksia dalam persalinan a. Kekurangan O2 Partus lama ( rigid serviks dan atonia/ insersi uteri). Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus mengganggu sirkulasi darah ke plasenta. Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta. Prolaps fenikuli tali pusat akan tertekan antara kepala dan panggul. Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya. Perdarahan banyak : plasenta previa dan solutio plasenta. Kalau plasenta sudah tua : postmaturitas (serotinus), disfungsi uteri.

b. Paralisis pusat pernafasan Trauma dari luar seperti oleh tindakan forceps. Trauma dari dalam : akibat obat bius.1

PATOFISIOLOGI A. Cara bayi memperoleh oksigen sebelum dan setelah lahir; Sebelum lahir, paru janin tidak berfungsi sebagai sumber oksigen atau jalan untuk mengeluarkan karbon dioksida. Pembuluh arteriol yang ada di dalam paru janin dalam keadaan konstriksi sehingga tekanan oksigen (pO2) parsial rendah. Hampir seluruh darah dari jantung kanan tidak dapat melalui paru karena konstriksi pembuluh darah janin, sehingga darah dialirkan melalui pembuluh yang bertekanan lebih rendah yaitu duktus arteriosus kemudian masuk ke aorta. Setelah lahir, bayi akan segera bergantung pada paru-paru sebagai sumber utama oksigen. Cairan yang mengisi alveoli akan diserap ke dalam jaringan paru, dan alveoli akan berisi udara. Pengisian alveoli oleh udara akan memungkinkan oksigen mengalir ke dalam pembuluh darah di sekitar alveoli. Arteri dan vena umbilikalis akan menutup sehingga menurunkan tahanan pada sirkulasi plasenta dan meningkatkan tekanan darah sistemik. Akibat tekanan udara dan peningkatan kadar oksigen di alveoli, pembuluh darah paru akan mengalami relaksasi sehingga tahanan terhadap aliran darah bekurang. Keadaan relaksasi tersebut dan peningkatan tekanan darah sistemik, menyebabkan tekanan pada arteri pulmonalis lebih rendah dibandingkan tekanan sistemik sehingga aliran darah paru meningkat sedangkan aliran pada duktus arteriosus menurun. Oksigen yang diabsorbsi di alveoli oleh pembuluh darah di vena pulmonalis dan darah yang banyak mengandung oksigen kembali ke bagian jantung kiri, kemudian dipompakan ke seluruh tubuh bayi baru lahir. Pada kebanyakan keadaan, udara menyediakan oksigen (21%) untuk menginisiasi relaksasi pembuluh darah paru. Pada saat kadar oksigen meningkat dan pembuluh paru mengalami relaksasi, duktus arteriosus mulai menyempit. Darah yang sebelumnya melalui duktus arteriosus sekarang melalui paru-paru, akan mengambil banyak oksigen untuk dialirkan ke seluruh jaringan tubuh.

B. Reaksi bayi terhadap kesulitan selama masa transisi normal :

Bayi baru lahir akan melakukan usaha untuk menghirup udara ke dalam paru-parunya yang mengakibatkan cairan paru keluar dari alveoli ke jaringan insterstitial di paru sehingga oksigen dapat dihantarkan ke arteriol pulmonal dan menyebabkan arteriol berelaksasi. Jika keadaan ini terganggu maka arteriol pulmonal akan tetap kontriksi, alveoli tetap terisi cairan dan pembuluh darah arteri sistemik tidak mendapat oksigen. Pada saat pasokan oksigen berkurang, akan terjadi konstriksi arteriol pada organ seperti usus, ginjal, otot dan kulit, namun demikian aliran darah ke jantung dan otak tetap stabil atau meningkat untuk mempertahankan pasokan oksigen. Penyesuaian distribusi aliran darah akan menolong kelangsungan fungsi organorgan vital. Walaupun demikian jika kekurangan oksigen berlangsung terus maka terjadi kegagalan fungsi miokardium dan kegagalan peningkatan curah jantung, penurunan tekanan darah, yang mengkibatkan aliran darah ke seluruh organ akan berkurang. Sebagai akibat dari kekurangan perfusi oksigen dan oksigenasi jaringan, akan menimbulkan kerusakan jaringan otak yang irreversible, kerusakan organ tubuh lain, atau kematian. 3

KLASIFIKASI 1. Vigorous baby skor APGAR 7-10 dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa 2. Mild moderate asfiksia ( asfiksia sedang ) skor APGAR 4-6 pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebi dari 100 x/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada. 3. (Asfiksia berat) skor APGAR 0-3 pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100 x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada. (asfiksia berat dengan henti jantung) dimaksudkan dengan henti jantung adalah : Bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap

Bunyi jantung bayi menghilang post partum, dalam hal ini pemeriksaan fisiklainnya sesuai dengan yang ditemukan pada penderita asfiksia berat1,2

Tabel 1. Skor APGAR Tanda 0 1 2 Jumlah nilai Frekuensi jantung Usaha bernafas Tonus otot Lumpuh Tidak ada Lambat, teratur Ekstremitas fleksi sedikit Reflek Warna Tidak ada Biru/pucat Gerakan sedikit Menangis Tubuh kemerahan, ekstremitas biru. Tubuh ekstremitas kemerahan dan Gerakan aktif tidak Menangis kuat Tidak ada < 100/menit > 100/menit

Nilai 0-3 : Asfiksia berat Nilai 4-6 : Asfiksia sedang Nilai 7-10 : Normal

DIAGNOSIS Anamnesis : Anamnesis diarahkan untuk mencari faktor risiko terhadap terjadinya asfiksia neonatorum: Adanya riwayat gangguan lahir Lahir tidak bernafas dengan adekuat Riwayat ketuban bercampur meconium

Pemeriksaan fisik : Memperhatikan apakah terdapat tanda- tanda berikut atau tidak : Bayi tidak bernafas atau menangis. Denyut jantung kurang dari 100x/menit. Tonus otot menurun. Bisa didapatkan cairan ketuban ibu bercampur mekonium, atau sisa mekonium pada tubuh bayi. BBLR (berat badan lahir rendah).

Pemeriksaan penunjang Laboratorium: hasil analisis gas darah tali pusat menunjukkan hasil asidosis pada darah tali pusat jika: PaO2 < 50 mm H2O PaCO2 > 55 mm H2 pH < 7,30 3

PENATALAKSANAAN Tujuan utama mengatasi asfiksia ialah untuk memepertahankan

kelangsungan hidup bayi dan membatasi gejala sisa ( sekuele ) yang mungkin timbul dikemudian hari. Tindakan yang dilakukan adalah resusitasi bayi baru lahir: Prinsip dasar resusitasi yang perlu diingat ialah : 1. memeberikan lingkungan yang baik pada bayi dan mengusahakan saluran pernapasan tetap bebas serta merangsang timbulnya penapasan, yaitu agar oksigenasi dan CO2 berjalan lancer. 2. Memberikan bantuan pernapasan secara aktif pada bayi yang menunjukkan pernapasan lemah. 3. Melakukan koreksi melakukan koreksi terhadap asidosis yang terjadi. 4. Menjaga agar sirkulasi darah tetap baik.

Langkah Awal Resusitasi : Pada pemeriksaan atau penilaian awal dilakukan dengan menjawab 4 pertanyaan: a. apakah bayi cukup bulan? b. apakah air ketuban jernih? c. apakah bayi bernapas atau menangis? d. apakah tonus otot bayi baik atau kuat? Bila terdapat jawaban tidak dari salah satu pertanyaan di atas maka bayi memerlukan satu atau beberapa tindakan resusitasi berikut ini secara berurutan.

1. Langkah awal dalam stabilisasi (a) memberikan kehangatan Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas (radiant warmer) dalam keadaan telanjang agar panas dapat mencapai tubuh bayi dan memudahkan eksplorasi seluruh tubuh. (b) memposisikan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya Bayi diletakkan telentang dengan leher sedikit tengadah dalam posisi menghidu agar posisi farings, larings dan trakea dalam satu garis lurus yang akan mempermudah masuknya udara. Posisi ini adalah posisi terbaik untuk melakukan ventilasi dengan balon dan sungkup dan/atau untuk pemasangan pipa endotrakeal. (c) membersihkan jalan napas sesuai keperluan Aspirasi mekonium saat proses persalinan dapat menyebabkan pneumonia aspirasi. Salah satu pendekatan obstetrik yang digunakan untuk mencegah aspirasi adalah dengan melakukan penghisapan mekonium sebelum lahirnya bahu (intrapartum suctioning). Bila terdapat mekonium dalam cairan amnion dan bayi tidak bugar (bayi mengalami depresi pernapasan, tonus otot kurang dan frekuensi jantung kurang dari 100x/menit) segera dilakukan penghisapan trakea sebelum timbul pernapasan untuk mencegah sindrom aspirasi mekonium. Penghisapan trakea meliputi langkah-langkah pemasangan laringoskop dan selang endotrakeal ke dalam trakea, kemudian dengan kateter

penghisap dilakukan pembersihan daerah mulut, faring dan trakea sampai glottis. Bila terdapat mekonium dalam cairan amnion namun bayi tampak bugar, pembersihan sekret dari jalan napas dilakukan seperti pada bayi tanpa mekonium. (d) mengeringkan bayi, merangsang pernapasan dan meletakkan pada posisi yang benar. Bila setelah posisi yang benar, penghisapan sekret dan

pengeringan, bayi belum bernapas adekuat, maka perangsangan taktil dapat dilakukan dengan menepuk atau menyentil telapak kaki, atau dengan menggosok punggung, tubuh atau ekstremitas bayi. ventilasi tekanan positif kompresi dada pemberian epinefrin dan atau pengembang volume (volume expander) Keputusan untuk melanjutkan dari satu kategori ke kategori berikutnya ditentukan dengan penilaian 3 tanda vital secara simultan (pernapasan, frekuensi jantung dan warna kulit). Waktu untuk setiap langkah adalah sekitar 30 detik, lalu nilai kembali, dan putuskan untuk melanjutkan ke langkah berikutnya1

Daftar Pustaka

1. Rusepno hassan. 2007. Ilmu kesehatan anak jilid 3. Jakarta : FKUI 2. Arif mansjoer .2001. kapita selekta kedokteran. Jakarta : FKUI 3. Perhimpunan dokter spesialis penyakit dalam.2001.buku ajar ilmu penyakit dalam.jilid III Edisi V.Jakarta : FKUI.