Vous êtes sur la page 1sur 67

1

APLIKASI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE TIPE THINK- PAIR-SHARE TERHADAP BELAJAR SISWA DI KELAS XI TKR SMK N 1 TILATANG KAMANG

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur dari mata kuliah metodologi penelitian

PROPOSAL

Oleh: ASMA MURNI NIM: 2411.059

JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SJECH. M. DJAMIL DJAMBEK BUKITTINGGI 2013 /2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan suatu langkah yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dimana manusia pada masa globalisasi dan industrialisasi dituntut memiliki kemampuan lebih, guna meningkatkan kualitas hidup. Ini tercermin dari ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila dan UUD 1945, bahwa pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah dengan meningkatkan mutu pendidikan, terutama pendidikan matematika dan sains. Meskipun ilmu dan pendidikan yang didapatkan itu sama pentingnya, namun yang paling penting adalah bagaimana ilmu yang didapatkan tersebut mampu mengarahkan kehidupan manusia menjadi lebih baik dan benar dimasa yang akan datang. Berbicara tentang pendidikan tentu saja tidak terlepas dari pendidikan matematika, yang mana matematika tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Matematika adalah aktivitas manusia1. Matematika adalah

Erman Suherman. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer ,(Bandung: JICA 2001), h. 17

salah satu cabang ilmu yang mempunyai peranan penting dalam menunjang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Carl Fredrich Gauss, Matematika adalah sebagai ratu dan pelayan ilmu.Matematika merupakan ilmu dasar yang memegang peranan penting dalam membentuk dan melatih seseorang berfikir dan bertindak logis, cermat, efisien, efektif dan sistematis.Matematika sebagai ratu atau ibunya ilmu dimaksudkan bahwa matematika adalah sebagai sumber dari ilmu yang lain.2 Matematika juga merupakan salah satu ilmu yang memegang peranan penting dalam pembentukan pola pikir siswa. Matematika adalah suatu ilmu dan merupakan salah satu pondasi penting dalam pendidikan. Keberhasilan anak didik dalam matematika akan

mempengaruhi keberhasilannya dalam bidang studi yang lain. Matematika adalah sumber dari ilmu yang lain.3 Berbagai cabang ilmu pengetahuan menerapkan konsep matematika dalam penemuan dan pengembangannya sehingga dikenal istilah matematika terapan. Matematika adalah suatu ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyak.4 Matematika tumbuh dan berkembang karena proses berfikir, oleh karena itu logika adalah dasar utama untuk terbentuknya Matematika. Proses pembelajaran matematika akan lebih efektif

Erman Suherman. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer ,(Bandung: JICA 2001), h. 28


3

Erman Suherman, dkk, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: FMIPA UPI, 2001), h. 28. 4 Erman Suherman.... h.18

dan bermakna apabila siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu ciri kebermaknaan dalam proses belajar mengajar adalah adanya keterlibatan atau partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar. Matematika juga merupakan ilmu yang penting untuk menciptakan pola pikir dan pembentuk sikap. Untuk itu matematika dijadikan mata pelajaran wajib di setiap jenjang pendidikan, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga jenjang pendidikan menengah atas. Bahkan matematika dijadikan sebagai mata pelajaran yang menentukan kelulusan siswa di setiap jenjang pendidikan. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika diharapkan siswa memiliki tingkat penguasaan dan pemahaman yang lebih baik dalam pembelajaran matematika. Mengingat peranan matematika yang sangat penting dan luas tersebut, ilmu pendidikan matematika mendapat perhatian khusus untuk peningkatan mutu pendidikan.Pentingnya matematika dapat dilihat pada tujuan mata pelajaran matematika menurut standar isi kurikulum 2006, yaitu: a. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah b. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau

menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

d. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, diagram, tabel atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah5

Demi tercapainya tujuan tersebut banyak hal yang perlu dilakukan, salah satunya pemerintah telah berupaya dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Pemerintah berupaya menyediakan buku-buku pelajaran sebagai sumber atau bahan ajar guna menunjang proses pembelajaran. namun tampaknya usaha tersebut belum memberikan hasil yang maksimal bagi pendidikan di Indonesia khususnya di bidang Matematika. Besarnya peranan matematika membuat matematika dipelajari secara luas, mulai dari jenjang pendidikan terendah sampai ke jenjang tertinggi. Selain itu melalui pembelajaran matematika dapat dikembangkan pemikiran pemikiran yang kritis, logis, dan sistematis dalam menyelesaikan masalah. Akan tetapi pada kenyataannya matematika sering dianggap sebagai pelajaran yang sulit, menakutkan, dan membosankan bagi sebagian besar anak sekolah, meskipun banyak yang tidak yang menyenangi pelajaran matematika ini. Matematika memang tergolong suatu ilmu yang cukup sulit untuk dipahami dan dimengerti. Dalam dunia pendidikan tidak begitu banyak siswa
5

Fadjar Shadiq, Diklat Instruktur Pengembangan Matematikasma Jenjang Lanjut Kemahiran Matematika, (Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2009), h.2, (online), (www.fadjarp3g@wordpress.com),

yang menyenangi matematika namun masih ada siswa yang menganggap matematika sebagai suatu ilmu yang menantang untuk dipelajari. Jadi, dalam pembelajaran guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru 6. Guru dan siswa senantiasa dituntut agar menciptakan suasana lingkungan belajar yang baik dan menyenangkan, menantang dan menggairahkan 7. Dari kedua pernyataan tersebut maka guru harus berusaha Pencapaian tujuan pembelajaran itu juga akan tercapai jika guru memiliki kompetensi. Ketercapaian tujuan pembelajaran matematika dapat dilihat dari hasil belajar matematika. Hasil belajar bergantung kepada cara guru mengajar dan aktivitas siswa sebagai pembelajar. Guru sebagai pengajar sekaligus pendidik harus mampu menggunakan strategi pembelajaran yang tepat sehingga diharapkan hasil belajar siswa menjadi lebih baik. Hasil belajar matematika yang diharapkan setiap sekolah adalah hasil belajar matematika yang mencapai ketuntasan belajar matematika siswa. Siswa dikatakan tuntas belajar matematika apabila nilai hasil belajar matematika siswa telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah. Melaksanakan pembelajaran matematika sehingga nantinya siswa mampu memiliki nilai yang mencapai KKM yang ditetapkan sekolah juga tidak mudah

Sofan Amri,hal 89 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008) hal. 52

karena seorang guru harus melakukan penyesuaian, seperti: materi, metode, strategi dan yang paling penting siswa yang menerima pembelajaran tersebut. Penyesuaian dari pembelajaran matematika terkadang membuat seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran bersifat menyampaikan informasi kepada siswa. Dalam pembelajaran ini, hanya siswa yang memiliki kemampuan akademis tinggi saja yang bisa menerima materi yang disampaikan dengan baik, sementara siswa yang tingkat akademisnya rendah belum tentu dapat menerima materi dengan baik, siswa bersifat pasif dalam pembelajaran. Guru menjelaskan materi pelajaran, memberikan contoh soal kemudian memberikan soal soal latihan dan pekerjaan rumah kepada siswa. Kegiatan pembelajaran tersebut tergolong kaku dan menitik beratkan pembelajaran pada guru sedangkan siswa hanya menerima, sehingga menyebabkan siswa malas untuk mencari informasi lain yang berhubungan dengan pembelajarannya.Siswa hanya mengaharapkan semuanya dari guru, sehingga pembelajaran kurang bermakna. Hasil wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 14 November 2013 dengan guru bidang studi matematika diperoleh informasi bahwa beliau masih mendapatkan kendala dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika. Kendala tersebut adalah kurangnya partisipasi siswa dalam pembelajaran matematika, siswa malas untuk mengeluarkan pendapat, siswa cepat lupa materi yang telah diajarkan karena kurangnya pemahaman siswa terhadap konsep yang diajarkan dan seringnya matematika dianggap oleh siswa sebagai mata pelajaran yang sulit untuk dipahami konsep-konsepnya, serta yang cendrung terjadi dari

sebagian besar siswa adalah mengandalkan pembelajaran yang mereka dapatkan di sekolah. Hal ini sejalan dengan observasi yang dilaksanakan pada hari yang sama, kendala dalam pembelajaran matematika disebabkan model pembelajaran yang masih terpusat pada guru, dimana guru menjelaskan materi terlebih dahulu

diiringi dengan beberapa contoh soal, kemudian siswa diminta untuk mengerjakan latihan dan di akhir pembelajaran siswa diberikan tugas sehingga siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran. Siswa lebih cenderung menerima apa saja yang disampaikan oleh guru, lalu mencatat apabila diminta untuk mencatat yang ada di papan tulis. Jika tidak mengerti dengan penjelasan guru dan apa yang ada di papan tulis sebagian besar siswa malu untuk bertanya kepada guru ataupun teman sekelasnya, melainkan hanya diam saja sehingga siswa tersebut tidak mengerti materi tersebut untuk kedepannya. Jika diberikan soal berbeda dengan apa yang telah di ajarkan guru sebelumnya sebagian besar dari siswa terkadang sulit untuk memecahkannya ataupun menyelesaikannya dan yang dilakukan hanya menunggu jawaban dari teman sekelas yang dianggap pintar tanpa berusaha berdiskusi tentang soal yang tidak dimengerti tersebut. Pembelajaran yang sebagian besar berpusat pada guru dan siswa malu untuk bertanya dan berdiskusi itu berdampak terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang. Hal ini dapat dilihat dari nilai ulangan harian matematika siswa kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang.

Tabel 1.1: Nilai Ulangan Harian Matematika Pada Mata Pelajaran Matematika Siswa Kelas VIII SMP N 1 X Koto Kelas Jumlah siswa KK M Hasil Ulangan Tuntas Tidak Tuntas XI TKR 1 65 XI TKR 2 Sumber: Guru mata pelajaran matematika kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang 8 Berdasarkan tabel 1.1 terlihat bahwa sebagian besar siswa kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang belum mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah berdasarkan kemampuan rata rata siswa, ketercapaian kompetensi dasar, dan kemampuan daya dukung. Jadi, ratarata nilai KKM untuk mata pelajaran matematika pada kelas XI TKR ini adalah 65. Berdasarkan uraian di atas diduga penyebab rendahnya hasil belajar bersumber dari guru adalah proses pembelajaran yang berpusat pada guru. Penyebab yang bersumber dari siswa adalah kurang terlibat aktif dalam
8

Presentase Ketuntasan Tuntas Tidak Tuntas

26

26

0%

100%

24

15

37.5%

62.5%

Guru Matematika XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang, pada hari Senin 11 Maret 2013

10

pembelajaran, lebih cenderung menerima apa saja yang disampaikan oleh guru, mencatat apabila diminta mencatat apa yang ada di papan tulis, malu bertanya kepada guru atau berdiskusi dengan teman yang memiliki kemampuan lebih di kelas tentang soal yang tidak dimengerti dan apabila diberikan soal yang berbeda dengan apa yang diajarkan sebelumnya akan menyebabkan siswa sulit untuk memecahkannya. Beberapa cara telah dilakukan oleh guru bidang studi dalam proses perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar, contohnya dengan mengadakan belajar tambahan, memberikan soal soal latihan sebelum mengadakan ulangan dan menyuruh siswa untuk belajar berkelompok di luar jam sekolah agar siswa lebih memahami pembelajaran yang dibahas sebelumnya disekolah namun hal ini kurang terlaksana. Namun usaha tersebut belum sesuai dengan yang diharapkan yaitu mencapai KKM yang ditetapkan. Sehingga perlu dilaksanakan pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dan mengembangkan kegiatan siswa dalam meningkatkan komunikasi serta interaksi sesama siswa melalui kegiatan berdiskusi, bertanya sehingga siswa dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain serta memecahkan masalah matematika untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar

menyebabkan pembelajaran itu lebih berarti dan bermakna. Sehingga, dari berbagai permasalahan yang ditemui dalam proses pembelajaran di atas

11

dibutuhkanlah model pembelajaran yang tidak berpusat pada guru, dapat melibatkan peran siswa secara aktif, memahami materi yang dipelajari mau berdiskusi dengan teman yang dibagi perkelompok tentang materi yang tidak dimengerti dan memberikan kesempatan siswa untuk menjadi guru bagi siswa yang lainnya karena sebagian siswa terkadang mampu memahami pembelajaran melalui temannya. Untuk mengatasi kondisi tersebut maka salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan memilih model pembelajaran yang tepat, model pembelajaran yang diharapkan dapat membantu siswa aktif, dapat berdiskusi dan berbagi dengan teman yang dibagi

perkelompok model Think Pair Share (TPS) atau berfikir berpasangan berbagi merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi poka interaksi siswa. Strategi think pair share ini berkembang dari penelitian belajar kooperatif. Berdasarkan uraian uraian di atas, maka penulis bermaksud melakukan penelitian dalam bentuk penelitian eksperimen dengan judul Aplikasi Model Pembelajaran Cooperative Tipe Think Pair Share (TPS) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Di Kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang.

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat di identifikasikan beberapa masalah sebagai berikut :

12

1. Hasil belajar matematika yang belum mencapai KKM 2. Siswa malu bertanya apabila menemui kesulitan 3. Siswa bersifat pasif 4. Proses pembelajaran yang berpusat pada guru 5. Kurangnya aktivitas siswa selama pembelajaran 6. Kurangnya diskusi antara siswa dalam proses pembelajaran

C. Batasan Masalah Agar penelitian ini lebih terfokus, maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti yaitu: 1. Aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran matematika dengan Model Pembelajaran Cooperative Tipe Think Pair Share (TPS) Di Kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang. 2. Hasil belajar matematika siswa dengan pembelajaran menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Tipe Think Pair Share (TPS) Di Kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang.

D. Rumusan Masalah Berdasarkan batasan masalah yang telah diuraikan di atas, masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

13

1.

Bagaimana aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Tipe Think Pair Share (TPS) Di Kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang?

2.

Apakah hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Tipe Think Pair Share (TPS) Di Kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang?

E. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang akan diteliti dan informasi yang diharapkan, maka penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Pembelajaran Cooperative Tipe Think Pair Share (TPS) Di Kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang 2. Mengetahui hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan Model Pembelajaran Cooperative Tipe Think Pair Share (TPS), apakah lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada Kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang

F. Defenisi Operasional Agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami skripsi ini, maka peneliti akan menjelaskan beberapa istilah: 1. Model Pembelajaran

14

Strategi menurut Kemp (1995 ) suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan oleh guru dan siswa agar suatu tujaun tercapai secaraefektif dan efisien.Pendekatan dapat di artikan sebagai tolak ukur atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran.Sedangkan model model pembelajaran biasanya disusun sebagai prinsip atau teori pengetahuan, para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip prinsip pembelajaran,teori psikologis, biologis,analisis system atau teori yang lain yang mendukung. 2. Pembelajaran cooperative Pembelajaran cooperative , merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orangdengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.Pada hakikatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok . 3. Model Cooperative Think Pair Share (TPS) atau berfikir berpasangan berbagi. Model Think Pair Share ini berkembang dari penelitian belajar kooperatif. Pertama kali strategi ini dikembangkan oleh frang lyman yang dilelolanya di universitas Maryland. Model Think Pair Share ini berkembang dari penelitian belajar kooperatif. Pertama kali strategi ini dikembangkan oleh frang lyman yang dilelolanya di universitas Maryland. Model Think Pair Share

15

merupakan

jenis

pembelajaran

kooperatif

yang

dirancang

untuk

mempengaruhi poka interaksi siswa. 4. Pembelajaran Matematika Suatu pembelajaran yang mengajarkan konsep matematika secara konkrit dan mudah dipahami oleh siswa dengan pelaksanaannya harus memperhatikan kesiapan intelektual siswa 5. Pembelajaran Konvensional Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang berpusat pada guru, dimana dalam prosesnya cenderung menggunakan metode ekspositori, guru menyampaikan konsep dari materi, selanjutnya siswa diberikan contoh soal, kemudian diminta untuk mengerjakan latihan untuk mengecek pemahaman siswa 6. Aktivitas siswa Aktivitas siswa dapat diartikan sebagai semua kegiatan yang dilakukan siswa selama mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Cooperatif tipe Think Pair Share.Adapun aktivitas yang diamati adalah Oral activities dan Mental activities 7. Hasil Belajar Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada ranah kognitif yang diperoleh setelah siswa melaksanakan tes hasil belajar pada pembelajaran dengan menggunakan Model Cooperatif tipe Think Pair Share.

16

G. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah: 1. Bagi guru, Model Cooperatif tipe Think Pair Share memberikan referensi sebagai suatu alternatif model pembelajaran yang bisa diterapkan dalam pembelajaran matematika di sekolah. 2. Bagi siswa, menerapkan suasana belajar yang berbeda melalui

pembelajaran dengan Model Cooperatif tipe Think Pair Share dan memberikan motivasi dengan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan terbuka. 3. Bagi penulis, memberikan pengalaman penerapan suatu model

pembelajaran secara komperhensif dan Sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana (S-1), serta penelitian ini dapat menambah wawasan peneliti tentang pembelajaran dengan menggunakan Model Cooperatif tipe Think Pair Share.

17

BAB II PEMBAHASAN A. LANDASAN TEORITIS 1. Belajar dan Pembelajaran Matematika Terdapat beberapa pengertian belajar yang bersesuaian dengan cara pandang seseorang terhadap belajar itu sendiri. Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.9 Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif.10 Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan murid. Sementara itu, menurut konsep sosiologi, belajar adalah jantungnya dari proses sosialisasi. Pengertian ini juga diperkuat oleh Skinner yang berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian

1 Slameto,
10

Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta,1995) h.2 Setiawan. Strategi Pembelajaran Matematika SMA. (Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2008) h. 4

18

tingkah laku yang berlangsung secara progresif11. Sedangkan Fontana mengemukakan belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman.Belajar dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam pendidikan. Belajar (Fontana, 1981: 147) adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalaman. Sedangkan pembelajaran merupakan upaya dan penataan lingkungan yana memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal.12 Pengertian belajar diatas menunjukkan perlu adanya usaha sendiri dari siswa untuk dapat merubah tingkah lakunya. Menurut aliran empiris bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman. Hal ini sejalan dengan pendapat Gestalt dalam teori organisme yaitu bahwa belajar itu berdasarkan pengalaman. Pengalaman adalah interaksi antara anak dengan lingkungan.13 Pengalaman yang dialami siswa sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan sekitarnya akan membentuk skemata. Skemata ini terus berkembang terus menerus melalui adaptasi dengan lingkungannya yang terus berkembang. Belajar dapat dilakukan dimana saja, baik itu di tengah masyarakat dan juga dapat dilakukan di lingkungan yang sengaja diciptakan untuk memperoleh suasana pembelajaran yang kondusif. Peristiwa belajar yang

11

Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosa Karya ) h. 90 12 Suherman, Common Text Book.... hal. 8 13 . Drs. Sriyono, dkk. Teknik Belajar Mengajar Dalam CBSA. (Rineka cipta: jakarta, 1992).

hal. 5

19

disertai dengan proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik dari pada belajar hanya semata- mata dari pengalaman dalam kehidupan sosial di masyarakat.14 Jadi kegiatan pembelajaran yang dirancang dalam Rancangan Proses Pembelajaran, disusun berdasarkan strategi pembelajaran dan alat evaluasi yang valid akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Matematika tidak bisa dilihat dari satu defenisi saja. Ada beberapa defenisi matematika yaitu: a. Berdasarkan etimologis (Elea Tinggih,1972:5 ) perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar. b. James dan James (1976) dalam kamus matematikanya megatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dankonsep- konsep yang berhubungan satu dengan lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi kedalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri. c. Johnson dan rising (1972) juga mengemukakan pendapat bahwa matematika adalah pola pikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefenisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide dari pada mengenai bunyi.

Masih banyak defenisi lain yang dikemukakan oleh para ahli. Namun satu hal yang dapat kita tarik kesimpulan bahwa matematika merupakan salah satu cabang ilmu pemgetahuan yang menekankan aktivitas dalam dunia rasio.

14

Suherman, Common Text Book...., hal. 38

20

Tujuan umum pendidikan matematika menurut kurikulum KTSP Depdiknas (2006) SD/ MI, SMP/ MTs, SMA/ MA, dan SMK/MAK adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: a. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah b. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau

menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh d. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu,memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah Dalam hubungan dengan matematika, Nikson mengemukakan bahwa: pembelajaran matematika adalah upaya membantu siswa untuk

mengkonstruksikan konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan

21

kemampuan sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep dan prinsip itu terbangun kembali. 15 Dalam pembelajaran matematika, sangat diperlukan sekali peranan aktif siswa, peranan aktif siswa ini dalam menghubungkan konsep-konsep dan struktur dari matematika yang dipelajari. Objek-objek dalam matematika tersendiri dari konsep, fakta, prinsip dan keterampilan. Untuk mempelajari objek-objek tersebut atau mempelajari topik-topik dalam matematika tersusun secara hirarkis mulai dari yang mendasar sampai kepada yang paling sukar. Setiap orang yang mempelajari matematika dengan baik harus melalui jalurjalur yang pasti telah disusun secara logis. Dalam teori belajar yang dikemukakan Gagne dikemukakan bahwa dalam pembelajaran matematika ada dua objek yang diperoleh siswa yaitu objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep dan aturan. 16 Dalam pembelajaran matematika, pengalaman belajar masa lampau memegang peranan penting untuk memahami konsep-konsep. Dengan demikian siswa diharapkan belajar aktif dan tidak sekedar menerima saja yang

15 16

http://www.scribd.com/doc/16851561/bab 2 ( dikutip tanggal 1 Maret 2011) Suherman, Common Text Book....hal. 35

22

diberikan guru, siswa yang aktif akan melibatkan dirinya dalam menemukan prinsip dasar sehingga siswa lebih mengerti konsep dengan baik dan mengingat lebih lama serta dapat menggunakan konsep-konsep tersebut. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada saat belajar matematika siswa akan menemukan berbagai fakta, keterampilan, konsep, dan aturan tertentu serta sekaligus siswa juga akan memperoleh kemampuan menyelidiki, memecahkan masalah dan belajar mandiri. Untuk dapat memiliki hal tersebut siswa dituntut untuk terlibat secara aktif dan kreatif dalam pembelajaran, yang menjadi inti selama proses pembelajaran bukanlah guru tetapi siswa itu sendiri. Belajar matematika tidak ada artinya jika dihafal, belajar matematika baru bermakna jika dimengerti. Dalam pembelajaran matematika harus bertahap dan berurutan. Mempelajari suatu konsep harus dengan mempelajari materi prasyarat konsep tersebut terlebih dahulu. Hal ini akan mempermudah untuk memahami konsep tersebut lebih lanjut. 2. Model Pembelajaran Cooperative Pembelajaran kooperatif, merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orangdengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.Pada hakikatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok . Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada

23

sesuaatu yang aneh dalam cooperative learningkarena mereka beranggapan telah bisa melakukan pembelajaran cooperative learnig. Nurul lhayati mengemunhgkakan lima unsure pembelajaran

cooperative learning yaitu: 1. Ketergantungan yang positif 2. Pertanggungjawaban yang individual 3. Kemampuan bersosialisasi 4. Tatap muka 5. Evaluasi proses kelompok Pembelajaran kooperaatif adalah suatu aktivitas pembelajaran yang menggunakan pola belajar menggunakan system kelompokuntuk menjalin kerjasamadan saling ketergantugan dalm strutur dan tugas,dan hadiah, (Muslim Ibrahim 2003: 3) Unsure unsur dalam pembelajaran kooperatif a. Siswa daalm berkelompok harus beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama b. Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri c. Siswa harus melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama d. Siswa harus membagi tugas yang sama di antara anggota kelompoknya e. Siswa akan dikenakan evaluasi yang juga akan di kenakan untuk semua angata kelompok f. Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilanuntuk belajar bersama selama proses pembelajaran

24

g. Siswa di minta untuk mempertanggung jawabkan secara individual materi yang di tangani dalm kelompok kooperatif

Menurut roger dan david john sohn( lie ,2008 ) ada lima unsure dasar dalam pembelajaran kooperatif sbb: 1. Prinsip ketergantungan positif (yaitu pembelajaran koperatif, keberhasilan dalam penyelesailan tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. 2. Tanggung jawab perseorangan yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantungdari masing-masing anggota kelompoknya 3. Interaksi tatap muka yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap angota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi saling member dan menerima informasi dari kelompok anggota lain 4. Partisipasi dan komonikasi yaitu melatih siswa untuk melakukan partisipasi aktifdan berkomunikasi dalm kegiatan pembelajaran 5. Evaluasi proses kelompok yaitu menjadwalkan khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan efektif

Langkah langkah pembelajaran kooperatif terdiri dari tahap penjelasan materi, belajar kelompok, penilaian dan pengakuan tim. Penjelasan materi merupakan tahapan penyampaian pokok pokok materi pembelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Kemudian belajar kelompok, pada tahapan ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalm kelompok yang telah di bentuk sebelumnya. Setelah siswa malakukan diskusi dilakukan penilaian, dalam proses pembelajaran cooperative bisa dilakukan melalui tes dan kuis yang dilakukan secara

25

individual atau kelompok. Setelah tes bisa dilaksanakan pengakuan tim, tim yang diangap paling menonjol atau tim yang paling berprestasi yang kemudian diberikan penghargaan atau hadiah, dengan harapan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi lebih baik lagi 3. Metode Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share Metode ini dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawannya dari Universitas Maryland dan mampu mengubah asumsi bahwa metode resitasi dan diskusi perlu diselenggarakan dalam setting kelompok kelas secara keseluruhan. Metode Think-Pair-Share memberikan kepada para siswa untuk berpikir dan merespons serta saling bantu satu sama lain. Sebagai contoh, seorang guru baru saja menyelesaikan suatu sajian pendek atau para siswa telah selesai membaca suatu tugas. Selanjutnya, guru meminta kepada para siswa untuk menyadari secara lebih serius mengenai apa yang telah dijelaskan oleh guru atau apa yang telah dibaca. Guru lebih memilih metode Think-Pair-Share daripada metode Tanya jawab untuk kelompok secara keseluruhan (whole-group question and answer). Lyman dan kawan-kawannya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Langah 1 Berpikir (Thinking): Guru mengajukan masalah yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu untuk berpikir sendiri mengenai jawaban atau isu tersebut.

26

2. Langkah 2 Bepasangan (Pairing): Selanjutnya guru meminta kepada siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika suatu soal khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan. 3. Langkah 3 Berbagi (Sharing): Pada akhir ini guru meminta pasanganpasangan tersebut untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau separo dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor. Model ini dirancang untuk menggabungkan insentif motivasional dari penghargaan kelompok dengan program pembelajaran individual yang cocok dengan tingkatan yang dimiliki oleh siswa. Siswa dikelompokkan kedalam empat atau lima orang secara heterogen. Setiap siswa mengerjakan unit-unit program matematika sesuai dengan kemampuan masing-masing. Artinya, dalam suatu tim bisa saja si A mngerjakan unit 2, si B mengerjakan unit 5. para siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang teratur, mulai dari membaca lembar pembelajaran, mengerjakan lembar kerja, memeriksa apakah dia telah menguasai keterampilan dan mengikuti tes.

27

Anggota tim bekerja secara berpasangan, saling bertukar lembar jawaban dan memeriksa pekerjaan temannya. Jika seorang siswa berhasil mencapai atau melampaui skor 80, dia mengikuti final tes. Anggota tim bertanggung jawab meyakinkan bahwa temannya telah siap mengikuti final tes. Baik tanggungjawab individual dan penghargaan kelompok ada di dalam Think Pair Share ini. Setiap minggu guru menjumlahkan banyaknya unit yang telah diselesaikan oleh semua anggota tim dan memberikan sertifikat atau penghargaan lainnya kepada tim yang memenuhi kriteria berdasarkan jumlah final tes yang berhasil dilampau. 4. Pembelajaran Konvensional Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang berpusat pada guru, dimana dalam prosesnya cenderung menggunakan metode ekspositori, guru menyampaikan konsep dari materi, selanjutnya siswa diberikan contoh soal, kemudian diminta untuk mengerjakan latihan untuk mengecek pemahaman siswa. Adapun ciri-ciri pembelajaran konvensional Menurut Nasution,adalah sebagai berikut17 : 1. Tujuan tidak dirumuskan secara spesifik ke dalam kelakuan yang dapat diukur. 2. Bahan pelajaran diberikan kepada kelompok atau kelas secara keseluruhan tanpa memperhatikan siswa secara individu.
17

Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar . (Jakarta: Bumi aksara, 2000), h.209

28

3. Bahan pelajaran umumnya berbentuk ceramah, kuliah, tugas tertulis dan media lain menurut pertimbangan guru. 4. Berorientasi pada kegiatan guru dan mengutamakan kegiatan belajar. 5. Siswa kebanyakan bersifat pasif mendengar uraian guru. 6. Semua siswa harus belajar menurut kecepatan guru. 7. Penguatan umumnya diberikan setelah dilakukan ujian atau ujian. 8. Keberhasilan belajar umumnya dinilai guru secara subjektif 9. Pengajar umumnya sebagai penyebar atau penyalur informasi utama. 10. Siswa biasanya mengikuti beberapa tes atau ulangan mengenai bahan yang dipelajari dan berdasarkan angka hasil tes atau ulangan itulah nilai rapor yang diisikan.

Ciri- ciri pembelajaran konvensional di atas juga merupakan ciri- ciri dari pembelajaran dengan metode ekspositori. Hal ini bedasarkan pada pendapat Ahmad Rohani dan Abu Ahmad yang menyatakan bahwa hakekat mengajar menurut pandangan ekspositori adalah penyampaian ilmu pengetahuan kepada peserta didik yang dipandang sebagai objek yang menerima apa yang diberikan dari guru.18 Pada pembelajaran dengan metode ekspositori, terdapat kelebihan dan kelemahan pelaksanaannya. Menurut Wina Sanjaya, keunggulan dan kelemahan pada strategi pembelajaran ekspositori adalah19: Keunggulan: a. Dengan strategi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, ia dapat mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.

18

19

Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, ..., h. 36 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta : Kencana, 2008) h. 190

29

b. Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas. c. Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran, juga sekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi). d. Digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar Kelemahan : a. Strategi pembelajaran ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik. b. Strategi ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar. c. Karena strategi lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis. d. Keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru, seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi, dan berbagai kemampuan seperti kemampuan bertutur (berkomunikasi), dan kemampuan mengelola kelas. Tanpa itu sudah dapat dipastikan proses pembelajaran tidak mungkin berhasil. e. Oleh karena gaya komunikasi strategi pembelajaran lebih banyak terjadi satu arah (one-way communication), maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat terbatas pula. Di samping itu, komunikasi satu arah bisa mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas pada apa yang diberikan guru.

Berdasarkan uraian mengenai pembelajaran Metode Think-Pair-Share dengan dan pembelajaran konvensional (ekspositori) , maka perbandingan antara kedua pembelajaran ini dapat dilihat pada tabel berikut.

30

Tabel 2.1 Perbandingan Metode Think-Pair-Share Pembelajaran Konvensional

pembelajaran dengan

Pembelajaran dengan Metode Think- Pembelajaran Konvensional Pair-Share a. Siswa aktif dalam pembelajaran karena setiap kelompok a. Hanya mungkin dapat

dilakukan terhadap siswa yang memiliki mendengar secara baik dan kemampuan menyimak

mendapatkan tugas tugas yang berbeda diberikan kepada

kelompok siswa yang berbeda20 jadi mereka memiliki satu

tanggung jawab b. Siswa memiliki pengetahuan b. Konsep yang diberikan sulit untuk diterima siswa karena konsep yang diberikan lebih bersifat abstrak. menjadi c. Interaksi dan kurang di antara siswa

sebelumnya tentang materi yang didiskusikan karena telah

dipersiapkan sebelumnya c. Proses efisien, pembelajaran efektif

menyenangkan. d. Siswa berinteraksi dengan teman d. Siswa belajar secara individu sekelas dalam diskusi kelompok.

20

Melvin L. Silberman. hal 178

31

Pembelajaran dengan Metode Think- Pembelajaran Konvensional Pair-Share e. Siswa memahami kaitan antara e. Sering terjadi kesulitan untuk pelajaran pelajaran sebelumnya f. Tujuan ditetapkan di yang telah baru dengan diperoleh menjaga tertarik agar dengan siswa apa tetap yang

dipelajari. awal f. Tujuan secara tidak spesifik dirumuskan ke dalam

pembelajaran

kelakuan yang dapat diukur. g. Menggunakan berbagai sumber g. Informasi informasi pembelajaran. dalam proses yang diperoleh

bersumber hanya pada guru

5. Aktivitas Siswa Menurut Dryden aktivitas adalah hal- hal yang disarankan kepada siswa atau peserta untuk dilakukan. Beberapa ahli kognitif kontemporer

mengemukakan bahwa siswa dapat mengonstruksi basis pengetahuan yang lebih terintegrasi dan berguna apabila mereka mempelajari suatu topik dalam konteks aktivitas- aktivitas otentik, yaitu aktivitas- aktivitas yang mirip dengan apa yang sering mereka jumpai di dunia luar sekolah. Siswa lebih mudah mengecek kemampuan mereka memecahkan soal- soal matematika khususnya untuk

32

memastikan bahwa pemecahan mereka atas soal itu logis ketika mereka menggunakan matematika untuk mengerjakan tugas- tugas nyata sehari- hari.21 Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti lazimnya. Paul B. Diedrich membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut:22 a) Visual Activities, yang termasuk di dalamnya seperti, membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan , dan pekerjaan orang lain b) Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat,mengadakan wawancara, diskusi, dan instrupsi c) Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, music, pidato d) Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin e) Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram f) Motor activities, yang termasuk kedalamnya adalah: melakukan percobaan, membuat konstruksi,bermain, berkebun g) Mental activities, contoh: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis h) Emotional activities, yaitu: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat,berani, tenang.

Berdasarkan uraian di atas, maka aktivitas siswa dapat diartikan sebagai semua kegiatan yang dilakukan siswa selama mengikuti pembelajaran. Adapun Aktifitas siswa yang akan diamati selama pembelajaran matematika dengan menggunakan Metode Think-Pair-Share terdiri dari:
21

22

Jeanne Ellis Ormrod,... h. 347 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011) h.101

33

a. Oral Activities, dilihat melalui aktivitas siswa yang bertanya, memberikan ide atau pendapat atau menjawab pertanyaan yang diajukan guru b. Mental Activities, dilihat dari aktivitas siswa dalam menanggapi dan memecahkan soal.

6. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan sesuatu yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar baik dalam bentuk prestasi, maupun perubahan tingkah laku dan sikap siswa yang telah mengalami pembelajaran. Hasil belajar dapat diungkapkan dalam bentuk angka atau huruf yang dapat menggambarkan tingkat penguasaan siswa terhadap apa yang telah dipelajari. Hasil belajar merupakan suatu indikator untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai pelajaran.Hasil belajar merupakan suatu indikator untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai pelajaran. Menurut Oemar Hamalik ada 6 tujuan dari evaluasi hasil belajar23: 1) Memberikan informasi tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajar melalui berbagai kegiatan belajar. 2) Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk membina kegiatankegiatan belajar siswa lebih lanjut, baik keseluruhan kelas maupun masing-masing individu. 3) Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa, menetapkan kesulitan-kesulitannya dan menyarankan kegiatan-kegiatan remedial (perbaikan).
23

Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008) h. 160

34

4) Memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendorong motivasi belajar siswa dengan cara mengenal kemajuannya sendiri dan merangsangnya untuk melakukan upaya perbaikan. 5) Memberikan informasi tentang semua aspek tingkah laku siswa, sehingga guru dapat membantu perkembangannya menjadi warga masyarakat dan pribadi yang berkualitas. 6) Memberikan informasi yang tepat untuk membimbing siswa memilih sekolah atau jabatan yang sesuai dengan kecakapan, minat dan bakatnya. Hasil belajar siswa dapat diketahui melalui proses evaluasi atau tes, kemudian hasil tes dinilai oleh guru. Ada 3 aspek penilaian dalam pembelajaran, yaitu24. 1. Ranah kognitif, berkenaan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. 2. Ranah afektif, mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. 3. Ranah psikomotor, mencakup imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi

Kunandar menjelaskan penilaian memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut25: 1. Formatif, yaitu merupakan umpan balik bagi guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan mengadakan program remedial bagi siswa yang belum menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari. 2. Sumatif, yaitu dapat mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran, menentukan angka nilai sebagai bahan keputusan kenaikan kelas dan laporan perkembangan belajar siswa, serta dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
24

Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2007), h.385 25 Kunandar, , h. 391

35

3. Diagnostik, yaitu dapat mengetahui latar belakang siswa (psikologis, fisik, dan lingkungan) yang mengalami kesulitan belajar. 4. Seleksi dan penempatan, yaitu hasil penilaian dapat dijadikan dasar untuk menyeleksi dan menempatkan siswa sesuai dengan minat dan kemampuannya. Hasil belajar yang diperoleh siswa melalui proses pembelajaran dapat diketahui dengan melakukan evaluasi atau tes, kemudian hasil tes dinilai oleh guru. Tidak hanya hasil tes namun juga dilihat bagaimana interaksi siswa saat melakukan diskusi kelompok. Berdasarkan uraian di atas yang dimaksud dengan hasil belajar dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan Metode Think-Pair-Share adalah hasil belajar pada ranah kognitif yang diperoleh setelah siswa melaksanakan tes hasil belajar.

B. Kerangka Konseptual Berdasarkan latar belakang dan kajian teori pada bab sebelumnya, maka Metode Think-Pair-Share diharapkan dapat meningkatkan semangat siswa dan lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran matematika di sekolah. Metode pembelajaran ini mengajarkan siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama. Untuk lebih jelas disajikan secara ringkas pada Gambar 1.

36

Siswa

Kelas eksperimen

Kelas kontrol

Pembelajaran dengan Metode Think-Pair-

Share

Pembelajaran konvensional

Aktivitas Siswa

Hasil Belajar

Hasil Belajar

Dibandingkan

Gambar 1. Kerangka Konseptual C. Hipotesis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah dan kajian teori yang telah diuraikan, maka hipotesis dari penelitian ini adalah Hasil belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran dengan Metode Think-Pair-Share (TPS) lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada kelas XI TKR SMK N 1 Tilatang Kamang.

37

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis penelitian Berdasarkan permasalahan dan kajian teori yang diuraikan pada bab 1 dan bab 2, maka jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan penelitian yang mengungkapkan hubungan antara dua variabel atau lebih mencari pengaruh suatu variabel dengan variabel lain26. Penelitian eksperimen yang digunakan adalah penelitian pra eksperimen. Menurut Muri Yusuf, jenis penelitian ini pada prinsipnya tidak dapat mengontrol validitas internal dan eksternal secara utuh, karena satu kelompok hanya dipelajari satu kali atau kalau menggunakan dua kelompok diantara kedua kelompok itu tidak disamakan terlebih dahulu.27Adapun rancangan yang digunakan penelitian dalam pra eksperimen ini adalah The Static Group Comparison Randomized Control Group Only Design. Dalam rancangan ini subjek diambil dari populasi tertentu

dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen dikenai variabel perlakuan tertentu

26 27

Sudjana, Metode Statistika, (Bandung: Tarsito, 2005), h.19 Muri Yusuf, Metode Penelitian: Dasar Penyelidikan Ilmiah, ( UNP, 1997), h. 235

38

dalam jangka waktu tertentu, lalu kedua kelompok ini dikenai pengukuran yang sama.28 Rancangan penelitian dideskripsikan seperti tabel di bawah ini: Tabel 3.1. Rancangan penelitian The Static Group Comparison:

Randomized Control-Group Only Design

Kelas Eksperimen Kontrol Keterangan: X =

Treatment X -

Posttest T T

Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen, yaitu pembelajaran matematika dengan menggunakan model cooperative tipe think pair share (TPS) Tes akhir yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol di akhir penelitian Berdasarkan rancangan tersebut, terdapat dua kelas sampel dalam

T=

penelitian ini, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Kelas kontrol merupakan kelas pembanding tanpa perlakuan, artinya kelas ini tetap melaksanakan pembelajaran konvensional. Sedangkan kelas eksperimen merupakan kelas yang diberi perlakuan, yaitu pembelajaran dengan menggunakan Model Cooperative Tipe Think Pair Share (TPS). B. Populasi dan Sampel

28

Sumardi Suryabrata, Metodologi, , h.104

39

1.

Populasi Populasi adalah keseluruhan pengamatan yang akan menjadi perhatian.29 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMK N 1 Tilatang Kamang yang terdaftar pada tahun 2013 / 2014. Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh, pada kelas XI terdapat 5 lokal di SMK N 1 Tilatang Kamang ini.

Tabel 3.2 Siswa kelas XI di SMK N 1 Tilatang Kamang yang terdaftar pada Tahun Pelajaran 2013/2014 (Populasi)

Kelas XI TGB XI TITL XI TKJ XI TKR 1 XI TKR 2

Jumlah Siswa 19 22 33 26 24

(Sumber : Guru mata pelajaran matematika SMP N 1 X Koto)30 2. Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.31 Dalam penelitian ini untuk pengambilan sampelnya dilakukan teknik probability sampling tepatnya dengan teknik simple random sampling. Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota
29 30 31

Ronal E. Walpole, Pengantar statistika, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 1993), h.6 Guru Matematika kelas VIII SMP N 1 X Koto Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2006), hal.131

40

sampel,32 sedangkan simple random sampling adalah cara pengambilan sampel yang dilakukan secara acak. Artinya, setiap anggota memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih.33 Berdasarkan permasalahan, jenis penelitian dan populasi yang akan diteliti, maka dibutuhkan dua kelas sebagai sampel yaitu untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan uraian sebagai berikut: 1) Kelompok eksperimen, pada kelompok ini akan diberikan suatu treatment atau perlakuan yaitu pembelajaran matematika menggunakan Model cooperative TPS Kelompok kontrol, pada kelompok ini diberikan suatu treatment atau perlakuan dengan menggunakan pembelajaran konvensional.

Pengambilan sampel dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: a. Mengumpulkan nilai ulangan harian matematika siswa kelas XI SMK N 1 Tilatang Kamang, kemudian dihitung rata-rata dan simpangan bakunya. b. Melakukan uji normalitas populasi terhadap nilai ulangan harian matematika kelas XI SMK N 1 Tilatang Kamang yang bertujuan untuk mengetahui apakah populasi tersebut berdistribusi normal atau tidak.
32 33

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, ( Bandung : Alfabeta, 2007), hal. 120 Lufri, Kiat Memahami dan Melakukan Penelitian, (Padang: UNP Press, 2007)hal. 82

41

Hipotesis yang diajukan adalah: H0 = Populasi berdistribusi normal H1 = Populasi berdistribusi tidak normal Untuk melihat sampel berdistribusi normal, digunakan uji Lilifort dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Data X1, X2, X3, , Xn diperoleh dan disusun dari data yang terkecil sampai yang terbesar 2. Mencari skor baku dari skor mentah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Dimana: S = Simpangan Baku = Skor rata-rata Xi = Skor dari tiap soal 3. Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian hitung peluang F (Zi) = P (P Zi) 4. Menghitung jumlah proposi skor baku yang lebih baku ata sama Zi yang dinyatakan dengan S (Zi) dengan menggunakan rumus: ( ) 5. Menghitung selisih F (Zi) S (Zi), kemudian ditentukan nilai mutlaknya 6. Ambil harga mutlak yang terbesar dari harga mutlak selisih itu diberi ( )| simbol L0. L0 = maks | ( ) 7. Bandingkan nilai L0 yang diperoleh dengan nilai L0 yang ada pada tabel. Pada taraf 0,05 jika L0 Ltabel maka H0 diterima.34 c. Melakukan uji homogenitas variansi dengan uji Bartlet Uji homogenitas variansi ini dilakukan untuk mengetahui apakah data populasi mempunyai keragaman yang sama atau tidak. Uji Bartlet dilakukan karena variansi pengujiannya sebagai berikut:
34

populasinya lebih

dari dua. Dengan

Sudjana, , h.466 477

42

Hipotesis yang di ajukan yaitu: H0 H1 : = = = : paling sedikit ada satu pasang variansi yang tidak sama

Untuk melakukan uji homogenitas ini dilakukan dengan beberapa langkah sebagai berikut: 1) Hitung k buah ragam contoh S1, S2, , Sk dari contoh-contoh berukuran n1, n2, , nk dengan 2) Gabungkan semua ragam contoh sehingga menghasilkan dugaan gabungan: 3) Dari dugaan gabungan tentukan nilai peubah acak yang mempunyai nilai sebaran Bartlet: ,( ) ( ) ( ) -

Dengan kriteria pengujian sebagai berikut: Jika b bk (a;n) berarti homogen Jika b < bk (a;n) berarti tidak homogen35 d. Uji kesamaan rata-rata Uji kesamaan rata-rata bertujuan untuk mengetahui apakah populasi memiliki kesamaan rata-rata atau tidak. Uji ini menggunakan teknik anava satu arah dengan langkah sebagai berikut yaitu: Langkah langkah dalam menguji kesamaan rata rata populasi adalah: 1) Tuliskan hipotesis statistik yang diajukan H1: sekurang-kurangnya dua rata-rata yang tidak sama 2) Tentukan taraf nyatanya () 3) Tentukan wilayah kritiknya dengan menggunakan rumus: , 35

Ronal E. Walpole, Pengantar ..., h.391

43

4) Tentukan perhitungan melalui tabel:

Tabel 3.3. : Data hasil belajar siswa kelas populasi Populasi 1 X11 X12 Total Nilai Tengah X1n T1 1 2 X21 X22 X2n T2 2 K Xk1 Xk2 Xkn Tk k T...... ..

Perhitungan dengan menggunakan rumus: Jumlah Kuadrat Total (JKT) =

Jumlah Kuadrat untuk nilai tengah Kolom (JKK) = Jumlah kuadrat Galat (JKG) = JKT JKK Masukkan data hasil perhitungan ke dalam tabel berikut: Tabel 3.4. Analisis Ragam Data Hasil Belajar Siswa Kelas Populasi Sumber Keragaman Nilai tengah kolom Galat Total 5) Keputusannya: Jumlah kuadrat JKK JKG JKT Derajat bebas k1 Nk N1 Kuadrat tengah

44

Diterima H0 jika Ditolak H0 jika ,

-36

e. Pengambilan Sampel Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh data populasi berdistribusi normal, homogen serta memiliki kesamaan rata rata maka pengambilan sampel dilakukan secara acak. Adapun langkah langkah dalam pengambilan sampel yang penulis lakukan adalah menulis nama kelas dan memasukkan nama nama tersebut ke dalam sebuah kaleng kemudian penulis undi. Kertas yang pertama terambil merupakan kelas eksperimen, sedangkan pada pengambilan kedua merupakan kelas kontrol. C. Variabel dan Data Penelitian 1. Variabel penelitian Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah: a. Variabel bebas: Perlakuan dengan pembelajaran yang menggunakan metode Think Pair Share b. Variabel Terikat: Hasil belajar matematika siswa di kelas sampel 2. Data penelitian a. Jenis data Jenis data dalam penelitian ini adalah :
36

Ronal E. Walpole, Pengantar , h.383

45

1. Data primer dalam penelitian ini adalah data aktivitas siswa dan guru, dan data hasil belajar matematika siswa kelas sampel 2. Data sekunder, yaitu data tentang jumlah siswa yang menjadi populasi dan sampel serta data nilai ulangan harian siswa kelas XI SMK N 1 Tilatang Kamang. Data sekunder ini diperoleh dari tata usaha dan guru matematika kelas XI SMK N 1 Tilatang Kamang. b. Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK N 1 Tilatang Kamang, guru bidang studi matematika maupun dari pegawai tata usaha SMK N 1 Tilatang Kamang. D. Prosedur Penelitian Secara umum prosedur penelitian terdiri dari 3 tahap, yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. 1. Tahap persiapan Tahap persiapan dalam penelitian ini meliputi: a. Menetapkan tempat dan jadwal penelitian. b. Menetapkan sampel penelitian dengan cara random sampling yaitu setiap kelas mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih jadi sampel c. Mempelajari kurikulum d. Merancang dan membuat RPP serta LKS e. Memvalidasi RPP dan LKS oleh guru mata pelajaran dan dosen matematika

46

f. Membuat kisi-kisi dan mempersiapkan soal tes akhir g. Memvalidasi soal tes akhir oleh guru mata pelajaran dan dosen matematika h. Membuat kunci jawaban i. Mempersiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi dan soal tes uraian j. Mempersiapkan observer guru matematika dan teman penulis. 2. Tahap Pelaksanaan Penelitian menggunakan dua kelas sampel, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adapun langkah-langkah pembelajaran pada kedua kelas sampel dapat dilihat pada tabel berikut: a. Kelas eksperimen No Kegiatan Guru 1 Pendahuluan: Guru pelajaran membuka Siswa mendengarkan dengan guru berbicara dan mengikuti doa yang dipimpin oleh guru Siswa menjawab 15 menit Pembelajaran Oleh Kegiatan Siswa Alokasi Waktu

mengucapkan salam dan memimpin siswa berdoa Guru bagaimana siswa dan menanyakan keadaan mengecek

pertanyaan dari guru

kehadiran siswa Guru mengaitkan atau Siswa mendengarkan

47

menghubungkan pelajaran hari ini dengan pelajaran yang telah lalu Guru tentang memotivasi kegunaan

dan yang

memperhatikan disampaikan

oleh guru Siswa mendengarkan dan yang memperhatikan disampaikan

mempelajari materi ini

oleh guru Guru tujuan pada siswa menyampaiakn pembelajaran Siswa mendengarkan dan yang memperhatikan disampaikan

oleh guru 2 Kegiatan inti: Eksplorasi Guru meminta duduk siswa Siswa mendengarkan perintah dari guru 65 menit

berkelompok

yang terdiri dari 4-5 orang perkelompok Guru membagikan LKS tentang integral tak Siswa menerima lks yang dibagikan oleh guru

tentiu dari fungsi aljabar pada bahan siswa yang sebagai akan

didiskusikan siswa Elaborasi Siswa melakukan Siswa diskusi kelompok masing melakukan dalam masing-

diskusi dengan anggota kelompok untuk

melaksanakan kegiatan

48

yang

diberikan

guru. siswa

Masing-masing dalam

kelompoknya sesuai

mengerjakan dengan

kemampuan tiap

masing-masing,

siswa memiliki pokok bahasan yang berbeda, kemudian mendiskusikannya secara kemudian berpasangan, masing Siswa berdiskusi dan saling berbagi dalam kelompok masing masingsiswa

masing anggota saling berbagi pokok bahasan yang dibahas. Guru mengamati siswa dalam diskusi kelompok

dan membimbing siswa Siswa mendengarkan dalam diskusi Konfirmasi: Guru meminta salah satu kelompok menyampaikan diskusi didepan kelas Guru tanggapan kelompok lain meminta dari untuk hasil Siswa menganggapi penampilan kelompok tampil Siswa mendengarkan guru meluruskan dan dari yand perintah dari guru

kelompok

49

menguatkaan konsep Guru meluruskan dan penegasan dengan untuk siswa

memberikan penguatan tentang siswa konsep pada

Penutup: guru kesempatan siswa materi memberikan kepada menanyakan yang belum Siswa menyimpulkan yang dibimbing oleh guru Siswa evaluasi mengerjakan Siswa bertanya pada guru tentang hal yang belum dipahami

10 menit

dimengerti. Siswa dengan bimbingan guru pelajaran menyimpulkan

Sebagai dilakukan kuis

soal yang diberikan oleh guru Siswa mencatat tugas

Peserta didik diberi PR

yang diberikan oleh

50

guru Siswa mendengarkan Guru menyampaikan yang disampaikan materi yang akan datang dan menugaskan siswa untuk membaca terlebih dahulu di rumah Guru menutup pelajaran dan mengucapkan salam. Siswa mendenagrkan guru bicara dan

oleh guru

menjawab salam dari guru

b. Kelas eksperimen

No Kegiatan Pembelajaran Guru 1 Pendahuluan: Guru pelajaran

Oleh Kegiatan Siswa

Alokasi Waktu

membuka Siswa mendengarkan dengan guru berbicara dan mengikuti doa yang dipimpin oleh guru Siswa menjawab

15 menit

mengucapkan salam dan memimpin siswa berdoa Guru bagaimana siswa dan menanyakan keadaan mengecek

pertanyaan dari guru

kehadiran siswa Guru mengaitkan atau menghubungkan pelajaran hari ini dengan pelajaran yang telah lalu Guru memotivasi Siswa mendengarkan dan yang memperhatikan disampaikan

oleh guru Siswa mendengarkan

51

tentang

kegunaan

dan yang

memperhatikan disampaikan

mempelajari materi ini

oleh guru Guru tujuan pada siswa menyampaiakn pembelajaran Siswa mendengarkan dan yang memperhatikan disampaikan

oleh guru 2 Kegiatan inti: Eksplorasi Guru menjelaskan Siswa mendengarkan penjelasan dari guru memberikan Siswa memperhatikan 65 menit

materi pelajaran pada siswa Guru

contoh soal, agar dapat dipahami siswa Elaborasi Guru memberi siswa

latihan tentang materi yang telah dijelaskan Konfirmasi: Guru meminta salah satu siswa mengerjakan untuk latihan

Siswa mengerjakan latihan diberikan yang

Siswa mengerjakan latihan ke depan

yang telah dibuat ke depan kelas

Penutup: guru memberikan Siswa bertanya pada

10 menit

52

kesempatan siswa materi

kepada menanyakan

guru tentang hal yang belum dipahami Siswa mendengarkan guru

yang

belum

dimengerti. guru pelajaran menyimpulkan

Siswa mencatat tugas Peserta didik diberi PR yang diberikan oleh guru Siswa mendengarkan

Guru

menyampaikan

yang

disampaikan

materi yang akan datang dan menugaskan siswa untuk membaca terlebih dahulu di rumah Guru menutup pelajaran dan salam. mengucapkan

oleh guru Siswa mendenagrkan guru bicara dan

menjawab salam dari guru

3.

Tahap Penyelesaian Guru memberikan tes akhir / post - test kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah pokok bahasan selesai dipelajari.

E. Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat yang digunakan dalam mengumpulkan data. Dalam

53

penelitian ini penulis menggunakan instrumen berupa lembar observasi untuk aktivitas siswa dan aktivitas guru, tes hasil belajar, dan angket respon siswa. 1. Lembar Observasi Observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu.37 Observasi dapat digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik, seperti tingkah laku peserta didik selama pembelajaran, berdiskusi, mengerjakan tugas, bertanya, dan sebagainya. Untuk mengetahui hal tersebut maka diperlukan lembar observasi. Lembar observasi ini akan diisi oleh seorang observer. Langkah-langkah dalam menyusun lembar observasi adalah: a. Merumuskan tujuan observasi b. Membuat lay-out atau kisi- kisi observasi c. Menyusun aspek- aspek yang akan diobservasi d. Validasi lembar obsevasi e. Melaksanakan observasi Lembar observasi yang digunakan pada penelitian ini terdiri lembar observasi aktifitas siswa dan aktivitas guru. Kedua observasi ini dilakukan selama pembelajaran matematika menggunakan metode belajar aktif tipe Group to Group Exchange (GGE) berlangsung di kelas eksperimen.
37

Zainal Arifin. Evaluasi Pembelajaran. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009) h. 153

54

1.

Lembar observasi aktivitas siswa Adapun hal hal yang akan dilihat oleh observer yang berkaitan dengan aktivitas siswa selama pembelajaran dengan metode GGE berlangsung, dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3.6. Aspek aspek pada Lembar Observasi Aktivitas siswa No 1 Indikator aktivitas Oral activities Aktivitas yang diamati Bertanya sewaktu pelajaran Menjawab pertanyaan Mengeluarkan pendapat saat berdiskusi 2 Mental activities Menanggapi sewaktu berdiskusi Memecahkan soal latihan selesai berdiskusi

2.

Tes Hasil Belajar Tes yang akan diujikan dalam tes akhir dibuat dalam bentuk essay karena dengan tes bentuk essay dibuat oleh peneliti, dalam hal ini peneliti dapat melihat sejauh mana kemampuan siswa dalam menyerap dan memahami informasi serta pembelajaran yang diberikan melalui model cooperative TPS. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam membuat soal tes adalah sebagai berikut : a. Mempelajari kurikulum dalam pembelajaran sesuai dengan tingkatan sekolah yang akan diteliti b. Membuat kisi kisi soal

55

Kisi kisi soal tes disusun dalam bentuk tabel yang memuat tentang kompetensi dasar yang ingin dicapai, indikator, rincian materi yang akan diujikan. Kisi-kisi soal disusun agar mempermudah dalam pembuatan soal. c. Menyusun tes sesuai dengan kisi kisi soal yang dibuat Dalam menyusun item tes, ada beberapa hal yang akan dilakukan, yaitu: Mempelajari dan memahami materi yang akan diujikan. 1. Mempelajari dan memahami teknik pembuatan soal essay dan membahasakan gagasan soal yang telah dirancang sesuai dengan kisi-kisi soal. 2. Membuat kunci jawaban d. Melakukan validitas tes Validasi tes yang akan digunakan adalah validitas isi yaitu validitas tes yang mempersoalkan apakah isi butir tes yang diujikan itu mencerminkan isi kurikulum yang seharusnya diukur atau tidak.38 Jadi, untuk memvalidasi soal tes tersebut, peneliti akan meminta bantuan kepada guru mata pelajaran dan dosen untuk merevisi soal hasil validasi. e. Uji coba tes Sebelum tes diberikan kepada siswa kelas sampel, terlebih dahulu tes diujicobakan pada kelas eksperimen. Uji coba dilakukan pada kelas ini

38

M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Grafindo, 1996), hal.111

56

karena memiliki ciri yang sama dengan kelas sampel yaitu normal, homogen dan memiliki kesamaan rata-rata. f. Analisis soal tes. Untuk menentukan kualitas soal yang baik dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Validitas tes Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan suatu instrument. Instrument dikatakan valid jika mampu mengukur apa yang diinginkan melalui data dan variabel yang diteliti secara sadar.39 . Untuk menentukan validitas tes essay dapat digunakan korelasi product moment yaitu: * ( )( ) ( ) +* ( ) +

Keterangan = koofesien korelasi antara variabel X dan variabel Y = Jumlah testee = jumlah perkalian antara skor item dan skor total = jumlah skor item = jumlah skor total Koefesien korelasi selalu terdapat antar -1,00 sampai +1,00. Kriteria yang digunakan untuk validitas yaitu40:

39 40

Suharsimi Arikunto, Dasar Dasar Evaluasi Pendidikan. (Jakarta: Bumi Aksara, 1999),h.79 M. Chabib Thoha, Teknik, h.115

57

Antara 0,800 sampai dengan 1,00: sangat tinggi Antara 0,600 sampai dengan 0,800: tinggi Antara 0,400 sampai dengan 0,600: cukup Antara 0,200 sampai dengan 0,400: rendah Antara 0,000 sampai dengan 0,200: sangat rendah 2) Reliabilitas soal tes Reliabilitas berhubungan dengan tingkat kepercayaan, dimana suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi apabila dapat memberikan hasil yang tetap. Reliabilitas tes merupakan ukuran ketepatan alat penelitian dalam menunjukkan sesuatu yang hendak diukur. Reliabilitas tes artinya keadaan suatu tes jika tes tersebut diteskan kembali maka dapat menghasilkan informasi yang konsisten, tetap dan andal.41 Untuk menentukan koefisien reabilitas digunakan rumus alpha42 yang dinyatakan dengan :
=(

)(

keterangan: : reabilitas yang dicari : jumlah varians skor tiap- tiap item : varians total Rumus varians 43:

( )

Asnelly Ilyas,, Evaluasi Pendidikan, ( Batusangkar : STAIN Batusangkar Press, 2006, h. 67 Zainal arifin , Evaluasi Pembelajaran (Bandung, Rosdakarya,2009)hal 257 43 Suharsimi Arikunto,, h. 210
42

41

58

Nilai

yang diperoleh disesuaikan dengan kriteria r product

moment pada tabel dengan ketentuan jika r11> rtabel maka tes tersebut reliabel. Dengan kritetia sebagai berikut : Reliabilitas Tes Nilai r 11 r 11 < 1.00 r 11 < 0.90 r 11 < 0.70 r 11 < 0.40 r 11 < 0.20 Kriteria Reliabilitas tinggi sekali Reliabilitas tinggi Reliabilitas sedang Reliabilitas rendah Reliabilitas sangat rendah sekali

0.90 0.70 0.40 0.20 0.00

3) Menghitung indeks kesukaran soal Indeks kesukaran soal adalah suatu bilangan yang menunjukkan sulit mudahnya suatu soal.Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit. Menurut Zainal Arifin,untuk menghitung tingkat kesukaran dapat digunakan langkah-langkah berikut44: a) Menghitung rata-rata skor untuk tiap butir soal dengan rumus:

b) Meghitung tingkat kesukaran dengan rumus:

c) Membandingkan tingkat kesukaran dengan kriteria berikut:


44

Zainal Arifin,, h. 135

59

0,00 0,30 = sukar 0,31 0,70 = sedang 0,71 1,00 = mudah d) Menghitung daya pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang

berkemampuan rendah. Menurut Zainal Arifin, untuk menentukan daya pembeda soal dapat digunakan langkah-langkah berikut45: a) Menghitung jumlah skor total tiap peserta didik. b) Mengurutkan skor total mulai dari skor terbesar sampai dengan skor terkecil. c) Menetapkan kelompok atas dan kelompok bawah. Jika jumlah peserta didik banyak (di atas 30) dapat ditetapkan 27 % d) Menghitung rata-rata skor untuk masing-masing kelompok (kelompok atas maupun kelompok bawah). e) Menghitung daya pembeda soal dengan rumus: Keterangan : DP = daya pembeda = rata- rata kelompok atas = rata-rata kelompok bawah f) Membandingkan daya pembeda dengan kriteria sebagai berikut46: 0,00 0.20 = jelek 0,20 0,40 = cukup 0,40 0,70 = baik 0,70 1.00 = baik sekali

Setelah

dilakukan perhitungan validitas, reliabilitas, tingkat

kesukaran dan daya pembeda pada soal uji coba tes, maka soal yang dapat langsung dipakai.
45 46

Zainal Arifin, , h. 133 Suharsimi Arikunto, h. 218

60

F. Teknik Analisis Data Untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa dan hasil belajar siswa, perlu dilakukan analisis dengan menggunakan teknik- teknik yang dikemukakan oleh para ahli dan telah banyak dipakai oleh peneliti- peneliti sebelumnya. Adapun teknik tersebut terdiri dari: 1. Lembar Observasi Observasi bertujuan untuk mengamati aktivitas siswa selama melaksanakan pembelajaran dengan model cooperative TPS. Oleh karena itu, dalam penelitian ini terdapat lembar observasi yang digunakan yaitu untuk mengamati aktivitas siswa pada pembelajaran matematika dengan

menggunakan model TPS. Data aktivitas siswa yang diperoleh melalui lembar observasi dianalisis dengan menggunakan rumus persentase47:

Keterangan: P% = Persentase aktivitas F = Frekuensi aktivitas yang dilakukan N = Jumlah siswa Kriteria penilaian aktivitas belajar yang positif adalah sebagai berikut:48 1) Jika persentase penilaian aktivitas adalah 1% - 25% maka aktivitas tergolong sedikit sekali.

47

Sudjana, Penelitian dan Penilaian Pendidikan, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004) h. 130 48 Dimyati dan Mudjono, Penilaian Aktivitas Belajar, (Jakarta: Aksara Baru, 1999) h. 125

61

2) Jika persentase penilaian aktivitas adalah 26% - 50% maka aktivitas tergolong sedikit. 3) Jika persentase penilaian aktivitas adalah 51% - 75% maka aktivitas tergolong banyak. 4) Jika persentase penilaian aktivitas adalah 76% - 99% maka aktivitas tergolong banyak sekali. 2. Tes Hasil Belajar Untuk memperoleh tes yang baik, maka perlu dilakukan beberapa langkah sebagai berikut: a. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah data sampel berdistribusi normal atau tidak. Uji yang digunakan adalah uji liliefort. Hipotesis yang diajukan adalah: H0 = Data berdistribusi normal H1 = Data berdistribusi tidak normal Untuk melihat sampel berdistribusi normal, digunakan uji Liliefort dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Data X1, X2, X3, , Xn diperoleh dan disusun dari data yang terkecil samapi yang terbesar. 2) Mencari skor baku dari skor mentah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Dimana:

S = Simpangan Baku = Skor rata-rata Xi = Skor dari tiap soal 3) Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian hitung peluang F (Zi) = P (P Zi) 4) Menghitung jumlah proposi skor baku yang lebih baku ata sama Zi yang dinyatakan dengan S (Zi) dengan menggunakan rumus: ( )

62

5) Menghitung selisih F (Zi) S (Zi), kemudian ditentukan nilai mutlaknya. 6) Ambil harga mutlak yang terbesar dari harga mutlak selisih itu diberi ( )| simbol L0. L0 = maks | ( ) 7) Bandingkan nilai L0 yang diperoleh dengan nilai L0 yang ada pada tabel. Pada taraf 0,05 jika L0 Ltabel maka H0 diterima. Dari hasil analisis data pada taraf nyata = 0,05 49 b. Uji Homogenitas Variansi Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah kedua data sampel mempunyai variansi yang homogen atau tidak. Hipotesis yang diajukan adalah: H0 : H1 : , variansi kedua data sampel homogen , variansi kedua data sampel tidak homogen , dimana dan adalah

Dalam hal ini yang akan diuji H0 :

simpangan baku dari masing-masing kelompok sampel. Rumus yang digunakan untuk menguji hipotesis ini menurut sudjana adalah:

Keterangan: = Variansi terbesar = Variansi terkecil = Perbandingan antara variansi terbesar dengan variansi terkecil50 c. Uji Hipotesis

49 50

Sudjana, Metode , hal.116 Sudjana, Metode , h.249

63

Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas, selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui apakah

hasil belajar kognitif matematika siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Hipotesis yang akan diuji adalah :
H0 : 1
=

2 Hasil belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model cooperative think pair share (TPS) sama dengan siswa yang mengikuti

pembelajaran konvensional.
H1: 1 > 2

Hasil belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model cooperative think pair share (TPS) lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.

1 dan 2 merupakan rata- rata populasi hasil belajar kelas sampel Berdasarkan uji normalitas dan uji homogenitas ada beberapa rumus untuk menguji hipotesis, yaitu: a. Apabila data berdistribusi normal dan mempunyai variansi homogen, maka uji statistik yang digunakan adalah dengan rumus:

dengan

Dimana: = Nilai rata-rata kelas eksperimen

64

= Nilai rata-rata kelas kontrol = variansi hasil belajar kelas eksperimen = variansi hasil belajar kelas kontrol = simpangan baku = jumlah siswa kelas eksperimen = jumlah siswa kelas kontrol Kriteria: Terima H0 jika H0 ditolak.51 b. Jika sampel berdistribusi normal dan kedua kelompok sampel tidak mempunyai variansi homogen, maka uji statistik yang digunakan adalah:
( ) ( )

, dengan dk = n1 + n2 2 selain itu

Kriteria pengujinya adalah: Tolak hipotesis H0 jika Terima H0 jika Dengan:

( (

)( )(

) )
52

51 52

Sudjana, Metode , h.239 Sudjana, Metode , h.241

65

c. Jika data yang diperoleh tidak normal, maka digunakan uji U (Uji Mann-Whitney) dengan hipotesis sebagai berikut: H0: Tidak ada perbedaan hasil belajar siswa kelas eksperimen dengan kelas kontrol. H1: Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol Untuk menghitung nilai statistik uji Mann-Whitney, rumus yang digunakan adalah sebagai berikut53: ( ( Keterangan: Catatan = jumlah kasus kelompok 1 = jumlah kasus kelompok 2 = jumlah jenjang/ rangking pada kelompok 1 = jumlah jenjang/ rangking pada kelompok 2 = hanya salah satu U saja yang dihitung, sebab U lainnya dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: = - . Sedangkan U yang digunakan adalah yang memiliki harga terkecil. ) )

53

Bambang Soepeno, Statistik Terapan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hal 191

66

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya. Arikunto, Suharsimi Aksara Hamalik, Oemar 2008. Kurikulum dan Pembelajaran.Jakarta : Bumi Aksara Kunandar 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Raja Grafindo Persada Nasution 2000. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta:Bumi Aksara Ormrod, Jeanne Ellis 2009. Psikologi Pendidikan.Jakarta: Erlangga Ronal, E. Walpole 1993.Pengantar Statistika.Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Sanjaya, Wina 2008.Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup Sardiman 2011.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta: Raja Grafindo Persada Slameto 1995.Belajar dan faktor- Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta Simanjuntak, Lisnawaty.Metode Mengajar Matematika. Jakarta: Rineka Cipta Soepeno,Bambang 1997.Statistik Terapan.Jakarta: Rineka Cipta. Sudjana 2002.Metode Statistik. Bandung: PT. Tarsito Sudjana, Nana 2009.Dasar- Dasar Proses Belajar Mengajar.Bandung: Sinar Baru Algesindo cet. Ke-10 Suherman, Erman 2001.Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA Suryabrata, Sumadi 2004.Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada Suryosubroto 2002.Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta 2007. Dasar- Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi

67

Trianto. 2012. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Penerbit Kencana Prenada Media Grups

Fadjar Shadiq, Diklat Instruktur Pengembangan Matematikasma Jenjang Lanjut Kemahiran Matematika, (Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2009), h.2, (online), (www.fadjarp3g@wordpress.com),