Vous êtes sur la page 1sur 15

Penyakit Saluran Pencernaan Bagian Atas

A. Gambaran Umum Sistem pencernaan terdiri dari organ-organ utama yang meliputi saluran pencernaan yang merupakan suatu pipa panjang mulai dari mulut, esophagus, gaster, usus halus, usus besar (colon), rectum dan anus serta organ asesori yang meliputi kelenjar saliva, hepar, pancreas dan kandung empedu. Saluran pencernaan adalah saluran yang berfungsi untuk mencerna makanan, mengabsorpsi zat-zat gizi, dan mengekresi sisa-sisa pencernaan. Saluran cerna terdiri atas mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar dan anus. Adakalanya ketika dalam keadaan tertekan, kita merasa sakit perut. Timbulnya gangguan pada saluran cerna cukup sering dikeluhkan dan menjadi masalah kesehatan dalam masyarakat. Penyakit-penyakit yang timbul pada saluran cerna, selain disebabkan oleh adanya faktor organik (kelainan struktur saluran cerna, infeksi) ternyata 40-60 % merupakan sindrom fungsional. Penderita dapat mengalami gangguan pencernaan walaupun penyebab dan mekanisme terjadinya gangguan tersebut secara pasti belum diketahui secara pasti, namun gangguan tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis. Sindrom fungsional pada gangguan saluran cerna tersebut, antara lain adalah gastritis (upper abdominal syndrome), sindrom fungsional hipogastrium (lower abdominal syndrome), dan aerofagi. Gangguan pencernaan dan absorpsi dapat terjadi pada proses menelan, mengosongkan lambung, absorpsi zat-zat gizi, dan proses buang air besar (defekasi). Gangguan ini antara lain terjadi karena infeksi atau peradangan, gangguan motilitas, perdarahan atau hematemesismelena, kondisi saluran cerna pasca bedah, dan tumor atau kanker. Penyakit-penyakit saluran cerna yang terjadi antara lain stenosis esophagus, gastritis akut atau kronik, hematenesis-melena, ulkus peptikum, sindroma dumping, hemoroid, diare dan kostipasi.

Manifestasi yang terjadi pada pasien dapat berupa disfagia, dyspepsia, diare, konstipasi hematenesis, melena dan hematokesia. Menurut lokasinya, penyakit saluran cerna dibagi dalam 2 kelompok, yaitu penyakit saluran cerna atas dan penyakit saluran cerna bawah. Penyakit pencernaan adalah semua penyakit yang terjadi pada saluran pencernaan. Penyakit ini merupakan golongan besar dari penyakit pada organ esofagus, lambung, duodenum bagian pertama, kedua dan ketiga, jejunum, ileum, kolon, kolon sigmoid, dan rektum. Penyakit-penyakit saluran pencernaan bagian atas seperti : 1. Disfagia Disfagia adalah kesulitan menelan karena adanya gangguan aliran makanan pada saluran cerna. Hal ini dapat terjadi karena kelainan system saraf menelan, pasca stroke, dan adanya massa atau tumor yang menutupi saluran cerna. Pasien memerlukan penanganan khusus tentang cara pemberian maupun bentuk makanannya. 2. Hematemesis-Melena

Hematemesis melena adalah keadaan muntah dan buang air besar berupa darah akibat luka atau kerusakan pada saluran cerna. 3. Gastritis (Upper Abdominal Syndrome) Gangguan pencernaan bagian atas yang secara umum dikenal sebagai penyakit maag merupakan gangguan saluran cerna yang cukup sering dikeluhkan. Selain disebabkan oleh faktor organik seperti adanya luka/peradangan pada saluran cerna bagian atas (lambung), gangguan ini juga dihubungkan dengan faktor psikologis mendasarinya. Gangguan ini ditandai antara lain oleh adanya rasa sakit dan atau rasa penuh di daerah epigastrium (ulu hati), kanan atau kiri di bawah lengkung iga. Rasa sakit bersifat membakar atau samar-samar, tidak jarang menjalar, intensitasnya sedang, menghebat karena makanan atau langsung setelah makan, tidak ada hubungannya dengan kejadian tertentu. Gejala-gejala lain yang timbul antara lain gangguan menelan, eruktasi (bersendawa), pirosis (merasa terbakar dan rasa asam atau pahit), mual dan muntah, kembung (meteorismus), dan lain-lain.

Penderita gastritis biasanya menunjukkan perubahan yang cukup mencolok yaitu sikap depresi. Seringkali penderita menyalahkan lingkungan atau makanannya, tetapi ternyata dengan diet (makanan) juga tidak mengurangi rasa sakitnya. Mereka memiliki angan-angan untuk dirawat, dimanja, dan untuk memiliki objek yang diinginkan sehingga mereka sulit menemukan kepuasan yang dibutuhkannya. Keseimbangan yang rapuh yang mudah menjadi runtuh dapat terlihat ketika penderita mengalami keluhan pada saluran cernanya dan jelas terlihat adanya ketergantungan pada objek yang memanjakannya. Tetapi penderita merasa takut tergantung pada orang yang menguasainya dan ketergantungan ini dirasakannya sebagai suatu penghinaan. Rasa takut ketergantungan, dan terhina mengakibatkan sikap agresif terhadap mereka, yang dapat memberikan kepuasan. Timbulnya depresi pada penderita gastritis dikarena mereka mengelakkan agresi yang timbul agar tidak kehilangan obyek yang memanjanya, dan ini menimbulkan rasa bersalah (guild) yang dirasakan dirinya sebagai sesuatu yang sangat buruk. 4. Aklasia Akalasia merupakan suatu gangguan motilitas primer esofagus yang ditandai oleh kegagalan sfingter esofagus bagian distal yang hipertonik untuk berelaksasi pada waktu menelan makanan dan hilangnya peristalsis esofagus. Kelainan ini menyebabkan obstruksi fungsional dari batas esofagus dan lambung. Akibatnya, terjadi stasis makanan dan selanjutnya timbul dilatasi esofagus. Keadaan ini akan menimbulkan gejala dan komplikasi tergantung dari berat dan lamanya kelainan yang terjadi. Secara klinis akalasia dibagi menjadi akalasia primer dan sekunder yang dihubungkan dengan etiologinya. 5. Hernia Hiatal Hernia Hiatal adalah penonjolan dari suatu bagian lambung melalui diafragma, dari posisinya yang normal di dalam perut. Diafragma adalah lembaran otot yang digunakan untuk bernafas, yang merupakan pembatas antara dada dan perut. Pada sliding hiatal hernia,

perbatasan antara kerongkongan dan lambung, juga sebagian dari lambung, yang secara normal berada di bawah diafragma, menonjol ke atas diagragma. Pada hernia hiatal paraesofageal, perbatasan antara kerongkongan dan lambung berada dalam tempat yang normal yaitu di bawah diafragma, tetapi bagian dari lambung ada yang terdorong ke atas diafragma dan terletak di

samping kerongkongan. Hernia hiatal sering terjadi, terutama pada usia diatas 50 tahun. Akibat dari kelainan ini bisa terjadi regurgitasi asam lambung. 6. Tukak Lambung (Ulkus) Dinding lambung diselubungi mukus yang di dalamnya juga terkandung enzim. Jika pertahanan mukus rusak, enzim pencernaan akan memakan bagian-bagian kecil dari lapisan permukaan lambung. Hasil dari kegiatan ini adalah terjadinya tukak lambung. Tukak lambung menyebabkan berlubangnya dinding lambung sehingga isi lambung jatuh di rongga perut. Sebagian besar tukak lambung ini disebabkan oleh infeksi bakteri jenis tertentu. B. Faktor-Faktor Penyebab Penyakit-penyakit gangguan pencernaan diantaranya dapat disebabkan oleh beberapa faktor berikut ini : Pola makan yang salah Infeksi dari bakteri, mikroba lainnya atau cacing Terdapat kelainan pada system pencernaan itu sendiri seperti akibat tumor, infeksi atau pelebaran pembuluhnya. Ada banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya penyakit gastritis, namun yang paling umum adalah 1. Jadwal makan yang tidak teratur membuat lambung sulit beradaptasi dan dapat mengkibatkan kelebihan asam lambung dan akan mengiritasi dinding mukosa lambung. Itulah sebabnya salah satu pencegahan gastritis adalah dengan makan tepat waktu. 2. Stress dapat mengakibatkan perubahan hormonal di dalam tubuh yang dapat merangsang sel dalam lambung yang berlebihan\ 3. Makanan yang teksturnya keras dan dimakan dalam keadaan panas misalnya bakso 4. Mengkonsumsi minuman yang mengandung kafein seperti kopi dan teh, makanan pedas dan asam, dan makanan yang mengandung gas seperti ubi, buncis, kol dan lain-lain. Etiologi dari akalasia tidak diketahui secara pasti. Tetapi, terdapat bukti bahwa degenerasi plexus Auerbach menyebabkan kehilangan pengaturan neurologis. Beberapa teori

yang berkembang berhubungan dengan gangguan autoimun, penyakit infeksi atau kedua-duanya. Menurut etiologinya, akalasia dapat dibagi dalam 2 bagian, yaitu : a. Akalasia primer (yang paling sering ditemukan). Penyebab yang jelas tidak diketahui. Diduga disebabkan oleh virus neurotropik yang berakibat lesi pada nukleus dorsalis vagus pada batang otak dan ganglia mienterikus pada esofagus. Disamping itu, faktor keturunan juga cukup berpengaruh pada kelainan ini. b. Akalasia sekunder (jarang ditemukan). Kelainan ini dapat disebabkan oleh infeksi, tumor intraluminer seperti tumor kardia atau pendorongan ekstraluminer seperti pseudokista pankreas. Kemungkinan lain dapat disebabkan oleh obat antikolinergik atau pascavagotomi. Penyebab hernia hiatal biasanya tidak diketahui, tetapi bisa terjadi karena adanya kelemahan pada jaringan penyokong. Faktor resiko terjadinya hernia hiatal pada dewasa adalah pertambahan usia, kegemukan, merokok. Pada anak-anak, hernia hiatal biasanya merupakan suatu cacat bawaan. Hernia hiatal pada bayi biasanya disertai dengan refluks gastroesofageal. C. Gejala dan Tanda-Tanda Gejala penyakit gastritis yang biasa terjadi adalah Mual dan muntah Nyeri epigastrum yang timbul tidak lama setelah makan dan minum unsur-unsur yang dapat merangsang lambung ( alkohol, salisilat, makanan tercemar toksin stafilokokus ) Pucat Lemah Keringat dingin Nadi cepat Nafsu makan menurun secara drastic Suhu badan meningkat Sering bersendawa terutama dalam keadaan lapar

Berikut beberapa faktor gejala yang disebabkan terganggunya lambung, diantaranya : 1. Muntah Muntah terjadi karena disebabkan otot di sekitar perut berkontraksi tiba-tiba dan mengeluarkan isi perut. Hal ini disebabkan luka pada lambung akibat infeksi, makanan yang menyengat, atau alkohol. Dapat juga disebabkan adanya gangguan pada saluran pencernaan. Makanan basi atau sudah memiliki kandungan racun juga dapat menjadi penyebab muntah. Muntah pun bisa berkali-kali selama beberapa hari. Keadaan seperti ini biasanya dialami oleh perempuan yang sedang mengidam. Mengidam biasanya ditandai dengan muntah yang berkali-kali. Selain itu, hiatus hernia juga bisa memicu sulit menelan dan kebocoran asam lambung ke dalam esofagus. Gangguan ini terjadi jika ada sebagian isi perut terdesak memasuki lubang diafragma dan sangat mungkin terjadi jika sedang hamil atau kegemukan. 2. Sakit Perut Sakit perut terjadi karena disebabkan oleh terganggunya lambung atau sistem pencernaan yang lain. Kebanyakan, sakit perut muncul akibat gangguan kecil sistem pencernaan. Namun, sakit yang berat dan terus-menerus perlu segera mendapatkan perawatan medis. Perawatan medis diperlukan jika :

Sakit perut terasa sakit selama lebih dari 4 jam berturut-turut Jika disertai muntah, namun muntah tersebut tidak meredakan sakit Jika perut menjadi bengkak dan lunak Jika disertai dengan pingsan, limbung, atau nanar

3. Masuk Angin Meskipun masalah sepele, tetapi masuk angin dapat menyebabkan perasaan tidak enak dan menyiksa. Penyebabnya bisa karena menelan udara, hiatus hernia, pencernaan tak sempurna, ataupun penyerapan yang tak sempurna. Buang angin adalah salah satu cara untuk mengatasi gejala masuk angin.

Terganggunya sistem pencernaan pada lambung juga dapat disebabkan oleh stress atau aktivitas yang berlebihan sehingga lupa akan kebutuhan tubuh, seperti makan dan minum. Pola makan yang tidak teratur juga dapat menyebabkan terganggunya lambung yang akhirnya akan berpengaruh pada organ-organ yang lainnya. Gejala-gejala yang sering terjadi pada penyakit saluran pencernaan bagian atas seperti : Gejala-gejala penyakit asam lambung yaitu terasa panas di dada, rasa tidak enak saat menelan, rasa sakit saat menelan. Gejala-gejala lain dari penyakit asam lambung adalah serangan asma yang frekuen, batuk lama rekfakter dengan pengobatan, suara serak mual dan muntah, nyeri dada nonkardiak, dan sendawa. Gejala lain dispepsia yang bisa dirasakan selain rasa tidak nyaman, juga mual, muntah, nyeri ulu hati, bloating (lambung merasa penuh), kembung, bersendawa, cepat kenyang, perut keroncongan (borborgygmi) hingga kentut-kentut. Gejala itu bisa akut, berulang, dan bisa juga menjadi kronis. Disebut kronis jika gejala itu berlangsung lebih dari satu bulan terus-menerus. Penderita sliding hernia hiatal mencapai lebih dari 40% orang, tetapi kebanyakan tanpa gejala. Gejala yang terjadi biasanya ringan. Hernia hiatal paraesofageal umumnya tidak

menyebabkan gejala. Tetapi bagian yang menonjol ini bisa terperangkap atau terjepit di diafragma dan mengalami kekurangan darah. Bila keadaannya serius dan timbul nyeri, disebut penjeratan (strangulasi), yang membutuhkan pembedahan darurat. Kadang terjadi perdarahan mikroskopis atau perdarahan berat dari lapisan hernia, yang bisa terjadi pada kedua jenis hernia hiatal tersebut. D. Patofisiologi Patofisiologi Hernia Hiatal : Peninggian tekanan intraabdomen akan mendorong lemak preperitoneal kedalam kanalis fenoralis yang akan menjadi pembuka jalan terjadinya hernia. Faktor penyebab lainnya adalah kehamilan multirasa, obesitas dan degerasi jaringan ikat karena usia lanjut. Hernia femoralis sekunder dapat terjadi sebagai komplikasi. Herniorafi pada hernia ingunalis, terutama yang memakai tehnik Bassini atau shoul dice yang menyebabkan, fasia transversa dan ligamentum inguinale lebih tergesar ke ventrokranial sehingga dan liga mentum inguinale lebih tergeser ke

ventrokranial sehingga kanalis femopalis lebih luas. Komplikasi yang paling sering timbul adalah strangulasi dengan segala akibatnya. Hernia femoralis keluar disebelah kahlah ligamentum inguinale pada fosa ovalis kadang-kadang hernia femoralis tidak teraba dari luar terutama bila merupakan Hernia Richter Perkembangan hernia : a. Penonjolan jaringan preperitoneal kedalam kronalis femoralis b. Penonjolan lebih besar diikuti permulaan hernia c. Hernia femoralis dengan lipoma preperitoneal d. Lipoma dengan hernia membelok kekranial setelah keluar dari fosa ovalis e. Lipoma terletak cranial dari ligamentum inguinale. Patofisiologi Akalasia : 1. Neuropatologi. Beberapa macam kelainan patologi dari akalasia telah banyak dikemukakan. Beberapa dari perubahan ini mungkin primer (misal: hilangnya sel-sel ganglion dan inflamasi mienterikus), dimana yang lainnya (misal : perubahan degeneratif dari n. vagus dan nukleus motoris dorsalis dari n. vagus, ataupun kelaianan otot dan mukosa) biasanya merupakan penyebab sekunder dari stasis dan obstruksi esofagus yang lama. 2. Kelainan pada Innervasi Ekstrinsik. Saraf eferen dari n. vagus, dengan badan-badan selnya di nukleus motoris dorsalis, menstimulasi relaksasi dari LES dan gerakan peristaltik yang merupakan respon dari proses menelan. Dengan mikroskop cahaya, serabut saraf vagus terlihat normal pada pasien akalasia. Namun demikian, dengan menggunakan mikroskop elektron ditemukan adanya degenerasi Wallerian dari n. vagus dengan disintegrasi dari perubahan aksoplasma pada sel-sel Schwann dan degenarasi dari sehlbung myehn, yang merupakan perubahan-perubahan yang serupa dengan percobaan transeksi saraf.

3. Kelainan pada Innervasi Intrinsik Neuron nitrergik pada pleksus mienterikus menstimulasi inhibisi disepanjang badan esofagus dan LES yang timbul pada proses menelan. Inhibisi ini penting untuk menghasilkan peningkatah kontraksi yang stabil sepanjang esofagus, dimana menghasilkan gerakan peristaltik dan relaksasi dari LES. Pada akalasia, sistem saraf inhibitor intrinsik dari esofagus menjadi rusak yang disertai inflamasi dan hilangnya sel-sel ganglion di sepanjang pleksus mienterikus Auerbach. 4. Kelainan Otot Polos Esofagus. Pada muskularis propria, khususnya pada otot polos sirkuler biasanya menebal pada pasien akalasia. Goldblum mengemukakan secara mendetail beberapa kelainan otot pada pasien akalasia setelah proses esofagektomi. Hipertrofi otot muncul pada semua kasus, dan 79% dari specimen memberikan bukti adanya degenerasi otot yang biasanya melibatkan fibrosis tapi tennasuk juga nekrosis likuefaktif, perubahan vakuolar, dan kalsifikasi distrofik. Disebutkan juga bahwa perubahan degeneratif disebabkan oleh otot yang memperbesar suplai darahnya oleh karena obstruksi yang lama dan dilatasi esofagus. Kemungkinan lain menyebutkan bahwa hipertrofi otot merupakan reaksi dari hilangnya persarafan. 5. Kelainan pada Mukosa Esofagus. Kelainan mukosa, di perkirakan akibat sekunder dari statis luminal kronik yang telah digambarkan pada akalasia. Pada semua kasus, mukosa skuamosa dari penderita akalasia menandakan hiperplasia dengan papillamatosis dan hiperplasia sel basal. Rangkaian p53 pada mukosa skuamosa dan sel CD3+ selalu melebihi sel CD20+, situasi ini signifikan dengan inflamasi kronik, yang kemungkinan berhubungan dengan tingginya resiko karsinoma sel skuamosa pada pasien akalasia. 6. Kelainan Otot Skelet. Fungsi otot skelet pada proksimal esofagus dan spingter esofagus atas terganggu pada pasien akalasia. Meskipun peristaltik pada otot skelet normal tetapi amplitude kontraksi peristaltik mengecil. Massey dkk. juga melaporkan bahwa refleks sendawa juga terganggu. Ini menyebabkan esofagus berdilatasi secara masif dan obstruksi jalan napas akut.

7. Kelainan Neurofisiologik. Pada esofagus yang sehat, neuron kolinergik eksftatori melepaskan asetilkolin menyebabkan kontraksi otot dan meningkatkan tonus LES, dimana inhibisi neuron NO/VIP memediasi inhibisi sehingga mengbambat respon menelan sepanjang esofagus, yang menghasilkan gerakan peristaltik dan relaksasi LES. Kunci kelainan dari akalasia adalah kerusakan dari neuron inhibitor postganglionik dari otot sikuler LES. E. Pathogenesis Teori patogenesis penyakit ini masih banyak yang kontroversial dan kontradiktif. Ada juga postulat yang mengatakan sensitivitas mukosa terhadap asam lambung mungkin dapat menimbulkan nyeri abdomen ataupun rasa tidak nyaman. Kelainan fungsi motori saluran cerna atas juga dipercaya merupakan salah satu patogenesis terjadinya dispesia fungsional. Hasil penelitian memperlihatkan hipomotilitas antrum pilori pada 25-50 % pasien DNU, dan pengosongan lambung yang terlambat. Selain itu, reaksi inflamasi diperkirakan mengaktivasi reseptor ambang rangsang, sehingga stimulus fisiologis yang normal menimbulkan rasa tidak nyaman. Kurang lebih 50% pasien dengan dispesia fungsional melaporkan keluhan mereka berkaitan dengan makanan. Makanan dianggap memicu sekresi asam lambung. Kopi juga dapat memperberat dispepsia, namun apakah caranya dengan berfungsi sebagai iritan nonspesifik langsung ataupun dengan mempresipitasi refluks gastroduodenal masih belum jelas. Obat antiinfalmasi nonsteroid (OAINS)/ Obat pereda nyeri/rematik juga dapat menyebabkan gangguan gejala serupa. Hal ini berkaitan dengan dosis. F. Terapi Obat Penatalaksanaan gastritis : 1. Mengurangi paparan obat-obat yang bersifat iritan. 2. Mengurangi produksi asam untuk melindungi mukosa lambung dengan antagonis H2, inhibitor pompa proton, dan atau sukralfat.

3. Gastritis H. Pylori simtomatik diterapi dengan terapi tripel selama 2 minggu (misalnya omeprazole, chlarithromyein, dan amoksilin, bismuth, metronidazole, dan ampisilin/tetrasiklin). 4. Profilaksis antasid sebaiknya diberikan pada sebagian besar pasien yang sangat kritis. 5. Perdarahan berat pada kasus gastritis stres dapat diterapi melalui endoskopi pada kasus yang jarang, pedarahan yang refrakter kemungkinan memerlukan tindakan gastrektomi. 6. Pengobatan yang dilakukan terhadap gastritis bergantung pada penyebabnya. Pada banyak kasus gastritis, pengurangan dari asam lambung dengan bantuan obat sangat bermanfaat. Antibiotik digunakan untuk menghilangkan infeksi. Penggunaan dari obat-obatan yang mengiritasi lambung juga harus dihentikan. Pengobatan lain juga diperlukan bila timbul komplikasi atau akibat lain dari gastritis. Kategori obat pada gastritis adalah Antasid : menetralisir asam lambung dan menghilangkan nyeri Acid blocker : membantu mengurangi jumlah asam lambung yang diproduksi Proton pump inhibitor : menghentikan produksi asam lambung dan menghambat H.pylori Cytoprotective agent : melindungi jaringan mukosa lambung dan usus halus.

G. Terapi Gizi Syarat diet penyakit lambung terdiri dari: 1. Mudah cerna, porsi kecil, dan sering diberikan Tujuan diet penyakit lambung adalah untuk memberikan makanan dan cairan secukupnya yang tidak memberatkan lambung. Jika pasien penyakit lambung mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak, maka hal ini dapat memberatkan lambung karena alat pencernaan termasuk lambung selain mendorong makanan menuju usus halus juga secara periodic memeras isinya sepanjang saluran, sehingga memungkinkan getah pencernaan bersentuhan baik dengan isi saluran cerna. Semakin banyak makanan yang masuk maka lambung mendorong dan memeras isinya atau akan melakukan gerak peristaltic semakin lama.

2. Energi dan protein cukup Sumber energi utama adalah karbohidrat. Karbohidrat yang diperoleh mempunyai kandungan zat pati dan zat gula(malthosa-sukrosa-laktosa). Dengan adanya amylase (ptialin) yang bercampur dengan makanan didalam mulut,pati dengan bantuan air ludah /saliva akan diubah menjadi dekstrin. Dengan terdapatnya asam klorida (HCl) yang diproduksi lambung, sebelum makanan bereaksi asam, pati sebesar mungkin akan diubah menjadi disakharida. Jadi, konsumsi karbohidrat yang tinggi akan meningkatkan produksi asam lambung.Adanya peningkatan asam lambung yang berlebihan menghasilkan gelembung-gelembung gas di dalam lambung sehingga seseorang merasakan kembung. Hal ini tentu akan memperparah kondisi penderita. Salah satu fungsi asam lambung adalah mengaktifkan beberapa enzim yang terdapat dalam getah lambung, misalnya pepsinogen diubah menjadi pepsin. Enzim ini aktif memecah protein dalam bolus menjadi proteosa danpepton yang mempunyai ukuran molekul lebih kecil. Jika penderita penyakit lambung atau gastrointestinal mengkonsumsi protein dalam jumlah besar maka sekresi enzim pepsin akan meningkat dimana secara otomatis produksi asam lambung juga akan meningkat. Itulah sebabnya diet untuk penyakit lambung konsumsi proteinnya tidak boleh terlalu tinggi atau cukup sesuai kebutuhan agar sekresi asam lambungnya tidak meningkat sehingga tidak memperparah keadaan penderita. 3. Lemak rendah, 10-15% dari kebutuhan energi total Makanan yang masuk ke dalam lambung akan bercampur dengan getah lambung yang bersifat asam. Melalui gerakan kontraksi lambung, makanan akan dicerna hingga menjadi cair (chymus). Walaupun pencernaan lemak di lambung sangat terbatas karena proses emulsifikasi lemak tidak terjadi di lambung. Namun, proses pencernaan lipid pertama kali dilakukan di lambung. Lambung mensekresikan getah lambung yaitu cairan jernih bewarna kuning pucat yang mengandung HCL 0,2-0,5% dengan pH sekitar 1,0. Getah lambung terdiri atas 97-99% air. Sisanya berupa musin (lendir) serta garam anorganik dan enzim pencernaan yaitu, pepsin renin serta lipase. Enzim lipase inilah yang akan mencerna makanan yang mengandung lemak. Panas lambung merupakan faktor penting untuk mencairkan massa lemak yang berasal dari makanan dan proses emulsifikasinya terjadi dengan bantuan kontraksi peristaltik. Lambung

menyekresikan lipase lambung (lipase gastrik) yang pada manusia merupakan lipase prodeudenal utama. Lipase lingual dan gastrik memulai pencernaan lemak dengan menghidrolisis triasilgliserol yang mengandung asam lemak rantai pendek, sedangdan pada umumnya asam lemak tak jenuh rantai panjang untuk membentuk terutama asam lemak bebas dan 1,2diasilgliserol dengan ikatan sn-3 ester sebagai tempat hidrolisis utamanya. Enzim ini hancur pada pH rendah, tetapi bekerja aktif setelah makan karena kerja pendaparan yang dimiliki protein makanan di dalam lambung. Nilai optimum pH yang dimiliki cukup luas yaitu sekitar 3,0-6,0. Enzim lipase yang berperan dalam proses pencernaan lemak di lambung merupakan salah satu komponen getah atau asam lambung. Jika orang yang menderita penyakit lambung mengkonsumsi lemak tinggi, akan merangsang peningkatan produksi asam lambung. Padahal tujuan diet penyakit lambung adalah untuk memberikan makanan dan cairan secukupnya yang tidak memberatkan lambung dan mencegah dan menetralkan sekresi asam lambung yang berlebihan. Pada penyakit lambung yang mensekresi asam lambung yang berlebihan, maka makanan yang dikonsumsi haruslah makanan yang tidak merangsang lambung memproduksi asam lambung lebih banyak. Lemak merupakan jenis makanan yang sulit dicerna yang dapat memperlambat pengosongan lambung. Karena hal ini dapat menyebabkan peningkatan peregangan di lambung yang akhirnya dapat meningkatkan asam lambung. Adanya peningkatan asam lambung yang berlebihan menghasilkan gelembung-gelembung gas di dalam lambung sehingga seseorang merasakan kembung. Itulah sebabnya mengapa orang yang sedang melakukan diet penyakit lambung harus mengkonsumsi rendah lemak karena konsumsi lemak yang tinggi akan merangsang produksi asam lambung yang tinggi juga dimana hal ini dapat memperparah kondisi yang dialami penderita. Selain itu, lemak akan memperlambat pergerakan makanan, gas, dan cairan ke saluran cerna bawah yang mengakibatkan kembung. Itulah sebabnya pada diet penyakit lambung konsumsi lemak rendah agar tidak memperparah rasa kembung yang dialami oleh penderita penyakit lambung karena gangguan pada lambung umumnya berupa sindrom dyspepsia dimana salah satu gejalanya adalah kembung. 4. Rendah serat, terutama serat tidak larut air

Pada penderita penyakit lambung yang umumnya mengalami sindrom dyspepsia, dianjurkan untuk konsumsi rendah serat karena serat yang digunakan untuk mengatasi sembelit juga dapat menyebabkan kembung tanpa adanya peningkatan jumlah gas, namun adanya kembung ini disebabkan oleh melambatnya aliran gas ke usus kecil akibat serat. Konsumsi rendah serat berdasarkan syarat diet penyakit lambung bertujuan untuk memcepat pengosongan lambung. Dalam keadaan pasien dengan penyakit lambung memnugkinkan bahwa lambung sebagai organ pencernaan mengalami luka atau ulkus. Hal ini mengharuskan adanya percepatan pengosongan lambung agar lambung dapat istirahat lebih lama dari proses pencernaan, sehingga dibutuhkan diet rendah serat karena konsumsi tinggi serat dapat memperlambat pengosongan lambung. 5. Tidak mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam Makanan yang berbumbu tajam dapat merangsang pengeluaran asam lambung berlebih. Peningkatan asam lambung yang berlebihan menghasilkan gelembung-gelembung gas di dalam lambung sehingga seseorang merasakan kembung. Itulah sebabnya mengapa orang yang sedang melakukan diet penyakit lambung harus menghindari makanan yang berbumbu tajam agar tidak memperparah keadaan yang dialaminya. 7. Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa Lactose intolerance disebabkan oleh kurangnya enzim lactase yang dibutuhkan tubuh untuk mencerna lactose (gula susu). Lactose yang tak tercerna akan bertahan di usus dan mengalami fermentasi sehingga dapat menimbulkan rasa kembung. Itulah sebabnya pada penderita penyakit lambung yang umumnya merasa kembung, dianjurkan untuk mengkonsumsi rendah laktosa agar tidak memperparah kondisi yang sedang dialaminya.

Daftar Pustaka
http://windyasih.wordpress.com/nursing/masalah-pada-sistem-pencernaan/ http://restiratnawati.blogspot.com/2011/11/diet-penyakit-lambung.html http://ardyanpradana007.blogspot.com/2011/03/patofisiologi-gangguan-padaesofagus.html http://rifkyanindika-fkm10.web.unair.ac.id/artikel_detail-35310-Catatan%20KuliahHubungan%20Psikologi%20dengan%20Gangguan%20Salura%20Cerna.html http://forum1.aimoo.com/kaltarabloggers/Artikel-Paper-Karya-Ilmiah-Makalah-TugasAkhir-TA-Skripsi-Tesis/Penyakit-Pencernaan-1-1191223.html http://fahminazzy.blogspot.com/2012/07/diet-penyakit-pada-saluran-pencernaan.html http://macammacampenyakit.com/gangguan-pencernaan-pada-sistem-pencernaanmanusia/