Vous êtes sur la page 1sur 22

LAPORAN PRAKTIKUM PELAYANAN KEFARMASIAN

EVALUASI TABLET PARASETAMOL 500 MG

Disusun oleh :

KELOMPOK: 5A
Okky Irnawaty S. (3351131071) Ignatia Nia A.P (3351131030) Nurmetasari (3351131073)

PROGRAM PROFESI APOTEKER ANGKATAN XVI UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI CIMAHI 2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Prinsip Percobaan Evaluasi mutu tablet Parasetamol berdasarkan persyaratan yang tertera dalam Farmakope Indonesia edisi III dan IV.

1.2. Tujuan Percobaan Diharapkan dapat mengenal, mengerti dan melakukan pengujian mutu sediaan tablet parasetamol 500 mg.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Tablet Tablet dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan solid yang mengandung satu atau lebih zat aktif dengan atau tanpa berbagai eksipien (yang meningkatkan mutu sediaan tablet, kelancaran sifat aliran bebas, sifat kohesivitas, kecepatan disintegrasi, dan sifat anti lekat) dan dibuat dengan mengempa campuran serbuk dalam mesin tablet. Definisi lain tablet kempa adalah unit bentuk sediaan solid dibuat dengan mengempa suatu campuran serbuk yang mengandung zat aktif dengan atau tanpa bahan tertentu yang dipilih guna membantu dalam proses pembuatan dan untuk menciptakan sifat-sifat sediaan tablet yang dikehendaki. Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV mendefinisikan tablet sebagai sediaan solid mengandung bahan obat (zat aktif) dengan atau tanpa bahan pengisi. Tablet adalah bentuk sediaan obat solid mengandung zat aktif yang dapat diberikan secara oral dan ditelan, tablet yang hanya ditempatkan dalam rongga mulut tanpa ditelan, tablet oral yang dikunyah dulu lalu ditelan, atau hanya dikulum/diisap. Selain tablet yang diberikan melalui oral, terdapat juga tablet yang diberikan melalui rektal, vaginal, implantasi-transdermal, tablet yang dilarutkan dulu lalu diminum (tablet effervesen), dan sebagainya.

2.2. Kriteria Tablet Suatu tablet harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Harus mengandung zat aktif dan non aktif yang memenuhi persyaratan; 2. Harus mengandung zat aktif yang homogen dan stabil; 3. Keadaan fisik harus cukup kuat terhadap gangguan fisik/mekanik; 4. Keseragaman bobot dan penampilan harus memenuhi persyaratan; 5. Waktu hancur dan laju disolusi harus memenuhi persyaratan; 6. Harus stabil terhadap udara dan suhu lingkungan; 7. Bebas dari kerusakan fisik;

8. Stabilitas kimiawi dan fisik cukup lama selama penyimpanan; 9. Zat aktif harus dapat dilepaskan secara homogen dalam waktu tertentu; 10. Tablet memenuhi persayaratan Farmakope yang berlaku.

2.3. Keuntungan Sediaan Tablet Sediaan tablet banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu: 1. Tablet dapat bekerja pada rute oral yang paling banyak dipilih; 2. Tablet memberikan ketepatan yang tinggi dalam dosis; 3. Tablet dapat mengandung dosis zat aktif dengan volume yang kecil sehingga memudahkan penyimpanan; 4. Bebas dari air, sehingga potensi adanya hidrolisis dapat dicegah/diperkecil. Dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, sediaan tablet mempunyai proses pembuatan, pengemasan, pengangkutan, dan

keuntungan,antara lain : 1. Volume sediaan cukup kecil dan wujudnya padat (merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling kompak), memudahkan pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan; 2. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh (mengandung dosis zat aktif yang tepat/teliti) dan menawarkan kemampuan terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketepatan ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah; 3. Dapat mengandung zat aktif dalam jumlah besar dengan volume yang kecil; 4. Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil; 5. Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air; 6. Zat aktif yang rasanya tidak enak akan berkurang rasanya dalam tablet; 7. Pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah; tidak memerlukan langkah pekerjaan tambahan bila menggunakan permukaan pencetak yang bermonogram atau berhiasan timbul; 8. Tablet paling mudah ditelan serta paling kecil kemungkinan tertinggal di tenggorokan, terutama bila bersalut yang memungkinkan pecah/hancurnya tablet tidak segera terjadi; 9. Pelepasan zat aktif dapat diatur (tablet lepas tunda, lepas lambat, lepas terkendali);

10. Tablet dapat disalut untuk melindungi zat aktif, menutupi rasa dan bau yang tidak enak, dan untuk terapi lokal (salut enterik); 11. Dapat diproduksi besar-besaran, sederhana, cepat, sehingga biaya

produksinya lebih rendah; 12. Pemakaian oleh penderita lebih mudah; 13. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik, dan stabilitas mikrobiologi yang paling baik.

2.4. Jenis Tablet Adapun macam-macam jenis tablet antara lain: 1. Tablet Kompresi Yaitu tablet kompresi dibuat dengan sekali tekanan menjadi berbagai bentuk tablet dan ukuran, biasanya ke dalam bahan obatnya, diberi tambahan sejumlah bahan pembantu antara lain: pengisi, pengikat, penghancur, pelincir, dan bahan tambahan lain. 2. Tablet Kompresi Ganda Yaitu tablet kompresi berlapis, dalam pembuatannya memerlukan lebih dari satu kali tekanan. Hasilnya menjadi tablet dengan beberapa lapisan atau tablet di dalam tablet, lapisan dalamnya menjadi inti dan lapisan luarnya disebut kulit. Tablet berlapis dibuat dengan cara memasukkan satu campuran obat ke dalam cetakan dan ditekan, demikian pula campuran obat sebagai lapisan berikutnya dimasukkan ke dalam cetakan yang sama dan ditekan lagi, untuk membentuk dua atau tiga lapisan tergantung pada jumlah obat yang ditambahkan secara terpisah dalam satu tablet berlapis. 3. Tablet Salut Gula Tablet mungkin diberi lapisan gula berwarna dan mungkin juga tidak, lapisan ini larut dalam air dan cepat terurai begitu ditelan. Gunanya bermacam-macam, melindungi obat dari udara dan kelembaban serta memberi rasa atau bau bahan obat. Kerugiannya adalah pengolahan membutuhkan waktu dan keahlian serta menambah berat dan ukuran tablet.

4. Tablet Diwarnai Coklat Pada jaman dahulu lapisan coklat merupakan bahan untuk menyalut dan mewarnai tablet. Sekarang telah digantikan dengan bahan pewarna lain seperti oksida besi yang dipakai sebagai warna tiruan coklat. 5. Tablet Salut Selaput Tablet kompresi ini disalut dengan selaput tipis dari polimer yang larut atau tidak larut dalam air maupun membentuk lapisan yang meliputi tablet. Biasanya lapisan ini berwarna. Keuntungannya adalah lebih tahan lama, bahan lebih sedikit, dan waktu lebih singkat. Selaput ini pecah dalam saluran lambung-usus. Tablet Salut Enterik Merupakan tablet yang disalut dengan lapisan yang tidak melarut atau hancur di lambung tapi di usus. Digunakan untuk bahan obat yang dirusak oleh asam lambung, mengiritasi mukosa lambung atau bila melintasi lambung menambah absorpsi obat di usus halus sampai jumlah yang berarti. 6. Tablet Sublingual atau Bukal Yaitu tablet yang disisipkan di pipi dan di bawah lidah biasanya berbentuk datar, tablet oral yang direncanakan larut dalam kantung pipi atau di bawah lidah untuk diabsorpsi melalui mukosa oral. 7. Tablet Kunyah Tablet kunyah lembut segera hancur ketika dikunyah atau dibiarkan melarut dalam mulut. Diperlukan dalam formula tablet untuk anak-anak dan dalam sediaan multivitamin. 8. Tablet Effervescent Yaitu tablet berbuih dibuat dengan cara kompresi granul yang mengandung garam effervescent atau bahan lain yang mampu melepaskan gas ketika bercampur dengan air. 9. Tablet Triturat Tablet ini bentuknya kecil dan biasanya silinder yang mengandung sejumlah kecil obat keras. Dibuat dengan cetakan atau dengan kompresi. Harus dapat cepat dan mudah larut seluruhnya dalam air.

10. Tablet Hipodermik Yaitu tablet untuk dimasukkan di bawah kulit, merupakan tablet triturat, asalnya dimaksudkan untuk digunakan oleh dokter dalam membuat larutan parenteral secara mendadak. Kesukarannya adalah mengusahakan sterilitas dan tersedianya obat dalam jumlah besar, dalam bentuk yang dapat disuntikkan, adanya beberapa obat dalam disposable syringe telah mengurangi kebutuhan akan tablet hipodermik. 11. Tablet Pembagi Yaitu tablet untuk membuat resep lebih tepat bila disebut tablet campuran, karena para ahli farmasi memakai tablet ini untuk pencampuran dan tidak pernah diberikan kepada pasien sebagai tablet itu sendiri. Mengandung relatif sejumlah besar bahan obat. 12. Tablet dengan Pelepasan Terkendali Yaitu tablet dan kapsul yang pelepasan obatnya secara terkendali.

2.5. Tablet Parasetamol - Persyaratan kadar tablet parasetamol mengandung parasetamol (C8H9NO2) tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket. - Kelarutan parasetamol larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol. - Syarat tablet memenuhi syarat tablet yang tertera sebagai berikut: 1. Keseragaman ukuran Kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 tebal tablet (Farmakope Indonesia Edisi III Hal. 6). 2. Keseragaman bobot Tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan sebagai berikut: timbang 20 tablet, hitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A, dan tidak satu tablet pun yang

bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan kolom B. Bobot Rata-rata 25 mg atau kurang 26 mg sampai dengan 150 mg 151 mg sampai dengan 300 mg Lebih dari 300 mg Penyimpangan Bobot Rata-rata (%) A 15% 10% 7,5% 5% B 30% 20% 15% 10%

3. Waktu hancur Kecuali dinyatakan lain, waktu yang diperlukan untuk menghancurkan tablet dengan sempurna tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut gula dan bersalut selaput. Bila 1 atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian dengan 12 tablet lainnya: tidak kurang 16 dari 18 tablet yang diuji harus hancur sempurna. (Farmakope Indonesia Edisi III Hal.7) - Wadah dan penyimpanan: dalam wadah tertutup rapat.

BAB III

PROSEDUR DAN HASIL PERCOBAAN

3.1. Organoleptis Tablet diamati secara visual, apakah terjadi ketidakhomogenan zat warna atau tidak, bentuk tablet, permukaan cacat atau tidak dan harus bebas dari noda atau bintik-bintik. Jenis Uji Bentuk Warna Bau Rasa 3.2. Keseragaman Ukuran Keseragaman ukuran adalah perbandingan diameter dan tebal tablet. Diambil secara acak 20 tablet, lalu diukur diameter dan tebalnya menggunakan jangka sorong. Tablet 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Tebal (cm) 1,32 1,32 1,32 1,32 1,31 1,31 1,32 1,32 1,32 1,32 1,32 1,32 1,32 1,32 1,32 Diameter (cm) 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,41 0,41 0,41 0,41 0,41 0,41 0,41 0,41 0,41 Hasil Pengamatan Bulat Putih Tidak berbau Pahit

16 17 18 19 20

1,31 1,32 1,32 1,32 1,32

0,41 0,41 0,41 0,41 0,41

Rata-Rata Tebal Tablet Rata-Rata Diameter Tablet

Persyaratan: kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali dan tidak kurang dari 1 tebal tablet (Farmakope Indonesia Edisi III Hal. 6).

3.3. Kekerasan Dilakukan menggunakan hardness tester terhadap 20 tablet yang diambil secara acak. Kekerasan diukur berdasarkan luas permukaan tablet dengan menggunakan beban yang dinyatakan dalam kg. Satuan kekerasan adalah kg/cm2. Ditentukan kekerasan rata-rata dan standar deviasinya. Tablet 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Kekerasan (kg/cm2) 11 13 9 12 10 11 8 10 10 10 13 11 11 12 9 13 11 10

19 11 20 10 RataRata Persyaratan: tablet besar 7-10 kg/cm2, tablet kecil 4-6 kg/cm2.

3.4. Friabilitas Dilakukan dengan menggunakan alat friabilator terhadap 20 atau 40 tablet yang diambil secara acak. Parameter yang diuji adalah kerapuhan tablet terhadap gesekan atau bantingan selama waktu tertentu. Friabilitas dipengaruhi oleh sudut tablet yang kasar, kurang daya ikat serbuk, terlalu banyak serbuk halus, pemakaian bahan yang tidak tepat, massa cetak terlalu kering. Tablet uji: 40 tablet (bobot <250 mg) dan 20 tablet (bobot >250 mg). Tablet yang diambil secara acak dibersihkan satu persatu dengan sikat halus lalu ditimbang (a), masukkan semua tablet ke dalam alat, lalu putar sebanyak 100 putaran. Lalu tablet dibersihkan lagi dan ditimbang (b). Bobot tablet sebelum uji (a) = 11,3786 g Bobot tablet setelah uji (b) = 11,3757 g Friabilitas = 0,025% Persyaratan: tablet yang baik memiliki friabilitas kurang dari 1%.

3.5. Keseragaman Bobot Tablet tidak bersalut harus memenuhi syarat keseragaman bobot yang ditetapkan sebagai berikut: timbang 20 tablet, hitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A, dan tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan kolom B.

Tablet 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Bobot Tablet (g) 0,5980 0,5860 0,6009 0,5966 0,5989 0,6019 0,5935 0,6038 0,5980 0,5859 0,6050 0,5939 0,6049 0,6017 0,5994 0,5953 0,6036 0,5998 0,6008 0,5919

Bobot Penyimpangan (%) 0 2,01 0,48 0,23 0,15 0,65 0,75 0,97 0 2,02 1,17 0,69 1,15 0,62 0,23 0,45 0,94 0,30 0,47 1,02 0,5980 g

Rata-Rata Bobot Tablet Persyaratan: (Farmakope Indonesia Edisi III Hal.7) Bobot Rata-rata 25 mg atau kurang 26 mg sampai dengan 150 mg 151 mg sampai dengan 300 mg Lebih dari 300 mg 3.6. Keseragaman Sediaan

Penyimpangan Bobot Rata-rata (%) A B 15% 30% 10% 20% 7,5% 5% 15% 10%

1. Penetapan kadar parasetamol dalam sampel secara spektrofotometri UVVis dalam larutan NaOH 0,1 N. a. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum Ditimbang seksama 100,0 mg parasetamol BPFI, kemudian dilarutkan dalam labu ukur 500,0 mL dengan pelarut NaOH 0,1 N hingga tanda batas (200 g/mL). Larutan tersebut dipipet sebanyak 10,0 mL lalu

diencerkan dengan NaOH 0,1 N ad 50,0 mL (40g/mL). Setelah itu larutan diukur serapannya pada panjang gelombang 200-400 nm. Diperoleh panjang gelombang maksimum dari parasetamol adalah 257,2 nm. b. Pembuatan kurva kalibrasi Ditimbang seksama 100,0 mg parasetamol BPFI, kemudian dilarutkan dalam labu ukur 500,0 mL dengan pelarut NaOH 0,1 N hingga tanda batas (200 g/mL). Larutan tersebut dipipet sebanyak 10,0 mL lalu diencerkan dengan NaOH 0,1 N ad 50,0 mL (40g/mL). Dari larutan tersebut dibuat suatu seri larutan dengan berbagai konsentrasi yaitu : 2, 4, 6, 8,10, dan 12 g/mL dalam pelarut yang sama. Masing-masing larutan standar diukur serapannya pada panjang gelombang maksimum dan dibuat kurva. Diperoleh persamaan garis kurva kalibrasi dengan y = 0,0661x + 6,67.10-5 . Kosentrasi (g/mL) 2 4 6 8 10 12 Serapan 0,128 0,263 0,403 0,536 0,654 0,792

2. Keragaman Bobot: TABLET TIDAK BERSALUT Timbang seksama 10 tablet, satu persatu, dan hitung bobot rata-rata. Dari hasil penetapan kadar, yang diperoleh seperti yang tertera dalam masing-masing monografi, hitung jumlah zat aktif dari masing-masing dari 10 tablet dengan anggapan zat aktif terdistribusi homogen. (Farmakope Indonesia Edisi IV Hal.999) Tablet 1 2 3 Bobot Tablet (mg) 599,7 595,6 595,2 Kadar zat aktif (%) 104,59 103,88 103,81

4 5 6 7 8 9 10

596,6 602,0 598,5 601,1 599,0 600,4 600,5

104,06 105 104,39 104,84 104,48 104,72 104,74

Hasil penetapan kadar sampel Sampel ke1 2 3 Rata-rata Serapan 0,2072 0,2048 0,2097 Kadar Zat Aktif(%) 104,53 103,24 105,60 104,46

- Persyaratan: tablet parasetamol mengandung parasetamol (C8H9NO2) tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket.

3.7. Waktu Hancur Masukkan 1 tablet pada masing-masing tabung dari keranjang, masukkan satu cakram pada tiap tabung danjalankan alat, gunakan air bersuhu 372 sebagai media kecuali dinyatakan menggunakan cairan lain dalam masingmasing monografi. Keranjang dinaik-turunkan secara teratur 30 kali tiap menit. Pada akhir batas waktu seperti yang tertera dalam monografi FI, angkat keranjang dan amati semua tablet. Semua tablet harus hancur sempurna. Tablet 1 2 3 Waktu Hancur 13 menit 56 detik 15 menit 11 detik 19 menit 27 detik

4 5

20 menit 27 detik 21 menit 23 detik

Persyaratan: kecuali dinyatakan lain, waktu yang diperlukan untuk menghancurkan tablet dengan sempurna tidak lebih dari 15 menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut gula dan bersalut selaput. Bila 1 atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian dengan 12 tablet lainnya: tidak kurang 16 dari 18 tablet yang diuji harus hancur sempurna. (Farmakope Indonesia Edisi III Hal.7)

BAB IV

PEMBAHASAN

Evaluasi tablet meliputi pengujian organoleptis, keseragaman ukuran, pengujian keseragaman bobot, pengujian kekerasan tablet, pengujian friabilitas, pengujian keragaman bobot, pengujian waktu hancur.

Pengujian yang dilakukan pertama kali yaitu pengujian organoleptis, yang meliputi bentuk, warna, bau dan rasa tablet. Hasil yang diperoleh tablet parasetamol memiliki bentuk yang bulat, berwarna putih, tidak berbau dengan rasa pahit.

Pengujian keseragaman ukuran merupakan pengujian untuk melihat ketebalan dan diameter tablet sehingga memilki estetika yang baik dan memudahkan untuk

penelanan. Hasil pengujian tablet parasetamol memiliki tebal tablet dengan ratarata 0,406 cm dan diameter dengan rata-rata 1,31 cm. Hasil tersebut menunjukkan, bahwa sampel tablet parasetamol 500 mg memiliki ukuran tablet yang tidak seragam karena tidak memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia edisi III yaitu diameter tablet tidak lebih dari tiga kali dan tidak kurang dari satu sepertiga kali tebal tablet.

Pengujian keseragaman bobot tablet dilakukan untuk menjamin keseragaman bobot tiap tablet yang dibuat. Tablet dengan bobot yang seragam diharapkan akan memiliki kandungan bahan obat yang sama, sehingga akan mempunyai efek terapi yang sama. Hasil pengujian keseragaman bobot memberikan hasil yang baik dimana semua tablet parasetamol 500 mg memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia edisi III yaitu tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dan bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A yaitu 7,5% dan 5% dan tidak satupun tablet yang menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom B yaitu 15% dan 10%. Hal ini menunjukkan, bahwa seluruh tablet memiliki bobot yang seragam.

Pengujian kekerasan dilakukan untuk mengetahui seberapa keras tablet yang dihasilkan dari proses formulasi. Tablet yang keras diperlukan untuk mencegah kerusakan fisik selama proses produksi, penyimpanan, dan transportasi. Namun kekerasannnya harus berada pada batas yang telah ditentukan. Kekerasan tablet ini erat hubungannya dengan ketebalan tablet, bentuk dan waktu hancur tablet. Kekerasan tablet yang dihasilkan dari tablet parasetamol 500 mg adalah 10,75 kg/cm2, hasil tersebut cukup tinggi sehingga mengakibatkan tablet tidak mudah rapuh. Tablet diharapkan memiliki tingkat kekerasan yang cukup untuk membuat tablet tetap stabil, namun dapat hancur ketika masuk ke saluran cerna di dalam tubuh.

Pengujian friabilitas digunakan untuk melihat tingkat kerapuhan tablet terhadap gesekan dan bantingan. Hal ini berkaitan dengan penggunaan jenis pengikat dan

distribusi pengikat dalam tablet. Dalam friabiitas, yang dipengaruhi adalah daya ikat eksternal tablet. Pengikat yang efektivitasnya tinggi akan memberikan % friabilitas yang rendah karena pengikat tersebut akan mengikat kuat massa tabet sehingga massa yang lepas dari tablet akan lebih sedikit. % friabilitas yang baik yaitu < 1%. Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh bobot awal sebelum uji yaitu 11,3786 gram dan setelah uji yaitu 11,3757 gram. Pengurangan bobot tersebut terjadi karena adanya gesekan antar tablet yang menyebabkan fasa luar tablet terkikis. Setelah dilakukan perhitungan, diperoleh % friabilitas tablet yaitu 0,025%. Data tersebut menunjukkan bahwa bobot tablet yang hilang setelah bergesekan dengan tablet lain jumlahnya dibawah standar yang telah ditentukan. Dengan demikian tablet parasetamol 500 mg memenuhi persyaratan friabilitas, sehingga tablet parasetamol masih tahan terhadap benturan dan gesekan karena hasil friabilitasnya kurang dari 1%.

Pengujian keragaman bobot tablet dilakukan untuk mengetahui kandungan zat aktif dalam tablet yang dihasilkan. Hasil pengujian keragaman bobot untuk tablet parasetamol 500 mg yaitu 104.59%; 103.88%; 103.81%; 104.06%; 105%; 104.39; 104.84%; 104.48%; 104.72%; dan 104.74%. Hasil ini menunjukkan, bahwa tablet parasetamol 500 mg memenuhi persyaratan keragaman bobot yang terdapat pada Farmakope Indonesia edisi IV, yaitu tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110,0%.

Pengujian waktu hancur dilakukan untuk mengetahui tablet yang dihasilkan memerlukan waktu berapa lama agar dapat hancur sehingga dapat memberikan efek bagi tubuh. Hasil pengujian waktu hancur tablet parasetamol 500 mg yaitu 13.56; 15.11; 19.27; 20.27; 21.23 menit. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa tablet tersebut tidak memenuhi persyaratan waktu hancur tablet biasa yaitu kurang dari 15 menit.

BAB V

KESIMPULAN

Dari evaluasi mutu tablet yang telah dilakukan terhadap tablet parasetamol 500 mg dapat disimpulkan bahwa sampel tersebut merupakan tablet yang sudah cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan terpenuhinya persyaratan keragaman bobot, friabilitas dan keseragaman bobot. Dimana tablet tersebut memiliki kandungan bahan obat yang sama, sehingga akan menghasilkan efek terapi yang sama. Namun masih terdapat kekurangan pada pengujian kekerasan, waktu hancur dan keseragaman ukuran.

DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Jenderal POM RI, Farmakope Indonesia Edisi IV, Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, Hlm. 649-651 2. Menteri Kesehatan RI, Farmakope Indonesia Edisi III, Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979, Hlm. 6,7, 38 3. Siregar, Charles J. P., Teknologi Farmasi Sediaan Tablet Dasar-Dasar Praktis, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2010, Hlm. 1-3, 193, 223. 4. http://vinykharuz.blogspot.com/2013/03/laporan-smest4-teksedfar.html diakses tanggal 03 desember 2013, 12.53 WIB.

LAMPIRAN

Perhitungan: Friabilitas :

= = 0,025%

x 100 %

Keragaman bobot 1. Pembuatan kurva kalibrasi 100,0 mg parasetamol BPFI (+) larutan NaOH 0,1N Ad 500,0 ml Diambil 10,0 ml (+) larutan NaOH 0,1N Ad 50,0 ml 5,0 ml 5,0 ml 15,0 ml ad 100,0 ml ad 50,0 ml ad 100,0 ml (2 ppm) (4 ppm) (6 ppm) 10,0 ml 25,0 ml 15,0 ml ad 50,0 ml ad 100,0 ml ad 50,0 ml (8 ppm) (10 ppm) (12 ppm)

2. Pengukuran serapan sampel tablet parasetamol 500 mg 10 tablet digerus Ditimbang sebanyak bobot rata-ratanya 0,5989 g (triplo) (+) larutan NaOH 0,1 N Ad 100,0 ml Diambil 1,0 ml Ad 50,0 ml Diambil 3,0 ml Ad 100,0 ml

3. Perhitungan kadar parasetamol dalam sampel (tablet) Sampel 1: serapan 0,2072 y = 0,0661x + 6,67.10-5 0,2072 = 0,0661x + 6,67.10-5 x = 0,2072 - 6,67.10-5 0,0661 = 3,1336 g/mL Dalam 50,0 ml = 100/3 x 3,1336 g/mL = 104,4533 g/mL Dalam 100,0 ml = 50/1 x 104,4533 g/mL = 5222,665 g/mL Berat parasetamol dalam 100,0 ml = 5222,665 g/ml x 100 ml = 522,266 mg % parasetamol = 522,266 mg/500 mg x 100% = 104,45%

Sampel 2: serapan 0,2048 y = 0,0661x + 6,67.10-5 0,2048= 0,0661x + 6,67.10-5 x = 0,2048- 6,67.10-5 0,0661 = 3,0973 g/mL Dalam 50,0 ml = 100/3 x 3,0973 g/mL = 103,2433g/mL Dalam 100,0 ml = 50/1 x 103,2433 g/mL = 5162,165 g/mL Berat parasetamol dalam 100,0 ml = 5162,165 g/ml x 100 ml =516,216 mg % parasetamol = 516,216 mg/500 mg x 100% = 103,24%

Sampel 3: serapan 0,2097 y = 0,0661x + 6,67.10-5 0,2097 = 0,0661x + 6,67.10-5 x = 0,2097- 6,67.10-5 0,0661 = 3,1715 g/mL Dalam 50,0 ml = 100/3 x 3,1715 g/mL = 105,72 g/mL Dalam 100,0 ml = 50/1 x 105,72g/mL = 5286 g/mL Berat parasetamol dalam 100,0 ml = 5286 g/ml x 100 ml = 528,6 mg % parasetamol = 528,6 mg/500 mg x 100% = 105,72%

% Rata-rata = 104,45 + 103,24 + 105,72 = 104,47% 3