Vous êtes sur la page 1sur 62

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Setiap ibu yang telah melahirkan menginginkan anaknya lahir dalam keadaan sehat dan tidak ada kelainan kelainan pada bayi tersebut. Tetapi keinginan tersebut tidak akan diperoleh oleh setiap ibu. Karena sebagian kecil ada yang lahir dalam keadaan abnormal. Misalnya anak lahir dengan BBLR, ikterus, hidrosefalus, dan kelainan- kelainan lainnya. Hal ini di sebabkan oleh banyak factor pencetusnya. Seperti kurang teraturnya antenatal care ibu saat hamil, asupan gizi yang kurang baik pada ibu maupun pada janin yang di kandung, atau penyakit yang diturunkan oleh ibu sendiri. Kelahiran bayi prematur merupakan masalah sosial ekonomi kesehatan masyarakat yang utama di negara maju maupun berkembang. Menurut penelitian Dwi Retnoningrum, kejadian bayi prematur di Indonesia tahun 2003 sebesar 90 per 1000 kelahiran. Di Amerika Serikat dan Amerika Utara kejadian kelahiran prematur ini mencapai 10% sedangkan di Inggris mencapai 6,7% dari jumlah seluruh kelahiran. Adapun definisi standar untuk kehamilan lewat bulan (postmatur) adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan ( postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin. ( Varney Helen,2007). Ikterus adalah gambaran klinis berupa pewarnaan kuning pada kulit dan mukosa karena adanya deposisi produk akhir katabolisme hem yaitu bilirubin. Secara klinis, ikterus pada neonatus akan tampak bila konsentrasi bilirubin serum lebih 5 mg/dL. Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan mukosa akibat penumukan bilirubin, sedangkan hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan

konsentrasi bilirubin serum yang menjurus ke arah terjadinya kernikterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar bilirubin tidak dikendalika (Mansjoer : 2000). Bayi dari ibu diabetes adalah bayi yang dilahirkan dari ibu penderita diabetes. Satu dari 500-1000 wanita hamil adalah penderita diabetes, dan satu dari 120 kehamilan adalah gestasional diabetes.
1

Kemudian kurangnya pengetahuan ibu untuk mengenali tanda tanda kelainan yang mungkin timbul pada bayi baru lahir. Seperti bayi dengan ikterus, dimana kebanyakan ibu membawa bayinya ke Rumah Sakit dalam derajat yang tinggi. Sebagaimana kita ketahui bahwa ikterik itu terjadinya dimulai dari wajah. Di sini jelas bahwa kurangnya pengetahuan ibu atau orang tua tentang ikterus tersebut, kemudian kurangnya memperoleh pelayanan kesehatan dari tenaga kesehatan. Untuk itulah penulis mengangkat makalah ini dengan judul bayi baru lahir resiko premature, postmatur, resiko tinggi ikterus neonatur, resiko bayi dari ibu diabetes.

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang kelompok angkat dalam makalah ini, antara lain : a. Bagaimana Konsep Bayi Baru Lahir Resiko Premature. b. Bagaimana Konsep Bayi Baru Lahir Resiko Postmatur. c. Bagaimana Konsep Bayi Baru Lahir Resiko Tinggi Ikterus Neonates. d. Bagaimana Konsep Bayi Baru Lahir Resiko Bayi Dari Ibu Diabetes.

1.3 Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan membahas tentang bayi baru lahir resiko premature, postmatur, resiko tinggi ikterus neonates, resiko bayi dari ibu diabetes. Selain itu, makalah ini juga ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah Sistem Reproduksi.

BAB II TINJAUN TEORI A. KONSEP DASAR TEORI 2.1 Definisi 2.1.1 Bayi Baru Lahir Resiko Premature Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan kurang atau sama dengan 37 minggu, tanpa memperhatikan berat badan lahir (Donna L Wong, 2004). Bayi premature adalah bayi yang lahir sebelu minggu ke 37, dihitung dari mulai hari pertama menstruasi terakhir, dianggap sebagai periode kehamilan memendek. (Nelson. 1998 dan Sacharin, 1996) Prematoritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama diantara bayi dengan berat 1500 gr atau kurang saat lahir. Keduanya berkaitan dengan terjadinya peningkatan morbilitas dan mortalitas neonatus. Bayi baru lahir prematur adalah bayi yang dilahirkan sebelum gestasi 37 minggu. Karena dilahirkan sebelum waktunya maka ada beberapa resiko penyakit yang mungkin terjadi. Kebanyakan bayi dilahirkan pada usia kehamilan penuh yaitu sekitar 38-42 minggu, organ tubuhnya sudah berkembang sepenuhnya. Namun tak sedikit bayi yang lahir sebelum waktunya. Lebih dari 90 persen bayi prematur yang lahir dengan berat 800 gram atau lebih bisa bertahan hidup, sedangkan jika beratnya sekitar 500 gram atau lebih hanya memiliki 40-50 persen kesempatan hidup.Bayi yang lahir prematur memang memiliki risiko kesehatan karena organ tubuhnya belum berkembang secara optimal.

2.1.2 Bayi Baru Lahir Resiko Postmatur Serotinus (postmatur) adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42 minggu lengkap. Diagnosa usia kehamilan didapatkan dengan perhitungn usia kehamilan dengan rumus Naegele atau dengan penghitungan tinggi fundus uteri (Kapita Selekta Kedokteran jilid 1). Definisi standar untuk kehamilan lewat bulan (postmatur) adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280 hari setelah ovulasi. Istilah lewat

bulan ( postdate) digunakan karena tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama kehamilan dan maturitas janin. ( Varney Helen,2007). Post-maturitas adalah suatu keadaan dimana bayi lahir setelah usia kehamilan melebihi 42 minggu. Jadi dari berbagai difinisi diatas dapat disimpulkan bahwa postmatur/postdate/serotinus/ lewat bulan? kehamilan memanjang adalah suatu kehamilan lebih dari 42 minggu (294 hari)/ yang artinya melebihi dari kehamilan normal.

2.1.3 Bayi Baru Lahir Resiko Tinggi Ikterus Neonates Ikterus adalah menguningnya sclera, kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubun dalam tubuh atau akumulasi bilirubin dalam darah lebih dari 5 mg/dl dalam 24 jam, yang menandakan terjadinya gangguan fungsional dari hepar, sistem biliary, atau sistem hematologi. (Ilmu Kesehatan Anak, Jilid 2 ). Ikterus adalah gambaran klinis berupa pewarnaan kuning pada kulit dan mukosa karena adanya deposisi produk akhir katabolisme hem yaitu bilirubin. Secara klinis, ikterus pada neonatus akan tampak bila konsentrasi bilirubin serum lebih 5 mg/dL. Ikterus adalah warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan mukosa akibat penumukan bilirubin, sedangkan hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan

konsentrasi bilirubin serum yang menjurus ke arah terjadinya kernikterus atau ensefalopati bilirubin bila kadar bilirubin tidak dikendalika (Mansjoer : 2000). Peningkatan kadar bilirubin serum dihubungkan dengan hemolisis sel darah merah (SDM) dan resopbsi lanjut dari bilirubin yang tidak terkonjugasi dari usus kecil. Koondisi mungkin tidak berbahaya atau membuat neonates beresiko terhadap komplikasi multiple atau efek-efek yang tidak diharapkan (Doenges : 1996).

2.1.4 Bayi Baru Lahir Resiko Tinggi Bayi Dari Ibu Diabetes Bayi dari ibu diabetes adalah bayi yang dilahirkan dari ibu penderita diabetes. Satu dari 500-1000 wanita hamil adalah penderita diabetes, dan satu dari 120 kehamilan adalah gestasional diabetes. Definisi diabetes mellitus dalam kehamilan ialah gangguan toleransi glukosa berbagai tingkat yang terjadi (atau pertama kali dideteksi) pada kehamilan. Batas ini
4

tanpa melihat dipakai/tidaknya insulin atau menyingkirkan kemungkinan adanya gangguan toleransi glukosa yang mendahului kehamilan. Diagnosis diabetes sering dibuat untuk pertama kali dalam kehamilan karena penderita untuk pertama kali datang kepada dokter atau diabetesnya menjadi lebih jelas oleh kehamilan. Diabetes menunjukkan kecendrungan menjadi lebih berat dalam kehamilan dan keperluan akan insulin meningkat.

2.2 Klasifikasi 2.2.1 Klasifikasi Prematur Menurut Mitayani (Asuhan Keperawatan, 2009) klasifikasi prematur terdiri atas : a) Prematuritas Murni Masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan sesuai dengan gestasi atau yang disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan (NKB-SMK). b) Bayi Small For Gestasional Age (SGA) Berat bayi lahir tidak sesuai dengan masa kehamilan. SGA terdiri atas tiga jenis : 1) Simetris (intra uterus for gestasional age) yaitu terjadi gangguan nutrisi pada awal kehamilan dan dalam jangka waktu lama. 2) Asimetris yaitu terjadi deficit nutrisi pada fase akhir kehamilan. 3) Dismatur yaitu bayi yang beratnya kurang dari semestinya menurut masa kehamilanya (KMK) / small for Gestasional Age (SGA). Menurut Bobak (Edisi 4, 2005) klasifikasi pada bayi prematur yaitu : a) Bayi prematur digaris batas 37 mg, masa gestasi 2500 gr, 3250 gr 16 % seluruh kelahiran hidup Biasanya normal Masalah : Ketidak stabilan Kesulitan menyusu
5

Ikterik RDS mungkin muncul Penampilan : Lipatan pada kaki sedikit Payudara lebih kecil Lanugo banyak Genitalia kurang berkembang b) Bayi prematur sedang 31 mg 36 gestasi 1500 gr 2500 gram 6 % - 7 % seluruh kelahiran hidup Masalah : Ketidak stabilan Pengaturan glukosa RDS Ikterik Anemia Infeksi Kesulitan menyusu Penampilan : Seperti pada bayi premature di garis batas tetapi lebih parah Kulit lebih tipis, lebih banyak pembuluh darah yang tampak c) Bayi sangat prematur 24 mg 30 mg gestasi 500 gr 1400 gr 0,8 % seluruh kelahiran hidup Masalah : semua Penampilan : Kecil tidak memiliki lemak Kulit sangat tipis

Kedua mata mungkin berdempetan

2.2.3 Klasifikasi Ikterus Neonates a) Ikterus Fisiologik Ikterus fisiologik Adalah keadaan hiperbilirubin karena faktor fisiologis yang merupakan gejala normal dan sering dialami bayi baru lahir. Sebagai neonatus, terutama bayi prematur, d e n g a n b e r a t b a d a n l a h i r r e n d a h menunjukkan gejala ikterus pada hari pertama. Ikterus ini terjadi atau timbul pada hari ke-2 atau ke-3 dan tampak jelas pada hari ke-5 sampai dengan ke-6 dan akan menghilang pada hari ke-7 atau ke-10. kadar bilirubin serum pada bayi cukup bulan tidak lebih daro 12 mg/dl dan pada BBLR tidak lebih dari 10 mg/dl, dan akan menghilang pada hari ke14 Bayi tampak biasa, minum baik dan berat badan naik biasa.

Penyebab ikterus neonatorum fisiologis diantaranya adalah organ hati yang belum matang dalam memproses bilirubin, kurang protein Y dan Z dan enzim glukoronyl tranferase yang belum cukup jumlahnya. Meskipun merupakan gejala fisiologis, orang tua bayi harus tetap waspada karena keadaan fisiologis ini sewaktu-waktu bisa berubah menjadi patologis terutama pada keadaan ikterus yang disebabkan oleh karena penyakit atau infeksi. Ikterus fisiologis menurut Tarigan (2003) dan Callhon (1996) dalam Schwats (2005) adalah ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut: Timbul pada hari kedua ketiga Kadar bilirubin indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg % pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % per hari pada kurang bulan Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg % perhari Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg % Ikterus hilang pada 10 hari pertama Tidak mempunyai dasar patologis Bayi dengan gejala ikterus ini tidak sakit dan tidak memerlukan

pengobatan,kecuali dalam pengertian mencegah terjadinya penumpukan bilirubin tidak langsung yang berlebihan.

b) Ikterus Patologik Ikterus patologis/hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin dalam darah mencapai nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kern ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Ikterus yang kemungkinan menjadi patologis atau hiperbilirubinemia dengan karakteristik sebagai berikut Menurut Surasmi (2003) bila : Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg % atau > setiap 24 jam Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg % pada neonatus < bulan dan 12,5 % pada neonatus cukup bulan Ikterus disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G6PD dan sepsis) Ikterus disertai berat lahir < 2000 gr, masa gestasi < 36 minggu, asfiksia, hipoksia, sindrom gangguan pernafasan, infeksi, hipoglikemia, hiperkapnia, hiperosmolalitas darah. Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg% pada bayi kurang bulan (BBLR) dan 12,5 mg% pada bayi cukup bulan. Ikterus yang disertai proses hemolisis. Bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl, atau kenaikan bilirubin serum 1 mg/dl/jam atau lebih 5 mg/dl/hari. Ikterus menetap sesudah bayi berumur 10 hari (cukup bulan) dan lebih dari 14 hari pada BBLR. Menurut tarigan (2003), adalah : Suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan hiperbilirubinemia bila kadar bilirubin mencapai 12 mg % pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi yang kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg % dan 15 mg %. Ikterus patologik dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu :
8

Meningkatnya produksi bilirubin, sehingga melampaui batas kemampuan hepar untuk dikeluarkan. Faktor-faktor yang menghalangi itu mengadakan obstruksi pengeluaran bilirubin. Faktor yang mengurangi atau menghalangi kemampuan hepar untuk mengadakan konjugasi bilirubin. Penyakit hemolitik, isoantibodi karena ketidakcocokan golongan darah ibu dan anak seperti Rhesus antagonis, ABO dan sebagainya. Kelainan dalam sel darah merah seperti pada defisiensi G-6-PD, thalasemia dan lain-lain. Hemolisis : hematoma, polisitemia, perdarahan karena trauma lahir. Infeksi : septikemia, meningitis, infeksi saluran kemih, penyakit karena toxoplasmosis, sifilis, rubella, hepatitis dan lain-lain. Kelainan metabolik : hipoglikemia, galaktosemia. Obat-obatan yang menggantikan ikatan bilirubin dengan albumin seperti : solfonamida, salisilat, sodium benzoat, gentamisin dsb. Pirau enterohepatik yang meninggi: obstruksi usus letak tinggi, penyakit Hirschprung, mekoneum ileus dan lain-lain. c) Kern ikterus Kern Ikterus adalah ikterus berat dengan disertai gumpalan bilirubin pada ganglia basalis. Kadar bilirubin lebih dari 20 mg % pada bayi cukup bulan. Kadar bilirubin lebih dari 18 mg % pada bayi premature. Hiperbilirubinemia dapat menimbulkan ensefalopati. Pada bayi dengan hipoksia, asidosis dan hipoglikemia kern ikterus dapat timbul walaupun kadar bilirubin dibawah 16 mg %. Pengobatannay dengan tranfusi tukar darah bila kadar bilirubin tidak langsung mencapai 20mg% Gambaran Klinik : Mata berputar putar Tertidur kesadaran menurun Sukar menghisap
9

Tonus otot meninggi Leher kaku Akhirnya kaku seluruhnya Pada kehidupan lebih lanjut terjadi spasme otot dan kekekuan otot Kejang kejang Tuli Kemunduran mental Encephalopatia oleh bilirubin merupakan satu hal yang sangat di akui sebagai komplikasi hiperbirubinemia. Bayi-bayi yang mati dengan icterus berupa icterus yang berat, lethargia tidak mau minum, muntah-muntah, sianosis, opisthotonus dan kejang. Kadang gejala klinik ini tidak di temukan dan bayi biasanya meninggal karena serangan apnoea. Kernicterus biasanya di sertai dengan meningkatnya kadar bilirubin tidak langsung dalam serum. d) Ikterus hemolitik Pada umumnya merupakan suatu golongan penyakit yang disebut Erythroblastosis foetalis atau Morbus Haemolitik Neonatorum ( Hemolytic disease of the new born ). Penyakit hemolitik ini Disebabkan inkompatibilitas rhesus, golongan darah ABO, golongan darah lain kelainan eritrosit congenital Atau defisiensi enzim G-6-PD. Inkompatibilitas Rhesus Penyakit ini sangat jarang terdapat di Indonesia. Penyakit ini terutama terdapat di negeri barat karena 15 % Penduduknya mempunyai golongan darah Rhesus negatif. Di Indonesia, dimana penduduknya hampir 100% Rhesus positif, terutama terdapat dikota besar, tempat adanya pencampuran penduduk dengan orang barat. Walaupun demikian, kadang-kadang dilakukan tranfusi tukar darh pada bayi dengan ikterus karena antagonismus Rhesus, dimana tidak didapatkan campuran darah denagan orang asing pada susunan keluarga orang tuanya. Bayi Rhesus positif dari Rhesus negatif tidak selamanya menunjukkan gejala klinik pada waktu lahir, tetapi dapat terlihat ikterus pada hari pertama kemudian makin lama makin berat ikterusnya, aisertai dengan anemia yang makin lama makin berat pula. Bila mana sebelum kelahiran terdapat hemolisis yang berat maka bayi dapat lahir dengan oedema umum disertai ikterus dan pembesaran
10

hepar dan lien ( hydropsfoetalis ). Terapi ditujukan untuk memperbaiki anemia dan mengeluarkan bilirubin yang berlebihan dalam serum, agar tidak terjadi Kern Ikterus. Inkompatibilitas ABO Penderita Ikterus akibat hemolisis karena inkom patibilitas golongan darah ABO lebih sering ditemukan di Indonesia daripada inkom patibilitas Rh. Transfusi tukar darah pada neonatus ditujukan untuk mengatasi hiperbilirubinemia karena defisiensi G 6 PD dan Inkompatibilitas ABO. Ikteru dapat terjadi pada hari pertama dan ke dua yang sifatnya biasanya ringan. Bayi tidak tampak sakit, anemianya ringan, hepar dan lien tidak membesar, ikterus dapat menghilang dalam beberapa hari. Kalau hemolisiinya berat, sering kali diperlukan juga transfusi tukar darah untuk mencegah terjadinya Kern Ikterus. Pemeriksaan yang perlu dilakukan ialah pemeriksaan kadar bilirubin serum sewaktu-waktu. Ikterus hemolitik karena incompatibilitas golongan darah lain. Selain inkompatibilitas darah golongan Rh dan ABO, hemolisis dapat pula terjadi bila terdapat inkompatibilitas darah golongan Kell, Duffy, MN, dan lain-lain. Hemolisis dan ikterus biasanya ringan pada neonatus dengan ikterus hemolitik, dimana pemeriksaan kearah inkimpatibilitas Rh dan ABO hasilnya negatif, sedang coombs test positif, kemungkinan ikterus akibat hemolisis

inkompatibilitas golongan darah lain. Penyakit hemolitik karena kelainan eritrosit kongenital. Golongan penyakit ini dapat menimbulkan gambaran klinik yang menyerupai erytrhoblasthosis foetalis akibat isoimunisasi. Pada penyakit ini coombs test biasanya negatif. Beberapa penyakit lain yang dapat disebut ialah sperositosis kongenital, anemia sel sabit ( sichle cell anemia ), dan elyptocytosis herediter. Hemolisis karena diferensi enzyma glukosa-6-phosphat dehydrogenase ( G-6-PD defeciency ). Penyakit ini mungkin banyak terdapat di indonesia tetapi angka kejadiannya belum di ketahui dengan pasti defisiensi G-6-PD ini merupakan salah satu sebab utama icterus neonatorum yang memerlukan transfusi tukar darah. Icterus walaupun tidak terdapat faktor oksigen, misalnya obat-obat sebagai faktor
11

pencetusnya walaupun hemolisis merupakan sebab icterus pada defesiensi G-6PD, kemungkinan besar ada faktor lain yang ikut berperan, misalnya faktor kematangan hepar. e) Ikterus obstruktif Terjadi karena sumbatan penyaluran empedu baik dalam hati maupun diluar hati.Akibatnya kadar bilirubin direk dan indirek meningkat. Bila kadar bilirubin direk d i a t a s 1 m g % k i t a h a r u s c u r i g a a k a n a d a n y a o b s t r u k s i hepatitis, sepsis, pyelonephritis, atau p e n y a l u r a n empedu

peningkatan kadar bilirubin langsung dalam serum, walaupun kadar bilirubin total masih dalam batas normal, selamanya berhubungan dengan keadaan patologik. Bisa terjadi karena sumbatan penyaluran empedu baik dalam hati maupun luar hati. Akibatnya kadar bilirubin direk maupun indirek meningkat.Bila sampai dengan terjadi obstruksi ( penyumbatan ) penyaluran empedu maka pengaruhnya adalah tindakan operatif, bila keadaan bayi mengizinkan. Penanganannya adalah dengan tindakan operatif, bila keadaan bayi mengizinkan.

2.2.4 Klasifikasi Bayi Baru Lahir Resiko Tinggi Bayi Dari Ibu Diabetes Untuk kepentingan diagnosis, terapi dan prognosis, baik bagi ibu maupun bagi anak, pelbagi klasifikasi diusulkan oleh beberapa penulis, diantaranya yang sering digunakan ialah klasifikasi menurut White yang berdasarkan umur waktu penyakitnya timbul, lamanya, beratnya dan komplikasinya. 1. kelas A diabetes gestasional ( tanpa vaskulopati) a. A1. maintenance hanya diet saja b. A2. yang tergantung insulin 2. Kelas B. memerlukan insulin, onset usia 20 tahun durasi penyakit kurang dari 10 tahun dan tidak ada komplikasi vaskuler 3. kelas C, memerlukan insulin, onset usia 10-19 tahun, durasi penyakit 10-19 tahun tidak ada komplikasi vaskuler 4. Kelas D, memerlukan insulin, onset usia kurang dari 10 tahun, durasi penyakit 20 tahun, ada benigna diabetic retinopati 5. kelas F, memerlukan insulin dengan nefropati
12

6. kelas H, memerlukan insulin dengan penyakit jantung iskemik 7. kelas R, memerlukan insulin dengan proliferasi nefropati 8. kelas T, memerlukan insulin dengan tranplantasi ginjal.

Klasifikasi Pyke untuk DM gestasional. 1. Diabetes gestasional, dimana DM terjadi hanya pada waktu hamil 2. Diabetes pregestasional, dimana DM sudah ada sebelum hamil dan berlanjut sesudah kehamilan 3. Diabetes pregestasional yang disertai dengan komplikasi angiopati. Klasifikasi baru tang akhir-akhir ini banyak dipakai adalah Javanovic (1986) A. Regulasi baik ( good diabetic Control) Glukosa darah puasa 55-65 mg/dL, rata-rata 84 mg/dL, 1 jam sesudah makan < 140 mg/dL. Hb A 1c normal dalam 30 minggu untuk diabetes gestasional dan dalam 12 minggu untuk diabetes pregestasional B. Regulasi tak baik ( Less than optimal Diabetic Control) Tidak kontrol selama hamil Glukosa darah diatas normal Tidak terkontrol baik selama 26 minggu untuk diabetes gestasional atau 12 minggu untuk diabetes pregestasional

2.3 Etiologi 2.3.1 Penyebab dan Faktor Resiko Bayi Prematur Meskipun kemajuan teknologi dan pengetahuan kedokteran semakin maju tetapi hingga saat ini penyebab terjadinya kelahiran prematur belum diketahui. Menurut dr. Widodo Judarwanto, SpA, pediatrician : Bayi Prematur dapat disebabkan antara lain dari factor ibu atau dari bayi. Kondisi ibu yang merupakan risiko untuk mengalami kelahiran premature adalah seperti : Faktor ras (wanita afrika amerika mempunyai risiko yang lebih tinggi) Usia ibu kurang dari 18 dan lebih dari 40 tahun
13

Ibu menderita hipertensi atau dan disertai kelainan jantung Ibu mengalami perdarahan apapun sebabnya, sehingga diperkirakan jika tidak segera dilakukan pengakhiran kehamilan akan membahayakan jiwa ibu maupun janin. Ibu mengalami preeklampsi atau eklampsi (keracunan kehamilan) Inkompetensi serviks Trauma, aktivitas fisik yang berlebihan Ibu perokok Ibu dengan diabetes Sedangkan faktor dari bayi yang dapat memicu kelahiran prematur

adalah sebagai berikut : Bayi dengan kelainan bawaan Bayi kembar Gawat janin Infeksi Bayi dengan pertumbuhan di perut ibu yang sangat lambat Bayi dengan resiko dan berbakat alergi dan asma (gerakan dan tendangan bayi sangat keras selama di kandungan) Dari berbagai penelitian di dapatkan faktor resiko terjadinya prematuritas, diantaranya adalah :

Sebelumnya mempunyai riwayat kelahiran prematur

Cairan amnion Oligohidramnion dengan selaput ketuban utuh

Kelahiran kembar 2,3,4 Paparan asap rokok Alkohol Penyakit Tekanan darah Tinggi dan diabetes saat kehamilan

Ketuban pecah dini Polihidramnion Infeksi intra amnion subklinis Korioamn ionitis klinis Malformasi uterus kongenital Overdistensi akut Adanya patologi nyata di abdomen non obstetrik

Jarak Kehamilan yang terlalu dekat dengan kehamilan berikutnya (kurang dari 9 bulan)
14

Penyalahgunaan obat terlarang Trauma Berat badan yang rendah sebelum kehamilan

Solusi plasenta Plasenta previa Sinus marganalis Korioangioma besar Disfungsi plasenta Malformasi janin Kehamilan majemuk Janin hidrops Pertumbuhan janin terhambat Gawat janin Kematian janin Serviks Inkompetensi serviks Servisitis / vaginitas akut

Perawatan pendek Penyakit selama hamil Introgenik Induksi persalinan Sectio caesarea elektif berulang Maternal Penyakit sistematik berat Mioma besar Desiduitis Aktivitas uterus idiopatik Plasenta

2.3.2 Penyebab dan Factor Resiko Bayi Postmatur Etiologi postmatur yaitu karena perbedaan dalam menentukan usia kehamilan, ibu lupa akan tanggal haid terakhir, kesalahan perhitungan. Serta ada yang mengatakan dapat terjadi kehamilan lewat waktu yang tidak diketahui akibat masa proliferasi yang pendek. Kini dengan adanya pelayanan USG maka usia kehamilan dapat ditentukan lebih tepat terutama bila pemeriksaan dilakukan pada usia kehamilan 6-11 minggu sehingga penyimpangan hanya 1 minggu. Kekhawatiran dalam menghadapi kehamilan lewat waktu dapat menjadi 3 kali lebih besar disbandingkan kehamilan aterm. Menjelang partus terjadi penurunan hormon progesteron, peningkatan oksitosin serta peningkatan reseptor oksitosin tetapi yang paling menjatuhkan adalah adanya produksi prostaglandin yang menyebabkan his yang kuat. Prostaglandin dibuktikan berperan paling penting dalam menimbulkan kontraksi uterus. Perbedaan dalam kadar kortisol pada darah bayi sehingga disimpulkan kerentanan akan stress merupakan
15

tidak timbulnya his, selain kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta (plasenta tidak bekerja dengan baik).

Masalah Perinatal Fungsi plasenta mencapai puncaknya pada usia kehamilan 38 minggu dan kemudian mulai menurun setelah 40 minggu, ini dibuktikan dengan penurunan kadar esrliol dan plasenta laktogen. Rendahnya fungsi plasenta berkaitan dengan peningkatan kejadiaan gawat janin dengan resiko 3 kali. Akibat dari proses penuaan plasenta maka pemasukan plasanta dan oksigen akan menurun disamping adanya stasme arteri spiralis (penyempitan arteri secara mendadak dan sebentar). Sirkulasi uteroplasenter akan berkurang dari 50% menjadi 250-1/ menit jumlah air ketuban yang berkurang mengakibatkan perubahan abnormal jantung bayi. Masalah masalah pada janin disebabkan oleh : 1. Kelainan pertumbuhan janin Janin besar dapat menyebabkan distosia bahu, fraktur klavikula Pertumbuhan janin terhambat 2. Oligohidramnion, kelainan amnion ini menyebabkan : Gawat janin Tali pusat tertekan sehingga menyebabkan kematian janin mendadak. Masalah pada ibu antara lain : Servik yang belum matang (70% kasus) Kecemasan ibu Persalinan traumatis akibat janin besar (20%) Angka kejadian SC meningkat karena gawat janin, distosia bahu, dan disproporsi sefalopelviks. Meningkatkan perdarahan pasca persalinan karena penggunaan oksitosin untuk akselerasi/induksi. Faktor yang dikemukakan adalah hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksitosin berkurang ( Mochtar, Rustam, 1999). Diduga adanya kadar kortisol yang rendah pada darah janin. Selain itu, kurangnya air ketuban dan insufisiensi plasenta juga diduga
16

berhubungan dengan kehamilan lewat waktu. Fungsi plasenta memuncak pada usia kehamilan 38-42 minggu, kemudian menurun setelah 42 minggu, terlihat dari menurunnya kadar estrogen dan laktogen plasenta. Terjadi juga spasme arteri spiralis plasenta. Akibatnya dapat terjadi gangguan suplai oksigen dan nutrisi untuk hidup dan tumbuh kembang janin intrauterin. Sirkulasi uteroplasenta berkurang sampai 50%. Volume air ketuban juga berkurang karena mulai terjadi absorpsi. Keadaankeadaan ini merupakan kondisi yang tidak baik untuk janin. Risiko kematian perinatal pada bayi postmatur cukup tinggi : 30% prepartum, 55% intrapartum, 15% postpartum. 2.3.3 Penyebab dan Factor Resiko Bayi Ikterus Neonates Peningkatan kadar bilirubin umum terjadi pada setiap bayi baru lahir, karena: a) Hemolisis yang disebabkan oleh jumlah sel darah merah lebih banyak dan berumur lebih pendek. b) Fungsi hepar yang belum sempurna (jumlah dan fungsi enzim glukuronil transferase, UDPG/T dan ligand dalam protein belum adekuat) -> penurunan ambilan bilirubin oleh hepatosit dan konjugasi. c) Sirkulus enterohepatikus meningkat karena masih berfungsinya enzim -> glukuronidase di usus dan belum ada nutrien. d) Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan (ikterus nonfisiologis) dapat disebabkan oleh faktor/keadaan: Hemolisis akibat inkompatibilitas ABO atau isoimunisasi Rhesus, defisiensi G6PD, sferositosis herediter dan pengaruh obat. Infeksi, septikemia, sepsis, meningitis, infeksi saluran kemih, infeksi intra uterin. Polisitemia. Ekstravasasi sel darah merah, sefalhematom, kontusio, trauma lahir. Ibu diabetes. Asidosis. Hipoksia/asfiksia.

17

Sumbatan traktus digestif yang mengakibatkan peningkatan sirkulasi enterohepatik. Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Secara garis besar etiologi ikterus neonatorum dapat dibagi : a) Produksi bilirubin yang berlebihan Hal ini melebihi kemampuan bayi untuk mengeluarkannya, misalnya pada hemolisis yang meningkat pada inkompatibilitas darah Rh, AB0, golongan darah lain, defisiensi enzim G-6-PD, piruvat kinase, perdarahan tertutup dan sepsis. b) Gangguan dalam proses uptake / pengambilan dan konjugasi hepar Gangguan ini dapat disebabkan oleh bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom criggler-Najjar). Penyebab lain yaitu defisiensi protein. Protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam uptake bilirubin ke sel hepar. c) Gangguan transportasi Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, sulfafurazole. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak. d) Gangguan dalam ekskresi Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau diluar hepar. Kelainan diluar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau kerusakan hepar oleh penyebab lain. e) Peningkatan reabsorpsi dari saluran cerna (siklus enterohepatik)

18

2.4 Manifestasi Klinis 2.4.1 Manifestasi Klinis pada Bayi Baru Lahir Resiko Premature Menurut Mitayani (Asuhan Keperawatan, 2009) manifestasi klinis prematur yaitu a) Berat badan kurang dari 2500 gram b) Panjang badan kurang dari 45 cm c) Lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm d) Masa gestasi kurang dari 37 minggu e) Kepala lebih besar daripada tubuh f) Kulit tipis, transparan, lanugo banyak, dan lemak subkutan amat sedikit g) Pergerakan kurang dan lemah, tangis melemah, pernapasan belum teratur, dan sering mendapat serangan apnea.

2.4.2 Manifestasi Klinis pada Bayi Baru Lahir Resiko Postmatur a. Gerakan janin jarang ( secara subjektif kurang dari 7x / 20 menit atau secara objektif kurang dari 10x / menit ). b. Pada bayi ditemukan tanda lewat waktu yang terdiri dari: Stadium I : kulit kehilangan vernix caseosa dan terjadi maserasi sehingga kulit menjadi kering, rapuh dan mudah terkelupas. Stadium II : seperti stadium I, ditambah dengan pewarnaan mekoneum ( kehijuan di kulit. Stadium III : seperti stadium I, ditambah dengan warna kuning pada kuku, kulit dan tali pusat. Berat badan bayi lebih berat dari bayi matur. Tulang dan sutura lebih keras dari bayi matur Rambut kepala lebih tebal.

Diagnosis kehamilan lewat waktu biasanya dari perhitungan rumus Negell setelah mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis. Bila masih ragu maka pengukuran TFU serial dengan senti meter akan memberikan informasi mengenai gestasi lebih tepat. Keadaan klinis yang memungkinkan yaitu:

19

1. Air ketuban yang kurang Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung dan mengan dung mekonium akan mengalami resiko 33% asfiksia. 2. Gerakan janin yang jarang Gerakn janin dapat ditentukan secara subjektif (normal rata-rata 7 kali /20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normal rata-rata 10 kali/20 menit) dan dapat pula dengan USG.

Tanda bayi Postmatur (Manuaba, Ida Bagus Gde, 1998) : 1. Biasanya lebih berat dari bayi matur ( > 4000 gram) 2. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur 3. 4. 5. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang Verniks kaseosa di bidan kurang Kuku-kuku panjang

6. Rambut kepala agak tebal 7. Kulit agak pucat dengan deskuamasi epitel

2.4.3 Manifestasi Klinis pada Bayi Baru Lahir Resiko Tinggi Ikterus Neonates Menurut Handoko (2003) Gejala utamanya yaitu : Kuning di kulit, konjungtiva dan mukosa. Biasanya, presentasi adalah pada hari kedua atau ketiga kehidupan. Penyakit kuning yang terlihat selama 24 jam pertama kehidupan mungkin akan nonphysiologic; evaluasi lebih lanjut disarankan. Bayi dengan penyakit kuning setelah 3-4 hari hidup juga mungkin memerlukan pengawasan yang lebih ketat dan pemantauan. Pada bayi dengan penyakit kuning yang parah atau penyakit kuning yang terus di luar 1-2 minggu pertama kehidupan, hasil dari layar metabolik baru lahir harus diperiksa untuk hipotiroidisme galaktosemia dan kongenital, riwayat keluarga harus dieksplorasi lebih lanjut (lihat di
20

bawah), kurva berat badan bayi harus dievaluasi, tayangan ibu sejauh kecukupan ASI harus diperoleh, dan warna tinja harus dinilai. Disamping itu dapat pula disertai dengan gejala-gejala: Dehidrasi Asupan kalori tidak adekuat (misalnya: kurang minum, muntah-muntah) Pucat Sering berkaitan dengan anemia hemolitik (mis. Ketidakcocokan golongan darah ABO, rhesus, defisiensi G6PD) atau kehilangan darah

ekstravaskular. Trauma lahir Bruising, sefalhematom (peradarahn kepala), perdarahan tertutup lainnya. Pletorik (penumpukan darah) Polisitemia, yang dapat disebabkan oleh keterlambatan memotong tali pusat, bayi KM Letargik dan gejala sepsis lainnya Petekiae (bintik merah di kulit) Sering dikaitkan dengan infeksi congenital, sepsis atau eritroblastosis Mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari normal) Sering berkaitan dengan anemia hemolitik, infeksi kongenital, penyakit hati Hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa) Omfalitis (peradangan umbilikus) Hipotiroidisme (defisiensi aktivitas tiroid) Massa abdominal kanan (sering berkaitan dengan duktus koledokus) Feses dempul disertai urin warna coklat Pikirkan ke arah ikterus obstruktif, selanjutnya konsultasikan ke bagian hepatologi.

21

Derajat ikterus pada neonates menurut Kramer Zona Bagian tubuh yang kuning Rata-rata serum bilirubin indirek (umol/L) 1 2 3 4 5 Kepala dan leher Pusat - leher Pusat - paha Lengan + tungkai Tangan + kaki 100 150 200 250 >250

Penegakan diagnosis ikterus neonatorum berdasarkan waktu kejadiannya Waktu Hari ke 1 Diagnosis banding Penyakit hemolitik (bilirubin indirek)

Inkompatibilitas darah (Rh, ABO) Sterositosis Anemia hemolitik non sterositosis

Ikterus obstruktif (bilirubin direk)


Hepatits neonatal Kuninag apada bayi premature Kuning fisiologik Sepsis Darah ekstravaskular

Hari ke 2 sampai ke 5

22

Polisitemia Sterositosis congenital Sepsis Kuning karena ASI Defisiensi G6PD Hipotiroidisme Galaktosemia Obat-obatan Atresia biliaris Hepatitis neonatal Kista koledokus Sepsis (terutama infeksi saluran kemih) Stenosis pilorik

Hari ke 5 sampai 10

Hari ke 10 sampai lebih

2.4.4 Manifestasi Klinis Bayi Baru Lahir Resiko Tinggi Bayi Dari Ibu Diabetes Bayi cenderung montok dan besar akibat bertambahnya lemak tubuh. Gejala klinis yang sering ditemukan dan merupakan cirri khas bayi hipoglikemia adalah tremor, lertargi, malas minum, serta gejala lain yaitu hiperpnea, apnea, sianosis, pernafasan berat, kejang, apatis, hipotonin, iritabilitas, tangisan melengking. Pada pemeriksaan diagnostik akan ditemukan peningkatan kadar gula darah, kadar kalsiun serum <7mg/ml>.

2.5 Masalah Yang Terdapat Pada Bayi Prematur Menurut MacKendrik et al, 1993 dalam Boback adapun masalah yang terdapat pada bayi premature adalah : a) Masalah Fisiologis Bayi baru lahir preterm berisiko karena system organ yang imatur dan kurangnya cadangan yang adekuat. Bayi baru lahir ini kurang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang diperlukan untuk kelancaran adaptasi
23

terhadap kehidupan ekstrauteri, yang membuatnya mengalami masalah kesehatan dan daya tahan. Berbagai masalah fisiologis merupakan dampak langsung dari hal tersebut. b) Masalah Respirasi Salah satu masalah yang paling umum adalah kesulitan bernapas dan paling sering disebaban oleh sindrom distress respiratory (RDS). Dalam kondisi ini paru-paru bayi belum berkembang sepenuhnya sehingga tidak cukup menghasilkan zat penting yang disebut surfaktan. Untuk menanganinya biasanya bayi dibantu dengan mesin pernapasan atau ventilator untuk sementara atau penggunaan surfaktan buatan. Apnea adalah masalah kesehatan umum pada bayi premature, hal ini terjadi karena kurang matangnya dearah darah di otak yang mengendalikan dorongan untuk bernapas. Biasanya bayi berhenti bernapas, denyut jantung yang berkurang dan kulit bisa menjadi pucat, ungu atau biru untuk sementara. Untuk menanganinya cukup merangsang bayi untuk memulai kembali bernapas, tapi jika terlalu sering terjadi kemungkinan diperlukan obat-obatan. Pencetus terjadinya apnea pada neonates dicetuskan oleh gangguan sebagai berikut : Ketidakstabilan suhu Masalah system saraf pusat Obat (maternal atau janin) Infeksi Gangguan metabolic Asfiksia neonatus Distensi abdomen Semua bayi baru lahir yang berisiko harus dipantau dengan monitor apnea selama 2 minggu pertama kehidupanya. Penggunaan stimulasi taktil dan perubahan posisi untuk menghindari obstruksi faring dengan hiperfleksi leher terbukti bermanfaat dalam menangani dan mencegah episode apnea. Teknik penatalaksanaan lain meliputi CAP nasal rendah sampai 5H2O, tempat tidur air, dan stimulant pernafasan seperti teofilin atau kafein.

24

c) Masalah Gastrointestinal Maturitas saluran GI tercapai pada usia gestasi 36 sampai 38 minggu. Oleh karena itu, saluran GI pada bayi baru lahir preterm tidak sama fungsinya dengan saluran GI pada bayi yang baru lahir aterm. Factor berikut ini yang mempengaruhi fungsi GI pada bayi preterm : Tidak ada koordinasi antara mengisap dan menelan sampai usia gestasi 34 sampai 35 minggu Sfingter jantung tidak adekuat Waktu pengosongan lambung lambat Penurunan absorpsi lemak Pencernaan protein tidak komplet Motilitas menurun atau tidak terkoordinasi d) Masalah Kardiovaskuler Defek kardiovaskuler yang paling banyak terjadi pada bayi preterm adalah Duktus Arteriosus. Ductus Arteriosus adalah pembuluh darah pendek yang menghubungkan pembuluh darah utama untuk memasok darah dari paru-paru ke aorta (pembuluh darah utama yang meninggalkan jantung). Fungsinya pada bayi yang belum lahir adalah memungkinkan darah untuk melewati paru-paru, karena oksigen untuk darah berasal dari ibu. Pada bayi pembuluh darah ini cukup panjang dan akan segera menutup setelah lahir. Tapi pada bayi premature kadang tetap tebuka, sehingga menyebabkan kesulitan bernapas dan terkadang gagal jantung. e) Masalah Hepar Hati bayi baru lahir preterm yang belum sempurna menimbulkan masalah yang serius selama neonates. Sekitar 80% bayi premature mengalami kondisi heperbilirubin. Pada bayi baru lahir preterm, kadar bilirubin meningkat dengan cepat dari bayi cukup bulan karena ketidakmampuan hati memproses bilirubin, sehingga mengembangkan penyakit kuning. Selain itu bilirubin yang tinggi juga bisa menyababkan kerusakan otak, karenya bayi premature dengan penyakit kuning harus terus dipantau dan ditangani dengancepat. Kadar protein serum lebih rendah, defisiensi factor pembekuan
25

darah, defisiensi konjugasi dan detoksifikasi obat tertentu semuanya terjadi akibat imaturitas hati. f) Masalah Imunologi Dari lima immunoglobulin (Ig), hanya IgM yang diproduksi oleh bayi baru lahir. IgG tidak menembus plasenta dengan jumlah yang cukup sampai usia gestasi 34 minggu, hal tersebut dapat membahayakan bayi baru lahir preterm. g) Masalah Sisitem Saraf Pusat Tahap pertimbangan system saraf pada saat lahir bergantung pada tingkat maturitas. Janin telah memiliki sebagian besar neuronnya pada usia gestasi 18 sampai 20 minggu. Membrane dasar kapiler otak berada pada ketebalan minimal dibandingkan otak orang dewasa. Fenomena ini mungkin merupakan sebuah factor yang menyebabkan bayi baru lahir preterm mengalami perdarahan sub-ependimial dan IVH. Masalah lain berhubungan dengan tingkat maturitas system saraf menurut jumlah minggu gestasi. Sedikit ekspresi wajah dapat diamati pada usia gestasi sebelum 30 sampai 32 minggu. Sedikit tangisan spontan terjadi sebelum 30 sampai 32 minggu. Sejak saat ini, rasa lapar diekspresikan dengan tangisan. Mengisap non nutritive secara berirama dapat diamati hanya setelah usia gestasi 33 minggu. System pendengaran mulai berfungsi dari gestasi 26 minggu. Respons pendengaran yang konsisten dapat diamati pada usia gestasi 32 sampai 34 minggu. Peningkatan gradual tonus otot terjadi sejalan dengan peningkatan usia gestasi. Sejalan dengan meningkatnya tonus otot, ekstremitas secara bertahap mengambil posisi fleksi. Perubahan postur dan sifat ekstremitas yang fleksibel ini merupakan bagian dari penilaian pengkajian usia gestasi. Pada usia 36 minggu, gerakan otot menjadi lebih terkoordinasi. h) Masalah Ginjal Pada bayi baru lahir preterm, ginjal dan struktur urinarius yang terkait belum cukup matur. Ginjal tidak dapat memekatkan urine dengan baik atau mengekskresi sejumlah besar cairan. Lebih lanjut lagi, ekskresi obat memerlukan waktu yang lebih lama. Efisiensi laju filtrasi glomerulus sejalan
26

dengan usia gestasi. Kapasitas pendapatan ginjal rendah, dengan penurunan ekskresi bikarbonat dan asam, yang menyebabkan neonatus mengalami asidosis. i) Masalah Integument Kulit bayi baru lahir preterm tipis, transparan dan diselimuti dengan verniks dalam jumlah besar. Terdapat laju kehilangan cairan yang tidak disadari (IWL) yang tinggi , terutama pada bayi baru lahir yang berusia kurang dari 30 minggu. Oleh karena itu, kulit bayi baru lahir preterm meyerap zat kimia dengan cepat sehingga tindakan pencegahan harus dilakukan dengan mengoleskan salep topical dan larutan yang menutupi kulit. Akhirnya, kulit sangat rentan terhadap kerusakan akibat perekatan sehingga kecermatan harus dilakukan dalam hal jumlah dan jenis perekat yang digunakan untuk pemasangan monitor dan peralatan lain pada kulit. Penggunaan plester pada kulit harus dihindari sebisa mungkin, karena pelepasannya dapat mudah merusak epidermis yang rentan. Mandi harus diminimakan karena akan menghancurkan lapisan PH asam dari kulti. Daerah tonjolan tulang harus dilindungi dengan sering megubah posisi, menggunakan kulti domba kasur air, dan balutan membaran semipermeabel, seperti Opsite atau Tegadem. j) Masalah Suhu Bayi baru lahir premature mengalami kesulitan untuk mengatur suhu tubuhnya. Factor-faktor berikut ini meningkatkan masalah pengaturan suhu pada bayi baru lahir premature : Penurunan insulasi lemak Pengurangan cadangan lemak coklat Perbandingan antara area permukaan yang luas terhadap berat badan Asupan kalori yang tidak adekuat Postur ekstremitas ekstensi Kemampuan yang tidak efektif untuk meningkatkan konsumsi oksigen Kemampuan pengaturan suhu yang belum sempurna Peningkatan kehilangan cairan yang tidak disadari
27

Peningkatan kandungan air tubuh.

2.6 Masalah Kesehatan Khusus pada bayi Prematur a) Respiratory Distress Syndrome (RDS) RDS adalah masalah pernapasan yang disebabkan belum siapnya paruparu. Paru-paru pada bayi prematur dapat kekurangan substansi cairan yang disebut surfaktan, yang memberikan paru-paru kualitas elastis yang dibutuhkan untuk kemudahan bernapas. Tanpa surfaktan, paru-paru cenderung akan kolaps, memaksa bayi kecil untuk bekerja keras untuk bernapas. Perawatan : Beberapa bayi akan membutuhkan ventilator, atau respirator, untuk membantu pernapasan. Sekarang ini telah tersedia surfaktan pengganti dan cukup efektif dalam mengatasi RDS. Beberapa bayi akan merespon dengan baik jika menggunakan cara ini. Masalah paru-paru pada bayi prematur biasanya dapat meningkat dari tujuh hari menjadi beberapa minggu. b) Penyakit Paru-Paru Kronis / Bronchopulmonary Dysplasia (BPD) Bayi yang memerlukan bantuan oksigen lebih dari satu bulan dapat dideskripsikan mempunyai penyakit paru-paru kronis atau bronchopulmonary dysplasia (BPD). Mereka akan membutuhkan oksigen dan perawatan lain untuk beberapa minggu bahkan bulanan.Perawatan : Bayi dengan BPD akan mempunyai paru-paru yang terus tumbuh dan matang, meskipun beberapa bayi prematur lain tetap akan membutuhkan oksigen saat kembali ke rumah mereka. c) Respiratory Syncytial Virus (RSV) RSV adalah penyebab utama penyakit sistem pernapasan bawah pada bayi dan anak-anak. Di US, wabah RSV umumnya muncul di bulan oktober dan Mei. Bayi-bayi yang menderita RSV dapat mengalami apnea (berhentinya napas pada bayi sekitar 15 detik); bronchiolitis (infeksi saluran pernapasan yang terdapat di paru-paru); atau masalah paru-paru yang berkepanjangan. Bayi prematur dan bayi-bayi dengan BPD mempunyai resiko tertinggi untuk terjadinya komplikasi dari infeksi RSV.Pencegahan dan perawatan : RSV adalah penyakit menular. Dapat menyebar di dalam rumah sakit atau setelah
28

bayi pulang kerumah. Pastikan seluruh keluarga dan relasi anda yang berkunjung tidak sedang flu atau infeksi lain. Pastikan juga untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memegang bayi anda. Tidak ada perawatan yang terbukti efektif untuk infeksi RSV. Untuk lebih jelasnya tanyakan kepada dokter spesialis anak anda untuk rekomendasi perawatan yang dibutuhkan untuk mencegah infeksi RSV jika bayi anda dalam resiko tinggi terjadinya komplikasi. d) Retinopathy Of Prematurity (ROP) ROP adalah penyakit mata yang timbul ketika bagian mata, retina, tidak tumbuh dengan sempurna.Perawatan : Beberapa kasus ROP adalah ringan dan dapat ditangani tanpa perawatan lebih lanjut. Bagaimanapun juga, dalam beberapa kasus ROP dapat mengakibatkan masalah penglihatan yang serius. Beberapa kasus ROP berat ditangani dengan operasi. Spesialis anak anda akan menjelaskan lebih lanjut perlakuan apa yang dibutuhkan. e) Apnea dan Bradycardia Pengertian : Apnea mengacu pada berhenti bernapasnya selama paling lama 15 detik. Hal ini biasa terjadi pada bayi di bulan-bulan pertamanya. Ketika apnea muncul, detak jantung seringkali turun, disebut sebagai

bradycardia.Perawatan : Jika bayi anda menderita apnea, dokter spesialis anak anda akan memberikan obat resep untuk membantu mengatur pernapasan. Detak jantung bayi anda dan pernapasannya akan diawasi melalui monitor. Kebanyakan bayi prematur akan berkembang sebelum kembali ke rumah. Jika bayi anda tidak berkembang, mungkin bisa diusahakan untuk dipinjami monitor apnea untuk dirumah. f) Jaundice atau Kuning Jaundice arau kuning terjadi karena fungsi hati pada bayi belum sempurna untuk menyaring substansi warna atau bilirubin dalam darah. Bayi baru lahir umumnya memproduksi bilirubin lebih tinggi disbanding kemampuan fungsi hatinya untuk meyaringnya.

29

Perawatan : beberapa kasus dapat ditangani efektif dengan cara menempatkan bayi di bawah sinar. Selama perawatan, kebanyakan kulit bayi akan terpapar sinar tersebut dan mata akan ditutup untuk melindungi dari sinarnya. g) Anemia Bayi prematur dapat membuat kondisi lain seperti anemia of prematurity (low blood cell count). Hal ini terjadi karena usia sel darah merah pada bayi prematur lebih seingkat sehingga lebih mudah terjadi pemecahan sel darah merah. h) Fungsi kekebalan tubuh rendah Sistem imunitas dan kekebalan bayi prematur belum terbentuk sempurna sehingga daya tahan tubuh terhadap infeksi sangat rentan. oleh karena itu bayi prematur dapat lebih mudah terkena infeksi. Bila terkena infeksi biasanya tidaklah ringan sehingga sering jatuh dalam keadaan sepsis atau infeksi sistemik atau mengganggu ke seluruh tubuh. tidak seperti padffa manusia dewasa atau ank besar bila terjadi infeksi hanya infeksi lokal seperti infeksi tenggorokan sdaja atau infeksi saluran kencing aja. Pada prematur bila terkena infeksi langsung menyerang seluruh tubuh dan sangat berat. ditandai dengan keadaa klinis tangis dan gerak menurun, pucat, denyut jantung meningkat, gangguan saluran cerna seperti kembung, muntah atau diare, demam dan hasil darah tombositnya menurun dengan cepat. i) Hiportemi bayi prematur karena lapisan lemak di bawah kkulit sangat tippis maka mudah sekali terjadi pengeluaran panas dari tubuhnya sehingga mengakibatkan penurunan suhu tuuh, keadaan ini termasuk keadaan darurat yang harus segera ditangani. j) Perdarahan kepala ketidakmatangan sistem saraf pusat dan pembuluh darah di otak mengakibatkan peningkatan resiko perdarahan di otak bayi. Sehingga bayi prematur harus dilakukan USG kepala secara ritin dalam periode tertentu.

30

k) Mur-murs Heart murmurs adalah bunyi aliran darah yang melewati jantung. Dokter spesialis anak dan petugas medis profesional lainnya yang menjaga bayi anda akan selalu menginformasikan kondisi dan perkembangan bayi anda.

2.7 Komplikasi 2.7.1 Komplikasi Pada Bayi Premature Sindrom aspirasi mekonium (menyebabkan kesulitan bernafas pada bayi) Hipoglikemi simptomatik Penyakit membrane hialind Asfiksia neonaturume Hiperbilirubinemia 2.7.2 Komplikasi Pada Bayi Postmatur Hipovolemia Asidosis Sindrom gawat napas Hipoglikemia Hipofungsi adrenal 2.7.3 Komplikasi Pada Bayi Resiko Tinggi Ikterus Neonates Ensefalopati hiperbilirubinemia (bisa terjadi kejang, malas minum, letargi dan dapat berakibat pada gangguan pendengaran, palsi serebralis) Retardasi mental - Kerusakan neurologis Gangguan pendengaran dan penglihatan Kematian Kernikterus. 2.7.4 Komplikasi Pada Bayi Resiko Bayi Dari Ibu Diabetes
Makrosomia Kematian Janin dalam rahim Sindrom gawat napas

31

Malformasi kongenital Abnormalitas metabolisme neonatus Gangguan neurobehavioral

2.8 Patofisiologis 2.8.1 Patofisiologis pada bayi premature Berdasarkan beberapa factor etiologi yang telah disebutkan, hal itu akan menyebabkan gangguan sirkulasi utero plasenta. Akibatnya, akan terjadi insufisiensi plasenta, yang menyebabkan suplai nutrisi dan oksigen ke janin tidak adekuat. Hal ini lama-kelamaan akan menyebabkan gangguan pertumbuhan intra uteri dan lahirlah bayi BBLR. Neonatus dengan imaturitas pertumbuhan dan perkembangan atau bayi BBLR tidak dapat menghasilkan kalori melalui peningkatan metabolisme. Hal ini disebabkan karena respon menggigil bayi tidak ada atau kurang, sehingga tidak dapat menambah aktivitas. Sumber utama kalori bila ada stress dingin atau suhu lingkungan rendah adalah thermogenesis nonshiver. Sebagai respon terhadap rangsangan dingin, tubuh bayi akan mengeluarkan norepinefrin yang menstimulus metabolism lemak dari cadangan lemak coklat untuk menghasilkan kalori yang kemudian dibawa oleh darah ke jaringan. Stress dingin dapat menyebabkan hipoksia, metabolism asidosis dan hipoglikemia. Peningkatan metabolism sebagai respon terhadap stress dingin akan meningkatkan kebutuhan kalori dan oksigen. Bila oksigen yang tersedia tidak dapat memenuhi kebutuhan, tekanajn oksigen berkurang (hipoksia) dan keadaan ini akan menjadi lebih buruk karena volume paru menurun akibat berkurangnya oksigen darah dan kelaianan paru (paru yang imatur). Keadaan ini dapat sedikit tertolong oleh haemoglobin fetal (HbF) yang dapat mengikat oksigen lebih banyak sehingga bayi dapat bertahan lebih lama pada kondisi tekanan oksigen yang kurang.

2.8.2 Patofisiologis pada bayi postmatur Permasalahan kehamilan lewat waktu (postmatur) adalah plasenta tidak sanggup memberikan nutrisi dan pertukaran CO2/O2 sehingga mempunyai risiko asfiksia

32

sampai kematian dalam rahim. Makin menurunnya sirkulasi darah menuju sirkulasi plasenta dapat mengakibatkan 1. Pertumbuhan janin makin lambat 2. terjadi perubahan metabolisme janin

3. Air ketuban berkurang dan makin kental 4. Sebagian janin bertambah berat, serhingga memerlukan tindakan persalinan 5. Berkurangnya nutrisi dan O2 ke janin yang menimbulkan asfiksia dan setiap saat dapat meninggal di rahim. 6. Saat persalinan janin lebih mudah mengalami asfiksia.

(Menurut Manuaba dalam Buku Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB Untuk Pendidikan Bidan, 1998)

Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, sampai kematian janin dalam rahim. Resiko gawat janin dapat terjadi 3 x dari pada kehamilan aterm. Kulit janin akan menjadi keriput, lemak di bawah kulit menipis bahkan sampai hilang, lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen. Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang sampai habis. Akibat kekurangan oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau pekat. Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran napas) air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS (meconeum aspiration syndrome). Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. Komplikasi yang dapat mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak stabil, hipoglikemia, polisitemia, dan kelainan neurologic. Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu, antara lain distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, dan moulding (moulage) kepala kurang. Sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, dan perdarahan postpartum.

33

2.8.3 Patofisiologis pada bayi resiko tinggi ikterus neonates Kurang lebih 80 - 85 % bilirubin berasal dari penghancuran eritrosit tua. Sisanya 15 20 % bilirubin berasal dari penghancuran eritrosit muda karena proses eritropoesis yang inefektif di sumsum tulang, hasil metabolisme proein yang mengandung heme lain seperti sitokrom P-450 hepatik, katalase, peroksidase, mioglobin otot dan enzim yang mengandung heme dengan distribusi luas. Gangguan metabolisme bilirubin dapat terjadi lewat salah satu dari keempat mekanisme ini : Over produksi Peningkatan jumlah hemoglobin yang dilepas dari sel darah merah yang sudah tua atau yang mengalami hemolisis akan meningkatkan produksi bilirubin.. Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia, memendeknya umur eritrosit janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari sumber lain, atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik. Penghancuran eritrosit yang menimbulkan hiperbilirubinemia paling sering akibat hemolisis intravaskular (kelainan autoimun, mikroangiopati atau hemoglobinopati) atau akibat resorbsi hematom yang besar. Beberapa penyebab ikterus hemolitik : Hemoglobin abnormal (cickle sel anemia hemoglobin), Kelainan eritrosit (sferositosis heriditer), Antibodi serum (Rh. Inkompatibilitas transfusi), Obat-obatan Penurunan ambilan hepatik Pengambilan bilirubin tak terkonjugasi dilakukan dengan memisahkannya dari albumin dan berikatan dengan protein penerima. Beberapa obat-obatan seperti asam flavaspidat, novobiosin dapat mempengaruhi uptake ini. . D a l a m h e p a r t e r j a d i mekanisme ambilan, sehingga bilirubin terikat dengan oleh reseptor membran sel hati dan masuk k e d a l a m s e l h a t i . S e g e r a s e t e l a h a d a d a l a m s e l h a t i , t e r j a d i p e r s e n ya w a a n d e n g a n l i g a n d i n ( protein-Y), protein-Z, dan glutation hati lain yang membawanya ke reticulum endoplasma hati,tempat terjadinya proses
34

konjugasi. Proses ini timbul berkat adanya enzim glukoronil transferaseyang kemudian menghasilkan bentuk bilirubin direk. Jenis bilirubin ini larut dalam air dan padakadar tertentu dapat diekskresikan melalui ginjal. Sebagian besar bilirubin yang terkonjugasi inid i e k s k e s i m e l a l u i d u k t u s h e p a t i k u s k e d a l a m s a l u r a n p e n c e r n a a n d a n s e l a n j u t n ya m e n j a d i urobilinogen dan keluar dari tinja sebagai sterkobilin. Gangguan ambilan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh.Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein-Y berkurang atau pada keadaan protein-Y dan protein-Z terikat oleh anion lain, misalkan pada bayi dengan asidosis atau keadaan

anoksia/hipoksia.Keadaan lain yang dapat memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan. Gangguan ambilan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y berkurang atau pada keadaan proten Y dan protein Z terikat oleh anion lain, misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan anoksia/hipoksia. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukoranil transferase) atau bayi yang menderita gangguan ekskresi, misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu intra/ekstra hepatik. Penurunan konjugasi hepatik Terjadi gangguan konjugasi bilirubin sehingga terjadi peningkatan bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini disebabkan karena defisiensi enzim glukoronil transferase. Terjadi pada : Sindroma Gilberth, Sindroma Crigler Najjar I, Sindroma Crigler Najjar II . Konjugasi dan transfer bilirubin berlangsung normal, tetapi suplai bilirubin tak terkonjugasi melampaui kemampuan sel hati. Akibatnya bilirubin tak terkonjugasi meningkat dalam darah. Karena bilirubin tak terkonjugasi tidak larut dalam air maka tidak dapat diekskresikan ke dalam urine dan tidak terjadi bilirubinuria. Tetapi pembentukkan urobilinogen meningkat yang mengakibatkan peningkatan ekskresi dalam urine feces (warna gelap). Penurunan eksresi bilirubin ke dalam empedu (akibat disfungsi intrahepatik atau obstruksi mekanik ekstrahepatik).
35

Gangguan ekskresi bilirubin dapat disebabkan oleh kelainan intrahepatik dan ekstrahepatik, tergantung ekskresi bilirubin terkonjugasi oleh hepatosit akan menimbulkan masuknya kembali bilirubin ke dalam sirkulasi sistemik sehingga timbul hiperbilirubinemia. Kelainan hepatoseluler dapat berkaitan dengan : reaksi obat, hepatitis alkoholik serta perlemakan hati oleh alkohol. ikterus pada trimester terakhir kehamilan hepatitis virus, sindroma Dubin Johnson dan Rotor, Ikterus pasca bedah. Obstruksi saluran bilier ekstrahepatik akan menimbulkan hiperbilirubinemia terkonjugasi yang disertai bilirubinuria. Obstruksi saluran bilier ekstrahepatik dapat total maupun parsial. Obstruksi total dapat disertai tinja yang alkoholik. Penyebab tersering obstruksi bilier ekstrahepatik adalah : sumbatan batu empedu pada ujung bawah ductus koledokus, karsinoma kaput pancreas, karsinoma ampula vateri, striktura pasca peradangan atau operasi. Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada susunan saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl. Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan neonatus sendiri. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar daerah otak apabila pada bayi terdapat keadaan imaturitas, berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia, hipoglikemia, dan kelainan susunan saraf pusat yang terjadi karena trauma atau infeksi.

2.8.4 Patofisiologis pada bayi dari ibu diabetes Pada DMG, selain perubahan-perubahan fisiologi tersebut, akan terjadi suatu keadaan di mana jumlah/fungsi insulin menjadi tidak optimal. Terjadi perubahan kinetika insulin dan resistensi terhadap efek insulin. Akibatnya, komposisi sumber energi dalam plasma ibu bertambah (kadar gula darah tinggi, kadar insulin tetap tinggi).
36

Melalui difusi terfasilitasi dalam membran plasenta, dimana sirkulasi janin juga ikut terjadi komposisi sumber energi abnormal. (menyebabkan kemungkinan terjadi berbagai komplikasi). Selain itu terjadi juga hiperinsulinemia sehingga janin juga mengalami gangguan metabolik (hipoglikemia, hipomagnesemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, dan sebagainya. Diabetes pada ibu hamil dapat menyebabkan berbagai gangguan pada bayi yang dilahirkannya. Gangguan tersebut antara lain : Hipoglikemia. Ibu diabetes akan mengalami hiperglikemia. Hiper glikemia ibu ini juga menyebabkan hiperglikemia pada janin (difusi lelalui plasenta). Bila glukosa dapat berdifusi melalui plasenta, sebaliknya insulin ibu tidak dapat ditransfer kejanin. Hal ini menybabkan pangkreas janin terangsang untuk memproduksi insulin sendiri. Hasilnya adalah hiperinsulinemia pada janin. Segera setelah lahir terjadi pemutusan aliran darah ibu kejanin, akibatnya suplai glukosa dari ibu juga terhenti. Namun, insulin masih tetap diproduksi oleh pancreas bayi sebagai adaptasi terhadap kondisi hiperglikemia sebelumnya. Hal ini yang menyebabkan hipoglikemia pada bayi yang baru lahir. Makrosomia. Bayi dari ibu diabetes cenderung lebih besar dan montok daripada bayi yang lahir normal. Mekanisme yang menyebabkan janin ini tumbuh berlebih belum diketahui dengan pasti. Akan tetapi, dari beberapa penelitian didapatkan ada kolerasi positif antara tingkat makrosomia janin pada ibu yang tidak mengalami konflikasi penyakit vaskuler. Hal tersebut dimungkinkan karena hiperglikemia dan hiperinsulinemia pada janin secara bersama-sama dapat menyebabkan peningkatan sintesis glikogen, lipogenesis dan sintesis protein dalam tubuh janin.sebagai hasil akhirnya, janin tumbuh subur/pesat pada semua tingkat usia kehamilan yang disebut large for gestational age (LGA). Respiratory distress syindrome (RDS).
37

Bayi dari ibu diabetes mempunyai risiko tinggi mengalami RDS. Hal ini berkaitan dengan imaturitas paru sebagai akibat hiperinsulinemia janin. Hiperinsulinemia menghambat produksi surfaktan karena hiperinsulinemia empengaruhi perbandingan lesitin dengan spingomielin yang merupakan unsur utama pembentukan surfaktan. Anomaly congenital. Bayi dari ibu diabetes mempunyai risiko tiga kali lebih besar untuk mengalami cacat bawaan. Satu penelitian mengindikasi bahwa kadar glikosilat hemoglobin yang lebih tinggi pada pasien non-gestasional diabetes yang berhubungan dengan adanya cacat bawaan yang umum seperti hidrosefalus. Kadar gula darah yang meningkat selama trimester pertama dihubungkan dengan banyaknya kelainan malformasi fetal, seperti kelainan jantung bawaan. Hiperbilirubinemia. Hiperbilirubinemia ini bisa terjadi dihubungkan dengan makrosomia, trauma kelahiran dan pendarah akibat trauma kelahiran dan prematuritas (fungsi hepar imatur). Hipokalsemia. Hipokalsemia ini akibat ktidak normalan pada kadar kalsium ibu yang disalurkan pada janin. Kadar kalsium dalam darah ibu yang tinggi selama kehamilan (diabetes) direspon oleh janin berupa hipoparatiroid yang kemudian menyebabkan hipo kalsemia. Trauma lahir. Hal ini terjadi akibat tubuh bayi dari ibu diabetes yang melebihi ukuran normal sehingga sering terjadi penyulit pada proses persalinan.

38

2.9. WOC Factor Ibu Diabetes Gestasional Kondisi kandungan sangat beresiko Kehamilan tidak dapat di pertahan Terjadi persalinan sebelum waktunya Usia < 20 Kondisi rahim Rahim tidak mampu melindungi dan memenuhi nutrisi janin Kondisi janin lemah Kontraksi pada janin Prematur Kardiovaskuler Penurunan tekanan darah Penurunan darah ke kapiler hipovolemik Ginjal Kerusakan ginjal Ginjal tidak adekuat mensekresi Penurunan kemampuan mengeluarakan urin menurun Kemampuan mempertahankan cairan / elektrolit MK : Defisit Volume cairan Pernapasan Penurunan jumlah alveoli fungsional Defesiensi kadar surfaktan Infeksi dalam rahim Respon imunologik spesifik Aktifasi sel limfosit B dan Limfosit T MK : Nyeri Factor Janin Kelainan kongential janin Sirkulasi utero plasenta Isufisiensi plasenta Suplai nutrisi dan O2 ke janin tidak adekuat Gangguan pertumbuhan intra uteri pada janin Integument Penyekatan lemah subkutan yang minimal Reflek pada kapiler kulit menurun Rentan kerusakan pengaturan suhu Bayi tidak dapat menghasilkan panas sendiri BBLR Tekanan O2 menurun Apoksia Sianosis / pucat

MK : Syok

Jalan napas mengalami kolaps dan mengalami obstruksi Kerusakan kapiler kapiler dalam paru-paru
39

MK : Intoleransi aktivitas

MK : Kerusakan pertukaran gas

MK : Hipotermi

2.10. Penatalaksanaan 2.10.1 Penatalaksanaan pada bayi premature Perawatan bayi premature sangat rumit dan kompleks karena besarnya resiko yang bisa terjadi dalam awal kehidupannya. Sehingga perawatannya memerlukan pengalaman, ketrampilan, pengetahuan dan kesabaran yang cukup tinggi, dan sering memerlukan perawatan tim dari beberapa disiplin ilmu spesialis anak. Selain itu untuk sarana perawatan dibutuhkan sarana dan prasarana medis yang lengkap dan tehnologi canggih. Untuk itu bayi Prematur harus dirawat diruangan khusus yang disebut NICU (Neonatal Intensive Care Unit). Hanya sebagian kecil Rumah Sakit di Jakarta dan kota besar lain di Indonesia yang mempunyai sarana tersebut, termasuk salah satunya adalah Rumah Sakit Bunda Jakarta. a) Inkubator Bayi prematur sangat beresiko terjadi hipotermi atau suhu tubuh yang rendah sehingga memerlukan lingkungan udara yang hangat. Kondisi demikian memerlukan bantuan alat incubator. Inkubator adalah suatu tempat kaca yang dipakai bayi prematur untuk menjaga suhu lingkungan dan mengurangi kontak dengan orang dan lingkungan luar yang berpotensi menularkan penyakit. b) Pemberian alat bantu napas (ventilator mekanik) Alat bantu napas diperlukan bayi prematur bila dalam keadaan sesak berat karena paru-paru belum berkembang sempurna atau karena henti napas. c) Pemberian obat kematangan paru Pada keadaan paru-paru yang belum berkembang dalam keadaan parah maka seringkali diperlukan pemberian surfaktan atau obat untuk mematangkan paru yang disemprotkan ke dalam paru-paru melalui suatu alat. Namun sayangnya obat ini cukup mahal berkisar sampai 4-5 jutaan. d) Pemberian cairan dan minum Pemberian minum pada bayi dilakukan bila kemampuan saluran cerna bayi sudah memungkinkan. Bila tidak memungkinkan maka cairan dan nutrisi harus dimasukkan melalui infus. Pemberian minum pada bayi premature
40

dinaikkan secara bertahap dan harus cermat diamati perkembangannya. Bila keadaan pencernaan bayi belum optimal awalnya pemberian minum dilakukan melalui continous drip. Atau memberi minum melalui selang yang dimasukan mulut dengan menggunakan alat pompa tekan yang dapat diatur kecepatan minum secara minimal dan teratur. Pada lebih usia kehamilan 32 minggu biasanya reflek menghisap bayi sudah mulai timbul. Sehingga sangat baik bila dapat diberikan asi secara langsung. e) Pemantuan ketat pertumbuhan dan perkembangan bayi Setiap saat dalam periode tertentu bayi harus diamati secara cermat dan teliti tentang suhu badan, denyut jantung, saturasi oksigen (kemampuan paru-paru), pertumbuhan berat badan dan lingkar kepala. Pada bayi prematur tertentu kondisi otaknya harus diperiksa secara cermat dengan memakai ultrasonografi (usg kepala). f) Kebutuhan psikososial Hubungan emosional bayi dan ibu sudah terjadi sejak dalam kandungan. Hubungan ini jangan terlalu lama dipisahkan, sehingga elusan, pijatan halus dan belaian dari orangtua sangat diperlukan bayi premature untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal. g) Terapi musik Di nicu rumah sakit bunda jakarta, selain terapi konvensional juga dilakukan terapi musik. Terapi musik tersebut berupa pemberian musik klasik dalam waktu tertentu selama perawatan. Banyak penelitian mengungkapkan bahwa dengan pemberian terapi musik klasik tertentu pada bayi prematur ternyata dapat mengurangi lama perawatan dan biaya perawatan di rumah sakit.

41

2.10.2 Penatalaksanaan pada bayi postmatur Yang paling penting dalam menangani kehamilan lewat waktu ialah menentukan keadaan janin, karena setiap keterlambatan akan menimbulkan resiko kegawatan. Penentuan keadaan janin dapat dilakukan : 1. Tes tanpa tekanan (non stress test). Bila memperoleh hasil non reaktif maka dilanjutkan dengan tes tekanan oksitosin. Bila diperoleh hasil reaktif maka nilai spesifisitas 98,8% menunjukkan kemungkinan besar janin baik. Bila ditemukan hasil tes tekanan yang positif, meskipun sensitifitas relatif rendah tetapi telah dibuktikan berhubungan dengan keadaan postmatur. 2. Gerakan janin. Gerakan janin dapat ditentukan secara subjektif (normal ratarata 7x / 20 menit) atau secara objektif dengan tokografi (normal rata-rata 10x / 20 menit), dapat juga ditentukan dengan USG. Penilaian banyaknya air ketuban secara kualitatif dengan USG (normal >1 cm/ bidang) memberikan gambaran banyaknya air ketuban, bila ternyata oligohidramnion maka kemungkinan telah terjadi kehamilan lewat waktu. 3. Amnioskopi. Bila ditemukan air ketuban yang banyak dan jernih mungkin keadaan janin masih baik. Sebaliknya air ketuban sedikit dan mengandung mekonium akan mengalami resiko 33% asfiksia

Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhiran kehamilan. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian skor pelvik ( pelvic score = PS ). Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan, antara lain: Induksi partus dengan pemasangan balon kateter Foley Induksi dengan oksitosin. Bedah seksio sesaria.

Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin, pasien harus memenuhi beberapa syarat, antara lain kehamilan aterm, ada kemunduran his, ukuran panggul normal, tidak ada disproporsi sefalopelvik, janin presentasi kepala, serviks sudah
42

matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai membuka). Selain itu, pengukuran pelvik juga harus dilakukan sebelumnya. 1. Bila nilai pelvis >8, maka induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil. 2. Bila PS >5, dapat dilakukan drip oksitosin. 3. Bila PS <5, dapat dilakukan pematangan servik terlebih dahulu, kemudian lakukan pengukuran PS lagi.

Tatalaksana yang biasa dilakukan adalah induksi dengan oksitosin 5 IU. Sebelum dilakukan induksi, pasien dinilai terlebih dahulu kesejahteraan janinnya dengan alat KTG, serta diukur skor pelvisnya. Jika keadaan janin baik dan skor pelvis >5, maka induksi persalinan dapat dilakukan. Induksi persalinan dilakukan dengan oksitosin 5 IU dalam infus Dextrose 5%. Tetesan infus dimulai dengan 8 tetes/menit, lalu dinaikkan tiap 30 menit sebanyak 4 tetes/menit hingga timbul his yang adekuat. Selama pemberian infus, kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena dikhawatirkan dapat timbul gawat janin. Setelah timbul his adekuat, tetesan infus dipertahankan hingga persalinan. Namun, jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul, dapat diberikan infus drip oksitosin 5 IU ulangan. Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul, dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria. Penanganan postmatur menurut saifuddin, 2006 yaitu pengelolaan kehamilan posterm diawali dengan umur kehamilan 41 minggu, karena meningkatnya pengaruh buruk pada keadaan perinatal setelah umur kehamilan 40 minggu dan meningkatnya insidensi janin besar. Bila kehamilan >40 minggu, ibu hamil dianjurkan menghitung gerak janin selama 24 jam (tidak boleh < 10 kali) atau menghitung jumlah gerakan janin persatuan waktu dan dibandingkan (mengalami penurunan atau tidak). Pengelolaan persalinan pada penanganan postmature yaitu sebagai berikut 1. Bila sudah dipastikan umur kehamilan 41 minggu, pengelolaan tergantung dari derajad kematangan servik. 2. Bila servik matang

43

Dilakukan induksi persalinan bila tidak ada janin besar, jika janin >4000 gram, dilakukan secsio cesarea. Pemantauan intra partum dengan mempergunakan KTG (kardiotokografi) dan dokter spesialis anak apalagi jika ditemukan mekonium mutlak.

3. Bila servik belum matang perlu menilai keadaan janin lebih lanjut apabila kehamilan tidak diakhiri. NST dan penilaian volume kantong amnion. Bila keduanya normal, kehamilan dibiarkan berlanjut dan penilaian janin dilanjutkan seminggu dua kali. Bila ditemukan oligohidramnion (< 2 cm pada kantong yang vertikan atau indeks cairan amnion < 5) atau dijumpai deselerasi variable pada NST, maka dilakukan induksi persalinan. Bila volume cairan amnion normal dan NST tidak reaktif, tes dengan kontraksi (CST) harus dilakukan. Hasil CST positif, janin perlu dilahirkan, sedangkan bila CST negative kehamilan dibiarkan berlangsung dan penilaian janin dilakukan lagi 3 hari kemudian. Keadaan servik (sekor bishop) harus dinilai ulang setiap kunjungan pasien, dan kehamilan yharus diakhiri bila servik matang.

Kehamilan > 42 minggu diupayakan diakhiri. Pasien dengan kehamilan lewat waktu dengan komplikasi diabetes mellitus, pre-eklamsi, PJB (penyakit jantung bawaan), kehamilannya harus diakhiri tanpa memandang keadaan servik. Tentu saja kehamilan dengan resiko ini tidak boleh dibiarkan melewati kehamilan lewat waktu. Pengelolaan intrapartum pada pasien dapat dilakukan sebagai berikut: 1. Pasien tidur miring sebelah kiri 2. Pergunakan pemantauan elektronik jantung janin. 3. Beri oksigen bila ditemukan keadaan jantung yang abnormal 4. Perhatikan jalannya persalinan 5. Segera setelah lahir, bayi harus segera diperiksa terhadap kemungkinan hipoglikemi,hipofolemi, hipotermi dan polisitemi.
44

Apabila ditemukan cairan ketuban yang terwarnai mekonium harus segera dilakukan resusitasi sebagai berikut : 1. Penghisapan nasofaring dan orofaring posterior secara agresif sebelum janin lahir. 2. Bila mekonium tampak pada pita suara, pemberian ventilasi dengan tekanan positifditangguhkan sampai trachea telah diintubasi dan penghisapan yang cukup. 3. Inkubasi trachea harus dilakukan rutin bila ditemukan mekonium yang tebal

2.10.3 Penatalaksanaan pada bayi resiko ikterus neonates a) Tindakan umum Memeriksa golongan darah ibu (Rh, ABO) pada waktu hamil. Mencegah truma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir yang dapat menimbulkan ikhterus, infeksi dan dehidrasi. Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir, Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat. b) Tindakan khusus Fototerapi Dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbilirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan bilirubin dalam kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto. Pemberian fenobarbital Mempercepat konjugasi dan mempermudah ekskresi. Namun pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabkan gangguan metabolic dan pernafasan baik pada ibu dan bayi. Pemberi substrat yang kurang untuk transportasi/ konjugasi Misalnya pemberian albumin karena akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin lebih mudah dikeluarkan dengan transfuse tukar.
45

Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi Untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari sinar yang ditimbulkan dan dikhawatirkan akan merusak retina. Terapi ini juga digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada neonatus dengan hiperbilirubin jinak hingga moderat. Terapi transfuse Digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin yang tinggi. Terapi obat-obatan Misalnya obat phenorbarbital/luminal untuk meningkatkan bilirubin di sel hati yang menyebabkan sifat indirect menjadi direct, selain itu juga berguna untuk mengurangi timbulnya bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hari. Menyusui bayi dengan ASI Terapi sinar matahari

Tindak lanjut c) Tindak lanjut Terhadap semua bayi yang menderita hiperbilirubin dengan evaluasi berkala terhadap pertumbuhan, perkembangan dan pendengaran serta fisioterapi dengan rehabilitasi terhadap gejala sisa. 2.10.4 Penatalaksanaan pada bayi resiko bayi dari ibu diabetes Setelah lahir, semua bayi yang lahir dari ibu dibetes harus mendapat pengamatan dan perawatan intensif. Adapun penatalaksanaan umum yang dilakukan adalah: Periksa adar gula darah bayi segera setelah lahir. Selanjutnya, control setiap jam sampai kadar gula darah normal dan stabil. Jika kondisi bayi baik, berikan minuman setelah 2-3 jam kelahiran. Jika bayi sulit mengisap, beri makanan melalui intravena. Mengatasi hipoglikemia dengan cara member infuse glukosa 10% , injeksi bolus glukosa kadar tinggi harus dihindarkan karena dapat menyebabkan hiper insulinemia.
46

2.11. Pemeriksaan penunjang 2.11.1. Bayi baru lahir resiko tinggi premature X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya abnormalitas Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa Kadar kalsium serum, penurunan kadar berarti terjadi hipokalsemia Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia) Kadar elektrolit, analisa gas darah, golongan darah, kultur darah, urinalisis, analisis feses dan lain sebagainya. 2.11.2. Post matur USG : untuk mengetahui usia kehamilan, derajat maturitas plasenta, ukuran diameter biparietal, gerkan janin dan jumlah air ketuban. Kardiotokografi : untuk menilai ada atau tidaknya gawat janin. mengawasi dan membaca denyut jantung janin, karena insufiensi plasenta. Amniocentesis : pemeriksaan sitologi air ketuban. Amnioskopi : melihat kekeruhan air ketuban. menurut warnanya karena dikeruhi mekonium. Uji Oksitisin (steres test) : untuk menilai reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Pemeriksaan kadar estriol dalam urine. Pemeriksaan sitologi vagina.

2.11. 3. Ikterus neonatus Tes Coomb pada tali pusat bayi baru lahir: Hasil positif tes Coomb indirek menandakan adanya antibody Rh-positif, anti-A, atau anti-B dalam darah ibu. Hasil positif dari tes Coomb direk menandakan adanya sensititas (Rh-positif, anti-A, anti-B) SDM dari neonates. Golongan darah bayi dan ibu: Mengidentifikasi inkompatibilitas ABO.

47

Bilirubin total: Kadar direk (terkonjugasi) bermakna jika melebihi 1.01.5 mg/dl, yang mungkin dihubungkan dengan sepsis. Kadar indirek (tidak terkonjugasi) tidak boleh melebihi peningkatan 5 mg/dl dalam 24 jam, atau tidak boleh lebih dari 20 mg/dl pada bayi cukup bulan atau 15 mg/dl pada bayi praterm (tergantung pada berat badan). Protein serum total: Kadar kurang dari 3.0 mg/dl menan dakan penurunan kapasitas ikatan, terutama pada bayi praterm. Hitung darah lengkap: Hemoglobin (Hb) mungkin rendah (kurang dari 14 g/dl) karena hemolisis. Hematokrit (Ht) mungkin meningkat (lebih besar dari 65%) pada polisitemia, penurunan (kurang dari 45%) dengan hemolisis dan anemia berlebihan. Glukosa: Kadar Dextrostix mungkin kurang dari 45% glukosa darah lengkap kurang dari 30 mg/dl, atau tes glukosaserum kurang dari 40 mg/dl bila bayi baru lahir hepoglikemi dan mulai menggunakan simpanan lemak dan melepaskan asam lemak. Daya ikat karbon dioksida: Penurunan kadar menunjukkan hemolisis. Meter ikterik transkutan: Mengidentifikasi bayi yang memerlukan penentuan bilirubin serum. Jumlah retikulosit: peningkatan retikulosit menandakan peningkatan produksi SDM dalam respon terhadap hemolisis yang berkenaan dengan penyakit RH. Smear darah perifer: dapat menunjukkan SDM abnormal atau imatur, eritroblastosis pada penyakit Rh, atau sferositis pada inkompabilitas ABO. Tes Betke-Kleihauer: Evaluasi smear darah meternal terhadap eritrosit janin. Uji Laboratorium Bilirubin total Hb Ht : 11 mg/dl

Bilirubin direct : 0,8 mg/dl : 16,8 mg% : 47%


48

Leukosit Trombosit

: 15.000 mg/dl : 250.000 mm

2.12 Pemeriksaan laboratorium Kadar bilirubin, golongan darah (ABO dan Rhesus) ibu dan anak, darah rutin, hapusan darah, Coomb tes, kadar enzim G6PD (pada riwayat keluarga dengan defisiensi enzim G6PD). Pemeriksaan bilirubin serum Pada bayi cukup bulan, bilirubin mencapai kurang lebih 6mg/dl antara 2-4 hari setelah lahir. Apabila nilainya lebih dari 10mg/dl tidak fisiologis. Pada bayi premature, kadar bilirubin mencapai puncak 10-12 mg/dl antara 5-7 hari setelah lahir. Kadar bilirubin yang lebih dari 14mg/dl tidak fisiologis. Pemeriksaan radiology Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati atau hepatoma Ultrasonografi Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra hepatic. Biopsy hati Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis, serosis hati, hepatoma. Peritoneoskopi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.
49

Laparatomi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 2.2.1. Pengkajian 1) Identitas Klien Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku, bangsa, tangal,jam MRS,nomor registrasi,dan diagnose medis, penanggung jawab. 2) Keluhan Utama Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalahketuban pecah din. Timbul keluhan Nyeri panggul mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. Sifat keluhan Nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai Biasanya klien mengeluh rasa ingin BAB. 3) Riwayat Kesehatan Sekarang Pada sebagian besar penderita menimbulkan gejala nyeri panggul sering sekali disertai dengan pusing. 4) Riwayat kesehatan dahulu Apakah ada riwayat persalinan premature pada ibu 5) Riwayat kesehatan keluarga Biasanya ada riwayat keluarga yang mengidap penyakit keturunan atau bayi kembar 6) Data dasar pengkajian pasien

50

Sirkulasi Nadi apikal mungkin cepat / tidak teratur dalam batas normal (120 sampai 160 dpm) murmur jantung yang dapat menandakan duktus arteriosus paten (PDA) Makanan / Cairan Berat badan kurang dari 2500 g Neurosensori Tubuh panjang, kurus, lemas dengan perut agak gendut. Ukuran kepala besar dalam hubungan dengan tubuh : sutura mungkin mudah di gerakan, fontanel mungkin besar / terbuka lebar.Umumnya terjadi edema pada kelopak mata, mata mungkin merapat. Reflek tergantung pada usia gestasi Pernafasan Apgar score mungkin rendah. Pernafasan dangkal, tidak teratur, pernafasan diafragmatik intermiten (40-60 x/mnt) mengorok, pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal subternal, sianosis ada. Adanya bunyi ampelas pada auskultasi, menandakan sindrom distres pernafasan (RDS) Keamanan Suhu berfluktuasi dengan mudah. Menangis mungkin lemah. Wajah mungkin memar, mungkin kaput suksedaneum. Kulit transparan. Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh Ekstremitas tampak edema Garis telapak kaki terlihat Kuku pendek

51

Seksualitas Persalinan / kelahiran tergesa-gesa Genetalia ; Labia minora lebih besar dari labia mayora dengan kritoris menonjol testis pria tidak turun, rugae mungkin banyak / tidak ada pada skrotum Data Penunjang : Pengobatan : Cettrazidine 2 x 75 mg Aminophylin 2 x 0,15 /IV Mikasin 2 x 10 mg Aminosteril 15 cc Perhatian Khusus: O2 Observasi TTV Laboratorium: Ht : 46 vol % Hb : 15,7 gr/dl Leukosit : 11 900 ul Clorida darah : 112 mEq Natrium darah : 140 Kalium : 4,1 GDS : 63

52

2.2.2. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul 1. Deficit volume cairan berhubungan dengan penurunan kemampuan mempertahankan
cairan elektrolit

2. Kerusakkan pertukaran gas berhubungan dengan kehilangan surfaktan menyebabkan kolaps alveolar 3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan antara suplai dengan kebutuhan oksigen 4. Hipotermi berhubungan dengan reflex pada kapiler kulit menurun 5. Syok hipovolemik berhubungan dengan penurunan pengisian darah ke kapiler 6. Nyeri berhubungan dengan kontraksi pada uterus.

53

2.2.3 NCP

No

Diagnosa keperawatan

Tujuan

Criteria Hasil Dapat mempertahank an hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer teraba, pengisian kapiler baik, dan membrane mukosa lembab

Intervensi

Rasional

1.

Deficit volume cairan berhubunga n dengan penurunan kemampuan mempertaha nkan cairan elektrolit

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan cairan elektrolit dapat terpenuhi kembali

Mandiri : Awasi keluaran dengan hatihati, tiap jam bila diindikasikan. Perhatikan keluaran 100200 ml/jam Dorong peningkatan pemasukan oral berdasarkan kebutuhan individu Dieresis cepat dapat menyebabkan kekurangan volume total cairan karena ketidakcukupan jumlah natrium diabsorbsi dalam tubulus ginjal Pasien dibatasi pemasukan oral dalam upaya mengontrol gejala urinaria, homeostatic pengurangan cadangan dan peningkatan resiko dehidrasi / hipovolemik Awasi TD, nadi dengan sering. Evaluasi pengisian kapiler dan membrane mukosa oral Memampukan deteksi dini/ intervensi hipovolemik ke sistemik

54

Tingkatkan tirah baring dengan kepala tinggi

Menurunkan kerja jantung, memudahkan homeostastik sirkulasi Bila pengumpulan cairan terkumpul dari area ekstraseluler, natrium dapat mengikuti perpindahan

Kolaborasi Awasi elektrolit, khususnya natrium.

Berikan cairan IV, ( garam faal hipertonik) sesuai kebutuhan

Menggantikan kehilangan cairan dan natrium untuk mencegah / memperbaiki hipovolemia

2.

Kerusakkan pertukaran gas berhubungan dengan kehilangan surfaktan

Setelah dilakukan intervensi selama 2 x 24 jam diharapkan Kerusakan pertukaran gas pada bayi dapat di

TTV dalam Mandiri: batas normal Menunjukan perbaikan ventilasi kaji frekuensi,kedal aman pernapasan anak kecepatan biasanya meningkat,disnea dan peningkatan kerja(pada awal terjadi

Bebas gejala distress pernapasan

atau hanya tanda EP sub akut)

menyebabkan atasi dan kolaps alveolar menunjukan status pernapasan normal

kedalaman pernapasan bervariasi tergantung gagal napas.ekspansi


55

derajat

dada terbatas yang berhubungan dengan atau Auskultasi bunyi napas,catat area penurunan aliran udara dan atau tambahan bunyi atelektasis nyeri pada

pleuritik bunyi napas

menurun / tak ada bila jalan napas

obstruksi sekunder terhadap perdarahan,bekuan, atau kolaps jalan napas kecil(atelektasis).ro nki dan mengi

menyertai obstruksi Tinggikan kepala tempat tidur,bantu anak untuk dari jalan napas /gagal napas perasaan takut dan ansietas berhubungan dengan ketidakmampuan bernapas/terjadinya hepoksemia dan berat

memilih posisi yang mudah

untuk bernapas ,dorong napas

dalam perlahan atau napas bibir sesuai kebutuhan

dapat secara actual meningkatkan konsumsi oksigen/kebutuhan

56

Kolaborasi: Berikan oksigen tambahan Berikan humidifikasi tambahan,mis,n ebulizer ultrasonic Siapkan untuk/bantu bronkoskopi Memaksimalkan bernapas menurunkan napas berguna untuk dan kerja

membuang bekuan darah membersihkan jalan napas Memudahkan upaya dalam meningkatkan drainase secret dari segmen paru pernapasan dan dan

kedalam bronkus 3. Intoleransi aktifitas berhubungan Setelah dilakukan intervensi keperawatan Ditunjukan penurunan tanda fisiologis, intoleransi , misalnya :nadi, pernapasan, Mandiri : Kaji kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas, catat kelelahan dan kesulitan dalam beraktifitas Perubahan frekuensi jantung TD menunjukan bahwa pasien mengalami Mencegah terlalu lelah

dengan antara selama 2x24 jam suplai dengan diharapkan kebutuhan oksigen intoleransi aktivitas dan kebutuhan oksigen dapat terpenuhi

masih dalam Kaji tanda-tanda rentang vital setelah pasien beraktivitas Menunjukka n
57

peningkatan toleransi terhadap aktifitas yang diukur dengan tidak adanya asfiksia, TTV dalam batas normal. Beri lingkungan yang tenang, Ubah posisi dengan perlahan dan pantau dapat Cata respon terhadap aktivitas

sesak napas, khususnya bila alasan lain untuk tanda vital telah terlihat Ketika beraktivitas terdapat kesulitan dan kelelahan Lingkungan yang tenang meningkatkan kenyamanan atau istirahat pasien

2.2.4. Implementasi/pelaksanaan

Dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan, menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur teknis yang telah ditentukan. 2.2.5. Evaluasi Pengukuran efektivitas intervensi askep yang telah disusun dan tujuan yang ingin dicapai ada 3 kemungkinan : Tujuan tercapai Tujuan tercapai sebagian Tujuan tidak tercapai

58

Untuk persalinan premature : Jalan nafas tetap paten Bayi tidak menunjukan tanda-tanda TIK Bayi menunjukan bukti homeostatis Bayi dapat menunjukan penambahan berat badan (2x 20-30 gr/hr) Suhu aksila bayi tetap dalam rentang normal untuk usia pasca konsepsi

59

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Bayi baru lahir prematur adalah bayi yang dilahirkan sebelum gestasi 37 minggu. Karena dilahirkan sebelum waktunya maka ada beberapa resiko penyakit yang mungkin terjadi. Kebanyakan bayi dilahirkan pada usia kehamilan penuh yaitu sekitar 38-42 minggu, organ tubuhnya sudah berkembang sepenuhnya. Namun tak sedikit bayi yang lahir sebelum waktunya. Post-maturitas adalah suatu keadaan dimana bayi lahir setelah usia kehamilan melebihi 42 minggu. Jadi dari berbagai difinisi diatas dapat disimpulkan bahwa postmatur/postdate/serotinus/ lewat bulan? kehamilan memanjang adalah suatu kehamilan lebih dari 42 minggu (294 hari)/ yang artinya melebihi dari kehamilan normal. Ikterus adalah gambaran klinis berupa pewarnaan kuning pada kulit dan mukosa karena adanya deposisi produk akhir katabolisme hem yaitu bilirubin. Secara klinis, ikterus pada neonatus akan tampak bila konsentrasi bilirubin serum lebih 5 mg/dL. Bayi dari ibu diabetes adalah bayi yang dilahirkan dari ibu penderita diabetes. Satu dari 500-1000 wanita hamil adalah penderita diabetes, dan satu dari 120 kehamilan adalah gestasional diabetes. Pada saat persalinan, BBLR mempunyai risiko kurang menyenangkan, yaitu asfiksia atau gagal untuk bernapas secara spontan dan teratur saat atau beberapa menit setelah lahir. Hal itu diakibatkan faktor paru yang belum matang. Risiko lainnya adalah hiportemia (suhu tubuh 6,5 167 C). Karena itu, perhatian dan pelayanan atau perawatan BBLR dimulai sejak lahir dan sebaiknya persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan dan dilakukan di puskesmas, rumah sakit, atau rumah sakit bersalin).

60

3.2 Saran Diharapkan kepada pembaca terutama mahasiwa/i STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu dapat mengetahui Bayi Baru Lahir Resiko Tinggi Premature, Postmatur, Ikterus Neonates, Dan Bayi Dari Ibu Diabetes.

61

DAFTAR PUSTAKA

Boback. 2004. Keperawatan Maternitas. Ed. 4. Jakarta : EGC. Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC. Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal. Ed. 2. Jakarta : EGC. Saccharin, Rossa M. 2004. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Ed. 2. Jakarta : EGC. Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC. Alimul, Hidayat A. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Jakarta: Salemba medika. Berhman, Richard E. 1995. Ilmu Kesehatan Anak Nelson vol I Edisi 15. Jakarta: EGC. Doenges, ME & Moorhouse MF. 1996. Rencana Keperawatan Maternal / Bayi. EGC. Jakarta. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius. Jakarta: Media Aecsulapius. Rudolph, ann Alpers, 2006. Buku Ajar Pediatrik. Jakarta: EGC. Speer, Kathleen Morgan. 2007. Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik Dengan Klinikal Patways Edisi 3. Jakarta: EGC

62