Vous êtes sur la page 1sur 9

FOCUS GROUP DISCUSSION

TOPIK : Perundang-undangan yang berkaitan dengan ilmu kedokteran forensik TANGGAL : 28 Oktober 2013

Dokter mendalami ketentuan hukum Dalam mempelajari dan mendalami Ilmu Kedokteran Forensik, dokter harus mengetahui dan memahami beberapa peraturan dan ketentuan hukum yang berhubungan dengan bantuan kepada para penegak hukum. Hal ini terjadi karena Ilmu Kedokteran Forensik merupakan jembatan antara pengetahuan kedokteran dan hukum sehingga apa yang ingin disampaikan oleh kalangan kesehatan dapat dipahami oleh kalangan hukum dan sebaiknya.

Tips Kiat mempelajari ketentuan hukum dari: KUHAP pasal 133 Staatsblad tahun 1937 No.350 KUHP pasal 285.

1. KUHAP pasal 133 (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebut dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau bedah mayat. (3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat dilak dan dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kakiatau bagian lain badan mayat.

Unsur pentingnya dapat diringkas menjadi: a. Memberikan wewenang penyidik untuk meminta bantuan kepada dokter dan menangani korban dugaan tindak pidana b. Permintaan harus tertulis dan jelas jenis pemeriksaanya c. Penyidik harus memberi label pada benda bukti (mayat)

2. Staatsblad tahun 1937 No.350 Visa reperta seorang dokter yang dibuat baik atas sumpah dokteryang diucapkannya pada waktu menamatkan pelajarannyadi Negeri Belanda atau di Indonesia, maupun atas sumpah khusus dalam pasal 2 , mempunyai daya bukti yang syah dalam perkara pidana , selama visa reperta tersebut berisi keterangan mengenai hal yang dilihat dan ditemukannya pada benda yang diperiksa. Unsur pentingnya dapat diringkas menjadi: a. Visum dibuat oleh dokter yang telah disumpah b. Visum mempunyai daya bukti (alat bukti) yang sah c. Berisi tentang apa yang dilihat dan ditemukannya pada benda bukti

3. KUHP pasal 285 Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang perempuan bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama 12 tahun. Pasal ini menyatakan orang dapat dihukum karena melakukan perkosaan bila terdapat unsur: a. Melakukan persetubuhan diluar perkawinan b. Dilakukan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

Proses Peradilan Terdapat dua macam proses peradilan, yaitu: Perkara Pidana Perkara pidana adalah perkara yang menyangkut kepentingan dan ketentraman masyarakat dimana pihak yang berperkara adalah antara jaksa penunntut umum mewakili negara dengan tertuduh Perkara Perdata Perkara perdata adalah perkara antar pribadi atau badan hukum, yaitu antara penggugat dengan tergugat. Inisiatif berperkara datang dari pihak yang merasa dirugikan

Proses peradilan terdiri dari tiga tahap: Tahap 1. Penyidikan oleh penyidik Tahap 2. Penuntutan oleh penuntut umum Tahap 3. Mengadili perkara oleh hakim Kehadiran saksi ahli di sidang pengadilan mungkin diperlukan untuk memberikan penjelasan tentang pemeriksaan yang telah dilakukan (VER) atau tentang pengetahuan dibidang yang dikuasainya yang diperlukan hakim

Untuk memenangkan perkara maka pihak penggugat dan tergugat dapat mengemukakan dalil-dalil dan bukti-bukti yang diusahakannya sendiri Tugas hakim yang pertama adalah menasehati kedua belah pihak untuk menyelesaikan perkara di luar pengadilan sebab prosesnya bisa berlangsung lama, brokratis, biaya mungkin besar dan keputusannya dapat mengecewakan satu atau mungkin kedua belah pihak. Peran ahli (termasuk dokter) adalah membantu para pihak mendapatkan buktibukti atau dalil-dalil yang menguatkan gugatan atau mematahkan gugatan

Sistem Pemeriksaan Medikolegal Terdapat tiga sistem dalam menangangi korban, yaitu: Sistem Coroner Perlu tidaknya pemeriksaan bedah mayat dilakukan oleh seorang coroner Bila seorang coroner datang ketempat kejadian perkara dan melihat tidak ada kecurigaan sebab kematian korban, maka ia meminta dokter untuk mengeluarkan surat kematian, melakukan pemeriksaan bedah mayat untuk mengetahui sebab dan cara kematian korban. Sistem ini dipakai di Inggris dan beberapa negara Amerika atau di negara bekas jajahan Inggris. Coroner awalnya adalah petugas mewakili kerjaan dalam membantu mengutip pajak diwilayah kerajaan. Dalam perkembangannya coroner dipilih dari kalangan yang memahami hukum atau kedokteran. Sistem Medical Examiner Sistem Continental Perlu tidaknya KUHAP pasal 7 titik h pemeriksaan bedah mayat dilakukan oleh Perlu tidaknya seorang medical pemeriksaan bedah examiner (seorang mayat dilakukan oleh ahli Patologi polisi (penyidik) atau Forensik) atau dalam hukum acara deputy-nya perdana (RIB) adalah magistrat (pegawai penuntut umum) Setiap kejadian perkara medical examiner akan datang Sistem ini orang yang dan pihak kepolisian mati karena mencurigakan mengamankan daerah sebabnya dikirim oleh perkara dengan tanda pihak yang berwenang ke pita kuning rumah sakit setempat sehingga dokter menunggu dirumah sakit. Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan di Hanya bila diperlukan saja Medical Examiner dokter diminta datang ke office tempat perkara Sistem ini umumnya dipakai di Amerika Sistem ini masih dipakai di Indonesia sebagai peninggalan Belanda

Ketentuan hukum ditingkat penyidik Penyidik dan penyidik pembantu diatur dalam KUHAP pasal 6 s/d 10 1. KUHAP pasal 6 (1) Penyidik adalah: a. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia b. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undangundang (2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaiman dimaksud dalam ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Pejabat polisi negara yang menjadi penyidik: pejabat polisi tertentu yang ditunjuk dengan pangkat serendah-rendahnya pembantu letnan dua (Pelda) Penyidik umum adalah Kapolsek atau Kapolsekta atau Kapolres Penyidik pegawai negeri sipil mempunyai wewenang sesuai ketentuan undangundang di daerah hukumnya masing-masing namun dalam pelaksanaan tugasnya tetap dibawah koordinasi dan pengawas penyidik kepolisian. Pejabat pegawai negeri sipil ini biasanya tidak langsung meminta pemeriksaan korban kepada dokter.

2. KUHAP pasal 7 Penyidik POLRI karena kewajibannya mempunyai wewenang: (1) Menerima laporan atau pengaduan seseorang tentang adanya tindak pidana (2) Melakukan tindakan pertama pada saat ditempat kejadian (3) Menyuruh berhenti seseorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka (4) Melakukan penangkapan, penahanan, penggeladahan, dan penyitaan (5) Memanggil seseorang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi (6) Mengambil sidik jari dan memotret seseorang (7) Memanggil seseorang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi (8) Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan perkara (9) Mengadakan penghentian penyidikan (10)Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab

3. KUHAP pasal 8 Berisi ketentuan tentang kewajiban penyidik membuat berita acara (laporan) dan menyerakan hasil pemeriksaan kepada penuntut umum, dengan ketentuan:

(1) Pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas perkara (2) Dalam penyidikan sudah dianggap selesai, penyidik menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut umum

4. KUHAP pasal 10 Penyidik pembantu adalah pejabat kepolisian negara Republik Indonesia yang diangkat oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia 5. KUHAP pasal 133 (lihat tips) 6. KUHAP pasal 134 (1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban (2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukan pembedahan tersebut. (3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang. Pasal ini menjelaskan bila bedah mayat hanya daat dilakukan bila sangat diperlukan dan tidak mungkin dihindari artinya pemeriksaan luar saja dan hal ini bertentangan dengan prinsip Ilmu Kedokteran dalam menentukan sebab kematian karena seharusnya dilakukan pemeriksaan dalam dan luar jenazah. Hal ini juga bertentangan dengan Instruksi Kapolri No: Ins/E/20/IX/75 tentang tata cara permohonan atau pencabutan Visum et Repertum. Instruksi ini dijelaskan pada pasal 3 dan 6. Pasal 3 Dengan visum et repertum atas mayat, berarti mayat harus dibedah. Sama sekali tidak dibenarkan mengajukan permintaan visum atas mayat berdasarkan pemeriksaan luar saja. Pasal 6 Bila ada keluarga korban/mayat keberatan jika diadakan bedah mayat, maka adalah kewajiban petugas polisi cq pemeriksa untuk secara persuasif memberikan penjelasan tentang perlunya dan pentingnya autopsi untuk kepentingan penyidikan. Kalau perlu bahkan ditegakkannya pasal 222 KUHP.

7. KUHAP pasal 135 Dalam hal penyidik untu kepentingan peradilan perlu melakukan penggalian mayat, dilaksanakan menurut ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 133 ayat (2) dan pasal 134 ayat (1) undang-undang ini. Pemeriksaan mayat selalu dihindari karena tantangan yang berat mulai dari persiapan, penggalian kubur, memeriksa mayat yang sudah membusuk sampaimenyelesaikan laporan.

8. KUHAP pasal 136 Semua biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Bagian kedua Bab XIV ditanggung oleh negara. Pasal ini menjelaskan tentang biaya yang diperlukan untuk penyidikan termasuk biaya untuk pengadaan VeR. Untuk pemeriksaan orang luka, korban membayar untuk kepentingan korban sedangkan untuk mayat agak berat meskipun ditanggung negara , tetapi faktanya tidak jelas siapa yang membiayai.

9. KUHAP pasal 138 (1) Penuntut umum setelah memeriksa hasil penyelidikan dari penyidik segera mempelajari dan menelitinya dan dalam waktu tujuhh hari wajib memberitahukannya kepada penyidik apakah hasil penyedikan itu sudah lengkap atau belum. (2) Dalam hasil penyelidikan ternyata belum lengkap, penuntut umum mengembalikan berkas perkara kepada penyidik disertai petunjuk tentang hal yang harus dilakukan untuk dilengkapi dan dalam waktu empat belas hari sejak tanggal penerimaan berkas penyidik harus sudah menyampaikan kembali berkas perkara itu kepada penuntut umum. Pasal ini mengingatkan dokter bahwa proses pembuktian suatu perkara pidana mempunyai batasan waktu sehingga dokter harus membalas atau menyelesaikan visum sesegera mungkin.

Ketentuan hukum ditingkat pengadilan Kewajiban atau peranan dokter untuk memberikan keterangan ahli di sidang pengadilan diatur dalam ketentuan sebagai berikut: 1. KUHAP pasal 179 (1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.

2. KUHAP pasal 183 Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindakan pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. 3. KUHAP pasal 184 Alat bukti yang sah ialah: a. Keterangan saksi b. Keterangan ahli c. Surat d. Petunjuk e. Keterangan terdakwa Dari 5 alat bukti yang sah di atas, bantuan dokter terdapat dalam 2 alat bukti, yaitu keterangan ahli dan surat. Yang dimaksud dengan keterangan ahli dijelaskan pada pasal KUHAP 186.

4. KUHAP pasal 186 Keterangan ahli adalah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan secara lisan. Keterangan ahli disini bukan hanya oleh dokter atau dokter spesialis, tetapi dari semua orang yang dianggap ahli oleh pengadilan dalam bidangnya. Alat bukti surat termasuk VeR yang di buat oleh dokter dijelaskan dalam ketentuan KUHAP pasal 187.

5. KUHAP pasal 187 Surat sebagaimana tersebut dalam pasal 184 ayat (1) huruf c dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah: a. dst b. surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggungjawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu keadaan c. surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya. Ketentuan titik c sama dengan apa yang terjadi dalam pembuatan visum. Dengan demikian VeR dapat digolongkan sebagai alat buktii surat.

Hak undur diri Sebagai saksi ahli di sidang, terkadang dokter dihadappi dilema dalam menjaga atau wajib simpan rahasia kedokteran. KUHAP yang memberi peluang kepada dokter untuk tetap menjaga rahasia jabatan dan pekerjaannya melalui hak undur diri sebaga saksi ahli. 1. KUHAP pasal 170 (1) Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepadanya. (2) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.

Sanksi Hukum Dokter yang tidak memenuhi kewajibannya menurut undang-undang dapat dikenai sanksi hukum pidana. 1. KUHP pasal 224 Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang menjadi saksi ahli atau juru bahasa dengan sengaja atau tidak menjalankan suatu kewajiban menurut undang-undang yang harus dijalankan dalam kedudukan tersebut diatas: 1. Dalam perkara pidana, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan 2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan

2. KUHP pasal 222 Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan atau denda sebanyak-banyaknya tiga ratus rupiah.

Kedudukan peraturan perundang-undangan Secara norma, hukum ada yang tertulis dan tidak tertulis. Hukum tertulis dinamakan peraturan perundang-undangan atau perundangan saja. Peraturan perundang-undangan di Indonesia tersusun sebagai berikut: 1. Undang-Undang Dasar 1945 2. Ketetapan MPR 3. Undang-undang/Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang 4. Peraturan Pemerintah 5. Keputusan Presiden

6. Peraturan-Peraturan Pelaksanaan lainnya, seperti: a. Peraturan Menteri b. Instruksi Menteri Hukum tidak tertulis dinamakan juga hukum kebiasaan atau hukum adat yang bersumber pada kebiasaan yang kemudian mempunyai akibat-akibat hukum.