Vous êtes sur la page 1sur 4

Adiksi opiat

Opiat pada awal ditemukannya merupakan obat yang banyak digunakan dalam bidang kedokteran. Contoh dari obat ini adalah morfin, yang merupakan obat analgesik narkotik pertama. Obat ini dapat digunakan untuk mengurangi rasa nyeri, mengurangi kecemasan, dan lain sebagainya. Namun salah satu kekurangan obat ini yaitu efek samping terhadap sistim syaraf pusat saat digunakan sebagai anestesi. Selain itu, obat-obat opiat seperti morfin, kokain, heroin dan lain sebagainya memiliki efek adiksi. Oleh karena itu sering terjadi penyalahgunaan terhadap obatobat jenis ini (Gunawan, et al., 2010). Dari beberapa penelitian menyatakan bahwa zat yang bertanggung jawab terhadap terjadinya adiksi adalah dopamin. Dopamin merupakan senyawa neurokimiawi yang berada di ujung sinaptik. Senyawa ini dilepaskan oleh sel syaraf di membran pre sinaptik, kemudian berada di synaptic cleft dan akhirnya ditangkap oleh reseptor dopamin di membran post sinaptik. Dalam keadaan normal tubuh dapat menghasilkan dopamin, yang dapat menimbulkan rasa nyaman secara fisik maupun mental. Namun pengeluaran zat ini oleh tubuh masih dalam batas yang normal (Barr et al., 2011). Penggunaan obat-obat tersebut dapat meningkatkan pengeluaran dopamin, akibatnya akan terasa sensasi nyaman dan nikmat yang tinggi. Dengan banyaknya kadar dopamin yang diproduksi dan yang ditangkap reseptor, maka ambang rangsangnya pun akan meningkat. Semakin lama, jika berlanjut, maka membutuhkan lebih banyak dopamin untuk memberikan sensasi nyaman. Namun bila zat dopamin yang diproduksi kurang dari ambang rangsang, pengguna dapat merasa kurang nyaman atau bahkan kesakitan (Barr et al., 2011). Normalnya, bila pengeluaran dopamin dalam tubuh berkurang oleh hal-hal tertentu, maka asam gamma-aminobutirat (GABA) akan bereaksi dengan

meningkatkan produksi. GABA juga dapat berfungsi sebagai inhibitor terhadap

terjadinya peningkatan ambang rangsang reseptor. Namun efek dari penggunaan obat opiat dapat menyebabkan fungsi dari GABA menjadi berkurang bahkan rusak. Akibatnya seperti yang telah dijelaskan, ambang rangsang reseptor dapat terus meningkat. Semakin meningkat, semakin banyak opiat yang dibutuhkan pengguna agar tubuhnya bisa nyaman. Hal ini lah yang disebut sebagai kecanduan atau adiksi (Barr et al., 2011).

Anestesi lokal dan mekanismenya


Istilah anestesi merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani, yang berasal dari kata an yang berarti tidak dan aisthesis yang artinya perasaan. Jadi, anestesi yaitu keadaan hilangnya perasaan atau sensasi. Sel syaraf merupakan sel yang memiliki membran lipoprotein yang memisahkan matriks intraselular dan ekstraselular. Di intraselular, banyak mengandung kalium/potasium, sedangkan di ekstraselular banyak terdapat natrium/sodium (Utama, 2010). Hal tersebut berlaku bagi semua sel syaraf di tubuh manusia, termasuk sel reseptor. Untuk mengirimkan informasi dari reseptor (dalam hal ini reseptor nyeri), dibutuhkan potensial aksi antar tiap sel-sel syaraf untuk menuju ke sisitim syaraf pusat. Untuk mengirimkan informasi tersebut perlu terjadinya pemasukan ion natrium kedalam sel, yang akibatnya, pada akhirnya, vesikel di sinaps akan mengeluarkan neurotransmiternya (Utama, 2010). Namun pada anestesi, sebagian besar obat anestesi dapat terikat dengan rseptor sodium channel serta mencegah terbukanya channel tersebut. Dengan tidak terbukanya channel tersebut, maka akhirnya neurotransmiter tidak dapat terkirim menuju ke sel syaraf berikutnya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa anestesi dapat menyebabkan peningkatan nilai ambang rangsang saraf, menghambat penyebaran impuls, pengurangan kecepatan potensial aksi dan menghambat konduksi (Utama, 2010). Penggunaan anestesi lokal banyak dimanfaatkan dalam beberapa tindakan medis yang bersifat invasif, seperti sirkumsisi, bedah sesar, insisi abses dan lain sebagainya. Contoh dari obat anestesi lokal yaitu lidokain, prokain, bupivakain, ropivakain dan lain sebagainya. Namun obat yang paling sering digunakan yaitu lidokain (Gunawan, et al., 2010).

Daftar pustaka
Barr, G. A., Anika McPhie-Lalmansingh, Jessica Perez dan Michelle Riley. 2011. Changing Mechanisms of Opiate Tolerance and Withdrawal during Early Development: Animal Models of the Human Experience. ILAR Journal Vol. 52, No. 3. Gunawan, S. Gan, Rianto Setiabudy, Nafraidi dan Elysabeth. 2010. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: FKUI Utama, Y. Dian. 2010. Anestesi Lokal dan Regional untuk Biopsi Kulit. CDK Ed. 180, P: 539-544.