Vous êtes sur la page 1sur 31

http://hiptikprogadar.wordpress.

com/category/gawat-darurat-emergency/ Beranda GAWAT DARURAT / EMERGENCY

Arsip Kategori: GAWAT DARURAT / EMERGENCY


CPR (NEW GUIDELINE AHA 2010)
Posted on 30 Mei 2011 | 1 Komentar

American Heart Association (AHA) barubaru ini telah mempublikasikan pedoman cardio pulmonary resuscitation dan perawatan darurat kardiovaskular 2010. Se[erti kita ketahui, para ilmuan dan praktisi kesehatan terus mengeavaluasi CPR atau yang lebih kita kenal dengan RJP ini dan mempublikasikannya setiap 5 tahun. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh mencakup urutan dan prioritas langkahlangkah CPR dan disesuaikan dengan kemajuan ilmiah saat ini unutk mengidentifikasi faktor yang mempunyai dampak terbesar pada kelangsungan hidup. Atas dasar kekuatan bukti yang tersedia, mereka mengembangkan rekomendasi untuk mendukung intervensi yang hasilnya menunjukkan paling menjanjikan. Rekomendasi di 2010 Pedoman mengkonfirmassi keamanan dan efektifitas dari banyak pendekatan, mengakui ketidakefektifan orang lain fan memperkenalkan perawatan baru berbasis evaluasi bukti intensif dan konsesnsus para ahli. Kehadiran rekomendasi baru ini tidak untuk menunjukkan bahwa pedomansebelumnya tidak aman atau tidak efektif. Setelah mengevaluasi berbagai penelitian yang telah dipublikasi selama lima tahun terakhir AHA mengeluarkan Panduan Resusitasi Jantung Paru (RJP) 2010. Faokus utama RJP 2010 ini adalah kualitas kompresi dada. Berikut ini adalah beberapa perbedaan antara Apnduan RJP 2005 dengan RJP 2010. 1. Bukan ABC lagi tapi CAB Sebelumnya dalam pedoman pertolongan pertama, kita mengenal ABC : airway, breathing dan chest compressions, yaitu buka jalan nafas, bantuan pernafasan, dan kompresi dada. Saat ini kompresi dada didahulukan, baru setelah itu kita bisa fokus pada airway dan breathing. Pengecualian satu-satunya adalah hanya untuk bayi baru

lahir. Namun untuk RJP bayi, RJP anak, atau RJP dewasa, harus menerima kompresi dada sebelum kita berpikir memberikan bantuan jalan nafas. 2. Tidak ada lagi look, listen dan feel Kunci utama menyelamatkan seseorang dengan henti jantung adalah dengan bertindak, bukan menilai. Telepon ambulans segera saat kita melihat korban tidak sadar dan tidak bernafas dengan baik. Percayalah pada nyali anda, jika anda mencoba menilai korban bernafas atau tidak dengan mendekatkan pipi anda pada mulut korban, itu boleh-boleh saja. Tapi tetap saja sang korban tidak bernafaas dan tindakan look feel listen ini hanya akna menghabiskan waktu 3. Kompresi dada lebih dalam lagi Seberapa dalam anda harus menekan dada telah berubah pada RJP 2010 ini. Sebelumnya adalah 1 sampai 2 inchi (4-5 cm), namun sekarang AHA merekomendasikan untuk menekann setidaknya 2 inchi (5 cm) pada dada. 4. Kompresi dada lebih cepat lagi AHA mengganti redaksi kalimat disini. Sebelumnya tertulis: tekanan dada sekitar 100 kompresi per menit. Sekarang AHA merekomndasikan kita untuk menekan dada minimal 100 kompresi per menit. Pada kecepatan ini, 30 kompresi membutuhkan waktu 18 detik. 5. Hands only CPR Ada perbedaan teknik dari yang tahun 2005, namun AHA mendorong RJP seperti ini pada 2008. AHA masih menginginkan agar penolong yang tidak terlatih melakukan Hands only CPR pada korban dewasa yang pingsan di depan mereka. Pertanyaan besarnya adalah: apa yang harus dilakukan penolong tidak terlatih pada korban yang tidak pingsan di depan mereka dan korban yang bukan dewasa/ AHA memang tidak memberikan jawaban tentang hal ini namun ada saran sederhana disini: berikan hands only CPR karena berbuat sesuatu lebih baik daripda tidak berbuat sama sekali. 6. Kenali henti jantung mendadak RJP adalah satu-satunya tata laksana untuk henti jantung mendadak dan AHA meminta kita waspada dan melakukan RJP saat itu terjadi. 7. Jangan berhenti menekan Setiap penghentian menekan dada berarti menghentikan darah ke otak yang mengakibatkan kematian jaringan otak jika aliran darah berhenti terlalu lama. Membutuhkan beberapa kompresi dada untuk mengalirkan darah kembali. AHA menghendaki kita untuk terus menekan selama kita bisa. Terus tekan hingga alat defibrilator otomatis datang dan siap untuk menilai keadaan jantung. Jika sudah tiba

waktunya untuk pernafasan dari mulut ke mulut, lakukan segera dan segera kembali pada menekan dada. Tanggal 18 obtober 2010 lalu AHA (American Hearth Association) mengumumkan perubahan prosedur CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation) atau dalam bahasa Indonesia disebut RJP (Resusitasi Jantung Paru) yang berbeda dari prosedur sebelumnya yang sudah dipakai dalam 40 tahun terakhir. Perubahan tersebut ada dalam sistematikanya, yaitu sebelumnya menggunakan A-B-C (Airway-BreathingCirculation) sekarang menjadi C-A-B (Circulation Airway Breathing). Namun perubahan yang ditetapkan AHA tersebut hanya berlaku pada orang dewasa, anak, dan bayi. Perubahan tersebut tidak berlaku pada neonatus. Perubahan tersebut menurut AHA adalah mendahulukan pemberian kompresi dada dari pada membuka jalan napas dan memberikan napas buatan pada penderita henti jantung. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa teknik kompresi dada lebih diperlukan untuk mensirkulasikan sesegera mungkin oksigen keseluruh tubuh terutama organ-organ vital seperti otak, paru, jantung dan lain-lain. Menurut penelitian AHA, beberapa menit setelah penderita mengalami henti jantung masih terdapat oksigen pada paru-paru dan sirkulai darah. Oleh karena itu memulai kompresi dada lebih dahulu diharapkan akan memompa darah yang mengandung oksigen ke otak dan jantung sesegera mungkin. Kompresi dada dilakukan pada tahap awal selama 30 detik sebelum melakukan pembukaan jalan napas (Airway) dan pemberian napar buatan (bretahing) seperti prosedur yang lama. AHA selalu mengadakan review guidelines CPR setiap 5 tahun sekali. Perubahan dan review terakhir dilakukan pada tahun 2005 dimana terjadi perubahan perbandingan kompresi dari 15 : 2 menjadi 30 : 2. Dengan perubahan ini AHA merekomendasikan agar segera mensosialisasikan perubahan ini kepada petugas medis, instruktur pelatihan, petugas p3k dan masayarakat umum. Di dalamnya terdapat materi yang berguna terutama bagi sejawat di emergency unit seperti Neonatal Resuscitation, Pediatric BLS dan ALS, Adults BLS dan ALS, CPR dan First Aid. Sumber diambil dari : American Heart Association 2010 Pedoman untuk Cardiopulmonary Resuscitation http://pusbankes118-anang.blogspot.com/2011/02/new-guideline-cpr-aha-2010.html

Posted in GAWAT DARURAT / EMERGENCY

BANTUAN HIDUP DASAR ( BHD )


Posted on 16 April 2011 | Tinggalkan komentar

BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) INDIKASI 1. Henti napas Henti napas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernapasan dari korban/pasien. Henti napas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar. Henti napas dapat terjadi pada keadaan: Tenggelam Stroke Obstruksi jalan napas Epiglotitis Overdosis obat-obatan Tersengat listrik Infark miokard Tersambar petir Koma akibat berbagai macam kasus. Pada awal henti napas oksigen masih dapat masuk kedalam darah untuk beberapa menit dan jantung masih dapat mensirkulasikan darah ke otak dan organ vital lainnya, jika pada keadaan ini diberikan bantuan napas akan sangat bermanfaat agar korban dapat tetap hidup dan mencegah henti jantung. 2. Henti jantug Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. Henti sirkulasi ini akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernapasan yang terganggu (tersengal-sengal) merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung.

Bantuan hidup dasar merupakan bagian dari pengelolaan gawat darurat medik yang bertujuan: 1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi. 2. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi dan ventilasi dari korban yang mengalami henti jantung atau henti napas melalui Resusitasi Jantung Paru (RJP). Resusitasi jantung Paru terdiri dari 2 tahap, yaitu :

Survei Primer (Primary Survey), yang dapat dilakukan oleh setiap orang Survei Sekunder (Secondary Survey), yang hanya dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis terlatih dan merupakan lanjutan dari survei primer.

SURVEI PRIMER Dalam survei primer difokuskan pada bantuan napas dan bantuan sirkulasi serta defibrilasi. Untuk dapat mengingat dengan mudah tindakan survei primer dirumuskan dengan abjad A, B, C, dan D, yaitu A airway (jalan napas) B breathing (bantuan napas) C circulation (bantuan sirkulasi) D defibrilation (terapi listrik) Sebelum melakukan tahapan A (airway), harus terlebih dahulu dilakukan prosedur awal pada korban/pasien, yaitu : 1. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong 1. Memastikan kesadaran dari korban/pasien. Untuk memastikan korban dalam keadaan sadar atau tidak penolong harus melakukan upaya agar dapat memastikan kesadaran korban/pasien, dapat dengan cara menyentuh atau menggoyangkan bahu korban/pasien dengan lembut dan mantap untuk mencegah pergerakan yang berlebihan, sambil memanggil namanya atau Pak !!! / Bu!!! / Mas!!! /Mbak !!!. 1. Meminta pertolongan. Jika ternyata korban/pasien tidak memberikan respon terhadap panggilan, segera minta bantuan dengan cara berteriak Tolong !!! untuk mengaktifkan sistem pelayanan medis yang lebih lanjut. 1. Memperbaiki posisi korban/pasien.

Untuk melakukan tindakan BHD yang efektif, korban/pasien harus dalam posisi terlentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras. jika korban ditemukan dalam posisi miring atau tengkurap, ubahlah posisi korban ke posisi terlentang.Ingat! penolong harus membalikkan korban sebagai satu kesatuan antara kepala, leher dan bahu digerakkan secara bersama-sama. Jika posisi sudah terlentang, korban harus dipertahankan pada posisi horisontal dengan alas tidur yang keras dan kedua tangan diletakkan di samping tubuh. 1. Mengatur posisi penolong. Segera berlutut sejajar dengan bahu korban agar saat memberikan bantuan napas dan sirkulasi, penolong tidak perlu mengubah posisi atau menggerakkan lutut. A (AIRWAY) Jalan Napas Setelah selesai melakukan prosedur dasar, kemudian dilanjutkan dengan melakukkan tindakan : 1. Pemeriksaan jalan napas. Tindakan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda asing. Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain, sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan tehnikCross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk Pada mulut korban. 1. Membuka jalan napas. Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan benda asing, biasa pada korban tidak sadar tonus otot-otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink dan larink, inilah salah satu penyebab sumbatan jalan napas. Pembebasan jalan napas oleh lidah dapat dilakukan dengan cara Tengadah kepala topang dagu(Head tild chin lift) dan Manuver Pendorongan Mandibula. Teknik membuka jalan napas yang direkomendasikan untuk orang awam dan petugas, kesehatan adalah tengadah kepala topang dagu, namun demikian petugas kesehatan harus dapat melakukan manuver lainnya. B (BREATHING) Bantuan napas Terdiri dari 2 tahap : 1. Memastikan korban/pasien tidak bernapas.

Dengan cara melihat pergerakan naik turunnva dada, mendengar bunyi napas dan merasakan hembusan napas korban/pasien. Untuk itu penolong harus mendekatkan telinga di atas mulut dan hidung korban/pasien, sambil tetap mempertahankan jalan napas tetap terbuka. Prosedur ini dilakukan tidak boleh melebihi 10 detik. 1. Memberikan bantuan napas. Jika korban/pasien tidak bernapas, bantuan napas dapat dilakukkan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,5 2 detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 7000 1000 ml (10 ml/kg) atau sampai dada korban/pasien terlihat mengembang. Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 16 17%. Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban/pasien setelah diberikan bantuan napas. Cara memberikan bantuan pernapasan :

Mulut ke mulut

Bantuan pernapasan dengan menggunakan cara ini merupakan cara yang tepat dan efektif untuk memberikan udara ke paru-paru korban/pasien. Pada saat dilakukan hembusan napas dari mulut ke mulut, penolong harus mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut penolong harus dapat menutup seluruhnya mulut korban dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat mengghembuskan napas dan juga penolong harus menutup lubang hidung korban/pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung. Volume udara yang diberikan pada kebanyakkan orang dewasa adalah 700 1000 ml (10 ml/kg). Volume udara yang berlebihan dan laju inpirasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan udara memasuki lambung, sehingga terjadi distensi lambung. Mulut ke hidung Teknik ini direkomendasikan jika usaha ventilasi dari mulut korban tidak memungkinkan, misalnya pada Trismus atau dimana mulut korban mengalami luka yang berat, dan sebaliknya jika melalui mulut ke hidung, penolong harus menutup mulut korban/pasien.

Mulut ke Stoma

Pasien yang mengalami laringotomi mempunyai lubang (stoma) yang menghubungkan trakhea langsung ke kulit. Bila pasien mengalami kesulitan pernapasan maka harus dilakukan ventilasi dari mulut ke stoma. C (CIRCULATION) Bantuan sirkulasi Terdiri dari 2 tahapan : 1. Memastikan ada tidaknya denyut jantung korban/pasien. Ada tidaknya denyut jantung korban/pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis di daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau tiga jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira-kira 1 2 cm raba dengan lembut selama 5 10 detik. Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban/pasien. Jika tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas. 1. Memberikan bantuan sirkulasi. Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi atau yang disebut dengan kompresi jantung luar, dilakukan dengan teknik sebagai berikut :

Dengan jari telunjuk dan jari tengah penolong menelusuri tulang iga kanan atau kiri sehingga bertemu dengan tulang dada (sternum). Dari pertemuan tulang iga (tulang sternum) diukur kurang lebih 2 atau 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakan tangan penolong dalam memberikan bantuan sirkulasi. Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan di atas telapak tangan yang lainnya, hindari jari-jari tangan menyentuh dinding dada korban/pasien, jari-jari tangan dapat diluruskan atau menyilang. Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 15 kali dengan kedalaman penekanan berkisar antara 1.5 2 inci (3,8 5 cm).

Tekanan pada dada harus dilepaskan keseluruhannya dan dada dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali melakukan kompresi dada. Selang waktu yang dipergunakan untuk melepaskan kompresi harus sama dengan pada saat melakukan kompresi. (50% Duty Cycle).

Tangan tidak boleh lepas dari permukaan dada dan atau merubah posisi tangan pada saat melepaskan kompresi. Rasio bantuan sirkulasi dan pemberian napas adalah 15 : 2, dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong jika korban/pasien tidak terintubasi dan kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit (dilakukan 4 siklus permenit), untuk kemudian dinilai apakah perlu dilakukan siklus berikutnya atau tidak.

Dari tindakan kompresi yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik 60 80 mmHg, dan diastolik yang sangat rendah, sedangkan curah jantung (cardiac output) hanya 25% dari curah jantung normal. Selang waktu mulai dari menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar sampai dilakukannya tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik. D (DEFIBRILATION) Defibrilation atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan istilah defibrilasi adalah suatu terapi dengan memberikan energi listrik. Hal ini dilakukan jika penyebab henti jantung (cardiac arrest) adalah kelainan irama jantung yang disebut dengan Fibrilasi Ventrikel. Dimasa sekarang ini sudah tersedia alat untuk defibrilasi (defibrilator) yang dapat digunakan oleh orang awam yang disebut Automatic External Defibrilation, dimana alat tersebut dapat mengetahui korban henti jantung ini harus dilakukan defibrilasi atau tidak, jika perlu dilakukan defibrilasi alat tersebut dapat memberikan tanda kepada penolong untuk melakukan defibrilasi atau melanjutkan bantuan napas dan bantuan sirkulasi saja. MELAKUKAN BHD 1 DAN 2 PENOLONG Orang awam hanya mempelajari cara melakukan BHD 1 penolong. Teknik BHD yang dilakukan oleh 2 penolong menyebabkan kebingungan koordinasi. BHD 1 penolong pada orang awam lebih efektif mempertahankan sirkulasi dan ventilasi yang adekuat, tetapi konsekuensinya akan menyebabkan penolong cepat lelah. BHD 1 penolong dapat mengikuti urutan sebagai berikut : 1. Penilaian korban Tentukan kesadaran korban/pasien (sentuh dan goyangkan korban dengan lembut dan mantap), jika tidak sadar, maka

1. Minta pertolongan serta aktifkan sistem emergensi. 1. Jalan napas (AIRWAY) Posisikan korban/pasien Buka jalan napas dengan manuver tengadah kepala-topang dagu. 1. Pernapasan (BREATHING) Nilai pernapasan untuk melihat ada tidaknya pernapasan dan adekuat atau tidak pernapasan korban/pasien. 5 Jika korban/pasien dewasa tidak sadar dengan napas spontan, serta tidak ada trauma leher (trauma tulang belakang) posisikan korban pada posisi mantap (Recovery positiotion), dengan tetap menjaga jalan napas tetap terbuka. 5 Jika korban/pasien dewasa tidak sadar dan tidak bernapas, lakukkan bantuan napas. Di Amerika serikat dan di negara lainnya dilakukan bantuan napas awal sebanyak 2 kali, sedangkandi Eropa,Australia,New Zealanddiberikan 5 kali. Jika pemberian napas awal terdapat kesulitan, dapat dicoba dengan membetulkan posisi kepala korban/pasien, atau ternyata tidak bisa juga maka dilakukan : Untuk orang awam dapat dilanjutkan dengan kompresi dada sebanyak 15 kali dan 2 kali ventilasi, setiap kali membuka jalan napas untuk menghembuskan napas, sambil mencari benda yang menyumbat di jalan napas, jika terlihat usahakan dikeluarkan. Untuk petugas kesehatan yang terlatih dilakukan manajemen obstruksi jalan napas oleh benda asing. Pastikan dada pasien mengembang pada saat diberikan bantuan pernapasan. Setelah memberikan napas 12 kali (1 menit), nilai kembali tanda-tanda adanya sirkulasi dengan meraba arteri karotis, bila nadi ada cek napas, jika tidak bernapas lanjutkan kembali bantuan napas. 5 Sirkulasi (CIRCULATION)

Periksa tanda-tanda adanya sirkulasi setelah memberikan 2 kali bantuan pernapasan dengan cara melihat ada tidaknva pernapasan spontan, batuk atau pergerakan. Untuk petugas kesehatan terlatih hendaknya memeriksa denyut nadi pada arteri Karotis.

1. jika ada tanda-tanda sirkulasi, dan ada denyut nadi tidak dilakukan kompresi dada, hanya menilai pernapasan korban/pasien (ada atau tidak ada pernapasan) 2. Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, denvut nadi tidak ada lakukan kompresi dada

Letakkan telapak tangan pada posisi yang benar Lakukan kompresi dada sebanyak 15 kali dengan kecepatan 100 kali permenit Buka jalan napas dan berikan 2 kali bantuan pernapasan. Letakkan kembali telapak tangan pada posisi yang tepat dan mulai kembali kompresi 15 kali dengan kecepatan 100 kali permenit.

Lakukan 4 siklus secara lengkap (15 kompresi dan 2 kali bantuan pernapasan) 1. Penilaian Ulang Sesudah 4 siklus ventilasi dan kompresi kemudian korban dievaluasi kembali, Jika tidak ada nadi dilakukan kembali kompresi dan bantuan napas dengan rasio 15 : 2. Jika ada napas dan denyut nadi teraba letakkan korban pada posisi mantap. Jika tidak ada napas tetapi nadi teraba, berikan bantuan napas sebanyak 10 12 kali permenit dan monitor nadi setiap saat. Jika sudah terdapat pernapasan spontan dan adekuat serta nadi teraba, jaga agar jalan napas tetap terbuka kemudian korban/pasien ditidurkan pada posisi sisi mantap. PENATALAKSANAAN OBSTRUKSI JALAN NAPAS OLEH BENDA ASING . Pengertian obstruksi jalan napas oleh benda asing : Obstruksi jalan napas oleh benda asing pada orang dewasa sering terjadi pada saat makan, daging merupakan penyebab utama obstruksi jalan napas meskipun demikian berbagai macam bentuk makanan yang lain berpotensi menyumbat jalan napas pada anak-anak dan orang dewasa.

Benda asing tersebut dapat menyebabkan obstruksi jalan napas sebagian (parsial) atau komplit (total). Pada obstruksi jalan napas partial korban mungkin masih mampu melakukan pernapasan, namun kualitas pernapasan dapat baik atau buruk. Pada korban dengan pernapasan yang masih baik, korban biasanya masih dapat melakukan tindakan batuk dengan kuat, usahakan agar korban tetap bisa melakukan batuk dengan kuat sampai benda asing tersebut dapat keluar. Bila sumbatan jalan napas partial menetap, maka aktifkan sistem pelayanan medik darurat. Obstruksi jalan napas partial dengan pernapasan yang buruk harus diperlakukan sebagai Obstruksi jalan napas komplit. Obstruksi jalan napas komplit (total), korban biasanya tidak dapat berbicara, bernapas, atau batuk. Biasanya korban memegang lehernya diantara ibu jari dan jari lainya. Saturasi oksigen akan dengan cepat menurun dan otak akan mengalami kekurangan oksigen sehingga menyebabkan kehilangan kesadaran, dan kematian akan cepat terjadi jika tidak diambil tindakan segera. Penatalaksanaan obstruksi jalan napas oleh benda asing: Manuver Heimlich Untuk mengatasi obstruksi jalan napas oleh benda asing dapat dilakukan manuver Heimlich (hentakan subdiafragmaabdomen). Suatu hentakan yang menyebabkan peningkatan tekanan pada diafragma sehingga memaksa udara yang ada di dalam paru-paru untuk keluar dengan cepat sehingga diharapkan dapat mendorong atau mengeluarkan benda asing yang menyumbat jalan napas. Setiap hentakan harus diberikan dengan tujuan menghilangkan obstruksi, mungkin dibutuhkan hentakan 6 10 kali untuk membersihkan jalan napas. Pertimbangan penting dalam rnelakukan manuver Heimlichi adalah kemungkinan kerusakan pada organ-organ besar. Manuver Heimlich pada korban sadar dengan posisi berdiri atau duduk Penolong harus berdiri di belakang korban, melingkari pinggang korban dengan kedua lengan, kemudian kepalkan satu tangan dan letakkan sisi jempol tangan kepalan pada perut korban, sedikit di atas pusar dan di bawah ujung tulang sternum. Pegang erat kepalan tangan dengan tangan lainnya, Tekan kepalan ke perut dengan hentakan yang cepat ke arah atas. Setiap hentakan harus terpisah dan dengan gerakan yang jelas.

Manuver Heimlich pada korban yang tergeletak (tidak sadar) Korban harus diletakkan pada posisi terlentang dengan muka keatas. Penolong berlutut disisi paha korban. Letakkan salah satu tangan pada perut korban di garis tengah sedikit di atas pusat dan jauh dibawah ujung tulang sternum, tangan kedua diletakkan diatas tangan pertama. Penolong menekan kearah perut dengan hentakan yang cepat kearah atas. Manuver ini dapat dilakukan pada korban sadar jika penolongnya terlampau pendek untuk memeluk pinggang korban. Manuver Heimlich pada yang dilakukan sendiri : Pengobatan diri sendiri terhadap obstruksi jalan napas Kepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari pada perut diatas pusat dan dibawah tulang sternum, genggam kepalan itu dengan kuat dan berikan tekanan ke atas ke arah diafragma dengan gerakan cepat, jika tidak berhasil dapat dilakukan tindakan dengan menekan perut pada tepi meja atau belakang kursi. Penyapuan jari Manuver ini hanya dilakukan atau digunakan pada korban tidak sadar, dengan muka menghadap keatas buka mulut korban dengan memegang lidah dan rahang diantara ibu jari dan jari-jarinya, kemudian mengangkat rahang bawah. Tindakan ini akan menjauhkan lidah dari kerongkongan serta menjauhkan benda asing yang mungkin menyangkut ditempat tersebut. Masukkan jari telunjuk tangan lain menelusuri bagian dalam pipi, jauh ke dalam kerongkongan di bagian dasar lidah, kemudian lakukan gerakan mengait untuk melepaskan benda asing serta menggerakkan benda asing tersebut ke dalam mulut sehingga memudahkan untuk diambil. Hati-hati agar tidak mendorong benda asing lebih jauh kedalam jalan napas. PENATALAKSANAAN JALAN NAPAS Mengenali adanya sumbatan jalan napas Penyebab utama jalan napas pada pasien tidak sadar adalah hilangnya tonus otot tenggorokan sehingga pangkal lidah jatuh menyumbat farink dan epiglotis menutup larink. Bila pasien masih bernapas sumbatan partial menyebabkan bunyi napas saat inspirasi bertambah (stridor), sianosis (tanda lanjut) dan retraksi otot napas tambahan. Tanda ini akan hilang pada pasien yang tidak bernapas. Tahap dasar membuka jalan napas tanpa alat

Tengadahkan kepala pasien disertai dengan mengangkat rahang bawah ke depan. Bila ada dugaan cedera pada leher lakukan pengangkatan rahang bawah ke depan disertai dengan membuka rahang bawah (Jaw thrust), jangan lakukan ekstensi kepala. Apabila pasien masih bernapas spontan, untuk menjaga jalan napas tetap terbuka posisikan kepala pada kedudukan yang tepat. Pada keadaan yang meragukan untuk mempertahankan jalan napas pasanglah oral/nasal airway. Tahap dasar membuka jalan napas dengan alat Apabila manipulasi posisi kepala tidak dapat membebaskan jalan napas akibat sumbatan oleh pangkal lidah atau epiglotis maka lakukan pemasangan alat bantu jalan napas oral/nasal. Sumbatan oleh benda asing diatasi dengan perasat Heimlich atau laringoskopi disertai dengan pengisapan atau menjepit dan menarik keluar benda asing yang terlihat. Alat bantu jalan napas orofaring (oropharyngeal airway) Alat bantu jalan napas orofaring menahan pangkal lidah dari dinding belakang faring. Alat ini berguna pada pasien yang masih bernapas spontan atau saat dilakukan ventilasi dengan sungkup dan bagging dimana tanpa disadari penolong menekan dagu ke bawah sehingga jalan napas tersumbat. Alat ini juga membantu saat dilakukan pengisapan lendir dan mencegah pasien mengigit pipa endotrakheal (ETT). Cara pemasangan Bersihkan mulut dan faring dari segala kotoran Masukan alat dengan ujung mengarah ke chefalad Saat didorong masuk mendekati dinding belakang faring alat diputar 180 Ukuran alat dan penempatan yang tepat menghasilkan bunyi napas yang nyaring pada auskultasi paru saat dilakukan ventilasi Pertahankan posisi kepala yang tepat setelah alat terpasang Bahaya

Cara pemasangan yang tidak tepat dapat mendorong lidah ke belakang atau apabila ukuran terlampau panjang epiglotis akan tertekan menutup rimaglotis sehingga jalan napas tersumbat Hindarkan terjepitnya lidah dan bibir antara gigi dan alat Jangan gunakan alat ini pada pasien dimana refleks faring masih ada karena dapat menyebabkan muntah dan spasme laring

Alat bantu napas nasofaring (nasopharyngeal airway) Alat ini berbentuk pipa polos terbuat dari karet atau plastik. Biasanya digunakan pada pasien yang menolak menggunakan alat bantu jalan napas orofaring atau apabila secara tehnis tidak mungkin. memasang alat bantu jalan napas orofaring (misalnya trismus, rahang mengatup kuat dan cedera berat daerah mulut). Cara pernasangan

Pilih alat dengan ukurang yang tepat, lumasi dan masukkan menyusuri bagian

tengah dan dasar rongga hidung hingga mencapai daerah belakang lidah Apabila ada tahanan dengan dorongan ringan alat diputar sedikit. Bahaya

Alat vang terlalu panjang dapat masuk oesophagus dengan secgala akibatnya Alat ini dapat merangsang, muntah dan spasme laring Dapat menyebabkan perdarahan akibat kerusakan mukosa akibat pernasangan,

oleh sebab itu alat penghisap harus selalu siap saat pernasangan. Ingat !!

Selalu periksa apakah napas spontan timbul setelah pemasangan alat ini. Apabila tidak ada napas spontan lakukan napas buatan dengan alat bantu napas yang memadai. Bila tidak ada alat bantu napas yang memadai lakukan pernapasan dari mulut ke mulut

Pernapasan buatan Pernapasan mulut ke mulut dan mulut ke hidung Cara ini merupakan tehnik dasar bantuan napas. Upayakan memakai pelindung (barrier) antara mulut penolong dengan pasien berupa lembar plastik/silikon berlubang ditengah atau memakai sungkup, sungkup khusus ini dikenal dengan nama Pocketfacemask. Keterbatasan cara ini adalah konsentrasi oksigen ekspirasi penolong rendah (16-17%). Pernapasan mulut ke sungkup muka (pocket facemask)

Memegang sungkup dengan tepat memerlukan latihan dan konsentrasi, akan tetapi alat ini merupakan alat bantu efektif untuk napas buatan. Sungkup muka ini memiliki beberapa ukuran, bening untuk memudahkan melihat adanya regurgitasi dan memiliki lubang masuk untuk oksigen tambahan. Keuntungan dari penggunaan sungkup muka ini adalah mencegah kontak langsung dengan pasien dan dapat memberikan oksigen tambahan Cara melakukan Bila memungkinkan lakukan dengan dua penolong, posisi dan urutan tindakan sama seperti tanpa menggunakan sungkup, kecuali pada tehnik ini digunakan sungkup sebagai pelindung, Jadi diperlukan keterampilan memegang sungkup. Dengan dua penolong seorang melakukan kompresi dada dan yang lain melakukan napas buatan. Bila tersedia berikan oksigen tambahan dengan aliran 10 liter/menit (FiO2 =50%) dan 15 liter/menit (FiO2=80%). Bila tidak ada penolakan pasang alat bantu jalan napas orofaring. Tengadahkan kepala dan pasang sungkup pada mulut dan hidung pasien dengan cara ibu jari dan telunjuk kedua tangan menekan sungkup sedangkan tiga jari kedua tangan menarik mandibula sambil tetap mempertahankan kepala dalam posisi tengadah, sehingga tidak terjadi kebocoran. Berikan tiupan melalui lubang sungkup sambil memperhatikan gerakan dada, tiup dengan lambat dan mantap dengan lama inspirasi 1-2 detik. Pada pasien dengan henti jantung dengan jalan napas belum terlindungi lakukan 2 ventilasi setiap 15 kompresi dada. Apabila jalan napas terlindungi (misalnya sudah terpasang ETT, Laringeal Mask Airwayatau Combitube) lakukan kompresi 100 kali/menit dengan ventilasi dilakukan. tanpa menghentikan kompresi (asingkron) tiap 5 detik (kecepatan 12 kali/menit). Apabila ada penolong ketiga lakukan tekanan pada krikoid untuk mencegah distensi lambung dan regurgitasi. Bantuan napas dengan. menggunakan bagging sungkup dan alat bantu jalan napas lainnya. Bagging telah lama digunakan sebagai alat bantu napas utama dikombinasikan. dengan alat bantu jalan napas lainnya misalnya sungkup muka, ETT, LMA, dan Combitube. Penggunaan bagging memungkinkan pemberian oksigen tambahan. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggunakan bagging : Volume tidal berkisar antara 10-15 ml/kg BB Bagging dewasa umum mempunyai volume 1600 ml.

Bila memungkingkan bagging dilakukan oleh dua penolong untuk mencegah kebocoran, seorang penolong mempertahankan sungkup dan kepala pasien, dan yang lainnya melakukan pemijatan bagging Masalah kebocoran dan kesulitan mencapai volume tidal yang cukup tidak akan terjadi jika dipasang ETT, LMA, atau Combitube.

Tahap lanjut membuka jalan napas. Pernasangan pipa endotrakeal (ETT) Pemasangan pipa endotrakeal menjamin terpeliharanya jalan napas dan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin oleh penolong yang terlatih. Keuntungan :

Terpeliharanya jalan napas Dapat memberikan oksigen dengan konsentrasi tinggi Menjamin tercapainya volume tidal yang, diinginkan Mencegah teriadinya aspirasi Mempermudah penghisapan lendir di trakea Merupakan jalur masuk beberapa obat-obat resusitasi

Karena kesalahan letak pipa endotrakeal dapat menyebabkan kematian maka tindakana ini sebaiknya dilakukan oleh penolong yang terlatih Indikasi pemasangan : Henti jantung Pasien sadar yang tidak mampu bernapas dengan baik (edema paru, GuillanBare syndrom, sumbatan jalan napas) Perlindungan jalan napas tidak memadai (koma, arefleksi) Penolong tidak mampu memberi bantuan napas dengan cara konvensional Persiavan alat untuk pemasangan pipa endotrakeal (ETT)

Laringoskop, lengkap dengan handle dan bladenya Pipa endotrakeal (ETT) dengan ukuran : Perempuan : No 7,0 ; 7,5 ; 8,0 Laki laki : No 8,0 ; 8,5 Keadaan emergensi : No 7,5

Stilet (mandrin) Forsep margil Jeli Spuit 20 atau 10 cc Stetoskop Bantal Plester dan gunting

Alat penghisap lendir (Suction aparatus) Tekhnik pemasangan


Cek alat-alat yang diperlukan dan pilih ETT sesuai ukuran Lakukan hiperventilasi minimal 30 detik sambil dilakukan sellick maneuver Beri pelumas pada ujung ETTsampai daerah cuff Letakkan bantal setinggi 10 cm di oksiput dan pertahankan kepala tetap ekstensi Bila perlu lakukan penghisapan lendir pada mulut dan faring Buka mulut dengan cara cross finger dan tangan kiri memegang laringoskop Masukan bilah laringoskop menelusuri mulut sebelah kanan, sisihkan lidah ke kiri. Masukan bilah sampai sampai mencapai dasar lidah, perhatikan agar lidah atau bibir tidak terjepit diantara bilah dan gigi pasien Angkat laringoskop ke atas dan ke depan dengan kemiringan 30 40, jangan sampai menggunakan gigi sebagai titik tumpu Bila pita suara sudah terlihat, masukan ETT sambil memperhatikan bagian proksimal dari cuff ETT melewati pita suara 1-2 cm atau pada orang dewasa kedalaman ETT 19-23 cm Waktu untuk intubasi tidak boleh lebih dari 30 detik Lakukan ventilasi dengan menggunakan bagging dan lakukan auskultasi pertama pada lambung kemudian pada paru kanan dan kiri sambil memperhatikan pengembangan dada Bila terdengar suara gargling pada lambung dan dada tidak mengembang, lepaskan ETT dan lakukan hiperventilasi ulang selama 30 detik kemudian lakukan intubasi kembali Kembangkan balon cuff dengan menggunakan spuit 20 atau 10 cc dengan volume secukupnya sampai tidak terdengar lagi suara kebocoran di mulut pasien saat dilakukan ventilasi Lakukan fiksasi ETT dengan plester agar tidak terdorong atau tercabut

Pasang orofaring untuk mencegah pasien menggigit ETT jika mulai sadar Lakukan ventilasi terus dengan oksigen 100 % (aliran 10 12 liter/menit)

Penekanan krikoid (Sellick Manuever) : Perasat ini dikerjakan saat intubasi untuk mencegah distensi lambung, regurgitasi isi lambung dan membantu dalam proses intubasi. Perasat ini dipertahankan sampai balon ETT sudah dikembangkan. Cara melakukan Sellick maneuver :

Cara puncak tulang tiroid (Adams Apple) Geser jari sedikit ke kaudal sepanjang garis median sampai menemukan lekukkan kecil (membran krikotiroid) Geser lagi jari sedikit ke bawah sepanjang garis median hingga ditemukan tonjolan kecil tulang (kartilago krikoid) Tekan tonjolan ini diantara ibu jari dan telunjuk ke arah dorsokranial. Gerakan ini akan menyebabkan oesophagus terjepit diantara bagian belakang kartilago krikoid dengan tulang belakang dan lubang trakhea/rimaglotis akan terdorong ke arah dorsal sehingga lebih mudah terlihat.

Memastikan letak ETT dengan menggunakan alat Berbagai alat mekanik atau elektronis dapat digunakan untuk tujuan ini misalnva detektor end tidal CO2 (kwantitatif dan kwalitatif). Melakukan bantuan napas dengan ETT selama RJP. Volume tidal napas berkisar antara 10-15 ml/kg BB, secara klinis keadaan dapat diketahui dengan pengamatan dada. Dengan volume 10 ml/kg BB dada akan tampak mulai mengembang dan dengan 15 ml/kg BB dada akan mengembang, lebih besar lagi (naik antara 4-6 cm). Bila tidak diberikan oksigen tambahan dan pada pasien gemuk berikan volume yang lebih besar sedangkan bila diberikan oksigen tambahan atau pada pasien kurus berikan volume yang lebih kecil. Kecepatan pemberian napas berkisar antara 10-12 kali/menit atau satu kali setiap 5-6 detik dengan lama inspirasi sekitar 2 detik. Pada keadaan ini tidak ada lagi perbandingan antara kompresi dan ventilasi. Kecepatan kompresi berkisar 100 kali/menit, sedangkan ventilasi diberikan setiap 5 detik (tidak perlu seirama dengan kompresi). Komplikasi pemasangan ETT

v ETT masuk kedalam oesophagus, yang dapat menyebabkan hipoksia. v Luka pada bibir dan lidah akibat terjepit antara laringoskop dengan gigi. v Gigi patah. v Laserasi pada faring dan trakhea akibat stilet (mandrin) dan ujung ETT. v Kerusakan pita suara. v Perforasi pada faring dan oesophagus. v Muntah dan aspirasi. v Pelepasan adrenalin dan noradrenalin akibat rangsangan intubasi sehingga terjadi hipertensi, takikardi dan aritmia. v ETT masuk ke salah satu bronkus. Umumnya masuk kebronkus kanan, untuk mengatasinya tarik ETT 1-2 cm sambil dilakukan inspeksi gerakan dada dan auskultasi bilateral. Penanganan jalan napas pada pasien trauma Gerakan kepala dan leher yang berlebihan pada pasien cedera leher dapat menyebabkan cedera yang lebih hebat. Pasien trauma muka, multiple dan kepala harus dianggap disertai dengan cedera leher. Langkah pernanganan pada pasien atau tersangka cedera leher. 1. Jangan tengadahkan kepala, hanya angkat rahang dan buka mulut pasien 2. Pertahankan kepala pada posisi netral selama nianipulasi jalan napas. 3. Pasien fraktur basis dan tulang muka lakukan pemasangan ETT dalam keadaan tulang belakang distabilisasi. 4. Bila tidak dapat dilakukan intubasi lakukan krikotiroidektomi atau trakheostomi. 5. Bila diputuskan untuk dilakukan intubasi melalui hidung (blind nasal intubation) maka harus dilakukan oleh penolong yang berpengalaman.

6. Bila pasien melawan dapat diberikan obat pelemas otot dan penenang. Tehnik tambahan untuk penanganan jalan napas invasif dan ventilasi Adadua alat bantu jalan napas yang termasuk kelas IIb yaitu : v Laryngeal Mask airway (LMA) v Esophageal Tracheal Combitube Laryngeal Mask airway (LMA) LMA berupa sebuah pipa dengan ujung distal yang menyerupai sungkup dengan tepi yang mempunvai balon sekelilingnya. Pada terpasang bagian sungkup ini harus berada di daerah hipofaring, sehingga saat balon dikembangkan maka bagian terbuka dari sungkup akan menghadap kearah lubang trakhea membentuk bagian dari jalan napas. Beberapa kelebihan LMA sebagai alat bantu jalan napas adalah : Dapat dipasang tanpa laringoskopi. atau leher sehingga menguntungkan pada pasien dengan cedera leher atau pada

pasien yang sulit dilakukan visualisasi lubang trakhea. Karena LMA tidak perlu masuk kedalam trakhea maka resiko kesalahan intubasi dengan segala akibatnya tidak ditemukan pada LMA. Kekurangan LMA adalah tidak dapat melindungi kemungkinan aspirasi sebaik ETT. Combitube Alat ini merupakan gabungan ETT dengan obturator oesophageal. Pada alat ini terdapat 2 daerah berlubang, satu lubang di distal dan beberapa lubang ditengah, lubang lubang ini dihubungkan melalui 2 saluran yang terpisah dengan 2 lubang di proksimal yang merupakan interface untuk alat bantu napas. Selain itu terdapat 2 buah balon, satu proksimal dari lubang distal dan satu proksimal dari deretan lubang di tengah. Ventilasi melalui trakhea dapat dilakukan melalui lubang distal (ETT) dan tengah (obtutator). Alat ini dimasukan tanpa laringoskopi, dari penelitian dengan cara memasukan seperti ini 80% kemungkinan masuk ke eosophagus. Setelah alat ini masuk kedua balon dikembangkan dan dilakukan pemompaan, mula-mula pada obturator seraya dilakukan inspeksi dan auskultasi apabila ternyata dari pengamatan

ini tidak tampak adanya ventilasi paru pemonpaan dipindahkan pada ETT dan lakukan kembali pemeriksaan klinis. Kinerja ventilasi, oksigenasi dan perlindungan terhadap aspirasi alat ini sepadan dengan ETT dengan keunggulan lebih mudah dipasang dibanding ETT. Krikotiroidektomi Tindakan ini dilakukan untuk membuka jalan napas sementara dengan cepat, apabila cara lain sulit dilakukan. Pada tekhnik ini membran krikotiroid disayat kecil vertikal, dilebarkan dan dimasukan ETT. Trakheostomi Tekhnik ini bukan pilihan pada keadaan darurat (life saving). Tindakan ini sebaiknya dilakukan di kamar bedah oleh seorang yang ahli.Adadua jenis yang biasa dipakai : 1. Penghisap faring yang kaku, pada alat ini diperlukan tekanan negatif yang rendah sekali. 2. Penghisap trakheobronkhial yang lentur, alat ini mempunyai syarat : Ujung harus tumpul dan sebaiknya memiliki lubang di ujung dan di samping

Lebih panjang dari ETT

Licin Steril dan sekali pakai Cara melakukan penghisapan lendir 1. Lakukan hiperventilasi dengan Fi02 100% selama 15 30 detik 2. Gunakan kateter trakheobronkhial dengan diameter tidak lebih dari ? diameter dalam ETT 3. Lama penghisapan tidak lebih dari 10 detik 4. Bila setelah penghisapan selama 10 detik ternyata masih belum bersih maka dapat dilakukan pengisapan kembali, diantara pengisapan harus diselingi dengan ventilasi seperti diatas. 5. Setelah selesai pengisapan lakukan hiperventilasi dengan FiO2 100 % selama 15 30 detik RJP

PUTUSKAN INTUBASI (A SEKUNDER) RJP dan PERSIAPAN ALAT CEK : ALAT SIAP RJP dan HIPERVENTILASI (100% dgn RR tinggi) 30 detik RJP berhenti POSISI KEPALA (GANJAL KEPALA + EKSTENSI) LARlNGOSKOP INTUBASI GAGAL 30 detik BERHASIL BAGGING I KALI AUSKULTASI PADA EPIGASTRIUM GURGLING (+) EKSTUBASI GURGLING (-) AUSKULTASI pada DADA KANAN dan KIRI, DADA ATAS dan BAWAH SELLICK MANUVER

Bila terlalu dalam, ETT ditarik dan diauskultasi untuk memastikan RJP lanjutkan BALON DIKEMBANGKAN, FIKSASI, PASANG MAYO CATATAN: Kompresi dada 100 X/mnt Ventilasi 1 kali/5 detik Ventilasi asinkron SELLICK MANUVER DILEPASKAN

TERAPI OKSIGEN Terapi oksigen adalah memberikan aliran gas lebih dari 20% pada tekanan 1 atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam darah. Tujuan : Mempertahan oksigen jaringan yang adekuat Menurunkan kerja napas Menurunkan kerja jantung

Indikasi :

Penurunan PaO2 Keadaan lain seperti; gagal napas akut, syok, keracunan CO

Pemberian oksigen selalu tepat untuk pasien dengan gangguan sirkulasi atau napas akut dengan ketentuan sebagai berikut : e e Tanpa gangguan napas oksigen diberikan 2 liter/ menit melalui kanul binasal. Dengan gangguan napas sedang oksigen diberikan 5 6 liter/menit melalui

kanul binasal. e Dengan gangguan napas berat, gagal jantung, henti jantung, gunakan sistem

yang dapat memberikan oksigen 100%. e Pada pasien dimana rangsang napas tergantung pada keadaan hipoksia (mis. Asma) berikan oksigen kurang dari 50% dan awasi ketat. e Atur kadar oksigen berdasarkan kadar gas darah (PaO2) atau saturasi (SaO2) e Dalam keadaan darurat gunakan alat bantu napas yang lebih canggih (mis. bagging), lakukan intubasi dan berikan oksigen 100%. Persiapan alat : 1. Sumber oksigen (tabung atau sumber oksigen sentral) 2. Tabung pelembab (humidifier). 3. Pengukur aliran oksigen (flow meter) 4. Alat pemberian oksigen (tergantung metoda yang dipakai) Metoda pemberian oksigen :

Sistem aliran rendah Aliran rendah konsentrasi rendah (Low flow low concentration) Kateter nasal Kanul binasal Aliran rendah konsentrasi tinggi (Low flow high concentration) Sungkup muka sederhana Sungkup muka dengan kantong Rebreathing Sungkup muka dengan kantong Non Rebrething Sistem aliran tinggi Aliran tinggi konsentrasi rendah (High flow low concentration)

Sungkup venturi Aliran tinggi konsentrasi tinggi (High flow high concen tration) Head box Sungkup CPAP (continous positive airway pressure)

Kanul binasal Paling sering digunakan untuk pemberian oksigen, memberikan FiO2 24 44% dengan aliran 1 6 liter/menit. Merupakan alat dengan aliran rendah dan konsentrasi rendah (low flow low concentration), kadar yang dihasilkan tergantung pada besarnya aliran dan volume tidal napas pasien. Kadar oksigen bertambah 4% untuk setiap tambahan 1 liter/menit oksigen, misalnya aliran 1 liter/menit = 24%, 2 liter/menit 28% dan seterusnya dengan maksimal 6 liter/menit. Keuntungan : Pernberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju napas teratur Baik diberikan dalam jangka waktu lama Pasien dapat bergerak bebas, makan, minum dan bicara Efisien dan nyaman untuk pasien Kerugian : Dapat menyebabkan iritasi pada hidung, bagian belakang telinga tempat tali binasal FiO2 akan berkurang apabila pasien bernapas dengan. mulut

Sungkup muka sederhana Aliran yang diberikan 6 10 liter/menit dengan konsentrasi oksigen mencapai 60%. Merupakan sistem aliran rendah dengan hidung, nasofaring dan orofaring sebagai penyimpan anatomic. Sungkup muka dengan kantong rebreathing Aliran yang diberikan 6 10 liter/menit dengan konsentrasi oksigen mencapai 80%. Udara inspirasi sebagian bercampur dengan udara ekspirasi sepertiga bagian volume

ekshalasi masuk ke kantong, dua pertiga bagian bagian volume ekshalasi melewati lubang-lubang pada bagian samping Sungkup muka dengan kantong nonrebreathing Aliran yang diberikan 8 12 liter/menit dengan konsentrasi oksigen mencapai 100%. Udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi dan tidak dipengaruhi oleh udara luar. Kerugian pada penggunaan sungkup 1. Mengikat (sungkup harus terus melekat pada pipi/wajah pasien untuk mencegah kebocoran. 2. Lembab 3. Pasien tidak dapat makan, minum atau berbicara. 4. Dapat terjadi aspirasi jika pasien muntah, terutama pada pasien tidak sadar atau anak Sungkup Venturi Memberikan aliran yang bervariasi dengan konsentrasi oksigen berkisar 24 50%. Dipakai dengan pasien dengan tipe ventilasi yang tidak teratur. Alat ini digunakan pada pasien dengan hiperkarbi yang disertai dengan hipoksemi sedang sampai berat. PENATALAKSANAAN PASKA RESUSITASI JANTUNG PARU Perawatan paska resusitasi dilakukan segera setelah pasien kembali pada sirkulasi spontan sampai pasien dipindahkan ke unit perawatan intensif. Perawatan yang efektif pada periode ini akan memberikan hasil yang memuaskan terutama untuk perbaikan pada fungsi serebral. Tindakan yang harus segera dilakukan : 1. Melakukan pengkajian berdasarkan ABCD sekunder 2. Airway Jalan napas Mempertahankan jalan napas. Memastikan letak ETT dengan pemeriksaan fisik (auskultasi paru kanan-kiri, lambung) pemantauan end tidal CO2 dan rontgen foto torak. 1. Breathing (bantuan napas)

Memberikan oksigen

Memberikan tekanan positif seperti bantuan ventilasi dengan bagging atau ventilasi mekanik Periksa perkembangan dada Periksa saturasi oksigen (pulse oksimetri) dan analisa gas darah (AGD) Pada pasien yang bernapas spontan tetapi membutuhkan ventilasi mekanik, maka

harus diberikan obat pelemas otot dan sedasi. Periksa kemungkinan terjadinya komplikasi seperti pneumotoraks, patah tulang iga dan letak ETT yang salah. 1. Circulation (sirkulasi) Periksa tanda-tanda vital pasien Berikan cairan NaCl atau dekstrosa aapat diberikan apabila pasien mempunyai riwayat hipoglikemia Pemantauan EKG dan tekanan darah Pemantauan produksi urine

Jika pada saat henti jantung dengan irama VF pasien belum mendapat anti aritmia maka obat anti aritmia dapat diberikan secara bolus kemudian dilanjutkan dengan pernberian dosis pemeliharaan. Apabila anti aritmia sudah diberikan pada saat resusitasi maka pemberian anti

aritmia tersebut dilanjutkan dengan dosis pemeliharan. 1. Diagnosis Banding Penyebab henti jantung dapat diketahui dengan cara melakukan : Pemeriksaan rontgen foto toraks

Anamnesis ulang Pemeriksaan fisik Perekaman EKG 12 lead Pemeriksaan elektrolit darah.

1. Tindakan lain Memasang nasogastric tube (NGT)


Posted in GAWAT DARURAT / EMERGENCY

Memasang kateter urine Mengatasi secara cepat gangguan keseimbangan elektrolit.

Silahkan Merespon Halaman Facebook Kami HIPTIK PRO GADAR Daftar Halaman

About Buku Tamu Contact & Information Informasi Terkini

Inovatif & Kreatif

GAWAT DARURAT / EMERGENCY


CARDIOVASCULAR FISIOTERAPI DAN REHABILITASI MEDIK INFORMASI ORGANISASI KANKER / Ca /

PENYAKIT DALAM / INTERNA


KANGKER LABORATORIUMNEUROLOGI Cari

Tulisan Terakhir

CPR (NEW GUIDELINE AHA 2010) HEPATITIS: PENYEBAB DAN PENGOBATAN DIABETES MILITUS BANTUAN HIDUP DASAR ( BHD ) CA. MAMAE

Arsip

Mei 2011 April 2011

Kategori

CARDIOVASCULAR FISIOTERAPI DAN REHABILITASI MEDIK GAWAT DARURAT / EMERGENCY INFORMASI ORGANISASI KANKER / Ca / KANGKER LABORATORIUM NEUROLOGI PENYAKIT DALAM / INTERNA

Meta

Mendaftar Masuk log RSS Entri RSS Komentar WordPress.com

Blog pada WordPress.com. | The My Life Theme.


Ikuti

Follow HIPTIK PRO GADAR


Get every new post delivered to your Inbox.
Bergabunglah dengan 501