Vous êtes sur la page 1sur 5

Keputusan Mahkamah Internasional dalam Menyelesaikan Sengketa

Mahkamah Internasional merupakan organisasi hukum utama PBB yang bertugas memeriksa
perselisihan atau sengketa antar negara dan memutuskan kasus hukumnya. Keputusan yang
diberikan Mahkamah Internasional bersifat mengikat pihak yang bersengketa, sehingga negara
yang bersangkutan wajib memenuhi keputusan tersebut. Apabila negara yang bersengketa tidak
menjalankan kewajiban tersebut, negara lawan sengketa dapat mengajukan permohonan kepada
Dewan Keamanan PBB yang memiliki kewenangan untuk merekomendasikan agar keputusan itu
dilaksanakan.
Dan tugas lain dari Mahkamah Internasional adalah memecahkan masalah yang ada diantara
kedua Negara yang sedang mengalami bentrok yang tak terselesaikan. Keputusan Mahkamah
Internasional terkadang ada yang menguntungkan dan ada yang tidak,meskipun keputusan
tersebut ada yang merugikan salah satu pihak Negara tersebut harus mengakui karena keputusan
dari mahkamah internasional bersifat paten dan tidak bias diganggu gugat dan apa bila ada
Negara yang memprotes, maka Negara tersebut akan terkena sanksi. Maka dari itu lebih baik
menuruti hasil yang telah ditetapkan oleh mahkamah internasional.
Contoh :
1) Konflik Perbatasan Antara Chad-Libya
Konflik perbatasan antara Chad-Libya sesungguhnya merupakan sebuah konflik militer sporadis
yang terjadi di wilayah bagian utara Chad yang berbatasan langsung dengan wilayah Negara
Libya, daaerah ini dikenal dengan jalur Aozou. Konflik ini berlangsung selama kurang lebih
sepuluh tahun, mulai dari tahun 1978 sampai tahun 1987. Akar permasalahan konflik perbatasan
ini adalah Perang Saudara Chad di Chad utara pada tahun 1968, dimana terdapat intervensi Libya
yang cukup signifikan. Perang saudara ini terjadi antara kaum muslimin dan kaum nasrani Chad.
Intervensi Libya didorong oleh adanya rasa solidaritas atas nama kesamaan etnis dan agama,
Libya memberikan dukungan dan bantuan kepada muslim Chad yang mendominasi jalur Aozou.
Tidak sekedar ingin mendukung, dalam perkembangannya ternyata Libya mulai berupaya
mengklaim jalur Aozou. Tak pelak konflik mulai meluas menjadi pertikaian dan perang antara
dua Negara, Chad-Libya.
Latar belakang militer dari perang ini digambarkan pada tahun 1978, dengan Libya memberi
bantuan pelindung, artileri, angkatan udara dan infantri, dan mengambil bagian terbesar dalam
mengamati dan berperang. Latar belakang ini akhirnya berubah pada tahun 1986, saat perang
akan berakhir, ketika semua pasukan Chad yang melawan Libya merebut Chad utara dengan
persatuan yang tidak pernah dilihat sebelumnya di Chad. Ini menghilangkan kebiasaan infantri
pasukan Libya, terutama saat mereka melawan tank, mereka telah menyediakan anti-tank dan
anti-misil, namun melemahkan kekuatan senjata api Libya. Yang terjadi selanjutnya adalah
Perang Toyota. Pasukan Libya dapat dikalahkan dan dipukul mundur oleh Chad, dan juga
mengakhiri konflik ini.
Seperti telah disinggung diatas, alasan keikutsertaan Libya dalam hal ini presiden Muammar Al-
Gaddafi yang berkuasa tahun 1969 dalam konflik di Chad adalah ambisinya atas daerah Jalur
Aouzou, bagian terutara Chad yang diklaim sebagai bagian dari Libya berdasarkan sebuah
perjanjian yang belum disahkan pada saat periode kolonial. Pada tahun 1972, keinginannya
tercapai, dalam evaluasi dari ahli sejarah Mario Azevedo, didirikannya negara bagian klien di
bawah Libya, sebuah republik Islam dimodelkan menurut jamahiriya-nya, yang akan membawa
hubungan dekat dengan Libya, dan mengambil alih Jalur Aouzou, mengusir kekuasaan Perancis
dari daerah itu, dan menggunakan Chad sebagai tempat untuk memperluas kekuasaannya di
Afrika Tengah.
Status final jalur Aozou
Ketika terdapat banyak pelanggaran gencatan senjata, insiden yang terjadi relatif kecil. Kedua
pemerintahan dengan segera memulai manuver diplomatik untuk membawa kepada sisi mereka
opini dunia atas kasus ini, bahwa konflik ini berlanjut. Pemerintahan Reagan melihat bahwa
pembukaan konflik ini adalah kesempatan terbaik untuk menurunkan Gaddafi. Relasi antara
kedua negara terus menerus membaik, dengan Gaddafi memberi tanda bahwa ia menginginkan
untuk menormalisasikan relasi dengan pemerintah Chad, menuju poin pengakuan bahwa perang
itu telah menjadi sebuah kesalahan. Pada bulan Mei tahun 1988, pemimpin Libya menyatakan
bahwa ia akan mengakui Habr sebagai presiden Chad "sebagai hadiah untuk Afrika"; hal ini
memimpin ke arah pembukaan kembali relasi diplomatik antara kedua engara pada tanggal 3
Oktober. Pada tanggal 31 Agustus 1989, Chad dan Libya bertemu di Aljazair untuk
menegosiasikan Kerangka Pesetujuan dalam Perdamaian atas Perselisihan Teritori. Gaddafi
setuju untuk mendiskusikan dengan Habr tentang jalur Aouzou dan untuk membawa hal ini ke
Mahkamah Internasional untuk menjamin kekuasaan jika pembicaraan bilateral gagal. Setelah
setahun atas pembicaraan yang tidak meyakinkan, kedua belah pihak memasukan hal ini pada
bulan September tahun 1990 kepada Mahkamah Internasional.
Relasi Chad-Libya menjadi lebih baik ketika Idriss Dby yang didukung Libya menggantikan
Habr pada tanggal 2 Desember. Gaddafi adalah kepala negara pertama yang mengakui rezim
baru, dan ia juga menandatangani perjanjian persahabatan dan kooperasi dalam berbagai tingkat,
tetapi Dby menyatakan bahwa ia akan tetap bertempur untuk menjaga jalur tersebut jauh dari
tangan Libya.
Permasalahan Aouzou diakhiri dengan baik pada tanggal 3 Februari 1994 ketika hakim di
Mahkamah Internasional dengan jumlah 16 banding 1 membuat Jalur Aouzou menjadi milik
Chad. Pengadilan atas kasus tersebut dilaksanakan tanpa gangguan, keduanya menandai pada
tanggal 4 April sebuah persetujuan berisi tentang implementasi pengadilan. Dengan diawasi oleh
pengamat internasional, mundurnya tentara Libya dari jalur ditandai pada tanggal 15 April dan
selesai pada tanggal 10 Mei. Transfer terakhir terjadi pada tanggal 30 Mei ketika kedua belah
pihak menandatangani sebuah deklarasi gabungan yang menyatakan bahwa mundurnya pasukan
Libya telah berhasil.
2) Keputusan Mahkamah Internasional antara Bosnia vs. Serbia
Keputusan bersejarah yang dikeluarkan oleh Mahkamah Internasional (International Court of
Justice/ICJ) terhadap genosida atau pembunuhan secara massal dalam perkara Bosnia-
Herzegovina melawan Serbia-Montenegro merupakan suatu contoh bahwa keputusan yang
bijaksana tidak selalu menjadi putusan yang baik.
Inilah pertama kalinya negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa mencoba untuk mengajukan
perkara genosida kepada ICJ. Namun ICJ nampaknya telah menghilangkan satu-satunya
kesempatan yang masih tersisa bagi pemegang kekuasaan yang sah, sejak kematian Slobodan
Milosevic yang secara tidak langsung berakibat dengan dihapuskannya Mahkamah Kejahatan
Perang di Yugoslavia (International Criminal Tribunal for Former Yugoslavia/ICTY) yang
berkemungkinan untuk meminta pertanggungjawaban terhadap dirinya.
Keputusan mahkamah yang menjelaskan bahwa meskipun apa yang terjadi pada tahun 1995 di
Srebenica memang merupakan tindakan dari genosida namun negara Serbia tidaklah secara
langsung mempunyai keterlibatan terhadap tindakan tersebut, merupkan keputusan yang
diharapkan dapat diterima oleh masing-masing pihak. Putusan yang seakan-akan bersifat
kompromi ini tidaklah mampu berbuat banyak, akan tetapi justru menyalakan api lama di tengah-
tengah etnik Balkan yang rentan akan konflik.
Keputusan tersebut menimbulkan berbagai isu besar. Genosida dikenal secara luas sebagai
kejahatan internasional luar biasa dan seiring dengan meningkatnya perkembangan dunia, setiap
usaha terjadinya hal tersebut sangatlah penting untuk dijadikan perhatian. Berbagai pengamat
berpendapat bahwa pemerintah Serbia pada saat ini tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban
terhadap kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah sebelumnya. Terdapat juga pendapat yang
mencoba untuk menggambarkan perbedaan antara pemerintah dan negara. Bagaimanapun juga,
sifat yang luas biasa dan kejam dari genosida membawa perintah secara moril kepada
masyarakat internasional maupun nasional untuk membawa pelaku kejahatan pada posisinya.
Tetapi, kesulitan untuk menjalankan maksud utama guna meniadakan kelompok yang dilindungi
secara khusus berarti bahwa keputusan seperti halnya dikeluarkan oleh ICJ masihlah jauh dari
harapan.

3) Amerika Serikat-Nikaragua

Keputusan Mahkamah Interasional yang menyakitkan itu tak berdampak langsung karena
rekomendasi itu tidak mengikat dan kemungkinan sanksi terhadap Israel dapat segera digagalkan
oleh veto AS dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Kendati bagitu keputusan Mahkamah
Internasional merupakan kemenangan moral penting bagi Palestina dan jelas mempengaruhi
pandangan umum. Mahkamah Internasional memang punya sejarah panjang di mana keputusan
dan rekomendasi hukumnya tidak dituruti. Amerika pada tahun 1986 mengenyampingkan
kewenangan Mahkamah dalam konflik dengan Nikaragua. Mahkamah waktu itu memutuskan
Amerika Serikat tak punya hak mendukung pemberontak dan memasang ranjau di pelabuhan
Nikaragua. Pemerintah Amerika diputus untuk membayar ganti rugi kerusakan, tapi hingga kini
menolak.

4) Putusan Mahkamah Internasional: AS Langgar Hak Narapidana Meksiko
Washington-Amerika Serikat (AS) mengaku akan mempelajari terlebih dahulu keputusan
Mahkamah Pengadilan Internasional, yang mengharuskannya meninjau kembali vonis mati atas
51 narapidana asal Meksiko. Mahkamah Pengadilan Internasional dalam sidang Rabu tanggal 31
Maret 2004 menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) telah melanggar hak 51 warga Meksiko
yang divonis hukuman mati. Selanjutnya pihak berwenang AS diperintahkan agar kasus para
terpidana mati tersebut ditinjau kembali.
Ketua dewan hakim, Shi Jiuyong mengatakan bahwa peninjauan kembali tersebut dapat
dilakukan berdasarkan proses banding normal dalam sistem pengadilan di AS. Namun McClellan
mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat langsung melaksanakan keputusan tersebut karena para
narapidana diadili di beberapa pengadilan yang tersebar di beberapa negara bagian yang
memiliki otonomi hukum.
Permohonan Banding
Mahkamah memutuskan agar pihak berwenang di AS harus menerima permohonan banding dari
tiga narapidana asal Meksiko yang yang telah divonis hukuman mati. Para pejabat Meksiko
memuji putusan mahkamah tersebut sebagai kemenangan hukum internasional. Mereka yakin
bahwa AS akan mematuhi putusan mahkamah tersebut. Arturo Dajer, penasihat hukum
Departemen Luar Negeri Meksiko, mengatakan bahwa putusan tersebut merupakan perangkat
hukum yang penting yang menentukan masa depan narapidana asal Meksiko di AS.
Putusan mahkamah tersebut bersifat mengikat, mutlak, dan tidak dapat diajukan banding. Selama
ini putusan dari mahkamah tersebut jarang diabaikan. Bila salah satu pihak yang bersangkutan
tidak mematuhi putusan tersebut maka dapat diadukan ke PBB. Putusan tersebut diambil
berdasarkan Konvensi Wina 1963 yang menjamin orang yang dituduh melakukan tindak
kriminal serius di suatu negara asing memiliki hak untuk menghubungi pemerintahnya untuk
meminta bantuan dan yang bersangkutan patut diberitahu hak hukumnya oleh pihak yang
menahan. Pihak berwenang di AS dianggap lalai memberi tahu hak hukum tersebut bagi 51
narapidana asal Meksiko. Namun, penasihat hukum AS, William Taft, berargumen bahwa
Meksiko tidak berhak mencampuri sistem pengadilan negaranya berkaitan hak hukum 51
narapidana tersebut.