Vous êtes sur la page 1sur 12

MATERI 6

Permohonan Pernyataan Pailit oleh


Debitur dan Kreditur

Permohonan oleh Debitor

Menurut pasal 4 Undang-Undang
Kepailitan Nomor 37 tahun 2004
dinyatakan bahwa dalam hal pernyataan
pailit diajukan oleh debitor yang masih
terikat dalam pernikahan yang sah,
permohonan hanya dapat diajukan atas
persetujuan suami atau istri. Maka
kelengkapan dokumen yang harus
dikumpulkan adalah sebagai berikut:

1. Surat permohonan bermaterai yang ditujukan kepada
ketua pengadilan negeri/niaga yang bersangkutan;
2. Izin pengacara yang telah dilegalisasi
3. Surat kuasa khusus;
4. Kartu Identitas Penduduk (KTP) dari suami atau istri
yang masih berlaku;
5. Persetujuan dari suami atau istri yang dilegalisasi;
6. Daftar asset dan tanggung jawab; dan
7. Neraca pembukuan terakhir (dalam hal perseorangan
memiliki perusahaan).

Permohonan oleh Kreditor

Jika permohonan dilakukan oleh kreditor, maka pihak
kreditor harus melengkapi dokumen-dokumen sebagai
berikut:
1. Surat permohonan bermaterai yang ditujukan kepada ketua
pengadilan negeri/niaga yang bersangkutan;
2. Izin pengacara yang dilegalisasi/kartu pengacara;
3. Surat kuasa khusus;
4. Akta pendaftaran/yayasan/asosiasi yang dilegalisasi oleh kantor
perdagangan paling lambat satu minggu sebelum permohonan
didaftarkan;
5. Surat perjanjian utang;
6. Perincian utang yang tidak dibayar;
7. Nama serta alamat masing-masing debitor;
8. Tanda kenal debitor;
9. Nama serta alamat mitra usaha;
10. Terjemahan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris oleh
penerjemah resmi (jika menyangkut unsur asing);



MATERI 7 :

HUKUM KEPAILITAN

Kejaksaan dan Bank Indonesia sebagai
Subyek Pemohon Pailit

Subyek pemohon kepailitan dapat berbeda-beda,
menurut Undang-Undang Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang Nomor 37 Tahun 2004.
Pasal 2 menyebutkan bahwa subyek pemohon dapat
diajukan oleh Kejaksaan, Bank Indonesia, Badan
Pengawas Pasar Modal, Perusahaan Asuransi dan
Menteri Keuangan


Kejaksaan

Kejaksaan dapat mengajukan permohonan pailit dengan
alasan untuk kepentingan umum. Kepentingan umum
dalam hal ini menurut penjelasan Undang-Undang
Kepailitan adalah kepentingan bangsa dan Negara dan
atau masyarakat luas, misalnya:
1. Debitor melarikan diri;
2. Debitor menggelapkan bagian dari harta kekayaannya;
3. Debitor mempunyai utang kepada Badan Usaha Milik
Negara atau badan usaha lain yang menghimpun dana
dari masyarakat;


4. Debitor mempunyai utang yang berasal dari
perhimpunan dana masyarakat luas;
5. Debitor tidak beritikad baik atau kooperatif
dalam menyelesaikan masalah utang
piutang yang telah jatuh waktu; atau
6. Dalam hal yang lainnya, yang menurut
kejaksaan merupakan kepentingan umum.

Tata cara pengajuan permohonan pailit oleh
Kejaksaan adalah sama dengan permohonan
yang diajukan oleh Kreditor maupun Debitor
hanya saja tidak menggunakan jasa advokat.


Bank Indonesia

Menurut Undang-Undang Perbankan Indonesia Nomor 10
Tahun 1998 yang dimaksud dengan Bank adalah Badan
usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya dalam bentuk kredit dan atau
bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang
banyak. Ketika sebuah bank mengalami kepailitan, maka
Bank Indonesia merupakan pihak yang berwenang untuk
mencabut ijin usaha bank oleh Pimpinan Bank Indonesia
yang berujung likuidasi dan juga memohonkan putusan
kepailitan.
Dalam Undang-Undang Perbankan Indonesia, tidak
ditentukan secara jelas mengenai kepailitan bank dengan
demikian suatu bank dapat dinyatakan pailit oleh hakim
berdasarkan peraturan yang berlaku umum bagi kepailitan
yaitu UU Kepailitan Indonesia Nomor 37 Tahun 2004.



Badan Pengawas Pasar Modal dan
Menteri Keuangan Sebagai Subyek
Pemohon Pailit

Selain Kejaksaan dan Bank Indonesia, pihak yang dapat
mengajukan permohonan pailit menurut Undang-Undang
Kepailitan Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 Pasal 2
adalah Badan Pengawas Pasar Modal dan Menteri
Keuangan.


Badan Pengawas Pasar Modal
(BAPEPAM)

Debitur merupakan Perusahaan Efek, Bursa Efek,
Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga
Penyimpanan dan Penyelesaian, maka permohonan
pailit hanya dapat diajukan oleh Badan Pengawas
Pasar Modal (BAPEPAM).

Menurut penjelasan Pasal 2 dari Undang-Undang
Kepailitan Indonesia :
BAPEPAM mempunyai kewenangan penuh dalam hal
pengajuan permohonan pernyataan pailit untuk
instansi-instansi yang berada dibawah pegawasannya,
yang bertujuan untuk menciptakan kegiatan Pasar
Modal yang teratur, wajar dan efisien.



Menteri Keuangan

Debitur adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan
Reasuransi, dana pensiun atau Badan Usaha Milik Negara
yang bergerak di bidang kepentingan publik, menurut pasal 2
(dua) ayat 5 (lima) Undang-Undang Kepailitan, permohonan
pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri
Keuangan.

Kewenangan untuk mengajukan permohonan pernyataan
pailit bagi Perusahaan Asuransi dan Dana Pensiun
sepenuhnya ada di Menteri Keuangan.
Hal ini dikarenakan Perusahaan Asuransi sebagai lembaga
pengelola resiko dan sekaligus lembaga pengelola dana
masyarakat memiliki kedudukan yang strategis dalam
pembangunan dan kehidupan perekonomian.
Dana Pensiun merupakan pengelolaan dana masyarakat
dalam jumlah yang besar dan dana tersebut merupakan hak
dari peserta yang banyak jumlahnya.