Vous êtes sur la page 1sur 88

S P S

TEKNOLOGI BETON LANJUTAN



DURABILITAS BETON

Edisi ke-2





























Dr. Rr. M.I. Retno Susilorini, ST., MT.
Kusno Adi Sambowo, Ph.D.



TEKNOLOGI BETON LANJUTAN

DURABILITAS BETON

Edisi ke-2

Dr. Rr. M.I. Retno Susilorini, ST., MT.
Kusno Adi Sambowo, Ph.D.

2011, Penerbit Surya Perdana Semesta (SPS)
Semarang

Hak Cipta dilindungi undang-undang


ISBN 978-602-98015-1-4











Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak
sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit










Dicetak oleh Percetakan Surya Perdana Semesta, Semarang
Isi di luar tanggungjawab percetakan
Cover designed by Danang
DAFTAR ISI
iii

DAFTAR ISI



Daftar Isi iii

Kata Pengantar v



BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1. Perkembangan Beton Dari Masa ke Masa 1
1.2. Klasifikasi Beton 5
1.3. Peranan Beton sebagai Bahan Bangunan 6
1.4. Soal Latihan 6
1.5. Pustaka 7

BAB 2 SEMEN, AGREGAT, DAN AIR 8
2.1. Semen 8
2.2. Agregat 16
2.3. Air 21
2.4. Soal Latihan 23
2.5. Pustaka 24

BAB 3 BAHAN TAMBAH 25
3.1. Definisi, Klasifikasi, dan Penggunaan
Bahan Tambah 25
3.2. Bahan Tambah Kimia 31
3.3. Bahan Tambah Mineral 34
3.4. Inovasi Bahan Tambah 37
3.5. Soal Latihan 41
3.6. Pustaka 42

TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
iv

BAB 4 DURABILITAS BETON 43
4.1. Pentingnya Durabilitas Beton 43
4.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Durabilitas Beton 45
4.3. Permeabilitas Beton 47
4.4. Beton yang Terkarbonasi 48
4.5. Susut pada Beton 50
4.6. Beton Pasca Bakar
4.7. Serangan-serangan yang Mempengaruhi
Durabilitas Beton 53
4.8. Soal Latihan 62
4.9. Pustaka 63

BAB 5 BETON BERDURABILITAS TINGGI 64
5.1. Kinerja dan Inovasi Beton
Berdurabilitas Tinggi 64
5.2. Prediksi Durabilitas Beton 67
5.3. Aplikasi Bahan Tambah Berbasis Gula untuk
Beton Berdurabilitas Tinggi 68
5.3. Soal Latihan 78
5.4. Pustaka 79


KATA PENGANTAR
v

KATA PENGANTAR


Pembangunan berkelanjutan mensyaratkan adanya keseimbangan
lingkungan untuk mencapai kesejahteraan manusia. Keseimbangan
lingkungan dalam bidang konstruksi dapat diperoleh dengan menerapkan
teknologi beton hijau, yang pada dasarnya menginginkan tercapainya
beton yang memiliki durabilitas (keawetan) tinggi, ramah lingkungan, dan
berkelanjutan. Untuk lebih memahami teknologi beton secara lebih
mendalam, buku ini ditulis dengan memfokuskan diri pada durabilitas
beton. Sebagai buku yang membahas teknologi beton lanjutan, buku ini
meyajikan pendalaman pada aspek-aspek terkait durabilitas beton, di
samping itu juga menyajikan beberapa hasil penelitian terpilih tentang
durabilitas beton sebagai wawasan ilmu pengetahuan.
Buku Teknologi Beton Lanjutan - Durabilitas Beton Edisi ke-2 ini
merupakan edisi terbaru yang menyajikan kemajuan teknologi beton dan
penelitian-penelitian terkini tentang durabilitas beton. Dalam Edisi ke-2
ini, terdapat perubahan dan tambahan pada Bab 5, yang menyajikan
hasil-hasil penelitian terkini dari penulis dan rekan-rekan tentang kinerja
beton dengan bahan tambah berbasis gula.
Penulis menghaturkan terimakasih sebesar-besarnya atas dukungan dana
dari DP2M Ditjen Dikti melalui Hibah Kompetensi 2010 dan 2011 (Tahun
Kedua dan Ketiga) berjudul Pemanfaatan Material Lokal untuk Teknologi
Beton Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan, yang memungkinkan buku
Teknologi Beton Lanjutan - Durabilitas Beton Edisi ke-2 ini dapat
diterbitkan.
Semoga buku ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang
teknologi beton, khususnya kajian serta penelitian tentang durabilitas
beton.

Penulis,

Dr. Rr. M.I. Retno Susilorini, ST., MT.
Kusno Adi Sambowo, Ph.D.
BAB 1 PENDAHULUAN
1

BAB 1
PENDAHULUAN






1.1. PERKEMBANGAN BETON DARI MASA KE MASA

Beton merupakan material paling populer di sepanjang sejarah
dan menjadi material struktur yang digunakan hampir di seluruh penjuru
dunia. Keberadaan beton dari awal masa Mesir Purba dekade terakhir ini
(Gambar 1.1.) mengisyaratkan bahwa perkembangan beton (Gambar
1.2.) akan selalu signifikan di sepanjang peradaban manusia.


Gambar 1.1. Diagram sejarah beton
(http://static.concretenetwork.com/photo-
gallery/images/709x184Exact/site_26/timeline-of-concrete-history_1803.jpg)

2

Gambar 1.2. Diagram perkemban
(http://matse1.matse.

TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON


bangan aplikasi beton dari masa ke masa
tse.illinois.edu/concrete/3.gif)
BAB 1 PENDAHULUAN
3

Pada awalnya, beton berupa bitumen (aspal) yang digunakan
sebagai pengikat (binder) dari bebatuan yang digunakan untuk konstruksi
bangunan di kawasan Timur Tengah [1]. Perkembangan beton
selanjutnya menjadi signifikan karena munculnya semen Roman dan
diaplikasikannya sifat kedap air beton yang digunakan untuk bangunan-
bangunan Romawi bersejarah seperti Minturnae Aquaduct (Gambar 1.3.),
Colosseum (Gambar 1.4.) dan Pantheon (Gambar 1.4.) di Roma.



Gambar 1.3. Minturnae Aquaduct
(http://commondatastorage.googleapis.com/static.panoramio.com/photos/orig
inal/25052111.jpgg)

TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
4



Gambar 1.3. Colosseum di Roma
(http://www.destination360.com/europe/italy/images/s/italy-rome-
colosseum.jpg)



Gambar 1.4. Pantheon di Roma
(http://www.pantheonsbengals.com/sitebuildercontent/sitebuilderpictures/ro
man_pantheon.jpg)
BAB 1 PENDAHULUAN
5

Beton makin maju dan berkembang, terutama dengan
diaplikasikannya beton bertulang dan berbagai inovasi lainnya seperti
beton ringan, beton serat, beton mutu tinggi, dan beton dengan
teknologi nano.

1.2. KLASIFIKASI BETON

Beton didefinisikan sebagai campuran antara semen Portland atau
semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air dengan
atau tanpa bahan tambah membentuk massa padat [SNI 03-2834-2000].
Klasifikasi beton umumnya dilakukan berdasarkan berat jenis dan
kuat tekannya [2]. Berdasarkan berat jenisnya, beton dibagi atas beton
ringan, beton normal, dan beton berat. Beton ringan memiliki berat jenis
di bawah 1800 kg/m
3
, beton normal memiliki berat jenis 2400 kg/m
3
, dan
beton berat memiliki berat jenis di atas 3200 kg/m
3
. Berdasarkan kuat
tekannya, beton dikategorikan sebagai beton mutu rendah, beton mutu
sedang, dan beton mutu tinggi. Beton mutu rendah memiliki kuat tekan
kurang dari 20 MPa, sedangkan beton mutu sedang memiliki kuat tekan
20-40 MPa, dan beton mutu tinggi memiliki kuat tekan di atas 40 MPa.


TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
6

1.3. PERANAN BETON SEBAGAI BAHAN BANGUNAN

Beton menjadi bahan bangunan yang paling banyak digunakan di
dunia. Beberapa alasan yang mendasari hal tersebut adalah [1, 2]: (1)
beton merupakan material yang kedap air; (2) beton mudah dibentuk;
dan (3) beton relatif murah dan mudah disediakan. Ketiga keuntungan
tersebut menjadi nilai tambah beton, namun terdapat kelemahan beton
yang krusial, yaitu beton lemah terhadap gaya tarik. Untuk mengatasi hal
itu, maka diproduksi beton bertulang, di mana tulangan baja akan
memikul gaya tarik yang bekerja selama pembebanan di masa-layan
struktur.

1.4. SOAL LATIHAN

1. Jelaskan sejarah asal-usul perkembangan beton.
2. Bandingkan keunggulan dan kelemahan aplikasi beton sebagai
bahan bangunan?
3. Jelaskan contoh-contoh aplikasi beton yang dikategorikan
menurut berat jenisnya pada praktek di lapangan.
4. Jelaskan contoh-contoh aplikasi beton yang dikategorikan
menurut kuat tekannya pada praktek di lapangan
BAB 1 PENDAHULUAN
7

5. Apakah mengatasi kelemahan beton terhadap gaya tarik cukup
dengan memberi tulangan baja saja? Jelaskan disertai contoh
yang memadai


1.5. PUSTAKA

[1] Susilorini, Rr. M.I. Retno, dan Suwarno, Dj. (2009). Mengenal dan
Memahami Teknologi Beton. Penerbit Unika Soegijapranata, Semarang.
[2] Mehta, P Kumar, dan Monteiro, PJM. (1993). Concrete Structure,
Properties, and Materials. Prentice-Hall, New Jersey.










TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
8

BAB 2
SEMEN, AGREGAT, DAN AIR






2.1. SEMEN

Yang lazim disebut dengan semen adalah semen hidraulik, yang
didefinisikan sebagai semen yang mengeras bila bereaksi dengan air dan
membentuk produk yang kedap air [1]. Semen Portland yang banyak
dijumpai di pasaran termasuk jenis semen hidraulik. ASTM C150
mendefinisikan Semen Portland sebagai semen hidraulik yang diproduksi
dari penghancuran klinker yang mengandung kalsium silika hidraulik,
biasanya mengandung satu atau lebih bentuk kalsium sulfat sebagai hasil
penggilingan tambahan. Klinker (Gambar 2.1.) berbentuk butiran
berdiameter 5-25 mm yang dihasilkan saat campuran bahan mentah dari
komposisi awal dipanaskan dengan suhu tinggi [1].
Semen Portland tersusun atas 4 senyawa utama seperti yang
disajikan pada Tabel 2.1 [2].

BAB 2 SEMEN, AGREGAT, DAN AIR
9

Tabel 2.1. Senyawa utama dalam semen Portland
(Neville, 1999)

senyawa Komposisi oksida singkatan
Trikalsium silikat 3CaO.SiO
2
C
3
S
Dikalsium silikat 2CaO.SiO
2
C
2
S
Trikalsium aluminat 3CaO.Al
2
O
3
C
3
A
Tetrakalsium aluminoferrite 3CaO.Al
2
O
3
.Fe
2
O
3
C
4
AF

Pabrikasi semen modern memiliki proses produksi seperti
disajikan Gambar 1.2., namun pada dasarnya prinsip pembuatan semen
dapat dijelaskan sebagai berikut. Proses pembuatan semen Portland
diawali dengan menggiling bahan baku berupa campuran CaO, SiO
2
, dan
Al
2
O
3
dan bahan tambahan lain, baik dalam keadaan kering maupun
basah [3]. Campuran ini disebut slurry. Selanjutnya, slurry dituangkan ke
ujung atas dari klin yang diletakkan dengan kemiringan tertentu.
Diameter klin berkisar 5-7 m dan panjang klin dapat mencapai 230 m.
Selama proses tersebut, klin dipanaskan, dan campuran tadi mengalir
dari ujung klin atas ke bawah dengan pengaturan yang sesuai. Suhu
campuran dinaikkan terus (disebut suhu clinkering) hingga mencapai fusi
awal. Suhu tersebut terus dipertahankan sampai campuran dapat
membentuk semen Portland pada suhu 2700
o
F. Butiran ini disebut klinker
dengan diameter berkisar 1/16 hingga 2 in. Pada tahap selanjutnya,
klinker didinginkan, kemudian dihancurkan hingga berbentuk serbuk.
Selama proses penghancuran menjadi serbuk, ditambahkan sedikit
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
10

gypsum untuk mengontrol waktu pengerasan di lapangan. Biasanya
gypsum kalsium ditambahkan kurang lebih 2-4%.

(a) (b)

Gambar 2.1. Perbedaan antara semen dan klinker
(http://matse1.matse.illinois.edu/concrete/3.gif)


Gambar 2.2. Diagram proses produksi semen modern
(http://www.netl.doe.gov/technologies/coalpower/cctc/summaries/pass/image
s/pass_schematic.jpg)
BAB 2 SEMEN, AGREGAT, DAN AIR
11


Sifat-sifat senyawa dalam semen (Tabel 2.1.) sangat penting untuk
dikaji. Senyawa C
2
S dan C
3
S biasanya menempati 70-80% dari proporsi
semen sehingga mendominasi sifat dan kinerja semen [2, 3]. Bila semen
tercampur dengan air dan mneghasilkan panas, maka C
3
S akan segera
berhidrasi dan menyumbangkan kontribusi besar dalam pengerasan
semen sebelum umur 14 hari.
Dalam proses hidrasi, senyawa C
2
S lebih lambat bereaksi dengan
air sehingga hanya berpengaruh terhadap perkerasan semen setelah
berumur 7 hari [2, 3]. Senyawa C
2
S membuat semen lebih tahan terhadap
serangan kimia dan dapat mengurangi susut akibat pengeringan.
Untuk senyawa C
3
A, hidrasi secara isotermis dan bereaksi sangat
cepat, memberikan kekuatan setelah 1 hari setelah bereaksi dengan air
sebanyak kurang lebih 40% dari beratnya [2, 3]. Jumlah unsur ini realtif
sedikit sehingga sedikit pula berpengaruh pada jumlah air. Semen yang
mengandung senyawa C
3
A lebih dari 10% akan rentan terhadap serangan
sulfat dan akan menyebabkan retak-retak pada beton.
Senyawa yang paling kurang berpengaruh terhadap proses
pengerasan semen atau beton adalah C
4
AF.
Selain empat senyawa pokok yang terdapat dalam semen (Tabel
2.1), terdapat beberapa senyawa lain dalam semen yang memberikan
pengaruh terhadap kinerja hidrasi maupun pengerasan semen, yaitu
MgO, SO
3
, NaO dan K
2
O sehingga dilakukan beberapa pembatasan.
Senyawa MgO dibatasi kadarnya hanya sampai 5% karena jika oksida dari
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
12

MgO bereaksi dengan air maka akan terjadi penambahan volume beton
yang dapat menyebabkan beton mengalami retak-retak. Senyawa SO
3
diperbolehkan kadarnya 2.5-3% saja. Fungsi dari senyawa adalah sebagai
pengatur pengikatan semen. Bila kadar gypsum terlalu tinggi, maka
selama berlangsungnya proses pengerasan, akan timbul pengembangan
volume beton yang menimbulkan keretakan. Senyawa NaO dan K
2
O
selalu dijumpai dalam bahan baku penyusun semen yang dapat
menimbulkan retak-retak pada beton dan dapat merusak keseluruhan
beton. Dengan demikian, kadar senyawa NaO dan K
2
O dibatasi kurang
atau sama dengan 0.6%.
Beberapa jenis semen menurut ASTM C150 [1-3] dapat dijelaskan
sebagai berikut.
a. Tipe I, adalah semen Portland standar yang digunakan untuk
semua bangunan beton yang tidak mengalami perubahan
cuaca yang drastis ataupun dibangun dalam lingkungan yang
agresif
b. Tipe II, adalah semen Portland yang digunakan untuk
konstruksi pembetonan massa seperti dam, yang panas
hidrasinya tertahan dalam bangunan untuk jangka waktu yang
lama. Bila semen yang digunakan adalah semen standar, maka
saat proses pendinginan akan timbul tegangan-tegangan
akibat perubahan suhu yang dapat mengakibatkan retak-retak
pada bangunan. Untuk itu diperlukan semen khusus, yaitu tipe
II, yaitu semen yang dapat mengeluarkan panas hidrasi rendah
BAB 2 SEMEN, AGREGAT, DAN AIR
13

disertai kecepatan penyebaran yang rendah juga. Semen tipe
II ini disebut juga dengan Modified Portland Cement yang
memiliki ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi
c. Tipe III, adalah jenis semen Portland yang cepat mengeras,
yang cocok untuk pengecoran beton pada suhu rendah. Pada
proses produksi, butiran semen tipe III ini digiling lebih halus
untuk mempercepat proses hidrasi, yang diikuti percepatan
pengerasan serta percepatan penambahan kekuatan.
Kekuatan tekan 3 hari semen tipe III adalah sama dengan
kekuatan tekan semen tipe I pada umur 7 hari. Panas hidrasi
semen tipe III memiliki panas hidrasi 50% lebih tinggi daripada
semen tipe I. Semen ini memiliki kekuatan awal tinggi dan
biasanya digunakan untuk konstruksi jalan
d. Tipe IV, adalah jenis semen Portland yang menimbulkan panas
hidrasi rendah dengan persentasi maksimum untuk C
2
S
sebesar 35%, C
3
A sebesar 7%, dan C
3
S sebesar 40%. Tipe ini
tidak lagi banyak diproduksi karena digantikan oleh tipe II
e. Tipe V, adalah jenis semen Portland yang bersifat tahan
terhadap serangan sulfat dan mengeluarkan panas. Bangunan
beton yang didirikan di daerah pasang surut dan besar
kemungkinannya terserang serangan sulfat dianjurkan
memakai semen tipe V

TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
14

Hidrasi semen terjadi bila semen dicampur dengan air, di mana
hidrasi berlangsung dalam 2 arah, ke luar dan ke dalam [3]. Hasil hidrasi
akan mengendap secara bertahap di bagian luar dan inti semen yang
belum tehidrasi di bagian dalam. Proses hidrasi sangat rumit, sehingga
tidak semua reaksi dapat diketahui secara detail dan mendalam. Reaksi
kimia dari proses hidrasi dari senyawa C
2
S dan C
3
S dapat dinyatakan
sebagai berikut.
2C
%
S + 6H {C
%
S
$
H
%
{ + 3Ca{OH{
$
(2.1.)
2C
$
S + 4H {C
%
S
$
H
%
{ + Ca{OH{
$
(2.2.)
Kinerja semen dalam hal kemudahan pengerjaan (workability),
pengerasan, dan kekuatan tergantung pada beberapa parameter kontrol
kualitas [4] yang meliputi kehalusan semen (SA dan residu 45 micron),
kehilangan pengapian (loss of ignition, LOI), alkalis dari klinker dan SO
3
,
klinker bebas kapur, komposisi senyawa klinker, SO
3
dari semen dan
bentuk SO
3
.
BAB 2 SEMEN, AGREGAT, DAN AIR
15


Gambar 2.3. Relasi kekuatan mortar (EN 196-1) dan beton (BS 4550)
(Newmann dan Choo, 2003)

Produser semen di UK mengganti uji beton BS 4550 dengan uji
mortar EN 196-1 sebagai penilaian kekuatan semen [4]. Gambar 2.3.
menunjukkan bahwa kekuatan mortar dan kekuatan beton akan
berkorelasi secara linier, meskipun pengaruh adanya agregat kasar pada
beton menjadi suatu kajian yang cukup kompleks.


TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
16

2.2. AGREGAT

Agregat berfungsi sebagai bahan pengisi beton [3] yang melekat
dengan bantuan pasta semen. Agregat terdiri dari agregat kasar (Gambar
2.3. dan 2.4.) dan agregat halus (Gambar 2.4.). Beberapa karaktersitik
agregat yang patut mendapat perhatian [1, 3] adalah porositas, distribusi
gradasi dan ukuran, penyerapan kelembabn, bentuk dan tekstur
permukaan, kekuatan pecah, modulus elastisitas, dan keberadaan zat-zat
yang dapat merusak beton.


Gambar 2.3. Agregat kasar - split
(http://jdptrucking.com/course-concrete-aggregate.jpg)


BAB 2 SEMEN, AGREGAT, DAN AIR
17


Gambar 2.4. Agregat kasar dan agregat halus
http://www.statetestingllc.com/Images/aggregates-02.gif

Agregat dapat dikategorikan menurut berat volumenya, asalnya,
dan berat jenisnya [1-3]. Menurut berat volumenya, agregat
diklasifikasikan sebagi pasir dan kerikil, agregat ringan, dan agregat berat.
Pasir dan kerikil adalah agregat dengan berat volume 1520-1680 kg/m
3
,
sedangkan agregat ringan memiliki berat volume kurang dari 1120 kg/m
3
,
dan agregat berat memiliki berat volume lebih besar daripada 2080
kg/m
3
.
Kategori agregat menurut asalnya [1-3] adalah agregat mineral
alami dan agregat buatan (sintesis). Agregat mineral alami adalah agregat
yang diperoleh dan dihasilkan oleh alam, misalnya pasir, kerikil, dan batu
pecah. Agregat alami diperoleh dari alam yang telah mengalami
pengecilan secara alamiah (kerikil) atau dapat juga diperoleh dengan cara
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
18

memecah batu alam. Dalam hal ini, pasir alam terbentuk dari pecahan
batu sehingga dapat diperoleh dari dalam tanah, dasar sungai atau tepi
laut. Agregat yang menurut asalnya dikategorikan sebagai agregat buatan
(sintesis) diproses secara termal, atau merupakan hasil sampingan atau
ikutan dari produksi suatu bahan.
Agregat menurut berat jenisnya diklasifikasikan menjadi agregat
normal, agregat berat, dan agregat ringan [1, 3]. Yang termasuk ke dalam
agregat normal adalah agregat dengan berat jenis 2.5-2.7 t/m
3
, misalnya
granit, kuarsa, dan sebagainya. Agregat berat adalah agregat dengan
berat jenis lebih dari 2.8 t/m
3
, misalnya magnetik, barytes, atau serbuk
besi; sedangkan yang masuk ke dalam kategori agregat ringan adalah
agregat dengan berat jenis kurang dari 2.0 t/m
3
, misalnya untuk agregat
ringan alami adalah diotomite, purnice, volcanic cinder, agregat ringan
buatan adalah tanah bakar, abu terbang, busa terak tanur tinggi.
Persyaratan mutu agregat (gradasi, kadar lumpur, kandungan zat
yang merugikan) yang ditetapkan oleh ASTM C33 dapat dijelaskan
sebagai berikut [1, 3]:
1. Agregat halus
a. Kadar lumpur atau bagian yang lebih kecil dari 75 mikron
(dalam % berat) maksikmum untuk beton yang mengalami
abrasi sebesar 3.0 dan untuk beton jenis lain sebesar 5.0
b. Kadar gumpalan tanah liat dan partikel yang mudah
dirapikan maksimum sebesar 3.0%
BAB 2 SEMEN, AGREGAT, DAN AIR
19

c. Kandungan arang dan lignin untuk permukaan beton yang
dianggap penting adalah sebesar maksimum 0.5% dan
untuk beton jenis lainnya maksimum sebesar 1.0%
d. Agregat halus harus bebas dari kotoran organik dan bila
diuji dengan larutan NaSO
4
harus memenuhi standar
warna (tidak lebih tua dari warna standar), kecuali:
i. Warna sedikit lebih tua disertai munculnya
sedikit arang, lignin, atau sejenisnya
ii. Dilakukan uji kuat tekan mortar antara mortar
yang menggunakan agregat tersebut dengan
mortar yang menggunakan pasir silika, dan hasil
uji menunjukkan bahwa kuat tekan mortar
agregat tersebut tidak kurang dari 95% kuat
tekan mortar dengan pasir silika
iii. Agregat halus tersebut akan digunakan untuk
beton yang mengalami lembab terus menerus
iv. Dilakukan uji kekekalan dengan larutan garam
sulfat; jika dipakai Natrium Sulfat, maka bagian
yang hancur maksimum 10%, sedangkan jika
memakai larutan Magnesium Sulfat maksimum
15%

TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
20

e. Gradasi agregat halus disajikan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Gradasi agregat halus
(Susilorini dan Suwarno, 2009; Mehta dan Monteiro, 1993)


UKURAN LOBANG
AYAKAN
PERSEN LOLOS KUMULATIF
(mm) (%)
9.50 100
4.75 95-100
2.36 80-100
1.18 50-85
0.60 25-60
0.30 10-30
0.15 2-10


f. Untuk dapat digunakan sebagai campuran beton, persen
lolos kumulatif dari agregat halus tidak boleh melebihi
45%, sedangkan modulus kehalusan agregat halus harus
berada dalam kisaran 2.3 - 3.1
2. Agregat kasar
a. Agregat kasar yang digunakan untuk beton yang
mengalami basah dan lembab terus menerus atau yang
berhubungan dengan tanah basah, tidak boleh
mengandung bahan yang bersifat alkalis dalam semen dan
kadarnya tidak boleh menyebabkan pemuaian yang
berlebihan dalam mortar atau beton
BAB 2 SEMEN, AGREGAT, DAN AIR
21

b. Gradasi agregat kasar adalah sesuai dengan Tabel 2 ASTM
C33
c. Kadar bahan atau partikel yang berpengaruh buruk pada
beton disajikan oleh Tabel 1 ASTM C33
d. Sifat fisika yang mencakup kekerasan butir diuji dengan
mesin Los Angeles dan sifat kekal (soundness) seperti yang
ditetapkan Tabel 3 ASTM C33
Penilaian agregat dari tempat penimbunan (quarry) menuntut
adanya inspeksi berkala dan pengujian yang relevan [4]. Contoh agregat
yang diambil harus representatif dan obyektif.

2.3. AIR

Air sangat berperan dalam campuran beton karena akan
berkontribusi dalam reaksi kimia dengan semen [5]. Beberapa pendapat
menyatakan bahwa jenis air yang paling sesuai untuk campuran beton
adalah air yang memiliki standar air minum, namun pada kenyataannya
tidak semua jenis air dengan standar air minum memberikan kinerja yang
baik untuk campuran beton. Penggunaan air di daerah pantai, air dengan
kualitas buruk dan mengandung kotoran dan bakteri jelas dihindari.
Secara garis besar, persyaratan air yang digunakan dalam
campuran beton dapat disampaikan sebagai berikut [3, 5]:
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
22

a. Air yang digunakan dalam campuran beton harus bersih, tidak
boleh mengandung minyak, asam, alkali, garam-garam, dan
zat organik atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton
atau baja tulangan
b. Air yang dipakai dalam campuran beton pratekan, atau beton
dengan logam aluminium yang tertanam di dalamnya, atau
beton bertulang biasa, tidak boleh mengandung ion chlorida.
Kadar ion chlorida tidak boleh melebihi 500 mg per liter air.
Kadar chlorida maksimum terhadap berat semen yang
disyaratkan adalah 0.06% untuk beton pratekan, 0.05% untuk
beton bertulang yang selamanya berhubungan dengan ion
chlorida, 1% untuk beton bertulang yang selamanya kering
atau terlindung dari basah, dan untuk jenis konstruksi beton
bertulang lain adalah sebesar 0.30%
c. Air tawar yang tidak memenuhi standar air minum sebaiknya
tidak boleh digunakan untuk campuran beton, kecuali:
i. Pemilihan campuran beton yang akan dipakai
berdasarkan kepada campuran beton yang
menggunakan air dari sumber yang sama yang
telah menunjukkan bahwa mutu beton yang
disyaratkan dapat dipenuhi
ii. Dilakukan uji banding antara mortar yang
menggunakan air tersebut dan mortar yang
memakai air bersih yang dapat diminum atau
BAB 2 SEMEN, AGREGAT, DAN AIR
23

air murni (aquadest), dengan uji kuat tekan
kubus mortar sesuai ASTM C109
iii. Air pada butir ii dapat dipakai sebagai
campuran beton jika kuat tekan mortar yang
menggunakan air tersebut pada umur 7 hari
dan 28 hari adalah sebesar minimum 90% dari
kuat tekan mortar dengan air tawar atau air
murni

2.4. SOAL LATIHAN
(disarikan dari Mehta dan Monteiro, 1993)

1. Jelaskan tentang pentingnya kehalusan semen dan cara
penentuannya.
2. Jelaskan mengapa semen tipe IV membatasi kadar C
2
S minimum
sebesar 40% dan kadar C
3
A maksimum sebesar 7%?
3. Jika anda seorang insinyur yang diminta merehabilitasi perkerasan
jalan, jelaskan metode kerja anda, alat yang digunakan, zat-zat
berbahaya yang perlu dihindarkan, analisis biaya antara mendaur-
ulang perkerasan lama dengan memakai agregat baru untuk
perkerasan yang baru.
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
24

4. Mengapa air yang digunakan dalam campuran beton harus
menjamin tercapainya kinerja beton yang kuat dan
berkelanjutan?


2.5. PUSTAKA

[1] Mehta, P Kumar, dan Monteiro, PJM. (1993). Concrete Structure,
Properties, and Materials. Prentice-Hall, New Jersey.
[2] Neville, AM. (1999). Properties of Concrete, Fourth and Final Edition,
Pearson Eduaction Ltd., Essex, England.
[3] Susilorini, Rr. M.I. Retno, dan Suwarno, Dj. (2009). Mengenal dan
Memahami Teknologi Beton. Penerbit Unika Soegijapranata, Semarang.
[4] Newmann, John dan Choo, Ban Seng. (2003). Advanced Concrete
Technology Consituent Material, Elsevier, Ltd., Burlinton, MA.
[5] Shetty, MS. (2005). Concrete Technology Theory and Practice. S
Chand & Company Ltd., India.










BAB 3 BAHAN TAMBAH
25

BAB 3
BAHAN TAMBAH






3.1. DEFINISI, KLASIFIKASI, DAN PENGGUNAAN BAHAN
TAMBAH



Gambar 3.3=1. Aplikasi bahan tambah cair di batch
(http://www.mapei-betontechnik.com/0uploads/bilder405.jpg)

Terdapat perbedaaan mendasar antara terminologi bahan
tambah (admixture) dan aditif (additive). ASTM C125 mendefinisikan
sebagai bahan tambah sebagai material selain air, agregat, semen
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
26

hidraulik, dan perkuatan serat, yang digunakan sebagai penyusun beton
atau mortar dan ditambahkan ke dalam campuran segera sebelum dan
selama pencampuran [1]; sedangkan aditif didefinisikan sebagai material
yang ditambahkan saat penggilingan klinker semen di pabrik [2]. Bahan
tambah bisa tersusun atas satu atau lebih bahan kimia, dan dapat
berbentuk bubuk ataupun cairan (Gambar 3.1.).
Meluasnya pemakaian dan inovasi bahan tambah (Gambar 3.1.
dan 3.2.) merupakan suatu indikasi bahwa produk ini mampu
memberikan keuntungan fisik dan ekonomi [3] sehubungan dengan
produksi beton sebagai bahan bangunan. Namun perlu dicatat bahwa
pemakaian bahan tambah tidak akan mampu memperbaiki mutu beton
yang sudah terlanjur buruk, atau kesalahan dalam hal transportasi beton
dari batch ke site, pengecoran, maupun pemadatan.



Gambar 3.2. Beberapa contoh produk bahan tambah beton
(http://www.shop.artisticconcretesupplies.com/images/1181591843014-
1130907172.jpeg)

BAB 3 BAHAN TAMBAH
27




Gambar 3.3. Contoh bahan tambah tipe A (water reducing)
(http://image.made-in-china.com/2f0j00DMNaIPmzOYpG/Sodium-
Naphthalene-Sulfonate-Formaldehyde-Condensate-NSF-Concrete-
Admixture.jpg)

Jenis-jenis bahan tambah menurut ASTM C494 digolongkan
sebagai berikut:
1. Tipe A, water-reducing admixture, yaitu bahan tambah yang bersifat
mengurangi jumlah air dalam campuran beton yang konsistensinya
tertentu
2. Tipe B, retarding admixture, yaitu bahan tambah yang bersifat
menghambat pengikatan beton
3. Tipe C, accelerating admixture, yaitu bahan tambah yang bersifat
mempercepat pengikatan beton dan peningkatan kekuatan awal
beton
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
28

4. Tipe D, water-reducing and retarding admixture, yaitu bahan
tambah yang bersifat mengurangi jumlah air untuk campuran beton
yang konsistensinya tertentu dan menghambat pengikatan beton
5. Tipe E, water-reducing and accelerating admixture, yaitu bahan
tambah yang bersifat mengurangi jumlah air untuk campuran beton
yang konsistensinya tertentu dan mempercepat pengikatan beton
6. Tipe F, water-reducing, high range admixture, yaitu bahan tambah
yang bersifat mengurangi jumlah air untuk campuran beton yang
konsistensinya tertentu sebanyak 12%
7. Tipe G, water-reducing, high range and retarding admixture, yaitu
bahan tambah yang bersifat mengurangi jumlah air untuk campuran
beton yang konsistensinya tertentu sebanyak 12% atau lebih dan
menghambat pengikatan beton

Bahan tambah bekerja melalui beberapa cara yang dijelaskan
sebagai berikut [4].
a. Terjadi reaksi kimia selama proses hidrasi semen, yang
menyebabkan percepatan atau perlambatan laju reaksi saat
fase semen
b. Terjadi absorpsi pada permukaan semen, umumnya
menyebabkan dispersi partikel (plasticizing action atau
superplasticizing action)
c. Terjadi peningkatan tegangan tarik pada permukaan air,
sehingga meningkatkan penangkapan udara (air entrainment)
BAB 3 BAHAN TAMBAH
29

d. Mempengaruhi rheologi air, biasanya meningkatkan viskusitas
plastis atau kohesi campuran
e. Mengaplikasikan bahan kimia pada beton keras yang dapat
mempengaruhi sifat-sifat tertentu, khususnya korosi,
f. Mempengaruhi kebutuhan air, yaitu menyebabkan terjadinya
plastisisasi (plasticizing) dan pengurangan air (water reducing)
g. Mengubah laju pengerasan beton, yaitu menyebabkan
terjadinya percepatan (accelerating) atau perlambatan
(retarding)
h. Mengubah kandungan udara (air content), dengan
meningkatkatkan atau menurunkan penangkapan air (air
entrainment)
i. Mengubah viskusitas plastis (plastic viscousity), yaitu kohesi
atau tahanan dalam hal terjadinya bleeding dan segregasi
campuran

TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
30


Gambar 3.4. Rheology beton akibat pengaruh campuran material
(Newmnn dan Choo, 2003)

Jenis material dan perencanaan campuran akan menentukan
rheologi dasar dari campuran beton [4]. Rheologi beton di lapangan
diukur dengan uji slump, untuk menguji kekentalan campuran beton.
Untuk menguji pengaruh bahan tambah, di laboratorium dipergunakan
peralatan untuk menguji laju tegangan geser dan regangan geser
campuran beton. Uji tersebut menghasilkan tegangan leleh yang serupa
dengan nilai slump dan viskusitas plastis yang memberikan nilai numerik
untuk kohesi. Dari perhitungan rheologi tersebut, dapat diperoleh
informasi pengaruh masing-masing bahan penyusun campuran seperti
ditunjukkan Gambar 3.4. Dengan menambahkan air ke dalam campuran,
maka lelehakan menurun (namun slump meningkat) demikian juga
viskusitas plastis, yang berarti memperbesar kemungkinan terjadinya
BAB 3 BAHAN TAMBAH
31

bleeding dan segregasi. Bahan tambah yang terdispersi (plasticizer dan
superplasticizer) akan menurunkan leleh namun bisa jadi meningkatkan
atau mernurunkan viskusitas plastis, tergantung pada sifat sekunder
bahan tambah tersebut.

3.2. BAHAN TAMBAH KIMIA

Bahan tambah kimia meliputi semua jenis bahan tambah menurut
ASTM C494 seperti diuraikan pada subbab 3.1. Saat ini telah banyak pula
diimplementasikan bahan tambah penangkap udara (air-entraining
admixture) adalah material bahan penyusun beton (lihat Gambar 3.5.)
yang digunakan untuk menangkap udara, juga bahan tambah pengurang
air (water-reducing admixture) seperti yang disajikan Gmbar 3.6., yaitu
bahan tambah yang berfungsi mengurangi jumlah air dalam campuran
beton untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu [1]. Baik
bahan tambah penangkap udara dan bahan tambah pengurang air
dikategorikan ke dalam bahan kimia permukaan-aktif (surface-active
chemicals) yang sering disebut dengan surfaktan (surfactant).

TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
32


Gambar 3.5. Gambar mikro dari udara terperangkap pada beton dengan udara
terperangkap (air-entrained concrete)
(http://www.cement.org/tech/images/air_entrained.jpg)


Gambar 3.6. bahan tambah pengurang air (water-reducing admixture)
(http://2.imimg.com/data2/WE/RB/IMVENDOR-2134006/dsc_1028-
250x250.jpg)

BAB 3 BAHAN TAMBAH
33

Bahan tambah penangkap udara (air-entraining admixture)
merupakan bahan organik yang ditambahkan ke dalam campuran beton
yang menyebabkan gelembung udara berdiameter 0.25-1 mm
terperangkap dan terdistribusi merata [5]. Nilai tambah yang dihasilkan
oleh pemakaian bahan tambah penangkap udara adalah meningkatnya
kuat tekan, kemudahan pengerjaan, waktu pengikatan, dan keawetan
beton.
Inovasi bahan tambah pengurang air (water-reducing admixture)
merupakan bahan tambah yang terbuat dari material organik yang larut
dalam air [5]. Jenis ini mengurangi jumlah air yang diperlukan untuk
mencapai konsistensi tertentu atau tingkat kemudahan pengerjaan
tertentu. Yang tergolong dalam jenis ini adalah plasticizer. Bahan tambah
pengurang air (water-reducing admixture) dengan kinerja tinggi disebut
dengan water-reducin, high range admixture atau superplasticizer.
Superplasticizer digolongkan sebagai bahan tambah tipe F, dan bila juga
memiliki kinerja memperlambat pengikatan beton, maka termasuk ke
dalam bahan tambah tipe G.






TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
34

3.3. BAHAN TAMBAH MINERAL

Bahan tambah mineral didefiniskan sebagai material yang
mengandung silika, yang ditambahkan ke dalam campuran beton dalam
jumlah yang besar, sekitar 20-100% dari berat semen, sering disebut
sebagai pozzolan [1]. Sebagian pozzolan digunakan dalam bentuk bahan
mentah, atau diaktivasi secara termal terlebih dahulu. Saat ini, produk
sampingan (by product) dari industri telah menghasilkan bahan tambah
mineral.
Pozzolan didefinisikan sebagai bahan yang mengandung senyawa
silika atau silika alumina dan alumina yang tidak memiliki sifat mengikat
seperti semen, namun bentuknya halus, dan dengan adanya air maka
senyawa-senyawa tersebut akan bereaksi dengan kalsium hidroksida
pada suhu normal, membentuk senyawa kalsium silikat hidrat dan
kalsium hidrat yang bersifat hidraulis dan mempunyai angka kelarutan
yang cukup rendah [5].
RockTron [6] membagi jenis pozzolan menurut asalnya menjadi
dua kategori yaitu pozzolan alam dan pozzolan artifisial. Pozzolan alam
meliputi debu vulkanis (volcanic ash), pumice, tufa (tuff), diatomaceous
earth, dan opaline shale; sedangkan pozzolan artifisial meliputi fly ash,
dan produk abu terbang yang berasal dari pembakaran batu bara pada
pembangkit listrik, abu sekam padi (rice husk ash), debu bata (brick dust),
BAB 3 BAHAN TAMBAH
35

kaolin berkapur (calcined kaolin), condensed silica fume, GGBS dan
beberapa slag metalurgis.
Gibbons [6] mengklasifikasikan pozzolan menurut asal dan
sifatnya menjadi 6 jenis. Jenis pertama merupakan material alam yang
sangat reaktif dan halus yang berasal dari gunung berapi; meliputi
puozzolana dari Puozzoli, Itali, volvic pozzolan dari Perancis tenggara,
trass dari Rhinelands dan tufa dari Pulau Aegean, serta pumice-giling.
Jenis kedua merupakan produk tanah liat berkapur suhu rendah yang
berasal dari produk tanah liat yang digiling halus dan dibakar dengan
suhu rendah. Jenis ketiga merupakan produk tanah liat atau kaolin yang
diproduksi sebagai pozzolan yang digunakan bersama-sama dengan
semen Portland. Jenis keempat merupakan terak mineral (mineral slag);
termasuk di antaranya adalah terak furnice yaitu produk samping dari
peleburan yang masih memerlukan penggerusan agar menjadi reaktif.
Terak furnice mengandung silika, alumina, kapur dan mineral lain dengan
komposisi yang bervariasi; digunakan sebagai bahan tambah dalam
beton. Jenis kelima merupakan abu organik; meliputi terak batubara, abu
batubara, abu tanaman (misal abu sekam padi), abu tulang, dan lain-lain.
Jenis keenam merupakan produk pasir alam dan batu pecah tertentu;
antara lain pasir berlempung (argillaceous) yang mengandung schist,
basalt, feldspar dan mica, memiliki sedikit sifat pozzolanik, serta
beberapa produk batu pecah tertentu.
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
36

Pozzolan memiliki mutu yang baik jika jumlah kadar SiO
2
+ Al
2
O
3
+
Fe
2
O
3
tinggi dan sangat reaktif dengan kapur [5]. ASTM C618
membedakan mutu pozzolan sebagai berikut.
a. Tipe N, pozzolan alam atau hasil pembakaran. Pozollan alam
yang termasuk dalam jenis ini adalah tanah diatomic, ophaline
cherts, sales, tuff, abu vulkanik atau purnicite yang diproses
dengan atau tanpa pembakaran. Di samping itu, yang
termasuk dalam tipe ini adalah berbagai material hasil
pembakaran yang mempunyai sifat pembakaran yg baik.
b. Tipe C, abu terbang (fly ash) yang mengandung CaO di atas
10% yang dihasilkan dari pembakaran lignite atau sub-
bitumen batubara
c. Tipe F, abu terbang (fly ash) yang mengandung CaO di atas
10% yang dihasilkan dari pembakaran anthracite atau bitumen
batubara
Dalam hal proses pembentukannya, ASTM C593 membedakan
jenis pozzolan sebagai berikut [5].
a. Pozzolan alam, merupakan material alam hasil sedimentasi
dari abu atau lava gunung berapi yang mengandung silika
aktif, yang bila dicampur dengan kapur padam akan
menghasilkan pemuaian
b. Pozzolan buatan
i. Abu terbang (fly ash), merupakan hasil pemisahan sisa
pembakaran yang halus dari pembakaran batubara
BAB 3 BAHAN TAMBAH
37

yang dialirkan dari ruang pembakaran melalui ketel
berupa semburan asap
ii. Abu sekam padi (rice husk ash), merupakan limbah dari
tanaman padi
Semen yang memakai pozzolan akan memiliki sifat-sifat sebagai
berikut [5].
a. Panas hidrasi akan turun karena pozzolan akan mengurangi
kandungan C3A di dalam semen
b. Faktor air semen akan meningkat dengan adanya pozzolan
c. Kemudahan pengerjaan beton yang memakai semen pozzolan
akan meningkat
d. Mempercepat waktu pengikatan
e. Meningkatkan kekuatan beton

3.4. INOVASI BAHAN TAMBAH

Berbagai inovasi bahan tambah telah dilakukan sejak beberapa
dekade terakhir. Dalam bab ini akan disajikan beberapa inovasi bahan
tambah terpilih.
Inovasi pozzolan alam jenis balsatic pumice yang berasal dari
wilayah Cukurova dimanfaatkan dengan baik di Turki. Binici, et. al. [6]
meneliti tentang panas hirasi awal dari semen-campuran (blended-
cement) yang mengandung ground granulated-blast furnace slag (GGBF)
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
38

dan ground balsatic pumice (GBP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengurangan panas hidrasi dicapai oleh spesimen dengan butir yang lebih
kasar dengan volume bahan tambah sebesar 30% dengan nilai Blaine
sebesar 2800 + 30 cm
2
/g. Dengan panas hidrasi yang rendah ini maka
beton dengan campuran ground granulated-blast furnace slag (GGBF)
dan ground balsatic pumice (GBP) dapat digunakan untuk konstruksi
beton massa.
Hasil penelitian (Susilorini, 2003; Susilorini, et. al, 2002; Pramono
dan Wibowo, 2002; Setiawan dan Purnomo, 2002 dalam [6])
menunjukkan bahwa trass Muria Kudus dapat dimanfaatkan sebagai
agregat alternatif untuk menggantikan agregat halus pasir Muntilan
dalam campuran beton dengan komposisi tertentu. Uji laboratorium
menunjukkan bahwa kandungan SiO
2
pada trass Muria Kudus yang
digunakan dalam penelitian tersebut adalah sebesar 42,02%, sedangkan
kandungan Al
2
O
3
adalah sebesar 28,08%. Perbandingan volume (1:2:3)
untuk (semen:trass Muria Kudus:split) adalah perbandingan campuran
beton yang optimal untuk kinerja kuat tekan, kuat tarik-belah, maupun
modulus elastisitas. Secara keseluruhan, beton dengan agregat halus
trass Muria Kudus menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan
beton normal, terutama untuk kinerja kuat tarik-belah yang mencapai
nilai 70% lebih tinggi dibandingkan beton normal. Hasil pengujian kuat
tekan dan kuat tarik-belah (Pramono dan Wibowo, 2002; Susilorini, et.
al., 2002; Susilorini, 2003 dalam [6]) menunjukkan bahwa kuat tekan
optimal dicapai beton dengan campuran Trass Muria Kudus sebesar
BAB 3 BAHAN TAMBAH
39

29,802 MPa yang melebihi syarat kuat rencana (19 MPa). Di samping itu,
modulus elastisitas beton dengan campuran Trass Muria Kudus memiliki
nilai yang lebih tinggi dibandingkan beton normal (Setiawan dan
Purnomo, 2002; Susilorini, et. al., 2002; Susilorini, 2003 dalam [6]).
Penelitian bahan tambah (admixture) berbasis gula untuk
campuran beton dengan memanfaatkan sukrosa, gula pasir, dan larutan
tebu dapat dijelaskan sebagai berikut. Bahan tambah diaplikasikan pada
campuran beton dengan tujuan meningkatkan beberapa sifat dan kinerja
beton. Bahan tambah pemercepat (accelerator), menurut ASTM tipe C,
maupun pemerlambat (retarder), menurut ASTM tipe D, secara khusus
dikaji dalam penelitian Susilorini [7, 8]. Bahan tambah pemercepat
digunakan untuk mempercepat waktu pengikatan semen dan pengerasan
beton sedangkan bahan tambah pemerlambat digunakan untuk tujuan
sebaliknya. Dosis bahan tambah pemerlambat yang umum digunakan
dalam campuran beton berkisar antara 0.03%-0.15% dari berat semen
(Jayakumaranma, 2005 dalam [6]), sedangkan dosis di atas 0.25% dari
berat semen akan menimbulkan percepatan pengikatan semen yang
signifikan.
Penelitian-penelitan terdahulu (Susilorini, 2009; Susilorini, et. al.,
2008; 2009; Etmawati and Yuwono, 2008; Ganis and Nugraha, 2008;
Nikodemus and Setiawan, 2008; Syaefudin and Nugraha, 2008; Birru and
Windya, 2009; Aprilia and Maulana, 2009 dalam [7, 8]) membuktikan
bahwa pada dosis tertentu gula dapat mempercepat atau justru
memperlambat waktu pengikatan semen dan pengerasan beton serta
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
40

meningkatkan kinerja kuat tekan mortar dan beton. Perlu dicatat bahwa
ampas tebu mengandung 30-50% selulosa dan 20-24% lignin (Viera,
et.al., 2007 dalam [7, 8]). Adanya lignin dalam ampas tebu dan air
perasannya diindikasikan memberikan kontribusi lekatan bila larutan
tebu dicampurkan ke dalam adukan beton. Bahan tambah berbasis gula
dalam campuran beton bersifat meningkatkan ikatan C-S-H sehingga akan
meningkatkan nilai kuat tekannya seiring waktu hingga dicapai nilai
optimal dari kuat tekan tersebut.
Penelitian Susilorini [7, 8] telah menghasilkan beberapa komposisi
bahan tambah (admixture) berbasis gula untuk campuran beton
(Susilorini, 2009, 2010). Dalam penelitian tersebut, telah diuji 16
komposisi untuk memperoleh komposisi optimal dengan uji kuat tekan
mortar dan beton. Hasil uji kuat tekan beton dari ke-16 komposisi
menyimpulkan adanya 6 komposisi optimal bahan tambah berbasis gula
yang mampu meningkatkan kuat tekan beton. Dari ke-6 komposisi
optimal tersebut, 5 komposisi bersifat sebagai pemerlambat dan 1
komposisi sebagai pemercepat. Bahan tambah berbasis gula untuk
campuran beton yang menggunakan sukrosa, gula pasir, dan larutan
tebu, adalah bahan tambah yang ramah lingkungan, mampu
meningkatkan kuat tekan beton serta memiliki keawetan, sehingga
membuktikan bahwa bahan tambah berbasis gula ini juga berkelanjutan.
Komposisi optimal bahan tambah beton berbasis gula ini telah diajukan
pendaftaran patentnya.

BAB 3 BAHAN TAMBAH
41

3.5. SOAL LATIHAN

1. Jelaskan tentang peranan bahan tambah dalam industri beton dan
beton siap pakai (ready mix).
2. Jelaskan mengenai jenis-jenis bahan tambah dan fungsi
penggunaannya.
3. Jelaskan tentang water-reducing admixture dan penggunaannya.
4. Bandingkan peranan bahan tambah pemerlambat dengan peranan
superplasticizer pada beton
5. Jelaskan pentingnya aplikasi pozzolan pada campuran beton.



TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
42

3.6. PUSTAKA

[1] Mehta, P Kumar, dan Monteiro, PJM. (1993). Concrete Structure,
Properties, and Materials. Prentice-Hall, New Jersey.
[2] Shetty, MS. (2005). Concrete Technology Theory and Practice. S
Chand & Company Ltd., India.
[3] Neville, AM. (1999). Properties of Concrete, Fourth and Final Edition,
Pearson Eduaction Ltd., Essex, England.
[4] Newmann, John dan Choo, Ban Seng. (2003). Advanced Concrete
Technology Consituent Material, Elsevier, Ltd., Burlinton, MA.
[5] Susilorini, Rr. M.I. Retno, dan Suwarno, Dj. (2009). Mengenal dan
Memahami Teknologi Beton. Penerbit Unika Soegijapranata, Semarang.
[6] Susilorini, Rr. M.I. Retno, dan Suryoatmono, Bambang. (2007). Trass,
Masa Depan Bagi Pozolan Alam Sebagai Agregat Alternatif Untuk
Campuran Beton, Prosiding Seminar Nasional KK Struktur - Institut
Teknologi Bandung, pp. 96-106.
[7] Susilorini, Rr. M.I. Retno. (2009). Pemanfaatan Material Lokal untuk
Teknologi Beton Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan, Laporan Akhir,
DP2M, Ditjen Dikti.
[8] Susilorini, Rr. M.I. Retno, dan Sambowo, Kusno Adi. (2010).
Pemanfaatan Material Lokal untuk Teknologi Beton Ramah Lingkungan
yang Berkelanjutan, Laporan Akhir, DP2M, Ditjen Dikti.








BAB 4 DURABILITAS BETON
43

BAB 4
DURABILITAS BETON






4.1. PENTINGNYA DURABILITAS BETON

ACI Committee 201 [1] mendefinisikan durabilitas beton dengan
semen Portland sebagai kemampuan beton untuk menahan cuaca,
serangan kimia, abrasi, atau proses pengrusakan lain; dengan demikian
durabilitas beton akan mempertahankan bentuk asli, kualitas, dan
kemampuan layan saat terekspose di lingkungan. Pendapat menarik
dikemukakan oleh Newmann dan Choo [2], durabilitas tidak hanya
sekedar berhenti pada terminologi baik atau lebih baik. Durabiltas
bukanlah sifat (properties), melainkan perilaku (behaviour) yang
menyatakan kinerja beton saat terekspose dengan lingkungan (Gambar
4.1.). Dengan demikian, masa-layan (service life) dapat menjadi deskripsi
durabilitas yang lebih tepat.

TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
44



Gambar 4.1. Elemen beton pada konstruksi dermaga yang mengelupas
akibat terekspose lingkungan air laut
(http://www.carrasquilloassociates.com/images/gallery/durability_05.jpg)



Masa-layan didefinisikan sebagai waktu selama beton memenuhi
persyaratan kinerjanya dengan pemeliharaan yang ditentukan. Definisi
masa-layan dapat disajikan dengan grafik relasi kinerja-waktu seperti
yang diperlihatkan Gambar 4.2.
BAB 4 DURABILITAS BETON
45


Gambar 4.2. Definisi masa-layan dalam relasi kinerja-waktu
(Newmann dan Choo, 2003)



4.2. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DURABILITAS
BETON

Durabilitas beton sangat dipengaruhi oleh berbagai hal, antara
lain permeabilitas beton, kerusakan alamiah (fisik) dan kerusakan kimia,
pengaruh cuaca, serta korosi pada tulangan baja (Gambar 4.3.) yang
tertanam di dalam beton [3]. Lingkungan agresif sangat berperan dalam
menurunkan kinerja durabilitas beton. Isu durabilitas beton menjadi hal
yang sangat penting sehingga diakomodasi oleh ACI-08 dalam salah satu
bagiannya.
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
46


Gambar 4.3. Contoh kasus kerusakan elemen beton akibat korosi pada tulangan
yang terekspose lingkungan agresif
(Lobo, 2007)


Gambar 4.4. Contoh kasus kerusakan elemen beton serangan sulfat
(http://imgs.ebuild.com/cms/CONCRETE%20PRODUCER%20MAGAZINE/2007/Ja
nuary/CP070101036L5.jpg)
BAB 4 DURABILITAS BETON
47


4.3. PERMEABILITAS BETON


Gambar 4.5. Pemodelan permeabilitas beton
(http://dcnonl.com/images/archivesid/24408/601.jpg)

Salah satu tolok ukur dalam durabilitas beton adalah
permeabilitas. Permeabilitas didefinisikan sebagai sifat yang menyatakan
laju aliran cairan dalam benda padat berporus [1]. Dalam hal beton,
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
48

adanya agregat dengan permeabilitas rendah dalam pasta semen
diharapkan dapat mengurangi permeabilitas sistem karena partikel
agregat harus memotong saluran tempat mengalirnya cairan dalam
matriks pasta semen [1, 4]. Beton yang kedap air diartikan sebagai beton
yang awet [5] dan memiliki koefisien permeabilitas sebesar k = 10
-10

cm/det.

4.4. BETON YANG TERKARBONASI

Karbonisasi pada beton merupakan proses penetrasi dari CO
2
dari
udara ke dalam beton dan bereaksi dengan Ca(OH)
2
dan membentuk
CaCO
3
[4]. Sesungguhnya CO
2
tidak bersifat reaktif, namun dengan
adanya kelembaban maka CO
2
berubah menjadi asam karbonik cair yang
menyerang beton dan mengurangi alkalinitas beton. Udara yang
mengandung CO
2
akan terpenetrasi ke dalam beton, mengkarbonisasi
beton, dan mengurangi alkalinitas beton. Dalam hal ini, pH (derajat
keasaman) dari pori-pori air pada pasta semen keras akan menurun
nilainya dari 13 menjadi 9. Bila Ca(OH)
2
terkarbonisasi seluruhnya maka
pH akan menurun lagi menjadi sekitar 8.3. Dalam keadaan pH yang
rendah, maka lapisan pelindung akan rusak sehingga tulangan baja
terekspose dan terjadi korosi. Dengan demikian karbonisasi pada beton
seperti yang disajikan Gambar 4.6. dan 4.7. menjadi penyebab utama
korosi tulangan baja di samping oksigen dan kelembaban.
BAB 4 DURABILITAS BETON
49



Gambar 4.6. Beton yang terkarbonisasi pada bangunan gedung
(http://www.williamjmarshall.co.uk/carbconc.jpg)


Gambar 4.7. Beton yang terkarbonisasi berwarna pink
(http://www.understanding-cement.com/images/ppslab.jpg)
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
50


4.5. SUSUT PADA BETON

Susut (shrinkage) pada beton (Gambar 4.8.) menjadi salah satu
penyebab retak dan menurunnya kinerja beton [4]. Susut dapat
diakibatkan oleh susut kering (drying shrinkage) dan susut akibat
karbonasi (carbonation shrinkage) [6].


Gambar 4.8. Beton yang mengalami susut
(http://www.superseal.ca/pics/cf_foundation-cracks.jpg)

Susut akibat karbonasi dapat dijelaskan sebagai berikut [6].
Keberadaan CO
2
menyebabkan massa beton mengembang. Pada saat
BAB 4 DURABILITAS BETON
51

beton mengering, dan beton terkarbonasi secara simultan, maka
pengembangan massa. Penyebab susut akibat karbonasi ditengarai
disebabkan oleh melarutnya kristal Ca(OH)
2
akibat tegangan tekan dan
tersimpannya CaCO
3
di area bebas tegangan sehingga pasta semen keras
sementara waktu tertekan dan mengembang. Bila proses karbonasi
berlanjut pada terjadinya dehidrasi C-S-H, maka akan terjadi susut akibat
karbonasi.

4.6. BETON PASCA BAKAR

Kebakaran membawa dampak yang serius terhadap bangunan
gedung yang terbuat dari beton, seperti yang disajikan Gambar 4.9.
Secara umum, material beton relatif lebih tahan api dibandingkan kayu
dan plastik, juga baja. Namun demikian, untuk memberikan kinerja
durabilitas terhadap api yang signifikan, tetap diperlukan beberapa
persyaratan untuk durabilitas beton pasca bakar yang memadai.
Komposisi bahan penyusun beton sangat penting untuk
diperhatikan dalam hal durabilitas beton pasca bakar karena pasta semen
dan agregat mengandung komponen yang dapat berdekomposisi setelah
pemanasan [1]. Di samping itu, beberapa aspek dari beton seperti
permeabilitas, dimensi elemen, laju peningkatan suhu, menjadi faktor-
faktor yang perlu diperhatikan dalam beton pasca bakar.
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
52


Gambar 4.9. Struktur beton yang rusak akibat kebakaran
(http://www.norcalblogs.com/watts/images/580-880_steel.jpg)

Pengaruh peningkatan suhu terhadap kekuatan beton tidak
terlalu signifikan sampai dengan 250
o
C, namun di atas suhu 300
o
C beton
akan kehilangan kekuatan secara nyata [4]. Pada suhu di atas 400
o
C,
beton keras terhidrasi akan kehilangan air dalam Ca(OH)
2
bebas, dan
meninggalkan CaO. Jika CaO tersebut basah atau terkena udara lembab,
maka akan terjadi rehidrasi pada Ca(OH)
2
yang dibarengi pengembangan
volume.

BAB 4 DURABILITAS BETON

4.7. SERANGAN-SERANGAN
DURABILITAS BETON

Serangan-serangan kimiaw
mempengaruhi durabilitas beton. B
dibahas dalam subbab ini debagai be
serangan asam, serangan alkali, dan se

Gambar 4.10. Struktur beton yang m
(http://theconstructor.org/wp-conten

53
N YANG MEMPENGARUHI
iawi terhadap beton sangat
. Beberapa serangan kimiawai akan
ai berikut, antara lain serangan sulfat,
n serangan air laut.

ng mengelupas akibat serangan sulfat
ntent/uploads/2010/04/image55.png)
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
54

Serangan sulfat (Gambar 4.10. dan 4.11.) disebabkan reaksi kimia
dari ion sulfat sebagai bahan agresif komponen alumina dari semen
Portland [5]. Dengan volume air tertentu, reaksi dari sulfat akan
menyebabkan pengembangan beton (Gambar 4.11.) yang akan
menimbulkan retak-retak dengan pola tak teratur.

Gambar 4.11. Potongan penampang beton terkena serangan sulfat
(http://www.understanding-cement.com/images/thaumasite.jpg)

Sulfat terdapat di dalam tanah maupun air tanah dalam bentuk
kalsium, sodium, potasium, magnesium [4]. Serangan sulfat terhadap
BAB 4 DURABILITAS BETON
55

beton lebih disebabkan oleh sulfat cair daripada sulfat padat, yang
bereaksi dengan pasta semen terhidrasi. Di antara semua jenis sulfat,
magnesium sulfat dinilai paling merusak beton.
Mekanisme serangan sulfat dapat dijelaskan sebagai berikut [5].
Serangan sulfat diawali dengan pembentukan gypsum (calcium sulfat)
dan ettringite (calcium sulphoaluminate) yang memiliki sifat menambah
volume sehingga terjadi pengembangan volume beton yang akhirnya
merusak beton. Reaksi pembentukan ettringite terjadi karena adanya
gypsum yang ditambahkan ke dalam campuran beton untuk mencegah
flash set. Untuk mengatasi serangan sulfat, maka perlu dipilih semen
dengan kadar C
3
A rendah, yaitu semen tipe V, atau dapat juga digunakan
semen pozzolan.
Jenis serangan kimia yang lain adalah serangan asam. Beton tidak
sepenuhnya tahan terhadap serangan asam (Gambar 4.12. dan 4.13.).
Asam, baik dalam konsentrasi kecil maupun besar, cepat atau lambat
akan mendisintegrasi beton. Senyawa yang paling rentan terhadap
serangan asam adalah Ca(OH)
2
dan C-S-H. Seranngan asam ini akan
sangat merusak jika pH di bawah 4.5 [4].
Mekanisme serangan asam terjadi dengan mengubah unsur-unsur
bahan semen yang tidak larut ke dalam air menjadi unsur-unsur yang
larut ke dalam air, sehingga mudah menghilang dari dalam beton [5]. Bila
beton terkena serangan asam sulfur, maka akan terbentuk calcium sulfat
yang kemudian bereaksi dengan fase kalsium aluminat dalam semen akan
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
56

menyebabkan terjadinya kristalisasi yang kemudian akan mengakibatkan
volume beton mengembang (Gambar 4.14.).

Gambar 4.12. Elemen beton yang terkena serangan asam
(http://bauerepoxies.com/assets/images/Lihir-102.jpg)



Gambar 4.13. Konstruksi pintu air dengan tiang beton
yang terkena serangan asam
(http://filer.case.edu/slr21/Bridge/acid1.jpg)
BAB 4 DURABILITAS BETON
57




Gambar 4.14. Potongan penampang beton
yang terkena serangan asam
(http://www.concrete-experts.com/images/AKK_30.jpg)

Jenis serangan kimiawi yang lain adalah serangan alkali. Serangan
alkali merupakan reaksi antara ion-ion hidroksil dengan pori-pori air
dalam beton dan jenis bebatuan mineral tertentu yang timbul dan
menjadi bagian dari agregat [4]. Serangan alkali menghasilkan
pengembangan volume dan pola retak tipikal seperti disajikan Gambar
4.15. dan 4.16. dengan lebar retak berkisar 0.1-10 mm.
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
58


Gambar 4.15. Potongan penampang beton
yang terkena serangan alkali silika
(http://www.drmor.com/learn/img/asr_orng_200x148.gif)


Gambar 4.16. Elemen beton yang terkena serangan alkali
(http://www.hpi-industrial.com/cms/assets/Uploads/alkali.jpg)
BAB 4 DURABILITAS BETON
59

Mekanisme serangan alkali dapat dijelaskan sebagai berikut.
Beton mendapat gangguan berupa rekasi kimia dari silika aktif yang
terdapat pada bahan agregat alkali yang terdapat dalam semen Portland
yang berupa Na
2
O dan K
2
O [5]. Reaksi tersebut membentuk gel alkali-
silika yang menyerap air dengan cara osmosis sehingga terjadi
pengembangan volume. Bila gel alkali-silika tersebut dilapisi pasta semen,
maka akan terjadi tegangan dalam pasta semen yang mengakibatkan
timbulnya retak-retak dengan pola tak teratur namun terdistribusi
merata. Kecepatan rekasi pembentukan gel silika-alkai dangat tergantung
pada ukuran partikel silika. Partikel silika yang berukuran 20-30 m akan
mengembang dalam waktu 8 minggu.
Pencegahan serangan alkali dapat dilakukan dengan cara [5, 6]
antara lain:
a. Mencegah terjadinya kontak antara beton dengan udara
b. Menggunakan semen Portland yang mengandung alkali
kurang dari 0.6%
c. Menggunakan semen tipe I dan fly ash semen (PFA) minimum
25% dengan pembatasan kadar alkali dari semen kurang dari 3
kg/m
3



TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
60

Serangan air laut umumnya menjadi salah satu penyebab dari
menurunnya durabilitas beton di lingkungan pantai maupun lepas pantai.
Berbagai senyawa kimia yang terkandung dalam air laut maupun
organisme laut dapat merusak konstruksi beton (Gambar 4.17 dan 4.18.).


Gambar 4.17. Elemen beton yang terekspose air laut
(http://www.concretethinker.com/Content/ImageLib/
15714%20conf%20bridge.jpg)


Gambar 4.18. Elemen beton yang terkena serangan organisme laut
(http://www.corrocoatphils.com/images/prod_plas001.gif)
BAB 4 DURABILITAS BETON
61

Air laut mengandung 3.5% garam dari keseluruhan beratnya [1, 4].
Konsentrasi ion Na
+
dan Cl
-
sangat tinggi, sekitar 11.000-20.000 mg/l sedangkan
Mg
2+
dan SO
4
2-
sekitar 1400-2700 mg/l. Nilai pH dari air laut bervariasi sekitar
7.5-8.4 dengan nilai rerata 8.2. Air laut juga mengandung CO
2
. Dari kandungan
senyawa kimia yang terdapat dalam air laut, berbagai serangan kimia dapat
terjadi dan merusak beton, yaitu serangan sulfat, serangan asam, serangan CO
2
,
dan serangan chlorida.
Masalah yang patut mendapat perhatian dalam hal serangan air laut
terhadap beton adalah serangan chlorida yang dapat menimbulkan korosi
tulangan baja. Page dan Page [7] membuktikan bahwa persentase chlorida
terhadap berat semen akan makin meningkat seiring timbulnya korosi, seperti
disajikan Gambar 4.19.


Gambar 4.19. Kurva relasi ambang chlorida dan saat timbulnya korosi
(Page dan Page, 2007)


TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
62

4.8. SOAL LATIHAN

1. Jelaskan tentang durabilitas dan pentingnya durabilitas beton.
2. Mengapa durabilitas beton memegang peranan penting dalam
kontrol kualitas beton? Jelaskan pengaruh permeabilitas terhadap
durabilitas beton.
3. Jelaskan proses terjadinya serangan sulfat, serangan asam,
serangan air laut, dan serangan alkali pada beton.
4. Jelaskan bagaimana mengatasi masalah korosi pada bangunan di
tepi pantai dan lepas pantai.
5. Apakah perbaikan mungkin dilakukan pada struktur beton yang
terkena serangan sulfat? Jelaskan.




BAB 4 DURABILITAS BETON
63

4.9. PUSTAKA

[1] Mehta, P Kumar, dan Monteiro, PJM. (1993). Concrete Structure,
Properties, and Materials. Prentice-Hall, New Jersey.
[2] Newmann, John dan Choo, Ban Seng. (2003). Advanced Concrete
Technology Concrete Properties, Elsevier, Ltd., Burlinton, MA.
[3] Lobo, Colin L. (2007). New Perspektif on Concrete Durability, Concrete
in Focus Magazine, pp. 24-30.
[4] Shetty, MS. (2005). Concrete Technology Theory and Practice. S
Chand & Company Ltd., India.
[5] Susilorini, Rr. M.I. Retno, dan Suwarno, Dj. (2009). Mengenal dan
Memahami Teknologi Beton. Penerbit Unika Soegijapranata, Semarang.
[6] Neville, AM. (1999). Properties of Concrete, Fourth and Final Edition,
Pearson Eduaction Ltd., Essex, England.
[7] Page, CL., dan Page, MM. (2007). Durability of Concrete and Cement
Composites, Woodhead Publishing Ltd., England.












TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
64

BAB 5
BETON BERDURABILITAS TINGGI






5.1. KINERJA DAN INOVASI BETON BERDURABILITAS
TINGGI

Durabilitas beton yang tinggi berarti beton tersebut memiliki
kinerja keawetan yang tinggi, sifat kedap air yang tinggi, serta ketahanan
yang tinggi pula terhadap serangan-serangan yang dapat mengakibatkan
kerusakan pada beton.
Beton mutu tinggi (HPC, high performance concrete) sering
diidentikkan memiliki durabilitas tinggi (high durability) pula seperti
terlihat pada Gambar 5.1. Durabilitas tinggi dapat dicapai beton antara
lain dengan menambahkan abu terbang (fly ash) sekitar 25-60% ke dalam
semen, yang dikenal dengan sebutan High Volume Fly ash Concrete
(HVLC) [1].
Upaya lain meningkatkan durabilitas normal menjadi tinggi antara
lain dapat dilakukan dengan memakai plasticizer, meniadakan partikel
lumpur dan kotoran organik dalam campuran beton, menerapkan
metode perawatan progresif, menggunakan semen Portland Pozzolan,
BAB 5 BETON BERDURABILITAS TINGGI
65

Semen Portland dengan panas hidrasi-rendah, serta mengaplikasikan
gelembung di dalam beton [2].


Gambar 5.1. Konstruksi beton kedap air membutuhkan durabilitas tinggi
(http://www.wakmc.com/e107_images/custom/iimage011.jpg)

Upaya lain untuk meningkatkan durabilitas beton agar memiliki
kinerja keawetan yang tinggi adalah mencampurkan bahan tambah
berbasis gula [3, 4] yang terdiri dari campuran gula pasir, sukrosa, dan
larutan tebu, yang mampu meningkatkan kuat tekan mortar dan beton
dalam lingkungan normal dan lingkungan agresif (air laut, air payau, air
rob, dan larutan NaCl) seperti yang diperlihatkan Gambar 52. Dan 5.3..



TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
66


Gambar 5.2. Benda uji mortar dirawat dengan air rob
(Susilorini dan Sambowo, 2010)



Gambar 5.3. Benda uji beton dirawat dengan air laut
(Susilorini dan Sambowo, 2010)

BAB 5 BETON BERDURABILITAS TINGGI
67

Inovasi bahan tambah berbasis gula yang dilakukan Susilorini, et. al.
membawa terobosan baru yang signifikan [3-5]. Kinerja beton dengan
bahan tambah berbasis gula akan didiskusikan lebih lanjut pada sub bab
5.3. berikut.
5.2. PREDIKSI DURABILITAS BETON

Prediksi durabilitas beton dilakukan dengan membangun model-
model yang relevan. Model yang tengah dikembangkan oleh
Heiyantuduwa dan Alexander [6] adalah pengembangan UCT Service Life
Model, yang memodelkan prediksi seumur hidup dari struktur beton di
lingkungan air laut dengan menggunakan South African Durability Index
Approach. Model sebelumnya, yaitu diformulasi ulang dan dikalibrasi
secara primer untuk menyediakan basis analisis durabilitas dan desain
struktur beton di lingkungan air laut yang memperhitungkan
ketersediaan material yang berbeda dalam kisaran yang lebih luas,
seperti halnya keadaan di Afrika Selatan. Model ini memberikan hasil
yang baik dengan mengedepankan kinerja jangka panjang struktur beton
baru di lingkungan air laut.
Model lain untuk prediksi durabilitas beton di lingkungan air laut
dikemukakan oleh Mackechnie tentang prediksi masuknya chlorida ke
dalam beton [6]. Dalam model ini beton dengan abu terbang (fly ash) dan
slag memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap ekspose air laut
dibandingkan dengan beton dengan semen Portland biasa.
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
68

5.3. APLIKASI BAHAN TAMBAH BERBASIS GULA UNTUK
BETON BERDURABILITAS TINGGI

Bahan tambah yang dimasukkan ke dalam campuran beton
menjadi satu faktor penting lain yang turut menentukan kinerja beton
secara keseluruhan. Bahan tambah kimiawi maupun alami telah banyak
diproduksi, Beberapa penelitian terdahulu [7-16] telah mengkaji peranan
dan kinerja bahan tambah alami berbasis gula dalam campuran beton
yang ternyata dapat meningkatkan kinerja beton, namun belum ada
penelitian yang memanfaatkan campuran gula pasir, sukrosa, dan larutan
tebu sebagai bahan tambah beton. Untuk itu penulis bersama rekan-
rekan melakukan penelitian-penelitian, dari penelitian awal hingga lanjut
untuk mengkaji kinerja beton dengan bahan tambah berbasis gula.
Penelitian awal yang dilakukan penulis dan rekan-rekan [17-26]
membuktikan bahwa pada dosis tertentu gula dapat mempercepat atau
justru memperlambat waktu pengikatan semen dan pengerasan beton
serta meningkatkan kinerja kuat tekan mortar dan beton. Perlu dicatat
bahwa ampas tebu mengandung 30-50% selulosa dan 20-24% lignin [13].
Adanya lignin dalam ampas tebu dan air perasannya diindikasikan
memberikan kontribusi lekatan bila larutan tebu dicampurkan ke dalam
adukan beton. Bahan tambah berbasis gula dalam campuran beton
bersifat meningkatkan ikatan C-S-H sehingga akan meningkatkan nilai
kuat tekannya seiring waktu hingga dicapai nilai optimal dari kuat tekan
tersebut.
BAB 5 BETON BERDURABILITAS TINGGI
69

Sifat dan kinerja bahan penyusun dari bahan tambah berbasis
gula dapat dijelaskan sebagai berikut [27-29]. Gula yang merupakan
bahan penyusun terpenting dalam bahan tambah pada penelitian ini
merupakan disakarida. Disakarida merupakan dua molekul yang diikat
melalui pemeluapan. Sukrosa yang terdapat dalam gula pasir merupakan
gabungan satu molekul glukosa dengan satu molekul fruktosa. Tanaman
tebu (genus saccharum) dikenal sebagai bahan utama produksi gula pasir
di Indonesia. Secara umum, batang tebu masak mengandung 67-75% air,
8-16%, sukrosa 8-16%, 0.5-20% gula reduksi, 0.5-1% material organik,
0.2-0.6% senyawa anorganik, 0.5-1% senyawa nitrogenik, 0.3-0.8% abu,
dan 10-16% serat [15]. Tebu juga mengandung 30-50% selulosa dan 20-
24% lignin [16]. Dengan kandungan tersebut, larutan tebu yang diekstrak
dari batang tebu masak dicoba digunakan sebagai bahan tambah beton.
Pengaruh penambahan material berbasis gula yang berupa sukrosa, gula
pasir, dan larutan tebu pada campuran beton terbukti sangat signifikan,
yaitu mempercepat maupun memperlambat waktu pengerasan beton,
serta meningkatkan kuat tekan beton [7-16].
Mekanisme lekatan antara bahan tambah berbasis gula dalam ses
hidrasi dapat dijelaskan sebagai berikut [27-31]. Penambahan gula ke
dalam campuran beton akan menyebabkan interaksi antara gula dan C
3
A
[30]. Dalam kasus pemerlambatan pengerasan beton, interaksi ini akan
menghambat pembentukan secara cepat fase kubik C
3
AH
6
dan
menyebabkan pembentukan fase heksagonal C
4
AH
13
[12-13]. Gula
mengandung sukrosa, disakarida yang tersusun atas satuan-satuan
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
70

glukosa dan fruktosa. Adanya kandungan glukosa, glukonat, dan
lignosulfonat, akan menstabilkan ettringite dalam sistem C
3
Agypsum.
Glukosa akan menghambat konsumsi gypsum dan pembentukan
ettringite. Untuk kasus pemercepatan pengerasan beton, terjadi
peningkatan kecepatan hidrasi kalsium silikat. Senyawa yang biasa
digunakan untuk mempercepat hidrasi C
3
A dengan sedikit perubahan
alkalinitas pada pori-pori air adalah kalsium klorida [31]. Perlu dicatat
bahwa penambahan gula pada dosis tertentu dalam campuran beton
juga dapat mempercepat pengerasan beton.
Hasil-hasil penelitian kinerja beton dengan bahan tambah
berbasis gula dari penulis dan rekan-rekan akan dijelaskan sebagai
berikut [27-29]. Penelitian Hibah Kompetensi Tahun Pertama (2009) telah
menghasilkan beberapa komposisi bahan tambah (admixture) berbasis
gula untuk campuran beton [27]. Dalam penelitian tersebut, telah diuji 16
komposisi untuk memperoleh komposisi optimal dengan uji kuat tekan
mortar dan beton. Hasil uji kuat tekan beton dari ke-16 komposisi
menyimpulkan adanya 6 komposisi optimal bahan tambah berbasis gula
yang mampu meningkatkan kuat tekan beton. Dari ke-6 komposisi
optimal tersebut, 5 kompoisisi bersifat sebagai pemerlambat dan 1
komposisi sebagai pemercepat. Komposisi optimal bahan tambah beton
berbasis gula ini telah diajukan pendaftaran patentnya pada tahun 2010
(Reg. No. P00201000309) dan hingga saat ini tengah memasuki tahap
pemeriksaan subtantif.
BAB 5 BETON BERDURABILITAS TINGGI
71

Penelitian Hibah Kompetensi Tahun Kedua (2010) telah
memperoleh hasil sebagai berikut [28, 32]. Kinerja kuat lentur beton
dengan bahan tambah berbasis gula (Reg. No. P00201000309) meningkat
dibandingkan kuat lentur beton tanpa bahan tambah berbasis gula.
Kenaikan optimum ditunjukkan oleh benda uji beton dengan bahan
tambah berbasis gula dalam dosis kecil 0.03% dari berat semen.
Bertambahnya dosis bahan tambah berbasis gula di dalam beton tidak
menjamin kenaikan kuat tekan dan kuat lentur, karena akan terjadi
killer-setting, di mana beton justru menggumpal, tidak terjadi
pengikatan, sehingga beton tidak padat dan makin getas. Hasil uji
eksperimental juga menunjukkan bahwa di satu sisi hasil uji kuat tekan
mortar (Gambar 5.4.) dengan bahan tambah berbasis gula yang dirawat
dengan beberapa media (air tawar, air laut, air payau, air rob, dan larutan
NaCl) menunjukkan fenomena fluktuatif, dari umur 7 hari kuat tekan
mortar menurun saat umur 14 hari, namun naik lagi pada umur 28 hari
dan mencapai kuat tekan yang lebih tinggi dibandingkan saat umur 7 hari.
Di sisi lain, uji kuat tekan beton (Gambar 5.5.) dengan bahan tambah
berbasis gula yang dirawat dengan beberapa media (yang
direpresentasikan oleh komposisi optimum M-I-A-01 dan M-I-A-02)
menunjukkan bahwa sebagian besar beton dengan bahan tambah
berbasis gula yang dirawat dengan media air laut, air payau, air rob, dan
larutan NaCl pada umur 28 hari meningkat kuat tekannya dibandingkan
dengan yang dirawat dengan air tawar. Sebagian komposisi mengalami
kenaikan kuat tekan jika dirawat dengan media air laut, air payau, air rob,
dan larutan NaCl dibandingkan dengan yang dirawat dengan air tawar.
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
72


Gambar 5.4. Kuat tekan mortar dengan bahan tambah berbasis gula pada umur
28 hari yang dirawat dengan beberapa media [28, 32]

Gambar 5.5. Kuat tekan beton dengan bahan tambah berbasis gula pada umur
28 hari yang dirawat dengan beberapa media [28, 32]
0
10
20
30
40
50
60
70
A
I
R

T
A
W
A
R
A
I
R

L
A
U
T
A
I
R

P
A
Y
A
U
N
a
C
l

I
N
a
C
l

I
I
N
a
C
l

I
I
I
A
I
R

R
O
B

I
A
I
R

R
O
B

I
I
A
I
R

R
O
B

I
I
I
28 HARI
K
u
a
t

T
E
k
a
n

(
M
P
a
)
Media Perawatan
M-I-A 01
M-I-A 02
M-I-A 03
M-I-B 04
M-II-A 03
M-II-B-01
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
A
I
R

T
A
W
A
R
A
I
R

L
A
U
T
A
I
R

P
A
Y
A
U
N
a
C
l

I
N
a
C
l

I
I
N
a
C
l

I
I
I
A
I
R

R
O
B

I
A
I
R

R
O
B

I
I
A
I
R

R
O
B

I
I
I
28 HARI
K
u
a
t

T
e
k
a
n

(
M
P
a
)
Media Perawatan
M-I-A 01
M-I-A 02
BAB 5 BETON BERDURABILITAS TINGGI
73


Hasil uji porositas beton dengan bahan tambah berbasis gula yang
dirawat dengan beberapa media [28] yang direpresentasikan komposisi
optimum M-I-A-02 menunjukkan bahwa benda uji beton dengan bahan
tambah berbasis gula yang dirawat dengan beberapa media memiliki nilai
porositas yang lebih kecil dibandingkan dengan beton tanpa bahan
tambah berbasis gula. Dengan demikian, oleh karena nilai porositas yang
lebih kecil, maka beton akan lebih kedap air, lebih padat, sehingga kuat
tekannya meningkat. Hasil uji koefisien permeabilitas beton dengan
bahan tambah berbasis gula yang dirawat dengan beberapa media [28]
juga menunjukkan bahwa secara umum benda uji beton dengan koefisien
permeabilitas yang lebih kecil dibandingkan dengan beton tanpa bahan
tambah berbasis gula sehingga beton akan lebih kedap air, lebih padat,
dengan demikian kuat tekannya meningkat.
Penelitian Hibah Kompetensi Tahun Ketiga (2011) menunjukkan
bahwa terjadi perubahan berat beton yang signifikan setelah benda uji
dimasukkan ke dalam air laut dengan kedalaman + 10 m selama 1 bulan
(30 hari) [29]. Gambar 4 memperlihatkan kehilangan berat rerata untuk
setiap komposisi benda uji. Hasil pengukuran berat beton dengan bahan
tambah berbasis gula pra dan pasca perendaman dalam air laut
menunjukkan bahwa specimen benda uji dengan kode M-I-A-02 dan M-I-
A-03 merupakan benda uji dengan kehilangan berat terendah, dengan
kisaran 12-14 gram.
74

Gambar 5.6. Berat beton dengan bahan tambah berbasis gula rerata pasca
perendaman dalam air laut [29]
Hasil uji kuat beton dengan bahan tambah berbasis gula rerata
setelah direndam dalam air laut dengan kedalaman
bulan diperlihatkan oleh Gambar 5.
A-02, M-II-A-03, dan M-II-B-01 memiliki kuat tekan tertinggi, berkisar 33
35 MPa.
Korelasi antara kehilangan berat dan kuat tekan b
dijelaskan sebagai berikut. Hasil pengukuran berat beton dengan bahan
tambah berbasis gula pasca perendaman dalam air laut dengan
kedalaman + 10 m selama 1 bulan
agresif air laut menyebabkan beton kontrol mengalami penurunan kuat
tekan, yaitu dengan kehilangan berat yang cukup signifikan dari beberapa
benda uji.
0
50
100
150
200
K
E
I
L
A
N
G
A
N

B
E
R
A
T

(
g
r
a
m
)
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON

Berat beton dengan bahan tambah berbasis gula rerata pasca
perendaman dalam air laut [29]

Hasil uji kuat beton dengan bahan tambah berbasis gula rerata
setelah direndam dalam air laut dengan kedalaman + 10 m selama 1
bulan diperlihatkan oleh Gambar 5. 7. Diperlihatkan bahwa benda uji M-I-
01 memiliki kuat tekan tertinggi, berkisar 33-
Korelasi antara kehilangan berat dan kuat tekan benda uji dHpat
asil pengukuran berat beton dengan bahan
tambah berbasis gula pasca perendaman dalam air laut dengan
10 m selama 1 bulan [29] menunjukkan bahwa lingkungan
agresif air laut menyebabkan beton kontrol mengalami penurunan kuat
engan kehilangan berat yang cukup signifikan dari beberapa
BENDA UJI
BAB 5 BETON BERDURABILITAS TINGGI

Gambar 5.7. Kuat tekan beton rerata pasca perendaman dalam air laut
Dari penelitian Hibah Kompetensi tahun pertama
kontrol yang direndam dengan air tawar di laboratorium memiliki kuat
tekan rerata berkisar 32 MPa, namun
tahun ketiga [29], beton kontrol yang mengalami perendaman dalam air
laut dengan kedalaman + 10 m selama 1 bula
berkisar 12 MPa saja (menurun kuat tekannya hingga 62.5 %). Hasil uji
eksperimental menegaskan bahwa perbandingan berat beton dengan
bahan tambah berbasis gula dan beton kontrol pasca perendaman dalam
air laut dengan kedalaman + 10 m selama 1 bulan cukup signifikan, yaitu
2-2.5%. Untuk kuat tekan, beton dengan bahan tambah berbasis gula dan
beton kontrol memiliki selisih yang sangat besar, yaitu sekitar 65%.
0
5
10
15
20
25
30
35
40
K
U
A
T

T
E
K
A
N

(
M
P
a
)
BENDA UJI
75


Kuat tekan beton rerata pasca perendaman dalam air laut [29]

Dari penelitian Hibah Kompetensi tahun pertama [27], beton
kontrol yang direndam dengan air tawar di laboratorium memiliki kuat
tekan rerata berkisar 32 MPa, namun dari penelitian Hibah Kompetensi
beton kontrol yang mengalami perendaman dalam air
10 m selama 1 bulan hanya memiliki kuat tekan
berkisar 12 MPa saja (menurun kuat tekannya hingga 62.5 %). Hasil uji
eksperimental menegaskan bahwa perbandingan berat beton dengan
bahan tambah berbasis gula dan beton kontrol pasca perendaman dalam
10 m selama 1 bulan cukup signifikan, yaitu
2.5%. Untuk kuat tekan, beton dengan bahan tambah berbasis gula dan
beton kontrol memiliki selisih yang sangat besar, yaitu sekitar 65%.
BENDA UJI
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
76

Lingkungan air laut yang agresif menyebabkan serangan air laut.
Pengaruh serangan air laut dapat mengakibatkan beberapa hal seperti:
reaksi kimia unsur-unsur air laut pada produk hidrasi semen; ekspansi
alkali-agregat (bila terdapat agregat reaktif); kristalisasi kristalisasi
tekanan garam di dalam beton bila salah satu sisi permukaan struktur
mengalami kondisi basah, sedangkan sisi yang lain mengalami kering;
erosi fisik akibat gelombang dan benda-benda terapung; serta korosi
tulangan baja di dalam beton. Bahan tambah berbasis gula pada dasarnya
mengandung sukrosa, yaitu disakarida yang tersusun atas satuan-satuan
glukosa dan fruktosa [28]. Kandungan glukosa, glukonat, dan
lignosulfonat, akan menstabilkan ettringite dalam sistem C3Agypsum
[9]. Glukosa akan menghambat konsumsi gypsum dan pembentukan
ettringite. Terbentuknya ettringite ini akan menyebabkan volume beton
mengembang sehingga mebuat beton pecah. Pemberian bahan tambah
berbasis gula pada campuran beton akan mengakibatkan ikatan antar
elemen penyusun beton sangat kuat terutama karena kandungan lignin.
Pada dosis bahan tambah berbasis gula yang tepat, kristalisasi ettringite
tidak akan menyebabkan retak pada beton akibat pengembangan volume
[29].
Analisi hasil uji eksperimental menunjukkan bahwa benda uji
M-II-B-01, meskipun memiliki kuat tekan rerata tertinggi, sekitar 35 MPa
(Gambar 5.7), komposisi ini memiliki kehilangan berat rerata yang cukup
besar yaitu 175 gram. Komposisi dengan kode M-II adalah komposisi
bahan tambah berbasis gula yang lebih besar (0.3% dari berat semen)
BAB 5 BETON BERDURABILITAS TINGGI
77

dibandingkan dengan komposisi dengan kode M-I (0.03% dari berat
semen). Dengan demikian M-II-B-01 memiliki keunikan karena
dibandingkan dengan komposisi M-II-A-03 yang keduanya memiliki
volume 0.3% dari berat semen, namun M-II-B-01 mengalami kehilangan
berat paling besar. Terdapat dugaan bahwa prosentase gula pasir yang
lebih besar dalam bahan tambah meningkatkan proses kavitasi
(kehilangan massa akibat terbentuknya gelembung uap yang meluruhkan
bagian massa tersebut) [29]. Fenomena ini terjadi pada beton yang
memiliki kekuatan tinggi, yaitu rentan terhadap terjadinya kavitasi.
Hasil penelitian-penelitian penulis dan rekan-rekan telah
membuktikan bahwa bahan tambah berbasis gula untuk campuran beton
yang menggunakan sukrosa, gula pasir, dan larutan tebu, adalah bahan
tambah yang ramah lingkungan, mampu meningkatkan kuat tekan beton
serta memiliki keawetan, sehingga membuktikan bahwa bahan tambah
berbasis gula ini juga berkelanjutan.



TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
78

5.4. SOAL LATIHAN

1. Jelaskan tentang kinerja beton berdurabilitas tinggi.
2. Jelaskan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan durabilitas beton.
3. Jelaskan model-model yang digunakan untuk memprediksi
durabilitas beton.
4. Jelaskan mengenai bahan tambah berbasis gula dan bagaimana
mekanisme lekatan yang ditimbulkan selama proses hidrasi.
5. Bagaimana masa depan penggunaan material lokal sebagai bahan
tambah beton? Adakah inovasi-inovasi yang dapat dikembangkan.
Jelaskan dan diskusikan dalam kelompok.


BAB 5 BETON BERDURABILITAS TINGGI
79

5.5. PUSTAKA

[1] Aggarwal, V., Gupta, SM., dan Sachdeva, SN. (2010). Concrete
Durability Throuh High Volume Fly ash Concrete (HVLA) A Literature
Review, International Journal of Engineering Science and Technology
Vol. 2, No. 9, pp. 4473-4477.
[2] Arum, C. Dan Olotuah, AO. (2006). Concrete Durability Throuh High
Volume Fly ash Concrete (HVLA) A Literature Review, Emirates Journal
for Engineering Research, Vol. 11, No. 1, pp. 25-31.
[3] Susilorini, Rr. M.I. Retno. (2009). Pemanfaatan Material Lokal untuk
Teknologi Beton Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan, Laporan Akhir,
Tahun Pertama, DP2M, Ditjen Dikti.
[4] Susilorini, Rr. M.I. Retno, dan Sambowo, Kusno Adi. (2010).
Pemanfaatan Material Lokal untuk Teknologi Beton Ramah Lingkungan
yang Berkelanjutan, Laporan Akhir, Tahun Kedua, DP2M, Ditjen Dikti.
[5] Susilorini, Rr. M.I. Retno, Sambowo, Kusno Adi, dan Santosa, Budi.
(2011). Pemanfaatan Material Lokal untuk Teknologi Beton Ramah
Lingkungan yang Berkelanjutan, Laporan Akhir, Tahun Ketiga, DP2M,
Ditjen Dikti.
[6] Heiyantuduwa, R., dan Alexander, MG. (2009). Studies on prediction
models for concrete durability, Concrete Repair, Rehabilitation and
Retrofitting II, Alexander, et. al. (eds), Taylor & Francis Group, London,
pp. 303-309.
[7] Medjo Eko, R. dan Riskowski, G.L. (2001). A Procedure for Processing
Mixtures of Soil, Cement, and Sugar Cane Bagasse, Agricultural
Engineering International-the CIGR Journal of Scientific Research and
Development, Manuscript BC 99 001, Vol. III, pp. 1-11.
[8] Chandler, Cristophe., Kharsan, Margarita., dan Furman, Alla. (2002).
Sugar Beets Against Corrosion, Corrosion Review Journal, Vol. 20, No.
4-5, pp.379-390, London, England.
[9] Peschard, A., Govin, A., Grosseau, P., Guilhot. B., and Guyonnet, R.
(2004). Effect of polysaccharides on the hydration of cement paste in
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
80

the early age, Journal of Cement and Concrete Research, Author
Manuscript, Vol. 34, No.11, 2153.
[10] Frias, Moises., Villar-Cocina, E., dan Valencia-Morales, E. (2007).
Characterization of Sugar Cane Straw Waste as Pozzolanic Material for
Construction: Calcinic Temperature and Kinetic Parameters, Waste
Management Journal, Vol. 27., pp. 533-538.
[11] Jayakumaranma, al Govindasamzy. (2005). The Effect of Over
Dossage of Concrete Daratard 40 in Concrete, Thesis, University Teknologi
Malaysia.
[12] Collepardi, M., Monosi, S., Moriconi, G., and Pauri, M., (1984),
Influence of Gluconate, Lignosulfonate, or Glucose on the C3A Hydration
in the Presence of Gypsum With or Without Lime. Journal of Cem.
Concrete Res., Vol. 14, 105-112.
[13] Collepardi, M., Monosi, S., Moriconi, G., and Pauri, M., (1985),
Influence of Gluconate, Lignosulfonate, or Glucose Admixtures on the
Hydration of Tetracalcium Aluminoferitte in the Presence of Gypsum
With or Without Calcium Hydroxide. Journal of American Ceramic
Society, Vol. 68, No. 5, c.126-c128.
[14] Collepardi, Mario. (2005). Chemical Admixtures Today, Proceeding
of Second International Symposium on Concrete Technology for
Sustainable Development with Emphasis on Infrastructure, pp. 527-541,
India.
[15] Farmani, B., Haddadekhodaparast, MH., Hesari, J., dan Aharizad, S.
(2008). Determining Optimum Condition for Sugarcane Juice Refinement
by Pilot Plat Dead-end Ceramic Micro-filtration, Journal of Agriculture
Science Technology, Vol. 10, pp. 351-357.
[16] Viera, RGP., Filho, GR., Assuncao, RMN., Meireles, CdS, Vieira, JG.,
and Oliveira, GS. (2007). Synthesis and Characterization of
Metylcellulose from Sugar Cane Baggase Cellulose, Journal of
Carbohydrates Polymer, Vol. 67, 182-189.
[17] Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2009). Kinerja Kuat Tekan Mortar dengan
Bahan Tambah Berbasis Gula Alami, Laporan Penelitian, Program Studi
Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Unika Soegijapranata, Semarang. [18]
BAB 5 BETON BERDURABILITAS TINGGI
81

Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2009). The Importance of Natural Materials for
Green Concrete, Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil V, Teknologi
Ramah Lingkungan dalam Bidang Teknik Sipil, Surabaya, 11 Februari,
Program Studi Pasca Sarjana & Jurusan Teknik Sipil, ITS, pp. G.101-110.
[19] Susilorini, Retno, Rr. M.I., (2009). Sugar Based Natural Admixture
A Breakthrouh to Achieve Green Concrete, Unika Soegijapranata
Publisher, Semarang.
[20] Susilorini, Retno, Rr. M.I., (2009). Green Admixture for Sustainable
Concrete Implemented to Subsidized Apartment, Prosiding Seminar
Nasional Perspektif Apartemen Bersubsidi Ditinjau dari Multidisiplin
Ilmu, Universitas Kristen Maranatha, Bandung, 15 Agustus, pp.254-262.
[21] Etmawati, D. dan Yuwono, A. (2008). Beton dengan Bahan Tambah
Gula Pasir 0.3% dari Berat Semen, Tugas Akhir, Program Studi Teknik
Sipil, Unika Soegijapranata, Semarang.
[22] Ganis, R.I. dan Nugraha, H.A. (2008). Pengaruh Larutan Tebu 0.03%
Sebagai Retarder Alami Terhadap Kuat Tekan Beton, Tugas Akhir,
Program Studi Teknik Sipil, Unika Soegijapranata, Semarang.
[23] Nikodemus dan Setiawan, B. (2008). Pengaruh Penambahan
Retarder Gula Pasoe 0.03% dari Berat Semen Terhadap Kuat Tekan Beton,
Tugas Akhir, Program Studi Teknik Sipil, Unika Soegijapranata, Semarang.
[24] Syaefudin, I. dan Ardi B, S. (2008). Kinerja Kuat Tekan Beton dengan
Accelerator Alami Larutan Tebu 0.3% dari Berat Semen, Tugas Akhir,
Program Studi Teknik Sipil, Unika Soegijapranata, Semarang.
[25] Birru, Daniel Charles, and Windya KI, Rr. Vera, (2009). Kinerja Kuat
Tekan Mortar dan Beton dengan Bahan Tambah Larutan Tebu pada
Umur 28, 56, dan 84 Hari, Tugas Akhir, Program Studi Teknik Sipil, Unika
Soegijapranata, Semarang.
[26] Aprilia, Rizki Wulan, and Maulana PP, Novian, (2009). Kuat Tekan
Mortar dan Beton dengan Bahan Tambah Gula Pasir yang Berumur 28,
56, dan 84 Hari, Tugas Akhir, Program Studi Teknik Sipil, Unika
Soegijapranata, Semarang.
[27] Susilorini, Retno, M.I. Rr. (2009). Pemanfaatan Material Lokal unutk
Teknologi Beton Ramah Lingkungan yang Berkelanjutan, Laporan Akhir,
TEKNOLOGI BETON LANJUTAN
DURABILITAS BETON
82

Hibah Kompetensi, Tahun Pertama, Ditjen Dikti, DP2M, LPPM, Unika
Soegijapranata, Semarang.
[28] Susilorini, Retno, M.I. Rr. dan Sambowo, Kusno Adi. (2010).
Pemanfaatan Material Lokal unttk Teknologi Beton Ramah Lingkungan
yang Berkelanjutan, Laporan Akhir, Hibah Kompetensi, Tahun Kedua,
Ditjen Dikti, DP2M, LPPM, Unika Soegijapranata, Semarang.
[29] Susilorini, Retno, M.I. Rr., Sambowo, Kusno Adi, dan Santosa, Budi.
(2011). Pemanfaatan Material Lokal unttk Teknologi Beton Ramah
Lingkungan yang Berkelanjutan, Laporan Akhir, Hibah Kompetensi, Tahun
Ketiga, Ditjen Dikti, DP2M, LPPM, Unika Soegijapranata, Semarang.
[30] Young, JF. (1968). The Influence of Sugar on the Hydration of
Tricalcium Aluminate. Proceeding the Fith International Symposium on
the Chemistry of Cement, 256-267.
[31] Neville, AM. (1999). Properties of Concrete, Fourth and Final Edition,
Pearson Education Limited, England.
[32] Susilorini, Rr. M.I. Retno., Sambowo, Kusno Adi., Purwanto, Hendro
dan Apriando P, Proylin. (2011). Compressive Strength of Mortar with
Sugar Based Admixture Exposed to Seawater, Proceedings of The 12th
International Conference on QIR (Quality of Research), Faculty of
Engineering, University of Indonesia, pp. 2176-2178.