Vous êtes sur la page 1sur 15

PENGGUNAAN ASAM SALISILAT

DALAM DERMATOLOGI
Abstract: Salicylic acid is the oldest known keratolytics. Besides its keratolytic properties,
salicylic acid also has keratoplastic, anti-pruritic, anti-inflammatory, analgetic,
bacteriostatic, fungistatic, and photo-protective effects. It is a well-established treatment for
many dermatologic conditions, manifest as hyperkeratosis, and can be used as an additional
therapy for superficial dematomycosis, moluscum contagiosum, acne, and photo-damaged
skin. In general, topical salicylic acid is safe,but it is readily absorbed from the skin. Toxicity
from percutaneous absorption is rare but serious complications have been reported. This
paper reviewed its chemistry, mechanism of action,clinical usage, side effect, percutaneous
toxicity and contraindication in dermatotherapy.
Keywords: salicylic acid, dermatology, clinical use, side effects
Abstrak: Asam salisilat merupakan bahan keratolitik tertua. Selain memiliki efek keratolitik,
bahan ini juga memiliki efek keratoplastik, anti-pruritus, anti-inflamasi, analgetik,
bakteriostatik, fungistatik, dan tabir surya. Asam salisilat telah teruji dalam terapi berbagai
penyakit kulit dengan manifestasi hiperkeratosis. Selain itu, asam salisilat merupakan terapi
tambahan pada dermatomikosis superfisialis, moluskum kontagiosum, akne, dan kerusakan
kulit akibat sinar matahari. Meskipun secara umum penggunaan asam salisilat topikal aman,
bahan ini dapat diabsorbsi melalui kulit dan menimbulkan toksisitas. Hal tersebut jarang
terjadi, namun berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Makalah ini membahas sifat
kimia, mekanisme kerja, penggunaan klinis, efek samping, toksisitas akibat absorbsi
perkutan, dan kontraindikasi asam salisilat dalam bidang dermatologi.
Kata kunci: asam salisilat, dermatologi, indikasi, efek samping
1 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
PENDAHULUAN
Asam salisilat telah digunakan sebagai bahan terapitopikal sejak lebih dari 2000 tahun
yang lalu.

!alam bidang dermatologi, asam salisilat telah lama dikenal dengan khasiat utama
sebagai bahan keratolitik.
2
Hingga saat ini asam salisilat masih digunakan dalam terapi
"eruka, kalus, psoriasis, dermatitis seboroik pada kulit kepala, dan iktiosis.
#
$enggunaannya
semakin berkembang sebagai bahan peeling dalam terapi penuaan kulit, melasma,
hiperpigmentasi pascainflamasi, dan akne.
%,&
!i Amerika Serikat, berbagai sediaan mengandung preparat asam salisilat dalam
konsentrasi -%0'.
(
$enggunaan asam salisilat topikal relatif aman. )fek samping lokal yang
sering dijumpai pada penggunaan asam salisilat adalah dermatitis kontak.
*,+
,eberapa
kepustakaan melaporkan adanya toksisitas sistemik akibat absorpsi perkutan. -oksisitas asam
salisilat, meskipun jarang, dapat menimbulkan komplikasi yang serius.
#
FARMAKOLOGI ASAM SALISILAT TOPIKAL
Sifat Kimia
Asam salisilat, dikenal juga dengan -hydroxy-ben!oic acid atau orthohydroben!oic
acid, memiliki struktur kimia .*H(/#. Asam salisilat memiliki p0a 2,1*.
1
Asam salisilat
dapat diekstraksi dari pohon willow bark, daun wintergreen, spearmint, dan sweet birch.
1,0
Saat ini asam salisilat telah dapat diproduksi secara sintetik.
1,
,entuk makroskopik asam
salisilat berupa bubuk kristal putih dengan rasa manis, tidak berbau, dan stabil pada udara
bebas. ,ubuk asam salisilat sukar larut dalam air dan lebih mudah larut dalam lemak. Sifat
lipofilik asam salisilat membuat efek klinisnya terbatas pada lapisan epidermis.
1
Manfaat an M!kanis"! K!r#a Asa" Sa$isi$at T%&ika$
1. Efek Keratolitik dan Desmolitik
Asam salisilat telah digunakan secara luas dalam terapi topikal sebagai bahan
keratolitik. 2at ini merupakan bahan keratolitik tertua yang digunakan sejak +*%.
2
,erbagai
penelitian menyimpulkan terdapat tiga faktor yang berperan penting pada mekanisme
keratolitik asam salisilat, yaitu menurunkan ikatan korneosit, melarutkan semen interselular,
dan melonggarkan serta mendisintegrasi korneosit.
#,#,%
Asam salisilat bekerja sebagai pelarut organik dan menghilangkan ikatan ko"alen
lipid interselular yang berikatan dengan cornified envelope di sekitar keratinosit.
&
Mekanisme kerja 3at ini adalah pemecahan struktur desmosom yang menyebabkan
2 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
disintegrasi ikatan antar sel korneosit. -erminologi desmolitik lebih menggambarkan
mekanisme kerja asam salisilat topikal.
,(
)fek desmolitik asam salisilat meningkat seiring
dengan peningkatan konsentrasi.

Asam salisilat topikal dalam konsentrasi yang lebih besar


420-(0'5, menimbulkan destruksi pada jaringan sehingga kerap digunakan pada terapi
"eruka dan kalus.
,*
$engelupasan secara mekanik dapat meningkatkan efekti"itas kerja asam salisilat
topikal. $asien dapat diedukasi untuk mengusap kulit dengan spon halus atau handuk basah
saat mandi. $ada terapi kalus, pengelupasan dapat pula dilakukan dengan bantuan sikat.
,antuan mekanik ini akan menyebabkan pengelupasan yang adekuat setelah kulit diberikan
asam salisilat topikal selama beberapa hari.
+
2. Efek Keratoplastik
$ada konsentrasi 0,&-2', asam salisilat memiliki stabilisasi stratum korneum yang
menyebabkan efek keratoplastik.
1
Mekanisme belum diketahui secara pasti, namun hal
tersebut diduga merupakan fenomena adaptasi homeopatik, yaitu asam salisilat menyebabkan
rangsangan keratolitik lemah yang menyebabkan peningkatan keratinisasi.
+
3. Efek Anti-Prrits
Asam salisilat memiliki efek anti-pruritus ringan.
0
)fek ini dapat diamati pada
konsentrasi -2'.
1
Mekanisme kerja asam salisilat sebagai antipruritus belum diketahui
secara pasti.
!. Efek Anti-"nflamasi
Sediaan asam salisilat telah lama diketahui memiliki khasiat anti-inflamasi.
Sebagaimana diketahui, aspirin 4asam asetil salisilat5 telah digunakan secara luas sebagai
analgesik, antipiretik, dan anti-inflamasi sistemik. Asam salisilat menghambat biosistesis
prostaglandin

dan memiliki efek anti-inflamasi pada sediaan topikal dengan konsentrasi 0,&-
&'.
20
#. Efek Anal$etik
Asam salisilat digunakan pula sebagai bahan analgesia. Metil salisilat topikal 4sebagai
contoh6 minyak gandapura5 memiliki sifat sebagai counter irritant ringan. 2at ini kerap
3 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
dikombinasikan dengan mentol sebagai sediaan topikal yang digunakan dalam pengobatan
nyeri pada otot dan persendian.

%. Efek &akteriostatik dan Disinfektan


)fek bakteriostatik lemah asam salisilat tampak terutama terhadap golongan
Streptococcus spp., Staphylococcus spp., "scherechia coli, dan #seudomonas aeruginosa.

Solusio asam salisilat 6000 dapat digunakan sebagai kompres pada luka. Solusio asam
salisilat 6000 lebih nyaman digunakan dari solusio permanganas kalikus maupun ri"anol,
karena tidak mengotori pakaian atau me7arnai kulit.
1
'. Efek (n$istatik
0epustakaan menyebutkan efek fungistatik ringan asam salisilat topikal dapat diamati
terhadap Trichophyton spp. dan $andida spp. )fek ini diamati pada konsentrasi rendah 2-#g8l
49'5.
#,(
Akan tetapi, beberapa referensi menyebutkan kemungkinan efek desmolitik asam
salisilat yang membantu penyembuhan infeksi jamur superfisial, bukan efek fungistatik
langsung.
2
). Efek *abir Srya
Asam salisilat dan turunannya dapat bekerja sebagai tabir surya.
22,2#
Mekanisme efek
tabir surya kimia7i tersebut melalui transformasi cincin ben3en aromatik pada pajaran
ultra"iolet 4:;5.
1
Selain itu, asam salisilat juga memiliki efek absorpsi sinar ultra"iolet ,
4:;,5 terutama pada gelombang #00-#0 nm. $ada psoriasis, penggunaan asam salisilat
topikal yang tidak dibersihkan sebelum fototerapi dapat mempengaruhi hasil terapi.
#
Sebagai
tabir surya kimia7i, asam salisilat diklasifikasikan dalam golongan non-$A,A 4para amino
ben!oic acid5. !aya proteksi asam salisilat sebagai tabir surya lebih rendah %0' bila
dibandingkan golongan $A,A.
22
P!n''unaan K$inis Asa" Sa$isi$at T%&ika$
1. Psoriasis
Asam salisilat merupakan bahan tradisional yang digunakan pada terapi psoriasis. 2at
tersebut kerap dikombinasikan dengan ter maupun sulfur dalam "ehikulum "aselin. Asam
salisilat sering dikombinasikan dengan sediaan antralin untuk mencegah oksidasi.
0
)fek
desmolitik asam salisilat terbukti meningkatkan penetrasi kortikosteroid topikal.
2%
$engobatan
4 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
bertahap dilakukan menggunakan mometason furoat 0,' dan asam salisilat &' selama *
hari, dilanjutkan dengan mometason furoat 0,' saja selama % hari. $endekatan pertama
lebih efektif mengeliminasi lesi psoriasi dibandingkan dengan aplikasi mometason furoat
0,' saja.
2&
$enggunaan kombinasi asam salisilat dan betametason dipropionat sama efektif
dengan salap kalsipotriol dalam mengobati psoriasis kuku selama # bulan terapi.
2(
2. Dermatitis Seboroik dan Psoriasis pada Skalp
<atal dan skuama pada kepala dapat ditemukan sebagai manifestasi klinis pada pasien
dermatitis seboroik dan psoriasis. ,erbagai sampo terapeutik mengandung asam salisilat 2-
#', serta kombinasi sulfur dan ter. Sampo tersebut cukup efektif dalam mengatasi psoriasis
pada skalp dan dermatitis seboroik yang bermanifestasi sebagai seborrhea capitis sicca dan
cradle cap.
2*
3. "ktiosis
=ktiosis merupakan penyakit gangguan keratinisasi akibat kelainan genetik yang
bermanifestasi kulit kering dengan skuama yang berlebihan. -ata laksana iktiosis kerap kali
kurang memuaskan. -erapi bertujuan mengurangi manifestasi klinis penyakit ini melalui efek
hidrasi, lubrikasi, dan keratolitik.
2+
$reparat asam salisilat #-(' dalam "ehikulum salap
bermanfaat untuk mengeliminasi skuama tebal pada iktiosis "ulgaris, x-linked ichthyosis,
iktiosis lamelar, dan hiperkeratosis epidermolitik. /klusi meningkatkan efekti"itas terapi.
1
0erusakan sa7ar yang terjadi pada iktiosis menyebabkan klinisi harus berhati-hati dalam
memberikan asam salisilat pada area yang luas, terutama pada anak. $emberian asam salisilat
sebaiknya diprioritaskan pada area yang tebal untuk mencegah kejadian absorpsi dan
toksisitas sistemik.
21
!. +iperkeratosis ,okalisata dan Kals
Asam salisilat &0' dalam sediaan plester maupun salap 40-&0'5 dengan oklusi
dapat digunakan untuk terapi kalus .
#,1
Asam salisilat (' dalam sediaan gel 4>8hari selama 2
minggu5 terbukti cukup efektif mengatasi hiperkeratosis lokalisata pada tumit, jari tangan,
dan siku.

#. -erka
Asam salisilat merupakan bahan terapi "eruka yang terbukti efektif dan relatif aman.
1,*, 21
Asam salisilat topikal merupakan terapi lini pertama pada "eruka.
#0
)fekti"itas asam salisilat
5 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
dalam terapi "eruka berkaitan erat dengan efek desmolitiknya. Selain itu, asam salisilat
menyebabkan iritasi ringan pada kulit, sehingga mampu menginduksi respons imun yang
membantu mengeliminasi "irus.
+,#0
Sediaan asam salisilat topikal untuk terapi "eruka
ber"ariasi antara 0-(0'. -erdapat pula sediaan kombinasi dengan asam laktat maupun
podofilin. Masa terapi ber"ariasi sekitar (-2 minggu.
#0
,ruggink melakukan uji klinis
efekti"itas bedah beku ?2 dibandingkan dengan preparat asam salisilat topikal %0' dalam
gel dan mendapatkan hasil terapi yang sama efektif antar keduanya.# :ji klinis terapi "eruka
"ulgaris antara kombinasi asam salisilat8 asam laktat 4setiap hari selama #bminggu5 dengan
bedah beku 4>8minggu, selama # minggu5, memberikan hasil yang tidak berbeda secara
bermakna dalam efektifitas pengobatan. :ji kinis lainnya memperlihatkan kombinasi terapi
bedah beku ditambah terapi topikal asam salisilat dan asam laktat lebih baik daripada bedah
beku saja.
#0
%. .olskm Konta$iosm
@eslie
#2
meneliti penggunaan asam salisilat gel 2' 42>8 minggu5 sebagai terapi
moluskum kontagiosum pada anak dan mendapatkan bah7a sediaan ini cukup efektif
dibandingkan plasebo 4alkohol *0'5. /hkuma
##
meneliti penggunaan povidon iodine 0'
dilanjutkan dengan plester asam salisilat &0' 4>8hari5 untuk terapi moluskum kontagiosum.
0esembuhan total lesi dicapai dalam rata-rata 2( hari.
'. Dermatomikosis Sperfisialis
Salap Ahitfield yang mengandung asam salisilat (' dan asam ben3oat 2' telah
lama digunakan sebagai preparat terapi tinea. 0onsentrasi asam salisilat dan asam ben3oat
dapat diturunkan menjadi #' dan (' untuk mengurangi kejadian iritasi, namun kini
penggunaannya sudah digantikan oleh preparat yang lebih efektif.
#,1
). Akne -l$aris
Asam salisilat memiliki efek komedolitik ringan. 2at ini telah digunakan sejak tahun
1&0 dalam berbagai preparat terapi akne yang meliputi krim, pembersih 7ajah, astringen,
medicated pads, dan sabun.
,1
!i Amerika Serikat, konsentrasi maksimal yang diperbolehkan
dalam obat bebas adalah 2' dan digunakan paling banyak pada pembersih 7ajah.
#%
$enggunaan asam salisilat topikal #0' sebagai bahan peeling dalam terapi akne "ulgaris
semakin berkembang di Asia.
&,#&,#(
2at yang bersifat lipofilik ini mampu berpenetrasi ke
6 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
dalam unit pilosebaseus dan memberikan efek komedolitik, meskipun tidak sekuat retinoid.
Asam salisilat topikal dianggap cukup aman dan efektif dalam terapi akne. 2at ini kerap
digunakan sebagai terapi topikal alternatif pada pasien yang tidak dapat menggunakan
retinoid maupun ben3oil peroksida, atau sebagai terapi tambahan terhadap modalitas terapi
lain yang lebih efektif
.#*
/. P0otoa$in$
Asam salisilat %' merupakan salah satu bahan aktif dalam solusio Bessner yang
digunakan sebagai bahan peeling untuk mengatasi melasma, akne, hiperpigmentasi, dan
kerusakan kulit akibat sinar :;.
#+
Mekanisme asam salisilat sebagai agen peeling kimia7i
berkaitan dengan trauma pada epidermis yang selanjutnya akan mengakti"asi sel basal
epidermis dan fibroblas. Hal tersebut menyebabkan efek regenerasi pada kulit yang rusak
akibat sinar :;. $ada konsentrasi yang lebih rendah, asam salisilat digunakan sebagai bahan
eksfoliatif untuk meningkatkan deskuamasi dan memperbaiki tampilan kulit menua.
1
Ef!k Sa"&in' Asa" Sa$isi$at T%&ika$
Absorpsi Sistemik
Secara umum penggunaan terapi topikal relatif lebih aman dan memiliki efek samping
minimal bila dibandingkan dengan rute pemberian sistemik, namun terapi topikal memiliki
potensi toksisitas sistemik, efek teratogenik, dan interaksi obat akibat absorpsi sistemik yang
harus di7aspadai.
#1
$enggunaan asam salisilat pada area yang luas dapat mencapai sirkulasi
sistemik dalam jumlah yang signifikan.
%0
Asam salisilat diabsorpsi secara cepat karena
sifatnya yang cenderung lipofilik, terutama bila diberikan dalam "ehikulum minyak8salap
dengan atau tanpa oklusi.

,ioa"ailibilitas absopsi asam salisilat melalui kulit ber"ariasi


antara ,+'- #0,*'.
%
Asam salisilat yang diberikan secara topikal tidak melalui
metabolisme a7al di hati, sehingga tidak mengalami penurunan signifikan jumlah 3at aktif
sebelum bekerja. Hal inilah yang menyebabkan asam salisilat relatif aman bila diberikan
secara oral, namun dapat memberikan mani-festasi gejala kelainan saraf pusat akibat
toksisitas pada pemberian secara topikal dalam dosis yang sama.
%
,atas maksimal pemberian
asam salisilat adalah 2g82% jam.
+
Fakt%r (an' M!"&!n'aru)i Abs%r&si Sist!"ik an T%ksisitas
1. Absorpsi Perktan
7 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
-oksisitas asam salisilat perkutan berkorelasi langsung dengan absorpsi perkutan.
-erdapat beberapa faktor yang mempengaruhi absorpsi perkutan, yaitu konsentrasi obat,
"ehikulum, penggunaan oklusi, luas permukaan aplikasi, frekuensi dan durasi aplikasi, serta
keadaan kulit. Semakin tinggi konsentrasi obat maka akan semakin tinggi kemungkinan
absorpsi sistemik. $enggunaan "ehikulum minyak8 salap akan lebih mudah diserap
dibandingkan krim.
%
Semakin luas permukaan aplikasi, semakin sering frekuensi aplikasi dan semakin
lama durasi pengunaan asam salisilat topikal, serta oklusi akan meningkatkan absorpsi
sistemik. 0eadaan kulit, terutama fungsi sa7ar, berpengaruh terhadap absorpsi asam salisilat
perkutan. Asam salisilat telah terdeteksi dalam urin dalam 2% jam setelah aplikasi topikal
pada penderita eritroderma. $enggunaan asam salisilat #' dengan frekuensi #>8hari pada
seluruh area kulit kecuali 7ajah dan leher menyebabkan toksisitas sistemik pada hari ke-&.
#
2. 1sia
$opulasi bayi, anak, dan lanjut usia memiliki risiko kejadian toksisitas lebih besar
dibandingkan de7asa. ,ayi dan anak memiliki perbandingan "olume dan luas permukaan
tubuh yang besar.
%
Selain itu fungsi detoksifikasi dan ekskresi belum berkembang secara
sempurna.
21
$ada usia lanjut, "olume cairan ekstra"askular juga lebih rendah.
%
3. (n$si +ati dan 2in3al
Asam salisilat mengalami metabolisme di retikulum endoplasmik dan mitokondria sel
hati, serta di eksresi melalui ginjal sebagai asam salisilat bebas, salicyluric acid, dan asam
gentisat.

0egagalan fungsi hati akan menyebabkan kadar asam salisilat dalam plasma
meningkat sedangkan kegagalan fungsi ginjal akan menyebabkan ekskresi asam salisilat dan
metabolitnya menurun, sehingga meningkatkan akumulasinya dalam plasma.
!. *oksisitas Sistemik
0ejadian toksisitas sistemik akibat absorpsi asam salisilat melalui kulit jarang
dijumpai, namun berpotensi menimbulkan gangguan serius, bahkan kematian. @in dan
?akatsui
#
melakukan telaah pada publikasi berbahasa =nggris dan mendapatkan #2 kasus
toksisitas sistemik akibat penggunaan asam salisilat topikal. Sebagian besar pasien yang
mengalami toksisitas sistemik asam salisilat adalah pasien psoriasis 4%5 dan iktiosis 405.
8 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
<ejala umumnya timbul pada a7al inisiasi terapi 42-# hari setelah terapi dimulai5. 0ematian
terjadi pada 2 kasus.
-oksisitas akut asam salisilat melalui absorpsi topikal belum pernah diteliti pada
manusia. -oksisitas perkutan asam salisilat pada kelinci, sangat rendah, dengan @! &0
C&00mg8 kg berat badan. !osis letal @! &0 adalah dosis 3at yang menyebabkan kematian
pada &0' populasi. $ada penelitian toksisitas subkronik asam salisilat topikal, dosis metil
salisilat C&g8kg ,, diduga bersifat nefrotoksik, namun data pendukung yang tersedia sangat
terbatas.
%
<ejala toksisitas dapat diamati pada kadar plasma 200-%00 Dg8ml.
Manifestasi klinis toksisitas sistemik pada berbagai sistem organ adalah sebagai
berikut6
%. Salisilism
Salisilism merupakan suatu sindrom toksisitas asam salisilat yang bersifat kronik.
<ejala yang timbul meliputi nyeri kepala, pusing, tinitus, gangguan pendengaran, gangguan
penglihatan, gangguan perilaku 4bingung, lesu, rasa kantuk5, halusinasi, hiper"entilasi,
berkeringat, haus, dan gangguan saluran pencernaanE yaitu6 mual, muntah, sampai dengan
diare.

Fisiko kejadian salisilism meningkat pada penggunaan jangka panjang meliputi area
yang luas, anak, serta pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal.
%2
. "fek &eurologik
$ada toksisitas asam salisilat dapat terjadi gangguan neurologis berupa6 pusing, rasa
kantuk, "ertigo, tinitus, gangguan pendengaran pada nada tinggi, delirium, dan psikosis. $ada
keadaan toksisitas berat, pasien dapat pingsan bahkan koma. -initus dan gangguan
pendengaran diduga terjadi akibat peningkatan tekanan pada labirin dan gangguan terhadap
sel rambut koklea. Hal itu merupakan akibat sekunder terhadap "asokonstriksi pembuluh
darah auditorik.

'. "fek (espiratorik


Asam salisilat mampu menstimulasi pusat pernapasan baik secara langsung maupun
tidak langsung. <ejala dan tanda toksisitas respiratorik meliputi hiper"entilasi, alkalosis
respiratorik, dan asidosis metabolik. )fek ini mulai dapat diamati pada kadar plasma #&0
Dg8ml. 0eadaan hiper"entilasi pernafasan dapat diamati secara jelas pada kadar plasma &00
Dg8ml. ,ila keadaan ini terus berlanjut dapat terjadi depresi pernafasan yang berakhir pada
kegagalan sistem pernafasan.

). "fek *etabolik
9 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
Asam salisilat mampu menginduksi sekresi steroid oleh kelenjar adrenal. )fek inilah
yang dimanfaatkan sebagai efek anti-inflamasi.

$ada dosis tinggi asam salisilat dapat


mempengaruhi penggunaan glukosa yang berpotensi menyebabkan status hipoglikemik pada
pasien.
#
+. "fek Teratogenik
$ada kejadian absorpsi sistemik dalam dosis terapeutik sistemik, asam salisilat tidak
terbukti memiliki efek teratogenik. =bu yang mengkonsumsi salisilat dan turunannya dalam
jangka 7aktu panjang selama masa kehamilan ternyata melahirkan bayi dengan berat badan
yang rendah. $enggunaan asam salisilat dalam jangka panjang pada trimester ke-# dapat
meningkatkan mortalitas perinatal akibat penutupan prematur duktus arteriosus, anemia,
perdarahan antepartum dan postpartum, dan komplikasi pada proses persalinan.

,. Interaksi -bat
Saat mengalami absorpsi sistemik, +0-10' asam salisilat pada plasma berikatan
dengan protein 4terutama albumin5. Asam salisilat berkompetisi dengan berbagai obat yang
terikat pada albumin, yaitu tiroksin, triodotironin, penisilin, fenitoin, kaptopril, probenesid,
dan berbagai obat antiinflamasi nonsteroid. $enggunaan asam salisilat secara bersamaan
dengan antikoagulan lain 4sebagai contoh6 7arfarin dan heparin5, obat hipoglikemia, dan
metotreksat perlu berhati-hati. Asam salisilat dapat meningkatkan toksisitas obat-obat
tersebut.


0linisi perlu mempertimbangkan pendekatan sistemik secara rasional, misalnya6
fototerapi atau terapi sistemik alternatif pada pasien dengan kelainan kulit yang luas.
$engetahuan ini mampu menjadi panduan dalam memaksimalkan efekti"itas dan tolerabilitas
asam salisilat sebagai bahan dermatoterapi topikal.
%0
#. Dermatitis Kontak
!ermatitis kontak iritan merupakan efek samping yang paling sering dijumpai pada
penggunaan asam salisilat topikal, terutama pada penggunaan konsentrasi tinggi.

-iong dan
0elly
%#
melaporkan dua kasus luka bakar derajat 2 pada penggunaan plester asam salisilat
%0' untuk mengobati "eruka pada lengan. $enggunaan asam salisilat konsentrasi tinggi oleh
pasien di rumah hendaknya dibekali dengan edukasi tentang penggunaannya dengan tepat.
Asam salisilat memiliki potensi sebagai bahan sensiti!er lemah.
#,1,%#,%%
0epustakaan
yang melaporkan sensitisasi akibat kontak terhadap asam salisilat topikal sangat terbatas.
%&
@in dan ?akatsui
,#
melaporkan enam kasus pasien yang mendapatkan terapi asam salisilat
10 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
topikal dan memiliki hasil uji tempel yang positif terhadap asam salisilat. Hidson
%(
melaporkan satu kasus kejadian dermatitis kontak alergik terhadap metil salisilat yang
diperberat dengan pemberian aspirin secara oral.
$asien yang diduga mengalami dermatitis kontak alergik terhadap asam salisilat
topikal dapat memberikan hasil uji tempel yang negatif terhadap asam salisilat. $asien dapat
mengalami dermatitis kontak alergik terhadap kom-ponen lain yang terkandung dalam
sediaan asam salisilat topikal tersebut.
1
KONTRAINDIKASI
$enggunaan asam salisilat topikal relatif aman. 2at ini digunakan sebagai obat bebas
di Amerika Serikat dalam konsentrasi -%0'. 0onsentrasi yang lebih tinggi dapat diberikan
dengan ke7aspadaan dan edukasi penggunaan yang tepat. $asien dengan ri7ayat sensiti"itas
atau alergi kontak terhadap asam salisilat topikal sebaiknya tidak diberikan preparat ini.
(
-idak terdapat penelitian penggunaan asam salisilat topikal pada ibu hamil maupun
ibu menyusui. Asam salisilat diekskresi pada AS= dan berpotensi menimbulkan abnormalitas
trombosit dan perdarahan pada bayi. $enggunaan aspirin pada ibu hamil dan menyusui tidak
dianjurkan. Asam salisilat masuk dalam kategori . oleh G!A.
%*
-erdapat laporan kasus
kejadian sindrom Feye pada penggunaan aspirin peroral pasien dengan "arisela sehingga
salisilat dan turunannya tidak direkomendasikan pada pasien yang menderita "arisela, enam
minggu pasca- "arisela, dan pasien yang baru mendapat "aksinasi "arisela.
%*
Prodk dan Peresepan Dalam 4acikan
Asam salisilat telah menjadi bahan aktif utama dalam berbagai produk terapi topikal.
Sediaan asam salisilat dapat berupa salap, krim, solusio, gel, plester, maupun sampo.
0,2*
Saat
ini dikenal pula berbagai "ehikulum baru yaitu liposom yang mampu memba7a asam salisilat
dalam konsentrasi tinggi ke sel target dengan efek iritatif yang minimal.
%+

Sediaan asam salisilat ber"ariasi dengan konsentrasi 0,&'-(0'.
*
Selain itu asam
salisilat juga kerap menjadi bahan kombinasi dengan 3at aktif lain untuk meningkatkan
penetrasi dan akti"itas 3at aktif tersebut 4efek sinergistik5.
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya dalam sifat kimia, asam salisilat sukar
larut dalam air dan lebih mudah larut dalam lemak. 0elarutan dalam air dapat ditingkatkan
dengan menambahkan amonium sitrat, kalium sitrat, dan natrium fosfat. $emberian asam
salisilat dengan oxydum !incicum akan membentuk senya7a salicylicum !incicum yang tidak
11 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
aktif. Asam salisilat tidak dapat dicampurkan ke dalam vanishing cream, sebab cincin
aromatiknya akan menghancurkan komponen sabun yang diperlukan dalam pembentukan
emulsi.
#
$encampuran asam salisilat dengan kalsipotrien tidak dianjurkan karena membuat
senya7a yang tidak stabil.

0ombinasi asam salisilat dengan kortikosteroid topikal, misalnya pada terapi


psoriasis, sebaiknya memperhatikan faktor kestabilan jenis kortikosteroid dalam asam. Benis
kortikosteroid yang stabil dalam kondisi asam adalah flusinolon.
+
0ombinasi asam salisilat
dengan sulfur memiliki efek sinergistik yaitu meningkatkan akti"itas keduanya sebagai bahan
keratolitik dan antipruritus. !emikian pula penambahan asam salisilat pada preparat antralin
memiliki efek menguntungkan, yaitu mencegah oksidasi antralin.
#

:ntuk bekerja dengan optimal, pembuatan produk yang mengandung asam salisilat
harus memerhatikan p0a, yaitu pH optimal yang menyebabkan konsentrasi bentuk senya7a
terionisasi dan tidak terionisasi berada dalam keadaan seimbang. Gormulasi sediaan asam
salisilat yang efektif ialah yang memiliki pH mendekati 2,1*, sehingga memiliki efek
deskuamasi yang optimal.
#
PENUTUP
Asam salisilat sebagai bahan keratolitik tertua masih digunakan secara luas pada
dermatoterapi topikal dan penggunaannya semakin berkembang. Asam salisilat sebagai 3at
aktif utama maupun tambahan tersedia dalam berbagai produk dengan beragam "ehikulum.
Meskipun penggunaan asam salisilat relatif aman, dapat terjadi absorpsi sistemik yang
berpotensi menimbulkan toksisitas sistemik. $enggunaan asam salisilat harus tetap berhati-
hati dan tidak boleh diberikan pada area yang luas dalam jangka panjang. $opulasi bayi,
anak, 7anita hamil, usia lanjut, pasien dengan gangguan fungsi hati dan8 ginjal, dan pasien
diabetes melitus yang mendapatkan asam salisilat topikal harus mendapatkan edukasi dan
penga7asan yang baik. $enggunaan pada area yang luas dalam jangka 7aktu panjang
sebaiknya dihindari.
0linisi perlu memahami interaksi antara konsentrasi obat, bioa"ailibilitas penetrasi
yang ber"ariasi sesuai "ehikulum dan prosedur oklusi, serta prinsip manajemen berbagai
penyakit kulit secara holistik untuk meminimalkan risiko toksisitas pada pemberian asam
salisilat topikal.
DAFTAR PUSTAKA
12 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
. !el Fosso B. $harmacotherapy update6 current therapies and research for common
dermatologic conditions. -he many roles of topical salicylic acid. Skin and Aging.
200&E#6#+-%2.
2. Hessel A,, .ru3-Famon B., @in A?. Agents used for treatment of hyperkeratosis. =n6
Aol"erton S), editor. .omprehensi"e dermatologic drug therapy. 2nd )d.
$hiladelphia6 A, SaundersE 200*E%6*%&-(0.
#. @in A?, ?akatsui -. Salicylic acid re"isited. =nt B !ermatol. 11+E#*6##&-%2.
%. @ee HS, 0im =H. Salicylic acid peels for the treatment of acne "ulgaris in Asian
patients. !ermatol Surg. 200#E2161(H1.
&. <rimes $). -he safety and efficacy of salicylic acid chemical peels in darker racial-
ethnic groups. !ermatol Surg. 111E 2&6+-22.
(. Gung A, /rak !, Fe -A, Haughey !,. Felati"e bioa"ailability of salicylic acid
follo7ing dermal application of a #0' salicylic acid skin peel preparation. B
$harmaceutical Sciences. 200+E 1*4#56#2&-+.
*. .ollier A$, Greeman SF, !ella"alle F$. Acne ;ulgaris. =n6 Ailliams H, editor.
)"idence-based dermatology. 2nd )d. Singapore6 ,lack7ell $ublishingE 200+. p. +#-
0%.
+. <ibbs S. @ocal treatments for cutaneous 7arts. =n6 Ailliams H, editor. )"idence-based
dermatology. 2nd )d. Singapore6 ,lack7ell $ublishingE 200+. p. #%*-&#.
1. Hessel A,, .ru3-Famon B., @in A?. Agents used for treatment of hyperkeratosis. =n6
Aol"erton S), editor. .omprehensi"e dermatologic drug therapy. 2nd )d.
$hiladelphia6 A, SaundersE 200*. p. *%&-(0.
0. $arish @., Aitko7ski BA. -radisional therapeutic agents..lin !ermatol. 2000E+6&-1.
. ,urke A, Smyth ), Git3<erald <A. Analgesic-Antipyretic agentsE $harmacotherapy
of gout. =n6 ,runton @@, editor. <oodman I <ilmanJs -he $harmacological basis of
therapeutics. th )d. ?e7 Kork6 $ergamon $ressE 200&. p. (*-*&.
2. Babarah A, <ilead @-, 2lotogorski 2. Salicylate into>ication from topically applied
salicylic acid. B )ur Acad !ermatol ;enereal. 11*E+6%-2.
#. !a"ies M, Marks F@. Studies on the effect of salicylic acid on normal skin. ,r B
!ermatol. 1*(E1&6+*.
%. Foberts !@, Marshal F, Marks F. !etection of the action of salicylic acid on the
normal stratum corneum. ,r B !ermatol. 1+0E0261-(.
&. =mayama S, :eda S, =soda M. Histologic changes in the skin of hairless mice
follo7ing peeling 7ith salicylic acid. Arch !ermatol. 2000E#(6#(0-&.
(. @e"eLue B@, Saint-@eger !. Salicylic acid and deri"ati"es. =n6 @eyden BB, Fa7lings
A;, editors. Skin moisturi3ation. ?e7 Kork6 Marcel !ekkerE 2002. p. #&#-(%.
*. ,urkhart .?, 0at3 0A. /ther topical medications. =n6 Aolff 0, <oldsmith @A, 0at3
S=, <ilchrest ,A, $aller AS, @effell !B, editors. Git3patrickJs !ermatologic in general
medicine. *th )d. ?e7 Kork6 Mc <ra7 Hill MedicalE 200+. p. 2#0-*.
+. ,aden H$, ,aden @A. 0eratolytic agents. =n6 Aolff 0, <oldsmith @A, 0at3 S=,
<ilchrest ,A, $aller AS, @effell !B, editors. Git3 $atrick !ermatology in <eneral. &th
)d. ?e7 Kork6 Mc <ra7 Hill medical. 200#E p. 2#&2-&.
1. !juanda A. $engobatan topikal dalam dermatologi. Maj 0edok =ndon. 11%E
4Suppl56S&(.
20. !raelos 2!. Salicylic acid in the dermatologic armentarium. .osmet !erm.
11*E04suppl %56S*-+.
2. ,ashir SB, !reher G, .he7 A@, 2hai H, @e"in ., Stern F, et al. .utaneous bioassay of
salicylic acid as a keratolytic. =nt B $harmaceutics. 200&E2126+*-1%.
13 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
22. @im HA. $hotoprotection and sun-protecti"e agents. =n6 Aolff 0, <oldsmith @A,
0at3 S=, <ilchrest ,A, $aller AS, @effell !B, editors. Git3patrickJs !ermatologic in
general medicine. *th )d. ?e7 Kork6 Mc <ra7 Hill MedicalE 200+. p. 2#*-%.
2#. Bones B,. -opical therapy. =n6 ,urns -, ,reathnach S, .o> ?, <riffiths ., editors.
FookJs te>tbook of dermatology. Singapore6 Ailey ,lack7ellE 200. p. -&2.
2%. @eb7ohl M. -he role of salicylic acid in the treatment of psoriasis. =nt B !ermatol.
111E#+6(-2%.
2&. -iplika <S, Sala"astru .M. Mometasone furoate 0.' and salicylic acid &' "s.
mometasone furoate 0.' as seLuential local therapy in psoriasis "ulgaris. B )ur Acad
!ermatol ;enerol. 2001E2#610&-2.
2(. -osti A, $iraccini ,M, .ameli ?, 0okely G, $lo33er ., .annata <), et al.
.alcipotriol ointment in nail psoriasis6 a controlled double-blind comparison 7ith
betamethasone dipropionate and salicylic acid. ,r B !ermatol. 11+E#16(&&-1.
2*. ,rodell F-, .ooper 0!. -herapeutic shampoos. =n6 Aol"erton S), editor.
.omprehensi"e dermatologic drug therapy. 2nd )d. $hiladelphia6 A, SaundersE
200*. p. *1-21.
2+. Fubei3 ?, 0ibbi A<. Management of ichtiosis in infants and children. .lin !ermatol.
200#E26#2&H+.
21. <ibbs S, Har"ey S. -opical treatments for cutaneous 7arts. M.ochrane re"ie7N =n6 -he
.ochrane @ibrary, issue , 2001. Ailey =ntersience.
#0. Micali <, !allJ/glio G, ?asca MF, -edeschi A. Management of cutaneous 7arts6 An
e"idence-based approach. B .lin !ermatol. 200%E&6#-*.
#. ,ruggink S., <ussekloo B, ,erger MK, 2aaijer 0, Assendelft ABB, de Aall MAM, et
al. .ryotherapy 7ith liLuid nitrogen "ersus topical salicylic acid application for
cutaneous 7arts in primary care6randomi3ed controlled trial. .anad Med Associat B.
200E+26(2%-#0.
#2. @eslie 0S, !ootson <, Sterling .. -opical salicylic acid gel as a treatment for
molluscum contagiosum in children. B !ermatol -reatment. 200&E(6##(-%0.
##. /hkuma M. Molluscum contagiosum treated 7ith iodine solution and salicylic acid
plaster. $harmacol and therapeutics. 110E216(6%%#-&.
#%. Akha"an A, ,ershad S. -opical acne drugs6 re"ie7 of clinical properties, systemic
e>posure, and safety. Am B .lin !ermatol. 200#E%6%*#-12.
#&. <arg 0;, Sinha S, Sarkar F. <lycolic acid peels "ersus salicylicH Mandelic acid peels
in acti"e acne "ulgaris and post-acne scarring and hyperpigmentation6 a comparati"e
study. !ermatol Surg. 2001E#&6&1-(&
#(. !ainichi -, :eda S, =mayama S, Gurue M. )>cellent clinical results 7ith a ne7
preparation for chemical peeling in acne6 #0' salicylic acid in polyethylene glycol
"ehicle. !ermatol Surg. 200+E#%6+1H1.
#*. ,ole A$, Shalita AF. )ffecti"e o"er the counter acne treatments. B S .utan !ermatol.
200+E*0-(.
#+. SharLuie 0, Al -ikreety MM, Al Mashhadani SA. @actic acid chemical peels as a ne7
therapeutic modality in melasma in comparison to BessnerJs solution chemical peels.
!ermatol Surg. 200(E#26%21H#(.
#1. ,ergstrom 0<, Strober ,). $rinciples of topical therapy. =n6 Aolff 0, <oldsmith @A,
0at3 S=, <ilchrest ,A, $aller AS, @effell !B, editors. Git3patrickJs dermatologic in
general medicine. *th )d. ?e7 Kork6 Mc <ra7 Hill MedicalE 200+. p. 201-(.
%0. Aronson $B. Systemic ad"erse effects due to topical medications. =n6 Aol"erton S),
editor. .omprehensi"e dermatologic drug therapy. 2nd )d. $hiladelphia6 A,
SaundersE 200*. p. +0#-2.
14 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i
%. ,elsito !, ,ickers !, ,ru3e M, .alo7 $, <reim H, Hanifin BM, et al. A to>icologic
and dermatologic assessment of salicylates 7hen used as fragrance ingredients. B Good
and .hemical -o>icol. 200*E%&64Suppl.5#+-(.
%2. Go> @$, Merk HG, ,ickers. !ermatological pharmacology. =n6 ,runton @@, editor.
<oodman I <ilmanJs -he pharmacological basis of therapeutics. ?e7 Kork6
$ergamon $ressE 200&. p. (*1- *0(.
%#. -iong AH., 0elly )B. Salicylic acid burn induced by 7art remo"er6A report of t7o
cases. ,urns. 2001E#&6#1-%0.
%%. <oh .@, ?g S0. .ontact allergy to salicylic acid. .ontact !ermatitis. 1+(E%6%.
%&. %&. Fud3ki ), 0oslo7ska A. Sensiti"ity to salicylic acid. .ontact !ermatitis.
1*(E*+-+2.
%(. Hindson .. .ontact ec3ema from methyl salicylate reproduced by oral aspirin.
.ontact !ermatitis. 1**E#6#%+-1.
%*. $hysician desk reference. &(th )d. ?e7 Kork6 Medical )conomics .ompany =ncE
2002.
%+. -hau $, -ech $. .ontrolled deli"ery and enhancement of topical acti"ity of salicylic
acid. =n6 Fosen MF, editor. !eli"ery systems handbook for personal care and
cosmetic product. ?e7 Kork6 Ailliam Andre7E 200&. p. +*#-10.
15 | F a k u l t a s K e d o k t e r a n u n i v e r s i t a s T r i s a k t i