Vous êtes sur la page 1sur 30

Laporan Hasil Rapat Laporan Hasil Rapat Laporan Hasil Rapat Laporan Hasil Rapat Kerja Kerja Kerja

rja Kerja
Kementerian Koordinator Bidang Kesra Kementerian Koordinator Bidang Kesra Kementerian Koordinator Bidang Kesra Kementerian Koordinator Bidang Kesra
dengan dengan dengan dengan
Calon Anggota DJSN Calon Anggota DJSN Calon Anggota DJSN Calon Anggota DJSN






Agenda Ke-3

1. Rancangan Undang-Undang BPJS
2. Sistematika Rancangan Peraturan Pemerintah
Penerimaan Bantuan Iuran Jaminan Sosial














Hotel Millenium, Jakarta
Rabu, 16 Mei 2007
Halaman 1 dari 29

Daftar Isi Daftar Isi Daftar Isi Daftar Isi
Agenda 3 Agenda 3 Agenda 3 Agenda 3 RUU BPJS & Sistematika RPP PBI JS RUU BPJS & Sistematika RPP PBI JS RUU BPJS & Sistematika RPP PBI JS RUU BPJS & Sistematika RPP PBI JS



1. Hasil Rapat dan Rekomendasi
2. Daftar Kehadiran
3. Usulan Pokok-pokok Pikiran untuk
Penyusunan:
Rancangan Undang-Undang BPJS
Sistematika Rancangan Peraturan
Pemerintah Penerimaan Bantuan Iuran
Jaminan Sosial
Halaman 2 dari 29

Hasil Rapat dan Rekomendasi Hasil Rapat dan Rekomendasi Hasil Rapat dan Rekomendasi Hasil Rapat dan Rekomendasi
Agenda 3 Agenda 3 Agenda 3 Agenda 3 RUU BPJS & Sistematika RPP PBI JS RUU BPJS & Sistematika RPP PBI JS RUU BPJS & Sistematika RPP PBI JS RUU BPJS & Sistematika RPP PBI JS

1. PENYELENGGARAAN
a. Hari/tanggal : Rabu, 16 Mei 2007
b. Jam : 10.00 15.00 WIB
c. Tempat : Hotel Millenium, Jakarta.
d. Peserta : 24 orang, terdiri dari:
3 orang perwakilan Kedeputian Bidang Kesejahteraan dan
perumahan rakyat
14 orang dari 15 orang calon anggota Dewan Jaminan
Sosial Nasional
2 orang perwakilan Departemen terkait
1 orang perwakilan PT. Askes Indonesia (Persero)
3 orang perwakilan GTZ-SHI Indonesia.
e. Pimpinan : Prof. DR. Hasbullah Thabrani, MPH, DR (PH), Calon Anggota
DJSN.
f. Agenda rapat : Koordinasi implementasi UU No.40/2004 pasca Putusan
MK (UU SJSN).
Penjelasan Departemen Kesehatan dan PT. ASKES
Indonesia (Persero) tentang pelaksanaan program
ASKESKIN.
RUU BPJS.
2. RISALAH RAPAT
a. Umum
Rapat Kerja Calon Anggota DJSN dengan agenda ke-3, dibuka oleh Dr. Adang
Setiana, Deputi Bidang Koordinator Perlindungan Sosial dan Perumahan Rakyat.
Sebagai pengantar, dikemukakan bahwa:
1. Minggu depan akan diselenggarakan Raker Pejabat Eselon-I
Departemen/Kementerian di bawah Koordinasi Menko Kesra, sebagai
persiapan Raker Tingkat Menteri.
2. Raker tersebut akan menjelaskan tujuan, prinsip, dan esensi UU No.40/2004
pasca Putusan MK (UU SJSN).
Halaman 3 dari 29

3. Hasil yang diharapkan adalah:
a. Penyamaan persepsi tentang SJSN dalam rangka implementasi UU SJSN.
b. Menentukan penugasan masing-masing instansi dalam pelaksanaan UU
SJSN.
b. Penjelasan Departemen Kesehatan dan PT. ASKES Indonesia (Persero)
tentang pelaksanaan program ASKESKIN
Program ASKESKIN merupakan langkah awal pelaksanaan program JK
berdasarkan UU SJSN. Permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan
program ASKESKIN adalah:
1. Peraturan Pemerintah sebagai dasar hukum pelaksanaan program JK,
termasuk untuk Penerima Bantuan Iuran (ASKESKIN), belum ditetapkan.
2. Perbedaan data masyarakat miskin antara BPS dengan Pemda.
3. Permasalahan standar pelayanan kesehatan yang berbeda antar Rumah Sakit
dan pemanfaat pelayanan kesehatan yang tidak sesuai dengan SKRM.
4. Penyediaan dana ASKESKIN untuk tahun 2007 yang belum mencukupi.
5. Perlu perhitungan bantuan iuran yang adekuat untuk fakir miskin dan orang
tidak mampu.
c. Pokok-pokok pikiran RUU BPJS
Tim GTZ-SHI Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Kesra menjelaskan
bahwa pokok-pokok pikiran RUU BPJS mencakup 3 opsi yang ditawarkan,
beserta sistematika RUU BPJS.
d. Kesimpulan/Rekomendasi dan Agenda Tindak Lanjut
1. Agar dilakukan study banding ke beberapa negara ASEAN untuk mempelajari
Sistem Jaminan Sosial di negara-negara yang bersangkutan.
2. Tanggal 23 Mei 2007 akan dilaksanakan pertemuan di Kantor PT. ASKES
Indonesia (Persero) untuk mendengarkan pemaparan tentang ASKES sebagai
BP dan pengalaman penyelenggaraan program JS di negara-negara lain.
3. Perlu dilakukan transformasi program ASKESKIN dari skema bantuan sosial
ke asuransi sosial.
4. Konsinyering Calon Anggota DJSN pada tanggal 28-29 Mei 2007 membahas:
a. Konsep RPP tentang Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Sosial.
b. Konsep Kebijakan Umum Penyelenggaraan SJSN.
c. Konsep RUU BPJS.
Halaman 4 dari 29

Daftar Kehadiran Daftar Kehadiran Daftar Kehadiran Daftar Kehadiran
Agenda 3 Agenda 3 Agenda 3 Agenda 3 RU RU RU RUU BPJS & Sistematika RPP PBI JS U BPJS & Sistematika RPP PBI JS U BPJS & Sistematika RPP PBI JS U BPJS & Sistematika RPP PBI JS

Rabu, 16 Mei 2007
Hotel Millenium, Jakarta
Kehadiran
No. Nama
Hadir Tidak Hadir
Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat
1. Drs. Soekamto
Asisten Deputi Bidang Jaminan Sosial

2. Drs. Ponco Respati N
Staf Asisten Deputi Bidang Jaminan Sosial

3. Dra. Endang Sri Mulyani
Staf Asisten Deputi Bidang Jaminan Sosial

Calon Anggota DJSN
1. Prof. Dr. Hasbullah Thabrani, MPH., DR(PH).
2. Drs. Marwanto Harjowiryono., MA.
3. Dr. H. M. Bambang Pranowo
4. Ir. Tianggur Sinaga MA.
5. Drs. Chazali H. Situmorang, Apt., M.Sc.
6. Dr. Adang Setiana
7. Drg. Moeryono Aladin, SIP., MM .
8. Drs. Suparwanto, MBA.
9. Dr. Bambang Poerwoko, SE., MA.
10. Drs. Djoko Sungkono, MM.
11. T. Arsen Rickson, SH.
12. Ir. Hariadi B. Sukamdani, MM.
13. Drs. Timur Soetanto
14. Drs. H. Syukur Sarto
15. Drs. Ridwan Monoarfa
Departemen Terkait
1. Dr. Donald Pardede, MPPM.
Kabid. Pemeliharaan Jaminan Kesehatan, P2JK,
Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan

2. Lisning Sri Hastuti, SH.
Direktur Jaminan Sosial, Departemen Sosial

PT. ASKES Indonesia (Persero)
1. Dr. I. Gede Subawa, M. Kes.
Direktur Operasional

Tim Ahli (GTZ-SHI Indonesia)
1. Dr. M. W. Manicki (Team Leader)
2. Dr. Asih Eka Putri (Senior Advisor)
3. A. A. Oka Mahendra, SH. (Legal Specialist)

Halaman 5 dari 29













U s u l a n
Pokok-Pokok Pikiran
Untuk Penyusunan:

3. Rancangan Undang-Undang BPJS
4. Sistematika Rancangan Peraturan Pemerintah
Penerimaan Bantuan Iuran Jaminan Sosial






Bahan Pertemuan Calon Anggota DJSN
16 Mei 2007


Disusun oleh :

Kementerian Koordinator Bidang Kesejahreraan Rakyat
bekerjasama dengan
GTZ-SHI Project
Halaman 6 dari 29

USULAN

Pokok-Pokok Pikiran
Untuk Penyusunan RUU BPJS


I. PENDAHULUAN
Mengapa RUU tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) perlu segera disusun? Apakah
peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pembentukan Persero Jamsostek, Persero
Taspen, Persero Asabri dan Persero Askes belum mencukupi untuk dijadikan dasar hukum bagi
penyelenggara program jaminan sosial sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40
Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional?
Status hukum Persero Jamsostek , Taspen, Asabri dan Askes pasca putusan Mahkamah Konstitusi
tanggal 31 Agustus 2005 terhadap perkara Nomor 007/PUU-III/2005 dalam posisi transisi.
Mengapa dalam posisi transisi? Karena Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3) UU SJSN yang menyatakan
ke-4 Persero tersebut sebagai BPJS menurut UU SJSN dinyatakan bertentangan dengan Undang-
Undang Dasar Negara R.I. Tahun 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Mahkamah Konstitusi dalam pertimbangan hukumnya menyatakan antara lain: seandainya
pembentuk undang-undang bermaksud menyatakan bahwa selama ini belum terbentuk BPJS
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) badan-badan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatas
diberi hak untuk bertindak sebagai BPJS, maka hal itu sudah cukup tertampung dalam Ketentuan
Pasal 52 UU SJSN.
1
Selanjutnya Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa ketentuan Pasal 52 UU
SJSN justru dibutuhkan untuk mengisi kekosongan hukum (rechstsvacuum) dan menjamin
kepastian hukum (rechtszckerheid) karena belum adanya badan penyelenggara jaminan sosial
yang memenuhi persyaratan agar UU SJSN dapat dilaksanakan.
2

Lebih lanjut Mahkamah Kostitusi dalam pertimbangan hukumnya menyatakan bahwa UU SJSN
tidak boleh menutup peluang Pemerintah Daerah untuk ikut juga mengembangkan sistem
jaminan sosial. Perumusan Pasal 5 UU SJSN menurut Mahkamah Konstitusi menutup peluang
Pemerintah Daerah untuk ikut mengembangkan suatu sub sistem jaminan sosial dalam kerangka
sistem jaminan sosial dalam kerangka sistem jaminan sosial nasional sesuai dengan kewenangan
yang diturunkan dari Ketentuan Pasal 18 ayat (2) dan (5) UUD 1945.
3

Selanjutnya Mahkamah Konstitusi menambahkan bahwa dengan adanya Pasal 5 ayat (4) dan
dikaitkan dengan Pasal 5 ayat (1) UU SJSN tidak memungkinkan bagi Pemerintah Daerah untuk
membentuk badan penyelenggara jaminan sosial tingkat daerah. Oleh karena itu Pasal 5 ayat (4)
UU SJSN juga dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum
mengikat.

1
Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap perkara Nomor 007/PUU-III/2005, halaman 198
2
Ibid, halaman 199
3
Ibid, halaman 197
Halaman 7 dari 29

Bertitik tolak dari uraian diatas dapat dikemukakan 4 alasan yang dijadikan pertimbangan
mengapa RUU BPJS perlu segera disusun:
1. Sebagai pelaksanaan UU SJSN pasca putusan Mahkamah Konstitusi terhadap perkara
Nomor 007/PUU-III/2005.
2. Untuk memberikan kepastian hukum bagi badan penyelenggara jaminan sosial dalam
melaksanakan program jaminan sosial berdasarkan UU SJSN.
3. Sebagai dasar hukum bagi pembentukan badan penyelenggara jaminan sosial tingkat
daerah yang dapat dibentuk dengan peraturan daerah dengan memenuhi ketentuan
tentang sistem jaminan sosial nasional sebagaimana diatur dalam UU SJSN.
4. Untuk meningkatkan kinerja badan penyelenggara jaminan sosial tingkat nasional dan sub
sistemnya pada tingkat daerah melalui peraturan yang jelas mengenai tugas pokok, fungsi,
organisasi yang efektif, mekanisme penyelenggaraan yang sesuai dengan prinsip-prinsip
good governance, mekanisme pengawasan, penanganan masa transisi dan persyaratan
untuk dapat membentuk badan penyelenggara jaminan sosial daerah.
Undang-undang tentang BPJS harus sudah ditetapkan paling lambat pada tanggal 19 Oktober
2009, sesuai dengan ketentuan Pasal 52 ayat (2) UU SJSN. Waktu yang tersedia untuk proses
penyusunan UU BPJS + 2,5 tahun lagi. Dalam waktu yang tersedia tersebut perlu dilakukan
langkah-langkah terencana untuk penyusunan RUU, harmonisasi RUU, pengajuan kepada
Presiden, pengajuan usul agar RUU BPJS dijadikan prioritas Program Legislasi Nasional,
pembahasan di DPR dan pengesahannya menjadi undang-undang. Jika tidak dikuatirkan batas
waktu penetapan UU BPJS yang ditentukan dalam UU SJSN tidak dapat dipenuhi.

II. DASAR HUKUM
Dalam UU SJSN terdapat beberapa pasal yang menjadi dasar hukum pembentukan BPJS. Pasal 1
angka (6) menentukan : BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial. Pasal 4 menentukan SJSN diselenggarakan berdasarkan pada prinsip:
1. kegotong royongan;
2. nirlaba;
3. keterbukaan;
4. kehati-hatian;
5. akuntabilitas;
6. portabilitas;
7. kepesertaan bersifat wajib;
8. dana amanat; dan
9. hasil pengelolaan dana jaminan sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan
program dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.
Kemudian Pasal 5 menentukan : BPJS harus dibentuk dengan undang-undang. Selanjutnya
Pasal 52 ayat (1) pada intinya menyatakan bahwa pada saat UU SJSN mulai berlaku Persero
Halaman 8 dari 29

Jamsostek, Persero Taspen, Persero Asabri dan Persero Askes tetap berlaku sepanjang belum
disesuaikan dengan UU SJSN. Dalam ayat (2) ditentukan : semua ketentuan yang mengatur
mengenai BPJS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disesuaikan dengan undang-undang ini
paling lambat 5 (lima) tahun sejak undang-undang ini diundangkan.
Pasal-pasal lainnya yang terkait dengan BPJS adalah :
1. Pasal 47 yang menentukan bahwa Dana Jaminan Sosial wajib dikelola dan dikembangkan
oleh BPJS secara optimal dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas, kehati-
hatian, keamanan dana dan hasil yang memadai. Tata cara pengelolaan dan
pengembangan Dana Jaminan Sosial sebagaimana tersebut diatas diatur lebih lanjut dalam
Peraturan Pemerintah.
2. Pasal 48 menentukan bahwa Pemerintah dapat melakukan tindakan tindakan khusus
guna menjamin terpeliharanya kesehatan keuangan BPJS. Apa, bagaimana, kapan dan
konsekuensi tindakan khusus yang dapat dilakukan oleh Pemerintah tidak ada
penjelasannya dan juga tidak ada pendelegasian untuk mengatur lebih lanjut dalam
peraturan pelaksanaan.
3. Pasal 49 yang menentukan BPJS mengelola pembukuan sesuai dengan standar akuntansi
yang berlaku.
Kemudian ditentukan bahwa subsidi silang antar program dengan membayarkan manfaat
suatu program dari dana program lain tidak diperkenankan. Dalam penjelasan dikemukakan
bahwa subsidi silang yang tidak diperkenankan dalam ketentuan ini misalnya dana pensiun
tidak dapat digunakan untuk mempunyai jaminan kesehatan dan sebaliknya.
Selanjutnya di tentukan bahwa peserta berhak setiap saat memperoleh informasi tentang
akumulasi iuran dan hasil pengembangannya serta manfaat dari jenis Program Jaminan
Hari Tua, Jaminan Pensiun dan Jaminan Kematian.
BPJS wajib memberikan informasi akumulasi iuran berikut hasil pengembangannya kepada
setiap peserta Jaminan Hari Tua. Se-kurang-kurangnya sekali dalam satu tahun.
Sayangnya UU SJSN tidak mengatur secara lebih jelas tentang kewajiban yang harus
dipenuhi oleh BPJS dan hak-hak yang diperoleh oleh peserta. UU SJSN juga tidak
mendelegasikan pengaturan lebih lanjut pelaksanaan teknis dari ketentuan Pasal 49
tersebut. Hal ini perlu mendapat perhatian dalam penyusunan RUU BPJS agar ketentuan
Pasal 49 tersebut dapat dilaksanakan secara efektif dalam praktek.
4. Pasal 50 menentukan BPJS wajib membentuk cadangan teknis sesuai dengan standar
praktek aktuaria yang lazim dan berlaku umum. Dalam penjelasan dikemukakan bahwa
cadangan teknis menggambarkan kewajiban BPJS yang timbul dalam rangka memenuhi
kewajiban dimasa depan kepada peserta.
5. Pasal 51 menentukan pengawasan terhadap pengelolaan keuangan BPJS dilakukan oleh
instansi yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Halaman 9 dari 29

6. Pasal ini juga tidak jelas menentukan instansi mana yang berwenang untuk melakukan
pengawasan terhadap pengelolaan keuangan BPJS dan tidak juga menunjuk peraturan
perundang-undangan mana yang dimaksud.
Dari uraian diatas dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut :
1. BPJS adalah badan hukum bersifat nirlaba yang harus dibentuk dengan undang-undang
untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. Secara teoritis BPJS merupakan badan
hukum yang ingesteld
4
(dibentuk) oleh open baar gezag (penguasa umum) dalam hal ini
oleh pembentuk undang-undang dengan undang-undang.
2. Sepanjang belum disesuaikan dengan UU SJSN maka pada saat UU SJSN mulai berlaku
Persero JAMSOSTEK, Taspen, Asabri dan Askes tetap berlaku dengan kewajiban untuk
menyesuaikan semua ketentuan yang mengatur mengenai BPJS tersebut dengan UU SJSN
paling lambat 5 (lima) tahun sejak UU SJSN diundangkan.
3. UU SJSN tidak secara tegas menentukan program jaminan sosial yang diselenggarakan oleh
masing-masing BPJS.
4. Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi tanggal 31 Agustus 2005 Pemerintah Daerah dapat
membentuk BPJS Daerah sebagai sub sistem penyelenggaraan program jaminan sosial
sebagaimana diatur ddalam UU SJSN.
5. Pasal 48, 49 dan Pasal 51 UU SJSN yang terkait dengan BPJS belum jelas definisi
operasionalnya dan tidak ada pendelegasian untuk mengatur lebih lanjut dalam peraturan
pelaksanaan, karena itu perlu diperhatikan dalam penyusunan RUU BPJS.
6. Ketentuan lebih lanjut Pasal 47 ayat (1) dan Pasal 50 ayat (1) diatur dalam Peraturan
Pemerintah.
Tabel Peraturan Pelaksanaan yang perlu dibuat.
Peraturan pelaksanaan
No Pasal
UU PP PERPRES
Perundang
-undangan
Keterangan
1 Pasal 5 yo
Pasal 52 ayat
(2)
- - - Belum ditetapkan.
Paling lambat 19-
10-09 harus
ditetapkan
2 Pasal 47 ayat
(2)
- - - Belum ditetapkan
3 Pasal 50 ayat
(2)
- - - Idem
4 Pasal 51 - - - Tidak disebut
peraturan
perundang-
undangan yang
dimaksud
Jumlah 1 2 0 1


4
Chidir Ali, SH, Badan Hukum, Bandung 1976 halaman 90
Halaman 10 dari 29

III. KEADAAN SEKARANG
Berdasarkan Ketentuan Peralihan UU SJSN Pasal 52 ayat (1), 4 Perusahaaan Perseroan (persero)
yang telah ada pada saat UU SJSN mulai berlaku, dinyatakan tetap berlaku sepanjang belum
disesuaikan dengan UU SJSN yaitu :
1. Perusahaan Persero (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) yang dibentuk
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan
Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1995 Nomor 59), berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1992
tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara RI Tahun 1992 Nomor 14,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3468);
2. Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan Dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN)
yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1981 tentang Pengalihan
Bentuk Perusahaan Umum Dana Tabungan Asuransi Pegawai Negeri Menjadi Perusahaan
Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1981 Nomor 38),
berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai Dan Pensiun
Janda/Duda Pegawai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 42,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 2906), Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang
PokokPokok Kepegawaian (Lembaran Negara RI Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3014) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor
43 Tahun 1999 Lembaran Negara RI Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3890), dan Peraturan Pemerintah Nomor 25, Tahun 1981 tentang Asuransi Sosial
Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 37,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3200);
3. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
(ASABRI) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1991 tentang
Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1991 Nomor 88);
4. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) yang dibentuk
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan
Umum (Perum) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 16);
Ketentuan tersebut diatas mengandung makna bahwa pembentuk undangundang bermaksud
menyatakan selama belum terbentuk BPJS senagaimana dimaksud Pasal 5 ayat (1) badan-badan
sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (3) diberi hak untuk bertindak sebagai BPJS
5
, sampai
semua ketentuan yang mengatur BPJS tersebut disesuaikan dengan ketentuan UU SJSN paling
lambat dalam waktu 5 (lima) tahun sejak Undang-Undang SJSN diundangkan.

5
Opcit
Halaman 11 dari 29

Keempat persero tersebut, masing-masing melaksanakan program jaminan sosial sebagai berikut:
NO Persero Program Peserta Keterangan
1 Jamsostek JK, JKK,JHT, JKM Pengusaha dan tenaga
kerja swasta yang
melakukan pekerjaan di
dalam hubungan kerja
Program Jamsostek bagi
tenaga kerja yang
melakukan pekerjaan
diluar hubungan kerja
diatur dengan PP.
2 TASPEN JP, JHT, JKM PNS, Janda dan Duda PNS,
Pejabat Negara

3 ASABRI JP, JHT, JKM TNI, POLRI, Janda dan
Duda TNI, POLRI

4 ASKES JK PNS, Pensiunan PNS, TNI,
POLRI, Veteran, Perintis
Kemerdekaan beserta
keluarganya
TNI, POLRI aktif JK
ditangani oleh Dinas
Kesehatan TNI, POLRI.
Persero ASKES ditugaskan
juga dalam pengelolaan
Program Pemeliharaan
Kesehatan bagi
masyarakat miskin /
ASKESKIN
Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap perkara Nomor 007/PUU-III/2005, terbuka peluang
bagi Pemerintah Daerah untuk membentuk BPJS Daerah sebagai sub sistem penyelenggaraan
jaminan sosial berdasarkan UU SJSN.
Perlu dikemukakan bahwa jangkauan kepesertaan program jaminan sosial sampai saat ini masih
sangat terbatas. Perluasan kepesertaan menurut UU SJSN dilakukan secara bertahap, diawali
dengan program Jaminan Kesehatan (JK) bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu sebagai
penerima bantuan iuran. Pentahapan pendaftaran penerima bantuan iuran sebagi peserta
jaminan sosial akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah
6
. Demikian pula mengenai
persyaratan dan tata cara penyelenggaraan jaminan sosial tenaga kerja bagi tenaga kerja yang
melakukan pekerjaan diluar hubungan kerja diatur dengan Peraturan Pemerintah
7
. Sampai
sekarang Peraturan Pemerintah dimaksud belum ditetapkan.

IV. OPSI UNTUK PEMBENTUKAN RUU BPJS
Muatan-muatan pokok perlu diatur dalam RUU BPJS dan opsi-opsi penyelenggaraan sistem
jaminan sosial nasional oleh berbagai badan penyelenggara nasional dan pengaturan
penyelenggaraan sistem jaminan sosial di daerah.
UU No. 40 Tahun 2004 (UU SJSN) belum mengatur secara tegas dan rinci mekanisme
penyelenggaraan sistem jaminan sosial dan cakupan program, serta kelompok masyarakat yang

6
UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN Pasal 17 ayat (6)
7
UU Nomor 3 Tahun 1992 tentang jamsostek, Pasal 4 ayat (3)
Halaman 12 dari 29

menjadi tanggung jawab BPJS. Hasil Putusan Mahkamah Konstitusi tidak pula menegaskan
penyelenggaraan jaminan sosial di daerah.
Tujuan merumuskan opsi-opsi BPJS adalah untuk memberikan pertimbangan dalam
mentranformasi keempat BUMN prolaba penyelenggara program jaminan sosial (PT JAMSOSTEK,
PT ASKES, PT ASABRI, PT TASPEN) menuju BPJS sesuai dengan mandat UU SJSN Pasal 5 dan
Pasal 52 ayat (2) berikut cakupan program dan cakupan kepesertaannya.
Pilihan yang ditawarkan memisahkan penyelenggaraan program jaminan sosial bagi TNI dan
POLRI untuk diselenggarakan oleh BPJS tersendiri (BPJS ASABRI).
Setelah mempelajari UU SJSN, Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, kondisi yang ada sekarang
dan permasalahan yang dihadapi dalam penyelenggaraan jaminan sosial dan memperhatikan
hasil konsultasi dengan para ahli di Maxplanck Institute Jerman tanggal 26 Maret - 5 April 2007,
dapat dikemukakan 3 opsi untuk pembentukan RUU BPJS sebagai berikut :
1. Opsi ke-1: OPITIMUM
mengatur kembali penyelenggaraan jaminan sosial oleh 4 BUMN menjadi satu program
diselenggarakan oleh satu BPJS (merujuk Pasal 18 huruf a-e UU SJSN).
a. BPJS Jaminan Kesehatan bergabung dengan program Jaminan Kematian (Pasal 19 dan
selanjutnya beserta Pasal 43 dan selanjutnya).
b. BPJS Jaminan Hari Tua dan Pensiun (Pasal 39 dan selanjutnya).
c. BPJS Jaminan Kecelakaan Kerja (Pasal 29 dan selanjutnya).
d. BPJS ABRI dan POLRI untuk seluruh program.
e. BPJS Jaminan pengangguran didirikan baru.

Untuk diperhatikan
Perlu ditetapkan pengertian Jaminan Kematian (JKM) merupakan:
1. Program finasial jangka panjang untuk proteksi pendapatan yang hilang akibat
kematian di usia produktif, seperti pada:
Program Jaminan Kematian PT JAMSOSTEK,
Manfaat kepada ahli waris peserta berupa:
Santunan Kematian, Rp. 6.000.000,-
Biaya Pemakaman, Rp. 1.500.000,-
Santunan Berkala,Rp. 200.000,-/bulan (selama 24 bulan).
Atau,
2. Program santunan kematian dan penguburan, seperti pada:
Program Pensiun PT TASPEN,
Manfaat diberikan kepada ahli waris peserta antara lain Uang Duka Wafat (UDW)
sebanyak 3 kali gaji penghasilan terakhir.
Halaman 13 dari 29

Kelebihan opsi ini adalah:
a. Penerimaan masyarakat tinggi terutama dalam jangka panjang;
b. Penyelenggaraan berbasis pilar yang jelas akan menciptakan BPJS yang spesialis dan
handal dibidangnya;
c. Penyelenggaraan dengan struktur yang jelas akan mendekatkan pada tujuan
penyelenggaraan yang efisien;
d. Pengorganisasian program dengan adekuat;
e. Terjamin penyelenggaraan program yang seragam dan berskala nasional sehingga
dapat meningkatkan kekuatan program nasional dibandingkan dengan
penyelenggaraan lokal yang terpilah pilah

Kekurangan opsi ini adalah:
a. Memerlukan upaya dan investasi yang besar;
b. Mengingat kondisi peraturan perundangan yang belum adekuat dan perekonomian
yang masih labil, opsi ini mungkin terlalu dini untuk diselenggarakan di indonesia;
c. Kemungkinan munculnya resistensi dari struktur penyelenggaraan saat ini yang
meliputi pemerintah dan BUMN sangat besar;
d. Kemungkinan munculnya resistensi dari pengusaha atau pemberi kerja dalam jangka
pendek sangat besar terutama dari program pensiun dan jaminan hari tua;
e. Kemungkinan munculnya resistensi dari pekerja dalam jangka pendek sangat besar
terutama bila besar iuran ditingkatkan.

2. Opsi ke-2 : STATUS QUO Plus
membagi tanggung jawab penyelenggaraan program jaminan sosial seperti yang
diselenggarakan oleh 4 BUMN saat ini (Status Quo) dengan mengubah status badan
penyelenggara menjadi nirlaba dan memperluas jangkauan pelayanan kepada seluruh
kelompok penduduk.

Kelebihan opsi ini adalah :
a. Melanjutkan penyelenggaraan yang tengah berlangsung
b. Proses transformasi kurang traumatik
c. Proses transformasi dapat dicapai lebih mudah dan lebih cepat

Kelemahan opsi ini adalah:
a. Tidak mudah menjadikan JAMSOSTEK berfungsi bagi seluruh penduduk;
b. Pengorganisasian dan prosedur penyelenggaraan menuntut keunikan masing-masing
program sehingga satu BPJS mengelola 5 program dengan konsekuensi:
Menuntut satu BPJS bekerja dengan berbagai aturan dan regulasi
Halaman 14 dari 29

Memunculkan kesulitan karena satu BPJS mungkin tidak akan mampu menguasai
kondisi semua program SJSN
c. Memerlukan pengaturan yang cermat mengenai:
Apakah kepesertaan wajib boleh memilih JAMSOSTEK atau BPJS daerah;
Hak pilih peserta;
Berbagai kemungkinan yang timbul akibat kompetisi dan perbedaan standar
penyelenggaraan.
d. 2 BPJS (JAMSOSTEK dan ASKES) menyelenggarakan program jaminan kesehatan.
Dicermati isu keadilan dan kordinasi program ;
BPJS melayani peserta berpendapatan rendah sehingga dana yang terkumpul juga
rendah ;
BPJS melayani peserta yang memiliki angka kesakitan tinggi sehingga belanja
kesehatan juga akan tinggi,
Kesinambungan penyelenggaraan perlu dicermati karena ketersediaan dana sedikit
sementara belanja besar.
Halaman 15 dari 29


BPJS Program Peserta Keuntungan Kerugian/ masalah/tantangan

JAMSOSTEK
BPJS
Kesehatan
Kematian
Kecelakaan
Kerja
Jaminan
Hari Tua
Pensiun
Pekerja
swasta:
Dalam
Hubungan
Kerja
Di luar
hubungan
kerja
Pekerja
mandiri

Melanjutkan
penyelenggara
an yang tengah
berlangsung
Proses
transformasi
kurang
traumatik
Proses
transformasi
dapat dicapai
lebih mudah
dan lebih cepat

Menjadikan JAMSOSTEK berguna /
berfungsi bagi seluruh penduduk;
Pengorganisasian dan prosedur
penyelenggaraan menuntut
keunikan masing-masing program
sehingga satu BPJS mengelola 5
program akan:
o menuntut satu BPJS bekerja
dengan berbagai aturan dan
regulasi
o memunculkan kesulitan karena
satu BPJS mungkin tidak akan
mampu menguasai kondisi
semua program SJSN;
Jangkauan terhadap kompetisi
dengan BPJS Daerah
o perlu diatur lebih lanjut apakah
kepesertaan wajib boleh memilih
JAMSOSTEK atau BPJS Daerah
o perlu ditetapkan hak pilih
peserta;
o perlu diatur dengan tegas
berbagai kemungkinan yang
timbul akibat kompetisi dan
perbedaan standar
penyelenggaraan

ASKES
BPJS
Kesehatan PNS (aktif
& pensiun)
Pensiun
TNI dan
POLRI
Masyara-
kat Miskin
Lihat JAMSOSTEK 2BPJS (JAMSOSTEK dan ASKES)
menyelenggarakan program
jaminan kesehatan, perlu dicermati
isu keadilan dan kordinasi program
BPJS melayani peserta
berpendapatan rendah sehingga
dana yang terkumpul juga rendah


BPJS melayani peserta yang
memiliki angka kesakitan tinggi
sehingga belanja kesehatan juga
akan tinggi,
Kesinambungan penyelenggaraan
perlu dicermati karena
ketersediaan dana sedikit
sementara belanja besar.

TASPEN
BPJS
Pensiun
Jaminan
Hari Tua
PNS &
Pejabat
Negara
Lihat JAMSOSTEK

ASABRI
BPJS
Pensiun TNI / POLRI Lihat JAMSOSTEK

Halaman 16 dari 29

3. Opsi ke-3 : MODERAT
menggabungkan penyelenggaraan program jaminan kesehatan kepada sebuah badan
penyelenggara (BPJS ASKES), menambahkan program pensiun dan program jaminan
pengangguran kepada BPJS JAMSOSTEK dan mendirikan sebuah badan penyelenggara
baru untuk kelompok penduduk di sektor informal dan pekerja mandiri untuk mengelola
seluruh program jaminan sosial kecuali program kesehatan.

Kelebihan opsi ini adalah :
a. Penerimaan tinggi dari pekerja
b. Satu BPJS bertanggung jawab untuk program kesehatan dan kematian berpengaruh
pada :
Pengorganisasian dan prosedur penyelenggaraan adekuat
Dana yang terkumpul lebih besar
Lebih efisien karena kekuatan tawar kontrak terhadap fasilitas pelayanan kesehatan
c. Kelompok masyarakat yang terkait ditangani oleh satu BPJS.

Kekurangan opsi ini adalah:
a. Menjandikan JAMSOSTEK berfungsi bagi seluruh penduduk;
b. Pengorganisasian dan prosedur penyelenggaraan menuntut keunikan masing-masing
program sehingga satu BPJS mengelola 5 program dan konsekuensinya:
Menuntut satu BPJS bekerja dengan berbagai aturan dan regulasi
Memunculkan kesulitan karena satu BPJS mungkin tidak akan mampu menguasai
kondisi semua program SJSN
c. Kompetisi dengan BPJS daerah memerlukan pengaturan yang cermat mengenai :
Apakah kepesertaan wajib boleh memilih Jamsostek atau BPJS Daerah
Hak pilih peserta
Berbagai kemungkinan yang timbul akibat kompetisi dan perbedaan standar
penyelenggaraan
d. Sangat dituntut untuk membangun struktur penyelenggraan yang lebih adekuat dan
canggih : registrasi, pengumpulan dana, pemberian pelayanan kesehatan secara aktif ;
e. Bahaya dari kekuatan monopsoni :
Mendikte kondisi dan
Penyalahgunaan kekuatan tawar
f. Sangat memerlukan kontrol pemerintah yang tegas dan adekuat
g. Tantangan untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap krediibilitas BPJS
sangat tinggi.
h. Isu pengorganisasian dan prosedur sangat berbeda antar program.
Pemerintah perlu menentukan pilihan yang tepat dan cocok denagn kondisi Indonesia serta
kemungkinan pelaksanaannya secara efektif agar program jaminan sosial betul-betul
Halaman 17 dari 29

dirasakan manfaatnya untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak
bagi setiap penduduk.
BPJS Program Peserta Keuntungan
Kerugian/
masalah/tantangan

JAMSOSTEK
BPJS
Jaminan
Kecelakaan
Kerja
Jaminan Hari
Tua
Jaminan
Pensiun
Jaminan
Pengangguran
(Kesehatan dan
kematian
dialihkan)

Pekerja swasta di
dalam hubungan
kerja

Wajib

Penerimaan
tinggi dari
pekerja

Menjandikan JAMSOSTEK
berguna / berfungsi bagi
seluruh penduduk
Pengorganisasian dan
prosedur penyelenggaraan
menuntut keunikan masing-
masing program sehingga
satu BPJS mengelola 5
program akan:
o menuntut satu BPJS
bekerja dengan berbagai
aturan dan regulasi
o memunculkan kesulitan
karena satu BPJS
mungkin tidak akan
mampu menguasai
kondisi semua program
SJSN;
Jangkauan terhadap /
Kompetisi dengan BPJS
Daerah
Lihat opsi 2 di atas

ASKES
BPJS
Kesehatan dan
Kematian

ASKES adalah
BPJS nasional
tunggal untuk
kesehatan dan
Kematian
PNS (aktif &
pension)
Pensiun TNI &
POLRI
Masy. Miskin
Pekerja
Swasta:
o Dalam
Hubungan
Kerja
o Di luar
Hubungan
Kerja
o Pekerja
Mandiri
Satu BPJS
bertanggung
jawab untuk
program
kesehatan dan
kematian
Pengorganisas
ian adekuat
Prosedur
penyelenggara
an adekuat
Dana yang
terkumpul
lebih besar
Lebih efisien
karena
kekuatan
tawar kontrak
thd fasilitas
pelayanan
kesehatan
Sangat dituntut untuk
membangun struktur
penyelenggaraan yang
lebih adekuat dan canggih:
registrasi, pengumpulan
iuran, pengumpulan dana,
pembelian pelayanan
kesehatan secara aktif
Bahaya dari kekuatan
monopsoni:
1) mendikte kondisi dan
2) penyalahgunaan
kekuatan tawar
Sangat memerlukan kontrol
Pemerintah yang tegas dan
adekuat
Menjamin terciptanya
transparansi sangat rapuh
Tantangan untuk
membangun kepercayaan
masyarakat terhadap
kredibilitas BPJS sangat
tinggi.

TASPEN
BPJS
Pensiun
Jaminan Hari
Tua
PNS dan Pejabat
Negara
Lihat JAMSOSTEK

ASABRI
BPJS
Pensiun TNI dan POLRI Lihat JAMSOSTEK

HARAPAN BPJS Kecelakaan
Kerja
Jaminan Hari
Tua
Jaminan
Pensiun
Pekerja swasta:
Di luar
hubungan
kerja
Pekerja
mandiri
BPJS untuk
kelompok
masyarakat yang
tersulit

Biaya penyelenggaraan
sangat tinggi
Pengelolaan sulit
Isu pengorganisasian dan
prosedur sangat berbeda
antar program
Halaman 18 dari 29

V. POKOK-POKOK PIKIRAN RUU BPJS
Sebelum mengemukakan pokok-pokok pikiran mengenai RUU BPJS terlebih dahulu perlu
disampaikan secara garis besar penyesuaian apa saja yang perlu dilakukan terhadap semua
ketentuan yang mengatur mengenai 4 Persero (Jamsostek, Taspen, ASABRI dan Askes) dengan
UU SJSN pasca putusan Mahkamah Konstitusi.
Ada 8 hal pokok yang perlu disesuaikan yaitu :
1. Jenis peraturan perundang-undangan yang mengaturnya harus dalam bentuk undang-
undang.
2. BPJS merupakan badan hukum yang bersifat nirlaba dan dibentuk untuk menyelenggarakan
jaminan sosial.
3. BPJS mengelola dana amanat milik seluruh peserta yang merupakan himpunan iuran
beserta hasil pengembangannya yang digunakan untuk :
a. Pembayaran manfaat kepada peserta;
b. Pembayaran operasional penyelenggaraan program jaminan sosial
4. Struktur organisasi BPJS yang ramping dan kaya fungsi serta standar operasional dan
prosedur kerja BPJS yang sesuai dengan prinsip-prinsip good governance.
5. Mekanisme pengawasan terhadap BPJS
6. Syarat-syarat bagi Pemerintah Daerah untuk dapat membentuk BPJS Daerah sebagai sub
sistem penyelenggaraan jaminan sosial berdasarkan UU SJSN
8
.
7. Monitoring dan evaluasi penyelenggaraan program jaminan sosial, termasuk tingkat
kesehatan keuangan BPJS dilakukan oleh DJSN.
8. Masa transisi dari BPJS yang profit oriented ke non profit
Ketentuan yang mengatur 4 Persero Peyelenggara jaminan sosial yang ada sekarang yang perlu
disesuaikan dengan UU SJSN Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi.

8
Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap perkara Nomor 007/PUU-III/2005
Halaman 19 dari 29


No Perihal Keadaan Sekarang UU SJSN Pasca Putusan MK
1 Bentuk Peraturan
Perundang-undangan
yang mengatur
Peraturan Pemerintah Undang-Undang BPJS
2 Status BUMN Persero Badan Hukum
3 Maksud dan Tujuan
serta lapangan usaha
Menyediakan barang dan/atau jasa
yang bermutu tinggi dan berdaya
saing kuat serta mengejar
keuntungan guna meningkatkan
nilai perusahaan. Lapangan usaha
ditentukan dalam Peraturan
Pemerintah yang mengatur
masing-masing Persero.
Menyelenggarakan program
jaminan sosial dengan prinsip
nirlaba dengan tujuan utama
untuk memenuhi sebesar-besarnya
kepentingan peserta atau dengan
kata lain menggunakan hasil
pengembangan dana untuk
memberikan manfaat sebesar-
besarnya bagi seluruh peserta
4 Modal / Dana Berasal dari kekayaan negara yang
dipisahkan
Dana Jaminan Sosial adalah dana
amanat milik seluruh peserta
5 Organ RUPS, Direksi dan Komisaris Belum ditentukan
6 Pengangkatan dan
pemberhentian
Direksi dan Komisaris
Oleh RUPS Belum ditentukan
7 Ketentuan lebih
lanjut mengenai
persyaratan dan tata
cara pengangkatan
dan pemberhentian
anggota Direksi dan
Komisaris
Diatur dengan Keputusan Menteri Belum ditentukan
8 DJSN - Berfungsi merusmuskan kebijakan
umum dan sinkronisasi
penyelenggaraan SJSN. Tugas
DJSN :
Melakukan kajian dan penelitian
yang berkaitan dengan
penyelenggaraan jaminan sosial
Mengusulkan kebijakan
investasi Dana Jaminan Sosial
Nasional, dan
Mengusulkan anggaran jaminan
sosial bagi penerima bantuan
iuran dan tersedianya anggaran
operasional kepada Pemerintah.
Wewenang DJSN :
Melakukan monitoring dan
evaluasi penyelenggaraan
program jaminan sosial
9 Kewajiban BPJS - Memberikan nomor identitas
tunggal kepada setiap peserta
dan anggota keluarganya.
Memberikan informasi tentang
hak dan kewajiban kepada
peserta dan mengikuti
ketentuan yang berlaku.
Memberikan konpensasi dalam
hal di suatu daerah belum
tersedia fasilitas kesehatan
yang memenuhi syarat guna
Halaman 20 dari 29

No Perihal Keadaan Sekarang UU SJSN Pasca Putusan MK
memenuhi kebutuhan medik
sejumlah peserta (diatur lebih
lanjut dengan Per.Pres. untuk
JK dan dengan PP untuk JKK).
Membayar fasilitas kesehatan
atas pelayanan yang diberikan
kepada peserta paling lambat
15 hari sejak permintaan
pembayaran diterima.
Mengelola dan
mengembangkan dana jaminan
sosial secara optimal dengan
mempertimbangkan aspek
likuiditas, solvabilitas, kehati-
hatian, keamanan dana dan
hasil yang memadai (diatur
lebih lanjut dengan PP).
Memberikan informasi
akumulasi iuran berikut hasil
pengembangannya kepada
setiap peserta JHT sekurang-
kurangnya sekali dalam
setahun.
Membentuk cadangan teknis
sesuai dengan standar praktek
aktuaria yang lazim danberlaku
umum (diatur lebih lanjut
dengan PP).
10 Hal-hal Penting
lainnya yang perlu
dilakukan BPJS
- Melakukan kesepakatan dengan
asosiasi fasilitas kesehatan
disuatu wilayah untuk
menetapkan besarnya
pembayaran kepada fasilitas
kesehatan untuk setiap wilayah.
Mengembangkan sistem
pelayanan kesehatan, sistem
kendali mutu pelayanan
kesehatan untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas JK.
Mengelola pembukuan sesuai
dengan standar akuntansi yang
berlaku.
11 Pengawasan
terhadap pengelolaan
keuangan
Pemeriksaan laporan keuangan
Perusahaan dilakukan oleh auditor
eksternal yang ditetapkan oleh
RUPS untuk Persero BPK
berwenang melakukan
pemeriksaan terhadap BUMN
sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Dilakukan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
12 Syarat-syarat bagi
Pemda untuk dapat
membentuk BPJS
Daerah sebagai sub
sistem
penyelenggaraan
jaminan sosial
Tidak diatur Pasca Putusan MK, BPJS daerah
dapat dibentuk dengan Perda
dengan memenuhi ketentuan SJSN
sebagainmana diatur dalam UU
SJSN.
Halaman 21 dari 29

No Perihal Keadaan Sekarang UU SJSN Pasca Putusan MK
13 Transisi dari Persero
ke BPJS
- Perlu diatur dalam UU BPJS antara
lain mengenai hak dan kewajiban
Persero, kekayaan, peserta,
pegawai dan organ.
Pokok-pokok pikiran yang dapat disampaikan sebagai masukan dalam penyusunan RUU BPJS
sebagai berikut :
1. BPJS adalah badan hukum yang dibentuk dengan undang-undang untuk menyelenggarakan
program jaminan sosial. Ada 3 opsi yang dapat dipilih untuk menentukan lapangan usaha
BPJS yaitu opsi optimum, opsi status quo plus atau opsi moderat dengan segala kelebihan
dan kekurangannya sebagaimana telah diuraikan dimuka.
2. BPJS bersifat nirlaba dalam pengertian bahwa tujuan utama untuk memenuhi sebesar-
besarnya kepentingan peserta atau dengan kata lain mengutamakan penggunaan hasil
pengembangan dana untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh peserta.
3. Dengan dibentuknya BPJS berdasarkan UU BPJS maka Persero Jamsostek, Taspen, ASABRI
dan ASKES dinyatakan bubar pada saat diundangkannya UU BPJS dengan ketentuan bahwa
segala hak dan kewajiban, kekayaan, peserta yang ada pada saat pembubarannya, beralih
kepada BPJS.
4. BPJS berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta dan dapat membentuk kantor-kantor
wilayah / cabang pada tingkat Provinsi / Kabupaten / Kota.
5. Modal BPJS merupakan dana amanat milik seluruh peserta yang merupakan iuran peserta
beserta hasil pengembangannya yang digunakan untuk :
a. Pembayaran manfaat kepada masyarakat;
b. Pembayaran operasional penyelenggaraan program jaminan sosial
6. BPJS betangggung jawab kepada Presiden melalui DJSN.
7. Organ BPJS terdiri dari :
a. Direksi : Paling banyak 5 orang
b. Dewan Pengawas : Paling banyak 3 orang
8. Pengangkatan dan pemberhentian Direksi dan Dewan Pengawas dilakukan oleh Presiden
atas usul DJSN.
Calon anggota Direksi dan Dewan Pengawas diusulkan oleh DJSN setelah melalui proses uji
kelayakan dan kepatutan untuk memperoleh calon-calon yang memenuhi persyaratan dari
segi profesionalisme dan integritas.
9. Masa jabatan Direksi dan Dewan pengawas adalah 5 Tahun, dan sesudahnya hanya dapat
dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan.
10. Direksi wajib menyusun Rancangan Rencana Jangka Panjang (RJP) sebagai penjabaran
kebijakan umum penyelenggaraan SJSN yang ditetapkan oleh DJSN.
RJP sekurang-kurangnya memuat:
a. Evaluasi pelaksanaan kinerja BPJS
b. Posisi pada saat penyusunan RJP
Halaman 22 dari 29

c. Asumsi-asumsi yang dipergunakan dalam penyusunan RJP
d. Penetapan visi, misi, sasaran, strategi, kebijakan dan program kerja.
e. Kebijakan pengembangan dana.
Rancangan RJP yang telah disetujui Dewan Pengawas disampaikan kepada DJSN untuk
memperoleh persetujuan.
11. Direksi wajib menyusun Rencana Kerja Tahunan sebagai penjabaran operasional RJP.
Untuk jangka waktu satu tahun RKT sekurang-kurangnya memuat :
a. Program kerja dan kegiatan dalam 1 tahun
b. Anggaran BPJS yang terinci untuk setiap program dan kegiatan
c. Proyeksi keuangan BPJS
12. Direksi wajib menyampaikan laporan berkala setiap semester kepada Dewan Pengawas dan
laporan tahunan kepada DJSN untuk mendapat pengesahan. Pada akhir masa jabatan
Direksi menyampaikan laporan pelaksanaan RJP kepada DJSN.
13. Pengelolaan pembukuan BPJS dilakukan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
14. Direksi bertanggung jawab sepenuhnya untuk memenuhi kewajiban BPJS sebagaimana
ditentukan dalam UU SJSN.
15. Laporan Tahunan Direksi dan laporan akhir masa jabatan Direksi terbuka untuk diakses
oleh publik dalam rangka sosial kontrol.
16. Syarat-syarat bagi Pemda untuk dapat membentuk BPJS Daerah antara lain:
a. Jumlah peserta yang memadai untuk kelangsungan BPJS Daerah
b. Manfaat dan standar pelayanan yang sama
c. Tersedianya sumber daya manusia yang profesional dan memiliki integritas untuk
penyelenggaraan program jaminan sosial
d. Mempunyai rencana jangka panjang yang disetujui DJSN sebagai penjabaran kebijakan
umum sebagai penjabaran penyelenggaraan program SJSN yang ditetapkan DJSN
e. Kemampuan BPJS daerah untuk menerapkan prinsip-prinsip SJSN
17. Dalam ketentuan peralihan antara lain perlu diatur:
a. Status peraturan perundang-undangan mengenai penyelenggaraan program jaminan
sosial yang berlaku sekarang
b. Status organ Persero yang ada sampai terbentuknya organ BPJS sesuai dengan
ketentuan UU BPJS
c. Status Pegawai Persero yang ada
d. Hak dan kewajiban Persero terhadap Pihak ke-3
e. Penyelesaian hak-hak peserta yang sedang dalam proses
f. Proses waktu penyesuaian dengan ketentuan UU BPJS
Halaman 23 dari 29

VI. SISTEMATIKA RUU BPJS
BAB SUBSTANSI
USULAN YANG AKAN
DIBAHAS

Menimbang

Pasal 1 Angka 6 Umum Dasar hukum yang
berlaku

Pasal 1 Angka 7 Umum Pengelolaan Dana
Jaminan social

Pasal 5 BPJS Badan
(Putusan MK mengenai Pasal 5 BPJS)

Pasal 15 Kepesertaan Nomor identitas

Pasal 16 Kepesertaan Informasi pelaksana-
annya

Pasal 23 (1), (2) JK Manfaat yang
diberikan, fasilitas,
kerjasama

Pasal 24 (1), (2) JK Mekanisme
pembayaran

Pasal 24 (3) JK Sistem kendali mutu
dan pengawasan

Pasal 25 JK Daftar nama dan
harga obat-obatan

Pasal 29 JKK Administrasi
Pasal 32 JKK Manfaat yang
diberikan, fasilitas,
kerjasama

Pasal 35 JHT Administrasi
Pasal 47-51 Pengelolaan Dana
(tidak berhubungan dengan Pasal 47
(2), Pasal. 50 (2))

MASIH BELUM LENGKAP





1. Badan: BPJS, Pasal 1 Angka 6, Pasal 5 (1) UU No. 40/2004
2. Badan dan kantor
3. Badan Nasional (dengan kantor di tingkat provinsi dan
daerah)

4. Badan diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (dengan
kantor di tingkat wilayah)

5. Badan di tingkat Pemerintah Wilayah (dengan kantor di
tingkat Kabupaten/Kota)

Bab I
Istilah dan Ketentuan
Umum

6. Pendanaan (Opsi pengaturan: pemilahan program vs
pemilahan kelompok penduduk atau dikombinasikan)
(Tidak menggabungkan arus kontribusi /dana antar BPJS)


Halaman 24 dari 29

BAB SUBSTANSI
USULAN YANG AKAN
DIBAHAS
1. Badan
Nama-nama dan/atau daftarnya

2. Status Hukum --- dasar hukum yang berlaku (Pasal 1
Angka 6)

3. Legal Personality
4. Hukum Perseroan
a. Penandatanganan kontrak
b. Perwakilan peraturan hubungan keorganisasian
c. Hirarki/jenjang (tingkat nasional, provinsi, wilayah)

5. Independensi
Ke tingkat tertentu sebagaimana Bab ___ dan bentuk
pengawasan

6. Nirlaba
7. Tugas-tugas
a. Umum
b. Bagi seluruh bangsa
Ketersediaan pelayanan di seluruh wilayah Indonesia

8. Pendirian BPJS
Dengan ini didirikan di tingkat nasional (deklarasi nama
BPJS-BPJS), contoh:
a. BPJS JAMSOSTEK
b. BPJS ASKES
c. BPJS TASPEN
d. BPJS ASABRI
e. HARAPAN SSAB
Dimungkinkan didirikan di tingkat provinsi dan wilayah
a. hanya pada tingkat dan dalam kondisi tertentu
sebagaimana UU ini, dijabarkan pada Bab IX Ketentuan
Penutup
b. hanya bila sesuai dengan standar-standar Pengelolaan
Dana tertentu sebagaimana dalam Pasal 47 51 UU No.
40/2004
c. hanya bila sesuai dengan Peraturan Pemerintah (pada
Pengelolaan Dana Jaminan Sosial), disebutkan dalam
Pasal 47 (2), Pasal 50 (2) UU No. 40/2004

Bab II
Pendirian BPJS

9. Pembatasan dari/hubungannya dengan BPJS

Bab III
BPJS Nasional
Bagian Pertama
Tanggung jawab BPJS
Nasional terhadap
Program SJSN


Mohon diingat bahwa HOMOGENITAS antar tingkat nasional dan
provinsi/kabupaten yang dipilih untuk suatu desain khusus akan
BERPENGARUH/akan diatur dengan memerhatikan konsekuensi-
konsekuensi keorganisasian di tingkat ini/penolakan dari tingkat
di bawahnya.

1. Umum Bagian Kedua
Kerorganisasian 2. Ketentuan-ketentuan BPJS
a. Opsi (2) perbedaan struktur masing-masing BPJS
diseversifikasi dalam kolom ini
b. Opsi (3) persamaan umum (misalnya pengangkatan)
struktur/ketentuan+ peraturan tambahan,




Halaman 25 dari 29

BAB SUBSTANSI
USULAN YANG AKAN
DIBAHAS
Untuk setiap BPJS, jelaskan dengan rinci hal-hal berikut:
a. Nama BPJS
b. Keanggotaan
c. President/Pimpinan
d. Pengangkatan, penempatan, pensiun
e. Kualifikasi, kompetensi
f. Dewan/representatif
g. Kantor lokal
h. Karyawan
i. Departemen
j. Anggaran
k. Administrasi
l. Peraturan internal

1. Putusan mendasar sesuai konsekuensi dari putusan
Mahkamah Konstitusi

2. BPJS Daerah dimungkinkan juga berperan pada program
jaminan sosial yang sama

3. Pertanyaan mendasar: apakah diizinkan adanya persaingan
atau diatur adanya pengharmonisasian dengan BPJS
Nasional

4. Ketentuan menaati kondisi-kondisi tertentu sebagaimana
diatur dalam UU SJSN dan UU ini yang disebutkan dalam
Bab II UU BPJS (lihat di atas)

5. Standar-standar keorganisasian
6. Bentuk struktur organisasi/hirarki tanggung jawab
Apakah mengikuti struktur BPJS Nasional atau
diperbolehkan berbeda dari BPJS nasional

7. Besarnya kontribusi (seragam atau bervariasi)
8. Jumlah peserta program daerah (untuk menjamin
terciptanya solidaritas sosial)
a. Tingkat provinsi
b. Tingkat kabupaten/kota
c. Perbedaan antar program SJSN bila diperbolehkan

9. Kondisi-kondisi khusus yang harus dipenuhi untuk
penyelenggaraan masing-masing program SJSN oleh BPJSD
a. Kesehatan (contoh): BPJS Daerah harus menjamin
tersedianya kontrak kerja dengan jejaring fasilitas
pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta untuk
menjamin terselenggaranya program dengan adekuat
b. Hari tua dan pensiun: ..
c. Jaminan kecelakaan kerja: ..
d. Jaminan Kematian:..

Bab IV
BPJS Daerah

Bagian Pertama
Pendirian BPJS di tingkat
Daerah
(Provinsi/kabupaten/
kota)

10. Tanggung jawab yang diberikan kepada BPJS Daerah sesuai
dengan BPJS Nasional

Bagian Kedua
Standar-standar kualitas

Bagian Ketiga
Tanggung jawab
penyelenggaraan program


Harap selalu diperhatikan homogenitas peraturan perundangan
untuk menjamin terpenuhinya prinsip-prinsip dasar SJSN


Halaman 26 dari 29

BAB SUBSTANSI
USULAN YANG AKAN
DIBAHAS
1. Umum
Struktur umum yang harus dipenuhi oleh semua BPJSD

2. Ketentuan BPJSD
a. Perbedaan struktur masing-masing BPJSD diatur di sini
b. Persamaan umum BPJSD (e.g. pengangkatan) struktur/
+ aturan tambahan lainnya
Untuk setiap BPJSD, jelaskan dengan rinci hal-hal berikut:
a. Nama BPJSD
b. Keanggotaan
c. President/Pimpinan
d. Pengangkatan, penempatan, pensiun
e. Kualifikasi, kompetensi
f. Dewan/representatif
g. Kantor lokal
h. Karyawan
i. Departemen
j. Anggaran
k. Administrasi
l. Peraturan internal

Bagian Keempat
Ketentuan keorganisasian
3. Hak mendirikan Asosiasi BPJSD (?)
a. Tingkat yang diizinkan (BPJS provinsi/kabupaten /kota)
b. Diizinkan untuk BPJSD yang mengelola program yang
sama / berbeda / campur
c. Tujuan pendirian (contoh):
Untuk bertindak bersama-sama misalnya dalam
menetapkan kontrak dengan fasilitas pelayanan
kesehatan, dll.


1. Umum
a. Aturan dalam pengambilan keputusan
b. Prinsip-prisip dasar
c. Penyediaan informasi bagi peserta (ps 15 ayat 2)
d. Penerbitan kartu peserta (pasal 15 ayat 1)
e. Aturan khusus mengenai pemberian kompensasi
f. Telaah internal/penyelesaian keluhan. (Apakah telaah
internal adalah kondisi untuk dilakukan telaah hukum?
jika ya, maka hal ini harus diatur pada BAB X)
Bab V
Prosedur administratif

2. Khusus
e.g. penyelenggaraan program (JK, JKK, JP, JHT, JKM)



1. Tugas dan tanggungjawab BPJS Nasional untuk melaporkan,
memberi dokumen/informasi kepada DJSN

2. Tugas dan tanggungjawab BPJS Daerah untuk melaporkan,
memberi dokumen/informasi kepada DJSN

Bab VI
Kerjasama dengan
Dewan Jaminan Sosial
Nasional
3. Tugas BPJS Nasional dan Daerah untuk melaksanakan
rekomendasi / kebijakan yang ditetapkan oleh DJSN


1. Umum - Kewajiban
Tanggungjawab yang diberikan kepada Departemen-
Departemen
Bab VII
Supervisi dan
Kewenangan
Pemerintah

2. Isu-Isu Yang Diawasi
a. Perlu dibedakan:
Pengawasan terhadap keputusan tentang tugas
dan kewajiban
Pengawasan tentang ketaatan atas pelaksanaan
peraturan dan perundangan

Halaman 27 dari 29

BAB SUBSTANSI
USULAN YANG AKAN
DIBAHAS
b. Umum
Perlu disebutkan bahwa tidak ada pengawasan
langsung terhadap setiap keputusan / perlunya
persetujuan atas tindakan namun. .
c. Pendirian BPJS Daerah
Pemenuhan persyaratan-persyaratan yang telah
ditetapkan pada BAB IVA
d. Jenis-jenis kegiatan
Anggaran
Penerbitan kontrak dengan fasilitas pelayanan
kesehatan
Pembangunan sistem contoh seperti yang
diwajibkan dalam Pasa 24 ayat 2 UU SJSN: sistem
penyelenggaraan, kontrol kualitas
3. Umum Instrumen, dll
a. Permintaan informasi kepada BPJS
b. Perubahan permintaan tentang .
c. Tindakan atas nama BPJS
d. Penggantian karyawan BPJS oleh komisioner (termasuk
juga penyelenggaraan oleh badan): penyalahgunaan
sementara organisasi tidak adekuat
e. Supervisi aturan internal persetujuan terhadap
penerbitan peraturan internal
f. Penutupan BPJSD yang tidak memenuhi persyaratan
yang tercantum dalam Bab IVA

4. Ketentutan khusus untuk masing-masing BPJS

1. Kekayaan
a. Pengaturan kekayaan dan kepemilikan dana yang
terhimpun oleh BPJS
b. Pengelolaan kekayaan
c. Batasan cadangan teknis program JK
d. Pelaporan
Bab VIII
Kekayaan dan
Investasi
2. Investasi
a. Bentuk-bentuk investasi yang diamanatkan
b. Mekanisme investasi lainnya


1. Ketentuan perpajakan badan (dibebaskan vs dikenakan) Bab IX
Perpajakan
2. Hal-hal lain yang menyangkut pajak (contoh: pajak
investasi, pajak pengadaan barang yang berkaitan dengan
penyelenggaraan pelayanan, dll)


Bab X
Penyelesaian Sengketa
Melalui Pengadilan


1. Ketentuan Umum dan Tindakan Pertama
a. Pengajuan perkara melawan BPJS /pihak yang
berwenang / peserta SJSN/ BPJS
b. Subyek untuk diselesaikan melalui pengadilan
c. Apakah akan diatur pula sengketa akibat transformasi 4
BUMN menjadi BPJS ? perlu merujuk juga pada
peraturan perundangan lain yang terkait
d. Jenis Peradilan apakah peradilan administratif?
e. Peradilan tingkat I (lokal): tempat peradilan (forum)
f. Peradilan tingkat II
g. Dampak kebijakan otonomi daerah dan desetralisasi
pada SJSN dan BPJSD
h. Prasyarat khusus
i. Batasan waktu
j. Pokok masalah untuk ditelaah secara
administratif/internal

Halaman 28 dari 29

BAB SUBSTANSI
USULAN YANG AKAN
DIBAHAS
2. Laporan Awal
Ditentukan laporan awal dalam kondisi-kondisi khusu seperti
apakah pengajuan tuntutan mendasar, dll?

3. Banding dan Keputusan Akhir

1. Umum
a. Pengakhiran tanggungjawab
b. Pemutusan hak
c. Pengalihan kepesertaan lama ke BPJS UU SJSN
d. Keputusan terhadap karyawan

2. Ketentuan Khusus masing-masing BPJS
Bab XI
Konsekuensi hukum
atas transformasi
BUMN
JAMSOSTEK, TASPEN,
ASABRI, ASKES
menjadi BPJS
3. Pengawasan Pengadilan apabila terjadi sengketa
akibat transformasi


1. Penyesuaian terhadap Peraturan Perundang-undangan yang
sudah ada pada saat Peraturan Perundang-undangan baru
mulai berlaku

2. Saat suatu peraturan Perundang-undangan dinyatakan mulai
berlaku, segala hubungan hukum yang ada atau tindakan
hukum yang terjadi (sebelum, pada saat/ sesudahnya),
tunduk pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan baru

3. Memuat pengaturan tentang penyimpangan sementara atau
penundaan sementara bagi tindakan hukum/hubungan
hukum tertentu

4. Penyimpangan sementara juga berlaku bagi ketentuan yang
diberlakusurutkan, yang memuat ketentuan status tindakan
hukum yang terjadi atau hubungan hukum yang ada dalam
tenggang waktu antara tanggal mulai berlaku surut dan
tanggal mulai berlaku perundangannya
Penentuan daya laku surut tidak diberlakukan bagi
ketentuan pidana atau pemidanaan. Serta tidak diadakan
bagi perautran perudnangan yang memuat ketentuan yang
memberi beban konkret pada masyarakat

Bab XII
Ketentuan Peralihan
5. Masa kadaluarsa (terkait UU BPJS tanggal 19 Oktober 2009)

1. Memuat penunjukan organ/alat perlengkapan yang
melaksanakan Peraturan Perundang-Undangan

2. Status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada
3. Saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan
BAB XIII
Ketentuan Penutup
4. Harus secara tegas mengatur pencabutan seluruh atau
sebagian materi Peraturan Perundang-undangan lama
contoh:
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku, Undang-
Undang Nomor ... Tahun ... tentang ... (Lembaran
Negara..., Tambahan Lembaran Negara...) dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku


Halaman 29 dari 29

Daftar Kepustakaan

1. Undang-Undang Dasar Negara R.I. Tahun 1945
2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
3. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN
4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan
5. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI
6. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
7. Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Perkara Nomor 007/PUU-III/2005
8. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1241/Menkes/SK/2004 tentang Penugasan PT. ASKES
(Persero) Dalam Pengelolaan Program Pemeliharaan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin
9. Chidir Ali, Badan Hukum, Bandung 1976
10. Laporan hasil konsultasi dengan para ahli di Maxplanck Institute, Jerman tanggal 26 Maret-
5 April 2007