Vous êtes sur la page 1sur 34

1

TUBERKULOSIS PARU
(TBC)

1. Pengertian
Tuberculosis merupakan penyakit menular yang dapat dicegah dan
diobati, yang disebabkan oleh Mycrobacterium Tuberculosis ( Alsagaff, 2000).
Tuberculosis adalah infeksi saluran nafas bawah yang disebabkan oleh
mikro organisme Mycrobacterium Tuberculosis yang bisa ditularkan melalui
percikan dahak (droplet) dari orang ke orang ( Corwin, 2001).
Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang
parenkin paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya,
terutama meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Brunner dan Suddarth,
2003).
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tubeculosis.
2. Etiologi
Penyebab Tuberculois adalah Mycrobacterium Tuberculosis. Jenis
kuman ini berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4 / um dan tebal 0,3-
0,6 / um. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid inilah
yang membuat kuman lebih tahan asam sehingga disebut dengan bakteri
tahan asam. Kuman ini dapat hidup pada pada udara dingin maupun kering.
Hal ini dapat terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant, dari sifat
dormant inilah kuman dapat bangkit kembali dan menjadikan tuberculosis
aktif lagi. Di dalam jaringan kuman hidup sebagai parasit intraseluler yakni
dalam sitoplasma makrofag. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob. Sifat ini
menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi
kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan bagian apikal paru-paru lebih
tinggi daripada bagian yang lainnya, sehingga bagian apikal ini merupakan
tempat predileksi penyakit tuberculosis ( FKUI, 2003)
Proses Penularan
2

Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet
nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif.
Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei.
Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat
tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar matahari langsung
basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat
bertahan sampai beberapa jam. Dua faktor penentu keberhasilan pemaparan
Tuberkulosis pada individu baru yakni konsentrasi droplet nuclei dalam udara
dan panjang waktu individu bernapas dalam udara yang terkontaminasi
tersebut di samping daya tahan tubuh yang bersangkutan.
Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling
sering), M. tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran
pencernaan dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang).

Patofisiologi
Menurut Soeparman (2000) penularan tuberculosis karena kuman
Mycrobacterium Tuberculosis di batukkan atau dibersinkan keluar menjadi
droplet dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas
selama 1-2 jam tergantung dari sinar ultra violet, ventilasi yang baik dan
kelembapan. Apabila partikel ini terhisap oleh orang sehat, maka akan
menempel pada jalan nafas. Kebanyakan partikel ini akan mati atau
dibersihkan oleh makrofag, keluar dari cabang bronchial, beserta gerakan silia
dengan sekretnya. Kuman juga dapat masuk melalui luka pada kulit atau
mukosa tetapi hal ini sangat jarang terjadi.
Apabila kuman menetap di jaringan paru, maka kuman akan tumbuh dan
berkembang biak dalam sitoplasma makrofag. Kuman yang berasal dari paru-
paru akan membentuk sarang tuberculosis pneumonia kecil yang disebut
sebagai sarang primer. Kuman Tuberculosis masuk melalui saluran pernafasan
kemudian masuk ke paru paru dibagian alveoli.
3

Di alveoli terjadi proses peradangan. Bila peradangan meluas (mengalami
infiltrasi) maka terjadi nekrosis jaringan paru yang nantinya menyebabkan
kerusakan membrane alveoli. Dari proses peradangan tersebut menghasilkan
peningkatan produksi sekret sehingga sekret dapat menumpuk di bronkus dan
mengganggu proses pernafasan.
Dengan adanya sekret maka terjadi perangsangan untuk batuk. Sifat batuk
dimulai dari batuk kering (non produktif) kemudian setelah timbul peradangan
menjadi batuk produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lebih lanjut
adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Bila
sekret terlalu banyak maka batuk juga meningkat dan terjadi distensi abdomen
dan menyebabkan mual, muntah, anoreksia. Terjadi proses peradangan akan
menyebabkan dikeluarkanya zat pirogen yang mempengaruhi hipotalamus dan
menyebabkan kerusakan kontrol suhu sehingga tubuhnya panas atau
hipertermi.
4

PATHWAY
Mycrobacterium Tuberculosis

droplet, udara, sputum

Kuman masuk ke saluran pernafasan

Menempel pada jalan nafas

Menginfeksi saluran pernafasan Mempengaruhi hipotalamus

Peradangan pada saluran nafas Pengeluaran zat pirogen

Peningkatan produksi sputum Ekspansi paru tdk maksimal

distensi abdomen Reflek batuk Kerusakan alveoli

Mual,muntah, anoreksia Pembuluh darah di bronkus pecah
(dalam fase lanjut)

batuk darah

Oksigen dalam darah turun

Oksigen dalam sel turun

Produksi energi turun Metabolisme terganggu


(Soeparman, 2000)

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
Bersihan jalan nafas
tidak efektif efektif
Hipertermi
Gangguan
pertukaran gas
Fatique
Resiko Infeksi
5

Gambaran Klinik
Menurut Amin (2001) penyakit Tuberculosis mempunyai banyak
kemiripan dengan penyakit lain yang juga memberikan gejala umum seperti lemah
dan demam. Pada sejumlah penderita gejala yang timbul tidak jelas sehingga
sering diabaikan bahkan kadang-kadang asimtomatik.
Gambaran klinik Tuberculosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :
1. Gejala respiratorik
a. Batuk yang lama ( lebih dari 3 minggu)
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling
sering dikeluhkan. Mula-mula bersifat non produktif kemudian menjadi
produktif (berdahak) bahkan bercampur darah apabila sudah ada kerusakan
jaringan.
b. Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak bervariasi, dapat berupa bercak-
bercak darah, gumpalan darah, atau darah segar dalam jumlah yang sangat
banyak. Batuk darah terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat
ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang
pecah.
c. Sesak nafas
Gejala ini ditemukan apabila kerusakan parenkim paru sudah luas atau
karena ada hal-hal yang menyertai seperti efusi pleura,
pneumothorak,anemia, dan lain-lain.
d. Nyeri dada
Nyeri dada pada penderita tuberculosis termasuk nyeri pleuritik ringan.
Gejala ini timbul apabila sistem persyarafan di pleura terkena.




6

2. Gejala sistemik
a. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan
malam hari mirip dengan demam influenza, dengan frekuensi hilang
timbul.
b. Gejala sistemik lain
Gejala sistemik lain adalah keringat malam, anoreksia, penurunan berat
badan serta malaise. Timbulnya gejala biasanya dalam beberapa minggu
sampai beberapa bulan kemudian.

Klasifikasi
Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik,
radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini penting karena
merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi.
Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai
berikut:
1. TB Paru BTA Positif dengan kriteria:
- Dengan atau tanpa gejala klinik
- BTA positif: mikroskopik positif 2 kali, mikroskopik positif 1 kali
disokong biakan positif 1 kali atau disokong radiologik positif 1 kali.
- Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru.
2. TB Paru BTA Negatif dengan kriteria:
- Gejala klinik dan gambaran radilogik sesuai dengan TB Paru aktif
- BTA negatif, biakan negatif tetapi radiologik positif.
3. Bekas TB Paru dengan kriteria:
- Bakteriologik (mikroskopik dan biakan) negatif
- Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru.
- Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, menunjukkan serial
7

foto yang tidak berubah.
- Ada riwayat pengobatan OAT yang adekuat (lebih mendukung).
Terapi
Menurut Alsagaff (2000) tujuan pengobatan pada penderita Tuberculosis
selain untuk mengobati juga untuk mencegah kematian, mencegah kekambuhan
atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. Pengobatan
Tuberculosis terbagi menjadi 2 fase yaitu :
a. Fase insentif : 2-3 bulan
b. Fase lanjutan : 4-7 bulan
Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan.
Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah
Rifampicin, INH, Pyrasinamid, Streptomisin, dan Etambutol. Untuk obat
tambahan adalah kanamisin, kuinolon, makrolide, dan amoksilin ditambah asam
klavulanat. Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu
berdasarkan lokasi tuberkulosa, berat ringannya penyakit, hasil pemeriksaan
bakteriologik, hapusan dahak, dan riwayat pengobatan sebelumnya.
Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan
Tuberculosis yang dikenal sebagai Directly Observed Threatment Short Course
(DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen
yaitu:
a. Adanya komitmen berupa dukungan pengambil keputusan dalam
penanggulangan Tuberculosis.
b. Diagnosis Tuberculosis dilakukan melalui pemeriksaan dahak secara
mikroskopik langsung, sedangkan pemeriksaan penunjang lainnya seperti
pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang
memiliki sarana tersebut.
c. Pengobatan Tuberculosis dengan paduan OAT jangka pendek dengan
pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam
dua bulan pertama, dimana penderita harus minum obat setiap hari.
8

d. Ketersediaan obat OAT jangka pendek yang cukup.
e. Pencatatan dan pelaporan yang baku.

Pengobatan:
1. Nama obat : INH
Dosis : 1 x 400 mg
Farmakokinetik:
Diabsorbsi : dari saluran pencernaan, makanan mengurangi kecepatan
dan tingkat absorbsi
Puncak : 1 - 2 jam
Distribusi : Keseluruh jaringan tubuh dan cairan termasuk CNS,
melewati plasenta
Metabolisme : Tidak diaktifkan oleh acetylation di dalam hati
Eliminasi : waktu paruh 1 - 4 jam, 75 - 96% diekresikan dalam urin
dalam 24 jam, diekskresikan dalam air susu
Efek samping : biasanya dihubungkan dengan dosis
CNS : parestesias, perifeal neuropaty, nyeri kepala, kelemahan, tinitus, pusing,
vertigo, ataxia, somnolen, insomnia, amnesia,euphoria, toxis psikosis,
perubahan tingkah laku, depresi, kerusakan memori, hyperpireksia, halusinasi,
konvulsi, otot kejang, mimpi yang berlebihan , menstruasi
Mata : Penglihatan kabur, terganggunya penglihatan, optik neuritis, atropi
GI : Mual , muntah , epigastrium distress, mulut kering, konstipasi
Hematologi : Agranulositosis, hemolitik atau anemia aplastik, trombositopenia,
eosinophilia, methemoglobinemia
Hepatotoksisitas: panas dingin, kulit yang melepuh (mosbiliform, macula
papular, purpura, urticaria) limpadenitis, vaskulitis
Metabolik endokrin : Penurunan absorbsi vitamin B12, defisiensi pridoksin
(vitamin B6), pellagra, gynecomastia, hyperglikemia, glikosuria, hyperkalemia,
hipophosphathemia, hipokalsemia, acetonia, asidosis metabolik, proteinemia
9

Lain-lain : dyspnea, retensi urine, demam yangdisebabkan obat-obat, rematik,
lupus erythromatosus syndrome, iritasi di tempat bekas injeksi.
Implikasi perawatan :
Pengelolaan :
Obat oral INH lebih baik diberikan sebelum makan 1 - 2 jam sebelum
makanan diabsorbsi, jika terjadi iritasi GI, obat boleh diberikan bersama
makanan
Isoniazid dalam bentuk larutan disimpan dalam bentuk kristal dan
disimpan dalam temperatur yang rendah. Jika hal ini terjadi obat
disimpan ditempat yang hangat atau dalam temperatur ruangan.
Nyeri lokal sementara setelah injeksi IM, massage daerah injeksi dengan
cara memutar daerah injeksi
Obat disimpan harus ditutup rapat, temperatur 15 - 30 C kecuali
diberikan secara sebaliknya
Pengkajian /efek obat :
Tes adanya kelemahan yang tepat, sebelum pemberian therapy untuk
mendeteksi kemungkinan bakteri yang resisten
Efek therapetik biasanya menjadi jelas dalam 2 - 3 minggu pertama
pemberian therapi. Lebih dari 90% pasien yang diberikan therapi
mempunyai sputum yang berkurang setelah 6 bulan
Pemeriksaan mata
Monitor Tekanan darah selama pemberian obat
Pasien seharusnya secara hati-hati dengan interview dan diperiksa dalam
interval bulanan untuk mendeteksi dini dari tanda dan gejala
hepatotoksisitas
Therapi INH yang kontinyu setelah onset dari disfungsi hepatik
meningkatkan resiko kerusakan hati yang lebih berat
Isoniazid hepatitis (kadang-kadang fatal) biasanya berkembang selama 3
- 6 bulan pertama, tetapi mungkin terjadi setiap waktu selama pemberian
10

therapi, hal ini lebih banyak frekwensinya pada pasien dengan umur 35
tahun atau lebih atau terutama yang meminum alkohol setiap hari
Cek berat badan 2 kali seminggu, di bawah kondisi standart
Pasien DM seharusnya diabsorbsi untuk hilangnya kontrol diabetes antara
glikosuria yang nyata dan tes benedik positif; yang palsu segera
dilaporkan
Neuritis peripheral lebih banyak menimbulkan afek toksik seringkali
didahului oleh parestesikaki dan tangan. Pasien yang bebas kerentanan
meliputi (termasuk) alkoholik atau pasien denga penyakit liver,
malnutrisi, diabetik, inaktivator lambat, wanita hamil dan kekuatan.
Pendidikan kesehatan kepada keluarga dan pasien
Memeperingatkan pasien terhadap makanan yang mengandung tyramine
(keju, ikan) yang menjadi penyebab dari palpitasi, peningktan tekanan
darah.
Instruksi pasien untuk melapor kepada medis bila ada tanda dan gejala
dari perkembangan hepatotoksik
Memperingatkan pasien terhadap makanan yang mengandung histamin
(ikan tuna) yang bisa menjadi penyebab dari palpitasi memperbesar
respon obat (nyeri kepala, hipotensi,palpitasi,berkeringat, diare)
Umumnya therapi INH diberikan 6 bulan - 2 tahun untuk pengobatan
TBC yang aktif, bila digunakan untuk terapi preventif, INH diberikan 12
bulan.
2. Nama obat : Ethambutol hydrochloride
Dosis: Dewasa 15 mg/kgBB (oral), untuk pengobatan ulang mulai dengan
25 mg kg/BB/hari atau 60 hari, kemudian diturunkan sampai 15 mg/kgBB/hr
Anak: : 6 - 12 tahun: 10 - 15 mg/kgBB/hari
Farmakokinetik:
Absorbsi : 70% - 80% diabsorbsi di saluran pencernaan
Puncak 2 - 4 jam
11

Distribusi: diodistribusi ke seluruh jaringan tubuh, konsentrasi tertinggi
dalam eritrosit, ginjal, paru-paru, saliva, melalui plasenta, didistribusi
kedalam air susu.
Metabolisme: dimetabolisme dalam hati
Eliminasi : waktu paruh 3 - 4 jam, 50% diekresikan dalam urin selama 24 jam,
20 - 22 % dikeluarkan dalam feses
Efek samping :
CNS : Nyeri kepala , pening/pusing, kebingungan, halusinasi, parestesia,
neuritis peripheral, nyeri tulang sendi, kelemahan pada ekstremitas
bagian bawah
Mata : Toksisitas bola mata : neuritis retrabulbar optik, kemungkinan
neuritis anterior optik dengan penurunan dalam ketajaman penglihatan,
menyempitnya luas lapang pandang, kebutaan pada warna merah-hijau,
skotoma pada bagian pusat dan periferal, mata nyeri, fotophobia,
perdarahan dan edema retina.
Saluran pencernaan : anoreksia, mual, muntah, nyeri abdomen
Hypersensitifitas : pruritis , dermatitis, anafilaktis
Hyperuresemia, demam , malaise, leukopenia (jarang), sputum yang
mengandung darah, gangguan sementara dalam fungsi liver
(kemungkinan hepatotoksisitas), nefrotoksisitas, gout artritis akut,
abnormalitas EKG, pengeluaran keringat
Implikasi Perawatan
Ethambutol mungkin diberikan setelah makan jika iritasi saluran
pencernaan terjadi. Absorpsi tidak begitu dipengaruhi oleh makanan
dalam perut.
Lindungi ethambutol dari cahaya, kelembaman dan panas. Letakan dalam
kemasan yang tertutup rapat-rapat pada suhu 15 - 30 C kecuali kalau
diberikan langsung .
Pengkajian dan efek obat
12

Kultur dan tes kerentanan seharusnya seharusnya ditentukan sebelum
dimulainya tindakan/dan pengulangan secara periodik pada terapi secara
keseluruhan .
Toksisitas okuli secara umum kelihatan dalam 1 - 7 bulan setelah
dimulainya tyerapi. Gejala biasanya tidak tampak selama beberapa
minggu sampai beberapa bulan setelah obat tidak dilanjutkan
Uji opthalmoskopik meliputi tes luas lapang pandang , tes untuk
ketajaman penglihatan menggunakan kertas mata, dan tes untuk
penggolongan diskriminasi warna seharusnya ditentukan lebih dulu untuk
memulai therapi dan dalam interval bulanan selama therapi. Mata
seharusnya dites secara terpisah sama baiknya secara bersama-sama
Monitor rasio input dan output pada pasien dengan kerusakan ginjal .
Laporkan adanya oliguria atau perubahan yang penting pada ratio atau
dalam laporan laboratorium tentang fungsi ginjal. Akumulasi sistemik
dengan toksisitas dapat dihasilkan dari ekresi obat-obat yang lambat
Tes fungsi ginjal dan hepatik, hitung sel darah dan determinan serum
asam urat seharusnya ditentukan dalam interval yang teratur pada terapi
secara menyeluruh.
Pendidikan pasien dan keluarga
Secara umum, therapi dapat berlanjut selama 1-2 terapi lebih lama,
meskipun teraturnya pengobatan yang lebih pendek bisa digunakan
dengan baik
Jika pasien hamil, selama pengobatan sarankan untuk melaporkan pada
dokter dengan segera . Obat seharusnya tersendiri.
Sarankan pasien untuk melaporkan dengan tepat pada dokter tentang
kejadian mengaburnya pandangan , perubahan persepsi warna,
mengecilnya luas lapang pandang , beberapa gejala penglihatan lainnya.
Pasien seharusnya secara periodik ditanyakan tentang matanya
Jika dideteksi secara dini, defek visual secara umum tidak kelihatan lebih
13

dari beberapa minggu sampai beberapa bulan. Pada beberapa instansi
(jarang), pemulihan mungkin lambat. Selama setahun atau lebih atau
defek mungkin irreversibel.
3. Nama obat : Rifampisin
Dosis : 1 x 450 mg
Farmakokinetik:
Absorbsi: Dengan mudah diabsorbsi di saluran pencernaan
Puncak: 2 - 4 jam
Distribusi : didistribusikan kemana-mana meliputi CSF, melalui plasenta,
didistribusikan ke dalam air susu
Metabolisme: Dimetabolisme dalam liver untuk metabolisme aktif dan
inaktif siklus enterohepatik
Eliminasi : Waktu paruh 3 jam. Sampai 30 % diekresikan dalam urin 60% - 65%
dalam feses
Efek samping :
CNS: fatigue, drowsiness, nyeri kepala, ataxia, kebingungan, pusing,
ketidak mampuan berkonsentrasi, mati rasa secara umum, nyeri pada
ekstremitas, kelemahan otot, gangguan penglihatan , konjungtivitis,
hilangnya pendengaran frekuensi rendah, secara sementara.
GI : heart burn, distress epigastrium, mual, muntah, anoreksia, flaturens,
kram, diare, kolitis pseudomembran
Hematologi : Trombositopenia, leukopeni sementara, anemia, meliputi (termasuk)
anemia hemolitik
Hypersensitivitas : panas, pruritis, urtikaria, erupsi kulit, rasa sakit pada mulut dan
lidah, eosinophilia, hemolisis
Ginjal : hemoglobinuria, hematuria, Akut Renal Failure
Lain-lain: hemoptisis, light-chain proteinuria, sindrom flulike, gangguan
menstruasi, sindroma hepatorenal (dengan terapi intermitten). Peningkatan
14

sementara pada tes fungsi hati (bilirubin, BSP, alkaline fosfatase,ALT,AST),
pankreatitis
Overdosis: Gejala GI, meningkatnya lethargi, pembesaran liver dan pengerasan,
jaundice, berkeringat, saliva, air mata, feces
Implikasi Perawatan
Kapsul bisa dibuka diisi dan diminum/diteguk dengan air atau dicampur
dengan makanan
Suspensi oral dapat disiapkan dari kapsul untuk digunakan pada pasien
pediatri
Berikan 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan. Puncak dari tingkat serum
diperlambat dan mungkin agak rendah ketika diberikan dengan makanan
Pengawetan seharusnya dijaga dalam kapsul yang dikemas dalam botol ,
dapat menjadi tidak stabil dalam keadaan lembab
Pengkajian dan efek obat
Tes serologi dan kerentanan seharusnya ditentukan paling utama selama dan
dalam keadaan / waktu kultur positif
Disarankan tes fungsi hepatik secara periodik . Pasien dengan penyakit hepar
harus dimonitor secara tertutup (closely)
Jika pasien juga mendapat anti koagulan , waktu protrombin seharusnya
ditentukan secara harian atau seringkali untuk membuat dan menjaga
aktifitas antikoagulan
Pendidikan kepada pasien dan keluarga
Informasikan kepada pasien bahwa obat bisa memberi warna pada urin
merah -oranye, feces, sputum, keringat dan air mata. Terutama yang
menggunakan kontak lensa atau kaca berwarna lainnya yang permanen
Pasien dengan kontrasepsi oral, seharusnya mempertimbangkan alternatif
metode-metode kontrasepsi. Hal-hal yang sama menggunakan Rimfapisin
dan kontrasepsi oral menurunkan keefektifan dari kontrasepsi dan untuk
gangguan menstruasi (spotting, perdarahan)
15

Perhatikan pasien agar menjaga obat dari jangkauan anak-anak

4. Nama obat : Pyrazinamide
Dosis : 2 x 500 mg
Farmakokinetik :
Absorbsi : Langsung diabsorpsi dari saluran pencernaan
Puncak : 2 jam
Distribusi : Melewati barier darah otak
Metabolisme : di metabolisme di hati
Eliminasi : waktu paruh 9 - 10 jam, diekresikan secara perlahan-lahan di
dalam urin
Efek samping :
Astralgia, aktif gout, kesulitan dalam kencing, nyeri kepala, fotosensitif, urtikaria,
skin rash (jarang), anemia hemolitik, splenomegali, limphadenopathy, hemoptisis,
peptik ulser, uric asid dalam serum, hepatotoksik, tes fungsi ginjal yang abnormal,
penurunan plasma protrombin.
Implikasi perawatan
Obat seharusnya tidak dilanjutkan jika ada reaksi hepar (jaundice,pruritis,
sklera ikterik, yellow skin) atau hyperursemia dan akut gout
Tempatkan dalam tempat tertutup (suhu 15 - 13 C)
Efek obat
Pasien harus diobservasi dan mendapat petunjuk dari supervisi medis
Pasien harus diperiksa secara teratur , dan kemungkinan adanya tanda toksik:
pembesaran hepar, jaundice, kerusakan integritas vaskuler (echymosis,
ptekie, perdarahan abnormal)
Reaksi hepar lebih sering terjadi pada pasien yang diberikan dosis tinggi
Tes fungsi liver (AST, ALT, serum bilirubin) harus diperiksa 2-4 minggu
selama terapi

16

Pendidikan kesehatan kepada pasien dalam keluarga
Laporkan adanya kesulitan dalam pengosongan
Pasien seharusnya berkeinginan untuk intake cairan 2000 ml/hari jika
memungkinkan
Pasien dengan diabetes melitus seharusnya terbuka untuk memonitor dan
meminta saran terhadap kemungkinan kehilangan kontrol glikemia
5. Nama obat : Aldactone
Dosis : 2 x 100 mg
Farmakokinetik :
Absorbsi : 73% disaluran pencernaan, onset : perlahan-lahan.
Puncak : 2-3 hari , max. efeknya 2 minggu.
Durasi : 2-3 hari atau lebih.
Distribusi : melalui placenta, didistribusikan melalui air susu.
Metabolisme : di hati dan di ginjal.
Eliminasi : Waktu paruh : 1,3 - 2,4 Jam parent kompound, 18 - 32 jam
dimetabolisme, 40 - 57% di ekskresikan didalam urin , 35 - 40% di dalam
empedu.
Efek samping :
Letargi, Fatique(penurunan BB yang cepat), nyeri kepala dan ataksia.
Endokrin : genekomastik, ketidakmampuan untuk mempertahankan ereksi ,
efek endogenik (ketidakteraturan mens, hersutisme, suara dalam) ,
berubahnya para tyroid, menurunnya glukosetoleransi .
GI : Kram abdominal, nausea, muntah, anoreksia, diare.
Kulit : Makulopapular, erythematosus rash, urtikaria.
Lain-lain: Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (hiperkalemia,
hiponatremia), peningkatan BUN, asidosis, agranulasitosis, SLE,
hipertensi(post sympatectomi) , hiperurecemia, Gout.


17

Implikasi perawatan :
Pengelolaan :
Berikan dengan makanan untuk mempertinggi absorbsi makanan.
Haluskan tablet sebelum diberikan dengan cairan yang dipilih oleh pasien.
Obat disimpan dalam tempat tertutup, dalam kemasan tahan cahaya, dalam
bentuk suspensi lebih tahan dalam waktu I bulan dibawah refrigeration.
Pengkajian dan efek otot :
Cek tekanan darah sebelum diberikan terapi.
Serum elektrolit harus dimonitor, terutama selama permulaan terapi dan
siapkan bila ada tanda-tanda ketidak seimbangan elektrolit.
Monitor intake dan output setiap hari dan cek adanya edema, laporkan
kekurangan respon diuretik atau perkembangan odem.
Laporkan bila ada efek perubahan mental, letargi, stupor pada pasien dengan
penyakit hati.
Reaksi yang merugikan, terjadi reversibel yang umum dengan tidak
dilanjutkan obat. Ginekomastik yang dihubungkan dengan dosis dan durasi
terapi. Ini semua dilakukan walaupun obat telah dihentikan.

Komplikasi Pneumothorax pada Tuberkulosis Paru
Pneumothorax adalah keadaan dimana terdapat udara dalam rongga pleura.
Normalnya pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru leluasa mengembang
terhadap rongga dada. Udara masuk dalam rongga pleura melalui 3 jalan, yakni:
1. Udara atmosfir masuk ke dalam rongga pleura melalui penetrasi di dinding
dada misalnya pada trauma (pneumothorax traumatik).
2. Pembentukan gas oleh mikroorganisme dalam dinding pleura pada penyakit
ifeksi paru (pneumothorax spontan)
3. Pneumothorax artifisial yang sengaja dilakukan melalui tidakan pembedahan
pada trauma.
18

Penumothorax pada TB paru merupakan pneumothorax spontan yang
timbul akibat nekrosis jaringan yang menjalar sampai pinggir jaringan parut
parenkim paru, membentuk bulla yang selanjutnya robek ke dalam pleura.

Gejala Klinis Pneumothorax:
Keluhan dan gejala penumothorax tergantung pada besarnya lesi dan ada
tidaknya komplikasi penyakit paru. Gejala bervariasi dari asimtomatik yang hanya
dapat dideteksi melalui foto thorax sampai timbulnya gejala utama berupa rasa
nyeri tiba-tiba dan bersifat unilateral. Pada pemeriksaan fisik didapatkan perkusi
yang hipersonor, fremitus melemah sampai menghilang, suara napas melemah
sampai menghilang pada sisi yang sakit.
Pada lesi yang lebih besar atau pada tension pneumothorax trakea dan
mediastinum dapat terdorong ke sisi kontralateral. Diafragma tertekan ke bawah,
pada sisi yang sakit gerakan pernapasan terbatas. Fungsi respirasi menurun
sehingga dapat terjadi hipoksemia arterial dan curah jantung menurun.
Di samping berdasarkan gambaran klinis di atas, diagnosis dapat lebih
meyakinkan melalui foto thorax dengan tampaknya bayangan udara dari
pneumothorax yang berbentuk cembung dan memisahkan pleura parietalis dengan
pleura viseralis.

Tes Diagnostik
Tes diagnostik yang dilakukan diuraikan pada tabel berikut:
Jenis Pemeriksaan Interpretasi Hasil
Sputum:
-Kultur




-Ziehl-Neelsen

Mycobacterium tuberculosis positif pada
tahap aktif, penting untuk menetapkan
diagnosa pasti dan melakukan uji kepekaan
terhadap obat.

BTA positif
19


Tes Kulit (PPD, Mantoux, Vollmer)




Foto thorax





Histologi atau kultur jaringan
(termasuk bilasan lambung, urine,
cairan serebrospinal, biopsi kulit)

Biopsi jarum pada jaringan paru

Darah:
-LED




-Limfosit


-Elektrolit


-Analisa Gas Darah

Tes faal paru



Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau
lebih) menunjukkan infeksi masa lalu dan
adanya antibodi tetapi tidak berarti untuk
menunjukkan keaktivan penyakit.

Dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada
area paru, simpanan kalsium lesi sembuh
primer, efusi cairan, akumulasi udara, area
cavitas, area fibrosa dan penyimpangan
struktur mediastinal.

Hasil positif dapat menunjukkan serangan
ekstrapulmonal


Positif untuk gralunoma TB, adanya giant cell
menunjukkan nekrosis.

Indikator stabilitas biologik penderita, respon
terhadap pengobatan dan predeksi tingkat
penyembuhan. Sering meningkat pada proses
aktif.

Menggambarakan status imunitas penderita
(normal atau supresi)

Hiponatremia dapat terjadi akibat retensi
cairan pada TB paru kronis luas.

Hasil bervariasi tergantung lokasi dan
beratnya kerusakan paru
Penurunana kapasitas vital, peningkatan ruang
mati, peningkatan rasio udara residu dan
kapasitas paru total, penurunan saturasi
oksigen sebagai akibat dari infiltrasi
parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru
dan penyaki pleural
20

ASUHAN KEPERAWATAN
Data-data yang perlu dikaji pada asuhan keperawatan dengan Tuberculosis adalah
sebagai berikut ( Doengoes, 2000) :
1. Riwayat perjalanan penyakit
a. Pola aktivitas dan istirahat
Subyektif : rasa lemah, cepat lelah, pada aktivitas yang berat timbul sesak
nafas, sulit tidur, demam menggigil, berkeringat pada malam
hari.
Obyektif : Takikardia, dispneu, demam naik turun.
b. Pola Nutrisi
Subyektif : Anoreksia, mual, rasa tidak enak di perut, penurunan berat
badan
Obyektif : Turgor kulit jelek, kehilangan lemak sub kutan.
c. Respirasi
Subyektif : Batuk produktif atau non produktif, sesak nafas, nyeri dada.
Obyektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau atau
purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe,
terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di bagian apeks paru, takipneu, sesak
nafas, pengembangan pernafasan tidak simetris, perkusi pekak dan
penurunan fremitus (cairan pleural).
d. Rasa nyaman atau nyeri
Subyektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang
Obyektif : Gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke
pleura sehingga timbul pleuritis.
e. Integritas ego
Subyektif : Faktor stress lama, perasaan tak berdaya atau tak ada harapan
Obyektif : Menyangkal (pada tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah
tersinggung.

21

f. Interaksi sosial
Subyektif : Perasaan isolasi karena penyakit menular, perubahan kapasitas
fisik dalam melaksanakan peran.
Obyektif : Takut untuk berkomunikasi dengan orang lain.
2. Riwayat penyakit sebelumnya
a. Pernah sakit batuk yang lama dan tidak sembuh-sembuh.
b. Pernah berobat tetapi tidak sembuh.
c. Pernah berobat tetapi tidak teratur.
d. Riwayat kontak dengan penderita Tuberculosis.
e. Daya tahan tubuh yang menurun.
3. Riwayat pengobatan sebelumnya
a. Kapan pasien mendapatkan pengobatan sehubungan dengan sakitnya.
b. Berapa lama pasien menjalani pengobatan sehubungan dengan
penyakitnya.
c. Kapan pasien mendapatkan pengobatan terakhir.
4. Riwayat sosial ekonomi
a. Riwayat pekerjaan : jenis pekerjaan, dan tempat bekerja
b. Aspek psikososial : merasa dikucilkan, tidak dapat berkomunikasi dengan
bebas, menarik diri, biasanya terjadi pada keluarga tidak mampu, untuk
sembuh memerlukan waktu lama dan biaya yang banyak, tidak
bersemangat dan putus harapan.
5. Faktor pendukung
a. Riwayat lingkungan
b. Pola hidup : nutrisi, kebiasaan merokok, minum alhohol, pola istirahat dan
tidur, kebersihan diri.
c. Tingkat pengetahuan atau pendidikan pasien dan keluarga tentang
penyakit, pencegahan, pengobatan, dan perawatannya.


22

Pendidikan pasien dan keluarga :
Informasikan pada pasien dan keluarga efek obat deuretik yang maksimal
mungkin tidak terjadi sampai 3 hari pemberian terapi. Dan deuretik kontinue
untuk 2-3 hari setelah obat dihentikan.
Intruksikan pasien untuk melaporkan tanda dari hiponatremi, yang lebih
sering terjadi pada pasien dengan serosis berat.
Umumnya pasien harus menghindarkan intake yang belebihan dari makanan
yang tinggi potasium dan garam.

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN TIMBUL :
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi
sputum.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler
alveolar.
3. Fatique berhubungan dengan kondisi sakit
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat.
5. Hipertermi berhubungan dengan adanya peradangan di saluran nafas.
6. Resiko infeksi




23

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN TUBERKULOSIS PARU
No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan criteria
Hasil
Intervensi
1 Bersihan Jalan Nafas
tidak Efektif

Definisi : Ketidakmampuan
untuk membersihkan sekresi
atau obstruksi dari saluran
pernafasan untuk
mempertahankan kebersihan
jalan nafas.

Batasan Karakteristik :
- Dispneu, Penurunan
suara nafas
- Orthopneu
- Cyanosis
- Kelainan suara nafas
(rales, wheezing)
- Kesulitan berbicara
- Batuk, tidak efekotif
atau tidak ada
- Mata melebar
- Produksi sputum
- Gelisah
- Perubahan frekuensi
dan irama nafas

Faktor-faktor yang
berhubungan:
- Lingkungan : merokok,
menghirup asap rokok,
perokok pasif-POK,
infeksi
- Fisiologis : disfungsi
neuromuskular,
hiperplasia dinding
bronkus, alergi jalan
nafas, asma.
- Obstruksi jalan nafas :
spasme jalan nafas,
sekresi tertahan,
banyaknya mukus,
adanya jalan nafas
NOC :
Respiratory status :
Ventilation
Respiratory status :
Airway patency
Aspiration Control

Kriteria Hasil :
Mendemonstrasikan
batuk efektif dan
suara nafas yang
bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu
(mampu
mengeluarkan
sputum, mampu
bernafas dengan
mudah, tidak ada
pursed lips)
Menunjukkan jalan
nafas yang paten
(klien tidak merasa
tercekik, irama
nafas, frekuensi
pernafasan dalam
rentang normal,
tidak ada suara nafas
abnormal)
Mampu
mengidentifikasikan
dan mencegah factor
yang dapat
menghambat jalan
nafas
NIC :
Airway Management
(manajemen jalan napas)
Buka jalan nafas, guanakan
teknik chin lift atau jaw thrust
bila perlu
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas
buatan
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika
perlu
Keluarkan sekret dengan
batuk atau suction
Auskultasi suara nafas, catat
adanya suara tambahan
Lakukan suction pada mayo
Berikan bronkodilator bila
perlu
Berikan pelembab udara
Kassa basah NaCl Lembab
Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
Monitor respirasi dan status
O2
Airway suction (suction jalan
napas)
Pastikan kebutuhan oral /
tracheal suctioning
Auskultasi suara nafas
sebelum dan sesudah
suctioning.
Informasikan pada klien dan
keluarga tentang suctioning
Minta klien nafas dalam
sebelum suction dilakukan.
Berikan O2 dengan
24

buatan, sekresi
bronkus, adanya
eksudat di alveolus,
adanya benda asing di
jalan nafas.

menggunakan nasal untuk
memfasilitasi suksion
nasotrakeal
Gunakan alat yang steril
sitiap melakukan tindakan
Anjurkan pasien untuk
istirahat dan napas dalam
setelah kateter dikeluarkan
dari nasotrakeal
Monitor status oksigen pasien
Ajarkan keluarga bagaimana
cara melakukan suksion
Hentikan suksion dan berikan
oksigen apabila pasien
menunjukkan bradikardi,
peningkatan saturasi O2, dll.


2 Gangguan Pertukaran gas

Definisi : Kelebihan atau
kekurangan dalam
oksigenasi dan atau
pengeluaran karbondioksida
di dalam membran kapiler
alveoli

Batasan karakteristik :
Gangguan penglihatan
Penurunan CO2
Takikardi
Hiperkapnia
Keletihan
somnolen
Iritabilitas
Hypoxia
kebingungan
Dyspnoe
nasal faring
AGD Normal
sianosis
warna kulit abnormal
(pucat, kehitaman)
Hipoksemia
hiperkarbia
sakit kepala ketika
bangun
frekuensi dan kedalaman
NOC :
Respiratory Status :
Gas exchange
Respiratory Status :
ventilation
Vital Sign Status
Kriteria Hasil :
Mendemonstrasikan
peningkatan
ventilasi dan
oksigenasi yang
adekuat
Memelihara
kebersihan paru
paru dan bebas dari
tanda tanda distress
pernafasan
Mendemonstrasikan
batuk efektif dan
suara nafas yang
bersih, tidak ada
sianosis dan
dyspneu (mampu
mengeluarkan
sputum, mampu
bernafas dengan
mudah, tidak ada
pursed lips)
Tanda tanda vital
dalam rentang
NIC :
Airway Management
(manajemen jalan napas)
Buka jalan nafas, guanakan
teknik chin lift atau jaw thrust
bila perlu
Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
Identifikasi pasien perlunya
pemasangan alat jalan nafas
buatan
Pasang mayo bila perlu
Lakukan fisioterapi dada jika
perlu
Keluarkan sekret dengan
batuk atau suction
Auskultasi suara nafas, catat
adanya suara tambahan
Lakukan suction pada mayo
Berika bronkodilator bial
perlu
Barikan pelembab udara
Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
Monitor respirasi dan status
O2

25

nafas abnormal

Faktor faktor yang
berhubungan :
ketidakseimbangan
perfusi ventilasi
perubahan membran
kapiler-alveolar
normal
Respiratory Monitoring
(monitor pernapasan)
Monitor rata rata,
kedalaman, irama dan usaha
respirasi
Catat pergerakan dada,amati
kesimetrisan, penggunaan
otot tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan
intercostal
Monitor suara nafas, seperti
dengkur
Monitor pola nafas :
bradipena, takipenia,
kussmaul, hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
Catat lokasi trakea
Monitor kelelahan otot
diagfragma (gerakan
paradoksis)
Auskultasi suara nafas, catat
area penurunan / tidak adanya
ventilasi dan suara tambahan
Tentukan kebutuhan suction
dengan mengauskultasi
crakles dan ronkhi pada jalan
napas utama
auskultasi suara paru setelah
tindakan untuk mengetahui
hasilnya

Terapi oksigen
Monitor TD, nadi, suhu, dan
RR
Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau berdiri
Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
Monitor TD, nadi, RR,
sebelum, selama, dan setelah
aktivitas
Monitor kualitas dari nadi
Monitor adanya pulsus
paradoksus
26

Monitor adanya pulsus alterans
Monitor jumlah dan irama
jantung
Monitor bunyi jantung
Monitor frekuensi dan irama
pernapasan

Acid Base Management
(manejemen asam basa)
Monitro IV line
Pertahankanjalan nafas paten
Monitor AGD, tingkat
elektrolit
Monitor status
hemodinamik(CVP, MAP,
PAP)
Monitor adanya tanda tanda
gagal nafas
Monitor pola respirasi
Lakukan terapi oksigen
Monitor status neurologi
Tingkatkan oral hygiene

Vital sign Monitoring (monitor
tanda-tanda vital)
Monitor TD, nadi, suhu, dan
RR
Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
Monitor VS saat pasien
berbaring, duduk, atau berdiri
Auskultasi TD pada kedua
lengan dan bandingkan
Monitor kualitas dari nadi
Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
Monitor suara paru
Monitor pola pernapasan
abnormal
Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign


27

3 fatigue
Definisi : berlebihannya
perasaan kelelahan dan
penurunan kapasitas untuk
kerja fisik dan mental pada
tingkat yang biasanya.
Batasan karakteristik :
ketidakmampuan untuk
mengembalikan energi
meskipun setelah tidur
kurang energi atau
ketidakmampuan untuk
mempertahankan
aktivitas fisik pada
tingkat biasanya.
Peningkatan kebutuhan
istirahat.
Kelelahan.
Verbalisasi kekurangan
energi yang berlebihan.
Ketidakmampuan untuk
mempertahankan
kebiasaan rutin.
Letargi atau listless.
Peningkatan keluhan
fisik.
Kebutuhan tambahan
energi untuk melakukan
tugas rutin.
Penurunan konsentrasi.
Penurunan kemampuan.
Penurunan libido.
Penurunan ketertarikan
pada lingkungan sekitar,
introspeksi.
Perasaan bingung tidak
mampu menjaga
tanggung jawab.
Faktor yang berhubungan:
Psikologis
- Gaya hidup
membosankan
- Stress
- Cemas
- depresi
Lingkungan
- Kelembaban
- Cahaya
NOC :
Endurance (ketahanan)
Konservasi energi
Status energi : energi
Kriteria Hasil :
secara verbal
menyatakan
peningkatan energi
dan peningkatan
kesejahteraan.
Menjelaskan rencana
konservasi energi
untuk menghilangkan
kelelahan.
NIC :
Energy Management
(manajemen energi)
Observasi adanya
pembatasan klien dalam
melakukan aktivitas
Dorong anak untuk
mengungkapkan perasaan
terhadap keterbatasan
Kaji adanya factor yang
menyebabkan kelelahan
Monitor nutrisi dan sumber
energi tangadekuat
Monitor pasien akan adanya
kelelahan fisik dan emosi
secara berlebihan
Monitor respon kardivaskuler
terhadap aktivitas
Monitor pola tidur dan
lamanya tidur/istirahat pasien

28

- Kegaduhan
- Temperatur
Situasional
- Kejadian hidup yang
tidak menyenangkan
- Pekerjaan
Fisiologis
- Gangguan tidur
- Kehamilan
- Kondisi fisik buruk
- Kondisi sakit
- Peningkatan latihan
fisik
- Malnutrisi
- anemia

4 Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

Definisi : Intake nutrisi
tidak cukup untuk keperluan
metabolisme tubuh.

Batasan karakteristik :
- Berat badan 20 % atau
lebih di bawah ideal
- Dilaporkan adanya intake
makanan yang kurang
dari RDA (Recomended
Daily Allowance)
- Membran mukosa dan
konjungtiva pucat
- Kelemahan otot yang
digunakan untuk
menelan/mengunyah
- Luka, inflamasi pada
rongga mulut
- Mudah merasa kenyang,
sesaat setelah mengunyah
makanan
- Dilaporkan atau fakta
adanya kekurangan
makanan
- Dilaporkan adanya
perubahan sensasi rasa
- Perasaan
ketidakmampuan untuk
NOC :
Nutritional Status :
food and Fluid
Intake

Kriteria Hasil :
Adanya peningkatan
berat badan sesuai
dengan tujuan
Berat badan ideal
sesuai dengan tinggi
badan
Mampu
mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda
tanda malnutrisi
Tidak terjadi
penurunan berat
badan yang berarti
NIC :
Nutrition Management
(manajemen nutrisi)
Kaji adanya alergi makanan
Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien.
Anjurkan pasien untuk
meningkatkan intake Fe
Anjurkan pasien untuk
meningkatkan protein dan
vitamin C
Berikan substansi gula
Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat
untuk mencegah konstipasi
Berikan makanan yang
terpilih (sudah
dikonsultasikan dengan ahli
gizi)
Ajarkan pasien bagaimana
membuat catatan makanan
harian.
Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan
29

mengunyah makanan
- Miskonsepsi
- Kehilangan BB dengan
makanan cukup
- Keengganan untuk
makan
- Kram pada abdomen
- Tonus otot jelek
- Nyeri abdominal dengan
atau tanpa patologi
- Kurang berminat
terhadap makanan
- Pembuluh darah kapiler
mulai rapuh
- Diare dan atau
steatorrhea
- Kehilangan rambut yang
cukup banyak (rontok)
- Suara usus hiperaktif
- Kurangnya informasi,
misinformasi

Faktor-faktor yang
berhubungan :
Ketidakmampuan
pemasukan atau mencerna
makanan atau mengabsorpsi
zat-zat gizi berhubungan
dengan faktor biologis,
psikologis atau ekonomi.

Nutrition Monitoring (monitor
nutrisi)
BB pasien dalam batas
normal
Monitor adanya penurunan
berat badan
Monitor tipe dan jumlah
aktivitas yang biasa
dilakukan
Monitor interaksi anak atau
orangtua selama makan
Monitor lingkungan selama
makan
Jadwalkan pengobatan dan
tindakan tidak selama jam
makan
Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
Monitor turgor kulit
Monitor kekeringan, rambut
kusam, dan mudah patah
Monitor mual dan muntah
Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan kesukaan
Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat, kemerahan,
dan kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor kalori dan intake
nuntrisi
Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oral.
Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet

5 Hipertermia

Definisi : suhu tubuh naik
diatas rentang normal

Batasan Karakteristik:
kenaikan suhu tubuh
diatas rentang normal
NOC : Thermoregulation
Kriteria Hasil :
Suhu tubuh dalam
rentang normal
Nadi dan RR dalam
rentang normal
Tidak ada perubahan
NIC :
Fever treatment (penanganan
panas)
Monitor suhu sesering
mungkin
Monitor IWL
Monitor warna dan suhu kulit
30

serangan atau konvulsi
(kejang)
kulit kemerahan
pertambahan RR
takikardi
saat disentuh tangan
terasa hangat

Faktor faktor yang
berhubungan :
- penyakit/ trauma
- peningkatan
metabolisme
- aktivitas yang
berlebih
- pengaruh
medikasi/anastesi
- ketidakmampuan/pe
nurunan kemampuan
untuk berkeringat
- terpapar
dilingkungan panas
- dehidrasi
- pakaian yang tidak
tepat
warna kulit dan tidak
ada pusing, merasa
nyaman
Monitor tekanan darah, nadi
dan RR
Monitor penurunan tingkat
kesadaran
Monitor WBC, Hb, dan Hct
Monitor intake dan output
Berikan anti piretik
Berikan pengobatan untuk
mengatasi penyebab demam
Selimuti pasien
Lakukan tapid sponge
Berikan cairan intravena
Kompres pasien pada lipat
paha dan aksila
Berikan pengobatan untuk
mencegah terjadinya
menggigil

Temperature regulation
(pengaturan suhu)
Monitor suhu minimal tiap 2
jam
Rencanakan monitoring suhu
secara kontinyu
Monitor TD, nadi, dan RR
Monitor warna dan suhu kulit
Monitor tanda-tanda
hipertermi dan hipotermi
Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi
Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
Ajarkan pada pasien cara
mencegah keletihan akibat
panas
Diskusikan tentang
pentingnya pengaturan suhu
dan kemungkinan efek
negatif dari kedinginan
Beritahukan tentang indikasi
terjadinya keletihan dan
penanganan emergency yang
diperlukan
Ajarkan indikasi dari
hipotermi dan penanganan
31

yang diperlukan
Berikan anti piretik jika perlu
6 Resiko infeksi

Definisi : Peningkatan
resiko masuknya organisme
patogen

Faktor-faktor resiko :
- Prosedur Infasif
- Ketidakcukupan
pengetahuan untuk
menghindari paparan
patogen
- Trauma
- Kerusakan jaringan dan
peningkatan paparan
lingkungan
- Ruptur membran
amnion
- Agen farmasi
(imunosupresan)
- Malnutrisi
- Peningkatan paparan
lingkungan patogen
- Imonusupresi
- Ketidakadekuatan imum
buatan
- Tidak adekuat
pertahanan sekunder
(penurunan Hb,
Leukopenia, penekanan
respon inflamasi)
- Tidak adekuat
pertahanan tubuh
primer (kulit tidak utuh,
trauma jaringan,
penurunan kerja silia,
cairan tubuh statis,
perubahan sekresi pH,
perubahan peristaltik)
- Penyakit kronik
NOC :
Immune Status
Knowledge :
Infection control
Risk control
Kriteria Hasil :
Klien bebas dari tanda
dan gejala infeksi
Mendeskripsikan
proses penularan
penyakit, factor yang
mempengaruhi
penularan serta
penatalaksanaannya,
Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah timbulnya
infeksi
Jumlah leukosit dalam
batas normal
Menunjukkan
perilaku hidup sehat

NIC :
Infection Control (Kontrol
infeksi)
Bersihkan lingkungan setelah
dipakai pasien lain
Pertahankan teknik isolasi
Batasi pengunjung bila perlu
Instruksikan pada
pengunjung untuk mencuci
tangan saat berkunjung dan
setelah berkunjung
meninggalkan pasien
Gunakan sabun antimikrobia
untuk cuci tangan
Cuci tangan setiap sebelum
dan sesudah tindakan
kperawtan
Gunakan baju, sarung tangan
sebagai alat pelindung
Pertahankan lingkungan
aseptik selama pemasangan
alat
Ganti letak IV perifer dan
line central dan dressing
sesuai dengan petunjuk
umum
Gunakan kateter intermiten
untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
Tingktkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotik bila
perlu

Infection Protection (proteksi
terhadap infeksi)
Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
Monitor hitung granulosit,
WBC
Monitor kerentanan terhadap
infeksi
Batasi pengunjung
Saring pengunjung terhadap
penyakit menular
Partahankan teknik aspesis
32

pada pasien yang beresiko
Pertahankan teknik isolasi k/p
Berikan perawatan kuliat
pada area epidema
Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
Ispeksi kondisi luka / insisi
bedah
Dorong masukkan nutrisi
yang cukup
Dorong masukan cairan
Dorong istirahat
Instruksikan pasien untuk
minum antibiotik sesuai resep
Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
Ajarkan cara menghindari
infeksi
Laporkan kecurigaan infeksi
Laporkan kultur positif

















33




Daftar Pustaka


Alsagaff, Hood. 2000. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga
University Press.

Amin, M. 2001. Pengantar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga University
Press.

Brunner & Suddart. 2003. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta

Corwin, E.J. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

NANDA International. (2010) . Diagnosis Keperawatan : definisi dan klasifikasi
2009-2011. Jakarta : EGC .

Doengoes, Marilyn, E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien: Edisi III. Jakarta:
EGC.

FKUI. 2003. Buku Ajar Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI.

Johnson, Marion . (2000) . Nursing Outcomes Classification / NOC . Missouri :
Mosby Inc.
Mc. Closkey, Joane C . (1996) . Nursing Interventions Classification / NIC .
Missouri : Mosby Inc.

Soeparman. 2000. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI.


.






34