Vous êtes sur la page 1sur 18

AKHLAQ BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI

Ibadah dan Akhlak


M. Ridho Taufik M.Pd

Disusun Oleh:
Yosi Mutiara Pertiwi 13513175

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

2013/2014
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan Allah SWT, karena atas berkat dan limpahan
rahmatNya lah penulis mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul Akhlaq Berdamai
dengan Diri Sendiri.
Makalah ini disusun guna melenggkapi nilai pada mata kuliah Ibadah dan Akhlak.
Selama pembuatan makalah ini penulis banyak mendapat pengalaman dan pelajaran meliputi
akhlaq berdamai dengan diri sendiri. Judul ini penulis pilih karena dapat memberikan
manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari serta menemukan kehidupan yang lebih baik
lagi kedepannya.
Dalam pembuatan makalah ini penulis tidak menemukan kesulitan karena penulis
banyak dibantu oleh berbagai pihak. Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen
pengampu, serta kepada teman-teman yang telah turut serta andil.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak ke kekurangan dalam laporan ini.
Oleh karena iu selaku penulis mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya. Kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat penulis terima agar kelak penulis mampu
memperbaikinya.Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat adanya bagi pembaca pada
umumnya dan penulis pada khususnya




Yogyakarta, Juni 2014



Penulis

Daftar Isi

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 2
BAB I ..................................................................... Error! Bookmark not defined.
PENDAHULUAN ................................................ Error! Bookmark not defined.
I.1. Latar Belakang ............................................. Error! Bookmark not defined.
I.2. Tujuan .......................................................... Error! Bookmark not defined.
BAB II ................................................................... Error! Bookmark not defined.
PEMBAHASAN ................................................... Error! Bookmark not defined.
II.1. Pengertian Shalat ........................................ Error! Bookmark not defined.
II.2. Perintah Shalat ............................................ Error! Bookmark not defined.
II.3. Hikmah Shalat ............................................ Error! Bookmark not defined.
BAB III .................................................................. Error! Bookmark not defined.
PENUTUP ............................................................. Error! Bookmark not defined.
III.1. KESIMPULAN ......................................... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA ........................................... Error! Bookmark not defined.















BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Akhlak terhadap diri sendiri pada dasarnya mutlak diperlukan oleh semua manusia utamanya bagi
seluruh umat muslim. Seorang muslim adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Siapapun dia, seorang
muslim tentu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah diperbuat terhadap dirinya
sendiri. Oleh karena itulah, Islam memandang bahwa setiap muslim harus menunaikan etika dan
akhlak yang baik terhadap dirinya sendiri, sebelum ia berakhlak yang baik terhadap orang lain. Dan
ternyata hal ini sering dilalaikan oleh kebanyakan kaum muslimin.
Secara garis besar, akhlak seorang muslim terhadap dirinya dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
terhadap fisiknya, terhadap akalnya, dan terhadap hatinya. Karena memang setiap insan memiliki
tiga komponen tersebut dan kita dituntut untuk memberikan hak kita terhadap diri kita sendiri
dalam ketiga unsur yang terdapat dalam dirinya tersebut. Namun, tanpa disadari seseorang telah
berakhlak tidak baik pada dirinya sendiri. Misalnya saja merokok, seorang perokok bisa dikatakan
berakhlak tidak baik pada dirinya sendiri. Karena dengan merokok, lama kelamaan akan
menyebabkan paru-paru menjadi rusak dan hal itu sama artinya dengan kita tidak menjaga tubuh
kita dengan baik atau berakhlak tidak baik pada diri sendiri. Ada satu hal yang kerap kali dilakukan
oleh seseorang yang menurut pelakunya adalah hal biasa namun hal tersebut juga termasuk akhlak
tidak baik pada diri sendiri yaitu begadang. Orang yang tidur terlalu larut malam sehingga hal itu
dapat menyebabkan daya tahan tubuh berkurang.
Jadi, sebagai manusia atau sebagai seorang muslim yang baik hendaklah kita selalu berakhlak baik
dalam hal apapun. Karena sesungguhnya, Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan utama
penciptaannya adalah untuk beribadah. Ibadah dalam pengertian secara umum yaitu melaksanakan
segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Manusia diperintahkan-Nya untuk menjaga, memelihara, dan mengembangkan semua yang ada
untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Dan Allah SWT sangat membenci manusia yang
melakukan tindakan merusak yang ada. Karena Allah SWT membenci tindakan yang merusak maka
orang yang cerdas akan meninggalkan perbuatan itu, menyadari bahwa jika melakukan perbuatan
terlarang akan berakibat pada kesengsaraan hidup di dunia dan terlebih-lebih lagi di akhirat kelak,
sebagai tempat hidup yang sebenarnya. Untuk itulah materi akhlak terhadap diri sendiri ini sangatlah
penting untuk dipahami, dipelajari dan diteladani.


Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan utama penciptaannya adalah untuk beribadah.
Ibadah dalam pengertian secara umum yaitu melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala
larangannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Manusia diperintahkan-Nya untuk menjaga,
memelihara dan mengembangkan semua yang ada untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
Dan Allah SWT sangat membeci manusia yang melakukan tindakan merusak yang ada. Maka karena
Allah SWT membenci tindakan yang merusak maka orang yang cerdas akan meninggalkan perbuatan
itu, dia sadar bahwa jika melakukan per buatan terlarang akan berakibat pada kesengsaraan hidup di
dunia dan terlebih-lebih lagi di akhirat kelak, sebagai tempat hidup yang sebenarnya.
Arti akhlak secara istilah sebagai berikut; Ibnu Miskawaih (w. 421 H/1030 M) mengatakan bahwa
akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan
tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sementara itu, Imam Al-Ghazali (1015-1111 M)
mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam
perbuatan dengan gambling dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Secara umum akhlak atau perilaku/perbuatan manusia terbagi menjadi dua; pertama; akhlak yang
baik/mulia dan kedua; aklak yang buruk/tercela.

Orang yang telah berdamai dengan diri sendiri adalah orang yang senantiasa bersyukur, dalam
berdoa tidak pernah meminta melainkan mengucap syukur, selalu menerima dirinya apa adanya.
Bisa mengontrol emosi, bersikap positif atas semua hal.
Sesuatu yang kita kira buruk belum tentu buruk dan tak berguna. Manusia hanyalah tempat
ketidaksempurnaan, yang mempunyai kesempurnaan hanya Allah. Jadi kita harus bersyukur dan
terus bersyukur. Sesuatu yang indah di mata kita belum tentu indah buat kita.

http://myryani.wordpress.com/2008/08/15/berdamai-dengan-diri-sendiri-%E2%80%A6/

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan pengertian akhlak terhadap diri sendiri!
2. Jelaskan macam macam akhlak terhadap diri sendiri!
3. Jelaskan bentuk-bentuk akhlak terpuji terhadap diri sendiri!

C. Tujuan
Tujuan makalah ini adalah untuk menjelaskan tentang akhlak terhadap diri sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian

Kata Akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi
pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan
perkataan khalqun yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq yang berarti
pencipta; demikian pula dengan makhluqun yang berarti yang diciptakan.
Secara epistemologi atau istilah akhlak bisa diartikan berbagai perspektif sesuai dengan para ahli
tasawuf diantaranya :
1. Ibnu Maskawaih memberikan definisi sebagai berikut:


Artinya:
Keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa
melalui pertimbangan pikiran (lebih dahulu).
1. Imam Al-Ghozali mengemukakan definisi Akhlak sebagai berikut:


Artinya:
Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan
dengan mudah, dengan tidak memertrlukan pertimbangan pikiran (lebih dahulu).
1. Prof. Dr. Ahmad Amin memberikan definisi, bahwa yang disebut akhlak Adatul-Iradah atau
kehendak yang dibiasakan. Definisi ini terdapat dalam suatu tulisannya yang berbunyi:


Artinya:
Sementara orang membuat definisi akhlak, bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang
dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu
dinakamakan akhlak.
Makna kata kehendak dan kata kebiasaan dalam penyataan tersebut dapat diartikan bahwa
kehendak adalah ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah bimbang, sedang kebiasaan
ialah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya. Masing-masing dari kehendak
dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari kekuatan dari kekuatan yang besar inilah
dinamakan Akhlak.
Sekalipun ketiga definisi akhlak diatas berbeda kata-katanya, tetapi sebenarnya tidak berjauhan
maksudnya, Bahkan berdekatan artinya satu dengan yang lain. Sehingga Prof. Kh. Farid Maruf
membuat kesimpulan tentang definisi akhlak ini sebagai berikut:
Kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa
memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.

Dalam etimologi, akhlak adalah kebiasaan atau perbuatan.Menurut Prof. Dr. Ahmad Amin
mengatakan bahwa akhlak adalah kebiasaan, kehendak. Di dalam Ensiklopedi Pendidikan disebutkan
bahwa akhlak adalah budi pekerti, watak, kesusilaan yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang
benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama manusia. Sedangkan akhlak menurut Iman Al-
Ghozaly, Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan
dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan. Jadi
pada hakekatnya Akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah menetap dalam jiwa dan
kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan dan mudah
tanpa dibuat-buat dan tanpa pemikiran.
Yang dimaksud dengan akhlak terhadap diri sendiri adalah sikap seseorang terhadap diri pribadinya
baik itu jasmani sifatnya atau ruhani. Kita harus adil dalam memperlakukan diri kita, dan jangan
pernah memaksa diri kita untuk melakukan sesuatu yang tidak baik atau bahkan membahayakan
jiwa.
Sesuatu yang membahayakan jiwa bisa bersifat fisik atau psikis. Misalnya kita melakukan hal-hal
yang bisa membuat tubuh kita menderita. Seperti; terlalu banyak bergadang, sehingga daya tahan
tubuh berkurang, merokok, yang dapat menyebabkan paru-paru kita rusak, mengkonsumsi obat
terlarang dan minuman keras yang dapat membahyakan jantung dan otak kita. Untuk itu kita harus
bisa bersikap atau beraklak baik terhadap tubuh kita. Selain itu sesuatu yang dapat membahayakan
diri kita itu bisa bersifat psikis. Misalkan iri, dengki , munafik dan lain sebagainya. Hal itu semua
dapat membahayakan jiwa kita, semua itu merupakan penyakit hati yang harus kita hindari. Hati
yang berpenyakit seperti iri dengki munafiq dan lain sebagainya akan sulit sekali menerima
kebenaran, karena hati tidak hanya menjadi tempat kebenaran, dan iman, tetapi hati juga bisa
berubah menjadi tempat kejahatan dan kekufuran.
Untuk menghindari hal tersebut di atas maka kita dituntut untuk mengenali berbagai macam
penyakit hati yang dapat merubah hati kita, yang tadinya merupakan tempat kebaikan dan keimanan
menjadi tempat keburukan dan kekufuran. Seperti yang telah dikatakan bahwa diantara penyakit
hati adalah iri dengki dan munafik. Maka kita harus mengenali penyakit hati tersebut.
Dengki. Orang pendeki adalah orang yang paling rugi. Ia tidak mendapatkan apapun dari sifat
buruknya itu. Bahkan pahala kebaikan yang dimilikinya akan terhapus. Islam tidak membenarkan
kedengkian. Rasulullah bersabda: Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda,
hati-hatilah pada kedengkian kaerena kedengkian menghapuskan kebajikan, seperti api yang
melahap minyak. (H.R. Abu Dawud)
Munafiq. Orang munafiq adalah orang yang berpura-
tidak sama dengan apa yang ada di hati dan tindakannya. Adapun tanda-tanda orang munafiq ada
tiga. Hal ini dijelaskan dalam hadits, yaitu:
: . ,
,
Dari Abu hurairoh r.a. Rasulullah berkata: tanda-tanda orang munafiq ada tiga, jika ia berbicara ia
berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanat ia berkhianat. (H.R. Bukhari, Muslim,
Tirmidzi dan an-Nisai)
Akhlak terhadap Diri Sendiri, diantaranya :
1. Memelihara kesucian diri.
2. Menutup aurat (bagian tubuh yang tidak boleh kelihatan, menurut hukum dan akhlak Islam).
3. Jujur dalam perkataan dan berbuat ikhlas serta rendah diri.
4. Malu melakukan perbuatan jahat.
5. Menjauhi dengki dan menjauhi dendam.
6. Berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain.
7. Menjauhi segala perkataan dan perbuatan sia-sia.

Adapun Kewajiban kita terhadap diri sendiri dari segi akhlak, di antaranya:
Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu
dan penerimaan terhadap apa yang menimpanya. Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah,
menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah.
Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung
banyaknya. Syukur diungkapkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah
memuji Allah dengan bacaan Alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan
menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.
Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua,
muda, kaya atau miskin. Sikap tawaduk melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan
dengki yang menyiksa diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain.

B. Macam macam akhlak terhadap diri sendiri
1. Berakhlak terhadap jasmani.
a. Menjaga kebersihan dirinya
Islam menjadikan kebersihan sebagian dari Iman. Ia menekankan kebersihan secara menyeluruh
meliputi pakaian dan juga tubuh badan. Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabatnya supaya
memakai pakaian yang bersih, baik dan rapi terutamanya pada hari Jumat, memakai wewangian
dan selalu bersugi.
b. Menjaga makan minumnya.
Bersederhanalah dalam makan minum, berlebihan atau melampau di tegah dalam Islam. Sebaiknya
sepertiga dari perut dikhaskan untuk makanan, satu pertiga untuk minuman, dan satu pertiga untuk
bernafas.
c. Tidak mengabaikan latihan jasmaninya
Riyadhah atau latihan jasmani amat penting dalam penjagaan kesehatan, walau bagaimnapun ia
dilakukan menurut etika yang ditetapkan oleh Islam tanpa mengabaikan hak-hak Allah, diri,
keluarga, masyarakat dan sebagainya, dalam artikata ia tidak mengabaikan kewajiban sembahyang,
sesuai kemampuan diri, menjaga muruah, adat bermasyarakat dan seumpamanya.
d. Rupa diri
Seorang muslim mestilah mempunyai rupa diri yang baik. Islam tidak pernah mengizinkan budaya
tidak senonoh, compang-camping, kusut, dan seumpamanya. Islam adalah agama yang mempunyai
rupa diri dan tidak mengharamkan yang baik. Sesetengah orang yang menghiraukan rupa diri
memberikan alasan tindakannya sebagai zuhud dan tawadhuk. Ini tidak dapat diterima karena
Rasulullah yang bersifat zuhud dan tawadhuk tidak melakukan begitu. Islam tidak melarang umatnya
menggunakan nikmat Allah kepadanya asalkan tidak melampau dan takabbur.
2. Berakhlak terhadap akalnya
a. Memenuhi akalnya dengan ilmu
Akhlak Muslim ialah menjaganya agar tidak rusak dengan mengambi sesuatu yang memabukkan dan
menghayalkan. Islam menyuruh supaya membangun potensi akal hingga ke tahap maksimum, salah
satu cara memanfaatkan akal ialah mengisinya dengan ilmu.
Ilmu fardh ain yang menjadi asas bagi diri seseorang muslim hendaklah diutamakan karena ilmu ini
mampu dipelajari oleh siapa saja, asalkan dia berakal dan cukup umur. Pengabaian ilmu ini seolah-
olah tidak berakhlak terhadap akalnya.
b. Penguasaan ilmu
Sepatutnya umat Islamlah yang selayaknya menjadi pemandu ilmu supaya manusia dapat bertemu
dengan kebenaran. Kekufuran (kufur akan nikmat) dan kealfaan ummat terhadap pengabaian
penguasaan ilmu ini.
Perkara utama yang patut diketahui ialah pengetahuan terhadap kitab Allah, bacaannya, tajwidnya,
dan tafsirnya. Kemudian hadits-hadits Rasul, sirah, sejarah sahabat, ulama, dan juga sejarah Islam,
hukum hakam ibadat serta muamalah.
Sementara itu umat islam hendaklah membuka tingkap pikirannya kepada segala bentuk ilmu,
termasuk juga bahasa asing supaya pemindahan ilmu berlaku dengan cepat. Rasulullah pernah
menyuruh Zaid bin Tsabit supaya belajar bahasa Yahudi dan Syiria. Abdullah bin Zubair adalah antara
sahabat yang memahami kepentingan menguasai bahasa asing, beliau mempunyai seratus orang
khadam yang masing-masing bertutur kata berlainan, dan apabila berhubungan dengan mereka, dia
menggunakan bahasa yang dituturkan oleh mereka.
3. Berakhlak Terhadap Jiwa
Manusia pada umumnya tahu sadar bahwa jasad perlu disucikan selalu, begitu juga dengan jiwa.
Pembersihan jiwa beda dengan pembersihan jasad. Ada beberapa cara membersihkan jiwa dari
kotorannya, antaranya:
a. Bertaubat
b. Bermuqarabah
c. Bermuhasabah
d. Bermujahadah
e. Memperbanyak ibadah
f. Menghadiri majlis Iman
C. Cara Memelihara Akhlak Terhadap Diri Sendiri
Cara untuk memelihara akhlak terhadap diri sendiri antara lain :
1). Sabar, yaitu perilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil dari pengendalian nafsu dan
penerimaan terhadap apa yang menimpanya.Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah,
menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah.
2). Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak bisa terhitung
banyaknya. Syukur diungkapkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah
memuji Allah dengan bacaan alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan
menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.
3). Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya, orang tua, muda,
kaya atau miskin. Sikap tawaduk melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki
yang menyiksa diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain.
4). Shidiq, artinya benar atau jujur. Seorang muslim harus dituntut selalu berada dalam keadaan
benar lahir batin, yaitu benar hati, benar perkataan dan benar perbuatan.
5). Amanah, artinya dapat dipercaya. Sifat amanah memang lahir dari kekuatan iman. Semakin
menipis keimanan seseorang, semakin pudar pula sifat amanah pada dirinya. Antara keduanya
terdapat ikatan yang sangat erat sekali. Rosulullah SAW bersabda bahwa tidaj (sempurna) iman
seseorang yang tidak amanah, dan tidak (sempurna) agama orang yang tidak menunaikan janji. (
HR. Ahmad )
6). Istiqamah, yaitu sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun
menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Perintah supaya beristiqamah dinyatakan
dalam Al-Quran pada surat Al- Fushshilat ayat 6 yang artinya Katakanlah bahwasanya aku hanyalah
seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang
Maha Esa, maka istiqamahlah menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan
kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang bersekutukan-Nya.
7). Iffah, yaitu menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik dan memelihara kehormatan diri dari
segala hal yang akan merendahkan, merusak, dan menjatuhkannya. Nilai dan wibawa seseorang
tidak ditentukan oleh kekayaan dan jabatannya dan tidak pula ditentukan oleh bentuk rupanya,
tetapi ditentukan oleh kehormatan dirinya.
8). Pemaaf, yaitu sikap suka member maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa
benci dan keinginan untuk membalas. Islam mengajarkan kita untuk dapat memaafkan kesalahan
orang lain tanpa harus menunggu permohonan maaf dari yang bersalah.

Akhlak yang baik adalah salah satu modal dasar dalam tegaknya agama Islam. Kehadiran karya tulis
ini, khususnya masalah bimbingan akhlak ini, memang sangat penting diperlukan dan tepat dalam
rangka meningkatkan penghayatan dan pengalaman ajaran agama Islam dikalangan muslimin dalam
kehidupan sehari-hari, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Ingin memperdalam dan memperluas masalah akhlak sebagaimana perananya bagi kehidupan umat.
Kurangnya kesadaran umat Islam dewasa ini yang memperhatikan pentingnya akhlak, sehingga perlu
diingatkan.

Faedah Mengintrospeksi Diri
Mengintrospeksi diri memiliki beberapa faedah, yaitu:
Pertama, musibah terangkat dan hisab diringankan
Pada lanjutan atsar Umar di atas disebutkan bahwa sebab terangkatnya musibah dan
diringankannya hisab di hari kiamat adalah ketika seorang senantiasa bermuhasabah. Umar
radhiallahu anhu mengatakan,


Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu
menghisab dirinya saat hidup di dunia *HR. Tirmidzi+.
Ketika berbagai kerusakan telah merata di seluruh lini kehidupan, maka jalan keluar dari hal tersebut
adalah dengan kembali (rujuk) kepada ajaran agama sebagaimana yang disabdakan nabi shallallahu
alaihi wa sallam,


Apabila kamu berjual beli dengan cara inah (riba), mengambil ekor-ekor sapi (berbuat zhalim),
ridha dengan pertanian (mementingkan dunia) dan meninggalkan jihad (membela agama), niscaya
Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali
kepada ajaran agama
Dalam riwayat lain, disebutkan dengan lafadz,

Hingga mereka mengoreksi pelaksanaan ajaran agama mereka *Shahih. HR. Abu Dawud+.
Anda dapat memperhatikan bahwa rujuk dengan mengoreksi diri merupakan langkah awal
terangkatnya musibah dan kehinaan.
Kedua, hati lapang terhadap kebaikan dan mengutamakan akhirat daripada dunia
Demikian pula, mengoreksi kondisi jiwa dan amal merupakan sebab dilapangkannya hati untuk
menerima kebaikan dan mengutamakan kehidupan yang kekal (akhirat) daripada kehidupan yang
fana (dunia). Dalam sebuah hadits yang panjang dari Ibnu Masud disebutkan, Suatu ketika
seorang raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya dan tengah merenung. Dia
menyadari bahwasanya kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada
di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah. Akhirnya, dia pun
mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperoleh rezeki dari hasil
keringat sendiri. Kemudian, raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan kabar akan
keshalihannya. Maka, raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasehatnya. Sang raja pun
berkata kepadanya, Kebutuhan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga dibutuhkan oleh
diriku. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang
tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah azza wa jalla bersama-sama *Hasan. HR.
Ahmad].
Perhatikan, kemampuan mereka berdua untuk mengoreksi kekeliruan serta keinginan untuk
memperbaiki diri setelah dibutakan oleh kekuasaan, timbul setelah merenungkan dan
mengintrospeksi hakikat kondisi mereka.
Ketiga, memperbaiki hubungan diantara sesama manusia
Introspeksi dan koreksi diri merupakan kesempatan untuk memperbaiki keretakan yang terjadi
diantara manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, di kedua hari tersebut seluruh
hamba diampuni kecuali mereka yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan,
Tangguhkan ampunan bagi kedua orang ini hingga mereka berdamai *Sanadnya shahih. HR.
Ahmad].
Menurut anda, bukankah penangguhan ampunan bagi mereka yang bermusuhan, tidak lain
disebabkan karena mereka enggan untuk mengoreksi diri sehingga mendorong mereka untuk
berdamai?
Keempat, terbebas dari sifat nifak
Sering mengevaluasi diri untuk kemudian mengoreksi amalan yang telah dilakukan merupakan salah
satu sebab yang dapat menjauhkan diri dari sifat munafik. Ibrahim at-Taimy mengatakan,


Tidaklah diriku membandingkan antara ucapan dan perbuatanku, melainkan saya khawatir jika
ternyata diriku adalah seorang pendusta (ucapannya menyelisihi perbuatannya).
Ibnu Abi Malikah juga berkata,


Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, merasa semua mengkhawatirkan
kemunafikan atas diri mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan bahwa
keimanannya seperti keimanan Jibril dan Mikail *HR. Bukhari+.
Ketika mengomentari perkataan Ibnu Abi Malikah, Ibnu Hajar mengutip perkataan Ibnu Baththal
yang menyatakan,


Mereka khawatir karena telah memiliki umur yang panjang hingga mereka melihat berbagai
kejadian yang tidak mereka ketahui dan tidak mampu mereka ingkari, sehingga mereka khawatir jika
mereka menjadi seorang penjilat dengan sikap diamnya *Fath al-Baari 1/111].
Kesimpulannya, seorang muslim sepatutnya mengakui bahwa dirinya adalah tempatnya salah dan
harus mencamkan bahwa tidak mungkin dia terbebas dari kesalahan. Pengakuan ini mesti ada di
dalam dirinya, agar dia dapat mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sehingga pintu
untuk mengoreksi diri tidak tertutup bagi dirinya. Allah taala berfirman,

Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri (Al-Ra`d
11).
Manusia merupakan makhluk yang lemah, betapa seringnya dia memiliki pendirian dan sikap yang
berubah-ubah. Namun, betapa beruntungnya mereka yang dinaungi ajaran agama dengan
mengevaluasi diri untuk berbuat yang tepat dan mengoreksi diri sehingga melakukan sesuatu yang
diridhai Allah. Sesungguhnya rujuk kepada kebenaran merupakan perilaku orang-orang yang kembali
kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
Langkah pertama untuk mengenal diri adalah menyadari bahwa dirimu terdiri atas bentuk luar yang
disebut jasad, dan wujud dalam yang disebut qalb atau ruh. Qalb yang saya maksudkan bukanlah
segumpal daging yang terletak di dada kiri, melainkan tuan yang mengendalikan semua fakultas
lainnya dalam diri serta mempergunakannya sebagai alat dan pelayannya. Pada hakikatnya, ia bukan
sesuatu yang indrawi, melainkan sesuatu yang gaib; ia muncul di dunia ini sebagai pelancong dari
negeri asing untuk berdagang dan kelak akan kembali ke tanah asalnya. Pengetahuan tentang wujud
dan sifat-sifatnya inilah yang menjadi kunci mengenal Tuhan.

Sebagian pemahaman mengenai hakikat hati atau ruh dapat diperoleh seseorang dengan
mengatupkan matanya dan melupakan segala sesuatu di sekitarnya selain dirinya sendiri. Dengan
begitu, ia akan mengetahui ketakterbatasan sifat dirinya itu. Namun syariat melarang kita menelisik
hakikat ruh sebagaimana ditegaskan Al Quran : Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakan :
ruh adalah urusan Tuhanku.*QS 17 : 85+
Jadi, sedikit yang dapat diketahui hanyalah bahwa ia merupakan suatu esensi tak terbagi yang
termasuk dalam dunia titah [amr], dan bahwa ia bukanlah sesuatu yang abadi, melainkan ciptaan.
Pengetahuan filosofis yang tepat mengenai ruh bukanlah awal yang niscaya untuk meniti jalan
ruhani. Pengetahuan itu akan didapatkan melalui disiplin diri dan kesabaran menapaki jalan ruhani,
sebagaimana dikatakan Al Quran : Siapa yang berjuang di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan
kepadanya jalan-jalan Kami *yang lurus+. *QS 29 : 69+
Mengenal diri, pasti mengenal ALLAH.
Perkenalan adalah pembuka hubungan pergaulan, sehingga terbuka lebar untuk masuk pada
kehidupan bersama sesama manusia. tanfa perkenalan tidak mungkin timbul saling kenal, saling
menyayangi, saling memperhatikan. Perkenalan dengan sesama manusia adalah pengikatan tali
hubungan pikiran dan perasaan, lebih mengenal akan lebih besar ikatan pikiran dan perasaan. Dalam
kehidupan sosial, perkenalan antar sesama manusia itu sangat biasa dilakukan, namun pernahkan
anda berkenalan dengan diri sendiri sebelum kita berkenalan dengan orang lain.?. Mengenal diri
adalah modal dasar dalam berhasilnya sebuah pergaulan dan sangat bisa melahirkan rasa simpati
orang lain dalam berkenalan. Berkenalan dengan orang lain tanfa mengenali diri sendiri akan
melahirkan banyak ketidak jujuran, malah mungkin berlumur kepalsuan, ejekan atau cemoohan.
Bayangkan bagaimana sikap dan tindakan pergaulan orang yang tidak tahu diri, bagaimana sikap dan
tindakan pergaulan orang yang tau diri. Dengan sikap hanya sekedar tahu diri saja, bakal mampu
mengendalikan diri untuk berkata, bersikap dan bertindak dalam berkenalan dan bergasul dengan
orang lain, sehingga tidak melhirkan penilaian negatip. Orang yang mampu mengendalikan diri
dalam setiap tindakan, akan mampu menghindarkan diri dari siksaan pergaulan. Orang yang mampu
mengendalikan diri ketika sangat ingin, sangat marah akan terhindar dari lahirnya siksa dan kehina-
dinaan pergaulan. Perasaan sangat ingin, dan marah melahirkan luapan emosi, sehingga pikiran dan
perasaan jadi tidak tenang, penuh kegelisahan.......... tersiksalah.

Perkenalan pertama selalu dilakukan dengan jujur penuh kesimpatian, saling tatap, menyebut nama
sambil tersenyum penuh keceriaan. Coba lakukan dalam mengenali diri sendiri. Duduk di depan
cermin, saling tatap, menyebut nama sambil tersenyum bahagia. Kenali tatapan matamu, kenali,
bibirmu, mulutmu, hidungmu, raut mukamu, rambutmu dll, kenali cara berkatamu, tersenyummu,
kenali keadaan seluruh tubuhmu, kenali kebiasaan-kebiasaan buruk dan baikmu. Mengenali diri dari
segi rupa, penampilan, dan kebiasaan, mungkin tidak terlalu sukar, dan dianggap sudah sangat hapal
dengan keadaan luar diri sendiri yang sangat sering dilihat sejak kecil, sehingga penampilan luar atau
pisik mungkin sangat mudah untuk memperlihatkan hanya yang baik-baiknya saja, sebab cacat dan
kekurangan dalam badan, mudah disembunyikan, dan hanya diri sendirilah yang tahu. Pada perut
ada bekas luka, hanya diri sendiri yang tahu. Ketika sedang mulas perut, orang tidak akan merasakan
mules kita. Pada paha ada benjolan, orang tidak akan mengetahuinya dll. Namun sebaliknya
sehubungan dengan sikap watak jiwa kita, orang lainlah yang sangat mengetahui dan sangat
merasakannya. Kita tidak sadar berbicara sombong, orang lain akan merasakan kesombongan kita.
Kita tidak sadar berkata seolah paling tahu, paling pintar, paling terkenal, sedangkan orang lain
sangat merasakannya. Kita tidak sadar bermimik muka dan berkata sinis, namun orang lain sangat
mengetahui dan merasakannya. Kenalilah sikap jiwa kita, sehingga bisa meninggalkan sikap yang
buruk, dan berusaha merubah jadi baik.............. Apakah pekerjaanmu ? pantaskah sombong dengan
pekerjaan kita. Apakah pangkatmu ? pantaskan sombong dengan pangkatmu. Berapakah
kekayaanmu ? pantaskan angkuh dengan kekayaanmu. Sampai dimana ilmu pengetahuanmu ?
pantaskah angkuh dengan ilmu pengetahuanmu................................ dst.

Kemudian tanyalah, Siapakah kamu itu sebenarnya ?, dari mana asalmu ? dan hendak kemanakah
kamu ?. Jawaban-jawaban mandiri akan bervariasi, namun pada akhirnya bakal sama. Aku adalah
seorang manusia, yang didatangkan ALLAH SWT melalui ibu dan bapak untuk hidup menemukan
kebahagiaan, berbakti, mengabdi kepada Yang Maha Kuasa dan akhirnya mati untuk bisa berakhir
pada kenikmatan abadi. Kita akan sadar bahwa bahwa kita hidup di dunia, bukan kehendak kita,
namun kehendak yang menghidupkan, begitu pula mati, bukan kehendak kita, namun kehendak
yang mematikan, sebab tidak seorang manusiapun yang ingin mati, kecuali orang yang sangat
prustasi atau putus asa dengan penderitaan yang dialami. Kita dihidupkan dan dimatikan ALLAH
SWT. Untuk apakah sebenarnya ALLAH SWT menghidupkan dan mematikan kita. Dalam syurat Al-
Mulki ayat 2 ALLAH SWT berfirman,yang diantara maknanya sbb (Wallahu alam ) " ALLAH
menjadikan hidup dan mati, untuk menguji kamu (manusia), agar kamu beramal ibadahnya dengan
sebaik-baiknya." Jadi kehendak ALLAH SWT menghidupkan dan mematikan kita adalah supaya kita
beramal ibadah dengan sebaik-baiknya. Pengenalan diri atas pertanyaan diatas menghantarkan kita
untuk mengenal ALLAH SWT.

Kenalilah keadaan dan pekerjaan badan kita, apakah kita berkuasa atas badan dan pekerjaan badan
kita, sehingga pikiran kita bisa mengatur jalannya setiap organ tubuh agar selamanya bisa sehat dan
abadi, atau kita tidak berdaya. Apakah setelah makan nikmat, jat-jat makanan diangkat dan
dibagikan ke sekujur tubuh oleh kita, sehingga pikiran tahu keorgan tubuh mana harus dikirimkan
dalam tubuh, dan mana ampas-ampas yang harus dibuang melalui anus. Siapa lagi kalau bukan
ALLAH yang berperan, karena memang semua makhluk tidak berdaya. Apakah yang mendenyutkan
jantung, sehingga darah beredar ke sekujur tubuh adalah pekerjaan kita. Siapa lagi kalau bukan
ALLAH yang berperan, karena memang semua makhluk tidak berdaya. Apakah yang menggeraka-
gerakan paru-paru dalam memasukan dan mengeluarkan oksigen yang diperlukan tubuh adalah
pekerjaan kita. Apakah kita mampu menahan mata untuk tidak tidur selama berhari-hari karena kita
menghendaki. Apakah kita mampu menahan agar tidak buang kotoran berhari-hari, karena kita
menginginkannya. ........ dst. Ternyata kita sangat tidak mampu dan tidak berkuasa, tidak berdaya
atas badan kita sendiri. Tidak ada orang lain atau makhluk lain yang berkuasa mengatur dan
menjalankan seluruh organ tubuh kita, siapa lagi kalau bukan ALLAH SWT. Sehat dan sakit datang
silih berganti, dan kita tidak berdaya walaupun sangat menginginkan berada dalam sehat selalu.
Siapa lagi kalau bukan ALLAH yang mengaturnya, karena memang manusia tidak berdaya.
Pengenalan keadaan dan pekerjaan badan kita akan menghantarkan kita mengenal ALLAH SWT.

Kekuasaan dan pekerjaan ALLAH sangat melekat dengan kehidupan kita sehari-hari, tapi mengapa
pikiran dan perasaan seolah-olah jauh dan tidak mengenal ALLAH. Kenalilah diri sendiri dengan baik,
niscaya akan merasakan kehadiran ALLAH beserta kita. Kenalilah diri sendiri dengan baik, niscaya
akan merasakan kekuasaan ALLAH atas dirinya. Kenalilah diri sendiri dengan baik, niscaya akan
merasakan kemaha welas asihan ALLAH SWT.............................................. Dengan mengenali diri,
mengenali ALLAH akan timbuh rasa butuh kepada ALLAH, sehingga bakal terasa
http://undjunaedi.blogspot.com/2011/10/mengenal-diri-pasti-mengenal-allah.html
x
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/introspeksi-diri-akhlak-yang-terlupa.html


D. Manfaat Akhlak Terhadap Diri Sendiri
1. Berakhlak terhadap jasmani:
- jauh dari penyakit karena sering menjaga kebersihan
- tubuh menjadi sehat dan selalu bugar
- menjadikan badan kuat dan tidak mudah lemah
2. Berakhlak terhadap akalnya:
- memperoleh banyak ilmu
- dapat mengamalkan ilmu yang kita peroleh untuk orang lain
- membantu orang lain
- mendapat pahala dari Allah SWT
3. Berakhlak terhadap jiwa:
- selalu dalam lindungan Allah SWT
- jauh dari perbuatan yang buruk
- selalu ingat kepada Allah SWT
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Akhlak terhadap diri sendiri adalah sikap seseorang terhadap diri pribadinya baik itu jasmani sifatnya
atau rohani. Kita harus adil dalam memperlakukan diri kita, dan jangan pernah memaksa diri kita
untuk melakukan sesuatu yang tidak baik atau bahkan membahayakan jiwa.
Cara untuk memelihara akhlak terhadap diri sendiri yaitu dengan sabar, shidiq, tawaduk, syukur,
istiqamah, iffah, pemaaf dan amanah.
B. Saran
Demikian makalah ini kami susun, semoga dengan membaca makalah ini dapat dijadikan pedoman
kita dalam melangkah dan bias menjaga akhlak terhadap diri sendiri. Apabila ada kekurangan dalam
penulisan makalah ini, kami mohon maaf yang setulus-tulusnya.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa komponen utama agama Islam adalah akidah, syariah, dan
akhlak. Penggolongan itu didasarkan pada penjelasan Nabi Muhammad kepada Malaikat Jibril di
depan para sahabatnya mengenai arti Islam, iman, dan ihsan yang ditanyakan Jibril kepada beliau.


DAFTAR PUSTAKA

Ilyas,Yunahar, Prof. Dr. M.A.2008.Kuliah Akidah, Kuliah Akhla.Yogyakarta:Belukar.
Azmi, Muhammad.2006.Pembinaan Akhlak Anak Usia Pra Sekolah.Yogyakarta:Belukar.
Kahar, Masyhur.1985.Membina Moral Dan Akhlak.Jakarta:Kalam Mulia.
Mth, Asmuni.1999.Akhlak Dalam Perspektif Al-Quran.Jakarta:Kalam Mulia.
Syamsuri, Drs, H.2006.Pendidikan Agama Islam SMA Jilid 2 Kelas XI.Jakarta:Erlangga.
Manan, Abdul, DKK.2009.Lembar Kerja Siswa Pendidikan Agama Islam SMA Kelas XI.Surabaya:Cipta
Sikan Kenjtana.
http://id.shvoong.com/books/guidance-self-improvement/1973692-akhlak-terhadap-allah-
swt/#ixzz1eQuUJuot.
- Darsono, T. Ibrahim. Membangun Akidah dan Akhlak, Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri, 2008
- Ghoni Asykur, Abdul. Kumpulan Hadits-Hadits Pilihan Bukhori Muslim. Bandung:
Husaini Bandung, 1992
H. A. Mudzakir dan H. Wardan, Pendidikan Agama Islam Untuk SLTA Jilid II. Kota Kembang,
Yogyakarta, 1988

Zaharudin AR dan Aziz Dahlan. Akidah Akhlak Untuk Madarasah Aliyah Kelas I. Direktorat Jenderal
Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. Departemen Agama RI. Jakarta, 1988

H. Sukarna Karya dan H.A. Kadir Djailani, Bimbingan Akhlak Untuk Siswa SMTP, Direktorat
Pembinaan Pendidikan Agama Islam Pada SMTP. Jakarta, 1986

Mahmud Junus, Terjemah Al-Quran Al-Karim, PT. Al-Marif, Bandung, 1990
Hajjaj, Muhammad Fauqi, Tasawuf Islam dan Akhlak, Jakarta: Amzah, 2011
Teguh, Moral Islam dan Moral Jawa, Jember: CSS Jember, 2008
Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002
Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006