Vous êtes sur la page 1sur 27

1

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sirosis Hati merupakan suatu penyakit hati kronis yang ditandai dengan
adanya inflamasi, nekrosis dan proses regenerasi berupa fibrosis dan pembentukan
nodul-nodul di sekitar parenkim hati (Prihartini et al 1995 and Gupta et al 1997).
Sirosis Hati merupakan penyebab kematian kesepuluh pada usia dewasa
dengan infeksi hepatitis B dan C virus sebagai penyebab dasarnya. Penderita
sirosis hati akan berkembang menjadi varises esofagus (VE) sebagai akibat
adanya hipertensi portal (Duffour et al 1994, Pontisso et al 1993 and Gupta et al
1997).
Di negara barat yang sering terjadi akibat alkoholik sedangkan di Indonesia
terutama akibat infeksi virus hepatitis B maupun C. Hasil penelitian di Indonesia
menyebutkan virus hepatitis B menyebabkan sirosis sebesar 40 50 % dan virus
hepatitis C 30 40 %, sedangkan 10 20 % penyebabnya tidak diketahui dan
termasuk virus bukan B dan C (non B non C). Alkohol sebagai penyebab sirosis
di Indonesia mungkin frekuensinya kecil sekali karena belum ada datanya
(Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2006).
Sepertiga penderita sirosis hati akan mengalami kematian akibat perdarahan
dari varises esofagus, sedangkan dua pertiga nya akan bertahan dengan resiko
mengalami perdarahan ulang dalam waktu 6 bulan jika tidak diberikan
pengobatan secara aktif sebagai pencegahan. Pencegahan dengan memberikan
obat-obat -bloker dapat menurunkan kejadian perdarahan akibat varises
oesofagus sehingga dapat menurunkan angka mortalitas. Oleh karena itu prediksi
adanya varises esofagus, khususnya pada pasien sirosis hati stadium awal sangat
penting dan bermanfaat secara klinik. (Poynard at al 1991 and Jensen et al 2002).
2

Jumlah penderita Sirosis Hati pada tahun 2012 sekitar 20 juta penduduk
Indonesia (Depkes RI, 2012), di Provinsi Sumatera Selatan berjumlah 402 orang
yang terdiri atas 204 Pria dan 198 Wanita (dinkes.palembang.go.id) dan di RSUD
Palembang BARI adalah sebanyak 22 yang terdiri dari 20 orang laki-laki dan 2
orang perempuan (Medical Record RSUD Palembang BARI).
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian terhadap penderita sirosis hepatis dengan judul Keterampilan Dasar
Praktik Klinik Pemasangan Infus pada Tn. "J" dengan Cirrhosis Hepatis diruangan
penyakit dalam laki-laki RSUD Palembang BARI Tahun 2013.
2.1 Tujuan
2.1.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan Keterampilan Dasar Praktik
Klinik Pemasangan Infus pada Tn. "J" dengan Cirrhosis Hepatis
diruangan Penyakit Dalam Laki-Laki RSUD Palembang BARI.
2.1.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mengetahui indikasi pemasangan infus
2. Mahasiswa mengetahui teori pemasangan infus
3. Mahasiswa mengetahui penyakit cirrhosis hepatis
2.1.3 Waktu
Keterampilan Dasar Praktik Klinik Pemasangan Infus pada Tn.
"J" di lakukan pada hari Selasa, 02 Juli 2013 pukul 10.00 WIB
2.1.4 Tempat
Pemasangan Infus pada Tn. "J" dilakukan di ruangan Penyakit
Dalam Laki-Laki RSUD Palembang BARI.

3


3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PROFIL RSUD PALEMBANG BARI
2.1.1 Selayang Pandang
Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI merupakan unsur
penunjang pemerintahan daerah di bidang peayanan kesehatan yang
merupakan satu-satunya rumah sakit umum milik pemerintah kota
palembang. Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI terletak di
jalan panca usaha no.1 kelurahan 5 ulu darat kecamatan seberang ulu,
dan berdiri di atas tanah seluas 4,5 H.
Bangunan berada lebih kurang 800 meter dari jalan raya jurusan
kertapati, sejak tahun 2001 dibuat jalan alternatif dari jalan Jakabaring
menuju RSUD Palembang BARI dan jalan poros Jakabaring.

2.1.2 Visi, Misi, Dan Motto
Visi
Rumah Sakit Andalan dan Terpercaya di Sumatera Selatan
Misi
a. Pelayanan kesehatan yang bermutu
b. Melaksanakan Manajemen Administrasi yang efektif dan efesien
Motto
"Anda Sembuh, Kami Puas"

2.1.3 Sejarah
A. Sejarah Berdirinya RSUD Palembang BARI
1. Pada tahun 1985 sampai dengan 1994 RSUD Palembang BARI
merupakan gedung poliklinik/Puskesmas Panca Usaha.
2. Pada tahun 19 juni 1995 diresmikan menjadi RSUD PAlembang
BARI dengan SK DEPKES No.1326/Menkes/SK/XI/1997,
4

tanggal 10 November 1997 ditetapkan menjadi Rumah Sakit
Umum Daerah kelas C.
3. Kepmenkes RI Nomor : HK.00.06.2.24645 tentang pemberian
status akreditasi penuh tingkat dasar kepada Rumah Sakit
Umum Palembang BARI, tanggal 7 November 2003.
4. Kepmenkes RI Nomor : YM.01.10/III/334/08 tentang pemberian
status akreditasi penuh tingkat lanjut kepada Rumah Sakit
Umum Palembang BARI, tanggal 5 November 2008.
5. Kepmenkes RI Nomor 241/MENKES/SK/IV/2009 tentang
peningkatan kelas Rumah Sakit Umum Palembang BARI
menjadi kelas B tanggal 2 April 2009.
6. Ditetapkan sebagai BLUD-SKPD RSUD Palembang BARI
berdasarkan keputusan walikota Palembang No. 915.B tahun
2008 tentang pendapatan RSUD Palembang BARI sebagai
SKPD Palembang yang menerapkan pola pengelilaan keuangan
BLUD (PPK-BLUD) secara penuh.
7. KARS-SERT/363/1/2012 tentang status akreditasi lulus tingkat
lengkap kepada Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI,
tangga 25 Januari 2012.

B. Sejarah Pemegang Jabatan Direktur
1. Tahun 1986 s.d 1995 : dr. Jane Lidya Titahelu selaku Kepala
Poliklinik/Puskesmas Panca Usaha.
2. Tanggal 1 Juli 1995 s.d 2000 : dr. Eddy Zakary Monasir, SpOG
selaku Direktur RSUD Palembang BARI.
3. Bulan Juli 2000 s.d November 2000 : pelaksana tugas dr. M.
Faisal Soleh, SpPD
4. Tanggal 14 November 2000 s.d Februari 2012 : dr. Hj. Indah
Puspita, H.A, MARS selaku Direktur RSUD Palembang BARI.
5. Bulan Februari Tahun 2012 s.d sekarang : dr. Hj. Makiani, MM
selaku Direktur RSUD Palembang BARI.
5

2.1.4 Fasilitas dan Pelayanan
A. Fasilitas
1. Instalasi Rawat Darurat (IRD) 24 Jam
2. Farmasi/Apotik 24 Jam
3. Rawat Jalan
4. Sentral Sterilized Suplay Departement (CSSD)
5. Rehabilitation Medic
6. Radiologi 24 Jam
7. Laboratorium Klinik 24 Jam
8. Patologi Anatomi
9. Bank Darah
10. Hemodialisa
11. Medical Check Up
12. ECG
13. EEG
14. USG 4 Dimensi
15. Endoskopi
16. Kamar Jenazah
17. Rawat Inap
18. CT Scan 64 Slice

B. Pelayanan Rawat Jalan
1. Poliklinik Spesialis Penyakit Dalam
2. Poliklinik Spesialis Bedah
3. Poliklinik Spesialis Kebidanan Dan Penyakit Kandungan
4. Poliklinik Spesialis Anak
5. Poliklinik Spesialis Mata
6. Poliklinik THT
7. Poliklinik Spesialis Syaraf
8. Poliklinik Spesialis Kulit dan Kelamin
9. Poliklinik Spesialis Jiwa
6

10. Poliklinik Jantung
11. Poliklinik Gigi
12. Poliklinik Psikologi
13. Poliklinik Terpadu

C. Instalasi Gawat Darurat
1. Dokter Jaga 24 Jam
2. Ambulans 24 Jam

D. Pelayanan Rawat Inap
1. Rawat Inap VIP dan VVIP
2. Rawat Inap Kelas I, II, III
3. Rawat Inap Penyakit Dalam Perempuan
4. Rawat Inap Penyakit Dalam Laki-Laki
5. Perawatan Anak
6. Perawatan Bedah
7. Perawatan ICU
8. Perawatan Kebidanan
9. Perawatan Neonatus/NICU/PICU

E. Pelayanan Penunjang
1. Instalasi Laboratorium Klinik
2. Instalasi Radiologi
3. Instalasi Bedah Sentral
4. Bank Darah
5. Instalasi Pemulasan Jenazah
6. Instalasi Pemelihaaan Sarana Rumah Sakit
7. Instalasi Gizi
8. Instalasi Laundry
9. CSSD
10. Instalasi Rehabilitasi Medik
7

F. Fasilitas Kendaraan
1. Ambulance 118
2. Ambulan Bangsal
3. Ambulan Siaga Bencana
4. Ambulan Trauma Center
5. Mobil Jenazah

2.2 Tinjauan Teori
2.2.1 Pengertian Cirrhosis Hepatis
Istilah Sirosis diberikan pertama kali oleh Laennec tahun 1819,
yang berasal dari kata kirrhos yang berarti kuning orange (orange
yellow), karena terjadi perubahan warna pada nodul nodul hati yang
terbentuk (Hadi, 2002).
Cirrhosis Hepatis (Sirosis hati) adalah penyakit hati menahun
yang difus ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai
nodul (Suzanne & Bare, 2001).
Sirosis adalah keadaan patologis yang menggambarkan stadium
akhir fibrosis hepatik yang berlangsung progresif yang ditandai
dengan distorsi dari arsitektur hepar dan pembentukan nodulus
regeneratif (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia,
2006).
Sirosis didefinisikan suatu penyakit hati kronis dan progresif
yang dilalui dengan degenerasi dan destruksi sel maupun jaringan hati
(Reeves, Roux & Lockhart, 2001).
Sirosis adalah penyakit hati kronis yang dicirikan dengan
distorsi arsitektur hati yang normal oleh lembar lembar jaringan ikat
dan nodul nodul regenerasi sel hati, yang tidak berkaitan dengan
vaskulatur normal (Price & Wilson, 2005).


8

2.2.2 Faktor Penyebab Resiko
Penyebab utama sirosis di Amerika adalah hepatits C (26%),
penyakit hati alkoholik (21%), hepatitis C plus penyakit hati alkoholik
(15%), kriptogenik (18%), hepatitis B, yang bersamaan dengan
hepatitis D (15%), dan penyebab lain (5%) Sedangkan di Indonesia
terutama akibat infeksi virus hepatitis B dan C. Hasil penelitian di
Indonesia menyebutkan bahwa virus hepatitis B menyebabkan sirosis
sebesar 40-50% dan virus hepatitis C 30-40%, sedangkan 10-20%
penyebabnya tidak diketahui, alkohol sebagai penyebab sirosis hati di
Indonesia mungkin frekuensinya kecil sekali karena belum ada
datanya. (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia,
2006)
Penderita sirosis hati lebih banyak dijumpai pada kaum laki-laki
jika dibandingkan dengan kaum wanita sekitar 1,6 : 1 dengan umur
rata-rata terbanyak antara golongan umur 30 59 tahun dengan
puncaknya sekitar 40 49 tahun.
Penyebab pasti dari sirosis hepatis sampai sekarang belum jelas, tetapi
sering disebutkan antara lain :
1. Faktor Kekurangan Nutrisi
Menurut Spellberg, Schiff (1998) bahwa di negara Asia faktor
gangguan nutrisi memegang penting untuk timbulnya sirosis hepatis.
Dari hasil laporan Hadi di dalam simposium patogenesis sirosis
hepatis di Yogyakarta tanggal 22 Nopember 1975, ternyata dari hasil
penelitian makanan terdapat 81,4 % penderita kekurangan protein
hewani , dan ditemukan 85 % penderita sirosis hepatis yang
berpenghasilan rendah, yang digolongkan ini ialah: pegawai rendah,
kuli-kuli, petani, buruh kasar, mereka yang tidak bekerja, pensiunan
pegawai rendah menengah (Hadi, 2002).


9

2. Hepatitis Virus
Infeksi virus merupakan penyebab paling sering dari sirosis
hepatis. Hanya HBV atau HCV mengakibatkan penyakit hati kronis.
Virus Hepatitis D adalah virus yang tidak lengkap yang hanya patogen
bila bersama-sama dengan HBV. Virus A dan E penyebab hepatitis,
tetapi tidak berkembang menjadi sirosis hepatis. Virus hepatitis G
telah diidentifikasi tidak menghasilkan penyakit hati. Infeksi HBV
didiagnosis oleh adanya antigen permukaan hepatitis B (HBsAg);
HCV, oleh anti-HCV dan HCV RNA (Anand, 2002).
Hepatitis virus terutama tipe B sering disebut sebagai salah satu
penyebab sirosis hepatis, apalagi setelah penemuan Australian
Antigen oleh Blumberg pada tahun 1965 dalam darah penderita
dengan penyakit hati kronis , maka diduga mempunyai peranan yang
besar untuk terjadinya nekrosa sel hati sehingga terjadi sirosis. Secara
klinik telah dikenal bahwa hepatitis virus B lebih banyak mempunyai
kecenderungan untuk lebih menetap dan memberi gejala sisa serta
menunjukan perjalanan yang kronis, bila dibandingkan dengan
hepatitis virus A (Hadi, 2002).
3. Zat Hepatotoksik
Beberapa obat-obatan dan bahan kimia dapat menyebabkan
terjadinya kerusakan pada sel hati secara akut dan kronis. Kerusakan
hati akut akan berakibat nekrosis atau degenerasi lemak, sedangkan
kerusakan kronis akan berupa sirosis hepatis. Zat hepatotoksik yang
sering disebut-sebut ialah alkohol (Hadi, 2002).
Alkohol adalah bentuk minuman yang difermentasi yang banyak
dikonsumsi oleh orang-orang dari berbagai masyarakat dan peradaban
di seluruh dunia mulai dari periode Neolitik sekitar 10.000 SM sampai
saat ini. Penyalahgunaan alkohol dihubungkan dengan sirosis hepatis,
bagaimanapun telah terungkap dari berbagai penelitian dan studi yang
dilakukan, dimulai pada akhir abad ke-18. Karena pecandu alkohol
dengan sirosis hepatis secara konsisten kekurangan gizi dan memiliki
10

tubuh kurus dipercaya bahwa penyakit hati tidak disebabkan oleh
meminum terlalu banyak alkohol tetapi dikarenakan terus-menerus
kekurangan asupan gizi yang seharusnya. Dalam perkembangannya
Konsep teori etiologi gizi untuk penyebab sirosis menjadi faktor yang
sangat kuat yang berlanjut sampai pertengahan tahun 1960 (Nayak,
2011).
Pada saat hasil dari studi epidemiologis yang rinci dan studi
klinis pada manusia dan studi eksperimental pada tikus dilakukan
evaluasi. Hal ini ditunjukkan pada manusia sama seperti hewan
laboratorium bahwa alkohol dapat langsung merusak sel-sel hati
terlepas dari status gizi host. Kerusakan hati dimulai dengan hati yang
berlemak (steatosis), menyebabkan steatohepatitis, fibrosis progresif
dan akhirnya akan menyebabkan sirosis hepatis. Sampai dengan tahap
sirosis ada perbaikan jika alkohol dihentikan (Nayak, 2011).
4. Penyakit Wilson
Suatu penyakit yang jarang ditemukan, biasanya terdapat pada
orang-orang muda dengan ditandai sirosis hepatis, degenerasi basal
ganglia dari otak, dan terdapatnya cincin pada kornea yang berwarna
coklat kehijauan disebut Kayser Fleischer Ring. Penyakit ini diduga
disebabkan defesiensi bawaan dari seruloplasmin. Penyebabnya belum
diketahui dengan pasti, mungkin ada hubungannya dengan
penimbunan tembaga dalam jaringan hati (Hadi, 2002).
5. Hemokromatosis
Bentuk sirosis yang terjadi biasanya tipe portal. Ada dua
kemungkinan timbulnya hemokromatosis, yaitu:
a. Sejak dilahirkan si penderita menghalami kenaikan absorpsi
dari Fe.
b. Kemungkinan didapat setelah lahir (acquisita), misalnya
dijumpai pada penderita dengan penyakit hati alkoholik.
Bertambahnya absorpsi dari Fe, kemungkinan
menyebabkan timbulnya sirosis hepatis (Hadi, 2002). Jika
11

tidak diobati, hemokromatosis ini akan sangat berbahaya
dan hal ini juga mengarah ke (micronodular) sirosis.
Penurunan spontan belum diamati. Tingkat kelangsungan
hidup pada sirosis haemochromatotic adalah 60-65%
setelah 10 tahun (Kuntz, 2006).
6. Sebab-Sebab Lain
a. Kelemahan jantung yang lama dapat menyebabkan
timbulnya sirosis kardiak. Perubahan fibrotik dalam hati
terjadi sekunder terhadap reaksi dan nekrosis sentrilobuler
(Hadi, 2002).
b. Sebagai saluran empedu akibat obstruksi yang lama pada
saluran empedu akan dapat menimbulkan sirosis biliaris
primer. Penyakit ini lebih banyak dijumpai pada kaum
wanita (Hadi, 2002).
c. Penyebab sirosis hepatis yang tidak diketahui dan
digolongkan dalam sirosis kriptogenik. Penyakit ini banyak
ditemukan di Inggris (Hadi, 2002).

2.2.3 Keluhan dan Gejala
Keluhan dari sirosis hati dapat berupa :
a. Merasa kemampuan jasmani menurun
b. Nausea, nafsu makan menurun dan diikuti dengan penurunan berat
badan
c. Mata berwarna kuning dan buang air kecil berwarna gelap
d. Pembesaran perut dan kaki bengkak
e. Perdarahan saluran cerna bagian atas
f. Pada keadaan lanjut dapat dijumpai pasien tidak sadarkan diri
(Hepatic Enchephalopathy)
g. Perasaan gatal yang hebat (Nurdjanah, 2009).

12


Gejala klinis berupa :
1. Kegagalan sirosis hati
a. edema
b. ikterus
c. koma
d. spider nevi
e. alopesia pectoralis
f. ginekomastia
g. kerusakan hati
h. asites
i. rambut pubis rontok
j. eritema palmaris
k. atropi testis
l. kelainan darah (anemia,hematon/mudah terjadi perdaarahan)

2. Hipertensi portal
a. varises esophagus
b. spleenomegali
c. perubahan sum-sum tulang
d. caput meduse
e. asites
f. collateral veinhemorrhoid
g. kelainan sel darah tepi (anemia, leukopeni dan trombositopeni)
(Nurdjanah, 2009).

2.2.4 Gambaran Klinik
Menurut Sherlock, secara klinis, Sirosis Hepatis dibagi atas 2 tipe,
yaitu :
1. sirosis kompensata atau latent chirrosis hepatic
13

2. sirosis dekompensata atau active chirrosis hepatic
Sirosis Hepatis tanpa kegagalan faal hati dan hipertensi portal.
Sirosis Hepatis ini mungkin tanpa gejala apapun, tapi ditemukan
secara kebetulan pada hasil biopsy atau pemeriksaan laparoskopi
Sirosis Hepatis dengan kegagalan faal hati dan hipertensi portal.
Pada penderita ini sudah ada tanda-tanda kegagalan faal hati misalnya
ada ikterus, perubahan sirkulasi darah, kelainan laboratirim pada tes
faal hati. Juga ditemukan tanda-tanda hipertensi portal, misalnya
asites, splenomegali, venektasi di perut.
Gejala awal sirosis kompensata meliputi perasaan mudah lelah
dan lemas, selera makan berkurang, perasaan perut kembung, mual,
berat badan menurun, pada laki-laki dapat timbul impotensi, testis
mengecil, buah dada membesar, hilangnya dorongan seksualitas.
Sedangkan sirosis dekompensata, gejala-gejala lebih menonjol
terutama bila timbul komplikasi kegagalan hati dan hipertensi porta
meliputi hilangnya rambut badan, gangguan tidur, dan demam tak
begitu tinggi. Mungkin disertai adanya gangguan pembekuan darah,
perdarahan gusi, epistaksis, gangguan siklus haid, ikterus dengan air
kemih berwarna seperti the pekat, muntah darah, atau melena, serta
perubahan mental, meliputi mudah lupa, sukar konsentrasi, bingung,
agitasi, sampai koma. (Nurdjanah, 2009).

2.2.5 Pemeriksaan Fisik
a. Kesadaran dan keadaan umum pasien
Perlu dikaji tingkat kesadaran pasien dari sadar tidak sadar
(composmentis coma) untuk mengetahui berat ringannya prognosis
penyakit pasien, kekacuan fungsi dari hepar salah satunya membawa
dampak yang tidak langsung terhadap penurunan kesadaran, salah
satunya dengan adanya anemia menyebabkan pasokan O2 ke jaringan
kurang termasuk pada otak. (Hadi, 2002).
14


b. Tanda tanda vital dan pemeriksaan fisik Kepala kaki
TD, Nadi, Respirasi, Temperatur yang merupakan tolak ukur
dari keadaan umum pasien / kondisi pasien dan termasuk pemeriksaan
dari kepala sampai kaki dan lebih focus pada pemeriksaan organ
seperti hati, abdomen, limpa dengan menggunakan prinsip-prinsip
inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi), disamping itu juga
penimbangan BB dan pengukuran tinggi badan dan LLA untuk
mengetahui adanya penambahan BB karena retreksi cairan dalam
tubuh disamping juga untuk menentukan tingakat gangguan nutrisi
yanag terjadi, sehingga dapat dihitung kebutuhan Nutrisi yang
dibutuhkan. (Hadi, 2002).
2.2.6 Patofisiologi Cirrhosis Hepatis
Pada sirosis hati, hipertensi portal timbul dari kombinasi
peningkatan vaskular intrahepatik dan peningkatan aliran darah ke
sistem vena porta. Peningkatan resistensi vaskular intrahepatik akibat
ketidakseimbangan antara vasodilator dan vasokontriktor. Peningkatan
gradient tekanan portocaval menyebabkan terbentuknya kolateral vena
portosistemik yang akan menekan sistem vena porta. Drainage yang
lebih dominan pada vena azygos menyebabkan terbentuknya varises
oesofagus yang cenderung mudah berdarah. Varises oesofagus dapat
terbentuk pada saat HVPG diatas 10 mmHg.
Hipertensi portal paling baik diukur dengan menggunakan
pengukuran hepatic vein pressure gradient (HVPG). Perbedaan
tekanan antara sirkulasi portal dan sistemik sebesar 10-12 mmHg
sangat penting dalam terbentuknya varises. Nilai normal HVPG
adalah 3-5 mmHg. Pengukuran awal HPVG bermanfaat bagi sirosis
compensate dan decompensate, sedangkan pengukuran secara
berulang HPVG berguna untuk monitoring pengobatan dan
progresivitas penyakit hati. (Di kutip dari de Franchis R. Revising
15

consensus in portal hypertension: report of the Baveno V consensus
workshop on methodology of diagnosis and therapy in portal
hypertension. J Hepatol 2010)
2.3 Pemasangan Infus
2.3.1 Definisi
Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan
memasukkan cairan melalui intravena yang dilakukan pada pasien
dengan bantu perangkat infus. Tindakan ini dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan
pengobatan dan pemberian makanan.
Pemberian cairan melalui infus pada pasien dengan
memasukkan ke dalam vena (pembuluh darah pasien) diantaranya
vena lengan (vena sefalika basilica dan mediana cubiti), pada tungkai
(vena safena), atau pada vena yang ada di kepala, seperti vena
temporalis frontalis (khusus untuk anak-anak). (KDPK Salemba
Medika)
2.3.2 Tujuan
Tujuan pemasangan infus yaitu:
1. Mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan dan
elektrolit tubuh
2. Memberikan obat-obatan dan kemoterapi
3. Transfusi darah dan produk darah
4. Memberikan nutrisi parenteral dan suplemen nutrisi




16

2.3.3 Macam-Macam Cairan Infus
KA-EN 3A
KA-EN 3B
RL
NACL
OTSU D5%
2.3.4 Prosedur Pemasangan Infus
A. Persiapan Alat
1. Standar Infus
2. Infus Set
3. Cairan yang sesuai dengan kebutuhan pasien
4. Jarum infus/abocath sesuai dengan ukuran
5. Pengalas/perlak
6. Torniquet pembendung
7. Kapas alkohol dalam tempatnya
8. Gunting dan plester
9. Kassa steril
10. Bengkok
11. Betadine
12. Handscoon
13. Sampah Medis
14. Sampah Non Medis
15. Sampah tajam

B. Persiapan pasien
a. Pasien diberi penjelasan tentang hal yang akan dilakukan
b. Minta persetujuan tindakan yang akan dilakukan pada pasien

17

C. Pelaksanaan
1. Membawa alat-alat kedekat pasien
2. Memberi tahu prosedur yang dilakukan
3. Mencuci tangan
4. Melepaskan tutup botol cairan infus dengan kapas alkohol lalu
menghubungkan cairan dan infus set dengan menusukkan
kedalam botol infus
5. Isi cairan kedalam perangkat infus dengan menekan bagian
ruang tetesan hingga ruang tetesan terisi sebagian dan buka
penutup hingga selang terisi dan keluar udaranya
6. Letakkan pengalas, lalu lakukan pembendungan dengan
torniquet
7. Gunakan handscoon
8. Desinfeksi daerah yang akan ditusuk
9. Lakukan penusukan dengan arah jarum/ abocath ke atas
10. Cek apakah sudah mengenai vena (cirinya darah keluar melalui
abocath/jarum)
11. Tarik abocath dan hubungkan dengan selang infus
12. Buka tetesan
13. Lakukan desinfeksi dengan betadine dan tutup dengan kassa
steril
14. Beri tanggal dan jam pelaksanaan infus
15. Catat respon yang terjadi
16. Membereskan pasien dan alat-alat ketempatnya
17. Melepas handscoon
18. Mencuci tangan
19. Dokumentasi. (KDPK, Musrifatul Uliyah, 2008)


18


18
BAB III
TINJAUAN KASUS


Tanggal Pengkajian : 4 Juli 2013
Pukul : 11.00 WIB
3.1 Pengkajian Data Subjektif
3.1.1 Biodata
A. Identitas Pasien
Nama : Tn "J"
Umur : 47 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Alamat : Jln. Meranti I Blok 46 15 Ulu, Sebrang Ulu
I, Palembang
Status : Menikah
Pekerjaan : Buruh harian
Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
Tanggal Masuk Rumah Sakit : 30 Juni 2013
Diagnosa Medis : Cirrhosis Hepatis


19

B. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Ny "S"
Umur : 33 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jln. Meranti I Blok 46 15 Ulu, Sebrang Ulu
I, Palembang
Status : Menikah
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Agama : Islam
Hubungan Dengan Penderita: Istri
3.2 Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama : Tn J mengeluh demam selama 2 minggu. Perut
keram karena kelelahan setelah membantu
ponakannya membangun rumah di Lubuk Linggau

b. Perjalanan peyakit: Kurang lebih dua minggu yang lalu pasien mengeluh
demam, perut kram (+), mual (+), muntah (+), badan
terasa Lemas R/DM (-) R/HT(-) R/Alkohol (+)
R/Rokok (+)
3.3 Data Objektif
1. Keadaan Umum
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80
x
/Menit
20

Suhu : 37,2
o
C
Pernapasan : 24
x
/Menit
Berat Badan : 44
Tinggi Badan : 150
2. Rambut
Kebersihan Rambut : Bersih
Warna Rambut : Hitam
Mudah Rontok : Tidak
Benjolan : Tidak
3. Mata
Bentuk : Simetris
Sklera : Ichterik
Konjugtiva : Tidak Anemis
Pupil : Normal
4. Hidung
Posisi Hidung : Normal
Bentuk Hidung : Simetris
5. Telinga
Bentuk Telinga : Simetris
Pemakaian Alat Bantu : Tidak

21

6. Mulut
Gigi : Bersih
Lidah : Tidak Ada Masalah
3.3 Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tanggal 4 juli 2013
Hasil Laboratorium Nilai Laboratorium Nilai Normal
Leukosit 15.700/ul 5000-10.000/ul
Trombosit 323.000/ul 150.000-400.000/ul
Hemoglobin 9,6 g/dl L: 14-16 g/dl
Blasofi 0% 0-1%
Eosinofil 3 1-3%
Btg 2 2-6%
Segmen 80 50-70%
Limposit 10 20-40%
Monosit 5 2-8%
SGOT 255 L < 37 U/I
P < 31 U/I
SGPT 88 L : < 41 U/I
P : < 31 U/I
BSS 138 < 180 Mg/dl

Pemeriksaan Laboratoriumi tanggal : 02 Juli 2013
Hasil Laboratorium Nilai Laboratorium Nilai Normal
HBSAG + Negatif
22






3.4 Terapi
IVFD : RL Gtt 20x/Menit
Injeksi : - Ranitidine 2x1 Amp
- Cefotaxime 2x1 Gr
Oral : - Metiason 3x1 Tablet
- Lanso 1x30 Mg
- Inpepsa Sirup 3x1 Sdm
- Procur Plus 1x1 Tablet
- Ondansetron 3x4 Mg








Anti HBS - Negatif
Bilurubin Total 21,2 < 1,1 Mg/dl
Bilurubin Direct 15,2 < 0,35 Mg/dl
Bilurubin Indirect 6,0 < 0,75 Mg/dl
23


23
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Perbedaan Teori Dan Praktik Pemasangan Infus
Teori Praktik
Persiapan Alat
-Standar infus
-Infus set
-Cairan yang sesuai dengan
kebutuhan pasien
-Jarum Infus/ Abocath sesuai
dengan ukuran
-Pengalas/perlak
-Torniquet pembendung
-Kapas alkohol pada tempatnya
-Gunting dan plester
-Kassa steril
-Bengkok
-Betadine
-Handscoon
-Sampah medis
-Sampah non medis
-Sampah tajam
Persiapan Alat
-Standar infus
-Infus set
-Cairan yang sesuai dengan
kebutuhan pasien
-Jarum infus/abocath sesuai dengan
ukuran
-Torniquet pembendung
-Kapas alkohol dalam tempatnya
-Gunting dan plester
-Kassa steril
-Bengkok
-Betadine
-Handscoon
-Sampah medis
-Sampah non medis
-Sampah tajam








24

B. Prosedur Pemasangan Infus Diruang Penyakit Dalam
Teori Praktik
1. Membawa alat-alat kedekat
pasien
2. Memberi tahu prosedur yang
akan dilakukan
3. Mencuci tangan
4. Melepaskan tutup botol cairan
dengan kapas alkohol lalu
menghubungkan cairan infus set
dengan menusukkan kedalam
botol infus
5. Isi cairan kedalam perangkat
infus dengan menekan bagian
ruang tetesan hingga ruangan
tetesan terisi sebagian dan buka
penutup hingga selang terisi dan
keluar udaranya
6. Pasang pengalas
7. Lakukan pembendungan dengan
torniquet
8. Gunakan handscoon
9. Desinfeksi daerah yang akan
ditusuk
10. Lakukan penusukan dengan
arah jarum/abocath ke atas
11. Cek apakah sudah mengenai
vena (cirinya darah keluar
melalui abocath/jarum)
12. Tarik abocath dan sambungkan
dengan selang infus
1. Membawa alat-alat kedekat
pasien
2. Memberi tahu prosedur yang akan
dilakukan
3. Mencuci tangan
4. Melepaskan tutup botol cairan
dengan kapas alkohol lalu
menghubungkan cairan infus set
dengan menusukkan kedalam
botol infus
5. Isi cairan kedalam perangkat
infus dengan menekan bagian
ruang tetesan hingga ruangan
tetesan terisi sebagian dan buka
penutup hingga selang terisi dan
keluar udaranya
6. Lakukan pembendungan dengan
torniquet
7. Gunakan handscoon
8. Desinfeksi daerah yang akan
ditusuk
9. Lakukan penusukan dengan arah
jarum/abocath ke atas
10. Cek apakah sudah mengenai vena
(cirinya darah keluar melalui
abocath/jarum)
11. Tarik abocath dan sambungkan
dengan selang infus
12. Buka tetesan
25

13. Buka tetesan
14. Lakukan desinfeksi dengan
betadine dan tutup dengan kassa
steril
15. Beri tanggal dan jam
pelaksanaan Infus
16. Catat respon yang terjadi
17. Membereskan pasien dan alat-
alat ketempatnya
18. Melepas handscoon
19. Mencuci tangan
20. Dokumentasi. (KDPK,
Musrifatul Uliyah, 2008)
13. Beri tanggal dan jam pelaksanaan
Infus
14. Catat respon yang terjadi
15. Membereskan pasien dan alat-alat
ketempatnya
16. Melepas handscoon
17. Mencuci tangan
18. Dokumentasi.

Dari tabel diatas kita dapat melihat ada perbedaan prosedur alat dan
prosedur kerja antara teori dan praktek. Adapun perbedaannya sebagai berikut :
1. Pengalas/perlak di lapangan tidak tersedia karena keterbatasan rumah sakit
dalam penyediaan alat-alat sehingga tidak memungkinkan untuk memasang
pengalas pada prosedur pemasangan infus,
2. Desinfeksi dengan menggunakan betadine juga tidak dilakukan karena
dilapangan desinfeksi dengan alkohol pada daerah sebelum dilakukan
penusukan sudah dirasa cukup.



26

26

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan keterampilan dasar praktik klinik pemasangan infus pada
Tn. "J" dengan diagnosa Cirrhosis Hepatis di ruang Penyakit Dalam Laki-Laki di
RSUD Palembang BARI penulis melakukan pengkajiam dan pengambilan
kesimpulan sebagai berikut :
1. Cirrhosis Hepatis (Sirosis hati) adalah penyakit hati menahun yang difus
ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul.
2. Pemasangan Infus pada Tn J untuk mengembalikan dan mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, memberikan obat-obatan dan
memberikan nutrisi parenteral dan suplemen nutrisi.
3. Mahasiswa/Mahasiswi dapat melakukan prosedur pemasangan Infus sesuai
dengan teori pada Tn "J" di ruangan Penyakit Dalam Laki-Laki RSUD
Palembang BARI.
5.2 Saran
5.2.1 Untuk Rumah Sakit
Melalui makalah ini kami mengharapkan agar para pihak rumah sakit
dapat memenuhi sarana dan prasarana dalam pemenuhan keterampilan dasar
praktik klinik pemasangan Infus.
5.2.2 Untuk Pendidikan
Melalui makalah ini di harapkan agar pihak pendidikan dapat
memberi pengarahan dan bimbingn kepada mahasiswa/mahasiswi untuk
mengembangkan keterampilan dasar praktik klinik dilapangan praktik,
sehingga dapat membandingkan dengan teori yang diberikan pendidikan.

27

5.2.3 Untuk Mahasiswa dan Mahasiswi
Melalui makalah ini mahasiswa dan mahasiswi diharapkan dapat
memperhtikan prosedur keterampilan dasar praktik klinik yang telah didapat
dari pendidikan ketika melaksanakan praktik.