Vous êtes sur la page 1sur 10

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada petiap wanita yang telah memasuki masa pubertas biasanya akan
mengalami menstruasi. Darah yang keluar dari vagina wanita sewaktu sehat bukan
disebabkan oleh melahirkan anak atau disebabkan karena luka. Menstruasi
menunjukkan bahwa seorang gadis yang sehat dan berfungsi sebagaimana
mestinya, tetapi pada saat menstruasi sering muncul keluhan atau gangguan,
khususnya pada wanita produktif terutama pada remaja yang sering terjadinya
nyeri haid/dismenorea (Waryana, 2010).
Menurut Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun
2007, remaja adalah laki-laki dan perempuan yang belum kawin dengan batasan
usia meliputi 15-24 tahun (Wijaya, 2009). Pada tahap ini remaja akan mengalami
suatu perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas dan
dari berbagai ciri pubertas tersebut, menstruasi merupakan perbedaan yang
mendasar antara pubertas pria dan wanita (Dep Kes, 2007). Pubertas merupakan
morfologis, fisiologis, dan perilaku yang terjadi sewaktu kondisi anak-anak
menjadi dewasa (Jane dan Melvyn, 2006: 85).
Diketahui pula nyeri saat haid merupakan keluhan yang sering dijumpai
dikalangan usia subur termasuk remaja, yang menyebabkan pergi kedokter untuk
berobat dan kosultasi, untuk dismenorea terdapat 30-75% dari populasi
berkonsultasi kedokter dan memerlukan pengobatan (Junizar, 2001).
2


Selanjutnya Dismenorea atau yang lebih dikenal dengan nyeri haid dialami
pada remaja putri tepatnya diperut bagian bawah. Nyeri tersebut dapat disertai
mual, muntah, diare, berkeringat dingin, dan pusing. Namun belakangan diketahui
bahwa nyeri haid tidak hanya dirasakan dibagian perut bagian bawah saja.
beberapa remaja terkadang merasakan dibagian punggung bawah, pinggang,
panggul, otot paha atas, hingga betis. Dismenorea mulai dirasakan saat terjadinya
ovulasi pada siklus menstruasi, dimana ovulasi mulai terjadi pada 6-14 bulan
setelah menarche (Hockkenberry dan Wilson, 2009).
Pada angka kejadian dismenore didunia sangatlah besar, rata-rata lebih dari
50% wanita disetiap Negara mengalami nyeri haid. Kejadian kasus dismenorea
didunia cukup tinggi, diperkirakan sekitar 50% dari seluruh wanita didunia
menderita akibat dismenorea dalam sebuah siklus menstruasi (Llewellyn, 2005).
Pada penelitian ini, peneliti memilih wanita pada usia remaja, hal ini didukung
oleh data hasil studi epidemiologi pada populasi remaja (berusia 12-17 tahun) di
Amerika Serikat, Klien dan Litt melaporkan prevalensi dismenorea 59, 7% dengan
nyeri haid berat 12%, nyeri sedang 37%, dan nyeri ringan 49% (Anurogo, 2008).
Hal ini didukung French (2005) menyatakan di Amerika Serikat dismenore paling
tinggi pada usia remaja dengan estimasi 20-90% dengan nyeri haid berat 15%,
sedangkan di Malaysia prevalensi dismenorea pada remaja 62,3% (Liliwati, Verna
dan Khairani, 2007). Lebih lanjut dalam sebuah studi longitudinal yang dilakukan
di Swedia melaporkan dismenorea terjadi 90% wanita yang berusia kurang dari 19
tahun dan 67% wanita yang berusia 24 tahun (French, 2005).
3


Untuk di Indonesia belum ada angka yang pasti mengenai kejadian
dismenore namun dapat diperkirakan sebesar 64,25 % yang terdiri dari 54,89 %
Dismenore primer dan 9,36 % Dismenore sekunder (Info Sehat,2008). Namun
dalam penelitian oleh Novia dan Nunik (2008) didesa banjar kematren dengan 100
responden wanita usia subur (15-30 tahun) ditemukan 71% responden mengalami
dismenorea primer, penelitian tersebut terdapat banyak perbedaan antara teori
yang ada dengan hasil penelitian, adapun variabel yang berpengaruh adalah umur,
pengetahuan dan sikap, kebiasaan olahraga. Di Sulawesi tenggara tidak ada angka
yang pasti mengenai dismenorea. Namun di Surabaya di dapatkan 1,07 % sampai
1,31 % dari jumlah penderita datang ke bagian kebidanan (Harunriyanto, 2002).
Analisis kasus yang dilakukan oleh Susanto dkk (2008) dikotamadya
makasar dari 997 remaja putri yang menjadi responden 93,8% diantaranya
mengalami dismenorea primer. Hal ini menunjukkan tingginya prevalensi kejadian
dismenorea primer remaja.
Sedangkan pada wanita yang menderita nyeri saat haid juga belum
mengetahui penanganan nyeri haid tersebut walaupun nyeri haid telah
menyebabkan ketidaknyamanan dalam aktivitas fisik sehari-hari. Keluhan ini
berhubungan dengan ketidakhadiran berulang di sekolah ataupun di tempat kerja,
sehingga dapat mengganggu produktivitas. Sekitar 70-90% kasus nyeri haid
terjadi saat usia remaja (Proctor dan Farquar, 2002; Singh dkk, 2008) dan remaja
yang mengalami nyeri haid akan terpengaruh aktivitas akademis, sosial dan
olahraganya (Antao, dkk, 2005).
4


Hasil studi terbaru menunjukan bahwa hampir 10% remaja yang dismenore
mengalami absence rate 1-3 hari per bulan atau ketidakmampuan remaja dalam
melakukan tugasnya sehari-hari akibat nyeri hebat (Poureslami, dkk dalam sulastri
2006). Hal ini diperkuat oleh jarret, dkk dalam sulastri (2006) tingkatan rasa sakit
saat menstruasi adalah sakit ringan 47,7% dan sakit berat sebanyak 47%.
Selanjutnya untuk menghilangkan rasa sakit, remaja tersebut menggunakan obat
sendiri tanpa konsultasi dengan dokter, minum obat analgesik 32,5%, melakukan
kompres dengan air panas 34% dan yang tersering melakukan istirahat sekitar
92%. Hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak diperut bawah sebelum dan
selama haid dan sering kali rasa mual, maka dismenorea hanya dipakai jika rasa
nyeri haid sedemikian hebat, sehingga memaksa penderita untuk istirahat
(Sarwono, 2008).
Hal ini diperlukan pengetahuan tentang menstruasi dan rasa sakit yang
dirasakan pada saat menstruasi yang terjadi pada remaja, semua wanita yang
mendapat menstruasi akan merasakan hal yang sama, apabila pengetahuan ini
tidak didapat pada remaja mengenai dismenore primer, hal ini akan dianggap suatu
hal yang abnormal. Melalui cara tersebut diharapkan mereka dapat mengambil
sikap terhadap suatu hal yang dirasakan pada saat menstruasi dengan cara wajar
dan mereka akan berusaha mengantisipasi atau mengurangi apabila terjadi rasa
nyeri pada saat menstruasi dengan cara olahraga atau dengan aktivitas yang lain
(Rina ,2010)
Menurut Saraswati (2008), seorang wanita yang berpengetahuan kurang
tentang upaya penanganan dismenore akan lebih mudah terkena, dibandingkan
5


dengan wanita yang mempunyai pengetahuan baik tentang upaya penanganan
dismenore. Selain itu, berdasarkan penelitian Shinta Oktari (2010) menunjukkan
bahwa dari 43 responden yang mempunyai pengetahuan rendah tentang nyeri haid,
71,4% melakukan upaya yang buruk dalam mengatasi nyeri haid.
SMAN 1 Wawonii, yang merupakan satu-satunya SMA yang Negeri
berada di Wawonii Barat dan juga institusi pendidikan yang termasuk komunitas
renaja, dengan lokasi SMAN 1 Wawonii walaupun strategis yang terletak di
Wawonii Barat tetapi masih kurang informasi masuk baik positif dan negatif serta
akses internet yang hanya ada didaerah-daerah tertentu, sehingga tidak mudah
untuk dijangkau oleh siswa. jumlah seluruh siswa kelas X dan XI sebanyak 243
yaitu terdiri dari 150 (61,72%) orang siswa perempuan dan 93 (38,27%) orang
siswa laki-laki, yang tersebar pada delapan kelas (X,XI). Siswa putri yang
menderita dismenorea ada 91 (60,66%) dari seluruh siswi kelas X,XI.
Dengan berdasarkan wawancara pada tanggal 2 mei 2013 dengan wakil
kepala sekolah SMAN 1 Wawonii masih kurangnya pendidikan tentang
dismenorea dan belum adanya penyuluhan tentang penanganan dismenorea primer
pada saat menstruasi yang di berikan di SMA tersebut, serta belum pernah
dilakukan penelitian tentang kesehatan reproduksi khususnya dismenorea pada
saat menstruasi.
Wawancara yang dilakukan oleh penulis pada 20 siswa remaja putri yang
mengalami nyeri haid (dismenorea). pada minggu pertama bulan juni 2013, ketika
ditanya tentang dismenorea primer hanya 2 orang saja yang tau arti dari kata
dismenorea dan bahkan masih ada 18 siswi tidak mengetahui arti dari kata
6


dismenorea, yang tidak lain mereka mengerti ketika disebut nyeri haid, hal ini
mereka tau tetapi hanya sebatas pengertian nyeri haid saja, dan ketika ditanya
lebih jauh tentang penyebab dan cara mengatasi dismenorea primer tidak ada yang
tau, ketika ditanya cara menangani dismenorea kebiasaan yang mereka lakukan
jika terkena dismenorea mereka hanya tidur-tiduran atau izin tidak mengikuti
pelajaran, dan tidak tau cara penanganannya, dengan mempunyai pengetahuan
yang minim sehingga tidak mengetahui pengambilan sikap untuk menangani
dismenore.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan mengenai
tindakan penanganan nyeri haid, nyeri haid yang terjadi pada saat menstruasi
remaja putri dan cara pencegahan dismenorea masih kurang (wawancara, 5 juni
2013), hal ini membuktikan bahwa para siswi tidak mengetahui tentang
dismenorea, mereka juga tidak mengetahui apa penyebab terjadinya dan
pengambilan sikap tentang cara mengatasi dismenorea primer, sehingga tidak
mengganggu aktivitas mereka.
Berdasarkan penelitian Penelitian yang dilakukan oleh Siti purwani, dkk
(2010) dengan judul hubungan tingkat pengetahuan tentang dismenorea dengan
sikap penanganan dismenorea pada remaja putri kelas X di sman 1 petanahan,
dengan hasil penelitian, tingkat pengetahuan tentang sikap penanganan dismenorea
yang paling tinggi adalah kurang sebanyak 55 responden (82,08%), dan tidak ada
responden yang tingkat pengetahuan tentang dismenorea dan sikap penanganannya
baik. Hasil penelitian menunjukkan; a) ada hubungan tingkat pengetahuan tentang
dismenorea dengan sikap penanganan dismenorea, b) tingkat pengetahuan
7


dismenorea remaja puti SMAN 1 petanahan kurang, hasil penelitian menunjukkan
sikap penanganan dismenorea remaja putri SMAN 1 petanahan adalah kurang.
Didukung pula penelitian yang dilakukan oleh Rina Irawati dengan judul
penelitian Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap tentang Kesehatan Reproduksi
dengan Kejadian Dismenore Remaja Putri Di SMK Muhamadiyah I Kabupaten
Sragen tahun 2010 menunjukkan bahwa : a) ada hubungan antara pengetahuan
tentang kesehatan reproduksi dengan kejadian dismenore pada remaja putri,
semakin tinggi tingkat pengetahuan, semakin bisa mengatasi hal-hal yang terjadi
pada saat dismenore, b) ada hubungan antara sikap tentang kesehatan reproduksi
dengan kejadian dismenore, bekal pengetahuan yang cukup membuat remaja
semakin mempunyai sikap dalam menghadapi serta mengatasi dismenorea, c) ada
hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang kesehatan reproduksi dengan
kejadian dismenorea. Dengan analisa statistik disimpulkan bahwa semakin tinggi
tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. remaja semakin mempunyai
sikap yang positif dalam menghadapi dismenore pada masa menstruasi.
Untuk mengatasi nyeri haid ada 3 tahap yang harus dilalui yaitu;
pengetahuan, sikap dan tindakan (Notoatmodjo, 2007).
Berdasarkan kejadian diatas sehingga peneliti melakukan penelitian yang
berjudul Hubungan Pengetahuan dan Sikap Terhadap Tindakan Penanganan
Dismenorea Primer pada Siswi SMAN 1 Wawonii Kecamatan Wawonii Barat
Kabupaten Konawe Tahun 2013.
B. Rumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan yaitu sebagai berikut :
8


1. Apakah terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap Tindakan penanganan
dismenorea primer pada siswi SMAN 1 Wawonii tahun 2013?
2. Apakah terdapat hubungan antara sikap terhadap Tindakan penanganan
dismenorea primer pada siswi SMAN 1 Wawonii tahun 2013?
3. Apakah terdapat hubungan pengetahuan dan sikap terhadap Tindakan
penanganan dismenorea primer pada siswi SMAN 1 Wawonii Kecamatan
Wawonii Barat Kabupaten Konawe Tahun 2013?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Berdasarkan rumusan masalah penelitian maka tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui adanya Hubungan Pengetahuan dan Sikap Terhadap
Tindakan Penanganan Dismenorea Primer pada Siswi SMAN 1 Wawonii
Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Tahun 2013.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari latar belakang diatas yaitu sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan terhadap Tindakan penanganan
dismenorea primer pada siswi SMAN 1 Wawonii tahun 2013.
b. Untuk mengetahui hubungan sikap terhadap Tindakan penanganan
dismenorea primer pada siswi SMAN 1 Wawonii tahun 2013.
c. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap
Tindakanpenanganan Dismenorea primer pada Siswi SMAN 1 Wawonii
Kecamatan Wawonii Barat Kabupaten Konawe Tahun 2013
3. Manfaat Penelitian
9


a. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu tentang masalah
kesehatan reproduksi pada remaja khususnya dismenorea primer.
Hasil penelitian ini juga merupakan bahan bacaan dan referensi bagi peneliti
selanjutnya releven.
b. Manfaat institusi
1) Bagi pemerintah
Merupakan sumber imformasi tentang tingkat pengetahuan, dan sikap
terhadap Tindakan penanganan dismenore primer siswi SMAN 1
Wawonii sehingga dapat menentukan kebijakan bagi petugas pelayanan
kesehatan yaitu promosi kesehatan petugas yang terkait.
2) Bagi SMAN 1 Wawonii Kecamatan Wawonii Barat
Hasil penelitian ini di harapkan bisa menjadi bahan masukan bagi pihak
SMAN 1 Wawonii Kecamatan Wawonii Barat guna meningkatkan ilmu
tentang dismenorea.
3) Bagi isntitusi STIKA
Sebagai pustaka di lingkungan STIK dan sebagai salah satu bentuk
pengabdian pada masyarakat.
4) Manfaat bagi profesi keperawatan
Dapat menambah wawasan profesi keperawatan dalam menunjang
peningkatan pengetahuan, dan sikap tentang dismenorea primer dan
pengembangan ilmu pengetahuan.
c. Bagi peneliti
10


Merupakan pengalaman berharga dan aplikasi ilmu serta menambah
wawasan mengenai kejadian dismenorea pada Siswi SMAN 1 Wawonii
Kecamatan Wawonii Barat.