Vous êtes sur la page 1sur 2

ABSTRAK

Prevalensi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) meningkat seiring dengan usia. Bukti
terbaru menunjukan bahwa didapatkan juga ko-eksistensi bronkioektasis pada penderita
PPOK yang menjadi semakin umum didapatkan, oleh karena semakin banyak penggunaan
CT scan resolusi tinggi (CTRT) pada penilaian pasien dengan PPOK. Ko-eksistensi ini
mungkin merupakan fenotip yang berbeda dari PPOK sendiri, tetapi,bagaimanapun,
kemungkinan untuk menimbulkan beban dalam pelayanan kesehatan dan tantangan dalam
menentukan pengelolaan secara benar akan meningkat. Disini, peneliti melihat faktor-faktor
yang berhubungan dengan bronkioektasis pada pasien yang lebih tua dengan PPOK serta
bukti dari beberapa jenis terapi yang saat ini digunakan sebagai pengobatan dan memberikan
mereka pendekatan secara rasional untuk manajemen mereka terhadap penyakitnya.
1. Pendahuluan
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan bronkioektasis keduanya kondisi umum
pada orang usia tua, dengann PPOK dikatakan bahwa mempengaruhi sekitar 14,2% sari
individu diatas usia 65 tahun, dan bronkioektasis Secara klasik, bronkioektasis ditandai
dengan dilatasi saluran pernafasan yang permanen; memiliki banyak penyebab dan hasil
yang timbul dari interaksi antara infeksi kronis, kolonisasi dan peradangan yang
berlebihan. Pada bronkioektasis peradangan didominasi oleh neutrofil. Pelepasan
proteinase oleh neutrofil mengakibatkan kerusakan pada epitel saluran nafas dan
mengganggu sistem imun lokal, sehingga dapat menyebabkan melekatnya bakteri dan
kolonisasi dari bakteri tsb. (Gamber 1.)
Pasien biasanya mengalami batuk kronis disertai sputum (sering kali purulen), infeksi
saluran nafas bawah berulang dan memiliki bukti kolonisasi bakteri kronis. Pasien
dengan bronkioektasis klasik, umumnya dapat dikarakteristikan dengan baik, dengan
jumlah penyebab yang dapat diidentifikasi, termasuk imunodefisiensi dan penyebab
pasca-infeksi, dan hubungan dengan kondisi peradangan lainnya seperti rheumatoid
arthritis.
Etiologi, manifestasi, dan penatalaksanaan penyakit ini telah dijelaskan dengan baik
selama bertahun-tahun, dan pedoman manajemen pengobatan bronkioektasi baru-baru ini
telah ditebitkan. Peningkatan penggunaan CTRT telah menyebabkan peningkatan dalam
mengidentifikasi pasien PPOK dimana diantaranya terdapat bronkioektasis, yang
sebelumnya tidak teridentifikasi.
Temuan CTRT ini mungkin subklini pada banyak pasien, dan mungkin tidakm oleh
karena itu lebih tepat untuk memperlakukan mereka dengan cara yang sama seperti pada
pasien bronkioektasis. Hal ini, bagaimanapun, menyajikan kesempatan untuk
mengidentifikasi fenotip PPOK
2. Co-existent Chronic Obstructive Pulmonary Disease and Bronchiectasis
3. Epidemiology
4. Diagnosis
5. Microbiology
6. Pathophysiology
7. Therapies
8. Management of Acute Exacerbation
9. Conclusion