Vous êtes sur la page 1sur 22

TUGAS KELOMPOK

MATA KULIAH KEPERAWATAN KOMUNITAS I


Perbedaan Pelayanan di Rumah Sakit dengan Pelayanan di
Komunitas


OLEH :
Kelompok 8
INSANI ADILA NURTON (123110234)
SYARIFATURRAHMAH (123110251)
II.A

Dosen Pembimbing :
TASMAN, S.Kp, M.Kep, Sp.Kom


POLTEKKES KEMENKES RI PADANG
PRODI KEPERAWATAN PADANG
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perawatan kesehatan merupakan suatu lapangan khusus di bidang kesehatan, dimana
keterampilan hubungan antara manusia serta keterampilan organisasi di terapkan dalam hubungan
yang serasi dengan keterampilan anggota profesi kesehatan lain dan tenaga sosial, demi
memelihara kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, perawatan kesehatan masyarakat di tujukan
pada individu, keluarga, dan kelompok melalui upaya peningkatan kesehatan, pemeliharaan
kesehatan, penyuluhan kesehatan, koordinasi, dan pelayanan keperawatan berkelanjutan sebagai
suatu pendekatan yang komphrehensif.
Pelayanan kesehatan di Rumah sakit merupakan suatu unit yang memberikan jasa
pelayanan sosial di bidang medis klinis. Misi rumah sakit tidak terlepas dari misi pelayanan
sosial. Pelayanan di rumah sakit berfokus pada kesehatan pasien dan kepuasan pasien dalam
mendapatkan pelayan kesehatan. Untuk itu, masyarakat perlu mendapatkan pendidikan kesehatan
yang dapat menyadari akan pentingnya menjaga kesehatan.
Selain itu masyarakat juga di pandang sebagai target pelayanan kesehatan yag bertujuan untuk
mencapai kesehatan komunitas, sebagai suatu upaya peningkatan kesehatan dan menggunakan
kerjasama sebagai suatu mekanisme dalam mempermudah pencapaian tujuan yang berarti
masyarakat di libatkan secara aktif untuk mencapai tujuan terseebut.
B. RUMUSAN MASALAH
a. Mengetahui pengertian pelayanan kesehatan.
b. Mengetahui faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan.
c. Mengetahui tujuan kesehatan masyarakat.
d. Mengetahui sasaran kesehatan masyarakat.
e. Mengetahui perbedaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit dan di komunitas.
C. TUJUAN
Tujuan Umum
Agar mahasiswa memahami secara keseluruhan tentang Perbedaan antara pelayanan
kesehatan di Rumah Sakit dan di Komunitas.
Tujuan Khusus :
a. Mengetahui pengertian pelayanan kesehatan.
b. Mengetahui faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan.
c. Mengetahui tujuan kesehatan masyarakat.
d. Mengetahui sasaran kesehatan masyarakat.
e. Mengetahui perbedaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit dan di komunitas.























BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PELAYANAN KESEHATAN
Pelayanan merupakan suatu aktivitas atau serangkaian alat yang bersifat tidak kasat mata
(tidak dapat diraba), yang terjadi akibat interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal
lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan
persoalan konsumen (Gronroos, 1990 dalam Ratminto dan Winarsih, 2005).
Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah pengunaan fasilitas pelayanan yang disediakan baik
dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, kunjungan rumah oleh petugas kesehatan ataupun bentuk
kegiatan lain dari pemanfaatan pelayanan tersebut yang didasarkan pada ketersediaan dan
kesinambungan pelayanan, penerimaan masyarakat dan kewajaran, mudah dicapai oleh
masyarakat, terjangkau serta bermutu (Azwar, 1999).
Keperawatan kesehatan komunitas terdiri dari tiga kata yaitu keperawatan, kesehatan dan
komunitas, dimana setiap kata memiliki arti yang cukup luas. Azrul Azwar (2000) mendefinisikan
ketiga kata tersebut sebagai berikut :
1. Keperawatan adalah ilmu yang mempelajari penyimpangan atau tidak terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia yang dapat mempengaruhi perubahan, penyimpangan atau tidak
berfungsinya secara optimal setiap unit yang terdapat dalam sistem hayati tubuh manusia,
baik secara individu, keluarga, ataupun masyarakat dan ekosistem.
2. Kesehatan adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan manusia mulai dari tingkat
individu sampai tingkat ekosistem serta perbaikan fungsi setiap unit dalam sistem hayati
tubuh manusia mulai dari tingkat sub sampai dengan tingkat sistem tubuh.
3. Komunitas adalah sekelompok manusia yang saling berhubungan lebih sering
dibandingkan dengan manusia lain yang berada diluarnya serta saling ketergantungan
untuk memenuhi keperluan barang dan jasa yang penting untuk menunjang kehidupan
sehari-hari.
Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang
merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan
sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guns meningkatkan
kesehatan, penyempumaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi, pence-gahan
penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang mempunyai
masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan.
Keperawatan kesehatan komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan
kepada masyarakat dengan pendekatan pads kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian
derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan dengan
menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai
mitra dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan keperawatan (Spradley, 1985;
Logan and Dawkin, 1987).
Keperawatan kesehatan komunitas menurut ANA (1973) adalah suatu sintesa dari praktik
kesehatan masyarakat yang dilakukan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan
masyarakat. Praktik keperawatan kesehatan komunitas ini bersifat menyeluruh dengan tidak
membatasi pelayanan yang diberikan kepada kelompok umur tertentu, berkelanjutan dan
melibatkan masyarakat.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perawatan kesehatan komunitas
adalah suatu bidang dalam ilmu keperawatan yang merupakan keterpaduan antara keperawatan
dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta masyarakat, serta mengutamakan
pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan dengan tanpa mengabaikan
pelayanan kuratif dan rehabilitatif, secara menyeluruh dan terpadu ditujukan kesatuan yang utuh
melalui proses keperawatan untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal.
B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAYANAN KESEHATAN
Menurut WHO (1984) dalam Juanita (1998) menyebutkan bahwa faktor prilaku yang
mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan adalah:
a. Pemikiran dan Perasaan (Thoughts and Feeling)
Berupa pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan dan penilaian-penilaian seseorang
terhadap obyek, dalam hal ini obyek kesehatan.
b. Orang Penting sebagai Referensi (Personal Referensi)
Seseorang lebih banyak dipengaruhi oleh seseorang yang dianggap penting atau
berpengaruh besar terhadap dorongan penggunaan pelayanan kesehatan.
c. Sumber-Sumber Daya (Resources)
Mencakup fasilitas, uang, waktu, tenaga, dan sebagainya. Sumber-sumber daya juga
berpengaruh terhadap prilaku seseorang atau kelompok masyarakat dalam memanfaatkan
pelayanan kesehatan. Pengaruh tersebut dapat bersifat positif dan negatif.

d. Kebudayaan (Culture)
Berupa norma-norma yang ada di masyarakat dalam kaitannya dengan konsep sehat sakit.
e. Syarat Pokok Pelayanan Kesehatan
Azwar (1999) menjelaskan suatu pelayanan kesehatan harus memiliki berbagai
persyaratan pokok, yaitu: persyaratan pokok yang memberi pengaruh kepada masyarakat
dalam menentukan pilihannya terhadap penggunaan jasa pelayanan kesehatan dalam hal
ini puskesmas, yakni :
f. Ketersediaan dan Kesinambungan Pelayanan
Pelayanan yang baik adalah pelayanan kesehatan yang tersedia di masyarakat (acceptable)
serta berkesinambungan (sustainable). Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan masyarakat ditemukan serta keberadaannya dalam masyarakat adalah ada pada
tiap saat dibutuhkan.
g. Kewajaran dan Penerimaan Masyarakat
Pelayanan kesehatan yang baik adalah bersifat wajar (appropriate) dan dapat diterima
(acceptable) oleh masyarakat. Artinya pelayanan kesehatan tersebut dapat mengatasi
masalah kesehatan yang dihadapi, tidak bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan,
keyakinan dan kepercayaan masyarakat, serta bersifat tidak wajar, bukanlah suatu keadaan
pelayanan kesehatan yang baik.
h. Mudah Dicapai oleh Masyarakat
Pengertian dicapai yang dimaksud disini terutama dari letak sudut lokasi mudah dijangkau
oleh masyarakat, sehingga distribusi sarana kesehatan menjadi sangat penting. Jangkauan
fasilitas pembantu untuk menentukan permintaan yang efektif. Bila fasilitas mudah
dijangkau dengan menggunakan alat transportasi yang tersedia maka fasilitas ini akan
banyak dipergunakan. Tingkat pengguna di masa lalu dan kecenderungan merupakan
indikator terbaik untuk perubahan jangka panjang dan pendek dari permintaan pada masa
akan datang.
i. Terjangkau
Pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan yang terjangkau (affordable) oleh
masyarakat, dimana diupayakan biaya pelayanan tersebut sesuai dengan kemampuan
ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang mahal hanya mungkin dinikmati oleh
sebagian masyarakat saja.
j. Mutu
Mutu (kualitas) yaitu menunjukkan tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang
diselenggarakan dan menunjukkan kesembuhan penyakit serta keamanan tindakan yang
dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan yang sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan.
C. TUJUAN KESEHATAN MASYARAKAT
Kesehatan masyarakat ditujukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, serta
memberikan bantuan melalui intervensi keperawatan sebagai dasar keahliannya dalam membantu
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam mengatasi berbagai masalah keperawatan
kesehatan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari (Effendy, 1998).
Menurut Depkes RI (2007), tujuan dari kesehatan masyarakat adalah:
a. Tujuan Umum
Tujuan umum kesehatan masyarakat adalah meningkatkan kemandirian individu, keluarga, dan
kelompok/masyarakat untuk mengatasi masalah keperawatan kesehatan agar tercapai derajat
kesehatan optimal.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus kesehatan masyarakat adalah :
1. Meningkatnya pengetahuan individu, sikap, perilaku individu, keluarga, kelompok
masyarakat tentang kesehatan.
2. Meningkatnya penemuan dini kasus baru prioritas.
3. Meningkatnya penanganan keperawatan kasus di Puskesmas.
4. Meningkatnya penanganan kasus prioritas mendapat tidak lanjut perawatan.

D. SASARAN KEGIATAN KESEHATAN MASYARAKAT
Sasaran dari kegiatan kesehatan masyarakat, khususnya keperawatan masyarakat mencakup
seluruh masyarakat berdasarkan Depkes RI (2007), diantaranya :
1. Individu, yaitu individu beresiko tinggi, seperti individu dengan penyakit, balita, lansia,
masalah mental atau kejiwaan.
2. Keluarga, yaitu ibu hamil, balita, lanjut usia, menderita penyakit, masalah
mental/kejiwaan.
3. Kelompok masyarakat, yaitu daerah kumuh, terisolasi, konflik, dan daerah yang tidak
terjangkau dengan pelayanan masyarakat.
Sedangkan fokus dari sasaran keperawatan kesehatan masyarakat adalah keluarga rawan
kesehatan dengan prioritas keluarga yang rentan terhadap masalah kesehatan (gakin) dan keluarga
dengan resiko tinggi: anggota keluarga ibu hamil, balita. Lansia, dan menderita penyakit.
Sebagai pejabat fungsional perawat, perawat kesehatan masyarakat di puskesmas bertanggung
jawab melaksanakan pelayanan terhadap individu, keluarga, kelompok/masyarakat yang
mengalami masalah kesehatan akibat ketidaktahuan dan ketidakmampuan. Idealnya perawat
puskesmas yang profesional adalah perawat komunitas yang memiliki latar belakang pendidikan
serta kompetensi dibidang keperawatan komunitas dalam menjalankan peran dan fungsinya
(Depkes RI, 2004).
E. PERBEDAAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT DENGAN PELAYANAN DI
KOMUNITAS
Perbedaan pelayanan di antara kedua bentuk pelayanan tersebut dapat di lihat dari berbagai
aspek yaitu tempat kegiatan, jenis pasien yang di layani, ruang lingkup pelayanan perhatian utama,
dan sasaran pelayanan di gambarkan dalam tabel berikut :
No Aspek perbedaan Ruamh Sakit Keperawatan Komunitas
1 Tempat kegiatan 1. Bangsal perawatan
2. Klinik
1. Puskesmas
2. Rumah
3. Sekolah
4. Perusahaan
5. Panti-panti
2 Tipe Pasien yang di
layani
1. Orang sakit
2. Orang meninggal
1. Orang sehat
2. Orang sakit
3. Orang meninggal
3 Ruang lingkup
pelayanan
1. Kuratif
2. Rehabilitatif
1. Promotif
2. Preventif
3. Kuratif
4. Rehabilitatif
5. Resosiati
4 Perhatian utama 1. Rasa aman selama sakit 1. Peningkatan
kesehatan
2. Pencegahan penyakit
5 Sasaran pelayanan 1. Individu 1. Individu
2. Keluarga
3. Kelompok khusus
4. Masyarakat
a. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit
Pelayanan medik di Rumah Sakit adalah salah satu jenis pelayanan Rumah Sakit yang
diberikan oleh tenaga medik.
Manajemen Pelayanan Medik di Rumah Sakit secara sederhana adalah suatu pengelolaan
yang meliputi perencanaan berbagai sumber daya medik dengan mengorganisir serta
menggerakkan sumber daya tersebut diikuti dengan evaluasi dan kontrol yang baik, sehingga
dihasilkan suatu pelayanan medik yang merupakan bagian dari sistem pelayanan di Rumah Sakit.
Pasien/klien
Dilihat dari status sosio-ekonomi dan budaya masyarakat pasien dapat digolongkan pada
pasien tingkat menengah ke atas dan tingkat menengah ke bawah. Pada perencanaan suatu
Rumah Sakit perlu memperhitungkan status pasien yang akan menjadi pangsa pasar Rumah
Sakit sesuai dengan visi dan misi Rumah Sakit.
Manajemen Pelayanan Medis Di Rumah Sakit
Secara sederhana terdiri dari :
a. Perencanaan
b. Pengorganisasian
c. Penggerakan
d. Pelaksanaan pelayanan medis
Ada beberapa hal penting yang mendasari pelayanan medis di rumah sakit agar dihasilkan
suatu pelayanan yang optimal yaitu :
1. Falsafah dan tujuan
Pelayanan medis yang diberikan harus sesuai dengan ilmu pengetahuan
kedokteran mutakhir serta memanfaatkan kemampuan dan fasilitas Rumah Sakit
secara optimal. Tujuan pelayanan medis adalah mengupayakan kesembuhan pasien
secara optimal melalui prosedur dan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai
dengan standar masing-masing profesi.
2. Administrasi dan pengelolaan
Mempunyai fungsi antara lain :
a. Membuat kebijakan dan melaksanakannya.
b. Mengintegrasi, merencanakan dan mengkoordinasi pelayanan.
c. Melaksanakan pengembangan DIKLAT.
d. Melakukan pengawasan termasuk medikolegal

3. Staf dan pimpinan
Penetapan staf dan hak/kewajibannya ditentukan oleh pejabat yang berwenang,
dengan prinsip seleksi : dapat memberikan pelayanan profesional, sesuai kebutuhan
Rumah Sakit dan masyarakat serta ada rekomendasi profesi.
4. Fasilitas dan peralatan
Tersedia fasilitas pelayanan yang cukup sehingga tujuan pelayanan efektif
tercapai, misalnya ruang pertemuan staf medis, fasilitas untuk berkomunikasi, tenaga,
administrasi untuk pencatatan kegiatan medis.
5. Kebijakan dan prosedur
Perlu dibuat kebijakan dan prosedur klinis maupun nonmedis sesuai dengan
standar yang ada.
6. Pengembangan staf dan program pendidikan
Hal ini diperlukan untuk peningkatan mutu pelayanan medis.
7. Evaluasi dan pengendalian mutu
Ada program pengendalian mutu yang menilai konsep, hasil kerja dan proses
pelayanan medis. Dilaksanakan oleh Komite medis. Ketujuh kriteria di atas merupakan
point penting dalam penilaian akreditasi Rumah Sakit di samping administrasi dan
manajemen, manajemen keperawatan, unit gawat darurat serta rekam medik.
Masalah yang timbul dalam pelayanan kesehatan di Rumah Sakit
Masalah-masalah yang timbul antara lain :
1. Tenaga, khususnya tenaga medis spesialis masih kurang dan tidak merata.
2. Belum semua Rumah Sakit menerapkan/mengacu kepada struktur organisasi
983/1992 karena keterbatasan kualifikasi tenaga yang ada.
3. Fasilitas yang belum sesuai dengan standar.
4. Kecenderungan untuk memiliki alat canggih tanpa memperhitungkan efisiensi dan
efektivitas.
5. Sikap dan perilaku tenaga medis yang kurang mendukung sistem pelayanan medis
maupun Rumah Sakit sebagai suatu sistem.
6. Sikap dan perilaku pimpinan Rumah Sakit yang kurang tegas dalam pelaksanaan
pelayanan medis.
b. Pelayanan Kesehatan di Komunitas
Keperawatan kesehatan komunitas adalah suatu bidang dalam ilmu keperawatan yang
merupakan keterpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran
serta masyarakat, serta mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara
berkesinambungan dengan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif, secara
menyeluruh dan terpadu ditujukan kesatuan yang utuh melalui proses keperawatan untuk ikut
meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal.
Sasaran pelayanan kesehatan di Komunitas
Sasaran keperawatan komunitas adalah seluruh masyarakat termasuk individu, keluarga,
dan kelompok yang beresiko tinggi seperti keluarga penduduk di daerah kumuh, daerah
terisolasi dan daerah yang tidak terjangkau termasuk kelompok bayi, balita dan ibu hamil.
Menurut Anderson (1988) sasaran keperawatan komunitas terdiri dari tiga tingkat yaitu :
1. Tingkat Individu.
Perawat memberikan asuhan keperawatan kepada individu yang mempunyai masalah
kesehatan tertentu (misalnya TBC, ibu hamil d1l) yang dijumpai di poliklinik,
Puskesmas dengan sasaran dan pusat perhatian pada masalah kesehatan dan pemecahan
masalah kesehatan individu.
2. Tingkat Keluarga.
Sasaran kegiatan adalah keluarga dimana anggota keluarga yang mempunyai masalah
kesehatan dirawat sebagai bagian dari keluarga dengan mengukur sejauh mana
terpenuhinya tugas kesehatan keluarga yaitu mengenal masalah kesehatan, mengambil
keputusan untuk mengatasi masalah kesehatan, memberikan perawatan kepada anggota
keluarga, menciptakan lingkungan yang sehat dan memanfaatkan sumber daya dalam
masyarakat untuk meningkatkan kesehatan keluarga.

Prioritas pelayanan Perawatan Kesehatan Masyarakat
Prioritas pelayanan Perawatan Kesehatan Masyarakat difokuskan pada keluarga rawan
yaitu :
a. Keluarga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan, yaitu keluarga dengan: ibu
hamil yang belum ANC, ibu nifas yang persalinannya ditolong oleh dukun dan
neonatusnya, balita tertentu, penyakit kronis menular yang tidak bisa diintervensi
oleh program, penyakit endemis, penyakit kronis tidak menular atau keluarga
dengan kecacatan tertentu (mental atau fisik).
b. Keluarga dengan resiko tinggi, yaitu keluarga dengan ibu hamil yang memiliki
masalah gizi, seperti anemia gizi be-rat (HB kurang dari 8 gr%) ataupun Kurang
Energi Kronis (KEK), keluarga dengan ibu hamil resiko tinggi seperti perdarahan,
infeksi, hipertensi, keluarga dengan balita dengan BGM, keluarga dengan neonates
BBLR, keluarga dengan usia lanjut jompo atau keluarga dengan kasus percobaan
bunuh diri.
c. Keluarga dengan tindak lanjut perawatan
3. Tingkat Komunitas
Dilihat sebagai suatu kesatuan dalam komunitas sebagai klien.
a. Pembinaan kelompok khusus.
b. Pembinaan desa atau masyarakat bermasalah
Sebagai sasaran praktik keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu, keluarga dan
masyarakat.
1. Individu Sebagai Klien
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek
biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien,
pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yang mencakup kebutuhan biologi,
sosial, psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental,
keterbatasan pengetahuan, kurangnya kemauan menuju kemandirian pasien/klien.
2. Keluarga Sebagai Klien
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus
menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara
bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara
keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan
dasar manusia yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan
mencintai, harga diri dan aktualisasi diri.
3. Masyarakat Sebagai Klien
Masyarakat memiliki cirri-ciri adanya interaksi antar warga, diatur oleh adat
istiadat, norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki identitas yang kuat
mengikat semua warga.
Ruang Lingkup Keperawatan Komunitas
Keperawatan komunitas mencakup berbagai bentuk upaya pelayanan kesehatan baik upaya
promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, maupun resosialitatif. Upaya promotif dilakukan
untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan
melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan, peningkatan gizi, pemeliharaan kesehatan
perorangan, pemeliharaan kesehatan lingkungan, olahraga teratur, rekreasi dan pendidikan
seks.
1. Upaya preventif untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan kesehatan
terhadap individu, keluarga kelompok dan masyarakat melalui kegiatan imunisasi,
pemeriksaan kesehatan berkala melalui posyandu, puskesmas dan kunjungan rumah,
pemberian vitamin A, iodium, ataupun pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan,
nifas dan menyusui.
2. Upaya kuratif bertujuan untuk mengobati anggota keluarga yang sakit atau masalah
kesehatan melalui kegiatan perawatan orang sakit dirumah, perawatan orang sakit
sebagai tindaklanjut dari Pukesmas atau rumah sakit, perawatan ibu hamil dengan
kondisi patologis, perawatan buah dada, ataupun perawatan tali pusat bayi baru
lahirUpaya rehabilitatif atau pemulihan terhadap pasien yang dirawat dirumah atau
kelompok-kelompok yang menderita penyakit tertentu seperti TBC, kusta dan cacat
fisik lainnya melalui kegiatan latihan fisik pada penderita kusta, patch tulang dan lain
sebagainya, kegiatan fisioterapi pada penderita stroke, batuk efektif pada penderita
TBC, dll.
3. Upaya resosialitatif adalah upaya untuk mengembalikan penderita ke masyarakat
yang karena penyakitnya dikucilkan oleh masyarakat seperti, penderita AIDS, kusta
dan wanita tuna susila.
Peran Perawat Komunitas
1. Pendidik (Educator)
Perawat memiliki peran untuk dapat memberikan informasi yang memungkinkan klien
membuat pilihan dan mempertahankan autonominya. Perawat selalu mengkaji dan
memotivasi belajar klien.
2. Advokat
Perawat memberi pembelaan kepada klien yang tidak dapat bicara untuk dirinya.
3. Manajemen Kasus
Perawat memberikan pelayanan kesehatan yang bertujuan menyediakan pelayanan
kesehatan yang berkualitas, mengurangi fragmentasi, serta meningkatkan kualitas
hidup klien.
4. Kolaborator
Perawat komunitas juga harus bekerjasama dengan pelayanan rumah sakit atau anggota
tim kesehatan lain untuk mencapai tahap kesehatan yang optimal.
5. Panutan (Role Model)
Perawat kesehatan komunitas seharusnya dapat menjadi panutan bagi setiap individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat sesuai dengan peran yang diharapkan. Perawat
dituntut berperilaku sehat jasmani dan rohani dalam kehidupan sehari-hari.
6. Peneliti
Penelitian dalam asuhan keperawatan dapat membantu mengidentifikasi serta
mengembangkan teori-teori keperawatan yang merupakan dasar dari praktik
keperawatan.
7. Pembaharu (Change Agent)
Perawat kesehatan masyarakat dapat berperan sebagai agen pembaharu terhadap
individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat terutama dalam merubah perilaku dan
pola hidup yang erat kaitannya dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan.
Puskesmas
Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat
pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping
memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di
wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok (Depkes RI, 1991 dalam Effendy, 1998).
a. Tujuan Puskesmas
Puskesmas bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, dan kemampuan hidup sehat
bagi setiap orang yang tinggal di wilayah kerja puskesmas (Hatmoko, 2006). Tujuan
pembangunan kesehatan yang diselengggarakan puskemas adalah mendukung
tercapainya tujuan pembangunan nasional yaitu meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja
puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setingg-tingginya dalam rangka
mewujudkan Indonesia sehat 2010 (Depkes RI. 1999).
b. Fungsi Puskesmas
Puskesmas memiliki tiga fungsi, yaitu sebagai pusat penggerak pembangunan yang
berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam
pembangunan kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan masyarakat tingkat pertama.
Sebagai langkah awal dari program keperawatan kesehatan masyarakat, fungsi dan
peran puskesmas bukan saja persoalan teknis medis tetapi juga berbagai keterampilan
sumber daya manusia yang mampu mengorganisir model sosial yang ada di
masyarakat, juga sebagai lembaga kesehatan yang menjangkau masyarakat di wilayah
terkecil dan membutuhkan strategi dalam hal pengorganisasian masyarakat untuk
terlibat dalam penyelenggaraan kesehatan secara mandiri (Mubarak dan Chayatin,
2009).
c. Kegiatan Puskesmas
Berdasrkan diagnosa komunitas yang dilakukan puskesmas, maka dapat dirumuskann
kegiatan pokok puskesmas yang merupakan upaya wajib puskesmas yang dilakukan
sesuai kebutuhan masyarakat dan juga disesuaikan dengan fungsi puskesmas dan
kemampuan sumber daya yang tersedia (Depkes RI, 2004). Kegiatan pokok tersebut
antara lain:
1. Promosi Kesehatan
Upaya promosi kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan
nilai kesehatan sehingga dengan sadar mau mengubah perilakunya menjadi perilaku
sehat. Sasarannya yaitu masyarakat yang beresiko tertular penyakit maupun
masyarakat umum. Upaya ini dilakuka n melalui penyuluhan, baik di klinik, rumah
penduduk, balai pertemuan melalui ceramah maupun dengan menggunakan alat
peraga.
2. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Keluarga Berncana (KB)
Upaya KIA bertujuan untuk menurunkan kematian dan kejadian sakit pada ibu dan
meningkatkan derajat kesehatan anak. Sasarannya adalah ibu hamil, ibu menyusui dan
balita, dukun bersalin, dan kader kesehatan. Kegiatannya antara lain:
1) Pemeliharaan kesehatan ibu hamil dan menyusui.
2) Memberikan pendidikan kesehatan tentang makanan yang sehat.
3) Mengamati perkembangan balita terkait dengan program gizi.
4) Memberikan pelayanan KB dan PUS.
5) Memberikan pertolonagan persalinan dan bimbingan selama masa nifas
serta mengadakan pelatihan bagi dukun bersalin dan kader kesehatan posyandu.
Menurut Muninjaya (2004), upaya KB bertujuan untuk menekan angka kelahiran dan
meningkatkan kesehatan ibu sehingga di dalam keluarga akan berkembang norma
keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS). Sasarannya yaitu pasangan usia subur
(PUS) dan dukun bersalin. Kegiatannya anatara lain:
1) Mengadakan penyuluhan tantang KB.
2) Menyediakan dan pemasangan alat-alat kontrasepsi serta pelayanan
pengobatan efek samping KB.
3) Mengadakan kursus keluarga berencana untuk dukun bersalin.
3. Perbaikan Gizi
Menurut Muninjaya (2004), upaya perbaikan gizi bertujuan meningkatkan
status gizi masyarakat melalui usaha pemantauan status gizi kelompok masyarakat
beresiko tinggi, terutama ibu hamil dan balita. Sasarannya yaitu ibu hamil, ibu
menyusui, balita, dan penduduk yang tinggal di daerah rawan pangan.
Kegiatannya antara lain:
1) Memberikan penyuluhan tentang gizi.
2) Menimbang serta badan dan tinggi badan balita untuk memantau
pertumbuhannya.
3) Memberikan makanan tambahan (PMT) untuk balita yang kurang gizi.
4) Pemberian vitamin A untuk balita.
d. Kesehatan Lingkungan
Muninjaya (2004), menyebutkan upaya kesehatan lingkungan bertujuan
menanggulangi dan menghilangkan unsur-unsur fisik berbahaya pada lingkungan
sehingga faktor lingkungan yang kurang sehat tidak menjadi faktor resiko timbulnya
penyakit di masyarakat. Sasarannya yaitu tempat-tempat umum seperti rumah makan,
pasar, sumber air minum, dan tempat pembuangan limbah. Kegiatannya antara lain:
1) Memperbaiki sistem pembuangan kotoran.
2) Menyediakan air bersih
3) Memperbaiki pembuangan sampah.
4) Pengawasan sanitasi tempat umum.
5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)
Muninjaya (2004) menyebutkan, upaya P2M bertujuan menemukan kasus
penyakit menular sedini mungkin dan memberikan proteksi bagi masyarakat agar
terhindar dari penularan penyakit. Sasarannya yaitu ibu hamil, balita, anak-anak dan
lingkungan pemukiman masyarakat. Untuk pemberantasan penyakit menular tertentu,
misalnya penyakit kelamin, kelompok-kelompok tertentu masyarakat yang berperilaku
resiko tinggi juga perlu dijadikan sasaran kegiatan P2M. Kegiatannya antara lain:
1) Menemukan kasus sedini mungkin.
2) Mengumpulkan dan menganalisa penyakit.
3) Melaporkan kasus penyakit menular yang sedang berjangkit di masyarakat.
4) Pemberantasan vektor yang dilakukan dengan penyemprotan menggunakan
insektisida.
5) Kegiatan imunisasi pada kelompok masyarakat tertentu.
6. Pengobatan
Muninjaya (2004) menyebutkan, pengobatan bertujuan memberikan pengobatan dan
perawatan kepada masyarakat. Program ini merupakan bentuk pelayanan kesehatan dasar
yang bersifat kuratif. Sasarannya yaitu seluruh masyarakat di wilayah kerja puskesmas yang
mengunjungi
puskesmas untuk mendapatkan pengobatan. Kegiatannya antara lain:
1) Menegakkan diagnosa.
2) Memberikan pengobatan untuk penderita yang berobat jalan atau pelayanan rawat inap
khusus untuk puskesmas perawatan.
3) Merujuk penderita ke pusat-pusat rujukan medis sesuai dengan jenis penyakit yang tidak
mampu ditangani oleh puskesmas.
4) Menyelenggarakan puskesmas keliling untuk menjangkau wilayah kerja puskesmas yang
belum mempunyai puskesmas pembantu atau wilayah pemukiman penduduk yang masih sulit
sarana transportasi.
e. Kegiatan Pengembangan Puskesmas
Selain kegiatan pokok, puskesmas juga melakukan upaya kesehatan pengembangan antara
lain:
1. Upaya Kesehatan Sekolah (UKS)
UKS bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan anak dan lingkungan sekolah.
Sasaran dari UKS adalah murid SD, SLTP, SLTA, dan lingkungan sekolah. Kegiatannya
antara lain:
1) Melakukan pemeriksaan kesehatan anak secara berkala.
2) Mengupayakan lingkungan sekolah yang sehat dengan penyediaan air bersih dan tempat
sampah.
3) Pendidikan kesehatan tentang kebersihan perorangan, kesehatan gigi, kesehatan lingku
ngan.
4) Mengembangkan pelayanan kesehatan primer (P3K) di sekolah.
2. Upaya Kesehatan Olahraga
Upaya kesehatan olahraga meliput i: melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, penentuan
takaran latihan, pengobatan dengan latihan dan rehabilitasi, pengobatan akibat cedera latihan
dan pengawasan selama pemusatan latihan.
3. Upaya Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Upaya kesehatan masyarakat bertujuan memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada
pasien dan keluarganya, memberikan konseling kepada anggota keluarga untuk mengenali
kebutuhan kesehatannya sendiri dan cara-cara penanggulangannya disesuaikan dengan batas-
batas kemampuan mereka, menunjang program kesehatan lainnya dalam usaha pencegahan
penyakit, peningkatan dan pemulihan kesehatan individu dan keluarganya. Sasarannya yaitu
kelompok masyarakat dengan resiko tinggi. Kegiatannya yaitu melaksanakan perawatan
kesehatan perorangan, keluarga dan kelompok masyarakat lainnya, memberi asuhan
keperawatan kepada individu di puskesmas ataupun di luar puskesmas dengan berbagai tingkat
umur, kondisi kesehatan, tumbuh kembang dan jenis kelamin, dan diarahkan kepada keluarga
sebagai unit terkecil dari
masyarakat.
4. Upaya Peningkatan Kesehatan Kerja
Upaya peningkatan usaha kerja bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan para pekerja
di berbagai sektor. Kegiatannya antara lain:
1) Identifikasi masalah meliput i pemeriksaan awal dan berkala untuk para pekerja.
2) Pemeriksaan kasus terhadap pekerja yang datang berobat ke puskesmas.
3) Peninjauan tempat kerja untuk menentukan bahaya akibat kerja.
4) Peningkatan kesehatan kerja melalui peningkatan gizi, lingkungan kerja dan
kegiatan peningkatan kesejahteraan.
5) Kegiatan pencegahan kecelakaan akibat kerja.
6) Pengobatan kasus akibat kerja.
7) Pemulihan kesehatan dan rujukan medik terhadap pekerja yang sakit.
5. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
Upaya kesehatan gigi dan mulut bertujuan menghilangkan atau mengurangi gangguan
kesehatan gigi dan mulut dan mempertinggi kesadaran kelompo-kelompok masyarakat tentang
pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Sasarannya adalah ibu hamil, murid SD
dan masyarakat yang datang ke puskesmas dengan keluhan gangguan gigi dan mulut.
Kegiatannya anatara lain:
1) Melakukan pemeriksaan kesehatan, perawatan gigi dan mulut secara rutin untuk
anak-anak sekolah serta ibu hamil.
2) Memberikan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut secara individu atau kelompok.
3) Pengobatan pada klien yang mengalami gangguan kesehatan gigi dan mulut yang
berobat maupun yang dirujuk.
6. Upaya Kesehatan Jiwa
Upaya kesehatan jiwa bertujuan untuk mencapai tingkat kesehatan jiwa masyarakat secara
optimal. Sasarannya yaitu penderita gangguan jiwa dan keluarganya yang datang ke
puskesmas termasuk pasien yang dirujuk oleh RSJ untuk rehabilitasi sosial. Kegiatannya
antara lain:
1) Mengenali penderita yang memerlukan pelayanan kesehatan psikiatri.
2) Memberikan pertolongan pertama psikiatri, pengobatan atau merujuk pasien ke
rumah sakit jiwa.
3) Memberikan penyuluhan kesehatan jiwa kepada kelompok penduduk di wilayah
kerja puskesmas.
7. Upaya Kesehatan Mata
Berupa anamnesa, pemeriksaan visus, tes buta warna, pengobatan dan pemeriksaan kacamata,
operasi katarak dan glaukoma akut yang dilakukan oleh tim rujrukan rumah sakit, dan
pengembangan kesehatan masyarakat.
8. Upaya Kesehatan Lanjut Usia
Upaya kesehatan lanjut usia bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
berusia lanjut. Kegiatannya antara lain pemeriksaan kesehatan warga lanjut usia, pemberian
pengobatan bagi lansia yang mengalami gangguan kesehatan, menyelenggarakan posyandu
lansia setiap bulan di wilayah kerja puskesmas.
9. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional
Kegiatannya adalah melestarikan bahan-bahan tanaman yang dapat digunakan untuk
pengobatan tradisional, melakukan pembinaan terhadap cara-cara pengobatan tradisional.






















BAB III

KESIMPULAN
Pelayanan merupakan suatu aktivitas atau serangkaian alat yang bersifat tidak kasat mata
(tidak dapat diraba), yang terjadi akibat interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal
lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan
persoalan konsumen (Gronroos, 1990 dalam Ratminto dan Winarsih, 2005).
Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah pengunaan fasilitas pelayanan yang disediakan baik
dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, kunjungan rumah oleh petugas kesehatan ataupun bentuk
kegiatan lain dari pemanfaatan pelayanan tersebut yang didasarkan pada ketersediaan dan
kesinambungan pelayanan, penerimaan masyarakat dan kewajaran, mudah dicapai oleh
masyarakat, terjangkau serta bermutu (Azwar, 1999).
Perbedaan pelayanan di antara kedua bentuk pelayanan tersebut dapat di lihat dari berbagai
aspek yaitu tempat kegiatan, jenis pasien yang di layani, ruang lingkup pelayanan perhatian utama,
dan sasaran pelayanan.






























DAFTAR PUSTAKA

Christien S. Ibrahim, (1986), Konsep Keperawatan Dan Teori Keperawatan. Akper Pajajaran
Dep.Kes, Bandung. Dapartemen Kesehatan RI (1990). Konsep Perawatan Kesehatan Masyarakat,
Jakarta.
Departemen Kesehatan RU (1992), Keperawatan Kesehatan Masyarakat Di Puskesmas. Ditjen
Binkesmas, Dep.Kes, Jakarta.
Freeman B. Ruth (1961), Public Health Nursing Practice, W . B Saunder Co. London.
Freeman R. Ruth (1981), Community Health Nursing Practice. Secound Edition. W.B Sounder
CO, London, Philadelphia, Sydney.
Direktorat Rumah Sakit Umum dan Pendidikan Dirjen Yanmed Depkes RI, Standar
Pelayanan Rumah Sakit cetakan ketiga, Jakarta 1994.