Vous êtes sur la page 1sur 8

7 Hari Membentuk Karakter Anak.

Di buku ini akan diungkap hal-hal yang sangat jarang


diketahui oleh para orangtua dan guru, tentang bagaimana mendidik anak agar tumbuh bahagia
dan berkarakter. Disamping itu bukan hanya anak tetapi buku ini juga memberikan pengarahan
bagi orangtua dan guru agar sadar membentuk karakter mereka secara mandiri.
Kembali ke pembentukan karakter, ingat segala sesuatu butuh proses. Mau jadi jelek pun butuh
proses. Anak yang nakal itu juga anak yang disiplin lho. Tidak percaya? Dia disiplin untuk
bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalu konsisten untuk
tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak menggunakan seragam lengkap.
Ada satu kunci untuk menanamkan kebiasaan, ada hukumnya dan hukum itu bernama hukum 21
hari, dalam pembentukan karakter erat kaitannya dengan menciptakan kebiasaan yang baru yang
positif. Dan kebiasaan akan tertanam kuat dalam pikiran manusia setelah diulang setiap hari
selama 21 hari. Misalnya Anda biasakan anak sehabis bangun tidur untuk membersihkan tempat
tidurnya, mungkin Anda akan selalu mengingatkan dan mengawasi dengan kasih sayang (wajib,
dengan kasih sayang) selama 21 hari. Tetapi setelah lewat 21 hari maka kebiasaan itu akan
terbentuk dengan otomatis. Nah, kini kebiasaan positif apa yang hendak anda tanamkan kepada
anak, pasangan dan diri Anda? Anda sudah tahu caranya dan tinggal melakukan saja. Sukses
dalam karakter yang terus diperbarui.


Ada beberapa hal yang bisa mempengaruhi terbentuknya karakter anak.
Pertama karakter anak menirukan orang yang paling sering berinteraksi dengannya.
Bagi orang tua yang menginginkan anaknya memiliki karakter mirip, maka ia harus sesering
mungkin berinteraksi. Bermain main dengan anak dan melakukan aktivitas sehari hari dengan
melibatkannya. Hal ini wajib dilakukan orang tua, kapanpun dan dimanapun.
Kedua karakter anak menirukan orang yang paling ia percaya.
Orang tua harus mampu menjadi tauladan dan dipercaya anak. Jangan sekali kali membohongi
mereka. Mungkin orang tua tidak sengaja berbohong, namun memori anak merekam janji orang
tuanya dengan baik.
Misalkan orang tua berkata, ayo mandi nak, nanti bapak ajak jalan jalan. Disaat anak selesai
mandi dan bapak tidak mengajaknya jalan jalan, maka anak mengecap orang tuanya sebagai
pembohong. Kejadian itu akan diingat betul oleh anak.
Ketiga karakter anak menirukan orang yang mengajarkan sesuatu padanya untuk pertama kali.
Sebagai contoh adalah mengajarkan anak makan dengan tangan kanan. Jika secara perlahan itu
kita ajarkan, maka ia pun akan dengan sendirinya makan dengan tangan kanan.
Namun beda halnya jika anak tidak pernah diajarkan cara makan yang benar. Suatu saat jika ia
melihat seseorang makan dengan tangan kiri, maka itu akan ditiru dan dianggapnya sebagai
kebenaran.
Keempat karakter anak menirukan orang yang mengajarkan sesuatu dengan menyenangkan
(menurut anak).
Untuk itu kiranya orang tua harus mampu bertindak sebagai teman dan sahabat bagi anak anak.
Jika anak merasa orang tuanya menyenangkan, maka apapun yang diperbuat orang tuanya
otomatis akan ditiru.
Orang tua yang baik tentu saja akan melakukan segalanya demi anak. Termasuk pembentukan
karakter tentunya. Jangan sampai kesempatan emas orang tua dalam membentuk karakter ini di
ambil alih oleh orang lain atau pihak ketiga.
Orang ketiga itu adalah orang lain diluar keluarga inti, Seperti kakek, nenek, tante dan om.
Bahkan orang luar keluarga pun mampu mempengaruhi pembentukan karakter anak, seperti
tetangga dan pengasuh.
Jika peran itu diambil alih orang lain, maka cepat atau lambat penyesalan itu pasti datang.


pendidikan karakter sangat penting diterapkan pada anak-anak usia sekolah. Menurut pendapat
Hurlock (1980:146), masa usia sekolah atau masa akhir anak-anak (6-13 tahun) merupakan masa
yang menyulitkan yaitu suatu masa di mana anak-anak tidak mau lagi menuruti perintah dan di
mana ia lebih banyak dipengaruhi oleh teman sebayanya dari pada orang tua atau keluarganya
(saat di rumah). Sedangkan saat di sekolah, mereka termasuk dalam periode krisis di mana
mereka harus diberikan dorongan untuk berprestasi sesuai dengan kemampuan yang mereka
miliki, karena pada masa ini tingkat berprestasi anak-anak tinggi.
Menurut saya ada tiga dukungan dalam pembentukan karakter anak, yaitu:
1. Dukungan orang tua
2. Dukungan sekolah
3. Dukungan sosial

Dalam hal ini tidak hanya sekolah yang memberikan pendidikan kepada anak-anak, tetapi orang
tua juga harus memberikan pendidikan saat di rumah. Berdasarkan UU Kesejahteraan Anak
tahun 1997, pasal 9 menyatakan bahwa orang tua adalah yang pertama-tama bertanggung jawab
atas terwujudnya kesejahteraan anak-anak baik secara rohani, jasmani maupun sosial. Tanggung
jawab orang tua atas kesejahteraan anak mengandung kewajiban memelihara dan mendidik
sedemikian rupa, sehingga anak tumbuh dan berkembang menjadi orang yang cerdas, sehat,
berbakti kepada orang tua, berbudi pekerti luhur dan bertakwa kepada Tuhan YME, atau dengan
kata lain bahwa pendidikan orang tua adalah kunci sukses terbentuknya karakter anak.
Di sekolah, seorang anak mempelajari hal baru yang belum dipelajarinya dalam keluarga karena
pendidikan formal di sekolah dilakukan untuk mempersiapkan anak dalam penguasaan peran-
peran baru (Sunarto, 2004:26). Selain orang tua, sekolah juga mempunyai peran yang penting
dalam pembentukan karakter anak. Jika sekolah tidak mempunyai strategi yang jitu dalam
menjalankan pendidikan karakter serta guru-guru tidak berkomitmen untuk mengaplikasikan
secara menyeluruh program-program yang disusun oleh sekolah, maka pendidikan karakter tidak
akan berjalan dengan baik.
Sedangkan dukungan sosial merupakan informasi verbal atau nonverbal, saran, bantuan yang
nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang yang akrab dengan subjek di
dalam lingkungan sosialnya atau berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan
keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya. Dalam hal ini, orang
yang merasa memperoleh dukungan sosial, secara emosional merasa lega karena diperhatikan,
mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya (Gottlieb, 1983:23).
Dari penjelasan di atas, sudah jelas bahwa dari ketiga faktor pendukung tidak ada yang bisa
berdiri sendiri. Hal ini berarti bahwa dukungan orang tua, dukungan sekolah dan dukungan sosial
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisah dalam pembentukan karakter anak. Apabila
salah satu faktor pendukung tidak bekerja, maka pembentukan karakter anak tidak akan berjalan
dengan baik atau maksimal. Salah satu contoh berdasarkan penelitaian yang dilakukan oleh
Yunia Selviliana (2012) di salah satu sekolah dasar swasta yang mendapatkan hasil bahwa orang
tua kurang memberikan dukungan yang penuh (dukungan emosional, penghargaan dan
kekonsistenan dalam menjalankan peraturan) ketika anak berada di rumah, maka anak akan
memiliki kesulitan dalam pembentukan karakternya meskipun sekolah sudah memberikan sistem
dan dukungan sosial yang terbaik untuk anak-anak.

Penyebab terjadinya kekerasan antr pelajar
Tawuran antar pelajar selalu menjadi agenda perbincangan setiap tahunnya, masalah ini bukan
perkara baru, dan jangan dianggap perkara yang remeh. Padahal kalau kita kaji masalah tawuran
antar pelajar akan membawa dampak panjang, bukan hanya bagi pelajar yang terlibat, namun
juga untuk keluarga, sekolah serta lingkungan masyarakat di sekitarnya.
Tawuran antara pelajar saat ini sudah menjadi masalah yang sangat mengganggu ketertiban dan
keamanan lingkungan di sekitarnya. Saat ini, tawuran antar pelajar sekolah tidak hanya terjadi di
lingkungan atau sekitar sekolah saja, namun terjadi di jalan-jalan umum, tak jarang terjadi
pengrusakan fasilitas publik. Penyimpangan pelajar ini menyebabkan pihak sekolah, guru dan
masyarakat yang melihat pasti dibuat bingung dan takut bagaimana untuk mererainya, sampai
akhirnya melibatkan pihak kepolisian.
Hal ini tampak beralasan karena senjata yang biasa dibawa oleh pelajar-pelajar yang dipakai
pada saat tawuran bukan senjata biasa. Bukan lagi mengandalkan keterampilan tangan, tinju satu
lawan satu. Sekarang, tawuran sudah menggunakan alat bantu, seperti benda yang ada di
sekeliling (batu dan kayu) mereka juga memakai senjata tajam layaknya film action di layar lebar
dengan senjata yang bisa merenggut nyawa seseorang. Contohnya, samurai, besi bergerigi yang
sengaja dipasang di sabuk, pisau, besi.
Penyimpangan seperti tawuran antar pelajar, menjadi kerusuhan yang dapat menghilangkan
nyawa seseorang tidak bisa disebut sebagai kenakalan remaja, namun sudah menjadi tindakan
kriminal. Yang menjadi pertanyaan, adalah bagaimana bisa seorang pelajar tega melakukan
tindakan yang ekstrem sampai menyebabkan hilangnya nyawa pelajar lain hanya karena
masalah-masalah kecil?
Tawuran antar pelajar bisa terjadi antar pelajar sesama satu sekolah, ini biasanya dipicu permasalahan kelompok,
cenderung akibat pola berkelompok yang menyebabkan pengkelompokkan berdasarkan hal-hal tertentu. Misalnya,
kelompok anak-anak nakal, kelompok kutu buku, kelompok anak-anak kantin, pengkelompokan tersebut lebih akrab
dengan sebutan Gank. Namun, ada juga tawuran antar pelajar yang terjadi antara dua kelompok beda sekolah.
Contoh kasus dalam tawuran antar pelajar dapat disebabkan oleh banyak faktor, beberapa contoh di antaranya, yaitu:
Tawuran antar pelajar bisa terjadi karena ketersinggungan salah satu kawan, yang di tanggapi dengan rasa
setiakawan yang berlebihan.
Permasalahan yang sudah mengakar dalam artian ada sejarah yang menyebabkan pelajar-pelajar dua sekolah saling
bermusuhan.
Jiwa premanisme yang tumbuh dalam jiwa pelajar.Untuk mengkaji lebih jauh permasalahan tawuran antar pelajar,
kita bisa mengkaji terlebih dahulu mengenai penyebab tawuran antar pelajar dari tiga poin diatas.
Tawuran Antar Pelajar Akibat Rasa Setia Kawan yang Berlebihan
Rasa setia kawan atau lebih dikenal dengan sebutan rasa solidartas adalah hal yang lumrah atau biasa kita temukan
dalam kehidupan, misalkan dalam persahabatan rasa setiakawan akan menjadi alasan mengapa persahabatan bisa
menjadi kuat. Ia bisa menjadi indah ketika ditempatkan dalam porsi yang pas dan seimbang.
Namun, rasa setia kawan yang berlebihan akan menyebabkan hal yang buruk, salah satunya adalah mengakibatkan
tawuran antar pelajar. Mungkin dari kita pernah mendengar tawuran antar pelajar yang dipicu karena ketersingguhan
seorang siswa yang tersenggol oleh pelajar sekolah lain saat berpapasan di terminal, atau masalah kompleks lainnya.
Misalkan, permasalahan pribadi, rebutan perempuan, dipalak dan lain sebagainya.
Pemahaman arti sebuah persahabatan memang perlu dipahami oleh masing-masing individu pelajar itu sendiri.
Tawuran antar pelajar yang diakibatkan karena rasa setiakawan harus segera dihentikan, karena hal ini akan memicu
kawan-kawan yang lain untuk mendapatkan hak atau perlakuan yang sama pada waktu mengalami masalah.
Ini dapat menjadikan pelajar malas dalam menyelesaikan masalah dirinya sendiri, tanpa mau menyelesaikannya
sendiri dan cenderung tidak berani bertanggung jawab. Menjadi ketergantungan dan akan menimbulkan dampak
yang negatif bagi perkawanan itu sendiri.
Tawuran antar pelajar akibat sejarah permusuhan dengan sekolah lainKadang permasalahan tawuran antar pelajar
dipicu pula dengan adanya sejarah permusuhan yang sudah ada dari generasi sebelumnya dengan sekolah lain,
beredarnya cerita-cerita yang menyesatkan, bahkan memunculkan mitos berlebihan membuat generasi berikutnya,
terpicu melakukan hal yang sama.
Contohnya, sebut saja sekolah A dengan sekolah B adalah musuh abadi, dimana masing-masing sekolah akan
melakukan hal yang antipati terhadap sekolah lain. Biasanya, akan ada pelajar yang menjadi perbincangan, semacam
tokoh bagi sekolahnya, karena kehebatannya pada waktu berkelahi.
Dalam permasalahan tawuran antar pelajar yang dipicu karena permasalahan ini, perlu adanya pendekatan khusus,
yang memasukkan program kerja sama dengan sekolah tersebut. Peranan sekolah dan guru memegang peranan
penting.
Ironisnya, sebuah pertandingan persahabatan. Misalnya, olahraga. Kadang memicu sebuah permusuhan dan
perkelahian. Hal ini akhirnya menuntut kecerdasan dan ketelitian pihak penyelenggara dalam mengemas sebuah
acara.
Tawuran Antar Pelajar Akibat Jiwa Premanisme
Premanisme bukan istilah yang asing lagi. Premanisme yang berasal dari kata preman adalah sebutan orang yang
cenderung memakai kekerasan fisik dalam menyelesaikan permasalahannya. Kemenangan di ukur karena kekuatan
fisiknya bukan intelektualitas. Premanisme bertolak belakang dengan jiwa seorang pelajar, yang dituntut kecerdasan
berpikir, kecerdasan mengelola emosi, dll.
Jiwa premanisme dalam jiwa pelajar dapat dihilangkan karena dia tidak semerta merta muncul begitu saja, ia
disebabkan oleh sesuatu hal. Oleh karenanya, kita perlu mengetahui faktor penyebab sikap premanisme dalam diri
pelajar. Faktor di luar diri pelajar adalah faktor yang kental dapat mempengaruhi ke dalam. Beberapa contohnya
adalah:
Tayangan-tayangan di televisi, baik film ataupun liputan berita yang menceritakan atau sengaja mengekspose tema-
tema kekerasan dapat mempengaruhi psikis remaja.
Kekerasan yang terjadi di rumah. Kekerasan yang dimaksud bukan hanya individu pelajar saja yang menjadi korban
kekerasan namun kekerasan yang terjadi pada satu anggota keluarganya, dapat mempengaruhi psikis individu. Hal
ini yang akan menyebabkan trauma atau kekerasan beruntun yang diakibatkan karena menganggap kekerasan adalah
hal yang wajar.
Acara awal tahun, orientasi sekolah adalah acara di mana pelajar baru diwajibkan mengikuti kegiatan ini. Kegiatan
yang pada dasarnya adalah untuk memahami dan mengenali sekolah, kegiatan serta untuk lebih kenal kawan-
kawannya malah cenderung disalah gunakan oleh senior untuk ajang balas dendam dari apa yang pernah ia terima
pada waktu yang sama menjadi junior, pola-pola yang dipakai cenderung dengan pola militer. Hal inilah yang
menyebabkan kekerasan dalam dunia pendidikan. Pola yang menjadi semacam suntikan yang terus diturunkan oleh
setiap generasi. Agar terhindar dari pola yang berlebihan, diperlukan adanya pengawasan dari pihak sekolah dan
turunnya langsung pengajar dalam kegiatan ini. Kedisiplinan berbeda dengan kekerasan, hal ini seharusnya menjadi
tantangan setiap panitia kegiatan dalam mengemas ide, gagasan acara pada waktu perkenalan sekolah, menjadi
sesuatu yang inofatif, kreatif sehingga diharapkan lambat laun sikap premanisme akibat perpeloncoan akan menjadi
cara kuno dan tidak menarik lagi.
Dari ketiga faktor penyebab tersebut, kita bisa mendapatkan bayangan atau solusi yang terbaik seperti apa dan
bagaimana melakukan proses penyelesaiannya. Walaupun permasalahan tawuran antar pelajar memang bukan hal
sepele yang bisa langsung diselesaikan, namun diperlukan adanya proses berkelanjutan, kesadaran dan kerja sama
dengan semua pihak, bukan hanya sekolah, orangtua, masyarakat dan penegak hukum, tapi juga kesadaran
pemahaman pelajar sebagai seorang individu, sebagai generasi muda yang penuh dengan tanggung jawab.
Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari paparan di atas, yaitu: Pemahaman bagaimana seorang pelajar
disaat sedang mengalami pencarian identitas, cenderung sangat mudah labil. Dan kelabilan inilah yang ahirnya
tawuran antar pelajar terjadi.Ada beberapa cara yang efektif untuk mencegah sebelum tawuran antar pelajar terjadi,
misalkan dengan:
Membuat dan memfasilitasi ruang-ruang kegiatan yang positif.
Memberikan kebebasan berpendapat dan berekspresi dan tetap adanya kontrol dari pihak-pihak yang berkaitan
khususnya orang-orang terdekat, mencoba lebih terbuka dan mengenali serta memberikan solusi yang positif ketika
remaja sedang mengalami emosi.
Sikap optimis dan kepercayaan terhadap pelajar perlu ditumbuhkan kembali, sehingga suatu saat kita tidak akan
mendengar lagi berita atau kabar mengenai kejadian tawuran antar pelajar di negeri kita ini, yang ada kita bangsa
Indonesia dipenuhi kabar berita tentang pelajar-pelajar yang produktif, kritis, mampu menjadi juara dalam berbagai
bidang, baik berupa kompetisi pengetahuan dan ilmu pengetahuan.
Sudah saatnya generasi muda membuktikan potensi dalam dirinya, dan sudah menjadi tugas kewajiban orang tua,
sekolah, masyarakat dan pihak-pihak yang terkait untuk mencegah terjadinya bentuk-bentuk penyelewengan pelajar,
terutama permasalahan yang membuat was-was menjadi sebuah tindakan kriminal, tawuran antar pelajar


Perkelahian, atau yang sering disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Bahkan bukan hanya antar
pelajar SMU,
tapi juga sudah melanda sampai ke kampus-kampus. Ada yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang
wajar pada
remaja.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya
(Bimmas
Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus
dengan
menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota
masyarakat
lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban
meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung
meningkat.
Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus.

Dampak perkelahian pelajar

Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif
dari
perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami
dampak negatif
pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan
fasilitas
lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah.
Terakhir,
mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap
toleransi,
perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling
efektif untuk
memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai.
Akibat yang
terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.
Pandangan umum terhadap penyebab perkelahian pelajar

Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi
yang
lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di
antaranya adalah
sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang
sering
berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang
dirasa
kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang
harmonis
dan sering tidak berada di rumah.

Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kota besar, masalahnya sedemikian
kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum
yang padat
misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota.

Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk
kenakalan
remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis
delikuensi
yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang
mengharuskan mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk
memecahkan
masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di
dalam
suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti
angotanya,
termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh
kelompoknya.

Tinjauan psikologi penyebab remaja terlibat perkelahian pelajar

Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan di dalam diri individu
(sering
disebut kepribadian, walau tidak selalu tepat) dan kondisi eksternal. Begitu pula dalam hal perkelahian pelajar.
Bila
dijabarkan, terdapat sedikitnya 4 faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar.

Faktor internal. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi
lingkungan
yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan
semua
rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan
tekanan pada
setiap orang. Tapi pada remaja yang terlibat perkelahian, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi
memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri
dari
masalah, menyalahkan orang / pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat
untuk
memecahkan masalah. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin,
mudah
frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan memiliki perasaan rendah diri
yang
kuat. Mereka biasanya sangat membutuhkan pengakuan.

Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas
berdampak
pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah
hal yang
wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja
akan
tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan tidak berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu
bergabung
dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirnya secara total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari
identitas
yang dibangunnya.

Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi
sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah
yang
tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan
dengan
pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di
luar
sekolah bersama teman-temannya. Baru setelah itu masalah pendidikan, di mana guru jelas memainkan peranan
paling
penting. Sayangnya guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter
yang
sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam mendidik siswanya.

Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa
dampak
terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan
yang
berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan
pelajar.
Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. Semuanya itu dapat merangsang remaja untuk
belajar
sesuatu dari lingkungannya, dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya
perilaku
berkelahi.