Vous êtes sur la page 1sur 2

A.

Mendengarkan Cerita Pendek



Detektif Polan
Pagi itu saudagar Badu datang mengadu ke kantor polisi
Berkali-kali barang kirimanku dirampok penjahat di tengah hutan, keluh saudagar Badu.
Mengapa sampai saat ini polisi belum juga berhasil menangkap mereka?
Penjahat-penjahat itu licin sekali, Pak, sahut pak polisi, Kami sudah berusaha
menangkap mereka, tetapi mereka selalu berhasil meloloskan diri.
Kebetulan detektif Polan ada di kantor polisi itu. Ia mendengar percakapan tadi. Detektif
Polan datang mendekat, lalu memperkenalkan diri kepada saudagar Badu.
Saya akan menolong Bapak,katanya.
Kapan Bapak akan mengirim barang lagi?
Kira-kira dua hari lagi, sahut saudagar Badu.
Kali ini barang kirimanku berupa perhiasan emas dan berlian. Harganya mahal sekali. Itu
sebabnya saya minta bantuan polisi untuk mengawal.
Tidak perlu pengawal polisi, kata detektif Polan. Lebih aman kalau saya yang
membawa barang itu. Asal Bapak percaya kepada saya.
Saudagar Badu menoleh kepada polisi untuk minta pendapat.
Saya setuju dengan detektif Polan. Kalau pakai pengawal polisi, justru penjahat itu akan
tahu bahwa kiriman kali ini sangat berharga, percayakan saja pada detektif Polan. Saya
jamin kiriman bapak aman sampai temat tujuan.
Tanpa pengawal polisi? Apa bisa dia menghadapi bandit-bandit itu sendirian? tanya
saudagar Badu ragu.
Detektif Polan Cuma tersenyum. Kemudian katanya, Sudah saya katakan, asal Bapak
percaya.
Akhirnya saudagar Badu setuju. Diserahkannya barang kirimannya kepada detektif
Polan. Perhiasan itu ditaruh dalam kotak kecil. Detektif Polan menaruh kotak itu ke dalam
keranjang pikulan. Ditutupnya peti dengan jerami. Di atasnya ditaruhnya padi dan hasil
kebun.


Pagi-pagi sekali detektif Polan berangkat. Ia menyamar sebagai petani yang hendak
menjual hasil kebunya. Ia mengenakan caping untuk menutupi kepalanya dari sengatan
matahari. Juga memakai baju hitam seperti yang biasa dipakai petani. Jalannya cepat
sekali. Menjelang senja ia sudah tiba di hutan kecil yang diapit dua pegunungan. Menurut
saudagar Badu, di sanalah biasanya kereta yang membawa barang kirimanya dirampok
penjahat. Karena itu detektif Polan mulai siaga. Matanya mengawasi kawasan sekitar.
Ia harus melewati sebuah jalan kecil sebelum sampai di hutan itu. Detektif Polan semakin
waspada ketika dilihatnya di tengah jalan berdiri lima orang berwajah seram. Mereka
kelihatannya sedang menunggu dengan wajah bosan. Rupanya mereka sudah menunggu
sejak pagi. Mereka juga tampak lelah, lapar, dan haus.
Detektif Polan sengaja berhenti di dekat mereka. Ia menaruh keranjangnya di bawah
sebuah pohon. Lalu mengeluarkan minuman dan bekalnya. Ia kemudian makan dan minum
dengan nikmat.
Melihat itu kelima orang itu mendekat.
Boleh kami minta airmu? tanya mereka.
Ooo, silahkan, sahu detektif Polan. Ia mengeluarkan botol besar dari dalam keranjang
pikulannya. Juga menawari mereka bekal yang dibawanya. Dengan sangat rakus mereka
makan minum. Dalam sekejap makanan yang dibawa detektif Polan habis.
Bapak-bapak ini rupanya lapar sekali, ya kata detektif Polan sambil tersenyum.
Ya. Kami sudah seharian menunggudi di sini, sahut mereka.
Rupanya bapak sedang menunggu seseorang? tanya detektif Polan lagi.
Bukan menunggu seseoran, tetapi kereta barang, sahut mereka. Menurut kabar yang
kami terima, akan ada kereta barang yang lewat di sini siang ini. Tetapi sudah sore begini
kereta itu belum juga datang, keluh mereka.
Mungkin sebentar lagi, Pak, kata detektif Polan. Siapa tahu bannya kempis di tengah
jalan, jadi perlu ditambal dulu.
Kemudian ia berdiri. Mengangkat keranjang pikulannya dan berkata, Saya jalan dulu,
Pak. Sambil bersiul-siul. Siul itu sebagai tanda bagi polisi-polisi yang membututinya dari
belakang. Air yang diberikannya pada penjahat- penjahat tadi rupanya telah dicampur
dengan obat tidur. Dalam beberapa menit lagi penjahat itu akan jatuh tertidur. Sehingga
polisi- polisi itu mudah meringkus mereka.
Menjelang senja, detektif Polan tiba di tempat tujuan. Diserahkan barang kiriman
saudagar Badu kepada alamat yang dituju.
Sumber: Karya Kemala (Majalah Anak- Anak Bobo
Tahun XXXII, 10 Juni 2004) Halaman 16-17